Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

PENDENGAR DAN PELAKU FIRMAN ALLAH

PENDENGAR DAN PELAKU FIRMAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Selasa, 26 September 2017)

Ordo Fransiskan Sekular: Peringatan S. Elzear dan Delfina 

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya, “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21) 

Bacaan Pertama: Ams 21:1-6,10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1,27,30,34-35,44 

“Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21)

Ada seorang bapak kepala keluarga (namanya rahasia, ya!) yang tidak dapat secara langsung mengenali suara anak perempuannya yang mana yang sedang menelpon dia. Anak-anak perempuannya itu membuat sang ayah tersudut juga. “Ayah, kami kan anak-anakmu?! Ayah seharusnya mengenal suara kami masing-masing!” Untunglah Bapa kita di surga tidak mempunyai masalah seperti ayah itu dengan kedua anak perempuannya. Bapa surgawi mengenal suara kita masing-masing secara intim. Akan tetapi, sampai seberapa baik kita dapat mengenali suara-Nya?

Tahukah anda, bahwa kemampuan untuk mendengar suara Allah adalah bagian dari warisan kita sebagai orang-orang Kristiani terbaptis? Kita masing-masing adalah seorang anak Allah! Yesus ingin berbicara kepada kita masing-masing sama jelasnya sebagaimana Dia berbicara dengan Maria, Yosef dan keluarga besar-Nya. Selagi  kita “bereksperimen” mendengarkan suara Allah dalam doa dan kehidupan sehari-hari kita, kita akan menemukan bahwa Yesus sebenarnya berbicara kepada kita sepanjang waktu. Yesus sebenarnya senang sekali untuk bersama kita masing-masing!

Santo Ignatius dari Loyola [1491-1556], sang pendiri Serikat Yesus, mengajar bahwa jalan utama untuk mendengar suara Allah adalah melalui akal budi alamiah kita yang diangkat oleh rahmat ilahi. Apabila kita menerapkan prinsip ini ke dalam pembacaan Kitab Suci, Ignatius mengajar orang-orang untuk menggunakan imajinasi mereka. Misalnya, orang kudus ini mengatakan, cobalah untuk membayangkan diri kita berada di tengah-tengah kumpulan orang banyak yang sedang mendengarkan “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7). Atau bayangkanlah Yesus mengajak anda untuk berbicara secara pribadi setelah Ia membangkitkan Lazarus dari kuburnya (Yoh 11:1-44), atau setelah mengubah air menjadi air anggur pada pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Bayangkan diri anda memberitahukan kepada-Nya segala keprihatinan anda, dan dengarkanlah Dia dengan penuh perhatian apa yang akan dikatakan-Nya kepada anda. Anda dapat memelihara sebuah “buku catatan doa” (semacam jurnal) untuk mencatat apa saja yang anda dapatkan. Mungkin yang anda catat itu tidak selalu benar, namun apabila anda bertekun dalam hal itu, maka Yesus akan membuka telinga anda lebih lebar lagi, sehingga yang anda “dengar” itu benar tepat.

Adalah sebuah kenyataan bahwa rahmat Allah disalurkan lewat kodrat manusiawi kita yang cenderung berdosa. Maka, selalu ada kemungkinan bahwa apa yang kita “dengar” tidak cukup tepat. Namun dengan Kitab Suci dan Gereja yang senantiasa membimbing kita, maka kita perlu sampai melenceng terlalu jauh. Kita juga senantiasa dapat mengandalkan diri pada bantuan “Roh Kebenaran” yang diutus Yesus untuk berbicara kepada hati kita dan membimbing kita “ke dalam semua kebenaran” (Yoh 16:13).

DOA: Roh Kudus Allah, walaupun aku tidak pantas, aku tahu bahwa Engkau berbicara kepadaku lebih sering dan dalam cara yang jauh lebih bervariasi daripada yang kusadari selama ini. Tolonglah diriku agar dapat bertindak-tanduk sebagai seorang anak Allah yang sejati dengan mendengarkan firman-Mu dan mewujudkannya dalam tindakan nyata yang kulakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:19-21), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI PELAKU FIRMAN ALLAH” (bacaan tanggal 26-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 25 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH

KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN A, 24 September 2017) 

“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapti orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk gterakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Bacaan Pertama: Yes 55:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,8-9,17-18 Bacaan Kedua: Flp 1:20c-24,27a

Dalam liburan mereka, sebuah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan seorang anak laki-laki mereka yang masih duduk di kelas 3 SD mengunjungi sebuah kebun anggur. Karena dirasakan tepat setting-nya, maka sang ayah bercerita mengenai perumpamaan Yesus tentang para pekerja kebun anggur yang ada dalam bacaan Injil hari ini. Anaknya yang masih kecil itu berseru, “Sangat tidak adil!” Kalau kita jujur, kita dapat menerima kenyataan bahwa kita pun akan bereaksi serupa. Biar bagaimana pun, para pekerja yang datang paling akhir boleh dikatakan hampir belum bekerja sama sekali. Mengapa mereka diberi upah sama dengan para pekerja yang bekerja di bawah terik matahari sepanjang hari?

Dalam perumpaman ini Yesus mengajarkan, bahwa sebenarnya tidak seorang pun pantas untuk masuk ke dalam surga. Kita semua telah berdosa dan kehilangan hak kita sebagai pewaris surga. Namun karena rahmat Allah yang berlimpah-limpah, maka pintu surga sekali lagi terbuka bagi kita semua. Semua orang yang datang dengan suatu iman-hidup kepada Yesus dapat ikut ambil bagian dalam belas kasih-Nya yang berkelimpahan – yang terakhir sama banyaknya dengan yang pertama.

Allah tidak menilai kita untuk apa yang kita lakukan bagi-Nya atau berapa banyak kita berkontribusi kepada masyarakat. Itu adalah cara/jalan kita, bukan cara/jalan-Nya. Dengan perumpamaan ini Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memandang dan menilai diri kita. Allah memandang dan menilai kita sebagai anak-anak-Nya sendiri – anggota-anggota Kristus yang dirajut menjadi sepotong permadani hiasan dinding yang sangat indah penuh warna-warni. Jika ada satu benang saja yang hilang, seluruh permadani tersebut kehilangan sesuatu dari nilainya. Kita masing-masing sama penting dan berharganya di mata Allah, sama bernilainya sampai Putera Allah sendiri rela mati untuk kita, masing-masing sedemikian berharga sehingga dapat menjadi tempat kediaman Roh Kudus.

Sekarang masalahnya adalah, apakah kita (anda dan saya) menyadari akan hal ini? Apakah kita mengawali dan mengakhiri setiap hari dengan pikiran ini? Apakah pengetahuan ini muncul ke permukaan setiap saat kita gagal dalam tugas-pekerjaan kita, memaki-maki pasangan hidup dan/atau anak-anak kita, atau tergelincir lagi ke dalam kedosaan? Dalam hal ini kita harus senantiasa mengingat bahwa kita dapat menerima kasih Kristus yang “sama bobot”-nya dengan yang diterima S. Fransiskus dari Assisi, S. Antonius dari Padua, Santa Bunda Teresa dari Kalkuta, atau orang-orang kudus yang kita dapat sebutkan namanya. Jika kita sungguh menyadari akan kebenaran ini, maka – seperti Yesus – kita pun dapat mengampuni orang-orang lain yang telah menyakiti hati atau mendzolimi kita. Kita pun akan mampu untuk melihat gambar dan rupa Allah dalam diri mereka. Oleh karena itu, marilah kita tidak memohon kepada Allah agar diperlakukan secara adil, melainkan memohon agar kepada kita diberikan hati yang dapat memperlakukan orang-orang lain sebagaimana Bapa surgawi memperlakukan kita. 

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahapengampun. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengampuni orang-orang yang telah menyakiti dan mendzolimi diriku. Transformasikanlah kami semua dengan kasih-Mu yang berlimpah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yag berjudul “YANG TERAKHIR AKAN MENJADI YANG PERTAMA DAN YANG PERTAMA AKAN MENJADI YANG TERAKHIR” (bacaan tanggal 24-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  22 September 2017 [Peringatan S. Ignasius dr Santhi, Imam Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI TANAH YANG BAIK BAGI BENIH SABDA-NYA

MENJADI TANAH YANG BAIK BAGI BENIH SABDA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius dr Pietrelcina [Padre Pio] – Sabtu, 23 September 2017)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Pesta S. Pius dr Pietrelcina [Padre Pio] 

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri dengan Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8:4-15) 

Bacaan Pertama: 1Tim 6:2c-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-4 

Terpujilah Allah selama-lamanya! Ia tak henti-hentinya memberikan kepada kita kesempatan demi kesempatan untuk berbalik kepada-Nya dan meninggalkan segala sesuatu yang selama ini menjauhkan diri kita daripada-Nya, dan kemudian menerima berkat-berkat-Nya. Dalam “perumpamaan tentang seorang penabur” ini, Yesus mengajarkan para murid-Nya untuk memeriksa cara mereka hidup sehingga mereka benar-benar dapat berbuah baik dan banyak sementara mereka mengalami hidup dan kasih-Nya.

Pada waktu kita dibaptis, Allah dengan penuh kemurahan hati menganugerahkan kepada kita benih hidup baru-Nya. Namun demikian, karena kegelapan yang dalam dunia di sekeliling kita, dan karena dorongan yang ada dalam diri kita untuk terlibat dalam dosa, maka pertumbuhan benih ini tidak semudah yang kita bayangkan. Si jahat selalu saja mencari jalan untuk mencuri sabda Allah dari diri kita, dengan demikian dapat menghambat pertumbuhan kita dalam Kristus. Kita menjadi korban distraksi-distraksi dalam bentuk berbagai kekhawatiran, kekayaan dan kenikmatan-kenikmatan kehidupan duniawi. Kita mengalami ketakutan dan kegelapan di dalam hati kita.

Kesulitan-kesulitan ini dapat mengecilkan hati kita dan membuat kita merasa waswas dan gelisah penuh kekhawatiran. Yesus mengajarkan perumpamaan ini agar supaya kita dapat memiliki pengharapan. Selagi kita  membuang jauh-jauh segala hasrat kedosaan kita dan menolak dosa yang ada dalam dunia di sekeliling kita, maka benih-hidup-baru yang tidak dapat rusak dapat bertumbuh dan menghasilkan buah yang menyenangkan Allah dan kita semua. Dengan memelihara benih – artinya dengan mempasrahkan diri Allah bekerja dalam diri kita – kita memberikan kesempatan kepada keajaiban hidup ilahi untuk menggantikan kecenderungan-kecenderungan untuk berdosa yang selama ini ada dalam diri kita.

Bagaimana caranya kita mempasrahkan diri kepada Allah? Yesus minta kepada kita untuk berdoa, untuk menyediakan waktu yang cukup guna membaca dan mempelajari sabda-Nya, untuk menguji/memeriksa kehidupan kita dalam terang ajaran-Nya, dan untuk melayani orang-orang lain dalam kasih. Apabila kita taat kepada-Nya, maka kita akan mengalami kasih-Nya bagi kita. Dan pengalaman  ini akan mentransformasikan diri kita sehingga dengan berjalannya waktu, kita menjadi lebih dan lebih serupa lagi dengan Dia. Cintakasih kita kepada Tuhan dan ketaatan kita kepada-Nya – seperti juga cintakasih kita dan pengampunan kita terhadap mereka yang bersalah kepada kita – akan mencabut akar kehidupan kita yang lama dan memberikan ruangan kepada hidup baru untuk bertumbuh dengan baik. Allah hanya meminta kepada kita untuk mengambil beberapa langkah dalam iman setiap harinya. Dia akan memberkati setiap langkah iman kita, meski langkah-langkah yang kecil sekalipun. Dia juga akan memberikan kepada kita suatu rasa haus dan lapar yang semakin mendalam akan kebersatuan kita dengan diri-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku sadar sekali bahwa Engkau sangat mengasihiku dan sesamaku. Engkau begitu memperhatikan diriku dan mengajar aku bagaimana caranya menghayati hidup sebagai murid-Mu di dunia ini. Berkatilah langkah-langkahku hari ini selagi aku berupaya menyuburkan benih hidup baru-Mu dalam diriku. Ajarlah aku untuk percaya sepenuhnya kepada rahmat-Mu dalam setiap langkah yang kuambil. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:4-15), bacalah tulisan yang  berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PETANI YANG MENABURKAN BENIHNYA” (bacaan tanggal 23-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

Cilandak, 22 September 2017 [Peringatan S. Ignasius dr Santhi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

TIDAK ADA YANG BERADA DI LUAR JANGKAUAN KASIH-NYA

TIDAK ADA YANG BERADA DI LUAR JANGKAUAN KASIH-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV  – Jumat, 22 September 2017)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Ignatius dr Shanti, Imam Biarawan 

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 8:1-3) 

Bacaan Pertama:  1Tim 6:2c-12; Mazmur Tanggapan: 49:6-10,17-20 

Pikiran dan rancangan Allah memang tidak pernah dapat ditebak oleh akal-budi manusia yang sungguh terbatas. Dengan Allah, hal-hal yang diharapkan tidak terjadi dan hal-hal yang tidak diharapkan dan tidak dibayangkan justru dialami: “Sebab, rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN [YHWH]” (Yes 55:8).

Pada waktu Yesus menjadi seorang manusia dan tinggal di tengah-tengah kita, Dia memperlebar batasan-batasan dari apa yang diharapkan orang dari seorang Mesias. Ia berjalan ke banyak tempat “memberitakan Injil Kerajaan Allah” (Luk 8:1). Injil atau Kabar Baik yang diberitakan-Nya sungguh mengejutkan sekaligus menggembirakan: Allah menginginkan keselamatan bagi setiap orang – tidak hanya yang “pantas”, yang saleh dalam praktek keagamaan, melainkan setiap orang yang ada.

Hal seperti ini sungguh sukar dicerna oleh orang-orang Yahudi, umat pilihan Allah. Gagasan bahwa Allah harus menebus bangsa-bangsa – bahkan yang tak bermoral, kafir – sungguh tidak terpikirkan oleh mereka. Akan tetapi, kenyataannya hal ini memang benar, sampai hari ini. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari kasih Allah atau hasrat-Nya untuk syering hidup-Nya secara pribadi dan akrab. Tidak ada seorang pun yang hidup dalam dunia ini berada diluar jangkauan kasih Allah atau begitu “terbenam” dalam kedosaan yang tidak mampu ditebut oleh kuasa-Nya.

Kedua belas rasul dan beberapa orang perempuan yang ikut dalam misi Yesus (Luk 8:2) bukanlah yang diharap-harapkan orang dari sebuah rombongan seorang Raja-Mesias. Beberapa orang ex-nelayan, seorang ex-pemungut cukai, seorang ex-Zeloti, sejumlah perempuan dengan berbagai macam latar belakang dst. – kebanyakan mereka miskin, tersisihkan secara sosial, bukan “orang-orang sekolah dalam hal agama” – semua ini sungguh bertolak-belakang dengan adat-istiadat dan nilai-nilai yang dianut bangsa Yahudi, namun pada saat yang sama merupakan suatu testimoni tentang hikmat-kebijaksanaan dan jalan Allah yang tak terbayangkan. Hikmat kebijaksanaan  Allah memporak-porandakan batasan-batasan akal-budi kita, dan dalam Yesus, Ia mendamaikan orang-orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi (kafir), yang kaya dan miskin, yang sehat maupun yang kurang/tidak sehat, yang  benar dan berdosa, seringkali dengan cara-cara yang tak terbayangkan.

Dalam Yesus, Kerajaan Allah terbuka untuk siapa saja: wong cilik dan yang termarginalisasi, yang ternama dan berpengaruh. Ada suatu sukacita yang datang dari pelebaran batasan-batasan manusiawi kita: Kegembiraan yang meluap-luap dalam kasih Allah selagi hal itu memancarkan cahaya lewat kegelapan harapan-harapan kita yang terbatas.

Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita akan mengajar kita kebenaran tentang Yesus. Kebenaran ini – realitas-realitas dan pemikiran-pemikiran Allah Yang Mahakuasa – bukanlah sesuatu yang dapat ketahui dan pahami berdasarkan kekuatan kita sendiri. Hal tersebut secara lengkap-total berada di luar jangkauan akal-budi kita, dengan demikian kita sungguh membutuhkan Roh Kudus untuk membimbing kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13). Oleh karena itu, baiklah kita setiap hari berpaling kepada-Nya agar dapat memperoleh hikmat-kebijaksanaan dan pengetahuan yang datang dari Allah saja.

DOA: Tuhan Yesus, hancurkanlah segala pemikiran yang penuh dengan praduga dan bias-bias yang ada dalam diriku, sehingga dengan demikian aku dapat berpikir seperti Engkau berpikir, mengasihi seperti Engkau mengasihi, dan memilih cara-cara dan rencana-rencana yang Engkau telah tentukan sejak kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA MENGIKUTI-NYA” (bacaan tanggal 22-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-9-16 dalam situsblog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI

MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul Penginjil – Kamis, 21 September 2016) 

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama:  Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19: 2-5 

Pajak/cukai dan dan para pemungut/pertugasnya tidak pernah populer di  mata publik. Hal seperti itu terjadi di mana saja, termasuk di negara kita tercinta seperti ini. Bukan sekali dua kali saya pribadi mempunyai pengalaman buruk dalam hal penyelesaian pajak tahunan saya. Laporan yang sudah benar dikatakan salah, pembayaran sudah benar dikatakan kurang-bayar, kelebihan pembayaran pajak dan disumbangkan kepada negara malah dimarahi-marahi oleh petugas pajak, dlsb. Ujung-ujungnya ……? Anda sudah tahu jawabnya, kan? Kalau tidak begitu, apa kata dunia …?

Nah, petugas cukai/pajak pada zaman Romawi juga sama jeleknya, malah dapat dikatakan lebih keterlaluan lagi. Mereka lebih menyerupai para pengusaha kaya daripada PNS. Dalam hal pemungutan pajak/cukai pemerintahan Romawi menerapkan sistem kontrak yang di-‘tender’-kan. Penawar tertinggi akan memenangkan tender dan mendapat kontrak itu (misalnya orang seperti Zakheus; Luk 19:1-10). Pemerintah (penjajah) memperoleh penghasilan dari pihak yang berkontrak, dan dia dapat bebas menetapkan jumlah pajak di mana telah diperhitungkan keuntungan yang diinginkannya. Ini adalah praktek ekonomi bebas dalam artinya yang paling buruk, karena melibatkan pemaksaan, korupsi, penipuan dlsb., dan semuanya itu didukung dengan pembenaran dan perlindungan secara hukum.

Ada tarif pajak pada waktu itu yang sampai mencapai 25%. Pemungutan uang tol dan bea-cukai yang relatif tinggi menyebabkan tidak dimungkinkannya para petani untuk menjual hasil panen mereka di luar daerah pajak mereka. Sebagian terbesar petani itu miskin atau berhutang kepada para pemungut pajak atau rentenir. Ketidakpopuleran pajak/cukai pemerintahan Romawi dibuat menjadi lebih buruk lagi oleh kenyataan bahwa penghasilan pajak/cukai hanya menguntungkan pihak penjajah dan tidak membantu pemenuhan berbagai kebutuhan lokal. Para pemungut pajak/cukai tidak hanya dibenci karena membuat keuntungan dengan merugikan banyak orang lain, melainkan juga karena mereka dipandang sebagai para pengkhianat terhadap identitas dan kebaikan bangsa Yahudi.

Inilah konteks dari segala “kehebohan” yang terjadi di kalangan orang Farisi ketika Yesus memanggil seorang pemungkut cukai yang bernama Lewi (Matius) dan kemudian menghadiri acara makan-minum di rumahnya. Kita dapat menduga bahwa dia adalah seorang “sukses” yang sibuk, tanpa banyak pertimbangan atas implikasi moral dari pekerjaannya. Kita juga dapat menduga bahwa Matius bukanlah seorang Yahudi saleh, karena tidak mungkinlah seorang Yahudi saleh bekerja sebagai seorang pemungkut cukai. Barangkali dia adalah seorang yang bersikap acuh-tak-acuh terhadap Allah dan keberadaan-Nya. Akan tetapi Yesus, sang rabi-keliling dari Nazaret, telah menyentuh hatinya dan mengubah-Nya. Dan, perjumpaannya dengan Yesus yang telah mengubah hidupnya itu mempengaruh Gereja sampai hari ini.

Allah dapat memanggil siapa saja, dapat menggunakan siapa saja, untuk mencapai tujuan-Nya. Para pemungut pajak/cukai dan para pelacur datang kepada Yesus dengan tulus hati sehinga Dia membandingkan mereka dengan para pemuka agama Yahudi: “Sesungguhnya Aku berkata, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21:31). Allah juga dapat melakukan keajaiban-keajaiban dalam kehidupan kita, asal saja kita memperkenankan Dia melakukan hal-hal itu, artinya …… asal saja kita “memberi izin” kepada-Nya. Matius maju terus dan sungguh menjadi seorang Rasul dan ia adalah salah seorang penyusun kitab Injil. Percayalah bahwa hal-hal besar dapat terjadi dengan kita masing-masing, asal saja kita memperkenankan-Nya menyentuh hati kita.

DOA: Bapa surgawi, hari ini kami mendoakan teman-teman kami yang begitu sibuk bekerja sehari-hari sehingga bersikap acuh-tak-acuh terhadap Engkau dan keberadaan-Mu. Kami berdoa agar oleh  kuasa Roh Kudus-Mu hidup mereka disentuh sehingga dengan demikian mereka akan datang melayani Engkau dengan sepenuh hati, pikiran dan tenaga mereka.  Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 4:1-7,11-13), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 September 2016 [Peringatan S. Andreas Kim Tae-gon, Imam dan Paulus Chong Ha-sang dkk., para martir Korea]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JEMAAT ALLAH, DASAR DAN PENOPANG KEBENARAN

JEMAAT ALLAH, DASAR DAN PENOPANG KEBENARAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Perngatan S. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang dkk., Martir Korea – Rabu, 20 September 2017) 

Semuanya itu kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau. Jadi, jika aku terlambat, engkau sudah tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. Sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita, “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.” (1Tim 3:14-16) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6; Bacaan Injil: Luk 7:31-35 

“Sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita”  (1Tim 3:16). Dengan demikian mulailah suatu pernyataan iman-kepercayaan dari Gereja awal. Dilihat apa adanya, kata-kata ini mencerminkan yang telah disaksikan oleh umat Kristiani awal, dialami oleh mereka dan dipahami sebagai inti dari relasi mereka dengan Yesus: realitas kebangkitan-Nya, pencurahan Roh Kudus-Nya dan hal-hal ajaib lainnya  seperti penyembuhan-penyembuhan dan pertobatan dari banyak orang secara dramatis. “Kredo” ini dan lain-lainnya seperti itu adalah upaya-upaya pertama dari umat Kristiani untuk mengungkapkan dengan kata-kata segala “keajaiban” yang menakjubkan itu (1Kor 15:3-7; Rm 10:9-10).

Allah kita sungguh mahabesar dan teramat menakjubkan! Pada zaman ini dan dalam dalam kehidupan kita, Dia telah melakukan berbagai hal yang sama menakjubkannya. Dia menjawab doa-doa kita, walaupun begitu tidak pantasnya diri kita. Dia mencurahkan kebaikan dan belas kasih secara berkelimpahan, jauh melebihi segala kebaikan dan belas kasih yang telah kita telah tunjukkan. Ia menyembuhkan, melindungi, campur tangan, menerangi, dan menarik kita lebih dekat lagi kepada diri-Nya. Dia terus memenuhi janji-janji yang telah dibuat-Nya beberapa ribu tahun lalu kepada Abraham, Musa dan Daud. Ia tetap bekerja untuk membawa sebanyak mungkin orang ke dalam Kerajaan-Nya.

Pasti kita masing-masing dapat menceritakan tindakan Allah yang telah membuat kita terkesima penuh kekaguman dan menggerakkan kita untuk mendeklarasikan keagungan-Nya. Oleh karena itu, marilah pada hari ini kita menulis suatu pernyataan pribadi menyangkut  misteri iman-kepercayaan kita masing-masing. Janganlah berpikir bahwa dengan melakukan hal itu kita telah menemukan kembali Kekristenan atau datang dengan kebenaran baru tentang Allah. Secara sederhana, marilah kita mendeklarasikan apa yang kita ketahui tentang siapa Allah itu, tentang apa yang telah dilakukan-Nya atas diri kita masing-masing. Marilah kita menjadi kreatif: kita dapat menulisnya sebagai sebuah lagu, sebuah doa, sebuah sajak, bahkan sebuah pernyataan iman-kepercayaan yang bersifat straight forward. 

Jangan merasa susah apabila pernyataan iman-kepercayaan kita terasa terlalu singkat atau tidak memadai. Tujuannya bukanlah untuk datang dengan suatu pernyataan iman-kepercayaan yang sempurna. Gereja telah memiliki pernyataan iman-kepercayaan yang sempurna. Maksud praktek ini adalah terlebih-lebih untuk mengundang Roh Kudus menunjukkan kepada kita berapa banyak yang kita sungguh ketahui dan memperkenankan Roh Kudus untuk membawa kita kepada pemahaman yang lebih mendalam. Sungguh agung rahasia/misteri ibadah kita: Selagi kita memohon kepada Tuhan Yesus untuk mengajar lewat pikiran kita, hati kita pun akan mengikuti dalam cintakasih!

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahaagung, Pencipta langit dan bumi. Terpujilah Engkau karena kasih-Mu kepada kami. Begitu besar belas kasih-Mu, kebaikan-Mu, pengertian-Mu, pengampunan-Mu – semua cara yang telah Kautunjukkan untuk menunjukkan kasih-Mu kepada kami semua. Kami memuji Engkau untuk pencurahan kasih-Mu yang menakjubkan dalam hidup kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini  adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-9-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 September 2017 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMUA ORANG ITU KETAKUTAN DAN MEREKA MEMULIAKAN ALLAH

SEMUA ORANG ITU KETAKUTAN DAN MEREKA MEMULIAKAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 19 September 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan

 

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,5-6 

“Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah.” (Luk 7:16)

Dalam artian tertentu, reaksi orang-orang terhadap apa yang mereka lihat terjadi atas diri anak muda dari Nain ini sepenuhnya dapat dipahami. Tidakkah anda akan merasa “ngeri” apabila menyaksikan seorang mati hidup kembali, dia duduk dan mulai berbicara? Akan tetapi, tentunya “ketakutan” yang digambarkan oleh Lukas di sini tidaklah seperti yang kita bayangkan terjadi dengan seseorang yang sedang begitu asyik larut dijerat oleh film horor yang sedang ditontonnya.

Yang ingin digambarkan oleh Lukas adalah reaksi orang-orang itu atas mukjizat yang terjadi: mereka begitu terkesima dan takjub atas kuat-kuasa Allah yang bekerja dalam kehidupan seorang pribadi – suatu rasa takjub yang menggerakkan mereka untuk memuliakan Allah dan menjadi percaya kepada Yesus: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya” (Luk 7:16).

Sebaliknya, banyak orang Farisi tidak bereaksi terhadap mukjizat-mukjizat Yesus secara positif. Tidak ada luapan rasa takjub atau iman yang lebih mendalam. Sejumlah orang Farisi barangkali menyaksikan lebih banyak mukjizat Yesus daripada orang-orang di Nain pada hari itu. Akan tetapi, karena kecurigaan dan kecemburuan mereka, karya ilahi yang ditunjukkan oleh Yesus malah dituding sebagai karya Iblis. Langkah keliru mereka sampai begitu jauh sampai-sampai menuduh Yesus dirasuki oleh Iblis dan mengusir roh-roh jahat dengan menggunakan kuasa Beelzebul, penghulu/pemimpin setan (lihat Luk 11:14-26).

Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Bagaimana reaksiku terhadap mukjizat-mukjizat  yang terjadi pada masa kini? Bagaimana aku memberi tanggapan bilamana aku mendengar bahwa seseorang telah disembuhkan secara mengherankan dari penyakitnya yang berat, secara dramatis dan tidak dapat dijelaskan dengan akal-budi – setelah menghadiri sebuah Misa Penyembuhan? Apa yang kupikirkan ketika aku mendengar tentang penampakan-penampakan Bunda Maria? Apakah aku memandangnya tidak lebih dari takhyul, atau aku melakukan “investigasi” dengan rendah hati dalam doa? Apakah aku memperkenankan adanya kemungkinan bahwa sesuatu yang ajaib telah terjadi?

Allah masih bekerja pada hari ini dengan melakukan berbagai mukjizat dan tanda heran yang dimaksudkan untuk memimpin orang-orang untuk melakukan pertobatan dan percaya kepada-Nya. Penulis ‘Surat kepada Orang Ibrani’ mengatakan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Apabila Yesus membuat mukjizat di Nain dan di tempat-tempat lain sekitar 2.000 tahun lalu, maka pada saat ini pun Dia masih membuat mukjizat yang sama menakjubkannya. Ia menyembuhkan orang-orang dari penyakit kanker, HIV dan kebutaan.

Manakala anda mendengar tentang hal-hal seperti itu, janganlah menjadi takut. Janganlah mencoba mencari jawaban yang sepenuhnya berdasarkan akal-budi dan pelajaran-pelajaran yang diperoleh di kelas-kelas teologi. Mukjizat itu memang ada!!! Yang penting adalah, bahwa kita harus membuka hati kita lebar-lebar bagi Roh-Nya untuk bekerja dalam diri kita. Kita harus meluangkan waktu untuk menyimak apa yang kita dengar itu dalam suasana doa yang penuh keheningan. Kita bertanya: Apa buah yang dihasilkan? Apakah hasilnya merupakan suatu peningkatan iman akan Allah dalam diri orang-orang yang memperoleh berkat Tuhan itu? Apakah kesembuhan yang dialami seseorang membuat kasih-Nya kepada Yesus dan sabda-Nya menjadi lebih dalam? Marilah kita mohon kepada Allah agar membuat diri kita terbuka bagi hal-hal yang bersifat supernatural. Selagi kita melakukannya, Dia akan memberikan kepada kita setiap karunia dan berkat indah yang kita perlukan, sehingga kita pun dapat bersukacita atas karya-Nya di dunia ini.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku agar senantiasa terbuka bagi karya-Mu di dunia pada masa kini juga. Berikanlah kepadaku mata iman agar mampu melihat mukjizat-mukjizat yang Kaulakukan. Tolonglah aku agar mampu memberikan tanggapan dengan penuh ketakjuban yang murni datang dari hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN” (bacaan tanggal 19-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 September 2017 [Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS