Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

GEREJA KRISTUS DIBANGUN DI ATAS BATU KARANG PENGAKUAN IMAN KRISTUS

GEREJA KRISTUS DIBANGUN DI ATAS BATU KARANG PENGAKUAN IMAN PETRUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA TAKHTA SANTO PETRUS, RASUL – Jumat, 22 Februari 2019)

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: 1Ptr 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 

Pada “Pesta Takhta Santo Petrus, Rasul” yang kita rayakan pada hari ini, tema IMAN  jelas terasa dalam liturgi Gereja. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa iman kepada Yesus sebagai “Mesias” (Kristus) dan “Putera (Anak) Allah yang hidup” (Mat 16:16) terletak pada jantung pelayanan Petrus sebagai kepala Gereja di atas bumi dan uskup pertama Roma. Pesta hari ini merayakan iman itu dan menunjuk pada pelayanan Petrus.

Gereja Kristus dibangun di atas batu karang pengakuan iman Petrus. Iman Petrus bahwa Yesus adalah Mesias dan Putera Allah merupakan pemberian Allah sendiri. Tidak ada seorang pun manusia menyatakan ini kepadanya; hal ini diberikan oleh Bapa surgawi sendiri! (Mat 16:17). Iman yang teguh-kokoh kepada Kristus ini merupakan fondasi di atas mana Gereja dibangun, bahkan sampai pada hari ini. Kemampuan Petrus (dan semua penggantinya) untuk menggembalakan kawanan domba seturut cara Kristus tergantung pada iman sedemikian – baik iman sang gembala maupun iman kawanan dombanya.

Iman Petrus kepada Yesus adalah iman yang diajarkan Petrus kepada Gereja; iman yang membawa kita kepada Kerajaan kekal abadi. Tidak ada sesuatu pun di atas bumi yang berkaitan dengan Takhta Petrus – kebesarannya, otoritasnya, bahkan pelayanannya – dapat membawa kita kepada Kerajaan ini kalau tidak bertumpu dan memancar dari batu karang iman.

Gereja dalam pesta ini merenungkan pentingnya jabatan-mengajar Petrus dan juga bagaimana sentralnya iman kepada Yesus dalam jabatan ini. Ini adalah dasar pelayanan Petrus dan para penggantinya, dan untuk kesejahteraan kawanan domba yang digembalakan mereka. Pesta ini harus mendorong kita memeriksa diri kita sendiri apakah kita menghargai karunia pelayanan Petrus kepada Gereja yang diberikan oleh Kristus. Selagi para gembala membawa kawanannya kepada Kristus, apakah kita memiliki hasrat untuk mengikuti jalan Kristus? Selagi Petrus dan para penggantinya memproklamasikan kebenaran Kristus dan bagaimana Dia ingin kita menjalani kehidupan kita seturut kehendak-Nya, apakah kita mendengarkan apa yang mereka ajarkan?

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahapengasih, kami berdoa untuk Paus Fransiskus yang sekarang duduk di takhta Petrus dan para penggantinya nanti. Berkatilah pelayanan Sri Paus  dan topanglah dia dalam kebenaran selagi dia menggembalakan umat – kawanan dombanya – menuju Kerajaan kekal abadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN PETRUS KEPADA YESUS SEBAGAI MESIAS – PUTERA ALLAH YANG HIDUP” (bacaan tanggal 22-2-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-2-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Februari  2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SI PENGGODA BERBICARA LEWAT MULUT SEORANG SAHABAT

SI PENGGODA BERBICARA LEWAT MULUT SEORANG SAHABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Kamis, 21 Februari 2019)

Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke desa-desa di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?”  Jawab mereka kepada-Nya, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan: Seorang dari para nabi.”  Ia bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”  Jawab Petrus, “Engkaulah Mesias!”  Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras. Lalu berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia menegur Petrus dengan keras, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk 8:27-33) 

Bacaan Pertama:  Kej 9:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:16-23,29

Ketika Yesus mengkaitkan ke-Mesias-an dengan penderitaan dan penolakan oleh para tua-tua, imam-iman kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, maka sebenarnya Dia membuat pernyataan-pernyataan yang bagi para murid-Nya tidak dapat dimengerti karena tidak sesuai dengan pandangan umum tentang pribadi macam apa seorang Mesias itu. Sepanjang hidup mereka, para murid telah mempunyai pandangan bahwa sang Mesias adalah seorang pendekar perang, seorang penakluk, seorang pembebas bangsa dari penindasan bangsa Romawi. Sekarang, mereka dihadapkan dengan ide yang mengagetkan. Itulah sebabnya mengapa Petrus memprotes keras. Bagi dirinya, semua itu tidak mungkin, …… sungguh tidak mungkin.

Mengapa Yesus menegur Petrus dengan tidak kalah keras? Karena dalam tegurannya Petrus mengungkapkan kata-kata godaan yang justru sering mengganggu Yesus. Yesus tidak ingin mati. Dia mengetahui bahwa diri-Nya memiliki kuat-kuasa yang dapat digunakan-Nya untuk melawan dan menaklukkan kematian. Pada saat Petrus menegur-Nya dengan keras, sebenarnya Yesus melakukan perlawanan lagi terhadap godaan-godaan seperti sebelumnya, yaitu ketika Dia dicobai oleh Iblis di padang gurun. Ya, pada saat itu Iblis menggoda-Nya lagi agar jatuh dan menyembah Iblis, untuk mengikut jalannya, bukan jalan Allah.

Sungguh merupakan hal yang aneh, dan kadang-kadang juga menjijikkan bahwa si penggoda terkadang berbicara kepada kita dengan menggunakan suara seorang sahabat yang bermaksud baik. Kita dapat saja selama menjalani kehidupan kita ini memilih jalan yang menurut kita “benar” namun pada titik tertentu juga membuat diri kita susah, kerugian, ketidakpopuleran, pengorbanan. Dan ada teman yang bermaksud baik mencoba dengan niatnya yang terbaik untuk menghentikan kita. Memang ada kemungkinan bagi seseorang untuk mengasihi kita sedemikian rupa sehingga dia menginginkan kita menghindari kesulitan dan berjalan secara aman-aman saja (to play safe).

Jurus si penggoda (Iblis) yang paling berbahaya justru apabila dia menggunakan suara dari mereka yang mengasihi kita dan yang berpikir bahwa mereka hanya berniat baik dan berperilaku demi kebaikan kita saja. Inilah yang terjadi dengan Yesus pada hari itu. Itulah sebabnya mengapa Yesus menjawab teguran Petrus itu dengan teguran yang keras pula. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghentikan suara Allah yang bersifat mutlak.

Kita sungguh membutuhkan karunia untuk membeda-bedakan roh (discernment). Suara Allah atau suara si Iblis, dst.?

DOA: Bapa surgawi, terangilah kegelapan hatiku dan berilah kepadaku iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna. Berikanlah perasaan yang peka dan akal budi yang cerah agar supaya aku dapat mengenal dan melaksanakan kehendak-Mu yang kudus dan tidak menyesatkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KITA MEMAHAMI IMPLIKASI SEPENUHNYA DARI APA YANG KITA PERMAKLUMKAN TENTANG YESUS SEBAGAI KRISTUS?” (bacaan tanggal 21-2-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 19-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  19 Februari 2019 [Peringatan S. Konradus dr Piacenza, OFS) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG BUTA BELAJAR UNTUK MELIHAT

SEORANG BUTA BELAJAR UNTUK MELIHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Rabu, 20 Februari 2019)

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Lalu orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menyentuh dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar desa. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya kepadanya, “Sudahkah kaulihat sesuatu?”  Orang itu memandang ke depan, lalu berkata, “Aku melihat orang-orang seperti pohon-pohon, namun aku melihat mereka berjalan-jalan.”  Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Lalu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata, “Jangan masuk ke desa itu!” (Mrk 8:22-26) 

Bacaan Pertama: Kej 8:6-13,20-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-15,18-19 

Sampai hari ini kebutaan masih merupakan salah satu “kutukan” besar di banyak negara di dunia. Kebutaan ini sebagian disebabkan oleh “ophthalia” dan sebagian oleh sinar matahari yang tidak mengenal kasihan. Hal ini diperburuk oleh kenyataan bahwa kebanyakan rakyat tidak mengetahui apa-apa soal kesehatan dan kebersihan, terutama karena kemiskinan yang melanda.

Hanya Markus yang menulis cerita penyembuhan orang buta ini, hal mana dapat menyebabkan kita merasa bahwa bacaan ini tidak/kurang penting. Karena hanya ada dalam Injil ini, maka kita harus lebih terangsang untuk mendalami bacaan tersebut.

Ada beberapa hal yang sungguh menarik dalam bacaan Injil ini: Pertama-tama kita melihat bagaimana pertimbangan-pertimbangan Yesus senantiasa bersifat unik. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar desa (Mrk 8:23). Mengapa? Karena dengan demikian Ia dapat berdua saja dengan orang buta itu. Mengapa? Coba pikirkan. Orang itu buta dan kelihatannya dia buta sejak lahir. Apabila kepadanya diberikan penglihatan secara instan di tengah-tengah orang banyak, maka matanya yang baru saja melihat akan melihat banyak sekali orang dan hal-hal lainnya yang berwarna-warni. Ini sungguh akan mengagetkan orang bersangkutan. Yesus mengetahui bahwa jauh lebih baiklah bagi Diri-Nya untuk membawa orang buta ke sebuah tempat di mana mata yang baru dapat melihat itu tidak secara mendadak melihat banyak hal.

Setiap dokter dan guru yang hebat memiliki ciri pribadi yang sungguh luarbiasa. Dokter yang hebat mampu untuk masuk ke dalam pikiran dan hati pasiennya; dia memahami ketakutan-ketakutan yang melanda si pasien, juga harapan-harapannya. Dokter ini bersimpati, berempati dan menderita bersama si pasien. Guru yang hebat juga mampu masuk ke dalam pikiran dan hati muridnya. Guru itu melihat persoalan-persoalan muridnya, kesulitan-kesulitannya, berbagai penghalang yang dihadapinya. Itulah sebabnya mengapa Yesus itu adalah sungguh seorang Dokter dan Guru yang sangat hebat. Yesus mampu untuk masuk ke dalam pikiran dan hati orang yang ingin ditolong-Nya. Yesus dapat membuat pertimbangan-pertimbangan dengan sangat baik, karena Dia dapat berpikir dengan pikiran mereka dan merasakan sesuatu seperti mereka merasakannya. Allah menganugerahkan kepada kita karunia-karunia seperti yang dimiliki Yesus ini.

Kedua, Yesus menggunakan metode-metode yang dapat dimengerti oleh orang-orang. Dunia kuno percaya akan kuat-kuasa untuk menyembuhkan dari air liur/ludah. Kepercayaan seperti itu tidak begitu aneh jika kita mengingat naluri pertama kita adalah memasukkan jari kita yang terluka (karena teriris pisau atau terbakar) ke dalam mulut kita agar meringankan rasa sakit kita. Tentu saja si buta mengetahui hal ini, dan Yesus menggunakan suatu metode penyembuhan yang dikenal olehnya. Yesus memiliki hikmat ilahi. Dia tidak memulai proses penyembuhan dengan kata-kata dan dan metode-metode yang jauh melampaui pengertian orang-orang kecil bersahaja. Yesus berbicara kepada mereka dan melakukan tindakan atas diri mereka dengan menggunakan cara yang dapat dipahami  oleh orang-orang yang memiliki pikiran sederhana.

Ketiga. Dalam satu hal mukjizat penyembuhan kebutaan ini bersifat unik – ini adalah mukjizat satu-satunya yang dapat dikatakan terjadi secara bertahap. Biasanya mukjizat-mukjizat Yesus terjadi secara instan dan lengkap. Dalam mukjizat ini, penglihatan orang buta ini mengalami kesembuhan secara bertahap.

Ada kebenaran yang bersifat simbolis di sini. Tidak ada seorang pun melihat seluruh kebenaran Allah sekaligus. William Barclay, seorang pendeta dari Skotlandia yang terkenal, pernah menulis bahwa salah satu dari bahaya-bahaya evangelisme jenis tertentu adalah bahwa pewartaan sedemikian mendorong ide bahwa apabila seseorang telah memutuskan untuk mengikut Kristus, maka dia adalah seorang Kristiani yang dewasa-penuh (lihat THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Mark, hal.191). Dengan menjadi Kristiani bukanlah berarti seseorang sudah sampai di akhir perjalanan, melainkan baru saja mulai di awal perjalanan. Seorang Kristiani harus melakukan pertobatan  terus menerus, dari hari ke hari. Dia harus terus menerus bertumbuh dalam rahmat dan di bawah bimbingan Roh Kudus belajar untuk semakin serupa dengan Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengalami kesembuhan yang penuh. Tunjukkanlah kepadaku apa saja yang sedang kulakukan atau telah lakukan, yang akan menghalang-halangi karya penyembuhan-Mu dalam diriku. Tuhan, tolonglah aku agar menjadi semakin serupa dengan Engkau! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:22-26), bacalah tulisan yang berjudul “SECARA BERTAHAP” (bacaan tanggal 20-2-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Februari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

MEMOHON KARUNIA AGAR DAPAT MEMAHAMI YESUS DAN KARYA-NYA

MEMOHON KARUNIA AGAR DAPAT MEMAHAMI YESUS DAN KARYA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Selasa, 19 Februari 2019)

Ordo Franciscanus Saecularis: Peringatan S. Konradus dr Piacenza, Ordo III S. Fransiskus – Sekular

Murid-murid Yesus lupa membawa roti, kecuali satu roti saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”  Mereka pun memperbincangkan di antara mereka bahwa mereka tidak mempunyai roti. Ketika Yesus mengetahui hal itu, Ia berkata, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Belum pekakah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Dua belas bakul.”  “Pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Tujuh bakul.”  Lalu kata-Nya kepada mereka, “Belum mengertikah kamu?”  (Mrk 8:14-21) 

Bacaan Pertama: Kej 6:5-8,7:1-5,10; Mazmur Tanggapan: 29:1-4,9-10

Bacaan Injil hari ini menandai suatu transisi. Setelah berbagai mukjizat dan tanda heran serta penyembuhan-penyembuhan yang tak terhitung banyaknya, para pemimpin/pemuka agama Yahudi (dalam hal ini orang-orang Farisi) masih belum juga percaya bahwa kuat-kuasa Yesus berasal dari Allah sendiri. Mereka malah meminta tanda dari surga (lihat Mrk 8:11-13). Sekarang fokus berpindah kepada para murid Yesus sendiri yang juga belum mengerti.

Para murid Yesus terus saja tidak mampu memahami apa yang Yesus coba ajarkan kepada mereka selama Dia berkhotbah mewartakan Kerajaan Allah dan membuat mukjizat-mukjizat di Galilea dan Dekapolis (lihat Mrk 6:6-8:21). Yesus telah melipatgandakan roti dan ikan, berjalan di atas air, menyembuhkan orang sakit di Genesaret dan puteri dari perempuan Siro-Fenisia dan menyembuhkan seorang yang tuli. Walaupun Yesus telah melakukan semua yang merupakan tanda-tanda indah dari kuasa Allah itu, – seperti juga orang-orang Farisi yang meminta suatu tanda dari surga (lihat Mrk 8:11) – para murid-Nya tetap saja tidak mengerti.

Yesus sungguh merasa risau karena ketidakpercayaan yang ditunjukkan oleh siapa saja yang dijumpainya. Oleh karena itu Dia mengajak para murid-Nya untuk pergi ke tempat yang terletak di seberang danau. Di tengah perjalanan – dalam perahu – Yesus memperingatkan para murid-Nya agar jangan sampai seperti orang Farisi yang meminta suatu tanda dari surga, walaupun bukti kehadiran Allah dan kuasa-Nya ada di tengah-tengah mereka. Yesus memperingatkan mereka agar berjaga-jaga dan waspada terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes (lihat Mrk 8:15). Seperti digunakan di sini, ragi melambangkan sesuatu yang memiliki kuasa merusak dari dalam yang kuat; sesuatu pengaruh jahat yang dapat menyebar seperti suatu infeksi dan merusak seluruh tubuh.

Yesus memperingatkan para murid-Nya agar tidak memperkenankan ketidakpahaman mereka mengeras menjadi suatu sikap sinis dan ketidakpercayaan seperti yang terjadi dengan orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi lainnya. Untuk ini Yesus menegur dengan keras: “Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?” (Mrk 8:18). Dengan melakukan hal ini Yesus menggemakan pesan pertobatan yang beratus-ratus tahun sebelumnya dikumandangkan oleh nabi Yesaya: “Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh” (Yes 6:9-10). Pertanyaan yang terakhir kali diajukan oleh-Nya: “Belum mengertikah kamu?” (Mrk 8:21).

Cerita tentang relasi Yesus dengan para murid-Nya ini menantang kita untuk melakukan evaluasi atas pemahaman kita tentang karya Allah dalam kehidupan kita serta di dalam dunia. Terlalu sering kita seperti orang Farisi dan para murid dan luput merasakan adanya kepenuhan hidup Allah di tengah-tengah kita. Kita dapat saja memperkenankan ketidakpahaman membuat kita menjadi bersikap sinis dan tidak percaya Oleh karena itu, baiklah kita mohon kepada Roh Kudus – Dia yang diutus untuk menyatakan Yesus kepada kita semua – untuk membuat kehidupan Yesus suatu realitas hidup bagi kita.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus. Anugerahkanlah kepada kami karunia untuk memahami siapa diri Yesus, apa makna ajaran-ajaran-Nya dan juga segala karya-Nya. Bukalah mata kami agar kami mampu melihat; bukalah telinga kami agar kami dapat mendengar; bukalah hati kami agar kami dapat percaya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 8:14-21), silahkan membaca tulisan yang  berjudul “RAGI ROH KUDUS-LAH YANG KITA PERLUKAN” (bacaan tanggal 19-2-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-2-18 dalam situ/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Februari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENDESAH DALAM HATI-NYA

YESUS MENDESAH DALAM HATI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Senin, 18 Februari 2019) 

Kemudian muncullah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari Dia suatu tanda dari surga. Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”  Ia meninggalkan mereka, lalu Ia naik lagi ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mrk 8:11-13) 

Bacaan Pertama: Kej 4:1-15,25; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1,8,16-17

Karena kita mengetahui dan percaya bahwa Yesus adalah Allah, maka kita cenderung luput melihat kenyataan, bahwa sebagai seorang manusia Dia juga mengalami berbagai reaksi dan emosi seperti kita. Kita dapat terkejut membaca frustrasi Yesus sebagaimana diungkapkan Markus, “Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya” (Mrk 8:12). Akan tetapi, Yesus dapat membaca hati orang (lihat Luk 9:47); Ia tahu bahwa permintaan orang-orang Farisi kepada-Nya untuk menunjukkan sebuah tanda dari surga bukanlah berasal dari pencaharian akan kebenaran, melainkan untuk mencobai Dia (lihat Mrk 8:11). Di sini Yesus dinyatakan sebagai seseorang seperti kita dalam segala hal, bahkan dalam konflik-konflik penuh frustrasi dengan para pemuka agama Yahudi yang tidak percaya.

Dalam Perjanjian Lama, Allah menguatkan iman-kepercayaan umat-Nya dengan memori tentang tanda-tanda di masa lampau (misalnya Keluaran dari Mesir), dengan menyediakan kepada mereka tanda-tanda hari ini, dan dengan menyemangati mereka lewat nubuatan-nubuatan akan masa depan. Banyak dari para pemimpin mereka mengharapkan hari-hari mesianis akan memberikan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban, paling sedikit setara dengan yang ada dalam Keluaran dari Mesir. Berbagai ekspektasi atau pengharapan itu pada umumnya dihubungkan dengan mimpi-mimpi kemenangan atas orang-orang non Yahudi (=kafir).

Dari sudut pandang manusiawi, Yesus barangkali telah mengecewakan pengharapan-pengharapan sedemikian, namun dari sudut pandang spiritual Ia memenuhi pengharapan-pengharapan itu secara sempurna. Yesus meneguhkan keselamatan sejati dalam tanda-tanda mukjizat-Nya dan ditinggikannya Dia dalam kemuliaan di kayu salib (lihat Yoh 3:14; bdk. Bil 21:9). Tidak seperti umat Israel di padang gurun, Yesus menolak mencobai Allah dengan meminta tanda-tanda bagi diri-Nya sendiri atau untuk memuaskan mereka yang meminta tanda-tanda untuk mencobai Dia.

Jikalau kita melihat sikap dari orang-orang yang minta tanda kepada Yesus, dapatkah kita menyadari bahwa kita pun suka bersikap seperti itu? Apakah pengharapan kita dari misi penyelamatan Yesus? Apakah kita menerima dan mengakui bahwa kematian-Nya yang menyelamatkan serta kebangkitan-Nya merupakan tanda tertinggi dalam kehidupan kita? Ataukah kita memang mau mencobai Dia dengan meminta tanda-tanda yang cocok dengan keinginan kita, bukannya percaya kepada-Nya dan mengakui ketergantungan total kita kepada-Nya. Apakah kita sungguh percaya akan kebenaran sabda-Nya, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat 6:8)? Apakah kehidupan kita menunjukkan kepercayaan seperti itu?

DOA: Bapa surgawi, pada hari ini aku hendak memperbaharui komitmenku untuk percaya secara total kepada kasih-Mu, kurban penebusan Putera-Mu, dan karya penyucian Roh Kudus atas diriku. Ya Allah, aku sadar bahwa aku tidak memerlukan tanda yang lain. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 8:11-13), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 18-2-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-2-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 15 Februari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN KITA

ALLAH TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VI [TAHUN C], 17 Februari 2019)

 

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.

Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.

Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.

Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”  (Luk 6:20-26) 

Bacaan Pertama: Yer 17:55-8; Mazmur Tanggapan: 1:1-4,6; Bacaan Kedua: 1 Kor 15:12,16-20 

“Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.” (Luk 6:21)

11 September 2001 World Trade Center di New York dihancurkan oleh teroris dengan menggunakan pesawat terbang, juga Pentagon di Washington, D.C. diserang oleh sebuah pesawat terbang, dan sebuah pesawat lagi jatuh di Pennsylvania bagian barat. Inilah peristiwa yang kita kenang sebagai peristiwa 9-11. Bagi kita yang menyaksikan peristiwa itu lewat TV, kita melihat bagaimana kebencian yang merusak dan kejahatan luarbiasa diperagakan, namun kita melihat juga bagaimana para anggota pemadam kebakaran kota New York, polisi dll. bekerja keras untuk menyelamatkan para korban tanpa hitung-hitung untung-rugi – suatu peragaan iman dan keberanian. Seorang imam Fransiskan – P. Mychal Judge, OFM (terlahir: Robert Emmet Judge) – yang menjadi pendamping rohani para anggota pemadam kebakaran kota New York juga menjadi korban. [Catatan: Pada tanggaal 27 Juli 2002 Pater Mychal Judge, OFM diangkat menjadi seorang Santo oleh the Orthodox-Catholic Church of America dan dikenal sebagai Saint Mychal the Martyr].

Peristiwa teror atas nama Allah (Yang Mahabaik dan Mahapenyayang) dan menggemparkan dunia ini kemudian disusul dengan aksi-aksi terorisme lainnya, semua atas nama Allah (Sang Maha Pencipta, Mahabesar, Mahaagung, Mahakudus, Maharahim itu) . Aksi teror yang satu disusul oleh aksi teror lainnya di berbagai penjuru dunia. Nama-nama kelompok teroris seperti Taliban, Al-Qaeda, Boko-Haram, Al-Shaabab, ISIS dan banyak lainnya telah menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa teror dalam berbagai bentuk dan magnitudo-nya serta dampaknya. Peristiwa-peristiwa teror ini telah menimbulkan kegoncangan di banyak tempat di dunia, teristimewa di Timur Tengah yang sebenarnya tempat lahir dari Sang Juruselamat Dunia. Di berbagai tempat di Timur Tengah inilah Gereja perdana lahir dan kemudian menyebar sesuai amanat Yesus Kristus.  Di tempat-tempat yang dikuasai ISIS misalnya, umat Kristiani dan umat lainnya yang dianggap lawan kelompoknya sungguh mengalami penganiayaan yang serius. Banyak dari mereka dihukum mati dengan pemenggalan kepala dlsb. (Ironinya adalah bahwa ada sejumlah algojo yang berasal dari Indonesia, sebuah negeri yang senantiasa menyatakan diri sangat cinta damai.) Namun di berbagai tempat di mana terjadi aksi teror tersebut, para relawan Kristiani  biasanya tidak pernah/jarang absen melakukan karya karitatif (ingat peristiwa penculikan ratusan perempuan muda oleh Boko-Haram di Nigeria).

Tentu banyak (rupa-rupa) pelajaran yang dapat kita ambil atas peristiwa 9-11 dan berbagai peristiwa teror tersebut. Apapun pelajaran itu, satu hal yang pasti: Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Kasih-Nya senantiasa mempunyai kuat-kuasa untuk mengusir rasa takut kita. Kasih-Nya selalu mampu untuk membebaskan kita untuk mengampuni dan membalas kejahatan dengan kebaikan.

Tidak ada seorang pun dari kita yang dapat melarikan diri dari rasa sakit hati, penderitaan, atau sakit-penyakit. Namun dalam “Sabda-sabda Bahagia”, Yesus menawarkan suatu cara kebahagiaan yang mentransenden rasa sedih yang bagaimana pun, yang mungkin kita alami. Para murid Yesus telah memilih untuk meninggalkan segala sesuatu untuk dapat mengikuti-Nya. Tentu saja kadang-kadang mereka merasa rindu pada rumah mereka, kenyamanan yang mereka nikmati sebelumnya. Tentu ada saat-saat di mana mereka menderita karena dihina dan diancam oleh orang-orang yang membenci mereka dan Guru mereka. Namun Yesus berjanji bahwa pengalaman ikut ambil bagian dalam kehidupan Allah jauh lebih nikmat daripada penderitaan yang mereka tanggung karena menjadi pengikut Yesus.

Ini adalah salah satu paradoks terbesar dari Kristianitas. Dengan mati, kita menemukan kehidupan; dengan memberi, kita menerima; dengan mengampuni, kita diampuni. Yesus berjanji bahwa kita sungguh dapat menemukan kebahagiaan di tengah-tengah kemiskinan, kelaparan, kesedihan – bahkan terorisme sekalipun. Bagaimana? Dengan memperkenankan diri kita dikosongkan dari segala hal yang menentang Allah, sehingga diri kita dapat dipenuhi secara berlimpah dengan hidup ilahi.

Allah ingin memberi kita damai-sejahtera yang melampaui pemahaman kita, suatu rasa aman berada dalam diri-Nya yang memampukan kita untuk mengampuni dan mengasihi walaupun kita diserang, gereja (tempat ibadat) kita dirusak atau dibakar. Ia berjanji bahwa semua orang yang telah meninggalkan hidup lama mereka seperti yang dilakukan oleh para murid Yesus, akan dipenuhi dengan pengharapan yang teguh. Mereka akan mengenal dan mengalami sukacita surgawi, bahkan ketika masih hidup di dunia ini. Sukacita itu akan jauh lebih nikmat daripada setiap musibah dan pencobaan yang kita akan pernah alami.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah pengharapanku. Penuhilah hatiku dan hati setiap orang dengan damai-sejahtera dan sukacita. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 6:17,20-26), bacalah tulisan dengan judul “UCAPAN BAHAGIA DAN PERINGATAN DARI YESUS”  (bacaan tanggal 17-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2019. 

Cilandak, 14 Februari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEREKA PUN MAKAN SAMPAI KENYANG

MEREKA PUN MAKAN SAMPAI KENYANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Sabtu, 16 Februari 2019)

Pada waktu itu ada lagi orang banyak jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta. (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:2-6

Apakah yang anda rasakan sekiranya seseorang membukakan pintu bagi anda – teristimewa ketika tangan sedang penuh memegang belanjaan? Apakah hal itu tidak menghangatkan hati anda walaupun sedikit saja? Bukankah anda lebih mengingat perawat di rumah sakit yang melayani anak anda yang sedang diopname dengan senyumnya yang hangat (selalu tidak lupa menyapa dengan “selamat sore” dll. ketimbang perawat yang sekadar mengerjakan tugas-tugas betapa pun efisien dia bekerja? Kita semua mengenali adanya bela-rasa dan kebaikan hati ketika kita memandang seseorang, dan dalam banyak keadaan hal seperti itu mencerahkan hari kita.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia memiliki bela-rasa terhadap orang banyak yang telah mengikuti-Nya selama tiga hari penuh dan persediaan makanan mereka pun sudah habis: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan” (Mrk 8:2). Yesus ingin menunjukkan bahwa tidak benarlah untuk membubarkan orang banyak yang mengikuti-Nya dan mengharapkan yang terbaik. Ia ingin menunjukkan bahwa bela-rasa yang otentik melibatkan tindakan yang melampaui hal-hal praktis dan menyangkut juga pengorbanan diri sampai titik tertentu untuk menolong mengangkat penderitaan orang lain.

Yesus menunjukkan bela-rasa seperti ini sepanjang hidup-Nya di dunia. Bela-rasa-Nya inilah yang merupakan alasan mengapa Dia menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat yang membebani orang-orang. Inilah pula yang menyebabkan mengapa Dia bekerja keras dari pagi sampai malam hari berkhotbah dan mengajar. Akhirnya, inilah juga alasan mengapa Dia mengesampingkan kemuliaan surgawi dan menjadi seorang manusia seperti kita: Allah yang merendahkan diri-Nya! Dia tidak berdiam diri di tengah kenyamanan surgawi sambil menggeleng-gelengkan kepala-Nya dengan penuh ras kasihan atas keadaan umat manusia yang menyedihkan. Ia juga tidak memandang kita sebagai robot, yang dengan satu kali tepukan tangan-Nya akan menjadi beres lagi. Dengan berkat penuh dari Bapa-Nya, Yesus menjadi manusia dan mati untuk menebus dosa-dosa kita semua. Dengan begitu, Dia mencapai jauh lebih banyak dan lebih besar daripada sekadar merasa kasihan.

Bela-rasa kita terhadap orang-orang lain akan sama kuat-kuasanya dan juga dapat merupakan pemberian hidup kita sendiri bagi orang-orang lain. Apakah ketika menghibur seorang sahabat yang sedang bersedih atau menyediakan waktu untuk tugas pelayanan di paroki, kita dapat menjadi perpanjangan tangan-tangan kasih Yesus di dunia. Tidak ada magic formula istimewa yang harus diikuti. Yang diperlukan hanyalah hasrat untuk memberi kepada orang lain – betapa pun kecilnya – apa saja yang telah kita terima dari Kristus. Apabila kita mengosongkan diri dengan cara ini, maka kita akan mengalami Yesus mengisi diri kita dengan lebih banyak lagi – sampai titik di mana kasih-Nya mengalir keluar dari diri kita dan memberdayakan kita untuk memberi makan kepada mereka di sekeliling kita yang sedang merasa “lapar”.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mataku agar dapat melihat semua saudari dan saudaraku yang sedang kesepian dan patah hati. Ajarlah aku untuk mau dan mampu mengasihi mereka dengan kasih-Mu dan untuk memberi makan mereka dengan sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:1-10), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MEMBERI MAKAN EMPAT  RIBU ORANG NON-YAHUDI” (bacaan tanggal 16-2-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-2-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Februari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS