YESUS ADALAH TUHAN

YESUS ADALAH TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 22 Januari 2019)

HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: Ibr 6:10-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,4-5,9-10

Anak-anak tidak selalu sadar akan kebutuhan untuk tidur siang. Tetapi para orangtua tahu benar segala tanda yang ditunjukkan oleh anak-anak mereka kalau tiba saat bagi mereka untuk tidur, misalnya anak-anak itu menjadi semakin rewel, menangis, gelisah dan lain sebagainya. Barangkali kita sebagai anak-anak Allah juga tidak dapat mengenali kebutuhan akan istirahat yang telah ditentukan oleh Bapa surgawi. Kita mungkin saja berpikir bahwa akal budi kita jernih dan cukup energetik, padahal pada kenyataannya kita mungkin kehilangan sesuatu yang vital karena kita tidak beristirahat dalam hadirat-Nya.

Seperti orang-orang Farisi yang telah salah sasaran karena berpikir cuma di sekitar parameter-parameter legalistik, kita pun dapat saja membatasi jenis istirahat yang Allah ingin berikan kepada kita. Menjalankan hari Sabat bagi kita mungkin berarti suatu hari bebas dari kerja, tetapi kita tetap saja tidak mengambil kesempatan untuk mengalami istirahat dan penyegaran kembali dalam hadirat Allah.

Pada hari istirahat ini Allah ingin memberikan kepada kita sesuatu yang jauh melampaui harapan-harapan kita yang biasa. Beristirahat secara tepat pada hari Sabat bukanlah sekadar tidak melakukan apa-apa demi ketaatan kepada perintah-perintah Allah. Kita mengalami istirahat Sabat yang penuh apabila kita memperkenankan Yesus melimpahi kita secara lebih lagi dengan cintakasih dan rahmat-Nya. Ini adalah roh dari hukum, dan inilah jenis istirahat yang ditawarkan Yesus kepada para murid-Nya.

Kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini mempunyai arti istimewa bagi umat Kristiani awal (perdana) yang memindahkan perayaan Sabat mereka ke hari Minggu setelah mereka tidak diperbolehkan lagi berdoa di sinagoga/rumah ibadat Yahudi. Di balik kontroversi ini dan tindakan penuh percaya diri dan berani dari umat Kristiani perdana untuk memindahkan kewajiban ibadat ke hari Minggu adalah pengakuan bahwa Yesus adalah sumber dan segalanya yang menghidupkan hukum agama dan prakteknya. Tanpa Roh Kudus dari Kristus, hukum agama dapat dengan mudah menjadi suatu beban dan mesin dosa.

Setiap hari Sabat, Allah menunggu kita untuk mengalami persekutuan dengan-Nya – suatu persekutuan doa di mana kita menyembah Dia, mendengarkan firman-Nya dan memperkenankan Dia menunjukkan kepada kita secara lebih penuh siapa kita sebenarnya dalam Dia. Ini adalah istirahat yang dilukiskan oleh sang pemazmur dengan jelasnya: “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku”  (Mzm 23:2-3a).

Bahkan sekarang pun, pemikiran bahwa doa adalah cara Allah melayani kita sulit untuk dipahami. Kita dapat saja berpikir bahwa istirahat Sabat hanyalah untuk mengikuti aturan-aturan Allah, padahal berada bersama Yesus adalah tujuan sejati dari Sabat itu. Susahnya dalam hal orang Farisi adalah bahwa mereka begitu penuh dengan ide-ide mereka sendiri tentang Sabat, sehingga luput melihat kehidupan yang Yesus mau berikan kepada mereka. Tidak saja mereka melihat kesalahan pada Yesus, mereka pun menghalang-halangi orang lain untuk mengalami istirahat-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin mengalami istrahat Sabat-Mu. Tolonglah kami agar dapat menerima segala anugerah yang Dikau ingin berikan kepada kami. Ajarlah kami untuk menerima kehidupan dan penyegaran kembali dari-Mu pada saat-saat kami bekerja maupun pada saat-saat kami bekerja maupun pada saat-saat kami beristirahat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:23-28), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA MEREKA BERBUAT SESUATU YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?” (bacaan tanggal 22-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

Cilandak, 19 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

ANGGUR BARU DALAM KANTONG KULIT YANG BARU

ANGGUR BARU DALAM KANTONG KULIT YANG BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Agnes, Perawan Martir – Senin, 21 Januari 2019)

HARI KEEMPAT PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”   Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: Ibr 5:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

Suatu perbedaan yang sangat nyata antara kantong kulit untuk anggur yang tua dan yang baru itu tidak hanya dalam umurnya, tetapi ada atau tidak-adanya minyak dalam kulit itu. Adanya unsur minyak dalam kulit kantong anggur yang baru membuatnya menjadi fleksibel dan mampu mengembang. Bilamana anggur baru dituang ke dalam kantong yang baru itu, maka kantong itu beradaptasi dengan tekanan yang ditimbulkan oleh anggur baru tersebut. Sebaliknya kulit yang sudah tua sudah menjadi keras dan kaku – tidak mampu lagi berkembang. Kantong tua yang diisi dengan anggur baru dapat rusak/robek atau malah meletup.

Apabila kita dibaptis dan diurapi dengan minyak keselamatan, kita pun telah diberikan suatu kemampuan baru untuk menanggapi tindakan Roh Kudus yang menggembirakan itu. Hati kita telah diubah, dibuat lembut oleh pengenalan dan pengalaman akan kasih Allah. Sekarang kita mempunyai kemampuan untuk menerima dari Dia suatu fleksibilitas baru yang dapat menjaga kita agar tetap terbuka bagi cara apa saja yang ditentukan oleh-Nya untuk kita kerjakan, walaupun kelihatannya tidak mungkin atau tidak biasa.

Akan tetapi, pertanyaan yang harus senantiasa kita tanyakan kepada diri kita sendiri, “Apakah aku tetap lembut dan lentur, siap untuk melakukan apa saja yang diminta oleh Roh Kudus dari diriku? Apakah diriku patuh terhadap dorongan Roh Kudus, atau aku semakin mengeraskan diri dan tidak fleksibel? Apakah aku terpaku pada ide-ide yang kaku, atau dapat menanggapi apa yang diinginkan Tuhan dari diriku pada hari ini – di rumah, di tempat kerjaku, di gerejaku, atau ke mana saja Dia memimpin diriku?”

Allah memang kadang-kadang menantang ide-ide kita tentang Siapa diri-Nya dan bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan kita. Jalan-jalan atau cara-cara-Nya dapat sangat berbeda dengan apa yang dapat kita bayangkan. Apakah kita mau membuka diri kita dan menerima Kerajaan-Nya seturut syarat-syarat yang ditetapkan-Nya? Marilah kita mengingat kembali apa yang telah terjadi dengan Abraham. Allah memanggilnya untuk meninggalkan tempat kediamannya dan pergi ke sebuah tempat yang baru samasekali – dan Abraham mematuhi panggilan Allah itu (lihat Kej 12:1 dsj.).

Marilah kita mengingat apa yang terjadi dengan Maria: Perawan dari Nazaret ini sungguh merasa takut ketika dikunjungi malaikat-agung Gabriel, namun ia mengatakan “Ya” kepada Allah, pada saat diminta untuk membawa Kristus ke tengah-tengah dunia (lihat Luk 1:26-38). Kita mengingat pula apa yang terjadi dengan Santa Bunda Teresa dari Kalkuta: Ketika Allah memanggil dirinya untuk melayani orang-orang yang paling miskin (the poorest of the poor), maka dia menukar rencananya sendiri dengan rencana Allah bagi dirinya. Kita pun harus siap untuk mengembang seperti kantong kulit anggur yang baru dan menerima panggilan Allah.

DOA: Roh Kudus, penuhilah hatiku. Lebarkanlah mata hatiku ini agar dapat melihat kehendak-Mu untuk hidupku dan bagi Gereja Kristus di dunia. Ubahlah diriku agar dapat menjadi saksi Kristus yang sejati bagi dunia di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan dengan judul “SELAMA MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA, MEREKA TIDAK DAPAT BERPUASA” (bacaan tanggal 21-1-19), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-1-18  dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERKAWINAN DI KANA YANG DI GALILEA

PERKAWINAN DI KANA YANG DI GALILEA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa II [Tahun C] – 20 Januari 2019)

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur.”  Kata Yesus kepadanya, “Mau apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya kira-kira seratus liter. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu, “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Mereka pun mengisinya sampai penuh. Sesudah itu, kata Yesus kepada mereka, “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mencicipi air yang telah menjadi anggur itu – dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya – ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dilakukan Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. (Yoh 2:1-11)

Bacaan pertama: Yes 62:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,7-9; Bacaan Kedua: 1Kor 12:4-11 

“Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.” (Yoh 2:1-2) 

Bacaan Injil hari ini tidak menyebutkan nama-nama kedua mempelai yang melangsungkan pesta perkawinan, suatu peristiwa yang kiranya sangat penting dalam kehidupan mereka dan keluarga mereka. Namun demikian, hal tersebut memang tidak begitu penting karena perkawinan sesungguhnya yang dirayakan dalam cerita hari ketiga tersebut adalah kebersatuan Allah dan umat manusia dalam Yesus …… perkawinan antara langit dan bumi.

Sebelum Yesus, relasi Allah dengan Umat pilihan-Nya seakan menyerupai relasi antara dua insan sebelum resmi melangsungkan perkawinan – suatu masa untuk melakukan berbagai persiapan yang diperlukan. Sistem agama yang tua direpresentasikan dalam cerita ini oleh enam buah tempayan. Air dalam tempayan-tempayan itu adalah untuk pembasuhan menurut rituale Yahudi guna persiapan sebelum pesta. Tempayan-tempayan yang terbuat dari batu dinilai sangat bersih. Akan tetapi, ketaatan yang berlebihan terhadap kebersihan secara ritual adalah bagian dari sistem agama Yahudi yang dipraktekkan. Ujung-ujungnya, yang ada adalah orang-orang yang memiliki hati seperti tempayan yang terbuat dari batu tersebut .. hati yang keras-membatu.

Tempayan-tempayan yang ada berjumlah enam buah – kurang satu dari jumlah tujuh, yaitu angka kepenuhan dan kesempurnaan. Sekarang air yang dalam tempayan-tempayan tersebut diubah oleh Yesus menjadi air-anggur. Hal ini mengindikasikan bahwa relasi sebelum perkawinan yang resmi telah mencapai hari H Perkawinan, Juga hati yang terbuat dari batu akan digantikan dengan hati manusia yang sesungguhnya.

Yohanes Penginjil tidak menggunakan kata “mukjizat” dalam Injilnya. Sebagai penggantinya sang penginjil menggunakan kata “tanda”. Injil Yohanes dikenal juga sebagai “Injil tujuh tanda”. Peristiwa di Kana ini adalah “tanda pertama” dari kemuliaan Yesus. Pandangan pertama tentang kemuliaan-Nya membuat para murid Yesus percaya kepada-Nya (Yoh 2:11). Kemuliaan Yesus akan dinyatakan sepenuhnya, saat-Nya akan tiba, yaitu ketika Dia akan ditinggikan dari bumi di bukit Kalvari sebelum akhirnya bangkit dan kembali ke rumah Bapa. Dengan ditinggikan-Nya di atas kayu salib, Yesus menarik semua orang kepada diri-Nya, merangkul semua orang sebagai mempelai perempuan-Nya, mengasihi mereka sampai titik akhir. Ketika kembali ke rumah Bapa, Yesus membawa pulang umat yang percaya kepada-Nya sebagai mempelai perempuan-Nya.

Jika sistem agama lama dilambangkan dengan air pembasuh, maka agama yang baru dicirikan dengan anggur perjamuan. Perjamuan ini senantiasa segar dalam kenangan akan Ekaristi Yesus. “Mengingat” berarti memproklamasikan bahwa perbuatan-perbuatan Allah tidaklah terbatas pada suatu hari tertentu melainkan sekarang menjadi bagian dari dari kekekalan-abadi. Ekaristi adalah kenangan hidup akan perkawinan langit dan bumi. “Bapa, kami mengenangkan Yesus Kristus, Putera-Mu, yang telah menderita, bangkit dari alam maut, dan naik ke surga dengan mulia demi keselamatan kami.” …… (DOA SYUKUR AGUNG III).

Perkawinan yang pertama kali terlihat pada saat air diubah menjadi anggur di Kana, diwujudkan di bukit Kalvari dalam perjalanan-sempurna Yesus kepada Bapa di surga, perjalanan mana berisikan sengsara, kematian dan kemuliaan-Nya. Kita yang berkumpul dalam iman pada kenangan Ekaristis adalah anak-anak dari perwujudan tersebut. Mari kita dengar apa yang dnubuatkan oleh nabi Yesaya: “Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu” (bacaan pertama: Yes 62:5).

Yesus adalah mempelai ilahi yang telah mengambil umat pilihan kepada/bagi diri-Nya sebagai pengantin perempuan. Ketika sang mempelai hadir, maka itu adalah saatnya untuk bersukacita. Perayaan perkawinan selalu diperbaharui dalam kenangan hidup dalam perjamuan Ekaristi. Perjanjian yang baru memuat suatu ikatan unik yang dibentuk antara Allah dan umat pilihan-Nya, suatu kebersatuan yang dimanifestasikan dalam Gereja.

Sumber utama tulisan ini: Romo Silvester O’Flynn OFMCap., The Good News of Luke’s Year, Dublin, Ireland: THE COLUMBIA PRESS in association with CATHEDRAL BOOKS, 1991 [1994 Reprinting], pages 116-118.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, kuduslah nama-Mu. Bacaan Injil hari ini memberikan gambaran yang indah tentang hubungan penuh kasih antara Bapa dan kami – umat-Mu – melalui Putera-Mu terkasih, Yesus. Ia telah datang ke tengah dunia untuk mengklaim kami sebagai milik-Mu sendiri dan Ia sangat bermurah hati. Yesus memberi kepada kami bukan hanya hal-hal biasa saja melainkan juga “anggur kelas satu” yang sangat banyak jumlahnya. Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “ HAL INI DILAKUKAN YESUS DI KANA YANG DI GALILEA” (bacaan tanggal 20-1-19) dalm situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

Cilandak, 17 Januari 2019 [Peringatan S. Antonius, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MATIUS MENYADARI DAN MENGAKUI BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKAN DIRINYA

MATIUS MENYADARI DAN MENGAKUI BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKAN DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Sabtu, 19 Januari 2019)

HARI KEDUA PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

 

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Mrk 2:13-17)

Bacaan Pertama: Ibr 4:12-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Pernahkah anda berada dalam posisi membutuhkan seorang dokter, tetapi tidak mengakuinya? Meskipun didesak-desak oleh keluarga dan teman-teman, anda menolak untuk mengunjungi seorang dokter sampai penyakit yang anda derita itu akhirnya menjadi begitu serius sehingga anda pun terpaksa pergi ke dokter. Kita dapat mempunyai kesulitan yang sama, karena kita tidak mau menerima kenyataan bahwa kita menderita penyakit spiritual.

Yesus berkata kepada orang Farisi: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mat 9:12). Yesus tidak memaksudkan di sini bahwa para pemungut pajak dan orang berdosa menderita sakit secara spiritual sementara orang Farisi sehat-sehat saja. Para pemungut pajak dan orang berdosa dengan jelas dapat melihat dan menerima keadaan mereka. Orang-orang Farisi juga sakit, namun tidak mau mengakuinya, maka  tidak mau pergi ke sang Dokter Agung agar mereka dapat memperoleh kehidupan dan kesehatan yang baru.

Dunia ini tidak terdiri dari dua jenis manusia – para pendosa dan orang-orang benar. Yang benar adalah bahwa semua orang adalah pendosa. Ada orang-orang yang mengetahui dan mengakui kenyataan ini. Dengan segala kebutuhan yang ada mereka datang kepada Yesus. Ada juga orang-orang yang menolak untuk mengakui kenyataan ini, maka mereka tidak datang kepada Yesus guna menerima belaskasihan dan kesembuhan. Matius menyadari akan kebutuhannya, dan dia berpaling kepada Yesus.

Ketika  Paulus menulis tentang keadaan orang-orang di hadapan Allah, maka dia mengambil ucapan sang pemazmur: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Rm 3:10-12; bdk. Mzm 14:1-3). Paulus ingin agar kita semua menyadari bahwa kita tidak dapat mengandalkan pada kebaikan kita sendiri: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23).

Selama kita masih merasa bahwa diri kita “tidak terlalu jelek”, maka hal itu berarti bahwa kita masih mencoba mengandalkan diri pada “kebaikan” kita sendiri. Dengan demikian kita tidak dapat mengalami keselamatan yang terwujud hanya melalui Yesus. Marilah kita sekarang bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah aku sungguh memandang diriku sebagai seorang pendosa yang membutuhkan penebusan melalui darah Yesus?” Mungkin kita masih harus membuang kecenderungan untuk berpikir bahwa selama ini kita oke-oke saja. Misalnya kita berkata: “Kita kan cuma manusia biasa, bukan malaikat?” Kita juga dapat memandang enteng arti dosa, misalnya dengan berkata: “Allah kan Mahamengerti?” Matius datang kepada Yesus karena dia menyadari dan mengakui bahwa Yesus dapat menyembuhkan dirinya. Semoga begitu juga halnya dengan kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan-Mu sekarang ini. Engkau telah membayar harga dosa-dosaku di atas kayu salib sehingga aku dapat diperdamaikan dengan Allah Bapa. Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 4:12-16), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TIDAK BOLEH PERNAH TAKUT MENGHAMPIRI TUHAN” (bacaan  tanggal 19-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-1-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Januari 2019 [Peringatan S. Antonius, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SUNGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

YESUS SUNGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 18 Januari 2019)

PEMBUKAAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

 Bacaan pertama: Ibr 4:1-5,11; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,6-8

Ini adalah sebuah “adegan” yang sungguh konkret. Cerita ini mengungkapkan great expectations dari orang kebanyakan, suatu hasrat kuat dan sangat manusiawi untuk memperoleh kesembuhan fisik. Datang saja ke acara kebangunan rohani atau “Misa Penyembuhan” untuk menyaksikan dengan mata-kepala  sendiri, malah kita mungkin mengalami  sendiri kesembuhan itu. Kesembuhan-kesembuhan terjadi, meskipun yang disembuhkan belum tentu datang karena didorong motif yang sepenuhnya spiritual. Cerita ini juga menggambarkan, bahwa sepanjang sejarah manusia Allah menghendaki, bahkan memiliki hasrat besar, untuk mengampuni pendosa yang bertobat. Kita tentu percaya bahwa hal ini benar karena iman kita akan kerahiman atau belaskasih Allah. Namun dengan kedatangan Yesus ke tengah-tengah umat manusia, pengampunan dosa itu mengambil sebuah bentuk pengungkapan manusia yang baru, yang membawa kita kepada suatu kepastian.

Berkat-berkat serta karunia-karunia Allah tidak selalu menyangkut hal-ikhwal yang bersifat badani. Pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari Allah ada dalam hati manusia. Karunia agung dari Allah adalah pemerdekaan/pembebasan dari dosa-dosa. Bisa saja orang lumpuh ini, yang membutuhkan pertolongan dan sepenuhnya menggantungkan diri pada orang-orang lain yang boleh dikatakan “nekat”, merupakan seorang pribadi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Kita maklumi ada cukup banyak orang menolak pengampunan Allah karena sebuah alasan tunggal, yaitu bahwa mereka tidak mau “menerima” pengampunan itu lewat orang lain.

“Mohon pengampunan Allah” mensyaratkan bahwa orang bersangkutan mengakui keterbatasan-keterbatasan dirinya dan menghaturkan permohonan dengan sangat akan turunnya Kerahiman Ilahi ke atas dirinya, namun kesombongan tersembunyi dapat menghalangi dia untuk mengambil langkah seperti itu. Banyak orang berpikir bahwa dirinya “mandiri”, sefl sufficient, mereka mau keluar dari kesusahan hanya berdasarkan kekuatan mereka sendiri. Yesus mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dengan mengucapkan kata-kata manusia: “Hai anakKu, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5). Ketika para pemuka agama menolak cara pemberian pengampunan seperti ini, Yesus menanggapi dengan suatu tanda yang mudah dilihat oleh mata manusia: Dia menyembuhkan orang lumpuh itu melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa mengampuni dosa melalui firman-Nya. Apa yang diucapkan Yesus ini sama kuatnya dengan kata-kata: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:11).

Reaksi negatif para pemuka agama juga menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum siap untuk menerima keselamatan. Mereka telah membangun bagi diri mereka sendiri sebuah “agama yang penuh dengan kebenaran moral”, dan berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang akan berjaya merebut keselamatan dengan mengikuti kehendak mereka sendiri. Kita sering mengalami keraguan untuk menerima sakramen tobat dari seorang imam yang mewakili Kristus (lihat Yoh 20:21-23). Mungkin kita memiliki sikap yang agak mirip dengan para pemuka agama pada zaman Yesus itu. Di batin kita yang paling dalam, kita merasa takut, karena kita selalu kembali dan kembali lagi ke dalam dosa-dosa yang sama.

Di kedalaman hati kita mungkin saja ada suatu hasrat ambisius untuk menjadi seorang yang “adil”, sehingga tidak perlu lagi mohon pengampunan dari Allah – artinya “kita bisa dan mampu melakukan apa saja tanpa Allah!”  Ada juga yang mengatakan, “Tetapi, apakah Allah tidak dapat mengampuni dosa-dosaku, bahkan dosa yang paling jelek sekali pun, apabila aku mohon pengampunan dari Dia secara langsung?” Tanggapan saya: “Iman saya mengatakan, bahwa Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya, namun biasanya dalam kehidupan Gereja di mana saya adalah anggotanya, pengampunan atas dosa-dosa yang sungguh serius diperoleh melalui Sakramen Tobat.”

Wajah sejati Allah adalah “‘Kasih yang mengampuni” dan bukanlah “Hakim yang senang menghukum”. Inilah mukjizat besar yang tak henti-hentinya dibuat oleh Allah. Namun untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang tak kelihatan ini sungguh riil adanya, maka Yesus menggaris-bawahinya dengan sebuah mukjizat yang berwujud. Inilah inti bacaan Injil hari ini!

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur atas pengampunan dan kesembuhan yang begitu sering Kauberikan kepadaku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, roh sukacita dan puji-pujian, sehingga segala karunia Roh yang diberikan kepadaku dapat kupersembahkan kembali kepada-Mu lewat pengabdianku kepada sesamaku, semua seturut kehendak-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PENGAMPUNAN DOSA DAN PENYEMBUHAN OLEH YESUS DI KAPERNAUM” (bacaan tanggal 18-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-1-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Januari 2019 [S. Berardus, Imam dkk. – Martir Pertama Ordo S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ULAH ORANG KUSTA YANG DISEMBUHKAN ITU MENYEBABKAN YESUS TIDAK DAPAT LAGI TERANG-TERANGAN MASUK KE DALAM KOTA

ULAH ORANG KUSTA YANG DISEMBUHKAN ITU MENYEBABKAN YESUS TIDAK DAPAT LAGI TERANG-TERANGAN MASUK KE DALAM KOTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Kamis, 17 Januari 2019)

Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: Ibr 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:6-11

“Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Mua, sebagai bukti bagi mereka.” (Mrk 1:44)

Memang menarik untuk berspekulasi tentang apa yang ada dalam pikiran orang kusta itu ketika Yesus menyembuhkan dirinya dan memperingatkan dengan keras kepadanya untuk tidak mengatakan kepada siapa pun tentang penyembuhan tersebut (Mrk 1:44). Apakah dia begitu dipenuhi dengan antusiasme sehingga dirinya terdorong dan penuh semangat untuk menceritakan semua yang dialaminya kepada orang-orang yang dijumpainya? Atau, apakah dia berpikir bahwa dengan “memberikan kredit” kepada Yesus atas penyembuhan yang dialaminya, dia sebenarnya membantu Yesus? Apa pun alasannya, Markus menggunakan cerita ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan terus kita lihat ada dalam Injil-nya: (1) rahasia mesianis dan (2) ketegangan yang sebentar lagi akan terus membayangi Yesus.

Sepanjang Injil-nya, Markus menggambarkan Yesus yang enggan untuk menerima gelar “Mesias” (Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan atau menggaris-bawahi keengganan Yesus ini sehingga dengan demikian ia dapat menunjukkan bahwa berbagai mukjizat dan tanda heran tidaklah cukup untuk menyatakan Yesus sebagai sang Mesias. Berbagai mukjizat dan tanda heran menunjuk pada suatu pernyataan yang lebih penuh, yaitu bahwa Sang Terurapi akan membebaskan umat manusia dari dosa lewat kematian-Nya di kayu salib. Jadi, siapa saja yang akan menjadi seorang murid dari Mesias haruslah memikul salib dan mengikuti Dia (Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Dengan mengabaikan perintah Yesus untuk tidak diam (tidak banyak omong), maka orang kusta yang disembuhkan itu dengan tak sengaja memicu ketegangan yang membawa dampak pada pelayanan Yesus selanjutnya.  Sampai hari itu, setiap hal telah berjalan dengan sangat baik – boleh dikatakan sangat fantastis. Akan tetapi, tiba-tiba masalahnya menjadi rumit: “Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota” (Mrk 1:45). Perubahan suasana ini mengisyaratkan adanya konfrontasi yang akan dialami oleh Yesus dengan banyak pemuka/pemimpin agama Yahudi, suatu konfrontasi yang akhirnya menggiring-Nya kepada kematian di kayu salib (Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus menyadari bahwa karya pelayanan-Nya akan menyebabkan konflik. Seperti orang kusta yang telah disembuhkan namun tidak kooperatif – mengabaikan perintah Yesus atau berpikir bahwa tindakannya akan memperbaiki rencana Allah, kodrat manusia kita yang cenderung berdosa akan – mau tidak mau – akan berkonflik dengan Kerajaan Allah. Walaupun begitu, hal ini tidak pernah membuat Yesus mundur dari karya-Nya melakukan kebaikan: menyembuhkan orang sakit, memberi pengajaran dan mengambil orang-orang untuk datang kepada-Nya dan mengikuti-Nya. Yesus menerima “biaya” konflik, dimusuhi oleh para petinggi agama, bahkan mengalami kematian yang mengenaskan …… demi membebas-merdekakan kita.

Saudari-Saudara, marilah kita mengikuti jejak sang Mesias yang telah memilih “jalan perendahan”, taat kepada Bapa-Nya dalam kerendahan hati (lihat Flp 2:6-8). Sekarang, janganlah kita pilih-pilih. Marilah kita memberikan kepada Yesus seluruh hati kita. Dengan demikian, kita pun akan mengalami betapa berbahagianya kita mengalami relasi yang lebih mendalam dengan Dia.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Melakukan kehendak-Mu adalah kesenanganku, ya Tuhan. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah membebas-merdekakan diriku untuk menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “DUA TEMA DALAM INJIL MARKUS” (bacaan tanggal 17-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

Cilandak, 15 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAHKAN SAMPAI HARI INI PUN YESUS MASIH MENYEMBUHKAN

BAHKAN SAMPAI HARI INI PUN YESUS MASIH MENYEMBUHKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu,  16 Januari 2019

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Santo Berardus, Imam dkk. Martir Pertama Ordo S. Fransiskus

 

Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Dalam artian tertentu kita dapat mengatakan, bahwa Injil Markus adalah Injil mukjizat-mukjizat Yesus. Dalam bab 1 yang telah kita baca dua hari ini saja kepada kita telah disuguhkan cerita-cerita tentang mukjizat-mukjizat Yesus. Mukjizat pertama dalam Injil Markus diceritakan dalam bacaan Injil kemarin, peristiwa pengusiran roh jahat yang pertama. Pada bacaan Injil hari ini kita membaca narasi singkat tentang penyembuhan atas diri ibu mertua Petrus yang menderita sakit demam. Mukjizat ini disusul dengan catatan-catatan seperti berikut: “Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan ……” (Mrk 1:32-34). Catatan-catatan dalam Injil ini tentunya mengindikasikan bahwa mukjizat penyembuhan dan pengusiran roh jahat oleh Yesus sungguh banyak.

Selagi kita membaca narasi Injil seperti ini, sadarkah kita bahwa Yesus yang berkarya di Kapernaum dan  banyak tempat ini adalah Yesus yang sama yang kita jumpai pada perayaan Ekaristi, teristimewa ketika kita menerima Komuni Kudus? Tidakkah kita memikirkan fakta bahwa Yesus dalam Injil ini, Allah-Manusia yang telah bangkit dari antara orang mati, kini hidup sebagai Allah dan sebagai manusia di antara kita? Apabila kita mengatakan “ya” sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka mengapa kita sering merasa kesepian, takut, sedih, galau, seakan-akan tidak ada siapa pun yang memperhatikan berbagai kesusahan kita, sakit-penyakit yang kita derita, dan keprihatinan-keprihatinan kita? Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita! Tentu saja Dia memperhatikan kita hari ini tidak kurang daripada Dia memperhatikan dengan penuh belarasa dan belaskasih orang-orang yang hidup di tanah Palestina pada zaman-Nya.

Sungguh agak aneh dan mengherankan apabila kita, yang telah diberikan karunia iman oleh-Nya, malah kehilangan rasa percaya akan kebaikan dan kuasa Yesus Kristus sesuai dengan iman kita itu. Kita tidak perlu mengharapkan terjadinya mukjizat untuk semua masalah kita. Namun kita tentunya harus mempunyai rasa percaya dan yakin bahwa dengan pertolongan Yesus Kristus, berbagai upaya kita  akan mengangkat beban masalah-masalah kita. Seandainya upaya kita itu tidak seturut kehendak Allah, maka rahmat Kristus akan membawa pencerahan bagi pemahaman kita, menolong kita untuk dapat melihat kehendak-Nya dalam pencobaan-pencobaan yang kita hadapi, dan memberikan damai-sejahtera serta ketenangan yang tidak dapat dirampas oleh krisis duniawi yang mana pun. Oleh karena itu, marilah kita membawa segala sakit-penyakit kita kepada Yesus Kristus, sang Tabib Penyembuh, Dokter Agung, seperti yang dilakukan oleh para pendahulu kita di tanah Palestina dan juga para penerus mereka dari masa ke masa.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami percaya bahwa pada hari ini pun Engkau masih menyembuhkan banyak orang yang menderita berbagai sakit-penyakit, karena Engkau tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibr 13:8). Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 2:14-18), bacalah tulisan yang  berjudul “YESUS ADALAH SANG IMAM BESAR AGUNG” (bacaan tanggal 16-1-19), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 14 Januari 2019 [Peringatan B. Odorikus dr Pordenone] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS