Posts tagged ‘SAKSI KRISTUS’

BIARLAH KEADILAN ALLAH MENTRANSFORMASIKAN HATI KITA

BIARLAH KEADILAN ALLAH MENTRANSFORMASIKAN HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II [Tahun C] – 9 Desember 2018)

Dalam tahun kelima belas pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi gubernur Yudea, dan Herodus raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene, pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun. Lalu datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa, seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: “Ada suara yang berseru-seru di padang di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.” (Luk 3:1-6)

Bacaan Pertama: Bar 5:1-9; Mazmur Tanggapan: 126:1-6; Bacaan Kedua: Flp 1:4-6,8-11

Masa Adven dan Natal menimbulkan dalam diri kita perasaan-perasaan sehubungan dengan damai sejahtera yang datang dari Allah. Ingatlah kata-kata malaikat dan bala tentara surga yang memuji Allah ketika memberitahukan para gembala tentang kelahiran Yesus: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14). Ada begitu banyak pembicaraan tentang perdamaian, tidak hanya dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kita, melainkan juga di tingkat nasional, bahkan internasional sekali pun. Dalam dunia yang tak henti-hentinya penuh dengan kekerasan ini, kita sungguh berharap agar bangsa-bangsa tidak terus berkonflik satu sama lain. Demikian pula tentang semakin menghangatnya kondisi sosial-politik dalam negeri kita tercinta sehubungan dengan pilpres/pemilu/pilkada di tahun 2019 yang sudah di depan mata; kita sebagai rakyat biasa kiranya sungguh mendambakan kedamaian.

Dalam masa Adven dan Natal ini, tidak salahlah apabila pemikiran-pemikiran kita diarahkan pada hal-ikhwal yang menyangkut perdamaian. Namun demikian, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita pantas merasakan/mengalami damai sejahtera? Sudahkah kita menjadi perpanjangan tangan Allah dalam hal menciptakan perdamaian dalam hidup kita sehari-hari? Apakah kita telah menabur benih-benih rekonsiliasi dan pertobatan? Sebelum kita berjalan berputar-putar untuk mencapai perdamaian, kita harus bekerja keras untuk dicapainya keadilan. Tidak ada perdamaian jika kita tidak memiliki rasa haus dan lapar akan keadilan. Kita bisa saja mencapai keteraturan dalam masyarakat. Kita bisa saja mencapai ketenangan/kesentosaan domestik. Kota-kota dan universitas-universitas bisa saja tenang. Akan tetapi, tidak adanya satu pun dari yang disebut tadi berarti sudah ada perdamaian. Perdamaian tidak dapat dilepaskan dari keadilan, malah mengikutinya, karena jika kita menghasrati perdamaian tanpa keadilan, maka ujung-ujungnya adalah tirani.

Nah, jika perdamaian atau damai sejahtera mau menjadi lebih daripada sekadar suatu keinginan atau suatu mimpi, maka kita harus bekerja keras untuk mencapai keadilan. Tentunya kita tidak pernah akan mencapai keadilan dan perdamaian yang sempurna di dunia ini. Dosa mendistorsikan rasa dan praktek keadilan kita dan memperbudak kebebasan kita dengan ilusi-ilusi kemerdekaan. Damai sejahtera kita seringkali hanya berupa “diam tidak ikut-ikutan”. Namun begitu, bukanlah alasan bagi kita untuk menghindar atau “melarikan diri” dari pekerjaan untuk tercapainya keadilan, kebebasan dan perdamaian. Secara sederhana, kita harus bersikap bijak dan realistis tentang dosa dan kondisi manusiawi. Kita semua memiliki keterbatasan-keterbatasan. Namun sekali lagi, keterbatasan-keterbatasan kita bukanlah alasan bagi kita untuk tidak turut serta meringankan beban berat yang dipikul oleh orang-orang miskin, orang-orang yang tertindas, orang-orang tanpa kuasa dan orang-orang yang tidak dihargai dalam masyarakat.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Hari Minggu Adven II ini jelas menyoroti pentingnya “keadilan”. Kitab Barukh (bacaan Pertama) diperuntukkan bagi orang-orang Yahudi yang berdiam di Babel dan menderita segala macam pelanggaran atas martabat mereka yang biasa ditimpakan atas para anggota kelompok minoritas. Barukh mengingatkan mereka bahwa mereka sesungguhnya istimewa dan sangat penting. Mereka adalah umat TUHAN. Self-pity tidak diperkenankan. Barukh memberi suatu gambaran yang kuat:

Hendaklah berselubungkan kampuh kebenaran Allah, dan memasang di atas kepalamu tajuk kemuliaan dari Yang Kekal. Sebab di bawah kolong langit seluruhnya serimu akan dipertunjukkan oleh Allah. Dari pihak Allah engkau akan diberi nama ini untuk selamanya: “Damai sejahtera hasil kebenaran” dan “Kemuliaan hasil dari takwa” (Bar 5:2-4).

Keadilan Allah (kemurahan hati-Nya dan kesetiaan-Nya) adalah sedemikian rupa bahwa para buangan di Babel akan berkumpul sekali lagi di tanah yang telah diberikan TUHAN lama sebelumnya. Patah hati kita akan disembuhkan oleh keadilan dan rahmat Allah. Allah adalah TUHAN semua orang; Ia memerintah dengan keadilan dan belas kasih dan damai-sejahtera. TUHAN juga mempunyai ekspektasi bahwa umat-Nya bekerja untuk hal yang sama, yaitu keadilan, kebebasan, belas kasih dan damai-sejahtera. Bekerja seperti itu berarti mengenal dan mengalami suatu sukacita yang sejati dan mendalam.

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (bacaan Kedua), Santo Paulus berdoa agar komunitas di Filipi “penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah” (Flp 1:11). Panen keadilan adalah panen yang menghasilkan buah-buah kasih, kebijaksanaan dan suatu hikmat yang membimbing diri kita dalam mencari hal-hal yang sungguh berarti. Kita mencari Allah dan jalan-jalan-Nya. Namun dalam kenyataannya kita sesungguhnya memperkenankan Allah menyusul kita, karena Allah-lah yang senantiasa mencari kita. Kita lah yang biasanya melarikan diri dari Allah dan coba mencari damai sejahtera kita dalam hal-hal yang salah. Kita sekarang harus  benar-benar menghargai karunia-karunia Roh yang tidak dapat dirusak oleh karat, dimakan ngengat atau dicuri oleh maling.

Tokoh paling menonjol dalam masa Adven adalah Yohanes Pembaptis. Ia memanggil orang-orang untuk menerima baptisan pertobatan. Tidak akan ada damai sejahtera dan kebebasan jika kita tidak membuka diri bagi rahmat Allah. Harus ada suatu perubahan hati/batin dalam diri seorang pribadi agar dia dapat meninggalkan egoisme, kesombongan/keangkuhan dan cintanya akan kekuasaan. Mengapa? Karena jika hati/batin kita tidak berubah, maka perubahan yang menyangkut kelembagaan juga tidak akan terwujud. Dan jika hati kita dan hal-hal yang menyangkut kelembagaan tidak berubah, maka kita terus saja melakukan kekerasan terhadap Tubuh Kristus dan segenap ciptaan. Hanya apabila kita memperkenankan keadilan Allah mentransformasikan batin kita, maka kita dapat berkata: “Damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” dan “Biarlah ada damai sejahtera di atas bumi dan biarlah hal itu dimulai dengan diri saya sendiri.”  Mengapa? Karena keadilan Allah yang bekerja di dalam diri saya menghasilkan panen kebebasan, damai dan sukacita yang tidak dapat diambil oleh orang lain dari diri kita. 

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahakuasa dan Maharahim, janganlah Kaubiarkan pekerjaan kami sehari-hari dan urusan-urusan kehidupan dalam dunia ini sampai menghalangi kami menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Putera-Mu. Terangilah kegelapan hati dengan pikiran kami dengan hikmat-Mu dan bimbinglah kami agar dapat dipersatukan dengan Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 3:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SELALU MENCARI JALAN UNTUK MEMBAWA KITA KEPADA DIRI-NYA” (bacaan tanggal 9-12-18) dalam situs/blog   SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Desember 2018 [HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 20 Oktober 2018)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2-7 

NYT2010100712284619C

Kebaktian gereja di Munich, Jerman, telah selesai, ketika tiba-tiba perempuan itu melihat laki-laki itu; mantan prajurit SS Nazi yang bertugas menjaga di dekat pintu kamar mandi di kamp konsentrasi Ravensbruck. Banyak tahun telah berlalu, namun memori-memori membanjiri pikiran perempuan itu – ruangan yang penuh berisi laki-laki yang mengolok-olok dirinya, tumpukan baju, rasa takut yang bercampur dengan marah dan malu. Pada suatu hari, setelah baru saja menyelesaikan ceramahnya, seorang laki-laki muncul dari antara orang-orang yang hadir dan mendatanginya dan berkata kepada perempuan itu, “Betapa penuh syukur saya mendengar pesan anda, …… berpikir bahwa Yesus telah membasuh bersih dosa-dosaku!”

Mula-mula perempuan ini, yang sudah begitu sering berceramah tentang betapa perlunya mengampuni, tidak mau mengulurkan tangannya ketika laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyalaminya. Merasakan keengganan dirinya, kemudian perempuan itu memohon kepada Yesus untuk menolongnya mengampuni laki-laki itu. Tanpa mampu tersenyum sedikit pun, perempuan itu berdoa lagi: “Yesus, aku tidak dapat. Berikanlah pengampunanmu kepadaku.” Pada akhirnya, selagi dia berjabatan tangan dengan laki-laki itu, “terjadilah suatu hal yang luar biasa. Dari pundakku terus melewati lengan dan tanganku, terasa adanya sesuatu yang mengalir dari diriku kepada orang itu, sementara dari kedalaman hatiku mengalirlah keluar cintakasih bagi orang asing ini, hal mana hampir membuat aku ‘kewalahan’ karena karena rasa gembira yang penuh ketakjuban.”

Perempuan itu adalah Corrie ten Boom [1892-1983]. Siapa yang dapat menyalahkan Corrie untuk sikapnya yang tidak mau mengampuni? Keluarganya dihabiskan oleh para penguasa Nazi hanya karena mereka adalah orang-orang Kristiani yang menyembunyikan orang-orang Yahudi dari pengejaran para penguasa Nazi tersebut. Akan tetapi, melalui rahmat Allah yang bersifat supernatural, Corrie dimampukan untuk dapat melihat melampaui rasa sakit hatinya dan berpaling kepada Yesus dalam momen pengambilan keputusan yang krusial.  Sebagai bukti kebenaran-kebenaran dari hal-hal yang telah disyeringkan olehnya kepada orang-orang lain, sikap dan tindakan sederhana Corrie terhadap mantan-penganiayanya menunjukkan, bahwa belas-kasih dapat menang-berjaya atas penghakiman.

Apakah mereka mengetahuinya atau tidak – dan apakah kita mempersepsikannya atau tidak – sebenarnya setiap insan (Nazi, komunis, atheis, agnostik dlsb.) memiliki kerinduan untuk mengenal Injil. Itulah sebabnya, mengapa Allah memanggil kita masing-masing untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Itulah sebabnya, mengapa Dia memberikan kepada kita berbagai kesempatan setiap hari untuk menyebarkan Kabar Baik-Nya kepada para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para rekan-kerja kita dll. Evangelisasi tidak perlu sulit-sulit amat! Evangelisasi dapat sama sederhananya dengan percakapan sehari-hari. Dengan tetap berada dekat dengan Yesus membuat kita terus terbuka bagi gerakan-gerakan Roh-Nya. Dengan demikian, Injil yang kita hayati dalam kehidupan kita akan menarik banyak orang kepada Allah.

Marilah kita menjaga diri kita agar tetap terbuka bagi Roh Kudus dan senantiasa mengingat kebenaran yang satu ini: yaitu bahwa Roh Kudus inilah yang melakukan evangelisasi, bukan kita. Roh Kudus Allah-lah yang sesungguhnya merupakan SANG PEWARTA, Dia yang senantiasa bekerja di belakang layar.

DOA: Roh Kudus yang penuh kuasa dan kasih, berikanlah kepadaku hati seorang penginjil. Semoga diriku senantiasa mencerminkan kebenaran-kebenaran Injil. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA” (bacaan tanggal 20-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Penulis Injil – Kamis, 18 Oktober 2018)

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Luk 10:1-9) 

Bacaan Pertama: 2Tim 4:10-17b; Mazmur: Mzm 145:10-13,17-18

Hari ini kita merayakan Pesta Santo Lukas, penulis “Injil Lukas” dan “Kisah para Rasul”. Dari sedikit informasi yang kita miliki tentang Lukas, dapat dikatakan bahwa dia bukanlah seorang Yahudi, dia berpendidikan tinggi dan berlatar-belakang budaya helenis (Yunani), dan seorang dokter/tabib. Ia menanggapi dengan sepenuh hati panggilan Tuhan. Jelas Lukas bukan salah satu dari dua belas rasul, namun dia tabah dan setia dalam mengikuti jejak Tuhan dan dengan berupaya sepenuh hati untuk belajar lebih tentang Tuhan Yesus Kristus dari para saksi mata (lihat Luk 1:1-4). Lukas menjadi seorang beriman Kristiani lewat Kabar Baik yang diberitakan para murid Yesus yang lebih “senior” daripada dirinya sendiri. Kemudian, setelah diberdayakan oleh Roh Kudus, Lukas berpartisipasi dalam pelaksanaan Amanat Agung Kristus yang sudah bangkit (Mat 28:18-20).  Lukas melakukan perjalanan misi bersama Santo Paulus sebagai seorang anggota tim-misionarisnya dan membuat Yesus dikenal di Timur Dekat dan Eropa, dengan biaya yang cukup tinggi, yaitu karirnya sendiri sebagai seorang tabib.

Dalam kehidupan pelayanan-Nya di dunia, Yesus mengutus 70 (tujuh puluh) orang murid-Nya, malah ada manuskrip-manuskrip kuno yang mengatakan 72 [tujuh puluh dua] orang. Mereka diutus untuk apa? Untuk mengumumkan, bahwa: “Kerajaan Allah sudah dekat padamu” (Luk 10:1-9). Lukas menanggapi seruan itu dengan sebuah hati yang terbuka, dia memperkenankan Roh Kudus untuk mengubah hidupnya. Ketika Tabib Lukas menyadari bahwa Kerajaan Allah sudah datang, dia berbalik dari suatu kehidupan nyaman dan sukses sebagai tabib profesional, dan kemudian mengabdikan dirinya kepada karya evangelisasi sesuai dengan panggilan Allah.

Kita semua juga dipanggil oleh Allah. Adalah suatu kepastian bahwa Allah mempunyai sebuah rencana bagi kita masing-masing. Ketika berkhotbah dalam rangka perayaan Santo Lukas pada tahun 1985, almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang sudah seorang Santo) mengatakan: “Setiap orang Kristiani harus sadar bahwa dia adalah seorang pesuruh dan seorang rasul, seorang yang menyebar-luaskan iman-kepercayaan.” Kepada siapa? Tidak hanya kepada orang-orang lain yang jauh. Di rumah kita masing-masing, di lingkungan gereja kita masing-masing, di tempat kerja kita masing-masing, di tempat kita masing-masing berbelanja: di mana saja dan kapan saja, kita dipanggil untuk menjadi rasul-rasul. Sri Paus mengatakan lagi: “Setiap orang harus sadar bahwa dia adalah seorang pribadi yang di dalam dirinya api iman telah dinyalakan – api yang … di-‘takdir’-kan untuk bersinar sehingga semua orang dapat memperoleh terang cahaya dan panas daripadanya.”

Kita harus ingat selalu, bahwa panggilan kita adalah dari Allah yang mahakuasa. Pada malam sebelum sengsara dan kematian-Nya, Yesus bersabda kepada para murid-Nya: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu……… , supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Lukas dipanggil untuk melakukan perjalanan jauh bersama Santo Paulus; di bawah naungan Roh Kudus dia membuat catatan yang dapat dipertanggung-jawabkan tentang kelahiran Kekristenan, dan menurut tradisi dia pun mengalami kematian sebagai seorang martir Kristus di Akhaya, tidak lama setelah kemartiran Santo Paulus.

Kita memang sudah tahu bahwa kita dipanggil oleh Allah, namun seringkali kita masih saja mempunyai pikiran yang bernada negatif: “Aku tidak pernah dapat menjadi Santo Lukas. Dia kan lain. Dia hidup pada zaman yang lain samasekali!” Dalam hal ini mungkin kata-kata penuh hikmat yang pernah diucapkan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta (sekarang sudah seorang Santa) dapat menolong kita. Seorang pengunjung di Kalkuta berkata kepada Bunda Teresa: “Bunda, engkau telah melakukan sedemikian banyak bagi orang-orang miskin. Engkau membawa Injil cintakasih kepada orang-orang lain dengan begitu banyak cara. Saya tidak pernah akan sanggup melakukan hal-hal seperti yang telah Bunda lakukan.” Bunda Teresa menjawab: “Mungkin saya melakukan apa yang anda tidak dapat lakukan, namun anda dapat melakukan hal-hal yang saya tidak dapat lakukan. Bersama-sama kita dapat melakukan sesuatu yang indah bagi Allah.” Sejalan dengan jawaban Bunda Teresa tadi, almarhum Paus Yohanes Paulus II juga mengatakan: “Kita dipanggil, masing-masing dengan cara yang berlainan, untuk pergi dan menghasilkan buah; untuk masuk ke dalam suatu relasi cintakasih dengan Yesus, sebagai murid yang aktif dan setia.”  Marilah kita menanggapi panggilan Allah itu dengan sepenuh-hati, dengan keikhlasan, dengan ketulusan hati yang tidak perlu diragukan lagi. Sebagai orang Kristiani kita diutus oleh Yesus untuk menyebar-luaskan Kabar Baik, bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Allah memiliki hasrat untuk memasukkan kita ke dalam barisan para pekerja ke kebun anggur-Nya. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuka hati kita dan berkata: “Ya Tuhan, aku mau melakukan kehendak-Mu.”

Kalau demikian halnya, bagaimana harus kita memulainya? Kita harus mulai bersama Yesus sendiri. Memberitakan kepada orang-orang lain tentang Tuhan berarti bangkit keluar dari relasi kita sendiri dengan Dia. Kalau kita setiap hari menyediakan waktu cukup untuk berdoa kepada-Nya, mendengarkan apa yang dikatakan-Nya kepada kita serta mempraktekkannya, maka upaya kita untuk berbicara tentang Dia kepada orang lain menjadi suatu tindakan yang natural. Dalam kesempatan ini ingatlah bahwa seseorang tidak dapat memberikan “sesuatu” kepada orang-orang lain, kalau dia sendiri tidak memiliki “sesuatu” itu. Kalau kita gantikan kata “sesuatu” itu dengan “Yesus”, maka kita dapat menyadari pentingnya arti “pengalaman akan Allah/Yesus” sebagai syarat awal setiap upaya seseorang untuk mulai melakukan evangelisasi.

Kita tidak perlu melakukan perjalanan jauh-jauh seperti yang telah dilakukan oleh Santo Lukas dan Santo Paulus sekitar 1.900 tahun lalu, karena kita mempunyai banyak sekali peluang untuk memberitakan Injil. Setiap hari kita mempunyai kesempatan untuk memberikan diri kita sendiri, untuk bercerita kepada orang-orang lain bahwa Allah mengasihi mereka,  kita berdoa untuk mereka dan berbagi iman-kepercayaan kita dengan mereka. Romo Gino Henriques CSsR, Director dari Evangelization 2000 untuk Asia-Oceania, yang berkedudukan di Singapura, mempunyai sejumlah cerita aktual tentang upaya umat dalam evangelisasi. Hal-hal kecil yang dilakukan sungguh dapat menghasilkan buah. Satu cerita: ada seorang perempuan setengah baya yang bekerja di dapur pastoran. Pada suatu hari Romo Gino bertemu dengan perempuan itu di halaman Gereja yang kelihatan sedang bergegas mau pergi. “Ketangkap basah”’, perempuan itu mulai “mengaku dosa”. Sebenarnya, dia sedang mau pergi menemui seseorang yang memerlukan pendampingan rohani, karena dalam keadaan sangat sulit. Perempuan itu mengaku, bahwa manakala pelajaran evangelisasi sedang berlangsung di aula paroki, secara diam-diam dia juga mencuri-dengar apa yang diajarkan dan didiskusikan di dalam kelas. Dia juga mencatat apa-apa yang perlu. Ternyata perempuan yang akan dikunjunginya bukanlah “pasiennya” yang pertama. Perempuan petugas dapur pastoran yang tidak berpendidikan tinggi itu ternyata seorang penginjil kaliber jawara. Sungguh agung karya Roh Kudus!

Seperti halnya dengan Santo Lukas dan semua misionaris Gereja Perdana, kita tidak pernah boleh merasa takut dan ciut. Ingatlah bahwa Dia menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman (Mat 28:20). Marilah kita terus bertekun dalam upaya kita memberitakan Injil kepada orang-orang di sekeliling kita. Ingatlah yang satu ini, yaitu bahwa Injil atau Kabar Baik adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1:16).

DOA: Ya Allah, ya Tuhan kami, Engkau telah memilih Santo Lukas untuk mewartakan dengan lisan dan tulisan rahasia cintakasih-Mu kepada kaum miskin dan papa. Semoga kami pun dapat bermegah dalam nama-Mu dan bertekun sehati dan sejiwa, supaya semua bangsa melihat keselamatan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk melihat uraian tentang Bacaan Pertama hari ini (2Tim 4:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL” (bacaan tanggal 18-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Oktober 2018 [Peringatan S. Teresia dr Yesus, Perawan Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, Perawan Pujangga Gereja, Pelindung Misi – Sabtu, 1 Oktober 2018)

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  (Mat 18:1-5) 

Bacaan Pertama: Ayb 1:6-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1-3,6-7 

ATAU: Bacaan Pertama: Yes 66:10-14b, atau 1Kor 12:31-13:13; Bacaan Injil: Luk 9:46-50 

“Siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.” (Mat 18:4) 

Ketika Yesus meminta kita untuk menjadi seperti anak kecil, Dia sebenarnya mengungkapkan hasrat-Nya bagi kita untuk memperoleh kembali innocence masa kanak-kanak kita. Ketika kita masih kecil, kita sangat mudah percaya akan “seorang”  Allah yang baik, yang mengawasi dan mengutus para malaikat untuk membimbing kita di dunia ini. Renungkanlah sebuah doa yang disampaikan oleh seorang Teresia Martin yang baru berusia 7 (tujuh) tahun kepada Kanak-kanak Yesus yang sangat dirindukannya, namun belum boleh disambutnya: “Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah aku menjadi mainan-Mu! Anggap saja aku ini bola-Mu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silahkan! Dan kalau hendak Kautinggalkan di sudut kamar karena bosan, boleh saja. Aku akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau bola-Mu ini hendak Kautusuk. … O Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendak-Mu!”  Ini adalah sebuah doa anak kecil yang sejati, yang keluar dari innocense masa kanak-kanak!

Innocence ini mengalami erosi sejalan dengan meningkatnya usia kita menuju kedewasaan. Berbagai pengalaman hidup kita dalam dunia ini dapat membuat kita lusuh dan letih-lelah, malah dapat membuat kita bersikap sinis atau sarkastis kalau berbicara mengenai kedekatan Allah dengan diri kita, apalagi bila menyangkut keberadaan para malaikat pelindung. Di bawah berbagai macam tekanan hidup, ketika kita sedang susah atau di bawah pengaruh negatif dari berbagai kenikmatan hidup, manakala kita sedang berada dalam keadaan oke-oke, kita malah dapat saja mulai percaya bahwa diri kita sendirilah penentu “nasib” kita: tidak ada seorang pun dapat menolong diri kita kecuali kita sendiri! Berkaitan dengan hal ini ingatlah sebuah “pepatah” dalam bahasa Inggris: “God only helps those (people) who help themselves!” Sungguh merupakan ungkapan kesombongan manusia!

itheres001p1

Yesus ingin memerdekakan kita dari isolasi bikinan kita sendiri atau kemandirian keliru yang malah memenjarakan kita sebagai tawanan. Yesus mau membangkitkan dalam diri kita sukacita dan innocence sejati dan orijinal yang pernah kita miliki/alami ketika kita untuk pertama kalinya mengetahui cintakasih pribadi-Nya yang mau tinggal dalam diri kita masing-masing. Kedewasaan Kristiani yang sejati bukanlah berarti peningkatan dalam kebebasan kita dari Allah, melainkan suatu ketergantungan lebih mendalam kepada-Nya.

Inilah pengalaman rohani yang telah terbukti benar dalam kehidupan Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus atau Santa Teresia dari Lisieux, orang kudus yang dikenal sebagai “Santa Teresia Kecil” [1873-1897], yang kita rayakan pestanya pada hari ini. Ketika baru berumur 15 tahun, dengan izin khusus Sri Paus, Teresia masuk sebuah biara Karmel di Lisieux, Perancis. Hanya delapan tahun kemudian, suster muda usia ini meninggal dunia karena penyakit TBC yang dideritanya. Kalau hanya sampai di situ ceritanya, maka tidak ada yang istimewa dari kehidupan suster ini yang memang hidup di dalam tembok biara yang ketat. Namun apa yang diwariskannya meninggalkan rekam jejak yang sangat berpengaruh atas kehidupan Gereja, bahkan sampai hari ini. Teresia adalah contoh baik untuk ditiru kalau kita ingin mengikuti perintah Yesus dalam Bacaan Injil hari ini.

Walaupun sudah dewasa dalam usia, kita tidak akan mampu bertahan satu hari saja jika terpisah dari kerahiman dan rahmat Allah. Adalah Allah sendiri yang secara tetap menjaga kesehatan kita, relasi kita, keuangan kita, kehidupan kita dan seterusnya. Oleh karena itu – seperti halnya Santa Teresia Kecil – marilah kita mohon Roh Kudus untuk melakukan karya istimewa dalam diri kita, yaitu menolong kita agar mampu memandang peristiwa-peristiwa kehidupan dewasa ini dengan mata seorang anak kecil yang mengetahui dan mengalami cintakasih yang intim dari Bapa. Kalau pun hal ini susah, kita dapat memohon kesembuhan agar hal yang kita mohonkan tadi dapat terwujud. Bapa surgawi menginginkan kita datang kepada-Nya dengan segala urusan kita – betapa kecilnya pun urusan kita itu sehingga terlihat tidak penting di mata manusia. Santa Teresia Kecil adalah seorang pribadi yang mampu melihat kuat-kuasa dari kasih Allah yang dapat mengubah segalanya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau menjanjikan Kerajaan-Mu kepada orang-orang yang bertobat dan menjadi seperti anak-anak kecil. Berikanlah rahmat-Mu kepada kami agar dapat berjalan dengan penuh keyakinan seturut teladan hidup Santa Teresia Kecil, dengan demikian memampukan kami melihat kemuliaan-Mu yang kekal. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “SYARAT UNTUK MASUK KE DALAM SURGA” (bacaan tanggal 1-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 September 2018 [Peringatan B. Inosensius dr Bertio, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul Penginjil – Kamis, 21 September 2018)

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Andaikan anda sedang memulai sesuatu yang baru, barangkali suatu bisnis yang baru (apabila anda seorang pengusaha atau pemimpin di bidang bisnis), atau sedang menyusun organisasi pemerintahan yang baru (apabila anda seorang presiden sebuah republik), bukankah anda ingin memperoleh orang-orang terbaik untuk mengisi posisi-posisi puncak yang ada, misalnya untuk anggota direksi perusahaan anda atau sebagai anggota kabinet dan berbagai posisi kunci lainnya dalam pemerintahan anda? Bukankah anda sebagai seorang pribadi pemimpin yang waras akan mencari orang-orang yang berlatar pendidikan terbaik dan para go-getters yang akan get the job done, bukannya para “yes men” atau para penjilat “ABS” yang oportunis?

Walaupun “waras” dalam artian sesungguhnya, Yesus lain sekali dengan para pemimpin sekular atau keagamaan yang hidup di dunia. Yesus menemukan para rasul-Nya di perahu-perahu nelayan, bahkan di “kantor pajak/cukai”, seperti halnya dengan Lewi atau Matius ini (Mat 9:9). Kelihatannya Yesus suka memilih calon-calon yang dapat dijadikan sahabat-sahabat intim bagi diri-Nya dan kepada mereka Dia akan mempercayakan Gereja-Nya.

Pilihan Yesus atas diri Matius barangkali membingungkan orang-orang. Sebuah teka-teki pada zaman itu tentuya. Pada abad pertama di Israel, para pemungut cukai tidak memiliki status dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihina karena mereka bekerja untuk kekaisaran Roma dan biasanya mereka memperagakan kekayaan pribadi yang mencolok, tentunya lewat “pemerasan” atas diri anggota masyarakat. Di sisi lain pilihan Matius atas diri Yesus juga sama penuh teka-tekinya. Perubahan dirinya yang secara mendadak, dari seorang pemungut cukai yang tidak patut dipercaya menjadi seorang murid yang penuh gairah tentunya mengejutkan setiap orang yang mengenalnya. Mengapa dia mau melepaskan pekerjaannya yang “basah” itu demi mengikuti seorang tukang kayu dari Nazaret yang menjadi seorang rabi? Tentunya, dalam hal ini “uang” bukanlah motifnya!

Keputusan Matius untuk meninggalkan segalanya memberikan petunjuk kepada kita mengapa Yesus memanggil dirinya. Yesus memandang ke dalam hati Matius dan melihat di hati itu adanya rasa haus dan lapar akan Allah dan potensi untuk mengenali harta surgawi. Matius membuktikan Yesus benar ketika Dia menerima undangannya untuk merayakan kehidupan barunya dalam sebuah perjamuan di rumahnya, di mana para pemungut cukai yang lainpun dan orang-orang berdosa dapat bertemu dengan Tuhan (Mat 9:10).

Sejak saat itu, Matius tak henti-hentinya menawarkan harta-kekayaan Injil yang tak ternilai harganya itu secara bebas-biaya, semua free-of-charge. Tradisi mengatakan bahwa Matius mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus di tengah-tengah orang-orang Yahudi selama 15 tahun setelah kebangkitan Yesus, kemudian dia pergi ke Makedonia, Siria dan Persia. Di Persia inilah dikatakan  bahwa Matius mengalami kematian sebagai martir Kristus.

Iman dan devosi yang terbukti nyata dalam diri Matius adalah kualitas-kualitas pribadi yang diinginkan oleh Yesus dari kita juga yang hidup pada zaman modern ini. Jangan ragu-ragu! Apabila Allah dapat mengubah Matius, Petrus dan yang lainnya menjadi rasul-rasul, bayangkanlah apa yang dapat dilakukan-Nya atas diri kita. Yesus dapat mengangkat segala halangan yang merintangi diri kita untuk dipakai oleh-Nya. Yang diminta-Nya hanyalah bahwa kita percaya pada kasih-Nya yang penuh kerahiman dan kita menaruh kepercayaan pada kuat-kuasa dan rahmat-Nya.

DOA:  Tuhan Yesus, di atas segalanya, kuingin mengenal dan mengalami kasih-Mu, yang melampaui segala sesuatu yang ada. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “IKUTLAH AKU!” (bacaan tanggal 21-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak, 19 September 2018 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporroso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PESTA KELAHIRAN BUNDA YESUS KRISTUS

PESTA KELAHIRAN BUNDA YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Kelahiran SP Maria – Sabtu, 8 September 2018)

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi seerupa dengan gambaran Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Rm 8:28-30)

Bacaan Pertama alternatif: Mi 5:1-4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6; Bacaan Injil: Mat 1:1-16.18-23

Latar belakang Sejarah: Pesta Kelahiran Maria barangkali berasal-usul di Yerusalem  sekitar abad ke-6. Namun sejak sekitar abad ke-5 terdapat bukti adanya sebuah gereja yang didedikasikan kepada Santa Ana, sebelah utara Bait Suci di Yerusalem. Sophronius, Patriarkh (Beatrik) Yerusalem menyatakan pada tahun 602, bahwa gereja itu didirikan di atas tempat kelahiran S.P. Maria. Pilihan yang dijatuhkan pada sebuah hari di bulan September kiranya berasal dari kenyataan bahwa di Konstantinopel tahun penanggalan di mulai pada tanggal 1 September – yang masih berlaku di Gereja Timur. Tanggal 8 September ini kemudian menentukan tanggal “Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa” yang jatuh pada tanggal 8 Desember, yaitu 9 (sembilan) bulan sebelumnya. Pesta Kelahiran Maria mulai diperkenalkan di Roma menjelang abad ke-7. Sumber: Christopher O’Donnell O.Carm., AT WORSHIP WITH  MARY – A Pastoral and Theological Study. 

Lebih sempurna dari siapa saja, Maria memenuhi gambaran yang diberikan Santo Paulus tentang bagaimana Allah mengerjakan kebaikan dalam kehidupan semua orang yang “mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya” (lihat Rm 8:28). Dalam hikmat kekal-abadi, Allah menakdirkan Maria sejak awal untuk menjadi ibu Putera-Nya. Katekismus Gereja Katolik [KGK] mengatakan: “Untuk tugas menjadi ibu Putera-Nya, Allah telah memilih sejak kekal seorang puteri Israel, seorang puteri Yahudi dari Nasaret di Galilea” (KGK, 488). Melalui sebuah mukjizat rahmat Allah, dia (Maria) “sudah ditebus sejak ia dikandung” (KGK, 491), oleh karenanya menjadi “dibenarkan” di hadapan Allah. Dan, pada akhir kehidupannya di dunia, Maria dimuliakan pada waktu dia diangkat ke surga, tubuh dan jiwanya.

Maria berdiri di atas garis pemisah antara Perjanjian Lama (=Perjanjian Pertama) dan Perjanjian Baru. Tanggapannya yang positif (“ya”=persetujuan=fiat) terhadap panggilan untuk menjadi ibu dari Putera-Nya: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38), menandakan secara resmi kepenuhan waktu yang selama itu dinanti-nantikan seluruh umat manusia.

Santo Paulus menulis: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Membawa sang Sabda yang menjadi daging, Maria melahirkan sang Juruselamat, dengan demikian menjadi baik Bunda Allah maupun “Bunda kita semua.” Konsili Vatikan II menyatakan sebagai berikut: “Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah. Berdasarkan rencana Penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati, dan menjadi hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita dengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru Selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta-kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita” (Lumen Gentium, 61).

Kehormatan besar yang diberikan Allah kepada Maria telah membuat dirinya menjadi “mahkota ciptaan”. Dalam dirinya kita mempunyai suatu “pengingat-ingat’ yang kelihatan akan segalanya yang Allah telah janjikan kepada kita semua. Hidup Maria bukanlah suatu kehidupan yang enak-enak, namun dia tetap setia kepada Allah dan dia terus merangkul panggilan yang telah diberikan Allah kepadanya. Sekarang Maria yang telah dimuliakan di surga senantiasa siap untuk – untuk kepentingan umat yang masih hidup di dunia – melakukan pengantaraan (syafaat) kepada Yesus, Allah Putera.

Maria adalah suatu tanda pengharapan bagi setiap anggota Gereja, karena kita semua telah dipilih dan ditakdirkan dalam Kristus. Konsili Vatikan II menyatakan: “Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan” [lihat 2Ptr 3:10] (Lumen Gentium, 68).

DOA:  Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh rasa syukur atas karya-Mu dalam diri Maria, bunda-Mu. Oleh karena dia bersedia bekerja sama dalam rencana penyelamatan Allah, maka dia menjadi bunda kami semua. Terima kasih untuk pemeliharaan dan perhatian keibuannya yang telah diberikannya kepada kami, anak-anaknya, yang masih berziarah di atas bumi ini; juga untuk teladannya dalam hal iman, pengharapan dan cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “DITENTUKAN OLEH ALLAH SEJAK SEMULA” (bacaan tanggal 8-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 September 2018 [Peringatan S. Rosa dr Viterbo, OFS – Perawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YOHANES PEMBAPTIS: SANG BENTARA KRISTUS YANG RENDAH HATI

YOHANES PEMBAPTIS: SANG BENTARA KRISTUS YANG RENDAH HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir – Rabu, 29 Agustus 2018)

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:17-29) 

Bacaan Pertama: Yer 1:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17 

Pada hari ini Gereja dengan penuh hormat memperingati kemartiran Santo Yohanes Pembaptis, sang bentara Kristus. Allah telah memanggil orang ini untuk memproklamasikan sabda-Nya dengan penuh keberanian, dan Ia berjanji bahwa walaupun para pemimpin dan/atau pemuka agama di Yerusalem akan melawannya, mereka tidak akan dapat menaklukkannya. Sekarang marilah kita mengamati karakter Yohanes Pembaptis guna menemukan apa saja yang memampukan dirinya taat pada panggilan Allah, bahkan dengan harga yang sangat mahal … hidupnya sendiri.

Sejak saat sebelum kelahirannya, Yohanes sudah dipenuhi dengan Roh Kudus (lihat Luk 1:15). Roh Kudus-lah yang mengajar-Nya untuk mendengar suara Tuhan dan taat kepada-Nya. Selagi Yohanes bertumbuh dewasa, Roh Kudus memimpinnya kepada suatu kehidupan doa dan puasa serta mati-raga …… mencari kepuasan hanya dalam relasi yang intim/akrab dengan Allah. Pengenalan akan Allah ini menghasilkan kerendahan-hati yang penuh kuasa dalam diri Yohanes. Ketika ditanyakan kepadanya apakah dirinya sang Kristus (Mesias), Yohanes menjawab bahwa membuka tali kasut-Nya pun dia tidak layak (lihat Yoh 1:27).

Thomas à Kempis, pengarang buku kecil terkenal “Mengikuti Jejak Kristus” menulis berkaitan dengan kerendahan hati seperti yang diperlihatkan oleh Yohanes Pembaptis sebagai berikut: “Tuhan melindungi dan membebaskan orang yang rendah hati. Tuhan melimpahkan cinta-Nya dan memberi hiburan kepadanya. Orang yang rendah hati sungguh dekat pada Tuhan dan diberi rahmat banyak, dan setelah menderita penindasan ia dimuliakan Tuhan” (Buku Kedua, Pasal II, 2; terjemahan alm. Mgr. J.O.H. Padmasepoetra, Pr.).

Karena berkat-berkat seperti inilah maka Yohanes Pembaptis mampu bertahan dalam penjara Herodes Antipas dan kemudian dihukum pancung demi Tuhan Allah yang disembah-Nya. Sepanjang hidupnya, keprihatinan utama Yohanes adalah mencari kehadiran Allah dan bukan sibuk melihat siapa yang “pro” kepadanya atau “anti” terhadap dirinya. Tuhan Allah dan sabda-Nya kepada umat-Nya, adalah pokok yang paling penting dalam pikirannya, sehingga Yohanes dapat berbicara kebenaran dengan berani, bebas dari urusan hidup-matinya sendiri.

Thomas à Kempis melanjutkan: “Bila kita berusaha agar kita memperoleh damai dalam hati kita, maka barulah kita dapat memberi damai kepada orang lain” (Buku Kedua, Pasal III, 1). Karena kedamaian yang ada antara Yohanes dan Allah, maka dia mampu mengenali Yesus (Yoh 1:29) dan dengan efektif memimpin orang-orang kepada-Nya, tanpa peduli bahwa jumlah para pengikutnya sendiri akan menyusut sebagai akibatnya (Yoh 3:28-30).  Sungguh merupakan suatu testimoni indah bagi Yohanes Pembaptis, bahwa beberapa rasul Yesus yang paling setia pada awalnya dibina oleh nabi rendah-hati dan martir ini, yang ambisinya hanyalah menyiapkan jalan bagi Tuhan Yesus.

DOA: Bapa surgawi, buatlah kami rendah hati dan perkenankanlah kami mengalami kasih-Mu yang penuh kerahiman. Penuhilah diri kami dengan damai-Mu, sehingga seperti Yohanes Pembaptis, kami pun dapat memproklamasikan kemuliaan-Mu dan memimpin orang-orang lain kepada Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:17-29), bacalah tulisan berjudul “IA AKAN SENANTIASA BERADA BERSAMA KITA DAN IA AKAN MEMPERKUAT KITA” (bacaan tanggal 29-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Agustus 2018 [HARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS