YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR

YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Senin, 26 September 2016)

OFS: Peringatan S. Elzear dan Delfina, Ordo III S. Fransiskus Sekular 

jesus_christ_picture_013Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50) 

Bacaan Pertama: Ayb 1:6-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1-3,6-7

Yesus mempunyai alasan untuk menjadi jengkel – malah sangat jengkel – dengan para murid-Nya. Kita melihat bahwa tiga orang di antara mereka baru saja menyaksikan transfigurasi di atas gunung (Luk 9:28-36) dan para murid yang lebih banyak jumlahnya juga menyaksikan Yesus mengusir roh jahat dari seorang anak yang sakit (Luk 9:37-43a), namun kemudian Yesus secara spesifik mengingatkan para murid-Nya itu akan penderitaan-Nya kelak (pemberitahuan kedua; Luk 9:43b-46), seraya menjelaskan bahwa Kerajaan-Nya bukanlah kerajaan dengan kekuasan duniawi melainkan kekuasaan berdasarkan kerendahan hati atau kedinaan. Walaupun mendengar pemberitahuan Yesus itu, para murid masih saja bertengkar antara mereka sendiri tentang siapakah yang terbesar di antara mereka (Luk 9:46). Kiranya mereka berkompetisi satu sama lain untuk memperoleh posisi kekuasaan dalam Kerajaan yang akan datang. Ah, begitu lamban mereka untuk sampai ke titik di mana mereka sungguh merangkul kerendahan hati Yesus, yang mengosongkan diri-Nya guna menyenangkan hati Bapa di surga!

Yesus dapat saja menegur para murid-Nya dengan keras.  Namun pada kenyataannya, Dia sekali lagi mengajar para murid bahwa kemuliaan dalam Kerajaan adalah milik dari yang paling kecil di antara mereka. Walaupun para murid itu lamban dalam memahami ajaran-Nya, Yesus tidak pernah berhenti menjelaskannya kepada mereka dalam kata-kata dan perbuatan-perbuatan. Kekerasan kepala para murid dan juga persaingan tak sehat yang terjadi di antara mereka bukanlah halangan bagi Yesus. Yesus ingin agar para murid-Nya sungguh mencerminkan kerendahan hati-Nya. Memang benar bahwa para murid mengasihi Yesus. Bahkan mereka percaya bahwa Yesus adalah sang Mesias dan mereka sungguh berani dalam memprolamasikan Kerajaan-Nya. Namun kita juga tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa pelajaran tentang kerendahan hati atau kedinaan itu sangatlah sulit bagi mereka untuk menyimaknya.

yesus-dan-anak-anak-jesus-with-little-oneYesus tidak pernah “kapok” dan/atau menyerah dalam hal memperbaiki kebebalan para murid-Nya, demikian pula Dia tidak pernah menyerah dalam hal kita. Kita menemukan begitu banyak hal, baik dalam hati dan dalam dunia di sekeliling kita yang menarik kita kepada sikap dan perilaku yang mau untung sendiri dan juga cinta kekuasaan. Barangkali kita – terpaksa atau tidak terpaksa – mengeluh tidak puas tentang apa saja yang berhasil dicapai oleh kita atau anak-anak kita, atau merasa susah/tidak enak untuk memperkenankan orang lain yang dekat dengan kita menjadi sorotan orang-orang karena keberhasilannya. Percakapan-percakapan kita seringkali dapat berputar-putar di sekeliling diri kita sendiri saja. Kita dapat merasa terdorong untuk terus menanjak dalam karir – no matter what – jadi, tentunya juga tanpa berpikir tentang efek-efek negatif dari “keberhasilan” kita dalam karir tersebut atas kehidupan keluarga kita dan hidup doa kita.

Dorongan-dorongan manusiawi dapat sangat berakar kuat dalam diri kita dan semua itu biasanya tidak dapat diubah dalam satu malam.  Akan tetapi Yesus ingin agar kita menjadi serupa dengan diri-Nya, dan melakukan apa saja yang diperlukan untuk mencapai transformasi diri kita. Yang diminta oleh-Nya hanyalah bahwa kita meluangkan waktu untuk bersama Dia secara teratur, dengan demikian memperkenankan terwujudnya transformasi termaksud. Kita dapat membuat suatu komitmen untuk berdoa setiap hari dan membaca/mempelajari sabda-Nya. Kita dapat berpaling kepada Yesus dengan cinta kasih yang tulus setiap saat dalam hidup keseharian kita, guna menjaga pikiran kita dan memeriksa apakah pemikiran-pemikiran kita menyenangkan hati Bapa surgawi. Marilah kita mengambil langkah-langkah sederhana ini dan membuka pintu hati kita bagi Yesus agar Ia membentuk karakter-Nya yang rendah hati dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, kami memuji Engkau untuk kerendahan hati-Mu yang sempurna! Engkau mengasihi kami tanpa syarat apa pun. Kami bersembah sujud di hadapan-Mu dengan penuh rasa syukur. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR” (bacaan tanggal 26-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK HANYA KESAKSIAN MUSA DAN PARA NABI

TIDAK HANYA KESAKSIAN MUSA DAN PARA NABI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [Tahun C] – 25 September 2016)

 rich-man-and-lazarus1

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan  borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus  segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak Bapak Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31) 

Bacaan Pertama: Am 6:1a,4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10; Bacaan Kedua 1Tim 6:11-16 

Abraham mengatakan kepada orang yang kaya itu bahwa mukjizat yang paling spektakuler sekali pun tidak akan mampu untuk mengubah hati atau pikiran orang. Hanya sabda Allah sajalah yang dapat melakukannya. “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Luk 16:31). Tujuan Yesus mengatakan ini adalah untuk menggaris-bawahi adanya suatu kuat-kuasa riil dalam sabda Allah. Apabila kita sungguh mendengarkan sabda Allah itu, jika kita mengesampingkan ide-ide dan hasrat-hasrat kita sendiri, maka Kitab Suci dapat mengubah diri kita secara mendalam.

Mendengarkan sabda Allah dalam Kitab Suci dengan cara yang dapat mengubah hati kita menyangkut lebih daripada sekadar membaca dan/atau mendengar sabda Allah. Bagaimana pun juga orang kaya dalam perumpamaan ini mempunyai Kitab Taurat dan Kitab para Nabi, dan hal itu tidak membuat perubahan atas dirinya. Untuk mendengar sabda Allah, pertama-tama kita harus menenangkan hati dan pikiran kita. Kita harus membuat hening segala macam suara/kebisingan yang dapat dengan cepat menjadi distraksi/pelanturan: pikiran-pikiran tentang hal-hal lain apa saja yang harus kita lakukan, apa saja yang ingin kita lakukan, atau apa saja yang kita telah lupa lakukan. Yang diminta oleh Allah hanyalah bahwa kita memusatkan perhatian kita kepada-Nya untuk hanya beberapa menit lamanya.

Apabila kita telah menenangkan pikiran kita dengan cara begini, janganlah merasa terkejut untuk menemukan rasa bersalah, kemarahan, penolakan, atau dosa yang selama ini terhambat atau tertutupi oleh urusan-urusan lain sehari-hari dan tidak dapat muncul ke atas permukaan dengan segera. Sesungguhnya ada banyak sekali “jaringan laba-laba” yang harus dibersihkan terlebih dahulu melalui pertobatan. Pertobatan akan menghancurkan berbagai halangan yang berdiri antara kita dan Allah. Pertobatan membebaskan diri kita untuk mendengar dari Dia tanpa gangguan atau distorsi dan memampukan kita untuk membuka hati kita  lebar-lebar guna menerima sabda-Nya.

roh-kudus-melayang-layang-2Sekarang, kitapun siap untuk memohon kepada Roh Kudus untuk berbicara kepada kita selagi kita membaca Kitab Suci. Kita harus membacanya dengan tidak terburu-buru. Baiklah bagi kita untuk berhenti bilamana ada sepatah kata atau frase yang menarik perhatian kita, atau katakalah menyentuh hati kita. Sekali-kali kita harus berhenti dan memohon kepada Roh Kudus untuk membantu kita memahami apa yang dikatakan-Nya kepada kita. Kita harus menaruh kepercayaan bahwa Dia akan menjawab. Walaupun apa yang dikatakan Roh Kudus itu tidak menyenangkan, kita harus menyadari bahwa hal itu adalah demi kebaikan kita (lihat Yer 29:11). Apabila kita mencoba cara ini setiap hari sepanjang dua minggu, maka berkat rahmat Tuhan kita pun akan merasakan adanya perubahan dalam hati kita. Kita tidak hanya memiliki Musa dan para nabi, melainkan juga Yesus dan Roh Kudus. Biarlah kata-kata mereka sungguh merobek hati kita.

DOA: Roh Kudus Allah, berikanlah kepadaku telinga untuk mendengar Engkau, agar aku dapat mengenal Engkau dan mengasihi Engkau dan melayani Engkau hari ini dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN” (bacaan tanggal 25-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-9-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul Penulis Injil]   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MENGHAYATI KEHIDUPAN TERSALIB

KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MENGHAYATI KEHIDUPAN TERSALIB

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Sabtu, 24 September 2016)

 1-1-pictures-jesus-cross

Ketika semua orang itu masih heran karena segala sesuatu yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Namun mereka segan menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. (Luk 9:43b-45) 

Bacaan Pertama: Pkh 11:9-12:8; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6,12-14,17

Yesus telah mengatakan kepada para murid-Nya bahwa diri-Nya akan mengalami banyak penderitaan dan ditolak oleh para pemuka agama Yahudi, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Luk 9:22). Sekarang – dalam pemberitahuan kedua tentang penderitaan-Nya – Yesus mengatakan kepada mereka lagi bahwa diri-Nya akan diserahkan ke dalam tangan manusia (Luk 9:44). Mereka (para murid-Nya) sungguh tidak mengerti!

Dalam Injil yang ditulisnya, Lukas ingin mengemukakan bahwa kebutaan atau kebebalan para murid itu tidaklah lepas dari rancangan Allah itu sendiri. Bagaimana pun juga Pentakosta belum datang, artinya para murid belum menerima Roh Kudus yang akan menyatakan kepada mereka arti sepenuhnya dari Kalvari. Lukas juga mencatat bahwa para murid merasa takut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Yesus. Seakan-akan dia mau mengungkapkan bahwa para murid tidak tahu karena mereka tidak ingin/mau tahu (Luk 9:45).

Dalam proses menuju kepada pengenalan akan Allah, bukankah kita juga seringkali dihinggapi rasa takut atau menghindarkan diri dari apa yang kita pikir Allah mungkin mencoba katakan kepada kita? Dengan demikian, betapa indah jadinya untuk mengetahui bahwa kita dapat mengenal Yesus secara pribadi. Melalui Dia kita mengetahui bahwa kita mempunyai seorang Bapa di surga yang kasih-Nya dapat kita alami setiap hari. Barangkali hal yang pada awalnya agak tidak mudah untuk kita pahami namun setahap demi setahap dapat kita pahami dan imani (semuanya di bawah pengaruh Roh Allah) adalah bahwa “karena Tuhan yang kita ikuti disalibkan, maka kita pun dipanggil untuk menghayati kehidupan tersalib”, suatu crucified life. Sebagai man of the Cross, Santo Fransiskus dari Assisi tahu benar apa makna dari “kehidupan tersalib” itu, yang dihayatinya dengan setia sejak saat pertobatannya sampai saat kematiannya.

Tuhan Yesus tidak hanya membawa serta dosa-dosa kita ke atas kayu salib, Ia juga membawa-serta kita juga: “Aku telah disalibkan dengan Kristus”, tulis Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia (Gal 2:19). Setiap hari kita harus mempasrahkan diri kita kepada karya Roh Kudus Allah selagi kita berupaya untuk mati terhadap kebiasaan-kebiasaan lama kita, dosa-dosa kita, sikap dan perilaku mementingkan diri-sendiri, agar kita dapat menjadi “ciptaan baru”, yang dijiwai dengan hidup Kristus sendiri.

Santo Yohanes dari Salib [1542-1591], seorang pembaharu Ordo Karmelit, menulis tentang bagaimana Allah memurnikan dan membersihkan mereka yang ingin menjadi matang/dewasa sebagai orang Kristiani: “Ah, Tuhanku dan Allahku! Berapa banyak orang datang kepada-Mu mencari penghiburan dan kepuasan bagi diri mereka sendiri dan menghasrati bahwa Engkau memberikan kebaikan-kebaikan dan karunia-karunia, namun alangkah sedikitnya orang-orang yang ingin memberikan kepada-Mu kesenangan dan sesuatu yang menimbulkan biaya bagi mereka sendiri, mengesampingkan kepentingan mereka sendiri” (Malam Gelap).

Nah, marilah kita tanpa rasa takut mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah tentang makna salib Kristus atau bagaimana kita dapat menyenangkan diri-Nya.

DOA: Bapa surgawi, biarlah salib Putera-Mu berlaku pada setiap bagian dari keberadaanku – kecerdikanku, rasa percaya-diriku, simpati-simpatiku, afeksi-afeksiku, selera-seleraku, perasaan-perasaanku, ambisi-ambisiku, pemikiran-pemikiran duniawiku, kemalasanku, pengabaian doaku, keinginan tahu diriku yang tidak sehat, sifat pemarahku, ketidakpercayaanku, kecepatanku dalam mengkritisi orang lain, dan apa saja yang merupakan penghinaan terhadap kekudusan-Mu dan suatu kesempatan yang dapat digunakan Iblis untuk maksud jahatnya. Terima kasih, Bapa! Dimuliakanlah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:43b-45), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK KEDUA KALINYA YESUS MENGUNGKAPKAN REALITAS SENTRAL DARI MISI-NYA” (bacaan tanggal 24-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIAPAKAH AKU INI?

SIAPAKAH AKU INI ?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Jumat, 23 September 2016)

OFM Cap./OSCCap. (Klaris Kapusin): Pesta S. Pius dr Pietralcina (Padre Pio) 

SIAPAKAH AKU INI - MAT 16Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah  murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini? Jawab mereka, “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:18-22) 

Bacaan Pertama: Pkh 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-4 

Apabila kita ingin mengikuti jejak Yesus dengan keyakinan yang mantap, maka kita harus mengetahui siapa Dia sebenarnya. Ketika Yesus bertanya: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?”, maka berbagai jawaban yang diberikan para murid-Nya mencerminkan kepercayaan di tengah masyarakat pada waktu itu (Luk 9:18-19). Semua ini adalah jawaban-jawaban yang menyenangkan, namun tidak berurusan dengan kebenaran sentral bahwa Yesus adalah “Mesias dari Allah” yang datang ke dunia untuk menyelamatkan kita – umat manusia. Yesus mengetahui bahwa para murid-Nya akan sampai pada kepercayaan ini dan dengan demikian Ia mengajukan pertanyaan kepada mereka tentang tingkat iman-kepercayaan mereka.

Yesus baru saja berdoa seorang diri. Urut-urutan pertanyaan yang diajukan oleh-Nya menyarankan bahwa orang banyak hanya melihat sebagian gambaran saja dari Yesus. Petrus – sementara berbicara atas nama seluruh murid – adalah orang pertama yang memberikan kemuliaan kepada Yesus yang memang diterima-Nya dengan mendeklarasikan Yesus sebagai “Mesias dari Allah”. Saat itu adalah saat yang penuh sukacita dan kemenangan bagi mereka. Mengapa setelah deklarasi Petrus itu, Yesus langsung saja dan dengan cepat berbicara mengenai penderitaan dan kematian-Nya?

Yesus mengetahui bahwa para murid telah memiliki pemahaman yang benar tentang diri-Nya, namun mereka tidak memahami implikasi sepenuhnya dari apa yang harus dilakukan oleh-Nya. Walaupun pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta akan menolong para murid untuk memahami secara lebih mendalam lagi, Yesus memimpin untuk memahami bahwa penderitaan dan kematian berada di jantung misi-Nya. Tanpa sengsara dan kematian-Nya, Yesus hanyalah seorang Guru yang memberikan contoh yang baik kepada kemanusiaan yang tidak dapat berubah.

Dengan merangkul salib, cengkeraman Iblis atas diri kita dipatahkan oleh Yesus. Tanpa kuasa dan kebebasan yang datang dari pengorbanan itu, kita tidak mampu untuk hidup sepenuhnya bagi Allah. Karena keilahian-Nya, Yesus mampu untuk melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh Yohanes Pembaptis atau Elia, atau nabi-nabi lain, yaitu mengalahkan dosa dan Iblis dan membawa kehidupan baru bagi umat Allah.

C.S. Lewis menulis dalam bukunya, Mere Christianity (II,4): “Kita diberitahukan bahwa Kristus dibunuh untuk kita, bahwa kematian-Nya telah mencuci-bersih dosa-dosa kita, dan oleh kematian-Nya Dia membuat kematian menjadi tak berdaya. Itulah rumusannya. Itulah Kristianitas (Kekristenan). Itulah yang harus dipercayai.” Yesus mengetahui apa yang harus dilakukan-Nya bagi umat-Nya yang sudah hilang dan suka memberontak itu. Tindakan-tindakan Yesus mengandung “biaya” yang lebih besar namun membawa kemuliaan yang lebih besar pula daripada apa yang kita dapat bayangkan. Kita sepatutnya bersukacita, bahwa Yesus telah melakukan begitu banyak bagi kita semua!

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh percaya bahwa Engkau adalah Mesias dari Allah. Kami juga percaya bahwa pembebasan kami dari dosa dan maut hanya dimungkinkan lewat penderitaan dan kematian-Mu di kayu salib. Terima kasih, ya Tuhan dan Allahku. Jagalah kami selalu agar kami sungguh dapat menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “MESIAS DARI ALLAH” (bacaan untuk tanggal 23-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU ???

SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU ???

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Kamis, 22 September 2016)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Ignatius dr Santhi, Imam Biarawan 

antipas-1Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Yohanes telah dibangkitkan dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. (Luk 9:7-9) 

Bacaan Pertama: Pkh 1:2-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6,12-14,17 

“Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” (Luk 9:9).

Herodes mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat baik, walaupun ia telah mengeraskan hatinya terhadap jawaban atas pertanyaan itu. Sekarang, apakah yang kita sendiri ketahui tentang Yesus? Allah mempunyai niat agar kita menjalin suatu hubungan yang akrab dan mempribadi dengan Putera-Nya, bahkan sebelum Ia menciptakan kita-manusia, dan Ia tidak pernah membatalkan niatnya ini. Allah sangat senang dalam menyatakan kasih-Nya, rencana-Nya, keberadaan-Nya kepada mereka yang duduk dalam keheningan di hadapan hadirat-Nya dan mohon kepada-Nya untuk mengajar mereka.

Bagaimana kita dapat merenungkan Allah yang tidak kelihatan? Tanda-tanda ada di sekeliling kita, hanya apabila kita mencoba mencarinya. Misalnya, Santo Paulus menulis: “Sifat-sifat-Nya yang tidak tampak, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak dan dipahami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan” (Rm 1:20). Sang pemazmur juga mendeklarasikan, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm 19:1). Apabila kita menyaksikan pemandangan indah matahari yang sedang terbit atau terbenam, atau memandang bintang-bintang di langit pada malam hari dan banyak lagi hal lain yang menyangkut alam ciptaan, maka semua itu akan banyak menyingkapkan kebaikan dan kasih Allah.

francois_de_salignac_de_la_mothe-fenelonPada abad ke-17 ada seorang imam di Perancis yang bernama P. François Fénelon [1651-1715]. Imam ini mengabdikan dirinya untuk merenungkan kebenaran-kebenaran Allah dan mengajar orang-orang lain bagaimana melakukan hal yang sama. Dia membagi waktunya antara memperhatikan serta merawat orang-orang miskin serta mereka yang menderita sakit-penyakit, dan membesarkan cucu laki-laki dari Raja Ludovikus XIV (Louis XIV) dalam rangka mempersiapkan cucu raja itu menjadi raja pada suatu hari kelak.  Baik ketika dia berada di tengah-tengah orang-orang dalam istana raja maupun ketika dia sedang berada di tengah-tengah para fakir miskin dan wong cilik pada umumnya, P. Fénelon menggunakan pengaruhnya untuk mengajar orang-orang tentang nilai penting untuk memberikan setiap waktu yang tersedia bagi Allah.

Fénelon sangat menyadari adanya tekanan-tekanan atas kehidupan sehari-hari, akan tetapi dia tetap mengajar, “Anda tidak boleh menanti sampai datangnya waktu senggang; ketika anda dapat menutup pintumu dan dan tidak melihat seorang pun ….. langsung arahkan hatimu kepada Allah, dengan sederhana, dengan akrab, dan dengan penuh kepercayaan.” Ia juga mengajar, “Kemana saja Allah akan memimpin anda, di situ engkau akan menemukan-Nya, dalam urusan yang paling mengganggu seperti juga dalam doa yang paling hening.” Sebagaimana Fénelon, kita juga dapat belajar bagaimana menyaring berbagai distraksi/pelanturan yang datang “mengganggu” kita setiap hari, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah yang menyelidik tentang Diri-Nya. Dan seperti Fénelon, kita juga dapat menemukan kuasa yang mengubah-kehidupan dengan mengenal Yesus semakin dalam dan dalam lagi dari hari ke hari.

DOA: Bapa surgawi, seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allahku. Curahkanlah rahmat dan kasih-Mu kepadaku. Tanpa Engkau diriku hampa belaka. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:7-9), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG TIDAK PERNAH DAPAT MEMBENDUNG PEWARTAAN KABAR BAIK” (bacaan tanggal 22-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 20 September 2016 [Peringatan S. Andreas Kim Tae-gon, Imam dan Paulus Chong Ha-san dkk. – para martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG SAMPAH MASYARAKAT YANG DIPILIH OLEH YESUS GUNA MENJADI PEWARTA DAN PENULIS INJIL YANG HEBAT

SEORANG SAMPAH MASYARAKAT YANG DIPILIH OLEH YESUS GUNA MENJADI PEWARTA DAN PENULIS INJIL YANG HEBAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul Penginjil – Rabu, 21 September 2016) 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUS - 1Sebab itu, aku, orang yang dipendjarakan karena Tuhan, menasihatkan kamu, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lembah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua. Tetapi kepada kita masing-masing  telah diberikan  anugerah menurut ukuran pemberian Kristus. 

Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. (Ef 4:1-7,11-13) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5; Bacaan Injil: Mat 9:9-13

Lewi atau Matius kelihatannya bukanlah seorang kandidat yang cocok untuk memenuhi panggilan Yesus sebagai seorang murid-Nya. Matius adalah seorang pemungut cukai dan kolaborator dengan penguasa Romawi, penjajah dan penindas bangsa Yahudi, karenanya dia dipandang hina, dibenci dan dikutuk oleh bangsanya sendiri serta diperlakukan sebagai seorang pendosa dan “sampah masyarakat”. Namun demikian, Yesus tokh mengundang pendosa ini guna mengikuti jejak-Nya dan kemudian memberi amanat kepadanya untuk  menyebar-luaskan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia. Matius merasa sangat berterima kasih penuh syukur karena Yesus menunjukkan kasih-Nya dan penerimaan-Nya terhadap dirinya. Oleh karena itu Matius secara all-out dan penuh entusiasme mempersembahkan seluruh hidupnya guna memenuhi panggilan Yesus terhadap dirinya.

Di bagian terakhir Injil Matius kita membaca Yesus memberi amanat agung (great commission) kepada para murid-Nya: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:18-20). Matius menaruh kepercayaan besar pada kata-kata Yesus ini. Dia memahami bahwa sementara dirinya belum sempurna, Yesus memiliki kuat-kuasa untuk bekerja melalui dirinya. Seperti kita ketahui, dengan berjalannya waktu, great commission dari Yesus ini berubah menjadi great omission, artinya suatu “kelalaian besar” dari sebagian besar umat Kristiani yang lupa akan tugas utama mereka untuk mewartakan Injil Tuhan Yesus Kristus.

GEMBALA YANG BAIK - 15Matius bukanlah sekadar seorang pendosa biasa-biasa saja, namun seorang pendosa yang dikenal umum dan dipandang hina dalam masyarakat. Barangkali Matius pernah berpikir, bahwa kalau begitu halnya, maka siapa yang akan mendengarkan pewartaan Injil olehnya? Tentu saja Matius menyadari akan hal itu. Oleh karena itu, ketika dia menerima panggilan Yesus, Matius menyadari bahwa dia harus menggantungkan seluruh hidupnya kepada Yesus. Walaupun kemampuan dan keterampilan yang dimiliki Matius adalah di bidang pemungutan cukai/pajak, dia menerima secara tanpa syarat rencana Allah bagi hidupnya. Matius meninggalkan ide-idenya sendiri tentang profesi dan mengabdikan sisa hidupnya dengan mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus. Kepadanya telah diberikan panggilan yang khusus dan ia melakukannya seturut apa yang diperintahkan Allah.

Dalam bacaan hari ini, Paulus menjelaskan bagaimana kita masing-masing – seperti juga Matius – dipanggil oleh Allah untuk suatu tugas khusus. Paulus memahami bahwa pengabdian yang lengkap-total kepada Yesus itu diperlukan. Untuk itu dia menasihati para pembaca suratnya, “supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (Ef 4:1)

Saudari dan Saudara, marilah sekarang kita berpaling kepada Yesus dan memperkenankan-Nya menunjukkan kepada kita misi kita yang khas – walaupun misi tersebut kelihatan sama di mata kita sendiri kalau di bandingkan dengan misi kepada orang lain, atau melampaui kemampuan manusiawi kita. Dalam iman, marilah kita mengikuti contoh yang diberikan oleh Matius – selagi kita dengan rendah hati memandang Yesus dalam iman.

DOA: Tuhan Yesus, aku menerima panggilan-Mu dengan “rendah hati, lemah lembut, dan sabar” (Ef 4:2). Tunjukkanlah kepadaku peran yang harus kujalankan dalam membangun Kerajaan-Mu. Kuatkanlah diriku dengan kehadiran-Mu. Berdayakanlah aku agar dapat memproklamasikan kebenaran-Mu seperti yang telah dilakukan oleh Santo Matius”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI” (bacaan tanggal 21-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 September 2016 [Peringatan S. Andreas Kim Tae-gon, Imam dan Paulus Chong Ha-sang dkk., para martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN MELAKUKANNYA

MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN MELAKUKANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Ha-sang dkk. para Martir Korea – Selasa, 20 September 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya, “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21)  

Bacaan Pertama: Ams 21:1-6,10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1,27,30,34-35,44

Apakah kiranya yang sampai menyebabkan Ibu dan sanak saudara Yesus lainnya datang untuk bertemu dengan Dia? Injil Markus memberi petunjuk, yaitu ketika dalam perikop “Yesus dituduh kerasukan Beelzebul” (Mrk 3:20-30), keluarga-Nya datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka  “Ia tidak waras lagi” (Mrk 3:21). Sekarang, agar supaya kita dapat memahami dengan lebih jernih apa yang kiranya ada dalam pikiran sanak saudara-Nya, marilah kita membayangkan diri kita sendiri sebagai salah seorang saudara sepupu Yesus. Kita telah melihat terjadinya suatu perubahan signifikan dalam hidup Yesus beberapa tahun terakhir kehidupan-Nya. Ketika Yesus berusia 30 tahun, Ia menerima pembaptisan tobat dari Yohanes di Sungai Yordan (Luk 3:21-22) dan setelah itu menjalani puasa selama 40 hari berturut-turut di padang gurun, dan di sana Dia digoda oleh Iblis sendiri (Luk 4:1-13).

Kemudian, dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea dan mengajar di sinagoga-sinagoga di sana (Luk 4:14-15). Ia mulai mengumpulkan 12 orang murid di sekeliling-Nya yang dinamakan para rasul (Luk 6:12-16).  Sementara itu Yesus berkeliling mengusir roh-roh jahat, mengajar dengan penuh wibawa dan kuasa, menyembuhkan orang-orang sakit dan mengatakan kepada orang-orang bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni, bahkan membangkitkan anak muda di Nain (Luk 7:11-17). Ia banyak “membuang” waktu dengan para pendosa dan pemungut cukai (lihat Luk 7:36-50). Banyak orang mengikuti Dia. Orang-orang sakit berdesak-desakan untuk mendekati Dia. Dan, orang-orang yang dirasuki roh jahat berteriak dan sujud menyembah Dia. Kerap terjadi, saking sibuknya Dia sampai tak mempunyai waktu untuk makan.

Dari sini kita dapat sedikit memahami mengapa sanak keluarga Yesus menjadi prihatin perihal kesejahteraan jiwa-Nya dan dengan demikian berusaha untuk mengambil Dia dan membawa-Nya pulang. Bagaimana pun juga, mereka tidak tahu secara penuh siapa Yesus ini dan misi apa yang diemban-Nya. Bahkan Maria sendiri, betapa pun kudus dirinya, harus mengalami proses pertumbuhan dalam pemahamannya tentang diri Yesus (lihat Luk 2:19,51).

Pada waktu orang-orang memberitahukan kepada Yesus bahwa ibu-Nya dan sanak saudara-Nya yang lain datang untuk menemui-Nya, Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21). Apa yang terdengar sebagai kata-kata penyangkalan, sesungguhnya adalah sebuah undangan kepada siapa saja untuk menjadi bagian dari keluarga Yesus – untuk menjadi sedekat mungkin dengan-Nya, seperti ibu-Nya dekat dengan diri-Nya. Betapa membahagiakan hati  untuk mengetahui bahwa kita semua dapat bertumbuh semakin mendalam dalam pemahaman kita akan Yesus dan dalam kemampuan kita untuk mentaati sabda-Nya. Ini adalah alasan utama mengapa Yesus telah memberikan kepada kita Roh-Nya – yakni untuk mengajar kita dan memberdayakan kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepada kami iman yang hidup dalam Putera-Mu Yesus Kristus. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah iman-kepercayaan kami menjadi lebih mendalam lagi. Ajarlah kami agar lebih banyak lagi mengenal Yesus sehingga kami dapat mengasihi-Nya dengan lebih mendalam lagi. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:19-21), bacalah tulisan yang berjudul “PENDENGAR DAN PELAKU FIRMAN ALLAH” (bacaan tanggal 20-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dengan judul sama dari tulisan untuk bacaan tanggal 22-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 September 2016 [Peringatan S. Fransiskus Maria dari Comporosso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS