Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

MENJADI PELAKU FIRMAN ALLAH

MENJADI PELAKU FIRMAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Selasa, 25 September 2018)

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya, “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21) 

Bacaan Pertama: Ams 21:1-6,10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1,27,30,34-35,44

Dalam bagian Injil Lukas ini tercatat pengajaran Yesus tentang kemuridan/pemuridan. Mengikuti Yesus berarti mendengar sabda Allah dan berbuah (Luk 8:4-15). Murid Yesus yang sejati harus memiliki terang yang bercahaya dan tidak boleh tersembunyi (Luk 8:16). Para murid Yesus dapat mempunyai iman kepada Yesus dan tidak perlu takut terhadap angin ribut dalam kehidupan mereka (Luk 8:22-25). Sekali lagi, Yesus mengusir roh jahat dari seorang laki-laki di Gerasa dan atas dasar perintah Yesus sendiri, orang itu pun dengan penuh sukacita pergi ke seluruh kota dan memberitahukan segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya (Luk 8:39).

Sekarang, marilah kita membayangkan sejenak apa yang terjadi seturut bacaan Injil hari ini. Banyak orang berkumpul di sekeliling Yesus untuk mendengar apa yang akan/sedang dikatakan oleh rabi dari Nazaret ini, walaupun mereka tidak selalu memahami perumpamaan-perumpamaan-Nya. Kemudian, muncullah Ibu Maria dan saudara-saudara Yesus, dan karena padatnya orang-orang yang berkumpul di situ, mereka tidak dapat mendekati  Yesus. Jadi, tidak mengherankanlah apabila ada orang yang memberitahukan kepada Yesus: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau” (Luk 8:20). Jawab Yesus: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21).

Apakah kiranya yang dimaksudkan Yesus dengan jawaban-Nya itu? Apakah ini berarti bahwa Yesus tidak merasa peduli pada ibu dan keluarga-Nya? Tentu saja tidak! Siapa yang lebih baik dalam memahami kata-kata Yesus itu selain Maria, yang memiliki hasrat tetap untuk melakukan kehendak Bapa surgawi (Luk 1:38)? Lukas tidak mencatat apa yang dilakukan oleh Yesus selanjutnya, namun akal sehat kita mengatakan bahwa tentulah Dia menyambut ibu dan saudara-saudara-Nya, kalau pun tidak langsung ketika mengajar orang banyak itu. Bagi Yesus, menempatkan orang-orang lain sebagai lebih penting daripada keluarga-Nya sendiri sebenarnya bertentangan dengan yang kita ketahui sebagai benar tentang Allah dan juga melawan seluruh ajaran tentang keluarga yang terdapat dalam Kitab Suci (bacalah “Sepuluh Perintah Allah”, khususnya Kel 20:12).

Dalam tanggapan-Nya, Yesus menyatakan bahwa “mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” akan menjadi dekat dengan Yesus seperti para anggota keluarga-Nya sendiri. Ini adalah sebuah janji pengharapan dan sukacita. Kita sendiri dapat mempunyai keintiman yang sama dengan Yesus, kedekatan yang sama, dan relasi kasih yang sama seperti yang dimiliki-Nya dengan ibu dan semua anggota keluarga-Nya. Kita bukan hanya akan menjadi dekat dengan Yesus, melainkan juga – seperti halnya dengan setiap keluarga – kita pun mulai kelihatan seperti Dia. Kita akan mengambil oper karakter-Nya dan mulai berpikir dan bertindak seperti Yesus. Ini adalah janji bagi kita yang berdiam dalam sabda Allah dan senantiasa berupaya untuk mewujudkan sabda-Nya menjadi tindakan nyata.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau menjanjikan kepada kami suatu relasi yang intim dan penuh kasih dengan diri-Mu. Tolonglah kami agar dapat mengalami kasih-Mu selagi kami menjalani hari-hari kehidupan kami untuk melakukan kehendak Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:19-21), bacalah tulisan yang berjudul “MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN MELAKUKANNYA” (bacaan tanggal 25-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 September 2018 [HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KITA HARUS MEMPERHATIKAN CARA KITA MENDENGAR

KITA HARUS MEMPERHATIKAN CARA KITA MENDENGAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Senin, 24 September 2018)

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18) 

Bacaan Pertama: Ams 3:27-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5 

“Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar.” (Luk 8:18)

Kata-kata dalam Kitab Suci adalah seperti benih-benih. Apabila lingkungannya – teristimewa tanahnya –  cocok, benih-benih tersebut dapat bertumbuh dan membuahkan hasil yang berlimpah. Menghubungkan hal ini dengan apa yang dijanjikan Yesus bahwa Allah akan memberi kepada yang sudah mempunyai (Luk 8:18), kita dapat membayangkan apa yang akan terjadi apabila kita membaca kata-kata dalam potongan bacaan Kitab Suci: Selagi kita merenungkannya dan mewujudkannya dalam tindakan, maka “benih firman” itu dapat bertumbuh dan bertumbuh.

Pada suatu hari dalam Misa hari Minggu, seorang pemuda kaya yang baru berumur 20 tahun tersentuh oleh sebuah ayat Injil Matius yang dibacakan pada hari itu: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Mat 19:21). Hati pemuda itu tergerak untuk mematuhi perintah itu secara harafiah. Dengan cepat ia membagi-bagikan harta-kekayaan dan uangnya, menahan sedikit saja guna menopang hidupnya dan saudara perempuannya.

Dalam Misa kemudian setelah itu, pemuda itu mendengar satu ayat lagi yang menyentuh hatinya lagi: “Janganlah kamu khawatir tentang hari esok” (Mat 6:34). Sejak saat itu, dia “lompatan iman”. Setelah menyisihkan segala sesuatu yang diperlukan untuk saudara perempuannya, dia memberikan segala sesuatu yang tersisa dari harta-kekayaannya kepada orang-orang miskin, lalu pindah sebuah pondok kecil yang letaknya terisolasi di mana dia dapat mengabdikan dirinya untuk berdoa dan menopang kehidupannya dengan membuat alat-alat rumah tangga yang sederhana. Di mana? Di padang gurun Libia. Sepanjang hari berdoa, belajar dan bekerja kasar, sekadar cukup untuk hidup pada hari itu. Siapa nama orang yang “aneh” itu? Namanya Antonius (Yunani: Antonios) Pertapa atau Antonius dari padang gurun [251-356], kelahiran dekat Memphis (Mesir), bapa monastisisme.

Antonius tidak jarang mendapat godaan, baik rohani maupun jasmani. Namun berkat rahmat Tuhan yang dilimpah-limpahkan atas dirinya, dia sanggup mengatasi godaan-godaan tersebut. Ada catatan, bahwa pada waktu umat Kristiani dikejar-kejar dan dianiaya oleh Kaisar Maximinus, ia mengunjungi orang-orang  yang disekap dalam penjara dan menguatkan iman dan pengharapan mereka. Untuk bertahun-tahun lamanya, Antonius hidup sendiri dalam kemiskinan. Akan tetapi, hari lepas hari dia menerima semakin banyak kehidupan Allah sendiri. Pada suatu saat, reputasinya menarik orang-orang lain, dan mereka datang mohon didoakan dan nasihat-nasihatnya yang penuh hikmat. Bahkan banyak yang lalu bergabung dengan dirinya dalam gaya-hidup seperti itu. Kemudian mereka membentuk kelompok pertapa dengan aturan hidup yang sedikit lebih longgar, sedangkan Antonius sendiri hampir selalu menyendiri.

Pada usia 60-an tahun, Antonius pergi ke Alexandria memberikan nasihat dan semangat kepada S. Atanasius (Atanasios) temannya dan para penentang bid’ah Arianisme. Antonius adalah pertapa yang bijaksana dan bukan seorang “bonek”. Kehidupan rohaninya sangat mendalam dan seluruh hidupnya diarahkan demi mengabdi Tuhan secara radikal. Sementara itu para pengikutnya semakin banyak: ribuan orang mengundurkan diri dari kehidupan kota-kota besar yang penuh dengan godaan nafsu duniawi. Mereka menyepi di gurun pasir mengejar panggilan kesempurnaan sebagai orang Kristiani.

Pada saat wafatnya, 85 tahun setelah untuk pertama kalinya dia menanggapi secara positif sabda yang hidup dalam Kitab Suci, pekerjaan Antonius telah memperbaharui seluruh Gereja. Pada kenyataannya, dampaknya atas kehidupan Gereja tak dapat diukur sampai hari ini. Santo Antonius Pertapa mengambil sedikit saja kata-kata yang ada dalam Kitab Suci lalu dihayatinya dengan sungguh-sungguh, dan lebih banyak lagi yang diberikan kepadanya. Sekitar sembilan abad kemudian, di Italia terjadi peristiwa yang serupa (tapi tak sama), yaitu panggilan pertobatan Santo Fransiskus dari Assisi yang juga berdampak sangat luas dan dalam dalam kehidupan Gereja untuk masa-masa selanjutnya. Sekitar 2000 tahun yang lalu, Yesus sudah bersabda, “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar” (Luk 8:18).

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita menjadi “pendengar yang baik” dan “pelaku firman” (Yak 1:22 dsj.). Santo Antonius Pertapa, Santo Fransiskus dari Assisi dan sejumlah orang kudus lainnya mengambil hanya sedikit saja nas-nas Kitab Suci ke dalam hati mereka masing-masing dan mereka menerima lebih banyak lagi dari Dia yang begitu baik, sumber segala kebaikan. Semoga ada sedikit ayat Kitab Suci yang berakar dalam diri kita masing-masing, sehingga kita pun dapat menerima lebih banyak lagi dari Sang Pemberi.

DOA: Roh Kudus, terima kasih kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau berbicara kepadaku melalui kata-kata yang ada dalam Kitab Suci. Semoga berkat kuasa-Mu, semakin banyak lagi kata-kata dalam Kitab Suci menjadi sabda yang hidup bagi diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP RAHASIA KERAJAAN ALLAH PADA AKHIRNYA AKAN DINYATAKAN” (bacaan tanggal 24-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 September 2018 [Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS INGIN MENARIK KITA AGAR LEBIH DEKAT KEPADA BAPA

YESUS INGIN MENARIK KITA AGAR LEBIH DEKAT KEPADA BAPA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV [TAHUN B] –  23 September 2018)

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37) 

Bacaan Pertama: Keb 2:12,17-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-6,8; Bacaan Kedua: Yak 3:16-4:3

Bayangkan betapa kagetnya dan malunya para murid ketika Yesus bertanya kepada mereka: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” (Mrk 9:33). Tidak mengherankanlah kalau mereka hanya dapat berdiam diri ketika ditanya oleh Yesus. Berdiam diri karena mereka mengakui dalam hati bahwa ketika di tengah jalan mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka (Mrk 9:34).

Para murid telah bersama-sama Yesus untuk waktu yang cukup lama. Mereka telah menyaksikan berbagai mukjizat dan tanda heran yang diperbuat oleh-Nya, belum lagi pembebasan orang-orang dari kuasa Iblis dan roh-roh jahat. Orang kusta, lumpuh, bisu, tuli, buta dlsb. disembuhkan. Bahkan seorang muda yang sudah mati telah dibangkitkan-Nya di dekat pintu gerbang kota Nain (Luk 7:11-17); juga anak perempuan Yairus (Mrk 5:21-24,35-43). Jelaslah bahwa Yesus bukanlah tabib atau nabi sembarangan. Ia sungguh yang terbesar! Bahkan Petrus pun telah memproklamasikan bahwa Yesus adalah “Sang Mesias” (Mrk 8:29). Tetapi, … Yesus lebih tertarik untuk mewujudkan apa yang dikatakan “besar” tentang diri-Nya dengan menyerahkan hidup-Nya sendiri bagi semua orang.

Mengawali perjalanan-Nya menuju Yerusalem – di mana Yesus tahu bahwa dirinya akan dihukum mati – Dia membawa para murid-Nya tanpa diketahui orang sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya itu (lihat Mrk 9:30-31). Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit” (Mrk 9:31). Kepopuleran Yesus yang bertumbuh terus, penderitaan dan sengsara-Nya dan kebangkitan-Nya sungguh sulit dicerna oleh para murid. Bahkan mereka masih mempunyai visi-visi kejayaan di sisi Yesus dalam pemerintahan-Nya! (lihat misalnya, Mrk 10:35-45; bdk. Mat 20:20-28).

Melihat keseriusan masalah para murid ini, maka Yesus memutuskan untuk duduk bersama mereka dan mulai mengajar mereka tentang apa makna sebenarnya dari apa yang dinamakan keagungan, kemuliaan, dan sejenisnya: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (Mrk 9:35). Untuk menjadi yang pertama dan utama seseorang harus menempatkan kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain dulu, tanpa memikirkan tentang diri sendiri.

Yesus – sang Hamba yang sempurna – sangat senang dalam memperhatikan orang-orang di sekeliling-Nya. Dipenuhi dengan kasih Bapa, Ia hanya ingin memberi, hanya ingin menganugerahkan karunia-karunia-Nya kepada siapa saja yang dijumpai-Nya. Dengan setiap penyembuhan dan mukjizat yang diperbuat-Nya dan setiap kata yang diucapkan-Nya, Yesus sesungguhnya bermaksud untuk menarik orang-orang agar lebih dekat dengan Bapa surgawi. Bahkan ketika Dia mendekati saat kematian-Nya sendiri, hasrat utama-Nya adalah untuk berada bersama para murid-Nya, mengasihi mereka dan menolong mereka untuk menaruh kepercayaan kepada Bapa. Dengan rendah hati Dia mengetuk pintu hati kita masing-masing. Ia sangat ingin melayani kita dengan memasuki hidup kita yang terluka, guna menyembuhkan kita, untuk membersihkan kita, dan untuk memperbaharui kita. O, betapa dalam kerinduan hati-Nya untuk melihat kita menyambut diri-Nya ke dalam diri kita!

DOA: Yesus, kami ingin menyambut-Mu ke dalam hati kami! Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi kami masing-masing tanpa batas dan syarat. Seringkali tanpa kami sadari, Engkau membanciri kami dengan kebaikan-Mu dan belaskasih-Mu. Penuhi diri kami dan mengalirlah dari kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG PEMIMPIN PERTAMA-TAMA ADALAH SEORANG PELAYAN” (bacaan tanggal 23-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 September 2018 [Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam & Paulus Chong Hasang dkk – Martir-martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PETANI YANG MENABURKAN BENIHNYA

PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PETANI YANG MENABURKAN BENIHNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Sabtu, 22 September 2018)

Keluarga Fransiskan Kapusin (OFMCap.: Peringatan S. Ignatius dr Santhi, Imam

SCJ: Peringatan Falkutatif B. Yohanes Maria dr Salib, Martir Pertama SCJ

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri dengan Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8:4-15) 

Bacaan Pertama: 1Kor 15:35-37,42-49; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:10-14 

Perumpamaan ini sungguh merupakan sebuah tantangan besar. Sekali firman Allah ditanam dalam hati kita, kita mempunyai pilihan bagaimana kita akan menanggapi firman tersebut. Yesus mengajar dengan jelas: Apabila benih gagal berakar dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu bertahan ketika menghadapi kesulitan. Tanah yang baik adalah “hati yang baik dan jujur serta taat” (lihat Luk 8:15). Kalau firman Allah bertemu dengan hati yang demikian, maka firman itu akan tumbuh dan berbuah. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa kita dapat memupuk hati kita sehingga, ketika sang penabur menaburkan benihnya ke dalam diri kita, maka kita akan siap untuk menerima benih itu dan memberi makan kepada benih itu agar dapat hidup dan tumbuh dalam diri kita.

Bagaimana kita dapat menjadi tanah yang baik dan subur? Kita dapat mulai dengan memohon kepada Roh Kudus untuk mengisi diri kita dengan suatu hasrat yang tulus akan firman Allah dan suatu keterbukaan terhadap kuasa firman Allah itu untuk mentransformasikan kita. Kita juga dapat membuat diri kita tersedia bagi Allah sehingga ‘benih’ di dalam diri kita dapat menghasilkan akar yang dalam serta kuat, dan dapat menghasilkan buah secara berlimpah-limpah. Melalui doa-doa harian, bacaan dan studi Kitab Suci serta partisipasi aktif dalam Misa Kudus, kita dapat membawa makanan bagi diri kita secara konstan, menciptakan suatu keadaan di mana benih firman Allah dapat bertumbuh dan menjadi produktif.

Disamping hati yang baik, jujur dan taat, kita juga membutuhkan kesabaran kalau mau melihat tanaman itu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat. Selagi kita berjalan melalui kehidupan kita ini, pastilah kita mengalami berbagai godaan, masalah dan kesulitan. Barangkali kita tertarik pada kekayaan dan kenikmatan hidup (Luk 8:14). Namun Allah memerintah dalam hati yang kuat berakar pada firman-Nya. Allah akan melihat kita melalui waktu-waktu di mana kita tergoda untuk mengambil jalan-mudah, atau ketika kita  mengalami distraksi (pelanturan) yang disebabkan oleh berbagai tuntutan atas waktu dan perhatian kita. Yesus, sang Firman Allah, akan menjaga hati kita tetap lembut dan lunak. Kalau kita menantikan-Nya dengan sabar, maka Dia tidak akan mengecewakan kita.

Marilah kita menerima firman Allah dengan kesabaran dan penuh kepercayaan. Marilah kita minta kepada Roh Kudus untuk menanam firman-Nya dalam-dalam pada diri kita, sehingga tidak ada yang dapat mencabutnya, apakah Iblis, atau godaan-godaan, atau kekayaan, atau kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan dunia. Baiklah kita memusatkan pikiran dan hati kita pada firman-Nya, mohon kepada Roh Kudus untuk membawa firman-Nya ke dalam diri kita. Baiklah kita membuat Kitab Suci sebagai fondasi kita yang kokoh-kuat.

DOA: Bapa surgawi, kuduslah nama-Mu ya Allah-ku. Bapa, berkat rahmat-Mu buatlah agar hidupku berbuah demi kemuliaan-Mu. Tumbuhkanlah dalam hati kami suatu hasrat untuk menerima firman-Mu. Ubahlah hati kami supaya menjadi tanah yang baik dan subur bagi firman-Mu untuk tumbuh dan berbuah. Jagalah terus hati kami agar firman-Mu jangan sampai terhimpit mati di dalamnya seakan terhimpit di tengah semak duri, jangan sampai menjadi kering di dalamnya seakan jatuh ke atas tanah yang berbatu-batu, jangan sampai sia-sia seperti benih yang jatuh di pinggir jalan kemudian diambil oleh Iblis. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:4-15), bacalah tulisan yang  berjudul “” (bacaan tanggal 22-9-18) dalam situs SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 19 September 2018 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporroso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul Penginjil – Kamis, 21 September 2018)

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Andaikan anda sedang memulai sesuatu yang baru, barangkali suatu bisnis yang baru (apabila anda seorang pengusaha atau pemimpin di bidang bisnis), atau sedang menyusun organisasi pemerintahan yang baru (apabila anda seorang presiden sebuah republik), bukankah anda ingin memperoleh orang-orang terbaik untuk mengisi posisi-posisi puncak yang ada, misalnya untuk anggota direksi perusahaan anda atau sebagai anggota kabinet dan berbagai posisi kunci lainnya dalam pemerintahan anda? Bukankah anda sebagai seorang pribadi pemimpin yang waras akan mencari orang-orang yang berlatar pendidikan terbaik dan para go-getters yang akan get the job done, bukannya para “yes men” atau para penjilat “ABS” yang oportunis?

Walaupun “waras” dalam artian sesungguhnya, Yesus lain sekali dengan para pemimpin sekular atau keagamaan yang hidup di dunia. Yesus menemukan para rasul-Nya di perahu-perahu nelayan, bahkan di “kantor pajak/cukai”, seperti halnya dengan Lewi atau Matius ini (Mat 9:9). Kelihatannya Yesus suka memilih calon-calon yang dapat dijadikan sahabat-sahabat intim bagi diri-Nya dan kepada mereka Dia akan mempercayakan Gereja-Nya.

Pilihan Yesus atas diri Matius barangkali membingungkan orang-orang. Sebuah teka-teki pada zaman itu tentuya. Pada abad pertama di Israel, para pemungut cukai tidak memiliki status dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihina karena mereka bekerja untuk kekaisaran Roma dan biasanya mereka memperagakan kekayaan pribadi yang mencolok, tentunya lewat “pemerasan” atas diri anggota masyarakat. Di sisi lain pilihan Matius atas diri Yesus juga sama penuh teka-tekinya. Perubahan dirinya yang secara mendadak, dari seorang pemungut cukai yang tidak patut dipercaya menjadi seorang murid yang penuh gairah tentunya mengejutkan setiap orang yang mengenalnya. Mengapa dia mau melepaskan pekerjaannya yang “basah” itu demi mengikuti seorang tukang kayu dari Nazaret yang menjadi seorang rabi? Tentunya, dalam hal ini “uang” bukanlah motifnya!

Keputusan Matius untuk meninggalkan segalanya memberikan petunjuk kepada kita mengapa Yesus memanggil dirinya. Yesus memandang ke dalam hati Matius dan melihat di hati itu adanya rasa haus dan lapar akan Allah dan potensi untuk mengenali harta surgawi. Matius membuktikan Yesus benar ketika Dia menerima undangannya untuk merayakan kehidupan barunya dalam sebuah perjamuan di rumahnya, di mana para pemungut cukai yang lainpun dan orang-orang berdosa dapat bertemu dengan Tuhan (Mat 9:10).

Sejak saat itu, Matius tak henti-hentinya menawarkan harta-kekayaan Injil yang tak ternilai harganya itu secara bebas-biaya, semua free-of-charge. Tradisi mengatakan bahwa Matius mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus di tengah-tengah orang-orang Yahudi selama 15 tahun setelah kebangkitan Yesus, kemudian dia pergi ke Makedonia, Siria dan Persia. Di Persia inilah dikatakan  bahwa Matius mengalami kematian sebagai martir Kristus.

Iman dan devosi yang terbukti nyata dalam diri Matius adalah kualitas-kualitas pribadi yang diinginkan oleh Yesus dari kita juga yang hidup pada zaman modern ini. Jangan ragu-ragu! Apabila Allah dapat mengubah Matius, Petrus dan yang lainnya menjadi rasul-rasul, bayangkanlah apa yang dapat dilakukan-Nya atas diri kita. Yesus dapat mengangkat segala halangan yang merintangi diri kita untuk dipakai oleh-Nya. Yang diminta-Nya hanyalah bahwa kita percaya pada kasih-Nya yang penuh kerahiman dan kita menaruh kepercayaan pada kuat-kuasa dan rahmat-Nya.

DOA:  Tuhan Yesus, di atas segalanya, kuingin mengenal dan mengalami kasih-Mu, yang melampaui segala sesuatu yang ada. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “IKUTLAH AKU!” (bacaan tanggal 21-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak, 19 September 2018 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporroso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBAB IA TELAH BANYAK MENGASIHI

SEBAB IA TELAH BANYAK MENGASIHI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang, dkk., Martir-martir Korea – Kamis, 20 September 2018)

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan airmatanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menyentuh-Nya ini; tentunya Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu.” Sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” (Luk 7:36-50) 

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1-2,16-17,28

Kita dapat membayangkan perempuan dalam bacaan di atas pernah duduk bersama semua orang berdosa: pemungut pajak yang korup, para PSK, para pezinah dlsb. yang seringkali ditarik oleh Yesus kepada diri-Nya. Pesan Yesus tentang belas kasih Allah dan panggilan-Nya kepada pertobatan yang sejati tentunya telah sedemikian menyentuh hati perempuan itu. Perempuan itu mengetahui bahwa dirinya adalah “sampah masyarakat”, seorang pendosa yang tidak mempunyai hak untuk berdiri di hadapan Allah. Namun selagi dia mendengarkan pengajaran Yesus, secercah harapan meresap ke dalam jiwanya. Dipenuhi kesedihan dan penyesalan atas dosa-dosanya selama ini dan rasa syukur akan pengampunan yang dijanjikan Yesus, ia memutuskan bahwa dirinya harus bertemu dengan sang Rabi dari Nazaret.

Ketika dia mendengar bahwa Yesus akan menghadiri acara “makan-makan” di rumah Simon orang Farisi, maka perempuan itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Selagi Yesus berbaring dekat meja makan (cara makan orang Yahudi dalam sebuah perjamuan) bersama-sama para tamu lainnya, perempuan itu mendatangi-Nya dan memperagakan tindakan penyembahan dan cintakasih yang luarbiasa. Perempuan itu tidak hanya membuka botol yang berisikan minyak narwastu yang sangat mahal, melainkan juga membuka hatinya yang terdalam – yang selama ini ditutupinya dan disembunyikannya – kepada Yesus.

Ia jelas seorang “perempuan bayaran” terkenal di kota itu, dan tidak mengherankanlah apabila dari antara mereka yang hadir (mungkin juga Simon sendiri) pernah “kenal” dengannya. Kepada mereka atau beberapa orang dari mereka, perempuan itu barangkali pernah berpura-pura bersikap terbuka sebagai seorang perempuan yang dipenuhi kerentanan dalam kehidupan keras-kejam yang dihadapinya, namun ia menangis untuk seseorang yang memiliki cintakasih murni dan  tanpa habis-habisnya. Pada akhirnya, dalam pengalaman akan kerahiman ilahi, perempuan itu pun menemukan seorang Pribadi seperti itu.

Bagaimana dengan diri kita masing-masing? Karena berbagai pengalaman hidup yang kita alami, kita dapat menjadi enggan dan ragu-ragu untuk membuka diri kita bagi pihak-pihak lain, teristimewa Allah. Hal ini sungguh menghalangi diri kita menerima segalanya yang Allah ingin berikan kepada kita, teristimewa cintakasih-Nya dan pengampunan-Nya. Kita tetap terkungkung di dalam benteng “proteksi-diri”, merawat luka-luka kita tanpa henti, padahal yang diperlukan adalah kesembuhan luka-luka tersebut secara total. Akan tetapi, cerita tentang perempuan berdosa dalam bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang yang membuka jiwa mereka di hadapan pandangan Yesus yang menusuk-dalam, akan dihibur sampai derajat tertentu yang tidak akan dialami oleh mereka yang menjaga jarak dari Allah.

Saudari-Saudaraku, pada hari ini perkenankanlah Yesus melihat hati kita masing-masing. Biarkanlah Ia menyentuh dosa-dosa kita yang terdalam, ketakutan-ketakutan kita, dan berbagai frustrasi kita. Dalam iman, perkenankanlah Yesus masuk ke dalam hati kita (anda dan saya) dan Ia pun akan menyembuhkan kita sampai suatu derajat di mana kita sendiri tidak pernah memikirkannya sebagai mungkin. Selagi kita melakukan semua itu, maka kita akan mengalami janji-janji-Nya menjadi hidup bagi kita, dan kita pun akan diberdayakan untuk menghayati/menjalani suatu kehidupan dengan cara yang kita tidak pernah mungkin sebelumnya.

DOA: Yesus, aku menyerahkan hatiku kepada-Mu, ya Tuhanku dan Allahku. Pecahkanlah bagian luar hatiku, yang dulu kubentuk untuk proteksi diriku. Inilah hidupku, ya Yesus. Semoga hidupku ini menjadi persembahan yang sungguh menyenangkan hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:36-50), bacalah tulisan yang berjudul “DOSAMU TELAH DIAMPUNI” (bacaan tanggal 20-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 September 2018 [Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU

KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Rabu, 19 September 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporroso, Biarawan

Peringatan Falkutatif: Santo Yanuarius, Uskup & Martir

Kata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35) 

Bacaan Pertama: 1Kor 12:31-13:13; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-5,12,22 

Banyak orang pada zaman Yesus menolak ajaran-Nya maupun ajaran Yohanes Pembaptis. Nampaknya tidak ada yang cocok dengan “selera” mereka. Ini adalah orang-orang yang diibaratkan Yesus sebagai anak-anak yang susah dibuat senang, tidak berbahagia dengan apa pun juga. Ketika Yohanes Pembaptis hidup dalam kesederhanaan dan mewartakan sebuah pesan pertobatan, mereka memandang dia sebagai orang yang terlalu keras dan terlalu menuntut. Namun, ketika Yesus makan bersama orang-orang berdosa dan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka, mereka menilai diri-Nya terlalu mudah/gampangan dalam bergaul dengan orang-orang. O, betapa seringkali “ngaco” hati mereka itu. Apa pun yang tidak sesuai dengan “selera” mereka berarti salah!

Orang-orang yang tergolong generasi Yesus mempunyai preconceived ideas mereka sendiri perihal ide-ide pribadi macam apa Mesias itu, dan Yesus tidak cocok …, tidak pas dengan pengharapan mereka. Orang-orang itu terbelenggu oleh pandangan mereka sendiri tentang segala sesuatu. Sebagai orang-orang yang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk mengenal Yesus, mereka malah tidak ingin mengakui Yesus atau menyambut tindakan Allah melalui diri Yesus. Mereka tetap terikat pada penilaian mereka sendiri dan pandangan mereka sendiri, seperti anak-anak yang keras kepala dalam bacaan Injil hari ini. Sebagai akibatnya, mereka luput menerima sentuhan kasih-Nya.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, berapa sering kita bertindak seperti anak-anak tersebut. Barangkali kita sudah mengambil keputusan sampai berapa banyak Allah dapat meminta sesuatu dari diri kita; dengan demikian kita pun telah menutup pintu kita terhadap apa saja lagi yang diminta-Nya. Barangkali kita telah memperkenankan sebuah relasi yang baik dirusak karena kita tidak mau mengalah atas perkara yang sebenarnya tidak penting. Barangkali kita tidak memberikan kesempatan kepada pasangan hidup kita untuk membuktikan bahwa dia telah berubah karena kita tidak mau menerima permintaan maafnya. Barangkali kita telah menghakimi pastor paroki kita dengan keras karena pernyataan yang dibuatnya dalam sebuah homili Misa hari Minggu. Berapa banyak dan sering kita kehilangan kesempatan untuk mempunyai seorang teman baru karena kita tidak menyukai caranya berpakaian? Dlsb., dsj.

 

Bilamana kita menutup diri kita terhadap orang-orang lain berdasarkan prakonsepsi- prakonsepsi kita, penilaian-penilaian yang keliru, dan prasangka-prasangka, maka kita tidak saja membuat mereka menderita, kita pun menderita karenanya. Walaupun Yesus mengakui kekerasan hati dari mereka yang menentang diri-Nya, Dia tahu bahwa hikmat Allah pada akhirnya akan membuktikan keabsahan dalam kehidupan orang-orang yang menerima-Nya (Luk 7:35). Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk melembutkan hati kita masing-masing dan membebaskan kita dari prasangka-prasangka buruk dan miskonsepsi-miskonsepsi yang selama ini membelenggu diri kita. Marilah kita mencari Tuhan setiap hari untuk mendapatkan hikmat-Nya dan mengenal serta mengalami hidup-Nya  dalam diri kita.

DOA: Yesus, bukalah mata (-hati)ku agar dengan demikian aku dapat melihat siapa sesungguhnya Dikau sebagai Tuhan dan Mesias (Kristus). Singkirkanlah setiap rintangan dalam hatiku supaya aku dapat menerima hidup-Mu dalam diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 7:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “MENDENGARKAN SUARA ALLAH DAN PERCAYA” (bacaan tanggal 19-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 September 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS