BAPAMU YANG MELIHAT YANG TERSEMBUNYI AKAN MEMBALASNYA KEPADAMU

BAPAMU YANG MELIHAT YANG TERSEMBUNYI AKAN MEMBALASNYA KEPADAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU ABU – 1 Maret 2017)

 8391359331455079461

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan  berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6,16-18) 

Bacaan Pertama: Yl 2:12-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,12-14,17; Bacaan Kedua: 2 Kor 5:20-6:2 

Hari “Rabu Abu” ini adalah awal dari Masa Prapaskah. Bacaan Injil hari ini diambil dari “Khotbah di Bukit” yang terdapat dalam Injil Matius.

Pada saat Yesus dibaptis di Sungai Yordan, Bapa surgawi mengatakan bahwa Yesus adalah Putera-Nya yang terkasih: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17). Kemudian Yesus dibimbing oleh Roh Kudus pergi ke padang gurun di mana Iblis mencobai-Nya untuk membuat diri-Nya ragu-ragu apakah Dia memang Putera Allah yang terkasih atau bukan (Mat 4:1,3). Dengan berpuasa selama 40 hari dan 40 malam, Yesus mengalahkan godaan si Iblis dan meninggalkan padang gurun dalam kuasa Roh (Luk 4:14) dan Ia pun diteguhkan sebagai Putera Bapa yang terkasih.

Selama Masa Prapaskah, kita mencontoh/meneladan Yesus di padang gurun. Dalam 40 hari ini, Bapa surgawi meneguhkan kita sebagai anak-anak-Nya yang terkasih. Segala sesuatu dalam Masa Prapaska ini hendaknya memperdalam keyakinan kita bahwa Bapa surgawi sungguh mengasihi kita – secara sempurna, tak terhingga, tanpa syarat dan untuk selama-lamanya.

Misalnya, ketika kita memberikan sedekah atau donasi untuk Aksi Puasa selama Masa Prapaska, Bapa surgawi senantiasa membimbing kita untuk memberikan sebanyak mungkin sehingga kita perlu uang ekstra atau sumber penghasilan lain guna keperluan hidup kita sendiri. Tidak seorang pun mengetahui kebutuhan kita, tetapi Bapa surgawi yang melihat yang tersembunyi akan memberikan balasan kepada kita (lihat Mat 6:4).

Bapa surgawi juga membalas doa-doa pribadi kita  (Mat 6:6). Hal ini membantu kita menjadi semakin yakin akan  kasih-Nya kepada kita. Akhirnya, Bapa surgawi berkenan memanggil kita untuk berpuass sedemikian keras sampai kita tidak memiliki makanan yang cukup untuk tetap bertenaga. Walaupun demikian, kita akan memiliki semua kekuatan yang kita butuhkan, karena Bapa surgawi akan membalas kita (Mat 6:18).

Saudari dan Saudaraku, Masa Prapaska adalah masa yang sungguh istimewa untuk membiarkan Allah Bapa menjadi ayah kita. Menjelang Paska, kita dapat menjadi begitu aman dalam kasih Bapa yang membuat kita melakukan segala sesuatu bagi Dia, memiliki damai-sejahtera yang mendalam, penuh sukacita dan menjadi bebas dari rasa takut.

DOA: Bapa surgawi, pada hari Rabu Abu ini, buatlah diri kami agar menyadari bahwa kami hanyalah debu tetapi sekaligus adalah anak-anak-Mu yang terkasih. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yl 2:12-18), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MENGOYAKKAN HATI KITA MASING-MASING” (bacaan tanggal 1-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-2-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Februari 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SERATUS KALI LIPAT

SERATUS KALI LIPAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII Selasa,  28 Februari 2017) 

1-0-jesus-christ-super-starLalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang karena aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, atau saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau ibunya atau bapanya, atau anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mrk 10:28-31) 

Bacaan Pertama: Sir 35:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-8,14,23 

Bacaan hari ini dapat dipandang sebagai sebuah penghiburan yang memberikan rasa lega, apabila dibandingkan dengan kata-kata Yesus yang keras (the hard sayings of Jesus) yang baru saja diucapkan-Nya kepada para pengikutnya. Yesus memang seorang radikal yang sering membuat kata-kata serta tindakan-tindakan-Nya menggoncang hati mereka yang mendengar atau melihat-Nya. Ketika si orang muda-kaya datang mendekati Yesus, ada rasa bangga atas dirinya sendiri karena sebagai seorang Yahudi dia selama itu telah berhasil mematuhi perintah-perintah Allah. Namun Yesus menanggapi pertanyaan orang muda-kaya itu dengan menetapkan beberapa tuntutan yang sungguh mengagetkan bagi seluruh dunia dari abad ke abad.

Tuntutan-tuntutan Yesus yang keras ini telah “melahirkan” para anggota Gereja yang menjadi tokoh-tokoh pembaharuan penuh dedikasi seperti Santo Benediktus [480-547], Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226], Santo Dominikus [1170-1221], Santo Ignatius dari Loyola [1491-1556], Santa Teresa dari Avila [1515-1582], dll., juga sekian banyak anggota yang berdedikasi dari berbagai tarekat religius atau katakanlah “keluarga rohani” dalam Gereja. Para perempuan dan laki-laki kudus ini praktis mengikuti secara literer kata-kata yang diucapkan oleh Yesus ketika Dia menanggapi pertanyaan si orang-muda kaya itu: “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21).

saint-peter-100Perihal kata-kata Yesus ini tidak ada “kalau begini” atau “kalau begitu”. Seorang murid Yesus adalah dia yang sepenuhnya melepaskan diri dari setiap hal dan setiap orang. Dalam kata-kata Yesus, seorang murid “melepaskan rumahnya, saudari dan saudaranya, ibu dan ayahnya, anak-anaknya atau harta-kekayaannya” bagi Yesus dan bagi Injil. Yesus memang seorang pemimpin yang radikal! Seorang murid Yesus yang sejati adalah seseorang yang secara total-penuh melekat pada Yesus dan Kerajaan-Nya yang baru. Orang itu harus mengistimewakan Yesus di atas segala sesuatu yang dicintai dunia. Seorang murid Yesus yang “awam” boleh-boleh saja diberkati oleh Allah dengan harta-kekayaan, kekuasaan dll. namun semua itu tidak boleh menjadi berhalanya (idola-nya). Yang boleh dikejar-kejar dan disembah olehnya hanyalah  Tuhan saja!

Tuntutan radikal dari Yesus sungguh mengejutkan para murid-Nya, apalagi ketika Dia mengatakan: “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Mat 10:23). Yesus melanjutkan: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mrk 10:24-25). Para murid semakin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang akan diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab sregala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:26-27).

Sejarah para kudus, para anggota Gereja Kristus yang penuh dedikasi dari segala tempat dan masa, menunjukkan kepada kita bahwa Allah sungguh dapat memberi anak-anak-Nya kuasa untuk melakukan dedikasi secara total kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah menjanjikan para murid-Mu ganjaran sebanyak seratus kali lipat pada masa ini, masa yang akan datang dan akan menerima kehidupan kekal, apabila mereka setia dalam mengikuti jejak-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu jagalah kami agar senantiasa menjadi murid-Mu yang patuh dan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:28-31); bacalah tulisan yang berjudul “IA AKAN MENERIMA HIDUP YANG KEKAL” (bacaan tanggal 28-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

Jakarta, 26 Februari 2017 [HARI MINGGU BIASA VIII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA

TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Senin, 27 Februari 2017) 

kemuridan-rich-young-man-and-christPada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27) 

Bacaan Pertama: Sir 17:24-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7

Yesus baru saja memberi peringatan kepada para murid-Nya untuk tidak membuat diri mereka menjadi penghalang terhadap upaya mereka untuk mengasihi Allah. Yesus mengingatkan buruknya kesombongan/keangkuhan dan iri hati. Kiranya Dia mengatakan, “Jagalah dirimu agar tetap kecil!” Yesus bersabda, “Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:15-16).

Sekarang Yesus juga memperingatkan kita berkaitan dengan menempatkan hal-hal yang menghalangi aliran kasih Allah kepada umat-Nya. Orang yang datang kepada Yesus (anak muda kaya) dalam bacaan Injil hari ini ingin mengetahui apa yang harus diperbuatnya untuk memperoleh hidup yang kekal (Mrk 10:17). Yesus mengingatkan dia bahwa ada “panduannya”, yaitu perintah-perintah Allah. Orang itu menjawab: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku” (Mrk 10:20).

Yesus memandang pakaian halus dan intan-permata mahal yang dikenakan orang itu. Orang itu boleh dikatakan cukup tulus, tetapi belum di-tes (diuji). Ia berpakaian baik, makan-minum dengan baik pula, cukup terlindungi dari beratnya beban kehidupan. Sekarang tibalah saatnya bagi dia untuk menghadapi realitas: moment of truth. Yesus memandang orang itu dengan kasih dan berkata kira-kira begini: “Sahabatku, engkau membutuhkan satu hal lagi. Engkau berada dalam bahaya karena membiarkan kerajaan dunia menghalangi jalanmu menuju Kerajaan Allah.” …… “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21-22). Hal ini dapat diartikan: “Pilihlah kemiskinan secara sukarela, pemberian-diri yang lengkap-total; percaya sepenuhnya kepada Allah untuk kebutuhan-kebutuhanmu di dunia.”

Mendengar jawaban Yesus, orang itu sungguh merasa terkejut. Jadi, kita dapat mengira bahwa dia tidak meminta Yesus untuk menantangnya, melainkan sekadar menyetujui “hidupnya yang baik” selama ini. Yesus telah membuka pintu lebar-lebar agar orang itu mengalami pertumbuhan spiritual. Namun terang-Nya begitu jelas datang melalui pintu yang terbuka itu, dan terang-Nya itu menunjukkan dengan jelas bahwa orang itu sangat terlekat pada harta miliknya. Dia dirantai, terbelenggu dan tak berdaya untuk membebaskan dirinya untuk mengikut Yesus.

Para murid Yesus selalu berpikir bahwa harta kekayaan adalah berkat dari Allah! Mereka bertanya: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Jawaban Yesus kiranya berbunyi begini: “Orang tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri. Namun Allah dapat berbuat apa saja”. “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27 bdk. Luk1:37).

DOA: Tuhan Yesus, betapa bebas Engkau dan bagaimana orang kaya itu terbelenggu tak berdaya. Dia pergi dengan sedih hati karena banyak hartanya. Engkau memandang dia, kiranya sambil menggeleng-gelengkan kepala-Mu. Dan, ketika Engkau berpaling kepada para murid-Mu, Engkau berkata bahwa alangkah sukarnya bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Yesus, jagalah agar kami tetap setia sebagai murid-murid-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 10:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “KUNCI MASUK KE DALAM KEBAHAGIAAN KEKAL(bacaan tanggal 27-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 1702 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-3-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERDOA, BEKERJA DAN BEREKREASI

BERDOA, BEKERJA DAN BEREKREASI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VIII (Tahun A), 26 Februari 2017) 

jesus_christ_picture_013“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

“Karena itu, aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:24-34) 

Bacaan Pertama: Yes 49:14-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:2-3,6-9; Bacaan Kedua: 1Kor 4:1-5 

Ada sebuah pepatah Latin kuno yang berbunyi: “Age quod agis”. Secara harfiah kalimat ini berarti, “Lakukanlah apa yang anda lakukan”. Ada beberapa contoh untuk menunjukkan bagaimana pepatah itu harus diterapkan.

Misalnya ketika kita datang ke gereja, kita harus datang dengan niat untuk berdoa kepada Allah dan memperdalam iman-kepercayaan kita. Datang ke gereja berarti waktu untuk menyanyikan berbagai madah, mendengarkan bacaan dari Kitab Suci, menerapkan apa yang dipesankan dalam homili, mengulurkan tangan penuh damai dan menerima Komuni Kudus. Ini adalah waktu bagi kita untuk sungguh-sungguh melakukan segala sesuatu apa yang kita niati untuk melakukannya di gereja. Hal yang sama berlaku untuk pekerjaan kita. Kita harus melakukan pekerjaan satu hari kerja penuh untuk upah/gaji untuk satu hari kerja. Ketika kerja harian kita selesai, maka kita harus melibatkan diri kita secara lengkap dalam kegiatan-kegiatan lainnya.

Apabila kita pergi menonton film di bioskop, maka kita harus melibatkan diri kita dalam “plot” yang sedang kita tonton, lalu menimbang-nimbang apa yang ingin dilakukan oleh sang sutradara – ke mana dia ingin membawa kita, juga baik-tidaknya para aktor dan aktris dalam memainkan peranan mereka masing-masing dalam film tersebut. Ada seorang ibu yang merasa kesal dengan suaminya yang selalu mengeluh selama film diputar dan selalu mau pulang sebelum film selesai dengan alasan agar tidak terjebak dalam kemacetan ketika berusaha keluar dari tempat parkir. Inilah satu contoh lagi seseorang yang tidak melakukan apa yang (harus) dilakukannya.

Sejak lama orang-orang mengakui, bahwa (1) berdoa, (2) bekerja dan (3) berekreasi adalah tiga unsur hakiki dari ritme kehidupan. Inilah yang dengan jelas dikhotbahkan oleh Santo Benediktus [480-547] dan dimasukkan olehnya ke dalam peraturan hidup ordo yang didirikannya. Kita tidak diharapkan untuk melakukan secara berlebihan atau dalam takaran yang kurang, salah satu dari ketiga unsur ini, namun jika sedang melakukan salah satu dari tiga kegiatan tadi, maka kita harus melakukannya dengan perhatian penuh.

Yesus mengatakan sesuatu yang menyemangati hati kita, kira-kira begini: “janganlah khawatir tentang hari esok, kita harus harus hidup untuk hari ini”. Singkatnya, Yesus mengatakan, “Age quod agis”.

Dalam bacaan Injil hari, Yesus menjelaskan bahwa burung-burung di udara menunjukkan akal sehat (common sense) yang lebih baik daripada sementara orang. Burung-burung itu melakukan pekerjaan harian mereka dengan baik, memperbaiki sangkar mereka, memberi makan anak-anak mereka, mengusir para predator dan kemudian tidur dengan penuh damai. Yesus mengatakan, bahwa burung-burung itu bersikap “don’t worry – be happy!”, dan Ia menasihati kita untuk mencontoh burung-burung tersebut.

Demikian pula dengan bunga-bunga bakung yang menghias lembah-lembah dan lereng-lereng gunung dan tidak pernah menggerutu satu sama lain tentang siapa yang paling indah. Oleh karena itu, bukankah ini saatnya bagi kita untuk membebaskan pikiran kita dari kompetisi terus-menerus dan tidak sehat dalam berupaya mencari uang, meningkatkan status-sosial kita dalam masyarakat, dlsb.? Bukankah ini saatnya untuk menikmati keindahan alam di sekeliling kita? Bukankah kita perlu menyediakan waktu untuk melihat burung-burung yang berterbangan di udara dan hinggap di dahan pohon yang terletak di pekarangan kita? Bukankah ini saatnya bagi kita untuk menikmati indah dan harumnya bunga-bunga di depan mata kita? Dengan demikian kita tetap tidak lari dari realitas dan tetap hidup harmonis dengan Allah dan sesama. Janganlah kita pernah berpikir bahwa hanya para penyair saja, para seniman saja dan para invcntor saja yang membutuhkan waktu rileks – kita semua memerlukannya.

Bacaan Injil hari ini adalah salah satu teks yang paling indah dalam “Khotbah di Bukit”, malah dalam Kitab Suci secara keseluruhan. Pesan Yesus ini mengalir dengan gaya yang bebas dan terbuka, yang menasihati kita untuk rileks, berhenti “worrying” dan menikmati damai-sejahtera-Nya. Inilah cara Yesus untuk mengatakan, “Have a good day!” kepada kita.

DOA: Bapa surgawi, kasih dan perhatian-Mu terhadap kami sungguh tak terhingga; sungguh total-lengkap, intim dan mempribadi bagi kami masing-masing – anak-anak-Mu dalam Yesus Kristus. Dosa-dosa kami telah Kaubersihkan, dan Engkau telah melakukan semua dengan kasih-sayang yang hanya dapat diberikan oleh seorang ayah yang sejati. Oleh karena itu, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, jauhkanlah kami dari kekhawatiran akan hari esok, dan perkenankanlah kami agar memiliki kebijaksanaan dalam memakai waktu kami untuk berdoa, bekerja dan rekreasi dengan seimbang. Kami sungguh membutuhkan tangan-Mu yang kuat untuk menuntun kami berjalan setiap hari. Amin.    

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:24-34), bacalah tulisan yang berjudul “BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 26-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-3-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Februari 201 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEPERTI SEORANG ANAK KECIL

SEPERTI SEORANG ANAK KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Sabtu, 25 Februari 2017) 

yesus-dan-anak-anak-7Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menyentuh mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Melihat hal itu, Yesus marah dan berkata kepada mereka, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka ia memberkati mereka. (Mrk 10:13-16) 

Bacaan Pertama: Sir 17:1-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:13-18 

Yesus mengasihi anak-anak kecil. Ia menjadi marah ketika melihat para murid-Nya memarahi orang-orang yang membawa anak-anak kecil kepada Yesus. Ia tidak setuju apabila para murid menghalang-halangi anak-anak kecil untuk bertemu dengan diri-Nya. Yesus memeluk/merangkul anak-anak itu, memberkati mereka sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka. Inilah justru yang diinginkan oleh para orangtua; mereka ingin melihat Yesus paling sedikit menyentuh anak-anak mereka.

Apakah Yesus tidak lebih daripada seorang politisi, yang mencoba mengumpulkan pengikut melalui keterikatan batin yang erat antara para orangtua dan anak-anak mereka? Para politisi suka membuat foto di mana terlihat dia sedang memegang, memeluk atau mencium seorang anak kecil, lalu foto itu tersebar di berbagaai macam media.

Apabila kita membaca satu/dua kalimat saja dalam Injil, maka kita langsung melihat bahwa mencari popularitas bukanlah niat atau maksud Yesus. Kiranya dalam kasus ini, Yesus menggunakannya sebagai kesempatan untuk mengajar para murid-Nya (termasuk kita juga) sebuah pelajaran penting. Tentunya ada soal sederhana sehubungan dengan cintakasih dan kebaikan hati yang mau ditunjukkan oleh Yesus kepada siapa saja yang dibawa kepada-Nya. Namun melampaui hal itu, Yesus menggunakan anak-anak kecil ini sebagai sebuah lambang/simbol orang-orang yang miskin di dalam roh, orang-orang rendahan, “wong cilik” dalam komunitas Kristiani. Ini adalah kesekian kalinya Yesus menekankan/menggaris-bawahi bahwa Allah mengasihi orang-orang yang sering tidak dipandang mata, miskin dlsb., padahal pandangan keagamaan pada zaman itu adalah bahwa kemiskinan dan penderitaan merupakan penghukuman atas dosa-dosa pribadi.

Yesus seakan berkata bahwa lebih mudahlah bagi orang-orang rendahan, miskin dlsb. itu untuk memahami dan menerima Pemerintahan Allah. Tentu lebih mudahlah bagi seorang anak kecil untuk mengatakan: “Abba, Bapa”. Jadi, apabila kita ingin memiliki sikap seorang anak kecil terhadap Allah, Bapa kita, Yesus mengatakan bahwa kita harus menjadi seperti anak-anak kecil. Ia bersabda: “Sesunggguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Mrk 10:15).

Membaca sabda Yesus di atas, bukanlah berarti bahwa kita harus terus bersikap kekanak-kanakan (childish), tidak pernah matang. Kita harus memiliki sifat keterbukaan, kerendahan-hati, dan ketidakpura-puraan sebagian besar anak-anak kecil. Anak-anak kecil dapat dilatih. Karakter-karakter mereka masih dapat dibentuk. Dengan demikian kita pun harus mencoba menjadi tanah liat di tangan-tangan Allah, sehingga Dia dapat membentuk kita semakin sempurna lagi dalam keserupaan dengan Yesus Kristus. Inilah yang dimaksudkan apabila kita diminta untuk menjadi seperti anak-anak kecil, apabila kita ikut ambil bagian dalam Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus, bentuklah aku agar dapat menjadi seperti seorang anak kecil, dengan demikian dapat ikut ambil bagian dalam Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS INGIN AGAR ANAK-ANAK ITU DATANG KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 25-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

Cilandak, 23 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TENTANG PERCERAIAN

TENTANG PERCERAIAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa – Jumat, 24 Februari 2017) 

jesus_christ_picture_013Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang Sungai Yordan dan orang banyak datang lagi berkerumun di sekeliling Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka lagi. Lalu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya lagi kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Siapa saja yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia berzina terhadap istrinya itu. Jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berzina.” (Mrk 10:1-12) 

Bacaan Pertama: Sir 6:5-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:12,16,18,27,34-35 

Pertanyaan orang-orang Farisi tentang perkawinan itu sesungguhnya untuk menjebak Yesus dengan kata-kata yang diucapkan-Nya sendiri. Kaum Farisi tidak melakukan hal seperti ini sekali saja. Hal-hal seperti ini bukanlah fenomena zaman Yesus saja karena pertanyaan-pertanyaan menjebak (halusnya: untuk men-tes) dapat ditemui di mana saja dan kapan saja dalam sejarah umat manusia, bahkan tidak jarang misalnya diajukan oleh peserta-peserta tertentu dalam pertemuan pendalaman Kitab Suci. Kalau tidak ditangani secara arif, maka pertemuan Kitab Suci dapat menjadi ajang debat-kusir yang melenceng jauh dari cita-cita kerasulan Kitab Suci.

Walaupun pertanyaan orang-orang Farisi di atas dapat dijawab secara sederhana oleh Yesus dengan kata ‘ya’ atau ‘tidak’, pertanyaan-pertanyaan tersebut menyangkut berbagai tafsir yang cukup kompleks atas Hukum Yahudi. Kalau seandainya Yesus membenarkan perceraian, maka Dia dapat dituduh menyalahkan Yohanes Pembaptis yang menolak keras tindakan Herodes Antipas yang menceraikan istrinya yang sah, kemudian mengawini iparnya sendiri (istri Filipus, saudara laki-lakinya). Sebaliknya kalau Yesus setuju dengan pandangan Yohanes Pembaptis, maka Dia pasti akan menjadi sasaran kemarahan Raja Herodes.

Yesus tidak mau mati-terjebak. Sebaliknya, Yesus mencari jalan untuk membawa diskusi ‘perceraian’ ini ke suatu tingkat yang lebih tinggi, di mana Dia dapat menggunakan kesempatan yang ada agar dapat berbicara lagi tentang hasrat Bapa untuk mempersatukan kita dalam cintakasih. Dengan mencoba menjebak Yesus melalui pertanyaan-pertanyaan berbau hukum yang penuh dengan duri-tajam, orang-orang Farisi itu luput melihat rencana Allah sehubungan dengan perkawinan anak-anak manusia. Dipenuhi dengan hikmat Allah sendiri, Yesus membawa orang-orang Farisi itu ke belakang, yaitu kepada titik awal ketika Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya sendiri (Kej 1:26.27) dan menentukan bahwa dalam perkawinan dua manusia menjadi satu daging (Kej 2:24). Ajaran Yesus mengungkapkan bahwa perkawinan merupakan suatu karunia yang indah dari Allah yang dimaksudkan untuk mencerminkan kebersatuan yang dirindukan oleh-Nya dengan umat-Nya. Kedua jenis kebersatuan – antara dua orang pribadi, atau antara Allah dan umat-Nya – dimaksudkan untuk terwujud begitu intim sehingga tidak boleh sekali-kali dipatahkan. Sungguh merupakan suatu privilese untuk secara intim dibersatukan dengan Allah dan seorang pribadi yang lain!

Selagi kita merenungkan arti perkawinan manusia secara umum, barangkali mungkin juga perkawinan kita sendiri, kita mungkin tergoda untuk hanya melihat segala kesusahan yang kita alami dan melupakan (samasekali) campur tangan Allah lewat kuasa dan cintakasih-Nya. Marilah kita mendoakan semua perkawinan dewasa ini, agar dilindungi dan diangkat menjadi tanda-tanda indah dari cintakasih Allah kepada umat-Nya di mana saja manusia berada.

DOA: Bapa surgawi, betapa besar rasa syukurku untuk cintakasih-Mu kepadaku, teristimewa dalam hidup perkawinanku. Penuhilah hatiku dengan cintakasih lebih mendalam lagi kepada-Mu, kepada pasangan hidupku serta seluruh anggota keluargaku. Semoga cintakasih-Mu bagi segenap anggota keluargaku mengalir juga – melalui diriku dan para anggota keluargaku – untuk membawa kesembuhan dan damai-sejahtera kepada orang-orang lain di luar keluargaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PENCERMINAN KASIH ALLAH DAN KOMITMEN-NYA KEPADA UMAT-NYA” (bacaan  tanggal 24-2-17) dalam situs/ blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Jakarta, 21 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MEMPUNYAI GARAM DALAM DIRI KITA

MEMPUNYAI GARAM DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Polikarpus, Uskup Martir – Kamis, 23 Februari 2017) 

1-0-jesus-christ-super-starSesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan.

Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?

Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” (Mrk 9:41-50) 

Bacaan Pertama: Sir 5:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

“Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain” (Mrk 9:50).

Pada zaman Yesus dahulu, garam adalah suatu komoditas yang sangat berharga dan dinilai sangat tinggi. Salah satu penggunaan garam oleh orang-orang Israel adalah untuk menempatkannya dalam persembahan untuk ritus pemurnian (lihat Im 2:13). Nabi Elisa memurnikan air yang tidak baik dengan memasukkan garam ke dalamnya (2Raj 2:19-21). Bahkan bayi-bayi yang baru dilahirkan juga digosok dengan garam (lihat Yeh 16:4). Garam juga berfungsi sebagai pengawet, sesuatu yang istimewa-penting bagi orang-orang yang tinggal dalam iklim yang panas dan kering tanpa mesin pendingin pada zaman itu. Perjanjian Lama mengacu kepada “perjanjian garam” yang dibuat Allah dengan umat Israel sebagai suatu kondisi yang permanen (Bil 18:19). Jadi, garam sebagai pengawet melambangkan kontrak yang berlaku selama-lamanya antara Allah dan umat-Nya.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa setiap orang akan “digarami” dengan api, setelah baru saya Dia selesai memperingatkan mereka bahwa dosa adalah suatu halangan besar bagi seseorang untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, sehingga lebih baiklah bagi dirinya kehilangan sebagian dari tubuhnya daripada membiarkan dosa itu tetap ada dalam dirinya (Mrk 9:42-48). Dengan demikian kita dapat mengandaikan bahwa janji Yesus sehubungan dengan pemurnian melalui garam merupakan satu cara lain dalam bernubuat mengenai kematian-Nya di atas kayu salib, yang akan membersihkan  kita dari semua dosa.

a3045735eb67c4ee5c97c4b5c0c8a7ecYesus mengingatkan para pengikut-Nya, “Garam memang baik” (Mrk 9:50), namun apabila garam itu menjadi hambar, maka garam itu menjadi tidak berguna. Pada waktu kita hidup sebagai umat Allah, artinya merangkul berkat-berkat dan tuntutan-tuntutan perjanjian-Nya, maka kita menjadi manusia yang otentik. Kita dipulihkan dari akibat kejatuhan Adam dan Hawa serta “dijaga” terhadap dosa-dosa di kemudian hari. Dengan kita semakin bertumbuh dekat Tuhan Yesus, semakin lebih pula kita digarami (diauri garam) oleh-Nya dan menjadi semakin serupa dengan diri-Nya. Hal ini membuat diri kita menarik bagi orang-orang lain karena selagi Yesus hidup dalam diri kita, maka kita mencerminkan kodrat-Nya. Kita menjadi seperti Kristus bagi saudari-saudari dan saudara-saudara kita. Inilah yang terjadi dengan para kudus, misalnya Santo Fransiskus dari Assisi yang sampai-sampai dikatakan banyak orang bahwa dia adalah sebagai seorang “Kristus yang lain” (alter Christus).

Yesus lalu mengambil kesimpulan: “Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain” (Mrk 9:50). Kodrat Allah sendiri yang mentransformasikan diri kita, akan menolong kita untuk hidup harmonis dengan setiap orang yang ditaruh Allah dalam kehidupan kita. Yesus mengatakan bahwa kita adalah “garam bumi” (Mat 5:13), untuk berdiri tegak di tengah orang banyak dengan mencerminkan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri bagi garam Allah yang akan memurnikan kita serta menjaga kita dalam rahmat-Nya.

DOA: Bapa surgawi, kami berketetapan hati untuk menjadi umat-Mu yang setia kepada perjanjian yang Kaubuat dengan kami. Perkenankanlah kami untuk memperoleh rahmat-Mu secara berkelimpahan, agar supaya kami dapat menjadi seperti Kristus bagi orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:38-40), bacalah tulisan yang berjudul “KATA-KATA KERAS YESUS” (bacaan tanggal 23-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN  FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-2-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS