Posts tagged ‘SAKSI KRISTUS’

KESAKSIAN SANG BENTARA TENTANG YESUS

KESAKSIAN SANG BENTARA TENTANG YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Sabtu, 11 Januari 2020)

Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia tinggal di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi, Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air. Orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.

Lalu timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya, “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang Sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah bersaksi, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Jawab Yohanes, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga. Kamu sendiri dapat bersaksi bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang punya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. (Yoh 3:22-30) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9 

Seorang pemain sepak bola baru saja menciptakan sebuah gol spektakuler, ia baru saja berhasil memasukkan bola ke dalam gawang lawan pada menit terakhir sebuah pertandingan menentukan. Ia pun kemudian diarak dengan penuh kegembiraan oleh rekan-rekan satu timnya dan para penonton pendukung tim-nya pun mengelu-elukan dia. Untuk kesekian kalinya mereka menjadi juara liga sepak bola di negeri mereka! Seorang eksekutif perusahaan baru saja menutup sebuah business deal yang sangat penting. Ia melihat pandangan kagum penuh penghargaan dari atasannya dan para rekan kerjanya. Seorang remaja baru saja lulus SMU, dan ia difoto bersama dengan kedua orangtuanya yang bangga akan prestasinya. Ya, di dalam masyarakat seperti kita kenal, biasanya kekaguman datang hanya sebagai ganjaran atas capaian atau perbuatan yang legitim dan baik menurut ukuran manusia.

Namun, Yohanes pembaptis mengungkapkan bahwa Yesus memandang diri kita secara berbeda. Dia bersukacita karena memandang kita apa adanya, bukan hanya karena apa yang berhasil kita capai. Kita adalah “mempelai/pengantin” dan Kristus adalah “mempelai laki-laki” (Why 21:1-2). Yesus memandang kita dengan sukacita sebegitu rupa sehingga pada kenyataannya Dia bernyanyi karena kita. Hal ini mengingatkan kita kepada ayat Kitab Suci berikut ini: “TUHAN (YHWH) Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai …” (Zef 3:17). Ia senang sekali memandang kita seperti seseorang memandang kekasihnya, dan Ia bergembira melakukan sesuatu yang baik bagi kita karena Dia mengasihi kita. Mari kita lihat apa yang dikatakan-Nya: “Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; aku akan menaruh takut kepada-Ku ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari pada-Ku. Aku akan bergirang karena mereka untuk berbuat baik kepada mereka dan Aku akan membuat mereka tumbuh di negeri ini dengan kesetiaan, dengan segenap hati-Ku dan dengan segenap jiwa-Ku” (Yer 32:40-41). “Capaian” kita, prestasi kita, terletak pada penerimaan kasih-Nya dengan kerendahan hati, dan berjuang untuk hidup sebagai mempelai-Nya yang setia.

Selagi Yohanes Pembaptis mengamati awal karya Yesus di depan umum, ia dengan segala senang hati menuntun para pengikutnya kepada sang “mempelai laki-laki”. Motto-nya sekarang adalah, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). Kesenangan Yohanes karena boleh ikut ambil bagian dalam cintakasih Yesus lebih besar daripada kepuasan apa saja yang mungkin dirasakannya karena berhasil dengan baik melakukan tugas yang diberikan kepadanya. Mendengar suara Yesus saja sudah menjadikan Yohanes penuh dengan sukacita (Yoh 3:29).

Sebagaimana halnya dengan Yohanes Pembaptis, kita pun dapat bersukacita dalam Yesus sementara kita menantikan datangnya saat untuk perjamuan surgawi, seperti ada tertulis: “Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba”  (Why 19:9). Saat itu adalah saat di mana “Ia akan menghapus segala air mata dari mata kita, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (lihat Why 21:4). Cobalah kita membayangkan bagaimana merdunya suara para malaikat yang dengan penuh sukacita menyanyikan puji-pujian mereka selagi mereka melihat betapa besar kasih Allah kepada pengantinnya.

Pada hari ini, baiklah kita sediakan waktu yang istimewa untuk merenungkan bagaimana Yesus, sang mempelai laki-laki, sungguh rindu untuk hidup bersama kita  dalam kehidupan kekal.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau begitu mengasihi diriku dan sungguh menyenangi aku, bahkan ketika aku berada dalam kelemahan-kelemahanku. Tuhan Yesus, aku ingin menjadi mempelai-Mu yang senantiasa menyenangkan hati-Mu. Biarlah cara-cara-Mu semakin besar dalam diriku dan cara-caraku sendiri menjadi semakin kecil. Terima kasih, ya Tuhan Yesus, karena Engkau membuat sukacitaku menjadi penuh selagi aku mendekat kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 11-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA 2019) 

Cilandak, 9 Januari 2020

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ITU HARUS TETAP TINGGAL DI DALAM KAMU

ITU HARUS TETAP TINGGAL DI DALAM KAMU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Basilius Agung & S. Gregorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja – Kamis, 2 Januari 2020

Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab siapa yang menyangkal Anak, ia tidak memiliki Bapa. Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa. Dan kamu, apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar sejak semula itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetapi tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.

Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. (1Yoh 2:22-28)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Yoh 1:19-28 

“Apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu.” (1Yoh 2:24)

Rasul Yohanes telah hidup bersama Yesus sejak awal-awal Yesus muncul di depan umum sebagai seorang rabi. Ia diam bersama-Nya selama tiga tahun penuh dan bahkan berdiri di dekat salib Kristus ketika wafat (Yoh 19:26-27). Apa yang membuat Yohanes begitu setia sebagai murid-Nya? Karena dia memperkenankan ajaran Yesus dan diri-Nya berdiam dalam dirinya (lihat Yoh 15:1-11). Yohanes percaya bahwa dengan tinggal dalam Yesus, maka dia akan mampu untuk menghasilkan banyak buah dalam Kerajaan Allah.

Di tahun-tahun setelah kematian Yesus, Yohanes tentunya sering sekali melakukan permenungan atas sabda Yesus. Ia tentunya mengingat dan mempelajari Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama) sambil juga mencatat pengalaman-pengalamannya. Maka, dengan berjalannya waktu, ajaran-ajaran Yesus tentang tinggal/berdiam dalam diri-Nya menjadi sebuah kenyataan selagi Yohanes berdoa, belajar dan bereksperimen dengan cara-cara yang berbeda-beda dalam meneladan sang Guru.

Seiring dengan bertumbuh-kembangnya komunitas-komunitas Kristiani awal, mereka pun mulai mengalami benturan-benturan budaya antara berbagai falsafah/filsafat dunia dan ajaran-ajaran Yesus. Bagaimanakah kiranya umat Kristiani yang masih muda usia berurusan dengan masalah-masalah abadi dari cinta dunia, nafsu kedagingan, dan keangkuhan hidup (1Yoh 2:12-17)? Dalam suratnya, Yohanes menggunakan segala hal yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun untuk mendorong dan menyemangati komunitasnya agar tinggal/berdiam dalam Kristus: “Apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu” (1Yoh 2:24). Yohanes juga mengajak umatnya untuk senantiasa mengingat bahwa Roh Kudus telah dicurahkan atas diri mereka untuk mengajar mereka dan menolong mereka mengatasi berbagai halangan yang mereka hadapi (lihat 1Yoh 2:27).

Demikian pulalah dengan diri kita masing-masing pada hari ini. Kita terus dibombardir dengan ide-ide duniawi (misalnya lewat berbagai macam iklan), dorongan-dorongan kedagingan kita sendiri, dan rancangan-rancangan jahat dari Iblis. Siapa yang akan menyelamatkan kita? Yesus Kristus, Tuhan kita! Setiap hari, kita dapat mengisi pikiran kita dengan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Setiap hari kita dapat mencari kehadiran-Nya dalam doa. Setiap hari kita dapat mempraktekkan seni berdiam dalam Kristus. Yesus  berjanji bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan diri kita. Dengan demikian yang perlu kita lakukan adalah memperkenankan Dia membimbing/menuntun pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan kita. Apabila kita melakukannya, maka kita akan memiliki rasa yakin-percaya. Kita akan diyakinkan bahwa Yesus telah mengalahkan dunia dan kita pun dapat mengalahkan dunia, karena kita berdiam/tinggal dalam Kristus dan Ia tinggal dalam kita.

Santo Basilios Agung, uskup di Kaisarea (330-379) dan Santo Gregorios, uskup di Nazianze (329-389) yang kita peringati hari ini adalah dua orang sahabat yang merupakan para teolog dan pujangga Gereja yang tersohor. Tugas pelayanan mereka sehari-hari, termasuk membela ajaran-ajaran Gereja terhadap serangan-serangan dari kelompok bid’ah, semua berkenan di mata Allah, karena mereka tetap tinggal di dalam Kristus pada situasi apa pun yang dihadapi.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin tinggal dalam kehadiran-Mu sepanjang hari-hari aku hidup di dunia ini. Tolonglah aku untuk menghayati kehidupan yang bertumpu pada sabda-Mu. Ajarlah aku melalui bacaan-bacaan Kitab Suci bagaimana semestinya menghayati kehidupan yang penuh kasih dan syukur. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:19-28), bacalah tulisan yang berjudul “TUGAS YOHANES PEMBAPTIS ADALAH UNTUK MELURUSKAN JALAN TUHAN” (bacaan untuk tanggal 2-1-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 30 Desember 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YOHANES, RASUL PENULIS INJIL: MURID YANG DIKASIHI YESUS

YOHANES, RASUL PENULIS INJIL: MURID YANG DIKASIHI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA YOHANES RASUL-PENULIS INJIL, Hari Ketiga dalam Oktaf Natal – Kamis, 27 Desember 2019)

Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai ke kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Kemudian datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain. Sesudah itu, masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. (Yoh 20:2-8) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6.11-12 

Seorang imam muda telah beberapa tahun melayani sebagai pastor pembantu di sebuah paroki. Untuk kurun waktu yang cukup lama, imam yang memang berwajah muda belia (katakanlah, baby face) itu membuat sejumlah warga paroki cenderung untuk “menghakimi” dia sebagai naif dan tidak berpengalaman. Barangkali mis-persepsi serupa mempengaruhi bagaimana sebagian dari kita memandang Santo Yohanes Penginjil yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini.

Menurut tradisi, Yohanes disebut sebagai “murid yang dikasihi Yesus” (lihat Yoh 20:2). Orang kudus ini juga dilukiskan sebagai seorang rasul muda-usia yang menaruh kepalanya di atas punggung Yesus pada waktu Perjamuan Terakhir. Namun gambaran seperti ini tentang Yohanes dapat saja menutupi kekuatan pribadi sang rasul yang datang dari relasi penuh keintiman sedemikian dengan diri Yesus.

Injil mencatat, “… ia melihatnya dan percaya” (Yoh 20:8). Ini adalah dasar dari kedekatan Yohanes dengan Yesus, yaitu kasihnya dan imannya bahwa Yesus wafat dan bangkit untuk kita-manusia. Kasih yang ditunjukkan oleh Yohanes di kubur pada hari Minggu Paskah tidak bersifat statis, melainkan terus membawanya sepanjang masa hidupnya yang diperkirakan sangat panjang. Karena Yohanes cukup rendah hati untuk memperkenankan keakrabannya dengan Yesus bertumbuh, maka dikatakan bahwa dia telah menunjukkan kekuatan yang luarbiasa ketika mengalami pencobaan-pencobaan berat dalam hidupnya. Memang kita tidak memiliki kepastian mengenai kehidupan Yohanes, namun beberapa tulisan yang berasal dari abad kedua dan ketiga kelihatannya memberi kesaksian yang mendukung komitmen tak-tergoyahkan dari sang rasul terhadap Yesus walaupun pada saat-saat dia menanggung penderitaan: dipenjara, percobaan pembunuhan atas dirinya dengan memasukkannya ke dalam sebuah ketel yang berisikan minyak mendidih, dan pengasingan sementara dirinya dari kota Efesus. Melalui itu semua, Yohanes memberi contoh tentang iman yang tak tergoyahkan dalam kuat-kuasa Tuhan Yesus yang telah bangkit.

Dari abad ke abad, berbagai tradisi menyangkut Yohanes Penginjil disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya: dari Santo Ireneus (c.125-c.201) yang mengenal Santo Polykarpus (c.69-c.155) yang adalah seorang murid dari Santo Yohanes. Inilah bagaimana Injilnya sampai kepada kita juga. Selama 2.000 tahun, umat Kristiani yang setia telah menyampaikan kabar-kabar bahwa Yesus datang  untuk menyatakan kasih Bapa surgawi yang bersifat intim. Sekarang, kita harus mengambil peranan dalam rangkaian komunikasi tersebut. Marilah kita masing-masing meneladan Santo Yohanes dengan bertumbuh dalam keintiman dengan Yesus dan memperkenankan Kabar Baik tentang Kasih Allah disampaikan melalui kita kepada generasi yang akan datang.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin terhitung sebagai salah seorang murid Yesus Kristus yang dikasihi oleh-Nya. Aku ingin bertumbuh dalam keintiman relasi dengan Yesus, untuk lebih mengenal lagi Allah Tritunggal Mahakudus, dan dengan kasih dalam hidupku …… untuk men-sharing-kan Injil dengan generasi-generasi yang akan datang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 1:1-4), bacalah tulisan berjudul “MENGGANTUNGKAN DIRI SEPENUHNYA PADA YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 27-12-19) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Desember 2019 [PESTA S. STEFANUS, MARTIR PERTAMA]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEMARTIRAN DIAKON STEFANUS

KEMARTIRAN DIAKON STEFANUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA, Oktaf Natal – Kamis, 26 Desember 2019)

Stefanus, yang penuh dengan anugerah dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut Orang-orang Merdeka – mereka berasal dari Kirene dan Aleksandria – bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Mereka berdebat dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”  Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” (Kis 6:8-10; 7:54-59) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6,8,16-17; Bacaan Injil: Mat 10:17-22

Pada hari ini, hanya satu hari setelah Hari Raya Natal, kita menghormati Santo Stefanus, murid Yesus pertama yang mati sebagai martir-Nya. Stefanus adalah salah satu dari 7 (tuhuh) orang diakon pertama dalam Gereja awal, yang ditugaskan untuk melayani distribusi keperluan sehari-hari kepada umat sebagian umat Gereja Yerusalem, yaitu para janda yang berasal dari orang-orang Yahudi yang berbicara dalam bahasa Yunani (Kis 6:1-6). Apakah job qualification bagi Stefanus dan enam orang lainnya untuk menjadi diakon dalam Gereja? “Terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat” (Kis 6:3). Tentang Stefanus, “Kisah para Rasul” mencatat: “… mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus …” (Kis 6:5). Stefanus begitu dipenuhi dengan Roh Kudus, sehingga dengan penuh keberanian berkhotbah di jalan-jalan dan membuat mukjizat-mukjizat sebagaimana telah diperbuat oleh Yesus.

Ketika Stefanus ditangkap dan dibawa ke hadapan Mahkamah Agama, Roh Kudus memberikan kepadanya kata-kata pembelaan diri untuk diucapkan, seperti yang telah dijanjikan oleh Yesus kepada setiap murid-Nya: “Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan” (Luk 12:11-12). Bahkan ketika dia sedang ditimpuki batu oleh para penganiayanya, sesaat sebelum kematiannya, Stefanus masih mampu (dimampukan) untuk berbicara kebenaran dan memberitakan belas kasih Allah terhadap para musuhnya: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60).

Kata-kata terakhir yang diserukan oleh Stefanus ini tidak datang kepadanya secara ajaib. Kata-kata ini adalah ekspresi terakhir dari seseorang yang hidupnya secara total bergantung pada Roh Kus, dan kata-kata itu adalah suatu pencerminan dari apa yang Roh Kudus ingin lakukan untuk kita. Roh Kudus ingin mentransformasikan kita ke dalam keserupaan dengan Yesus. Selagi kita belajar untuk menyerahkan mindsets kita, asumsi-asumsi kita, rencana-rencana kita, bahkan afeksi-afeksi kita kepada Tuhan, kita pun akan dibentuk dan diubah oleh Roh Kudus-Nya. Kita akan menemukan kuat-kuasa yang kita perlukan untuk dapat ke luar dalam kasih dan berjumpa dengan orang-orang lain, bahkan para “musuh” kita, yang mendzolomi kita, yang membenci kita.

Yesus datang ke tengah dunia untuk mengundang kita ke dalam hidup yang senantiasa dipenuhi dan dipimpn oleh Roh Kudus (Inggris: A Spirit filled and Spirit led life). Sesungguhnya kita sudah memiliki potensi untuk hal ini dalam hati kita. Allah yang hidup berdiam dalam diri kita oleh kuasa Roh Kudus. Ia telah ada di sana, menantikan kita untuk berbalik kepada-Nya dan menerima kuat-kuasa-Nya. Hadiah Natal apalagi yang lebih baik yang mungkin kita terima?

Setiap pagi, baiklah kita memberikan hati kita kepada Roh Kudus. Dan dengan berjalannya hari, kita tidak boleh lengah mendengarkan bisikan-bisikan Roh Kudus, kata-kata-Nya yang penuh kasih, bimbingan-Nya dan koreksi-koreksi-Nya atas berbagai kesalahan/dosa kita. Selagi kita melakukan semua ini, kita pun akan melihat terjadinya perubahan dalam semua ini, kita pun akan melihat terjadinya peruban dalam diri kita. Kita menjadi lebih sabar, berbicara dengan lebih lemah lembut, membuang sikap yang suka menghakimi orang lain, bahkan dimampukan untuk mengashi mereka yang mendzolimi diri kita, yang tidak memahami kita, yang membenci kita – semua dimungkinkan karena kita telah mendengarkan suara Roh Kudus.

DOA: Roh Kudus, Engkau adalah sumber kekuatanku, pengharapanku, dan kasihku. Lebarkanlah pintu gerbang hatiku sehingga sang Raja Damai dapat masuk ke dalamnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:8-10; 7:54-59) bacalah tulisan berjudul “YA TUHAN YESUS, TERIMALAH ROHKU” (bacaan tanggal 26-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-12-18 dalam situs/blog

Cilandak,  24 Desember 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IA AKAN SENANTIASA BERADA BERSAMA KITA DAN IA AKAN MEMPERKUAT KITA

IA AKAN SENANTIASA BERADA BERSAMA KITA DAN IA AKAN MEMPERKUAT KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir – Kamis, 29 Agustus 2019)

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:17-29) 

Bacaan Pertama: Yer 1:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17 

Yohanes Pembaptis mewartakan sabda Allah kepada segala lapisan dalam masyarakat: kepada para pangeran dan raja, kepada para imam dan orang biasa, dengan cara yang sama tanpa banyak memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya. Seperti juga nabi Yeremia, Yohanes Pembaptis berkhotbah melawan arus deras tsunami korupsi moral dan apatisme spiritual yang mencirikan para pemimpin Israel pada zaman mereka masing-masing (lihat bacaan pertama Yer 1:17-19). Yohanes Pembaptis berdiri tegak membela kebenaran Allah dan berbicara tanpa rasa takut sedikit pun pada saat mereka yang berada di puncak pimpinan negeri menghina hukum Tuhan. Pada akhirnya, Yohanes Pembaptis harus membayar harga/biaya yang tinggi untuk kesetiaannya kepada Allah – yaitu kepalanya sendiri.

Semua orang Kristiani menghadapi tantangan-tantangan serupa dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Yohanes Pembaptis. Siapakah di antara kita yang tidak harus berenang melawan arus budaya yang berlaku … menjadi “tanda lawan” dan membayar biayanya – ketika mencoba untuk mempertahankan komitmen kita kepada Yesus? Walaupun belum mengambil bentuk pengejaran serta penganiayaan dalam skala besar, siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami salah satu bentuk penghinaan, ejekan, olok-olok karena iman-kepercayaan Kristiani kita? Ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak hanya datang untuk menolong dan menghibur mereka yang mengalami kesusahan, melainkan juga untuk mendatangkan kesusahan bagi mereka yang hidup nyaman. Bukankah pernyataan ini sedikit banyak menggambarkan kehadiran kita sebagai orang-orang Kristiani di tengah dunia?

Dalam prakteknya, hal ini dapat berarti memegang posisi-posisi yang tidak populer di sekolah atau tempat kerja. Karena iman-kepercayaan kita atau  gaya hidup kita, kita dapat diberi gelar “kuno”, tidak “trendy” dslb. Ketika anda hendak berbagi pesan Injil, anda dapat ditolak atau dituduh melakukan intervensi ke dalam hidup seseorang atau memaksakan kepercayaan anda kepada orang lain. Ini selalu menjadi pengalaman para hamba Allah. Kesetiaan kepada Allah dan menjadi murid Tuhan Yesus yang setia memang mengandung biaya. Inilah biaya kemuridan …… cost of discipleship!

YOHANES PEMBAPTIS DI PENJARAWalaupun ditolak,  bahkan dianiaya – seperti Yeremia dan Yohanes Pembaptis – kita dapat berpegang teguh pada janji Allah, bahwa Dia akan senantiasa berada bersama kita dan Ia akan memperkuat kita. Dia akan menderita dengan mereka yang menderita dan Ia menawarkan penghiburan dan dorongan pemberian semangat tanpa batas. Ia akan terus membentuk diri kita dan mengajar kita bagaimana melayani kebenaran-Nya dengan kasih dan bela rasa, dan Ia terus menguatkan kita untuk apa pun bentuk perjuangan di masa depan. Jika Yohanes Pembaptis dapat bertahan berbulan-bulan lamanya dalam penjara Herodus Antipas, bahkan mengalami kematian sebagai seorang martir, maka kita pun dapat menangani apa saja bentuk pencobaan yang menimpa diri kita – tidak dengan menggunakan kekuatan kita sendiri atau lewat daya tahan kita secara fisik, melainkan dengan berlindung pada Allah yang senantiasa hadir.

DOA: Tuhan Yesus, dengarkanlah doa kami bagi semua orang Kristiani di mana saja mereka berada – di Timur Tengah, di Indonesia, di beberapa negara Afrika dan di banyak tempat lain di dunia yang sedang menghadapi pengejaran dan penganiayaan yang disertai dengan kekerasan maupun tersembunyi. Hiburlah mereka oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Tuhan, biarlah diri-Mu menjadi kekuatan dan penghiburan bagi mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:17-29), bacalah tulisan berjudul “YOHANES PEMBAPTIS BERDIRI SEBAGAI PENDAHULU YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 29-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Monika] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK ADA KEPALSUAN DALAM ORANG INI

TIDAK ADA KEPALSUAN DALAM DIRI ORANG INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Bartolomeus, Rasul – Sabtu, 24 Agustus 2019) 

FILIPUS DAN NATANAEL - 001Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”  Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”  Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata  Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”  Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia”  (Yoh 1:45-51) 

Bacaan Pertama: Why 21:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18    

Yohanes adalah satu-satunya penulis Injil yang menyebutkan rasul yang bernama Natanael, namun tradisi melihat dia sebagai murid yang bernama Bartolomeus dalam ketiga Injil Sinoptik. Bartolomeus berarti “putera dari Tolmai” dan mungkin saja ini adalah nama keluarga Natanael. Nama Bartolomeus selalu ditempatkan di samping nama Filipus, dia yang menurut Yohanes memperkenalkan Natanael kepada Yesus (Yoh 1:45-46).

Ketika Filipus syering kepercayaannya bahwa Yesus dari Nazaret adalah sang Mesias, maka Natanael menjawab: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Pemikiran di kalangan para rabi Yahudi yang diterima pada zaman itu adalah bahwa Mesias akan datang dari Yudea, tanah Daud – paling sedikit tidak berasal dari daerah seperti Galilea yang didominasi oleh kaum kafir. Sebenarnya tanggapan Natanael itu lebih daripada sekadar komentar sinis atau suatu pernyataan ketidakpercayaan. Reaksi Natanael itu mengungkapkan suatu ketaatan yang kuat-kokoh pada sabda Allah menurut apa yang dipahaminya, dan suatu kemauan untuk melihat asumsi-asumsinya ditantang dengan pandangan lain. Kenyataan bahwa Natanael menerima undangan Filipus untuk bertemu dengan Yesus banyak menggambarkan dia sebagai seorang pribadi yang terbuka bagi kebenaran.

POHON ARA - 4 - SUBURSecara cukup ironis, Yesus yang melihat Natanael yang mendatangi-Nya, membuat semacam deklarasi: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (Yoh 1:47). Keterbukaan Natanael sungguh mengesankan bagi Yesus. Yesus melihat sedikit sekali sinisme, rasa curiga, atau prasangka dalam diri Natanael. Orang yang satu ini tidak bersembunyi di belakang kedok bilamana berurusan dengan orang-orang lain. Sebaliknya, dia berbicara kebenaran secara blak-blakan dan tidak mengharapkan apa-apa sebagai ganjaran. Yesus menjelaskan bahwa Dia melihat Natanael ketika berada di bawah pohon ara. Para rabi diketahui suka berkumpul di bawah pohon-pohon ara untuk mendiskusikan sabda Allah. Keterbukaan hati Natanael tentunya merupakan tanah yang sungguh subur untuk berakarnya sabda Allah.

Allah ingin memberikan kepada kita kebebasan dan keterbukaan sama seperti yang dimiliki oleh Natanael. Tidak ada kepalsuan bukanlah suatu atribut pribadi yang bersifat alamiah, melainkan datang selagi kita memasrahkan keamanan diri kita dalam tangan-tangan kasih Yesus. Karena kita mengetahui pengampunan-Nya dan menaruh kepercayaan pada pemeliharaan Bapa-Nya, maka tidak perlulah bagi kita untuk membentengi diri kita dengan segala macam upaya perlindungan yang bersifat duniawi. Seperi Natanael, marilah kita membenamkan diri ke dalam Kitab Suci dan memperkenankan sabda Allah menyembuhkan diri kita dari segala kepalsuan.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengenal diri kami lebih baik daripada kami mengenal diri kami sendiri. Semoga Roh Kudus-Mu membuang segala kepalsuan yang ada pada diri kami masing-masing dan membuat kami “garam bumi” dan “terang dunia” yang dengan jelas mencerminkan kemuliaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:45-51), bacalah tulisan berjudul “NATANAEL: SEORANG MURID DAN MARTIR KRISTUS SEJATI” (bacaan tanggal 24-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Pius X, Paus]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LAURENSIUS: SEORANG DIAKON DAN MARTIR KRISTUS

LAURENSIUS: SEORANG DIAKON DAN MARTIR KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA S. LAURENSIUS, DIAKON-MARTIR – Sabtu, 10 Agustus 2019)

Sesungguhnya Aku berkata berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. (Yoh 12:24-26) 

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-10;Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-9

Santo Laurensius adalah salah seorang dari tujuh diakon Gereja Roma pada tahun 200-an. Sebagai seorang diakon, kepadanya dipercayakan tugas pelayanan mengurusi harta-benda milik Gereja dan memberikan sedekah kepada orang-orang miskin. Tugas ini dilakukan oleh Laurensius dengan hati-hati sekali dan juga dengan penuh bela rasa, karena dia melihat dan mengakui bahwa orang-orang miskin adalah harta Gereja yang paling besar, seperti yang ditulis oleh Yakobus dalam suratnya: “Dengarkanlah, Saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang mengasihi Dia?” (Yak 2:5).

Pada tahun 257, Kaisar Valerian mulai melakukan pengejaran dan penganiayaan terhadap umat Kristiani, dan dalam jangka waktu satu tahun Paus Sixtus II (257-258) juga ditangkap dan dibunuh. Empat hari kemudian, Laurensius pun mati sebagai martir Kristus. Konon, ketika Laurensius diperintahkan untuk menyerahkan segala harta benda Gereja kepada Kaisar, Laurensius malah membawa  orang-orang lumpuh, orang-orang buta, orang-orang kusta dan para fakir miskin kepada Pak Gubernur yang bertindak atas nama Kaisar. Laurensius berkata: “Tuanku, inilah harta kekayaan Gereja!” Orang-orang miskin memang adalah harta-milik Gereja yang sejati. Gereja Kristus memang sejatinya adalah “a Church of the Poor and for the Poor!” untuk sepanjang masa. Untuk tindakannya ini Laurensius dihukum mati dengan dibakar hidup-hidup di atas sebuah pemanggangan.

Memang ada banyak cerita yang beredar sekitar kematian Laurensius, namun ada satu ciri yang selalu tampil dalam cerita-cerita itu: Laurensius sangat mengasihi Yesus Kristus dan dia sungguh ingin memberikan keseluruhan hidupnya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Walaupun sedang berada di bawah ancaman hukuman mati yang kejam, satu-satunya hasrat yang ada dalam hatinya adalah untuk menyenangkan Yesus, karena dia mengetahui bahwa maut tidak dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah (lihat Rm 8:35-39).

Mata manusia melihat bahwa Laurensius telah kehilangan segalanya. Akan tetapi dengan demikian dia menjadi sebutir biji gandum – seperti Yesus – yang jatuh ke dalam tanah dan mati, kemudian menghasilkan panen yang berbuah limpah untuk kerajaan Allah. Sebab itu, berabad-abad lamanya banyak orang datang untuk menjadi murid/pengikut Yesus …… setelah mendengar cerita-cerita tentang cintakasih tulus-mendalam dari Laurensius kepada Yesus Kristus.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Apakah sebenarnya hasrat hatiku yang terdalam? Apakah arti Yesus bagi diriku?” Apa pun jawaban Saudari/Saudara terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, Yesus ingin memenuhi hati kita masing-masing dengan Roh Kudus-Nya. Dia terus mencari hati manusia yang dengan sederhana berkata kepada-Nya, “Yesus, aku sungguh ingin lebih mengenal-Mu lagi. Aku ingin lebih mengasihi-Mu lagi.” Yesus terus mencari orang-orang yang terbuka bagi pengarahan dan ajaran-Nya. Yesus sungguh rindu agar kita mengandalkan diri sepenuhnya kepada-Nya setiap hari, teristimewa agar kita memperoleh kekuatan untuk dapat taat kepada panggilan-Nya. Santo Laurensius telah menanggapi kerinduan Yesus itu, demikian pula begitu banyak orang kudus yang mengikuti jejak Santo Laurensius, baik perempuan maupun laki-laki, dari zaman ke zaman. Dari Beato Raymundus Lullus [+1314] yang mengalami kemartiran di Afrika Utara sampai kepada para martir di Nagasaki pada tahun 1597; dari Santo Thomas More [+1535] di negeri Inggris sampai kepada St. Maximilian Kolbe [+1941] dari Polandia; dari St. Jeanne d’Arc [+1431] di Perancis sampai kepada para martir OFM, FMM, OFS dan lain-lainnya [+1900] di perang Boxer di Tiongkok. Nah, sementara kita memanggil Yesus dengan menyerukan nama-Nya yang kudus, maka Dia pun akan mengubah hati kita sedikit demi sedikit dengan kasih-Nya yang sangat mendalam.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah pengharapanku! Aku menyadari bahwa aku tidak dapat membuat diriku kudus – namun Engkau dapat, ya Tuhanku. Sekarang, dengan bebas aku memberikan hidupku sepenuhnya kepada-Mu, agar dengan demikian Engkau dapat bekerja di dalam diriku dan melalui diriku seturut kehendak-Mu. Tuhan Yesus, Engkau adalah harta kekayaanku yang paling besar dan agung. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 12-24-26), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MERAYAKAN KEMARTIRAN SANTO LAURENSIUS” (bacaan untuk tanggal 10-8-19), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Agustus 2019 [Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam Kapusin dan Martir]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS