WASPADALAH TERHADAP SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA

WASPADALAH TERHADAP SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ireneus, Uskup & Martir – Rabu, 28 Juni 2017)

 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Setelah mengajar para murid-Nya untuk “masuk melalui pintu yang sempit” (Mat 7:13), Yesus melanjutkan dengan memperingatkan mereka tentang penghalang-penghalang dan kesulitan-kesulitan yang akan dijumpai dan dialami di sepanjang jalan. Dengan jelas Ia menyatakan bahwa akan ada nabi-nabi palsu di sepanjang “jalan sempit” yang sedang di tempuh oleh para pengikut-Nya. Sekilas lintas para nabi palsu itu kelihatannya tidak berbeda dengan domba-domba; namun di dalamnya mereka sebenarnya adalah serigala-serigala yang bertujuan menghancur-leburkan kawanan domba Yesus yang sejati. Yesus ingin agar kita siap-siaga terhadap bahaya ini.

Pembicaraan mengenai nabi-nabi palsu ini dapat membuat kita merasa tidak nyaman. Bagaimana pun juga tidak ada yang lebih harus ditolak daripada seorang pribadi yang selalu mengklaim dirinya benar dan selalu mengatakan bahwa orang lain salah. Bagaimana kita dapat melakukan discernment atas motif-motif orang-orang lain ketika perbedaan yang ada begitu tipisnya? Yesus ingin sekali agar kita memiliki kemampuan untuk mengenali nabi-nabi palsu dan waspada terhadap bahaya-bahaya yang dapat diakibatkan oleh mereka. Akan tetapi bagaimana kita dapat belajar untuk mendeteksi perbedaan-perbedaan antara domba-domba dan serigala-serigala? Bagaimana kita dapat membuat penilaian-penilaian sedemikian tanpa menjadi bersikap menghakimi atau menuduh.

Pada akhirnya karakter sejati seorang pribadi akan dinyatakan: Pohon yang baik tidak akan menghasilkan buah yang buruk; sedangkan pohon yang buruk tidak akan menghasilkan buah yang baik (lihat Mat 7:18). Di lain pihak hal ini tidak berarti bahwa manakala ada buah yang buruk, maka pribadi yang bertanggungjawab harus buruk juga. Nabi-nabi sejati pun dapat membuat kesalahan karena justru dia adalah manusia juga. Di sisi lain, orang-orang yang paling terkenal karena kejahatan/keburukan mereka dalam sejarah mungkin saja mempunyai unsur-unsur kebaikan dalam dirinya. Kalau masih masih berupa benih sulitlah bagi kita untuk membedakan apakah ini benih tanaman pohon A atau pohon B. Namun kita akan mengetahuinya dengan jelas kalau tanaman itu sudah mulai membesar dan berbentuk.

Para pengikut Kristus harus menggantungkan diri pada kesaksian Roh Kudus di dalam diri mereka, karena Dia adalah “Roh Kebenaran” (Yoh 15:26). Apabila kita terus menempatkan Allah sebagai yang pertama, dalam doa dan pembacaan (serta permenungan) sabda-Nya dalam Kitab Suci, maka suara dan pikiran-Nya akan menjadi semakin jelas bagi kita. Kita akan mengetahui apakah harta kita ada di surga atau di dunia (lihat Mat 6:19-21) dan kita akan mampu untuk mengatakan kapan ada perintah-perintah Allah yang telah dikompromikan.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau tidak menginginkan aku menghakimi siapa saja, namun aku tahu bahwa Engkau sungguh mengharapkan aku melakukan discernment agar dapat membuat penilaian yang sehat yang akan melindungi hidup-Mu di dalam diriku. Semoga Roh Kebenaran membimbingku selalu dalam jalan kebenaran. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHASILKAN BUAH-BUAH YANG BAIK” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH PENGORBANAN YESUS MEMPUNYAI ARTI?

APAKAH PENGORBANAN YESUS MEMPUNYAI ARTI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 27 Juni 2017)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: Kej 13:2,5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

“Sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat 7:14).

Yesus Kristus – Tuhan dan Juruselamat kita – tidak pernah berjanji bahwa kehidupan Kristiani akan mudah. Ia tidak pernah mengatakan bahwa keberadaan kita akan bebas dari masalah, bilamana kita memilih untuk mengikut Dia melalui pintu yang sempit dan jalan yang sesak. Memang kita memakluminya. Setiap hari kita menghadapi godaan-godaan yang beraneka-ragam: mengasihi atau membenci sesama kita, menolong seseorang yang memerlukan bantuan atau mengabaikannya, mentaati perintah-perintah Allah atau mengabaikan perintah-perintah itu, menjadi instrumen-instrumen perdamaian atau aktif dalam provokasi serta mendorong terjadinya perpecahan. Bahkan sebagian orang akan menghadapi pengejaran serta penganiayaan secara langsung karena telah memilih “pintu yang sempit dan jalan yang sesak” dari Kristus.

Apakah yang harus kita lakukan? Bagaimana seharusnya kita berpikir mengenai Yesus dan hidup-Nya sendiri yang telah diberikan-Nya kepada kita? Apakah pengorbanan Yesus mempunyai arti, jadi tidak sia-sia? Apabila kita harus melontarkan pertanyaan ini kepada semua generasi umat Kristiani yang mendahului kita, maka mereka akan menanggapi pertanyaan kita itu dengan suara yang nyaring dan penuh syukur: “Ya!” Banyak dari mereka telah menjalani jalan yang sesak dan bertekun melalui penderitaan-penderitaan yang jauh lebih berat dan menyakitkan daripada apa yang kita alami pada zaman modern ini.

Mengapa mereka tetap bertahan dengan penuh iman? Karena mereka tahu bahwa Yesus berjalan bersama mereka. Kenyataan yang satu inilah yang membuat perbedaan antara frustrasi tanpa harapan dan kenyamanan, antara kekalahan dan kemenangan.

Baiklah kita bersama-sama menyadari, bahwa setiap langkah yang kita ambil berarti kita berjalan bersama Yesus. Kita harus percaya bahwa Putera Allah sendiri telah membuka jalan bagi kita dan memberikan kepada kita segalanya yang kita perlukan untuk mengikuti Dia. Selagi kita berjalan di jalan yang telah dibuka oleh Allah bagi kita, maka hidup kita dapat dipenuhi dengan makna dan tujuan – hanya apabila karena kita menjadi menjadi duta-duta Yesus dan bejana-bejana Roh Kudus yang semakin dipenuhi dengan kuasa-Nya. Manakala kita mencoba untuk hidup tanpa Yesus, maka martabat dan nilai-nilai baik yang kita anut tidak akan bertambah besar, melainkan menyusut.

Yesus telah berjanji kepada semua murid-Nya di segala zaman bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka. Tidak pernah! Walaupun kita terlibat dalam kedosaan serius sekali, Yesus tetap berada bersama kita. Kerahiman-Nya akan meliputi diri kita, dan kekuatan-Nya akan memberdayakan kita. Oleh karena itu, marilah pada hari ini kita mengambil keputusan definitif untuk menaruh kepercayaan kepada kuat-kuasa Yesus untuk tetap mentransformasikan diri kita menjadi hamba-hamba atau pelayan-pelayan penuh kuasa dari Injil-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah berjanji untuk senantiasa ada bersamaku sampai akhir zaman. Terima kasih untuk menyerahkan hidup-Mu sendiri bagiku. Tolonglah aku agar tetap setia kepada-Mu, seperti Engkau setia kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “PINTU YANG SEMPIT DAN JALAN YANG SESAK” (bacaan tanggal 27-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UNDANGAN YESUS KEPADA KEBEBASAN SEJATI

UNDANGAN YESUS KEPADA KEBEBASAN SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Senin, 20 Juni 2016)

 

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Mat 7:1-5) 

Bacaan Pertama: Kej 12:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-13,18-20,22

Sepintas lalu, kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini terasa ditujukan kepada orang-orang Farisi, para dogmatis dan ekstrimis – bukan ditujukan pada diri kita sendiri. Namun kita harus ingat bahwa ini adalah bagian dari “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7), artinya di sini Yesus bersabda kepada para murid-Nya sendiri. “Jangan kamu menghakimi” dan “Hai orang munafik” yang terasa keras-keras itu sungguh diperuntukkan bagi mereka yang mengasihi dan sudah menerima kepemimpinan Yesus. Jadi, kata-kata Yesus ini sungguh ditujukan kepada kita (anda dan saya)!

Apakah kata-kata Yesus ini kedengaran keras? Mengutuk? Bukan itu maksud Yesus. Sabda-Nya di sini memang merupakan “kata-kata keras”: sulit dan tidak mengenakkan untuk didengar, namun sesungguhnya merupakan suatu undangan kepada kebebasan/ kemerdekaan sejati. Di sini, Yesus – sang Gembala Baik – seakan berseru: “Mari, datanglah kepada-Ku. Biarlah Engkau dikuatkan, kesehatan rohanimu dipulihkan, dan dibebaskan dari beban rasa bersalah dan rasa khawatir serta takut!”

Sementara kita mencari-cari “balok” di dalam mata kita, perkenanlah Roh Kudus untuk membimbing kita. Biarlah Dia dengan halus namun tegas serta pasti menunjukkan dosa-dosa yang selama ini menghalang-halangi upaya kita untuk mengikuti Tuhan Yesus. Di bawah pengawasan mata-Nya yang begitu tajam-menyelidik, mungkin saja kita menjadi merasa gelisah, namun semua ini hanyalah bersifat sementara. Kebebasan/kemerdekaan sejati yang akan dikecap jauh lebih membawa “nikmat” daripada ketidaknyamanan/kesusahan yang dialami sebelumnya. Allah yang kita sembah adalah Allah yang baik, sungguh baik, satu-satunya yang baik; Ia tidak akan meninggalkan kita dalam keadaan frustrasi tanpa henti atau merasa bersalah secara terus menerus: terjebak  dalam situasi penuh masalah tanpa bayangan akan adanya solusi. Ketika Roh Kudus mengingatkan kita akan dosa-dosa kita, pada saat bersamaan Ia juga mengangkat hati kita dengan pengharapan akan kesembuhan dan pengampunan.

Mengapa “pemeriksaan batin” ini diperlukan? Karena panggilan untuk mengasihi sesama! Seringkali, dalam upaya kita untuk mengasihi sesama kita, niat baik kita itu terhalang oleh luka-luka kita sendiri. Misalnya, sebagai seorang anak kecil kita mengalami KDRT yang dilakukan orangtua kita sendiri. Dalam situasi-situasi sedemikian kita mengembangkan pola-pola tertentu: cepat-cepat melarikan diri dari konflik; emosi yang diungkapkan secara meledak-ledak, bahkan seakan-akan ingin berkelahi. Apabila tidak ditangani, respons-respons sedemikian akan muncul setiap saat kita menghadapi kemarahan orang lain, walaupun tidak ditujukan kepada diri kita. Hasil dari suatu kerja pelayanan yang terganggu di sana-sini oleh pola-pola yang sedemikian tidak akan dihargai atau sangat efektif!

Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk menyembuhkan diri kita. Dia dapat menunjukkan kepada kita di mana kita harus melakukan pertobatan, mencari kesembuhan, atau mengampuni. Kita tidak akan mampu melakukan hal ini apabila kita mengandalkan pemikiran dan kemampuan kita sendiri. Akan tetapi, dengan ajaran Yesus, penyembuhan-Nya dan pengampunan-Nya dalam kehidupan kita, maka kita memiliki sesuatu yang indah untuk diberikan kepada orang-orang lain – sesuatu yang telah kita terima dari Yesus Kristus sendiri, yang adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Kita harus senantiasa mengingat bahwa kita dapat menjadi instrumen-instrumen penyembuhan dan kehidupan bagi orang-orang di sekeliling kita!

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar mampu mendengarkan sabda-Mu. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk menunjukkan kepadaku apa saja dalam diriku yang sesungguhnya Engkau inginkan untuk disembuhkan dan dipulihkan, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi sebuah instrumen penyembuhan dan pemulihan bagi orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:1-5), bacalah tulisan dengan judul “JANGAN KAMU MENGHAKIMI, ……” (bacaan tanggal 20-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA DIALAH YANG HARUS DITAKUTI

HANYA DIALAH YANG HARUS DITAKUTI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XII [TAHUN A], 25 Juni 2017)

“Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:26-33) 

Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:8-10,14,7,33-35; Bacaan Kedua: Rm 5:12-15 

Dalam ajaran-Nya, Yesus mengemukakan banyak paradoks yang menarik. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata, “Janganlah kamu takut” (Mat 10:26,28), lalu Dia berkata, “Takutlah” (Mat 10:28). Janganlah takut menghadapi para pendengarmu; janganlah takut akan apa yang akan dikatakan orang-orang; janganlah takut bahkan kepada orang-orang yang akan membunuh kamu, kata Yesus. Namun takutlah kepada Dia yang dapat mengirim jiwamu ke dalam api! Takutlah kepada apa yang bergerak dalam hatimu: takutlah akan bagian dari dirimu sendiri yang lebih lemah, dan takutlah kepada si Jahat yang bekerja sama dengan bagian dirimu yang lebih lemah tadi untuk menghancurkanmu.

Pernahkah anda memperhatikan bagaimana orang-orang dapat menjadi besar dan mulia justru pada saat-saat mereka menghadapi situasi hidup atau mati; pada saat-saat terjadinya tragedi secara mendadak misalnya bencana alam, seperti halnya ketika banjir besar menghantam dan orang-orang menghadapi bahaya kematian? Banyak orang, baik tua maupun muda sedang berlari demi keselamatan diri mereka, namun mereka memutuskan untuk kembali guna menolong orang-orang lain. Banyak orang mati pada saat mereka berupaya menyelamatkan orang-orang lain. Dalam menghadapi maut, ketika menghadap hadirat Allah, secara tiba-tiba semua kebencian dan prasangka serta praduga menghilang, dan orang-orang menjadi tidak mementingkan diri sendiri, menjadi lebih bijaksana, menjadi lebih mengasihi dan siap untuk memberikan dirinya sendiri. Semakin kita merasa dekat dengan Allah, semakin baiklah kita. Hal tersebut mengubah kita menjadi seorang pribadi yang lebih baik.

Yesus berkata: “… takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Mat 10:28), artinya takut kepada Allah. Kita harus memiliki keprihatinan atas apa yang dipikirkan Allah tentang diri kita, namun kita tidak perlu merasa susah tentang gosip-gosip karena mereka tokh berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu.

Namun ketika Yesus bahwa kita harus takut kepada Allah, Dia juga mengatakan bahwa kita tidak usah takut kepada Bapa surgawi karena Dia adalah “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita anak-anak-Nya. Dia akan memperhatikan kita secara lengkap dan total, begitu lengkapnya seperti Dia menghitung semua rambut kepala kita.

Dengan demikian kita harus menarik suatu garis keseimbangan yang baik antara rasa takut dan cintakasih. Apabila cintakasih itu riil, maka jelas hal itu berarti kurangnya hal-hal yang ditakuti, kita tidak merasa takut ketahuan dan tertangkap basah,  kita jujur dengan dengan pribadi yang sungguh kita kasihi. Namun kita juga takut: takut untuk menyakiti orang yang kita kasihi, takut untuk menjadi egois atau tidak jujur atau tidak setia. Cintakasih yang sejati mengandung suatu rasa takut di dalamnya: rasa takut bahwa pada suatu hari saya dapat mengabaikan orang yang sangat saya kasihi.

DOA: Tuhan Yesus, biarlah kami merasa prihatin, bahkan takut akan apa yang terjadi dalam hati kami yang terdalam karena dalam hati kamilah cintakasih harus nyata, bukan sekadar dalam ucapan kata kami. Jadikanlah hati kami seperti hati-Mu, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERKENANKAN YESUS MENGUNGKAPKAN KEGELAPAN DIRI KITA” (bacaan tanggal 25-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 22 Juni 2017 [Peringatan S. John Fisher, Uskup & S. Thomas More, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING

RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Sabtu,  24 Juni 2017) 

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26

Santo Yohanes Pembaptis adalah yang terbesar dari semua nabi sebelum Yesus. Orang ini berkonfrontasi dengan para pemimpin agama Yahudi, menghibur para pemungut cukai/pajak dan juga para WTS. Ia menjalani suatu kehidupan yang diabdikan kepada doa, puasa dan mati-raga. Namun yang lebih penting lagi adalah, bahwa Yohanes Pembaptis ini adalah seorang bentara yang mengumumkan kedatangan sang Mesias. Yohanes berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya” (Yoh 3:28). Ia bahkan menamakan dirinya “sahabat mempelai laki-laki” (Yoh 3:29).

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Allah juga mempunyai sebuah rencana indah bagi kita masing-masing seperti yang dibuatnya bagi Yohanes Pembaptis? Memang sulit untuk dipercaya bahwa bahkan sebelum kita melihat terang suatu hari yang baru, Allah telah menentukan suatu jalan atau cara bagi kita untuk turut memajukan Kerajaan-Nya. Barangkali kita berpikir bahwa diri kita tidak berarti, tidak signifikan ……, namun ingatlah bahwa itu bukanlah cara Allah memandang seorang pribadi. Bagaimana kiranya kalau doa-doa syafaat kita merupakan kekuatan di belakang suatu karya Allah di bagian lain dari dunia ini? Bagaimana kiranya apabila kita dipanggil untuk membesarkan anak-anak untuk menjadi suara-suara profetis di dalam Gereja atau di tengah dunia?

Jadi, kita semua harus belajar untuk memandang segala sesuatu dari sudut pandang Allah sendiri. Lihatlah betapa tidak jelasnya kehidupan Yohanes Pembaptis. Sampai saat ia menampakkan dirinya kepada publik di Israel, Yohanes Pembaptis hidup dalam kesunyian padang gurun. Kita pun bisa saja sedang menunggu di padang gurun, akan tetapi kita tidak boleh berputus asa. Sebaliknya, kita harus menghargai waktu ketersembunyian kita sebagai suatu kesempatan bagi Allah untuk mengajar kita – suatu waktu bagi-Nya untuk mengembangkan dalam diri kita masing-masing karunia-karunia untuk melakukan syafaat, evangelisasi, bahkan penyembuhan. Pada saat-Nya yang tepat, Allah akan mencapai hati orang-orang yang tepat dan menyentuh hati-hati itu melalui diri kita.

Kebanyakan dari kita adalah “anak-anak panah yang tersembunyi”. Kita tidak boleh berhenti memohon kepada Tuhan untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya melalui diri kita. Bayangkanlah bagaimana kelihatannya Gereja apabila kita memperkenankan Allah bekerja dalam diri kita sebagaimana yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Seperti begitu banyaknya orang datang kepada Yohanes Pembaptis untuk dibaptis-tobat, maka kesaksian kita, doa kita, pendekatan kita yang dipenuhi kasih-Nya dapat melembutkan dan mengubah hati banyak orang. Yang penting kita camkan adalah, bahwa janganlah kita pernah menganggap rendah Allah dan kuat-kuasa Roh-Nya yang berdiam dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, biarlah rencana-Mu bagi hidupku sungguh terwujud. Tunjukkanlah kepadaku ke mana Engkau ingin membawaku dan mengajarku untuk menghargai waktu ketersembunyianku. Bentuklah diriku, ya Tuhan Allah, dan gunakanlah aku sebagai alat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TIDAK PERNAH BOLEH KEHILANGAN PENGHARAPAN” (bacaan tanggal 24-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS SENANTIASA SIAP UNTUK MEMIKUL BEBAN-BEBAN KITA

YESUS SENANTIASA SIAP UNTUK MEMIKUL BEBAN-BEBAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS – Jumat, 23 Juni 2017)

SFIC: Hari Berdirinya Kongregasi SFIC

Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan. (Mat 11:25-30) 

Bacaan Pertama: Ul 7:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,6-8,10; Bacaan Kedua: 1Yoh 4:7-16 

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.”  (Mat 11:28-30)

Kadang-kadang beban kehidupan terasa tak habis-habisnya menindih kita. Kita harus menyediakan sandang-pangan-papan untuk diri kita dan keluarga kita. Dinamika hidup berkeluarga juga dapat mendatangkan ketegangan-ketegangan. Membesarkan anak-anak dalam sebuah masyarakat yang dipenuhi dengan berbagai macam konflik yang melibatkan kekerasan sungguh merupakan sebuah “proyek” yang bukan main-main. Usia tua dan sakit-penyakit dapat menghadapkan kita dengan lebih banyak lagi ketidakpastian, rasa sakit dan tentunya biaya. Akan tetapi, di tengah-tengah begitu banyak tantangan, Yesus dengan hati-Nya yang mahakudus mengundang kita untuk memikul kuk/gandar yang dipasang-Nya agar dengan demikian Ia dapat memberikan ketenangan kepada jiwa kita (Mat 11:29)

Mengikuti jejak Kristus – menjadi serupa dengan diri-Nya – tidak berarti melaksanakan semua do’s and don’ts yang terdapat dalam sebuah daftar. Mengikut Kristus berarti kita memperkenankan Dia untuk memancarkan cahaya terang-Nya ke dalam hati kita. Hal itu berarti bahwa kita memperkenankan Roh Kudus-Nya untuk memberikan kekuatan yang kita perlukan agar dapat mentaati perintah-perintah-Nya. Hal itu berarti menjadi cukup rendah hati untuk membiarkan Yesus menyatakan kasih-Nya kepada kita dan menawarkan penyembuhan-Nya. Berjumpa dengan kasih yang begitu mendalam dan indah, tidak dapat tidak, hanya akan mentransformasikan kita! Situasi-situasi yang sulit menjadi kesempatan-kesempatan bagi rahmat Allah untuk bergerak dalam diri kita dan – melalui kerja sama kita dengan Dia – melalui diri kita kepada orang-orang lain.

Yesus mengundang setiap orang yang merasa letih lesu dan berbeban berat, tidak hanya yang “suci” atau mereka yang memiliki kecenderungan untuk aktif terlibat dalam hal keagamaan. Siapa saja dapat menanggapi undangan Yesus itu disebabkan karena siapa Allah itu sebenarnya, bukan karena siapa kita ini. Melalui Yesus, Allah telah membebaskan kita dari berbagai beban kehidupan. Dengan kuat-kuasa-Nya dan pengantaraan-Nya (syafaat-Nya),  bahkan ketika Dia terasa jauh, Yesus senantiasa siap untuk memikul beban-beban kita. Yesus dapat dipercaya sepenuhnya dan Ia akan dengan setia memneuhi semua janji-Nya kepada kita.

Kita dapat beristirahat dan mendapat ketenangan di hadapan hadirat Allah dengan mengheningkan hati dan pikiran kita. Kita dapat memeditasikan ayat-ayat Kitab Suci yang menyangkut hati Yesus yang Mahakudus. Kita dapat merenungkan karunia besar yang kita terima dalam Ekaristi. Kita dapat mencari Hati Kudus Yesus dalam diri orang-orang di sedeliling kita, melihat dalam diri mereka kebesaran Allah, bukan sekadar orang lain dengan siapa kita harus berelasi. Marilah kita memperkenankan Yesus memenuhi diri kita dengan kehadiran-Nya. Yesus sungguh rindu untuk mencurahkan kasih-Nya, menganugerahkan rahmat-Nya serta karunia-karunia hikmat, penyembuhan dan bahkan kuasa untuk mengadakan mukjizat. Tugas kita hanyalah memberikan kepada-Nya kesempatan.

DOA: Yesus, dalam kehadiran-Mu jiwaku mendapatkan ketenangan. Oleh karena itu, datanglah Tuhan dan terangilah pikiranku dan transformasikanlah hatiku. Aku sangat merindukan kasih-Mu dan segala karunia yang Engkau ingin anugerahkan kepadaku pada hari ini. Yesus, jadikanlah hatiku seperti Hati-Mu. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamatku, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil pada hari ini (Mat 11:25-30), bacalah tulisan yang berjudul “UNDANGAN YESUS KEPADA KITA UNTUK DATANG KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 23-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Juni 2017 [Peringatan S. Aloisius Gonzaga, Biarawan Yesuit] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MENGAJARKAN DOA BAPA KAMI

YESUS MENGAJARKAN DOA BAPA KAMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIKamis, 22 Juni 2017)

 

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: 2Kor 11:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-4,7-8

Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk tidak berdoa seperti orang-orang munafik yang suka mengucapkan doa mereka dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang; dan kalau berdoa juga jangan bertele-tele dengan menggunakan banyak kata” (lihat Mat 6:5,7), melainkan berdoa dengan sebuah cara yang baru – dengan kerendahan hati dan iman.

Dengan memberikan “Doa Bapa Kami”, Yesus mendesak kita untuk menyapa Allah sebagai “Bapa kami yang di surga”, yang menunjukkan pentingnya relasi intim/akrab Bapa surgawi dengan kita dalam kuat-kuasa-Nya yang bersifat transenden. Sebagai Bapa yang sangat mengasihi kita anak-anak-Nyak Dia memperhatikan kita dan mengetahui segala kebutuhan kita. Dia tidak lagi berada jauh dan tidak dapat diakses oleh kita (sebagaimana dibayangkan dalam Perjanjian Lama), melainkan sungguh dapat didekati melalui pencurahan darah Kristus pada kayu salib (lihat Ibr 10:19). Melalui doa-doa kita, kita akan bertumbuh dalam relasi yang akrab (yang dimulai pada waktu kita dibaptis) dengan Bapa surgawi.

Walaupun Bapa surgawi mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita sebelum kita meminta, Dia sungguh ingin agar kita menghaturkan permohonan kepada-Nya, untuk menyatakan rasa percaya dan iman kita kepada-Nya. Yesus mengedepankan “Doa Bapa kami” sebagai sebuah contoh bagaimana – melalui doa – kita dapat menikmati persekutuan yang akrab dengan Bapa surgawi. “Doa Bapa kami” memusatkan perhatian pada pemenuhan akhir/puncak dari kehendak Allah di atas bumi dan di dalam surga. Kita berdoa agar kehendak Bapa surgawi dipenuhi (Mat 6:10).

Kita yang mendoakan “Doa Bapa kami” dipanggil untuk menghadirkan kedaulatan Allah pada hari ini, untuk menyambut kedatangan Kerajaan Allah, dan untuk berdoa demi terwujudnya secara penuh rencana Allah pada akhir zaman. Manakala kita mendoakan “Doa Bapa kami” ini, kita menyatukan diri kita dengan Yesus dalam hasrat kita untuk melihat terwujudnya rencana kekal-abadi dari Allah.

Kadang-kadang “Doa Bapa kami” mengungkapkan keragu-raguan kita sendiri tentang rahmat Allah yang mampu mentransformasikan hidup kita. Kita dipaksa untuk mengakui bahwa ada keinginan dalam diri kita untuk tidak mau mengubah pola dosa kita, untuk tidak mau mengampuni, atau untuk tidak mau menerima kehendak Allah selain kehendak kita sendiri. “Doa Bapa kami” berisikan apa saja yang Yesus inginkan agar menjadi hasrat sejati hati kita. Karena Yesus telah hidup dalam Roh sepenuhnya, maka Dia lebih memahami tentang rencana penyelamatan Allah yang penuh kemuliaan ketimbang apa yang kita mampu pikirkan.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur karena Engkau telah mengajarkan kepada kami bagaimana berdoa. Dalam iman, kami memberikan hati kami masing-masing kepada-Mu sehingga dengan demikian rahmat-Mu dapat mentransformasikan kami menjadi “ciptaan-ciptaan baru” yang rindu untuk melihat kepenuhan dari rencana kekal-abadi dari Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAMPUNI DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 22-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS