MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, Maret 2017) 

Lalu seorang  ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17 

Ahli Taurat ini datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang seringkali merupakan topik perdebatan dalam sekolah-sekolah para rabi. Dalam Yudaisme terdapat kecenderungan ganda. Ada kecenderungan untuk meluaskan hukum secara tanpa batas ke dalam ratusan dan bahkan ribuan peraturan. Di sisi lain ada juga kecenderungan untuk mencoba merumuskan hukum itu ke dalam satu kalimat, sebuah pernyataan umum yang akan menjadi ringkasan dari keseluruhan pesan. Hillel sekali diminta oleh seorang pengikut baru untuk mengajarkan kepadanya seluruh hukum sementara dia berdiri dengan satu kaki saja. Jawaban Hillel: “Apa yang kamu benci bagi dirimu sendiri, janganlah lakukan pada sesama. Ini adalah seluruh hukum, selebihnya adalah tafsiran. Pergilah dan belajarlah.” Simon sang Budiman telah berkata, “Dunia berdiri di atas tiga hal – atas hukum, atas penyembahan, dan atas karya-karya kasih.”

Sammlai telah mengajarkan bahwa Musa menerima 613 aturan/ajaran di Gunung Sinai, 365 sesuai dengan jumlah hari dalam satu tahun matahari, dan 248 sesuai dengan jumlah generasi manusia. Daud mengurangi jumlah 613 itu menjadi 11 saja dalam Mazmur 15:

TUHAN (YHWH), siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?

  1. Dia yang berlaku tidak bercela,
  2. yang melakukan apa yang adil,
  3. dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
  4. yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,
  5. yang tidak berbuat jahat terhadap temannya,
  6. yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya,
  7. yang memandang hina (terjemahan LAI: orang yang tersingkir) bajingan (Inggris RSV: reprobate),
  8. tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN,
  9. yang berpegang teguh pada sumpah, walaupun rugi;
  10. yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba,
  11. dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

Yesaya mengurangi semua itu menjadi 6 aturan/ajaran (baca sendiri: Yes 33:15); Mikha mengurangi 6 aturan/ajaran ini menjadi 3 (baca sendiri: Mi 6:8); sekali lagi Yesaya mengurangi 3 aturan/ajaran menjadi 2 (baca sendiri: Yes 56:1); dan akhirnya Habakuk datang dengan satu saja aturan/ajaran: “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab 2:4).

Di sini kita dapat melihat kecerdikan/kelihayan dari sekolah atau tradisi para rabi. Dalam hal ini ada dua arus pemikiran, yang pertama adalah mereka yang percaya adanya hal-ikhwal hukum yang lebih ringan dan ada pula hal-ikhwal hukum lebih berat yang sangat-sangat penting untuk dipahami. Di lain pihak ada yang berpandangan bahwa setiap

Hal baru yang dilakukan Yesus adalah untuk menaruh dua perintah secara bersama-sama. Tidak pernah ada rabi mana pun yang pernah melakukan hal seperti yang dilakukan Yesus ini. Memang sekitar tahun 100 SM, pernah disusun serangkaian traktat (risalat) yang dinamakan “Warisan 12 Bapa bangsa” di dalam mana seorang penulis tak dikenal menaruh ke dalam mulut para bapa bangsa tersebut beberapa ajaran yang sangat baik. Dalam “Warisan Isakhar” (5:2) kita membaca: “Kasihilah Tuhan dan kasihilah sesamamu, berbela-rasalah terhadap orang-orang miskin dan lemah.” Dalam warisan yang sama (7:6) kita membaca: “Aku mengasihi Tuhan, demikian pula setiap orang dengan segenap hatiku.”  Dalam “Warisan Dan” (5:3) kita membaca: “Kasihilah Tuhan sepanjang hidupmu, dan kasihilah satu sama lain dengan suatu hati yang benar.”

Namun demikian, tidak ada seorang pun kecuali Yesus yang menempatkan kedua perintah secara bersama-sama dan membuat dua perintah itu menjadi satu. Agama menurut Yesus adalah mengasihi Allah dan mengasihi manusia. Menurut Dia jalan satu-satunya seseorang dapat membuktikan bahwa dia mengasihi Allah ialah dengan menunjukkan bahwa dia mengasihi manusia sesamanya.

Ahli Taurat menerima dengan baik jawaban Yesus itu dan dia juga mengatakan bahwa mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya (Mrk 12:32-33). Dalam hal ini ahli Taurat itu berada dalam tingkat tertinggi pemikiran umat Yahudi. Berabad-abad sebelumnya Samuel berkata, “Apakah TUHAN itu berkenan kepada kurban bakaran dan kurban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada daripada kurban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1Sam 15:22). Hosea telah mendengar Allah bersabda: “… Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan” (Hos 6:6).

Namun demikian, adalah kenyataan bahwa senantiasa lebih mudahlah untuk membiarkan segala macam rituale lahiriah menggantikan kasih yang sejati. Selalu lebih mudahlah membuat penyembahan sejati menjadi soal membangun Gereja daripada kehidupan secara menyeluruh. Dalam perumpamaan “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37), imam dan orang Lewi dapat melewati seorang Yahudi yang babak belur terkapar di jalan karena kedua “pejabat” agama itu berpandangan bahwa menjalankan “rituale keagamaan” di Bait Allah adalah jauh lebih penting daripada memikirkan “nasib” sesamanya yang baru “dikerjain”  oleh para pembegal di jalan antara Yerusalem dan Yerikho. Nah ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil hari ini sudah melampaui para rekan sezamannya. Itulah sebabnya mengapa dia bersikap positif penuh simpati terhadap sang Rabi dari Nazaret.

Kita dapat membayangkan adanya pandangan penuh kasih pada mata Yesus ketika Dia berkata kepada ahli Taurat itu: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” (Mrk 12:34). 

Sumber: William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE – THE GOSPEL OF MARK, Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1975 (Revised Edition), pages 292-297.

DOA: Bapa surgawi, jikalau aku pada saat ini mengatakan bahwa aku mengasihi Engkau, tetapi aku membenci saudaraku, maka aku adalah seorang pendusta. Karena jika aku tidak mengasihi saudaraku yang kelihatan tak mungkinlah bagiku untuk mengasihi Engkau yang tidak kelihatan (1Yoh 4:20). Biarlah Roh-Mu menggerakkan hatiku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu yang sejati. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat semakin serupa dengan Guruku – Yesus Kristus – sehingga mampu melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34)), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA” (bacaan tanggal 24-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Maret 201 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YANG BERSAMA YESUS PASTI MENANG

YANG BERSAMA YESUS PASTI MENANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Kamis, 23 Maret 2017) 

Pada suatu kali Yesus mengusir dari seseorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak. Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  (Luk 11:14-23) 

Bacaan Pertama: Yer 7:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9

Yesus mengusir roh jahat yang menyebabkan kebisuan diri seseorang, dan tentunya orang banyak yang menyaksikan peristiwa itu menjadi kagum terpesona. Tidak seorang pun mempertanyakan kuat-kuasa yang diperagakan oleh Yesus, namun ada beberapa orang yang menuduhnya bersekutu dengan Beelzebul, si penguasa roh-roh jahat atau Iblis sendiri. Sementara itu ada juga orang-orang yang meminta dan menantikan tanda dari surga. Yesus menanggapi tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa Beelzebul bukanlah goblok dalam berstrategi sehingga dia mendorong pecahnya perang saudara untuk kemajuan kerajaannya. Dalam kesempatan itu Yesus juga menunjukkan bahwa para penuduhnya itu tidak konsisten dalam argumentasi mereka: mereka mengatakan bahwa Yesus mengusir roh jahat dengan menggunakan kuat-kuasa Iblis, sementara para pelayan-eksorsis (pengusir roh jahat) melalui kuat-kuasa Allah. Jadi, jika mereka menuduh Yesus, secara implisit mereka juga menuduh para pelaya-eksorsis mereka.

Dalam kesempatan sebelumnya Yesus telah mengatakan kepada para murid-Nya bahwa barangsiapa yang melawan roh-roh jahat tidak menentang Dia dan para murid-Nya, dia ada di pihak Yesus dkk. (bdk. Luk 9:50); sekarang Ia mengatakan kepada para penuduh-Nya bahwa para eksorsis yang mereka tuduh akan dibenarkan, dan pembenaran mereka akan menjadi penghakiman atas kritik-kristik  mereka. Jika roh-roh jahat hanya dapat diusir dengan kuat-kuasa Allah, maka haruslah disimpulkan bahwa kehadiran Kerajaan-Nya berada di tengah-tengah orang-orang. Mereka telah memperoleh tanda yang mereka minta.

Yesus menggambarkan Iblis sebagai seorang kuat yang menguasai sebuah istana yang dipersenjatai lengkap. Harta benda orang kuat itu hanya aman apabila istana itu dijaga dengan baik dan juga karena tidak seorang pun telah menyerbu istana tersebut. Namun ada Pribadi lebih kuat yang datang untuk menghancurkan pertahanan istananya dan mendistribusikan harta bendanya. Jadi, keberadaan Iblis tergantung pada belas kasih Pribadi yang lebih kuat itu, dan Pribadi yang lebih kuat itu telah hadir di tengah-tengah umat-Nya.  Yesus dengan jelas mengatakan bahwa barangsiapa yang bergabung dengan diri-Nya melawan kekuatan jahat berarti melawan diri-Nya, dan pada akhirnya harus kalah karena orang itu berdiri bersama pihak yang lebih lemah. Selagi Yesus melihat konflik antara yang baik dan yang jahat sebagai metafora pertempuran, Dia tak ragu lagi tentang identitas pemenang pertempuran itu.

DOA: Tuhan Yesus, semoga kebersatuan kami dengan Engkau bertumbuh semakin kuat dan semakin mendalam dengan berjalannya waktu. Tolonglah diriku agar dapat siap  merayakan misteri Paskah yang agung. Buatlah agar aku bertumbuh dalam kasih dari hari ke hari menuju perayaan keselamatan yang penuh kemuliaan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:14-23), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DAN IBLIS” (bacaan tanggal 23-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Maret 201

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KRISTUS ADALAH IMAM BESAR AGUNG PERJANJIAN BARU

KRISTUS ADALAH IMAM BESAR AGUNG PERJANJIAN BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Rabu, 11 Maret 2015)

 

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama Ul 4:1,5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13,15-16,19-20 

Bacaan Injil hari ini menunjukkan suatu kesatuan yang indah antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama samasekali tidak digantikan oleh Perjanjian Baru, melainkan digenapi. Yesus mengetahui dan Ia menghormati dan mentaati hukum-hukum Allah. Yesus menyatakan/mewahyukan makna terdalam dari hukum. Ketaatan-Nya adalah kepada roh/semangat hukum itu dan didasarkan pada cinta kasih. Dengan demikian, dalam Yesus, hukum digenapi.

Dalam bacaan Perjanjian lama (lihat bacaan pertama) kita melihat Allah membentuk umat-Nya melalui perintah-perintah-Nya. “Maka sekarang, hari orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN (YHWH), Allah nenek moyangmu” (Ul 4:1). Allah  berjanji kepada mereka bahwa jika mereka mematuhi hukum-hukum ni, maka mereka akan menjadi sebuah bangsa besar, yang memuliakan Dia. “Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa …” (Mzm 147:19-20). Betapa besar kasih Allah itu sehingga Dia sudi mengajar kita bagaimana menjadi umat-Nya.

Dalam masa Prapaskah ini baiklah kita mempraktekkan membaca sabda Allah setiap hari, tidak hanya untuk memperoleh pengetahuan yang diberikan oleh sabda Allah itu, melainkan juga untuk kehidupan yang dihasilkannya. Manakala kita memohon kepada Roh Kudus untuk membuka Kitab Suci bagi kita, maka Dia akan membimbing kita kepada pengertian yang sungguh bermakna bagi hidup kita sehari-hari. Jika kita bertanya kepada Roh Kudus tentang Kitab Suci, maka Dia tidak hanya menjawab pertanyaan kita, melainkan juga sabda Allah menjadi hidup bagi kita dan memimpin kita kepada pengalaman akan kasih Allah sendiri kepada kita.

Allah Bapa berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. Kita harus mohon kepada Yesus agar kita dapat menghormati dan taat kepada Bapa surgawi selagi kita berupaya mengikuti sabda Allah setiap hari. Kita juga harus memohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita selagi kita berupaya mengikuti sabda Allah setiap hari.

Para imam besar turunan Harun ikut ambil bagian dalam dosa umat, sehingga dengan demikian mereka tidak dapat berdamai dengan Allah sekali dan untuk selama-lamanya. Mereka tidak dapat mempersembahkan kurban yang sempurna kepada Allah sekali dan untuk selama-lamanya. Yesus adalah Imam Besar Agung – jadi lebih tinggi – karena Dia menumpahkan darah-Nya sendiri yang tanpa noda dosa, mempersembahkan diri-Nya kepada Allah bagi dosa-dosa kita-manusia sepanjang masa (bacalah Ibr 9:11-10:18).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Imam Besar Agung dan kekal yang telah menebus dosa-dosa kami. Imamat-Mu telah melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh para imam besar keturunan Harun, yaitu memberi kesempatan kepada kami untuk suatu kehidupan kekal. Tuhan Yesus, kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu dalam kasih guna melayani-Mu dan Gereja-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “KRISTUS ADALAH IMAM BESAR AGUNG PERJANJIAN BARU” (bacaan tanggal 22-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Maret 2017 [HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KARUNIA/ANUGERAH PENGAMPUNAN

KARUNIA/ANUGERAH PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Selasa, 21 Maret 2017) 

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35) 

Bacaan Pertama: Dan 3:25,34-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9

Berapa kali kiranya kita (anda dan saya) berada dalam posisi seperti Petrus, yang menetapkan batasan-batasan sehubungan dengan berapa kali kita harus mengampuni seorang pribadi yang telah bersalah kepada kita? Dalam hal pengalaman saya sendiri, tidak sekali dua kali tetapi cukup banyak, walaupun saya sudah tahu apa yang diajarkan Yesus. Pergumulan batin yang satu disusul dengan pergumulan batin yang baru, dst.

Memang ajaran Yesus tentang pengampunan ini merupakan salah satu ajaran Yesus yang paling memberi tantangan: mengampuni tanpa batas. Namun Yesus mengetahui benar bahwa hal itu mungkin karena pengampunan bukanlah sesuatu yang kita lakukan berdasarkan berbagai sumber daya kita sendiri. Sesungguhnya kemauan dan kemampuan kita untuk mengampuni orang lain tergantung pada keterbukaan kita untuk menerima belas kasih Allah dalam hidup kita.

Berapa kalikah kita telah marah terhadap seseorang dan tidak mampu mengatasi kemarahan tersebut? Hal seperti itu dapat menggerus keberadaan kita sebagai seorang pribadi yang utuh. Bagaimana dengan luka batin, rasa cemas, atau depresi yang dapat timbul karena kita disakiti oleh orang yang dekat dengan kita? Yesus samasekali tidak ingin melihat kita hidup seperti ini. Yesus ingin menunjukkan kepada kita betapa penuh kuat-kuasa pengampunan itu dalam mematahkan kemarahan, rasa kesal, depresi dst. yang selama ini mencengkeram kita.

Iblis akan sangat senang untuk membiarkan kita tidak mau dan mampu mengampuni orang yang bersalah kepada kita, terus terjerat oleh ikatan memori-memori yang menyakitkan dll. Hal terakhir yang diinginkan oleh Iblis adalah tindakan kita untuk kembali kepada Allah dan menerima penyembuhan-Nya serta menerima kuat-kuasa untuk mengampuni. Namun Yesus ingin meningkatkan kita kepada suatu tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat belas kasih yang berkelimpahan. Hal ini akan terjadi apabila kita telah mengenal dan mengalami betapa berbelas kasih Allah itu terhadap kita masing-masing. Allah akan mengangkat kita dengan menunjukkan kepada kita betapa siap Dia  untuk mengampuni dosa dan kesalahan kita, dari yang paling kecil sampai yang paling  berat.

Allah akan mengangkat kita dengan meyakinkan kita bahwa pengampunan bukanlah sesuatu yang kita peroleh karena upaya atau kerja keras kita sendiri, melainkan suatu karunia/anugerah yang diberikan oleh-Nya kepada para pendosa – seperti anda dan saya – yang sesungguhnya tidaklah layak untuk menerima karunia/anugerah dimaksud. Jika kita telah diangkat kepada tingkat yang baru ini, kita pun akan menunjukkan kesiapan kita untuk menerima anugerah yang sebenarnya tidak pantas mereka terima: karunia/anugerah kerahiman ilahi.

Masa Prapaskah ini menawarkan kepada kita suatu kesempatan sempurna datang menghadap Yesus dan mengalami pengampunan dan damai sejahtera dari Dia. Masa Prapaskah ini adalah masa yang sempurna untuk membuang segala amarah dan penolakan dari diri kita. Masih adakah seseorang yang kita (anda dan saya) masih ragu-ragu untuk mengampuninya? Marilah kita memohon kepada Yesus untuk menolong kita mengambil satu langkah lagi dalam belas kasih. Walaupun kita belum mampu sepenuhnya mengampuni orang itu, marilah kita mengatakan kepada Yesus bahwa kita akan datang semakin dekat dengan orang itu.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau memungkinkan kami untuk mengalami belas kasih/kerahiman-Mu yang sempurna. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus, buatlah diri kami masing-masing menjadi bejana-bejana kasih-Mu dan kerahiman-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-35), bacalah tulisan yang berjudul “SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI?”  (bacaan tanggal 21-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Maret 2017 [HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMAN ABRAHAM DAN YUSUF

IMAN ABRAHAM DAN YUSUF

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA – Senin, 20 Maret 2017)

Sebab janji kepada Abraham dan keturunannya bahwa ia akan memiliki dunia tidak berdasarkan hukum Taurat tetapi berdasarkan pembenaran melalui iman.

Karena itu, janji tersebut berdasarkan iman supaya sesuai dengan anugerah, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapak kita semua, [1] – seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapak banyak bangsa” – di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. [2] Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya bahwa ia akan menjadi bapak banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan, “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” [3]

Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. (Rm 4:13,16-18,22) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 7:4-5a.12-14a.16; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27,29; Bacaan Injil: Mat 1:16,18-21.24a 

Catatan: [1] Gal 3:7; [2]Kej 17:5; [3] Kej 15:5

“Sebab janji kepada Abraham dan keturunannya bahwa ia akan memiliki dunia, tidak berdasarkan hukum Taurat tetapi berdasarkan pembenaran melalui iman” (Rm 4:13).

Apakah iman yang besar dari Abraham yang telah memimpin generasi lepas generasi – termasuk Santo Yusuf – ke dalam suatu warisan yang bersifat kekal-abadi? Ada apa dalam iman Abraham yang menggiring Gereja untuk mengkaitkannya dengan sang tukang kayu dari Nazaret? Di atas segalanya, yang ditunjukkan oleh Abraham dan Santo Yusuf adalah “kesederhanaan iman” mereka.

Abraham memegang dan mematuhi sabda Allah apa adanya tanpa tanya-tanya, bahkan ketika Allah menjanjikan dirinya bahwa dia akan mempunyai anak dalam usianya yang sudah tua. Demikian pula dengan Yusuf yang menerima tanpa tanya-tanya ketika seorang malaikat mengatakan bahwa anak yang ada dalam rahim Maria dikandung oleh Roh Kudus (Mat 1:20). Baik Abraham maupun Yusuf menerima janji Allah dengan iman dan berpegang teguh pada janji tersebut, walaupun muncul bahaya. Nah, hal ini berbeda sekali dengan apa yang dialami oleh Adam dan Hawa. Segala sesuatu yang baik disediakan bagi mereka, namun sayang mereka tidak percaya pada kebaikan sempurna dari Pencipta mereka.

Ketika Allah memerintahkan Abraham untuk meninggalkan negerinya dan melakukan perjalanan ke suatu negeri yang baru, Abraham pun pergilah (Kel 12:1-4). Ketika Allah memberitahukan Yusuf untuk membawa Maria dan Yesus ke tempat persembunyian di Mesir, maka Yusuf pun pergilah tanpa tanya-tanya ini dan/atau itu (Mat 2:13-14). Ketika Allah meminta kepada Abraham untuk mengorbankan Ishak, dia mengikuti permintaan Allah tersebut. Abraham menyadari bahwa Allah itu Mahasetia dan sungguh dapat dipercaya. Pada saat Allah meminta kepada Yusuf untuk memelihara seorang anak yang bukan anaknya sendiri dan mendedikasikan-Nya sepenuhnya kepada TUHAN, ia melakukannya dengan penuh ketaatan. Apakah iman kedua orang ini – Abraham dan Yusuf – buta atau naive (kekanak-kanakan)? Tentu saja tidak! Pemikiran-pemikiran dan rasa takut mereka sungguh riil seperti kita juga. Namun mereka memilih untuk menyerahkan rasa takut mereka, pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat mereka kepada Allah Yang Mahapengasih.

Seperti juga Abraham dan Yusuf, hidup kita pun adalah milik Allah. Kita diciptakan untuk suatu tujuan penuh kemuliaan. Allah ingin berbicara kepada kita, memberikan hikmat-kebijaksanaan, arahan serta pemahaman kepada kita. Jadi, bagaimana caranya agar kita dapat memiliki iman seperti Abraham dan Yusuf? Jika kita mencari Allah dengan tulus dan bersungguh-sungguh, maka kita dimampukan untuk belajar mendengar suara Allah. Kemudian, karena percaya bahwa Allah adalah Mahasetia pada janji-janji-Nya, maka kita pun dapat memilih untuk taat kepada-Nya, bukan bersikap dan bertindak “mbalelo” (semau gue). Setiap kali kita mendengarkan suara Allah, kita akan menjadi lebih percaya lagi bahwa Dia sedang memimpin (membimbing, menuntun) kita, seperti yang telah dilakukan-Nya dengan Abraham dan Yusuf.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk contoh yang telah diberikan oleh S. Yusuf. Hidupnya mengungkapkan jalan iman dan penuh kepercayaan kepada-Mu. Tolonglah diriku dalam jalan-imanku pada hari ini, agar dipenuhi kerendahan hati dan tanggap terhadap suara-Mu. Amin.

Catatan: Tulisan ini dipersembahkan kepada Sdr. Yosef Sunarwinto, temanku sejak di SMA Kanisius (1959-1962) dan sekarang sama-sama menjadi warga Lingkungan S. Yudas Tadeus, Gereja S. Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 1:16.18-21.24a), bacalah tulisan yang berjudul “YUSUF PUTERA DAUD” (bacaan tanggal 20 Maret 2017), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-3-16 daam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DAN PEREMPUAN SAMARIA

YESUS DAN PEREMPUAN SAMARIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH III [Tahun A], 19 Maret 2017)

 

Lalu sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih karena perjalanan, sebab itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Lalu datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya, “Berilah Aku minum.” Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Kata perempuan Samaria itu kepada-Nya, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Jawab Yesus kepadanya, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, ‘Berilah aku minum!’ niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Apakah Engkau lebih besar daripada bapak leluhur kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?” Jawab Yesus kepadanya, “Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal.” Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” Kata perempuan itu, “Aku tidak mempunyai suami.” Kata perempuan itu, “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya, “Tepat katamu bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau telah berkata benar.” Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Kata Yesus kepadanya, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan meyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa mencari orang-orang yang menyembah Dia secara demikian. Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Jawab perempuan itu kepada-Nya, “Aku tahu bahwa Mesias yang disebut juga Kristus, akan datang; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” Kata Yesus kepadanya, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.”

Banyak orang Samaria dari kota percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu yang bersaksi, “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal dengan mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya. Karena perkataan-Nya, lebih banyak lagi orang yang percaya, dan mereka berkata kepada perempuan itu, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” (Yoh 4:5-26,39-42) 

Bacaan Pertama: Kel 17:3-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9; Bacaan Kedua: Rm 5:1-2,5-8

Catatan awal: Bacaan Injil hari ini sebenarnya adalah Yoh 4:5-42 atau versi yang agak lebih singkat: Yoh 4:5-15,19b-26, 40-42. Petikan di atas adalah mengikuti versi yang lebih singkat, namun dengan tetap memasukkan ayat 16-18 ke dalamnya. 

Sumur dan tempat-tempat berair secara khusus mempunyai arti yang penting bagi orang-orang yang tinggal dalam daerah-daerah yang bertanah kersang. Setelah suatu musim kekeringan, secara mengherankan air datang dan memulihkan kehidupan menjadi bumi seperti padang gurun dan menghidupkan kembali manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, dengan demikian menyelamatkan mereka semua dari kematian. Atas dasar alasan inilah para nabi dan tokoh Perjanjian Lama seringkali berbicara mengenai “air hidup” (air kehidupan) untuk menandakan karunia-karunia mesianis (lihat Za 14:8; Yeh 47:8-10).

Kita dapat membayangkan bahwa ketika Yesus sampai ke sumur Yakub di Sikhar, Ia mengingat tradisi alkitabiah yang mengatakan bahwa sang Mesias akan menjadi sumber sejenis air yang akan menopang hidup kekal seorang pribadi.  Sebagai Mesias yang dijanjikan, misi Yesus adalah untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:34), dan “pekerjaan” yang telah diberikan Bapa kepada-Nya adalah memberikan hidup kekal kepada semua orang (Yoh 17:2). Inilah kiranya yang memenuhi pemikiran Yesus selagi perempuan Samaria itu mendekati sumur.

Selagi kita membaca peristiwa perjumpaan Yesus dan perempuan Samaria ini, maka kita dapat melihat kesabaran dan kasih yang ada pada diri Yesus, pada saat-saat Ia menggiring perempuan itu sampai percaya pada diri-Nya sebagai sumber air hidup. Pertama-tama perempuan itu melihat Yesus sebagai seorang Yahudi biasa (Yoh 4:9), namun kemudian dia menyadari bahwa Yesus adalah seorang pribadi yang memiliki pengetahuan, barangkali seorang rabi, dan dia mulai menyapa Yesus sebagai “Tuan” (Yoh 4:11). Kemudian dia memahami Yesus sebagai seorang nabi (Yoh 4:19), dan akhirnya dia merasa bahwa Yesus mungkin saja adalah sang Mesias yang dijanjikan seperti diklaim oleh-Nya (Yoh 4:25).

Perempuan Samaria ini datang ke sumur Yakub untuk mengambil air keperluannya. Setelah berjumpa dengan Yesus, ia meninggalkan tempayannya. Sekarang dirinya dipenuhi “sumber air hidup” yang bersifat kekal. Perempuan itu kembali ke kota untuk mewartakan Yesus sebagai sang Mesias (Yoh 4:29,39-42). Banyak orang dalam kota juga menerima air hidup pada waktu mereka sendiri berjumpa dengan Yesus dan menjadi percaya kepada-Nya.

Sebagai umat beriman, kita dapat memohon kepada Roh Kudus untuk membangunkan dari tidur penghargaan kita pada “karunia Allah” dalam hati kita (Yoh 4:10). Sumur jiwa kita mungkin memerlukan pembersihan dari segala sesuatu yang duniawi, hal mana dapat menghalangi kita untuk mengalami perjumpaan dengan Kristus dalam perjalanan hidup kita. Masa Prapaskah adalah saat-saat yang baik untuk menjernihkan dan memperdalam iman-kepercayaan kita pada Yesus sebagai Pemberi kehidupan. Selagi kita merenungkan sabda Allah yang diproklamasikan dalam liturgi masa Prapaskah ini, marilah kita memperkenankan “air hidup” yang diberikan oleh Yesus untuk memancar ke luar sekali lagi dalam diri kita.

DOA: Yesus, Putera Tunggal Bapa surgawi, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Bebaskanlah Gereja-Mu dari dosa dan lindungilah Gereja-Mu itu dari segala gangguan Iblis dan para pengikutnya. Oleh Roh Kudus-Mu bimbinglah kami, karena kami tidak dapat diselamatkan tanpa Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 4:5-42), bacalah tulisan yang berjudul “BERJUMPA DENGAN YESUS DI DEKAT SUMUR YAKUB” (bacaan tanggal 16-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-3-14 dalam situs/blog SANG SABDA)  

Cilandak, 16 Maret 201 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ANAK YANG HILANG

ANAK YANG HILANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 18 Maret 2017) 

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32)

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 103:1-4.9-12

Perumpamaan di atas sungguh merupakan cerita tentang seorang ayah yang penuh pengampunan. Yesus menceritakan perumpamaan ini guna menunjukkan kepada kita bagaimana Allah merasakan isi hati siapa saja dari kita yang menyadari bahwa dirinya adalah pendosa, namun mengambil keputusan untuk kembali kepada Bapa. Allah sungguh mengasihi kita dan ingin merayakan kembalinya kita dengan penuh kebahagiaan kepada-Nya bersama dengan kita.

Bab 15 dari Injil Lukas memuat pengajaran Yesus lewat tiga buah perumpamaan secara berturut-turut: [1] Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:3-7); [2] Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10); [3] Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Sungguh menarik untuk dicatat apa yang terjadi sebelum Yesus mengajar dengan tiga perumpamaan ini. Lukas mencatat bahwa para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia” (Luk 15:1). Mengapa?  Apakah yang telah dikatakan dan dilakukan oleh Yesus sehingga memikat para pendosa, padahal mereka dinilai rendah sekali oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dan membuat para pemuka agama tersebut bersungut-sungut? (lihat Luk 15:2).

Kiranya di sini Yesus mengundang para pendengar-Nya dan pada saat sama mengemukakan sebuah tantangan. Yesus telah mengajar para pendengar-Nya dengan perumpamaan tentang perjamuan besar (perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih; Luk 14:15-24). Dalam perumpamaan itu Allah yang diibaratkan sebagai seorang raja mengundang banyak orang, namun mereka mengemukakan berbagai alasan untuk tidak hadir. Oleh karena sang raja mengutus para hambanya untuk mengundang orang-orang lain. Setelah perumpamaan ini, Yesus menantang para pendengar-Nya untuk berani menjadi murid-murid-Nya, karena mereka harus memikul salib bersama dengan-Nya (lihat Luk 14:25-27). Hal inilah yang menarik para pendosa untuk datang kepada Yesus! Yesus mengundang mereka dan pada saat sama menantang mereka untuk masuk ke dalam suatu hidup baru, suatu kehidupan yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka kenal selama ini.

Sekiranya ada dari para pendosa yang mendengarkan Yesus ini bertanya-tanya: “Apakah aku yang dimaksudkan oleh-Nya?”, maka Yesus datang dengan “Perumpamaan tentang anak yang hilang”, sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu. Perumpamaan ini mengajarkan: “Biar bagaimana pun juga engkau berpikir bahwa engkau telah gagal, Bapamu di surga akan menerima engkau kembali dengan penuh kasih, dan Ia mengundang engkau masuk ke dalam suatu hidup baru dalam Dia dan bersama Dia.”

Itulah undangan dan tantangan yang diberikan oleh Yesus kepada kita masing-masing. Kasih Allah kepada kita masing-masing tidak pernah luntur dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan kasih Allah itu digambarkan dalam perumpamaan anak yang hilang ini. Kita harus mencatat peranan dari si anak dalam cerita ini. Sang  ayah tidak dapat mengampuni anaknya apabila dia tidak kembali kepada ayahnya guna menerima pengampunan itu. Anak laki-laki itu terbuka dan siap menerima pengampunan, karena dia cukup jujur untuk melihat dirinya sebagai apa adanya. Dia melihat bahwa hidupnya sungguh kosong, bahwa dia telah melempar jauh-jauh berkat-berkat nyata yang diterimanya dan menggantikannya dengan “berkat-berkat palsu”, kemudian menyadari bahwa dirinya akan lebih baik tanpa batas jika kembali kepada Bapanya.

DOA: Tuhan Yesus, lewat perumpamaan ini kami disadarkan bahwa kami adalah orang-orang berdosa dan kami sungguh membutuhkan belas kasih Bapa surgawi. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG AYAH YANG  SANGAT MENGASIHI ANAK-ANAKNYA ” (bacaan tanggal 18-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Maret 201 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS