HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA

HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven  – Jumat, 9 Desember 2016) 

jesus_christ_picture_013Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19) 

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

Yesus sedih karena sifat manusia yang suka plintat-plintut. Bagi-Nya orang-orang itu kelihatan seperti anak-anak yang bermain di lapangan desa. Kelompok pertama berkata kepada kelompok yang lain: “Ayo, marilah kita main pada pesta pernikahan.” Kelompok yang lain mengatakan, “Sepertinya kami tidak merasa bahagia pada hari ini.” Kemudian kelompok pertama itu berkata, “OK kalau  begitu; sekarang marilah kita bermain pada acara pemakaman.” Kelompok yang lain itu berkata lagi, “Sepertinya kami tidak merasa sedih pada hari ini.” Serba salah jadinya, alternatif apa pun yang diusulkan, mereka tidak ingin melakukannya; dan apa pun yang ditawarkan kepada mereka, mereka melihat ada saja kesalahan atau ketidakcocokan dalam hal yang ditawarkan tersebut.

Yohanes Pembaptis datang, ia hidup di padang gurun, berpuasa, menolak makanan normal. Ia terisolasi dari masyarakat manusia; dan mereka mengatakan bahwa dia orang gila atau kurang waras karena menjauhi berbagai kenikmatan manusiawi. Kemudian Yesus datang. Ia bergaul dengan segala macam orang dalam masyarakat, ikut ambil bagian dalam kedukaan mereka dan juga dalam saat-saat mereka bergembira. Orang-orang itu menuduhnya sebagai seorang “tukang berpesta pora”; Ia adalah sahabat dari “orang-orang luar” yang akan dijauhi oleh orang Yahudi terhormat. Asketisisme Yohanes Pembaptis dipandang sebagai sesuatu yang gila; dan mereka menamakan sosiabilitas Yesus sebagai kelalaian moral. Jadi mereka mempunyai dasar untuk mengkritisi, apa pun yang dilakukan oleh siapa pun yang mereka tidak senangi.

Kenyataan sederhana adalah bahwa apabila orang-orang tidak ingin mendengarkan kebenaran, maka dengan cukup mudah mereka akan mencari alasan untuk tidak mendengarkan kebenaran itu. Mereka bahkan tidak mencoba untuk konsisten dalam melemparkan kritik-kritik; mereka akan mengkritisi orang yang sama, dan lembaga yang sama, dari tempat berpijak yang saling bertentangan. Jika orang-orang berketetapan hati untuk tidak membuat tanggapan, maka mereka akan tetap tidak tanggap, undangan macam apapun telah dibuat untuk mereka. Orang-orang dewasa dapat menjadi sangat menyerupai anak-anak manja yang menolak untuk bermain “game” apapun yang ditawarkan kepada mereka.

Kemudian datanglah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Yesus: “Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya” (Mat 11:19). Putusan terakhir bukanlah terletak pada kritik-kritik jahat, melainkan pada peristiwa-peristiwa. Orang-orang Yahudi boleh saja mengkritisi Yohanes Pembaptis untuk hidup-isolasinya, namun Yohanes Pembaptis telah menggerakkan hati banyak orang untuk berpaling kepada Allah, setelah tidak pernah digerakkan selama berabad-abad. Orang-orang Yahudi mungkin mengkritisi Yesus karena Dia terlalu banyak ikut campur dengan kehidupan biasa dan dengan orang-orang biasa, namun dalam Dia orang-orang menemukan suatu hidup baru dan suatu kebaikan baru dan suatu kuasa baru untuk hidup seharusnya sebagai umat Allah dan suatu akses baru kepada Allah.

Jadi, pelajaran kali ini adalah bahwa alangkah baiknya bila kita berhenti menghakimi orang-orang lain berdasarkan prasangka-prasangka kita dan niat-niat buruk kita. Juga apabila kita mulai berterima kasih kepada siapa saja yang berhasil membawa orang-orang menjadi semakin dekat dengan Allah, walaupun metode-metode yang mereka gunakan bukanlah metode-metode yang cocok dengan kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengenal Engkau secara lebih lagi.Aku ingin memberikan keseluruhan hidupku kepada-Mu. Aku mohon pertolongan-Mu agar dapat berjalan bersama Engkau dan tetap membuatku kembali dan kembali lagi kepada-Mu setiap kali aku berjalan di jalan yang salah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami  Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “PERKENANKANLAH ALLAH BEKERJA DENGAN CARA-CARA YANG TAK TERDUGA-DUGA” (bacaan tanggal 9-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 6 Desember 2016 [Peringatan S. Nikolaus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BAGAIKAN SEBUAH KATEDRAL YANG INDAH

BAGAIKAN SEBUAH KATEDRAL YANG INDAH

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA – Kamis, 8 Desember 2016)

Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT 

1-0-kveit1240s

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami diberi warisan – kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. (Ef 1:3-6,11-12)

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Luk 1:26-38

Apa yang ada dalam pikiran Saudari dan Saudara ketika anda mendengar kata-kata “Dikandung tanpa Dosa”? Kita (anda dan saya) mungkin saja sudah mengetahui apa yang diajarkan Gereja: Maria disebut “tanpa dosa” karena dia dikandung tanpa dosa asal. Namun apakah yang sebenarnya dimaksudkan dengan itu?

Ada yang mengatakan bahwa suatu cara yang baik untuk memikirkan hal-ikhwal tentang Maria adalah berpikir tentang sebuah katedral yang indah. Sebuah katedral adalah sebuah tempat yang secara istimewa didedikasikan sebagai sebuah tempat ibadat, tempat umat menyembah Allah. Tempat sedemikian dipenuhi dengan kehadiran Allah dan mengingatkan kita akan hal-hal surgawi. Begitu kita masuk ke dalamnya, kita merasakan dorongan untuk berlutut dan memuji Tuhan.

magnificat1Itulah sebabnya mengapa kita menghormati Maria pada hari ini. Ia seperti katedral tadi, malah jauh melampauinya. Maria sedemikian dipenuhi oleh Allah dan rahmat-Nya sehingga dirinya dimampukan untuk mengandung Putera Ilahi-Nya dalam rahimnya. Pada saat ia berjumpa dengan Elisabet dan mengatakan: Jiwaku memuliakan Tuhan” (Luk 1:46), seakan Maria mengatakan bahwa dirinya adalah sebuah “kaca pembesar”. Mengapa? Karena ketika kita melihat pada penyerahan dirinya yang total-lengkap kepada kehendak Allah, kita melihat di situ suatu “model sempurna” dari suatu penghayatan hidup Kristiani yang sejati.

Akan tetapi, itu pun belum segalanya. Mengapa? Karena dengan Maria mengatakan “Ya” kepada Allah, kita telah menerima segala “berkat-berkat rohani” yang datang dari Kristus. Kita tidak pernah boleh memandang remeh kenyataan luarbiasa bahwa kita mempunyai Yesus yang hidup dalam diri kita. Walaupun kita tidak membawa Kristus seperti yang dilakukan Maria, kita sungguh mempunyai Roh-Nya. Jika kita ada dalam Kristus, maka kita sungguh hidup. Kita telah menjadi “kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Ef 2:19), bersama-sama dengan Maria. Dengan demikian kita pun sesungguhnya dapat membuat pernyataan seperti yang dilakukan oleh Maria ketika berjumpa dengan Elisabet di Ain Karim: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang, segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:46-49).

Saudari-Saudaraku yang terkasih, cara yang terbaik untuk menghormati Maria adalah dengan menjadi suatu “model” bagi saudari-saudara kita, seperti Maria adalah suatu “model” bagi kita semua. Marilah kita berjalan dalam kekudusan seperti yang dilakukan oleh Maria, dan memperkenankan terang kita bercahaya bagi orang-orang di sekeliling kita. Marilah kita tunjukkan kepada dunia bahwa itulah privilese menjadi bagian dari Tubuh Kristus – dipersatukan dengan Maria, semua orang kudus, bahkan dengan Yesus sendiri!

Sekarang, marilah kita mengingat lagi bahwa tidak ada seorang pun akan selamat karena upaya dan kekuatan dirinya sendiri, melainkan melalui rahmat dan kuat kuasa Allah yang dimanifestasikan dalam diri umat-Nya, Gereja-Nya, yaitu Tubuh Kristus sendiri di atas bumi.

DOA: Tuhan Yesus, murnikanlah hatiku. Aku menginginkan agar tidak ada sesuatu pun yang menghalangi hubungan antara aku dan Engkau. Tolonglah diriku agar supaya dapat menjadi seperti Maria, yang mau dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 3:9-15,20), bacalah tulisan yang berjudul “RENCANA AGUNG DAN MAHASEMPURNA DARI ALLAH” (bacaan tanggal 8-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Desember 2016 [Peringatan S. Nikolaus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENYENANGKAN DAN RINGAN

MENYENANGKAN DAN RINGAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ambrosius, Uskup & Pujangga Gereja –  Rabu, 7 Desember 2016) 

COME TO ME“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Yes 40:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10

Orang banyak yang mengikuti Yesus barangkali merasa resah dan ciut hati dengan dipenjarakannya Yohanes Pembaptis. Orang-orang ini sedang mencari kelegaan dari beban-beban berat yang menindih mereka, yang “ditimpakan” pada diri mereka oleh para pemuka agama dan pemerintahan tirani dari Raja Herodes Antipas. Mereka telah mengharap-harap bahwa Yohanes Pembaptis adalah orang yang dapat menolong mereka, namun sekarang sudah dijerumuskan ke dalam penjara. Yohanes Pembaptis memang telah menunjuk Yesus sebagai Dia yang dinanti-nantikan. Mereka bertanya-tanya apakah Yesus dari Nazaret ini sungguh merupakan orang yang akan membawakan keselamatan bagi mereka.

Sang pemazmur benar sekali ketika menulis: “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm 103:8); semua sejalan dengan bacaan Injil di atas. Yesus memandang orang-orang banyak yang mengikutinya seperti kawanan domba tanpa seorang gembala yang menjaga dan memimpin. Hati-Nya yang penuh belas kasih langsung mendorong-Nya berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat” (Mat 11:28). Yesus sangat mengetahui bahwa bagi orang-orang ini, kuncinya adalah “kasih”. Adalah kasih yang menggerakkan Bapa surgawi untuk mengutus Yesus ke tengah dunia  (lihat Yoh 3:16) dan mengalami segala sesuatu yang berurusan dengan kondisi umat manusia. Kasih jugalah yang mengutus Yesus untuk selama tiga tahun melaksanakan misi-Nya mewartakan Kabar Baik Kerajaan Surga, menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat dan membuat tanda-tanda heran lainnya, seraya berjalan menuju ke tempat di mana Dia akan melakukan tindakan kasih yang final, yaitu kematian-Nya di atas kayu salib.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan kepada kita mengapa Putera Allah menjadi manusia: “Sabda sudah menjadi manusia, supaya dengan demikian kita mengenal cinta Allah: ‘Kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia, supaya kita hidup oleh-Nya’ [1 Yoh 4:9]”. (KGK, 458).

Yesus mengundang para pengikut-Nya – seperti juga Dia mengundang kita sekarang – untuk mengenakan “gandar” atau “kuk”-Nya, yang sangat cocok dengan kebutuhan dan kemampuan kita masing-masing. Yesus pada dasarnya berjanji: “Aku tidak akan membuat engkau sulit. Jika engkau bersandar padaku dan memperkenankan Aku memikul bebanmu, maka Aku dan engkau dapat berjaya bersama. Datanglah kepada-Ku, dan kebenaran pun akan menang, penghalang-penghalang akan berjatuhan, dan engkau akan menemukan segala kekuatan dan keberanian yang engkau butuhkan.”

Yesus ingin mencurahkan kasih Bapa-Nya ke atas diri kita dan membuat kita “aman” dan berakar kuat dalam kasih itu. Masa Adven adalah masa yang cocok untuk menerima janji ini. Oleh karena itu, marilah kita (anda dan saya) datang kepada Yesus, seperti undangan-Nya, untuk memikul gandar/kuk-Nya dan mengikuti-Nya, dan bergembira penuh sukacita.

DOA: Bapa surgawi, aku memuji-Mu untuk kesetiaan dan kasih-Mu. Bebanku lebih ringan karena Engkau telah mengutus Putera-Mu terkasih guna menjadi terang bagi jalanku dan tempat aku berlindung pada saat-saat pencobaan dan penderitaan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  hari ini (Yes 40:25-31), bacalah tulisan yang berjudul “LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI” (bacaan tanggal 7-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Desember 2016 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam]   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH YANG PENUH KOMITMEN KEPADA ANAK-ANAK-NYA

ALLAH YANG PENUH KOMITMEN KEPADA ANAK-ANAK-NYA

(Bacaan Pertama Misa, Hari Biasa Pekan II Adven – Selasa, 6 Desember 2016) 

isaiah_bible_cardHiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepada-Nya, bahwa perhambaannya sudah  berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab  ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN (YHWH) dua kali lipat karena segala dosanya.

Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk YHWH, luruskanlah di padang belantara raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan  dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus  menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan YHWH akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, YHWH sendiri telah mengatakannya.”

Ada suara yang berkata: “Berserulah!” Jawabku: “Apakah yang harus kuserukan? “Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila YHWH menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita untuk selama-lamanya.”

Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!” Lihat, itu

Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati. (Yes 40:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13; Bacaan Injil: Mat 18:12-14 

“Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan …” (Yes 40:10).

Kata-kata seperti “kuasa” dan “kekuatan” dapat menciptakan dalam pikiran kita gambaran tentang seorang pribadi atau sekelompok orang yang mencoba untuk memaksakan niat-niat atau kehendak-kehendak mereka atas orang lain atau kelompok lain yang tidak/kurang setuju dengan niat-niat atau kehendak-kehendak tersebut. Kita biasanya tidak mengasosiasikan kata-kata ini dengan gambaran seorang gembala yang dengan lemah lembut memangku seekor anak domba dlsb. (lihat Yes 40:10-11). Namun ini adalah gambaran yang diberikan Allah tentang kuasa dan kekuatan-Nya.

Keluar dari dan didorong oleh kasih-Nya yang berlangsung terus, Allah merancang, menciptakan dan menebus kita masing-masing. Segenap ciptaan adalah objek dari kasih Allah, dan kita adalah mahkota dari ciptaan Allah. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (Putera Allah yang tunggal), Allah telah menjanjikan kepada kita masing-masing suatu hidup baru di atas bumi dan hidup kekal di surga.

Cima_da_Conegliano,_God_the_FatherKita dapat saja tergoda untuk merasa takjub dan heran akan kasih Allah dan belas kasih-Nya mengingat betapa seriusnya kedosaan kita masing-masing. Terus terang saja, kita semua adalah pendosa-pendosa. Akan tetapi rencana-rencana Allah tidak pernah dapat digagalkan oleh dosa kita. Salib Kristus bukanlah suatu perubahan rancangan Allah yang dibuat pada menit-menit terakhir karena keadaan darurat, yang disebabkan oleh kejatuhan manusia disebabkan oleh godaan-godaan Iblis. Ingatlah bahwa Allah bukanlah “seorang” Pribadi yang dapat dibuat terkaget-kaget dengan perubahan dalam peristiwa-peristiwa. Sebagaimana dengan segala hal yang dilakukan-Nya, Allah bertindak karena didorong kasih-Nya yang murni, yaitu dengan menyelamatkan kita melalui salib Putera-Nya yang terkasih.

Allah tidak pernah meninggalkan atau membuang kita supaya kita berjuang sendiri-sendiri dalam menghadapi segala perkara. Dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi, orang-orang telah mengalami keadilan Allah dan belas kasih-Nya selagi mereka mengambil keputusan dan bertindak berbalik dari dosa serta memperkenankan Dia untuk memulihkan mereka kepada kasih-Nya. Allah sekali-kali tidak membuang kita, melainkan secara intim melibatkan diri-Nya – sejak awal – dalam proses realisasi rencana-rencana-Nya. Kita dapat membayangkan bagaimana mata Allah terus-menerus memandang Putera-Nya, sambil mengantisipasi momen yang sempurna untuk mengutus Putera-Nya itu ke tengah dunia guna menyelamatkan kita-manusia. Jadi, semua adalah karena kasih-Nya.

Yesus datang ke tengah-tengah umat manusia sebagai seorang bayi tak berdaya, namun Ia menebus kita sebagai seorang Pribadi yang kuat-perkasa. Sekarang Ia telah bangkit dalam kemuliaan; memiliki kuat-kuasa untuk mengampuni dosa dan mencurahkan Roh-Nya ke dalam hati kita masing-masing. Pada suatu hari kelak, Ia akan kembali untuk membawa kepada kita ke dalam suatu relasi yang komplit dan intim dengan diri-Nya. Ini bukanlah pekerjaan dari jarak jauh yang dilakukan “seorang” Allah yang kurang mau tahu urusan umat-Nya. Dia tidak pernah berkata: EGP! (Emangnya gue pikirin!). Ia adalah “seorang” Allah yang penuh komitmen, tak dapat kita bayangkan, … karena Dia adalah sang “Mahalain”.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa Engkau adalah “seorang” Allah Yang Mahaperkasa. Biarlah kasih-Mu membasuh diriku, agar supaya sungguh bersih dari dosa-dosaku. Perkenanlah Roh Kudus-Mu senantiasa mengajar dan membentuk aku menjadi semakin serupa dengan Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:12-14), bacalah tulisan yang berjudul “DOMBA YANG HILANG” (bacaan tanggal 6-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-12-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Desember 2016 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI WAHAH/OASIS DI TENGAH PADANG GURUN

MENJADI WAHAH/OASIS DI TENGAH PADANG GURUN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Senin, 5 Desember 2016) 

libya_oasis_c02043413d2e475a807f80f8f0937583

Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN (YHWH), semarak Allah kita. 

Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”

Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan. Di situ akan ada jalan raya yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya. Di situ tidak akan ada singa, binatang buas tidak akan menjalaninya dan tidak akan terdapat di sana; orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ, dan orang-orang yang dibebaskan YHWH akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh. (Yes 35:1-10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan Injil: Luk 5:17-26

“…… mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara”  (Yes 35:6).

Pernahkah anda bertemu dengan seseorang  yang masuk ruang kantor anda atau ruang rapat dan segera mengubah atmosfir hanya dengan kehadirannya? Suasana yang tadinya menegangkan menjadi rileks dan tenang, yang tadinya letih lesu menjadi bersemangat lagi, dst. Tidakkah anda ingin menjadi seorang pribadi seperti itu?

Allah ingin membuat kita masing-masing menjadi semacam wahah/oasis rohani bagi orang-orang lain, seorang pribadi yang kehadirannya semata mampu mengubah suatu situasi atau bahkan atmosfir dari sebuah tempat. Yang lebih meningkatkan semangat kita adalah kenyataan bahwa Dia lebih daripada sekadar mampu untuk mentransformasikan kita sehingga kita memancarkan damai sejahtera, kebaikan hati, kasih, dan semua buah Roh Kudus. Kita sendiri mungkin tidak menyadari hal tersebut, namun padang gurun dan padang kering seperti yang dikatakan Yesaya termasuk juga orang-orang yang kita temui setiap hari. Kita dapat membawa hal-hal yang dapat menyegarkan mereka kembali, dan juga istirahat bagi mereka yang paling membutuhkannya.

ROHHULKUDUSJadi, bagaimana caranya kita dapat menjadi wahah/oasis rohani? Satu cara yang pasti adalah dengan memfokuskan perhatian kita pada kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, dengan memfokuskan pada apa yang tidak kelihatan, bukan pada hal-hal yang kelihatan. Santo  Paulus mengatakan: “Kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang  tidak kelihatan adalah kekal” (2 Kor 4:18).

Dalam kehidupan kita di atas bumi ini, kita dapat dengan mudahnya terbiasa dengan gerakan turun-naik kekuatan spiritual/rohani kita. Pada hari tertentu kia merasa begitu dekat dengan Tuhan, namun esok harinya Dia seakan begitu jauh dari kita. Akan tetapi, jika Yesus datang kembali kelak, Ia akan menjadi segala dalam segalanya, dan semua penghalang yang ada antara Dia dan kita akan dibuang jauh-jauh. Rasa sedih dan pedih akan menghilang, dan setiap tetes air mata akan dihapus. Seperti dikatakan oleh Yesaya, “sukacita abadi akan meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh” (Yes 35:10).

Selagi kita (anda dan saya) menjalani rutinitas kita pada hari ini, marilah kita berefleksi seperti ini untuk membayangkan gambaran seperti apa yang ada pada saat Yesus datang kembali. Pada waktu kehidupan kita menjadi sulit, marilah kita mencoba untuk mengingat bahwa hidup ini dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya bersifat sementara, namun Allah telah mempersiapkan sebuah tempat kediaman bagi kita masing-masing. Marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk menolong kita, dan kita pun akan melihat bahwa Allah menggunakan kita untuk menyemangati dan mendorong orang-orang di sekeliling kita, juga menyegarkan dan memperkuat mereka. Dengan begitu, kita (anda dan saya) akan menjadi seperti wahah/oasis di tengah padang gurun.

DOA:  Tuhan Yesus, datanglah dan dirikanlah pemerintahan-Mu. Biarlah air pemberi kehidupan dari-Mu mengalir melalui diriku  kepada orang-orang lain yang kutemui. Semoga Engkau senantiasa ditinggikan di dalam surga maupun diatas bumi. Terpujilah nama-Mu yang kudus dan penuh belas kasih, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:17-26), bacalah tulisan yang berjudul “WAJAH SEJATI ALLAH ADALAH KASIH ALLAH YANG MENGAMPUNI” (bacaan tanggal 5-12-16) dalam situs SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Desember 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERSIAPKAN HATI UMAT ALLAH AKAN KEDATANGAN SANG MESIAS

MEMPERSIAPKAN HATI UMAT ALLAH AKAN KEDATANGAN SANG MESIAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II (Th. A), 4 Desember 2016)

john-baptist-lds-art-parson-39541-printPada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makannya belalang dan madu hutan. Lalu datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan. Sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular berbisa. Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapak leluhur kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi sekam itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (Mat 3:1-12)

Bacaan Pertama: Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,12-13,17; Bacaan Kedua: Rm 15:4-9 

Santo Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi di Israel yang tersohor, nomor dua saja sesudah Elias, seorang nabi besar yang hidup sembilan abad sebelumnya. Apakah yang menyebabkan begitu banyak orang datang kepada seorang nabi yang suka menunjuk-nunjuk kesalahan orang dan mengenakan baju dari kulit binatang? Jawabnya: Panggilannya agar supaya orang-orang bertobat! Ketika Yohanes Pembaptis mengatakan kepada para pendengarnya supaya meninggalkan hidup dosa, dia juga menawarkan kepada mereka pengharapan segar dengan janji-janji pemulihan. Allah ingin melakukan sesuatu yang lebih daripada sekadar mengampuni dosa-dosa kita-manusia. Allah ingin membuka pintu gerbang surga dan mencurahkan orang-orang dengan Roh Kudus-Nya. Oleh Roh ini, Allah ingin membawa orang-orang ke suatu tingkat baru penyembuhan, rekonsiliasi, dan damai-sejahtera.

Tugas Yohanes Pembaptis adalah untuk mempersiapkan hati umat Allah akan kedatangan sang Mesias. Dengan kata-kata yang keras dan seruan agar orang-orang bertobat, dia mendorong para pendengarnya untuk menyambut sang Mesias dengan iman dan ketaatan.

stjohnMasa Adven dimaksudkan untuk menjadi suatu masa bagi kita guna mendengar kata-kata Yohanes Pembaptis dan untuk mempersiapkan hati kita sendiri bagi Yesus juga. Setiap hari Yesus mengundang kita untuk semakin dekat dengan diri-Nya, sehingga dengan demikian kita dapat mengembangkan suatu persahabatan yang akrab dengan Dia dan menjadi kudus, seperti diri-Nya adalah kudus. Nah, apakah yang dapat menghalang-halangi keakraban ini? Jawabannya: Dosa, rasa takut, sikap masa bodoh terhadap Allah, ketiadaan bela-rasa terhadap orang-orang lain – inilah beberapa penghalang yang lebih besar. Itulah sebabnya mengapa seruan Yohanes Pembaptis agar orang-orang bertobat menjadi begitu penting.

Allah ingin membebas-merdekakan kita dari segala sesuatu yang menghalangi kita dari tindakan berupa penyerahan diri kita secara total kepada kasih-Nya dan kehendak-Nya. Melalui pertobatan, Ia ingin memimpin kita ke luar dari rasa bersalah kita, alienasi, dan rasa malu kita, dan masuk ke dalam sukacita dan kemerdekaan. Apabila kita menyesali dosa-dosa kita dan bertobat, maka pintu gerbang surga akan dibuka bagi kita, dan relasi kita dengan Yesus dipulihkan dan diperdalam. Dalam pertobatan, kita membuang selubung kebingungan dan desepsi yang telah dirajut oleh dosa dalam hati kita dan kita pun dimampukan untuk melihat keindahan kebenaran dan kebaikan Allah. Hati dan pikiran kita diangkat ke surga, dan kita dapat melihat sekilas lintas Kerajaan Allah. Visi itu memenuhi hati kita dengan pengharapan.

Pada masa Adven ini, marilah kita ambil sedikit waktu untuk memeriksa hidup kita dalam terang kebenaran Allah dan kasih-Nya. Janganlah kita menghindari Sakramen Rekonsiliasi, melainkan rangkullah sakramen itu demi segala rahmat dan kuat-kuasa yang ditawarkan sakramen itu kepada kita.

DOA: Bapa surgawi, belas kasih-Mu adalah tanpa batas. Kami menyembah dan memuji Engkau, karena Engkau mengutus Putera-Mu yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, untuk menebus kami dari semua dosa kami dan juga kematian. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 3:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM” (bacaan tanggal 4-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AMANAT YANG DIBERIKAN YESUS KEPADA PARA MURID-NYA

AMANAT YANG DIBERIKAN YESUS KEPADA PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Fransiskus Xaverius – Sabtu, 3 Desember 2016) 

jesus_christ_image_075Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam  bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka; merek akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. (Mrk 16:15-20) 

Bacaan Pertama: 1Kor 9:16-19,22-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2 

Bacaan hari ini adalah tentang kenaikan Tuhan Yesus. Namun kita hanya dapat memahami peristiwa kenaikan Tuhan ini, apabila kita melihatnya dalam kaitan dengan peristiwa-peristiwa sentral lainnya dalam kehidupan Yesus Kristus.

Karena kasih Bapa surgawi, Yesus Kristus diutus ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian kekal. Ia lahir sebagai salah seorang dari kita, umat manusia. Lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus menang-berjaya atas dosa dan kematian kekal, dan kemenangan-Nya itu dimanisfestasikan dalam kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Yesus mengalami kegelapan dunia kematian dan pada hari ketiga Dia bangkit dengan jaya. Namun Yesus tidak bangkit hanya untuk mengambil kembali keberadaan-Nya di atas muka bumi yang telah dimulai-Nya pada saat kelahiran-Nya di Betlehem. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan, bahwa dia bangkit dari kematian dan masuk ke dalam suatu kehidupan surgawi yang baru. Kenaikan Tuhan Yesus ke surga berarti kembalinya Dia kepada Bapa, pemuliaan-Nya di surga di sebelah kanan Bapa, peninggian-Nya sebagai Tuhan Kehidupan. Jadi kenaikan Tuhan Yesus adalah suatu bagian integral dari kebangkitan-Nya, sebagai buah yang adalah bagian dari sebatang pohon. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan kebaharuan dan kepenuhan dari hidup kebangkitan-Nya. Kita memang tidak dapat membayangkan macam apa hidup kebangkitan itu. Bahkan kita tidak mempunyai kata yang pas untuk menggambarkannya. Namun ada sepatah kata yang kita dengar dan akan dengar lagi dari waktu ke waktu dalam Misa dan doa-doa: KEMULIAAN! Memang kata ini bukanlah kata yang memadai, tetapi inilah kata satu-satunya yang terdapat dalam perbendaharaan kata kita. Yesus naik ke suatu kehidupan yang penuh kemuliaan.

Kenaikan Tuhan Yesus penting bagi kita karena kehidupan ini begitu berharga. Kita berpegang pada kehidupan di dunia ini, meskipun banyak mengalami kesusahan, frustrasi dan bermacam-macam penderitaan lainnya. Kita berpegang pada kehidupan dunia ini karena inilah satu-satunya yang kita ketahui. Di sisi lain kita pun tidak menginginkan kehidupan seperti ini untuk selama-lamanya. Sebenarnya dalam hati setiap insan terdapat kerinduan akan suatu kehidupan sempurna yang tidak mengenal akhir, kehidupan yang penuh kemuliaan.  Di zaman kuno, orang-orang mencari sumber air yang mampu membuat awet muda dan tidak akan mati. Kedengaran agak sedikit naive bagi telinga orang-orang pada zaman modern kita ini. Namun para ilmuwan zaman modern ini pun hampir sama naive-nya ketika mereka mencoba menyelidiki proses penuaan, dengan harapan dapat menemukan suatu cara untuk memperpanjang hidup manusia dan akhirnya dapat mencegah kematian itu sendiri.

Kita harus percaya, bahwa kehidupan yang merupakan tujuan dari penciptaan kita tidaklah terdapat dalam dunia ini, tetapi di dalam surga. Kita memang harus menemukan kehidupan surgawi itu. Seperti Kristus, kita juga harus jalan melalui dunia kematian sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Kita telah dipanggil kepada suatu pengharapan besar dalam Kristus. Dalam dia kodrat manusia yang lemah telah dibangkitkan kepada kemuliaan. Pada suatu hari warisan-Nya yang mulia akan menjadi milik kita juga. Kita tidak perlu takut akan proses penuaan secara fisik yang pada satu titik kelak akan membawa kita berjumpa dengan Saudari Maut (badani). Yang perlu kita ketahui dan waspadai adalah kuasa dosa yang sangat merusak dan dapat menghancurkan kita sehabis-habisnya.

Sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus memberikan Amanat kepada para murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua makhluk dan menjanjikan segala kuasa serta tanda heran yang akan menyertai mereka. Orang kudus yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini, Santo Fransiskus Xaverius (1506-1552), adalah contoh konkrit dari seorang murid yang taat dan patuh kepada amanat Yesus itu. Dia mewartakan Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus ke banyak penjuru dunia, termasuk Indonesia. Pewartaannya juga disertai dengan berbagai kuasa Roh dan tanda heran.

St-Francis-Xavier-3Bersama-sama dengan S. Teresa dari Lisieux [1873-1897], S. Fransiskus Xaverius adalah orang-orang kudus pelindung Misi. S. Fransiskus Xaverius dinilai sebagai misionaris terbesar yang dikenal Gereja sejak rasul Paulus. Tidak lama setelah Ignatius dari Loyola mendirikan Serikat Yesus, Fransiskus Xaverius mengikuti jejak kawan sekamarnya, Petrus Faber, bergabung dengan Serikat Yesus. Hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk bergabung karena pertanyaan penuh tantangan yang diajukan oleh S. Ignatius dari Loyola: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).

Kegiatan misioner S. Fransiskus Xaverius di Asia sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang, termasuk kepulauan Maluku di Indonesia. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila nama baptis Fransiskus Xaverius juga sudah menjadi nama “pasaran” di kalangan umat Katolik di Indonesia.

Sebelum sempat melakukan tugas misionernya di daratan Tiongkok, pada tanggal 21 November 1552 Fransiskus Xaverius jatuh sakit demam serta terkurung di pondok rindangnya di pantai pulau kecil San Jian. Dia dirawat oleh Antonio, seorang pelayan Tionghoa yang beragama Katolik. Beberapa tahun kemudian, Antonio menulis sebuah laporan tentang hari-hari terakhir hidup orang kudus itu di dunia. Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Desember dan jenazahnya dikuburkan di pulau itu. Pada musim semi tahun berikutnya, jenazahnya dibawa ke Malaka untuk dimakamkan di sebuah gereja Portugis di sana. Beberapa tahun kemudian sisa-sisa tubuhnya dibawa lagi ke Goa di India untuk dimakamkan di Gereja Bom Jesus.

DOA: Allah, penyelamat umat manusia, berbagai bangsa Kaujadikan milik-Mu berkat pewartaan Santo Fransiskus Xaverius. Semoga semangat kerasulannya berkobar-kobar dalam hati semua orang beriman, sehingga di mana-mana umat-Mu dapat berkembang subur. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 9:16-19,22-23), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA KITA MEMBERITAKAN INJIL, TIDAK ALASAN BAGI KITA UNTUK MEMEGAHKAN DIRI” (bacaan tanggal 3-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12  BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 1 Desember 2016 [Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Martir Indonesia]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS [nama penguatan: Paulus]