PENEKANAN PADA HUKUM KASIH

PENEKANAN PADA HUKUM KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Jumat, 23 Agustus 2019)

Peringatan Fakultatif: S. Rosa dr Lima, Perawan

Fransiskan Kapusin (OFMCap.: Peringatan Fakultatif B. Berardus dr Offida, Biarawan

Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40) 

Bacaan Pertama: Rut 1:1,3-6,14b-16,22; Mazmur Tanggapan: 146:5-10

Seorang Farisi yang ahli hukum bertanya untuk mencobai Yesus lewat suatu diskusi mengenai perintah Allah mana yang harus dinilai sebagai hukum yang terutama. Ini adalah suatu isu yang memang sering diperdebatkan di kalangan para rabi pada masa itu. Tantangan dari orang Farisi itu dijawab oleh Yesus dengan memberikan “ringkasan agung” dari segala ajaran-Nya. Sebenarnya jawaban yang diberikan oleh Yesus itu tidak diformulasikan oleh-Nya sendiri. Bagian pertama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37) diambil dari Kitab Ulangan (Ul 6:5); sedangkan bagian kedua: “”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39) diambil dari Kitab Imamat (Im 19:18). Banyak rabi juga mengakui bahwa kedua ayat ini merupakan jantung atau hakekat dari hukum Taurat.

Seperti kita akan lihat selanjutnya, keunikan ajaran Yesus dalam hal ini adalah penekanan yang diberikan oleh-Nya pada “hukum kasih” dan kenyataan bahwa Dia membuatnya menjadi prinsip dasar dari tafsir-Nya atas keseluruhan Kitab Suci: “Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40).

Mengasihi Allah dengan segenap energi yang kita miliki dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri! Hampir dipastikan hanya sedikit saja orang yang akan memperdebatkan keindahan dari “cita-cita” ini. Namun menghayatinya seperti yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri dalam kehidupan-Nya sebagai sang Rabi dari Nazaret, sungguh membutuhkan komitmen yang pantang mundur dan kemurahan hati tanpa batas. Kita bertanya kepada diri sendiri: “Dapatkah aku mempraktekkan kasih seperti itu?”

Salah satu cara terbaik bagi kita untuk memenuhi perintah-perintah Allah ini adalah untuk menawarkan kepada sesama kita anugerah yang sama yang telah mengubah hati kita, yaitu INJIL TUHAN YESUS KRISTUS! Kita mengasihi sesama kita dengan menunjukkan kepada mereka “jalan menuju keselamatan dalam Yesus”, dan kita mengasihi Allah dengan berjuang terus untuk memanisfestasikan kebaikan-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita.

Menyebarkan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus adalah keharusan bagi kita semua, namun tidaklah semudah itu melaksanakannya, apalagi kalau kita bukan merupakan pribadi yang outgoing, yang mudah bersosialisasi. Kita juga bisa dilanda rasa waswas atau khawatir bahwa orang-orang akan menuduh kita sebagai orang Kristiani yang “ekstrim” (Saya tidak memakai kata “radikal” atau “fanatik”, karena kedua kata ini pada dasarnya  baik menurut pandangan pribadi saya). Akan tetapi, apabila kita memohon Roh Kudus untuk memimpin kita, maka “evangelisasi” adalah satu dari pengalaman paling indah yang dapat kita miliki, dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Pada kenyataannya, aspek evangelisasi yang paling penting terjadi sebelum kita mengucapkan satu patah kata sekali pun kepada siapa saja. Hal ini dimulai pada waktu kita menyediakan waktu dengan Tuhan Allah dalam keheningan, dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kehendak-Nya: suatu proses discernment (membeda-bedakan roh). Misalnya, kita dapat berdoa agar Tuhan Allah menerangi kegelapan hati kita dan menganugerahkan kepada kita iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna; juga kita mohon agar kita diberikan perasaan yang peka dan akal budi yang cerah, sehingga kita senantiasa dapat mengenali dan melaksanakan perintah-perintah atau kehendak Allah yang kudus dan tidak menyesatkan.

Dalam suasana doa inilah Allah dapat menolong kita menunjukkan siapa saja di antara anggota keluarga kita atau para teman dan sahabat kita yang terbuka bagi pemberitaan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. Kita juga tidak boleh lupa untuk berdoa agar orang-orang kepada siapa kita diutus menerima sentuhan Roh Kudus yang akan membuka hati mereka bagi Injil, bahkan sebelum bibir kita mengucapkan kata yang pertama. Kemudian, selagi kita mulai melakukan evangelisasi, kita akan menemukan orang-orang yang memberikan kesaksian mengenai  pengalaman-pengalaman mereka tentang kasih Allah yang kita sendiri sedang wartakan kepada mereka. Allah senang menyiapkan hati orang-orang secara demikian. Lalu, agar kita dapat menjadi instrumen-instrumen penyebaran Injil yang baik dan efektif, sangatlah penting bagi kita untuk mengabdikan diri dalam doa-doa syafaat bagi orang-orang lain. Seorang pewarta Injil atau pelayan sabda yang tidak akrab dengan doa merupakan fenomena yang boleh dipertanyakan.

Selagi kita melakukan penginjilan – memberikan kesaksian tentang kasih Kristus kepada orang-orang lain – kita harus senantiasa menyadari bahwa cintakasih itu senantiasa mengatasi dosa. Dengan demikian janganlah sampai kita hanya berbicara kepada mereka yang kita Injili. Yang juga sangat penting adalah bahwa kita pun harus mengasihi orang-orang itu. Kita harus memperhatikan dan menunjukkan bela rasa kepada mereka. Kita memberikan saran-saran mengenai tindakan-tindakan yang perlu mereka lakukan. Dengan sukarela marilah kita menawarkan bantuan kepada  mereka, dan hal ini bukan selalu berarti bantuan keuangan. Lebih pentinglah bagi kita untuk memperkenankan Yesus mengasihi orang-orang lain melalui diri kita daripada menjelaskan Injil secara intelektual kepada mereka, meskipun hal sedemikian penting juga. Selagi kita memperkenalkan dan menawarkan kasih Yesus lewat kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan, kita harus menyadari bahwa kita mensyeringkan anugerah Allah yang terbesar bagi manusia: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri! Dengan demikian, kita pun akan mengasihi sesama kita dengan kasih Kristus sendiri!

DOA: Roh Kudus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudah memakai diriku untuk membawa orang-orang lain ke dalam kasih perjanjian-Mu. Tolonglah aku agar mampu mengenali privilese yang besar ini selagi Engkau membuat diriku menjadi bentara Injil Yesus Kristus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 22:34-40), bacalah tulisan yang berjudul “MENGASIHI ALLAH DANN SESAMA ADALAH HUKUM YANG TERUTAMA(bacaan tanggal 23-8-19) dalam situs/blog blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Pius X. Paus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SEDIKIT YANG DIPILIH

SEDIKIT YANG DIPILIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib SP Maria, Ratu – Kamis, 22 Agustus 2019)

Lalu Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya, hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Lalu pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:1-14)  

Bacaan Pertama: Hak 11:29-39a; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:5,7-10 

“Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:14) 

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN KAWIN - MENGUNDANG ORANG MISKINPada hari itu diselenggarakan resepsi pernikahan anak laki-laki anda yang tunggal dan anda sungguh penuh dengan sukacita. Anda memperhatikan pesta yang sedang berlangsung dan para tamu yang hadir. Mereka semua mengenakan pakaian pesta mereka yang terbaik – kecuali seorang tamu yang mengenakan pakaian yang kurang layak. Bagaimana anda menanggapi hal seperti itu? Merasa tidak enak? Merasa tersinggung? Merasa dihina? Barangkali anda ingin melakukan hal yang dilakukan oleh sang raja dalam perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini: mengusir si tamu “kurang ajar” itu ke dalam kegelapan yang paling gelap (Mat 22:13)!

Dalam perumpamaan ini, orang-orang yang hadir dalam perjamuan kawin tersebut adalah mereka yang menjadi “substitut”, para pengganti saja. Orang-orang yang pertama-tama diundang menolak untuk datang, bahkan ada yang sampai menangkap, menyiksa dan membunuh para hamba raja yang membawa undangan (Mat 22:5-6)! Tamu-tamu “ronde kedua” ini – setiap orang yang dapat ditemukan oleh para hamba raja – melakukan tindakan benar ketika menanggapi undangan raja secara positif, yaitu datang ke perjamuan kawin. Namun tetap tidak dapat dimaafkan untuk datang dengan berpakaian “semau gue” …… acak-acakan dan barangkali kotor juga.

“Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Mat 22:14). Apa maksudnya? Pernyataan keras Yesus ini dapat kita artikan bahwa banyak orang yang diundang ke dalam perjamuan surgawi tidak dapat masuk. Mengapa? Karena walaupun undangan itu merupakan perwujudan kemurahan-hati Allah, banyak orang yang diundang memilih untuk tidak mengenakan “jubah putih” kebenaran Kristus – atau mereka memperkenankan jubah mereka menjadi ternoda dengan dosa yang belum disesali dan dimohonkan ampun dari Allah. Itulah sebabnya mengapa pertobatan – dan lebih spesifik lagi Sakramen Rekonsiliasi – merupakan sebuah anugerah yang sangat berharga. Kita yang tadinya bergelimpangan dalam lumpur dosa, diampuni oleh Allah dan sekali lagi dibuat bersih-murni sebagaimana pada waktu kita dibaptis.

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN KAWIN - TANPA BAJU PESTAMenjaga agar jubah kita putih-bersih tanpa noda jauh lebih berarti daripada sebuah polis asuransi jiwa. Mengapa sampai begitu? Karena “keuntungan-keuntungan” atau manfaat-manfaat dari pertobatan datang pada masa hidup kita di dunia juga, tidak hanya dalam kehidupan yang baka. Jika kita bertobat, Yesus membuang rantai-rantai dosa yang selama ini membelenggu kita. O, inilah kemerdekaan dalam artian yang sesungguhnya! Kita tidak lagi diperbudak oleh dosa, dengan demikian kita dapat mengalami kebahagiaan dan damai sejahtera yang sejati; dan kita pun dapat bertumbuh dalam cintakasih kita kepada Allah. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjauhi dosa, dan cepat melakukan pertobatan bilamana kita jatuh ke dalam dosa. Dengan berpakaian jubah kebenaran Kristus itu, marilah kita menikmati “icip-icip” awal dari perjamuan kawin yang akan kita rayakan dalam kehidupan kekal kelak.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih dan kerahiman-Mu. Terima kasih untuk pengampunan-Mu yang tidak mengenal batas. Terima kasih untuk pengorbanan-Mu di kayu salib, yang membuat diriku bersih dan utuh. Tolonglah diriku, ya Tuhan Yesus, agar senantiasa datang menghadap hadirat-Mu setiap saat aku harus bertobat dan diperbaharui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH DENGAN PENUH GAIRAH DAN SYUKUR” (bacaan tanggal 22-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Agustus 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERGI JUGALAH KAMU KE KEBUN ANGGURKU

PERGI JUGALAH KAMU KE KEBUN ANGGURKU

(Bacaan Injil Misa, Peringatan Wajib S. Pius X, Paus – Rabu, 21 Agustus 2019)

“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Bacaan Pertama: Hak 9:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

“Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.” (Mat 20:7)

Seorang imam di luar negeri pernah mengungkapkan bahwa gambaran Gereja kita pada hari ini adalah bagaikan pertandingan sepak bola kelas dunia. Puluhan ribu orang penonton di stadion berteriak-teriak sambil menabuh genderang guna menyemangati kesebelasan masing-masing, sedangkan di lapangan  22 orang sedang bertarung mati-matian. Puluhan ribu penonton membutuhkan olah raga yang sungguhan, sedangkan yang bertarung memerlukan istirahat! Sebagian besar pekerjaan dalam Gereja dikerjakan oleh kaum berjubah yang berjumlah relatif sedikit kalau dilihat dari jumlah keseluruhan umat. Mungkin pernyataan imam itu benar dan mungkin juga salah. Namun dapat dikatakan bahwa hal ini benar sekali pada masa sebelum Konsili Vatikan II [1962-1965]. Pasca Konsili – dengan berjalannya waktu – keadaannya membaik tahap demi tahap, walaupun masih jauh dari yang diharapkan. Bukankah Allah menginginkan kita agar pergi juga ke kebun anggur-Nya? (Mat 20:7).

Salah satu dokumen terpenting hasil Konsili Vatikan II adalah “Dekrit Apostolicam Actuositatem tentang Kerasulan Awam [AA]”. Dokumen ini dapat dikatakan merupakan sebuah terobosan berkaitan dengan peran kaum awam dalam Gereja. Dokumen itu a.l. mengatakan: “Dalam Gereja terdapat keanekaan pelayanan, tetapi kesatuan perutusan. Para Rasul serta para pengganti mereka oleh Kristus diserahi tugas mengajar, menyucikan dan memimpin atas nama dan kuasa-Nya. Sedangkan kaum awam ikut serta mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, menunaikan bagian mereka dalam perutusan segenap Umat Allah dalam Gereja dan di dunia” (AA, 2; lihat juga “Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja [LG], 31). Dokumen AA ini juga mengatakan: “Kristus yang diutus oleh Bapa menjadi sumber dan asal seluruh kerasulan Gereja. Maka jelaslah kesuburan kerasulan awam tergantung dari persatuan mereka dengan Kristus yang memang perlu untuk hidup, menurut sabda Tuhan: ‘Barang siapa tinggal dalam aku dan Aku dalam dia, ia menghasilkan buah banyak, sebab tanpa aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa’ ” (Yoh 15:5; AA,4).

Sebenarnya kita semua telah dipanggil dan diberdayakan untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, berdoa untuk/dengan orang sakit, menyampaikan ajaran-ajaran Yesus, dan mendirikan keadilan dan kedamaian di masyarakat di mana kita tinggal. Pertanyaan yang harus diajukan oleh kita masing-masing adalah: “Bagaimana aku menanggapi undangan ini?”

Barangkali kita (anda dan saya) meragukan panggilan kita. Kita mungkin saja merasa tidak pantas, atau kurang berpendidikan, atau tidak kompeten. Kita dapat merasa bahwa hanya imam-imam tertahbis saja yang harus dipercayakan dengan pekerjaan-pekerjaan gerejawi. Memang ada pelayanan yang hanya dapat dilakukan oleh imam tertahbis, jadi tidak dapat digantikan oleh seorang awam. Namun demikian pula halnya dengan panggilan kita sebagai umat awam, juga tidak dapat digantikan oleh orang lain. Panggilan Allah tidaklah terbatas pada pribadi-pribadi yang sangat terdidik. Ingatlah bahwa para rasul Kristus sendiri pada awalnya hanyalah orang-orang biasa tanpa latar belakang pendidikan yang hebat. Demikian pula panggilan Tuhan tidaklah ditujukan kepada orang-orang yang ultra-suci. Bahkan Santo Paulus sendiri – sang Rasul – menamakan dirinya orang “yang paling berdosa” (1 Tim 1:15).

Allah tidak memanggil orang-orang yang qualified, melainkan Ia membuat orang-orang yang dipanggil-Nya menjadi qualified. Nah, kita semua dipanggil! Selagi kita pergi ke luar dan “bereksperimen”, maka kita semua dapat belajar bagaimana mendengarkan Roh-Nya dan tetap patuh terhadap Roh-Nya tersebut. Allah akan menunjukkan kepada kita (anda dan saya) bagaimana membantu mendirikan Kerajaan-Nya di sini, di atas bumi. Dengan berpaling kepada-Nya dalam iman, kita dapat belajar bagaimana memperkenankan hidup Yesus memenuhi hati kita sedemikian sehingga berlimpah dengan kasih yang secara alamiah memberikan kehidupan bagi orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, di sini aku yang dengan rendah hati datang menghadap-Mu. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah aku. Aku akan pergi ke mana saja seturut kehendak-Mu. Aku akan melakukan apa saja seturut kehendak-Mu. Aku akan berbicara apa saja yang Engkau inginkan aku bicarakan kepada orang-orang lain. Tuhan Yesus, berjanjilah kepadaku hanya satu hal ini – kehadiran-Mu sepanjang pekerjaan melayani mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH PERUMPAMAAN TENTANG KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 21-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak, 18 Agustus 2019 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAHAYA DARI KELIMPAHAN HARTA-KEKAYAAN

BAHAYA DARI KELIMPAHAN HARTA-KEKAYAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Bernardus, Abas Pujangga Gereja – Selasa, 20 Agustus 2019)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat tercengang mereka dan berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mat 19:23-30) 

Bacaan Pertama: Hak 6:11-24a;  Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9,11-14 

Yesus menggambarkan dengan jelas bahaya dari kelimpahan harta-kekayaan. Orang-orang yang materialistis – yang mementingkan materi dalam hidup ini – disibukkan sehari-harinya dengan kekayaan dan kenikmatan-kenikmatan hidup, dan mereka tidak akan menjadi matang (dewasa). Hasrat mereka dan kasih mereka tidak dapat mengembang. Mereka adalah orang-orang yang diperbudak oleh berbagai macam “kebutuhan”, misalnya mode/fashion yang paling akhir, sebuah rumah yang serba lengkap dan mewah dan dua-tiga mobil baru yang mahal-mahal, agar setiap ruang diperlengkapi dengan televisi model terakhir, lemari es yang super-modern dan kerap kali menjamu tamu-tamu penting dengan makanan-minuman pesanan dari perusahaan catering kelas satu. Dengan cara hidup begini, jiwa orang bersangkutan pun dengan cepat dapat tercekik.

Sayang sekali kasih tidak dapat tumbuh dengan subur di mana kekayaan materiil berkelimpahan, karena seseorang harus mengosongkan dirinya agar dapat mengasihi secara murni. Ketamakan dan kecemburuan secara tetap mengancam kasih; harta-kekayaan membuatnya menuntut tanpa belas kasih. Hal tersebut sungguh merusak.

Orang-orang seperti itu mengabaikan upaya-upaya Kristiani untuk menjamin terciptanya keadilan bagi orang-orang yang tertindas, pertolongan bagi orang-orang yang menderita, atau bantuan bagi mereka yang miskin, karena pekerjaan seperti ini terasa tidak mengenakkan, tidak nyaman! Mereka akan memberi sumbangan atau “sedekah” untuk upaya karitatif, hanya jika tidak membutuhkan pengorbanan pribadi. Dalam teori mereka setuju bahwa “setiap orang harus mempunyai kesempatan yang sama”, dan “persamaan hak adalah ide yang baik”, namun mereka tidak pernah mengganggap serius peringatan akan kehampaan dan bahaya dari hidup semata-mata untuk uang, kenikmatan dunia, popularitas dan kekuasaan. Bagi orang-orang jenis ini semua peringatan ini adalah omong-kosong para pengkhotbah saja! Mereka sungguh dikuasai oleh rasa cemburu atau iri hati ketika melihat orang-orang lain yang lebih “hebat”. Kalau mereka diberi kesempatan, maka mereka pun akan tanpa malu-malu mengeruk segala hal yang “baik” dalam kehidupan ini dengan kedua tangan mereka.

Bagaimana dengan Kristus, yang mempunyai segalanya dan mengosongkan diri-Nya? (Flp 2:7). Bagaimana dengan para kudus – para martir, para rasul, para kontemplatif dan mereka yang secara sukarela memilih hidup miskin di segala zaman – yang meninggalkan segalanya untuk mengikuti jejak Kristus dan melayani sesama mereka? Apakah orang-orang ini merupakan orang-orang sinting dan/atau aneh karena hanya mereka saja yang mengetahui bagaimana mengasihi?

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, janji-Mu adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah (bdk. Mzm 12:7). Jagalah diriku dari dosa, ya Tuhan Allahku, walaupun orang-orang kaya tersandung jatuh karena sibuk dengan harta kekayaan mereka, dan para penguasa yang hidupnya hanya untuk hal-hal duniawi juga jatuh dari “takhta” mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MENAWARKAN KESELAMATAN-NYA KEPADA SETIAP ORANG” (bacaan tanggal 20-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 17 Agustus 2019 [HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG UTAMA

RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG UTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Senin, 19 Agustus 2019)

Fransiskan Conventual: Peringatan S. Ludovikus, Uskup

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Hak 2:11-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:34-37,39-40,43-44

Barangkali cerita tentang orang muda yang kaya ini adalah tentang sikap kita terhadap uang. Namun karena ada peristiwa-peristiwa lain yang diceritakan dalam Kitab Suci, misalnya tentang para perempuan yang menggunakan uang/harta-milik mereka untuk mendukung Yesus dan karya pelayanan-Nya (lihat Luk 8:1-3), maka lebih tepatlah apabila kita mengatakan bahwa bacaan Injil hari ini adalah tentang sikap dan disposisi kita yang tidak hanya berkaitan dengan masalah uang.

Ada sesuatu dalam sikap orang muda-kaya ini yang tidak benar. Yesus melihatnya dan berupaya untuk mengangkat masalahnya ke atas permukaan, agar supaya orang muda-kaya ini dapat bebas menerima kasih-Nya. Yesus melihat bahwa orang muda-kaya ini telah memperkenankan harta-kekayaannya menjadi berhala, yang mempunyai suatu posisi yang lebih tinggi daripada Allah sendiri.

Cerita dari Matius ini dapat menggerakkan kita untuk mengajukan suatu pertanyaan yang serupa. Apakah ada sikap kita terhadap uang, pengakuan/penghargaan dari orang lain, kepenuhan-diri, atau kekuasaan – yang menduduki tempat yang lebih tinggi daripada Allah? Apakah disposisi-disposisi ini begitu berarti bagi kita sehingga menyebabkan kita meminimalisir atau malah menghilangkan atau melupakan samasekali cara yang diinginkan Allah bagi kehidupan kita? Apakah semua itu lebih penting bagi kita daripada relasi kita dengan Yesus?

Bagi Yesus, hidup kita dengan-Nya bukanlah berdoa pada waktu-waktu tertentu secara teratur, menghadiri Misa, pekerjaan apa yang kita lakukan, atau cara kita hidup. Memang benar Tuhan Yesus menginginkan kita hidup dengan cara tertentu – dipenuhi dengan tindakan-tindakan positif penuh keutamaan. Akan tetapi mungkinlah untuk melakukan segala hal yang benar dan tetap menjalani kehidupan yang terfokus kepada (kepentingan)diri kita sendiri dan bukan pemberian kemuliaan dan kehormatan bagi Allah.

Saudari-saudara yang dikasihi Kristus, Allah menginginkan hati kita. Dia menginginkan kita menjadi kurban yang hidup bagi-Nya. Kita perlu jelas bahwa Bapa surga lebih menyukai umat yang memiliki komitmen penuh pada Putera-Nya – walaupun umat ini juga bisa saja tidak sempurna, lemah, rentan terhadap godaan dan dosa, dan tidak setia. Bapa surgawi mempunyai kesulitan yang jauh lebih besar dengan umat yang mungkin “nyaris-sempurna” namun yang juga berpegang teguh pada independensi mereka, kemandirian mereka dan pemenuhan-diri. Mereka yang lemah namun mengasihi Yesus lebih menarik bagi Allah daripada orang-orang hebat yang lebih mengasihi diri mereka sendiri ketimbang Putera-Nya, Yesus!

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan hatiku kepada-Mu. Anugerahkanlah kepadaku suatu hasrat untuk menyingkirkan setiap halangan yang merintangi diriku dapat berjalan bersama-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan dengan judul “ALLAH INGIN MEMMBERIKAN KEPADA KITA SUATU KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK” (bacaan tanggal 19-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  16 Agustus 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENELADAN BUNDA MARIA DALAM PERJALANAN KITA MENUJU KEKUDUSAN

MENELADAN BUNDA MARIA DALAM PERJALANAN KITA MENUJU KEKUDUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 18 Agustus 2019)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Why 11:19;12:1,3-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Kadang-kadang kita melihat seakan-akan para kudus adalah suci dari “sono”-nya, sejak lahir memang begitu. Kebenarannya adalah bahwa kekudusan bertumbuh dalam diri kita semua sampai seberapa jauh kita mencari Tuhan dalam situasi yang kita hadapi setiap hari, merenungkan sabda-Nya, dan belajar mentaati perintah-perintah-Nya dan kehendak-Nya bagi hidup kita. Ini adalah jenis kekudusan untuk mana Maria adalah “model” yang paling agung.

Selagi dia merefleksikan Kitab Suci dan sejarah karya Allah di tengah umat, Maria menjadi mengerti cara Allah berkarya di dunia. Dia melihat Allah senang memakai orang-orang lemah dan terabaikan untuk “merendahkan” orang-orang berkuasa. Maria melihat bahwa Allah senang sekali memajukan rencana-rencana-Nya dengan cara-cara tidak seperti diharap-harapkan: membelah Laut Merah, menurunkan Saul dan membangkitkan Daud si gembala, bahkan membiarkan orang-orang Yahudi digiring oleh bangsa asing ke tempat pembuangan agar mereka belajar mentaati diri-Nya. Selagi Maria merenungkan cara Allah ini, Allah sendiri sedang menyiapkan dirinya bahwa pada suatu hari dia akan diundang untuk ikut ambil bagian dalam mewujudkan rencana-Nya.

Dengan penuh rasa percaya, Maria menempatkan keseluruhan masa depannya ke dalam tangan-tangan Allah. Setiap peristiwa merupakan suatu kesempatan bagi imannya dan kasihnya kepada Allah untuk menjadi semakin dalam. Ketika Yusuf bergumul dalam batinnya apakah dia akan menceraikannya, Maria tetap yakin bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya. Pada waktu dia mengunjungi Elisabet, imannya diperdalam ketika dia mendengar saudari sepupunya memuji dan memuliakan Allah. Akhirnya di kaki salib Yesus, pada saat hatinya sendiri tertembus oleh rasa duka yang sangat mendalam, Maria membuat tindakan penyerahan diri yang final dengan menyerahkan Puteranya ke dalam tangan-tangan Allah yang penuh kasih.

Setiap hari kita dipanggil untuk “memasukkan” doa kita ke dalam situasi-situasi yang kita hadapi. Yesus ingin agar kita merenungkan sabda-Nya sehingga dengan demikian Ia dapat membentuk diri kita masing-masing menjadi orang-orang saleh sungguhan, bukan yang berpura-pura saleh seperti kebanyakan orang Farisi dan para pemimpin agama Yahudi lainnya pada masa hidup-Nya. Allah-lah yang membentuk kita menjadi orang-orang kudus, namun adalah pilihan kita untuk membuka hati bagi-Nya atau tidak. Marilah kita membuka pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat kita yang terdalam kepada-Nya agar Ia dapat menyentuh dan membimbing kita. Marilah kita bersama Maria pada hari ini merayakan hari raya gerejawi yang sangat istimewa ini dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya dalam diri kita semua.

Catatan tentang Hari Raya ini: Menurut MAWI (sekarang KWI) 1972, “Hari Raya Maria Diangkat ke Surga” (tanggal sebenarnya adalah 15 Agustus) dapat dipindahkan ke Hari Minggu terdekat.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mampu melakukan segala hal. Kasih-Mu sungguh agung dan luhur; rencana-Mu sudah ada sejak kekal; cara-cara-Mu sempurna dan pantas serta layak untuk dipercaya. Aku sungguh merindukan hari di mana aku dapat berjumpa dengan Engkau, muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Kedua hari ini (1Kor 15:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “PESTA KITA HARI INI BUKANLAH SEKADAR TENTANG MARIA” (bacaan tanggal 18-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 14 Agustus 2019 [Peringatan/Pesta S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam –Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA – 17 AGUSTUS 2019

Jakarta, 17 Agustus 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS