Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

KEMURAHAN HATI ALLAH YANG BERLIMPAH-LIMPAH

KEMURAHAN HATI ALLAH YANG BERLIMPAH-LIMPAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Rabu, 24 Juli 2019)

Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak berbondong-bondong dan mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya, “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanaman-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:1-9) 

Bacaan Pertama: Kel 16:1-5,9-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:18-19,23-28

Coba anda mengingat-ingat guru-guru terbaik di sekolah tempat anda belajar dahulu atau dosen-dosen ketika kuliah dahulu. Pada tahun 1960-an di FEUI ada seorang dosen yang  bernama Drs. Tan Goan Tiang (kelak dikenal sebagai Prof. Nathanael, pendiri Lembaga Demografi FEUI). Saya duduk di kelas beliau ketika belajar “Ilmu Ekonomi Mikro”. Banyak mahasiswa kelas itu merasa tidak sabar menunggu-nunggu pengajaran beliau. Praktis semua mahasiswa dalam kelas itu menaruh respek kepada beliau karena beliau memang pandai namun sederhana dalam penampilan, serius, tidak banyak membual. Kelasnya selalu penuh. Menjadi guru memang panggilannya. Dia pernah menjadi seorang guru SMA Kristen yang hampir setiap tahun menghasilkan bintang pelajar; dan tidak ada yang menyangkal bahwa beliau adalah seorang Kristiani sejati (anggota Gereja GKI Kwitang), yang dihormati tidak hanya oleh mereka yang Kristiani. Pada waktu kematiannya, jenazah Prof. Nathanael di semayamkan di kampus FEUI di Salemba dan banyak sekali para mantan mahasiswanya dari berbagai angkatan datang melayat. Seorang mantan mahasiswanya, Prof. Dr. Dorojatun Kuncorojakti, menulis sebuah artikel di salah satu majalah terkenal pada waktu itu, kalau tidak salah berjudul “Pohon yang berbuah”. Prof. Tan Goan Tiang memang seorang guru sejati dan banyak berbuah.

Saya yakin sekali bahwa Yesus, ketika mengajar tentang Kerajaan Allah, juga pasti sangat memikat para murid dan orang banyak yang mendengar-Nya. Yesus bukanlah seorang guru yang datang dengan berbagai data statistik, diagram dll. Tentunya Dia juga tidak mengajar sampai detil-detil yang harus dihafalkan oleh para pendengar-Nya. Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan, cerita-cerita mengenai orang-orang dan situasi-situasi yang dengan mudah membuat orang menghubungkan dirinya dengan itu semua. Dia ingin memenangkan hati kita dan juta membentuk pikiran kita. Siapa yang bisa mengajar lebih hebat daripada Yesus, Dia yang menciptakan kita dan “turun ke dunia” sebagai seorang manusia, kemudian mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita?

Layaknya seorang guru yang baik, Yesus tidak memberikan jawaban-jawaban standar. Ia mengundang kita untuk terlibat. Ia menantang kita agar membuka hati dan dengan rendah hati menerima sabda-Nya ke dalam jiwa kita. Agar supaya ajaran-Nya berbuah dalam kehidupan kita, maka kita harus “mendengar dengan telinga kita” dan “melihat dengan mata kita” (bdk. Mat 13:15-17). Walaupun kita mempunyai ajaran Gereja, tidak ada pengganti daripada penemuan apa yang dikatakan oleh sabda Allah dalam Kitab Suci bagi kita masing-masing secara pribadi.

Dengan perumpamaan ini, Matius menunjukkan satu pengajaran Yesus yang indah. Melalui perumpamaan ini penulis Injil ini menyoroti cara Yesus mengajar. Yesus menggunakan “perumpamaan tentang seorang penabur” ini untuk mengilustrasikan kemurahan-hati Allah yang berlimpah-limpah. Bapa surgawi selalu menaburkan benih-benih firman-Nya, mengundang kita untuk mengenal dan mengalami kasih dan kerahiman-Nya. Dia selalu mengulurkan tangan-tangan-Nya kepada kita.  Mengetahui bahwa kita memiliki seorang Bapa yang tidak pernah membelakangi atau menolak kita, maka seharusnya hal ini memberikan kepada kita damai-sejahtera dan pengharapan.

Setiap benih yang jatuh pada tanah yang baik akan bertumbuh. Benih yang ditanam oleh Bapa surgawi tentunya akan bertumbuh manakala bertemu dengan hati yang terbuka bagi-Nya. Ini adalah janji Allah. Namun bagaimana kita menentukan apakah hati kita itu baik? Apa beberapa butir acuan:

  • Apakah keragu-raguan dan rasa tidak-percaya langsung mencuri damai-sejahtera yang dibawa oleh firman Allah kepada kita? (lihat Mat 13:19).
  • Apabila kesusahan atau penderitaan datang karena iman kita, apakah kita berdiri dengan kokoh dalam iman kita atau apakah kita jatuh ke dalam kompromi (lihat Mat 13:20-21).
  • Apakah kita terlalu dibebani dengan pengurusan hal-ikhwal dunia? Apakah kesenangan karena harta-kekayaan dan berbagai hasrat akan “kenikmatan-kenikmatan” mengambil tempat yang lebih besar dalam hati kita ketimbang kehadiran Yesus? (lihat Mat 13:22).

Kita seharusnya tidak berputus-asa atas tanah yang berbatu-batu atau semak duri dari ketidak-percayaan, pelanturan-pelanturan atau rasa takut yang menghalangi firman Allah untuk kuat-mengakar dalam hati kita. Yesus senang sekali mengubah hati kita, asal saja dengan tulus-ikhlas kita mohonkan hal itu kepada-Nya. Yesus memiliki kesabaran yang sangat luarbiasa dengan kita masing-masing, seperti apa yang telah dicontohkan-Nya ketika membimbing/mengajar para murid-Nya yang bebal-bebal itu. Dia juga sangat senang untuk menjelaskan kepada kita mengenai “rahasia Kerajaan Allah” selagi kita memperkenankan sabda firman-Nya bertumbuh dalam diri kita.

DOA: Roh Kudus, siapkanlah hati kami untuk menerima firman Allah, lebih dan lebih banyak lagi. Nyatakanlah kepada kami hasrat mendalam dari Yesus untuk mengajar kami tentang “rahasia Kerajaan Allah”, dan juga betapa besar kasih-Nya serta kesabaran-Nya dalam menghadapi segala kelemahan kami. Tolonglah kami agar dapat sungguh berbuah bagi Kerajaan Allah.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 1:1,4-10), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA KITA AKAN MENANGGAPI FIRMAN ALLAH YANG DITANAM DALAM HATI KITA?” (bacaan tanggal 24-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MENJADI ANGGOTA KELUARGA ALLAH

MENJADI ANGGOTA KELUARGA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Selasa, 23 Juli 2019)

Peringatan Fakultatif: S. Birgitta dr Swedia, Janda (OFS)

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seorang berkata kepada-Nya, “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Jesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.” (Mat 12:46-50) 

Bacaan Pertama: Kel 14:21-15:1; Mazmur Tanggapan: Kel 15:8-10,12,17 

“Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” (Mat 12:48). Mengapa Yesus mengajukan pertanyaan seperti ini? Tentu saja Dia mengenal para anggota keluarga-Nya. Namun Ia ingin menyampaikan sebuah pesan penting: Menjadi anggota keluarga Allah tidak ada urusannya dengan hubungan darah dan sepenuhnya berurusan dengan pertobatan, iman, dan ketaatan kepada-Nya dari hari ke hari.

Allah tidak mempunyai cucu. Orang-orang tidak menjadi anggota-anggota keluarga-Nya hanya sekadar karena asosiasi dengan orang-orang Kristiani lainnya. Setiap orang harus menjadi seorang anak Allah melalui tanggapannya sendiri terhadap rahmat Allah. Latar belakang keluarga dan budaya tidak pernah dapat mengambil tempat “iman pribadi kepada Allah”. Kita tidak dapat mengklaim keanggotaan dalam keluarga Yesus karena keluarga kita itu religius, atau karena kita berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, atau karena kita memberi uang untuk gereja. Sama sekali tidak! Yesus menyatakan dengan jelas: “… siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mat 12:50).

Memang benar, rahmat Allah diberikan kepada kita secara bebas dan gratis pada waktu kita dibaptis. Namun iman pribadi kepada Kristus, persaudaraan sejati dengan Dia, bersumber pada rahmat itu untuk mengembangkan suatu hidup ketaatan kepada Allah. Yesus mengingatkan  bahwa “bukan setiap orang yang berseru kepada-Nya Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Nya yang di surga” (lihat Mat 7:21), artinya hanya mereka yang mengakui-Nya sebagai Tuhan dan taat kepada sabda-Nya. Yesus juga mengatakan bahwa tanda yang membedakan para murid-Nya dengan orang-orang lain adalah saling mengasihi di antara mereka seperti Dia sendiri telah mengasihi mereka (lihat Yoh 13:34-35). Selagi kita hidup di bawah atap rumah Bapa, taat pada “peraturan rumah tangga”-Nya, dan hidup seperti Yesus hidup, maka kita dapat diindentifikasikan sebagai anggota-anggota keluarga-cintakasih-Nya. Yesus adalah Saudara tua kita, dan sebagai anggota keluarga-Nya wajarlah apabila kita memiliki keserupaan dengan diri-Nya.

Hidup sebagai anggota-anggota keluarga Yesus menyangkut tindakan membuang hidup dosa kita yang lama dan secara berkesinambungan mengalami proses pembentukan kembali ke dalam keserupaan dengan Yesus, selagi kita menyerahkan diri kita kepada rahmat-Nya. Hal ini mempunyai implikasi konkret atas cara hidup kita setiap hari. Cukup seringkah kita bertanya kepada Tuhan Yesus, “Apakah yang harus kulakukan dalam situasi ini?” atau “Yesus, bagaimana Engkau akan menangani ini? Ketaatan terkadang dapat terasa sulit, namun ada berkat besar dan kebebasan dalam hal menjadi saudari dan saudara Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang taat. Dengan ini aku menyerahkan hati dan pikiranku kepada-Mu. Buanglah segala sesuatu dalam diriku yang bukan berasal dari-Mu, agar dengan demikian hanya Engkaulah yang tetap ada dalam diriku. Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SAJA YANG MELAKUKAN KEHENDAK BAPA-KU DI SURGA” (bacaan tanggal 23-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERJUMPAAN DENGAN KRISTUS YANG BANGKIT DALAM SUASANA INTIM

PERJUMPAAN DENGAN KRISTUS YANG BANGKIT DALAM SUASANA INTIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Maria Magdalena – Senin, 22 Juli 2019)

OSF: Pesta S. Maria Magdalena, nama pendiri tarekat: Sr. Magdalena Daemen

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!”  Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:1-2,11-18) 

Bacaan Pertama: Kid 3:1-4a atau 2Kor 5:14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9 

“Maria!” (Yoh 20:16). Apabila Allah berbicara, maka surga dan bumi pun bergetar. Bayangkanlah betapa rasa takut mencekam orang-orang Israel yang datang bersama Musa ke gunung Sinai yang dikelilingi oleh awan-awan tebal dan api yang berkobar-kobar, walaupun mereka hanya sampai ke kaki gunung saja (bacalah: Kel 19:1-25). Namun di puncak gunung itulah Allah mewahyukan/menyatakan perjanjian-Nya. dengan umat Israel lewat Musa. Demikian pula, betapa takut kiranya Maria Magdalena ketika dia mendapati kubur yang sudah kosong pada hari Paskah pagi (Yoh 20:1). Namun ia akan berjumpa dengan Kristus yang telah bangkit, Tuhan dan Juruselamat yang akan membawa dirinya ke dalam sebuah perjanjian yang baru dan kekal.

Sekarang, marilah kita merenungkan sejenak perjanjian baru yang telah kita terima dalam darah Yesus. Seluruh alam ciptaan adalah milik Allah, namun Ia memilih Israel, dan kemudian Gereja-Nya (Israel yang baru), untuk dipisahkan tersendiri sebagai suatu testimoni yang memancarkan sinar terang kemuliaan-Nya. Dia datang ke Israel dalam awan tebal dlsb. Ia berbicara kepada mereka melalui Musa, sang mediator. Ia datang kepada kita dalam Ekaristi dan berbicara secara langsung kepada hati kita oleh/melalui Roh Kudus-Nya. Maria berjumpa dengan Tuhan yang bangkit dalam suasana intim. Demikian pula kiranya yang terjadi dengan kita masing-masing setiap kali kita datang menghadap hadirat-Nya dalam doa, teristimewa dalam perayaan Ekaristi.

Ketika berkumpul di kaki gunung Sinai, orang-orang Israel sungguh tidak tahan mendengar suara YHWH-Allah (lihat Ibr 12:19-20). Semuanya begitu dahsyat serta menakutkan. Ketika Yesus menyebut nama “Maria”, maka keseluruhan hidupnya pun ditransformasikan. Kesedihan memberi jalan kepada suka-cita dan keputus-asaan memberi jalan kepada pengharapan. Segalanya yang diharapkan oleh Maria Magdalena adalah untuk mendengar suara Tuhan Yesus sendiri yang berbicara langsung kepadanya. Dan Tuhan yang bangkit memperkenankan hal ini terjadi dengan murid-setia-Nya yang perempuan ini!

Hal ini adalah privilese besar dari hidup kita sebagai anak-anak perjanjian baru. Kita tidak datang kepada kegelapan dan kegalauan, melainkan kepada Tuhan Yesus yang lemah-lembut, sang Anak Domba Allah yang disembelih untuk menebus dosa-dosa kita. Dalam Yesus kita dapat menyentuh takhta Allah dan diangkat dari kematian kepada kehidupan. Setiap hari kita dapat mendengar Tuhan Yesus menyebut nama kita. Setiap hari pula kita dapat diangkat sampai ke hadapan takhta Allah. Oleh karena itu, janganlah kita melarikan diri dari suara-Nya yang menyebut-nyebut nama kita.

DOA: Tuhan Yesus, ketika Maria Magdalena dan Maria yang lain menengok kubur-Mu pada hari Paskah pagi, tiba-tiba terjadilah gempa bumi yang hebat (Mat 28:1-2) yang tidak hanya menggoncangkan bumi, melainkan juga hati para murid-Mu. Engkau juga telah berjanji untuk menggoncangkan alam ciptaan lagi pada saat Engkau kembali dalam kemuliaan kelak. Aku menanti-nanti kedatangan-Mu dengan kerinduan yang besar. Datanglah, Tuhan Yesus! (Why 22:20). Datanglah! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-2,11-18), bacalah tulisan yang berjudul “AKU TELAH MELIHAT TUHAN!” (bacaan tanggal 22-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CERITA TENTANG MARIA DAN MARTA

CERITA TENTANG MARIA DAN MARTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVI [TAHUN C] – 21 Juli 2019)

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.” (Luk 10:38-42) 

Bacaan Pertama: Kej 18:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5; Bacaan Kedua: Kol 1:24-28 

Betapa penuh sukacita saat-saat seperti ini bagi Maria, ketika dia dapat bersimpuh dekat kaki Tuhan Yesus untuk mendengarkan sabda-sabda-Nya yang menyejukkan. Yesus cuma menghendaki agar Maria dapat diam-hening di hadapan hadirat-Nya, dengan penuh perhatian mendengarkan-Nya, selagi Dia mengajar tentang Bapa dan Kerajaan-Nya. Di lain pihak, Marta tidak mampu ke luar dari kesibukan mempersiapkan hal-hal yang diperlukan pada saat itu, dengan demikian kehilangan kesempatan untuk menerima sesuatu dari Tuhan Yesus.

Bayangkanlah sekarang sebuah dunia di mana semua orang Kristiani bersatu dalam satu tujuan di bawah kepemimpinan Kristus – di mana kegiatan mendengarkan dan doa mengawali setiap pekerjaan baik, di mana semua orang berdiam-hening bersama dalam kesatuan, dan Yesus dimanifestasikan dalam cintakasih agung kita satu sama lain. Sedikit orang yang akan mengatakan bahwa Maria dan Marta bukan merupakan orang-orang beriman yang bersatu. Namun, pada saat Yesus mengajar, hanya satu orang saja dari mereka yang tahu akan pentingnya arti menerima dari Yesus terlebih dahulu.

Pada hari ini, pertimbangkanlah hal-hal berikut ini: Apakah kita (anda dan saya) mengenal Yesus sebagai Juruselamat dan Sahabat kita masing-masing, atau sekadar seseorang yang perintah-perintah-Nya kita harus taati? Apakah kita sungguh percaya bahwa Dia telah memerdekakan kita masing-masing dari rasa takut akan kematian dan kuasa dosa, ataukah kita mengharapkan bahwa perbuatan-perbuatan baik kita akan dapat mengalahkan dan mengatasi dosa-dosa kita?

ARUSSetiap hari, marilah kita mencoba membuat diri kita diam-hening tanpa ada pelanturan-pelanturan, meski untuk beberapa saat saja. Sediakanlah sedikit waktu setiap harinya untuk membaca serta merenungkan firman Allah dalam Kitab Suci – saat di mana TV dan radio dimatikan. Sesungguhnya ada banyak langkah yang kita dapat ambil dalam rangka kita mewujudkan tekad untuk “mendengarkan” Yesus dengan lebih penuh perhatian lagi. Tanyakanlah kepada Allah langkah-langkah apa yang mau diberikan-Nya kepada anda. Anda akan lihat bahwa Dia tidak hanya memberikan kepada anda jawaban atas pertanyaan anda tadi, tetapi juga rahmat yang anda butuhkan untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

DOA: Ya Allah Roh Kudus, bukalah kedua telingaku agar dapat mendengar suara-Mu hari ini. Ampunilah aku untuk saat-saat di mana aku melakukan pekerjaan tanpa mendengarkan bisikan suara-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk membuat kegiatan “mendengarkan” menjadi prioritasku yang pertama dan utama. Ya Allah Roh Kudus, jadikanlah aku seorang “pendengar yang baik”.  Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA DAN MARTA DARI BETANIA” (bacaan tanggal 21-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

 (Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Juli 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CIRI-CIRI PRIBADI SEORANG HAMBA TUHAN

CIRI-CIRI PRIBADI SEORANG HAMBA TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Sabtu, 20 Juli 2019) 

Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Mat 12:14-21) 

Bacaan Pertama: Kel 12:37-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 136:1,23-24,10-15 

Ada dua hal tentang Yesus di sini yang menunjukkan bahwa Dia tidak pernah mencampur-adukkan kenekatan dengan keberanian. Pertama-tama, untuk sementara waktu Yesus mengundurkan diri karena belum saatnya untuk berhadap-hadapan dengan para lawan-Nya dalam suatu konflik terbuka. Yesus masih mempunyai pekerjaan untuk dilakukan-Nya sebelum Ia ditarik oleh Salib. Kedua, Yesus melarang orang-orang untuk membuat publisitas tentang diri-Nya. Yesus sangat mengetahui bahwa banyak Mesias palsu yang bermunculan dan Ia mengetahui bahwa orang kebanyakan mudah dipengaruhi oleh Mesias-Mesias palsu tersebut.

Apabila mulai tersebar desas-desus bahwa telah muncul seseorang yang memiliki kuat-kuasa menakjubkan, maka hal tersebut akan memicu timbulnya suatu pemberontakan politis dan akan memakan banyak korban jiwa yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Yesus sangat menyadari bahwa Dia harus mengajar orang-orang bahwa kemesiasan bukanlah berarti menunjukkan kekuatan untuk gontok-gontokan melainkan melakukan pelayanan penuh pengorbanan, bukan sebuah takhta melainkan sebuah salib, sebelum mereka dapat menyebarkan cerita tentang diri-Nya ke seluruh dunia.

Pertanyaan yang digunakan Matius untuk meringkas pekerjaan Yesus (Mat 12:18-21) adalah dari Yes 42:1-4. Dalam artian tertentu ini merupakan petikan nas yang dapat mengundang perasaan ingin tahu atau pertanyaan, karena dalam instansi pertama nas itu mengacu kepada Sirus (Koresy), raja Persia (lihat Yes 45:1). Koresy naik takhta pada tahun 559 SM dan sejak itu maju terus dalam menaklukkan bangsa-bangsa di sekitar negerinya. Pada tahun 549 SM dia telah menaklukkan Media. Pada tahun 539 SM, Koresy mengalahkan pasukan Babel dan dengan demikian menjadi penguasa kerajaan yang terbesar yang pernah dilihat dunia sampai saat itu. Sang Nabi (Yesaya) melihat kemenangan-kemenangan penuh kejayaan dari Koresy atas bangsa-bangsa lain itu sebagai berada dalam rangka rencana pasti dari Allah. Walau pun dia sendiri tidak mengetahuinya, Koresy adalah instrumen Allah. Di samping itu Yesaya melihat bahwa Koresy adalah penakluk non-Yahudi. Akan tetapi, walaupun aslinya nas tersebut mengacu kepada Koresy, pemenuhan yang lengkap dari nubuatan itu tidak meragukan lagi terwujud dalam diri Yesus Kristus. Pada zamannya, raja Persia tersebut menguasai dunia sebelah timur, namun Raja sejati seluruh dunia adalah Yesus Kristus. Dengan demikian, marilah kita lihat betapa indahnya Yesus menggenapi nubuatan Yesaya.

Pertama-tama: Ia akan memberitahukan bangsa-bangsa, apa sebenarnya “keadilan” (Inggris: justice) itu. Keadilan dalam bahasa Yunani berarti memberi kepada Allah dan kepada orang-orang apa yang menjadi bagian mereka. Yesus menunjukkan kepada orang-orang bagaimana hidup sedemikian sehingga baik Allah maupun orang-orang memperoleh tempat mereka yang layak dalam hidup kita. Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana berperilaku terhadap Allah dan sesama manusia.

Kedua: Yesus tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dengan suara seperti anjing yang menyalak, bunyi burung gagak atau seperti suara yang dikeluarkan para penonton yang kecewa dalam pertunjukan sandiwara di teater. Apa arti semua ini? Yesus tidak akan cekcok dengan orang-orang lain. Jadi bukan seperti pertengkaran antara partai-partai politik yang bertentangan, di mana yang satu mencoba untuk menjatuhkan yang lain. Ada juga ideologi-ideologi yang saling berlawanan. Dalam Yesus ada keheningan mendalam seorang Pribadi yang berusaha untuk mengalahkan pihak lain dengan/oleh cintakasih, bukan dengan kata-kata yang sering menyakiti.

Ketiga: Yesus tidak akan memutuskan buluh yang patah terkulai dan juga tdak akan memadamkan sumbu yang pudar nyalanya. Kesaksian seseorang bisa saja tidak teguh dan lemah, terang hidupnya mungkin bukan seperti api yang menyala-nyala; tetapi Yesus tidak datang untuk menghilangkan semangat orang itu, melainkan untuk mendorong dan menyemangatinya. Yesus tidak datang untuk memperlakukan orang lemah dengan memandang rendah/hina orang itu, melainkan datang dengan penuh pengertian; Ia tidak datang untuk memadamkan sumbu yang pudar nyalanya, melainkan memulihkankannya sehingga memancarkan terang yang lebih jelas dan lebih kuat. Hal paling berharga tentang Yesus adalah kenyataan bahwa Dia bukanlah Pribadi yang membuat orang menjadi ciut, melainkan mendorong dan menyemangati orang tersebut.

Keempat: Dalam Yesus, orang-orang non-Yahudi akan berpengharapan. Dengan kedatangan Yesus ke tengah dunia datang juga undangan kepada dunia sebuah undangan, bukan saja kepada satu bangsa, melainkan kepada seluruh umat manusia, untuk ikut ambil bagian dalam dan menerima kasih Allah. Dalam Yesus, Allah bertemu dengan setiap orang guna menawarkan kasih-Nya.

Catatan: Uraian di atas merupakan adaptasi dari buku William Barclay, THE DAILY STUDY BILE – The Gospel of Matthew – Volume 2, hal. 32-34.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau adalah Putera Bapa yang datang ke tengah dunia untuk menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa dengan kasih sebagai motif dasar. Dengan kedatangan-Mu ke dunia seluruh umat manusia diundang untuk ikut ambil bagian dalam dan menerima kasih Allah. Engkau adalah Imanuel, Allah yang beserta kami semua. Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU YESUS BERMOTIFKAN KASIH SEJATI” (bacaan tanggal 20-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARENA ANAK MANUSIA ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

KARENA ANAK MANUSIA ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 19 Juli 2019

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentang kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mat 12:1-8) 

Bacaan Pertama: Kel 11:10-12:14; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18 

Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat dan Tuhan dari Bait Allah. Orang-orang Farisi telah mengembangkan peraturan-peraturan yang ekstensif berkaitan dengan hari Sabat dan upacaya penyembahan di Bait Allah. Semua ini berasal dari hasrat yang tulus untuk melindungi apa saja yang kudus …… apa saja yang suci. Dengan memperkenankan para murid-Nya untuk melanggar peraturan-peraturan itu, sebenarnya Yesus menantang orang-orang Farisi dan semua orang untuk memandang diri-Nya sebagai Pribadi yang memegang otoritas tertinggi/final atas hari Sabat dan Bait Allah. Injil Matius mengajak kita untuk memandang Yesus, dan melihat bahwa Dia adalah pencerminan atau tanda kehadiran Allah sendiri (Yesus adalah “Sakramen” Bapa), bahkan ketika Dia ditolak oleh para pemimpin agama pada zaman itu.

Yesus melihat bagaimana orang-orang Farisi melihat hukum. Bagi mereka Hukum Taurat adalah pemberian dari Allah sendiri, lalu mereka membangun di atasnya suatu sistem yang terdiri dari peraturan-peraturan dan regulasi-regulasi yang digunakan untuk mengukur orang-orang lain dan memisahkan diri mereka dari para “pendosa”. Dengan cara begini mereka tidak akan “terpolusi” oleh dosa orang-orang lain. Ini adalah cara yang samasekali berlawanan dengan cara Yesus. Ia mengasosiasikan diri-Nya dengan para pendosa dan pelanggar hukum, bahkan makan bersama dengan mereka (Mat 9:9-10). Yesus, yang adalah manisfestasi kasih dan kerahiman Allah, selalu menunjukkan kasih dan belas-kasih kepada mereka yang berada di sekeliling-Nya. Yesus tidak akan membiarkan huruf-huruf hukum membenarkan pengabaian kebutuhan manusia dan menghalang-halangi aliran cintakasih-Nya.

Dengan memperkenankan para murid untuk memetik bulir gandum pada hari Sabat dan dalam mempermaklumkan bahwa “Di sini ada yang melebihi Bait Allah” (Mat 12:6), Yesus bertindak sebagai penafsir final dari hukum yang dikirim oleh Allah. Ia menyatakan identitas-Nya sebagai Tuhan dan Mesias yang mengajar dan menghayati jalan cintakasih yang bersifat sentral bagi Kerajaan Allah.

Teladan yang diberikan Yesus dapat menolong kita memandang hidup kita sendiri untuk melihat apakah kita berjalan dalam jalan cintakasih-Nya? Apakah kita cepat mencari kesalahan  dalam diri orang-orang yang tidak memenuhi standar-standar kita sendiri? Apakah kita menarik garis perbedaan antara diri kita dan orang-orang lain berdasarkan sikap-sikap kita yang mencerminkan superioritas? Apakah kita sungguh berupaya untuk mencerminkan kasih Allah dalam kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan?

DOA: Tuhan Yesus, bahkan sekarang pun Engkau hadir di tengah-tengah kami, ya Tuhan, sebagai Pribadi yang adalah Tuhan atas hari Sabat dan lebih besar dari Bait Allah. Semoga kami mau dan mampu menaruh kepercayaan pada-Mu dan mengikuti Engkau dalam jalan cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kel 11:10-12:14), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SUNGGUH INGIN MEMBEBAS-MERDEKAKAN KITA” (bacaan tanggal 19-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Juli 2019 [HR S. Maria Magdalena Postel, Pendiri Tarekat MISC] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS BERJANJI UNTUK MENOLONG MEMIKUL BEBAN-BEBAN KITA

YESUS BERJANJI UNTUK MENOLONG MEMIKUL BEBAN-BEBAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV –  Kamis, 18 Juli 2019)

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Kel 3:13-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1,5,8-9,24-27 

Terkadang beban-beban kehidupan terasa seperti tidak henti-hentinya …… tidak habis-habisnya membuat berat hidup kita. Kita harus menyediakan sandang, pangan dan papan bagi diri kita sendiri dan keluarga kita. Dinamika kehidupan berkeluarga dapat membawa kita kepada ketegangan. Membesarkan anak-anak dalam dunia yang kompleks sungguh dapat merupakan beban berat yang menindih para orangtua. Usia tua dan penyakit dapat mengkonfrontir kita dengan ketidakpastian, luka-luka batin dan tentunya biaya. Walaupun demikian, Yesus mengajak kita untuk memikul gandar/kuk yang dipasang-Nya …… dan pada akhirnya jiwa kita akan mendapat ketenangan (Mat 11:29).

Yesus berjanji untuk menolong kita memikul beban-beban kita selagi kita menerima salib-Nya dan belajar dari Dia. “Memikul gandar yang dipasang Yesus” berarti kita menjawab undangan-Nya kepada pemuridan/kemuridan … undangan untuk menjadi murid-murid-Nya. Mengikuti Yesus … menjadi seperti Dia, tidaklah berarti melakukan atau tidak melakukan hal-hal yang termuat dalam sebuah daftar panjang yang berisikan segala apa yang harus kita lakukan dan tidak boleh lakukan (do’s and don’ts). Mengikuti Yesus berarti kita memperkenankan diri-Nya memancarkan terang-Nya pada pikiran-pikiran dan motif-motif kita dan menggerakkan kita untuk taat pada perintah-perintah-Nya. Dalam kelemah-lembutan dan bela rasa, Dia akan menyatakan kasih-Nya dan menawarkan kesembuhan kepada kita. Perjumpaan dengan kasih sedemikian dapat mentransformasikan kita. Situasi-situasi yang sulit menjelma menjadi kesempatan-kesempatan bagi rahmat Allah untuk bergerak dalam diri kita dan melalui kita, kepada orang-orang lain.

Yesus mengundang setiap orang yang merasa letih dan berbeban berat, tidak hanya mereka yang “suci-suci” atau yang mempunyai kecenderungan untuk melibatkan diri dalam hal-hal yang “berbau” religius. Siapa saja dapat memberi tanggapan terhadap undangan-Nya karena siapakah Allah itu, bukan karena siapakah kita ini. Melalui Yesus, Allah telah membebaskan kita dari beban-beban kehidupan. Melalui kuat-kuasa-Nya dan syafaat-Nya (lihat Ibr 9:15), bahkan ketika Dia kelihatan jauh, Yesus senantiasa siap untuk menolong kita untuk memikul beban-beban kita. Yesus dapat dipercaya dan Ia akan dengan setia memenuhi segalanya yang telah dijanjikan-Nya kepada kita.

Kita dapat memperoleh ketenangan di hadapan hadirat Allah dengan mengheningkan hati dan pikiran kita. Kita dapat memeditasikan sebuah ayat Kitab Suci atau sebuah misteri Kristus. Kita dapat merenungkan anugerah besar yang kita terima pada saat Ekaristi. Kita dapat mencari hati Yesus dalam diri orang-orang di sekeliling kita, melihat dalam diri mereka sebagian dari kebesaran Allah, bukan sekadar seorang pribadi lain dengan siapa kita harus berelasi. Marilah kita memperkenankan Yesus mengisi kita dengan kehadiran-Nya. Yesus rindu sekali untuk mencurahkan kasih-Nya, menganugerahkan karunia hikmat, rahmat, karunia untuk menyembuhkan, bahkan karunia untuk membuat mukjizat. Yang perlu kita lakukan adalah untuk minta kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, di hadapan hadirat-Mu jiwaku mendapat ketenangan. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan terangilah pikiranku dan transformasikanlah hatiku. Aku rindu akan kasih-Mu dan segala karunia yang ingin Kau anugerahkan kepadaku pada hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 18-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Juli 2019 [Peringatan SP Maria dr Gunung Karmel] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS