AKU MAU MEMBERIKAN KEPADA ORANG YANG MASUK TERAKHIR INI SAMA SEPERTI KEPADAMU

AKU MAU MEMBERIKAN KEPADA ORANG YANG MASUK TERAKHIR INI SAMA SEPERTI KEPADAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu – Rabu, 22 Agustus 2018) 

“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Bacaan Pertama: Yeh 34:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Perumpamaan Yesus tentang orang-orang upahan di kebun anggur terkesan sungguh tidak adil. Salahkah kita kalau mengharapkan upah yang adil untuk suatu hari kerja yang dilakukan dengan baik dan jujur? Bukankah seorang majikan seharusnya menghindarkan diri dari tindakan-tindakan favoritisme (pilih kasih) dan tidak adil di tempat kerja? Jadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah Yesus sungguh-sungguh  membenarkan praktek-praktek ketidakadilan? Ataukah Yesus sebenarnya hanya menginginkan agar para pendengarnya mempertimbangkan betapa besar dan tanpa batasnya kasih dan belas kasihannya?

Mungkin sedikit informasi latar belakang perihal praktek kerja pada zaman Yesus dapat membantu kita untuk lebih mudah memahami apa yang dikemukakan oleh Yesus. Kebanyakan orang di Palestina tidak mampu untuk mendirikan usaha sendiri atau belajar berdagang. Dengan demikian mereka menyediakan diri mereka sebagai orang upahan harian. Mereka akan pergi ke pasar setiap pagi dan menantikan seorang tuan tanah atau pengurus properti tuan tanah yang mau memperkerjakan mereka untuk suatu pekerjaan tertentu, misalnya untuk memetik buah anggur di kebun anggur seperti diceritakan dalam perumpamaan Yesus kali ini. Praktek ini masih dapat kita lihat di Yerusalem hari ini, ketika kita lihat banyak pekerja harian berkumpul di pasar pagi-pagi dan menunggu dipekerjakan untuk proyek-proyek yang ada. Kalau tidak berhasil dipekerjakan hari itu maka hal itu berarti pulang ke rumah tanpa membawa apa-apa. Tidak ada uang dapat berarti tidak ada makanan di atas meja.

Jadi, ketika pemilik kebun anggur dalam perumpamaan Yesus ini mempekerjakan pekerja upahan pada jam 5 sore, maka hal itu haruslah kita lihat sebagai pengungkapan bela rasa atau kemurahan hati pemilik kebun anggur terhadap orang-orang yang belum dipekerjakan oleh siapa pun pada hari yang sudah hampir usai itu. Sang pemilik kebun anggur tidak ingin melihat ada orang yang masih mau kerja, namun terpaksa pulang dengan tangan hampa. Itulah sebabnya, mengapa sang pemilik kebun anggur mengupah orang-orang yang bekerja hanya satu jam lamanya itu dengan uang dalam jumlah yang sama, satu dinar…… agar mereka juga memperoleh uang yang cukup untuk menghidupi keluarga mereka pada hari itu.

Allah itu seperti sang pemilik kebun anggur. Allah tidak menginginkan satu pun dari kita anak-anak-Nya menderita atau dalam keadaan kekurangan. Kasih-Nya mengatasi logika perihal apakah yang harus diberikan-Nya kepada kita sesuai dengan kepantasan kita masing-masing untuk itu. Sebaliknya, Allah memberikan kepada kita  apa yang kita butuhkan. Ia tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita dan mengatakan kepada kita agar mencoba sedikit lebih keras lagi untuk berbuat kebaikan. Sebaliknya, Dia malah melimpah-limpahkan kepada kita berbagai karunia dari kerajaan-Nya, memasok tidak hanya hal-hal yang tidak kita miliki, melainkan juga memberikan kepada kita segala hal melebihi daripada yang kita harap-harapkan. Biarlah kebenaran ini mengisi hati dan pikiran kita masing-masing dengan rasa kagum dan penuh syukur pada hari ini!

Ingatlah selalu bahwa Allah tidak berhutang apa-apa kepada kita. Apabila Dia memberkati kita, kita harus bersyukur atas kemurahan hatinya dan mencari jalan untuk mensyeringkan kemurahan-hati-Nya kepada dan dengan orang-orang lain. Janganlah juga kita menolak “orang-orang yang datang belakangan” di depan pintu Allah, barangkali setelah kehidupan dosa yang begitu dahsyat. Keselamatan yang telah diberikan Allah kepada kita harus mendorong kita memberikan diri kembali kepada-Nya dengan bebas-merdeka. Kita harus malah bersukacita menyambut mereka yang datang belakangan itu.

DOA: Bapa surgawi, kasih-Mu sungguh tidak mengenal batas. Penuhilah hatiku dengan rasa syukur untuk segala karunia dan berkat yang Kaulimpah-limpahkan kepadaku setiap hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yeh 34:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SENANTIASA SIAP MENGAJAR KITA UNTUK MENJADI GEMBALA-GEMBALA YANG BAIK” (bacaan tanggal 22-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategrori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Agustus 2018 [Peringatan S. Bernardus, Abas Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

BERGURU PADA SEEKOR UNTA

BERGURU PADA SEEKOR UNTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Selasa, 21 Agustus 2018)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat tercengang mereka dan berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mat 19:23-30)  

Bacaan Pertama: Yeh 28:1-10;  Mazmur Tanggapan: Ul 32:26-28,30,35-36 

Mengapa Yesus menasihati orang muda-kaya itu untuk menjual segala harta-miliknya dan memberikan uangnya kepada orang-orang miskin? Apakah Yesus mendorong dia agar lebih banyak beramal agar dapat masuk ke dalam surga? Ataukah Ia meminta orang muda-kaya tersebut untuk mencabut sampai ke akar-akarnya segala “kemandirian”-nya, dalam artian pengandalan pada kemampuannya sendiri. Mengikuti dengan setia hukum-hukum tidak akan membawa anda ke dalam Kerajaan Allah, sebaliknya rasa percaya (trust) dan iman (faith) yang radikal kepada Yesus akan membawa anda ke dalam kerajaan Allah. 

“Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 19:24). Ini adalah kata-kata Yesus yang keras untuk dapat dipahami oleh murid-murid-Nya. Kekayaan dipandang oleh banyak orang sebagai sebuah tanda perolehan berkat dari Allah. Menurut pandangan ini tentunya orang muka-kaya itu adalah seorang yang sangat diberkati oleh Allah. Dengan demikian, apabila orang ini – yang jelas-jelas diberkati secara berlimpah oleh Allah – tidak dapat dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, maka siapa lagi yang dapat masuk?

Tradisi mengatakan kepada kita bahwa “lubang jarum” adalah pintu gerbang yang sangat kecil-sempit untuk masuk ke dalam kota Yerusalem. Agar unta-unta dapat melewatinya, maka unta-unta itu harus berlutut dan merangkak melaluinya. Semua beban berlebihan harus dilepaskan dulu. Yesus minta orang muda-kaya itu untuk melepaskan kelekatan-kelekatannya pada segala yang bersifat materi, seperti yang diperlukan oleh seekor unta untuk lepas dari bebannya yang berlebihan. Yesus minta  kepada orang muda-kaya itu untuk menaruh kepercayaan pada Allah agar dapat masuk ke dalam Kerajaan-Nya, bukannya menaruh kepercayaan pada berkat-berkat dari harta-kekayaannya.

Sekarang, marilah kita belajar dari hewan yang bernama “unta” itu! Apabila kita ingin masuk ke dalam kehidupan kekal, maka kita perlu menundukkan diri kita dan berlutut dalam doa dan kerendahan-hati. Kita harus mengakui kedaulatan Kristus dan kuat-kuasa penyelamatan-Nya – keselamatan yang hanya datang melalui iman dan baptisan. Hanya Yesus-lah yang dapat menebus kita dan membawa kita ke dalam kekudusan-Nya. Dengan demikian, marilah kita melepaskan diri dari beban-beban dosa yang selama ini telah menghalangi  pertumbuhan spiritual kita. Marilah kita membuat komitmen untuk melakukan pembaharuan hidup kita dengan Yesus setiap hari, mengakui kebutuhan kita akan Dia dan melepaskan segala “kemandirian” kita yang keliru, yaitu mengandalkan kemampuan diri kita sendiri. Marilah kita (anda dan saya) berjuang terus menuju kesempurnaan yang hanya dapat datang dalam iman kepada Yesus dan menyerahkan diri kepada kuasa-Nya untuk menyelamatkan dan menguduskan kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah satu-satunya harapanku. Aku mengkomit diriku kepada-Mu sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tolonglah aku, ya Tuhan Yesus, agar dapat menjadi seorang pribadi seturut yang Kauinginkan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30), bacalah tulisan yang berjudul “BAHAYA DARI KELIMPAHAN HARTA-KEKAYAAN” (bacaan tanggal 21-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Agustus 2018 [HARI MINGGU BIASA XX – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HENDAK SEMPURNA?

HENDAK SEMPURNA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bernardus, Abas & Pujangga Gereja – Senin, 20 Agustus 2018)

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Yeh 24:14-24; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

Selagi Yesus dan rombongan-Nya berada dalam perjalanan menuju Yerusalem, seorang muda mendatangi Yesus dengan pertanyaan yang tentunya ada dalam hati kita semua: “Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mat 19:16). Jawaban Yesus cukup sederhana: Kita harus mengenal Dia, satu-satunya yang baik (yakni Allah sendiri), dan kita harus mematuhi segala perintah-Nya, termasuk perintah untuk mengasihi sesama kita. Otoritas perintah-perintah Allah itu jelas – siapa saja yang ingin masuk Kerajaan-Nya wajib untuk mematuhi perintah-perintah-Nya.

Dalam hatinya yang terdalam anak muda ini merasa sangat lapar. Walaupun dia kaya raya dan dengan tulus telah menepati perintah-perintah Allah (hal ini tidak mudah untuk dilakukan oleh siapa saja), tetap saja dia merasakan kekosongan dalam kehidupannya. Hal ini sungguh merupakan suatu blessing in disguise, bahwa boleh menikmati kekayaan dunia atau menghayati suatu kehidupan moral yang baik samasekali tidaklah memuaskan rasa rindu yang ada dalam hati kita. Kita memang diciptakan untuk hal yang jauh lebih besar! Kita diciptakan untuk mengenal dan menikmati suatu persatuan yang erat dengan Allah.  Santo Augustinus mengatakan: “Kaubuat kami mengarah kepadamu. Hati kami tak kunjung tenang sampai tenang di dalam diri-Mu” (Pengakuan-Pengakuan, terjemahan Indonesia terbitan BPK/Kanisius, I.1). Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia menaruh dalam diri kita suatu rasa lapar akan kesempurnaan ini.

Yesus berkata kepada anak muda itu: “Jikalau  engkau hendak sempurna” (Mat 19:21). Hal ini harus kita pahami sebagai undangan Allah kepada semua orang. Melebihi upaya yang tulus dalam menepati perintah-perintah Allah, Yesus mengundang kita masing-masing kepada suatu pemuridan yang intim/akrab. Hanya persekutuan yang erat dengan Kristus seperti inilah yang dapat memuaskan rasa lapar yang ada dalam hati kita. Kita masing-masing dapat menjadi seorang murid Yesus, dapat mengikuti jalan kesempurnaan; undangan-Nya adalah untuk kita semua. Marilah kita menjawab dengan berani: “Ya, aku ingin menjadi sempurna,” dan memperkenankan Yesus mengajar kita untuk mengikuti jejak-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Episode ini terjadi pada waktu Yesus dengan penuh keyakinan sedang berada dalam perjalanan-Nya menuju sengsara dan kematian-Nya di Yerusalem. Kita semua juga sebenarnya sedang berada dalam suatu perjalanan: suatu perjalanan kemuridan/ pemuridan (a journey of discipleship). Setiap hari kita dapat mendekatkan diri kepada Yesus dalam doa, melalui pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan melalui keikutsertaan kita dalam liturgi, teristimewa dalam Perayaan Ekaristi. Selagi kita melakukan semua itu, kita akan belajar mengikuti-Nya secara dekat. Baiklah kita kesampingkan banyak-banyak hal – apakah yang bernilai atau tidak – yang memenuhi hati dan pikiran kita secara tidak semestinya, dan memusatkan hasrat dan perhatian kita sepenuhnya pada Yesus. Dia adalah sang Guru. Oleh karena itu, marilah kita mendengarkan Dia!

DOA: Roh Kudus Allah, tunjukkanlah kepada kami sukacita yang sempurna dan damai sejahtera yang sejati karena mengikuti jejak Yesus Kristus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan yang berjudul “RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG  UTAMA” (bacaan tanggal 20-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  18 Agustus 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA

ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XX [TAHUN B] – Minggu, 19 Agustus 2018)

“Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58) 

Bacaan Pertama: Ams 9:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,10-15; Bacaan Kedua Ef 5:15-20

“Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh 6:57). Di sini Yesus mengatakan bahwa Bapa surgawi adalah “Bapa yang hidup”, dan diri-Nya sendiri “hidup oleh Bapa”. Allah Bapa adalah sumber segala kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Dia dinamakan “Bapa”. Sejak awal mula Allah telah memberikan kehidupan kepada Putera-Nya. Bagi Putera-Nya, untuk menjadi “Putera” berarti Dia memperoleh kehidupan dari Bapa. Kabar Baik di sini adalah bahwa kita dapat ikut ambil bagian dalam hidup kekal yang bersifat ilahi dari Bapa dan Putera secara berwujud. Bagaimana dapat begitu?

Yesus memproklamasikan diri-Nya sebagai “roti kehidupan yang telah turun dari surga” (Yoh 6:51). Perhatikan frase unik “roti kehidupan” ini. Kita berpikir mengenai roti yang memberikan kehidupan bagi kita, namun kita tidak biasa menyebut roti itu hidup. Yesus adalah roti kehidupan berdasarkan dua alasan. Pertama-tama, Yesus memiliki hidup ilahi dari Bapa surgawi. Kedua, Bapa surgawi telah membangkitkan Yesus dan membuat-Nya menjadi Tuhan Kehidupan yang bangkit. Bapa telah memberikan Yesus kehidupan kekal sebagai Allah dan sebagai manusia yang bangkit.

Yesus adalah roti kita yang sejati karena Dia turun dari surga dari Bapa; Dia menjadi manusia. Yesus adalah pemberian kehidupan dari Bapa bagi dunia. Dalam Ekaristi, Bapa melanjutkan memberikan Yesus sebagai roti yang memberikan kehidupan. Dalam Ekaristi, kita makan tubuh dan minum darah Yesus. Putera ilahi, sekarang Tuhan yang bangkit, menjadi makanan kita untuk kehidupan kekal.

Inilah sebabnya mengapa Yesus begitu penuh empati di tengah-tengah keraguan  orang-orang Yahudi. “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). Dengan makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, kita tinggal di dalam Yesus dan Ia dalam kita (lihat Yoh 6:56). Dengan berdiam dalam Yesus kita juga tinggal dalam Bapa, yang merupakan sumber kehidupan.

Ekaristi mempunyai efek yang sangat penuh kuat-kuasa. Ekaristi memberikan kepada kita kehidupan kekal di sini dan sekarang selagi kita ikut ambil bagian dalam keilahian Yesus. Kehidupan kekal bukan saja sesuatu yang kita terima pada saat kematian kita; karena kita telah memilikinya. Lagi pula, tubuh dan darah Yesus membuat diri kita imun terhadap kematian atau maut. Karena kita hidup dalam Yesus sekarang, maka kita akan hidup bersama-Nya untuk kehidupan kekal.

Ekaristi adalah suatu misteri agung karena dengan mengambil bagian di dalamnya kita ditransformasikan ke dalam keserupaan dengan Kristus. Kita menjadi ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya. Kita menjadi berdiam dalam Putera dan hidup sebagai anak-anak Bapa surgawi, walaupun kita samasekali tidak pantas menerima anugerah yang sedemikian besar dan agung.

DOA: Bapa surgawi, kami percaya bahwa dengan memakan tubuh Kristus dan minum darah-Nya dalam Ekaristi, maka kami akan tinggal di dalam Dia dan Ia dalam kami. Dengan berdiam di dalam Dia, maka kami pun akan tinggal di dalam Engkau, sumber segala kehidupan. Terima kasih Bapa untuk anugerah Ekaristi bagi umat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:51-58), bacalah tulisan yang berjudul “MAKANAN ILAHI YANG AKAN MEMBAWA KITA KEPADA KEHIDUPAN KEKAL” (bacaan tanggal 198-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-8-12 dalam situs/blog  SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Agustus 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG PUNYA KERAJAAN SURGA

YANG PUNYA KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Sabtu, 18 Agustus 2018)

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang punya Kerajaan Surga.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ. (Mat 19:13-15) 

Bacaan Pertama: Yeh 18:1-10,13,30-32; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-15,18-19

“Ibu, anak-anak Ibu manis-manis bener, seperti malaikat-malaikat kecil deh! Kami merasa terhormat Ibu ingin agar anak-anak Ibu diberkati oleh Yesus …” Paling sedikit, barangkali inilah awal dari ‘kata-kata manis’ salah seorang murid Yesus ketika berupaya menjauhkan sejumlah anak yang dibawa oleh para orangtua mereka. Murid Yesus itu melanjutkan: “Tolong mengerti, ya Ibu. Yesus adalah seorang rabi yang sangat sibuk. Beliau adalah rabi yang mengajarkan pesan-pesan spiritual mendalam, yang bahkan sukar dipahami oleh orang-orang dewasa sekali pun . Apakah Ibu tidak bisa membawa anak-anak Ibu untuk diberkati oleh rabi di kota? Saya yakin beliau sangat senang memberkati anak-anak Ibu.” Ini barangkali upaya yang baik dari seorang murid Yesus yang OK-OK. Tentunya ada juga murid-Nya yang jauh lebih kasar dalam upayanya mengusir para orangtua dan anak-anak mereka, karena Injil menggunakan kata “memarahi” (Mat 19:13). Terlalu !!!

Namun Yesus memang lain !!! Ia berupaya secara istimewa untuk berbicara dengan anak-anak itu dan memberkati mereka. Sebelum peristiwa ini, tidak ada pemimpin agama atau filsuf manapun dalam sejarah yang menilai anak-anak sebagai pribadi-pribadi yang begitu penting. Setelah anak-anak itu pergi bersama orangtua mereka masing-masing, Yesus menggunakan insiden itu untuk mengajarkan kepada para murid-Nya beberapa unsur mendasar tentang Kerajaan Allah.

Pertama-tama, Yesus dengan jelas melegitimasi hasrat para orangtua agar anak-anak mereka diberkati. Yesus memberi nilai yang penting atas pemberian berkat yang bagi banyak orang kelihatannya tidak menempati prioritas utama dalam hal pentingnya secara spiritual. Kedua, barangkali lebih penting, Yesus menunjukkan bahwa Dia menyambut baik gerakan apa saja untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Nya. Anak-anak tidak mencari-cari kesempatan untuk memberi berkat, melainkan untuk diberkati. Anak-anak tidak dapat bekerja dan melayani Kerajaan Allah. Anak-anak tidak dapat memahami tuntutan-tuntutan dari panggilan Kristus, dan mereka pun tidak memperoleh manfaat spiritual dari hal itu. Anak-anak datang dengan tangan hampa, satu-satunya hasrat mereka adalah untuk berada dekat dengan Yesus. Justru respons sederhana seperti itulah yang paling dihargai oleh Yesus: “Orang-orang seperti itulah yang punya Kerajaan Surga” (Mat 19:14).

Matius melaporkan bahwa Yesus mengatakan hal-hal yang disebutkan dalam bacaan Injil ini, selagi Dia dan rombongan-Nya sedang menuju Yerusalem. Selagi Kristus mengajar para murid-Nya tentang kematian dan kebangkitan-Nya, Dia menggunakan kata-kata-Nya sehubungan dengan peristiwa ini dan juga dalam kesempatan lain yang ada, untuk membuat jelas bahwa Kerajaan Allah adalah karunia, suatu anugerah dari Yang Ilahi, bukannya sesuatu karena usaha kita sendiri.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dapat melihat betapa lemah lembut sikap dan perilaku Yesus terhadap anak-anak. Nah, sementara kita menerima peranan kita sebagai anak-anak Allah, kita tidak pernah boleh ragu-ragu bahwa Bapa surgawi mempunyai kasih yang sama bagi kita dan kelemahlembutan yang sama terhadap kita, sebagaimana telah ditunjukkan oleh Yesus kepada anak-anak yang datang kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil waktu menunjukkan kepada dunia betapa dalam Bapa surgawi mengasihiku. Semoga kelemahlembutan-Nya membuat lunak hatiku dan mengubah jati diriku yang terdalam. Semoga hatiku yang telah Kauubah itu ikut ambil bagian dalam mengubah orang-orang yang kujumpai, termasuk anggota keluargaku sendiri, teristiwa anak-anakku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini, silahkan anda membaca tulisan dengan judul “APA ARTINYA MENGASIHI ANAK-ANAK KITA?” (bacaan tanggal 18-8-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Agustus 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH JAWABAN YANG MEMILIKI RELEVANSI SAMPAI HARI INI

SEBUAH JAWABAN YANG MEMILIKI RELEVANSI SAMPAI HARI INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA – Jumat, 17 Agustus 2018)

Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:15-21) 

Bacaan Pertama: Sir 10:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,6-7; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:13-17 

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21)

Jawaban Yesus kepada orang-orang Farisi yang munafik (kali ini didukung oleh sejumlah pendukung raja Herodes), yang  senantiasa mencoba untuk menjebak-Nya ini merupakan sebuah jawaban yang memiliki relevansi sampai pada hari ini, khususnya dalam kehidupan bernegara. Jadi, memang cocok untuk menjadi bacaan Injil pada Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia ini.

Di sini orang-orang Farisi dan kaum Herodian berupaya menjebak Yesus ke dalam suatu kontroversi atau katakanlah polemik politis. Kenyataan bahwa orang-orang Farisi (anti pemerintahan Roma) dan kaum Herodian (pendukung raja Herodes; pro pemerintahan Roma) bergabung menunjukkan bahwa memang ada “udang di balik batu” yang tersirat dalam pertanyaan mereka kepada Yesus. Yesus berhasil menghindar dari “jebakan” para lawan-Nya itu. Dia tidak menampilkan diri sebagai seorang revolusioner politik (misalnya secara eksplisit menolak pajak kepada Kaisar), melainkan mengulangi pesan dasar dari misi-Nya: “(Berikanlah) kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21).

Dalam pernyataan Yesus ini tersirat adanya masalah hak dan kewajiban, tidak sekadar hak. Hak dan kewajiban memang seyogianya berjalan seiring, seperti layaknya sisi yang berlainan dari sebuah uang logam yang sama. Kaisar (baca: Pemerintah) memang berhak menuntut sejumlah hal dari rakyat yang dipimpinnya, berupa pajak sampai kepada keikutsertaan mereka dalam pembelaan negara dan bangsa. Namun di lain pihak, Kaisar juga mempunyai kewajiban untuk mengurus negara dan mengusahakan kesejahteraan bagi rakyatnya dalam arti seluas-luasnya. Apa yang menjadi hak Kaisar sebagai penguasa/pengurus negara dan bangsa, menjadi kewajiban bagi rakyatnya. Juga sebaliknya: hak rakyatlah untuk mempunyai pemerintahan yang kompeten, memperhatikan keadilan sosial dll. yang merupakan kewajiban  Kaisar.

Kita sebagai orang Kristiani tidak hanya wajib membayar pajak kepada Kaisar, melainkan juga melibatkan diri dalam banyak aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial dll., termasuk membawa perdamaian dalam masyarakat. Umat Kristiani bukanlah musuh negara, melainkan warga-warga negara yang penuh tanggung jawab. Sebagai umat yang beriman (saya tidak mengatakan “umat yang beragama”) kepada “Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat”, dengan hati yang dipenuhi dan dibimbing oleh Roh Kudus, mereka melakukan kewajiban-kewajiban mereka sebagai warganegara tidak karena terpaksa atau dipaksa-dipaksa, atau apabila ditekan oleh “teror” dari segala arah, atau apabila diamat-amati serta diancam dengan hukuman-hukuman, melainkan atas dasar kesadaran batin. Mengapa? Karena karena dalam diri penguasa dan kekuasaan yang sah, mereka melihat para pemimpin yang dihendaki Allah guna mencapai kesejahteraan umum.

Akan tetapi, di pihak lain umat Kristiani hanya bersedia memberi kepada Kaisar apa yang menjadi haknya, dan bukan perkara-perkara lain yang samasekali bukan hak sang Kaisar untuk turut campur tangan. Jadi, hak Kaisar tidaklah tanpa batas. Di bawah ada hak-hak pribadi dan keluarga yang tidak dapat diganggu gugat oleh Kaisar dan kekuasaannya. Di luar ada hak-hak bangsa lain. Dan terutama dari atas sana ada tuntutan dan kehendak Allah. Oleh karena itu, setiap kali pemerintahan suatu negara melampaui batas-batas kekuasaannya dan menuntut yang tidak adil, maka umat Kristiani tidak dapat taat lagi. Kalau yang dituntut Kaisar itu tidak adil, maka orang Kristiani wajib melawannya dan setuju berarti dosa. Dalam kurun waktu sekitar 300 tahun pertama sejarah Gereja banyak sekali orang Kristiani yang mati sebagai martir Kristus, karena tidak mau memberikan kepada Kaisar yang berkuasa apa yang menjadi hak Allah.

Bagian akhir jawaban Yesus sangat mendalam dan tepat mengenai hal yang paling menentukan: “(Berikanlah) kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Para lawan Yesus yang munafik, yang berpura-pura jujur dan penuh tanggung jawab itu justru tidak mau tunduk kepada Tuhan (Kyrios) segala kaisar. Mereka tidak mau mempercayai sabda Allah, tidak mau taat kepada kehendak-Nya, tidak mau memuji kemuliaan-Nya. Pertanyaan pura-pura mereka merupakan bukti dari ketidaktaatan mereka.

Manusia harus memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah. Dan segala sesuatu adalah milik Allah, sebab sebagai makhluk ciptaan, manusia itu adalah milik sang Pencipta, dan sebagai yang tertebus dengan darah Kristus, dia menjadi milik sang Penebus. Kehidupan manusia berasal dari Allah, demikian pula kehendak bebasnya dan juga rahmat yang diterimanya. Demikian pula cintakasihnya yang juga berasal dari Allah sendiri yang adalah KASIH. Maka, segala sesuatu yang diberikan manusia kepada Allah hanyalah pemulangan kembali milik Allah saja. Oleh karena itu penyerahan diri kepada Allah bagi umat Kristiani bukan hanya merupakan kewajiban, melainkan karya cintakasih yang rela dan gembira. Siapa yang memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik-Nya, demi Allah juga dapat memberikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar. Akan tetapi, siapa yang memberikan kepada Kaisar apa yang tidak menjadi kepunyaannya, siapa yang mendewa-dewakan pimpinan pemerintahan, yang baginya kekuasaan negara adalah yang tertinggi, yang melihat tujuan terakhir dalam politik dan kebesaran nasional, dia itu menolak memberikan kepada Allah apa yang menjadi kepunyaan-Nya.

Hanya sikap yang tepat terhadap Allah sajalah yang akan mendatangkan keserasian dalam seluruh kehidupan seseorang. Maka jawaban Yesus terhadap pertanyaan menjebak para musuhnya adalah menyingsingnya fajar keseluruhan tata ciptaan, sebab semua garis bertemu pada suatu titik tertinggi, dan dari titik tertinggi tadi, jadi dari Allah, segala sesuatu diterangi. Pendewaan manusia dan negara dapat dipandang sebagai penyembahan berhala. Dan penyembahan berhala adalah pekerjaan Iblis. Siapa  yang melakukan penyembahan berhala akan jatuh ke dalam kekuasaan Iblis.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memanggil setiap orang kepada kemerdekaan dalam Yesus Kristus, Putera-Mu. Maka pada hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ini kami mohon kepada-Mu: lindungilah tanah air kami, agar tetap bebas merdeka dan aman sentosa. Anugerahkanlah kepada bangsa kami kemerdekaan sejati, agar di seluruh wilayahnya berkuasalah keadilan dan damai sejahtera, perikemanusiaan, kerukunan dan cintakasih yang sejati. Amin.

Catatan: Bacalah tulisan berjudul “BERIKANLAH KEPADA KAISAR …… DAN KEPADA ALLAH ……” (bacaan tanggal 17-8-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Agustus 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAMPUNI DENGAN SEGENAP HATI

MENGAMPUNI DENGAN SEGENAP HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 16 Agustus 2018) 

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1) 

Bacaan Pertama: Yeh 12:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-59,61-62

Pernahkah kita masing-masing mencoba untuk memahami betapa luas serta mendalam makna segalanya yang terjadi di Kalvari sekitar 2000 tahun lalu? Ambillah waktu untuk merenungkan peristiwa itu, dan janganlah mengambil sikap “minimalis”: cukup sekali saja atau cukup pada masa Prapaskah saja! Allah memberi kesempatan sangat cukup kepada kita dalam kehidupan penuh kesibukan ini. Ia menyediakan waktu yang cukup bagi kita untuk merenungkan peristiwa agung ini.

Di sana, di Kalvari, Yesus menanggung sendiri beban dosa-dosa manusia di seluruh dunia. Setiap dosa manusia yang pernah ada (tidak hanya yang telah diperbuat, melainkan juga yang disebabkan oleh pemikiran, ucapan kata-kata dan kelalaian), setiap dosa yang sekarang dan setiap dosa di masa depan; semua dosa sepanjang zaman telah dipaku di kayu salib dan diampuni oleh Bapa surgawi. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan, seperti ditulis oleh Santo Paulus: “Di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka” (1Kor 5:19). Apakah yang menggerakkan Allah untuk begitu bermurah-hati, dengan mengorbankan Putera-Nya sendiri? KASIH !!! Ini motivasi satu-satunya, karena Dia adalah Kasih itu sendiri (lihat 1Yoh 4:8.16). Santo Paulus menulis: “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Itulah sebabnya, mengapa kita berani mengucapkan Pengakuan Iman: “Aku percaya akan …… pengampunan dosa …..” (Syahadat Para Rasul).

Kalau “pengampunan”-Nya telah dimenangkan untuk setiap orang, diberikan tanpa diskriminasi kepada semua orang, siapakah kita ini sampai-sampai tidak mau mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita dalam rupa-rupa bentuknya, misalnya fitnah atau pun “pembunuhan karakter”? Yesus mengajarkan kepada Petrus pelajaran mengenai pengampunan ini lewat sebuah perumpamaan tentang dua macam hutang. Orang pertama adalah seorang hamba raja yang berhutang sangat banyak kepada sang raja, jumlah hutangnya lebih besar daripada total penghasilan sebuah provinsi dalam kekaisaran Romawi dan lebih dari cukup untuk menebus seorang raja yang disandera oleh musuh. Setelah memohon-mohon kepada sang raja, hamba ini pun diampuni karena belas kasihan raja. Namun hamba itu tidak mau mengampuni seorang hamba lain yang berhutang kepadanya dalam jumlah yang jauh lebih sedikit ketimbang hutangnya sendiri kepada raja (catatan: 1 talenta = 6000 dinar).

Mengapa begitu sulit bagi kita untuk mengampuni orang lain? Mungkin karena ada rasa bangga yang terlukai, kemasabodohan, atau pun juga prasangka.  Mungkin karena “kesalahan” dari pihak orang “yang bersalah kepada kita” begitu besar , atau telah melukai kita begitu mendalam. Atau kita sedang menunggu dia datang dan datang mohon maaf dan/atau mohon diampuni dan memberi “ganti-rugi” atas “kejahatan”-nya kepada kita. Kalau kita masih berpikir, bersikap dan berperilaku seperti itu, maka ingatlah bahwa di mata Allah, keadilan tanpa belas kasihan adalah sesuatu yang tidak dapat ditoleransi. Memang kita membutuhkan cukup waktu untuk mengubah pikiran, sikap serta perilaku kita, dan memang hal ini tidaklah mudah. Kita tidak mempunyai opsi lain, kecuali untuk mengampuni.

Tentang pengampunan ini Paus Yohanes Paulus II menulis, “Pengampunan menunjukkan kehadiran kasih yang lebih kuat daripada dosa” (Dives in Misericordia, 7). Belas kasihan Allah tidak diskriminatif, tidak membeda-bedakan orang apakah miskin atau kaya, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, pengemudi angkot atau pengusaha konglomerat, pemeluk agama Kristiani atau bukan dst. Dengan demikian, belas kasihan Allah itu tidak eksklusif, dan Ia pun ingin melihat sikap kita yang tidak “tebang pilih”, selalu inklusif dalam mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Pada waktu Engkau mengajar DOA BAPA KAMI kepada para murid-Mu, Engkau mengatakan: “Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga” (Mat 6:14). Tolonglah aku maju selangkah lagi untuk dapat mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami. Tuhan Yesus, aku ingin seperti Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI” (bacaan tanggal 16-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Agustus 2018 [Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS