MELAKUKAN CEK-IMAN SECARA TERATUR

MELAKUKAN CEK-IMAN SECARA TERATUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Selasa, 23 Oktober 2018)

Keuskupan TNI-POLRI Pesta S. Yohanes dr Kapestrano, Imam – Pelindung Para Pastor/Perawat Rohani Angkatan Bersenjata

Keluarga Fransiskan Kapusin (OFMCap. & OSCCap.): Peringatan S Yohanes dr Kapestrano, Imam

Ordo Santa Ursula (OSU): Peringatan Para Martir Ursulin dr Valenciennes 

“Hendaklah pinggangmu tetap terikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetuk pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Apabila ia datang pada tengah malam atau pada dini hari dan mendapati mereka berbuat demikian, maka berbahagialah mereka.” (Luk 12:35-38) 

Bacaan Pertama: Ef 2:12-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14 

Pernahkah Saudari-Saudara mendapatkan diri anda dalam suatu situasi di mana anda tidak merasa yakin apakah yang sebenarnya diharapkan dari diri anda? Suatu pengalaman seperti itu dapat terasa seperti suatu intimidasi dan sungguh tidak mengenakkan. Untunglah bahwa Yesus tidak meninggalkan kita dalam kegelapan tentang bagaimana kita harus menghayati/menjalani hidup kita selagi kita menanti-nantikan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan. Kita harus selalu tetap mengenakan baju kerja kita dengan pelita yang bernyala (Luk 12:35). Hal ini bukan hanya berarti bahwa berjaga-jaga untuk menyambut kedatangan tuan kita, melainkan juga senantiasa memperhatikan diri kita sendiri dan hidup-iman kita. Satu cara praktis untuk melakukan “cek iman” (Inggris: faith check) adalah untuk menanyakan kepada diri kita sendiri beberapa pertanyaan mendasar berkaitan dengan area-area kunci kehidupan kita. Peninjauan kembali (review) secara regular ini dapat mendorong kita kepada kesetiaan yang lebih besar – asalkan kita melakukannya dengan penuh keyakinan akan kasih penuh kerahiman dari Tuhan, dan bukan dengan rasa takut akan hukuman-Nya.

Periksalah relasi anda dengan para anggota keluarga dan sahabat anda. Tanyakanlah pada diri anda: Pernahkah aku melakukan percakapan yang belum terselesaikan, yang menyebabkan diriku melakukan penolakan atau untuk memutuskan hubungan dengan seseorang? Apakah seseorang telah membuat komentar-komentar menyakitkan yang perlu kumaafkan atau kuselesaikan dengan orang itu. Apakah aku harus bertobat atas  apa saja yang kukatakan? Apakah aku memerlukan hikmat-kebijaksanaan untuk memecahkan isu-isu tertentu atau untuk membawa penyembuhan atas suatu relasi?  Sepantaslah bagi kita masing-masing untuk mempersembahkan berbagai situasi ini ke hadapan hadirat-Nya. Jika perlu, marilah kita memohon pengampunan dari Tuhan. Kita harus bertanggung-jawab atas perpecahan apa saja yang telah kita sebabkan melalui gosip-gosipan, kritik-kritik, atau humor negatif. Kita juga harus memohon hikmat dan penyembuhan untuk situasi-situasi di mana kita tidak tahu bagaimana melangkah selanjutnya.

Periksalah relasi anda dengan Tuhan. Baiklah anda bertanya kepada diri anda sendiri: Apakah aku berdoa? Apakah saya memalingkan hatiku kepada Allah dan berbicara kepada-Nya pada waktu-waktu yang tersedia sepanjang hari? Apakah aku jujur dengan Dia? Apakah Allah mengundang diriku untuk menyerahkan diri kepada-Nya secara lebih mendalam? Apakah aku bertumbuh dalam hal kesadaranku akan belas kasih Allah? Apakah aku bersedia menerima belas kasih dari Allah itu?

Periksalah juga tanggung-jawab anda. Tanyakanlah pada diri anda: Apakah aku sungguh berniat menjadi hamba yang setia selagi aku melaksanakan pekerjaan yang telah dipercayakan Allah kepadaku? Apakah aku melihat Tuhan dalam orang-orang yang kujumpai setiap hari? Apakah tindakan-tindakanku menyampaikan kasih Allah dan kehangatan kepada orang-orang lain? Sekarang bayangkanlah anda berbicara dengan Tuhan mengenai rencana-rencana dan pekerjaan-pekerjaan anda. Anda juga harus memandang ke depan, yaitu kepada situasi-situasi khusus yang anda harapkan akan anda jumpai dan memohon agar Dia ada bersama anda.

DOA: Tuhan Yesus, dikuatkan oleh kuasa Roh Kudus-Mu, aku berdiri sekarang siap untuk menyambut-Mu pada saat Engkau datang kembali. Dengan segala orang kudus dan malaikat, aku berseru, “Datanglah, Tuhan Yesus, datanglah!” Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:35-38), bacalah tulisan yang berjudul “SELALU BERSIAP-SIAGA UNTUK MENYAMBUT KEDATANGAN KRISTUS” (bacaan tanggal 23-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Oktober 2018 [HARI MINGGU BIASA XXIX – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG ORANG KAYA YANG BODOH

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG ORANG KAYA YANG BODOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 22 Oktober 2018)

Peringatan S. Yohanes Paulus II, Paus

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah  terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Ef 2:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Harta kekayaan terbesar apakah yang dapat dimiliki oleh seseorang? Dalam perumpamaan ini, tuan tanah kaya begitu jauh dari jawaban benar sehingga Allah memberikan kepadanya teguran yang mengagetkan: “Hai engkau yang bodoh” (Luk 12:20). Biasanya kita membaca firman Allah ini sebagai suatu penghinaan. Tetapi barangkali firman Allah ini dimaksudkan lebih sebagai suatu ratapan – suatu ungkapan rasa sedih karena kebutaan “orang-orang bodoh” yang “menghina hikmat dan didikan” (Ams 1:7). Barangkali Allah bersabda: “Aku ingin agar engkau hidup berbahagia dan mengalami sukses yang benar! Betapa pedihnya melihat anda mencari sesuatu yang berbahaya dan bodoh bagi hidup anda, bukannya sesuatu yang baik!”

Mengapa Yesus menggambarkan si tuan tanah kaya sebagai seorang yang tidak bijaksana atau bodoh? Bukan untuk kerajinannya berusaha, melainkan untuk egoisme dan ketamakannya. Seperti dalam perumpamaan Yesus lainnya, yaitu tentang “Lazarus dan seorang kaya” (Luk 16:19-31), orang kaya dalam perumpamaan Yesus Injil hari ini telah kehilangan kapasitasnya untuk berbelas-kasih dan berbela-rasa dengan orang-orang lain. Hidupnya habis dipakai untuk mengurusi kepemilikannya, harta-kekayaannya; dan kepentingannya hanyalah dirinya sendiri. Kematiannya adalah kehilangan jiwanya yang bersifat final.

Perumpamaan Yesus tentang orang kaya yang bodoh ini adalah sebuah pelajaran mengenai kepemilikan. Yesus mengingatkan kita agar tidak menjadi posesif. Pada saat bersamaan Ia berjanji kepada kita bahwa Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang mencari harta dalam diri-Nya. Allah itu murah hati, dan Ia menginginkan agar kita menaruh kepercayaan kepada penyelenggaraan ilahi-Nya. Itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan kepada kita untuk tidak perlu merasa susah atau khawatir tentang hidup kita, karir kita atau masa depan kita (Luk 12:22-31). Yesus menawarkan kepada kita jaminan tentang kebutuhan kita sehari-hari, sementara mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita pada sebuah harta-kekayaan yang tak ternilai, yaitu suatu hidup berkelimpahan dan kebahagiaan bersama Allah, sekarang dan selama-lamanya.

Sekarang, di manakah harta-kekayaan kita (anda dan saya)? Dapatkah kita dengan rendah hati memperkenankan Yesus menjamah hati kita, pusat dari segala hasrat dan kerinduan kita, pusat dari kehendak dan fokus kita? Apa saja yang paling menjadi pusat perhatian dalam hati kita adalah harta-kekayaan kita yang paling tinggi. Apakah Yesus Kristus merupakah harta-kekayaan kita yang paling tinggi?

[Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan “kaya di hadapan Allah” (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam “Sabda Bahagia” terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan “kaya di hadapan Allah” di atas.] 

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah diriku dari keinginan untuk memiliki harta kekayaan dunia sebanyak-banyaknya, sehingga dengan demikian aku dapat mengenal dan mengalami sukacita karena mempunyai Engkau sebagai harta kekayaanku. Anugerahkanlah kepadaku sebuah hati yang pemurah. Tolonglah aku agar dapat menggunakan dengan baik segala berkat-berkat materiil yang telah Engkau anugerahkan kepadaku untuk kemuliaan-Mu dan kebaikan bagi orang-orang lain, teristimewa mereka yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG KAYA YANG BODOH(bacaan tanggal 22-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul untuk bacaan tanggal 23-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Oktober 2018 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA SAJA YANG INGIN MENJADI BESAR DI ANTARA KAMU, …

SIAPA SAJA YANG INGIN MENJADI BESAR DI ANTARA KAMU, …

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XXIX [TAHUN B] – 21 Oktober 2018)

HARI MINGGU MISI

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami harap Engkau melakukan apa pun yang kami minta dari Engkau!” Jawab-Nya kepada mereka, “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?”  Lalu kata mereka, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”  Tetapi kata Yesus kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus kuterima?”  Jawab mereka, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya hal itu telah disediakan.”  Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Lalu Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”   (Mrk 10:35-45) 

Bacaan Pertama: Yes 53:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-5,18-20,22; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16

Ini adalah perjalanan-Nya untuk terakhir kalinya ke Yerusalem dan Yesus secara terbuka mempersiapkan ke duabelas rasul/murid-Nya untuk peristiwa-peristiwa penting yang menyangkut hari-hari terakhir-Nya di atas bumi. Yesus bernubuat bahwa diri-Nya “akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa lain, dan Ia akan diolok-olok, diludahi, dicambuk dan dibunuh, tetapi sesudah tiga hari Ia akan bangkit” (Mrk 10:33-34). Sekarang, Yesus siap untuk menjawab pertanyaan apa saja dari para murid-Nya tentang “nasib”-Nya yang kelihatan tragis ini. Pada momen yang sensitif ini, Yesus juga mencari dukungan dari mereka, yaitu para sahabat terdekat-Nya.

Kemudian, kesunyian penuh ketegangan dirusak oleh dua orang bersaudara anak-anak Zebedeus, yaitu Yakobus dan Yohanes, hal mana menunjukkan bahwa mereka berdua sungguh belum mampu menangkap pesan dari Mesias yang menderita dan hanya memikirkan dan memandang Dia sebagai seorang raja penakluk yang penuh kejayaan.  Mereka berdua meminta tempat-tempat kehormatan (mungkin sebagai “menko bidang perekonomian” dan “menko bidang polhukam”) dalam Kerajaan-Nya yang didirikan tidak lama lagi – yang satu duduk di sebelah kanan-Nya dan yang lain duduk di sebelah kiri-Nya. Permintaan mereka yang diajukan secara mendadak dan didorong oleh ambisi yang tidak sehat tentunya menyedihkan bagi Yesus, yang selama itu telah menempatkan diri-Nya sebagai seorang pelayan/hamba, namun sekarang diminta untuk memberikan posisi kehormatan dan bermartabat kepada para murid-Nya. Sepuluh orang murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tidak mengherankanlah apabila Lukas tidak memasukkan insiden tidak sedap ini dalam Injilnya. Di lain pihak, dalam Injilnya, Matius menyebut bahwa ibunda dari dua bersaudara itulah yang mengajukan “permohonan kurang ajar” tersebut kepada Yesus, jadi bukan mereka berdua (Mat 20:20-28).

Apa pun yang sesungguhnya terjadi, dan siapa pun yang mengajukan permohonan itu kepada Yesus, satu hal yang jelas. Yesus memberitahukan Yakobus dan Yohanes dan para rasul/murid yang lain bahwa mereka dipanggil untuk menderita bersama-Nya.

Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan-Nya itu berbeda apabila dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan di dunia. Mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Namun di dalam Gereja orang-orang besarnya adalah justru mereka yang melayani orang-orang lain. (Mrk 10:42-43). Yesus bersabda: “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk 10:43-44).  Jadi, satu-satunya cara bagi kita untuk dapat ikut serta dalam kemuliaan Yesus adalah pertama-tama ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara-Nya.

01 Jan 1976 — Mother Teresa Visits Patients At Kalighat Home For The Dying — Image by © JP Laffont/Sygma/CORBIS

Berlawanan dengan beberapa pandangan modern, penderitaan bukanlah hukuman, demikian pula kehormatan bukan selalu merupakan karunia dari Allah. Kita harus secara konstan terus membuat jelas standar-standar yang mana yang kita ikuti. Seperti Yakobus dan Yohanes, kita mungkin menjadi tidak sensitif terhadap jalan-jalan Allah dengan mencoba menjadi sangat penting dalam cara-cara duniawi. Bukankah kita kadang-kadang bersenandung “I’m number one”, paling sedikit secara diam-diam? Di mana kita dapat menemukan “orang-orang nomor satu” dari Tuhan? Tidak perlu mereka duduk dalam posisi-posisi tinggi dan memegang otoritas, tetapi justru mereka adalah para pelayan yang bekerja keras dalam masyarakat. Renungkanlah hidup pribadi-pribadi seperti S. Fransiskus dari Assisi, S. Vincentius a Paolo, S. Damien dari Molokai, S. Ibu Teresia dari Kalkuta dlsb.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah hatiku seperti hati-Mu. Anugerahilah aku cintakasih dan keberanian untuk mampu melihat melampaui diriku sendiri dan untuk melayani orang-orang lain dengan penuh kemurahan hati, seperti Engkau sendiri telah lakukan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:35-45), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGAJUKAN PERTANYAAN SAMA SEPERTI YANG DITANYAKAN-NYA KEPADA BARTIMEUS” (bacaan tanggal 21-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-10-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 20 Oktober 2018)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2-7 

NYT2010100712284619C

Kebaktian gereja di Munich, Jerman, telah selesai, ketika tiba-tiba perempuan itu melihat laki-laki itu; mantan prajurit SS Nazi yang bertugas menjaga di dekat pintu kamar mandi di kamp konsentrasi Ravensbruck. Banyak tahun telah berlalu, namun memori-memori membanjiri pikiran perempuan itu – ruangan yang penuh berisi laki-laki yang mengolok-olok dirinya, tumpukan baju, rasa takut yang bercampur dengan marah dan malu. Pada suatu hari, setelah baru saja menyelesaikan ceramahnya, seorang laki-laki muncul dari antara orang-orang yang hadir dan mendatanginya dan berkata kepada perempuan itu, “Betapa penuh syukur saya mendengar pesan anda, …… berpikir bahwa Yesus telah membasuh bersih dosa-dosaku!”

Mula-mula perempuan ini, yang sudah begitu sering berceramah tentang betapa perlunya mengampuni, tidak mau mengulurkan tangannya ketika laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyalaminya. Merasakan keengganan dirinya, kemudian perempuan itu memohon kepada Yesus untuk menolongnya mengampuni laki-laki itu. Tanpa mampu tersenyum sedikit pun, perempuan itu berdoa lagi: “Yesus, aku tidak dapat. Berikanlah pengampunanmu kepadaku.” Pada akhirnya, selagi dia berjabatan tangan dengan laki-laki itu, “terjadilah suatu hal yang luar biasa. Dari pundakku terus melewati lengan dan tanganku, terasa adanya sesuatu yang mengalir dari diriku kepada orang itu, sementara dari kedalaman hatiku mengalirlah keluar cintakasih bagi orang asing ini, hal mana hampir membuat aku ‘kewalahan’ karena karena rasa gembira yang penuh ketakjuban.”

Perempuan itu adalah Corrie ten Boom [1892-1983]. Siapa yang dapat menyalahkan Corrie untuk sikapnya yang tidak mau mengampuni? Keluarganya dihabiskan oleh para penguasa Nazi hanya karena mereka adalah orang-orang Kristiani yang menyembunyikan orang-orang Yahudi dari pengejaran para penguasa Nazi tersebut. Akan tetapi, melalui rahmat Allah yang bersifat supernatural, Corrie dimampukan untuk dapat melihat melampaui rasa sakit hatinya dan berpaling kepada Yesus dalam momen pengambilan keputusan yang krusial.  Sebagai bukti kebenaran-kebenaran dari hal-hal yang telah disyeringkan olehnya kepada orang-orang lain, sikap dan tindakan sederhana Corrie terhadap mantan-penganiayanya menunjukkan, bahwa belas-kasih dapat menang-berjaya atas penghakiman.

Apakah mereka mengetahuinya atau tidak – dan apakah kita mempersepsikannya atau tidak – sebenarnya setiap insan (Nazi, komunis, atheis, agnostik dlsb.) memiliki kerinduan untuk mengenal Injil. Itulah sebabnya, mengapa Allah memanggil kita masing-masing untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Itulah sebabnya, mengapa Dia memberikan kepada kita berbagai kesempatan setiap hari untuk menyebarkan Kabar Baik-Nya kepada para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para rekan-kerja kita dll. Evangelisasi tidak perlu sulit-sulit amat! Evangelisasi dapat sama sederhananya dengan percakapan sehari-hari. Dengan tetap berada dekat dengan Yesus membuat kita terus terbuka bagi gerakan-gerakan Roh-Nya. Dengan demikian, Injil yang kita hayati dalam kehidupan kita akan menarik banyak orang kepada Allah.

Marilah kita menjaga diri kita agar tetap terbuka bagi Roh Kudus dan senantiasa mengingat kebenaran yang satu ini: yaitu bahwa Roh Kudus inilah yang melakukan evangelisasi, bukan kita. Roh Kudus Allah-lah yang sesungguhnya merupakan SANG PEWARTA, Dia yang senantiasa bekerja di belakang layar.

DOA: Roh Kudus yang penuh kuasa dan kasih, berikanlah kepadaku hati seorang penginjil. Semoga diriku senantiasa mencerminkan kebenaran-kebenaran Injil. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA” (bacaan tanggal 20-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KITA DAPAT MENGATASI RASA TAKUT KITA

DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KITA DAPAT MENGATASI RASA TAKUT KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Jumat, 19 Oktober 2018)

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi Aku akan menunjukkan kepada kamu siapa yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang  setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang  ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah lima ekor burung pipit dijual seharga dua receh terkecil? Sungguh pun demikian tidak seekor pun yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit. (Luk 12:1-7) 

Bacaan Pertama: Ef 1:11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,12-13 

“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” (Luk 12:4)

“… jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.” (Luk 12:7)

Pada tahun 1933, pada puncaknya masa susah “Great Depression”, presiden Franklin Roosevelt membuat pengumuman sebagai berikut: “Kita tidak perlu takut kepada apa pun kecuali ketakutan itu sendiri.”  Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut ……” (Luk 12:4). Presiden Roosevelt berbicara mengenai suatu krisis politik dan ekonomi, sedangkan Yesus berbicara mengenai suatu krisis yang jauh lebih penting, yaitu krisis spiritual.

Ketakutan dapat melumpuhkan jiwa, dapat melemahkan tekad kita untuk menghindari godaan dan bekerja sama dengan rahmat Allah. Ketakutan dapat menggantikan keberanian  dengan kepengecutan, dan menggantikan pengharapan dengan keputusasaan. Namun dalam segala hal ini, kita masing-masing menunjukkan diri kita sebagai seorang pribadi yang manusiawi. Bahkan Yesus sendiri mengalami rasa takut yang luar biasa di taman Getsemani.

Kabar baiknya adalah bahwa dengan pertolongan Allah kita dapat mengatasi rasa takut kita.  Keberanian yang sejati bukan berarti tanpa rasa takut samasekali, melainkan bertindak berdasarkan kehendak Allah walaupun ketika kita merasa takut. Sejak beliau nyaris tertembak mati oleh seorang pembunuh pada tahun 1981, pastilah Paus Yohanes Paulus II masih dihinggapi rasa takut setiap kali beliau harus tampil di depan publik. Namun beliau terus melakukannya.

Demikian pula halnya dengan kita, walaupun dalam skala kecil-kecilan. Melalui doa, penghiburan yang kita terima dari orang-orang lain, dan kekuatan batiniah yang disediakan oleh rahmat Allah, maka kita semua dapat menerima rasa takut kita dan memperoleh pertolongan yang kita perlukan untuk mengubah pikiran dan motif kita. Lalu, kita akan melihat bahwa rasa takut kita semakin menyusut dan kita akan semakin berakar dalam kasih.

Menjadi manusiawi berarti menjadi lemah dalam diri kita sendiri namun kuat dalam Kristus, berdosa dalam diri kita sendiri namun kudus di dalam Dia, merasa takut dalam diri kita namun berani melalui Roh-Nya. Santa Teresia dari Lisieux pernah berkata bahwa bahkan tindakan-tindakan kita yang paling mulia sekali pun tetap dinodai oleh berbagai kelemahan. Namun demikian, selagi kita dengan cara yang jauh dari sempurna berjalan tertatih-tatih menuju Allah, kita tetap dapat memberikan kemuliaan kepada-Nya. Pertimbangkanlah kelemahan-kelemahan yang berbeda dari para rasul Yesus dan yakinlah bahwa pada akhirnya yang menang-berjaya adalah kuat-kuasa yang dari atas itu. Semoga Yesus memberikan kepada kita damai-sejahtera yang melampaui segala pengertian kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji Engkau dan aku meninggikan Engkau. Engkau adalah batu karangku dan tempat pengungsianku. Semoga aku senantiasa berpegang erat-erat pada-Mu sebagai seorang anak yang senantiasa berpegang erat-erat pada bapanya. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (LLuk 12:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA SESUATU PUN YANG TERSEMBUNYI YANG AKAN DIKETAHUI” (bacaan tanggal 19-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10  BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Oktober 2018 [Peringatan S. Margareta Maria Alacoque] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Penulis Injil – Kamis, 18 Oktober 2018)

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Luk 10:1-9) 

Bacaan Pertama: 2Tim 4:10-17b; Mazmur: Mzm 145:10-13,17-18

Hari ini kita merayakan Pesta Santo Lukas, penulis “Injil Lukas” dan “Kisah para Rasul”. Dari sedikit informasi yang kita miliki tentang Lukas, dapat dikatakan bahwa dia bukanlah seorang Yahudi, dia berpendidikan tinggi dan berlatar-belakang budaya helenis (Yunani), dan seorang dokter/tabib. Ia menanggapi dengan sepenuh hati panggilan Tuhan. Jelas Lukas bukan salah satu dari dua belas rasul, namun dia tabah dan setia dalam mengikuti jejak Tuhan dan dengan berupaya sepenuh hati untuk belajar lebih tentang Tuhan Yesus Kristus dari para saksi mata (lihat Luk 1:1-4). Lukas menjadi seorang beriman Kristiani lewat Kabar Baik yang diberitakan para murid Yesus yang lebih “senior” daripada dirinya sendiri. Kemudian, setelah diberdayakan oleh Roh Kudus, Lukas berpartisipasi dalam pelaksanaan Amanat Agung Kristus yang sudah bangkit (Mat 28:18-20).  Lukas melakukan perjalanan misi bersama Santo Paulus sebagai seorang anggota tim-misionarisnya dan membuat Yesus dikenal di Timur Dekat dan Eropa, dengan biaya yang cukup tinggi, yaitu karirnya sendiri sebagai seorang tabib.

Dalam kehidupan pelayanan-Nya di dunia, Yesus mengutus 70 (tujuh puluh) orang murid-Nya, malah ada manuskrip-manuskrip kuno yang mengatakan 72 [tujuh puluh dua] orang. Mereka diutus untuk apa? Untuk mengumumkan, bahwa: “Kerajaan Allah sudah dekat padamu” (Luk 10:1-9). Lukas menanggapi seruan itu dengan sebuah hati yang terbuka, dia memperkenankan Roh Kudus untuk mengubah hidupnya. Ketika Tabib Lukas menyadari bahwa Kerajaan Allah sudah datang, dia berbalik dari suatu kehidupan nyaman dan sukses sebagai tabib profesional, dan kemudian mengabdikan dirinya kepada karya evangelisasi sesuai dengan panggilan Allah.

Kita semua juga dipanggil oleh Allah. Adalah suatu kepastian bahwa Allah mempunyai sebuah rencana bagi kita masing-masing. Ketika berkhotbah dalam rangka perayaan Santo Lukas pada tahun 1985, almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang sudah seorang Santo) mengatakan: “Setiap orang Kristiani harus sadar bahwa dia adalah seorang pesuruh dan seorang rasul, seorang yang menyebar-luaskan iman-kepercayaan.” Kepada siapa? Tidak hanya kepada orang-orang lain yang jauh. Di rumah kita masing-masing, di lingkungan gereja kita masing-masing, di tempat kerja kita masing-masing, di tempat kita masing-masing berbelanja: di mana saja dan kapan saja, kita dipanggil untuk menjadi rasul-rasul. Sri Paus mengatakan lagi: “Setiap orang harus sadar bahwa dia adalah seorang pribadi yang di dalam dirinya api iman telah dinyalakan – api yang … di-‘takdir’-kan untuk bersinar sehingga semua orang dapat memperoleh terang cahaya dan panas daripadanya.”

Kita harus ingat selalu, bahwa panggilan kita adalah dari Allah yang mahakuasa. Pada malam sebelum sengsara dan kematian-Nya, Yesus bersabda kepada para murid-Nya: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu……… , supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Lukas dipanggil untuk melakukan perjalanan jauh bersama Santo Paulus; di bawah naungan Roh Kudus dia membuat catatan yang dapat dipertanggung-jawabkan tentang kelahiran Kekristenan, dan menurut tradisi dia pun mengalami kematian sebagai seorang martir Kristus di Akhaya, tidak lama setelah kemartiran Santo Paulus.

Kita memang sudah tahu bahwa kita dipanggil oleh Allah, namun seringkali kita masih saja mempunyai pikiran yang bernada negatif: “Aku tidak pernah dapat menjadi Santo Lukas. Dia kan lain. Dia hidup pada zaman yang lain samasekali!” Dalam hal ini mungkin kata-kata penuh hikmat yang pernah diucapkan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta (sekarang sudah seorang Santa) dapat menolong kita. Seorang pengunjung di Kalkuta berkata kepada Bunda Teresa: “Bunda, engkau telah melakukan sedemikian banyak bagi orang-orang miskin. Engkau membawa Injil cintakasih kepada orang-orang lain dengan begitu banyak cara. Saya tidak pernah akan sanggup melakukan hal-hal seperti yang telah Bunda lakukan.” Bunda Teresa menjawab: “Mungkin saya melakukan apa yang anda tidak dapat lakukan, namun anda dapat melakukan hal-hal yang saya tidak dapat lakukan. Bersama-sama kita dapat melakukan sesuatu yang indah bagi Allah.” Sejalan dengan jawaban Bunda Teresa tadi, almarhum Paus Yohanes Paulus II juga mengatakan: “Kita dipanggil, masing-masing dengan cara yang berlainan, untuk pergi dan menghasilkan buah; untuk masuk ke dalam suatu relasi cintakasih dengan Yesus, sebagai murid yang aktif dan setia.”  Marilah kita menanggapi panggilan Allah itu dengan sepenuh-hati, dengan keikhlasan, dengan ketulusan hati yang tidak perlu diragukan lagi. Sebagai orang Kristiani kita diutus oleh Yesus untuk menyebar-luaskan Kabar Baik, bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Allah memiliki hasrat untuk memasukkan kita ke dalam barisan para pekerja ke kebun anggur-Nya. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuka hati kita dan berkata: “Ya Tuhan, aku mau melakukan kehendak-Mu.”

Kalau demikian halnya, bagaimana harus kita memulainya? Kita harus mulai bersama Yesus sendiri. Memberitakan kepada orang-orang lain tentang Tuhan berarti bangkit keluar dari relasi kita sendiri dengan Dia. Kalau kita setiap hari menyediakan waktu cukup untuk berdoa kepada-Nya, mendengarkan apa yang dikatakan-Nya kepada kita serta mempraktekkannya, maka upaya kita untuk berbicara tentang Dia kepada orang lain menjadi suatu tindakan yang natural. Dalam kesempatan ini ingatlah bahwa seseorang tidak dapat memberikan “sesuatu” kepada orang-orang lain, kalau dia sendiri tidak memiliki “sesuatu” itu. Kalau kita gantikan kata “sesuatu” itu dengan “Yesus”, maka kita dapat menyadari pentingnya arti “pengalaman akan Allah/Yesus” sebagai syarat awal setiap upaya seseorang untuk mulai melakukan evangelisasi.

Kita tidak perlu melakukan perjalanan jauh-jauh seperti yang telah dilakukan oleh Santo Lukas dan Santo Paulus sekitar 1.900 tahun lalu, karena kita mempunyai banyak sekali peluang untuk memberitakan Injil. Setiap hari kita mempunyai kesempatan untuk memberikan diri kita sendiri, untuk bercerita kepada orang-orang lain bahwa Allah mengasihi mereka,  kita berdoa untuk mereka dan berbagi iman-kepercayaan kita dengan mereka. Romo Gino Henriques CSsR, Director dari Evangelization 2000 untuk Asia-Oceania, yang berkedudukan di Singapura, mempunyai sejumlah cerita aktual tentang upaya umat dalam evangelisasi. Hal-hal kecil yang dilakukan sungguh dapat menghasilkan buah. Satu cerita: ada seorang perempuan setengah baya yang bekerja di dapur pastoran. Pada suatu hari Romo Gino bertemu dengan perempuan itu di halaman Gereja yang kelihatan sedang bergegas mau pergi. “Ketangkap basah”’, perempuan itu mulai “mengaku dosa”. Sebenarnya, dia sedang mau pergi menemui seseorang yang memerlukan pendampingan rohani, karena dalam keadaan sangat sulit. Perempuan itu mengaku, bahwa manakala pelajaran evangelisasi sedang berlangsung di aula paroki, secara diam-diam dia juga mencuri-dengar apa yang diajarkan dan didiskusikan di dalam kelas. Dia juga mencatat apa-apa yang perlu. Ternyata perempuan yang akan dikunjunginya bukanlah “pasiennya” yang pertama. Perempuan petugas dapur pastoran yang tidak berpendidikan tinggi itu ternyata seorang penginjil kaliber jawara. Sungguh agung karya Roh Kudus!

Seperti halnya dengan Santo Lukas dan semua misionaris Gereja Perdana, kita tidak pernah boleh merasa takut dan ciut. Ingatlah bahwa Dia menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman (Mat 28:20). Marilah kita terus bertekun dalam upaya kita memberitakan Injil kepada orang-orang di sekeliling kita. Ingatlah yang satu ini, yaitu bahwa Injil atau Kabar Baik adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1:16).

DOA: Ya Allah, ya Tuhan kami, Engkau telah memilih Santo Lukas untuk mewartakan dengan lisan dan tulisan rahasia cintakasih-Mu kepada kaum miskin dan papa. Semoga kami pun dapat bermegah dalam nama-Mu dan bertekun sehati dan sejiwa, supaya semua bangsa melihat keselamatan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk melihat uraian tentang Bacaan Pertama hari ini (2Tim 4:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL” (bacaan tanggal 18-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Oktober 2018 [Peringatan S. Teresia dr Yesus, Perawan Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEDIKIT CATATAN MENGENAI BUAH ROH

SEDIKIT CATATAN MENGENAI BUAH ROH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir – Rabu, 17 Oktober 2018)

Akan tetapi, jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, percekcokan, perpecahan, kedengkian, bermabuk-mabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu – seperti yang telah kulakukan dahulu – bahwa siapa saja yang melakukan hal-hal demikian tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Siapa saja yang menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki. (Gal 5:18-25) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6; Bacaan Injil: Luk 11:42-46

Paulus sangat menyadari bahwa “celah pada baju zirah” (maksudnya: titik lemah) setiap orang-percaya adalah kecenderungannya untuk memuaskan ego-nya, memuaskan dirinya sendiri. Inilah yang dimaksudkan olehnya ketika  menyebut kata “daging”. Iblis menyerang titik lemah kita-manusia agar dapat meruntuhkan kepercayaan kita tentang apa yang telah dicapai oleh Allah dalam kehidupan kita. Misalnya, apabila kita membiarkan diri kita dilanda kemarahan atau rasa iri hati, maka sulitlah bagi kita untuk percaya bahwa “di dalam Kristus Yesus, Ia (=Allah Bapa) telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia (=Kristus) di surga” (Ef 2:6). Iblis mengetahui tentang hal ini dan ia selalu berupaya untuk terus mengacau-balaukan hati dan pikiran kita, sehingga kita menjadi semakin tak keruan,  dan hidup tanpa arah.

Sekarang masalahnya adalah, apakah kita harus menyerah begitu saja ketika kita terus-menerus mengalami kecenderungan negatif ini dalam diri kita? Jangan menyerah! Ingatlah bahwa kepada kita telah diberikan seorang Penolong, yaitu Roh Kudus, yang seturut janji Yesus sendiri, akan senantiasa menemani dan mengajar kita (baca Yoh 14:15-26). Ini adalah Roh yang dimaksudkan oleh Paulus ketika dia menulis: “…… jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh  Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat” (lihat Gal 5:18). Hal ini bukan berarti bahwa kita mempunyai kebebasan untuk melanggar perintah-perintah Allah; melainkan berarti bahwa kita tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan akan dihukum, tetapi hidup dalam suatu pelukan penuh gairah dari Tuhan dan segalanya yang Ia ingin lakukan dalam diri kita.

“Dipimpin oleh Roh Kudus” berarti kita terus ditemani oleh-Nya yang senantiasa menolong kita agar jangan sampai jatuh terjerumus ke dalam cara-cara yang mementingkan diri kita sendiri dan mendorong kita untuk melakukan pertobatan apabila kita berdosa. Terus terang saja, hal ini pada suatu hari dapat menjadi sebuah pertempuran. Kita mengetahui bahwa Roh Kudus sedang memimpin kita untuk menjadi baik hati, setia dan lemah lembut. Namun hasrat untuk menjadi orang yang dipenuhi semangat negatif atau katakanlah segala sesuatu yang mementingkan kenikmatan diri sendiri bisa jauh lebih kuat berakar dalam diri kita. Mengapa sampai begitu? Karena hati kita belum sepenuhnya mengalami transformasi. Itulah sebabnya mengapa kita harus secara terus-menerus menyerahkan hati kita kepada Tuhan, … “menyalibkan daging  dengan segala hawa nafsu dan keinginannya”  (Gal 5:24).

Melalui Roh, kita dibebas-merdekakan dari hidup lama kita yang mementingkan diri sendiri dan ego. Semua yang jelek itu tidak seharusnya menguasai diri kita lagi. Kita dapat mengenal dan mengalami sukacita dan damai sejahtera Kristus, dan kita dapat memanifestasikan buah [-buah] Roh yang disebutkan dalam bacaan di atas – malah lebih banyak lagi – kepada setiap orang yang kita jumpai (lihat Gal 5:22-23). Kehidupan kita akan berkelimpahan kalau kita mencari terus Tuhan Yesus dalam doa-doa harian kita, juga dalam Kitab Suci dan selagi kita “berjalan di bawah pimpinan Roh” (Gal 5:25).

DOA: Bapa surgawi, Allah khalik langit dan bumi. Kami memuji dan menyembah Engkau karena Dikau memberikan Roh Kudus-Mu untuk membimbing kami dan menolong kami agar mampu memanifestasikan buah (-buah) Kerajaan-Mu. Perkenankanlah agar Roh Kudus-Mu itu memenuhi diri kami masing-masing. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:42-56), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS” (bacaan tanggal 17-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Oktober 2018 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS