HAMBA YANG SETIA DAN BIJAKSANA

HAMBA YANG SETIA DAN BIJAKSANA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Kamis, 25 Agustus 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Ludovikus IX [1214-1270], Raja – Orang Kudus Pelindung OFS 

KESIAPSIAGAAN - LUK 12 35-40“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

“Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 24:42-51) 

Bacaan Pertama: 1Kor 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-7

Kata dalam bahasa Yunani untuk hamba/pelayan adalah doulos. Seorang doulos dalam zaman Yesus lebih merupakan hamba (dalam arti budak belian) daripada seorang pelayan yang dibayar. Kata doulos ini mengandung arti adanya kepemilikan total di pihak sang tuan, dan hal ini menuntut ketaatan total terhadap kehendak sang tuan. Pelayanan seorang hamba bersifat tak bersyarat dan pengabdiannya kepada sang tuan sudah merupakan suatu asumsi. Dengan menggunakan kata doulos ini, Injil menggambarkan pelayanan seturut panggilan Allah kepada kita. Dalam segala keadaan –  dalam paroki-paroki, dalam hubungan kita di tempat kerja, dalam keluarga-keluarga kita atau kelompok-kelompok lainnya – Allah menginginkan kita untuk mengkontribusikan waktu, energi, dan pengetahuan kita secara tanpa pamrih. Allah memanggil kita untuk melayani tanpa mengeluh dan tanpa reserve, dengan penuh kasih, memandang lebih jauh daripada kenyamanan kita sendiri, kepada kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain dan keprihatinan-keprihatinan Gereja. Yesus bersabda: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya” (Luk 12:48). 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETKita telah dibaptis ke dalam kekayaan Kristus, ke dalam warisan yang berlimpah, tetapi yang tidak  hanya dimaksudkan untuk keamanan dan kenyamanan kita sendiri. Yesus telah memberikan segalanya kepada kita sehingga kita dapat mensyeringkan dengan orang-orang lain apa yang kita telah terima itu. Kita dapat saja berpikir bahwa terlalu banyak yang dituntut dari diri kita, namun di sinilah Yesus secara total mentransformasikan konsep pelayanan. Ia memanggil orang-orang untuk memberikan diri mereka sendiri kepada-Nya tanpa syarat, untuk menjadi milik-Nya sebagai umat dan pelayan-pelayan-Nya, hidup guna memenuhi hasrat sang Tuan (Yunani: Kyrios).

Namun demikian, pelayanan kepada Kristus tidak bersifat sepihak. Selagi kita memberikan diri kita kepada-Nya, dengan murah-hati Yesus memberikan kepada kita suatu pengetahuan tentang cintakasih dan penyelamatan-Nya. Tuhan Yesus tidak memaksa agar kita bekerja sampai setengah mati karena kelelahan. Yang diminta oleh-Nya adalah agar kita menguduskan hidup kita, seperti yang telah dilakukan-Nya. Dia telah menjanjikan kepada kita, bahwa apabila kita menolak cara-cara kita yang mementingkan diri-sendiri dan kemudian memikul kuk/gandar pelayanan-Nya, maka kita akan mengalami suatu kepenuhan hidup dan damai-sejahtera yang tidak akan pernah kita capai dengan kekuatan sendiri.

DOA:  Tuhan Yesus, perkenankanlah Roh Kudus-Mu membentuk kami menjadi pelayan-pelayan-Mu yang sejati seturut kehendak-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 24:42-51), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMINTA AGAR KITA TERUS BERJAGA-JAGA” (bacaan tanggal 25-8-16), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

Cilandak, 23 Agustus 2016 [Peringatan B. Berardus dari Offida, Biarawan Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPERTI NATANAEL, MARILAH KITA BERBALIK KEPADA YESUS

SEPERTI NATANAEL, MARILAH KITA BERBALIK KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Bartolomeus, Rasul – Rabu, 24 Agustus 2016) 

FILIPUS MENGAJAK NATANIEL UNTUK BERTEMU DENGAN YESUSFilipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”  Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”  Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata  Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”  Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia”  (Yoh 1:45-51) 

Bacaan Pertama: Why 21:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18  

Sedikit sekali yang diketahui tentang rasul Bartolomeus. Pada umumnya para pakar setuju dan percaya bahwa Bartolomeus adalah Natanael dalam Injil Yohanes. Tradisi-tradisi dan legenda-legenda populer menceritakan bahwa Natanael mewartakan Injil di sejumlah negeri yang paling keras menentang penyebaran agama Kristiani di Timur, seperti India, Etiopia dan Persia – dan pada akhirnya Armenia di mana rasul ini mati sebagai martir Kristus. Apakah yang membuat Natanael tetap tegar dalam menghadapi berbagai pengejaran, penganiayaan dlsb. selagi melayani Tuhan dan Gurunya?

Bagi Natanael dan sebagian besar orang-orang Yahudi yang hidup di abad pertama, gelar “Anak Allah” tidak sama dengan apa yang kita pahami pada hari ini. Bagi mereka, “Anak Allah” berarti seseorang yang diurapi atau yang dipilih, orang yang sungguh istimewa di antara umat Israel. Pengakuan Natanael yang spontan itu memang hebat (Yoh 1:50), namun seperti Yesus sendiri berjanji, itu hanyalah awal. Ia akan melihat “langit terbuka  dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia” (Yoh 1:51).

Pada kayu salib Yesus membuka “pintu air” surga dan dengan demikian membuat mungkin adanya suatu persekutuan hidup antara surga dan bumi. Apa yang diproklamasikan oleh Natanael karena rasa hormat/respek kepada Yesus menjadi suatu pernyataan iman yang didasarkan pada perwahyuan Roh Kudus – perwahyuan yang mendesaknya untuk memberikan keseluruhan hidupnya bagi Tuhan.

Kabar baiknya adalah bahwa janji Yesus untuk membuka pintu surga adalah untuk semua orang – seperti Natanael – yang berbalik kepada-Nya. Ketika surga terbuka dan kita menerima perwahyuan dari Roh Kudus, maka kita “melihat” kemuliaan dan keagungan Yesus dalam hati kita. Kita berlutut dan bersembah sujud dan menyerahkan hidup kita kepada aturan-aturan-Nya dan pemerintahan-Nya. Selagi rahmat-Nya dan belas kasih-Nya memenuhi hati kita, kita dibebaskan dari upaya keras untuk hidup berdasarkan peraturan hidup yang kita susun sendiri. Dengan berdiam-Nya Roh Kudus dalam diri kita, maka kita menjadi diberdayakan guna menjalani hidup Kristiani kita yang dimotivasikan oleh kasih dan diisi dengan kasih.

Namun, janganlah kita memakai waktu kita sepanjang hari sekadar untuk mencari pengetahuan intelektual tentang Yesus. Marilah kita memuat resolusi untuk memakai waktu dengan Dia dalam keheningan dan meminta kepada-Nya agar membuka surga bagi kita. Allah sungguh memiliki begitu banyak hal bagi orang-orang yang sungguh berharap kepada-Nya. Selagi Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita, hati kita akan terbakar dengan kasih kepada-Nya dan kita pun akan memiliki suatu hasrat mendalam untuk membawa orang-orang lain kepada-Nya.

DOA: Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah semesta langit. Kasih-Mu yang penuh gairah menyentuh semua orang yang menyerukan nama-Mu dari dalam hati. Engkau adalah kemuliaan dari kekuatan kami. Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih-setia-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:45-51), bacalah tulisan berjudul “AKAN MELIHAT HAL-HAL YANG LEBIH BESAR” (bacaan tanggal 24-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Agustus 2016 [Peringatan SP Maria, Ratu] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERSIH DI DALAM

BERSIH DI DALAM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Selasa, 23 Agustus 2016)

YESUS - SANG GURUCelakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.

Celakalah kamu, hai ahli-hali Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (Mat 23:23-26) 

Bacaan Pertama: 2Tes 2:1-3a,13b-17; Mazmur Tanggapan: 96:10-13

Bacaan Injil hari ini memuat dua cercaan Yesus terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sehubungan dengan kemunafikan mereka. Pertama-tama Yesus menyerang ajaran para tokoh/pemuka agama Yahudi ini: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (Mat 23:23). Hal-hal yang kecil-kecil diikuti dengan teliti dan ketat, sementara hal-hal yang yang lebih penting seperti keadilan dan belas kasih diabaikan! Yesus lalu menambahkan sebuah contoh yang memang terdengar keras: “Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” (Mat 23:24).

LEGALISME dapat menyesatkan dan menjerumuskan orang ke dalam detil-detil kecil sehingga orang lupa menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang paling penting: pertanyaan-pertanyaan tentang kewajaran, keadilan, kesopanan, kasih. Tidak ada hukum apa pun harus membuat kita bersikap dan berperilaku tidak adil atau melawan keadilan.

Cercaan kedua adalah sehubungan dengan tindakan pembersihan dan pembasuhan seremonial secara tradisional seturut tradisi dan hukum Yahudi. Yesus tidak menyalahkan tindakan-tindakan seremonial ini. Yang dicerca-Nya adalah ekstrimisme dengan mana mereka kadang-kadang mentaati hal tersebut tanpa banyak acuan terhadap makna dan simbolisme semua itu. Cawan, pinggan, ini adalah metafora dari pribadi orangnya. Cercaan keras Yesus ditujukan kepada sikap dan perilaku yang lebih mementingkan “kebenaran-tepat” (Inggris: correctness) yang bersifat eksternal tanpa banyak memikirkan disposisi batiniah yang mau dilambangkan dan diwujudkannya.

Yesus bersabda: “…, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih” (Mat 23:26). Tentunya, yang dimaksudkan oleh Yesus, adalah bahwa bila disposisi batiniah kita baik, utuh, sungguh Kristiani dan berorientasi pada Injil Yesus Kristus, maka bagian luar kita yang kelihatan oleh orang lain, hidup kita, tindakan-tindakan kita, kontak-kontak kita dengan sesama kita juga akan sungguh Kristiani.

Tidak ada banyak gunanya kita baik secara lahiriah, sopan, “beradab”, kalau segalanya yang batiniah tidak sungguh-sungguh menjadi asal-usul dan dasar dari tindakan-tindakan kita. Kalau tidak demikian halnya, maka semuanya adalah kemunafikan, dan kita tidak lebih baik daripada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Jujur terhadap diri sendiri tidak hanya merupakan good mental health, melainkan juga menandakan bahwa kita adalah orang Kristiani dalam artian sebenarnya.

DOA: Tuhan Yesus, pandanglah hati kami sedalam-dalamnya. Engkau mengetahui rancangan-Mu atas diri kami masing-masing. Bersihkanlah kami dari segalanya yang bukan berasal dari-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA ALLAH-LAH YANG DAPAT MEMBERSIHKAN HATI KITA” (bacaan tanggal 23-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Agustus 2016 [HARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SERUAN-SERUAN CELAKA DARI YESUS

SERUAN-SERUAN CELAKA DARI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu – Senin, 22 Agustus 2016)

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASCelakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, untuk membuat satu orang saja menjadi penganut agamamu  dan sesudah hal itu terjadi, kamu menjadikan dia calon penghuni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, manakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, manakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu, siapa saja yang bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Siapa saja yang bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang tinggal di situ. Siapa saja yang bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya. (Mat 23:13-22)

Bacaan Pertama: 2Tes 1:1-5. 11b-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-5 

Mengapa Yesus memilih untuk “mengutuk” para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang nota bene adalah para pemimpin agama pada zamannya? Walaupun pada umumnya mereka dipandang memiliki kuasa, tanpa tedeng aling-aling Yesus melontarkan kritik-kritik-Nya terhadap praktek keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu. Kepedihan-Nya melihat peri kehidupan para pemuka agama tersebut, menggerakkan hati-Nya untuk menyerukan kata-kata “celaka” yang kita baca dalam Injil hari ini. Dalam seruan-Nya, Yesus dengan jelas memperingatkan mereka tentang konsekuensi-konsekuensi negatif dari perilaku mereka. Yesus melihat bagaimana orang-orang “suci” itu menggunakan agama sebagai sekadar tameng atau topeng, artinya demi pencapaian tujuan-tujuan mereka sendiri, meninggikan diri mereka sendiri dan sebenarnya menolak agama yang benar. Yesus juga terpaksa mengkonfrontir dosa-dosa mereka – yang jika tidak dijaga – akan berakibat dalam kematian spiritual.

Dalam dua seruan “celaka”-Nya, Yesus menuduh para ahli Kitab dan orang-orang Farisi sebagai menghalang-halangi orang-orang untuk sungguh dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mat 23:13,15). Mereka tidak hanya memilih untuk tidak masuk, melainkan juga menghalangi orang-orang lain dengan penolakan mereka terhadap Kristus. Yesus juga menunjuk kemunafikan mereka pada waktu mengklaim memimpin orang-orang kepada Allah, namun gagal untuk mendorong agar tercapai kekudusan. Sebaliknya mereka datang dengan ide-ide mereka  sendiri yang sudah tidak lurus lagi, sehingga membuat kondisi spiritual orang-orang lain menjadi lebih buruk lagi.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSPada akhirnya, Yesus menamakan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu sebagai “orang-orang buta yang menuntun orang-orang buta”, karena mereka melarang orang-orang bersumpah demi benda-benda suci namun menyetujui sumpah-sumpah yang diucapkan demi hal-hal yang kurang penting (Mat 23:16). Mereka menjadi buta terhadap nilai sejati dari kehadiran Allah di antara mereka. Seruan “celaka” ini menggemakan pernyataan Yesus dalam “Khotbah di Bukit” yang melarang sumpah dan mendorong para pengikut-Nya untuk hidup jujur dan murni (Mat 5:33-37).

Seruan-seruan “celaka” Yesus ini kiranya mengikuti contoh yang terdapat dalam Kitab Yesaya (Yes 5:8-22), yang menyatakan kehancuran dari orang-orang – yang melalui ketamakan dan ketidakbenaran – mendistorsikan keadilan dan kebenaran yang sejati. Dalam Injil, Yesus menggambarkan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sebagai orang-orang yang menggunakan agama untuk memperoleh kekuasaan dan telah menukarkan kebenaran Allah dengan sekadar ide-ide manusia tentang agama. Matius menggunakan bacaan Injil kita hari ini untuk memperingatkan komunitas Kristiani awal akan kecenderungan-kecenderungan serupa di antara mereka. Kita juga dapat mengambil kata-kata keras Yesus ini sebagai suatu peringatan dalam situasi-situasi yang kita hadapi. Marilah sekarang kita bertanya kepada Roh Kudus, Roh Kebenaran, untuk menunjukkan kepada kita bagaimana kita sendiri telah mendistorsi Injil demi memenuhi kebutuhan/kepentingan kita sendiri.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mata kami agar dapat melihat bagaimana kami telah menggunakan agama demi kepentingan kami sendiri. Ampunilah kami karena upaya kami – sadar maupun tak sadar – untuk mengendalikan sabda Allah, dan bukannya memperkenankan sabda Allah itu merobek hati kami dan membawa kami kepada kekudusan, sehingga dapat semakin dekat lagi dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:13-22), bacalah tulisan yang berjudul “DITUJUKAN KEPADA PARA AHLI TAURAT DAN ORANG FARISI (bacaan tanggal 22-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Agustus 2016  [Peringatan S. Ludovikus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIAPAKAH YANG DISELAMATKAN?

SIAPAKAH YANG DISELAMATKAN?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXI [Tahun C] – 21 Agustus 2016) 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL PARA MURIDNYAKemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lalu ada seseorang yang berkata kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata, ‘Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!’ dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu, ‘Aku tidak tahu dari mana kamu datang.’ Lalu kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau  telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi, ketika kamu melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di  dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir. (Luk 13:22-30) 

Bacaan Pertama: Yes 66:18-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Kedua: Ibr 12:5-7,11-13 

“Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” (Luk 13:23).

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar. Pertanyaan di atas diajukan kepada Yesus ketika Dia mengajar di salah satu tempat. Pertanyaan ini pun merupakan sebuah pertanyaan yang kita masing-masing sudah tanyakan lebih dari satu kali selagi kita merenungkan iman kita dari waktu ke waktu selama hidup kita. Memang Yesus tidak mengatakan bahwa hanya sedikit orang yang akan diselamatkan, Ia mengatakan: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Luk 13:24).

stdas0730Kata-kata Yesus ini memang sederhana dan seadanya: Banyak orang akan mengharapkan untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, namun mereka akan ditolak. Seseorang dapat saja bertanya: “Siapa orang-orang ini yang makan dan minum dalam kehadiran-Nya dan mendengar ajaran-Nya, namun tidak mengenal diri-Nya? Apakah aku salah seorang dari mereka?” Ketika kita berdiri di hadapan Tuhan, Ia hanya ingin mengetahui satu hal saja: Dari mana kita datang? Pandangan-Nya  akan masuk ke dalam hati kita untuk melihat apakah kita telah sampai ke pintu gerbang surga melalui perjalanan iman yang ditandai dengan kerendahan-hati (kedinaan), kasih dan ketaatan kepada-Nya; ataukah kita datang melalui suatu perjalanan yang ditandai oleh determinasi-diri sendiri, kedinginan hati dan kesombongan?

Kita tahu hati kita adalah milik Yesus apabila kita mau berjalan bersama dengan-Nya sepanjang jalan-salib-Nya menuju bukit Kalvari. “Pintu yang sempit” adalah kemauan kita untuk merangkul salib-Nya selagi Dia menyentuh hidup kita. Mengapa? Karena salib (dan termasuk di dalamnya: “mati terhadap diri sendiri”) adalah satu-satunya akses kepada Bapa surgawi. Yesus mengetahui bahwa jalan satu-satunya yang memungkinkan kita menghindari penghakiman karena dosa-dosa kita adalah dengan cara setiap hari memperkenankan Dia untuk mematikan dorongan-dorongan kedosaan di dalam diri kita. Inilah sebenarnya tujuan pembaptisan dan suatu iman yang hidup dalam Yesus.

Pintunya dapat saja sempit, namun pintu itu terbuka bagi semua orang. Panggilan kita agung, namun segala apa yang disediakan oleh Allah jauh lebih agung. Karena kasih Allah bagi kita, kita dapat melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan secara manusiawi: Kita dapat masuk melalui pintu yang sempit itu. Allah menginginkan kita semua untuk menerima keselamatan dan masuk ke dalam rumah kita yang sejati. Pintunya senantiasa terbuka.

DOA: Allah yang kudus, aku menyembah Engkau. Engkau adalah Hakim yang adil dan Bapa yang sangat mengasihi anak-anak-Mu. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena oleh kuasa Roh Kudus-Mu Engkau telah membimbing diriku untuk masuk ke dalam surga melalui pintu yang sempit dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “BANYAK ORANG YANG BERUSAHA AKAN MASUK, TETAPI TIDAK AKAN DAPAT” (bacaan tanggal 21-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 SANG SABDA AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-8-13] 

Cilandak, 19 Agustus 2016 [Peringatan S. Ludovikus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ANTI KEKERASAN

YESUS ANTI KEMUNAFIKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bernardus, Abas, Pujangga Gereja – Sabtu, 20 Agustus 2016) 

jesus_christ_picture_013Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Yeh 43:1-7a; Mazmur Tangggapan: Mzm 85:9-14

Kalau kita merenungkan sejenak bacaan Injil hari ini, terasa ada rasa jengkel, mendongkol dan marah yang terkandung dalam kata-kata yang diucapkan Yesus tentang para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Orang-orang itu memegang posisi terpandang dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihormati, namun mereka tidak lebih daripada segerombolan orang-orang munafik.

Lain halnya dengan Yesus, kemunafikan tidak  ada dalam kamus-Nya!  Ia memperlakukan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini secara berbeda, apabila dibandingkan dengan orang banyak. Yesus melihat tindakan-tindakan dan opini-opini mereka, bukan sekadar posisi mereka dalam masyarakat. Kita – manusia kebanyakan – sering tergoda untuk menilai bagian luar saja dari diri seseorang, tetapi Yesus melihat bagian dalamnya. Yesus tidak mempunyai masalah dengan fungsi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dia bahkan mengajar orang banyak dan murid-murid-Nya untuk mentaati apa yang diajarkan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu. Ucapan Yesus tidak mengagetkan orang banyak yang mendengarkan pengajaran-Nya karena para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu memang sangat dihormati dalam masyarakat Yahudi. Mereka dikenal untuk pengetahuan mereka dan dalam hal menepati Hukum Musa (Taurat). Yesus sendiri tidak datang ke dunia untuk meniadakan hukum Taurat. Dalam ‘Khotbah di Bukit’, Ia mengatakan,  “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17). Santo Paulus bahkan menulis: “Kristus adalah tujuan akhir hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya” (Rm 10:4).

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSYang diserang oleh Yesus bukanlah posisi terhormat para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, bukan juga pengaruh mereka. Ia tidak menyerang para ahli Taurat untuk pengetahuan mereka tentang tradisi, melainkan cara mereka memelintir semua itu untuk keuntungan mereka sendiri dan membangun kesan betapa pentingnya mereka. Yesus juga tidak menyalahkan orang-orang Farisi untuk semangat mereka sehubungan dengan hal-ikwal Allah, melainkan karena fokus mereka terlalu banyak pada hal-hal kecil yang harus ditaati, sehingga tidak cukup banyak perhatian pada Allah dan perintah-Nya untuk mengasihi. Baik para ahli Taurat maupun orang-orang Farisi berada dalam posisi di mana mereka dapat memberikan pelayanan bagi bangsa Yahudi. Mereka sesungguhnya dapat mengabdikan diri mereka untuk mendorong atau menyemangati bangsa Yahudi dalam hal doa, saling mengasihi dan merangkul belas kasihan Allah. Sayangnya semua ini menjadi kabur sebagai akibat dari kesombongan, egoisme dan cinta kehormatan (gila hormat) mereka sendiri.

Seperti para rasul, kita juga harus menaruh perhatian pada panggilan Yesus agar menjadi rendah hati dan melayani sesama kita. Kadang-kadang garis pemisah antara kekudusan dan sikap serta perilaku yang mementingkan diri sendiri dapat menjadi sedemikian tipis. Oleh karena itu, baiklah kita menyadari bahwa semakin dekat kita dengan Yesus, semakin banyak pula kita mendengar suara-Nya, yang mendorong dan menyemangati kita, ajaran-ajaran-Nya, dan bahkan mengoreksi diri kita apabila diperlukan.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku menjaga hatiku agar terbuka bagi cara-cara Engkau bekerja di dalam dunia sekarang. Semoga aku tidak terlalu terpaku pada tradisi-tradisi, sehingga luput melihat Engkau dan hati-Mu yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini bacalah juga tulisan yang berjudul “KERENDAHAN HATILAH YANG DIINGINKAN YESUS DARI KITA” (bacaan tanggal 20-8-16)  dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 17 Agustus [HARI RAYA KEMERDEKAAN R.I. KE-71] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HUKUM KASIH

HUKUM KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Jumat, 19 Agustus 2016)

Keluarga Fransiskan Konventual: Peringatan S. Ludovikus, Uskup

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Yeh 37:1-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 107:2-9

Seorang Farisi yang ahli hukum bertanya untuk mencobai Yesus lewat suatu diskusi mengenai perintah Allah mana yang harus dinilai sebagai hukum yang terutama. Dari 613 perintah-perintah yang ada, yang manakah yang harus paling ditaati? Ini adalah suatu isu yang memang sering diperdebatkan di kalangan para rabi pada masa itu. Tantangan dari orang Farisi itu dijawab oleh Yesus dengan memberikan “ringkasan agung” dari segala ajaran-Nya. Sebenarnya jawaban yang diberikan oleh Yesus itu tidak diformulasikan oleh-Nya sendiri. Bagian pertama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37) diambil dari Kitab Ulangan (Ul 6:5); sedangkan bagian kedua: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39) diambil dari Kitab Imamat (Im 19:18). Banyak rabi juga mengakui bahwa kedua ayat ini merupakan jantung atau hakekat dari hukum Taurat.

Seperti kita akan lihat selanjutnya, keunikan ajaran Yesus dalam hal ini adalah penekanan yang diberikan oleh-Nya pada “hukum kasih” dan kenyataan bahwa Dia membuatnya menjadi prinsip dasar dari tafsir-Nya atas keseluruhan Kitab Suci: “Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40).

Mengasihi Allah dengan segenap energi yang kita miliki dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri! Hampir dipastikan hanya sedikit saja orang yang akan memperdebatkan keindahan dari “cita-cita” ini. Namun menghayatinya seperti yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri dalam kehidupan-Nya sebagai sang Rabi dari Nazaret, sungguh membutuhkan komitmen yang pantang mundur dan kemurahan hati tanpa batas. Kita bertanya kepada diri sendiri: “Dapatkah aku mempraktekkan kasih seperti itu?”

Salah satu cara terbaik bagi kita untuk memenuhi perintah-perintah Allah ini adalah untuk menawarkan kepada sesama kita anugerah yang sama yang telah mengubah hati kita, yaitu INJIL TUHAN YESUS KRISTUS! Kita mengasihi sesama kita dengan menunjukkan kepada mereka jalan menuju keselamatan dalam Yesus, dan kita mengasihi Allah dengan berjuang terus untuk memanisfestasikan kebaikan-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita.

Syering Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus adalah keharusan bagi kita semua, namun tidaklah semudah itu melaksanakannya, apalagi kalau kita bukan merupakan pribadi yang outgoing, yang mudah bersosialisasi. Kita juga bisa dilanda rasa waswas atau khawatir bahwa orang-orang akan menuduh kita sebagai orang Kristiani yang “ekstrim” (Saya tidak memakai kata “radikal” atau “fanatik”, karena kedua kata ini pada dasarnya  baik menurut pandangan pribadi saya). Akan tetapi, apabila kita memohon Roh Kudus untuk memimpin kita, maka evangelisasi adalah satu dari pengalaman paling indah yang dapat kita miliki, dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Pada kenyataannya, aspek evangelisasi yang paling penting terjadi sebelum kita mengucapkan satu patah kata sekali pun kepada siapa saja. Hal ini dimulai pada waktu kita menyediakan waktu dengan Tuhan Allah dalam keheningan, dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kehendak-Nya: suatu proses discernment. Misalnya, kita dapat berdoa agar Tuhan Allah menerangi kegelapan hati kita dan menganugerahkan kepada kita iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna; juga kita mohon agar kita diberikan perasaan yang peka dan akal budi yang cerah, sehingga kita senantiasa dapat mengenali dan melaksanakan perintah-perintah atau kehendak Allah yang kudus dan tidak menyesatkan.

ROHHULKUDUSDalam suasana doa inilah Allah dapat menolong kita menunjukkan siapa saja di antara anggota keluarga kita atau para teman dan sahabat kita yang terbuka bagi pemberitaan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. Kita juga tidak boleh lupa untuk berdoa agar orang-orang kepada siapa kita diutus menerima sentuhan Roh Kudus yang akan membuka hati mereka bagi Injil, bahkan sebelum bibir kita mengucapkan kata yang pertama. Kemudian, selagi kita mulai melakukan evangelisasi, kita akan menemukan orang-orang yang memberikan kesaksian mengenai  pengalaman-pengalaman mereka tentang kasih Allah yang kita sendiri sedang wartakan kepada mereka. Allah senang menyiapkan hati orang-orang secara demikian. Lalu, agar kita dapat menjadi instrumen-instrumen penyebaran Injil yang baik dan efektif, sangatlah penting bagi kita untuk mengabdikan diri dalam doa-doa syafaat bagi orang-orang lain. Seorang pewarta Injil atau pelayan sabda yang tidak akrab dengan doa merupakan fenomena yang boleh dipertanyakan.

Selagi kita melakukan penginjilan – memberikan kesaksian tentang kasih Kristus kepada orang-orang lain – kita harus senantiasa menyadari bahwa cintakasih itu senantiasa mengatasi dosa. Dengan demikian janganlah sampai kita hanya berbicara kepada mereka yang kita Injili. Yang juga sangat penting adalah bahwa kita pun harus mengasihi orang-orang itu. Kita harus memperhatikan dan menunjukkan bela rasa kepada mereka. Kita memberikan saran-saran mengenai tindakan-tindakan yang perlu mereka lakukan. Dengan sukarela marilah kita menawarkan bantuan kepada  mereka, dan hal ini bukan selalu berarti bantuan keuangan. Lebih pentinglah bagi kita untuk memperkenankan Yesus mengasihi orang-orang lain melalui diri kita daripada menjelaskan Injil secara intelektual kepada mereka, meskipun hal sedemikian penting juga. Selagi kita memperkenalkan dan menawarkan kasih Yesus lewat kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan, kita harus menyadari bahwa kita mensyeringkan anugerah Allah yang terbesar bagi manusia: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri! Dengan demikian, kita pun akan mengasihi sesama kita dengan kasih Kristus sendiri!

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudah memakai diriku untuk membawa orang-orang lain ke dalam kasih perjanjian-Mu. Tolonglah aku agar mampu mengenali privilese yang besar ini selagi Engkau membuat diriku menjadi bentara Injil-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang  berjudul “PERINTAH YANG UTAMA DALAM HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 19-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Agustus 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers