ALLAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN UMAT-NYA

ALLAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN UMAT-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Kamis, 12 Desember 2019)

Peringatan Fakultatif SP Maria Guadalupe

MC: Hari Raya SP Maria yang Tetap Perawan, Bunda Allah Pencipta Surga dan Bumi Guadalupe

Sebab Aku ini, TUHAN (YHWH), Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: “Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.” Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman YHWH, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel. Sesungguhnya, aku membuat engkau menjadi papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar; engkau akan mengirik gunung-gunung dan menghancurkannya, dan bukit-bukitpun akan kaubuat seperti sekam. Engkau akan menampi mereka, lalu angin akan menerbangkan mereka, dan badai akan menyerakkan mereka. Tetapi engkau ini akan bersorak-sorak di dalam YHWH dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel.

Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air,  tetapi tidak  ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, YHWH, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka. Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya, supaya semua orang melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan YHWH yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya. (Yes 41:13-20) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:9-13; Bacaan Injil: Mat 11:11-15

Orang-orang Israel tahu bahwa YHWH adalah Tuhan dari seluruh sejarah, namun Ia juga memperhatikan setiap hidup orang sebagai individu. Oleh karena itu tidak sulitlah bagi orang-orang Israel yang sedang berada dalam pembuangan di Babel untuk memahami kata-kata nubuatan yang diucapkan lewat mulut sang nabi untuk mencari tanda-tanda intervensi YHWH: “Aku tidak akan meninggalkan mereka. Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul. …… dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan  air dari tanah kering” (Yes 41:17-18). Melalui tanda-tanda pembaharuan ini, setiap orang “melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan YHWH yang membuat semuanya ini” (Yes 41:20). Dengan perkataan lain, tidak meragukan lagi bahwa Allah memang bekerja pada waktu para orang buangan ini kembali ke Yerusalem.

Bagaimana dengan zaman modern ini? Pada abad ke-21 ini pun Allah ingin diri-Nya dikenali. Di mana kita dapat mencari manifestasi dari pembaharuan yang dilakukan Allah? Marilah kita “memperhatikan dan memahami” tanda-tanda ini: Uskup Agung Oscar Romero [15/8/1917-24/3/80] dari San Salvador, El Salvador, ditembak mati ketika merayakan Misa Kudus. Mengapa? Karena dia berbicara lantang melawan ketidakadilan dan penindasan serta teror yang dilakukan oleh pihak penguasa. Dia dihormati, bahkan di luar Gereja Katolik juga. Gereja Anglikan, misalnya, menempatkan Mgr. Romero sebagai satu dari sepuluh orang martir abad ke-20 yang hari peringatannya ada dalam kalender di buku Common Worship, juga patungnya ada di Great West Door dari Westminster Abbey di London. Pada tahun 2008, Majalah A DIFFERENT VIEW  yang berdomisili di Eropa menempatkan Mgr. Oscar Romero sebagai salah seorang dari 15 Champions of World Democracy. Mgr. Oscar Romero dikanonisasikan sebagai seorang Santo dalam Gereja Katolik pada tanggal 14 Oktober 2018. 

Kiranya juga masih segar dalam ingatan kita semua kiprah Santa Bunda Teresa dari Kalkuta dalam menolong orang-orang yang miskin dan menderita di banyak tempat di dunia. Karya tarekat religius yang didirikan olehnya masih berlangsung terus sampai hari ini. Masih banyak lagi contoh yang dapat diberikan. Tanda-tanda seperti ini ada di mana-mana, yaitu tanda-tanda bahwa Allah masih bekerja!

Dalam hidup umat Allah sejak sekitar 2.000 tahun lampau, kita terus-menerus melihat kehadiran Tuhan Allah dalam urusan-urusan manusia. Seorang Farisi murid Guru Gamaliel di Yerusalem yang sedang giat mengejar dan menganiaya umat Kristiani perdana – Saulus – ditransformasikan oleh-Nya menjadi Paulus, seorang rasul dan pewarta Kabar Baik Yesus Kristus yang kiranya paling ulung.

Pada zaman yang berbeda, seorang anak muda suka pesta-pora yang berasal dari keluarga pedagang kaya ditransformasikan oleh-Nya menjadi seorang pengemis untuk Kerajaan Allah dan pendiri keluarga rohani terbesar dalam Gereja. Itulah Santo Fransiskus dari Assisi [c. 1181-1226]. Pada abad ke-16 muncullah Santo Ignatius dari Loyola [1491-1556] – seorang mantan perwira dari Basque, Spanyol – yang  mendirikan sebuah tarekat religus yang baru dalam sistem organisasi, karakter dan peraturan hidupnya; yang cocok untuk menghadapi situasi sebagai akibat reformasi Protestan pada waktu itu.

Riwayat hidup Santa Teresa dari Lisieux [1873-1897], Santo Maximilian Kolbe [1894-1941] dan sangat banyak lagi yang lain, merupakan testimoni-testimoni, bahwa Yesus Kristus telah datang untuk menyelamatkan kita. Mereka juga membentuk sumber air hidup yang merupakan testimoni tentang kemampuan Allah memuaskan rasa haus-dahaga banyak orang akan diri-Nya.

Dengan semakin dekatnya kita kepada Tuhan, kita pun dapat memberikan kesaksian bahwa Allah (Putera) sungguh telah menjadi menjadi manusia dan mengalahkan dosa serta maut. Kita juga janganlah sampai lupa menghadap-Nya dan mohon Dia untuk mentransformasikan kita. Marilah kita mohon kepada Yesus agar membuat diri kita menjadi saksi-saksi-Nya yang sungguh memiliki kuasa sehingga membuat banyak orang mencari Dia juga.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena mendatangkan banyak orang kudus di dunia justru ketika situasi-kondisi di dalam dunia membutuhkan orang-orang seperti mereka. Ajarlah kami untuk menyerahkan diri kami kepada-Mu secara lebih penuh lagi, sehingga kamipun dapat menjadi pemimpin-pemimpin dan contoh-contoh bagi anggota-anggota Gereja-Mu yang lain, sekarang dan di masa mendatang. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 11:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “KITA SEDANG BERADA DI TENGAH SEBUAH PERTEMPURAN” (bacaan tanggal 12-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMANFAATKAN MENIT-MENIT YANG MENYEGARKAN BERSAMA KRISTUS

MEMANFAATKAN MENIT-MENIT YANG MENYEGARKAN BERSAMA KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Rabu, 11 Desember 2019)

Peringatan Fakultatif S. Damasus I, Paus

Image result for PICTURES OF MATTHEW 11:28-30"

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Yes 40:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10 

Bacaan-bacaan hari ini terdengar seakan-akan sebuah panggilan untuk “Rehat Kopi” pada pertengahan masa Adven. Nabi Yesaya melihat bahwa TUHAN “memberikan kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yes 40:29). Yesaya juga mengatakan, bahwa “orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru” (Yes 40:31).  Yesus dalam bacaan Injil mengundang kita untuk datang kepada-Nya jika kita sedang letih lesu dan berbeban berat, dan Ia pun akan menyegarkan kita kembali (lihat Mat 11:28).

Apabila kita mengikuti sebuah seminar tentunya ada rehat kopi (kata-kata kerennya adalah coffee break). Saya masih ingat ketika bekerja di Citibank Manila di awal tahun 1970-an, setiap hari menjelang jam 10 pagi semua karyawan berhenti bekerja dan  mulai membeli makanan kecil dan secangkir kopi/teh dari penjaja yang berkeliling. Ini juga saat yang digunakan untuk mengobrol sejenak. Hal yang sama diulang lagi di siang hari sekitar jam 3 siang. Nama “acara” seperti itu adalah mirienda, mungkin sebuah warisan dari zaman penjajahan Spanyol. Rehat Kopi: tentu kita semua mengharapkannya, kita menghargainya, kita membutuhkannya. Kita berkembang atas istirahat dari kerja walaupun sejenak, penyegaran yang memulihkan diri kita dan membuat pekerjaan kita menjadi lebih baik. Apakah kita begitu sibuk bekerja sehingga tidak dapat berhenti sebentar untuk memperoleh penyegaran kembali dalam bidang rohani? Yesus kiranya bersabda, “Slow down sedikit dan dengarkanlah sebentar,” dan jiwa kita juga akan dapat beristirahat.

Kita memberi terlalu banyak tekanan hanya pada “melakukan pekerjaan-pekerjaan”,  menyibukkan diri dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain, dari promosi jabatan yang satu ke promosi jabatan yang lain. Atau, apabila kita suka bersedekah, maka kita disibukkan dalam hal masalah-masalah sosial saja. Hal ini memang dapat saja baik, namun tidak boleh menjadi kegiatan yang berlebihan …… tidak boleh sampai “overkill.”  Pekerjaan yang paling baik sekali pun, apabila tidak menyediakan waktu untuk penyegaran spiritual, untuk doa dan refleksi/renungan dalam keheningan, pada akhirnya akan menjadi steril.

Dedikasi membutuhkan suatu sense of direction. Karya karitatif yang paling baik, terbaik dalam tindakan Kristiani tidak dapat survive tanpa adanya “rehat kopi” rohani. Kita senantiasa membutuhkan pengarahan dari Yang Ilahi (Inggris: divine direction) di atas bumi ini. Begitu mudah kita kehilangan arah tanpa “pengarahan ilahi” termaksud. Begitu banyak peristiwa menyedihkan telah dialami oleh banyak pribadi karena mereka mengabaikan “pengarahan ilahi” yang diperlukan.

Sikap yang paling bijak adalah untuk berhenti dari kesibukan kerja secara teratur, untuk memanfaatkan menit-menit yang menyegarkan bersama Kristus, yang telah berjanji bahwa kita akan belajar dari diri-Nya dan hal tersebut akan membawa damai sejahtera kepada jiwa kita.

DOA:  Bapa surgawi, lewat nabi Yeremia Engkau telah bersabda: “Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan” (Yer 6:16). Kami akan mentaati petunjuk-Mu, ya Allah. Kami akan secara teratur mengikuti “pengarahan ilahi” dari-Mu untuk saat-saat penyegaran spiritual, untuk doa dan melakukan refleksi dalam keheningan. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu perkenankanlah kami dibentuk menjadi murid-murid Yesus yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “GANDAR YANG KUPASANG ITU MENYENANGKAN DAN BEBAN-KU PUN RINGAN” (bacaan tanggal 11-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GEMBALA BAIK BAGI KITA SEMUA ADALAH YESUS KRISTUS

GEMBALA BAIK BAGI KITA SEMUA ADALAH YESUS KRISTUS 

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Selasa, 10 Desember 2019)

Image result for PERUMPAMAAN DOMBA YANG HILANG"

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak yang hilang.” (Mat 18:12-14) 

Bacaan Pertama: Yes 40:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13 

Kita dapat saja berpikir bahwa seorang gembala akan bersungut-sungut karena harus “membuang-buang” energi hanya untuk mencari seekor domba yang hilang. Namun hal ini bukanlah yang terjadi dengan sang gembala dalam perumpamaan Yesus. Gembala ini begitu berkomitmen pada setiap ekor dombanya sehingga dia ikhlas berlelah-lelah untuk menyelamatkan domba mana pun yang mengalami kesulitan atau hilang. Gembala ini pun akan merasa bahagia apabila domba yang mengalami kesulitan atau hilang itu dapat diselamatkan.

Para nabi Perjanjian Lama seringkali mengibaratkan TUHAN (YHWH) Allah sebagai seorang gembala dalam cara-Nya menjaga Israel: “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” (Yes 40:11). Yesus juga menggunakan gambaran “gembala yang baik” bagi diri-Nya: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh 10:11) dan mencari domba yang hilang (lihat Luk 15:4-5). Santo Gregorius Agung [540-604] menulis bahwa Yesus bahkan “memanggul domba di atas bahunya karena dengan mengambil kodrat manusia, Dia membebani diri-Nya dengan dosa-dosa kita.”

Inilah sesungguhnya makna terdalam dari ungkapan “Yesus adalah gembala kita semua”: Yesus menanggung sendiri dosa-dosa kita semua, bukan hanya segelintir orang yang mencoba untuk menjadi baik, atau sejumlah kecil orang yang telah memiliki kecenderungan-kecenderungan religius. Yesus tidak menolak orang-orang yang dikenal sebagai para pendosa. Yesus tidak menghindari orang-orang yang dipandang rendah oleh orang-orang “terhormat” pada zamannya. Yesus senantiasa mencari kesempatan untuk pergi mencari orang-orang berdosa dan hina dalam masyarakat pada waktu itu. Sebagai akibat dari perjumpaan orang-orang itu dengan Yesus, hidup mereka pun diubah secara dramatis.

Kita tentu masih ingat akan cerita tentang pertobatan Zakheus, bukan? (Luk 19:1-10). Kita pun tentunya tidak akan pernah melupakan cerita tentang perempuan yang kedapatan berzinah (Yoh 8:1-11), dan cerita tentang seorang penjahat yang disalibkan bersama Yesus, namun kemudian bertobat (Luk 23:42-43). Yesus minta kepada kita – para murid-Nya – agar mau ke luar menemui orang-orang seperti tiga orang yang disebutkan di atas. Yesus ingin kita memberkati setiap orang yang kita jumpai, berdoa syafaat bagi mereka, dan mau menunjukkan kepada mereka bela-rasa-Nya bilamana ada kesempatan untuk itu.

Teristimewa dalam masa Adven ini dengan segala macam pertemuan dalam lingkungan dlsb., kita akan mempunyai banyak kesempatan untuk berinter-aksi dengan orang-orang yang memiliki latar-belakang berbeda-beda dengan diri kita sendiri. Kita harus berhati-hati agar jangan cepat-cepat menghakimi mereka, tetapi menyambut setiap orang ke dalam hati kita. Marilah kita memohon kepada Yesus agar mengirimkan “domba-domba yang hilang” kepada kita. Selagi kita melakukannya, maka kita pun akan menemukan diri kita semakin serupa dengan Dia.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau sudi menjadi Gembala yang Baik bagi kami. Selamatkanlah kami semua – domba-domba-Mu, sehingga tidak seorangpun dari kami akan terpisahkan dari-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:12-14), bacalah tulisan yang berjudul ALLAH TIDAK PERNAH MEMBIARKAN KITA BERJUANG SENDIRI-SENDIRI (bacaan tanggal 10-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Desember  2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANPA NODA DOSA

TANPA NODA DOSA

(Bacaan Injil Misa, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA – Senin, 9 Desember 2019)

Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT

Image result for MARY IMMACULATE CONCEPTION"

Catatan: Hari Raya khusus ini dirayakan pada hari ini karena tanggal 8 Desember 2019 bertepatan dengan hari Minggu Adven II.

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: Ef 1:3-6,11-12. 

“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38)

Dalam fiat (persetujuan) Maria kepada Allah ini. Lukas menunjukkan kepada kita secara sekilas hati Maria yang tak bernoda. Penulis Injil ini menunjukkan kepada para pembaca Injilnya sebuah hati yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah – tanpa reserve – yang mengasihi-Nya, dan ingin menyenangkan dan taat kepada-Nya lebih daripada segalanya yang lain. Dikaruniai oleh Allah, dengan bebas Maria merangkul rencana penyelamatan Allah dan rela untuk berkorban apa saja demi terlaksananya rencana tersebut.

Jadi, benarlah – teristimewa pada hari yang istimewa ini – apabila kita menghormati hati Maria yang tak bernoda. Namun benarlah juga apabila pada hari ini kita mengenang hal sama yang menjaga Maria dari efek-efek dosa pada saat ia mulai diperkandung dalam rahim ibunya – keuntungan-keuntungan dari kematian dan kebangkitan Yesus yang kita peroleh pada saat pembaptisan. Ketika kita dibaptis, kita dibasuh bersih dari segala noda dosa, dan surga pun terbuka bagi kita. Roh Kudus menaungi kita, dan Yesus datang untuk hidup dalam hati kita. Kita menjadi mampu memiliki disposisi kasih dan kepercayaan terhadap Allah seperti yang dimiliki oleh Maria. Sesungguhnya, kita semua dapat mempunyai hati yang tak bernoda (Inggris: immaculate heart). Ini bukanlah pernyataan yang berlebihan atau “lebai”!

Tentu saja hal ini tidak akan terjadi secara otomatis. Suatu disposisi seperti yang dimiliki oleh Maria haruslah dibentuk dalam diri kita dengan berjalannya waktu selagi kita melakukan pertobatan atas dosa-dosa kita dan menempatkan diri kita sebagai hamba-hamba yang melayani Allah. Disposisi ini diberi asupan “makanan” setiap kali kita berjumpa dengan Yesus dalam sakramen-sakramen dan dalam doa-doa kita. Disposisi ini akan diperkuat setiap saat kita berjumpa dengan Yesus dalam diri orang miskin dan “wong cilik” pada umumnya.

Kita memang harus berupaya untuk menyingkirkan pikiran-pikiran kita yang penuh kedosaan dan kecenderungan-kecenderungan buruk. Memang upaya seperti ini tidaklah mudah, namun lihatlah ganjaran yang akan kita peroleh kelak! Kita juga dapat memiliki hati yang taat kepada Allah dan senantiasa memiliki komitmen agar rencana Allah menjadi kenyataan. Semakin jauh kita berjalan di atas jalan yang disediakan oleh Yesus, semakin intim pula relasi kita dengan Allah sebagaimana yang telah dialami oleh Maria.

Kita tidak pernah boleh melupakan apa yang telah terjadi atas diri kita pada saat kita dibaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus! Janganlah kita lupa bahwa innocense kita dipulihkan pada saat pembaptisan, demikian juga dengan kemurnian hati, dan kuasa Allah dalam diri kita. Jadi, sebenarnya hati murni seperti yang dimiliki oleh Maria dapat kita miliki juga. Selagi kita berketetapan hati dan terus mengejar kemurnian itu, maka Allah Bapa akan membuat upaya kita itu menjadi kenyataan dalam diri kita.

DOA: Yesus Kristus, aku menyembah Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Aku memuji kebesaran-Mu, ya Allah Pencipta langit dan bumi. Terima kasih penuh syukur kupanjatkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepadaku sebuah hati baru yang tidak lagi digelapkan oleh dosa, melainkan telah dibuat murni oleh darah-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, berikanlah kepadaku kekuatan dan keberanian untuk bekerja sama dengan Engkau dalam pewartaan Injil-Mu kepada dunia di sekelilingku. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:3-6,11-12),  bacalah  tulisan yang berjudul “SEBAGAI PUJI-PUJIAN BAGI KEMULIAAN-NYA” (bacaan tanggal 9-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 6 Desember 2018 [Peringatan S. Nikolaus, Uskup]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM

KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II (Tahun A), 8 Desember 2019)

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makannya belalang dan madu hutan. Lalu datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan. Sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular berbisa. Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapak leluhur kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi sekam itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (Mat 3:1-12)

Bacaan Pertama Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,12-13,17; Bacaan Kedua: Rm 15:4-9 

“Pada waktu itu”  adalah kata-kata yang tidak jelas secara kronologis, namun Matius menggunakan ungkapan ini sebagai suatu tanda bahwa dia sedang menarasikan sejarah suci. Yohanes Pembaptis bukanlah seorang  guru (rabi) dan juga bukan seorang guru hikmat. Ia dalah seorang nabi. Yohanes berpakaian seperti Elias (2Raj 1:8) dengan mana Yesus kemudian mengidentifikasikan Yohanes (Luk 11:13), ia mencintai padang gurun sebagai sebuah tempat perjumpaan dengan Tuhan (1Raj 19:1-18). Namun demikian, tidak seperti Elias, Yohanes menjauhi kota-kota dan ia hanya berkhotbah di padang gurun.

Seperti dikatakan oleh Yesus sendiri, Yohanes itu lebih daripada sekadar seorang nabi (Mat 11:9). Yohanes adalah seorang bentara, seseorang yang mengumumkan suatu peristiwa, yaitu masuknya Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga. Tidak seperti Injil Markus dan Lukas, Matius menaruh pada bibir Yohanes kata-kata sama yang diucapkan Yesus ketika memulai pelayanan-Nya: “Bertobatlah, sebab Kerajaan surga sudah dekat!” (Mat 4:17). Jadi Kabar Baik sudah dimulai dengan Yohanes Pembaptis.

Dengan demikian segalanya dimulai dengan pertobatan. Tidak ada pengalaman akan Kerajaan Surga tanpa pertobatan. Jikalau bagi banyak orang pada zaman modern ini “Kerajaan Surga” terdengar sebagai suatu konsep yang asing, apakah barangkali karena semua itu sekarang begitu jarang dan sedikit sekali kita dengar tentang penghakiman, dosa dan pertobatan? Jalan kepada kebebasan, sukacita dan hidup baru adalah pertobatan dan menerima pengampunan dari Allah.

Namun, pertobatan termaksud harus tulus (lihat Mat 3:7-10).  Dari semua orang yang datang untuk baptisan Yohanes terdapat dua kelompok yang diragukan ketulusan hatinya oleh Yohanes, yaitu orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki. Mereka dijuluki “keturunan ular berbisa” oleh Yohanes.  Mereka mengandalkan garis keturunan mereka dari Bapak Abraham (lihat Yes 51-2), mereka tidak memperhatikan pentingnya melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang akan membuat mereka dapat diterima di mata Allah dan dapat menghadapi penghakiman terakhir dengan baik. Jadi, kita harus menghasilkan buah-buah sesuai dengan pertobatan kita.

Pelayanan Yohanes tidak hanya mempersiapkan masuknya pemerintahan Allah melainkan juga kedatangan “Dia yang lebih berkuasa daripada Yohanes sendiri”, untuk siapa Yohanes tidak layak membawa kasut-Nya sekali pun (lihat Mat 3:11) …… sang Mesias-Hakim.

DOA: Bapa surgawi, belas kasih-Mu adalah tanpa batas. Kami menyembah dan memuji Engkau, karena Engkau mengutus Putera-Mu yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, untuk menebus kami dari semua dosa kami dan juga kematian. Ia-lah juga sang Mesias-Hakim pada pengadilan terakhir kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 3:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT” (bacaan tanggal 8-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan in adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUAIAN MEMANG BANYAK, TETAPI PEKERJA SEDIKIT

TUAIAN MEMANG BANYAK, TETAPI PEKERJA SEDIKIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Ambrosius, Uskup Pujangga Gereja – Sabtu, 7 Desember 2019)

Hari Sabtu Imam

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan.

Ia bersabda: “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu  berikanlah pula dengan cuma-Cuma. (Mat 9:35-10:1.6-8)  

Bacaan pertama: Yes 30:19-21.23-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-6 

Hati manusiawi Yesus tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak. Ia memandang orang banyak itu dengan mata seorang Gembala Baik. Di mata-Nya orang banyak itu terlihat sebagai kawanan domba yang tidak mempunyai gembala. Kita tahu bahwa Yesus memang adalah sang Gembala Baik, namun Injil hari ini menunjukkan bahwa Yesus menginginkan agar kedua belas murid-Nya menjadi gembala-gembala juga. Dia memberi amanat kepada kedua belas murid itu dan mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah. Hal ini menandakan sebuah langkah penting dalam rencana Allah bagi umat-Nya. Hal ini membuat kabar baik tersedia bagi orang-orang yang semakin bertambah dalam jumlah. Pada akhirnya Injil dapat diwartakan secara berkesinambungan dari tahun ke tahun, untuk selama 20 abad setelah peristiwa yang diceritakan dalam Injil ini terjadi.

Mereka yang mewartakan Injil dipanggil untuk bekerja melalui kuat-kuasa Roh Kudus yang memberikan arahan bagi kehidupan kita. Hal ini sebenarnya merupakan pemenuhan janji yang dibuat oleh nabi Yesaya: “… dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: ‘Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya’, entah kamu menganan atau mengiri” (Yes 30:21). Pada waktu Yesus mengutus para rasul, Ia memberikan kepada mereka otoritas yang riil untuk menyembuhkan segala macam penyakit, membangkitkan orang mati, mengusir roh-roh jahat dan lain sebagainya.  Otoritas ini merupakan suatu kesaksian atas kebenaran dari proklamasi Kerajaan Allah. Setelah itu Yesus bersabda: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu  berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8). Yesus mau agar kita turut ambil bagian dalam tugas kegembalaan dengan memberikan kepada orang-orang lain berbagai karunia yang kita telah terima. Untuk tujuan itulah kita perlu merenungkan berbagai  karunia yang ada pada kita.

Karunia anda bisa saja belarasa, misalnya. Apabila anda melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan, katakanlah seorang tetangga yang sakit, hatimu tergerak oleh belas kasihan dan anda pun langsung menolong orang yang sakit itu at all cost  tanpa pamrih. Atau, karunia anda mungkin saja suatu kemauan untuk memperhatikan orang yang memerlukan teman-bicara yang mau mendengarkan curhatnya. Atau, karunia yang ada pada anda adalah mempunyai cukup dana untuk menolong orang miskin dalam bidang keuangan atau memberikan sumbangan untuk kegiatan-kegiatan karitatif. Kita harus sadar, bahwa setiap kali kita menolong orang lain, kita sebenarnya memberikan karunia dari Kristus sendiri. Akhirnya setiap talenta atau apa saja yang kita miliki adalah ikut ambil bagian dalam pribadi Kristus. Oleh karena itu dengan menolong orang-orang lain, kita memberikan karunia dari Kristus sendiri. Dengan mengasihi dan melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada orang yang memerlukan bantuan, kita membuat Kristus menjadi hidup. Kita menjadi suatu Adven yang berkesinambungan, sehingga Kristus selalu mempunyai suatu kelahiran baru dalam dunia kita.

Dapat saja orang berpikir, setelah 2.000 tahun melakukan pewartaan seperti digambarkan dalam Injil (artinya dengan penuh kuat-kuasa Roh Kudus yang diiringi oleh banyak mukjizat dan tanda heran lainnya), maka seluruh dunia mestinya sudah berhasil dipertobatkan oleh Gereja! Memang seyogianya begitu. Sayangnya terdapat kekurangan pekerja, seperti Yesus sendiri katakan: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat 9:37). Bahkan dari mereka yang jumlahnya relatif sedikit ini pun tidak semua dapat menunaikan tugas sebagai pewarta dari sebuah Gereja yang mewartakan (evangelical Church) karena sebagian besar sibuk bertugas mengurusi/memelihara Gereja yang sudah mapan (jadi lebih menekankan Church maintenance). Namun ketidak-berhasilan itu juga dapat disebabkan oleh para pewarta itu sendiri, misalnya tidak terdapatnya product-market match dalam homili/khotbah dan sejenisnya (misalnya homili/khotbah yang tidak membumi di hadapan umat yang kebanyakan terdiri dari para transmigran dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah). Selain itu kegagalan pewartaan dapat juga disebabkan oleh penolakan, sikap apatis, bahkan perlawanan berupa kekerasan atau hostilitas dari pihak-pihak di luar Gereja dll.

Santo Ambrosius [c. 334-397]. Pada hari ini, tanggal 7 Desember, kita memperingati Santo Ambrosius, uskup agung Milano dan salah seorang dari empat orang Bapak Gereja di Barat (Augustinus, Hieronimus, Gregrorius Agung). Sebelum diangkat menjadi uskup, Ambrosius pernah menjadi gubernur provisi Liguria dan Emilia. Ketika dipilih menjadi uskup, Ambrosius belum dibaptis. Namun sejak dia memangku jabatan uskup, seluruh hidupnya diabdikan demi umatnya: Ia tekun mempelajari Kitab Suci; memberikan khotbah setiap hari Minggu dan hari raya gerejawi serta menjaga persatuan dan kemurnian ajaran Katolik. Dengan penuh hikmat-kebijaksanaan dia membimbing kehidupan rohani umat; mengatur ibadah hari Minggu dengan menarik, sehingga umat dapat berpartisipasi secara aktif; mengatur dan mengusahakan bantuan bagi pemeliharaan kaum miskin-papa dan mempertobatkan orang-orang berdosa. Ambrosius adalah seorang uskup yang sangat baik dalam melayani umatnya. Ambrosius memang seorang gembala baik, yang dengan tulus-hati mencoba berusaha meniru sang Gembala Agung, Yesus Kristus. Sebagai seorang pemimpin Gereja, Ambrosius berhasil menyurutkan pengaruh kaum bid’ah Arianisme. Ketika Kaisar Theodosius menumpas pemberontakan dan melakukan pembantaian besar-besaran (genosida), Kaisar dikucilkan dari umat (diekskomunikasikan). Untuk diterima kembali ke dalam Gereja, Kaisar harus bertobat dan mengungkapkan penyesalannya di depan umat.

Ambrosius tak peduli kaisar atau wong cilik, apabila berdosa harus bertobat. “Kalau Yang Mulia meneladan Raja Daud ketika berdosa, maka Yang Mulia harus mencontoh dia pula ketika bertobat!” – “Kepala Negara adalah anggota Gereja, bukan tuannya”, itulah kata-katanya kepada Kaisar.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk merindukan bimbingan-Mu. Buatlah agar telinga kami ingin sekali mendengar firman-Mu dan hati kami haus akan kebenaran, kapan dan di mana saja. Kami mohon agar Roh Kudus-Mu memberdayakan kami lewat karunia-karunia Roh yang diperlukan,  untuk menjadi pewarta Injil yang tangguh ke mana saja kami akan Kaukirim, untuk ikut ambil bagian dalam membangun Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:33-10:1.6-8), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN MEMBERIKAN DIRI KITA KEPADA ORANG-ORANG LAIN”

(bacaan tanggal 7-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama  untuk bacaan tanggal 9-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 5 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JADILAH KEPADAMU MENURUT IMANMU

JADILAH KEPADAMU MENURUT IMANMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Jumat, 6 Desember 2019)

Peringatan Fakultatif S. Nikolaus, Uskup

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31) 

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat 9:27). Dengan kata-kata inilah dua orang buta berseru kepada Yesus. Mereka sadar bahwa mereka terjebak dalam kegelapan, dan mereka mereka memohon dengan sangat kepada sang Rabi dari Nazaret ini – yang mereka rasakan bukan sekadar seorang rabi biasa – untuk mencelikkan mata mereka. Melihat hasrat mereka, Yesus bertanya: “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” (Mat 9:28). Ketika mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya” (Mat 9:28), Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu” (Mat 9:29). Langsung saja mereka meninggalkan kegelapan dan masuk ke dalam terang, semua itu disebabkan iman-kepercayaan mereka bahwa Yesus mampu melakukan sesuatu yang jauh melampaui kemampuan-kemampuan manusiawi.

Dua orang ini adalah sebuah contoh bagi kita, bukan hanya karena iman mereka, melainkan juga karena keterbukaan hati dan fleksibilitas pikiran mereka. Dalam artian tertentu kita semua menderita kebutaan – suatu kebutaan spiritual yang disebabkan tidak mengenal Yesus dan cara-cara-Nya. Kita tidak tahu sampai berapa dalam komitmen Yesus kepada kita, atau sampai berapa kuat Ia dapat bekerja dalam kehidupan kita. Kita semua cenderung untuk mereduksi kehidupan Kristiani kita menjadi seperangkat peraturan “lakukan” dan “jangan lakukan” (do’s and don’ts) sehingga kita luput dari kemungkinan bahwa Yesus mungkin ingin mengejutkan kita dengan sesuatu yang baru dan berbeda. Akan tetapi dua orang buta ini percaya bahwa hanya dengan satu sentuhan saja, Yesus mampu untuk memulihkan penglihatan mereka.

Allah memang ingin mengejutkan kita, membuat kita surprise. Ia ingin menyembuhkan kita dari kebutaan kita dan kekakuan pikiran kita yang terikat pada dunia ini saja. Dia ingin terang-Nya terbit di atas kita sehingga kita dapat diubah dan mulai “melihat” kehidupan tidak seperti sebelumnya, bahkan hal-hal luarbiasa seperti penyembuhan-penyembuhan ajaib – kata kerennya: miraculous healings. Yesus ingin menunjukkan kepada kita bahwa Injil bukanlah seperangkat hukum dan/atau resep, melainkan sebuah undangan kepada suatu relasi pribadi dengan diri-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita menyambut Yesus ke dalam tempat-tempat gelap dalam pikiran kita. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk menyingkirkan cara-cara kita yang kaku dalam berpikir tentang Dia dan Injil-Nya. Sebagaimana dua orang buta dalam bacaan Injil hari ini, marilah kita berseru kepada Yesus mohon belas kasihan dan mohon kepada-Nya untuk membuka mata kita bagi kasih dan kuasa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin melihat. Bukalah mataku agar dapat melihat Engkau dengan lebih jelas lagi. Bukalah hatiku agar dapat mengasihi-Mu secara lebih mendalam. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang luwes-fleksibel, sebuah hati yang selalu siap untuk mengenal Engkau secara baru. Tuhan, kejutkanlah diriku dengan kasih-Mu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 9:27-31], bacalah tulisan yang berjudul “INJIL BUKANLAH SEPERANGKAT HUKUM DAN/ATAU RESEP, MELAINKAN SEBUAH UNDANGAN KEPADA SUATU RELASI PRIBADI DENGAN YESUS” (bacaan tanggal 7-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Desember 2019 [Peringatan Fakultatif S. Yohanes dr Damsyik, Imam Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS