Posts tagged ‘INJIL MATIUS’

YESUS KRISTUS MENGGENAPI HUKUM TAURAT

YESUS KRISTUS MENGGENAPI HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VI [TAHUN A] – 16 Februari 2020)

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. Aku berkata kepada: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku  berkatamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal  dari si jahat. (Mat 5:17-37) 

Bacaan Pertama: Sir 15:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,17-18,33-34; Bacaan Kedua: 1Kor 2:6-10

Taurat (Hukum atau Instruksi) adalah lima kitab pertama yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Orang Yahudi mengakui Taurat sebagai perwahyuan Allah. Taurat mengungkapkan pikiran-pikiran Allah yang intim mengenai diri-Nya sendiri dan mengenai jalan hidup suci yang ditawarkan-Nya kepada umat-Nya. Pada zaman lampau, apabila para rabbi Yahudi ditanya: “Apakah yang dilakukan Allah di surga?”; maka para rabbi itu akan menjawab: “Membaca Taurat!” Terdengar lucu sekarang, namun itulah faktanya.

Bagaimana Yesus memandang Taurat? Ia mengatakan kepada para pengikut-Nya bahwa Dia diutus oleh Bapa-Nya di surga untuk menggenapi hukum, agar Taurat menjadi berbuah. Itulah sebabnya mengapa Khotbah Yesus di Bukit memusatkan perhatian pada “hati” atau “niat batin” yang ada di belakang perintah-perintah kuno yang ada dalam Taurat. Misalnya, Yesus menjelaskan bahwa tidak cukuplah untuk menghindari tindakan mencederai orang lain secara fisik. Apabila kita mengasihi dari hati kita, kita harus belajar hidup dengan orang-orang lain dalam damai juga. Juga tidak cukuplah untuk menghindari pencurian dan perzinahan. Kita harus membuang hasrat untuk memiliki sesuatu yang menjadi hak milik orang lain; termasuk istri orang lain.

Meskipun Ia meningkatkan tuntutan perintah-perintah Allah, Yesus tidak menggambarkan Allah sebagai seorang hakim kejam yang siap untuk menghukum kita karena dosa-dosa kita. Allah mengasihi kita dan mengundang kita untuk merangkul kasih-Nya itu. Allah ingin mengubah kita oleh kuasa Roh Kudus-Nya, agar kita dapat mengasihi apa/siapa saja yang dikasihi-Nya, dengan demikian kita dapat meninggalkan kedosaaan kita.

Kasih Allah adalah seperti kobaran api yang menyala-nyala dengan sempurna, karena membakar habis hasrat-hasrat jahat kita dan memenuhi diri kita dengan suatu kerinduan untuk menyenangkan-Nya dan meletakkan hidup kita dalam pelayanan yang rendah hati bagi sesama. Santo Augustinus pernah berkata: “Penuhilah perintah-perintah Allah karena kasih. Dapatkah seseorang menolak untuk mengasihi Allah, yang begitu melimpah belas kasih-Nya, yang begitu adil dalam segala jalan-Nya?  Dapatkah seseorang menolak untuk mengasihi Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi kita walaupun kita masih terbelenggu dalam ketidakadilan dan kesombongan?”

Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memurnikan pikiran-pikiran kita  dan memenuhi hati kita dengan kasih Allah. Dengan demikian kita akan mulai hanya menghasrati apa yang disenangi Allah.

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus Kristus, karena Engkau telah memberikan kepadaku Roh Kudus-Mu. Penuhilah hatiku dengan kasih-Mu yang tak terbatas dan membuat diriku kudus sebagaimana Engkau kudus adanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-37), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS DATANG BUKAN UNTUK MENIADAKAN HUKUM TAURAT, MELAINKAN UNTUK MENGGENAPINYA” (bacaan tanggal 16-2-20 dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Februari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA ARUS UTAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

DUA ARUS UTAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA V [TAHUN A] – 9 Februari 2020)

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Mat 5:13-16) 

Bacaan Pertama: Yes 58:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:4-8a,9; Bacaan Kedua: 1Kor 2:1-5

Silahkan anda hening sejenak dan cobalah melakukan perjalanan ke zaman dahulu, yaitu zaman Yesus hidup di dunia. Pada waktu itu belum ada listrik, belum ada air conditioning, belum ada lemari pendingin. Orang belum ribut-ribut soal air sungai yang terkonteminasi oleh zat-zat kimia yang berasal dari limbah industri. Makanan yang tidak dimakan menjadi basi. Pada malam hari, yang ada hanyalah kegelapan total …gelap pekat sepekat-pekatnya. Dengan demikian, kalau Yesus berbicara tentang “garam” dan “terang”, Ia sebenarnya mengacu kepada dua arus utama dalam kehidupan manusia. Semua itu vital bagi kebaikan dan keutuhan, dan bagi kebebasan dari ketidakjelasan/kekaburan.

Yesus mengatakan bahwa kita  adalah “garam” untuk meningkatkan nilai kehidupan di sekeliling kita, dan untuk menjaganya dari kerusakan. Garam itu membuat makanan tidak hambar (“ada rasa”), dengan demikian sebagai “garam” kita harus meningkatkan kebaikan dan kehidupan Ilahi dalam diri orang-orang lain. Santo Khromatius – seorang uskup di Italia utara sekitar 16 abad yang lalu – menulis sebagai berikut: “Tuhan menamakan para murid-Nya “garam bumi” (salt of the earth) karena mereka menambahkan “bumbu penyedap” pada hati manusia berupa hikmat surgawi,  hati yang telah dibuat hambar oleh Iblis” (Risalat 5,1). Banyak orang benar-benar percaya bahwa Kekristenan (Kristianitas) merupakan hidup keagamaan yang membosankan, lemah dan sungguh hambar menjemukan. Oleh karena itu betapa indahnya kalau orang-orang itu melihat dalam diri kita sukacita Injili yang sejati.

Kehidupan Kristiani yang sejati sebenarnya jauh dari sifat bosan-menjemukan. Allah memanggil kita untuk menunjukkan kebenaran ini agar orang-orang lain akan melihat sukacita, hikmat-kebijaksanaan dan pengendalian-diri yang dihasilkan oleh kehidupan Kristiani itu. Allah minta kepada kita untuk memelihara sabda-Nya, menjaganya dari kerusakan karena sikap acuh-tak-acuh kita. Melalui kata-kata dan perbuatan-perbuatan kita, melalui cintakasih kita kepada Yesus dan tindakan saling mengasihi dengan sesama kita, kita dapat memproklamasikan Injil Tuhan Yesus Kristus oleh kuasa dan otoritas yang berasal dari-Nya – tanpa itu dunia akan menjadi layu dan loyo dalam arti rohani – ramai dan gegap gembita di atas permukaannya namun sesungguhnya hampa-melompong dalam jiwa. Banyak orang yang sudah bosan dengan kenikmatan badani, mulai mencari-cari hal yang “rohani” lewat berbagai praktek dan ajaran dari nabi-nabi palsu yang banyak berkeliaran. Kenikmatan rohani yang diperoleh pun akhirnya hanyalah kenikmatan rohani palsu belaka.

Yesus juga menamakan kita para murid-Nya “terang dunia”. Rencana abadi-Nya adalah agar melalui kita, “seperti melalui pancaran sinar bercahaya, Dia dapat mencurahkan terang-pengetahuan tentang diri-Nya ke seluruh dunia” (Chromatius, Risalat 5,1). Ah, sungguh sebuah panggilan yang indah! Yang menguatkan kita lagi adalah ketika mengetahui, bahwa kuasa untuk tetap setia kepada  panggilan kita tidaklah datang dari diri kita sendiri, melainkan dari Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, seperti yang ditulis oleh Santo Paulus: “… harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor 4:7). Oleh karena itu, setiap hari marilah kita membuka hidup kita lebih-lebih lagi kepada-Nya, sehingga terang-Nya dapat semakin memancar terang-benderang di dalam diri kita dan membuat terang jalan bagi orang-orang lain.

DOA: Roh Kudus Allah, datanglah dan penuhilah hati kami dengan hikmat-Mu dan kasih-Mu. Ajarlah kami, aturlah hidup kami, dan bimbinglah kami. Kuatkanlah kami agar setiap hari kami benar-benar berfungsi sebagai garam bumi dan terang dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA” (bacaan tanggal 9-2-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 20-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Februari 2020 [Pesta/Peringatan S. Koleta dr  Corbie, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DATANG KE SUNGAI YORDAN UNTUK DIBAPTIS

YESUS DATANG KE SUNGAI YORDAN UNTUK DIBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA PEMBAPTISAN TUHAN –  Minggu, 12 Januari 2020)

Kemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” Lalu jawab Yesus kepadanya, “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Yohanes pun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:13-17)

Bacaan Pertama: Yes 42:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10; Bacaan Kedua: Kis 10:34-38

Sebenarnya ada dua peristiwa luarbiasa terangkum dalam petikan Injil di atas yang terdiri dari lima ayat saja.

Yang pertama adalah bahwa Yesus menggabungkan diri dengan orang-orang berdosa dan menerima baptisan tobat dari Yohanes Pembaptis. Yohanes sendiri tidak dapat menyembunyikan rasa herannya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” (Mat 3:14). Yohanes sendiri adalah seorang pendosa. Dia yang berkhotbah dan menyerukan pertobatan kepada orang banyak juga membutuhkan khotbah pertobatan dari Dia. Bukankah seorang imam yang bertugas melayani Sakramen Rekonsiliasi dan mengampuni dosa umat juga  harus menerima absolusi? Tidak seorang pun kudus selain Allah sendiri. Dan …… setiap orang – sebagai pendosa – harus dikuduskan oleh Allah.

Kita semua hanyalah mata rantai dari rantai yang sama, tangkai dari batang yang berdosa, gelombang-gelombang dalam aliran dosa yang sama. Hanya ada satu kekecualian, yaitu Dia yang lain dari yang lain; sang Mahalain yang datang dari surga, dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Oleh karena itu,  tanggapan Yesus terhadap pertanyaan Yohanes Pembaptis terasa mengherankan: “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat 3:15). Dengan demikian hak Allah dipulihkan apabila Dia – yang satu-satunya tanpa noda-dosa – menggabungkan diri dengan orang-orang berdosa. Allah Yang Mahaadil menuntut silih untuk dosa manusia. Yesus menceburkan diri-Nya diri dalam aliran dosa, menjadi anggota dari bangsa manusia yang berdosa.

Benarlah apa yang dikatakan oleh sang penulis “Surat kepada Orang Ibrani”: “… Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Yesus turun/datang ke sungai Yordan sesungguhnya merupakan lambang dari apa yang telah terjadi karena misteri Inkarnasi: Tuhan sendiri turun ke tengah bangsa manusia yang penuh dosa, menjadi sama dengan kita. Bacaan Injil di atas menegaskan bahwa Yesus segera keluar dari sungai Yordan. Dengan demikian untuk pertama kalinya kekuatan dosa dipatahkan. Yesus adalah satu-satunya yang tidak binasa dalam dosa dan tidak dihanyutkan oleh dosa itu, namun dengan kekuatan-Nya sendiri naik lagi ke atas dan membawa yang lain-lain beserta diri-Nya ke atas. Pada waktu wafat Ia akan samasekali tenggelam dalam aliran dosa yang gelap itu, agar supaya pada waktu kebangkitan dapat naik lagi dan membawa serta yang lain-lain masuk ke dalam hidup baru.

Setelah semua itu berlangsunglah peristiwa yang kedua: surga terbuka !!! Dosa telah menutup pintu surga, namun kemenangan Kristus atas dosa telah membuka pintu dosa tersebut. Roh Kudus turun. Dosa – dan di belakangnya adalah si iblis – telah mengusir Roh Kudus dari manusia. Tetapi Kristus yang dikandung dan dilahirkan dari Roh Kudus, membawa Roh Allah dalam Diri-Nya. Karena Yesus-lah maka Roh Kudus turun lagi atas manusia. Roh yang melayang-layang di atas samudera, di sini dalam bentuk seekor merpati melayang-layang di atas sungai Yordan dan dalam kepenuhan-Nya hinggap di atas Yesus dan sekaligus di atas semua orang yang dikuduskan dalam dan karena Dia. Suara Bapa surgawi pun terdengar pula: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Karena dosa, keputeraan ilahi manusia hilang. Akan tetapi, Yesus Kristus yang telah menanggung dosa di atas pundak-Nya telah membinasakannya, telah mengembalikan keputeraan ilahi tersebut kepada para pendosa. Oleh dan melalui Yesus – sang Putera – mereka menjadi anak-anak Bapa lagi. Di sini Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus tampak jelas sebagai Tritunggal. Roh Kudus adalah cintakasih antara Bapa dan Putera, dan karenanya keluar dari Bapa dan Putera. Kedatangan Putera ke tengah dunia sekaligus adalah pengutusan Roh Kudus. “Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya” (Mat 3:16). Di sini secara tampak dan dahsyat Yesus mengalami bahwa Ia adalah Putera Bapa dan membawa serta dalam Diri-Nya kepenuhan Roh Kudus. Pengalaman ini demikian dahsyatnya, sehingga Ia tidak dapat tinggal lebih lama di sini, melainkan dengan segera dibawa oleh Roh itu juga ke dalam kesunyian, di mana Ia berada sendirian dengan Bapa dan Roh Kudus, lahiriah seorang diri, tetapi batiniah dalam kepenuhan Tritunggal Mahakudus.

Bapa tidak bersabda: “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mu Aku berkenan” melainkan “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nya Aku berkenan” (Mat 3:17). Dari sini nyatalah bahwa hal ini bukan wahyu kepada Kristus, melainkan kepada orang-orang, … kepada kita semua. Inilah pemberian kesaksian resmi dari Bapa surgawi atas perutusan Kristus. Saat turun-Nya ke tengah kedosaan manusia sekaligus merupakan saat pengangkatan, yaitu karena Bapa memberi kesaksian tentang cintakasih-Nya dan Roh Kudus  tentang kediaman-Nya dalam Kristus. Perkenaan Bapa ada pada Kristus dan pada sekalian orang yang termasuk milik-Nya.

Inilah sungguh suatu peristiwa besar yang tidak dapat dipahami. Terang yang memancar di sini akan bercahaya di atas seluruh hidup Yesus. Suara yang terdengar di sini tidak akan berhenti bergema. Keadilan yang telah diperkosa manusia, dipulihkan kembali oleh Allah. Yesus memikul segala ketidak-adilan untuk membuat mereka yang tidak adil menjadi adil kembali. Dengan demikian keadilan telah disilih.

DOA: Allah yang kekal dan kuasa, Engkau telah memaklumkan Kristus sebagai Anak-Mu yang terkasih, ketika Ia dibaptis di sungai Yordan, sementara Roh Kudus turun atas-Nya. Kami mohon, semoga kami selalu setia sebagai anak-anak-Mu, karena sudah dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus Kristus, Anak-Mu yang terkasih, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 42:1-4,6-7), bacalah tulisan yang berjudul “INILAH ANAK-KU YANG TERKASIH, KEPADA-NYALAH AKU BERKENAN” (bacaan tanggal 12-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01  BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Pokok tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan Richard Gutzwiller, Renungan tentang Mateus, jilid I, hal. 24-27) 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAPA HERODES TAKUT KEPADA BAYI KECIL INI?

 KEMAMENGAPA HERODES TAKUT KEPADA BAYI KECIL INI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA KANAK-KANAK SUCI, MARTIR, Hari Keeempat dalam Oktaf Natal – Jumat, 28 Desember 2019) holy_innocents_picSetelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Yusuf pun bangun, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya digenapi apa yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” [1]

Ketika Herodes tahu bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang ditanyakannya dengan teliti kepada orang-orang majus itu. Dengan demikian digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yeremia, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi .” [2] (Mat 2:13-18) 

[1] bdk. Hos 11:1; [2] Lihat Yer 31:15 

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:5-2:2; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:2-5,7-8

Menyingkirnya Keluarga Kudus ke Mesir dan pembunuhan anak-anak tak bersalah oleh Herodes merupakan suatu ilustrasi yang dramatis tentang pertempuran antara kegelapan dan terang. Walaupun seluruh hidup Yesus, dari Betlehem sampai ke bukit Kalvari, ditandai oleh penganiayaan, namun tidak ada kuasa apa pun – baik kuasa manusia maupun kuasa Iblis – yang dapat menggagalkan pekerjaan yang harus diselesaikan-Nya. “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:5).

Mengapa Herodes takut kepada bayi kecil ini? Karena raja ini tidak tahu bahwa Yesus datang ke tengah dunia untuk menaklukkan hati dan jiwa manusia, bukan merebut negeri dan takhta para raja. Untuk membunuh seorang anak kecil, Herodes tidak merasa ragu sedikit pun untuk memerintahkan kematian banyak anak yang tidak bersalah. Ia menghancurkan anak-anak yang lemah dan tidak dapat membela diri karena rasa takut telah menghancurkan hatinya sendiri. Untuk memperpanjang kehidupannya sendiri, Herodes mencoba untuk membunuh Kehidupan itu sendiri.

holy-innocents-le-massacre-des-innocents-francois-joseph-navezWalaupun Herodes menggunakan kekuatan dan kekejaman untuk mewujudkan tujuan-tujuan jahatnya, Yesus membalikkan tragedi ini menjadi suatu kemenangan bagi Kerajaan Allah. Kanak-kanak Suci di Betlehem menjadi saksi dari kuat-kuasa rahmat Allah. Mereka mati untuk Kristus, sang Mesias, meskipun mereka tidak mengetahuinya. Walaupun mereka tidak dapat berbicara, Yesus membuat mereka menjadi saksi-saksi bagi diri-Nya yang layak dan pantas. Yesus membebaskan jiwa-jiwa mereka dari cengkeraman Iblis dan membuat mereka anak-anak angkat Allah. Mereka ikut ambil bagian dalam kemuliaan dan pemerintahan-Nya yang penuh kemenangan.

Santo Paulus mengingatkan kita bahwa kita pun ikut ambil bagian dalam kemenangan Yesus, bahkan ketika kita merasa dikalahkan. “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28). Kemunduran, kegagalan, dlsb., tidak ada sesuatu pun yang kita harus hadapi dalam hidup ini yang harus/dapat memisahkan kita dari Kristus. Kasih-Nya dapat berjaya di atas segalanya, baik dalam kehidupan pribadi kita dan dalam dunia secara keseluruhan.

Pada zaman ini, kita menghadapi suatu kejahatan yang melampaui kejahatan pembunuhan massal gaya Herodes: pembunuhan anak-anak yang belum sempat dilahirkan dalam jumlah yang tidak terhitung banyaknya. Apa yang dapat membalikkan arus dari perkembangan budaya kematian ini? Kasih Allah dapat dan akan menang, bahkan dalam hal ini. Ya, suatu kejahatan sangat besar sedang terjadi. Ya, kita harus berdoa untuk melawannya dan berupaya untuk mengubah “trend” dalam budaya modern kita ini. Namun demikian, baiklah kita menghindari tindakan kekerasan dan melakukan perjuangan kita bukan karena rasa frustrasi, keputus-asaan, atau kebencian terhadap mereka yang melawan kita. Ingatlah bahwa tidak ada apa atau siapa pun yang dapat menghalangi dan menggagalkan pekerjaan Yesus, sang Terang Dunia (Yoh 8:12; 9:5).

DOA: Bapa surgawi, hiburlah semua anak-anak korban aborsi. Bawalah mereka langsung menghadap takhta-Mu. Terima kasih, ya Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 2:13-18) bacalah tulisan yang berjudul “PERTEMPURAN ANTARA KEGELAPAN DAN TERANG” (bacaan tanggal 28-12-19), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Desember 2019 [Pesta S. Stefanus, Martir Pertama]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KATA-KATA SANG MALAIKAT TUHAN MEYAKINKAN YUSUF

KATA-KATA SANG MALAIKAT TUHAN MEYAKINKAN YUSUF

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN IV [Tahun A], 22 Desember 2019)

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. (Mat 1:18-24) 

Bacaan pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Kedua: Rm 1:1-7 

Dalam menceritakan kisah Natal ini, Matius menekankan bahwa sejarah Israel digenapi dengan kedatangan Yesus.  Untuk menunjukkan intervensi langsung yang dilakukan oleh Alllah, Matius menunjuk pada kenyataan dikandungnya Yesus dalam rahim Maria oleh kuasa Roh Kudus. Ini adalah sebuah peristiwa ilahi, namun juga bersifat insani; sesuatu hal yang tidak lepas dari kebingungan, teristimewa bagi Yusuf.

Apa yang harus dilakukan oleh Yusuf pada waktu dia memperoleh info dari malaikat Tuhan, bahwa Maria telah mengandung dan dia jelas bukanlah laki-laki yang membuat tunangannya itu mengandung? Apakah Maria pernah memberitahukan kepadanya tentang kondisinya? Apakah Maria juga pernah bercerita kepadanya, bahwa semua ini adalah akibat suatu rahmat istimewa dari Allah? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab dalam Injil Matius. Akan tetapi ada satu kalimat dalam Injil Matius ini yang menguatkan-penuh jaminan, sepotong kalimat yang diucapkan oleh sang malaikat Tuhan: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu” (Mat 1:20). Kiranya kalimat ini sungguh menyejukkan hati Yusuf. Rasa was-was, khawatir, malah rasa takut seperti ini sebenarnya adalah awal dari kebijaksanaan: Suatu rasa takjub penuh hormat di hadapan hadirat Allah sang Mahatinggi. Rasa takut Yusuf, rasa takjubnya ini, membuat dirinya merasa tak berarti apa-apa dan tentunya tak pantas untuk menjadi bagian dari peristiwa ilahi ini. Yusuf hanyalah seorang tukang kayu di Nazaret, seorang laki-laki bersahaja tanpa embel-embel reputasi sosial yang tinggi. Akan tetapi, justru itulah sebabnya Allah memilih dia. Bayangkanlah betapa tergetar hati Yusuf, ketika mengetahui bahwa Allah menginginkan dirinya menjadi bagian dari peristiwa yang menggenapi sejarah semua nenek moyangnya.

Kita pun harus memandang serta menantikan kedatangan Hari Natal yang tinggal beberapa hari ini dengan rasa takjub penuh hormat, namun juga dengan kesadaran penuh syukur bahwa Allah memanggil kita untuk turut ambil bagian dalam misteri agung ini, walaupun kita hanyalah orang-orang biasa saja.

Dalam bacaan pertama kita dengar Nabi Yesaya berkata: “Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:13-14).

Di lain pihak, nabi Yeremia berkata: “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman YHWH, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: YHWH – keadilan kita” (Yer 23:5-6).  Ketika nabi Yeremia memproklamasikan pesan ini,  Yehuda berada dalam situasi kacau-balau. Bangsa kecil ini berada dalam ambang kehancurannya di hadapan kekaisaran Babel yang perkasa. Yeremia menyalahkan raja-raja Yehuda yang telah “mengkhianati” rakyatnya, tidak bedanya dengan para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Nya hilang dan terserak (lihat Yer 23:1). Meskipun dalam situasi yang suram sedemikian, Yeremia memproklamasikan janji Allah, bahwa Dia akan menghadirkan seorang raja yang adil-bijaksana, seorang keturunan Daud.

Nubuat nabi Yesaya dan Yeremia menunjukkan suatu pandangan terhadap masa depan yang bersifat optimistis, dan hal ini mencirikan liturgi Adven kita. Allah berjanji bahwa hari-hari baik akan datang. Hari-hari baik bagi kita terwujud dengan kelahiran Yesus, namun kita memandang ke depan juga untuk saat-saat yang lebih baik lewat perayaan Natal kita ini. Adven adalah keyakinan bahwa sesuatu yang lebih baik ada di depan mata. Adven adalah suatu harapan bahwa kita akan menemukan (kembali) suatu rasa cinta yang sempat hilang, dan meraih kembali sukacita hari-hari yang lebih membahagiakan.  Hal ini berarti bahwa kita memiliki alasan kuat untuk bersikap optimistis dan waspada selalu, karena meskipun Kristus sang Gembala Baik sudah hadir di dunia,kita masih menantikan kedatangan-Nya dalam kemuliaan pada akhir zaman.

DOA: Roh Kudus, aku percaya bahwa Engkau ingin sekali berbicara kepadaku tentang siapa Yesus itu dan apa arti dari penghayatan hidup Injili. Tingkatkanlah kesadaranku akan kehadiran-Mu. Tolonglah aku agar mampu mendengar suara-Mu tatkala  aku membaca Kitab Suci. Ajarlah aku jalan-jalan-Mu. Bimbinglah aku dalam penghayatan hidup Kristiani yang telah diberikan Yesus Kristus kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “MENELADAN SANTO YOSEF, HAMBA TUHAN YANG SEJATI” (bacaan tanggal 22-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2019 

Sdr. F.X,. Indrapradja, OFS

BENTARA SANG MESIAS SUDAH DATANG

BENTARA SANG MESIAS SUDAH DATANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Yohanes dr Salib, Imam Pujangga Gereja – Sabtu, 14 Desember 2019)

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13) 

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19 

Bertahun-tahun lamanya sebelum kelahiran Yesus Kristus, nabi Maleakhi mempermaklumkan bahwa nabi Elia akan datang kembali ke dunia sebelum kedatangan hari YHWH: “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN (YHWH) yang besar dan dahsyat itu” (Mal 4:5). Sekitar 400 (empat ratus) tahun kemudian, Simon Petrus memproklamasikan bahwa “Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Dalam Yesus, “hari TUHAN” sudah dekat. Namun tidak kembali-kembalinya Elia membingungkan para murid. Bukankah Elia harus datang dulu sebelum kedatangan sang Mesias?

Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya bahwa Elia telah datang dan menderita di tangan orang-orang yang tidak percaya (Mat 17:12). Dari kata-kata Yesus, para murid memahami bahwa yang dimaksudkan oleh-Nya adalah Yohanes Pembaptis, bentara Tuhan yang dipenggal kepalanya atas perintah Herodus Antipas (lihat Mat 14:1-12).

Baik Yohanes Pembaptis maupun Elia dipandang sebagai pribadi-pribadi yang “radikal”. Dua-duanya tinggal di padang gurun; menghayati suatu kehidupan yang ekstrim dan keras; tidak memiliki apa-apa, jauh dari hiruk-pikuknya kehidupan kota (lihat Mat 3:4; 1Raj 17:1-7). Dua-duanya adalah nabi-nabi yang berapi-api, yang menolak dengan tegas ketidakadilan dan dosa yang ada dalam kehidupan mereka yang berkuasa. Yohanes Pembaptis melihat dosa Herodes Antipas karena mengambil istri saudaranya sebagai “isteri”, dan Yohanes Pembaptis kemudian mengkonfrontir sang raja (Mat 14:3-5). Di sisi lain Elia mengenali tipu-muslihat para nabi Baal dan sendirian ia menantang para nabi Baal itu dalam sebuah “duel mati-hidup ilahi” (1Raj 18:17-39). Ia juga mengkonfrontir raja Ahab dan istrinya yang bernama Izebel karena pembunuhan atas diri Nabot agar supaya mendapatkan kebun anggurnya (1Raj 21:17-29).

Yohanes Pembaptis dan Elia adalah pribadi-pribadi yang heroik, yang menempatkan diri mereka dalam risiko (Yohanes Pembaptis sampai kehilangan nyawanya) dengan secara setia memproklamirkan sabda Allah. Di atas segalanya, taat kepada Allah adalah hal yang terpenting bagi mereka.

Pada hari ini memang kita tidak makan belalang dan madu, hidup menyendiri di padang gurun, atau sendirian berdiri melawan para penguasa jahat seperti yang dilakukan oleh Elia dan Yohanes Pembaptis. Namun demikian, kita semua dipanggil untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati kita, seperti kedua nabi itu. Dalam kehidupan kita yang lebih “biasa-biasa/normal”, kita dapat mohon kepada Allah agar memberikan kepada kita suatu visi yang lebih besar tentang apa artinya melayani Tuhan dalam situasi kita sehari-hari. Seringkali kita membatasi diri kita karena pandangan yang keliru seperti berikut ini. Kita berpikir, karena kita tidak dapat sehebat atau sebesar para kudus di masa lampau, maka tidak banyaklah yang dapat kita persembahkan. Akan tetapi, apabila kita membuka diri bagi kehendak Bapa, maka Dia dapat bekerja melalui kita sehebat yang telah dilakukan-Nya melalui Elia dan Yohanes Pembaptis.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku menyerahkan pikiranku, kata-kataku, dan perbuatan-perbuatanku kepada-Mu. Aku mengakui bahwa tanpa Engkau aku tidak dapat melakukan sesuatu pun, namun dengan Engkau aku dapat melakukan apa saja yang baik. Biarlah kuasa-Mu mengalir melalui diriku sehingga Engkau dimuliakan pada hari ini dan selamanya. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 17:10-13),  bacalah  tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS DAN YOHANES PEMBAPTIS, BENTARA-NYA” (bacaan tanggal 14-12-19) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

 Cilandak, 11 Desember 2019 [Peringatan Fakultatif S. Damasus I, Paus]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEREKA MENOLAK YOHANES PEMBAPTIS DAN JUGA YESUS

MEREKA MENOLAK YOHANES PEMBAPTIS DAN JUGA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan Wajib S. Lusia, Perawan Martir – Jumat, 13 Desember 2019)

Image result for IMAGES OF MATTHEW 11:16-19"

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19) 

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6

Kita hampir dapat membayangkan suara yang keluar dari mulut Yesus ketika mengucapkan kata-kata di atas, teristimewa dengan mengingat orang banyak yang menolak untuk menerima kebenaran, tidak peduli siapa yang mengumumkan kebenaran itu. Orang-orang yang tidak percaya adalah seperti anak-anak yang keras kepala, menolak apa saja yang ditawarkan kepada mereka …… serba salah!

Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus datang ke tengah orang-orang Yahudi untuk mengumumkan apa yang mereka (sebagai umat) selama berabad-abad telah merindukannya, yaitu kedatangan sang Mesias, Putera Daud, Raja Israel! Seperti anak-anak yang disebutkan di atas, ada saja orang-orang Yahudi yang menghina Yohanes Pembaptis dan pesannya dan menuduhnya sebagai seorang yang kerasukan setan. Ketika Yesus datang – seorang yang datang setelah Yohanes dan lebih besar daripada Yohanes (lihat Mat 3:11-12) – mereka menolaknya pula, mencapnya sebagai seorang visioner yang risau, yang bersahabat dengan para pendosa.

Begitu sering kita mendengar orang-orang menolak pesan Kristus/Kristiani dengan berbagai alasan yang tidak rasional, misalnya: “Aku mengenal terlalu banyak anggota gereja yang munafik, yang duduk di bangku bagian depan setiap hari Minggu!” Atau komentar seperti ini: “Gereja ada di dalam hatiku; aku tidak membutuhkan siapa pun untuk mengajarku tentang apa yang harus kulakukan!” Lagi: “Jika Allah adalah kasih, maka Dia tidak akan menghukum orang yang melakukan yang terbaik yang dapat dilakukannya!”  Kita telah mendengar rasionalisasi-rasionalisasi atau pembenaran-pembenaran yang diungkapkan oleh orang-orang itu. Kalau mau jujur, sekali-sekali kita pun – dalam perjalanan hidup kita – suka juga melakukan hal yang sama dalam situasi-situasi di mana tidak nyamanlah bagi kita untuk bersikap jujur dan benar terhadap pesan Injil Yesus Kristus.

Matius mencatat bahwa sejarah akan menjadi hakim atas siapa yang benar dan siapa yang salah: “Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya” (Mat 11:19). Kata-kata sang pemazmur itu benar pada hari ini seperti juga benar pada zaman Yesus mewartakan Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan ketika masih hidup di atas muka bumi: “Orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman …” (Mzm 1:5).

Allah adalah Allah yang Mahasetia; Dia tidak akan membuang orang-orang yang tetap setia kepada-Nya. Dalam Yesus, kita mempunyai seorang Pengantara yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa, yang tak henti-hentinya melakukan doa syafaat bagi mereka yang menyerukan nama-Nya. Kita harus memperkenankan rahmat dan kasih Allah dicurahkan atas diri kita untuk bekerja dalam hidup kita, jikalau kita mau mengalami sukacita dan memperoleh pemenuhan janji menyangkut keanggotaan kita dalam keluarga Allah.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau sungguh indah! Aku ingin lebih mengenal Engkau lagi. Aku ingin memberikan kepada-Mu seluruh hidupku. Aku ingin agar Engkau menolongku untuk berjalan bersama-Mu dan menjaga aku untuk senantiasa kembali kepada-Mu, bila karena sesuatu sebab aku menjadi tersesat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 11:16-19), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MEMPERKENANKAN YESUS MENJADI PEMBIMBING ATAU PENUNJUK JALAN KITA” (bacaan tanggal 13-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS