SEBAGAI SAUDARI DAN SAUDARA DALAM KRISTUS

SEBAGAI SAUDARI DAN SAUDARA DALAM KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Kamis, 15 November 2018

Peringatan S. Albertus Agung, Uskup & Pujangga Gereja

FMM: Pesta Wafatnya B. Maria de la Passion, Pendiri Kongregasi FMM

Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku. Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan, tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya kepadamu. Aku, Paulus, yang sudah tua, lagi pula sekarang menjadi seorang tahanan karena Kristus Yesus, mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus. Dahulu memang dia tidak berguna bagimu tetapi sekarang berguna bagimu maupun bagiku. Dia, yang adalah buah hatiku, kusuruh kembali kepadamu. Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil, tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela. Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari engkau, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai budak, melainkan lebih daripada budak, yaitu sebagai saudara seiman yang terkasih; bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.

Kalau engkau menganggap aku saudaramu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri. Kalau dia sudah merugikan engkau atau pun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku. Aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan melunasinya. Sebaliknya jangan kukatakan bahwa engkau juga berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri.

Ya Saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan: Hiburlah hatiku di dalam Kristus!  (Flm 7-20). 

Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10; Bacaan Injil: Luk 17:20-25 

“Aku, Paulus, yang sudah tua, lagi pula sekarang menjadi seorang tahanan karena Kristus Yesus, mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus.” (Flm 9-10)

Selagi menjadi seorang tahanan rumah di Roma, Paulus menulis surat pribadi yang penuh kehangatan ini kepada Filemon. Filemon adalah seorang Kristiani dan dia ini adalah pemilik seorang hamba (budak) yang bernama Onesimus. Beberapa waktu sebelumnya Onesimus sempat melarikan diri dari tuannya dan dia sampai ke Roma. Di Roma inilah Onesimus dipertobatkan melalui pelayanan Paulus. Paulus ingin agar Onesimus kembali ke Filemon dan dia menulis surat pendek ini, mungkin lewat Tikhikus  yang menemani sang budak (lihat Kol 4:7-9).

Pada zaman itu perbudakan masih merupakan bagian dari kebudayaan yang pada umumnya masih diterima, dan kita lihat Paulus tidak menyerang perbudakan sebagai suatu lembaga, atau sebagai suatu sistem budaya, sebagaimana kita melihatnya sekarang dari perspektif dunia modern. Komunitas-komunitas Kristiani pada waktu itu berukuran relatif kecil dan berserakan di seluruh kekaisaran Romawi, sehingga jelas tidak akan mampu melawan lembaga/sistem perbudakan yang tidak adil itu. Namun demikian kalau kita melihatnya dengan lebih teliti, Paulus sebenarnya mengambil posisi yang dapat dinilai revolusioner untuk ukuran zamannya. Dia minta kepada Filemon untuk menerima kembali Onesimus, tidak sebagai seorang budak, melainkan sebagai seorang saudara seiman yang terkasih dalam Kristus (lihat Flm 16).

Paulus melihat bagaimana kesatuan dalam tubuh Kristus melampaui segala macam perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan dalam status/posisi duniawi seseorang, pekerjaan/profesi, status sosio-ekonomis, ras-etnis dan kebangsaan/nasionalitas. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menulis dengan begitu jelas dan gamblang: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28).

Pada hari ini kita semua juga dipanggil ke dalam kebersatuan dalam tubuh Kristus. Meskipun perbudakan bukan merupakan bagian dari pola-pola budaya kita dewasa ini, perpecahan dan prasangka/praduga dapat mendominasi hubungan-hubungan antar-pribadi di dalam sekolah-sekolah kita, paroki-paroki kita, pekerjaan-pekerjaan kita dan bahkan juga dalam keluarga-keluarga kita. Ingatlah bahwa prasangka/praduga yang sudah berurat-akar secara mendalam dengan banyak cara dapat begitu halus dalam penampilannya. Jika kita dengan rendah hati mohon kepada Roh Kudus untuk menyelidiki diri kita, maka kita dapat disadarkan bagaimana kita seharusnya tidak memisahkan diri dari orang-orang lain, karena alasan perbedaan dalam ras/warna kulit mereka, kebangsaan mereka, pekerjaan mereka sehari-hari, latar belakang pendidikan mereka, atau status sosio-ekonomis mereka dalam masyarakat, dll.

Paulus mendorong serta menyemangati Filemon agar dapat memandang Onesimus sebagai seorang saudara sendiri dalam Kristus. Demikian pula kita seharusnya memandang satu sama lain dengan cara yang sama – sebagai saudari dan saudara dalam Kristus. Janganlah hanya pada waktu  “Salam Damai” pada Misa hari Minggu saja kita berakrab-akraban satu sama lain diiringi sekalian dengan cipika-cipiki, tetapi setelah ke luar gereja sudah tidak saling kenal lagi. Kebersatuan sebagai saudari dan saudara dalam Kristus juga seharusnya tidak terbatas pada hari Minggu saja, tetapi harus menjadi praxis iman sepanjang pekan berjalan, yaitu berkelanjutan dari hari Senin sampai ke hari Sabtu juga. Janganlah pada hari saja Minggu kita mencoba menjadi murid Yesus yang baik, dan pada hari-hari kerja menjadi boss yang memiliki sikap dan perilaku sebagai monster jahat.

Kebersatuan sebagai saudari dan saudara dalam Kristus ini harus dimulai dalam keluarga kita masing-masing sebagai sebuah ecclesia domestica (gereja domestik), juga dalam kehidupan lingkungan, wilayah, paroki dst. Ingatlah bahwa kematian Yesus di kayu salib telah memperdamaikan kita dengan Bapa surgawi dan memampukan kita untuk dipersatukan dengan Dia (lihat Ef 2:16). Roh Kudus dapat membuat kebenaran menjadi kenyataan, memberikan kepada kita kemampuan untuk memandang satu sama lain berdasarkan standar-standar persatuan surgawi, bukannya standar-standar duniawi.

DOA: Tuhan Yesus, melalui kematian-Mu di kayu salib, Engkau menunjukkan kasih yang sejati kepada kami dan juga betapa besar hasrat-Mu untuk melihat kami bersatu dalam tubuh-Mu. Melalui Roh Kudus-Mu, ajarlah bagaimana kami dapat mengasihi serta memperhatikan satu sama lain dalam kasih yang sama, sehingga dengan demikian kesatuan tubuh-Mu dapat menjadi bukti nyata bagi semua orang di sekeliling kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH DAN KERAJAAN-NYA ADALAH MISTERI” (bacaan tanggal 15-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 12 November 2018 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

DARI SEPULUH ORANG YANG DISEMBUHKAN YESUS HANYA SEORANG SAJA YANG BERTERIMA KASIH KEPADA-NYA

DARI SEPULUH ORANG YANG DISEMBUHKAN YESUS HANYA SEORANG SAJA YANG BERTERIMA KASIH KEPADA-NYA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 14 November 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19) 

Bacaan Pertama: Tit 3:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem … Kita tidak pernah boleh melupakan konteks ini. Yesus sedang berada dalam perjalanan-Nya yang terakhir … ke Yerusalem, di mana para nabi telah dibunuh: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!” (Luk 13:34). Sebelumnya Dia juga mengatakan: “… tidak semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem” (Luk 13:33). Jalan Yesus adalah jalan salib, dan jalan salib ini sudah dimulai sekitar 2.000 tahun lalu. Yesus melakukan perjalanan ke Yerusalem itu secara bebas, penuh kesadaran, dengan sukarela … meskipun Ia tahu apa yang menunggu-Nya di sana.

Ketika rombongan Yesus memasuki sebuah desa, datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Apa yang dikatakan oleh Hukum Taurat dalam hal orang kusta? “Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya (Im 13:45-46). Sebagai poorest of the poor, biasanya mereka menghormati Hukum. Oleh karena itu mereka berseru-seru dari kejauhan: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Seruan ini adalah ungkapan doa seorang yang sungguh miskin. Kita sendiri selalu mengucapkannya dalam awal Misa; “Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.” Janganlah takut dinilai bodoh kalau kita menyerukan doa sederhana ini.

Dalam Kitab Suci, penyakit kusta seringkali merupakan sebuah simbol dosa – kejahatan yang merusak manusia. Bayangkanlah apa arti dosa di mata Allah. Allah membenci dosa, … namun Dia tidak membenci para pendosa. Maka ketika Yesus melihat kesepuluh orang kusta itu, Dia berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Perintah Yesus ini pun sesuai Hukum yang berlaku: “Inilah yang harus menjadi hukum tentang orang yang sakit kusta pada hari pentahirannya: ia harus dibawa kepada imam , dan imam harus pergi ke luar perkemahan; kalau menurut pemeriksaan imam penyakit kusta itu telah sembuh dari padanya, maka imam harus memerintahkan, supaya bagi orang yang akan ditahirkan itu diambil dua ekor burung yang hidup dan yang tidak haram, juga kayu aras, kain kirmizi dan hisop …” (Im 14:2-4; lengkapnya Im 14:1-32). Di tengah jalan mereka disembuhkan.

Mukjizat kesembuhan yang menyangkut sepuluh orang kusta ini menggambarkan bagaimana Yesus ingin menyembuhkan kita semua, baik secara spritual maupun fisik. Kesepuluh orang kusta itu disembuhkan, namun hanya hanya ada seorang yang kembali kepada Dia yang telah menyembuhkannya sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya (Luk 17:15-16). Satu orang saja yang kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, tanpa rasa malu sedikit pun, karena dia menyadari bahwa ini adalah kesembuhan ilahi. Kalau kita membaca apa yang dikatakan Yesus selanjutnya, maka kita dapat mengatakan bahwa hanya yang satu inilah yang menerima kesembuhan yang lebih mendalam – dalam hatinya (Luk 17:19).

Orang yang satu ini menunjukkan satu sikap hakiki dari seseorang yang diselamatkan: mengucap syukur kepada Allah! Sikap ini juga diminta dari setiap orang yang mengambil bagian dalam Ekaristi (Yunani: Eucharistia) yang artinya adalah pengucapan syukur.  Oleh karena itu marilah kita semua datang ke perayaan Ekaristi dengan hati yang penuh sukacita, penuh kegembiraan sejati karena sangat sadar akan karya-karya Allah yang agung di tengah-tengah umat manusia, di tengah-tengah kita. Sikap penuh syukur memang harus ada dalam hidup sehari-hari seorang Kristiani. Ada sebuah buku bagus dalam rak buku saya dengan judul 10,000 THINGS TO PRAISE GOD FOR. Dalam buku itu dipaparkan contoh contoh mengenai hal-hal untuk mana kita patut mengucap syukur kepada Allah, dari hal-hal yang besar sampai hal-hal yang biasanya kita anggap memang harus begitu, taken for granted, yang terasa tidak ada “istimewa-nya”. Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan dalam perikop ini. Orang yang tahu berterima kasih itu adalah seorang Samaria, mereka yang nista di mata orang Yahudi, tidak murni, tidak asli, non-pribumi! Terima kasih Bapa surgawi, Engkau adalah Khalik langit dan bumi. Dan, Engkau adalah Allah yang sejati karena tidak membatasi bangsa mana yang akan Kauselamatkan.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk dapat mengakui berkat-berkat-Mu atas diriku dan orang-orang lain. Tolonglah aku agar mampu dengan penuh sukacita mensyukuri segala rahmat yang kuterima dari-Mu. Ingatkanlah aku agar setiap malam dapat merenungkan hari yang baru kulalui dan melihat karya-karya tangan-Mu atas diriku pada hari itu, dengan demikian membuat aku dengan penuh sukacita mengucap syukur kepada-Mu seperti orang kusta yang Kausembuhkan dalam perjalanan ke Yerusalem dulu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-19), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANAKAH DENGAN SEMBILAN ORANG YANG DISEMBUHKAN ITU?” (bacaan tanggal 15-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2018 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PANGGILAN UNTUK MELAYANI ALLAH DAN SESAMA

PANGGILAN UNTUK MELAYANI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Selasa, 13 November 2018)

OFM: Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk 17:7-10) 

Bacaan Pertama: Tit 2:1-8,11-14; Mazmur Tanggapan: 37:3-4,18,23,27,29 

Seorang ibu bercerita mengenai pengalamannya berkaitan dengan musik. Sebagai seorang gadis yang masih sangat muda usia, perempuan ini harus berjuang dengan pelajaran pianonya. Baginya penting untuk memainkan nada-nada lagu presis sama seperti tertulis dan untuk mengikuti semua nuansa yang diberikan dalam notasi-notasi. Kesalahan-kesalahan dirasakan olehnya sebagai kegagalan pribadi. Menyadari siapa dirinya, perempuan itu hanya bermain piano secara privat, kecuali kalau diminta untuk resital/pertunjukan.

Pengalaman yang “menyakitkan” dengan piano ini datang kembali ketika anak perempuannya mulai belajar piano juga. Namun tidak seperti sang ibu, puterinya itu maju dengan pesat dalam pelajaran pianonya. Perempuan itu mengatakan, bahwa tidak susah baginya untuk melihat mengapa. Cinta anak perempuannya itu pada musik datang dari kedalaman hatinya, dan walaupun setia dengan komposisi sebuah lagu, anak ini mempunyai bakat untuk memperkenankan musiknya mengalir melalui dirinya. “Hasilnya sungguh jauh lebih manis daripada apapun yang pernah kuhasilkan dengan penuh ketaatan pada setiap nada dan instruksi pada setiap lembaran lagu”, ujar sang ibu.

Sebagai para hamba/pelayan Tuhan, kita diundang untuk bermain “musik” juga – “musik pelayanan penuh kasih bagi orang-orang di sekeliling kita”. Apabila kita melaksanakan tugas-tugas kita hanya berdasarkan kewajiban, maka efeknya dapat seperti sesuatu yang dipaksakan dan tanpa roh. Sebaliknya, apabila kita menyerahkan diri kita sepenuhnya ke dalam tangan-tangan penyelenggaraan Allah dan dipenuhi dengan kasih-Nya, maka Dia akan membebaskan kita dari kesibukan  yang membuat musik kehidupan kita begitu melelahkan. Selagi kita  menyediakan waktu untuk bersama dengan Tuhan dalam doa, maka kehangatan kasih-Nya memperlembut hati kita dan mulai mengalir melalui diri kita.

Panggilan kita untuk melayani Allah dan umat-Nya bukanlah seperti musik yang harus kita terus praktekkan agar menjadi sempurna. Sebaliknya, kita belajar bagaimana melayani tanpa mengingat kepentingan kita sendiri dengan sekadar melakukannya, yaitu dengan melakukan pelayanan tanpa pamrih itu. Melodinya menjadi lebih baik setiap kali kita menolong keluarga kita, secara bijaksana bekerja sebagai pembawa damai dalam lingkungan di mana kita hidup, atau dengan sabar mendengarkan curhat dari seorang sahabat yang membutuhkan bantuan, dlsb. Apabila kita mendekat pada kasih Tuhan yang begitu menyegarkan, maka pelayanan kita pun akan jauh lebih baik daripada apa saja yang kita lakukan karena melihatnya sebagai sekadar tugas.

SUSTER-SUSTER FMM IN ACTION

Kita semua adalah para musisi yang tak pantas untuk memainkan madah kasih dari Allah. Namun apabila kita menjaga keseimbangan antar doa dan pelayanan dalam hidup kita, maka Dia akan mentransformasikan cara kita yang lemah/buruk dalam membawakan lagu-Nya menjadi sebuah lagu yang membawa sukacita-Nya ke tengah dunia.

DOA: Yesus, Engkau adalah hamba yang taat dari Bapa surgawi melalui kasih yang sempurna. Tolonglah kami agar dapat mengenal kasih-Mu dalam doa-doa kami dan dalam tindakan-tindakan kami. Berikanlah hati kami kepada kami, sehingga dengan demikian lewat diri kami orang-orang lain dapat mengenal kasih-Mu juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “BIARLAH KRISTUS MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU LAKUKAN SELANJUTNYA” (bacaan tanggal 14-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2018 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENANGGAPI PANGGILAN YESUS UNTUK MENGAMPUNI

MENANGGAPI PANGGILAN YESUS UNTUK MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yosafat, Uskup Martir – Senin, 12 November 2018)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tidak mungkin tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat dosa, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini berbuat dosa. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17:1-6) 

Bacaan Pertama: Tit 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Menurut standar-standar yang digunakan para rabi Yahudi, apabila seseorang akan mengampuni seorang pribadi sebanyak tiga kali, maka dia akan dipandang sebagai seorang pribadi manusia yang sempurna. Sekarang ada Yesus yang mengajar para murid-Nya bahwa mereka harus mengampuni bukan hanya satu kali, tidak hanya tiga kali, melainkan tujuh kali – yang dapat diartikan senantiasa mengampuni! Di tempat lain, malah Yesus menanggapi pertanyaan Petrus tentang pengampunan: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22). Memang kelihatan tidak mungkin, namun bukankah Yesus telah menunjukkan kepada mereka melalui berbagai mukjizat dan pengajaran-Nya bahwa apa yang kelihatan tidak mungkin bagi manusia sebenarnya mungkin dengan Allah?

Setelah mendengar bahwa mereka harus bertanggung jawab karena tidak mengampuni, para murid pun berseru: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5). Seperti para murid Yesus yang awal tersebut, kita pun tahu betapa berat untuk mengatasi rasa sakit hati dan ketidakadilan yang ditimpakan atas diri kita oleh orang lain.

Kadang-kadang memang kelihatan tidak mungkin, namun di kedalaman hati kita, kita tahu betapa luasnya dampak dari kuat-kuasa pengampunan yang ditunjukkan oleh Yesus. Dan, seperti para murid-Nya dahulu, penambahan imanlah yang kita butuhkan. Panggilan untuk mengampuni mungkin kelihatan sama tidak mungkinnya dengan memindahkan sebatang pohon ara hanya dengan satu-dua patah kata. Namun Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dengan iman yang paling kecil pun kita dapat mewujudkan hal-hal besar.

Kita dapat minta kepada Yesus untuk menambahkan iman kita dengan membuka mata kita agar dapat memusatkan pandangan kita pada kuat-kuasa-Nya dan kehadiran-Nya dalam diri kita. Semakin kita menginternalisasi kepercayaan kita bahwa diri kita tidak kurang daripada bait-bait Roh Kudus, maka semakin yakinlah kita bahwa menanggapi panggilan-Nya untuk mengampuni merupakan suatu kemungkinan yang memang riil.

Apakah ada sebuah luka lama dlsb. yang menyebabkan kita belum mampu untuk mengampuni seseorang yang mendzolomi diri kita? Kalau begitu halnya, baiklah kita berkata kepada Yesus, “Ini tidak mungkin bagiku! Namun bagi-Mu, Yesus, semua hal adalah mungkin. Kuserahkan isu ini kepada-Mu dan aku mohon Kauberikan rahmat dan kuat-kuasa untuk mengampuni.” Bisa saja pada tahapan awal kita hanya dapat memohon kepada Allah untuk membuat diri kita bersedia untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Yesus akan menolong kita dalam mengambil langkah selanjutnya dalam perjalanan menuju pengampunan yang lengkap.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk belas-kasih-Mu yang begitu besar kepada umat manusia dengan mengutus Putera-Mu yang tunggal. Melalui pengorbanan-Nya yang besar di atas kayu salib, Ia telah mengampuni dan membersihkan diriku secara lengkap. Sekarang, ya Bapa yang baik, aku memohon agar Engkau sudi menolong diriku untuk mengampuni orang-orang lain sepenuh Engkau telah mengampuni diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “SEMANGAT PERSAUDARAAN DALAM HATI KITA” (bacaan tanggal 12-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 November 2017 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA BELAJAR DARI JANDA-JANDA MISKIN YANG SANGAT KAYA DALAM IMAN

MARILAH KITA BELAJAR DARI JANDA-JANDA MISKIN YANG SANGAT KAYA DALAM IMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [TAHUN B] – 11 November 2018) 

Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata, “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat yang terbaik di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan mereka mengelabui mata orang dengan mengucapkan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:38-44) 

Bacaan Pertama: 1Raj 17:10-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10; Bacaan Kedua: Ibr 9:24-28

Baik Bacaan Injil maupun Bacaan Pertama hari ini menunjukkan kepada kita pribadi-pribadi yang menaruh kepercayaan sangat mendalam pada Allah. Bacaan-bacaan ini menunjukkan janda-janda miskin yang sangat kaya dalam iman dan rasa percaya mereka pada Allah. Dua orang janda ini mengetahui dan sangat percaya dalam hati mereka bahwa Allah sangat sanggup untuk menyediakan segala kebutuhan mereka.

Bacaan-bacaan ini “memaksa” kita untuk bertanya, jika Allah dapat memperhatikan dengan baik dua perempuan ini – yang barangkali mempunyai kebutuhan lebih besar daripada kita – bukankah Ia jauh lebih mampu untuk memperhatikan kebutuhan kita juga? Dia telah berjanji untuk senantiasa berada bersama kita dan tidak akan pernah meninggalkan kita. Komitmen Allah kepada kita bersifat total! Allah senantiasa memperhatikan kepentingan kita yang terbaik dan Ia ingin agar kita menaruh kepercayaan pada-Nya bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita. Bukankah  Ia lebih daripada mampu untuk menolong kita, baik secara fisik maupun secara rohani?

Jika kita mempertimbangkan kasih Allah yang tanpa batas dan juga kuat-kuasa-Nya, maka hal tersebut dapat membuang rasa khawatir tak berguna yang sering mengganggu kita. Permenungan atas realitas-realitas Allah dapat mengangkat pikiran-pikiran kita dan meyakinkan kita bahwa kita sungguh dapat menaruh kepercayaan pada Tuhan, apa pun situasi yang kita hadapi. Misalnya, pikirkanlah fakta bahwa Bapa surgawi memiliki sumber daya tanpa batas, atau bahwa Dia memahami hidup kita luar-dalam. Ingatlah janji bahwa Roh-Nya hidup di dalam diri kita dan terus saja melayani kita masing-masing. Yesus mengajar kita untuk memperhatikan burung-burung di langit dan bunga bakung di ladang. Jika Allah begitu memperhatikan dua ciptaan-Nya tersebut, maka tentunya jauh lebih besar perhatian-Nya atas diri kita dan segala hal yang kita hadapi (lihat Mat 6:25-33).

Karena kita memiliki pengharapan sedemikian, marilah kita kerahkan energi kita untuk menyebarkan Injil, melayani orang-orang di sekeliling kita, dan mengasihi Yesus. Dalam Misa Kudus hari ini, marilah kita mengingat betapa besar, mulia dan agung Allah kita itu dan betapa tanpa-batas segala sumber daya yang dimiliki-Nya. Persekutuan kita dengan Tuhan dalam Ekaristi pada hari ini dapat menarik kita ke dalam rasa percaya yang lebih mendalam lagi pada-Nya dan dapat memberdayakan kita untuk melangkah ke luar guna mensyeringkan kasih-Nya dengan orang-orang lain. Saudari dan Saudaraku, marilah kita membuka hati kita masing-masing bagi Dia!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah andalanku. Engkau pantas untuk dipercaya, karena Engkau memiliki otoritas penuh di dalam surga dan di atas bumi. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil alih hidupku ke dalam tangan-tangan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “TINDAKAN KASIH PENUH IMAN SEORANG JANDA MISKIN” (bacaan tanggal 11-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 November 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMANFAATKAN HARTA KEKAYAAN KITA DENGAN SEBAIK-BAIKNYA

MEMANFAATKAN HARTA KEKAYAAN KITA DENGAN SEBAIK-BAIKNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Leo Agung, Paus & Pujangga Gereja – Sabtu, 10 November 2018)

 

Aku berkata kepadamu: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, mendengar semua ini, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk 16:9-15) 

Bacaan Pertama: Flp 4:10-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-6,8,9

Yesus mempunyai cara-Nya sendiri untuk mengkaitkan prinsip-prinsip teoritis dengan hidup-praktis, hal mana terkadang membuat orang merasa tidak nyaman. Pada zaman kita sekarang, misalnya, banyak orang merasa tidak nyaman kalau masalah keuangan/harta kekayaan dimunculkan berbareng dengan hal-ikhwal hidup rohani. Hidup Kristiani menuntut bagaimana kita harus berurusan dengan uang/harta dan selalu memeriksa batin kita apakah ada keserakahan dalam keputusan yang kita ambil dalam bidang keuangan/harta kekayaan.

Yesus mengajar agar kita memanfaatkan harta duniawi kita dengan sebaik-baiknya (Luk 16:9). Ajaran Yesus ini ditempatkan oleh Santo Lukas di antara tiga perumpamaan yang menyangkut usaha manusia untuk “bersahabat” dengan menggunakan uang dan kekayaan duniawi. Yang pertama adalah “perumpamaan tentang anak yang hilang” (Luk 15:11-32); yang kedua adalah “perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur” (Luk 16:1-9); dan yang ketiga adalah “perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin” (Luk 16:19-31).

Anak yang hilang itu seorang pemboros yang menghabiskan segala harta miliknya dengan hidup berfoya-foya (lihat Luk 15:13). Di lain pihak orang kaya yang tidak mempunyai empati samasekali terhadap Lazarus menjalani suatu kehidupan yang serba mewah (lihat Luk 16:19). Kedua “tokoh” atau “oknum” ini memanfaatkan uang dan harta milik mereka untuk kepuasan diri sendiri, dan dengan harta-milik mereka membentuk, membangun/menjalin jaringan pertemanan (Luk 15:30; 16:19). Pada saat uang habis atau maut menjemput, maka tidak ada teman-teman lagi untuk berfoya-foya. Yang ada hanyalah penderitaan dan “kesakitan” (lihat Luk 16:25; 15:17), bukannya “diterima dalam “kemah abadi” (Luk 16:9).

Bagaimana dengan “bendahara yang tidak jujur”? Justru dialah yang dipuji oleh Yesus (Luk 16:8) dalam menggunakan harta kekayaan duniawi. Mungkin hal ini disebabkan karena orang ini mampu memberi tanggapan terhadap krisis keuangan di mana dia menyederhanakan pola hidupnya, bukan dengan memanjakan diri melainkan dengan menolong sesama.

Salah satu tafsir ayat-ayat itu ialah bahwa si bendahara itu mencoret komisi (tak resmi) yang sebenarnya dIa terima dengan memperkecil jumlah uang di surat tanda terima atas nama tuannya (Luk 16:5-7). Maka tuannya sebenarnya hanya sedikit atau sama sekali tidak kehilangan sedikit pun dan ia sendiri memperoleh simpati besar  dari para debitur (mereka yang berutang). Yang berutang tentu saja senang sekali membayar kembali dengan jumlah tagihan yang lebih kecil. Maka bendahara itu sebenarnya yang menanggung rugi, sedangkan yang lain beruntung. Karena telah berhasil memperkaya teman-teman (para debitur) maka bendahara itu mendapat berkat dari teman-teman itu karena mereka bersedia membantu apa yang ia butuhkan (Luk 16:4).

Apa yang digarisbawahi oleh Yesus di sini bukanlah untuk menjadi orang yang tidak jujur, melainkan lebih-lebih bagaimana orang harus memanfaatkan uang atau harta kekayaan guna menguntungkan sesama dan pada saat sama tetap memenuhi kebutuhan pokok dirinya sendiri.

DOA: Bapa surgawi, ajarlah aku selalu agar benar-benar bijak dalam menggunakan harta kekayaan yang Kau anugerahkan kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:9-15), bacalah tulisan berjudul “ALLAH INGIN MENUNJUKKAN KEPADA KITA DI MANA PRIORITAS KITA SESUNGGUHNYA” (bacaan tanggal 10-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11  BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

Cilandak, 8 November 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIRI KITA HARUS MENJADI BAIT ALLAH YANG SEJATI DAN HIDUP

DIRI KITA HARUS MENJADI BAIT ALLAH YANG SEJATI DAN HIDUP

(Bacaan Kedua Misa Kudus, Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran – Jumat, 9 November 2018)

Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun diatasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu sekalian. (1Kor 3:9b-11,16-17) 

Bacaan Pertama: Yeh 47:1-2,8-9,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9; Bacaan Injil: Yoh 2:13-22

Setiap  bangunan gereja adalah sebuah simbol, lambang, sebuah pesan yang disusun dalam bentuk batu-batu, yang menunjuk kepada realitas-realitas spiritual. Pada hari ini Gereja Katolik Roma merayakan dedikasi/pemberkatan sebuah bangunan gereja istimewa, gereja basilik Santo Yohanes Lateran, gereja katedral untuk keuskupan Roma.

Gereja ini adalah sumbangan Kaisar Konstantinus Agung dan didedikasikan pada tanggal 9 November 324. Sampai hari ini gereja Yohanes Lateran tetap berfungsi sebagai gereja katedral Paus dalam kapasitasnya sebagai uskup Roma. Gereja ini melambangkan kesatuan Sri Paus dengan umat di sekelilingnya (yang terdekat) dan juga dengan semua orang Kristiani yang berada dalam persekutuan dengan dirinya di seluruh dunia. Dengan demikian, kita (anda dan saya) merayakan pesta ini bukanlah sebagai pengamat dari luar, melainkan sebagai anggota-anggota dari Tubuh yang satu, yang dipersatukan oleh Roh Kudus dan dipanggil kepada suatu hidup kekudusan.

Berkomentar atas peranan kita sebagai anggota-anggota Gereja Kristus, Santo Caesarius dari Arles (c.470-542) mengatakan sebagai berikut:

“Kita … harus menjadi bait Allah yang sejati dan hidup … Pada saat kelahiran kita yang pertama, kita adalah bejana-bejana kutukan Allah; dilahirkan kembali, kita menjadi bejana-bejana belas kasih-Nya. Kelahiran kita yang pertama membawa kematian bagi kita, sedangkan kelahiran kita yang kedua memulihkan diri kita kepada kehidupan.

Saudari-Saudaraku umat Kristiani, apakah kita ingin merayakan dengan penuh sukacita kelahiran bait ini? Maka marilah kita tidak merusak bait Allah yang hidup dalam diri kita oleh kerja kejahatan … Manakala kita datang ke gereja, kita harus menyiapkan hati kita agar menjadi seindah harapan kita atas gereja tersebut. Apakah anda menginginkan agar basilika ini sungguh bersih tanpa noda? Kalau begitu, janganlah mengotori jiwa anda dengan noda-noda dosa. Apakah anda menginginkan basilika dipenuhi terang cahaya? Allah pun menginginkan agar jiwa anda tidak berada dalam kegelapan, tetapi terang pekerjaan-pekerjaan baik bercahaya dalam diri kita, agar dengan demikian Ia yang berdiam dalam surga akan dimuliakan. Sama seperti anda memasuki bangunan gereja ini, demikian pula Allah ingin masuk ke dalam jiwa anda” (Sermon, 229).

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah mengundang keluarga umat manusia untuk bergabung dalam kawanan-Mu, Gereja. Engkau telah membuat kami masing-masing menjadi bait-Mu dan mengutus Roh Kudus-Mu untuk berdiam dalam diri kami (1Kor 3:16). Kami memuji Engkau untuk semua perbuatan kasih-Mu, dan kami mohon Engkau melanjutkan pencurahan rahmat-Mu ke atas umat-Mu dan memberkati Bapa Suci, yang telah Engkau panggil untuk menjadi pengurus/penjaga “bangunan” (1Kor 3:9). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yeh 47:1-2,8-9,12), bacalah tulisan yang berjudul “PEMENUHAN VISI ALLAH TENTANG BAIT-NYA” (bacaan tanggal 9-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS