BENAR TUHAN, NAMUN ANJING ITU MAKAN REMAH-REMAH YANG JATUH DARI MEJA TUANNYA

BENAR TUHAN, NAMUN ANJING ITU MAKAN REMAH-REMAH YANG JATUH DARI MEJA TUANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XX [TAHUN A], 20 Agustus 2017)

 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Yes 56:1,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,6,8; Bacaan Kedua: Rm 11:13-15,29-32 

Apa yang dilakukan oleh Yesus? Pada awalnya, Dia kelihatan tidak berminat untuk menolong perempuan Kanaan yang telah berseru kepada-Nya itu. Yesus di sini kelihatan tidaklah menentang atau mendobrak keberadaan rintangan-budaya antara diri-Nya dengan perempuan non-Yahudi (baca: Kafir), dan hal ini bukanlah perilaku yang biasa ditunjukkan oleh-Nya. Perempuan Kanaan itu harus melanjutkan meminta-minta belas kasihan dari Yesus, sebelum akhirnya dia memperoleh perhatian Yesus. Mengapa Yesus memperlakukan perempuan itu tidak seperti biasanya Dia lakukan terhadap orang-orang lain?

Yesus senantiasa mendengar seruan hati kita! Ia tidak pernah membiarkan kita menderita melampaui tujuan Allah untuk menarik kita lebih dekat dengan diri-Nya. Sebenarnya “penundaan” tanggapan Yesus memberikan tantangan kepada perempuan Kanaan itu untuk memperdalam imannya melalui ketekunan. Ada satu pelajaran mendalam yang dapat ditarik dari peristiwa ini: Siapa pun diri kita dan di mana pun posisi kita dalam masyarakat, iman kita kepada Yesus dapat mengatasi segala rintangan dan membawa kita kepada hati-Nya.

Iman perempuan Kanaan itu bukanlah sekadar persetujuan secara intelektual terhadap konsep-konsep yang tidak jelas tentang Allah, lebih daripada itu! Walau pun perempuan itu belum sepenuhnya memahami siapa Yesus sebenarnya, biar bagaimana pun juga dia menaruh kepercayaan kepada-Nya dengan sepenuh hati. Dia mengetahui kebutuhan-kebutuhannya dan dia pun menyadari bahwa Yesuslah satu-satunya harapan bagi dirinya. Dia tidak malu untuk berseru minta tolong kepada Yesus, sampai  Yesus menolongnya. Seperti Santo Paulus, ia tidak merasa ragu sedikit pun untuk mempermaklumkan imannya kepada Yesus di depan publik atau untuk mengakui kebutuhannya (lihat Rm 1:16; 2Tim 1:12). Itulah sebabnya mengapa Yesus begitu senang. Digerakkan oleh iman perempuan itu, Yesus memberikan persetujuannya: “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). 

Yesus tidak malu memanggil kita sebagai saudari dan saudara-Nya – siapa pun kita ini, apakah kita orang miskin yang bermukim di bantaran sungai Ciliwung atau orang kaya yang tinggal di Pondok Indah, orang Jawa atau keturunan Cina, lulusan SMA Kanisius  di Menteng Raya atau sebuah SD Negeri di Bekasi, dlsb. Yesus telah datang untuk menolong kita dalam kelemahan kita dan Ia menantikan kita untuk menaruh rasa percaya dan pengharapan kita kepada-Nya. Sekarang, rintangan-rintangan atau keragu-raguan apa saja yang kita perkenankan tetap menghadang kita untuk berseru minta tolong kepada-Nya? Seperti perempuan Kanaan itu, marilah kita sekarang juga, tanpa malu-malu atau “ja-im”, berseru minta tolong kepada-Nya dan terus berseru kepada-Nya. Marilah kita (anda dan saya) mengundang Dia ke dalam kehidupan kita masing-masing guna menyembuhkan kita, membawa Injil ke dalam keluarga kita, dan mengubah seluruh dunia. Yesus itu mahasetia. Dia akan menjawab umat-Nya sesuai iman mereka masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, kami datang menghadap-Mu dalam kelemahan kami. Namun kami juga tahu bahwa kelemahan kami memberikan kepada-Mu kesempatan untuk berkarya dalam kehidupan kami. Tuhan, tolonglah kami agar kami dapat menjadi seperti perempuan Kanaan itu dan menunjukkan karya agung-Mu dalam kehidupan kami dan di tengah dunia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGASIHI KITA SEMUA” (bacaan tanggal 20-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 18 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DAN ANAK-ANAK

YESUS DAN ANAK-ANAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Sabtu, 19 Agustus 2017)

OFMConv.: Peringatan Keluarga Fransiskan & Peringatan S. Ludovikus, Uskup

 

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang punya Kerajaan Surga.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ. (Mat 19:13-15) 

Bacaan Pertama: Yos 24:14-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-8,11

Secara universal anak-anak kecil senang dirangkul, diangkat-angkat, dibopong-bopong dan/atau digendong. Mereka senang disentuh oleh tangan-tangan dari orang-orang yang menyayangi. Menarik juga pandangan para ahli yang mengatakan, bahwa sangatlah penting bagi perkembangan kognitif dan emosional seorang anak apabila dia mampu bersentuhan/menyentuh dan membuat kontak-mata dengan orang lain – untuk menerima afirmasi keberadaan orang-orang lain dalam kehidupannya. Bayangkan bagaimana pandangan sederhana seorang ayah kepada anaknya yang masih kecil itu dapat menyampaikan pesan yang begitu banyak kepada anaknya yang sedang memandanginya. Teristimewa bagi seorang anak yang masih kecil, memang tidak ada orang yang lebih penting daripada orangtuanya. Hal sedemikian dirasakan oleh si anak bukan karena “surat tanda lahir” atau suatu kecocokan DNA. Semua ini adalah masalah cintakasih, afeksi dan perlindungan serta rasa aman yang diberikan orang tua kepadanya.

Hubungan orang tua dan anak yang terjalin dengan sehat dapat banyak mengajar kita tentang hubungan seorang pribadi dengan Allah. Allah adalah Bapa surgawi kita. Dia adalah Bapa semua orang, karena (1) Dia menciptakan semua orang menurut gambar dan rupaNya (Kej 1:26.27); (2) Dia menyediakan semua kebutuhan anak-anak-Nya, sehingga tidak perlu khawatir (lihat Mat 6:25-34); (3) Dia begitu mengasihi manusia dan seisi dunia sehingga mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan semua (lihat Yoh 3:16-17); (4) Dia telah mensyeringkan hidup-nya dengan manusia. (lihat 1Yoh 3:1-3). Dia adalah Bapa surgawi yang sangat senang memandang kita dalam kasih. Ini adalah salah satu alasan mengapa Yesus mendorong kita untuk datang kepada Bapa-Nya seperti anak-anak kecil. Ia menginginkan agar kita mengalami martabat, kasih dan janji Allah Bapa yang memperhatikan kita penuh afeksi dari hari ke hari.

Seperti juga Yesus yang meletakkan tangan-Nya di atas anak-anak, Bapa surgawi juga ingin menyentuh kita di bagian terdalam dari hati kita. Oleh karena itu, dalam doa-doa anda hari ini, baiklah anda mohon kepada Allah bagaimana Dia bergerak dalam hati anda, menghangatkan anda dan meyakinkan anda akan segalanya yang baik, yang diberikan-Nya kepada anda. Bayangkanlah Dia sedang memandangi mata anda dan mengatakan kepadamu bahwa Dia sangat mengasihimu dan anda adalah milik-Nya. Bayangkanlah Bapa surgawi memeluki diri anda dan memberkatimu, mendorongmu agar melayani mereka yang ada di sekeliling anda dengan penuh cintakasih. Maka hari ini bukalah tangan dan hati anda bagi Bapamu yang di surga. Biarlah Dia melayani anda dengan kasih dan afeksi yang sungguh ilahi.

Perikop Injil ini juga menunjukkan tanggung jawab utama para orangtua Kristiani. Mereka dipanggil untuk membantu proses tumbuh-kembangnya benih iman yang ada dalam diri anak-anak mereka, sehingga sungguh dapat bertumbuh menjadi suatu relasi yang hidup dengan Yesus Kristus. Allah memerintahkan bangsa Israel untuk mengajar anak-anak mereka perihal hukum-Nya dan menceritakan kepada mereka tentang segala keajaiban yang telah dilakukan oleh-Nya bagi mereka (Ul 4:9). Santo Paulus juga mendorong para orangtua untuk mendidik anak-anak mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Ef 6:4). Kita semua ingin agar anak-anak kita berhasil. Kita semua mau memberikan apa saja yang baik. Memperkenalkan mereka kepada Allah Tritunggal Mahakudus lewat perkenalan kepada Yesus, dan memberikan teladan yang baik sebagai orang Kristiani kepada mereka adalah pemberian terbaik yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita. Ini adalah cintakasih orangtua yang sejati.

DOA: Tuhan Yesus, saya berdoa untuk anak-anak di mana saja mereka berada. Semoga mereka dapat mengenal Engkau secara pribadi. Berikanlah kepada para orangtua mereka dan/atau para pengasuh mereka hikmat ilahi dan kekuatan. Pada saat ini aku berdoa khusus untuk semua anak  yang tidak mempunyai tempat tinggal dan/atau yatim-piatu, misalnya karena korban perang dan berbagai bentuk kekerasan lainnya. Biarlah mereka datang berkumpul kepada-Mu dan Engkau meletakkan tangan-Mu di atas  mereka juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 19:13-15), bacalah tulisan yang berjudul “YANG PUNYA KERAJAAN SURGA” (bacaan tanggal 19-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HUBUNGAN PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN UMAT-NYA ADALAH CERMINAN PERKAWINAN

HUBUNGAN PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN UMAT-NYA ADALAH CERMINAN PERKAWINAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Jumat, 18 Agustus 2017)

Lalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Lagi pula Ia berfirman: Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan, ia berzina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:3-12) 

Bacaan Pertama: Yos 24:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 136:1-3,16-18,21-22,24 

Yesus telah meninggalkan Galilea dan kembali ke daerah Yudea … membuat satu langkah lagi dalam menuju sengsara dan kematian-Nya. Di Galilea, Yesus telah menyatakan kuat-kuasa Allah dalam bentuk mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran, juga pengajaran yang jelas. Di Yudea, Dia didatangi orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang mencoba untuk menjebak-Nya. Namun demikian, Yesus terus saja melakukan perbuatan-perbuatan baik: menyembuhkan orang sakit dan memberitakan Kabar Baik tentang kasih Allah kepada umat-Nya.

Selama Yesus dan rombongan-Nya melakukan perjalanan mereka dan memasuki Yerusalem, Ia tetap membina para murid-Nya melalui pengajaran-pengajaran sambil tentunya mengundang mereka kepada kehidupan dalam Dia (Mat 19:1-22:46).

Dalam bacaan Injil di atas, orang-orang Farisi mencoba menggunakan masalah perceraian sebagai satu cara untuk mendiskreditkan Yesus. Bahkan pada hari ini pun kita dapat melihat bagaimana kecenderungan kita yang buruk mencoba memakai subjek-subjek kontroversial untuk menjebak pihak-pihak dengan siapa kita tidak memiliki kesepakatan. Memang hal seperti ini lebih biasa terjadi di dunia  politik, namun apabila kita melihat ke dalam batin atau hati kita sendiri, maka kita akan melihat bahwa tindakan seperti ini ada juga dalam diri kita. Tanpa Roh Kudus yang mendorong serta menjaga nurani kita, kita pun dengan mudah dapat menjadi sinis dan munafik seperti orang-orang Farisi.

Masalah seputar perceraian seringkali menyakitkan, oleh karena itu pentinglah bagi kita untuk senantiasa mengingat bahwa niat Yesus bukanlah untuk menyebabkan rasa sakit, melainkan untuk memaparkan rencana ilahi yang jelas berkaitan dengan hubungan kemanusiaan. Yesus mengajak orang-orang Farisi itu merujuk kepada kisah penciptaan dan niat asli Allah bagi manusia, yaitu laki-laki dan perempuan (Mat 19:4-6). Dalam perkawinan, laki-laki dan perempuan dipersatukan dalam suatu hubungan perjanjian (a covenant relationship) yang akan mencerminkan hubungan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Sayang sekali, visi ini seringkali dipengaruhi secara negatif oleh sikap mementingkan diri sendiri dan bahkan kejahatan yang tersembunyi dalam hati manusia. Upaya-upaya pribadi (berdasarkan kekuatan sendiri) saja – bagaimana pun pentingnya – tidak pernah akan mencapai cita-cita yang tinggi ini. Cintakasih dalam hidup perkawinan dan juga stabilitas perkawinan menuntut iman dan ketaatan kepada Bapa surgawi yang sungguh memiliki hasrat mendalam untuk mengubah diri kita lewat karya Kristus.

Sebagai murid-murid (pengiku-pengikut) Yesus Kristus, marilah kita berdoa agar kita akan mampu merangkul hidup Kristus dan mengikuti jejak-Nya – di jalan kasih dan ketaatan. Allah itu mahasetia. Apa pun yang telah terjadi atas diri kita, “salah jalan” bagaimana pun yang telah kita lakukan, namun apabila kita berbalik kembali kepada-Nya, maka Dia akan mendengar doa kita dan menunjukkan kepada jalan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, bersihkanlah hati kami dan murnikanlah nurani kami. Lindungilah kekudusan keluarga dan tolonglah mereka yang sedang berjuang atau menderita dalam kehidupan perkawinan dan keluarga mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 19:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “KEMBALI KEPADA RENCANA ALLAH YANG ASLI” (bacaan tanggal 18-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tangga 12-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MERDEKA !!! MERDEKA !!! MERDEKA !!!

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” (1 Ptr 2:16)

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahakuasa, Engkau memanggil setiap orang kepada kemerdekaan dalam Kristus Putera-Mu. Maka pada Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 ini kami mohon kepada-Mu: lindungilah tanah air kami agar tetap bebas merdeka dan aman sentosa. Angerahkanlah kepada bangsa Indonesia kemerdekaan sejati, agar di seluruh wilayahnya berkuasalah keadilan dan damai sejahtera, peri kemanusiaan, kerukunan dan cinta kasih. Kami berdoa demikian dalam nama Yesus Kristus, Putera-Mu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Cilandak, 17 Agustus 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERIKANLAH KEPADA KAISAR APA YANG MENJADI HAKNYA

BERIKANLAH KEPADA KAISAR APA YANG MENJADI HAKNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA Kamis, 17 Agustus 2017)

Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:15-21) 

Bacaan Pertama: Sir 10:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,6-7; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:13-17 

Kita telah mendengar jawaban Yesus kepada orang-orang Farisi dan para pendukung Herodes begitu sering, sehingga kedengarannya seperti ungkapan akal sehat sederhana saja. Namun sesungguhnya jawaban Yesus itu adalah jawaban yang cerdik terhadap sebuah pertanyaan jebakan; sebuah ungkapan nyata dari “karunia berkata-kata dengan hikmat” yang sejati. Para pemuka agama ini berharap dapat menjebak Yesus membuat pernyataan politik yang akan menggambarkan diri-Nya, entah sebagai seorang revolusioner yang menolak membayar pajak (kepada penguasa Roma) atau sebagai boneka Roma yang mempromosikan sikap tunduk terhadap sebuah rezim penindas. Namun Yesus mengetahui benar hati (yang tidak lurus)  para pemuka agama itu dan juga pikiran Allah. Akan tetapi, Dia menghindar dari jebakan-jebakan yang sudah dipasang dan memberikan sebuah jawaban mendalam, jawaban mana masih menantang kita sampai hari ini.

Kita dapat dengan langsung menyetujui bahwa “apa yang wajib kita berikan kepada Allah” adalah hati kita sendiri. Secara bebas-merdeka kita harus memberikan hati kita kepada Allah, mempersembahkan kepada-Nya hidup kita sendiri dan buah-buah pertama waktu doa dan penyembahan kita, dan menempatkan Dia sebelum dan di atas segala sesuatu. Akan tetapi bagaimana dengan “memberikan kepada Kaisar”? Apakah ini sekadar berarti melangkah sedikit lebih jauh dari tindakan “menggigit jari dan bersungut-sungut” setiap kali kita membayar pajak”? Yesus mau mengajak kita masuk lebih dalam lagi: Bagaimana pun, “memberi kepada Allah” harus mengubah –  malah mentransformasikan – cara kita “memberi kepada Kaisar” apa yang menjadi haknya.

Pernahkah anda memikirkan tentang cara seorang Kristiani sampai dapat mentransformasikan budayanya? Apabila kita melihat masyarakat, kita harus melihatnya lewat ajaran Yesus tentang keadilan dan kerahiman atau belas kasihan. Pelayanan kita kepada kaum miskin, perjuangan kita untuk penggelaran program-program sosial yang adil,  pengejaran kita akan kerahiman (Allah) bagi mereka yang membutuhkan, sungguh dapat mengubah dunia. “Memberi kepada Kaisar” bukanlah sekadar membayar pajak dengan bersungut-sungut, tetapi secara aktif berupaya membangun kerajaan Allah sudah sejak di bumi ini.

Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki harta kekayaan dalam bentuk berdiamnya Roh Kudus dalam diri kita, hikmat Allah yang dapat diterapkan dalam setiap situasi. Kita harus mencari cara-cara membuat terobosan guna memasukkan “ragi” Allah ke dalam masyarakat di sekeliling kita pada berbagai kesempatan/peluang yang ada di depan mata, memperkenankan keadilan dan kerahiman-Nya menjadi adonan yang akan “mengembangkan serta meningkatkan” budaya kita ke tingkat yang lebih memiliki perspektif ilahi. Yesus sendiri telah mengajar kita untuk memberi kepada Kaisar apa yang wajib kita berikan kepada Kaisar, hal yang dapat mentransformasikan pemerintah kita. Sebagai pribadi-pribadi yang takut akan Allah dan warganegara yang memiliki komitmen, kita juga harus melakukannya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memanggil setiap orang kepada kemerdekaan dalam Yesus Kristus, Putera-Mu. Maka pada hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ini kami mohon kepada-Mu: lindungilah tanah air kami, agar tetap bebas merdeka dan aman sentosa. Anugerahkanlah kepada bangsa kami kemerdekaan sejati, agar di seluruh wilayahnya berkuasalah keadilan dan damai sejahtera, perikemanusiaan, kerukunan dan cintakasih yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:15-21), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH JAWABAN YANG MEMILIKI RELEVANSI SAMPAI HARI INI” (bacaan tanggal 17-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08  BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 15 Agustus 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ALLAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN KITA

ALLAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Rabu, 16 Agustus 2017)

 

Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN (YHWH) memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan, seluruh Naftali, tanah Efraim dan Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat, Tanah Negeb dan Lembah Yordan, lembah Yerikho, kota pohon korma itu, sampai Zoar. Dan berfirmanlah YHWH kepadanya: “Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.”

Lalu matilah Musa, hamba YHWH itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman YHWH. Dan dikuburkanNyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini. Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang. Orang Israel menangisi Musa di dataran Moab tiga puluh hari lamanya.

Maka berakhirlah hari-hari tangis perkabungan karena Musa itu. Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangan ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan YHWH kepada Musa. Seperti Musa yang dikenal YHWH dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, dalam hal segala tanda   dan mukjizat, yang dilakukannya atas perintah YHWH di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel. (Ul 34:1-12) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-3,5,8,16-17; Bacaan Injil: Mat 18:15-20 

Pada bulan Oktober 2005, Allah Yang Mahabaik memperkenankan istri dan saya – lewat kebaikan pasutri sahabat kami – untuk mengikuti ziarah ke Tanah Suci. Kami masuk melalui Yordania, sehingga dengan demikian gunung Nebo dan Yerikho merupakan tempat-tempat pertama yang kami kunjungi, bahkan sebelum masuk hotel (di Nazaret). Sebagai peziarah, sah-sah saja jika kita menanyakan kepada tour guide apakah para arkeolog pernah melakukan ekskavasi guna menemukan di mana sesungguhnya Musa dimakamkan (lihat Ul 34:6). Memang yang dikatakan dalam teks bacaan di atas bahwa tidak ada orang yang tahu kuburnya sungguh dapat membuat “penasaran” orang yang membacanya. Kita seringkali merasa enggan untuk menerima sabda Alah secara terlalu harfiah, barangkali karena takut dituduh sebagai seorang fundamentalis. Namun dapatkah kita (anda dan saya) membayangkan yang akan terjadi dengan Yosua apabila dia mempunyai perasaan yang sama?

Kematian Musa merupakan pukulan yang berat bagi umat Israel. Musa adalah pemimpin besar mereka yang telah memimpin mereka keluar dari perbudakan di Mesir, dan sekarang ia telah tiada, justru pada saat-saat menjelang mereka memasuki tanah terjanji, setelah selama 40 tahun berkelana mengarungi padang gurun yang tidak ramah. Mereka menangis dan meratap untuk 30 hari lamanya, namun ketika masa berkabung sudah selesai mereka melihat kepada pemimpin baru mereka Yosua, terhadap siapa Musa telah meletakkan tangannya.  Bagaimana mungkin Yosua menggantikan Musa, satu-satunya orang kepada siapa YHWH-Allah telah berbicara dengan berhadapan muka?

Yosua tidak perlu berlama-lama memikirkan dan merenungkan pertanyaan ini, karena Allah bersabda kepadanya: “Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau, Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yos 1:5). Yosua tahu bahwa YHWH-Allah yang telah menyediakan manna, daging dan air minum di padang gurun akan setia pada janji-Nya. YHWH tidak pernah berubah dalam hasrat-Nya untuk memelihara umat-Nya.

Allah kita adalah Allah Yang Mahasetia. Dia setia kepada Abraham, Musa dan Yosua, dan Ia tetap setia kepada kita hari ini juga. Dia memanggil kita masing-masing kepada suatu relasi yang penuh keintiman dengan diri-Nya. Kita cenderung berpikir bahwa walaupun Allah telah melakukan hal-hal besar bagi orang-orang besar di masa lampau, misalnya para nabi, Bunda Maria dlsb., hal-hal besar itu tidak ada urusannya dengan orang-orang kecil, orang-orang biasa seperti kita. Kita percaya bahwa Allah mempunyai rencana bagi umat pilihan-Nya, namun kita suka dilanda perasaan kurang percaya/yakin tentang keberadaan rencana-Nya bagi kita masing-masing. Akan tetapi, semakin dekat kita datang kepada-Nya, semakin banyak pula kita mengalami kasih-Nya bagi kita masing-masing. Dan kasih itu dapat membuat siapa saja dari kita menjadi tergolong “orang besar” juga.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, satu-satunya yang baik, kami ingin mengenal-Mu lebih akrab lagi dan untuk menjadi lebih tanggap terhadap rencana-Mu bagi hidup kami masing-masing. Roh Kudus, Engkau menginspirasikan Musa dan Yosua. Bimbinglah kami juga agar mau dan mampu menerima secara penuh misi Kristus bagi kami sebagai murid-murid-Nya yang sejati. Berilah rasa percaya diri kepada kami , ya Roh Kudus, berkaitan dengan karya-Mu dalam hidup kami masing-masing. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “BELAS KASIH BERDIRI LEBIH TINGGI DARIPADA PENGHAKIMAN” (bacaan tanggal 16-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Agustus 2017 [Peringatan S. Maximilianus Maria Kolbe, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HANYA ORANG RENDAH HATI SAJA YANG TERBUKA BAGI RAHMAT ALLAH

HANYA ORANG RENDAH HATI SAJA YANG TERBUKA BAGI RAHMAT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Selasa, 15 Agustus 2017)

 

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikan juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:1-5,10,12-14) 

Bacaan Pertama: Ul 31:1-8; Mazmur Tanggapan: Ul 32:3-4a,7-9,12 

Dalam Injil kita dapat melihat suatu kualitas pribadi yang sangat istimewa dari Yesus, yaitu kelemah-lembutan-Nya terhadap anak-anak, terhadap orang-orang miskin, dan terhadap para pendosa yang bertobat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang ini secara istimewa dekat pada Allah, dengan demikian Ia mengasihi mereka secara istimewa pula. “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mat 18:5).

Cara terbaik untuk menguji kualitas cintakasih kita, untuk melihat sampai berapa sejati dan Kristiani-nya cintakasih itu, adalah untuk menguji cintakasih kita bagi “mereka yang kecil-kecil”, bagi anak-anak, bagi orang-orang miskin, bagi mereka yang paling sedikit diberkati dalam artian dunia.

Marilah kita merenungkan bagaimana Putera Allah sendiri memilih untuk datang ke tengah dunia. Dia tidak dilahirkan dalam istana raja, bukan pula di tengah keluarga bangsawan atau keluarga kaya-raya, bukan di atas tempat tidur yang terbuat dari emas dengan kasur dan bantal-bantal yang empuk serta kain mahal sebagai seprei. Tidak ada pelayan-pelayan perempuan yang menjaga, juga tidak ada wartawan yang akan meliput berita tentang diri-Nya. Yesus memilih kemiskinan dan kesederhanaan, sebuah gua/kandang dingin dan gelap yang sebenarnya diperuntukkan bagi hewan-hewan peliharaan. Yesus memilih sepasang orangtua yang tergolong paling miskin, palungan yang sederhana-murahan, makanan yang sederhana, …… tidak ada kenyamanan dan tidak ada publisitas. Yesus tidak memilih kaisar atau gubernur sebagai sahabat-sahabat-Nya yang pertama. Pada kenyataannya, seorang raja – Herodus – adalah musuh-Nya yang paling jahat. Para sahabat Yesus yang pertama adalah gembala-gembala yang bodoh, miskin, dan berbau badan sama seperti domba-domba mereka.

Yesus mengasihi anak-anak karena mereka pada umumnya jujur, inosens, memiliki hati yang terbuka, dan murni. Yesus juga  mengasihi para pelacur dan pemungut cukai yang dijuluki pendosa-pendosa oleh orang-orang Farisi, karena mereka adalah orang-orang sederhana dan sungguh-sungguh bertobat. Mereka memiliki hati yang baik, dan mereka mau kembali menjadi inosens seperti anak kecil. Mereka juga mendengarkan dan dengan penuh kemauan menanggapi belas-kasih Allah.

Inilah orang-orang yang sungguh rendah-hati; mereka yang kecil pada pandangan mata mereka sendiri. Mereka tidak menjadi munafik, tidak adil, sombong, sia-sia, atau tidak jujur. Mereka adalah orang-orang dina atau rendah-hati yang dikasihi oleh Yesus. Yesus bersabda: “Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12). Hanya orang yang rendah-hati saja yang terbuka untuk menerima rahmat Allah. Hanya orang-orang seperti ini yang memiliki hikmat-spiritual untuk mohon pengampunan dari Allah, dan menghormati orang-orang kecil – wong cilik – yang dikasihi Allah.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah diriku agar menjadi inosens kembali seperti anak kecil, sehingga dengan demikian aku pun dapat masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Jadikanlah aku seorang pribadi yang sungguh memiliki kerendahan-hati dan berkenan kepada-Mu. Dengan terang-Mu, pimpinlah jalanku untuk melayani orang-orang lain menjadi murid-murid-Mu juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5,10,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI ANAK KECIL, TETAPI BUKAN KEKANAK-KANAKAN” (bacaan tanggal 15-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 14 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS