MEREKA MEMINTA SUATU TANDA

MEREKA MEMINTA SUATU TANDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Rabu, 21 Februari 2018)

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,18-19 

Kitab Yunus mengisahkan cerita tentang seorang nabi yang diutus Allah kepada kota kafir yang besar dan kuat, kota Niniwe. Seperti nabi-nabi Perjanjian Lama yang lain, pada mulanya Yunus merasa ragu-ragu. Dia bahkan mencoba melarikan diri. Setelah “retret” selama tiga hari tiga malam di dalam perut seekor ikan besar, barulah Yunus yakin bahwa Allah sungguh serius dalam pengutusan dirinya. Bayangkanlah hasil akhirnya: Hanya beberapa patah kata yang diucapkan Yunus telah membuat seluruh kota melakukan pertobatan secara dramatis, dan lewat dirinya mereka pun diselamatkan dari penghakiman Allah (lihat Yun 3:4-6.10).

Sebagai seorang Yahudi saleh, Yesus tentu akrab dengan cerita nabi Yunus ini, demikian pula banyak orang lainnya di Israel. Oleh karena itu ketika ada orang yang mencobai Dia dengan meminta suatu tanda, maka Yesus menggunakan cerita Yunus sebagai dasar dari jawaban-Nya. Yesus bersabda: “Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Luk 11:29). Apakah yang dimaksud oleh Yesus dengan “tanda Nabi Yunus” ini? Mukjizat apa dalam cerita ini yang menunjuk kepada rahmat dan kuat-kuasa Allah? Memang luarbiasa Yunus itu, dia mampu survive di dalam perut seekor ikan besar selama tiga hari tiga malam! Tetapi yang lebih luarbiasa adalah gerakan pertobatan di seluruh Niniwe, dimulai dengan sang raja sendiri (lihat Yun 3:6). Orang-orang Yahudi dapat dikatakan memahami bahwa pesan Yesus lewat kisah nabi Yunus adalah sebuah pesan agar mereka bertobat (lihat Luk 11:29.32).

Yesus mengatakan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, bahwa tanda satu-satunya yang akan diberikan oleh-Nya adalah tanda Nabi Yunus (Luk 11:29). Ia sendiri sebenarnya cukup sebagai tanda bagi mereka, seperti Yunus adalah sebuah tanda bagi orang-orang Niniwe. Pada waktu Yunus datang membawakan berita pertobatan yang sederhana kepada penduduk kota kafir ini, maka mereka menanggapi pemberitaannya dengan melakukan pertobatan secara mendalam dan iman yang mendalam kepada Allah. Yesus mewartakan pesan pertobatan yang sama kepada orang banyak yang mengikuti-Nya. Dengan menyebut mereka “generasi jahat” (lihat Luk 11:29) Yesus mengingatkan mereka, bahwa mereka akan dihakimi untuk kekerasan-kepala dan ketidak-percayaan mereka. Yesus juga menyebut Ratu Sheba, yang mengakui hikmat-kebijaksanaan Salomo (lihat Luk 11:31). Mengapa para pendengar-Nya tidak dapat mengakui hikmat-kebijaksaan Yesus yang jauh lebih besar daripada yang ada pada diri Salomo? Siapa yang menghakimi? Orang-orang Niniwe yang telah bertobat karena pemberitaan Yunus, karena “sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Luk 11:32).

Dalam ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan-Nya, Yesus adalah contoh paling sempurna, dia menantang ketidak-kudusan dengan hidup-Nya yang murni dan kudus sebagai Putera Allah. Setiap hal yang dilakukan dan dikatakan Yesus menunjuk pada Bapa-Nya. Jauh lebih daripada Yunus, Yesus adalah suatu “tanda” yang mewujudkan Kerajaan Allah dan menyerukan agar orang-orang untuk melakukan pertobatan. Kehadiran-Nya membuat setiap orang berada dalam situasi krisis, karena sebagai Terang Dunia Yesus mengungkap kondisi hatinya yang terdalam. “Tanda” ini dimaksudkan untuk memanggil orang-orang kembali kepada Allah. Oleh karena itu marilah kita mendengar baik-baik seruan Yesus agar kita melakukan pertobatan secara istimewa pada masa Prapaskah ini. Marilah kita mencari hikmat-kebijaksanaan dan bimbingan-Nya dalam hidup kita. Seperti orang-orang Niniwe yang melakukan pertobatan secara dramatis, maka kita pun meninggalkan segala sikap dan perilaku yang membuat-Nya sedih dan menyakiti mereka yang kita kasihi. Dengan pertolongan Roh Kudus, mohonlah kepada Tuhan agar kita dapat mengidentifikasikan dua atau tiga area dalam kehidupan kita di mana Yesus memanggil kita untuk melakukan perubahan. Mohon kepada Roh Kudus agar kepada kita diberikan kekuatan untuk dapat bertekun dan maju terus. Percayalah bahwa Allah sungguh mau menolong kita mengubah area-area kehidupan kita yang belum mencerminkan damai-sejahtera dan kasih-Nya. Sekarang, apakah kita sungguh terbuka terhadap undangan Allah kepada pertobatan?

DOA: Tuhan Yesus, seperti orang-orang Niniwe yang mendengarkan pesan pertobatan yang diserukan nabi Yunus, seperti Ratu Sheba yang mengakui hikmat-kebijaksanaan Salomo, maka aku berketetapan hati mendengarkan panggilan-Mu kepadaku untuk melakukan pertobatan dan mencari hikmat-kebijaksanaan-Mu dalam hidupku. Utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku dan kepada semua orang hari ini guna membimbing kami semua. Semoga berkat rahmat-Mu aku mampu meninggalkan dosa-dosaku dan membalikkan hatiku kembali kepada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:29-32), bacalah tulisan yang berjudul “TANDA NABI YUNUS ???” (bacaan tanggal 212-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Februari 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH I – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SEBUAH DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS SENDIRI KEPADA PARA MURID-NYA

SEBUAH DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS SENDIRI KEPADA PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Selasa,  20 Februari 2018)

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: Yes 55:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:4-7,16-19

Doa “Bapa Kami” ini, yang diberikan kepada kita oleh Yesus sendiri, tidak hanya merupakan sebuah pernyataan mengenai bagaimana kita seharusnya berdoa, melainkan juga merupakan sebuah refleksi tentang bagaimana Yesus sendiri berdoa (lihat Luk 11:1-4). Sungguh lebih menakjubkan apabila kita mempertimbangkan bagaimana Yesus – yang tanpa dosa – berdoa, “Ampunilah kami dari kesalahan kami”! Inilah contoh bagaimana Yesus secara begitu penuh mengidentifikasikan diri-Nya dengan kita-manusia biasa. Yesus malah melangkah lebih jauh lagi, yaitu menyerahkan hidup-Nya sendiri untuk menjamin pengampunan yang didoakan-Nya.

“…… seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”! Permohonan pengampunan di atas tidak terbatas pada pengharapan akan belas kasih Allah. Yesus wafat di kayu salib bukan sekadar untuk menebus dosa-dosa kita. Kita juga mati bersama Dia dalam baptisan, seperti telah ditulis Santo Paulus: “Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus telah dibaptis dalam kematian-Nya” (Rm 6:3; lihat seluruh teks Rm 6:1-4). Sekarang, oleh iman dalam Yesus, kita dapat bangkit bersama-Nya dan mengampuni seperti Dia mengampuni. Janji Injil adalah, bahwa kalau kita memperkenankan Yesus diam dalam diri kita dengan mati terhadap kehidupan lama kita (dosa), kita dapat menjadi lebih berbelas kasih terhadap sesama kita.

Mengampuni orang-orang yang telah menyakiti hati kita memang dapat sangat sulit, bahkan kadang kala terasa tak mungkin. Kita membutuhkan rahmat Allah hanya untuk mengkontemplasikan kemungkinan untuk mengampuni. Namun, inilah jalan yang diminta Yesus untuk kita ikuti dan lalui. Paulus malah menulis, bahwa kita harus mendoakan dan bahkan memberkati para penganiaya kita. Inilah yang ditulis oleh Paulus: “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengeluh!” (Rm 12:14). Bukankah Yesus juga menyerukan kepada kita untuk mengasihi para musuh kita (lihat Mat 5:44)?

Sekarang, kita harus mengingat satu hal: Kita harus selalu bersikap hati-hati namun juga berbelas kasih pada saat bersamaan. Mengampuni bukan berarti melupakan kewaspadaan kita dan mengabaikan masa lalu. Mengampuni berarti membuang penghukuman dan melepaskan seseorang sehingga dia dapat mengalami belas kasih Allah. Yesus memang sangat berbelas kasih, namun Dia juga realistis tentang keadaan hati seorang insan manusia. Dalam Injil Yohanes kita dapat membaca bagaimana Yesus sangat berhati-hati tentang siapa yang akan dipercayainya (lihat Yoh 2:24-25). Apabila kita dipanggil untuk berbelas kasih seperti Yesus, maka hal ini berarti bahwa kita pun dipanggil untuk menjadi bijak seperti Dia.

Yesus tidak pernah kaget atau terkejut dengan dosa yang dijumpai-Nya, dengan demikian tentunya Dia pun tidak akan terkejut dengan dosa-dosa kita. Kegelapan apa pun yang dilihat-Nya dalam hati kita, Dia tidak pernah akan menyerah untuk mengundang kita kembali ke jalan-Nya. Ia juga tidak akan pernah bersikap sinis dan pesimis terhadap berbagai potensi yang dimiliki kita masing-masing sebagai seorang pribadi. Dia selalu melihat kemungkinan bahwa mereka yang telah diampuni oleh-Nya akan melakukan pertobatan dan bangkit dalam kemuliaan bersama-Nya. Sekarang pertanyaannya adalah: Dapatkah kita mempunyai pandangan yang sama tentang setiap orang di sekeliling kita?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sudi memilih untuk merangkul penderitaan dan dosa kami, sehingga Kaudapat membangkitkan kami untuk menikmati hidup kekal bersama dengan-Mu. Ajarlah kami agar dapat menjadi pribadi-pribadi yang berbelas kasih kepada sesama kami, seperti Engkau sendiri berbelas kasih kepada mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan dengan judul “DOA BAPA KAMI YANG DIWARISKAN OLEH YESUS SENDIRI” (bacaan tanggal 28-2-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2012. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak,  18 Februari 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH I – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TERIMALAH KERAJAAN YANG TELAH DISEDIAKAN BAGIMU SEJAK DUNIA DICIPTAKAN

TERIMALAH KERAJAAN YANG TELAH DISEDIAKAN BAGIMU SEJAK DUNIA DICIPTAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Senin, 19 Februari 2018)

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:31-46) 

Bacaan Pertama: Im 19:1-2,11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

“Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.” (Mat 25:34)

Sungguh indahlah kenyataan, bahwa berkat-berkat karena ketaatan kita kepada perintah-perintah Allah mencakup juga suatu undangan untuk bergabung dengan-Nya dalam Kerajaan Surga. Allah memberikan kepada kita perintah-perintah-Nya bukanlah untuk membatasi kita, melainkan justru untuk membebaskan kita dan membuka hati kita bagi Roh Kudus-Nya. “Titah TUHAN (YHWH) itu tepat, menyukakan hati; perintah YHWH itu murni, membuat mata bercahaya” (Mzm 19:9). Setiap orang kudus dan pahlawan-iman, baik perempuan maupun laki-laki, dalam sejarah Gereja memberi kesaksian tentang kebenaran yang indah ini. Dan apa yang benar bagi mereka, juga benar bagi kita yang hidup di abad ke-21 ini.

Selagi Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan, Yesus membuat jelas bahwa cara kita memperlakukan orang-orang lain merupakan sebuah indikasi yang sangat kuat dari kasih kita kepada Allah dan keterbukaan kita bagi Roh Kudus-Nya. Pada waktu YHWH Allah memberikan kepada Israel perintah, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18), malah sebenarnya Dia memerintahkan mereka untuk saling mengasihi dalam cara yang konkret, dan berwujud. Allah minta kepada kita untuk menolong orang-orang yang kita jumpai setiap hari – anak-anak kita sendiri, pasangan hidup kita, seorang sanak keluarga atau teman yang sedang menderita sakit, seorang miskin yang mengetuk pintu rumah kita dlsb. Kita boleh yakin, bahwa selagi kita mentaati perintah-perintah-Nya, Allah akan memenuhi diri kita dengan rahmat untuk mengasihi dan memperhatikan orang-orang di sekeliling kita, bahkan mereka yang tidak menarik di mata kita.

Janji kehidupan dalam Roh adalah apabila kita mentaati perintah-perintah Allah – teristimewa seruan-Nya agar kita mengasihi sesama – , maka Dia membawa kita ke suatu wilayah baru, yaitu kebebasan sejati dan kedekatan dengan-Nya. Dia memanggil kita untuk mengasihi karena Dia ingin kita menikmati kehidupan yang lebih mendalam bersama-Nya dengan menjadi lebih serupa dengan diri-Nya. Yesus begitu mengasihi kita sehingga Dia rela memberikan hidup-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Karena Dia taat kepada Bapa-Nya dalam segala hal, maka Yesus mewarisi Kerajaan Surga. Dengan mengikuti Dia dalam kerendahan hati (kedinaan) dan ketaatan, kita sendiri pun dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga sebagai pewaris bersama-sama dengan Yesus.

Marilah kita berupaya untuk taat kepada Allah sehingga Dia dapat membawa kita ke dalam suatu kehidupan dalam Roh-Nya yang lebih mendalam. Setiap hari, Allah memberikan kepada kita banyak sekali kesempatan untuk menolong orang-orang yang mempunyai berbagai kebutuhan. Selagi kita mengambil kesempatan itu, kita menunjukkan kepada Allah bahwa kita mengasihi Dia dan ingin menjadi bagian dari Kerajaan Surgawi-Nya.

DOA: Bapa surgawi, berdayakanlah kami agar mau dan mampu taat pada perintah-perintah-Mu, teristimewa perintah-Mu untuk mengasihi sesama kami. Bukalah mata hati kami agar dapat melihat kebutuhan-kebutuhan dari orang-orang di sekeliling kami. Melalui kuasa kasih-Mu yang dicurahkan ke dalam hati kami oleh Roh Kudus, gerakkanlah kami agar berjumpa dengan sesama kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan yang berjudul “MELIHAT YESUS DALAM DIRI ORANG-ORANG KECIL DAN MENDERITA” (bacaan tanggal 19-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SAATNYA TELAH GENAP; KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

SAATNYA TELAH GENAP; KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH I [Tahun B] – 18 Februari 2018)

Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu selama empat puluh hari Ia dicobai oleh Iblis. Ia tinggal bersama dengan binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:12-15)

Bacaan Pertama: Kej 9:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:18-22

“Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”  (Mrk 1:15)

Dapatkah anda dan saya membayangkan bagaimana wajah Yesus ketika Dia untuk pertama kali mengucapkan kata-kata ini? Yesus baru saja menyelesaikan puasa selama 40 hari di padang gurun Yudea. Siapa pun yang meluangkan waktu di tanah gersang seperti itu akan mengalami panas terik di siang hari, ketiadaan air, dan sedikit perlindungan dari binatang buas, ular berbisa dan kalajengking yang juga berbisa. Jadi, ketika Yesus mengumumkan bahwa saat kepenuhan telah tiba, maka mungkin Dia terlihat sedikit acak-acakan, barangkali bahkan sedikit tidak seimbang.

Walaupun begitu, kata-kata Yesus ini kelihatannya diterima dalam hati orang banyak. Mengapa?  Karena Yesus sendiri mempunyai pengalaman akan “saat kepenuhan” dalam hidup-Nya sendiri. Selama Dia berpuasa dan dicobai oleh Iblis di padang gurun, Yesus mengalami keakraban/keintiman dalam relasi-Nya dengan Bapa surgawi yang sama sekali tidak dapat digoyang oleh Iblis. Dan ketika Dia ke luar dari padang gurun, maka keyakinan-Nya, damai-sejahtera-Nya, bahwa excitement-Nya sungguh mempunyai daya-menular yang luarbiasa. Kata-kata yang diucapkan-Nya penuh keyakinan diri dan merupakan ungkapan sukacita dari seseorang yang mengetahui dengan pasti bahwa sebuah kerajaan baru akan masuk ke tengah dunia, dan hal tersebut menyebabkan timbulnya sikap menanti-nanti dalam diri orang-orang yang mendengar tentang Dia.

Kabar Baik-nya adalah bahwa sekarang ini kita semua sedang hidup dalam “saat kepenuhan”. Oleh salib-Nya dan kebangkitan-Nya, Yesus telah mendirikan Kerajaan Allah. Dosa telah dikalahkan karena “yang  baik” telah berjaya atas “yang buruk”! Kita tidak perlu lagi menjadi budak-budak dari berbagai hasrat yang jelek atau pola-pola dosa. Sebaliknya, Yesus telah membawa dengan-Nya pengampunan, penyembuhan, dan rahmat ilahi kepada semua orang yang berbalik kepada-Nya.

Dalam Masa Prapaskah kali ini, marilah kita berketetapan hati untuk memohon kepada Tuhan agar memberikan kepada kita rasa percaya diri dan sukacita yang sama seperti yang dimiliki-Nya. Biarlah masa istimewa selama 6 pekan ini menjadi semacam retret bagi kita, suatu masa yang digunakan untuk pemberian sedekah secara lebih intensif daripada masa-masa lain, suatu masa yang akan kita gunakan untuk berdoa secara lebih mendalam lagi, dan juga suatu masa untuk berpuasa secara lebih serius lagi, sehingga dengan demikian kita (anda dan saya) dapat mengalami keintiman/keakraban yang lebih baik dengan Bapa surgawi. Masa Prapaskah adalah masa kepenuhan. Kita dapat menjadi “lebih daripada orang-orang yang menang” melalui Kristus” (Rm 8:37). Dalam sebuah dunia yang dilanda perpecahan, konflik dan bahaya, kita dapat bersinar terang dan menjadi petunjuk kepada Kerajaan “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita” (Rm 14:17).

DOA: Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus! Engkau telah menebus dunia dan memberikan kepada kami sebuah Kerajaan damai sejahtera dan sukacita yang tanpa akhir! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU PERJANJIAN YANG BARU” (bacaan tanggal 18-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  15 Februari 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH

HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Sabtu sesudah Rabu Abu – 17 Februari 2018)

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemimpin cukai, yang  bernama Lewi, sedang duduk di tempat pemungutan cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Kemudian Lewi mengadakan perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:27-32) 

Bacaan Pertama: Yes 58:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6

Tak peduli dengan latar belakang kita masing-masing, kita semua memiliki kemampuan untuk memberikan diri kita sendiri secara total-lengkap kepada Allah. Bahkan seorang pendosa kelas berat pun dapat ditransformasikan oleh kasih dan kebaikan hati-Nya. Ini adalah pelajaran di belakang perjumpaan Yesus dengan Lewi dan semua teman-teman Lewi yang dicap sebagai orang-orang berdosa oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Setiap hari dalam kehidupan-Nya di dunia, Yesus sungguh mempraktekkan petuah nabi, yaitu menjauhkan diri dari “menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah” (Yes 58:9). Ia menolak untuk menuduh atau menyalahkan siapa pun. Sebaliknya, Yesus menerima orang-orang berdosa dan berusaha untuk membawa rahmat pengampunan dan sentuhan penyembuhan dari Bapa surgawi ke dalam kehidupan para pendosa itu.

Kedosaan Lewi sebagai pemungut cukai tidak membuat Yesus menjauhinya. Keprihatinan utama Yesus adalah apakah si Lewi ini akan bertobat, meninggalkan dosa-dosanya dan menerima sebuah hati yang baru. Yesus memang tidak pernah menghindar dari orang-orang yang “tidak bersih” alias “para pendosa”. Yesus tidak pernah takut bahwa kemurnian diri-Nya akan terancam. Yesus juga tidak pernah berusaha untuk membuat diri-Nya kelihatan lebih baik dengan menuding-nuding orang lain atau menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain. Sebaliknya, Yesus malah meruntuhkan tembok-tembok pemisah yang ada, agar dapat membawa kemurnian Injil kepada setiap orang yang dijumpainya.

Bagaimana dengan kita sendiri? Seringkali, apabila kita berhadapan dengan perilaku dosa dari orang lain, tanggapan kita malah berwujud menjauhkan diri daripadanya. Tidak jarang pula kita menjadi terlibat dalam gosip-gosipan tentang orang itu. Berapa banyak dari kita yang tidak mau mengundang ke rumah kita para kerabat atau teman yang perilaku tak bermoralnya sungguh mengganggu kita? Banyak dari kita juga tetap merasa marah dan menolak orang-orang yang telah bersalah terhadap diri kita. Sekarang saatnya kita bertanya kepada diri sendiri, apakah sikap dan perilaku kita itu efektif dalam usaha membantu “para pendosa” itu menyesali dosa-dosa mereka dan melakukan pertobatan …… kembali ke jalan Allah?

Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana mendekati orang-orang lain. Walaupun Yesus tidak pernah berkompromi dengan kebenaran atau menyarankan agar orang mengabaikan hukum Allah, Ia memperlakukan setiap orang dengan rasa hormat dan belas kasihan, apa pun dosa mereka.

Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk pergi menemui dan mengasihi orang-orang seperti yang dilakukan Yesus. Janganlah kita menghakimi orang-orang yang berlabel “pendosa”. Yang penting adalah kita mengasihi mereka dengan kasih Kristus, dan kita boleh merasa yakin betapa besar dampak dari tindakan kita itu. Setiap orang dapat dipimpin kepada kebenaran hanya melalui kasih dan kesetiaan Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, buatlah hatiku menjadi seperti hati Yesus pada masa Prapaskah ini. Biarlah kasih yang kuat dan penuh bela rasa membimbingku selagi aku mendekati orang-orang lain, teristimewa mereka yang telah meninggalkan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:27-32), bacalah tulisan dengan judul “YESUS DATANG UNTUK MENGUBAH HATI PARA PENDOSA” (bacaan tanggal 17-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERPUASA DENGAN PENUH SUKACITA

BERPUASA DENGAN PENUH SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Jumat sesudah Rabu Abu – 16 Februari 2018)

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Mat 9:14-15) 

Bacaan Pertama: Yes 58:1-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,18-19

Apa kesan anda tentang puasa? Apakah itu sebuah cara meratapi dosa-dosa kita? Apakah anda memandang puasa sebagai suatu kewajiban keagamaan – sekadar sesuatu yang harus dijalani oleh orang-orang Kristiani? Yesus menginginkan agar puasa bagi para murid-Nya itu berbeda dengan kesan-kesan seperti tadi. Pada kenyataannya, puasa Kristiani dapat menjadi suatu peristiwa yang mengandung sukacita besar dan penuh pengharapan, bukannya peristiwa penuh kemurungan.

Yesus mengatakan, apabila Dia – sang mempelai laki-laki – diambil, maka para tamu pesta nikah – para murid – akan berpuasa. Akan tetapi, Yesus sang mempelai laki-laki juga telah berjanji untuk senantiasa bersama kita (lihat Mat 28:20)! Ia bersama kita dalam banyak cara: dalam Roh Kudus-Nya, dalam Kitab Suci, dalam Ekaristi, dalam Gereja-Nya, dalam diri para imam tertahbis-Nya, dan di tengah-tengah umat yang berkumpul bersama di dalam nama-Nya. Dalam begitu banyak cara yang riil dan berwujud, sang mempelai laki-laki ada bersama kita. Dengan demikian orang-orang Kristiani tidak  boleh berpuasa sebagai suatu tanda dukacita.

Bagi anak-anak Allah – semua orang yang mengenal dan mengalami kehadiran Yesus Kristus dalam hati mereka, artinya yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat – maka puasa dimaksudkan untuk dihubungkan dengan doa. Apabila kita menyangkal diri kita sendiri dalam salah satu bentuk pengungkapannya, maka kita akan menemukan suatu vitalitas baru dalam doa-doa syafaat kita untuk kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain. Hati kita tidak mendua lagi dan lebih terbebaskan dari cengkeraman hal-hal duniawi, dan lebih dekat rasa haus dan lapar akan Yesus yang terdapat dalam setiap hati manusia. Apabila kita mengkombinasikannya dengan doa, maka puasa dapat menolong kita mengatasi kejahatan dan menjaga agar kita tetap fokus pada hal-hal yang sungguh berarti. Segala pelanturan dapat dibuang sehingga kita dapat mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas. Hal ini dapat membantu kita menghargai hal-hal yang telah kita miliki, sehingga kita dapat berdoa untuk mereka yang tidak memiliki seperti kita. Akhirnya, puasa dan doa dapat memimpin kita kepada pekerjaan untuk tercapainya keadilan, perdamaian, dan belas kasihan di dalam dunia ini.

Mungkinkah berpuasa dengan penuh sukacita? Ya, mungkin! Pada kenyataannya, berpuasa yang tidak bermuram-durja ini kelihatannya yang ada dalam pikiran Yesus ketika Dia memberikan “Khotbah di Bukit”: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:16-18). Pada masa Prapaskah ini, mengapa tidak mencoba untuk bereksperimen dengan “puasa yang penuh sukacita”? Pilihlah jenis puasa yang masuk akal dan mohonlah kepada Roh Kudus untuk membimbing anda dalam menentukan ujud-ujud doamu. Namun ingatlah selalu bahwa Yesus, sang mempelai laki-laki, selalu beserta anda!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat berpuasa dengan penuh sukacita dalam masa Prapaskah ini. Gunakanlah doaku dan puasaku untuk membawa kebaikan dalam dunia pada masa kini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (Yes 58:1-9a), bacalah tulisan yang berjudul “PUASA YANG DIKEHENDAKI ALLAH” (bacaan tanggal 162-18)  dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGIKUT YESUS

MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Kamis sesudah Rabu Abu – Kamis, 15 Februari 2018)

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Luk 9:22-25) 

Bacaan Pertama: Ul 30:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Tidakkah anda merasa takjub penuh kekaguman ketika menyadari bahwa Yesus Kristus – Putera Allah yang tunggal, Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus – memberikan kepada kita – manusia biasa yang pada suatu hari akan mati – “sebuah pilihan”? Ia tidak memerintahkan kita untuk mengikuti jejak-Nya; …… Dia mengundang kita.

Apakah pilihan yang ditawarkan oleh Yesus? Apakah ini pilihan untuk menghayati suatu kehidupan yang terus-menerus melibatkan penderitaan: “menyangkal diri dan memikul salib kita” dari hari ke hari, dan secara pasif menerima pencobaan apa saja yang datang menimpa, dengan pengharapan bahwa Allah akan menerima kita? Tidak! Pilihan yang riil adalah untuk mengikuti jejak Yesus dan menerima apa saja yang diminta oleh pilihan itu. Sebuah pilihan untuk memusatkan pandangan mata kita pada Yesus, yang rindu untuk mencurahkan kasih-Nya kedalam hati kita setiap hari. Ini adalah pilihan untuk percaya bahwa dengan Yesus kita dapat mengatasi segala halangan, tantangan, atau kesulitan yang bermunculan – baik secara internal maupun eksternal.

Di sini, pada awal masa Prapaskah, Allah sedang mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada kita: “Siapa Yesus itu?” Apakah Dia sekadar seorang baik, barangkali bahkan seorang nabi, yang peri kehidupan-Nya harus kita teladani? Atau, Dia adalah Putera Allah yang menjadi manusia agar supaya kita dapat menjadi anak-anak Allah? Apakah Dia seorang hakim yang kaku-keras, yang siap untuk menghukum setiap dosa kita? Ataukah Dia sang “Anak Domba Allah” yang menyerahkan hidup-Nya sendiri agar kita dapat dibebas-merdekakan dari dosa dan ditransformasikan menjadi “gambar dan rupa-Nya” sendiri?

Berabad-abad sebelum kehadiran Yesus di tengah-tengah dunia, Musa mengatakan kepada orang-orang Israel bahwa taat kepada Allah adalah suatu isu hidup-atau-mati: “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan” (Ul 30:15), dan artian tertentu hal ini memang benar. Musa mengetahui perbedaan antara berjalan sehari-hari dengan Tuhan dan berjalan sendiri. Pada hari ini Yesus ingin membuka mata (hati) kita tentang adanya perbedaan itu. Dia ingin mengatakan kepada kita, bahwa apabila kita memilih Dia dari  hari ke hari, kemungkinan-kemungkinan yang tersedia untuk kehidupan kita adalah tidak terbatas. Kita tidak hanya akan hidup sebagai sekadar makhluk insani, melainkan akan memperoleh akses kepada segala rahmat dan kuasa Allah yang Mahakuasa! Kita akan dimampukan untuk mengasihi mereka yang sangat sulit kita kasihi, mengampuni mereka yang sangat sulit untuk kita ampuni dan mengatasi permasalahan yang tak mungkin teratasi apabila kita memakai kekuatan kita sendiri. Memang ada masalah “biaya” di sini. Mungkin dalam bentuk berbagai penderitaan dan kesulitan di sepanjang jalan yang kita tempuh, namun kita dapat merasa yakin bahwa selama kita berada dekat dengan Yesus, maka Dia akan sangat dekat dengan diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memilih untuk mengikuti jejak-Mu pada hari ini dan hari-hari sepanjang hidupku. Aku menerima janji-Mu tentang kehidupan. Tuhan, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena telah mengundang diriku untuk berada bersama dengan-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:22-25), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK MENGIKUTI JEJAK-NYA” (bacaan tanggal 15-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS