HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU

HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Penulis Injil – Rabu, 18 Oktober 2017)

 

…Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia kemari, karena pelayanannya berguna bagiku. Tikhikus telah kukirim ke Efesus. Jika engkau kemari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama yang  terbuat dari kulit.

Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat jahat terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya. Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia, karena dia sangat menentang ajaran kita. Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku – kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka – tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. (2Tim 4:10-17) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18; Bacaan Injil: Luk 10:1-9

Kalau seorang nelayan miskin dan tak berpendidikan meninggalkan segalanya demi mengikuti sang Rabi dari Nazaret, pantaslah bagi kita untuk mengagumi keberaniannya. Namun bagaimana dengan seorang dengan latar pendidikan dan profesi sebagai dokter/ tabib yang sukses seperi Lukas? Rasa kagum kita meningkat menjadi terpesona. Kita hanya dapat mengatakan: Puji Tuhan, luar biasa. Apa sih motivasi yang ada dalam diri sang tabib sehingga dia mau membuat pengorbanan sedemikian besar?

Menurut tradisi, Lukas dilihat sebagai penulis “Injil Ketiga” dan “Kisah Para Rasul”. Dia adalah seorang tabib yang berhasil dalam profesinya. Dia bukanlah seorang Yahudi (lihat Kol 4:11,14). Ada tradisi yang mengatakan bahwa Lukas tidak pernah menikah, dan dia meninggal dunia penuh dengan Roh Kudus pada usia 84 tahun. Ada juga tradisi yang mengatakan bahwa Lukas adalah seorang pelukis. Memang dia menulis Injilnya seperti seorang yang orang menyusun album foto (bacalah sebuah buku yang baik karangan almarhum P. Tom Jacobs SJ, LUKAS PELUKIS HIDUP JESUS, 1988).

Tabib yang sangat berbakat ini barangkali juga bukan seorang miskin-uang, dengan demikian dapat mengecap kehidupan penuh kenikmatan sejalan dengan kesuksesan dunia. Namun Pak dokter Lukas ini justru memilih keras dan sulitnya perjalanan bersama Paulus dan mereka menghadapi segala bahaya yang mengancam suatu kehidupan misioner sebagai pewarta Kabar Baik Yesus Kristus. Lukas bahkan menemani Paulus ke Roma dan tinggal bersama Rasul itu selagi dalam tahanan rumah. Kesetiaan luar biasa Lukas kepada Paulus ini tentunya menghibur Paulus. Dalam surat kepada Timotius ini, Paulus mengungkapkan bahwa ada rekannya yang meninggalkan dia, ada  pula yang diutus pergi ke berbagai tempat. Paulus menulis: “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku” (2Tim 4:11). Sebuah kalimat yang penuh arti.

Apakah yang menarik Lukas sehingga koq mau pergi “jalan-jalan” ke mana-mana bersama Paulus? Sebuah kehidupan yang penuh bahaya? Jawabnya: YESUS !!! Yesus telah   menangkap hati Lukas, dan dengan begitu sang dokter hanyalah dapat mengikut ke mana Yesus akan memimpinnya.

Kalau Yesus menangkap hati kita, kita juga akan mengalami apa yang dialami oleh Lukas – kasih Allah yang melimpah, dan kasih ini akan mengubah hati kita masing-masing. Kita tidak lagi ingin sekadar hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Yesus.  Kita akan berkeinginan keras untuk mengikuti Dia dan menjadi setia kepada sabda-Nya, apa pun yang akan terjadi. Kita akan mempunyai kerinduan mendalam akan Kerajaan-Nya, dan kita pun akan mengabdikan diri kita untuk pelayanan menyebarkan Kabar Baik-Nya.

Lukas dipenuhi dengan cintakasih Yesus dan juga bela rasa-Nya, dan semua ini dicerminkan dalam Injilnya yang indah itu. Misalnya, Injil Lukas adalah kitab Injil satu-satunya yang bercerita mengenai perumpamaan Yesus tentang “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Salah satu perumpamaan yang sulit untuk dilupakan! Hanya dalam Injil Lukas lah kita dapat membaca perumpamaan tentang “Anak yang hilang” (Luk 15:11-32). Ini juga sebuah perumpamaan yang indah. Akhirnya, Injil Lukas adalah kitab Injil satu-satunya yang bercerita tentang belas kasih Yesus kepada seorang kepala pemungut cukai yang bernama Zakheus, yang sangat dibenci oleh masyarakat banyak (lihat Luk 19:1-10). Juga hanya dalam Injil Lukas kita dapat membaca tentang si penjahat yang bertobat di kayu salib  (lihat Luk 24:33-43). Setelah membaca serta merenungkan keempat bacaan dari Injil Lukas ini, kita dapat merasakan betapa kita masing-masing berharga di mata Yesus dan kita sungguh sangat berarti bagi Dia. Kemudian, dengan rendah hati dan rasa syukur mendalam kita dapat berkata: “Tuhan Yesus, engkau adalah segalanya bagiku. Tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk berada bersama-Mu.”

DOA: Roh Kudus Allah, banjirilah aku dengan suatu pewahyuan pribadi yang lebih mendalam tentang Yesus sebagai Juruselamat, Tuhan, Saudara dan Sahabatku. Bukalah mataku agar dapat melihat Yesus hadir di dekatku, dalam Kitab Suci, dalam Ekaristi dan dalam doa-doaku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL” (bacaan tanggal 18-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Bandung, 15 Oktober 2017 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

PENGHAYATAN IMAN YANG BENAR

PENGHAYATAN IMAN YANG BENAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignatius dr Antiokhia, Uskup Martir – Selasa, 17 Oktober 2017) 

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu. (Luk 11:37-41) 

Bacaan Pertama: Rm 1:16-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5

Tidak jarang kata-kata, sikap dan perilaku Yesus menyebabkan kontroversi di mata kaum Yahudi yang “saleh”, antara lain karena Dia tidak mengikuti semua praktek keagamaan tradisional yang berlaku pada zaman itu. Misalnya, orang Yahudi wajib untuk mematuhi seperangkat aturan yang kompleks berkaitan dengan bagaimana berperilaku dalam bermacam-macam situasi, untuk menjaga kemurnian ritual. Yesus dan para murid-Nya tidak selalu melaksanakan upacara cuci tangan sebelum makan (Luk 11:38). Dengan mengabaikan praktek-praktek sedemikian, Yesus mencoba mengajar apa yang sebenarnya bersifat sentral dalam penghayatan iman-kepercayaan sebuah agama.

Unsur-unsur eksternal dari praktek keagamaan telah begitu menjadi beban-berat bagi umat, sehingga mereka menjadi tidak fokus pada hakekat atau jiwa agama yang benar. Misalnya, seseorang diizinkan mempersembahkan harta-miliknya untuk Allah dan dengan demikian diperkenankan untuk tidak melakukan kewajiban membantu orangtuanya seandainya mereka mempunyai kebutuhan (Mat 15:3-6). Yesus mengajarkan bahwa praktek keagamaan dalam dirinya bukanlah tujuan, karena praktek tersebut harus dikaitkan dengan cintakasih kepada Allah dan sesama (baca: Luk 6:1-11). Allah  menghendaki belas kasihan dalam hati dan tindak-tanduk kita (lihat Mat 9:13).

Yesus memiliki keprihatinan besar terhadap orang-orang miskin, para pendosa, orang-orang yang terbuang, para janda, orang-orang asing dan mereka yang suka melawan. Ia mengajarkan bahwa mengasihi Allah dan sesama dengan sepenuh hati merupakan perintah hukum yang paling besar (lihat Luk 10:25-28). Mengasihi sesama merupakan penggenapan hukum (lihat Rm 13:8-10) sehingga tindakan karitatif merupakan sebuah tanda seseorang itu benar di hadapan Allah. Bagi Lukas, pemberian derma atau sedekah merupakan bagian hakiki dari kehidupan Kristiani dan suatu pencerminan keadaan hati yang benar dari seseorang (Luk 11:41).

Lukas secara istimewa memiliki keprihatinan atas kebutuhan orang-orang miskin. Injil yang ditulisnya sebenarnya ditujukan kepada sebuah komunitas yang sebagian besar anggotanya adalah non-Yahudi dan orang-orang kotaan (urban) yang mempunyai posisi relatif baik dalam masyarakat. Keprihatinan Lukas di sini adalah agar orang-orang “yang nggak miskin-miskin amat” ini juga percaya kepada Yesus dan menghayati kehidupan seperti Yesus yang mengasihi orang-orang miskin, “wong cilik” zaman itu. Cintakasih kepada orang-orang kecil itu dicerminkan dalam praktek pemberian derma atau sedekah.

Sebuah hati yang dipenuhi kuasa ilahi akan membawa cintakasih Kristus kepada orang-orang lain melalui tindakan kasih (karitatif), bela-rasa dan pewartaan Injil. Penghayatan iman dari sebuah agama yang benar akan membuat seseorang melakukan pembalikan total dalam sikap dan perilakunya, dari yang semula memusatkan segalanya kepada kepentingan diri sendiri, menjadi pemusatan segalanya kepada Allah dan tentunya orang-orang lain. Artinya, menjadi lebih terbuka kepada orang-orang lain, dan menanggapi secara positif terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka. Tindakan-tindakan karitatif mencerminkan penghayatan iman yang benar manakala tindakan-tindakan itu dilakukan demi kemuliaan Allah dan didasarkan motivasi cintakasih kepada sesama (lihat misalnya Luk 21:1-4).

DOA: Tuhan Yesus, buatlah agar aku dapat bertumbuh dalam penghayatan iman yang benar. Semoga iman-kepercayaanku kepada-Mu mentransformasikan hatiku. Anugerahkanlah kepadaku, ya Yesus, cintakasih kepada sesamaku, teristimewa mereka yang miskin, tersisihkan dalam masyarakat, “wong cilik”, yang menggantungkan segala harapan pada Allah yang Mahapengasih; kaum “anawim” zaman ini. Semoga cintakasih kepada sesama yang Kauanugerahkan kepadaku dapat diungkapkan dalam kemauanku untuk memberi kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:37-41), bacalah tulisan yang berjudul “TETAPI BAGIAN DALAMMU PENUH RAMPASAN DAN KEJAHATAN” (bacaan tanggal 17-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Oktober 2017 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SELAIN TANDA NABI YUNUS

SELAIN TANDA NABI YUNUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Senin, 16 Oktober 2017)

 

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Rm 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Kitab Yunus mengisahkan cerita tentang seorang nabi yang diutus Allah kepada kota kafir yang besar dan kuat, kota Niniwe. Seperti nabi-nabi Perjanjian Lama yang lain, pada mulanya Yunus merasa ragu-ragu. Dia bahkan mencoba melarikan diri. Setelah ‘retret’ selama tiga hari tiga malam di dalam perut seekor ikan besar, barulah Yunus yakin bahwa Allah sungguh serius dalam pengutusan dirinya. Bayangkanlah hasil akhirnya: Hanya beberapa patah kata yang diucapkan Yunus telah membuat seluruh kota melakukan pertobatan secara dramatis, dan lewat dirinya mereka pun diselamatkan dari penghakiman Allah (lihat Yun 3:4-6.10).

Sebagai seorang Yahudi saleh, Yesus tentu akrab dengan cerita nabi Yunus ini, demikian pula banyak orang lainnya di Israel. Oleh karena itu, ketika ada orang yang mencobai Dia dengan meminta suatu tanda, maka Yesus menggunakan cerita Yunus sebagai dasar dari jawaban-Nya. Yesus bersabda: “Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Luk 11:29). Apakah yang dimaksud oleh Yesus dengan “tanda Nabi Yunus” ini? Mukjizat apa dalam cerita ini yang menunjuk kepada rahmat dan kuat-kuasa Allah? Memang luarbiasa Yunus itu, dia mampu survive di dalam perut seekor ikan besar selama tiga hari tiga malam! Tetapi yang lebih luarbiasa lagi adalah gerakan pertobatan di seluruh Niniwe, dimulai dengan sang raja sendiri (lihat Yun 3:6). Orang-orang Yahudi dapat dikatakan memahami bahwa pesan Yesus lewat kisah nabi Yunus adalah sebuah pesan agar mereka bertobat (lihat Luk 11:29.32).

Yesus mengatakan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, bahwa tanda satu-satunya yang akan diberikan oleh-Nya adalah tanda Nabi Yunus (Luk 11:29). Ia sendiri sebenarnya cukup sebagai tanda bagi mereka, seperti Yunus adalah sebuah tanda bagi orang-orang Niniwe. Pada waktu Yunus datang membawakan berita pertobatan yang sederhana kepada penduduk kota kafir ini, maka mereka menanggapi pemberitaannya dengan melakukan pertobatan secara mendalam dan iman yang mendalam kepada Allah. Yesus mewartakan pesan pertobatan yang sama kepada orang banyak yang mengikuti-Nya. Dengan menyebut mereka “generasi jahat” (lihat Luk 11:29) Yesus mengingatkan mereka, bahwa mereka akan dihakimi untuk kekerasan-kepala dan ketidak-percayaan mereka. Yesus juga menyebut Ratu Sheba, yang mengakui hikmat-kebijaksanaan Salomo (lihat Luk 11:31). Mengapa para pendengar-Nya tidak dapat mengakui hikmat-kebijaksaan Yesus yang jauh lebih besar daripada yang ada pada diri Salomo? Siapa yang menghakimi? Orang-orang Niniwe yang telah bertobat karena pemberitaan Yunus, karena “sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Luk 11:32).

Dalam ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan-Nya, Yesus adalah contoh paling sempurna, Dia menantang segala macam ketidak-kudusan dengan hidup-Nya yang murni dan kudus sebagai Putera Allah. Setiap hal yang dilakukan dan dikatakan Yesus menunjuk pada Bapa-Nya. Jauh lebih daripada Yunus, Yesus adalah suatu “tanda” yang mewujudkan Kerajaan Allah dan menyerukan agar orang-orang sungguh melakukan pertobatan. Kehadiran-Nya membuat setiap orang berada dalam situasi krisis, karena sebagai Terang Dunia Yesus mengungkap kondisi hatinya yang terdalam. “Tanda” ini dimaksudkan untuk memanggil orang-orang kembali kepada Allah. Oleh karena itu marilah kita mendengar baik-baik seruan Yesus agar kita melakukan pertobatan. Marilah kita mencari hikmat-kebijaksanaan dan bimbingan-Nya dalam hidup kita. Seperti orang-orang Niniwe yang melakukan pertobatan secara dramatis, maka kita pun harus meninggalkan segala sikap dan perilaku yang membuat-Nya sedih dan menyakiti mereka yang kita kasihi.

Dengan pertolongan Roh Kudus, marilah kita memohon kepada Tuhan agar kita dapat mengidentifikasikan dua atau tiga area dalam kehidupan kita di mana Yesus memanggil kita untuk melakukan perubahan. Kita mohon kepada Roh Kudus agar kepada kita diberikan kekuatan untuk dapat bertekun dan maju terus. Percayalah bahwa Allah sungguh mau menolong kita mengubah area-area kehidupan kita yang belum mencerminkan damai-sejahtera dan kasih-Nya. Sekarang, apakah kita sungguh terbuka terhadap undangan Allah kepada pertobatan?

DOA: Tuhan Yesus, seperti orang-orang Niniwe yang mendengarkan pesan pertobatan yang diserukan nabi Yunus, seperti Ratu Sheba yang mengakui hikmat-kebijaksanaan Salomo, maka aku berketetapan hati mendengarkan panggilan-Mu kepadaku untuk melakukan pertobatan dan mencari hikmat-kebijaksanaan-Mu dalam hidupku. Utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku dan kepada semua orang hari ini guna membimbing kami semua. Semoga berkat rahmat-Mu aku mampu meninggalkan dosa-dosaku dan membalikkan hatiku kembali kepada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk melihat uraian tentang Bacaan Injil hari ini (Luk 11:29-32), bacalah tulisan yang berjudul “MELEBIHI TANDA NABI YUNUS” (bacaan tanggal 16-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari sebuah tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENANGGAPI UNDANGAN YANG KITA TERIMA

MENANGGAPI UNDANGAN YANG KITA TERIMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVIII [Tahun A], 15 Oktober 2017)

Lalu Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya, hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Lalu pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:1-14)  

Bacaan Pertama: Yes 25:6-10a; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Flp 4:12-14,19-20 

Perumpamaan tentang perjamuan kawin kerajaan menceritakan tentang undangan Allah kepada keselamatan dan tanggapan orang terhadap undangan tersebut. Pesta perkawinan adalah imaji yang sangat cocok karena kita dipanggil untuk mengasihi Allah, untuk dipersatukan dengan Dia dalam pikiran dan hati, dan untuk menjalani kehidupan di atas bumi yang mengantisipasi surga. Dalam Bacaan Pertama hari ini, Yesaya menjanjikan sebuah perjamuan pesta penuh sukacita dan hidup di atas Gunung Tuhan.

Matius dengan piawai mengkombinasikan cerita mengenai pesta perkawinan dan baju pesta sebagai sebuah pelajaran tentang sejarah keselamatan bagi Gereja Kristiani pada masa dia menulis Injilnya.

Bagian pertama dari sejarah keselamatan menyangkut orang-orang Yahudi sebagai Umat Pilihan. Dalam perumpamaan Yesus, mereka digambarkan sebagai orang-orang yang pertama-tama menerima undangan untuk pesta perjamuan kerajaan. Tetapi mereka tidak mau datang dengan berbagai alasan, pendeknya mereka lebih berminat untuk menyibukkan diri dengan urusan mereka masing-masing. Lalu raja pun mengutus lebih banyak lagi hambanya untuk mengundang orang-orang. Hamba-hamba ini menggambarkan para nabi, yang ditangkap, disiksa, bahkan ada yang  dibunuh. Dalam menggambarkan reaksi keras sang raja, Matius menafsirkan hal tersebut sebagai suatu hukuman dari Allah, ….. perusakan Yerusalem oleh pasukan Romawi, walaupun peristiwa tersebut baru akan terjadi beberapa tahun saja sebelum dia menulis Injilnya.

Kemudian, tentang bagian kedua dari sejarah keselamatan. Pesta perkawinan itu menggambarkan pernikahan antara Allah dengan umat manusia yang terjadi ketika Putera Allah menjadi manusia seperti kita. Kita mendengar sang raja berkata “Perjamuan telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu” (Mat 22:8-9). Para hamba pada titik ini dalam cerita adalah para rasul Kristiani yang diutus ke persimpangan-persimpangan jalan dunia untuk mengundang setiap orang kepada perjamuan perkawinan surgawi. Undangan tersebut tidak lagi terbatas pada sebuah bangsa pilihan. Juga tidak diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak terkontaminasi atau murni/bersih secara ritual Yahudi. Setiap orang diundang, yang bagus maupun yang jelek, Banyak pelajaran Injil yang lalu-lalu kembali teringat. Allah, yang mengasihi semuanya, membuat matahari bersinar dan hujan turun, baik bagi orang baik maupun bagi orang jahat, jujur maupun tidak jujur (Mat 5:45). Kerajaan Allah adalah bagaikan sebidang tanah yang dipenuhi lalang di antara gandum (Mat 13:24-30), atau sebuah jala besar yang berisikan ikan baik maupun ikan yang tidak baik (Mat 13:47-52). 

Namun sekarang ada sebuah peringatan bagi Gereja Kristiani. Orang-orang yang menerima undangan Allah harus mengenakan pakaian pesta. Ini dapat berarti mengenakan baju hari Minggu mereka yang terbaik, atau sesuatu yang istimewa untuk peristiwa penting kerajaan. Dilihat dari sudut pandang sejarah keselamatan, kegagalan untuk mengenakan pakaian pesta dapat dipahami dengan dua cara.

Pertama. Penerimaan ke dalam Gereja melalui pembaptisan tidaklah mencukupi kalau seseorang tidak menjalani kehidupan yang serupa dengan Kristus seperti dilambangkan oleh baju putih pada waktu penerimaan sakramen baptis. “… kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru … Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kol 3:9-12). Surat/Sertifikat Baptisan/Permandian hampir tidak ada gunanya tanpa suatu kehidupan yang menunjukkan buah-buah rahmat. 

Kedua. Dalam interpretasi kedua tentang pakaian pesta, jika kita memandangnya sebagai sebuah tanda istimewa dari suatu peristiwa kerajaan yang penting, maka pakaian pesta itu menunjukkan perlunya rahmat ilahi selain upaya manusiawi kita. Siapa pun yang menganggap remeh kebutuhan akan rahmat ilahi dan mengabaikan sarana rahmat yang biasa seperti doa dan sakramen, maka orang itu dapat dinilai sebagai kedapatan tidak mengenakan pakaian istimewa untuk pesta.

Allah mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus, untuk merangkul dunia dalam pesta perkawinan keselamatan. Undangan itu ditujukan kepada semua orang untuk datang dan merayakan perjamuan kawin. Namun cerita keselamatan pribadi masing-masing adalah interaksi yang penuh misteri antara undangan ilahi dan tanggapan bebas dari manusia. Agar dapat memberi tanggapan, kita harus mendengarkan panggilan, menerimanya dengan penuh perhatian dan respek, dan tidak memperkenankan kepentingan-kepentingan kita sendiri menjadi penghalang di tengah jalan. Kita menerima baju pesta rahmat dalam sakramen-sakramen, namun kita harus mengenakan baju ini dalam hidup yang menyerupai Kristus.

DOA: Bapa surgawi, kami bekerja keras untuk memperoleh keselamatan seakan-akan hal ini tergantung pada upaya kami sendiri. Kemudian kami menyadari bahwa hal itu bermula dan berakhir dalam suatu karunia dari-Mu saja. Oleh Roh Kudus-Mu, ingatkanlah kami senantiasa bahwa keselamatan adalah kombinasi dari undangan ilahi dan upaya manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 22:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “BANYAK YANG DIPANGGIL, TETAPI SEDIKIT YANG DIPILIH” (bacaan  tanggal 15-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-10-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  12 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

BERIKANLAH PUJIAN KEPADA ALLAH

BERIKANLAH PUJIAN KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Sabtu, 14 Oktober 2017) 

Ketika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:27-28) 

Bacaan Pertama: Yl 3:12-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,11-12

Apa yang dikatakan oleh Yesus kepada perempuan itu adalah gema dari apa yang telah dikatakan-Nya kepada 70 murid-murid-Nya pada saat mereka kembali dari perjalanan misi mereka (Luk 10:17-20).

Pada waktu itu para murid memuji Dia dan diri mereka sendiri untuk kuasa nama Yesus atas roh-roh jahat. Kemudian Yesus meluruskan kembali “euforia” mereka dengan mengajar mereka: “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga”  (Luk 10:20). Langsung setelah mengatakan hal itu Yesus juga bersukacita dalam Roh Kudus dan memuji Bapa-Nya di surga untuk apa yang dinyatakan-Nya kepada para murid-Nya.

Sekarang, ketika perempuan dalam bacaan Injil hari ini memuji Yesus dan ibunda-Nya dengan mendeklarasikannya sebagai “berbahagia” karena mengandung dan menyusui seorang nabi besar, sekali lagi Yesus meluruskan kembali pujian itu kepada Allah: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28). Yesus dapat membaca apa yang ada dalam pikiran perempuan itu, sebagaimana Dia sebelumnya dapat membaca apa yang ada dalam pikiran para murid-Nya yang baru kembali dari perjalanan misi mereka. Kepada para murid-Nya, Yesus memperingatkan, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Luk 10:18). Dengan perkataan lain, seolah-olah Yesus mengatakan: “Jangan mengambil “kredit” seakan-akan kamu sendirilah yang melakukan pekerjaanmu. Itu adalah pekerjaan Allah, oleh karena itu berikanlah pujianmu kepada-Nya.”

Kepada perempuan dalam bacaan Injil hari ini Yesus memberikan nasihat serupa: “Apabila yang ibu maksudkan adalah, ‘sayang sekali aku tidak dapat menjadi ibunda Mesias,’ ingatlah, ibu dapat berada dekat dengan Allah juga. Ibu dapat mendengar sabda Allah dan memeliharanya juga. Itulah yang membuat ibu-Ku Maria, seorang perempuan besar. Ibu-Ku Maria senantiasa membawa privilese-privilese dan kehormatannya, demikian pula pencobaan-pencobaan yang dihadapinya, kemiskinannya dan kesulitan-kesulitannya ke dalam pujian kepada Allah. Ibu dapat melakukan hal yang sama, dan ibu akan diberkati, ibu akan berbahagia. Yang paling berbahagia dan terberkati adalah mereka yang mendengarkan sabda Allah, yaitu pesan-pesan-Nya, dan menanggapinya, mentaatinya, setia kepada sabda-Nya sepanjang hidup mereka. Baik ibu-Ku maupun Aku sendiri tidak mencari-cari pujian bagi diri kami sendiri. Hidup kami dimaksudkan untuk menjadi pujian bagi Bapa surgawi, dan kami memuji Bapa dengan memegang sabda-Nya, dengan melaksanakan rencana-Nya bagi kami.”

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menunjukkan arah tujuan hidupku. Berikanlah kepadaku terang agar mampu mendengarkan sabda-Mu, sabda Allah, dan memeliharanya dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:27-28), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG BERBAHAGIA?” (bacaan tanggal 14-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 12 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS VS IBLIS DAN ROH-ROH JAHATNYA

YESUS VS IBLIS DAN ROH-ROH JAHATNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Jumat, 13 Oktober 2017) 

Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26) 

Bacaan Pertama: Yl 1:13-15;2:1-2; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-3,6,8-9,16

Pernahkah anda tergoda untuk berpikir bahwa anda dapat menjalani kehidupan ini tanpa Allah? Pada saat-saat seperti itulah Iblis datang dan menggoda kita. Dia dapat membuat kita berpikir yang tidak-tidak tentang orang lain atau melakukan sesuatu yang tidak baik terhadap orang lain itu. Dia juga dapat membujuk kita untuk berhenti berdoa; dengan memberikan alasan sinetron tertentu atau acara “infotainment”di televisi lebih mengasyikkan daripada berdoa, yang tokh tak pernah dikabulkan oleh Allah dll. Salah satu taktik favorit Iblis adalah menyulut konflik di antara umat Allah, teristimewa di dalam keluarga-keluarga kita.

Akan tetapi, percayalah bahwa apabila kita sungguh bersatu dengan Yesus, Iblis tidak akan menang! Pada waktu Yesus mencurahkan darah-Nya dari atas kayu salib, Ia menjembatani kesenjangan yang selama itu memisahkan antara kita-manusia dengan Allah Bapa di surga. Yesus mempersatukan kita dengan diri-Nya dan memberdayakan kita agar mampu mengatasi dosa, kematian, dan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya. Yesus meneguhkan – artinya mengkonfirmasi – tempat kekal yang ‘ditakdirkan’ bagi kita di hadirat-Nya di surga. Dia mencabut dosa dari hati kita sehingga kebenaran-Nya dapat berakar-kuat dalam diri kita masing-masing. Allah, Bapa kita di surga mengklaim kita sebagai anak-anak-Nya. Inilah kuat-kuasa dari Injil: Iblis tidak lagi berkuasa atas diri kita. Kita dibebaskan dari cengkeraman si Jahat dan sekarang dipegang oleh tangan-tangan penuh kasih dari Bapa surgawi.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, ingatlah siapa sebenarnya diri anda dan apa yang telah diberikan kepada anda masing-masing. Yesus merasa senang  apabila kita menempatkan diri kita lebih kokoh lalgi dalam penebusan yang dimenangkan oleh-Nya bagi kita. Oleh karena itu, baiklah kita mempersembahkan diri kita dan semua anggota keluarga kita kepada Yesus setiap hari. Baiklah kita menempatkan rasa percaya kita dalam otoritas lengkap dari darah-Nya. Kuat-kuasa dari darah Yesus jauh melebihi wacana perdebatan para teolog. Umat Kristiani yang biasa-biasa saja mengalami kuat-kuasa darah Yesus itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Marilah kita berdoa memohon agar darah-Nya melindungi seluruh keberadaan kita dan mereka yang kita kasihi. Di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di dalam mobil angkot, pokoknya di mana saja, kita dapat berdoa mohon perlindungan oleh darah Yesus, dan Iblis dan roh-roh jahat pun akan lari.

Ketika kita mohon kepada Yesus untuk menyembuhkan kita dan memulihkan relasi yang telah dirusak oleh dosa dan oleh Iblis dkk., maka Dia memenuhi diri kita dengan kasih dan bela rasa. Yesus akan menunjukkan kepada kita bagaimana perjuangan kita bukanlah melawan orang-orang lain yang kelihatan, melainkan melawan kuasa-kuasa kejahatan yang bersifat spiritual. Ia juga akan menunjukkan kepada kita bahwa dalam pertempuran melawan kejahatan, kepada kita telah diberikan perlengkapan-perlengkapan senjata kebenaran, keadilan, kerelaan untuk memberitakan Injil damai-sejahtera, iman, keselamatan,  dan sabda-Nya (Ef 6:14-17). Marilah kita terjun ke dalam pertempuran spiritual ini pada hari ini, percaya penuh bahwa dalam Kristus kita mempunyai segalanya yang diperlukan.

DOA: Roh Kudus Allah, kami percaya akan kuat-kuasa-Mu untuk menyembuhkan apa yang telah dirusak dan mengumpulkan serta menyatukan kembali apa saja yang telah dicerai-beraikan. Lingkupilah kami dengan darah Yesus dan ikatlah kami bersama dalam kasih Bapa. Kami tidak percaya pada diri kami sendiri, melainkan percaya kepada-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:15-26), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MELAWAN KUASA KEGELAPAN DENGAN KUASA ALLAH” (bacaan  tanggal 13-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 11 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ROH KUDUS AKAN DIBERIKAN OLEH BAPA SURGAWI KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

ROH KUDUS AKAN DIBERIKAN OLEH BAPA SURGAWI KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 12 Oktober 2017)

Keluarga OFMCap.: Peringatan S. Serafinus dr Montegranaro, Biarawan 

Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13) 

Bacaan Pertama: Mal 3:13-4:32a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Apakah artinya iman apabila tidak diiringi dengan rasa percaya (trust) dan ketekunan? Allah menginginkan kita untuk menjadi orang yang tidak bergeming sampai sahabat-tetangganya memberikan kepadanya semua yang dibutuhkannya. Allah ingin agar kita datang kepada-Nya dengan penuh gairah serta menghasrati berkat-Nya dan mempunyai harapan Ia akan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. Jika Ia tidak langsung memberikan apa yang kita mohonkan, maka hal itu tidak disebabkan Ia terlalu sibuk dengan hal-hal lain atau memang tidak cukup memperhatikan kita. Seringkali, Ia ingin agar kita menunggu karena Dia mengetahui bagaimana ketekunan yang mendalam dapat mengubah kita. Santo Paulus menulis: “…… kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Rm 5:3-4).

Seperti halnya orang-orang tertentu, kita bisa saja merasa cepat putus-asa apabila kita tidak langsung menerima sebuah jawaban dari Yang Ilahi. Kita dapat merasa seperti menyerah berharap kepada Allah dan mulai mengandalkan diri kepada kekuatan kita sendiri.  Akan tetapi Allah mendesak kita agar supaya tetap mengetuk pintu; Ia berjanji akan membukakan pintu dan mencurahkan Roh Kudus-Nya. Kita tidak pernah boleh melupakan, bahwa Dia adalah “seorang” Bapa yang hikmat-Nya mentransenden (melampaui) pemahaman manusiawi yang kita miliki.

Bilamana Allah menunda pemberian jawaban-Nya terhadap doa kita, maka hal itu seringkali disebabkan karena Dia sedang mengajar kita untuk takut kepada-Nya secara layak dan pantas. Dia adalah Allah dan kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Allah selalu baik, kudus dan benar. Dia selalu pantas bagi rasa percaya kita dan Dia taat-setia apakah kehidupan kita lurus di jalan-Nya atau suka melenceng kesana-kemari. Fondasi batu-karang kita yang kokoh adalah perwahyuan Allah sendiri tentang diri-Nya dalam Yesus Kristus, bukan turun-naiknya kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita mendasarkan kehidupan kita atas kenyataan siapa Allah itu  dan kasih-Nya yang tak pernah gagal, maka kita dapat melihat bahwa doa-doa kita dijawab oleh-Nya. Sama seperti orang yang dengan tekunnya meminta bantuan sahabat-tetangganya dan akhirnya sang sahabat-tetangganya itu memberikan apa saja yang dibutuhkan olehnya, maka kita pun akan menerima berkat-berkat yang Allah inginkan untuk dicurahkan atas diri kita.

Melalui kesetiaan dan ketekunan, kita dapat memperkenankan Allah untuk membentuk diri kita menjadi bejana-bejana bagi kemuliaan-Nya. Selagi kita menanti-nanti-Nya, kita pun belajar untuk menaruh kepercayaan kepada diri-Nya, dan dalam menaruh rasa percaya itu pada-Nya, kita pun bertumbuh semakin kuat dan lebih mampu untuk menolong orang-orang lain. Itulah saatnya di mana Dia dapat memakai kita sebagai instrumen-instrumen untuk mewujudkan kasih dan kuat-kuasa-Nya ke tengah-tengah dunia.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau penuh kasih dan baik hati. Aku percaya bahwa sementara aku bertekun dalam doa dan ketaatan, maka Engkau akan mencurahkan Roh Kudus-Mu ke atas diriku, untuk membuat diriku seorang “ciptaan baru” seturut karakter Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:5-13), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN RENDAH HATI DAN TEKUN BERDOA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 12-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 10 Oktober 2017 [Peringatan S. Daniel dkk., Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS