Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

MENDENGARKAN SUARA ALLAH DAN PERCAYA

MENDENGARKAN SUARA ALLAH DAN PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Rabu, 18 September 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam

Related image

Kata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6 

Tidak sedikit orang yang begitu terbius dengan pembenaran diri sendiri, begitu ketatnya sehingga menutup diri mereka terhadap rahmat Allah. Yesus datang untuk menyampaikan kabar baik keselamatan bagi semua orang. Keempat Injil dipenuhi dengan berbagai narasi tentang orang-orang yang mencari Yesus dan menaruh kepercayaan mereka pada-Nya.

Namun Yesus tidak membatasi diri pada mereka yang mencari Dia. Dalam Bacaan Injil hari Selasa kemarin (Luk 7:11-17) diceritakan bahwa ketika Yesus memasuki kota Nain Ia berpapasan dengan sebuah iringan jenazah. Yang meninggal dunia adalah seorang anak muda dan ibundanya sudah hidup menjanda. Ketika Yesus melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Atas dasar inisiatif-Nya sendiri Yesus menghampiri usungan jenazah dan menyentuhnya. Kemudian Ia menyuruh anak muda yang sudah mati itu untuk bangkit, dan anak muda itu pun hidup lagi.

Syarat satu-satunya yang diperlukan kalau seseorang mau menerima rahmat dari Allah adalah, bahwa dia harus mendengarkan suara-Nya. Kalau kita mendengarkan dan percaya, maka Dia akan menyelesaikan selebihnya. Allah akan memperhatikan agar rahmat yang dicurahkan-Nya berbuah dalam diri orang itu. Tugas orang itu adalah menjaga agar rahmat Allah yang dicurahkan kepadanya dijaga. Siapa saja yang mendengarkan Allah dengan baik akan mencapai hasil yang melampaui kemampuan-kemampuannya sendiri, justru karena kuasa dari rahmat-Nya.

Kita bersyukur karena mengetahui bahwa Yesus mencari setiap orang – bahkan orang yang selalu diabaikan malah dihina oleh mereka yang kaya dan/atau berkuasa. Dalam Luk 7 kita melihat bahwa Yesus mau berjumpa dengan siapa saja, tidak ada diskriminasi dalam bentuk apapun yang dianut oleh-Nya. Ia menyembuhkan hamba seorang perwira Romawi yang kafir (7:1-10); seperti telah disinggung di atas, Yesus membangkitkan anak muda di Nain yang belum pernah dikenalnya (7:11-17); Yesus  menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan  dan dari roh-roh jahat serta mencelikkan mata orang buta (7:21); Ia berdialog dengan murid-murid Yohanes Pembaptis (7:18-20.22-23); Ia mengajar orang banyak, termasuk para pemungut cukai yang dihina dalam masyarakat (7:24-35); dan Yesus diurapi oleh perempuan berdosa (7:36-50). Dewasa ini pun Allah sangat berhasrat untuk menyentuh orang-orang di sekeliling kita. Harapan Kabar Baik Yesus Kristus juga diperuntukkan bagi mereka. Kalau kita peka terhadap sentuhan dan sapaan Roh Kristus, maka Dia akan menunjukkan kepada kita bagaimana berbagi Kabar Baik dengan para sahabat dan teman kita, para tetangga kita, dan para anggota keluarga besar kita. Dia akan mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka yang mendengarkan dan percaya – karena kesetiaan-Nya tidak tergantung pada kebenaran kita, melainkan pada cintakasih-Nya yang tanpa syarat.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang mahatinggi, Engkau adalah sumber segala kebaikan. Hanya Engkau saja yang baik, yang paling baik. Dengan penuh rasa syukur kami berterima kasih kepada-Mu, ya Bapa, karena Engkau memberikan Putera-Mu yang tunggal demi keselamatan kami. Dia setia kepada kami, dengan demikian kami pun bertekad bulat untuk memberitakan Kabar Baik-Nya kepada orang-orang yang kami jumpai. Bapa, perkenankanlah Roh Kudus-Mu menolong kami menaruh kepercayaan sepenuhnya pada kuasa rahmat-Mu agar dapat mengalir melalui diri kami dan terus mengalir kepada orang-orang lain di sekeliling kami. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau, Bapa, dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:31-35), bacalah tulisan yang  berjudul “MENJADI PRIBADI YANG TANGGUH” (bacaan tanggal 18-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 September 2019 [Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS MEMBANGKITKAN SEORANG MUDA DI DEKAT GERBANG KOTA NAIN

YESUS MEMBANGKITKAN SEORANG MUDA DI DEKAT GERBANG KOTA NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 17 September 2019)

Peringatan Fakultatif: S. Robertus Bellarminus, Uskup Pujangga Gereja

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus

Serikat Yesus (SJ): Peringatan Wajib: S. Robertus Bellarminus, Imam Pujangga Gereja

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,5-6

Masa depan sang janda dari Nain itu kelihatannya sungguh suram. Karena dalam zaman Yahudi kuno, seorang janda yang kehilangan anak laki-lakinya yang tunggal berarti bahwa dia tidak akan mempunyai sumber penghasilan. Keadaan buruk yang menimpa dirinya sungguh serius. Mengamati iringan jenazah anak muda tersebut dan ibunya, hati Yesus pun tergerak oleh belas kasihan (Luk 7:13). Ketika Tuhan melihatnya, dengan penuh bela-rasa Dia berkata kepada janda itu: “Jangan menangis” (Luk 7:13). Hati-Nya tergerak dan Ia pun melakukan intervensi ilahi.

Bela rasa Yesus terhadap janda itu bukanlah sekadar sentimentalitas yang membuat diri-Nya melangggar hukum yang mengatakan bahwa menyentuh tubuh orang mati membuat seseorang menjadi najis, …… tidak bersih secara ritual: “Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya” (Bil 19:11). Sambil menyentuh usungan jenazah, Yesus berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!”  (Luk 7:14). Anak muda itu pun bangun  dan duduk serta mulai berkata-kata. Orang-orang dengan penuh rasa takjub mulai memuji-muji Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya: (Luk 7:16).

Dalam membangkitkan orang muda dari kematiannya, Yesus sebenarnya melakukan tindakan yang dilakukan oleh Elia berabad-abad sebelumnya, ketika dia membangkitkan anak laki-laki yang sudah mati, anak dari seorang janda (1Raj 17:17-24). Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila orang-orang di dekat pintu gerbang kota Nain itu berpikir bahwa seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah mereka. Ada orang-orang yang berpikir bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis; ada pula yang mengira bahwa Dia adalah Elia; ada juga yang mengira Dia adalah salah seorang dari nabi-nabi zaman kuno (Luk 9:19). Hal inilah yang menyebabkan Yesus bertanya kepada para murid-Nya: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Luk 9:20).

Sangatlah penting bagi kita (anda dan saya) untuk mengajukan pertanyaan Yesus ini kepada diri kita masing-masing, karena Allah ingin memberikan kepada kita anugerah hikmat dan perwahyuan agar supaya kita dapat mengenal Kristus secara lebih mendalam setiap hari. Allah sangat menginginkan agar pengenalan kita akan Yesus itu hidup dan mempribadi. Bagaimana hal ini dapat terjadi dalam kehidupan kita? Kita harus berdoa dan mohon kepada Allah agar menolong kita untuk dapat melihat dengan lebih mendalam ke dalam misteri Kristus dan pengharapan kita kepada-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahamulia, kami mohon agar Kaucurahkan kepada kami Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Kristus dengan benar. Jadikanlah mata hati kami terang, agar kami mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam penggilan-Mu: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Mu kepada orang-orang kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “HAI ANAK MUDA, AKU BERKATA KEPADAMU, BANGKITLAH!” (bacaan tanggal 17-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 September 2019 [Peringatan Wajib S. Kornelius & S. Siprianus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUAN, JANGANLAH BERSUSAH-SUSAH, ……

TUAN, JANGANLAH BERSUSAH-SUSAH, ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Kornelius, Paus dan S. Siprianus, Uskup Martir – Senin, 16 September 2019)

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Tim 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 28:2,7-9 

“Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (Luk 7: 6-7)

Kata-kata indah yang diucapkan oleh perwira (centurion) ini lewat beberapa sahabatnya banyak mengungkapkan pergolakan apa yang terjadi dalam batinnya. Hal ini tidak hanya banyak menunjukkan keadaan dirinya, melainkan juga menolong kita untuk memahami bagaimana mengalami kuat-kuasa penyembuhan dari Yesus dalam hidup kita dan kehidupan orang-orang lain yang kita kasihi.

Pokok pertama yang harus kita catat adalah bahwa sang perwira – seorang kafir di mata orang Yahudi dan seorang serdadu – menunjukkan penghargaan dan kekagumannya terhadap orang Yahudi dengan membangun sebuah sinagoga untuk mereka beribadat. Walaupun dia bukanlah seorang Yahudi, perwira ini menghargai umat Yahudi sebagai kelompok orang yang istimewa di mata Allah. Bukannya tidak mungkin bahwa dia pun mendambakan suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah Israel.

Kedua, setelah mempelajari tentang Yesus, perwira ini langsung memberi tanggapan dengan mengirimkan pesan memohon kepada Yesus untuk datang dan menyembuhkan seorang hambanya yang dikasihinya. Sekali lagi, sang perwira memiliki keterbukaan yang besar – dan hasrat – untuk mengalami kuat-kuasa Allah yang senantiasa terbukti setiap kali Yesus berjumpa dengan orang-orang yang sakit atau menderita kesusahan hidup.

Ketiga, barangkali yang paling penting adalah bahwa kita dapat melihat hati sang perwira ketika dia mengatakan kepada Yesus lewat perantaraan sahabat-sahabatnya: “…aku tidak layak menerima tuan di dalam rumahku” (Luk 7:6). Pernyataan ini menunjukkan bahwa sang perwira adalah seorang pribadi yang sangat rendah hati, juga imannya dan rasa percayanya kepada Dia yang memang pantas: Yesus! Kerendahan hati sang perwira dan  rasa percayanya kepada Tuhan Yesus juga diungkapkan oleh tindakan-tindakannya. Ia tidak pernah muncul sendiri di depan Yesus, melainkan dua kali mengirim utusan-utusannya untuk bertemu dengan Dia, dengan penuh kepercayaan bahwa Yesus tidak hanya dapat menyembuhkan hambanya melainkan akan menyembuhkan hambanya itu juga. Jadi, dia sepenuhnya percaya akan kemampuan dan kemauan Yesus untuk menyembuhkan hambanya. Dengan sebuah hati sedemikian, maka kuat-kuasa penyembuhan dari Yesus akan mengalir dengan mudah.

Hasrat kita untuk menerima pertolongan dari Yesus bagi orang-orang yang kita kasihi maupun untuk diri kita sendiri, plus kerendahan hati kita, dan rasa percaya yang besar kepada-Nya dan kuat-kuasa Allah dalam diri-Nya, adalah kunci-kunci yang diperlukan agar kita dapat menerima kesembuhan yang Ia ingin berikan kepada kita. Hati sang perwira dan tindakan-tindakannya membawa kesembuhan ilahi bagi hambanya. Oleh karena itu, pada hari ini kita juga harus melakukan yang terbaik untuk mendapatkan sebuah hati seperti yang dimiliki sang perwira. Marilah kita mengambil langkah-langkah yang konkret dan berdiri dalam iman selagi kita menerima jamahan kesembuhan dari Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh tak pantas menerima cintakasih-Mu yang sedemikian besar. Namun, aku tahu bahwa Engkau pantas dan layak untuk cintakasihku. Dengan penuh kepercayaan dan dengan segala kerendahan hati, aku mohon agar Engkau sudi mencurahkan kuat-kuasa penyembuhan-Mu ke dalam hidupku. Aku percaya Engkau akan mendengarkan doaku ini, karena Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “KATAKAN SAJA SEPATAH KATA, MAKA HAMBAKU ITU AKAN SEMBUH” (bacaan tanggal 16-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul untuk bacaan tanggal 17-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 September 2019 [Peringatan Wajib S. Yohanes Krisostomus, Uskup & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOMBA YANG HILANG DAN DIRHAM YANG HILANG

DOMBA YANG HILANG DAN DIRHAM YANG HILANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV [TAHUN C] – 15 September 2019)

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10) 

Bacaan Pertama: Kel 32:7-11,13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,17,19; Bacaan Kedua: 1Tim 1:12-17; Bacaan Injil (Versi Panjang): Luk 15:1-32 

Dalam kesempatan ini saya hanya menguraikan versi pendek dari Bacaan Injil pada hari Minggu ini.

Seorang ayah baru saja pulang ke rumahnya di sebuah desa yang terpencil. Pada saat dia pulang, rumah itu sedang terbakar dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil terjebak di dalam rumah. Para tetangga yang tidak banyak jumlahnya itu, mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk menyelamatkan anak-anaknya. Namun demikian sang bapak keluarga ini – tanpa ragu-ragu – langsung masuk ke dalam kobaran api dan mencari anak-anaknya dari ruangan yang satu ke ruangan yang lain. Satu persatu berhasil diselamatkan olehnya.

Mengapa seseorang melakukan tindakan yang terasa begitu mengabaikan kehati-hatian, tanpa hitung-hitung, malah sembrono, seperti ditunjukkan oleh sang ayah dari tiga orang anak itu? Jawabnya cukup sederhana: Karena cinta! Cintakasih mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. Cintakasih melindungi; cintakasih bertekun! Cintakasih berarti menanggung risiko ditolak, bahkan cidera pribadi juga, demi kebaikan orang-orang yang kita cintai. Dalam dua perumpamaan di atas, Yesus menunjukkan bagaimana Bapa surgawi berupaya secara luarbiasa untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Allah sampai mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dunia (lihat Yoh 3:16-17) bahkan sampai menemui ajal di kayu salib. Semua ini agar manusia kembali ke rumah-Nya

stdas0736Bagaimana kalau salah seorang anak yang kita cintai mulai menyeleweng dari iman Kristiani? Dalam hal ini, bayangkanlah dia sebagai seekor domba yang hilang atau sebuah dirham yang hilang. Bapa surgawi tahu bahwa anak itu “hilang”. Maka Dia pun langsung mencari anak yang hilang itu, tanpa hitung-hitung. Seperti sang ayah yang menerobos sebuah rumah yang sedang terbakar hebat, Allah pun tidak akan berhenti untuk mencari pribadi-pribadi yang kita cintai dan membawa mereka ke tempat yang aman. Sementara itu yang dapat kita lakukan adalah berdoa, berdoa dan berdoa. Sedapat mungkin, jadilah Yesus bagi dia. Bersahabatlah dengan dia, menjadi “telinga yang mendengarkan” baginya, dan berilah dorongan-dorongan positif kepadanya, kasihilah mereka tanpa reserve. Bayangkanlah dia ditemukan oleh Bapa surgawi. Bayangkan juga pesta penuh sukacita yang diadakan di surgawi kalau mereka kembali kepada hidup iman semula.

Santa Monika berdoa untuk anaknya, Augustinus, bertahun-tahun lamanya. Saya pun dapat merasakan bagaimana ibuku untuk bertahun-tahun lamanya tanpa banyak omong berdoa rosario (dan doa-doa lain) bagi diri dan keluarga saya ketika saya  cukup lama tidak ke gereja dan agama (Ilah) saya adalah kerja dan karir belaka. Santa Monika dan ibuku tidak pernah kehilangan harapan. Mereka terus berdoa untuk anak-anak mereka masing-masing sampai Yesus membawa mereka pulang.

DOA: Tuhan Yesus, pada hari ini aku membawa ke hadapan-Mu orang-orang ini yang telah “hilang”. [Sebutkanlah nama-nama orang yang kita kasihi secara spesifik]. Tuhan, meskipun aku tidak dapat melihat bagaimana Engkau akan berkarya dalam kehidupan orang-orang ini, aku tetap percaya bahwa Engkau mendengarkan doa-doaku dan akan menjawab doa-doa itu. Aku membayangkan orang-orang yang kukasihi ini duduk dalam meja perjamuan-Mu di surga, dan aku berjanji untuk mengasihi dan menjaga mereka sampai mereka kembali pulang kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami melengkapi Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan berjudul “KITA SEMUA MEMANG MILIK-NYA” (Luk 15:11-32; bacaan tanggal 15-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com;  kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PESTA SALIB SUCI YANG KITA RAYAKAN PADA HARI INI

PESTA SALIB SUCI YANG KITA RAYAKAN PADA HARI INI

(Bacaan Kedua Misa Kudus, Pesta Salib Suci – Sabtu, 14 September 2019)

Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11) 

Bacaan Pertama: Bil 21:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2,34-38; Bacaan Injil: Yoh 3:13-17 

Pesta gerejawi yang kita rayakan pada hari ini mempunyai sebuah sejarah yang panjang. Penemuan salib Kristus di tanah suci oleh Santa Helena, untuk pertama kali dirayakan dalam Gereja pada tanggal 14 September 365. Perayaan itu diselenggarakan dalam gereja yang dibangun atas perintah putera Helena, Kaisar Roma Konstantinus, di situs Golgota dan makam Yesus. Perayaan untuk memperingati ini menyebar luas dengan cepat di tengah umat Kristiani di seluruh dunia, dan pada abad ke-7, pesta ini digabungkan dengan pesta  berkenaan dengan restorasi dari relikwi salib itu yang direbut dari orang-orang Persia – lalu dinamakan “Pesta Kemenangan Salib” atau “Pesta Peninggian Salib” dalam kalender liturgi Gereja Roma.

Dunia kuno sungguh merasa ngeri menyaksikan kematian lewat penyaliban – sebuah praktek pemberian hukuman mati yang mengerikan dan memalukan. Akan tetapi, orang-orang Kristiani menghormati salib, baik sebagai tanda penderitaan Yesus maupun piala kemenangan-Nya atas Iblis, dosa dan maut. Kita menghormati salib Kristus karena melalui salib-Nya kita sampai pada pengenalan dan pengalaman akan kasih Yesus kepada kita yang begitu besar dan agung, dan melalui bilur-bilur-Nya kita telah diselamatkan dan disembuhkan (Yes 53:5; bdk. 1Ptr 2:24). Rupert dari Dreutz, seorang rahib dan abas Benediktin pada abad ke-12 mempermaklumkan dengan mengharukan:

“Kita menghormati salib sebagai penjaga iman, penguat harapan, dan takhta kasih. Salib adalah tanda belas kasih, bukti pengampunan, sarana rahmat, dan pataka damai-sejahtera. Kita menghormati salib (Kristus) karena salib itu telah mematahkan kesombongan kita, mencerai-beraikan rasa iri kita, menebus dosa-dosa kita dan menjadi silih terhadap hukuman atas diri kita…….

“Salib Krisktus adalah pintu ke surga, kunci masuk ke dalam firdaus, kejatuhan Iblis, pengangkatan umat manusia, konsolasi/penghiburan atas keberadaan kita dalam penjara, hadiah bagu kebebasan kita …… Para tiran dihukum oleh salib (Kristus) dan orang-orang berkuasa dikalahkan oleh salib (Kristus) itu. Salib mengangkat orang-orang susah dan menghormati orang-orang miskin. Salib adalah akhir dari kegelapan, penyebaran terang, kaburnya maut, kapal kehidupan dan kerajaan keselamatan…….

“Apa pun yang kita capai bagi Allah, apa pun yang berhasil kita capai dan harapkan, adalah buah dari penghormatan kita terhadap salib (Kristus). Lewat Salib-Nya, Kristus menarik segala sesuatu kepada diri-Nya. Itu adalah kerajaan Bapa, tongkat lambang kekuasaan dari sang Putera, dan meterai Roh Kudus, suatu saksi bagi Tritunggal Mahakudus secara total.”

DOA: Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini dan di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia; dan kami memuji Engkau, sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan pertama hari ini (Bil 21:4-9), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MEMANDANG SALIB KRISTUS (bacaan tanggal 14-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 September 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AJARAN AGUNG YESUS TENTANG KASIH

AJARAN AGUNG YESUS TENTANG KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Yohanes Krisostomos, Uskup-Pujangga Gereja – Jumat, 13 September 2019)

Yesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42) 

Bacaan Pertama: 1Tim 1:1-2,12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1,2,5,7-8,11 

Keempat kitab Injil menceritakan cerita dasar yang sama mengenai Yesus: Siapa Dia sebenarnya; mengapa Dia datang ke dunia; signifikansi dari kehidupan-Nya. Masing-masing penulis kitab Injil mencoba untuk menggambarkan latar belakang Yesus yang bersifat unik, pendidikan-Nya sejak kecil dan panggilan-Nya. Tujuan Lukas adalah untuk meyakinkan para pembaca Injilnya yang terdiri dari orang-orang kafir (non Yahudi), bahwa Allah memasukkan mereka dalam rencana penyelamatan-Nya sejak awal, walaupun orang-orang Yahudi adalah yang pertama mendengar pesan keselamatan tersebut dan orang-orang Yahudi itu adalah saluran bagi pesan keselamatan itu untuk menyebar kepada bangsa-bangsa lain. Seluruh narasi yang ditulis Lukas dalam kitab Injilnya  tentang apa artinya mengikuti Yesus dipenuhi dengan nada sukacita.

“Perumpamaan tentang orang buta yang menuntun orang buta” dan “perumpamaan tentang serpihan kayu di dalam mata saudara dan balok di dalam mata sendiri” yang ada dalam bacaan Injil hari ini adalah bagian dari “Khotbah di dataran” (Luk 6:17-49). Melihat konteksnya, kedua perumpamaan singkat itu menggambarkan dengan suatu cara yang lain perihal ajaran agung Yesus tentang kasih, terutama untuk mengasihi orang-orang yang tidak mengasihi kita, musuh-musuh kita, bersikap tidak menghakimi orang-orang lain dan membuat praktek ini menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.

Kita dapat melihat ajaran ini dicerminkan dalam “perumpamaan tentang orang buta yang menuntun orang buta”. Ini adalah gambaran dari para guru yang puas dengan menawarkan jalan yang “kurang berat” (tidak banyak tuntutannya) daripada jalan yang diajarkan oleh Yesus untuk kita ikuti. Seorang guru yang baik tidak hanya menyampaikan informasi; dia juga melatih muridnya untuk menjadi seperti dirinya sendiri. Yesus adalah seorang guru sejati par excellence dan perumpamaan ini menunjuk  kepada dirinya. Ia memanggil kita untuk berbela rasa, adil dan penuh pengampunan. Lewat contoh-Nya, Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana kita menghayati ajaran-ajaran-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ajaran tentang kasih juga dicerminkan dalam “perumpamaan tentang serpihan kayu di dalam mata saudara dan balok di dalam mata sendiri”. Perumpamaan ini berbicara kepada kita semua perihal kecenderungan manusia untuk mengoreksi orang-orang lain untuk kesalahan-kesalahan mereka yang relatif kecil, namun tidak mampu untuk melihat kesalahan-kesalahan yang relatif besar dalam kehidupan kita sendiri. Sebagai susulan dari “perumpamaan tentang orang buta yang menuntun orang buta”, perumpamaan ini juga mengarahkan para pembaca yang serius dari Injil ini untuk mengikuti jejak Yesus, sang Guru sempurna tentang kasih.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepada kami hikmat-kebijaksanaan untuk mengikuti jejak-Mu di jalan kasih. Tolonglah diriku agar dapat menjadi seorang pribadi yang mengasihi dan berbela-rasa, tidak menghakimi orang-orang lain dan selalu siap mengampuni dalam segala situasi dalam kehidupanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:39-42), bacalah tulisan yang berjudul “DAPATKAH ORANG BUTA MENUNTUN ORANG BUTA?” (bacaan tanggal 13-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpdress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Jakarta, 11 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIKAP DAN PERILAKU YANG BENAR DALAM MENGHADAPI MUSUH

SIKAP DAN PERILAKU YANG BENAR DALAM MENGHADAPI MUSUH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Kamis, 12 September 2019)

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu. Siapa saja yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan siapa saja yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada yang mengambil kepunyaanmu. Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari dia, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:27-38) 

Bacaan Pertama: Kol 3:12-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6 

Ketika Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, paling sedikit dari sudut pemikiran intelektual kita terpikirlah bahwa Dia melakukan analisis  atas masalah manusia ini dengan psikologi yang sangat mendalam. Yesus sendiri tentunya akan “pusing” sendiri seandainya Dia tidak memaafkan dan mengampuni orang-orang Farisi, para ahli Taurat dll. yang terus-menerus mengganggu dirinya. Kaum Farisi dkk. ini adalah orang-orang yang penuh dengan kebencian dan iri-hati terhadap diri-Nya, dan sangat sulit mengubah pemikiran, sikap dan perilaku mereka terhadap Yesus dan kegiatan pewartaan-Nya.

Yesus tentunya tidak luput mempunyai dugaan bahwa kaum Farisi dkk. merencanakan sebuah komplotan untuk membunuhnya agar tidak lagi menjadi “biang kerok” di tanah Israel. Upaya-upaya mereka untuk memojokkan serta menjebak Yesus beberapa kali muncul dalam beberapa narasi Injil. Pada waktu orang-orang anti-Yesus itu pada akhirnya berhasil menyalibkan-Nya di bukit Kalvari, dari atas kayu salib itu Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita mengasihi dan mengampuni. Dari atas kayu salib itu Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Hati Yesus hanya berisikan cintakasih – tidak ada hal lain – walaupun ketika menanggung penderitaan yang paling buruk yang dapat menghantam seorang pribadi. Cintakasih semacam itu menyembuhkan kita dan membasuh bersih dosa-dosa kita. Penyembuhan penuh pengampunan! Inilah yang diajarkan oleh Yesus dari atas kayu salib-Nya. Cintakasih berlimpah Yesus dari atas kayu salib inilah yang sungguh menyembuhkan luka-luka dunia.

Kita mengetahui bahwa karena dosa Adam hilanglah cintakasih yang sehat, membahagiakan dan menyembuhkan itu. Ada cerita (tidak alkitabiah) begini: Konon pada suatu siang hari yang panas-terik Adam dan kedua anak laki-lakinya yang masih kecil, Kain dan Habel, sedang berjalan di padang gurun dan panasnya pasir “membakar” telapak kaki mereka. Di kejauhan kelihatanlah area yang dipenuhi pepohonan rindang. Habel bertanya kepada ayahnya: “Bapak, mengapa kita tidak boleh tinggal di sana, di oase yang indah dan sejuk itu?” Adam menjawab, “Semua ini gara-gara salah ibumu, anakku! Gara-gara dialah kita tidak boleh lagi tinggal dalam rumah nyaman  yang dahulu.” Apa pesan cerita pendek ini? Adam tidak dapat mengampuni istrinya. Dapatlah kita melihat efek buruk apa yang telah disebabkan dosa? Dosa merampas cintakasih dari diri kita, sehingga kita menyalahkan orang lain dan menolak untuk mengampuni orang lain.

Sebaliknya, Allah tidak pernah menyerah karena pemberontakan manusia yang telah diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (lihat Kej 1:26,27). Allah mengutus Putera ilahi-Nya Yesus, untuk memulihkan kasih yang menyembuhkan itu bagi kita. Yesus mengajar kita: “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati” (Luk 6:35-36).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah kami sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang mau dan mampu mengampuni orang-orang yang memusuhi kami dan mendoakan mereka yang menganiaya kami. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “AMPUNILAH DAN KAMU AKAN DIAMPUNI” (bacaan tanggal 12-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS