PERKENANKANLAH ALLAH BEKERJA DENGAN CARA-CARA YANG TAK TERDUGA-DUGA

PERKENANKANLAH ALLAH BEKERJA DENGAN CARA-CARA YANG TAK TERDUGA-DUGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Jumat, 15 Desember 2017) 

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19) 

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Mengapa Yesus melakukan hal-hal seperti dilakukan-Nya, walaupun Ia jelas mengetahui bahwa hal-hal yang dilakukan-Nya itu akan disalahtafsirkan? Ketika beberapa orang Farisi melihat Yesus bergaul dengan para pemungut cukai dan pendosa lainnya,  dan menawarkan sentuhan kesembuhan dari Allah, mereka menamakan-Nya “seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Mat 11:19) dan memperkuat perlawanan mereka terhadap Yesus. Dengan demikian, mengapa Yesus terus saja “membuang” begitu banyak waktu dengan orang-orang ini? Mengapa membuat mereka menjadi semakin membenci diri-Nya?

Kadang-kadang Allah melakukan hal-hal dengan cara-cara yang berada di luar ekspektasi kita. Siapa yang akan berpikir bahwa seorang anak yang lahir dari seorang perempuan muda yang menjadi hamil di luar perkawinan itu adalah sang Mesias yang sudah dinanti-nantikan? Siapa yang akan habis berpikir bahwa Allah akan memberikan kunci kerajaan-Nya kepada seorang nelayan Galilea yang tidak sabaran itu? Apabila seorang pemikir agama terkenal hari ini memberi kesaksian bahwa dirinya menjadi buta karena kilat yang dahsyat dari langit dan telah mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain, bagaimanakah kiranya reaksi orang-orang terhadap kesaksiannya itu?

Sejak awal mula, Allah memang telah melakukan hal-hal yang berada di luar ekspektasi – meninggikan orang yang lemah, menurunkan orang-orang yang berkuasa, membuka rahim yang mandul, menghujani umat-Nya dengan manna dari surga, bahkan membangkitkan orang mati untuk hidup kembali. Sebagai para pengikut-Nya, tanggapan terbaik yang dapat kita berikan adalah untuk tetap rendah hati dan terbuka, siap untuk menerima Allah berdasarkan ketentuan-ketentuan-Nya, bukan ketentuan-ketentuan kita. Pada akhirnya, kita akan menemukan Hikmat Allah yang dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan-Nya.

Sebuah contoh yang baik ditunjukkan oleh Gamaliel (guru dari Paulus), seorang tokoh Farisi yang dihormati. Ketika mendengar berita tentang suatu gejala “aneh” yang sedang berkembang dalam masyarakat pada waktu itu – orang-orang tanpa latar pendidikan membuat mukjizat-mukjizat dan memproklamasikan bahwa Yesus adalah Putera Allah yang bangkit – Gamaliel mampu mengangkat dirinya melampaui pemikiran-pemikiran dan ekspektasi-ekspetasinya sendiri. Nasihatnya adalah agar para pemuka agama Yahudi mengambil sikap wait and see, apakah Allah sungguh bekerja dalam diri orang-orang sederhana dan tak terpelajar ini. Gamaliel berkata: “Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah” (Kis 5:38-39). Gamaliel tidak membuat praandaian bahwa dia tahu segalanya tentang sikap dan perilaku Allah. Ia cukup rendah hati untuk “memperkenankan” Allah bekerja dengan cara-cara yang tak terduga-duga.

Seperti Gamaliel, marilah kita juga menjaga diri kita agar tetap rendah hati dan terbuka agar dapat mengenali Allah – walaupun ketika pesan-Nya sungguh di luar ekspektasi.

DOA: Tuhan Yesus, ketika Engkau datang ke tengah dunia, semuanya terjadi dengan cara-cara yang berada di luar ekspektasi kami. Apabila Engkau datang kembali kelak, kami percaya bahwa Engkau pun akan melakukannya dengan cara-cara yang tak terduga-duga. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah agar kami selalu dekat dengan Engkau dalam doa dan tolonglah kami agar terbuka bagi karya-Mu dalam kehidupan kami dan dalam dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:16-19),  bacalah  tulisan yang berjudul “HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA” (bacaan tanggal 15-12-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 13 Desember 2017 [Peringatan S. Lusia, Perawan & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MENELADAN YOHANES PEMBAPTIS

MENELADAN YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes dr Salib, Imam Pujangga Gereja – Kamis, 10 Desember 2017) 

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil  dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada dia. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Surga diserbu dan orang yang menyerbunya mencoba merebutnya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan – jika kamu mau menerimanya – dialah Elia yang akan datang itu, Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (Mat 11:11-15) 

Bacaan Pertama: Yes 41:13-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:1,9-13

Bacaan Injil hari ini banyak berbicara mengenai Yohanes Pembaptis. Ia adalah seorang kudus yang menerima kehormatan tersebut dari Kristus sendiri. Yesus berkata: “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis” (Mat 11:11). Yohanes Pembaptis adalah seorang laki-laki yang memiliki karakter kuat dan yang melakukan pertobatan secara keras. Sebelum itu Yesus bertanya: “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan anginkah? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian haluskah? (Mat 11:7-8).

Yohanes Pembaptis adalah seorang pribadi yang pantas mengemban misi penting yang dipercayakan Allah kepadanya. Dia adalah seorang pribadi yang sungguh cocok untuk tugas mempersiapkan jalan Tuhan (lihat Mat 3:3). Ia juga adalah nabi pertama yang dilihat oleh Israel setelah sekian lama tidak ada nabi yang melayani umat pilihan Allah tersebut. Ribuan orang pergi ke padang gurun untuk mendengar pewartaan Yohanes Pembaptis. Ia berbicara dengan penuh kuasa dan magnitisme. Dia berbicara dengan berani tentang pertobatan dan pentingnya orang-orang kembali kepada Allah, dan ia sendiri merupakan contoh yang memberi inspirasi sehubungan dengan pertobatan dan pengabdian kepada Allah.

Yohanes Pembaptis memperkenankan suatu ritus simbolis tentang pembersihan/ pemurnian. Baptisan, yang membangkitkan dorongan dalam hati para pengikutnya untuk menghasrati suatu pemurnian moral. Pengajaran Yohanes Pembaptis itu sangat menarik dan mengesankan karena dia mampu untuk langsung masuk ke dalam hal-hal yang bersifat hakiki. Tanpa bahasa yang berbelit-belit Yohanes Pembaptis berkhotbah tentang suatu perubahan batin, suatu reformasi rohani dalam hati manusia, sehingga dengan demikian mereka dapat menyediakan ruangan bagi kedatangan sang Penebus Agung. Kepada para pendengarnya, Yohanes Pembaptis memberikan contoh-contoh konkret: (1) Menjawab pertanyaan orang banyak tentang apa yang harus mereka lakukan, Yohanes Pembaptis berkata: “Siapa saja yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa saja yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian” (Luk 3:11); (2) Menjawab pertanyaan para pemungut cukai, dia berkata: “Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu” (Luk 3:13); (3) Menjawab pertanyaan para prajurit, dia berkata: “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah diri dengan gajimu” (Luk 3:14). Kita dapat melihat di sini bahwa ajaran-ajaran Yohanes Pembaptis penuh dengan common sense dan hikmat-kebijaksanaan yang bersifat praktis.

Bahasa Yohanes Pembaptis tegas dan terasa keras, namun mengungkapkan juga seorang pribadi manusia yang sangat rendah hati. Bahkan Herodes Antipas sekali pun – mau tidak mau – harus menaruh respek kepada Yohanes Pembaptis, walaupun sang nabi dengan keras sekali menentang Herodes Antipas terkait pembunuhan-pembunuhannya dan selingkuhnya dengan Herodias.

Di antara kualitas-kualitas pribadi unggulan yang dimiliki oleh Yohanes Pembaptis, yang paling mengesankan adalah kerendahan hatinya yang mendalam. Keberhasilannya tidak pernah sampai ke kepalanya; dia dengan hati dan kepala yang jernih menyadari keterbatasan-keterbatasan dari misi yang dipercayakan kepadanya, yaitu mempersiapkan jalan bagi Seorang Tokoh yang lain. Seseorang yang lebih besar dan agung. Yohanes Pembaptis berkata: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahatahu dan Mahalain, kuduslah nama-Mu. Selidikilah hatiku apakah aku sungguh murni dan jujur dalam melayani-Mu dalam pekerjaan evangelisasi ini. Ujilah diriku, ya Tuhanku dan Allahku. Lihatlah, apakah ada hal-hal dalam diriku yang tidak sesuai dengan kehendak-Mu atas diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “PALUNGAN DAN SALIB” (bacaan tanggal 10-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI

LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Lusia, Perawan Martir – Rabu, 13 Desember 2017) 

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Yes 40:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10 

“Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat11:29).  “Lemah lembut” berarti baik hati, tidak pemarah, tidak juga galak. Sifat pemarah adalah salah satu dari dosa-dosa manusia yang amat berat. Kemarahan dapat menyebabkan perselisihan dalam keluarga, ketegangan dalam lingkungan atau pun dalam paroki, juga dapat menyebabkan kekacauan di dalam masyarakat. Praktis setiap hari kita dapat menonton TV yang menayangkan adegan-adegan kekerasan: tawuran antar para mahasiswa dan/atau pelajar, perang antar desa, konser band yang berakhir dengan kekacauan, konfrontasi antara petugas dan para PKL, dan banyak lagi, termasuk “perang di lapangan sepak bola”. Wajah-wajah yang terlihat adalah wajah-wajah yang penuh kemarahan. Sifat pemarah dikecam keras dalam Kitab Suci: “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.” (Mzm 37:8)  Yesus sendiri juga pernah berfirman, “Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus di hadapkan ke Mahkamah Agama …” (Mat 5:22).

Kesombongan adalah lawan dari kerendahan hati. Sombong, angkuh atau tinggi hati, bahkan termasuk yang pertama dari tujuh dosa maut. Orang yang angkuh tidak disenangi sesama, apalagi oleh Allah: “Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN (YHWH), sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman” (Ams 16:5).  Memang ada bermacam-macam bentuk keangkuhan, namun yang paling berat adalah kesombongan atau keangkuhan rohani, misalnya mereka yang merasa diri lebih suci, lebih pintar dalam hal-ikhwal Alkitab, sehingga sampai-sampai memandang remeh orang lain. Contoh dalam Injil dari orang-orang seperti ini adalah “para ahli Taurat”, “orang Farisi”, juga “orang Saduki” dan para imam kepala. Dalam satu surat katolik yang terkenal ada tertulis: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak 4:6; bdk. Ams 3:34). Demikian pula dalam satu surat katolik lainnya tertulis sebuah petuah ampuh bagaimana caranya berelasi satu sama lain dalam hidup komunitas, apakah di rumah, di lingkungan dan lain sebagainya: “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.’ Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (2 Ptr 5:5-6; bdk. Ams 3:34).  Marilah kita mohon kekuatan dari Allah untuk dapat mempraktekkan semua itu.

“Pikullah gandar yang Kupasang … sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat11:29.30). Mengapa kuk atau gandar yang dipasang oleh Yesus itu menyenangkan dan beban-Nya pun ringan? Apakah hal ini disebabkan karena Yesus menetapkan standar yang rendah bagi kita? Samasekali tidak, karena Yesus pernah berfirman: “Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).  Apakah karena Yesus minta komitmen yang sedikit-sedikit saja dari kita semua? Tidak juga, karena Yesus pernah berfirman: “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat10:38).  Kalau begitu, bagaimana Yesus sampai berkata, bahwa gandar-Nya itu menyenangkan dan beban-Nya ringan? Jawabannya dapat berlainan, tergantung pada imaji (image) Yesus yang digunakan oleh orang yang memberikan jawaban.

Sebuah kuk atau gandar terbuat dari sepotong kayu yang dipasang di atas leher-leher dua ekor hewan (misalnya sapi atau kerbau) agar kedua ekor hewan itu dapat dikendalikan secara bersamaan.  Di mana Yesus dalam gambaran ini? Apakah Ia berjalan di muka kita? Di belakang kita? Apakah Ia berada dalam gerobak yang kita tarik? Samasekali tidak! Ia berada di samping kita, Ia menarik gerobak bersama kita. Dengan perkataan lain, Yesus mengundang kita untuk melepaskan kemandirian kita dan membiarkan kekuatan-Nya menjadi kekuatan kita. Yesus tahu sekali, bahwa kita tidak pernah dapat menjadi serupa dengan Dia atas dasar kekuatan kita sendiri, oleh karena itulah Dia menawarkan kepada kita kekuatan-Nya agar kita dapat melakukan segala hal melalui Dia dan bersama Dia.

Kehadiran Yesuslah yang menyebabkan mengikuti-Nya menjadi mudah-menyenangkan dan ringan. Sebagai manusia seperti kita, Yesus tahu sekali betapa sulitnya hidup ini. Ia tahu apa artinya digoda dan dicobai, dan Ia pun tahu sekali keterbatasan-keterbatasan yang disebabkan kelemahan-kelemahan manusia. Namun, karena Yesus juga mempunyai kodrat ilahi, Yesus adalah sumber segala rahmat dan kekuatan. Ia mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita, dan Ia pun memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Ia merasakan sakit kita, dan Ia berjalan bersama kita, sambil menawarkan kita penyembuhan dan kenyamanan. Sungguh adalah suatu sukacita, apabila Yesus memasang gandar-Nya pada diri kita, dengan demikian kita akan menjadi teman seperjalanan-Nya dalam perjalanan hidup kita. Apakah anda membutuhkan teman yang setia? Apakah anda membutuhkan kekuasaan untuk mengatasi dosa? Teristimewa dalam masa Adven ini, ambillah tempat di sebelah Yesus dengan gandar-Nya. Taruhlah kepercayaan anda pada Yesus dan tariklah kekuatan dari Dia. Yesus yang memiliki Hati yang begitu mencintai, pasti siap menolong anda!

DOA: Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 40:25-31),  bacalah  tulisan yang berjudul “ALLAH ADALAH SANG PEMBERDAYA SEJATI BAGI KITA” (bacaan tanggal 13-12-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Desember 2017 [HARI MINGGU ADVEN II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DOMBA YANG HILANG

DOMBA YANG HILANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan II Adven – Selasa, 12 Desember 2017)

Peringatan SP Maria Guadalupe 

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak yang hilang.” (Mat 18:12-14) 

Bacaan Pertama: Yes 40:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13 

Marilah kita berempati dengan sang gembala dalam perumpamaan ini dengan menempatkan diri sebagai dirinya. Apabila anda adalah gembala yang bertanggung jawab atas seratus ekor domba, apakah anda akan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari seekor domba yang hilang? Tidak seorang pun yang masih atau pernah berkecimpung di dunia bisnis akan melakukannya! Yang jelas seorang pelaku bisnis yang berorientasi pada keuntungan (istilah kerennya: profit making) dan memahami manajemen risiko (risk management) tidak akan melakukannya. Orang itu mempertimbangkan lebih baik kehilangan seekor dombanya dan bekerja lebih keras untuk melindungi domba-dombanya yang masih ada.

Namun demikian, justru pesan Yesus kepada kita adalah yang terasa tak masuk akal itu. Ajaran-Nya terasa radikal, bukan? Nah, Yesus kita ini memang tidak berminat untuk terlibat dalam penghitungan bottom line, untung atau rugi, dan Ia juga tidak tertarik dengan cost analysis seperti saya, atau kita-kita ini yang sekolahnya di bidang ekonomi/bisnis. Yesus telah menginvestasikan dalam diri kita masing-masing gairah dan komitmen yang sama dalam jumlah dan substansinya, tidak peduli siapa kita ini dan jalan apa yang ditempuh oleh kita masing-masing.

Yesus adalah sang Gembala Baik. Ia mempunyai komitmen untuk mencari domba asuhan-Nya yang hilang, apa dan berapa pun biayanya! Dia akan pergi ke mana saja di atas muka bumi ini untuk menemukan kembali siapa saja yang hilang. Kepada kita – satu per satu – Yesus memberi kesempatan untuk memeluk-Nya, merangkul diri-Nya. Bukankah ini adalah prinsip dasar cintakasih dan bela rasa yang kita sedang persiapkan guna merayakan Hari Natal?

Sebenarnya kita masing-masing adalah seekor domba yang hilang. Bayangkanlah di mana kita pada saat ini seandainya cara berpikir Yesus itu tidak berbeda dengan cara berpikir para pelaku bisnis yang menekankan perhitungan rugi-laba belaka: “Ah, biarlah kita menerima sedikit kerugian agar supaya dapat menyelamatkan margin keuntungan kita.” Lalu, pertimbangkanlah cintakasih begitu mengagumkan yang menggerakkan Yesus untuk mengorbankan segalanya untuk membawa kita kembali kepada hati-Nya. Kita berterima kasih penuh syukur kepada Tuhan Allah, karena rancangan-Nya bukanlah rancangan kita (Yes 55:8)! Dalam hal kebaikan, Allah kita memang Mahalain!

Dalam doa-doa kita hari ini, pertimbangkanlah bagaimana cara berpikir kita apabila dibandingkan dengan cara berpikir Yesus. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk melihat keluarga kita, sahabat-sahabat kita dan sesama kita dibawa ke dalam Kerajaan Allah, dan negeri kita tercinta mengalami kelimpahan berkat karena mengenal Kristus? Marilah kita bertanya kepada Roh Kudus, langkah-langkah apa yang harus kita ambil hari ini agar cara berpikir kita semakin dekat dengan cara berpikir Yesus. Memang hal ini tidak selalu mudah, akan tetapi percayalah bahwa Yesus – sang Gembala Baik – tidak akan meninggalkan kita. Dan …… Roh Kudus-Nya akan mengajar kita agar cara-cara-Nya dapat menjadi cara-cara kita, dan pikiran-pikiran-Nya menjadi pikiran-pikiran kita. Marilah kita menjalani masa Adven ini dengan memuji-muji Yesus yang akan datang menyelamatkan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihiku dengan kasih yang menakjubkan. Terima kasih karena Engkau datang ke tengah dunia untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Yesus, dan akan selalu setia mengikuti jejak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:12-14),  bacalah  tulisan yang berjudul “BUKANKAH KITA JUGA ADALAH DOMBA-DOMBA HILANG YANG DISELAMATKAN OLEH YESUS?” (bacaan tanggal 12-12-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 Desember 2017 [HARI MINGGU ADVEN II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

WAJAH SEJATI ALLAH ADALAH KASIH

WAJAH SEJATI ALLAH ADALAH KASIH YANG MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Senin, 11 Desember 2017)

Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atas atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat melihat iman mereka, berkatalah Ia, “Hai saudara, dosa-dosamu sudah diampuni.” Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya, “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah sendiri?” Akan tetapi, Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu – “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya, “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.” (Luk 5:17-26) 

Bacaan Pertama: Yes 35:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Ini adalah sebuah “adegan” yang sungguh konkret. Cerita ini mengungkapkan great expectations dari orang kebanyakan, suatu hasrat kuat dan sangat manusiawi untuk memperoleh kesembuhan fisik. Datang saja ke acara kebangunan rohani atau “Misa Penyembuhan” untuk menyaksikan dengan mata-kepala  sendiri, malah kita mungkin mengalami  sendiri kesembuhan itu. Kesembuhan-kesembuhan terjadi, meskipun yang disembuhkan belum tentu datang karena didorong motif yang sepenuhnya spiritual. Cerita ini juga menggambarkan, bahwa sepanjang sejarah manusia Allah menghendaki, bahkan memiliki hasrat besar, untuk mengampuni pendosa yang bertobat. Kita tentu percaya bahwa hal ini benar karena iman kita akan kerahiman atau belaskasih Allah. Namun dengan kedatangan Yesus ke tengah-tengah umat manusia, pengampunan dosa itu mengambil sebuah bentuk pengungkapan manusia yang baru, yang membawa kita kepada suatu kepastian.

Berkat-berkat serta karunia-karunia Allah tidak selalu menyangkut hal-ikhwal yang bersifat badani. Pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari Allah ada dalam hati manusia. Karunia agung dari Allah adalah pemerdekaan/pembebasan dari dosa-dosa. Bisa saja orang lumpuh ini, yang membutuhkan pertolongan dan sepenuhnya menggantungkan diri pada orang-orang lain yang boleh dikatakan “nekat”, merupakan seorang pribadi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Kita maklumi ada cukup banyak orang menolak pengampunan Allah karena sebuah alasan tunggal, yaitu bahwa mereka tidak mau “menerima” pengampunan itu lewat orang lain. “Mohon pengampunan Allah” mensyaratkan bahwa orang bersangkutan mengakui keterbatasan-keterbatasan dirinya dan menghaturkan permohonan dengan sangat akan turunnya Kerahiman Ilahi ke atas dirinya, namun kesombongan tersembunyi dapat menghalangi dia untuk mengambil langkah seperti itu. Banyak orang berpikir bahwa dirinya “mandiri”, self- sufficient, mereka mau keluar dari kesusahan hanya berdasarkan kekuatan mereka sendiri. Yesus mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dengan mengucapkan kata-kata manusia: “Hai Saudara, dosa-dosamu sudah diampuni” (Luk 5:20).

Ketika para pemuka agama menolak cara pemberian pengampunan seperti ini, Yesus menanggapi dengan suatu tanda yang mudah dilihat oleh mata manusia: Dia menyembuhkan orang lumpuh itu melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa mengampuni dosa melalui firman-Nya. Apa yang diucapkan Yesus ini sama kuatnya dengan kata-kata: “Angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Luk 5:24).

Reaksi negatif para pemuka agama juga menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum siap untuk menerima keselamatan. Mereka telah membangun bagi diri mereka sendiri sebuah “agama yang penuh dengan kebenaran moral”, dan berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang akan berjaya merebut keselamatan dengan mengikuti kehendak mereka sendiri. Kita sering mengalami keraguan untuk menerima sakramen tobat dari seorang imam yang mewakili Kristus (lihat Yoh 20:21-23). Mungkin kita memiliki sikap yang agak mirip dengan para pemuka agama pada zaman Yesus itu. Di batin kita yang paling dalam, kita merasa takut, karena kita selalu kembali dan kembali lagi ke dalam dosa-dosa yang sama. Di kedalaman hati kita mungkin saja ada suatu hasrat ambisius untuk menjadi seorang yang “benar”, sehingga tidak perlu lagi mohon pengampunan dari Allah – artinya “kita bisa dan mampu melakukan apa saja tanpa Allah!”  Ada juga yang mengatakan, “Tetapi, apakah Allah tidak dapat mengampuni dosa-dosaku, bahkan dosa yang paling jelek sekali pun, apabila aku mohon pengampunan dari Dia secara langsung?” Tanggapan saya: “Iman saya mengatakan, bahwa Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya, namun biasanya dalam kehidupan Gereja di mana saya adalah anggotanya, pengampunan atas dosa-dosa yang sungguh serius diperoleh melalui Sakramen Rekonsiliasi.”

Wajah sejati Allah adalah “Kasih yang mengampuni” dan bukanlah “Hakim yang senang menghukum”. Inilah mukjizat besar yang tak henti-hentinya dibuat oleh Allah. Namun untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang tak kelihatan ini sungguh riil adanya, maka Yesus menggaris-bawahinya dengan sebuah mukjizat yang berwujud. Inilah inti bacaan Injil hari ini!

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur atas pengampunan dan kesembuhan yang begitu sering Kauberikan kepadaku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, roh sukacita dan puji-pujian, sehingga segala karunia Roh yang diberikan kepadaku dapat kupersembahkan kembali kepada-Mu lewat pengabdianku kepada sesamaku, semua seturut kehendak-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 35:1-10), bacalah tulisan berjudul “DI PADANG GURUN” (bacaan tanggal 11-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini  adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PADANG GURUN

PADANG GURUN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II [Tahun B],  10 Desember 2017) 

 

Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. Seperti ada tertulis dalam kitab Nabi Yesaya, “Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, Ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun, Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”, demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa. Maka berdatanganlah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis olehnya di Sungai Yordan. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”  (Mrk 1:1-8)

Bacaan Pertama: Yes 40:1-5,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan Kedua 2Ptr 3:8-14  

Pernahkah anda memikirkan betapa pentingnya peran dari “padang gurun” dalam Kitab Suci? Dalam perjalanan mereka menuju tanah terjanji, anak-anak Abraham menempuh perjalanan melalui padang gurun untuk selama 40 tahun, sampai mereka benar-benar belajar untuk menaruh kepercayaan kepada YHWH. Nabi Yeremia bernubuat bahwa mereka yang terluput dari pedang penghakiman Allah akan menemukan rahmat yang tak henti-hentinya selama mereka berada di padang gurun (Yer 31:2). Bahkan Yesus sendiri pun dipimpin oleh Roh Kudus pergi ke padang gurun untuk berdoa dan berpuasa selama 40 hari guna mempersiapkan diri-Nya sebelum melakukan pelayanan publik. Di padang gurun itulah Yesus dicobai oleh Iblis, dan di sana Dia tinggal bersama binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia (Mrk 1:12-13).

Kelihatannya apabila kita ingin berada dekat dengan Tuhan Allah, kita akan bertemu dengan padang gurun dan mengalaminya pada salah satu titik yang ada sepanjang jalan kehidupan kita. Apakah padang gurun kita? Padang gurun adalah “hidup lama” kita dalam kedosaan dan terpisahnya kita dari Allah. Padang gurun adalah bagian dari kita yang tetap liar dan belum jinak, yang belum diserahkan kepada Tuhan.

Kabar baik bahwa kita sedang mempersiapkan perayaan Natal adalah bahwa kita perlu menunggu sampai kita telah menjinakkan padang gurun kita sebelum dapat datang kepada Yesus. Namun pada kenyataannya, sebaliknyalah yang terjadi. Kita perlu pertama-tama memperkenankan Yesus masuk ke dalam hati kita, dan padang gurun kita pun secara bertahap akan ditransformasikan.

Seperti Yohanes Pembaptis yang mengundang orang-orang ke padang gurun untuk menerima baptisan tobatnya, begitu pula Yesus mengundang kita ke padang gurun dalam kehidupan kita. Selagi kita memasuki tempat-tempat yang gelap dan liar itu, kita dapat dibuat terkejut melihat Yesus ada di sana sedang menunggu kita. Dia berada di tempat tempat di mana kita merasa sebagai tempat-tempat yang paling tandus dan tidak menarik. Di tempat-tempat seperti itulah Yesus menawarkan kepada kita kesembuhan dan pemulihan. Ia ada di sana, siap untuk membersihkan semak-semak dan mengubah pasir yang panas menjadi sebuah kebun yang subur, dan mengisi tanah lapang yang kosong dengan pohon-pohon yang penuh dengan buah lezat.

Dosa kita telah diampuni. Yesus telah membayar harganya. Yang kita butuhkan adalah berlari kepada-Nya melewati jalan yang berliku-liku dan mohon pengampunan serta kesembuhan dari-Nya. Dia akan membuat jalan kita yang berliku-liku menjadi jalan yang lurus. Dalam masa Adven yang penuh rahmat ini, marilah kita mengambil manfaat dari Sakramen Rekonsiliasi, di mana kita dapat mengalami pengampunan dengan cara yang konkret. Baiklah kita mengetahui bahwa selagi kita mengakui dosa-dosa kita dan yakin akan memperoleh pengampunan dari Allah, maka kita pun akan mengalami penyegaran dari Yesus dan mampu untuk mulai lagi.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau siap untuk melangkah masuk ke padang gurunku dan membersihkannya demi aku. Terima kasih untuk kasih-Mu dan belas kasih-Mu. Tolonglah aku untuk lebih sadar akan dosa-dosaku, sehingga dengan demikian aku dapat membawa semua itu kepada-Mu agar aku mengalami pengampunan dari-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA MELALUI PERTOBATAN” (bacaan tanggal 10-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-12-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 7 Desember 2017 [Peringatan S. Ambrosius, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DENGAN CUMA-CUMA KITA MEMPEROLEH, DENGAN CUMA-CUMA PULA KITA HARUS MEMBERIKAN

DENGAN CUMA-CUMA KITA MEMPEROLEH, DENGAN CUMA-CUMA PULA KITA HARUS MEMBERIKAN 

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Sabtu, 9 Desember 2017)

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan membertakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan.

Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kami telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.  (Mat 9:35-10:1,6-8) 

Bacaan Pertama: Yes 30:19-21,23-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-6

Yesus mengutus para rasul untuk pergi ke seluruh penjuru dunia guna melanjutkan karya-Nya mengajar, menyembuhkan dan memproklamasikan Kerajaan Allah. Ini menandakan suatu langkah penting dalam rencana Allah bagi umat-Nya. Hal ini memungkinkan Kabar Baik tersedia bagi jumlah orang yang lebih besar, yang terlalu jauh bagi Yesus sendiri untuk secara pribadi melakukannya. Pada akhirnya hal ini telah mengakibatkan Injil disebarkan secara berkesinambungan dari tahun ke tahun, untuk lebih dari dua puluh abad lamanya setelah peristiwa Yesus dan murid-murid-Nya pertama kali terjadi.

Mereka yang mewartakan Injil dipanggil untuk bekerja melalui kuat-kuasa Roh Kudus guna membawa kepada kita arahan Allah bagi hidup kita. Itu adalah kepenuhan janji yang dibuat Yesaya: “Telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: ‘Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya, entah kamu menganan atau mengiri’” (Yes 30:21).

Pada waktu Yesus mengutus para rasul-Nya untuk pergi mewartakan Injil Kerajaan Surga, Dia memberikan kepada mereka otoritas yang riil atas roh-roh jahat dan juga untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan kelemahan (Mat 10:1; 6-8). Otoritas ini merupakan suatu kesaksian terhadap kebenaran dari proklamasi Kerajaan Surga. Seseorang dapat saja berpikir bahwa jika setelah 2000 tahun pewartaan Injil dilakukan seperti ini, maka seluruh dunia akan dipertobatkan! Namun sayangnya, seperti dikemukakan oleh Yesus, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat 9:37). Bahkan dari pekerja yang sedikit itu, mereka yang pernah dengan lantang mewartakan Kabar Baik kemudian – karena satu dan lain hal – menjadi semakin menyusut dalam pengaruhnya sebagai pewarta. Kadang-kadang hal ini sebagai akibat dari kesalahan mereka sendiri; akan tetapi seringkali karena Kabar Baik Kerajaan Allah yang mereka wartakan harus berhadapan dengan perlawanan yang tidak jarang mengambil cara-cara kekerasan, penolakan atau sikap apatis.

Paus Santo Gregorius Agung [540-604] – seorang pujangga Gereja – pernah menulis sebagai berikut: Kejahatan dari sang pengkhotbah/pewarta tetap dapat lidahnya sendiri …… namun kejahatan para pendengarnya juga dapat membungkam suara sang pengkhotbah/pewarta, seperti diindikasikan oleh TUHAN ketika Dia berkata kepada Yehezkiel: “Aku akan membuat lidahmu melekat pada langit-langit mulutmu dan engkau akan menjadi bisu dan tidak mengucapkan nasihat, karena umat ini memprovokasi kemurkaan-Ku.” Seakan Dia berkata,  “Aku mengambil (kembali) kuasamu untuk berkhotbah/mewartakan karena umat ini membuat Aku marah dengan tindakan-tindakan mereka dan tidak pantas untuk mendengar kebenaran” (Homili 17).

Kita perlu memeriksa sikap-sikap kita supaya yakin bahwa hati kita terbuka bagi Injil, di mana pun Injil itu diwartakan dan diproklamasikan. Kita tidak boleh memperkenankan distraksi (pelanturan), rasa lelah, atau bahkan prasangka pribadi mencegah kita mendengar apa yang Allah coba katakan kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar memiliki kerinduan akan bimbingan-Mu. Buatlah agar telinga kami berhasrat untuk mendengar sabda-Mu dan hati kami haus akan kebenaran-Mu, di mana saja hal itu diwartakan/dikhotbahkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari (Mat 9:35-10:1,6-8), bacalah tulisan yang berjudul “TUAIAN MEMANG BANYAK, TETAPI PEKERJA SEDIKIT” (bacaan tanggal 5-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Desember 2017 [Peringatan S. Ambrosius, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS