YESUS INGIN AGAR ANAK-ANAK ITU DATANG KEPADA-NYA

YESUS INGIN AGAR ANAK-ANAK ITU DATANG KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Filipus Neri, Imam – Sabtu, 26 Mei 2018) 

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menyentuh mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Melihat hal itu, Yesus marah dan berkata kepada mereka, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka ia memberkati mereka. (Mrk 10:13-16) 

Bacaan Pertama: Yak 5:13-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 141:1-3,8 

“Ayah, ke sini dong dan betulin mobil-mobilanku yang rusak.” “Ayah, aku baru saja jatuh dari sepedaku dan lututku berdarah, kasih obat merah dong.” Pendekatan anak-anak terhadap kehidupan adalah seperti ini. Orangtua mereka adalah keamanan, pelindung dan penghiburan mereka. Mereka berharap bahwa semua kebutuhan mereka akan dipenuhi, dan mereka pun percaya bahwa mereka dapat bergerak secara bebas, tak terhalangi dalam lingkaran cinta yang telah diciptakan orangtua bagi mereka.

Menerima kerajaan Allah adalah seperti ini. Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita menempatkan kita dalam sebuah dunia yang diciptakan-Nya dan dilihat-Nya baik. Ia mendengar kita apabila kita berseru kepada-Nya dan Ia sungguh ingin memenuhi segala kebutuhan kita. Ini adalah beberapa dari kebenaran-kebenaran yang diajarkan Yesus kepada kita. Apa saja yang dilakukan Yesus adalah sebuah pelajaran tentang kasih Allah kepada umat-Nya. Lebih dari segalanya, Dia ingin agar kita mengetahui betapa amannya kita berada di bawah pemeliharaan-Nya yang penuh kasih. Dalam bacaan singkat Injil hari ini yang menggambarkan Yesus memberkati anak-anak kecil, Ia mengajar kita bagaimana seharusnya kita melakukan pendekatan kepada kerajaan Allah, “Datanglah seperti seorang anak kecil dan terimalah cintakasih-Ku.” 

Namun para murid belum juga memahami hal ini dan mereka mencoba menghalang-halangi orang-orang yang membawa anak-anak mereka kepada Yesus. Barangkali maksud para murid “baik” juga, yaitu menjaga agar Guru mereka tidak kehabisan energi, sehingga dapat sepenuhnya melakukan pelayanan-Nya yang dilihat mereka “lebih penting” daripada melayani anak-anak, misalnya menyembuhkan orang-orang sakit, menghadapi perlawanan dari orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi, atau meluangkan waktu yang cukup dengan para murid-Nya. Pada waktu anak bungsu kami masih kecil (catatan: sekarang dia sudah menikah dan bekerja sebagai seorang manager di sebuah perusahaan asuransi asing), kami menghadiri Misa di sebuah gereja di luar Jakarta. Banyak orangtua lain yang juga membawa anak-anak mereka. Pada suatu saat ada seorang anak yang menangis. Rasanya tidak begitu mengganggu, namun imam selebran (kebetulan di tengah-tengah homili-nya) langsung menghardik dengan kerasnya dan meminta semua anak-anak dibawa keluar. Para orangtua pun dengan taat membawa anak-anak mereka ke luar gereja. Rasanya kalau Yesus yang berdiri di depan itu, tidak akan terjadilah peristiwa tidak mengenakkan itu. Mari kita renungkan, betapa sering kita bersikap dan berperilaku seperti para murid Yesus itu, yang tidak memahami apa yang penting di mata Allah. Oleh karena itu baiklah bagi kita untuk secara tetap berdoa, “Tuhan, baharuilah pikiran-pikiran kami sehingga kami dapat belajar dari sabda-Mu dan contoh-contoh dari kehidupan-Mu!”

Yesus ingin berjumpa dengan kita masing-masing secara pribadi. Tidak ada orang yang terlalu kecil atau tidak berarti di mata-Nya. Yesus ingin mengajar kita masing-masing secara pribadi mengenai kasih Bapa-Nya. Inilah sebenarnya hal-ikhwal kerajaan Allah atau kerajaan Surga. Para murid secara salah berpikir bahwa anak-anak menghalang-halangi jalan mereka guna mencapai hal-hal yang lebih besar. Pandangan Yesus berbeda sekali: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka” (Mrk 10:14). Marilah kita dengan bebas datang kepada Bapa surgawi dalam doa, dengan keyakinan bahwa Dia akan menyambut kita dengan tangan-tangan terbuka. Kalau kita melakukannya, kita akan memiliki bela rasa terhadap orang-orang lain, seperti Dia terhadap kita.

DOA: Bapa surgawi, aku mengasihi Engkau dan ingin semakin dekat pada-Mu setiap hari. Jagalah agar aku tetap aman berada di bawah perlindungan dan pemeliharaan-Mu lewat kehadiran-Mu. Ajarlah aku agar dapat menjadi seperti seorang anak kecil dalam Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAGAI SEORANG ANAK KECIL” (bacaan tanggal 26-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PENCERMINAN KASIH ALLAH DAN KOMITMEN-NYA KEPADA UMAT-NYA

PENCERMINAN KASIH ALLAH DAN KOMITMEN-NYA KEPADA UMAT-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Jumat, 25 Mei 2018)

Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang Sungai Yordan dan orang banyak datang lagi berkerumun di sekeliling Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka lagi. Lalu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya lagi kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Siapa saja yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, Ia berzina terhadap istrinya itu. Jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berzina.” (Mrk 10:1-12) 

Bacaan Pertama: Yak 5:9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-8,11-12 

Ketika Yesus mengatakan kepada orang-orang Farisi bahwa Allah menginginkan agar manusia dipersatukan sebagai “satu daging”, maka maksud-Nya di sini bukanlah untuk memberi suatu peraturan tidak fleksibel yang akan membuat dua orang tetap bersama tanpa memperhitungkan situasi-situasi yang mereka hadapi. Di sini sebenarnya Yesus berbicara mengenai hasrat Bapa surgawi bahwa hidup perkawinan merupakan suatu pencerminan kasih Allah dan komitmen-Nya kepada umat-Nya.

Barangkali salah satu dari ilustrasi yang paling menyentuh hati adalah Kitab Hosea (Perjanjian Lama). Dalam Kitab ini, YHWH Allah memerintahkan nabi Hosea untuk menikahi seorang PSK yang bernama Gomer. Setelah setia untuk sementara waktu dan melahirkan tiga orang anak bagi sang nabi, Gomer kembali hobi atau cara-cara hidup penuh kedosaan yang lama. Bayangkan betapa dalam penderitaan dari luka-luka batin yang dialami Hosea, pertama-tama terhadap Gomer yang telah mengkhianatinya, dan kedua juga terhadap YHWH Allah yang memerintahkannya untuk menikahi Gomer.

Dalam keadaan terluka itu, betapa berat rasanya hati Hosea ketika lagi-lagi diperintahkan YHWH Allah untuk tetap mengambil Gomer sebagai istrinya? Akan tetapi, setia dan taat kepada perintah Allah, Hosea berdamai kembali dengan Gomer. Kebanyakan kita tentunya melihat tindakan Hosea itu sebagai sesuatu yang hampir tidak mungkin. Mungkin akan lebih mudah kiranya apabila Gomer yang datang untuk berdamai, namun YHWH Allah memerintahkan agar Hosea-lah yang melakukan inisiatif rekonsiliasi dengan istrinya itu.

YHWH Allah berfirman kepada Hosea untuk mengasihi Gomer seperti Dia mengasihi Israel: “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti YHWH juga mencintai orang Israel sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis” (Hos 3:1). Berabad-abad kemudian, ketika Yesus menebus umat manusia lewat kematian-Nya di kayu salib, maka firman YHWH kepada Hosea digenapi. Yesus mengetahui benar, bahwa dengan lebih memilih berhala-berhala ketimbang diri-Nya – apakah itu uang, status, atau kemandirian – kita dapat bertindak layaknya si Gomer. Seperti juga Hosea, Yesus taat kepada Allah dan membayar biaya yang tinggi untuk menebus kita-manusia dan membawa kita kembali kepada-Nya. Yesus adalah mempelai laki-laki kita. Dia berkomitmen kepada kita dengan cintakasih yang bersifat kekal dan penuh kesetiaan. “Perkawinan”-Nya dengan kita (Umat-Nya = Gereja) adalah persatuan akhir yang dirancang oleh Allah, dan yang tidak dapat dipisahkan lagi.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita masing-masing.  “Apakah ada ‘berhala-berhala’ yang ada di antara diriku dan Yesus?” “Adakah ‘kekasih-kekasih’ lain yang Allah minta kepadaku untuk dibuang?” Saudari dan Saudaraku, janganlah menunda-nunda. Mempelai laki-laki sedang memanggilmu dengan tangan-tangan yang terbuka lebar!

DOA: Tuhan Yesus, terpujilah Engkau selama-lamanya karena penebusan-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau adalah mempelai laki-laki bagi kami semua. Semoga kami tetap setia kepada-Mu sebagaimana Engkau selalu setia kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS TETAP MENGASIHI DIRI KITA” (bacaan tanggal 25-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KATA-KATA KERAS YESUS

KATA-KATA KERAS YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Kamis, 24  Mei 2018)

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan.

Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?

Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” (Mrk 9:41-50) 

Bacaan Pertama: Yak 5:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 49:14-20

Dalam bacaan hari ini kita melihat sebuah koleksi dari kata-kata keras Yesus, yang satu sama lain terhubung secara lepas. Sebagian besar kata-kata keras ini merupakan peringatan-peringatan terkait skandal, menyebabkan orang lain berdosa, dan sebab-sebab dari dosa yang melibatkan diri kita. Kelompok ketiga dari kata-kata keras ini mengacu kepada berbagai macam penderitaan dan penganiayaan yang harus dilalui/dialami oleh para murid Yesus dalam hidup mereka di dunia.

Apa yang dikatakan Yesus adalah bahwa kita harus memegang prioritas-prioritas kita dengan tegas. Kita harus mempunyai nilai keselamatan jika kita mau menghindari segala sesuatu yang menyebabkan nilai keselamatan tersebut menjadi berantakan, baik dalam kehidupan orang-orang lain maupun dalam kehidupan kita sendiri.

Untuk menanamkan hal ini dalam diri para murid-Nya (termasuk anda dan saya di abad ke-21 ini), Yesus menggunakan beberapa imaji yang sangat kuat. Misalnya, “Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut” (Mrk 9:42). “… setiap orang akan digarami dengan api” (Mrk 9:49). Murid-murid Yesus yang sejati akan ditempa dan dikuatkan melalui pengejaran dan penganiayaan. Ketika Markus mencatat kata-kata Yesus ini, sangat mungkin bahwa umat Kristiani telah mengalami berbagai pengejaran dan penganiayaan. Inilah yang membuat kata-kata Yesus sungguh relevan bagi kita semua, para murid-Nya.

Apakah kita menyadari bahwa ada kemungkinan kata-kata kita atau tindakan-tindakan kita menggiring seseorang ke dalam jurang dosa? Yesus menginginkan agar kita melihat dengan sungguh-sungguh peri kehidupan kita. Apakah kita senantiasa memberikan pengaruh positif atas diri orang-orang lain?

Bagaimana dengan prioritas-prioritas kita? Kita mengetahui bahwa hal-hal tertentu, kegiatan-kegiatan tertentu adalah dosa. Apakah kita cukup memberi nilai atas relasi kita dengan Tuhan guna menghindari hal-hal dan kegiatan-kegiatan dimaksud dengan penuh kesadaran?

Memang kini kita di Indonesia tidak sedang berada di tengah gelombang pengejaran dan penganiayaan seperti yang dialami oleh para Saudari dan Saudara kita di tempat-tempat lain di dunia, namun dalam artian tertentu tanda-tanda yang mengarah ke situ sudah terasa. Walaupun seandainya tidak ada pengejaran dan penganiayaan yang mengancam kita, keselamatan kita berada dalam bahaya disebabkan oleh nilai-nilai duniawi yang terus saja mengganggu kita. Apakah kita sudah cukup ditempa dengan disiplin, dengan Sabda Allah untuk tetap hidup di dunia sebagai murid-murid Yesus yang setia?

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengutus Putera-Mu, Yesus, guna menyelamatkan kami semua. Kami mengakui bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus, bentuklah kami menjadi murid-murid Yesus yang setia. Buatlah hati kami seperti hati-Nya. Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:41-50), bacalah tulisan yang berjudul “MOHON BIMBINGAN ROH KUDUS AGAR KITA DAPAT MENEMUKAN CARA-CARA PRAKTIS MELAWAN DOSA” (bacaan tanggal 24-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MELESET DAN MELESET LAGI

MELESET DAN MELESET LAGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Rabu, 23 Mei 2018)

 

Kata Yohanes kepada Yesus, “Guru, kami melihat seseorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah dia, karena dia bukan pengikut kita.” Tetapi kata Yesus, “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. (Mrk 9:38-40) 

Bacaan Pertama: Yak 4:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 49:2-3,6-11 

Bayangkanlah betapa bingung Petrus, Yakobus dan Yohanes pada saat itu. Pertama-tama mereka bertiga menyaksikan transfigurasi Yesus dalam kemuliaan-Nya di atas gunung dan mendengar suara misterius yang memerintahkan mereka untuk mendengarkan Yesus (Mrk 9:2-8). Kemudian mereka melihat Yesus dengan nada kesal menegur para murid yang lain karena tidak mampu mengusir roh jahat yang merasuki diri seorang anak (Mrk 9:14-29). Lalu, Yesus memarahi para murid-Nya karena bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka (Mrk 9:30-37). Sekarang, mereka mendengar Dia membuat koreksi karena mereka mencoba memisahkan para pembuat mukjizat lainnya dari “kelompok istimewa” mereka. Kali ini jubir mereka adalah Yohanes (Mrk 9:38-40). Kelihatannya Yesus tidak pernah berhenti menantang asumsi-asumsi yang telah dibuat para murid-Nya.

Sepanjang Injil Markus, kita melihat para murid hampir mendekati pemahaman tentang siapa Yesus itu, namun ternyata meleset lagi dan lagi-lagi membutuhkan koreksi. Tidakkah hal ini terdengar familiar di telinga kita? Bukankah kita semua dengan cepat dapat membatasi gerak-gerik Allah, mencoba agar Dia “bermain” seturut peraturan kita sendiri?

Mengapa kita ingin memahami Allah seturut pandangan dan ukuran kita sendiri? Mungkinkah karena kita merasa nyaman dan aman jika mempunyai segala jawaban yang diperlukan? Kehidupan kita sebagai umat Kristiani akan jauh lebih mudah apabila kita mengetahui secara pasti apa yang harus kita hindari, dan banyak/sedikitnya apa yang harus kita upayakan agar dapat menghindari hukuman, bukankah begitu?

Para orangtua macam apakah yang menginginkan anak-anak mereka mentaati mereka hanya karena rasa takut? Istri atau suami macam apakah yang menginginkan pasangan hidupnya termotivasi hanya karena tata cara eksternal dalam hal berperilaku? Yesus menginginkan kita untuk mengikut Dia, bukan karena alasan apa pun, kecuali karena kita mengasihi-Nya. Yesus menginginkan suatu relasi dengan kita masing-masing yang benar-benar dipenuhi cintakasih, seakan-akan pasangan yang baru menikah, kita ingin berada bersama-Nya setiap saat dan belajar segala sesuatu tentang diri-Nya. Yesus mengetahui bahwa hal ini hanya akan terjadi jika kita mengesampingkan ekspektasi-ekspektasi kita sendiri dan memperkenankan misteri “seorang” Allah yang sangat mengasihi dan mengorbankan diri-Nya sendiri untuk membentuk pemikiran kita secara mendasar.

Lain kali, jika kita “dikagetkan” lagi oleh sesuatu yang Yesus katakan atau lakukan, maka  janganlah kita melangkah mundur. Kita tidak pernah boleh lagi merasa ragu bahwa Yesus mampu bekerja dengan cara-cara yang tak terduga-duga dan tak disangka-sangka. Pandanglah hal itu sebagai suatu tanda lain lagi bahwa Dia sedang mengundang kita kepada hidup iman – dan sukacita dan excitement – yang sama, seperti dialami oleh para pengikut-Nya yang awal.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah andalanku. Teristimewa apabila Engkau mengejutkan diriku, maka aku akan menaruh pikiran-pikiranku dan ekspektasi-ekspektasiku, lalu berkata tanpa ragu, “Tuhan, aku adalah milik-Mu sepenuhnya.” Yesus, biarlah segalanya terjadi atas diriku seturut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:38-40), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN KAMU CEGAH DIA!” (bacaan tanggal 23-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Mei 2018 [HARI RAYA PENTAKOSTA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PELAYAN DARI SEMUANYA

PELAYAN DARI SEMUANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Selasa, 22 Mei 2018)

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37) 

Bacaan Pertama: Yak 4:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 55:7-11,23 

Yesus bersabda: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk 9:35). Yesus mengungkapkan disposisi hatinya yang fundamental dengan menggambarkan diri-Nya dan hidup-Nya sendiri sebagai seorang pelayan dari semuanya (lihat Luk 22:27; bdk. Yoh 13:4-15). Sebagai Putera Allah yang setia dan taat, Ia mau melayani Bapa-Nya dengan memenuhi semua tujuan dan rencana Bapa. Oleh karena itu, dengan penuh kemauan Ia menanggalkan kemuliaan-Nya dan merendahkan diri-Nya untuk menjadi seorang manusia (Flp 2:6-7). Dalam kondisi seperti itulah Yesus dengan sangat senang hati melayani Bapa-Nya – dengan ketaatan seorang hamba – bahkan sampai satu titik di mana Dia menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan umat Allah (Flp 2:8). Sabda Yesus: “… Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45).

Dengan mengesampingkan kehendak-Nya sendiri dan memilih hidup sebagai seorang abdi yang taat kepada Bapa-Nya, Yesus tahu benar bahwa semuanya akan membawa-Nya kepada sengsara dan kematian-Nya (lihat Mrk 9:35). Namun demikian, Yesus dengan penuh kemauan memilih “jalan susah” ini demi sukacita yang disediakan bagi Dia (lihat Ibr 12:2), yaitu ketika Bapa akan membangkitkan-Nya dari alam maut dan membawa-Nya masuk ke dalam kemuliaan di surga. Sebagai seorang abdi paling sempurna (par excellence), Yesus menaruh hidup-Nya secara lengkap dan total ke dalam tangan Bapa-Nya.

Dalam khotbahnya di hari Pentakosta Kristiani yang pertama, Petrus mengatakan: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis 2:23). Jadi, Yesus dengan bebas setuju agar diri-Nya diserahkan Bapa-Nya ke dalam tangan orang-orang jahat, karena Dia menaruh kepercayaan penuh bahwa Bapa-Nya akan menyelamatkan Dia dari kematian (baca: Keb 2:18-20).

Seseorang yang dipilih Yesus dan bersedia mengikuti-Nya juga membuat hatinya menjadi serupa dengan hati-seorang-abdi yang dimiliki Guru dan Tuhan-nya, meneladani kedinaan serta ketaatan-Nya, mengesampingkan kehendaknya sendiri dan membuang segala kecenderungan untuk membuat dirinya menjadi pusat segalanya (self-centeredness). Seorang murid Yesus yang sejati haruslah seseorang yang hidupnya berpusat pada Allah (God-centered). Dalam menanggapi pertengkaran di antara para murid-Nya tentang siapa yang terbesar di antara mereka, Yesus mengajarkan kepada mereka bagaimana menerapkan prinsip ini dalam kehidupan mereka (lihat Mrk 9:33-34). Yesus mengajarkan bahwa  pikiran para murid, sikap dan perilaku mereka tidak menunjukkan hati seorang abdi/pelayan. Hati mereka penuh dengan ambisi dan rasa-iri serta kedengkian, hal mana menimbulkan perpecahan dan ketidak-teraturan (bdk. Yak 3:16). Ia mengajarkan para murid-Nya begini: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (lihat Mrk 9:35). Menjadi besar berarti memperhatikan kepentingan orang lain terlebih dahulu, tanpa merasa khawatir akan keadaan diri sendiri.

Untuk menjadi abdi atau pelayan Allah yang rendah hati, para murid harus berbalik dari hidup lama mereka yang mementingkan diri sendiri (dalam bahasa Inggris ada ungkapan begini: self-glorification dan self-serving ambitions). Menjadi abdi Allah juga berarti bahwa mereka harus menjadi abdi setiap orang – menerima semua orang, apa pun status dan posisi orang-orang itu dalam masyarakat – seperti orang menyambut dan menerima seorang anak yang tidak dapat berbuat apa-apa kepada mereka sebagai balasan (lihat Mrk 9:37).

Sebagai seorang Abdi yang sempurna, Yesus sangat senang-hati kalau ada kesempatan menolong orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dipenuhi cintakasih Bapa, Dia hanya menginginkan untuk menyalurkan kasih Bapa itu kepada siapa saja yang ditemui-Nya. Dengan setiap penyembuhan yang dilakukan-Nya dan setiap kata yang disabdakan-Nya, Yesus berupaya untuk menarik orang-orang agar lebih dekat lagi dengan Bapa-Nya. Meskipun sudah mendekati jam kematian-Nya sendiri, hasrat utama Yesus adalah untuk berada bersama dengan para murid-Nya (lihat Luk 22:14-15), mengasihi mereka dan menolong mereka agar mampu menaruh kepercayaan kepada Bapa surgawi. Yesus juga mengajar bahwa manakala kita melayani orang lain, kita sesungguhnya melayani Dia (lihat Mat 25:40).

Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya, setelah acara pembasuhan kaki, Yesus bersabda kepada para murid: “Aku telah memberikan memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15). Yesus meminta kita – para murid-Nya – untuk memiliki hati seorang abdi/pelayan. Artinya kita tidak boleh berupaya menguasai atau mengendalikan orang-orang lain, atau menginginkan agar orang lain melayani kita. Kita juga tidak boleh mengejar-ngejar status, posisi, kehormatan dan lain sebagainya. Sebaliknya kita harus rendah hati dan mengambil jalan perendahan Yesus, memperhatikan kepentingan orang lain terlebih dahulu (Flp 2:4) serta melayani kebutuhan mereka sebelum kebutuhan kita sendiri. Karunia yang dianugerahkan Yesus kepada para murid-Nya adalah hati seorang abdi/pelayan. Maukah saudari-saudara mohon kepada-Nya untuk menjadikan hati anda seperti hati-Nya?

Sampai hari ini Yesus dengan rendah hati masih mengetuk-ngetuk pintu hati kita. Dia begitu ingin melayani kita dengan masuk ke dalam kehidupan kita yang penuh luka ini, agar dapat menyembuhkan luka-luka kita serta membersihkan kita, dan akhirnya memperbaharui kita. Betapa rindu hati Yesus untuk melihat kita menyambut-Nya masuk.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk cintakasih-Mu yang tak bersyarat sehingga aku pun dapat dicurahi dengan kebaikan dan belaskasih-Mu. Aku sungguh ingin menyambut-Mu ke dalam hatiku. Bentuklah hatiku agar aku dapat melayani sesamaku dengan penuh sukacita, seperti Engkau juga memeliharaku dengan penuh sukacita ilahi. Ya Tuhan Yesus, buatlah agar hatiku menjadi seperti hati-Mu. Buatlah aku menjadi saluran berkat-Mu bagi sesamaku di mana saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI YANG TERAKHIR DARI SEMUANYA DAN PELAYAN DARI SEMUANYA” (bacaan tanggal 22-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-2-17) 

Cilandak,  20 Mei 2018 [HARI RAYA PENTAKOSTA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Senin, 21 Mei 2018)

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang muloutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29) 

Bacaan Pertama: Yak 3:13:18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Begitu turun dari gunung bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yesus menghadapi kegagalan murid-murid-Nya yang lain dalam melakukan pelepasan (deliverance) atas diri seorang anak yang sudah lama dirasuki roh jahat. Setelah meratapi ketiadaan iman mereka, Yesus mengusir roh jahat itu, lalu mengatakan kepada para murid-Nya ketika sendirian dengan Dia, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jelas di sini, bahwa iman dan doa merupakan dua hal vital agar dapat melihat Allah bekerja dengan penuh kuat-kuasa.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan sebagai berikut: “Ini merupakan kekuatan doa, karena ‘tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya’ (Mrk 9:23) dan ‘tidak bimbang’ (Mat 21:21) dalam iman ini. Yesus bersedih hati karena ‘ketidakpercayaan’ (Mrk 6:6) sanak keluarga dan ‘orang yang kurang percaya’ di antara murid-murid-Nya (Mat 8:26), dan Ia amat kagum akan ‘iman besar’ dari perwira Roma (Mat 8:10) dan wanita Kanaan (bdk. Mat 15:28)” (KGK, 2610).

Apa yang dimaksudkan dengan iman? Sebagaimana seekor burung yang merasakan kedatangan cahaya matahari dan kemudian bernyanyi untuk menyapa terbitnya matahari sementara keadaan masih gelap, maka iman adalah suatu kepercayaan akan Allah yang mengetahui bahwa kita akan melihat hasil-hasilnya, walaupun dalam keadaan yang kelihatannya tidak memberikan harapan. Sekarang, apa yang dimaksudkan dengan doa? Doa dapat dikatakan sebagai suatu keterbukaan dan tanggapan penuh kepercayaan terhadap kehadiran dan kehendak Allah, dalam kerendahan hati.

Apabila kita ingin mengalami kemerdekaan sejati dalam kehidupan kita, atau ingin melihat seorang sahabat atau anggota keluarga kita disembuhkan dan dibuat menjadi utuh, maka kita harus percaya dengan sepenuh hati kita dan berdoa sekuat tenaga kita. Yesus telah datang untuk membebas-merdekakan segenap umat-Nya. Yesus tidak suka melihat penderitaan kita. Kita harus percaya bahwa Dia ingin menyembuhkan dan membebaskan kita. Dia mau membebaskan kita dari segala keterikatan pada dosa. Kita juga tidak pernah boleh mengabaikan doa, bahkan sampai akhir hayat kita. Kita harus tetap konsisten dan mencoba terus. Kita harus percaya, bahwa sementara kita menyerahkan situasi-situasi yang kita hadapi kepada Yesus, maka Dia akan bertindak seturut hikmat dan kuasa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyelamatkan dan membebaskan aku dari dosa. Ajarlah aku untuk percaya lebih mendalam lagi dan berdoa dengan lebih penuh keyakinan lagi. Tuhan, Engkau tahu situasi yang sedang kuhadapi. Perkenankanlah aku melihat karya-Mu yang penuh kuasa pada hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan yang berjudul “MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG” (bacaan tanggal 21-5-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  17 Mei 2018 [Peringatan S. Paskalis Baylon, Bruder Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERANAN SANG PENOLONG

PERANAN SANG PENOLONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 20 Mei 2018)

“… Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.” 

“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin amu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya  dan Ia aan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akkan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 15:26-27; 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: Gal 5:16-25 

Roh Kudus disebut sebagai Penolong (Yunani: Parakletos) sebanyak lima kali dalam Perjanjian Baru (Yoh 15:26; 14:16,26; 16:7; 1Yoh 2:1). Dengan menggunakan nama itu Yohanes hendak menggarisbawahi peranan Roh Kudus sebagai seorang penasihat – suatu sumber pendorong, penghiburan, pertolongan dan kebenaran.

Pada waktu Yesus hidup di muka bumi ini sebagai seorang manusia, para murid-Nya mempunyai akses yang bebas dan mudah untuk datang kepada-Nya. Mereka dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mohon nasihat kapan saja mereka inginkan. Namun pada  Perjamuan Terakhir, tahu bahwa diri-Nya tidak akan selalu dapat diakses secara fisik, Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk menyambut kedatangan seorang penolong/penasihat yang lain, yaitu Roh Kudus (Yoh 14:16). Walaupun Yesus tidak akan bersama mereka lagi dalam daging, Roh Kudus – Roh Yesus – akan berdiam di dalam diri mereka. Satu-satunya hal yang lebih baik daripada “Yesus ada bersama dengan kita” adalah “Yesus berada dalam diri kita”.

Dari segala tugas Roh Kudus, satu dari yang paling penting adalah membawa Kitab Suci ke kehidupan di dalam hati kita sehingga diri kita dapat ditransformasikan. Apakah kita pernah berpikir untuk memanggil Dia untuk duduk di samping kita ketika kita duduk membaca Kitab Suci? Dengan Dia sebagai pemandu dan penasihat, kita tentunya dapat melakukan navigasi melalui bagian-bagian bacaan sulit dalam Kitab Suci dan menemukan kedalaman-kedalaman baru dalam hidup Kristiani yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin.

Pada Hari Raya Pentakosta ini, baiklah kita (anda dan saya) datang kepada Roh Kudus dengan sebuah hati yang terbuka. Marilah kita memohon kepada-Nya untuk menolong kita dalam kelemahan-kelemahan kita. Sementara kita membaca Kitab Suci dalam keheningan dan suasana doa, biarlah Dia mencerahkan kata-kata yang ada dalam Kitab Suci dan menolong kita menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus akan mengambil pesan dari Kitab Suci, mengikatnya dengan kehidupan Gereja, dan mencelupkannya dalam-dalam di hati kita masing-masing, di mana kehendak kita dimotivasi untuk bertindak. Lalu perhatikanlah bahwa kehidupan kita pun berubah.

Santo Hieronimus [347-420] berkata: “Ignoratio Scripturarum, Ignoratio Christi est.”  (Inggris: “Ignorance of Scripture is ignorance of Christ.”), yang artinya kira-kira “Tidak kenal/tahu Kitab Suci, tidak kenal/tahu Kristus. Apakah anda mau mengenal Jesus, sang Sabda Allah? Cobalah kenal dengan Roh Kudus, Penolong anda!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk memulihkan relasi kami dengan Dikau. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan Roh Kudus untuk hidup dalam diri kami dan menolong kami dalam segala kelemahan kami. Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati kami umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu dalam hati kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 20-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  17 Mei 2018 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS