Posts tagged ‘MASA ADVEN’

BIARLAH KEADILAN ALLAH MENTRANSFORMASIKAN HATI KITA

BIARLAH KEADILAN ALLAH MENTRANSFORMASIKAN HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II [Tahun C] – 9 Desember 2018)

Dalam tahun kelima belas pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi gubernur Yudea, dan Herodus raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene, pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun. Lalu datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa, seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: “Ada suara yang berseru-seru di padang di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.” (Luk 3:1-6)

Bacaan Pertama: Bar 5:1-9; Mazmur Tanggapan: 126:1-6; Bacaan Kedua: Flp 1:4-6,8-11

Masa Adven dan Natal menimbulkan dalam diri kita perasaan-perasaan sehubungan dengan damai sejahtera yang datang dari Allah. Ingatlah kata-kata malaikat dan bala tentara surga yang memuji Allah ketika memberitahukan para gembala tentang kelahiran Yesus: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14). Ada begitu banyak pembicaraan tentang perdamaian, tidak hanya dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kita, melainkan juga di tingkat nasional, bahkan internasional sekali pun. Dalam dunia yang tak henti-hentinya penuh dengan kekerasan ini, kita sungguh berharap agar bangsa-bangsa tidak terus berkonflik satu sama lain. Demikian pula tentang semakin menghangatnya kondisi sosial-politik dalam negeri kita tercinta sehubungan dengan pilpres/pemilu/pilkada di tahun 2019 yang sudah di depan mata; kita sebagai rakyat biasa kiranya sungguh mendambakan kedamaian.

Dalam masa Adven dan Natal ini, tidak salahlah apabila pemikiran-pemikiran kita diarahkan pada hal-ikhwal yang menyangkut perdamaian. Namun demikian, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita pantas merasakan/mengalami damai sejahtera? Sudahkah kita menjadi perpanjangan tangan Allah dalam hal menciptakan perdamaian dalam hidup kita sehari-hari? Apakah kita telah menabur benih-benih rekonsiliasi dan pertobatan? Sebelum kita berjalan berputar-putar untuk mencapai perdamaian, kita harus bekerja keras untuk dicapainya keadilan. Tidak ada perdamaian jika kita tidak memiliki rasa haus dan lapar akan keadilan. Kita bisa saja mencapai keteraturan dalam masyarakat. Kita bisa saja mencapai ketenangan/kesentosaan domestik. Kota-kota dan universitas-universitas bisa saja tenang. Akan tetapi, tidak adanya satu pun dari yang disebut tadi berarti sudah ada perdamaian. Perdamaian tidak dapat dilepaskan dari keadilan, malah mengikutinya, karena jika kita menghasrati perdamaian tanpa keadilan, maka ujung-ujungnya adalah tirani.

Nah, jika perdamaian atau damai sejahtera mau menjadi lebih daripada sekadar suatu keinginan atau suatu mimpi, maka kita harus bekerja keras untuk mencapai keadilan. Tentunya kita tidak pernah akan mencapai keadilan dan perdamaian yang sempurna di dunia ini. Dosa mendistorsikan rasa dan praktek keadilan kita dan memperbudak kebebasan kita dengan ilusi-ilusi kemerdekaan. Damai sejahtera kita seringkali hanya berupa “diam tidak ikut-ikutan”. Namun begitu, bukanlah alasan bagi kita untuk menghindar atau “melarikan diri” dari pekerjaan untuk tercapainya keadilan, kebebasan dan perdamaian. Secara sederhana, kita harus bersikap bijak dan realistis tentang dosa dan kondisi manusiawi. Kita semua memiliki keterbatasan-keterbatasan. Namun sekali lagi, keterbatasan-keterbatasan kita bukanlah alasan bagi kita untuk tidak turut serta meringankan beban berat yang dipikul oleh orang-orang miskin, orang-orang yang tertindas, orang-orang tanpa kuasa dan orang-orang yang tidak dihargai dalam masyarakat.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Hari Minggu Adven II ini jelas menyoroti pentingnya “keadilan”. Kitab Barukh (bacaan Pertama) diperuntukkan bagi orang-orang Yahudi yang berdiam di Babel dan menderita segala macam pelanggaran atas martabat mereka yang biasa ditimpakan atas para anggota kelompok minoritas. Barukh mengingatkan mereka bahwa mereka sesungguhnya istimewa dan sangat penting. Mereka adalah umat TUHAN. Self-pity tidak diperkenankan. Barukh memberi suatu gambaran yang kuat:

Hendaklah berselubungkan kampuh kebenaran Allah, dan memasang di atas kepalamu tajuk kemuliaan dari Yang Kekal. Sebab di bawah kolong langit seluruhnya serimu akan dipertunjukkan oleh Allah. Dari pihak Allah engkau akan diberi nama ini untuk selamanya: “Damai sejahtera hasil kebenaran” dan “Kemuliaan hasil dari takwa” (Bar 5:2-4).

Keadilan Allah (kemurahan hati-Nya dan kesetiaan-Nya) adalah sedemikian rupa bahwa para buangan di Babel akan berkumpul sekali lagi di tanah yang telah diberikan TUHAN lama sebelumnya. Patah hati kita akan disembuhkan oleh keadilan dan rahmat Allah. Allah adalah TUHAN semua orang; Ia memerintah dengan keadilan dan belas kasih dan damai-sejahtera. TUHAN juga mempunyai ekspektasi bahwa umat-Nya bekerja untuk hal yang sama, yaitu keadilan, kebebasan, belas kasih dan damai-sejahtera. Bekerja seperti itu berarti mengenal dan mengalami suatu sukacita yang sejati dan mendalam.

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (bacaan Kedua), Santo Paulus berdoa agar komunitas di Filipi “penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah” (Flp 1:11). Panen keadilan adalah panen yang menghasilkan buah-buah kasih, kebijaksanaan dan suatu hikmat yang membimbing diri kita dalam mencari hal-hal yang sungguh berarti. Kita mencari Allah dan jalan-jalan-Nya. Namun dalam kenyataannya kita sesungguhnya memperkenankan Allah menyusul kita, karena Allah-lah yang senantiasa mencari kita. Kita lah yang biasanya melarikan diri dari Allah dan coba mencari damai sejahtera kita dalam hal-hal yang salah. Kita sekarang harus  benar-benar menghargai karunia-karunia Roh yang tidak dapat dirusak oleh karat, dimakan ngengat atau dicuri oleh maling.

Tokoh paling menonjol dalam masa Adven adalah Yohanes Pembaptis. Ia memanggil orang-orang untuk menerima baptisan pertobatan. Tidak akan ada damai sejahtera dan kebebasan jika kita tidak membuka diri bagi rahmat Allah. Harus ada suatu perubahan hati/batin dalam diri seorang pribadi agar dia dapat meninggalkan egoisme, kesombongan/keangkuhan dan cintanya akan kekuasaan. Mengapa? Karena jika hati/batin kita tidak berubah, maka perubahan yang menyangkut kelembagaan juga tidak akan terwujud. Dan jika hati kita dan hal-hal yang menyangkut kelembagaan tidak berubah, maka kita terus saja melakukan kekerasan terhadap Tubuh Kristus dan segenap ciptaan. Hanya apabila kita memperkenankan keadilan Allah mentransformasikan batin kita, maka kita dapat berkata: “Damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” dan “Biarlah ada damai sejahtera di atas bumi dan biarlah hal itu dimulai dengan diri saya sendiri.”  Mengapa? Karena keadilan Allah yang bekerja di dalam diri saya menghasilkan panen kebebasan, damai dan sukacita yang tidak dapat diambil oleh orang lain dari diri kita. 

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahakuasa dan Maharahim, janganlah Kaubiarkan pekerjaan kami sehari-hari dan urusan-urusan kehidupan dalam dunia ini sampai menghalangi kami menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Putera-Mu. Terangilah kegelapan hati dengan pikiran kami dengan hikmat-Mu dan bimbinglah kami agar dapat dipersatukan dengan Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 3:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SELALU MENCARI JALAN UNTUK MEMBAWA KITA KEPADA DIRI-NYA” (bacaan tanggal 9-12-18) dalam situs/blog   SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Desember 2018 [HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

CERITA TENTANG SEORANG PEREMPUAN YAHUDI PILIHAN ALLAH

CERITA TENTANG SEORANG PEREMPUAN YAHUDI PILIHAN ALLAH  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Rabu, 20 Desember 2017) 

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Maria adalah seorang perempuan Yahudi yang setia, salah seorang anggota sejati dari umat Allah, seorang pewaris janji-janji yang telah dibuat Allah dengan umat pilihan-Nya. Allah tidak sekadar memilih sembarang perempuan untuk menjadi ibu Yesus; Ia memilih seorang perempuan muda dari antara orang-orang yang dikasihi-Nya. Jadi, melalui Maria – seorang perwakilan Israel – Allah memenuhi semua janji-Nya yang diberikan di bawah perjanjian (Inggris: covenant), mengutus Yesus ke tengah dunia sebagai sang Mesias dan Pembebas semua orang. Allah menggunakan Maria dalam rencana abadi-Nya untuk mencurahkan kasih-Nya ke dalam diri kita.

Allah membuat banyak janji kepada umat-Nya dalam Perjanjian Lama. Allah memberi sebuah tanda kepada raja Ahas, walaupun Ahas tidak mau karena dia tidak ingin mencobai TUHAN (YHWH): “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Imanuel berarti “Allah beserta/menyertai kita” (lihat Mat 1:23), dan janji ini dipenuhi melalui Maria dalam diri Yesus, Putera Allah yang datang dan “tinggal di antara kita” (Yoh 1:14).

Banyak bacaan Perjanjian Lama pada masa Adven mempermaklumkan kedatangan Mesias sebagai Pribadi yang akan membebaskan umat Allah dari belenggu dosa dan membawa mereka kehidupan dan kedamaian. Walaupun orang-orang Israel berulang-kali memberontak melawan-Nya, YHWH tetap setia kepada  perjanjian-Nya dan berjanji untuk memimpin mereka ke luar dari kegelapan dan penindasan. Melalui kelahiran Yesus, kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, Allah mencapai pekerjaan pembebasan ini, yakni menyatakan kasih-Nya kepada semua orang.

Marilah kita ingat selalu, bahwa pekerjaan Allah dalam diri Maria-lah yang membawa kita semua kepada peristiwa kelahiran Tuhan Yesus: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” (Luk 1:35). Mukjizat ini terjadi dalam kerangka rencana kekal-abadi Allah yang lebih besar, yang mulai sebelum penciptaan dan akhirnya akan dipenuhi pada saat kedatangan kembali Yesus kelak. Kita seharusnya bergembira selagi kita menyaksikan rencana agung Allah ini bekerja dalam kehidupan kita, ketika kita mengalami Yesus yang adalah Imanuel.

Kelahiran Yesus dari Bunda Maria membawa kasih Allah ke tengah dunia dengan cara yang baru dan kekal. Marilah kita berdoa agar dapat mengalami kasih dan kuat-kuasa Ilahi ini pada masa Natal ini secara lebih mendalam lagi. Kita juga akan berdoa bagi negeri kita tercinta Indonesia ini, bagi dunia; agar kuasa-kuasa kegelapan dipatahkan dan kasih Allah dalam Kristus Yesus akan mengalir ke dalam hati semua orang.

Bersama seluruh Gereja, baiklah kita berdoa: “Datanglah, hai Kunci Daud, bukalah pintu-pintu gerbang kerajaan Allah yang kekal: Bebaskanlah para tawanan dari kegelapan.” 

DOA: Allah, Bapa kami, kuduslah nama-Mu. Pada waktu menerima pesan-Mu lewat malaikat agung Gabriel, Maria Kaujadikan Bait Suci-Mu, dan dirinya pun dipenuhi dengan terang Roh Kudus. Semoga melalui contoh Maria, dengan kerendahan hati dan kesetiaan, kami dapat mengikuti kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “ENGKAU BEROLEH ANUGERAH DI HADAPAN ALLAH” (bacaan tanggal 20-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA] 

Cilandak, 18 Desember 2016 [HARI MINGGU ADVEN IV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DEMI TUHAN YANG HIDUP

DEMI TUHAN YANG HIDUP

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 18 Desember 2017)

 

Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN (YHWH), bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: YHWH – keadilan kita.

Sebab itu, demikianlah firman YHWH, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa orang tidak lagi mengatakan: Demi YHWH yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!, melainkan; Demi YHWH yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka!, maka mereka akan tinggal di tanahnya sendiri. (Yer 23:5-8) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,12-13,18-19; Bacaan Injil: Mat 1:18-24 

Betapa terbekatinya kita hidup dalam masa di mana para nabi hanya dapat berharap dari jauh saja! Visi nabi Yeremia akan pembebasan di masa depan sampai kepada kita yang hidup berabad-abad setelah hidupnya sendiri: “Demi TUHAN (YHWH) yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka!, maka mereka akan tinggal di tanahnya sendiri”  (Yer 23:8).

“Demi TUHAN yang hidup!” (Yer 23:7). Bagi kita, kata-kata ini memproklamasikan bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati dan membimbing kita keluar dari keterikatan pada dosa dan ke dalam tanah terjanji Perjanjian Baru. Yesus adalah sang “Tunas adil” (Yer 23:5), “Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel!” (Yes 48:17). Ia adalah pemenuhan dari setiap janji Allah yang pernah dibuat-Nya kepada umat-Nya.

“Demi TUHAN yang hidup”, kita telah dibebaskan dan diberikan hidup dalam Kristus. Kita mempunyai suatu pengharapan akan masa depan – bagi diri kita sendiri dan bagi anak-anak kita dan anak-anak mereka. “Demi TUHAN yang hidup”, Iblis dikalahkan dan Kerajaan Allah didirikan di atas bumi.

Sejak dari awal waktu, Allah telah menggelar rencana keselamatan-Nya secara berhati-hati dan penuh niat. Tidak ada sesuatu pun, bahkan dosa manusia sekali pun, dapat mengganggu rencana Allah tersebut. Allah akan mempunyai mempelai perempuan, Gereja, bagi diri-Nya sendiri. Dia akan akan memenangkan hati semua orang yang menerima tindakan kasih-Nya yang tertinggi – kematian dari Putera-Nya Yesus, yang  membayar harga/biaya dosa-dosa kita. “Demi TUHAN yang hidup”, demikian pula kita akan hidup!

Alangkah menakjubkan, Allah sendiri mengundang kita masing-masing untuk ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan-Nya! Apakah kita (anda dan saya) pernah membayangkan atau memikirkan kenyataan bahwa kita memiliki “saham” dalam membangun Kerajaan Allah? Setiap kali kita berdoa syafaat untuk orang-orang lain, melakukan tindakan kebaikan, menolak kecenderungan untuk melakukan sesuatu yang mementingkan diri sendiri, atau mengatakan “tidak” kepada segala yang jahat, kita sebenarnya memperlebar perbatasan-perbatasan Kerajaan Allah dan mengalahkan Iblis. “Demi TUHAN, yang hidup”, kita dapat melanjutkan rencana-Nya karena Kristus hidup dalam diri kita. Tidak ada seorang pun dapat mencerminkan Yesus secara unik seperti kita masing-masing. Oleh karena itu marilah kita maju terus dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan, dan menggunakan hari ini sebagai suatu kesempatan sebagai suatu terang dalam sebuah dunia yang gelap. “Demi TUHAN yang hidup”, Ia membuat diri kita masing-masing sebagai milik-Nya sendiri!

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mempersiapkan diriku untuk membawa Yesus dalam hatiku dan tindakan-tindakanku. Tolonglah diriku agar dapat menjadi sebuah bejana yang berarti guna menampung di dalamnya segala kekayaan rohani ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “TURUT AMBIL BAGIAN DALAM MISTERI AGUNG” (bacaan tanggal 18-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANDA TIDAK MENGENALI-NYA

ANDA TIDAK MENGENALI-NYA

Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun B], 17 Desember 2017) 

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya merelalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu.

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Kalau begitu, siapa? Apakah engkau Elia?” Ia menjawab, “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!” Karena itu kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Kalau demikian, mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis. (Yoh 1:6-8,19-28) 

Bacaan Pertama: Yes 61:1-2a,10-11; Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53-54; Bacaan Kedua: 1Tes 5:16-24

Kedatangan Kristus adalah salah satu tema dari liturgi Adven pada hari ini. Orang-orang Yahudi mengirim sebuah delegasi dari Yerusalem untuk menanyakan kepada Yohanes Pembaptis apakah dia adalah sang Mesias yang sudah lama dinanti-nantikan. “Aku bukan Mesias”, jawab Yohanes Pembaptis. “… tetapi ditengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (Yoh 1:26-27).

Dapatkah kita mengenali Kristus? Kita mungkin dapat membual/omong-besar dengan mengatakan bahwa seandainya kita hidup pada zaman Yesus dahulu berkeliling di Palestina mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, kita tentu mengasihi sang Rabi dari Nazaret itu dan mengikuti-Nya. Jika demikian halnya, mengapa kita tidak melihat-Nya sekarang padahal Ia hadir setiap saat dalam diri sesama manusia yang kita jumpai? Mengapa kita tidak mempedulikan-Nya ketika Ia lapar atau haus dalam diri seseorang di dekat kita?

Dari abad ke abad, orang-orang menantikan kedatangan Tuhan dalam rupa Elia menurut gambaran mereka sendiri-sendiri dan orang-orang itu selalu luput melihat-Nya. Apakah orang-orang abad ke-21 seperti kita ini banyak berbeda dengan orang-orang dari generasi sebelumnya? Kita mungkin saja merupakan orang-orang yang ortodoks dalam hal ketaatan kita pada hukum Gereja atau mengetahui semua jawaban yang benar dari pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam Katekismus, namun demikian apakah kita sungguh-sungguh mengenal dan mengalami Tuhan secara mendalam dan mempribadi?

Allah secara terus-menerus mau mendekati kita, namun kita menolak kedatangan-Nya dengan bersembunyi di belakang lapisan-lapisan distraksi (pelanturan). Kristus mau berbicara kepada kita dalam keheningan doa, namun kita meredam suara-Nya dengan suara berisik dari televisi, DVD dll.

Di samping doa, satu cara yang dipakai Tuhan untuk datang kepada kita adalah melalui sabda-Nya dalam Kitab Suci. Mendengarkan sabda Allah dalam bacaan-bacaan Kitab Suci dalam Misa Kudus tidaklah sama dengan mendengarkan sebuah lagu dari DVD yang sedang diputar. Pada waktu sabda Allah diproklamasikan, maka sabda tersebut menjadi hidup terhadap pertanyaan dan mencerahkan pikiran kita, menantang dan menguji kehendak kita, dan menggerakkan serta menginspirasi hati kita.

Satu jalan lain yang digunakan Allah untuk datang kepada kita adalah dalam sakramen-sakramen, saat-saat intens rahmat dan pengalaman-pengalaman puncak akan Allah. Ada banyak cara lain yang digunakan Allah untuk datang ke dalam kehidupan kita. Jika kita membuat daftar dari cara-cara dimaksud, maka kita harus memasukkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan diri kita, baik peristiwa yang baik maupun buruk; orang-orang yang kita jumpai; keindahan alam tercipta; buku-buku, sandiwara-sandiwara serta film-film yang memiliki nilai budaya; para pahlawan kita hari ini, seperti Munir dlsb.

Masa Adven adalah masa bagi kita untuk menjadi in tune dengan segala cara dengan mana Kristus datang, sehingga dengan demikian ketika Dia datang pada hari Natal kita akan siap mengenali-Nya, tidak peduli dalam rupa apa pun seturut pilihan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, dari zaman ke zaman Engkau telah mengurapi umat-Mu dengan Roh Kudus-Mu agar kami dapat menjadi saksi-saksi-Mu yang tangguh dalam memberitakan Kabar Baik-Mu ke tengah-tengah dunia. Namun, sebelum itu, ya Tuhan Yesus, perkenankanlah Roh Kudus membimbing dan mengajar kami masing-masing agar dapat mengenali kehadiran-Mu dalam diri sesama kami, terutama dalam diri mereka yang kecil dan menderita. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 1:6-8,19-28), bacalah tulisan yang berjudul “BELAJAR DARI YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan untuk tanggal 17-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

Cilandak, 15 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ELIA SUDAH DATANG

ELIA SUDAH DATANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Sabtu, 16 Desember 2017) 

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13) 

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19 

Ada sebuah tradisi yang berkembang di kalangan orang-orang Yahudi, yaitu bahwa Nabi Elia akan datang kembali ke dunia untuk menyiapkan kedatangan sang Mesias. Satu alasan mengapa ada orang-orang yang tidak menerima Yesus sebagai Mesias (Kristus) adalah, bahwa menurut pandangan mereka Elia belum datang kembali sebagai bentara sang Mesias itu.

Elia adalah seorang nabi besar dari kerajaan utara dalam periode pemerintahan Raja Ahab dan permaisurinya yang jahat, Izebel. Izebel menyembah berhala, yaitu Baal. Perempuan jahat ini juga menjadi penyebab sejumlah nabi Israel dibunuh (lihat 1Raj 17:1 – 2Raj 2:13). Pelayanan kenabian Elia termasuk pergandaan roti (termasuk tepung serta minyak) dan membangkitkan orang dari kematian (lihat 1Raj 17:7-24), semua itu menunjukkan kedaulatan Allah yang esa dan benar. Allah berbicara kepada Elia di gunung Horeb, seakan dia adalah seorang Musa yang baru, yang akan memimpin umat Israel untuk keluar dari kemurtadan. Pentingnya peranan Elia dicerminkan dalam peristiwa kenaikannya ke surga dengan kereta berapi dengan kuda berapi (2Raj 2:11-12). Pada masa Nabi (kecil) Maleakhi (c. 475 SM), umat Yahudi mengharapkan nabi Elia (yang mereka percaya tidak pernah mati), akan kembali menjelang datangnya hari YHWH yang besar dan dahsyat itu (Mal 4:5-6). Kepercayaan ini dicerminkan dalam Sir 48:1-11 (Harap dibaca ya karena ini tulisan yang indah) dan dalam Kitab Makabe yang pertama: “Elia telah diangkat ke surga, karena kegiatannya yang hangat untuk hukum Taurat” (1Mak 2:58).

Hari ini pun, setelah hampir 2.000 tahun orang Romawi menghancurkan Yerusalem (tahun 70), pada upacara Paskah mengenangkan keluaran dari Mesir, orang-orang Yahudi menuang air anggur ke dalam cangkir yang disediakan bagi nabi Elia. Mereka membuka pintu-pintu rumah mereka bagi sang nabi untuk masuk dalam mengantisipasi kedatangan Mesias. Dalam perjamuan Paskah, orang-orang Yahudi berkata: “Tahun depan di Yerusalem”, hal ini mengkaitkan kedatangan Elia dengan penebusan secara nasional.

Komentar Yesus tentang Elia secara langsung dilakukan setelah Dia dimuliakan di atas gunung (transfigurasi-Nya), pada saat mana Yesus tampak dalam kemuliaan-Nya bersama Musa dan Elia di depan tiga orang murid-Nya, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Kemudian Bapa surgawi berfirman kepada mereka: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat 17:5). Yesus mengidentifikasikan Yohanes Pembaptis sebagai Elia, namun tidak dalam arti literal, melainkan secara fungsional sebagai bentara Mesias. Maka jawaban Yesus bahwa Elia telah datang dalam diri Yohanes Pembaptis ini tidak ada hubungannya dengan ide reinkarnasi. Yang patut dicatat adalah, bahwa Elia dan Yohanes Pembaptis dipandang sebagai personifikasi dari umat dengan siapa Allah telah membuat sebuah perjanjian. Mereka “ditakdirkan” untuk menjadi “pendahulu” Mesias. Lewat jawaban-Nya itu sebenarnya Yesus meneguhkan firman Bapa, bahwa Dia adalah “sang Terurapi” (Ibrani: Meshiakh atau Mesias). Allah memegang firman-Nya dengan menggenapi nubuat-nubuat para nabi Yahudi.

Kristus adalah pusat sejarah. Segala sesuatu yang ada sebelum Dia menyiapkan kedatangan-Nya. Umat dan perjanjian mereka dengan Allah, para nabi dan ajaran-ajaran mereka tentang Allah, semua membawa kepada kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Sekarang segalanya mengalir dari Kristus dan misi-Nya di dunia. Kristus tidak sekadar pusat sejarah, Ia juga fokus sejarah. Ia menajamkan visi kita tentang Allah. Ia membuat jelas makna dan tujuan eksistensi manusia. Ia membuat pembedaan jelas ide tentang apa yang benar dan apa yang salah.

Dalam masa Adven ini, marilah kita memusatkan perhatian kita pada Yesus Kristus. Biarlah Ia menjadi Pribadi yang merupakan pusat keberadaan kita yang utuh. Biarlah ajaran dan kehidupan-Nya memberikan makna dan tujuan bagi keberadaan kita.

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah mengutus nabi-nabi seperti Musa, Elia dan Yohanes Pembaptis untuk memimpin kami kepada pertobatan dan kepada  sang Mesias yang telah menebus tidak hanya Israel, melainkan juga seluruh dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 17:10-13),  bacalah  tulisan yang berjudul “YANG DIMAKSUDKAN DENGAN ELIA ADALAH YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 16-12-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Desember 2017 [Peringatan S. Lusia, Perawan & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERKENANKANLAH ALLAH BEKERJA DENGAN CARA-CARA YANG TAK TERDUGA-DUGA

PERKENANKANLAH ALLAH BEKERJA DENGAN CARA-CARA YANG TAK TERDUGA-DUGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Jumat, 15 Desember 2017) 

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19) 

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Mengapa Yesus melakukan hal-hal seperti dilakukan-Nya, walaupun Ia jelas mengetahui bahwa hal-hal yang dilakukan-Nya itu akan disalahtafsirkan? Ketika beberapa orang Farisi melihat Yesus bergaul dengan para pemungut cukai dan pendosa lainnya,  dan menawarkan sentuhan kesembuhan dari Allah, mereka menamakan-Nya “seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Mat 11:19) dan memperkuat perlawanan mereka terhadap Yesus. Dengan demikian, mengapa Yesus terus saja “membuang” begitu banyak waktu dengan orang-orang ini? Mengapa membuat mereka menjadi semakin membenci diri-Nya?

Kadang-kadang Allah melakukan hal-hal dengan cara-cara yang berada di luar ekspektasi kita. Siapa yang akan berpikir bahwa seorang anak yang lahir dari seorang perempuan muda yang menjadi hamil di luar perkawinan itu adalah sang Mesias yang sudah dinanti-nantikan? Siapa yang akan habis berpikir bahwa Allah akan memberikan kunci kerajaan-Nya kepada seorang nelayan Galilea yang tidak sabaran itu? Apabila seorang pemikir agama terkenal hari ini memberi kesaksian bahwa dirinya menjadi buta karena kilat yang dahsyat dari langit dan telah mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain, bagaimanakah kiranya reaksi orang-orang terhadap kesaksiannya itu?

Sejak awal mula, Allah memang telah melakukan hal-hal yang berada di luar ekspektasi – meninggikan orang yang lemah, menurunkan orang-orang yang berkuasa, membuka rahim yang mandul, menghujani umat-Nya dengan manna dari surga, bahkan membangkitkan orang mati untuk hidup kembali. Sebagai para pengikut-Nya, tanggapan terbaik yang dapat kita berikan adalah untuk tetap rendah hati dan terbuka, siap untuk menerima Allah berdasarkan ketentuan-ketentuan-Nya, bukan ketentuan-ketentuan kita. Pada akhirnya, kita akan menemukan Hikmat Allah yang dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan-Nya.

Sebuah contoh yang baik ditunjukkan oleh Gamaliel (guru dari Paulus), seorang tokoh Farisi yang dihormati. Ketika mendengar berita tentang suatu gejala “aneh” yang sedang berkembang dalam masyarakat pada waktu itu – orang-orang tanpa latar pendidikan membuat mukjizat-mukjizat dan memproklamasikan bahwa Yesus adalah Putera Allah yang bangkit – Gamaliel mampu mengangkat dirinya melampaui pemikiran-pemikiran dan ekspektasi-ekspetasinya sendiri. Nasihatnya adalah agar para pemuka agama Yahudi mengambil sikap wait and see, apakah Allah sungguh bekerja dalam diri orang-orang sederhana dan tak terpelajar ini. Gamaliel berkata: “Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah” (Kis 5:38-39). Gamaliel tidak membuat praandaian bahwa dia tahu segalanya tentang sikap dan perilaku Allah. Ia cukup rendah hati untuk “memperkenankan” Allah bekerja dengan cara-cara yang tak terduga-duga.

Seperti Gamaliel, marilah kita juga menjaga diri kita agar tetap rendah hati dan terbuka agar dapat mengenali Allah – walaupun ketika pesan-Nya sungguh di luar ekspektasi.

DOA: Tuhan Yesus, ketika Engkau datang ke tengah dunia, semuanya terjadi dengan cara-cara yang berada di luar ekspektasi kami. Apabila Engkau datang kembali kelak, kami percaya bahwa Engkau pun akan melakukannya dengan cara-cara yang tak terduga-duga. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah agar kami selalu dekat dengan Engkau dalam doa dan tolonglah kami agar terbuka bagi karya-Mu dalam kehidupan kami dan dalam dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:16-19),  bacalah  tulisan yang berjudul “HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA” (bacaan tanggal 15-12-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 13 Desember 2017 [Peringatan S. Lusia, Perawan & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI

LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Lusia, Perawan Martir – Rabu, 13 Desember 2017) 

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Yes 40:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10 

“Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat11:29).  “Lemah lembut” berarti baik hati, tidak pemarah, tidak juga galak. Sifat pemarah adalah salah satu dari dosa-dosa manusia yang amat berat. Kemarahan dapat menyebabkan perselisihan dalam keluarga, ketegangan dalam lingkungan atau pun dalam paroki, juga dapat menyebabkan kekacauan di dalam masyarakat. Praktis setiap hari kita dapat menonton TV yang menayangkan adegan-adegan kekerasan: tawuran antar para mahasiswa dan/atau pelajar, perang antar desa, konser band yang berakhir dengan kekacauan, konfrontasi antara petugas dan para PKL, dan banyak lagi, termasuk “perang di lapangan sepak bola”. Wajah-wajah yang terlihat adalah wajah-wajah yang penuh kemarahan. Sifat pemarah dikecam keras dalam Kitab Suci: “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.” (Mzm 37:8)  Yesus sendiri juga pernah berfirman, “Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus di hadapkan ke Mahkamah Agama …” (Mat 5:22).

Kesombongan adalah lawan dari kerendahan hati. Sombong, angkuh atau tinggi hati, bahkan termasuk yang pertama dari tujuh dosa maut. Orang yang angkuh tidak disenangi sesama, apalagi oleh Allah: “Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN (YHWH), sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman” (Ams 16:5).  Memang ada bermacam-macam bentuk keangkuhan, namun yang paling berat adalah kesombongan atau keangkuhan rohani, misalnya mereka yang merasa diri lebih suci, lebih pintar dalam hal-ikhwal Alkitab, sehingga sampai-sampai memandang remeh orang lain. Contoh dalam Injil dari orang-orang seperti ini adalah “para ahli Taurat”, “orang Farisi”, juga “orang Saduki” dan para imam kepala. Dalam satu surat katolik yang terkenal ada tertulis: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak 4:6; bdk. Ams 3:34). Demikian pula dalam satu surat katolik lainnya tertulis sebuah petuah ampuh bagaimana caranya berelasi satu sama lain dalam hidup komunitas, apakah di rumah, di lingkungan dan lain sebagainya: “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.’ Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (2 Ptr 5:5-6; bdk. Ams 3:34).  Marilah kita mohon kekuatan dari Allah untuk dapat mempraktekkan semua itu.

“Pikullah gandar yang Kupasang … sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat11:29.30). Mengapa kuk atau gandar yang dipasang oleh Yesus itu menyenangkan dan beban-Nya pun ringan? Apakah hal ini disebabkan karena Yesus menetapkan standar yang rendah bagi kita? Samasekali tidak, karena Yesus pernah berfirman: “Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).  Apakah karena Yesus minta komitmen yang sedikit-sedikit saja dari kita semua? Tidak juga, karena Yesus pernah berfirman: “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat10:38).  Kalau begitu, bagaimana Yesus sampai berkata, bahwa gandar-Nya itu menyenangkan dan beban-Nya ringan? Jawabannya dapat berlainan, tergantung pada imaji (image) Yesus yang digunakan oleh orang yang memberikan jawaban.

Sebuah kuk atau gandar terbuat dari sepotong kayu yang dipasang di atas leher-leher dua ekor hewan (misalnya sapi atau kerbau) agar kedua ekor hewan itu dapat dikendalikan secara bersamaan.  Di mana Yesus dalam gambaran ini? Apakah Ia berjalan di muka kita? Di belakang kita? Apakah Ia berada dalam gerobak yang kita tarik? Samasekali tidak! Ia berada di samping kita, Ia menarik gerobak bersama kita. Dengan perkataan lain, Yesus mengundang kita untuk melepaskan kemandirian kita dan membiarkan kekuatan-Nya menjadi kekuatan kita. Yesus tahu sekali, bahwa kita tidak pernah dapat menjadi serupa dengan Dia atas dasar kekuatan kita sendiri, oleh karena itulah Dia menawarkan kepada kita kekuatan-Nya agar kita dapat melakukan segala hal melalui Dia dan bersama Dia.

Kehadiran Yesuslah yang menyebabkan mengikuti-Nya menjadi mudah-menyenangkan dan ringan. Sebagai manusia seperti kita, Yesus tahu sekali betapa sulitnya hidup ini. Ia tahu apa artinya digoda dan dicobai, dan Ia pun tahu sekali keterbatasan-keterbatasan yang disebabkan kelemahan-kelemahan manusia. Namun, karena Yesus juga mempunyai kodrat ilahi, Yesus adalah sumber segala rahmat dan kekuatan. Ia mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita, dan Ia pun memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Ia merasakan sakit kita, dan Ia berjalan bersama kita, sambil menawarkan kita penyembuhan dan kenyamanan. Sungguh adalah suatu sukacita, apabila Yesus memasang gandar-Nya pada diri kita, dengan demikian kita akan menjadi teman seperjalanan-Nya dalam perjalanan hidup kita. Apakah anda membutuhkan teman yang setia? Apakah anda membutuhkan kekuasaan untuk mengatasi dosa? Teristimewa dalam masa Adven ini, ambillah tempat di sebelah Yesus dengan gandar-Nya. Taruhlah kepercayaan anda pada Yesus dan tariklah kekuatan dari Dia. Yesus yang memiliki Hati yang begitu mencintai, pasti siap menolong anda!

DOA: Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 40:25-31),  bacalah  tulisan yang berjudul “ALLAH ADALAH SANG PEMBERDAYA SEJATI BAGI KITA” (bacaan tanggal 13-12-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Desember 2017 [HARI MINGGU ADVEN II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS