DAMAI SEJAHTERA YESUS BAGI PARA MURID-NYA

DAMAI SEJAHTERA YESUS BAGI PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Selasa, 21 Mei 2019)

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku, tetapi dunia harus tahu bahwa aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku. (Yoh 14:27-31a)

Bacaan Pertama: Kis 14:19-28; Mazmur Tanggapan: 145:10-13,21

Para rasul telah meninggalkan segalanya guna mengikut Yesus. Mereka berani untuk berpengharapan bahwa Yesus adalah sungguh sang Mesias yang dinanti-nantikan. Dengan demikian mereka dengan segala senang hati meninggalkan pekerjaan dan rumah tinggal mereka. Sekarang pemikiran bahwa Yesus akan meninggalkan mereka menyebabkan diri mereka dipenuh dengan kegalauan, ketidakpastian yang mencemaskan hati. Sebenarnya Yesus mau pergi ke mana? Mengapa mereka tidak dapat pergi bersama Yesus? Jika Yesus pergi, “nasib” mereka bagaimana? Jadi apakah mereka nanti? Bagaimana dengan janji Yesus untuk datang dengan Kerajaan-Nya? Cintakasih para murid kepada Yesus, dengan demikian pemahaman tentang identitas Yesus dan rencana-rencana-Nya bagi mereka, sungguh masih terlalu terbatas sehingga belum mampu menghibur diri mereka.

Untuk menghibur mereka, Yesus berupaya menjelaskan tujuan-tujuan-Nya bagi mereka: “Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh 14:27-28). Yesus menjelaskan bahwa Dia akan kembali kepada kemuliaan yang  yang telah dimiliki-Nya bersama Bapa sejak sediakala [sebelum dunia ada] (Yoh 16:28; 17:5). Yesus dan Bapa adalah satu; Dia mengasihi Bapa dan sepenuhnya berkomitmen untuk melakukan kehendak-Nya (Yoh 14:31). Yesus merasa yakin bahwa apabila para murid-Nya sungguh memahami kenyataan ini, maka mereka pun akan mengalami kedamaian dalam hati.

Bagaimana kiranya sesuatu yang terasa sebagai doktrin teologis yang abstrak ini  dapat menjadi suatu sumber penghiburan bagi kita? Ketika kita sampai pada kesadaran betapa erat sekali persatuan antara Yesus dengan Allah yang Mahakuasa, maka kita pun akan memahami betapa terjaminnya keselamatan kita semua melalui diri-Nya (Yesus). Tidak ada sesuatu pun yang palsu atau menyesatkan dalam diri Yesus. Yesus tidak memiliki agendanya sendiri, apalagi agenda tersembunyi, dan Dia bukanlah seorang pemimpi di siang hari bolong. Yesus adalah Putera Allah yang kekal. Hati-Nya hanya dipenuhi oleh keprihatinan-keprihatinan dan hasrat-hasrat Allah. Karena ketaatan-Nya kepada Allah, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp 2:6-8), maka kita dapat merasa pasti bahwa penyelamatan-Nya sungguh tersedia bagi kita. Keselamatan kita dijamin oleh Allah sendiri!

Yesus telah memenangkan keselamatan bagi kita dan Ia mampu untuk menjaga keamanan kita terhadap ancaman berbagai gejolak dan kesulitan kehidupan dalam dunia ini. Inilah kebenaran tentang Yesus yang ingin ditanamkan oleh Roh Kudus dalam hati dan pikiran kita setiap hari (Yoh 14:26), untuk memberikan kepada kita suatu damai-sejahtera yang lebih besar daripada segala permasalahan dunia ini selagi kita dengan penuh pengharapan menanti-nantikan kedatangan-Nya kembali (Yoh 14:27).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kesetiaan dan ketaatan-Mu kepada kehendak Bapa surgawi; juga untuk kasih-Mu kepadaku yang tak pernah luntur. Sukacita karena mengasihi-Mu jauh lebih baik daripada rasa damai yang bersifat sementara sebagaimana ditawarkan oleh dunia. Oleh karena itu, ya Tuhan Yesus, terimalah hatiku yang kupersembahkan kepada-Mu pada hari ini. Aku sungguh mengasihi Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:27-31a), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA SEBAGAI PARA MURID KRISTUS KITA SEHARUSNYA MEMANDANG DUNIA” (bacaan tanggal 21-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Mei 2019 [HARI MINGGU PASKAH V – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

ROH KUDUS DIANUGERAHKAN KEPADA ORANG-ORANG YANG TAAT KEPADA ALLAH

ROH KUDUS DIANUGERAHKAN KEPADA ORANG-ORANG YANG TAAT KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 20 Mei 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Bernardus dr Siena, Imam

“Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya, “Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?”Jawab Yesus “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.  (Yoh 14:21-26) 

Bacaan Pertama: Kis 14:5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16 

“Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia.” (Yoh 14:23)

Janji indah bahwa Allah akan berdiam dalam diri kita dialamatkan kepada orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Allah mengundang kita semua yang percaya untuk dituntun ke dalam hakekat kehidupan Trinitas (Allah Tritunggal Mahakudus) agar dapat dapat ikut ambil bagian dalam keilahian-Nya.

Antara Yesus dan para murid-Nya terjalin suatu relasi yang indah: Yesus mengajar mereka, menghibur mereka, menolong mereka dan menyembuhkan mereka. Dalam kehadiran-Nya, mereka memperoleh kekuatan, hikmat-kebijaksanaan dan pengetahuan. Namun sekarang Yesus akan segera kembali kepada Bapa-Nya. Apakah yang harus mereka lakukan? Siapakah yang akan mengarahkan mereka? Siapakah yang dapat menghibur mereka? Ternyata mereka tidak perlu merasa begitu khawatir, karena meskipun mau pergi meninggalkan para murid-Nya, Dia samasekali tidak melupakan mereka, karena Allah mengutus Roh Kudus dalam nama-Nya (Yoh 14:26).

Dengan memberikan Roh-Nya, Yesus mampu untuk memberikan kasih dan hidup-Nya secara berkesinambungan dan berlimpah walaupun Ia tidak lagi hadir secara fisik di dekat para murid-Nya. Melalui Roh-Nya yang berdiam dalam diri kita, kita tidak perlu merasa terpisahkan lagi dari Yesus. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, dosa – yang memisahkan kita dengan Bapa surgawi – tidak lagi mempunyai kuasa atas diri kita. Dengan menyerahkan diri kita kepada karya Roh Kudus, kita dapat disembuhkan dan ditransformasikan ke dalam gambar dan rupa Allah sesuai rencana semula (Kej 1:26,27).

Akan tetapi, untuk menerima Roh Kudus, kita perlu/harus taat kepada Allah dan perintah-perintah-Nya (Yoh 14:21,23). Sejak awal sejarah manusia, ketika dosa memasuki dunia, maka “ketidaktaatan”-lah – bukan ketaatan – yang lebih sering mencirikan relasi kita dengan Allah. Di sisi lain, Yesus adalah sungguh Putera Allah yang mengajar kita jalan ketaatan kepada Bapa-Nya (Flp 2:8; bacalah keseluruhan Flp 2:5-11) dan melalui ketaatan-Nya kita dibenarkan. Paulus menulis: “Sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar” (Rm 5:19).

Roh Kudus dianugerahkan kepada orang-orang yang taat kepada Allah (lihat Kis 5:32). Ketaatan digambarkan sebagai satu syarat yang diperlukan dari seorang pribadi untuk menerima Roh Kudus (Yoh 14:15-16). Ketaatan ini tidaklah didasarkan pada kekuatan keinginan kita sendiri, melainkan berdasarkan pada penyerahan kita kepada kehendak Allah. Kita dapat mengenal dan mengalami kehadiran Allah dan/atau Yesus selagi kita mentaati perintah-perintah-Nya. Dengan taat kepada Yang Ilahi, kita akan mampu mengalami kehadiran Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, yang terus mengajar dan menghibur kita.

DOA: Tuhan Yesus, oleh rahmat-Mu tolonglah kami agar senantiasa taat kepada-Mu sebagaimana Engkau taat kepada Bapa di surga. Semoga Roh Kudus selalu memenuhi diri kami masing-masing dengan hidup-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 14:5-18), bacalah tulisan yang berjudul “INILAH YANG TERJADI DI LISTRA PADA HARI ITU” (bacaan tanggal 20-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Mei 2019 [Peringatan S. Paskalis Baylon, Biarawan OFM) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SALING MENGASIHI

SALING MENGASIHI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V [Tahun C] – 19 Mei 2019)

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga  di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Yoh 13:31-33a.34-35 

Bacaan pertama: Kis 14:21b-27; Mazmur tanggapan: Mzm 145:8-13; Bacaan kedua: Why 21:1-5a 

“Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. (Yoh 13:35) 

Betapa sederhananya Injil! Injil memproklamasikan KASIH yang memiliki kuasa untuk mengubah dunia – kasih Allah yang dilimpah-limpahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus. Ini adalah kasih Allah yang mengalir di antara kita selagi kita saling menyerahkan nyawa kita demi sesama kita. Selagi kita mengangkat hati kita kepada Bapa surgawi lewat doa, pembacaan Kitab Suci dan menerima Yesus dalam Ekaristi, maka kita dapat mengenal kasih Allah itu secara intim.

“Supaya kamu saling mengasihi” (Yoh 13:34). Yesus mengajar kita untuk mengasihi orang-orang lain selengkap dan setotal, seperti Dia mengasihi kita. Kalau kita menerima kasih-Nya, kita pun diberdayakan untuk  “menularkannya” secara bebas kepada orang-orang lain. Dan selagi kita “menularkan” kasih yang telah kita terima dari Dia, kita pun menjadi mitra-karya Roh Kudus, yang terus berkarya untuk menarik seluruh dunia kepada Yesus. Melalui bagian kita dalam kasih ilahi, hidup Allah dapat diperbesar dan Kabar Baik keselamatan dapat terus berkembang.

Sebagai anak-anak Allah, kita dikasihi-Nya melampaui daya pemikiran kita. Betapa Bapa surgawi mengasihi kita semua! “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya”  (Mzm 145:8). “Ia akan menghapus segala air mata”  dari mata kita (Why 21:4).  Apa lagi yang dapat kita mohonkan dari Dia? Apa lagi yang dapat dibandingkan dengan pengalaman akan kasih Allah? Para rasul mengenal kasih ini dan dengan penuh komitmen mereka mewartakan Yesus – menyerahkan nyawa mereka untuk keselamatan orang-orang lain.

Adalah kasih kita – bukan anugerah-anugerah yang kita terima di bidang sosial, kekuasaan, atau perilaku sempurna – yang akan membedakan kita sebagai murid-murid Yesus. Kita menjadi seperti Yesus kalau kita saling mengasihi, satu dengan lainnya. Marilah kita membuka diri kita untuk mengasihi orang-orang lain, sehingga dengan demikian kasih Yesus mengalir di antara kita – meski harus menghadapi penolakan atau pengejaran serta penganiayaan. Dalam semua hal ini kita menjadi seperti Yesus, Sang Pemberi Kasih yang paling agung dalam sejarah umat manusia.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk mengasihi siapa saja dengan kasih sama yang Engkau berikan kepada kami. Kasih-Mu tanpa syarat, penuh dengan janji akan hidup baru, dan setia. Semoga kami dapat menerima kasih-Mu melalui pelimpahan Roh Kudus-Mu, dan kami pun akan melakukan segala sesuatu yang dapat kami lakukan untuk menularkan kasih-Mu ini kepada siapa saja yang kami temui. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:31-33a,34-35), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 19-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Mei 2019 [Peringatan S. Margareta dr Cortona, OFS]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TELAH MELIHAT YESUS BERARTI TELAH MELIHAT BAPA SURGAWI

TELAH MELIHAT YESUS BERARTI TELAH MELIHAT BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Sabtu, 18 Mei 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Feliks dr Cantalice, Biarawan Kapusin

“Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat dia.” Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:7-14) 

Bacaan Pertama: Kis 13:44-52; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Yesus mengatakan bahwa siapa saja yang melihat Dia, orang itu telah melihat Bapa. Tentunya hal itu merupakan kabar yang sangat baik bagi Filipus dan para rasul lainnya. Mereka dapat memandang Yesus dan melihat Allah sendiri. Akan tetapi, bagaimana halnya sekarang? Bagaimana orang-orang zaman sekarang dapat melihat Allah? Jawabnya: Dalam diri kita! Yesus hidup di dalam diri kita, yaitu para pengikut-Nya (para murid-Nya). Dengan demikian, apabila orang-orang melihat kita, seharusnya mereka  melihat Yesus dan Bapa.

Kebenaran yang sedemikian dapat membuat diri kita menjadi “keder”. Kita bertanya: Bagaimana kita dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus? Bagaimana saya dapat mengajar dengan penuh kuat-kuasa seperti ditunjukkan oleh Yesus? Namun kita lupa bahwa seringkali dalam hal-hal yang paling sederhanalah orang-orang dapat melihat Yesus dalam diri kita. Misalnya, kata-kata ramah yang diucapkan bibir kita, sebuah senyum persaudaraan, suatu isyarat bahasa tubuh kita yang menunjukkan sikap mendorong serta menyemangati, suatu tindakan kasih pada waktu orang membutuhkan bantuan, sebuah doa syafaat – pokoknya tindakan-tindakan kecil dapat memberi dampak yang lebih jauh daripada yang sering kita pikirkan atau bayangkan. Kalau saja secara sederhana kita mau menghayati suatu kehidupan Kristiani seperti dikehendaki oleh Yesus dan seturut panduan serta bimbingan Gereja, maka sesungguhnya kita dapat menyatakan Yesus dan Bapa kepada orang-orang lain.

Pada suatu ketika, seorang istri yang masih muda (serta ibunya) membawa suaminya dari Manhattan, New York City ke Italia, dengan harapan perubahan iklim akan membuat kondisi kesehatan sang suami menjadi semakin baik. Akan tetapi, tidak lama setelah kedatangan mereka di Italia, sang suami justru meninggal dunia. Sebagai seorang janda, perempuan muda ini berdiam di rumah sebuah keluarga sahabat. Dengan berjalannya waktu, kehidupan keluarga tempat mereka menumpang semakin terlihat olehnya. Suatu kehidupan yang mencerminkan kasih dan kebaikan hati Yesus melalui doa-doa mereka, hospitalitas, dan inter-aksi sehari-hari. Perempuan muda Amerika yang bernama Elizabeth Ann Seton ini begitu terkesan dengan kesaksian hidup yang ditunjukkan keluarga tersebut, sehingga dia memutuskan untuk menjadi Katolik ketika kembali ke Amerika Serikat. Pada tahun-tahun berikutnya, kesaksian hidup perempuan muda ini membawa perempuan-perempuan lain kepada Kristus. Bersama-sama mereka mendirikan sekolah Katolik yang pertama di Amerika Serikat. Semua ini gara-gara Elizabeth Ann Seton [1774-1821] melihat Yesus hidup dalam sebuah keluarga di Italia. Elizabeth Ann Seton dibeatifikasikan pada tanggal 17 Maret 1963 oleh Paus Yohanes XXIII, dan dikanonisasikan pada tanggal 14 September 1975 oleh Paus Paulus VI. Santa Elizabeth Ann Seton adalah Orang Kudus Gereja pertama kelahiran Amerika Serikat.

Kesaksian yang sederhana tentang kasih Kristiani dan kebaikan hati kepada orang-orang lain dapat begitu penuh kuat-kuasa! Ada saat-saat di mana mukjizat dan berbagai tanda heran berfungsi untuk menunjukkan kuasa Allah, dan Yesus dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan ajaib ini melalui kita juga. Namun demikian, hampir selalu ungkapan-ungkapan kasih dan kebaikan hati “biasa-biasa” saja yang justru memperkenankan orang-orang lain melihat Allah dalam diri kita. Dan apabila mereka melihat Allah, mereka melihat “seorang” Bapa yang sangat mengasihi mereka dengan kasih yang kekal-abadi.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudi hidup dalam diriku. Tolonglah aku agar mampu menunjukkan kehadiran-Mu kepada orang-orang lain dalam segala hal yang kulakukan dan kukatakan. Bekerjalah lewat diriku untuk menunjukkan kasih Allah kepada semua orang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “JANJI YESUS INI BERLAKU JUGA BAGI KITA SEMUA PARA MURID-NYA DI JAMAN NOW” (bacaan tanggal 18-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Mei 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUHAN YESUS ADALAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP

TUHAN YESUS ADALAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Jumat, 17 Mei 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Paskalis Baylon, Biarawan (Bruder)

 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Apabila aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.

Kemana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Kata Tomas kepada-Nya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:1-6) 

Bacaan Pertama: Kis 13:26-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:6-11

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6)

Yohanes menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan sentralitas dari peranan Yesus dalam penyelamatan. Ajaran-ajaran Yesus ini berada pada pusat niat Allah bagi para murid-Nya dan fondasi dari kehidupan mereka sebagai murid-murid-Nya. Kata-kata ini sungguh memberi pengharapan kepada para murid-Nya dahulu dan juga kita sekarang sebagai umat yang percaya!

Yesus mengungkapkan hasrat paling besar dari Allah, yaitu bahwa kita akan berdiam bersama dengan Dia selamanya dan bahwa Yesus sendirilah yang akan berjalan di depan kita guna menyiapkan sebuah tempat bagi kita dan membawa kita ke sana (Yoh 14:3-4). Pertanyaan yang diajukan oleh Tomas berkaitan dengan “jalan” (Yoh 14:5) menyediakan konteks bagi Yesus untuk menjelaskan tujuan dari hidup manusia dan sarana-sarana yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Tujuan manusia adalah “datang kepada Bapa”; jalan untuk mencapai tujuan ini adalah melalui Yesus … hanya Yesus! (Yoh 14:6).

Yesus tidak hanya sekadar “sebuah jalan”, atau hanyalah “seorang pemandu” sepanjang jalan. Ia adalah “sarana” melaluinya kita datang kepada Bapa; … melalui iman kepada Yesus dan mengikuti jejak-Nya, maka kepada orang diberikan hidup kekal. Yesus melipat-gandakan peranan-Nya sebagai “jalan” dengan mengatakan bahwa Dia adalah “kebenaran” dan “hidup”. Arti dari kata-kata Yunani dari kata-kata ini dapat memberi pencerahan atas kepenuhan maknanya.

Kata “kebenaran” mengacu pada hakekat aktual dari sesuatu, dan diperlawankan dengan “penampilan” (Inggris: appearance) dan “lambang-lambang” (Inggris: symbols). Yesuslah satu-satunya jalan yang benar kepada Bapa surgawi, jalan yang memimpin kepada kehidupan. “Hidup” tidak hanya mengacu pada hidup-fisik, melainkan juga “hidup spiritual”, kebahagiaan penuh-berkat yang tertinggi, yang dimaksudkan oleh Allah bagi umat-Nya. Selagi kita merangkul erat-erat sabda Yesus dalam iman, kita melihat bahwa kebenaran ini akan membawa kepada kita kehidupan dan menarik kita kepada Bapa surgawi.

Datang kepada Bapa surgawi memerlukan upaya dari pihak kita selagi kita menanggapi rahmat-Nya. Dalam hal ini kita perlu berdoa dan meditasi atas kebenaran-kebenaran iman-kepercayaan kita; kita juga membutuhkan “persekutuan” (Latin: Communio) dengan saudari-saudara yang lain dalam Tubuh Kristus, yaitu Gereja,  dan tidak kalah pentingnya adalah bagi kita untuk terlibat secara positif dalam mengasihi orang miskin dan menderita dalam masyarakat kita. Mengapa? Karena Allah menyatakan diri-Nya dalam diri orang-orang lain, teristimewa dalam diri “wong cilik”. Ini adalah upaya yang akan memampukan kita untuk mengikuti “jalan” itu. Inilah alasannya mengapa senantiasa baik bagi kita untuk membuat resolusi spiritual setiap bulan dalam rangka mengikuti jejak Yesus untuk sampai kepada Bapa di surga.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya dengan sepenuh hati bahwa Engkau adalah “jalan dan kebenaran dan hidup”, dan tidak ada seorang pun dapat datang kepada Bapa di surga tanpa melalui Engkau. Terpujilah nama-Mu yang mahakudus, sekarang dan selamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 13:26-33), bacalah tulisan yang berjudul “KETIKA PAULUS MENYAMPAIKAN PESAN SENTRAL DARI INJIL” (bacaan tanggal 17-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Mei 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH BEGITU MENGASIHI KITA DAN INGIN AGAR KITA ADA BERSAMA DIA

ALLAH BEGITU MENGASIHI KITA DAN INGIN AGAR KITA ADA BERSAMA DIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Kamis, 16 Mei 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona, OFS

Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem. Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ. Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, pejabat-pejabat rumah ibadat menyuruh bertanya kepada mereka, “Saudara-saudara, jika ada di antara kamu mempunyai pesan untuk menguatkan umat ini, sampaikanlah!” Lalu bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata, “Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah! Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita dan membuat umat itu menjadi besar, ketika mereka tinggal di Mesir sebagai orang asing. Dengan tangan-Nya yang teracung Ia telah memimpin mereka keluar dari negeri itu. Empat puluh tahun lamanya Ia bersabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun. Setelah membinasakan tujuh bangsa di tanah Kanaan, Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka selama kira-kira empat ratus lima puluh tahun. Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim sampai pada zaman Nabi Samuel. Kemudian mereka meminta seorang raja dan Allah memberikan kepada mereka Saul anak Kish dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya. Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah bersaksi, “Aku telah mendapat Daud anak Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.’ Sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, dari keturunnyalah Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus. Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan baptisan tobat kepada seluruh bangsa Israel. Ketika Yohanes hampir selesai menunaikan tugasnya, ia berkata, ‘Sangkamu aku ini siapa? Aku bukan Dia. Sesungguhnya Ia akan datang kemudian daripada aku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.’ (Kis 13:13-25)

Mazmur Tanggapan: Mzm  89:2-3,21-22,25,27; Bacaan Injil: Yoh 13:16-20

Apakah yang anda akan lakukan apabila anda dipanggil untuk memberitakan Injil Yesus Kristus kepada orang-orang yang anda belum pernah temui sebelumnya? Apakah hal paling penting yang anda ingin katakan kepada mereka? Pesan Injil sebenarnya jelas. Allah begitu mengasihi kita dan ingin agar kita ada bersama Dia. Dia selalu setia dengan janji-janji-Nya. Inilah pesan yang diwartakan oleh Paulus kepada orang-orang Yahudi di Antiokhia di Pisidia. Inilah juga pesan yang harus kita beritakan pada zaman modern ini.

Pada waktu Paulus dan Barnabas diutus untuk perjalanan misioner mereka yang pertama, mereka berkhotbah dalam sinagoga. Paulus menggunakan kesempatan ini untuk berbicara kepada orang-orang yang hadir tentang kesetiaan Allah dalam memenuhi janji-janji yang telah dibuat-Nya melalui para nabi. Secara singkat memaparkan jalan sejarah bangsa Yahudi sambil menggambarkan betapa Bapa di surga tetap setia kepada umat-Nya dari zaman ke zaman – bahkan pada saat-saat di mana mereka meninggalkan-Nya. Pada akhirnya, Allah memberikan Yesus kepada mereka, sebagai Dia yang melalui-Nya mereka dapat menerima keselamatan seperti yang dimaksudkan-Nya.

Apabila Allah tetap komit kepada umat-Nya dari abad ke abad, kita dapat mempercayai-Nya untuk kesetiaan-Nya kepada kita juga. Apalagi kita tahu bahwa kita adalah orang-orang pendosa yang sungguh membutuhkan penebusan. Yesus menyerahkan hidup-Nya sendiri agar kita dapat memperoleh suatu kehidupan baru. Yang kita perlukan hanyalah menerima kehidupan baru tersebut. Dalam Yesus kita mempunyai harta kekayaan yang tak terkira nilainya. Suatu jaminan dan pengharapan yang penuh berkat!

Kita dapat bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah aku telah mengalami kebenaran yang indah ini? Kita juga dapat mengambil waktu untuk memandang kehidupan kita di masa lampau dan mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita jalan-jalan yang telah kita tempuh di bawah bimbingan-Nya dan perlindungan-Nya. Kita mohon kepada-Nya agar menunjukkan kepada kita saat-saat di mana tangan-tangan Allah terlihat campur tangan dalam kehidupan kita, bahkan ketika kita sedang berada jauh dari diri-Nya. Baiklah kita mengingat juga kapan saja Dia menjawab doa-doa kita dan setia pada janji-janji-Nya. Marilah kita berterima kasih penuh syukur kepada-Nya untuk saat-saat itu dan biarlah kebenaran-kebenaran-Nya mencairkan hati kita masing-masing. Biarlah Dia merangkul diri kita dengan penuh kasih.

DOA: Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, ya Bapa, karena Engkau senantiasa beserta kami dan tidak pernah membuang kami. Terima kasih karena Engkau telah memberikan Putera-Mu yang tunggal kepada kami dan berbagi/syering hidup-Mu dengan kami. Kami juga berterima kasih karena Engkau menginginkan kami agar bersama-Mu sepanjang segala masa dan mengasihi kami dengan suatu kasih yang kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA APABILA KITA MEMPERKENANKAN YESUS MELAYANI KITA” (bacaan tanggal 16-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 14 Mei 2019 [Pesta S. Matias, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS MASIH BEKERJA DI TENGAH-TENGAH UMAT ALLAH

ROH KUDUS MASIH BEKERJA DI TENGAH-TENGAH UMAT ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Rabu, 15 Mei 2019)

Sementara itu, firman Allah makin tersebar dan makin banyak didengar orang. Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem, setelah mereka menyelesaikan tugas pelayanan. Mereka membawa Yohanes, yang disebut juga Markus. Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirena, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.

Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka. Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.

Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. Setibanya di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi. Yohanes menyertai mereka sebagai pembantu mereka. (Kis 12:24-13:5)

Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,6,8; Bacaan Injil: Yoh 12:44-50.

Paulus dan Barnabas. Di bagian pertama “Kisah para Rasul”, nama Saulus/Paulus jarang muncul terlepas dari teman baiknya yang bernama Barnabas. Pada kenyataannya, baik Gereja di Yerusalem  maupun di Antiokhia mengakui berbagai karunia hebat dari kedua orang ini, juga persahabatan erat antara keduanya. Mereka mengutus keduanya untuk berkarya bersama dalam misi-misi yang sensitif.

Meskipun Paulus sudah dikenal sebagai “Rasul kepada orang bukan Yahudi” Barnabas bersatu secara lengkap dengan Paulus dalam visi Gereja yang mendunia. Sampai titik tertentu, sebenarnya Paulus berutang banyak pada Barnabas, karena rasul yang tidak banyak bicara/dikenal inilah yang mencari Paulus, dan dialah yang melicinkan jalan untuk diterimanya Paulus (oleh para rasul) di Yerusalem. Dialah juga yang membawa Paulus ke Antiokhia untuk membantunya memimpin Gereja di sana (Kis 11:21-26).

Gereja Antiokhia. Selagi mereka berpuasa dan berdoa bersama, para tua-tua Gereja Antiokhia mendengar Roh Kudus mengatakan kepada mereka sesuatu yang baru dan berbeda. Mereka harus mengutus beberapa anggota jemaat sebagai misionaris untuk menyebar-luaskan Injil. Ini adalah sebuah arahan baru untuk keseluruhan Gereja. Para tua-tua tidak lagi cukup berharap dan menaruh kepercayaan bahwa Injil akan menyebar sejalan dengan pergerakan orang-orang. Sekarang, mandat untuk mewartakan Injil jauh lebih bertujuan. Bayangkanlah, karena para tua-tua jemaat ini berpuasa dan berdoa, mereka mampu menerima pangarahan dari Roh Kudus. Tetapi, mengapa selagi berpuasa? Mengapa bukan pada waktu-waktu yang lain?

Makna Puasa. Tuhan selalu dapat mencapai umat-Nya. Akan tetapi, kadang-kadang kita menjadi begitu disibukkan dengan tugas-tugas kita sehari-hari dan lupa untuk membuka hati kita terhadap dorongan-dorongan lemah-lembut dari Roh Kudus. Puasa menolong kita untuk menenangkan hati dan pikiran kita. Apakah yang dimaksudkan dengan puasa sebenarnya? Tidak makan dan minum? Kadang-kadang memang itu maksudnya. Namun puasa juga dapat diartikan sebagai berbagai kegiatan untuk mengurangi distraksi (pelanturan), untuk menenangkan hati, misalnya tidak menonton televisi selama satu malam, atau tidak mendengarkan siaran radio favorit kita agar kita dapat merefleksikan kehendak Allah dalam kehidupan kita.

Puasa dan doa tidak dapat dipisahkan. Penting untuk kita ingat-ingat selalu, bahwa puasa harus selalu disertai doa-doa, sebagai suatu cara menyerahkan hati kita kepada Tuhan sehingga Dia dapat membentuk kita dan memberdayakan kita. Doa dan puasa menolong kita untuk memisahkan diri kita dari pemikiran-pemikiran dan tugas-tugas duniawi kita, sehingga kita dapat datang ke hadapan hadirat Allah dengan lebih siap dan mengakui siapa Dia dan siapa kita yang berada di hadapan-Nya.

Selama puasa dan doa kita, kita menjadi lebih terbuka untuk mendengar suara Roh Kudus yang lemah-lembut itu. Barangkali Dia akan membuka diri kita bagi suatu pekerjaan baru dan istimewa yang diinginkannya untuk kita laksanakan. HARI INI PUN ROH KUDUS MASIH BEKERJA DI TENGAH-TENGAH UMAT ALLAH. Selagi kita membuat jiwa kita tenang dan memberikan hati kita lebih banyak lagi kepada Tuhan, maka Dia akan mengisi kehidupan kita dengan karunia-karunia (anugerah-anugerah)-Nya dan buah Roh.

DOA: Roh Kudus, hanya Engkau yang dapat membimbing kami dalam jalan-jalan Allah. Kami ingin membuka diri kami kepada-Mu sehingga rencana Bapa surgawi dapat dicapai lewat diri kami. Berikanlah kepada kami kekuatan untuk melakukan puasa – untuk membuat diri kami tenang sepenuhnya – sehingga kami dapat menjadi instrumen-instrumen kehendak Bapa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:44-50), bacalah tulisan yang berjudul “APA YANG AKU KATAKAN, AKU SAMPAIKAN SEBAGAIMANA DIFIRMANKAN OLEH BAPA KEPADA-KU” (bacaan tanggal 15-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.worpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Mei 2019 [Peringatan SP Maria dr Fatima] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS