JALAN YESUS MENUJU SALIB

JALAN YESUS MENUJU SALIB

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RABU DALAM PEKAN SUCI – 8 April 2020)

Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu. Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku! Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah? (Yes 50:4-9a) 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 69:8-10, 21-22.31.33-34; Bacaan Injil: Mat 26:14-25 

Dalam hari-hari menjelang kematian dan kebangkitan Yesus, Roh Kudus ingin menyatakan kepada kita lebih banyak lagi mengenai Yesus. Roh Kudus ingin menolong kita untuk membuka hati kita agar kita dapat membuang ide-ide keliru/salah, yang mungkin masih ada pada diri kita tentang Allah, dan menerima wawasan yang baru dan segar melalui sabda-Nya.

Dalam nyanyian ketiga “Hamba YHWH yang menderita”, Kitab Suci memberikan kepada kita gambaran profetis (kenabian) tentang ketaatan Yesus. Begitu besar kasih-Nya bagi kita sehingga Ia ikhlas menyelamatkan kita at any cost. Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus menghadapi semua godaan yang kita hadapi. Dia mengetahui bahwa diri-Nya akan mengalami kematian yang mengerikan, dan hal itu sungguh membuat susah hati-Nya (lihat Mrk 14:33-36). Namun demikian, Yesus tidak pernah menolak rencana penyelamatan Allah. Kekuatan yang dimiliki Yesus untuk tetap taat terhadap kehendak Bapa-Nya adalah karena Dia senantiasa terbuka bagi hikmat dan penyelenggaraan Bapa (lihat Yes 50:5).

Yesus tidak pernah menolak kehendak Allah, demikian pula Dia tidak melarikan diri dari orang-orang yang bermaksud “menghabiskan” diri-Nya. Yesus praktis memberikan diri-Nya menjadi sasaran cemoohan dan kekejaman para lawan-Nya. Dia memperkenankan mereka untuk menampar wajah-Nya, meludahi-Nya dan menarik janggut-Nya (lihat Yes 50:6). Sekarang, marilah kita merenungkan kedinaan dan kasih Yesus: Tuhan alam semesta merendahkan diri-Nya “turun” ke tengah umat manusia dan memperkenankan dirinya dipukul, dianiaya dan diolok-olok oleh manusia. Dengan ikhlas Ia menerima perlakuan tidak semestinya dari manusia agar Ia dapat menyelamatkan umat manusia dari kematian dan api neraka. Jika saya mengatakan “umat manusia”, maka di dalamnya tentu saja termasuk anda dan saya! Dalam doa-doa kita hari ini perkenankanlah realitas ini mengendap dalam pikiran hati dan pikiran kita. Kasih Allah sungguh luar biasa dan tidak ada taranya.

Yesus setia dalam upaya-Nya memenuhi rencana Bapa surgawi untuk menyelamatkan kita manusia. “Aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu …” (Yes 50:7). Tidak ada yang dapat menahan-Nya menuju salib. Ia yakin bahwa Bapa-Nya akan memberikan kemenangan kepada-Nya (Yes 50:8-9). Janji Injil adalah bahwa kita pun dapat dibuat berketetapan hati secara pasti untuk melayani Tuhan. Selagi kita membuka telinga kita bagi Allah setiap hari selagi kita membaca sabda-Nya dalam Kitab Suci, maka Dia akan menguatkan kita dalam melayani-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa Yesus begitu mengasihiku sehingga Dia taat kepada-Mu, bahkan sampai mati di kayu salib. Bukalah telingaku agar dapat mendengar suara-Mu. Bukalah hatiku agar aku lebih dapat mengalami kasih-Mu kepadaku. Tolonglah aku agar dapat mengasihi-Mu begitu rupa sehingga – seperti Yesus – aku pun dapat taat kepada-Mu, berapapun biayanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 26:14-25), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN AKU, YA RABI” (bacaan tanggal 8420) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-04 BACAAN HARIAN APRIL 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan 17-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA HARUS MENGAKUI DAN MENERIMA KENYATAAN BAHWA KITA MEMBUTUHKAN TUHAN

KITA HARUS MENGAKUI DAN MENERIMA KENYATAAN BAHWA KITA MEMBUTUHKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI – 7 April 2020)

Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Salah seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, “Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Lalu murid yang duduk dekat Yesus berpaling dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, “Dialah yang kepadanya aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mencelupkan roti itu, lalu mengambil dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti mengapa Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas, ada yang menyangka bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Setelah menerima roti itu, Yudas segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula sekarang Aku mengatakannya kepada kamu juga.

Simon Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus, “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus, “Nyawamu akan kauberikan kepada-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (Yoh 13:21-33,36-38) 

Bacaan Pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17

Pernyataan spontan dari Petrus, “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu” (Yoh 13:37) terdengar sebagai suara seorang murid gagah berani yang siap setiap saat membela Gurunya. Namun pada kenyataannya seruan Petrus itu menjadi salah satu “bualan” paling memedihkan sepanjang sejarah manusia. Manakala kita merenungkan sejenak pernyataan Petrus, kita tergoda untuk bertanya: “Apa sih yang ada dalam pikiran Petrus pada saat itu?” Namun pada kenyataannya hal-hal seperti ini terjadi sepanjang masa.

Sejak awal sejarah manusia, ketika Adam dan Hawa memilih untuk memakan buah dari pohon pengetahuan, bukannya dari pohon kehidupan Allah, maka kesombongan dan kemandirian telah menjadi aspek kejatuhan kita. Lagi dan lagi, Allah mengundang kita untuk menyisihkan agenda-agenda kita sendiri dan dipenuhi dengan hikmat-Nya. Lagi dan lagi, kita cenderung untuk berpikir bahwa kita dapat melakukan segala sesuatu dengan baik – oke oke saja – dengan segala sumber daya yang kita miliki sendiri. Namun di sisi lain kita juga dapat membayangkan Allah duduk ditakhta-Nya di surga, menantikan kita untuk akhirnya berkata: “OK, Tuhan, aku menyerah. Aku mengakui bahwa aku membutuhkan Engkau. Datanglah dan penuhilah diriku dengan rahmat dan kuat-kuasa-Mu.”

Salah satu dari pernyataan-pernyataan Yesus yang pertama di depan publik adalah, bahwa Dia tidak datang untuk menyembuhkan orang sehat melainkan orang sakit (lihat Mrk 2:17). Sepanjang Injil kita melihat bahwa orang-orang yang memberi tanggapan pada undangan Yesus secara paling positif adalah mereka yang memiliki kebutuhan paling besar: orang-orang miskin, orang-orang sakit dan orang-orang yang dirasuki roh-roh jahat. Orang-orang yang berkecukupan, yang “mandiri” atau “berdikari” (dalam arti self-sufficient) – mereka yang berpikir bahwa mereka telah memiliki segalanya untuk memecahkan masalah mereka – tidak mempunyai ruang dalam hati mereka untuk sabda Yesus. Bayangkan berapa jauh Kerajaan Allah dapat dimajukan karena semangat berapi-api orang-orang Farisi, atau karena keahlian para imam dan ahli Taurat. Sayang semuanya itu tidak pernah terjadi karena para pemimpin/pemuka agama Yahudi luput melihat privilese terbesar yang dapat diperoleh oleh seorang pribadi manusia, yakni  melayani Tuhan dengan kuat-kuasa Roh Kudus sendiri.

Bagaimana dengan kita (anda dan saya)? Adakah ruangan dalam hati kita yang tersedia bagi Yesus hari ini? Cukup besarkah ruangan yang tersedia dalam hati kita bagi-Nya? Janganlah kita seperti Petrus yang mengatakan kepada Tuhan bahwa kita mempunyai segala sumber daya yang kita perlukan untuk melayani Dia. Akuilah dan terimalah kenyataan, bahwa kita masing-masing memerlukan rahmat dan kuat-kuasa Yesus dalam kehidupan kita. Perhatikanlah dan rasakanlah ketika Dia mencurahkan kuat-kuasa Roh Kudus ke dalam diri kita, Roh yang membawa sukacita dan damai sejahtera. Tidak ada apa/siapa pun di dunia ini yang mampu memberikan kepada kita kuat-kuasa seperti itu.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku berlutut di hadapan hadirat-Mu saat ini dan mengakui serta menerima ketergantungan diriku secara mutlak pada rahmat-Mu. Tolonglah aku untuk mau dan mampu melihat, bahwa terpisah dari-Mu aku tidak dapat melakukan apa pun yang berarti dalam hidupku. Semoga aku tidak pernah akan berbangga atas apa yang telah kucapai, melainkan hanya berbangga  dalam Engkau dan belas kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yes 49:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI TERANG BAGI BANGSA-BANGSA” (bacaan tanggal 16-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-04 BACAAN HARIAN 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 April 2020 [HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG DIMAKSUDKAN ADALAH YESUS DAN SETIAP ORANG YANG DIPERSATUKAN DENGAN DIA DALAM IMAN

YANG DIMAKSUDKAN ADALAH YESUS DAN SETIAP ORANG YANG DIPERSATUKAN DENGAN DIA DALAM IMAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI – 6 April 2020)

Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.

Beginilah firman Allah, TUHAN (YHWH), yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya: “Aku ini, YHWH, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara. (Yes 42:1-7) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1-3,13-14; Bacaan Injil: Yoh 12:1-11 

“Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan.”  (Yes 42:1)

Siapakah yang dimaksudkan dengan “hamba” di sini? Tentu saja kita dapat mengatakan bahwa “hamba” itu adalah Yesus, namun sebenarnya itu bukan satu-satunya jawaban. Karena kita semua dibaptis ke dalam Kristus, maka setiap orang yang dipersatukan dengan Dia dalam iman dapat juga mengklaim bagi diri mereka gelar “hamba Tuhan”. Setiap/masing-masing kita adalah pilihan Allah, dan Ia merasa senang dengan kita, pribadi lepas pribadi.

Kata-kata ini memang menghibur, namun juga mengandung suatu tantangan. “Aku ini, YHWH, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa” (Yes 42:6) Allah telah “memegang tangan kita”, tidak hanya demi kita sendiri namun juga demi dunia di sekeliling kita. Sebagaimana Dia memanggil Yesus, sekarang Dia juga memanggil kita untuk “menegakkan hukum di bumi” dan untuk menjadi “terang untuk bangsa-bangsa” (Yes 42:4,6).

Menegakkan hukum sejatinya adalah menegakkan keadilan. Bagaimana Allah dapat mengharapkan hal seperti ini dari kita? Kadang-kadang, kelihatannya suatu perjuangan besar walaupun sekadar menegakkan keadilan dalam hati kita sendiri, apalagi dalam kehidupan orang-orang di sekeliling kita. Akan tetapi, inilah sebabnya mengapa Tuhan Allah telah memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya (Yes 42:1). Dipenuhi dengan rasa percaya dan kekuatan ilahi, setiap anggota Tubuh Kristus dapat membuat suatu perbedaan.

Bagaimana tampaknya “keadilan” itu? Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa “keadilan” itu kelihatan seperti kehidupan Yesus sebagai manusia. Hal itu berarti memperlakukan para warga masyarakat yang terlantar dengan lemah-lembut dan respek (Yes 42:3). Hal itu berarti mengunjungi penjara guna menyambut seorang tetangga yang baru dibebaskan dan membawanya jalan-jalan keliling kota dan mampir di warkop (Yes 42:7). Hal itu berarti tidak membuat diri kita sebagai pusat perhatian orang banyak melainkan dengan tidak banyak bicara melakukan pekerjaan kita sehari-hari dengan jujur dan menolak untuk ikut serta dalam praktek-praktek yang tidak benar atau menyimpang (Yes 42:2).Hal itu berarti berbicara membela hak-hak orang miskin, mereka yang belum lahir, mereka yang menjadi korban ketidakadilan. Hal itu berarti memberikan diri kita sepenuhnya kepada orang-orang miskin secara materiil, emosional dan spiritual, karena kita tahu dengan melakukan semua itu kita sebenarnya sedang meminyaki kaki Yesus (Yoh 12:1-8). Akhirnya, hal itu berarti tidak mengharapkan untuk melihat hasil akhir dari kerja kita melainkan bekerja dengan sabar dan menantikan Tuhan untuk bertindak dalam waktu-Nya (Mzm 27:14).

DOA: Tuhan, Engkau adalah terangku dan keselamatanku, dengan demikian aku menolak untuk menjadi takut. Ya Tuhan, aku memang diserang oleh para penjahat dan para musuh dan lawanku – termasuk keragu-raguanku dan keterbatasan-keterbatasanku sendiri. Namun aku tahu bahwa mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh, dan aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! (bdk. Mzm 27:1,2,13). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “BAGI MARIA DARI BETANIA, TIDAK ADA BIAYA YANG TERLAMPAU MAHAL UNTUK MENGHORMATI YESUS” (bacaan tanggal 15-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-04 BACAAN HARIAN APRIL 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 April 2020 [HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA BERTERIMA KASIH SECARA KHUSUS KEPADA TUHAN YESUS PADA HARI MINGGU PALMA INI

MARILAH KITA BERTERIMA KASIH SECARA KHUSUS KEPADA TUHAN YESUS PADA HARI MINGGU PALMA INI

A(Bacaan Kedua Misa Kudus,  HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN [TAHUN A] – 5 April 2020)

Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11)

Bacaan Pertama: Yes 50:4-7; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 22:8-9.17-20.23-24; Bacaan Injil: Luk 22:14-23:56 (Luk 23:1-49)

Terima kasih Tuhan Yesus untuk salib-Mu, karena Engkau telah menebus dunia. Terima kasih untuk paku-paku yang menembusi tangan dan kaki-Mu. Koyakkanlah hatiku dengan cintakasih-Mu dan tombak yang menembus lambung-Mu. Kobarkanlah api cintakasih-Mu dan singkirkanlah kegelapan yang masih ada.

Terima kasih Tuhan Yesus untuk mahkota duri-Mu. Aku ingin memahkotai Dikau sebagai Raja segala raja dan Tuhan (Kyrios) alam semesta. Terpaku pada kayu salib, Engkau ditinggikan secara salah. Sekarang aku meninggikan Dikau secara benar disertai dengan seruan puji-pujian sambil bersembah sujud, karena aku percaya sekali akan apa yang ditulis sang pemazmur: “Kamu yang takut akan YHWH, pujilah Dia” (Mzm 22:24).

Terima kasih Tuhan Yesus untuk deraan dan siksaan yang telah Dikau alami. Biarlah aku menanggung segala ketidakadilan yang menimpa diriku dengan penuh kesabaran seturut teladan-Mu. Aku menyadari bahwa dosa-dosaku masih menjadi sebab sakit yang Dikau derita, maka tolonglah aku “lari” dari segala kedosaan, dan lalu hanya mengejar kesucian, hari demi hari sepanjang hidupku.

Terima kasih Tuhan Yesus untuk darah dan air yang mengalir keluar dari lambung-Mu, membersihkan dan melingkupi aku dengan belas kasih-Mu, kerahiman-Mu yang tanpa batas. Tutupilah segala dosaku pada hari ini, Tuhan Yesus. Curahkanlah darah-Mu yang mulia dan kudus ke atas umat-Mu – teristimewa mereka yang tidak mengenal Engkau, agar mereka pun dapat mengalami kehidupan sejati yang hanya datang daripada-Mu saja.

Terima kasih Tuhan Yesus karena pada kayu salib Engkau telah mematahkan keterikatanku pada dosa. Hari ini aku menolak segala dosa dalam hidupku dan mohon kepada-Mu agar dosa-dosaku disalibkan juga bersama-Mu.

Terima kasih Tuhan Yesus untuk kebangkitan-Mu dari kematian. Engkau telah membangkitkanku bersama-Mu melalui pembaptisan dan telah memenuhi diriku dengan hidup baru oleh Roh Kudus-Mu. Setiap hari aku dapat berpartisipasi, baik dalam kematian-Mu maupun kebangkitan-Mu, dengan mengatakan “tidak” terhadap hal-hal yang dapat menyakiti dan menyedihkan-Mu; sebaliknya akan mengatakan “ya” kepada rahmat dan berkat yang Engkau sediakan bagiku pada hari ini.  

DOA PENUTUP: Datanglah Roh Kudus, bukalah mataku agar dapat melihat kemuliaan Salib Kristus. Datanglah dan berdiamlah dalam diriku hari ini dan sepanjang hidupku. Biarlah aku disalibkan bersama Kristus agar mampu berkata seperti Rasul Kristus tercinta, Santo Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku’” (Gal 2:19-20).  Dengan demikian aku pun dapat dibangkitkan bersama-Nya kepada suatu kehidupan yang baru dan kekal selamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Flp 2:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “IA TELAH MENGOSONGKAN DIRI-NYA SENDIRI” (bacaan tanggal 5-4-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-04 BACAAN HARIAN MARET 2020.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 4 April 2020

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU AKAN MENJADI ALLAH MEREKA DAN MEREKA AKAN MENJADI UMAT-KU

AKU AKAN MENJADI ALLAH MEREKA DAN MEREKA AKAN MENJADI UMAT-KU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Sabtu, 13 April 2019)

Peringatan S. Isidorus, Uskup Pujangga Gereja

Hari Sabtu Imam

Katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi; Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka. Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka, di atas gunung-gunung Israel, dan satu raja memerintah mereka seluruhnya; mereka tidak lagi menjadi dua bangsa dan tidak lagi terbagi menjadi dua kerajaan. Mereka tidak lagi menajiskan dirinya dengan berhala-berhalanya atau dewa-dewa mereka yang menjijikkan atau dengan semua  pelanggaran mereka. Tetapi Aku akan melepaskan mereka dari segala penyelewengan mereka, dengan mana mereka berbuat dosa, dan mentahirkan mereka, sehingga mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahnya.

Maka hamba-Ku Daud akan menjadi rajanya, dan mereka semuanya akan mempunyai satu gembala. Mereka akan hidup menurut peraturan-peraturan-Ku dan melakukan ketetapan-ketetapan-Ku dengan setia. Mereka akan tinggal di tanah yang Kuberikan kepada hamba-Ku Yakub, di mana nenek moyang mereka tinggal, ya, mereka, anak-anak mereka maupun cucu cicit mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya dan hamba-Ku Daud menjadi raja mereka untuk selama-lamanya. Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya. Tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN (YHWH), menguduskan Israel, pada waktu tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.” (Yeh 37:21-28) 

Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13; Bacaan Injil: Yoh 11:45-56 

Ini adalah sebuah nubuatan untuk orang-orang Israel yang membuat mereka bernyanyi dan menari dengan penuh sukacita: “Tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN (YHWH), menguduskan Israel, pada waktu tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya” (Yeh 37:27-28). Pada suatu hari, YHWH Allah akan membawa umat-Nya keluar dari pembuangan dan tidak akan meninggalkan mereka lagi. Dia akan tinggal di tengah-tengah mereka dalam sebuah tempat yang dipenuhi belas kasihan ilahi, dan perlindungan serta damai sejahtera yang datang dari Allah. Di tempat suci ini, Allah yang Mahakudus akan membersihkan umat-Nya sehingga mereka akan meninggalkan dosa-dosa mereka dan berbalik mengikuti-Nya. Ini adalah awal dari sebuah relasi baru antara Allah dan umat-Nya.

Gereja, dalam artian tertentu juga adalah sebuah tempat pertemuan antara Allah dan umat-Nya. Seperti tempat suci yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama, Gereja adalah sebuah tempat berkat yang dibuat kudus oleh kehadiran Allah sendiri. Gereja adalah sebuah tanda kesetiaan-Nya dalam dunia yang semakin  gelap dan dipenuhi dengan ketidakpastian. Di sini, di dalam Gereja, orang-orang yang sudah ditebus oleh Tuhan berkumpul dan bersatu dalam ikatan kasih-Nya. Di sini, di dalam Gereja,  kasih Kristus di-sharing-kan satu sama lain antara para anggotanya dan juga dengan dunia. Gereja adalah sebuah tempat di mana para pendosa disambut dengan tangan terbuka, menerima pengampunan dari Allah dan dapat memulai suatu kehidupan baru.

MENGENANG SPIRIT OF ASSISI – SAO PAULO 2011. SDR DR RWANDHA, JEPANG DAN HONGKONG

Apakah hal di atas ini mencerminkan gereja paroki anda? Apakah hal ini mencerminkan relasi anda dengan warga paroki yang lain-lain? Gereja bukanlah sekadar sebuah tempat yang kita kunjungi setiap hari Minggu, melainkan juga siapa kita sebenarnya! Gereja berarti keseluruhan komunitas umat beriman – sebuah komunitas yang terdiri para warganya, yaitu pribadi-pribadi yang dibaptis dalam nama Kristus. Kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus. Kita semua adalah tempat suci untuk berdiamnya Allah, bait Roh Kudus-Nya. Dalam artian yang sedemikian, maka kita semua adalah pengantara antara Allah dan umat-Nya. Kita semua dipanggil untuk menjadi sebuah tempat aman di mana para pendosa dapat menemukan belas kasihan, orang-orang yang kesepian dapat menemukan penghiburan, dan mereka yang telah menjadi “domba hilang” dapat menemukan jalan untuk kembali kepada Allah. Apa yang disebutkan ini juga kiranya  berlaku juga dalam “lingkungan” sebagai sebuah komunitas basis Kristiani, juga dalam komunitas-komunitas lainnya yang bersifat kategorial.

Sungguh suatu visi yang indah-menarik! Kita tidak perlu selalu menggantungkan segalanya kepada para imam atau dewan paroki kita. Kita semua dapat menyambut orang-orang asing, berdoa untuk mereka yang menderita sakit-penyakit, dan mengejar kekudusan. Yesus telah berjanji untuk ada bersama kita selalu. Dia adalah sumber kekuatan dan keberanian kita, yang menolong kita untuk menjadi GEREJA yang mau keluar ke tengah-tengah dunia yang sesungguhnya haus dan lapar akan kabar baik-Nya.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau begitu mengasihiku dan telah berjanji untuk bersama denganku selama-lamanya. Tolonglah aku agar dapat menjadi suatu tanda kehadiran-Mu dan perpanjangan berkat-berkat-Mu bagi orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 11:45-57), bacalah tulisan yang berjudul “KATA-KATA MENENTUKAN DARI KAYAFAS, SANG IMAM BESAR” (bacaan tanggal 4-4-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-04 BACAAN HARIAN APRIL 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DAN PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI YANG MELAWAN-NYA

YESUS DAN PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI YANG MELAWAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Jumat, 3 April 2020)

Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah. Kata Yesus kepada mereka, “Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ilah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ilah – sedangkan Kitab Suci tidak dapat dibatalkan – masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali-kali mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini memang benar.” Lalu banyak orang di situ percaya kepada-Nya (Yoh 10:31-42). 

Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-7 

Dalam banyak bacaan di pekan V Prapaskah ini, kita telah melihat bagaimana klaim Yesus sebagai Putera Allah membuat marah banyak pemimpin/pemuka agama Yahudi – sampai-sampai sebagian dari mereka berniat untuk membunuh-Nya.  Bagi mereka itu Yesus telah menghujat Allah. Dalam pembelaan-Nya, Yesus menunjuk Bapa-Nya sebagai Pribadi yang mengutus diri-Nya ke tengah dunia. Yesus menantang para lawan-Nya agar paling sedikit menerima pekerjaan baik yang dilakukan-Nya walau pun mereka tidak dapat menerima kata-kata yang diucapkan-Nya.

Yohanes seringkali menggambarkan para lawan Yesus sebagai “orang-orang Yahudi”. Tentu saja memang sebagian besar dari tokoh-tokoh dalam Injil adalah orang-orang (yang berkebangsaan dan beragama) Yahudi – Yesus sendiri, ibunda-Nya, Yusuf ayah-Nya, para murid-Nya, banyak dari orang-orang yang menerima-Nya dan juga mereka yang menolak diri-Nya. Akan tetapi, Yohanes menggunakan istilah “orang-orang Yahudi” untuk mengacu secara spesifik kepada  para pemuka/pemimpin agama yang melawan Yesus. Sayang sekali, pernyataan-pernyataan Yohanes tentang perlawanan/oposisi keras “orang-orang Yahudi” terhadap Yesus kadang-kadang diambil sebagai suatu gambaran negatif keseluruhan orang Yahudi. Dari abad ke abad penggambaran yang terdistorsi ini telah dipakai sebagai pembenaran sikap dan tindakan anti-semitisme – kadang-kadang malah dengan akibat-akibat yang bersifat katastropis – lihatlah misalnya pembunuhan massal yang dilakukan oleh Nazi Jerman atas orang-orang Yahudi dalam Perang Dunia II (holocaust).

Konsili Vatikan II dan para Paus telah bekerja keras untuk mengoreksi kesalahpahaman ini dan mempromosikan rasa hormat kepada orang-orang Yahudi, baik secara individual maupun koletif. Pada tahun 2000, ketika berada di Yerusalem, almarhum Paus Yohanes Paulus II mendeklarasikan: “Saya meyakinkan umat Yahudi bahwa Gereja Katolik …… merasa sedih secara mendalam disebabkan oleh kebencian, tindakan-tindakan penganiayaan, dan peragaan anti Semitisme yang ditujukan terhadap orang-orang Yahudi oleh orang-orang Kristiani kapan dan di mana saja.

Pada tahun yang sama, Sri Paus juga memimpin “Kebaktian Permohonan Ampun” di Vatikan. Pada kesempatan itu Sri Paus mengakui peranan Abraham sebagai Bapak iman bagi semua orang Kristiani, dan kenyataan adanya banyak orang Kristiani yang membawa /menyebabkan penderitaan atas diri anak-anak Abraham. Dalam doanya Sri Paus mohon pengampunan dari Allah dan mengatakan: “kami mau mengkomit diri kami sendiri guna tercapainya persaudaraan sejati dengan umat perjanjian”

Umat Yahudi akan senantiasa menjadi umat pilihan Allah, no matter what! Allah tidak pernah menarik perjanjian-Nya dengan umat Yahudi dan juga tidak pernah menarik berkat-Nya bagi umat pilihan-Nya itu. “Sebab Allah tidak menyesali karunia-karunia dan panggilan-Nya” (Rm 11:29). Marilah kita tidak letih-letihnya berdoa mohon kepada Allah agar mempersatukan hati umat Kristiani dan umat Yahudi di mana-mana dalam persaudaraan sejati.

DOA: Bapa surgawi, ampunilah kami untuk cara-cara kami yang telah membiarkan bertumbuhnya prasangka dalam hati kami. Perkenankanlah kami menabur cintakasih di mana ada kebencian, dan persaudaraan sejati di mana ada perpecahan antar semua orang Yahudi dan orang Kristiani. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:31-42), bacalah tulisan ya berjudul “KESATUAN ANTARA YESUS DAN BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 3-4-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-04 BACAAN HARIAN APRIL 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-4-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGASIHI KITA DENGAN KASIH YANG DIMULAI SEBELUM PENCIPTAAN

YESUS MENGASIHI KITA DENGAN KASIH YANG DIMULAI SEBELUM PENCIPTAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Kamis, 2 April 2020)

Peringatan Fakultatif S. Fransiskus dr Paolo, Pertapa

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Kata para pemuka Yahudi kepada-Nya, “Sekarang kami tahu bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Siapa saja yang menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Apakah Engkau lebih besar daripada bapak kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabi pun telah mati; dengan siapa Engkau samakan diri-Mu?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan aku menuruti firman-Nya. Abraham bapakmu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Lalu kata para pemuka Yahudi itu kepada-Nya, “Umur-Mu belum lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah. (Yoh 8:51-59) 

Bacaan Pertama: Kej 17:3-9, Mazmur Tanggapan: Mzm 105:4-9 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)

Cukup sulit memang bagi orang-orang Yahudi pada zaman Yesus untuk menerima Dia sebagai seorang nabi, apalagi sebagai sang Mesias. Akan tetapi Yesus memberikan kepada mereka suatu tantangan yang bahkan lebih besar: untuk percaya bahwa Dia adalah Putera Allah sendiri, yang menggunakan kuasa Allah sendiri yang memberikan kehidupan: “Siapa saja menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya” (Yoh 8:51; bdk. 5:19-27). Suatu klaim sedemikian berarti bahwa Yesus memiliki suatu relasi dengan Allah yang tidak dimiliki oleh manusia yang mana pun. Yesus malah melangkah lebih jauh lagi dengan mengatakan kepada pada pendengar-Nya, bahwa walaupun katakanlah orang-orang itu adalah turunan Abraham, hal itu tidaklah berarti bahwa secara otomatis mereka mengenal Allah (lihat Yoh 8:55) – teristimewa tidak jikalau mereka menolak untuk menerima Dia sebagai Putera Allah. Kata-kata berani ini tidak bisa tidak akan menggiring Yesus ke dalam situasi yang sulit, namun Ia tetap mengucapkannya – straight to the point – tanpa tedeng aling-aling.

Ketika Yesus mengatakan, “Sebelum Abraham ada, Aku telah ada” (Yoh 8:58), sebenarnya Dia mengklaim lebih daripada sekadar sudah eksis sejak zaman Abraham. “Aku ada” adalah ungkapan Allah tentang diri-Nya (lihatlah Yes 41:4; 43:10; dan 45:18). Dengan menggambarkan diri-Nya sebagai “Aku ada”, Yesus jelas mengidentifikasikan diri-Nya dengan Allah.

Seperti “Hikmat” yang dipersonifikasikan dalam Kitab Amsal, Yesus hadir bersama Allah pada saat penciptaan (Ams 8:27-31). Ia senantiasa bersama Allah (Yoh 1:1-5). Ia tidak pernah berhenti sebagai Allah (Why 11:15). Rencana Allah untuk menyelamatkan umat-Nya dari cengkeraman dosa dan maut selalu melibatkan Putera-Nya. Putera-Nya selalu berelasi secara akrab, bersetuju secara paling lengkap, dengan Bapa sehubungan dengan penyelamatan yang harus dilaksanakan-Nya di dalam dunia.

Semua pokok yang baru dikemukakan ini mungkin terdengar terlalu teoretis dan abstrak, namun ada banyak hal di sini yang dapat membawakan penyembuhan dan janji kepada kita, apabila kita tinggal pada kebenaran-kebenaran ini dalam doa. Karena Yesus adalah Allah, maka kita dapat menaruh hidup kita dalam tangan-tangan kasih-Nya dengan penuh kepercayaan. Ia mengasihi kita dengan kasih yang dimulai sebelum penciptaan dan memanifestasikan dirinya secara paling penuh dalam kematian-Nya sebagai kurban tebusan bagi kita masing-masing. Yesus tidak akan membuang orang-orang yang menaruh kepercayaan kepada-Nya. Selagi kita menghadapi begitu banyak tantangan dari hari ke hari, iman-kepercayaan kita dapat mulai goyah. Untuk menjaga keseimbangan, marilah kita senantiasa mengingat, bahwa “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah mengenal diriku sejak sebelum aku dilahirkan. Aku menaruh kepercayaan pada rencana-Mu untuk diriku. Aku pun percaya bahwa Engkau tidak akan pernah berubah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 17:3-9), bacalah tulisan berjudul “DIJADIKAN BAPA BANYAK BANGSA, NAMA ABRAM DIGANTI MENJADI ABRAHAM” (bacaan tanggal 2-420) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-04 BACAAN HARIAN APRIL 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-3-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  1 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS