ORANG KAYA YANG BODOH

ORANG KAYA YANG BODOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 21 Oktober 2019)

OSU (Ordo Santa Ursula): Hari Raya S. Ursula, Perawan – Pelindung Tarekat

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah  terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Rm 4:20-25; Mazmur Tanggapan: Luk 1:69-75 

“Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”  (Luk 12:21)

Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh ini hanya terdapat dalam Injil Lukas.  Sah-sah saja apabila ada orang yang bertanya: “Siapakah orang yang tidak ingin kaya?”  Tetapi kaya yang bagaimana? Dengan demikian, tidak mengherankanlah apabila “bertumbuh menjadi (semakin) kaya untuk diri sendiri sebagai lawan dari bertumbuh menjadi (semakin) kaya di hadapan Allah” merupakan tema yang berada di jantung dari semua spiritualitas Kristiani.

Orang kaya dalam bacaan Injil hari ini adalah seorang yang bodoh. Mengapa dikatakan bodoh? Karena dia mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, padahal seharusnya dia kaya di hadapan Allah (Luk 12:21). Perumpamaan ini menggarisbawahi kebutuhan akan perspektif yang tepat. Yesus tidak mencela kekayaan di sini. Yesus berbicara mengenai distraksi yang terjadi pada area-area lain dalam kehidupan kita sebagai akibat dari suatu hasrat tanpa kendali untuk menumpuk kekayaan.

Menjadi kaya di hadapan Allah janganlah diartikan bahwa kita harus menghabiskan uang kita – bahkan sampai menguras semua uang yang ada dalam rekening-rekening kita di bank. Menjadi kaya di hadapan Allah adalah perkembangan dari sumber daya batiniah dan kekuatan spiritual dalam diri kita yang memampukan kita menghargai kasih Allah bagi kita dan kehadiran-Nya yang penuh kasih-sayang seorang Bapa dalam kehidupan kita. Kekuatan batiniah itu menjadi batu karang yang kokoh yang di atasnya hidup kita dibangun. Atas dasar fondasi yang kokoh itulah kita menghayati kehidupan sosial maupun profesional kita.

Menimbun kekayaan untuk kepentingan sendiri – seperti disoroti dalam perumpamaan ini – adalah upaya untuk mengakumulasi harta-kekayaan tanpa dasar moral dan spiritual yang diperlukan sebagai dasar. Dengan demikian kita menjadi budak dari harta-kekayaan kita. Katakanlah bahwa kekayaan duniawi menjadi berhala yang kita sembah. Seandainya semua itu hilang-lenyap, maka kita pun tidak memiliki apa-apa lagi untuk menggantungkan diri. Ada orang yang mengatakan bahwa kekayaan duniawi pada hakekatnya adalah sejenis kebangkrutan spiritual.

Allah, Bapa kita kaya dalam rahmat-Nya (Ef 2:4). Ia juga memiliki kekayaan anugerah besar sekali yang tak terbayangkan oleh kita (Ef 2:7; 3:8). Santo Paulus menulis: “Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus” (Ef 1:18). Salahkah kita jika mengatakan bahwa sebagai anak-anak Allah kita adalah yang paling kaya di dunia, tetapi tidak perlu kaya dalam pengertian duniawi?

Kita bertumbuh-kembang semakin kaya di hadapan Allah dengan mewarisi sepenuh mungkin kekayaan kemuliaan-Nya. Kita benar-benar akan kaya dengan menghayati janji-janji Baptis kita sesetia mungkin sebagai anak-anak Allah. Kita akan memegang teguh sabda Yesus: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berilah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di surga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusak ngengat” (Luk 12:32-33; bdk. Mat 19:21). Kita juga harus “berbuat baik, menjadi kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi dan dengan demikian, mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya” (1Tim 6:18-19).

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (1Kor 8:9). Allah memang menghendaki agar anak-anak-Nya benar-benar kaya dengan kekayaan-Nya dan menurut ukuran Allah. Bersama Santo Paulus marilah kita berkata: “… segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp 3:8). Marilah kita (anda dan saya) menjadi semakin kaya di hadapan Allah.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik. Kuduslah nama-Mu, ya Khalik langit dan bumi. Terangilah mata hatiku supaya mengenali betapa kayanya kemuliaan warisan-Mu kepadaku sebagai anak-Mu (Ef 1:18). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “HAI ENGKAU YANG BODOH(bacaan tanggal 21-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

[Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan “kaya di hadapan Allah” (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam “Sabda Bahagia” terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan “kaya di hadapan Allah” di atas.]

 

Cilandak, 18 Oktober 2019 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PERUMPAMAAN TENTANG HAKIM YANG TAK BENAR

PERUMPAMAAN TENTANG HAKIM YANG TAK BENAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIX [TAHUN C] – 20 Oktober 2019)

HARI MINGGU MISI

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8) 

Bacaan Pertama: Kel 17:8-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 121:1-8; Bacaan Kedua: 2Tim 3:14-4:2 

Kita melihat begitu banyak terjadi ketidak-adilan dan keserakahan pada banyak tempat di dunia ini, termasuk di negeri kita tercinta ini. ‘Wong Cilik’ diperlakukan dengan semena-mena tanpa mempedulikan sedikit pun hak-hak azasi mereka.  Bahkan dalam hidup kita sendiri pun, tentunya kita juga mengalami di sana-sini ‘ketidak-adilan’ itu. Kita merasa tak berdaya dan tidak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi. Dalam situasi-situasi seperti ini hati kita berseru: “Akankah Allah menurunkan keadilan atas mereka yang tak bersalah?”

Yesus menjamin bahwa seruan kita tidaklah percuma. Dalam perumpamaan Yesus ini, sang janda merupakan personifikasi dari orang yang paling rentan dalam masyarakat, yang paling mudah dilecehkan oleh orang lain. Dalam ketidak-berdayaannya dia mohon kepada Pak Hakim untuk membela hak-haknya. Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk menolongnya, tidak mempunyai kedudukan sosial sebagai orang terpandang, tidak pula mempunyai uang dan kuasa. Sekarang, secara lengkap dia tergantung pada good-will Pak Hakim. Tetapi Pak Hakim ini bukanlah seorang yang memikirkan masalah keadilan, dia tidak takut kepada Allah dan tidak juga menaruh respek kepada orang-orang lain. Oleh karena itu kelihatannya permohonan sang janda itu akan sia-sia belaka. Namun demikian, permohonan sang janda yang tabah-ulet ini akhirnya meluluhkan hati Pak Hakim karena dia sudah merasa begitu terganggu oleh permohonan-permohonan sang janda yang datang secara bertubi-tubi.

Dari perumpamaan ini Yesus menarik tiga buah kesimpulan yang harus diterapkan dalam hidup kita. Pertama, kalau Pak Hakim yang tidak jujur itu mau mendengarkan permohonan sang janda, maka lebih-lebih lagi Allah yang menurunkan keadilan kepada mereka yang dikasihi-Nya manakala mereka berseru kepada-Nya secara terus-menerus. Allah adalah “seorang” Bapa penuh-kasih yang membela orang-orang yang tak bersalah. Allah mendengarkan dan menjawab seruan-seruan kita. Kedua, Allah tidak akan menunda lama-lama. Dengan “cepat” Ia akan menjawab doa-doa umat beriman. “Cepat” bukan berarti doa kita “langsung” dijawab-Nya, karena mungkin saja Dia masih menunda. Namun demikian mengapa Allah tidak langsung menjawab permohonan kita? Pertanyaan ini membawa kita kepada butir berikutnya. Ketiga, Yesus mengakhiri perumpamaan-Nya dengan sebuah pertanyaan: “… jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:8). Pada waktu Yesus datang untuk menghakimi dunia, apakah masih ada orang yang berdoa untuk kedatangan-Nya dan percaya bahwa hal itu akan terjadi? Pertanyaan sebenarnya bukanlah apakah Allah akan membawa keadilan pada akhir zaman, melainkan apakah kita dengan penuh kepercayaan masih berpengharapan bahwa hal itu akan dilakukan-Nya? Allah menunda jawaban-Nya supaya memberikan kepada kita suatu kesempatan untuk memanifestasikan iman kita kepada-Nya. Iman yang ingin dilihat Allah dari kita adalah iman seperti iman sang janda dalam perumpamaan di atas. Kalau kita memiliki iman seperti itu, maka doa-doa kita pun tidak penuh diisi dengan berbagai permohonan dari seorang peminta-segala, akan tetapi diisi dengan harapan penuh sukacita. Marilah kita mengikuti contoh sang janda yang tekun ini sementara kita menempatkan segala kebutuhan kita di hadapan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar menjadi lebih yakin lagi akan kebaikan-Mu dan berilah aku kesabaran yang diperlukan untuk mampu melihat perkembangan segala sesuatu seturut kehendak-Mu. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, keberanian untuk bertekun dalam doa-doaku, walaupun selagi Engkau memberikan damai-sejahtera kepadaku karena mengetahui bahwa Engkau akan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK BERDOA DENGAN IMAN DAN PENUH KEYAKINAN” (bacaan tanggal 20-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Oktober 2019 [Peringatan Wajib S. Ignatiu dr Antiokhia, Uskup Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 19 Oktober 2019)

Peringatan Fakultatif S. Yohanes dr Brebeuf dan Isaac Jogues, Imam dkk. Martir-Kanada

Peringatan Fakultatif S. Paulus dr Salib, Pendiri Tarekat CP (Pasionis)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Rm 4:13,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:6-9, 42-43 

Yesus melanjutkan pengajaran singkatnya kepada para murid-Nya sebelum Ia mengajar kepada orang banyak. Ia mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka harus kuat dalam menghadapi berbagai pencobaan. Biaya dari kemuridan yang sejati adalah penderitaan dan pengejaran serta penganiayaan, namun kemenangan vital adalah suatu keniscayaan. Dengan gamblang Yesus mengatakan bahwa apabila mereka mengakui-Nya di hadapan manusia, maka Dia akan mengakui mereka di hadapan Allah. Namun apabila mereka menyangkal-Nya di depan manusia, maka dia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah (Luk 12:8-9).

Martir-martir dari Gereja awal mestinya sangat menyadari makna kata-kata Yesus ini. Mereka mengetahui dan percaya akan janji Yesus. Tidak ada siapapun atau apapun yang dapat memisahkan mereka dari Yesus. Santo Paulus menulis, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? ….. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35,38-39).

Kita semua dipanggil untuk menjadi murid-murid Kristus. Tidak ada “orang banyak” dalam Kekristenan (Kristianitas) yang sejati (sebagai contoh, bacalah Yoh 6:60-71). Yang ada adalah murid-murid Kristus! Kita semua harus menjadi para murid Kristus, para pengikut Kristus, para pengikut jejak Kristus! Itulah makna sebenarnya jika kita hendak dinamakan umat Kristiani. Kata-kata Yesus ini juga dimaksudkan untuk kita semua yang hidup pada abad ke-21 ini, artinya jaman NOW. Barangkali kita tidak “bernasib” sama dengan begitu banyak murid Kristus di abad-abad pertama Gereja, yaitu mengalami kematian sebagai martir, namun kita harus kuat dalam upaya kita menolak semangat duniawi yang sangat kuat-berpengaruh dalam kehidupan kita, dan cara-cara jahat dan nilai-nilai buruk yang diturunkannya. Kita harus menjadi “tanda lawan” dalam masyarakat di mana “materialisme”, “konsumerisme”, “hedonisme”, “individualisme” dan sejenisnya merupakan nilai-nilai yang dianut banyak sekali orang.

Kita harus menghayati/ menjalani hidup Kristiani sejati yang penuh dengan sukacita dan cintakasih, yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita di depan orang-orang lain, apakah kita seorang menteri kabinet, seorang anggota DPR-RI, seorang anggota Mahkamah Konstitusi, seorang jenderal, seorang guru sekolah, seorang dokter atau perawat, seorang eksekutif perusahaan, seorang petani, dlsb., apalagi sebagai pemuka Gereja.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya agar mereka siap menghadapi oposisi, pengejaran, penganiayaan serta penindasan dari pihak lawan. Yesus mengasumsikan bahwa para murid-Nya akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman mereka kepada-Nya. Namun Dia seakan-akan berkata, “Don’t worry, be happy! Aku akan menyertai Engkau di mana saja engkau berada atau ke mana saja engkau pergi. Roh Kudus-Ku akan mengajar engkau apa yang harus kaukatakan dan lakukan” (lihat Luk 12:11-12).

Barangkali kita tidak akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman kita kepada Yesus. Namun pasti ada saat-saat dalam kehidupan setiap orang dari kita umat Kristiani, di mana kita harus sungguh berkonfrontasi dengan kejahatan dunia. Inilah moments of truth yang tidak bisa kita hindari! Kita tidak pernah boleh merasa ragu karena Kristus telah berjanji untuk senantiasa menyertai kita [Dia adalah Imanuel (Mat 1:23; 28:20)], memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya untuk mengarahkan dan membimbing kita dalam pertempuran melawan kuasa kejahatan (si Jahat).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Bersama sang pemazmur kami ingin memanjatkan syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus: “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi” (Mzm 58:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHUJAT ROH KUDUS” (bacaan  tanggal 19-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Oktober 2019 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Pengarang Injil – Jumat, 18 Oktober 2019)

…Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia kemari, karena pelayanannya berguna bagiku. Tikhikus telah kukirim ke Efesus. Jika engkau kemari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama yang  terbuat dari kulit.

Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat jahat terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya. Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia, karena dia sangat menentang ajaran kita. Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku – kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka – tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. (2Tim 4:10-17) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18; Bacaan Injil: Luk 10:1-9

Kalau seorang nelayan miskin dan tak berpendidikan meninggalkan segalanya demi mengikuti sang Rabi dari Nazaret, pantaslah bagi kita untuk mengagumi keberaniannya. Namun bagaimana dengan seorang dengan latar pendidikan dan profesi sebagai dokter/ tabib yang sukses seperi Lukas? Rasa kagum kita menjadi terpesona. Kita hanya dapat mengatakan: Puji Tuhan, luar biasa. Apa sih motivasi yang ada dalam diri sang tabib sehingga dia mau membuat pengorbanan sedemikian besar?

Menurut tradisi, Lukas dilihat sebagai pengarang “Injil Ketiga” dan “Kisah Para Rasul”. Dia adalah seorang tabib yang berhasil dalam profesinya. Dia bukanlah seorang Yahudi (lihat Kol 4:11,14). Ada tradisi yang mengatakan bahwa Lukas tidak pernah menikah, dan dia meninggal dunia penuh dengan Roh Kudus pada usia 84 tahun. Ada juga tradisi yang mengatakan bahwa Lukas adalah seorang pelukis. Memang dia menulis Injilnya seperti seorang yang orang menyusun album foto (bacalah sebuah buku yang baik karangan almarhum P. Tom Jacobs SJ, LUKAS PELUKIS HIDUP JESUS, 1988).

Tabib yang sangat berbakat ini barangkali juga bukan seorang miskin-uang, dengan demikian dapat mengecap kehidupan penuh kenikmatan sejalan dengan kesuksesan dunia. Namun Pak dokter Lukas ini justru memilih keras dan sulitnya perjalanan bersama Paulus dan mereka menghadapi segala bahaya yang mengancam suatu kehidupan misioner sebagai pewarta Kabar Baik Yesus Kristus. Lukas bahkan menemani Paulus ke Roma dan tinggal bersama Rasul itu selagi dalam tahanan rumah. Kesetiaan luar biasa Lukas kepada Paulus ini tentunya menghibur Paulus. Dalam surat kepada Timotius ini, Paulus mengungkapkan bahwa ada rekannya yang meninggalkan dia, ada  pula yang diutus pergi ke berbagai tempat. Paulus menulis: “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku” (2Tm 4:11). Sebuah kalimat yang penuh arti.

Apakah yang menarik Lukas sehingga mau pergi “jalan-jalan” ke mana-mana bersama Paulus? Sebuah kehidupan yang penuh bahaya? Jawabnya: YESUS !!! Yesus telah   menangkap hati Lukas, dan dengan begitu sang dokter hanyalah dapat mengikut ke mana Yesus akan memimpin dirinya.

Kalau Yesus menangkap hati kita, kita juga akan mengalami apa yang dialami oleh Lukas – kasih Allah yang melimpah, dan kasih ini akan mengubah hati kita masing-masing. Kita tidak lagi ingin sekadar hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Yesus.  Kita akan berkeinginan keras untuk mengikuti Dia dan menjadi setia kepada sabda-Nya, apa pun yang akan terjadi. Kita akan mempunyai kerinduan mendalam akan Kerajaan-Nya, dan kita pun akan mengabdikan diri kita untuk pelayanan menyebarkan Kabar Baik-Nya.

Lukas dipenuhi dengan cintakasih Yesus dan juga bela rasa-Nya, dan semua ini dicerminkan dalam Injilnya yang indah itu. Misalnya, Injil Lukas adalah kitab Injil satu-satunya yang bercerita mengenai perumpamaan Yesus tentang “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Salah satu perumpamaan yang sulit untuk dilupakan! Hanya dalam Injil Lukas lah kita dapat membaca “perumpamaan tentang Anak yang hilang” (Luk 15:11-32). Ini juga sebuah perumpamaan yang indah. Akhirnya, Injil Lukas adalah kitab Injil satu-satunya yang bercerita tentang belas kasih Yesus kepada seorang kepala pemungut cukai yang bernama Zakheus, yang sangat dibenci oleh masyarakat banyak (lihat Luk 19:1-10). Juga hanya dalam Injil Lukas kita dapat membaca tentang si penjahat yang bertobat di kayu salib  (lihat Luk 24:33-43). Setelah membaca serta merenungkan keempat bacaan dari Injil Lukas ini, kita dapat merasakan betapa kita masing-masing berharga di mata Yesus dan kita sungguh sangat berarti bagi Dia. Kemudian, dengan rendah hati dan rasa syukur mendalam kita dapat berkata: “Tuhan Yesus, engkau adalah segalanya bagiku. Tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk menjadi bersama-Mu.”

DOA: Roh Kudus, banjirilah aku dengan suatu pewahyuan pribadi yang lebih mendalam tentang Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Saudara dan Sahabatku. Bukalah mataku agar dapat melihat Yesus hadir di dekatku, dalam Kitab Suci, dalam Ekaristi dan dalam doa-doaku. Amin. 

Catatan: Untuk melihat uraian tentang Bacaan Pertama hari ini (2Tim 4:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “LUKAS: SANG TABIB REKAN KERJA DAN SAHABAT SETIA PAULUS” (bacaan tanggal 18-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Oktober 2019 [Peringatan Fakultatif S. Hedwig, Biarawati & S. Margarita Maria Alacoque, Perawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEMUNAFIKAN ITU BAGAIKAN SEBILAH PISAU BERMATA DUA

KEMUNAFIKAN ITU BAGAIKAN SEBILAH PISAU BERMATA DUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Ignatius dr Antiokhia – Kamis, 17 Oktober 2019)

Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, padahal nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian, kamu mengaku bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Karena itu, hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan sebagian dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari orang-orang zaman ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari orang-orang zaman ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.”

Setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan berbagai pertanyaan. Mereka berusaha menjebak-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya. (Luk 11:47-54) 

Bacaan Pertama Rm 3:21-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-6 

Yesus menuduh orang orang Farisi “telah mengambil kunci pengetahuan” (Luk 11:52). Yesus tidak hanya meyakinkan mereka bahwa mereka sendiri belum masuk ke dalam pengetahuan dan hikmat itu sendiri, namun ajaran mereka telah menghalang-halangi orang lain untuk mengenal kebenaran.

Orang-orang muda dengan cepat dapat mendeteksi adanya kemunafikan dalam diri para orangtua mereka. “Ayahku terus saja melarang-larang aku merokok padahal aku tahu pasti bahwa beliau pun merokok, walaupun secara diam-diam dan sekali-kali saja.” Ada juga yang mengatakan, “Generasi yang lebih tua sungguh tidak memahami kita. Namun aku yakin sekali bahwa mereka tidak lebih baik daripada kita pada waktu mereka cukup muda untuk menikmati hidup ini.”

“Mereka seharusnya tidak marah-marah kepadaku dengan berteriak-teriak seperti itu. Lihatlah kekacau-balauan dunia yang dibuat oleh ulah generasi mereka.” “Mereka terus saja berkhotbah betapa buruknya minuman keras itu, namun setiap kali mereka pulang ke rumah aku dapat mencium bau napas mereka, …… penuh aroma miras.”

Apakah protes-protes ini, keluhan-keluhan ini, sama tuanya dengan sejarah umat manusia? Kita bisa saja bertanya-tanya kepada diri kita sendiri. Setiap generasi baru kaum muda bangkit untuk menuduh kemunafikan generasi yang lebih tua, untuk menuduh masyarakat karena berbagai kejahatan yang dilakukan dalam dunia, dst. – namun tidak ada satu generasi pun yang kelihatan berhasil menuntaskan upaya perbaikan atas “kekeliruan-kekeliruan” yang dibuat di masa lampau oleh mereka yang mendahului. Bayangkanlah bagaimana generasi mendatang (sekarang masih anak-anak kecil) di Indonesia tercinta ini akan memaki-maki generasi di atas mereka yang telah menggiring negeri ini menuju keterpurukan dan harus memikul beban utang negara yang begitu fantastis jumlahnya. Juga bagaimana kekayaan negara berupa berbagai sumber daya alam yang konon berlimpah-ruah sudah menjadi sedemikian menyusut, sebagian besar disebabkan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh para “pemimpin” yang terdiri dari pribadi-pribadi serakah dan tamak, yang lebih memilih kenyamanan diri mereka daripada kepentingan/kesejahteraan umum. Sekarang, pertanyaannya adalah apakah yang telah kita lakukan berkaitan dengan keluhan-keluhan kita sendiri?

Orang-orang Farisi selama berabad-abad mencoba untuk memecahkan masalah pelik seperti ini dengan melipat-gandakan jumlah hukum/peraturan. Berbagai hukum/ peraturan itu dapat menjadi “benteng kebenaran” yang dengan bebas dapat didengung-dengungkan oleh para pemuka agama setiap saat mereka berkhotbah seturut kebutuhan audiensi yang ada. Berbagai hukum/peraturan ini juga ditaati oleh orang-orang yang “saleh-lugu”, pokoknya mematuhi semua hukum/peraturan yang tersurat (belum tentu yang tersirat). Berbagai hukum/peraturan itu juga dengan mudah dapat diabaikan oleh sebagian lagi orang, yang akan bersikap dan berperilaku seturut “sikon” yang ada.

Kemunafikan itu bagaikan sebilah pisau yang bermata dua. Kita menggunakannya dalam melawan orang-orang lain untuk menutup-nutupi kesalahan-kesalahan atau kegagalan-kegagalan kita sendiri. Mengapa koq selalu begitu mudahnya bagi kita untuk melihat kemunafikan dalam diri orang-orang lain, tetapi tidak dalam diri kita sendiri? Memang kelihatannya seakan-akan tidak ada jalan keluar dari “lingkaran setan”, kecuali jalan kejujuran yang bersifat terbuka.

Sekali peristiwa di dekat pintu gerbang Yerikho, Yesus bertanya kepada seorang buta yang bernama Bartimeus, apakah yang dikehendaki orang buta itu untuk dilakukan Yesus atas dirinya. Bartimeus menjawab dengan jujur penuh keterbukaan, “Rabuni, aku ingin dapat melihat!” (Mrk 10:51). Permohonan atau doa Bartimeus ini adalah sebuah doa yang dibutuhkan oleh kita semua. Kita membutuhkan kejujuran, agar Yesus Kristus  dapat melihat siapa diri kita sebenarnya. Kemunafikan tidak pernah dapat dikalahkan, kecuali kalau kita masing-masing mau belajar untuk mengalahkan kemunafikan kita sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukannya untuk Saudari-Saudara!

DOA:  Tuhan Yesus, bebaskanlah diriku dari pengucapan kata-kata yang mengandung kebencian, dan jagalah aku jangan sampai ketidakbenaran membutakan jalanku. Jagalah agar aku tidak terlibat dalam rancangan-rancangan jahat terhadap orang lain dan buatlah diriku semakin kudus dari hari ke hari. Perkenankanlah aku berdiam di dekat hadirat-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:47-54), bacalah tulisan yang berjudul “SERUAN CELAKA YANG DITUJUKAN KEPADA ORANG-ORANG FARISI” (bacaan tanggal 17-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Oktober 2019 [Peringatan Wajib S. Teresia dr Yesus, Perawan Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS

PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Rabu, 15 Oktober 2019)

Peringatan Fakultatif S. Hedwig, Biarawati

Peringatan Fakultatif S. Margarita Maria Alacoque, Perawan

“ ……… Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terbaik di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab, “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun. ………” (Luk 11:42-46) 

Bacaan Pertama: Rm 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:2-3,6-7,9 

Bayangkanlah anda mengundang seorang tamu istimewa untuk makan bersama di rumahmu dan kemudian anda malah “dimaki-maki” dan dihina, demikian para tamu lain yang hadir. Tamu macam apa yang akan menyerang tuan rumah dengan kata-kata yang terasa sangat keras itu?

Seperti seekor singa ganas yang menyerang mangsanya, Yesus – singa dari suku Yehuda (Why 5:5) – menyerang sikap negatif yang telah begitu lama mengendap dalam hati orang-orang Farisi. Dalam menafsirkan Hukum Musa, sejumlah orang Farisi menggunakan pendekatan kaku yang mengabaikan panggilan untuk membuat keseimbangan antara keadilan dan belas kasih. Dalam menanggapi hal itu, Yesus berupaya untuk menunjukkan kepada mereka “semangat” atau roh dari hukum tersebut. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat pada acara makan malam tersebut adalah para pakar dalam bidang hukum Musa. Namun Yesus ingin agar mereka melihat bahwa Kerajaan Allah adalah terlebih-lebih mengenai relasi daripada mengenai peraturan-peraturan. Tantangannya bukanlah sekadar kepatuhan-kaku untuk melakukan “persepuluhan” dan/atau kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya, melainkan untuk mengasihi Allah dan bersikap serta berlaku adil terhadap umat-Nya. Mematuhi perintah-perintah Allah bukanlah untuk membuktikan kekudusan seorang pribadi, melainkan untuk mengasihi Allah dan tetap bersikap dan berlaku benar terhadap kasih perjanjian-Nya.

Tidak seperti para ahli Taurat yang dikatakan oleh Yesus “tidak menyentuh beban yang diletakkan oleh mereka pada orang dengan satu jari pun” (lihat Luk 11:46), Yesus memikul semua beban dan dosa-dosa kita pada kayu salib. Tidak seperti orang-orang Farisi, yang membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi tidak bagian dalamnya (Luk 11:39), Yesus datang untuk membersihkan kita luar-dalam, guna memurnikan hati kita dan menarik diri kita kepada-Nya. Yesus tidak hanya mengatakan kepada kita bagaimana kita harus bertindak. Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban agar dengan demikian kita akan memiliki kuasa untuk mengikuti perintah-perintah-Nya.

Inilah seluruh alasan mengapa Allah menghendaki adanya inkarnasi: “Sabda menjadi daging!” (Yoh 1:14). Yesus datang ke dunia untuk berada bersama kita, untuk menjadi seorang pribadi manusia seperti kita, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi seperti Dia dan hidup dengan-Nya untuk selama-lamanya. Setiap hari Yesus berada bersama kita – Dia adalah Imanuel – untuk menolong kita memikul beban-beban kita dan untuk mencurahkan rahmat ilahi secara berlimpah. Yesus tidak meninggalkan kita sendiri ketika Dia kembali kepada Bapa di surga. Yesus meninggalkan Roh Kudus-Nya bagi kita untuk menjadi Penasihat dan Penghibur kita, dan Ia meninggalkan bagi kita tubuh-Nya dan darah-Nya dalam Ekaristi. Bukankah semua ini merupakan bukti betapa besar kasih-Nya kepada kita?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku, jiwa dan ragaku! Ini, terimalah hatiku ini! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil dosa-dosaku dan memikul beban-bebanku. Aku juga bersyukur sedalam-dalamnya karena kasih-Mu yang tak terkira, Engkau bersedia mati demi aku. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan berilah aku makan “roti kehidupan”. Berilah makanan bagi jiwaku dengan “asupan makanan yang bergizi”. Puaskanlah rasa hausku akan hal-hal rohani. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAB ALLAH TIDAK MEMANDANG BULU” (bacaan tanggal 16-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Oktober 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERIKANLAH ISINYA SEBAGAI SEDEKAH DAN SESUNGGUHNYA SEMUANYA AKAN MENJADI BERSIH BAGIMU

BERIKANLAH ISINYA SEBAGAI SEDEKAH DAN SESUNGGUHNYA SEMUANYA AKAN MENJADI BERSIH BAGIMU

(Bacaan Pertama Misa Kudus,  Peringatan Wajib S. Teresia dr Yesus – Selasa, 15 Oktober 2019)

KSFL: Pesta Tarekat – Hari Jadi Persaudaraan KSFL

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.” (Luk 11:37-41) 

Bacaan Pertama: Rm 1:16-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Pada tingkatan tertentu, orang Farisi ini kelihatannya seorang pribadi terhormat. Dengan mengundang Yesus makan malam, dia menunjukkan bahwa dirinya sungguh berminat untuk mengenal rabi yang populer akhir-akhir ini. Dengan mencuci tangannya secara seremonial sebelum makan, orang Farisi ini juga menunjukkan bahwa dia berhati-hati dan taat dalam memenuhi kewajiban-kewajiban keagamaannya. Akhirnya, dengan menahan diri dari tindakan mengkritisi tamunya, orang Farisi ini menunjukkan kesantunannya. Namun demikian Yesus menegur orang ini dan orang-orang Farisi lainnya dengan keras, dengan mengatakan bahwa orang Farisi itu serakah (“bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”; Luk 11:39). Mengapa Yesus sampai berkata-kata keras seperti itu, apalagi sebagai tamu istimewa dalam suatu acara makan malam? Kiranya bukan karena Yesus tidak mengasihi orang Farisi itu. Yesus senantiasa memandang setiap orang dengan kebaikan hati yang penuh bela-rasa. Jadi, apa yang dilakukan oleh Yesus?

Orang itu mempunyai masalah, yaitu bahwa dia tidak melihat atau tidak mau melihat. Walaupun dari luar kelihatan bahwa perilaku keagamaannya itu nyaris sempurna, hatinya dipenuhi dengan motivasi-motivasi non-religius. Pada dasarnya orang Farisi ini seorang pribadi yang serakah … tamak,  yang menginginkan untuk memperoleh lebih dan lebih lagi bagi dirinya, bukan memberi kepada orang-orang lain. Perilaku keagamaannya hanyalah merupakan tabir yang menghalanginya untuk dapat melihat kebutuhannya sendiri akan suatu perubahan batiniah. Hal paling baik yang dapat dilakukan oleh Yesus bagi diri si Farisi adalah memindahkan tabir itu ke tempat lain dan menunjukkan kepadanya apa saja yang ada di situ setelah tabir itu disingkirkan.

Sekarang, bagaimana dengan diri kita sendiri? Sampai seberapa seringkah kita menghindar, kita tidak mau menghadapi masalah keserakahan/ketamakan  yang ada dalam hati dan pikiran kita? Kita dapat saja berpikir bahwa mengubah diri kita sendiri itu sungguh sulit, bahkan tidak mungkin. Namun Yesus ingin membangunkan kita dari tidur dan mengingatkan akan kebutuhan kita untuk bertobat karena Dia ingin menyembuhkan kita. Yesus ingin membersihkan hati kita – bukan sekadar secara umum: Ia ingin menyembuhkan pikiran dan hati kita yang suka mementingkan diri sendiri, nafsu-nafsu dan kecemburuan serta rasa iri hati kita. Sekarang, maukah kita memperkenankan Yesus menjamah kita, menyentuhkan jari-jari kasih-Nya pada pemikiran-pemikiran dan pola-pola perilaku kita yang membutuhkan perubahan? Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa takut. Ia sudah mengetahui dosa-dosa kita, bahkan sebelum kita mengungkapkannya ……, dan bagaimana pun juga Dia tetap mengasihi kita.

Yesus bukanlah Yesus sekiranya Dia tidak memberi solusi atas masalah yang dihadapi seseorang. Yesus tidak hanya mengkritisi orang Farisi itu. Dia menunjukkan kepadanya jalan keluar dari keterikatan pada hal-hal yang buruk itu: “Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu” (Luk 11:41). Yesus berjanji kepada kita, bahwa apabila kita melangkah keluar dari pemikiran, sikap dan perilaku yang mementingkan diri sendiri, dan mulai menunjukkan perhatian secara konkret-praktis terhadap orang-orang lain, maka kita akan mengalami rahmat-Nya bekerja dalam diri kita dan mengubah hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memang membutuhkan perubahan batiniah. Namun aku tidak dapat melakukannya sendiri, untuk itu tolonglah aku. Sembuhkanlah diriku, agar aku dapat mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:37-41), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU YANG MENCERMINKAN KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 15-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10  BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Oktober 2019 [Peringatan Fakultatif S. Kalistus I, Paus Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS