ALLAH YANG PENUH KOMITMEN KEPADA ANAK-ANAK-NYA

ALLAH YANG PENUH KOMITMEN KEPADA ANAK-ANAK-NYA

(Bacaan Pertama Misa, Hari Biasa Pekan II Adven – Selasa, 6 Desember 2016) 

isaiah_bible_cardHiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepada-Nya, bahwa perhambaannya sudah  berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab  ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN (YHWH) dua kali lipat karena segala dosanya.

Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk YHWH, luruskanlah di padang belantara raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan  dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus  menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan YHWH akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, YHWH sendiri telah mengatakannya.”

Ada suara yang berkata: “Berserulah!” Jawabku: “Apakah yang harus kuserukan? “Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila YHWH menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita untuk selama-lamanya.”

Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!” Lihat, itu

Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati. (Yes 40:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13; Bacaan Injil: Mat 18:12-14 

“Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan …” (Yes 40:10).

Kata-kata seperti “kuasa” dan “kekuatan” dapat menciptakan dalam pikiran kita gambaran tentang seorang pribadi atau sekelompok orang yang mencoba untuk memaksakan niat-niat atau kehendak-kehendak mereka atas orang lain atau kelompok lain yang tidak/kurang setuju dengan niat-niat atau kehendak-kehendak tersebut. Kita biasanya tidak mengasosiasikan kata-kata ini dengan gambaran seorang gembala yang dengan lemah lembut memangku seekor anak domba dlsb. (lihat Yes 40:10-11). Namun ini adalah gambaran yang diberikan Allah tentang kuasa dan kekuatan-Nya.

Keluar dari dan didorong oleh kasih-Nya yang berlangsung terus, Allah merancang, menciptakan dan menebus kita masing-masing. Segenap ciptaan adalah objek dari kasih Allah, dan kita adalah mahkota dari ciptaan Allah. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (Putera Allah yang tunggal), Allah telah menjanjikan kepada kita masing-masing suatu hidup baru di atas bumi dan hidup kekal di surga.

Cima_da_Conegliano,_God_the_FatherKita dapat saja tergoda untuk merasa takjub dan heran akan kasih Allah dan belas kasih-Nya mengingat betapa seriusnya kedosaan kita masing-masing. Terus terang saja, kita semua adalah pendosa-pendosa. Akan tetapi rencana-rencana Allah tidak pernah dapat digagalkan oleh dosa kita. Salib Kristus bukanlah suatu perubahan rancangan Allah yang dibuat pada menit-menit terakhir karena keadaan darurat, yang disebabkan oleh kejatuhan manusia disebabkan oleh godaan-godaan Iblis. Ingatlah bahwa Allah bukanlah “seorang” Pribadi yang dapat dibuat terkaget-kaget dengan perubahan dalam peristiwa-peristiwa. Sebagaimana dengan segala hal yang dilakukan-Nya, Allah bertindak karena didorong kasih-Nya yang murni, yaitu dengan menyelamatkan kita melalui salib Putera-Nya yang terkasih.

Allah tidak pernah meninggalkan atau membuang kita supaya kita berjuang sendiri-sendiri dalam menghadapi segala perkara. Dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi, orang-orang telah mengalami keadilan Allah dan belas kasih-Nya selagi mereka mengambil keputusan dan bertindak berbalik dari dosa serta memperkenankan Dia untuk memulihkan mereka kepada kasih-Nya. Allah sekali-kali tidak membuang kita, melainkan secara intim melibatkan diri-Nya – sejak awal – dalam proses realisasi rencana-rencana-Nya. Kita dapat membayangkan bagaimana mata Allah terus-menerus memandang Putera-Nya, sambil mengantisipasi momen yang sempurna untuk mengutus Putera-Nya itu ke tengah dunia guna menyelamatkan kita-manusia. Jadi, semua adalah karena kasih-Nya.

Yesus datang ke tengah-tengah umat manusia sebagai seorang bayi tak berdaya, namun Ia menebus kita sebagai seorang Pribadi yang kuat-perkasa. Sekarang Ia telah bangkit dalam kemuliaan; memiliki kuat-kuasa untuk mengampuni dosa dan mencurahkan Roh-Nya ke dalam hati kita masing-masing. Pada suatu hari kelak, Ia akan kembali untuk membawa kepada kita ke dalam suatu relasi yang komplit dan intim dengan diri-Nya. Ini bukanlah pekerjaan dari jarak jauh yang dilakukan “seorang” Allah yang kurang mau tahu urusan umat-Nya. Dia tidak pernah berkata: EGP! (Emangnya gue pikirin!). Ia adalah “seorang” Allah yang penuh komitmen, tak dapat kita bayangkan, … karena Dia adalah sang “Mahalain”.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa Engkau adalah “seorang” Allah Yang Mahaperkasa. Biarlah kasih-Mu membasuh diriku, agar supaya sungguh bersih dari dosa-dosaku. Perkenanlah Roh Kudus-Mu senantiasa mengajar dan membentuk aku menjadi semakin serupa dengan Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:12-14), bacalah tulisan yang berjudul “DOMBA YANG HILANG” (bacaan tanggal 6-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-12-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Desember 2016 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI WAHAH/OASIS DI TENGAH PADANG GURUN

MENJADI WAHAH/OASIS DI TENGAH PADANG GURUN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Senin, 5 Desember 2016) 

libya_oasis_c02043413d2e475a807f80f8f0937583

Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN (YHWH), semarak Allah kita. 

Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”

Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan. Di situ akan ada jalan raya yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya. Di situ tidak akan ada singa, binatang buas tidak akan menjalaninya dan tidak akan terdapat di sana; orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ, dan orang-orang yang dibebaskan YHWH akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh. (Yes 35:1-10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan Injil: Luk 5:17-26

“…… mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara”  (Yes 35:6).

Pernahkah anda bertemu dengan seseorang  yang masuk ruang kantor anda atau ruang rapat dan segera mengubah atmosfir hanya dengan kehadirannya? Suasana yang tadinya menegangkan menjadi rileks dan tenang, yang tadinya letih lesu menjadi bersemangat lagi, dst. Tidakkah anda ingin menjadi seorang pribadi seperti itu?

Allah ingin membuat kita masing-masing menjadi semacam wahah/oasis rohani bagi orang-orang lain, seorang pribadi yang kehadirannya semata mampu mengubah suatu situasi atau bahkan atmosfir dari sebuah tempat. Yang lebih meningkatkan semangat kita adalah kenyataan bahwa Dia lebih daripada sekadar mampu untuk mentransformasikan kita sehingga kita memancarkan damai sejahtera, kebaikan hati, kasih, dan semua buah Roh Kudus. Kita sendiri mungkin tidak menyadari hal tersebut, namun padang gurun dan padang kering seperti yang dikatakan Yesaya termasuk juga orang-orang yang kita temui setiap hari. Kita dapat membawa hal-hal yang dapat menyegarkan mereka kembali, dan juga istirahat bagi mereka yang paling membutuhkannya.

ROHHULKUDUSJadi, bagaimana caranya kita dapat menjadi wahah/oasis rohani? Satu cara yang pasti adalah dengan memfokuskan perhatian kita pada kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, dengan memfokuskan pada apa yang tidak kelihatan, bukan pada hal-hal yang kelihatan. Santo  Paulus mengatakan: “Kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang  tidak kelihatan adalah kekal” (2 Kor 4:18).

Dalam kehidupan kita di atas bumi ini, kita dapat dengan mudahnya terbiasa dengan gerakan turun-naik kekuatan spiritual/rohani kita. Pada hari tertentu kia merasa begitu dekat dengan Tuhan, namun esok harinya Dia seakan begitu jauh dari kita. Akan tetapi, jika Yesus datang kembali kelak, Ia akan menjadi segala dalam segalanya, dan semua penghalang yang ada antara Dia dan kita akan dibuang jauh-jauh. Rasa sedih dan pedih akan menghilang, dan setiap tetes air mata akan dihapus. Seperti dikatakan oleh Yesaya, “sukacita abadi akan meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh” (Yes 35:10).

Selagi kita (anda dan saya) menjalani rutinitas kita pada hari ini, marilah kita berefleksi seperti ini untuk membayangkan gambaran seperti apa yang ada pada saat Yesus datang kembali. Pada waktu kehidupan kita menjadi sulit, marilah kita mencoba untuk mengingat bahwa hidup ini dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya bersifat sementara, namun Allah telah mempersiapkan sebuah tempat kediaman bagi kita masing-masing. Marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk menolong kita, dan kita pun akan melihat bahwa Allah menggunakan kita untuk menyemangati dan mendorong orang-orang di sekeliling kita, juga menyegarkan dan memperkuat mereka. Dengan begitu, kita (anda dan saya) akan menjadi seperti wahah/oasis di tengah padang gurun.

DOA:  Tuhan Yesus, datanglah dan dirikanlah pemerintahan-Mu. Biarlah air pemberi kehidupan dari-Mu mengalir melalui diriku  kepada orang-orang lain yang kutemui. Semoga Engkau senantiasa ditinggikan di dalam surga maupun diatas bumi. Terpujilah nama-Mu yang kudus dan penuh belas kasih, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:17-26), bacalah tulisan yang berjudul “WAJAH SEJATI ALLAH ADALAH KASIH ALLAH YANG MENGAMPUNI” (bacaan tanggal 5-12-16) dalam situs SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Desember 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERSIAPKAN HATI UMAT ALLAH AKAN KEDATANGAN SANG MESIAS

MEMPERSIAPKAN HATI UMAT ALLAH AKAN KEDATANGAN SANG MESIAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II (Th. A), 4 Desember 2016)

john-baptist-lds-art-parson-39541-printPada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makannya belalang dan madu hutan. Lalu datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan. Sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular berbisa. Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapak leluhur kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi sekam itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (Mat 3:1-12)

Bacaan Pertama: Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,12-13,17; Bacaan Kedua: Rm 15:4-9 

Santo Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi di Israel yang tersohor, nomor dua saja sesudah Elias, seorang nabi besar yang hidup sembilan abad sebelumnya. Apakah yang menyebabkan begitu banyak orang datang kepada seorang nabi yang suka menunjuk-nunjuk kesalahan orang dan mengenakan baju dari kulit binatang? Jawabnya: Panggilannya agar supaya orang-orang bertobat! Ketika Yohanes Pembaptis mengatakan kepada para pendengarnya supaya meninggalkan hidup dosa, dia juga menawarkan kepada mereka pengharapan segar dengan janji-janji pemulihan. Allah ingin melakukan sesuatu yang lebih daripada sekadar mengampuni dosa-dosa kita-manusia. Allah ingin membuka pintu gerbang surga dan mencurahkan orang-orang dengan Roh Kudus-Nya. Oleh Roh ini, Allah ingin membawa orang-orang ke suatu tingkat baru penyembuhan, rekonsiliasi, dan damai-sejahtera.

Tugas Yohanes Pembaptis adalah untuk mempersiapkan hati umat Allah akan kedatangan sang Mesias. Dengan kata-kata yang keras dan seruan agar orang-orang bertobat, dia mendorong para pendengarnya untuk menyambut sang Mesias dengan iman dan ketaatan.

stjohnMasa Adven dimaksudkan untuk menjadi suatu masa bagi kita guna mendengar kata-kata Yohanes Pembaptis dan untuk mempersiapkan hati kita sendiri bagi Yesus juga. Setiap hari Yesus mengundang kita untuk semakin dekat dengan diri-Nya, sehingga dengan demikian kita dapat mengembangkan suatu persahabatan yang akrab dengan Dia dan menjadi kudus, seperti diri-Nya adalah kudus. Nah, apakah yang dapat menghalang-halangi keakraban ini? Jawabannya: Dosa, rasa takut, sikap masa bodoh terhadap Allah, ketiadaan bela-rasa terhadap orang-orang lain – inilah beberapa penghalang yang lebih besar. Itulah sebabnya mengapa seruan Yohanes Pembaptis agar orang-orang bertobat menjadi begitu penting.

Allah ingin membebas-merdekakan kita dari segala sesuatu yang menghalangi kita dari tindakan berupa penyerahan diri kita secara total kepada kasih-Nya dan kehendak-Nya. Melalui pertobatan, Ia ingin memimpin kita ke luar dari rasa bersalah kita, alienasi, dan rasa malu kita, dan masuk ke dalam sukacita dan kemerdekaan. Apabila kita menyesali dosa-dosa kita dan bertobat, maka pintu gerbang surga akan dibuka bagi kita, dan relasi kita dengan Yesus dipulihkan dan diperdalam. Dalam pertobatan, kita membuang selubung kebingungan dan desepsi yang telah dirajut oleh dosa dalam hati kita dan kita pun dimampukan untuk melihat keindahan kebenaran dan kebaikan Allah. Hati dan pikiran kita diangkat ke surga, dan kita dapat melihat sekilas lintas Kerajaan Allah. Visi itu memenuhi hati kita dengan pengharapan.

Pada masa Adven ini, marilah kita ambil sedikit waktu untuk memeriksa hidup kita dalam terang kebenaran Allah dan kasih-Nya. Janganlah kita menghindari Sakramen Rekonsiliasi, melainkan rangkullah sakramen itu demi segala rahmat dan kuat-kuasa yang ditawarkan sakramen itu kepada kita.

DOA: Bapa surgawi, belas kasih-Mu adalah tanpa batas. Kami menyembah dan memuji Engkau, karena Engkau mengutus Putera-Mu yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, untuk menebus kami dari semua dosa kami dan juga kematian. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 3:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM” (bacaan tanggal 4-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AMANAT YANG DIBERIKAN YESUS KEPADA PARA MURID-NYA

AMANAT YANG DIBERIKAN YESUS KEPADA PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Fransiskus Xaverius – Sabtu, 3 Desember 2016) 

jesus_christ_image_075Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam  bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka; merek akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. (Mrk 16:15-20) 

Bacaan Pertama: 1Kor 9:16-19,22-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2 

Bacaan hari ini adalah tentang kenaikan Tuhan Yesus. Namun kita hanya dapat memahami peristiwa kenaikan Tuhan ini, apabila kita melihatnya dalam kaitan dengan peristiwa-peristiwa sentral lainnya dalam kehidupan Yesus Kristus.

Karena kasih Bapa surgawi, Yesus Kristus diutus ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian kekal. Ia lahir sebagai salah seorang dari kita, umat manusia. Lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus menang-berjaya atas dosa dan kematian kekal, dan kemenangan-Nya itu dimanisfestasikan dalam kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Yesus mengalami kegelapan dunia kematian dan pada hari ketiga Dia bangkit dengan jaya. Namun Yesus tidak bangkit hanya untuk mengambil kembali keberadaan-Nya di atas muka bumi yang telah dimulai-Nya pada saat kelahiran-Nya di Betlehem. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan, bahwa dia bangkit dari kematian dan masuk ke dalam suatu kehidupan surgawi yang baru. Kenaikan Tuhan Yesus ke surga berarti kembalinya Dia kepada Bapa, pemuliaan-Nya di surga di sebelah kanan Bapa, peninggian-Nya sebagai Tuhan Kehidupan. Jadi kenaikan Tuhan Yesus adalah suatu bagian integral dari kebangkitan-Nya, sebagai buah yang adalah bagian dari sebatang pohon. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan kebaharuan dan kepenuhan dari hidup kebangkitan-Nya. Kita memang tidak dapat membayangkan macam apa hidup kebangkitan itu. Bahkan kita tidak mempunyai kata yang pas untuk menggambarkannya. Namun ada sepatah kata yang kita dengar dan akan dengar lagi dari waktu ke waktu dalam Misa dan doa-doa: KEMULIAAN! Memang kata ini bukanlah kata yang memadai, tetapi inilah kata satu-satunya yang terdapat dalam perbendaharaan kata kita. Yesus naik ke suatu kehidupan yang penuh kemuliaan.

Kenaikan Tuhan Yesus penting bagi kita karena kehidupan ini begitu berharga. Kita berpegang pada kehidupan di dunia ini, meskipun banyak mengalami kesusahan, frustrasi dan bermacam-macam penderitaan lainnya. Kita berpegang pada kehidupan dunia ini karena inilah satu-satunya yang kita ketahui. Di sisi lain kita pun tidak menginginkan kehidupan seperti ini untuk selama-lamanya. Sebenarnya dalam hati setiap insan terdapat kerinduan akan suatu kehidupan sempurna yang tidak mengenal akhir, kehidupan yang penuh kemuliaan.  Di zaman kuno, orang-orang mencari sumber air yang mampu membuat awet muda dan tidak akan mati. Kedengaran agak sedikit naive bagi telinga orang-orang pada zaman modern kita ini. Namun para ilmuwan zaman modern ini pun hampir sama naive-nya ketika mereka mencoba menyelidiki proses penuaan, dengan harapan dapat menemukan suatu cara untuk memperpanjang hidup manusia dan akhirnya dapat mencegah kematian itu sendiri.

Kita harus percaya, bahwa kehidupan yang merupakan tujuan dari penciptaan kita tidaklah terdapat dalam dunia ini, tetapi di dalam surga. Kita memang harus menemukan kehidupan surgawi itu. Seperti Kristus, kita juga harus jalan melalui dunia kematian sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Kita telah dipanggil kepada suatu pengharapan besar dalam Kristus. Dalam dia kodrat manusia yang lemah telah dibangkitkan kepada kemuliaan. Pada suatu hari warisan-Nya yang mulia akan menjadi milik kita juga. Kita tidak perlu takut akan proses penuaan secara fisik yang pada satu titik kelak akan membawa kita berjumpa dengan Saudari Maut (badani). Yang perlu kita ketahui dan waspadai adalah kuasa dosa yang sangat merusak dan dapat menghancurkan kita sehabis-habisnya.

Sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus memberikan Amanat kepada para murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua makhluk dan menjanjikan segala kuasa serta tanda heran yang akan menyertai mereka. Orang kudus yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini, Santo Fransiskus Xaverius (1506-1552), adalah contoh konkrit dari seorang murid yang taat dan patuh kepada amanat Yesus itu. Dia mewartakan Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus ke banyak penjuru dunia, termasuk Indonesia. Pewartaannya juga disertai dengan berbagai kuasa Roh dan tanda heran.

St-Francis-Xavier-3Bersama-sama dengan S. Teresa dari Lisieux [1873-1897], S. Fransiskus Xaverius adalah orang-orang kudus pelindung Misi. S. Fransiskus Xaverius dinilai sebagai misionaris terbesar yang dikenal Gereja sejak rasul Paulus. Tidak lama setelah Ignatius dari Loyola mendirikan Serikat Yesus, Fransiskus Xaverius mengikuti jejak kawan sekamarnya, Petrus Faber, bergabung dengan Serikat Yesus. Hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk bergabung karena pertanyaan penuh tantangan yang diajukan oleh S. Ignatius dari Loyola: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).

Kegiatan misioner S. Fransiskus Xaverius di Asia sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang, termasuk kepulauan Maluku di Indonesia. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila nama baptis Fransiskus Xaverius juga sudah menjadi nama “pasaran” di kalangan umat Katolik di Indonesia.

Sebelum sempat melakukan tugas misionernya di daratan Tiongkok, pada tanggal 21 November 1552 Fransiskus Xaverius jatuh sakit demam serta terkurung di pondok rindangnya di pantai pulau kecil San Jian. Dia dirawat oleh Antonio, seorang pelayan Tionghoa yang beragama Katolik. Beberapa tahun kemudian, Antonio menulis sebuah laporan tentang hari-hari terakhir hidup orang kudus itu di dunia. Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Desember dan jenazahnya dikuburkan di pulau itu. Pada musim semi tahun berikutnya, jenazahnya dibawa ke Malaka untuk dimakamkan di sebuah gereja Portugis di sana. Beberapa tahun kemudian sisa-sisa tubuhnya dibawa lagi ke Goa di India untuk dimakamkan di Gereja Bom Jesus.

DOA: Allah, penyelamat umat manusia, berbagai bangsa Kaujadikan milik-Mu berkat pewartaan Santo Fransiskus Xaverius. Semoga semangat kerasulannya berkobar-kobar dalam hati semua orang beriman, sehingga di mana-mana umat-Mu dapat berkembang subur. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 9:16-19,22-23), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA KITA MEMBERITAKAN INJIL, TIDAK ALASAN BAGI KITA UNTUK MEMEGAHKAN DIRI” (bacaan tanggal 3-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12  BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 1 Desember 2016 [Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Martir Indonesia]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS [nama penguatan: Paulus]

PERCAYA DAN MELIHAT

PERCAYA DAN MELIHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Jumat, 4 Desember 2015)

OSCCap.: Peringatan B. Maria Angela Astorch, Biarawati Klaris-Kapucines

 585593231_orig

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31) 

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup”  (Mzm 27:13).

Percaya dan melihat – ini adalah tanda-tanda hidup Kristiani. Berabad-abad lamanya sebelum kedatangan Kristus, nabi Yesaya telah menggambarkan masa mesianis sebagai karya-karya Tuhan yang dipenuhi kejutan dan menakjubkan: “Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan kegelapan mata orang-orang buta akan melihat” (Yes 29:18). Menyembuhkan orang buta jelas merupakan karya Allah, bukan pekerjaan manusia. Namun, agar hal tersebut menjadi kenyataan, orang-orang harus percaya dan membuka diri agar karya Allah tersebut dapat dilakukan.

Sekarang, marilah kita mempertimbangkan dan merenungkan tanggapan Yesus terhadap dua orang buta dalam bacaan Injil di atas yang berseru-seru dengan suara keras memohon belas kasihan dari “Anak Daud”, sebuah gelar mesianis yang mengakui kehadiran Allah dalam diri-Nya. Mula-mula Yesus bertanya kepada kedua orang buta tersebut: “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” (Mat 9:28). Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya”  (Mat 9:28). Dua orang buta itu memang harus memiliki iman jika mereka sungguh ingin dapat melihat. Pemulihan penglihatan mereka tergantung kekuatan iman-kepercayaan mereka. Yesus menyentuh mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”  Lalu meleklah mata mereka (Mat 9:29-30). Peristiwa ini sungguh merupakan kejadian yang mengejutkan dan sekaligus menakjubkan!

Betapa mengagumkan iman dua orang buta itu, namun juga sungguh mengejutkan bagi kita yang mau meniru iman kedua orang itu kepada Yesus. Yesus telah menghantar kita ke dalam Kerajaan Allah, dan segala mukjizat dan tanda heran lainnya yang kita lihat dalam sejarah Kekristenan adalah tanda-tanda bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Mat 4:17; bdk. Mrk 1:15). Walaupun demikian, kita-manusia tidak selalu mempunyai ekspektasi bahwa Yesus akan atau mau bekerja dalam hidup kita. Penyembuhan/kesembuhan adalah suatu tanda bahwa Kerajaan Allah telah menerobos ke dalam diri kita. Apabila kita mempraktekkan iman, maka kita membuka diri bagi karya kerajaan-Nya dalam hidup kita, apa pun atau bagaimana pun pengungkapan karya tersebut.

Ia yang datang untuk menyelamatkan kita ingin menyelesaikan karya penyelamatan-Nya dalam diri kita. Marilah kita membuka hati kita bagi-Nya pada hari ini dan biarlah Kerajaan Allah berakar dalam hati kita. Marilah kita mengakui kuat-kuasa-Nya selagi kita membaca dalam Kitab Suci tentang berbagai mukjizat dan tanda-heran yang diperbuat-Nya ketika hidup di atas bumi dan menerima dengan tulus apa yang telah diajarkan Gereja dari abad ke abad. Marilah kita bertindak dalam iman.

DOA: Tuhan Yesus, Anak Daud, Mesias, kasihanilah kami. Engkau adalah terang dunia; terangilah kegelapan hati kami dan sembuhkanlah kebutaan kami. Kuatkanlah iman kami selagi Engkau membawa terang-Mu kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:27-31), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK DAUD ADALAH SEBUAH GELAR MESIANIS” (bacaan tanggal 2-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 November 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENDENGAR PERKATAAN YESUS

MENDENGAR PERKATAAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Kamis, 1 Desember 2016) 

jesus_christ_picture_013Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. 

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. (Mat 7:21,24-27) 

Bacaan Pertama: Yes 26:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27

Santo Hieronimus [347-419/420] adalah seorang rahib dan pujangga Gereja yang terkenal. Dia lahir di Dalmatia dan meninggal dunia di Betlehem dalam keadaan buta dan ditinggalkan. Jasanya dalam bidang Alkitab sudah kita ketahui.  Dia menggeluti sepotong bacaan Kitab Suci yang sulit dipahami untuk berminggu-minggu lamanya – mengumpulkan sedikit demi sedikit hikmat rohani dari bacaan tersebut. Bacaan yang digelutinya tersebut adalah dari “Surat Paulus kepada Jemaat di Roma”. Pada suatu hari Hieronimus yang temperamental itu sudah tidak tahan lagi, seakan dia berkata “Enough is enough!” Dalam kejengkelannya dia melemparkan bahan-bahan bacaan yang sedang dipelajarinya sambil berseru: “Paulus, engkau (memang) tidak ingin dimengerti!”

Bukankah selama mencoba mendengar sabda Tuhan dari pembacaan dan permenungan Kitab Suci kita pun merasa seperti apa yang dirasakan oleh Hieronimus? Tentu saja Hieronimus mengetahui bahwa masalahnya bukanlah dengan hasrat Allah atau kemampuan-Nya untuk berbicara, melainkan dengan kelemahan kita dalam mendengarkan. Allah sungguh ingin untuk dimengerti/dipahami. Dia ingin agar suara-Nya didengar dengan jelas oleh kita semua. Kalau tidak demikian halnya, mengapa Dia harus menciptakan kita dengan hati yang berisi kerinduan kepada-Nya? Dari sediakala, pada awal waktu, kita “ditakdirkan” untuk menjadi pendengar-pendengar sabda Allah.

Sepintas lalu, kelihatannya mendengar suara Allah harus terjadi secara “alami”, tanpa banyak upaya di pihak kita-manusia. Apabila hal ini tidak terjadi, maka kita dapat tergoda untuk berpikir bahwa penyebabnya adalah Allah tidak menyatakan diri-Nya dengan sangat jelas. Sebenarnya, walaupun kita diciptakan untuk mendengar Allah, kita tetap berkewajiban untuk menyediakan waktu dan mengeluarkan energi untuk mengembangkan kepekaan kita terhadap suara-Nya. Berbicara praktisnya, jika kita ingin membeli seperangkat sound system yang baru, kita tentunya berasumsi bahwa semakin banyak uang yang kita investasikan, semakin jelas-jernih pula suara musiknya nanti. Yang masuk akal adalah bahwa semakin banyak kita investasikan waktu dan energi dalam relasi dengan Bapa surgawi, maka semakin baik pula kita mendengar suara-Nya.

Marilah kita menyediakan waktu untuk mendengarkan suara-Nya dengan penuh perhatian. Kita mulai dengan hal-hal kecil yang ditaruh-Nya dalam hati kita masing-masing – hal-hal yang telah kita mengerti – dan mempraktekkannya. Mungkin sepotong bacaan dari Kitab Suci “muncul” dalam pikiran kita atau barangkali kita diingatkan bahwa Allah mendesak kita untuk berdoa bagi seseorang yang membutuhkan. Apa pun kasusnya, kita tidak boleh mengabaikannya. Kita harus mengikuti pimpinan serta bimbingan Allah. Kemudian baiklah kita melanjutkan dengan menyediakan waktu guna mendengarkan suara-Nya dalam Kitab Suci, dalam Misa dan dalam doa kita. Allah juga dapat saja berbicara kepada kita dengan cara-cara yang kita tidak harap-harapkan. Marilah kita mendengarkan suara Allah dengan penuh perhatian. Biarlah masa Adven tahun ini menjadi masa upaya yang tulus guna mendengar suara Allah dan membangun hidup kita di atas fondasi kokoh  sabda-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, hancurkanlah perlawanan-perlawanan dalam diriku yang ingin mencegah aku mendengar Engkau. Datanglah, ya Yesus, Raja segala raja, dan berdiamlah dalam hidupku. Aku sungguh ingin mendengar suara-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21,24-27), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG BIJAKSANA MENDIRIKAN RUMAH DI ATAS BATU” (bacaan tanggal 1-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-12-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 November 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANDREAS: SEORANG PENJALA MANUSIA

ANDREAS: SEORANG PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Andreas, Rasul – Rabu, 30 November 2016) 

st-andrew-the-first-called-duccio-di-buoninsegnaKetika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu ayahnya, lalu mengikuti Dia. (Mat 4:18-22) 

Bacaan Pertama: Rm 10:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5

Mengapa Andreas sampai meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus? Sungguh sesuatu hal yang drastis untuk dilakukan oleh seseorang! Apakah Andreas seorang “gelandangan” yang mempunyai banyak uang? Bukan! Ia kelihatannya hidup baik bersama saudara laki-lakinya – Simon – dalam bisnis perikanan. Namun ada sesuatu tentang Yesus yang mendorong suatu hasrat dalam hatinya, dan Andreas memperkenankan dorongan itu menjadi suatu semangat yang berkobar-kobar.

Bahkan sebelum Andreas bertemu dengan Yesus, Allah telah mempersiapkan dirinya. Andreas telah mengikuti Yohanes Pembaptis dan telah merangkul panggilan sang nabi untuk melakukan pertobatan. Bersama Yohanes Pembaptis, dia menantikan kedatangan Dia yang akan membaptis tidak dengan air, melainkan dengan Roh Kudus (lihat Yoh 1:33). Andreas mendengar Yesus memproklamasikan bahwa “Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat 4:17) dan ia juga menyaksikan sendiri Kerajaan ini dalam mukjizat penangkapan ikan (lihat Luk 5:4-7). Andreas mengamati relasi pribadi Yesus dengan Bapa-Nya dan ia tahu bahwa Yesus menawarkan hidup ini kepada siapa saja yang mengikut-Nya sebagai murid. Yesus menyatakan Kerajaan Surga dengan begitu jelas sehingga ketika Andreas mengatakan kepada saudaranya Simon tentang Yesus, dengan sederhana dia berkata: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)” (Yoh 1:41).

st-andrew-the-apostleDengan demikian, tidak mengherankanlah bahwa ketika Yesus memanggilnya, Andreas siap untuk meninggalkan segalanya. Dan perubahan hidupnya tidak sampai di situ saja, karena Andreas  telah menjadi penjala manusia dalam artian sesungguhnya. Andreas menanggapi panggilan Yesus secara langsung dan sebagai akibatnya dia menjadi seorang manusia baru.

Seperti Andreas, kita juga telah diundang untuk mengikut Yesus sebagai murid-murid-Nya. Kita telah mendengar Injil dan mengalami sentuhan Tuhan yang penuh kasih. Sekarang, dengan berjalannya waktu, Allah ingin agar kita masing-masing mengembangkan sebuah hati yang mencari. Seandainya Andreas tidak mencari sesuatu yang lebih mendalam daripada suatu kehidupan rutin dalam dunia ini, akankah dia menjadi begitu terbuka terhadap undangan Yesus? Rasa lapar dan hausnya akan sesuatu yang lebih dapat menjadi suatu contoh kuat bagi kita semua.

Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, marilah kita mencari Tuhan pada hari ini. Marilah kita berjaga-jaga dengan kepekaan dan kewaspadaan terhadap apa pun dorongan Roh Kudus, ke mana pun Ia ingin membawa kita. Roh Kudus dapat saja menggunakan waktu doa kita, sepotong nas Kitab Suci, seorang sahabat, suatu masalah, atau bahwa sebuah acara televisi untuk menarik kita lebih dekat lagi dengan Yesus. Bagaimana pun cara-Nya mengundang kita, kita (anda dan saya) harus menanggapinya dengan penuh semangat positif, karena kita mengetahui bahwa rahmat, sukacita dan kedekatan dengan Yesus adalah bagian kita untuk mencicipinya.

DOA: Tuhan Yesus, aku mendengar panggilan-Mu, dan aku ingin menanggapinya. Di sinilah aku, ya Tuhan. Lalukanlah apa saja atas diriku seturut kehendak-Mu. Utuslah aku ke mana saja seturut kehendak-Mu. Aku hanya ingin mengikut Engkau sebagai murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 4:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “ANDREAS DIPANGGIL OLEH YESUS MENJADI SALAH SEORANG MURID-NYA YANG PERTAMA” (bacaan tanggal 30-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS