GANDAR YANG MENYENANGKAN DAN BEBAN YANG RINGAN

GANDAR YANG MENYENANGKAN DAN BEBAN YANG RINGAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI  MINGGU BIASA XIV [TAHUN A] – 5 Juli 2020)

Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan. (Mat 11:25-30) 

Bacaan Pertama: Za 9:9-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:1-2,8-11,13-14; Bacaan Kedua: Rm 8:9,11-13 

Kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini kelihatannya cocok dengan “mentalitas kehidupan” kita. Apa maksudnya? Kita senang dengan yang ringan-ringan, bukan? Ada bir ringan, ada rokok yang ringan dan tentunya ada pula pendekatan ringan dalam hal spiritualitas. Dalam pertemuan pendalaman Kitab Suci hampir selalu ada peserta yang berbisik atau setengah berbisik kepada sang pemandu sebelum acara dimulai: “Yang ringan-ringan aja, ya Pak! Kita semua kan orang-orang biasa saja …… orang awam!” Kita memang kelihatannya tidak mau terlibat dalam diskusi tentang hal-hal rohani yang terasa berat, misalnya pembicaraan mengenai dosa, pertobatan dan pengadilan terakhir dan kata-kata Yesus yang keras lainnya. Yang ringan-ringan sajalah!

Dengan mentalitas seperti ini, betapa senangnya hati kita ketika mendengar sabda Yesus dalam bacaan Injil hari ini: “Jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:29-30). Kita mempersepsikannya sebagai “spiritualitas ringan” yang tidak akan terlalu berat membebani diri kita. Bukankah itu yang ada dalam pikiran Yesus? Bukankah Yesus juga tidak ingin kehilangan pengikut? Salah semua!

Popularitas tidak ada dalam kamus Yesus. Ia tidak mengenal politik pencitraan diri. Perjalanan keliling-Nya di Galilea dan tempat-tempat lain di tanah Israel pada waktu itu  adalah untuk mewartakan Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan, sama sekali bukan untuk menebar pesona. Bahasa basa-basi petugas humas jauh dari pikiran Yesus ketika Dia mengatakan kepada orang banyak untuk makan daging-Nya dan minum darah-Nya (baca Yoh 6:32-59; khususnya 6:56). Bahkan para murid-Nya pun harus membuat keputusan. Yesus ingin mengetahui apakah mereka pun akan meninggalkan-Nya (lihat Yoh 6:60-66; khususnya 6:66). Yesus tidak pernah memaksa orang-orang untuk mengikut-Nya, namun di sisi lain Ia juga tidak mau ajaran-Nya dikompromikan. Yesus tidak bergerak di bidang bisnis untuk menyenangkan orang banyak. Nah, kalau begitu halnya, apa yang dimaksudkan oleh-Nya ketika Dia berkata: “Gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:30)?

Sebelum kalimat ini, Yesus mengindikasikan bahwa kehidupan manusia itu dapat membuat orang menjadi letih lesu dan berbeban berat, dapat sangat menggerus semangat hidup kita. Kadang-kadang kehidupan kita dapat membuat kita terhempas tanpa sukacita. Satu hari seorang ibu rumah tangga muda dapat terdiri dari sebuah rentetan tuntutan tanpa henti – baik tuntutan besar maupun kecil -,  menyiapkan sarapan bagi keluarga, mengantar anak ke sekolah, pergi ke pasar dst. Rutinitas sehari-hari sungguh dapat menghilangkan semangat kita. Pada akhir hari, dengan mudah kita dapat merasa lebih sebagai objek yang diombang-ambingkan oleh berbagai unsur eksternal, bukan sebagai subjek yang memegang kendali.

Beban-beban kehidupan dapat datang secara besar-besaran dan berlangsung lama. Kita dapat menderita karena penyakit mematikan yang menimpa salah seorang anggota keluarga kita. Kita dapat merasa tidak diterima dan tidak dicintai oleh orang-orang lain. Barangkali juga kita sedang bergumul dengan sebuah masalah spiritual dan kita merasa sumber-sumber daya yang kita miliki tidak memadai. Kehilangan semangat itu mudah, dan depresi adalah kawan tetap kita. Barangkali kita masih serba kekurangan dalam hal kebutuhan-kebutuhan mendasar. Rumah sendiri masih belum punya (masih kontrakan) dst. Kehidupan ini sungguh mempunyai kuasa untuk mematahkan, bahkan menghancurkan kita semua. Pertanyaannya sekarang adalah: “Bagaimana kita dapat tetap kuat?” “Bagaimana kita dapat bertahan, apabila kita menyerah dengan begitu mudah?”

Yesus memberikan solusinya kepada kita: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Jadi, solusi atas beratnya segala beban kehidupan sehari-hari kita adalah “lebih dekat berjalan dengan Yesus”. Persekutuan dengan Yesus memberdayakan kita untuk menghadapi hari ini, esok dan masa depan. Kasih akan meringankan beban-beban kehidupan kita. Tanpa kasih, setiap onggokan tanah yang dibuat tikus akan kita lihat sebagai sebuah gunung tinggi; setiap ketidaknyamanan kita pandang sebagai suatu penderitaan besar; dan semua masalah kita tetaplah menjadi masalah. Sebaliknya, dengan kasih kita dapat penuh keyakinan menghadapi segala masalah dalam hidup ini. Santo Paulus menulis: “Kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah tinggal di dalam kamu” (Rm 8:9). Berdiamnya Roh Kudus dalam diri kita melalui pembaptisan, membuat kata-kata nabi Zakharia menjadi kata-kata kita sendiri: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem!” (Za 9:9). 

Datang kepada Yesus dengan gandar-Nya yang menyenangkan dan beban-Nya yang ringan, janganlah sampai disalahartikan. Yesus tidak menawarkan kepada kita semacam “karcis bebas masuk” atau suatu pengecualian agar lepas dari beban-beban kehidupan. Yesus datang untuk mewartakan Kabar Baik dan bukan dongeng anak-anak. Ia tidak membuang semua beban dan salib dari kita secara “ajaib” a la tukang sulap. Yang dilakukan Yesus adalah menjanjikan bahwa Dia akan menjadi “kawan seperjalanan dan sependeritaan kita; seseorang yang memahami masalah kita”. Apabila kita menerima Dia,  maka kita pun ditransformasikan oleh kasih dan rahmat-Nya. Pada kenyataannya, Yesus dengan jelas menjanjikan bahwa mereka yang menerima tantangan untuk mengikut-Nya dapat mengharapkan banyak salib, pengejaran, penolakan dan bahkan penganiayaan. Akan tetapi, yang lebih penting adalah bahwa bagi mereka yang tetap setia kepada Yesus Kristus, masih ada pengharapan akan kehidupan kekal dan sukacita abadi.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, pada hari ini kami berketetapan hati untuk memegang janji-Mu. Kami Perkenankanlah kami memperoleh damai sejahtera-Mu dengan mengikuti jejak-Mu, ya Tuhan dan Juruselamat kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-30), bacalah tulisan yang berjudul “AJAKAN SANG JURUSELAMAT” (bacaan tanggal 5-7-20) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-07 BACAAN HARIAN JULI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Juli 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAPA MURID-MURID YESUS TIDAK BERPUASA?

MENGAPA MURID-MURID YESUS TIDAK BERPUASA?

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Sabtu, 4 Juli 2020)

Peringatan Fakultatif S. Elisabet dr Portugal

OFS: Peringatan Wajib S. Elisabet dr Portugal, Ratu – Ordo III S. Fransiskus

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Mat 9:14-17) 

Bacaan Pertama: Am 9:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9,11-14 

“Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” (Mat 9:14)

Pertanyaan ini sah-sah saja dan memang masuk akal. Orang-orang saleh memang seharusnya menjalankan hidup asketis, dan mereka haruslah berpuasa. Musa banyak sekali berpuasa. Demikian pula halnya dengan Elia. Yohanes Pembaptis sehari-harinya memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan (lihat Mat 3:4). Maka masyarakat pada umumnya berpendapat, bahwa sudah dengan sendirinyalah kesalehan (katakanlah kesucian) dan puasa berjalan bersama. Karena keterbatasan ruang dan waktu, marilah kita memusatkan perhatian kita pada dua ayat pertama bacaan Injil di atas.

Puasa merupakan penyeimbang bagi orang-orang yang hidup di bawah pengaruh kuat materialisme, konsumerisme, hedonisme dlsb. Dengan kata lain, orang-orang yang hidup bermewah-mewah, mereka yang meja makannya penuh dengan hidangan lezat dan berlimpah, orang-orang rakus dan serakah, orang-orang yang suka berfoya-foya dlsb. Dapat dikatakan puasa adalah kedaulatan roh atas badan, penaklukan atas kedagingan, tata tertib dan disiplin. Puasa adalah persiapan untuk rahmat.

Apabila seseorang berpuasa, maka berbagai kendala disingkirkan dan  orang itu menjadi mampu menerima rahmat dari Allah. Dengan berpuasa orang dibebaskan dari belenggu-belenggu yang mengikatnya dan dengan begitu dia menjadi terbuka bagi Kerajaan Allah. Marilah kita renungkan isi Prefasi Prapaskah I (Prapaskah Masa Tobat):

“Sungguh layak dan sepantasnya, ya Bapa yang kudus, Allah yang kekal dan kuasa, bahwa di mana pun juga kami senantiasa bersyukur kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. … Sebab setiap tahun Engkau menganugerahi kami, umat-Mu, masa tobat ini, yaitu kesempatan menjernihkan hati dan budi, supaya penuh harapan ceria kami dapat menyiapkan diri untuk perayaan wafat dan kebangkitan Putera-Mu. … Engkau mengajak kami meningkatkan ulah-bakti dan amal-kasih, supaya perayaan misteri penyelamatan yang melahirkan kami kembali menjadi anak-anak-Mu, membina kami untuk menghayati kasih karunia-Mu itu sepenuhnya, dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami. … Dari sebab itu, kami mengumandangkan madah kemuliaan bagi-Mu bersama para malaikat dan seluruh laskar surgawi yang tak henti-hentinya bernyanyi/berseru: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, ……” Lagipula, bukankah Yesus Kristus sendiri telah berpuasa empat puluh hari lamanya di padang gurun? Maka pertanyaan orang-orang Farisi dan murid-murid Yohanes Pembaptis dapat kita pahami: “Mengapa murid-murid-Mu tidak berpuasa?”

Jawaban Yesus sungguh mengherankan. Ia bahkan tidak memperhatikan motif-motif di atas, tetapi menembus lebih dalam lagi ke dasar persoalannya. Mengapa? Karena keberadaan Yesus di dunia ini merupakan sebuah pesta nikah bagi umat manusia. Pada pesta nikah orang-orang bersuka-ria, bukannya berpuasa. Kristus adalah Sang Mempelai ilahi yang datang untuk mencari dan memilih mempelai perempuan-Nya. Oleh karena itu pengantin/mempelai perempuan ini memakai gelar, Ecclesia (Gereja) – Yang Terpilih. Ia telah menjemputnya dan kini sedang merayakan pesta pertunangan dan pesta nikah dengannya. Para murid adalah tamu-tamu dalam pesta ini. Mereka telah diundang untuk menghadiri pesta dunia ini. Oleh karena itu mereka harus berada dalam suasana dan keadaan pesta, dengan demikian puasa tidaklah pada tempatnya di sini.

Akan tetapi Yesus segera menambahkan: “Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa” (Mat 9:15).  Mengapa? Karena apabila pesta nikah telah selesai, maka Yesus pun akan pergi kepada Bapa-Nya di surga untuk menyediakan tempat bagi mempelai/pengantian perempuan-Nya. Gereja – Pengantin Kristus – menunggu sampai saat sang Mempelai Laki-laki datang kembali untuk membimbingnya masuk ke dalam rumah-Nya.

Sementara roda sejarah terus berputar di antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedua, antara Inkarnasi-Nya dan kedatangan-Nya kembali (parousia), terdapatlah suasana yang berubah-ubah silih berganti, kegembiraan diselingi dengan kedukaan karena masih harus menanti. Itulah sebabnya mengapa hari pesta berselang-seling dengan hari puasa. Sang pengantin/mempelai perempuan menyadari bahwa dia adalah Pengantin yang terpilih, namun ia masih belum berada dalam kamar pengantin. Oleh karena itu hatinya penuh kegairahan, matanya menatap ke tempat yang jauh dan pandangannya tertuju ke surga selalu. Namun ia pun yakin akan keterpilihannya. Inilah yang menyebabkan suasana silih berganti pada para anggotanya, suasana gembira dan suasana duka, perasaan memiliki dan mengingini, perasaan sudah mempunyai dan belum memperoleh.

Maka dari itu hari-hari pesta senantiasa diselingi hari puasa penuh keprihatinan. Dipandang dari sudut ini puasa bukanlah melulu berarti latihan untuk menguasai badan dan mengatasi pertimbangan budi serta anti-materialisme belaka. Puasa merupakan pernyataan suatu semangat religius yang mendalam, lambang waktu penantian kedatangan Tuhan penuh kerinduan. Inilah vigilia sejarah Gereja sebelum pesta perkawinan abadi. Semua vigilia sebelum pesta gerejawi dan seluruh masa puasa sebelum pesta Paskah mengingatkan kita akan sikap Kristiani yang menantikan, yang mendambakan dan mempersiapkan diri akan kedatangan kembali Tuhan Yesus Kristus serta undangan-Nya untuk menghadiri Pesta Perkawinan Abadi.

Jadi, puasa bukan hanya soal kesehatan, melainkan karya cintakasih. Maka dalam jawaban Yesus kepada orang-orang yang bertanya (murid-murid Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi) termaktub pula penunjukkan kepada rahasia cintakasih, yang memberikan arti yang mendalam kepada pesta dan puasa.

(Uraian di atas adalah adaptasi dari tulisan Richard Gutzwiller, RENUNGAN TENTANG MATEUS I, terjemahan KARMEL P. SIANTAR, Endeh, Flores: Pertjetakan Arnoldus Endeh Flores NTT: tjetakan I 1968, hal. 150-153)

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku ingin mengenali dan mengalami kehadiran-Mu. Semoga puasa dan doaku menjadi saat-saat di mana keintiman dengan Engkau menjadi semakin bertumbuh selagi aku menantikan pemenuhan dari janji-janji-Mu. Semoga hidup pertobatanku dan ketaatanku terhadap perintah-perintah Allah mengalir ke luar dari sebuah hati yang dipenuhi dengan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-17), bacalah tulisan yang berjudul “ANGGUR BARU TIDAK DITUANG KE DALAM KANTONG KULIT TUA” (bacaan tanggal 4-7-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-07 BACAAN HARIAN JULI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-7-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Juli 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BEBERAPA CATATAN TENTANG SANTO TOMAS, RASUL

BEBERAPA CATATAN TENTANG SANTO TOMAS, RASUL

 (Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA SANTO TOMAS, RASUL – Jumat, 3 Juli 2020)

Tetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!”  Tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:24-29) 

Bacaan Pertama: Ef 2:19-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2

Santo Yohanes dalam bagian-bagian akhir dari Injilnya datang dengan sebuah proklamasi iman-kepercayaan Santo Tomas yang terbuka dan sungguh unggul: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28). Tomas percaya penuh kepada Tuhan dan Gurunya. Itulah sebabnya mengapa ketika para rasul lainnya merasa ketakutan dan menyembunyikan diri mereka dalam ruangan tertutup, Tomas berani untuk pergi ke luar rumah. Iman Tomas adalah sedemikian sehingga dia siap mati untuk Yesus yang sangat dikasihinya.

Ketika kepada Yesus diberitahukan tentang sakitnya Lazarus dan bersiap untuk pergi ke Betania di Yudea, para murid yang  lain merasa takut dan mengingatkan Yesus akan bahaya yang akan dihadapi-Nya di sana. Akan tetapi dengan berani Tomas maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” (Yoh 11:16; bacalah mulai ayat 7). Memang Tomas benar-benar seorang pengikut Yesus Kristus sejati dan dia mati sebagai seorang martir-Nya. Kemartiran Tomas tetap dikenang, teristimewa bagi umat di India. Seturut tradisi yang ada, Tomas menumpahkan darahnya sebagai saksi Kristus pada tanggal 3 Juli 72 di Chinna Malai (bukit kecil) di Chennai, India.

Jenazah Tomas dikubur oleh raja (Perumal) di dalam gereja yang didirikan oleh sang Rasul di Mylapore. Belakangan, sebagian besar relikui sang martir suci dibawa ke Edessa di Suriah. Pada abad ke-12 relikui tersebut dibawa ke Chios di Asia Kecil, dan dari sana dipindahkan lagi ke Ortona di Italia di mana relikui tersebut masih dihormati sampai hari ini. Pada tahun 1953 Kardinal Tiserant membawa sebagian relikui tersebut ke Kodungalloor, tempat di mana sang Rasul pertama kali mendarat di Malabar. Relikui tersebut ditaruh di tempat khusus yang baru dibangun. Sang Kardinal mendeklarasikan bangunan khusus itu sebagai tempat suci Kepausan (Pontifical Shrine).

Pada perjamuan terakhir, ketika Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia akan meninggalkan mereka. Yesus mengatakan: “Ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ” (Yoh 14:4). Lagi-lagi di sini Tomas-lah yang menanggapi kata-kata Yesus itu: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau akan pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yoh 14:5). Karena tanggapan Tomas yang spontan itu, kita umat Kristiani memperoleh kata-kata Yesus sebagai pegangan abadi, yaitu jawaban-Nya terhadap pertanyaan Tomas di atas: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Di sini Yesus menunjukkan bahwa diri-Nya adalah Jalan satu-satunya kepada Bapa. Yesus itu unik. Kita sepantasnya berterima kasih kepada Santo Tomas karena gara-gara dialah kita memperoleh sabda Tuhan ini.

Itulah Santo Tomas. Jelas dia bukanlah seorang yang tak percaya atau seorang peragu. Sebaliknya dia adalah seorang dengan iman yang teguh akan Kristus. Tomas berjalan di jalan iman yang mendalam dan tulus. Namun dia tidak begitu saja menerima apa yang  tidak diyakininya. Ketika para murid yang lain berkata kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!! (Yoh 20:25), Tomas tidak percaya begitu saja. Dia ingin menyentuh Tuhan dengan menaruhkan jarinya ke dalam bekas paku pada tangan Yesus dan menaruh tangannya ke lambung-Nya, sebelum itu sekali-kali dia tidak akan percaya (Yoh 20:25). Seperti kebanyakan orang di jaman NOW, Tomas pun kelihatannya hanya percaya pada hal-hal yang dapat dilihat dan disentuhnya.

Jadi, ketika Tuhan Yesus muncul lagi, Dia mengundang Tomas untuk melakukan apa yang diinginkannya dan pada saat bersamaan menegurnya secara halus: “… dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yoh 20:27). Tidak ada catatan dalam Injil bahwa Tomas benar-benar menyentuh luka Yesus pada tangan-Nya dan juga pada lambung-Nya. Tomas hanya dapat berkata: “Tuhanku dan Allahku!” Jadi, dari Tomas yang percaya kita memperoleh kata-kata yang mendeklarasikan iman akan keilahian Yesus. Keragu-raguan Tomas sebelumnya bukanlah keragu-raguan yang menolak, melainkan keragu-raguan yang mencari. Tomas ingin menemukan kebenaran dan diyakinkan tanpa ragu sedikitpun.

Sebagai jawaban atas pernyataaan Tomas yang kiranya dilakukan sambil sujud-menyembah, Tuhan Yesus “menghadiahkan” suatu berkat untuk kita semua: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Ingatlah juga “Surat kepada orang Ibrani” yang mengatakan: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1). Oleh karena itu, berbahagialah (terberkatilah) kita apabila kita menerima dalam iman, kasih dan ketaatan, Sabda Allah yang menyatakan Diri-Nya, walaupun akal budi kita tidak mampu memahami semua itu. Jadi apabila keragu-raguan yang menyangkut iman menyerang kita, dan apabila pikiran kita menuntut bukti-bukti nyata, baiklah kita mengingat sabda Yesus:  “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” 

Sumber: P. George Kaitholil, SSP, FEASTDAY HOMILIES, Mumbai, India: The Saint Paul Society, 2006 (3rd Print 2010), hal. 184-187 [ST THOMAS,  Apostle of India – Hari Raya di India]

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku mengasihi-Mu. Aku menyembah-Mu, Engkau yang telah mengalahkan setiap dosaku. Dalam Engkau, ya Tuhan dan Juruselamatku, segalanya telah ditebus, segalanya telah diampuni. Segala kemuliaan bagi-Mu, ya Tuhanku dan Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 2:19-22), bacalah tulisan yang berjudul “LUKA-LUKA YANG MENYELAMATKAN” (bacaan tanggal 3-7-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-07 BACAAN HARIAN JULI 2020. 

(Tulisan ini revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan 3-7-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Juli 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOSA-DOSAMU SUDAH DIAMPUNI

DOSA-DOSAMU SUDAH DIAMPUNI

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 2 Juli 2020)

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Am 7:10-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

“Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” (Mat 9:2)

Ketika Yesus sampai ke kota-Nya sendiri (maksudnya: Kapernaum; bdk. Mrk 2:1-12), para ahli Taurat mengamati anak Yusuf tukang kayu dari Nazaret yang sederhana ini membuat mukjizat-mukjizat, bahkan mengampuni dosa. Tentunya mereka merasa bingung juga: Siapa sebenarnya orang ini? Melalui sarana apakah Dia menyembuhkan orang sakit? Dengan otoritas dan kuasa siapakah Dia mengampuni dosa. Para ahli Taurat itu tidak dapat memahami otoritas yang dimiliki Yesus; mereka malah menilai-Nya menghujat Allah. Biar bagaimana pun juga Yesus kan hanya seorang anak tukang kayu di sebuah kota kecil? Apalagi orang-orang Yahudi pada umumnya percaya bahwa tidak ada sesuatu yang baik datang dari Nazaret (Yoh 1:46).

Kita percaya bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa dan otoritas mutlak atas segala hal di surga dan bumi. Dia datang ke tengah dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Sebagai kurban sempurna yang diberikan dengan bebas oleh Allah untuk menebus dosa-dosa kita-manusia, otoritas Yesus datang melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Sepanjang Injilnya, Matius mengungkapkan keilahian Yesus: Yesus menyembuhkan orang kusta (Mat 8:1-4), yang sakit demam (Mat 8:14-15), yang lumpuh (Mat 9:1-8) dlsb. Ia memiliki kuasa atas alam seperti ditunjukkan-Nya ketika menenangkan angin ribut yang berkecamuk (Mat 8:23-27). Otoritas-Nya dalam bidang spiritual memanifestasikan dirinya selagi Dia mengusir roh-roh jahat (Mat 8:28-34) dan mengampuni dosa (Mat 9:2).

Bahkan pada hari ini pun Yesus memiliki otoritas atas dosa yang merupakan sebab-musabab penderitaan kita. Yang diminta oleh Yesus hanyalah agar kita percaya kepada-Nya. Kematian-Nya pada kayu salib merupakan pukulan mematikan terhadap dosa. Keporak-porandaan karena dosa tidak perlu mendominasi kehidupan kita. Sebaliknya, dalam Yesus, kepada kita telah diberikan kuasa dan otoritas untuk menjadi bebas-merdeka dari ikatan-ikatan dosa, rasa takut, kemarahan, dan depresi. Oleh kuasa yang kita  peroleh melalui kematian Yesus di kayu salib, kita dapat mengalami kuasa untuk menjadi bebas-merdeka dari berbagai hal yang disebutkan di atas dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dengan mengundang Yesus untuk hidup-berdiam dalam diri kita, kita sebenarnya ikut ambil bagian dalam kodrat-Nya. Setiap orang percaya yang dibaptis ke dalam Kristus dapat menjadi seorang pelayan dari rahmat-Nya, penyembuhan-Nya, dan kuat-kuasa-Nya atas dosa. Tentu saja kita sendiri bukanlah pembuat mukjizat. Yesus-lah sang Pembuat mukjizat! Sementara kita memperkenankan Yesus masuk semakin dalam ke dalam hati kita, maka kita mengambil oper karakter-Nya, dengan demikian menjadi “instrumen-instrumen” rahmat-Nya. Seperti ditulis oleh Santo Paulus, “… aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita bergantung sepenuhnya pada janji-janji Yesus bagi kita agar dengan demikian kita dapat memanifestasikan kuat-kuasa-Nya dan otoritas-Nya di muka bumi ini.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami ingin mengenal Engkau lebih mendalam lagi dan menjadi lebih dekat lagi dengan diri-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyerahkan hidup-Mu sendiri agar kami dapat memperoleh kehidupan bersama Engkau dan Bapa surgawi selama-lamanya. Kami memuliakan Engkau, karena Engkau sendirilah yang dapat membebas-merdekakan kami dari dosa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “KUASA ILAHI UNTUK MENGAMPUNI DOSA” (bacaan tanggal 2-7-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-07 BACAAN HARIAN JULI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-7-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 Juni 2020 [HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ADA BAGIAN-BAGIAN DALAM DIRI KITA YANG MEMANG MEMBUTUHKAN PEMBEBASAN

ADA BAGIAN-BAGIAN DALAM DIRI KITA YANG MEMANG MEMBUTUHKAN PEMBEBASAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Rabu, 1 Juli 2020)

Ketika Yesus tiba di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui-Nya. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Mereka pun berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Apakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” Tidak jauh dari mereka itu banyak sekali babi sedang mencari makan. Lalu setan-setan itu meminta kepada-Nya, “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.” Yesus berkata kepada mereka, “Pergilah!” Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Seluruh kawanan babi itu pun terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati di dalam air. Lalu larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, mereka menceritakan segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Seluruh kota itu keluar mendapatkan Yesus dan setelah berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka. (Mat 8:28-34) 

Bacaan Pertama: Am 5:14-15,21-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:7-13,16-17 

Perjumpaan Yesus dengan dua orang Gadara yang kerasukan roh-roh jahat memang membuat bulu merinding, bukan hanya disebabkan karena peristiwa tenggelamnya babi-babi yang dirasuki roh-roh jahat ke dalam danau, melainkan juga karena kejadian itu membuat terang realitas kerasukan roh-roh jahat. Memang benar bahwa tidak semua godaan datang secara langsung dari Iblis sendiri, namun ada saat-saat – teristimewa di mana kita secara secara khusus sedang berupaya untuk melayani Tuhan – ketika roh-roh jahat pengikut Iblis memainkan peranan aktif dalam menggoda kita supaya tidak taat kepada Allah dan tidak menghormati-Nya.

Santo Ignatius dari Loyola – seorang mantan perwira tentara – menarik pelajaran dari pengalaman masa lalunya sebagai seorang militer untuk menggambarkan kebenaran-kebenaran spiritual. Ignatius mengatakan bahwa Iblis menggunakan rencana yang tersusun rapih dan operasi rahasia, dan dia menyerang ketika kita berada dalam keadaan yang paling rentan. Itulah sebabnya mengapa Kitab Suci mengingatkan kita untuk senantiasa waspada dan tetap berdoa untuk pembebasan dari pengaruh si Jahat. Memang bukanlah sesuatu yang tidak biasa bagi si Jahat untuk menggoda kita dan mencoba menyesatkan kita dari “kesetiaan kita yang sejati kepada Kristus” (lihat 2Kor 11:3). Kalau kita membiarkan godaan-godaan untuk terus berlangsung, maka hal tersebut akan sedikit demi sedikit menumpuk dan menyebabkan terbukanya jalan masuk ke dalam cara kita berpikir yang membiarkan kita terjebak dalam ketiadaan-pengharapan, kemarahan, rasa takut, sinisme, atau sejumlah besar pola-pola negatif lainnya.

Apakah yang menyebabkan tersedianya berbagai jalan masuk sedemikian? Sebagian dari penyebab-penyebab yang paling biasa adalah mentoleransi godaan dalam hidup kita, dosa masa lampau yang belum kita sesali dan bertobat atasnya dan pola-pola dosa yang bersifat kebiasaan, …… pembiaran-pembiaran. Dengan kata lain, bilamana kita memperkenankan (membiarkan) kegelapan masuk ke dalam hati kita, maka sebenarnya kita memberikan suatu kesempatan kepada Iblis untuk mendirikan tempat berpijak dalam diri kita.

Apabila kita mau menyelidiki dengan saksama serta mendalam, kita akan dapat melihat area-area dalam diri kita yang membutuhkan pembebasan. Ini adalah konsekuensi alamiah dari kehidupan dalam sebuah dunia yang gelap, di samping membawa juga berbagai efek dari kodrat manusia kita yang cenderung untuk berdosa. Kabar baiknya adalah bahwa Yesus senantiasa siap untuk melindungi dan membebaskan kita. Yesus tidak pernah ingin meninggalkan/membiarkan kita sebagai bulan-bulanan tipu daya Iblis. Sebagaimana Dia membebaskan dua orang Gadara dengan satu perintah “Pergilah!”, Yesus ingin membawa kita kepada kebebasan dan kemerdekaan dalam artian sesungguhnya. Yang diminta oleh Yesus – seperti halnya dengan dua orang Gadara itu, adalah supaya kita mengabaikan penolakan-penolakan dari sisi kodrat kita yang lebih gelap, dan kemudian membawa diri kita ke hadapan hadirat-Nya. Hanya dengan begitu penyembuhan dan pembebasan akan sungguh terwujud dalam diri kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku mohon kepada-Mu supaya Engkau membebaskan diriku. Dalam iman dan kerendahan hati aku datang menghadap hadirat-Mu yang kudus, di mana kejahatan tidak dapat berdiam, dan aku membawa segala kegelapan dalam diriku ke dalam terang-Mu. Berikanlah kepadaku keberanian untuk menaruh kepercayaan pada sabda-Mu untuk membebaskan aku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGUSIR ROH-ROH JAHAT DARI DUA ORANG GADARA” (bacaan tanggal 1-7-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-07 BACAAN HARIAN JULI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 Juni 2018 [HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SELALU ADA BERSAMA KITA

YESUS SELALU ADA BERSAMA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Selasa, 30 Juni 2020)

Peringatan Fakultatif Para Martir Pertama di Roma

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Fakultatif B. Raymundus Lullus, Martir (OFS)

Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sekon; 4:yong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur. Lalu datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali. Orang-orang itu pun heran dan berkata, “Orang seperti apa Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat pada-Nya?” (Mat 8:23-27) 

Bacaan Pertama: Am 3:1-8; 4:11-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 5:5-8

“Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” (Mat 8:26). Dengan kata-kata ini Yesus menegur para murid-Nya. Akan tetapi, teguran itu pun sebenarnya ditujukan kepada kita juga. Yesus juga menegur kita karena kita merasa takut berkaitan dengan banyak hal. Ini adalah pelajaran yang sangat baik yang Ia ingin ajarkan kepada kita. Seringkali kita merasa khawatir tentang begitu banyak hal tanpa banyak kepercayaan akan kebaikan Allah dan kuat-kuasa-Nya.

Kita tidak membutuhkan bukti bahwa rasa takut itu sangat menyebar-luas. Orang-orang miskin merasa takut bahwa mereka tidak dapat survive dalam kehidupan yang semakin sulit, uang belanja sembako yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, uang sekolah anak-anak mereka, kehilangan pekerjaan dlsb. Orang-orang kaya merasa takut kehilangan kekayaan yang mereka telah berhasil timbun selama ini, mungkin karena salah hitung dalam investasi lewat pasar modal. Orang-orang dengan latar belakang pendidikan biasa-biasa saja takut berbincang-bincang dengan mereka yang berpendidikan tinggi karena mereka merasa rendah-diri dan khawatir dipermalukan. Orang-orang yang berpendidikan seringkali merasa takut kehilangan posisi sosial dan prestise mereka. Di sisi lain juga masih ada pengaruh takhyul di sana sini dalam kehidupan manusia. Misalnya orang lebih berani menabrak manusia daripada seekor kucing yang menyeberang jalan.

Orang-orang tanpa agama atau iman merasa takut menghadapi ketidakpastian hidup dan teristimewa terhadap kapan datangnya maut. Akan tetapi, sungguh menyedihkan dan mengejutkanlah untuk melihat orang-orang yang kelihatan beriman justru tidak dapat membebasksn diri dari rasa takut.

Orang-orang yang disebut terakhir ini adalah seperti para murid Yesus dalam bacaan Injil di atas. Walaupun Tuhan Yesus sendiri ada bersama mereka dalam perahu ketika mereka terjebak di tengah amukan angin ribut, mereka masih saja berseru kepada-Nya dalam ketakutan mereka: “Tuhan, tolonglah, kita binasa” (Mat 8:25). Dalam kebaikan-Nya, Yesus membentak angin ribut dan danau sehingga menjadi teduh sekali (Mat 8:26), namun Ia menegur para murid untuk ketiadaan iman dan rasa takut mereka yang tetap ada walaupun Ia berada di TKP bersama mereka. “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” (Mat 8:26).

Yesus juga mengalamatkan teguran yang sama kepada kita sehubungan dengan rasa khawatir dan rasa takut kita akan hal-hal kecil. Kita lupa bahwa Dia senantiasa menyertai kita. Dia adalah Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita. (Mat 1:23; bdk. 28:20). Kita merasa khawatir tentang kesehatan kita yang terus menurun, kita merasa khawatir akan masa depan anak-anak kita, dll.

Tentu saja ada yang dinamakan rasa takut yang sehat atau keprihatinan yang sehat. Kita harus mengambil langkah jaga-jaga yang diperlukan bagi kehidupan kita, keluarga kita, kesejahteraan spiritual kita sekeluarga. Juga pandangan yang sehat tentang dosa dan segala akibatnya.

Ada banyak sekali kekhawatiran bodoh yang menghambat pekerjaan kita, kebahagiaan kita dan kehidupan spiritual kita. Ini adalah rasa takut untuk mana Yesus menegur kita dan meminta kepada kita untuk hanya mengingat bahwa Dia selalu ada bersama kita.

DOA:  Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah andalanku, dengan demikian aku tidak akan pernah merasa takut lagi. Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:23-27), bacalah tulisan yang berjudul “ANGIN RIBUT DIREDAKAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 30-6-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-06  BACAAN HARIAN JUNI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-7-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 Juni 2020 [HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BEBERAPA CATATAN TENTANG S. PETRUS DAN S. PAULUS

BEBERAPA CATATAN TENTANG S. PETRUS DAN S. PAULUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Senin, 29 Juni 2020)

Kira-kira pada waktu itu Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika ia melihat bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia selanjutnya menyuruh menahan Petrus juga. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak. Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai, sedangkan di depan pintu, para pengawal sedang menjaga penjara itu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam kamar penjara itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya, “Bangunlah segera!” Lalu gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Kemudian kata malaikat itu kepadanya, “Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!” Ia pun berbuat demikian. Setelah itu, malaikat itu berkata kepadanya, “Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!” Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan. Setelah mereka melalui tempat penjagaan pertama dan tempat penjagaan kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. Setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata, “Sekarangt tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapakan orang Yahudi.” (Kis 12:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,17-18; Bacaan Injil: Mat 16:13-19

Paling sedikit sejak tahun 354 hari ini  sudah ditetapkan oleh Gereja untuk menghormati Santo Petrus dan Santo Paulus. Kenangan akan dua rasul agung ini dan rasa hormat kita terhadap karya rahmat dalam kehidupan mereka telah menggores hati umat beriman sejak saat itu. Dari semua orang yang pernah hidup, dua orang ini dipilih untuk menjadi rasul untuk orang-orang Yahudi dan juga orang-orang non-Yahudi (baca: kafir).

Dalam diri Petrus kita melihat seorang nelayan tanpa latar belakang pendidikan tinggi dan berdarah panas, yang kemudian ditransformasikan menjadi seorang pengkhotbah/ pewarta dan seorang pastor (gembala) yang berani serta mampu mengendalikan diri. Petrus sedemikian ditransformasikan oleh Roh Kudus sehingga dia mampu tidur nyenyak walaupun sedang menghadapi maut. Lukas menceritakan kepada kita sebuah insiden di mana Herodus menahan Petrus dengan maksud memenggal kepalanya (Kis 12:1-4). Rasa percaya Petrus kepada Allah dan penerimaannya akan rencana Allah itu sedemikian total dan lengkap sehingga dalam penjara – yang sebenarnya dapat menjadi malamnya yang terakhir – Petrus  mampu tidur sebagai seorang bayi. Malaikat Tuhan yang diutus Allah untuk menyelamatkan Petrus harus menepuknya untuk membangunkannya (Kis 12:7).

Pada satu titik dalam jalan kehidupan-Nya, Paulus menggambarkan dirinya sebagai minyak yang dicurahkan dalam upacara kurban bagi Tuhan (lihat Flp 2:17). Mantan Farisi ini yang sebelum pertobatannya giat mengejar dan menghukum mati para murid Yesus, begitu diubah sehingga dia dapat menerima kematiannya dan mempersembahkannya bagi Tuhan sebagai tindakan penyembahan (lihat 2Tim 4:6). Paulus rela menyerahkan hidupnya demi Injil Yesus Kristus yang diwartakannya. Ketika “nasib”-nya sudah pasti, Paulus tetap tenang, menerima dan terus menaruh kepercayaannya pada kesetiaan Allah.

Kuat-kuasa Allah untuk mentransformasikan kita – sebagaimana Dia mentransformasi-kan Petrus dan Paulus – adalah tidak terbatas. Jika dua orang ini mampu mengubah seluruh dunia, mengapa harus ada perbedaan dengan kita, anda dan saya? Allah senantiasa mengundang kita semua  untuk ikut ambil bagian dalam panggilan sebagai rasul: untuk mengajar, menjadi saksi Injil, mengasihi dengan kasih Yesus, ikut serta dalam pertandingan sampai garis akhir seperti ditulis Paulus (lihat 2Tim 4:6-8).

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus. Marilah sekarang kita berdoa untuk Gereja, agar Allah membangkitkan kita dan memenuhi diri kita dengan kuat-kuasa Roh Kudus.

DOA: Tuhanku dan Allahku, utuslah Roh-Mu untuk bekerja dalam hati kami masing-masing dan mentransformasikan diri kami seperti Engkau mentransformasikan Petrus dan Paulus. Bangkitkanlah para pengkhotbah/pewarta seperti dua orang rasul-Mu yang agung itu agar dapat memproklamasikan Injil-Mu dan menjadi saksi-saksi-Mu yang hidup di tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul “DUA ORANG RASUL KRISTUS YANG BESAR” (bacaan tanggal 29-6-20) dalam situs/blog SANG SABDA   http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-06 BACAAN HARIAN JUNI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-6-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 28 Juni 2020 [HARI MINGGU BIASA XIII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KOMITMEN YANG BERSIFAT TOTAL

KOMITMEN YANG BERSIFAT TOTAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIII [TAHUN A], 28 Juni 2020)

“Siapa saja yang mengasihi bapa dan ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankaan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyabut seorang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.” (Mat 10:37-42) 

Bacaan Pertama: 2Raj 4:8-11,14-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,16-19; Bacaan Kedua: Rm 6:3-4,8-11FSZC 

Ada 3  (tiga) ayat (Mat 10:34-36) yang tidak merupakan bacaan Injil hari ini, namun merupakan bagian tak terpisahkan dari bacaan Injil hari ini. Oleh karena itu saya akan menyinggung juga 3 ayat ini dalam tulisan kali ini.

Memang kata-kata Tuhan Yesus dalam Injil ini cukup mengejutkan (atau sangat mengejutkan?). Yesus berkata bahwa Dia datang bukan untuk membawa damai di atas bumi, melainkan perpecahan. Raja Damai mengatakan bahwa dia datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya (lihat Mat 10:34-36). Sungguh aneh. Sungguh, hampir tidak dapat dipercaya bahwa semua kata itu ke luar dari mulut Yesus sendiri. Memang kita dapat maklumi, jika seseorang sudah all out dalam mengikuti jejak Kristus, namun anggota keluarganya yang lain tidak begitu, hal itu bukanlah salah Kristus.

Yesus menuntut dari kita masing-masing suatu komitmen total: Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Yesus, maka ia tidak layak bagi Yesus dst. Seseorang yang hanya mau menyelamatkan dirinya sendiri hanya akan menggiring dirinya kepada kematian. Sebaliknya, siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Yesus, maka dia akan memperolehnya (lihat Mat 10:37,39). Yesus membuat jelas bahwa orang yang mencari-selamat sendiri bukanlah tipe orang yang layak sebagai pengikut-Nya.

Kata-kata Yesus tentang mengikut Dia dan hubungannya dengan salib di atas sangatlah jelas. Yesus tidak menawarkan kekayaan duniawi, Dia menawarkan salib. Rakyat penduduk Galilea pada zaman Yesus tahu betul macam apa salib itu. Pada waktu jendral Romawi, Varus, telah menumpas  pemberontakan yang dipimpin oleh Yudas dari Galilea, dia memerintahkan pasukannya untuk menyalibkan 2.000 orang Yahudi, dan menegakkan orang-orang yang tersalib di sepanjang jalan menuju Galilea. Pada zaman kuno seorang penjahat memanggul sendiri salibnya ke tempat penyaliban dan orang-orang yang sedang mendengarkan Yesus berkhotbah telah melihat sendiri bagaimana para “penjahat” itu menderita ketika memanggul kayu salib mereka, juga betapa mendalam penderitaan mereka ketika menghadapi ajal di atas kayu salib.

Begitu banyak orang sepanjang sejarah Gereja/Kekristenan yang telah mengorbankan hidup mereka demi Kristus yang dipercayai oleh mereka sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Tanggal 22 Juni lalu kita baru saja memperingati S. Thomas More [1480-1535], seorang pejabat tinggi Kerajaan Inggris  anggota Ordo III Sekular S. Fransiskus yang rela dipancung karena kesetiaannya kepada Kristus Sang Raja sejati. Tanggal 30 Juni  yad. kita memperingati seorang martir Kristus lainnya, B. Raymundus Lullus [1236-1314], seorang turunan bangsawan yang juga seorang anggota Ordo III Sekular S. Fransiskus. Orang kudus itu dilempari batu oleh ketika melakukan tugas pelayanan misionernya di Bougie, Afrika Utara. Beliau menghembuskan napasnya yang terakhir dalam perjalanan pulang dengan kapal laut, ketika tiba di dekat Mallorca. Ini adalah dua contoh tentang apa artinya memanggul salib dan mengikut Yesus, …… kehilangan nyawa demi/karena Yesus.

Seorang Kristiani (pengikut/murid Kristus) mungkin harus mengorbankan ambisi-ambisi pribadinya, kemudahan dan kenyamanan yang mungkin dapat dinikmatinya, karir yang mungkin dapat dicapainya, harus mengesampingkan mimpi-mimpinya karena disadarkan bahwa semua itu bukanlah untuk dirinya. Yang pasti adalah bahwa dia harus mengorbankan kehendaknya, karena tidak seorang Kristiani pun dapat melakukan apa yang dikehendakinya, tetapi apa yang dikehendaki oleh Yesus Kristus. Dalam Kekristenan (Kristianitas) salib selalu hadir, karena Kristianitas memang sejatinya adalah agama salib.

Kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini jelas menunjukkan bahwa Dia tidak menginginkan ada orang memelintir ajaran-Nya tentang kasih. Yesus memperhadapkan orang-orang dengan pilihan-pilihan yang jelas: untuk Dia atau melawan Dia. Jadi jelaslah bahwa ikatan keluarga bukanlah alasan untuk tidak mengikut Yesus.

Sekarang pertanyaannya: Apakah kita sungguh-sungguh orang Kristiani yang otentik? Pahamkah kita bahwa ajaran Yesus tentang kasih dapat menyebabkan terjadinya perpecahan di antara teman-teman terdekat. Apakah kita cukup berani untuk menghadapi orang-orang lain dan membawa pesan Injil kepada mereka? Apakah kita mau menjalani kehidupan ini sedemikian rupa sehingga dapat bertentangan dengan pandangan orang-orang yang kita kasihi? Kristianitas bukanlah diperuntukkan bagi orang yang suka menghindari tugas. Kristianitas menuntut komitmen, menuntut pelayanan, pelayanan yang murah hati, bagi sesama manusia, teristimewa mereka miskin dan tertindas.

Namun demikian, di sini juga terletak ganjarannya, penemuan diri kita yang sejati. Hal ini dikatakan oleh Yesus sendiri: “Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya” (Mat 10:42; bdk. Mrk 9:41).

DOA: Ingatlah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada TUHAN: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!” (Mazmur Daud 16:1-2). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Rm 6:3-4,8-11), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU TELAH MATI TERHADAP DOSA, TETAPI KAMU HIDUP BAGI ALLAH DALAM KRISTUS YESUS” (bacaan tanggal 28-6-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 20-06 BACAAN HARIAN JUNI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan berjudul sama untuk bacaan tanggal 2-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Juni 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPATAH KATA SAJA

SEPATAH KATA SAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Sabtu, 27 Juni 2020)

Peringatan Fakultatif S. Sirilus dr Aleksandria, Uskup Pujangga Gereja

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Pada saat itu juga sembuhlah hambanya. 

Setibanya di rumah Petrus, Yesus melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangun dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan semua orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:5-17) 

Bacaan Pertama: Rat 2:2,10-14,18-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 74:1-7,20-21

Kedua bagian dalam bacaan Injil hari ini merupakan cerita-cerita indah sangat relevan dalam proses pematangan iman-kepercayaan kita masing-masing. Yang pertama adalah tentang iman mengagumkan dari seorang perwira (centurion) non-Yahudi yang dipuji oleh Yesus (Mat 8:5-13). Yang kedua adalah tentang penyembuhan ibu mertua Petrus yang sakit demam dan tentang pelayanan Yesus kepada orang banyak (Mat 8:14-17). Saya akan menyoroti bagian pertama, yaitu yang menyangkut sang perwira dan imannya.

Peristiwa yang menyangkut sang perwira itu menunjuk kepada pertobatan kaum non-Yahudi (baca: kafir) di masa setelah Yesus naik ke surga. Yesus dengan jelas mengungkapkan betapa dirinya terkesan sekali dengan iman sang perwira. Bahkan sebelum sang perwira membuktikan imannya, Yesus menunjukkan bahwa Dia bersedia untuk datang dan menyembuhkan hamba sang perwira. Yesus memiliki belarasa terhadap semua orang, apakah mereka Yahudi atau non-Yahudi. Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah kebaikan hati kita, kesiap-sediaan kita untuk menolong orang lain juga tidak dipengaruhi oleh berbagai prasangka dan praduga, seperti halnya dengan Yesus?” “Atau, apakah kita mempunyai daftar nama-nama dari mereka yang menurut kita tidak pantas untuk kita kasihi?”

Iman sang perwira tidak terbatas, tanpa syarat. Ia berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8). Perwira ini percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan dari jarak jauh, tanpa harus mengunjungi hambanya di rumah miliknya atau kontak pribadi yang bagaimana pun juga. Ini adalah inti pokok dari cerita Injil hari ini. Di sini ditunjukkan  bahwa sang perwira percaya bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa ilahi atas segenap alam ciptaan. 

Bacaan Injil di atas menunjukkan bahwa Yesus takjub pada iman-kepercayaan sang perwira. Yesus menggunakan peristiwa itu untuk memberi pengajaran kepada orang banyak. Pertama-tama Yesus mengatakan  bahwa sang perwira memiliki iman-kepercayaan yang lebih besar daripada yang selama itu dijumpai-Nya di kalangan orang-orang Yahudi, yaitu umat pilihan Allah sendiri (lihat Mat 8:11). Kedua, apabila anak-anak pilihan dari Abraham tidak mengambil langkah awal untuk percaya, maka Kerajaan-Nya akan diambil dari mereka untuk diberikan kepada orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) seperti sang perwira. 

Kita adalah umat Kristiani. Kita telah dipilih untuk menerima sang Sabda, untuk menerima karunia iman dan kasih. Kita adalah warga umat Allah. Kalau begitu, mengapa kita tidak merupakan saksi-saksi Kristus (dan Kabar Baik-Nya) yang lebih baik? Mengapa orang-orang yang tidak percaya tidak menunjuk kepada kita dan berkata: “Ada yang istimewa tentang orang-orang Kristiani itu, marilah kita melihatnya?” (pelajarilah Kis 2:41-47; 4:32-35). Sekadar menjadi anggota Gereja dan rajin menghadiri Misa Kudus pada hari Minggu bukanlah jaminan atas iman kita, bukan juga jaminan atas keanggotaan kita dalam Kerajaan-Nya. Seseorang – sederhana dan tidak mempunyai latar-belakang pendidikan hebat-hebat – yang baru saja masuk menjadi anggota Gereja, sungguh dapat membuat diri kita malu karena melihat iman orang itu yang murni tanpa syarat apapun. 

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau menanggung segala sakit-penyakitku, memikul segala penderitaanku. Engkau adalah andalanku, ya Yesus. Sembuhkanlah dan kuatkanlah imanku yang lemah ini. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMIKUL KELEMAHAN KITA DAN MENANGGUNG PENYAKIT KITA” (bacaan tanggal 27-6-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-06 BACAAN HARIAN JUNI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELA RASA YANG MELAMPAUI HUKUM

BELA RASA YANG MELAMPAUI HUKUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Jumat, 26 Juni 2020)

Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Seorang yang sakit kusta datang kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata, “Aku mau, jadilah tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” (Mat 8:1-4) 

Bacaan Pertama: 2Raj 25:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 137:1-5 

Dalam cerita ini kita harus memperhatikan dua hal, yaitu pendekatan yang dilakukan oleh orang kusta dan tanggapan yang diberikan oleh Yesus. Dalam pendekatan si orang kusta terdapat tiga unsur: kepercayaan dirinya, kerendahan hatinya, dan sikap hormatnya.

Orang kusta itu mendatangi Yesus dengan penuh kepercayaan diri. Dia tidak mempunyai keraguan sedikitpun, bahwa jika Yesus mau, maka Dia akan membuat dirinya tahir. Tidak seorang penderita kusta pun pada masa itu yang berani berada dekat dengan seorang Rabi atau ahli Taurat ortodoks, karena dia tahu bahwa dia akan dilempari batu. Namun penderita kusta yang satu ini datang kepada Yesus. Ia memiliki rasa percaya yang boleh dikatakan sempurna akan kemauan Yesus untuk menyambutnya. Jadi, marilah kita ingat, bahwa tidak seorang pun perlu merasa dirinya begitu kotor atau najis untuk datang bertemu dengan Yesus Kristus.

Orang kusta itu memiliki rasa percaya yang sempurna akan kuat-kuasa Yesus. Kusta adalah satu jenis penyakit yang tidak ada resep pengobatannya menurut para rabi pada masa itu. Namun orang kusta yang satu ini yakin bahwa Yesus dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang-orang lain. Tidak seorang pun boleh merasa bahwa dirinya tidak dapat disembuhkan fisiknya atau tidak dapat diampuni jiwanya sementara Yesus Kristus hadir.

Orang kusta itu datang kepada Yesus dengan kerendahan hati. Dia tidak menuntut kesembuhan. Ia hanya berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Mat 8:2). Seakan-akan dia berkata: “Aku tahu bahwa diriku bukan siapa-siapa; aku tahu bahwa orang-orang lain akan menghindar dariku dan tidak akan peduli terhadap diriku; aku tahu bahwa aku tidak mempunyai klaim apa-apa atas diri-Mu; namun barangkali dalam perendahan keilahian-Mu, Engkau sudi menggunakan kuat-kuasa-Mu untuk menolong seorang manusia hina seperti aku. Kerendahan hati orang kusta ini memang luarbiasa, dia hanya menyadari bahwa dirinya harus mencari jalan untuk bertemu dengan Yesus.

Orang kusta itu datang kepada Yesus dengan rasa hormat. Injil mengatakan bahwa dia
sujud menyembah (Mat 8:2 ). Kata kerja dalam bahasa Yunani untuk menyembah adalah proskunein, kata yang hanya digunakan untuk “menyembah dewa-dewi”; kata yang selalu menggambarkan perasaan seseorang dan tindakannya di hadapan kehadiran ilahi. Orang kusta itu tidak pernah dapat menceritakan kepada siapa pun apa yang menurut pikirannya siapa Yesus itu; namun dia tahu bahwa di hadapan Yesus dia berada di hadapan hadirat “seorang” dewa. Kita tidak perlu menempatkan semua ini dalam term-term teologis atau filosofis; cukuplah untuk yakin bahwa apabila kita dikonfrontasikan dengan Yesus, maka kita dikonfrontasikan dengan kasih dan kuat-kuasa Allah Yang Mahakuasa.

Sekarang marilah kita lihat tanggapan dari pihak Yesus terhadap pendekatan yang dilakukan oleh orang kusta itu. Yang pertama-tama dan utama dari reaksi Yesus adalah bela rasa. Hukum mengatakan bahwa Yesus harus menghindari kontak dengan orang kusta itu dan mengancam dia dengan hal-hal yang kotor jika Dia memperkenankan orang kusta itu untuk datang dalam batas jarak enam kaki dari diri-Nya. Apa yang terjadi? Yesus malah mengulurkan tangan-tangan-Nya dan menyentuh orang kusta itu (Mat 8:3). Pengetahuan medis pada zaman itu akan menyatakan bahwa Yesus sedang menghadapi risiko kena infeksi, namun Yesus justru mengulurkan tangan-tangan-Mya dan bahkan menyentuhnya. Ruuuuuuuuar biasa !!!

Bagi Yesus hanya ada satu kewajiban dalam hidup ini, yaitu menolong. Hanya ada satu hukum, dan hukum itu adalah kasih. Kewajiban untuk menolong mengambil preseden di atas segala hukum dan peraturan lainnya. Hal ini membuat Yesus menantang semua risiko fisik. Di mata seorang dokter yang baik seseorang yang menderita penyakit yang mengerikan bukanlah suatu pemandangan yang memuakkan, melainkan seorang pribadi manusia yang membutuhkan pertolongan. Bagi seorang dokter yang baik, seorang anak yang menderita penyakit serius adalah seorang anak yang memerlukan pertolongan. Yesus adalah seperti itu; Allah seperti itu; kita pun harus seperti itu. Seorang Kristiani sejati akan melanggar konvensi apa pun, akan mengambil risiko demi menolong sesama manusia yang membutuhkan pertolongannya.

(Adaptasi dari William Barclay, THE DAILY BIBLE STUDY – THE GOSPEL OF MATTHEW, VOLUME 1, hal. 297-298.)

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau Mahakuasa namun senantiasa berbela-rasa terhadap siapa saja yang membutuhkan pertolongan-Mu. Biarlah Roh Kudus-Mu membentuk diriku menjadi seorang murid-Mu yang baik, yang setia dalam hal-hal baik walaupun kecil. Dengan demikian aku dapat memperoleh ganjaran yang jauh lebih besar dari Engkau, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 8:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT PENYEMBUHAN PERTAMA DARI YESUS YANG TERCATAT DALAM INJIL MATIUS” (bacaan tanggal 26-6-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-06 BACAAN HARIAN JUNI 2020. 

(Tulisan ini revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS