Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

PERISTIWA YANG DIALAMI SAULUS DI DEKAT KOTA DAMSYIK DAN PERTOBATANNYA

PERISTIWA YANG DIALAMI SAULUS DI DEKAT KOTA DAMSYIK DAN PERTOBATANNYA

(Bacaan Pertama [Alternatif] Misa, Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul – Sabtu, 25 Januari 2020)

PENUTUPAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?” Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat  dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!” Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!” Firman Tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagipula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.” Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” Seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya.

Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata, “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan siapa saja yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?” Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias. (Kis 9:1-22)

Bacaan Pertama [alternatif]: Kis 22:3-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Mrk 16:15-18

Cerita tentang pengalaman Saulus (Paulus) sebelum sampai sampai di kota Damsyik memberi kesan terjadinya perubahan secara mendadak. Namun dari awal harus kita camkan bahwa itu bukanlah suatu perubahan yang tiba-tiba datang entah dari mana. Kita ketahui bahwa Saulus mendengar kata-kata terakhir dari Stefanus dan orang Farisi ekstrim inipun telah berkontak dengan gerakan Kristiani yang awal. Benih-benih (untuk pertobatannya) telah ditaburkan. Secara perlahan tekanan yang terbangun dalam dirinya sudah seperti Gunung Merapi yang setiap saat dapat meletus sampai pada akhirnya meledak juga ke dalam kesadaran dirinya. Pergumulan batin sudah dapat  kita pastikan telah terjadi dalam dirinya, dan suara Tuhan yang didengarnya dalam peristiwa di dekat Damsyik itu membuat pengalamannya menjadi sempurna. Kita memang tidak pernah dapat menceritakan efek dari benih-benih yang kita taburkan dengan kata-kata dan teladan hidup kita.

Sebelum pertobatannya, Santo Paulus bertahun-tahun lamanya mempelajari Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama). Ketika mendengar laporan-laporan orang-orang Yahudi yang memproklamasikan Yesus sebagai  Mesias, Paulus (waktu itu bernama Saulus) menjadi marah. Pesan orang-orang Yahudi itu secara total bertentangan dengan segalanya yang selama itu dipelajarinya dan dihayatinya dalam hidupnya. Maka, ia pun mulai misi satu orang untuk menghancurkan “gerakan” baru ini. Paulus menyebabkan banyak kesulitan bagi orang-orang Yahudi yang telah menyerahkan diri mereka kepada Yesus. Ia menangkap mereka, bahkan mencari jalan untuk membunuh mereka. Akan tetapi, ternyata Allah (yang Mahalain) mempunyai rencana lain untuk orang Farisi yang ekstrim ini: “…… orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel” (Kis 9:15). 

Dalam perjalanannya ke Damsyik (Damaskus; sekarang terletak di Suriah) untuk menangkap sejumlah orang yang telah menjadi pengikut Kristus dan membawa mereka kembali ke Yerusalem, “Kristus yang bangkit” menampakkan diri kepadanya dalam cahaya yang memancar dari langi. Langsung saja Paulus menjadi buta. Kebutaan mata Paulus ini mencerminkan kebutaan yang selama itu telah menyelubungi hatinya. Sang Farisi yang telah mengabdikan dirinya untuk mematuhi Hukum Taurat, ternyata tidak mampu mengenali dan mengakui Yesus sebagai Mesias, yaitu Dia yang menjadi pemenuhan segala pengharapan dan janji dari Hukum Taurat itu.

Di hari-hari setelah peristiwa di jalan menuju Damsyik itu, Paulus menyediakan waktunya untuk berdoa secara tetap. Tidak meragukan lagi, dalam suasana doa itu dia bergumul terus untuk merekonsiliasikan segala hal yang telah dipelajarinya dengan apa yang baru dialaminya. Allah tentunya mengetahui pergumulan anak manusia ini. Maka, Allah mengutus Ananias untuk berdoa dengan Paulus dan menolongnya agar mampu berpaling kepada Yesus dan menghadap-Nya. Secara ajaib, mata Paulus pun dicelikkan. Pada saat yang bersamaan tabir yang selama itu menyelubungi hatinya pun diangkat.

ADengan berjalannya waktu Paulus pun ditransformasikan menjadi bejana yang luarbiasa mengagumkan untuk karya Allah. Dengan tanpa takut Ia memproklamasikan kesetiaan Allah dan segala kebaikan-Nya bagi umat manusia. Pertobatan Saulus (S. Paulus) atau pertobatan siapa saja merupakan akibat dari banyak benih yang ditaburkan ke dalam diri banyak orang, barangkali tak diketahui/disadari, lewat kata-kata dan teladan hidup. Kita tidak pernah memprakirakan efek sepenuhnya dari benih-benih yang kita taburkan.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk berjumpa dengan kami dalam perjalanan kami. Engkau telah memberkati kami secara berlimpah dan telah memanggil kami sebagai anak-anak-Mu yang terkasih. Dalam kasih-Mu, ya Bapa, singkirkanlah tabir yang masih menyelubungi hati kami dan menghalangi kami untuk mengenal siapa Engkau sesungguhnya. Kami sungguh ingin menjadi bejana-bejana roh Kudus-Mu dan saksi-saksi dari rahmat-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 22:3-16), bacalah tulisan yang berjudul “BERTOBATNYA RASUL PAULUS” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA BELAS ORANG DIPILIH-NYA MENJADI RASUL-RASUL

DUA BELAS ORANG DIPILIH-NYA MENJADI RASUL-RASUL

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Fransiskus dr Sales – Jumat, 24 Januari 2020)

Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia. (Mrk 3:13-19)

Bacaan Pertama: 1Sam 24:3-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:2-4,6,11

“Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya.” (Mrk 3:13)

Bukit merupakan petunjuk alkitabiah dari suatu momen yang sangat penting, Sampai saat ini kita telah melihat berbagai mukjizat dan penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus serta kontroversi-kontroversi yang menyertainya, misalnya penyembuhan dilakukan oleh Yesus pada hari Sabat. Sekarang Yesus memilih dua belas orang rasul dari sekian banyak murid-murid-Nya.

Mrk 3:13 memuat kalimat singkat yang di mana digambarkan panggilan Yesus dan tanggapan para murid terhadap  panggilan-Nya untuk menjalankan tugas pelayanan  khusus sebagai rasul-rasul. Jelas bahwa Yesus memanggil mereka dengan kuasa. Dia menentukan sendiri siapa saja yang diinginkan-Nya. Di sisi lain para rasul begitu dipengaruhi oleh panggilan Yesus sehingga mereka datang untuk bergabung dengan Dia. Mereka menanggapi panggilan Yesus itu tanpa rasa ragu, juga tanpa bertanya berapa besar “biaya” yang harus ditanggung oleh mereka sebagai rasul Kristus, dan apa “manfaat” yang dapat mereka peroleh.

Kemudian Yesus memberikan (mendelegasikan) kepada para rasul itu otoritas atau kuasa untuk mengusir roh-roh jahat. Mereka juga akan diutus untuk mewartakan Kabar Baik. Namun pertama-tama mereka perlu menjadi “sahabat dekat” Yesus, untuk beberapa waktu lamanya berada dekat dengan Dia. Yesus ingin mempersiapkan mereka untuk misi mereka. Pertama-tama mereka harus belajar menyadari apa artinya menjadi murid-murid khusus  yang dipilih secara istimewa oleh Yesus sendiri.

Injil menekankan betapa pentingnya untuk berada bersama dengan Yesus, meluangkan waktu dengan Dia, sebelum seseorang sungguh siap untuk pergi ke luar guna mewartakan Injil ke tengah dunia. Yesus membuktikan sendiri dengan kesaksian hidup-Nya sebagai seorang pewarta keliling. Sebelum Yesus memulai kehidupan-Nya di depan publik, Ia menyediakan waktu yang cukup lama untuk pergi dan diam di padang gurun guna mengalami persekutuan yang akrab dengan Bapa-Nya. Kita tentu tahu bahwa sepanjang “retret”-Nya Yesus juga mengalami godaan-godaan berat dari Iblis (Mat 4:1-11; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-13).

Sebagai umat Kristiani, kita semua mempunyai suatu misi. Kita semua dipanggil untuk menjadi murid-murid Yesus. Definisi Markus tentang seorang murid Yesus adalah jelas, yaitu seorang sahabat dekat Yesus, yang menyediakan waktu yang bukup untuk berada bersama Dia, tentunya dalam/melalui doa-doa pribadi, dalam/melalui pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dalam ikut ambil bagian dalam puncak liturgi – perayaan Ekaristi – dan sakramen-sakramen lainnya. Ini adalah standar sederhana guna mengukur kemuridan kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu, karena Engkau memberi kesempatan kepadaku untuk mengalami kehadiran-Mu dan belajar dari-Mu tentang sukacita dan biaya kemuridan. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:13-19), bacalah tulisan yang berjudul “DIPANGGIL MENJADI RASUL-RASUL KRISTUS” (bacaan tanggal 24-1-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

Cilandak, 22 Januari 2020 [Peringatan Fakultatif S. Vicentius, Diakon-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ANAK TUNGGAL ALLAH

ANAK TUNGGAL ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Kamis, 23 Januari 2020)

(Hari Keenam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani) 

Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya, juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menyentuh-Nya. Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.  (Mrk 3:7-12)

Bacaan Pertama: 1Sam 18:6-9; 19:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:2-3,9-13

Di tengah-tengah serangkaian cerita yang penuh dengan tindakan nyata tentang siapa Yesus sesungguhnya dan apa artinya menjadi murid-Nya, Markus berhenti sejenak untuk memberikan waktu bagi para pembaca guna melakukan refleksi. Markus menggunakan kesempatan ini untuk membuat ringkasan tentang apa yang selama ini telah dikatakannya mengenai Yesus: kedaulatan-Nya, kuat-kuasa-Nya atas roh-roh jahat, dan identitas-Nya sebagai Putera (Anak) Allah. Markus ingin menunjukkan bahwa Yesus pada waktu itu (dan sampai sekarang juga) sungguh memikat sehingga menarik banyak orang dari seluruh muka bumi untuk datang kepada-Nya.

Tidak seperti pemimpin agama yang kaya, banyak “wong cilik” dan para pendosa datang kepada-Nya (Mrk 3:7-9; lihat juga 1:33,45; 2:2,4,13). Banyak di antara mereka yang sangat miskin, yang tidak lagi mempunyai ladang dan harta benda yang berarti di mata dunia. Mereka menemukan bahwa Yesus sangat berbeda apabila dibandingkan dengan paa pemuka/pemimpin agama Yahudi yang kaya raya. Yesus sangat memperhatikan mereka. Yesus sungguh mengasihi mereka.

Yesus tidak dapat pergi ke mana saja tanpa diikuti banyak orang. Apa yang dilakukan oleh-Nya hanyalah meninggalkan sinagoga dan menuju danau dengan para murid-Nya, dan dengan cepat orang banyak sudah berkumpul di sekeliling-Nya. Ada yang datang dari daerah yang jauh jaraknya, mereka melakukan perjalanan beratus-ratus kilometer jauhnya karena telah mendengar tentang berbagai mukjizat dan penyembuhan yang telah dilakukan oleh Yesus. Mereka semua ingin agar Yesus menjamah mereka. Mereka tidak dapat menunggu agar dapat dekat dengan-Nya, sehingga mereka mulai berdesak-desakan. Rasa lapar dan haus mereka akan cintakasih Allah begitu intens sehingga mereka memang harus berada bersama Yesus.

Apakah kita memiliki rasa lapar dan haus yang sama akan Allah? Apakah kita rindu untuk mengenal serta mengalami cintakasih-Nya dan kehadiran-Nya sedemikian rupa, sehingga kita tidak akan membiarkan apa pun yang menghalangi kita untuk datang kepada-Nya? Marilah kita tidak memperkenankan penghalang-penghalang seperti perasaan tak layak atau perasaan gagal merintangi kita untuk dapat datang kepada-Nya. Sebaliknya, marilah kita mengambil contoh orang banyak dalam bacaan di atas, baiklah kita berdesak-desakan mendekati-Nya. Santo Paulus menulis, “Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”  (Rm 8:38-39).

Karena kita mempunyai Allah yang penuh kasih, yang tidak akan pernah menolak siapa pun, marilah kita pergi menghadap-Nya dengan hati yang terbuka lebar agar dapat menerima anugerah apa saja yang ingin diberikan-Nya kepada kita. Dia rindu untuk memberikan kepada kita masing-masing setiap berkat dan rahmat-Nya. Dia rindu untuk menarik orang-orang dari keempat penjuru dunia dan membawa mereka ke hadapan hadirat-Nya, dan untuk memberkati mereka dengan cintakasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami tidak menginginkan apa pun juga kecuali Engkau. Tak ada sesuatu pun yang dapat memuaskan rasa dahaga dan lapar kami, kecuali Engkau sendiri. Ajarlah kami untuk mendekati-Mu dengan berdesak-desakan bersama saudari-saudara kami yang lain, untuk menerima cintakasih-Mu dan kuasa penyembuhan-Mu dalam hidup kami. Tuhan, peluklah kami erat-erat di dekat hati-Mu yang mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:7-12), bacalah tulisan yang berjudul “ENGKAULAH ANAK ALLAH” (bacaan tanggal 23-1-20), dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

Cilandak, 21 Januari 2020 [Peringatan Wajib S. Agnes, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMATUHI PERATURAN AGAMA HARUSLAH DENGAN KASIH

MEMATUHI PERATURAN AGAMA HARUSLAH DENGAN KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 22 Januari 2020)

HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Peringatan Fakultatif S. Vincentius, Diakon-Martir

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: 1Sam 17:32-33,37,40-51; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2,9-10

Allah memerintahkan orang-orang Yahudi untuk mengingat dan menguduskan hari
Sabat (Kel 20:8). Untuk menguduskan hari Sabat sesuai perintah Allah itu, orang-orang Yahudi menyusun suatu sistem hukum guna melindungi kesuciannya. Melakukan peraturan tentang hari Sabat penting karena hal itu membedakan mereka dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Yesus menguatkan klaim-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat (Mrk 2:28) pada saat Ia menyembuhkan seorang yang mati satu tangannya. Yesus mengetahui bahwa orang-orang Farisi berharap akan menjebak diri-Nya sebagai seseorang yang melanggar hukum Sabat jikalau Ia menyembuhkan orang itu. Oleh karena itu Yesus mengkonfrontir orang-orang Farisi itu dengan bertanya: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Ketika Yesus menyembuhkan orang itu, orang-orang Farisi secara murni legalistis memandang tindakan-Nya sebagai “kejahatan” karena Yesus telah membuat “profan” hari Sabat yang yang semestinya “sakral”, dengan melanggar hukum yang melarang penyembuhan pada hari Sabat, kecuali untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Di sisi lain, orang-orang Farisi itu memandang tindakan-tindakan mereka untuk menghancurkan Yesus sebagai hal yang “baik”, karena Yesus merupakan ancaman terhadap pemahaman mereka akan Allah.

Yesus adalah pemenuhan janji-janji Allah, yang menghantar kita ke dalam Kerajaan Allah. Bapa surgawi memberikan kuasa kepada Yesus untuk menyembuhkan, mengajar, dan mengampuni dosa-dosa. Karena Yesus itu memiliki belarasa dan belas kasih (Mrk 3:4-5), Yesus menempatkan martabat dan nilai manusia di atas hukum Sabat. Dalam menyembuhkan orang itu, Yesus menyatakan diri-Nya sendiri sebagai pemberi kehidupan yang sejati – sang Mesias, Putera Allah. Cerita penyembuhan orang lumpuh yang diturunkan dari atas atap rumah (Mrk 2:1-12), panggilan Lewi (Mrk 2:13-17), pertanyaan mengenai puasa (Mrk 2:18-22), dan isu mengenai bekerja di hari Sabat (Mrk 2:23-28), semua menunjuk kepada Yesus sebagai Mesias dari Allah yang menghantar kita menuju Kerajaan Allah.

Karena Yesus memiliki hasrat mendalam agar semua orang mengalami penyelamatan-Nya, maka penolakan orang-orang Farisi atas dirinya sungguh membuat diri-Nya sedih. Jika kita memilih untuk percaya kepada ide-ide kita sendiri dan bukannya percaya kepada kebenaran tentang siapa Yesus ini, maka kita pun membuat hati Yesus sedih. Sebagai seorang gembala yang baik, Yesus sungguh sedih apabila ada domba-Nya yang mengabaikan panggilan-Nya dan berjalan semaunya sendiri. Yesus sungguh menyadari bahwa si Jahat – layaknya seekor serigala – senantiasa menunggu kesempatan untuk menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba gembalaan. Dengan wafat di kayu salib dan bangkit dari antara orang mati, Yesus memberikan hidup-Nya agar kita “mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Lewat bimbingan Roh Kudus-Mu, buatlah agar kami senantiasa mematuhi hukum kasih-Mu sepanjang hidup kami. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:1-6), bacalah tulisan dengan judul “MANAKAH YANG DIPERBOLEHKAN?’” (bacaan tanggal 22-1-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 20 Januari 2014 [Peringatan Fakultatif S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENGAPA MEREKA BERBUAT SESUATU YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?

MENGAPA MEREKA BERBUAT SESUATU YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Agnes, Perawan Martir – Selasa, 21 Januari 2020)

HARI KEEMPAT PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: 1Sam 16:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28

Narasi tentang Yesus dan para murid-Nya yang memetik bulir gandum pada hari Sabat, selagi mereka berjalan menuju sinagoga terdapat dalam tiga kitab Injil sinoptik hampir sama, kata demi kata. Kita melihat dari bacaan ini bagaimana orang-orang Farisi memprotes tindak-tanduk para murid Yesus, dan mengatakan bahwa mereka melakukan suatu pekerjaan yang terlarang pada hari Sabat. Menyiapkan makanan adalah salah satu dari 39 macam pekerjaan yang termasuk dalam daftar yang disusun oleh para rabi sebagai tindakan-tindakan yang melawan istirahat Sabat. Fakta bahwa para rabi itu memasukkan tindakan memetik bulir gandum atau jagung sebagai pekerjaan menunjukkan betapa keras dan ketat mereka dalam menafsirkan Hukum.

Para penganut aliran keras ke luar untuk menyalahkan orang-orang yang tidak bersalah guna membuat diri mereka sendiri kelihatan baik. Jawaban Yesus menunjukkan keprihatinan-Nya yang mendalam atas kebutuhan-kebutuhan manusia, artinya pendekatan Yesus terhadap Hukum jauh lebih manusiawi.

Yesus bertanya kepada orang-orang Farisi apakah mereka tidak pernah membaca Kitab Suci tentang Raja Daud yang karena kebutuhan fisik/manusiawi dari para bawahannya (lapar) menilai sebagai benar untuk bertindak sesuatu yang dalam keadaan normal dilarang, yaitu masuk ke dalam rumah Allah dan makan roti persembahan yang sebenarnya hanya dapat dimakan oleh imam dalam keadaan normal (lihat 1Sam 21:1-6; Imam Ahimelekh, bukan Abyatar). Apa yang dikatakan Yesus adalah bahwa ada Hukum lain di atas hukum yang tertulis, apakah hukum itu berasal dari Allah atau manusia; sebuah Hukum yang ditempatkan oleh sang Pencipta ke dalam kodrat manusia: kebutuhan-kebutuhan legitim yang bersifat urgent melampaui hukum yang tertulis.

Apabila kita membaca ulang  bacaan Injil hari ini dan merenungkannya, maka secara tahap demi tahap kita akan mengenal Yesus lebih mendalam. Kita melihat Dia secara lebih jelas lagi sebagai Allah dan manusia. Kita akan melihat bahwa Yesus adalah sungguh seorang manusia yang sangat memperhatikan bahkan kebutuhan-kebutuhan kecil dari orang-orang lain. Yesus juga sungguh ilahi, yang dipenuhi dengan hikmat yang benar untuk langsung melihat melalui kelemahan hukum, dipenuhi dengan kasih ilahi, prihatin atas segala hal yang dihadapi orang-orang, seakan Ia berkata: “Bahkan hari yang diperuntukkan untuk menghormati diri-Ku bagaimana pun tidak boleh melukai (hati) umat-Ku yang Kukasihi, teristimewa mereka yang paling dina.”

Sebagai umat Kristiani, kita harus senantiasa dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus melalui penerimaan sakramen-sakramen dan praktek-praktek keagamaan kita. Jika kita menerapkan aturan-aturan agama secara mekanistis, maka ada kemungkinan hal tersebut membuat kita malah menjadi menyimpang dari hidup spiritual sesungguhnya.

Bacaan Injil hari ini adalah satu dari serangkaian kontroversi antara Yesus dan para pemuka agama Yahudi. Bacaan Injil kemarin (Mrk 2:18-22) menyoroti soal berpuasa. Bacaan Injil hari ini menyangkut soal hari Sabat karena Gereja awal (perdana) telah menggantikan ibadat mingguan dari Sabat menjadi hari Minggu. Namun Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa jika ibadat kita menjadi tujuan dan bukan sarana untuk berada dalam persekutuan dengan Allah, maka ibadat tersebut malah dapat menjadi penghalang yang serius untuk mencapai tujuan sebenarnya. Mungkin saja ketaatan seseorang kepada aturan karena dia mencintai aturan tersebut, bukan mencintai Allah. Hari Sabat aslinya adalah dimaksudkan untuk merayakan perjanjian dengan TUHAN (YHWH) dan pembebasan. Lembaga keagamaan Yahudi telah mengubahnya menjadi beban. Dengan demikian kita dapat menjadi budak-budak praktek (keagamaan) kita sendiri apabila semua itu tidak mampu membebaskan kita untuk berkomunikasi dengan Bapa di surga.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan atas hari Sabat dan kasih-Mu tidak dapat diutarakan dengan kata-kata. Hukum cintakasih-Mu adalah sukacita kami dan keselamatan kami. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:23-28), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH TUHAN” (bacaan tanggal 21-1-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulsan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELAMA MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA, MEREKA TIDAK DAPAT BERPUASA

SELAMA MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA, MEREKA TIDAK DAPAT BERPUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Senin, 20 Januari 2020)

Peringatan Fakultatif S. Fabianus, Paus-Martir

Peringatan Fakultatif Sebastianus, Martir

Keluarga Fransiskan Konventual (OFMConv.): Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”   Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: 1Sam 15:16-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9;16-17,21,23

Yesus membandingkan kehadiran-Nya di antara manusia selama pelayanan-Nya di depan umum dengan kehadiran seorang mempelai laki-laki dalam sebuah pesta perkawinan.

Pesta seperti ini adalah waktu untuk bersukacita bersama mempelai laki-laki. Mungkin saja di kemudian hari, pada saat-saat menghadapi realitas kehidupan sebagai seorang suami dan sebagai kepala keluarga, dia akan membutuhkan simpati dan belarasa. Namun sekarang, dalam pesta perkawinan ini, semuanya adalah sukacita.

Demikian pula dengan Yesus. Selama Dia masih bersama dengan para murid-Nya, Yesus tidak ingin para murid-Nya berpuasa. Yesus ingin agar para murid-Nya berada dalam keadaan di mana mereka dapat lebih mudah mengalami perubahan-perubahan dalam diri mereka yang diperlukan untuk berasimilasi dan memahami ajaran-ajaran baru yang diberikan-Nya kepada mereka.

Yesus tidak menyalahkan puasa atau berbagai laku-tobat yang menyangkut tubuh orang bersangkutan, namun semua itu harus dilakukan pada waktu dan keadaan yang tepat. Hal seperti itu harus dilakukan secara bijaksana. Ada saat-saat di mana puasa dapat menjadi tindakan yang “salah”, “tidak bijak”, bahkan “tolol”. Misalnya, apabila karena berpuasa seorang ibu tidak memperhatikan anak-anaknya, maka hal itu jelas tidak benar alias salah. Apabila puasa menyebabkan seseorang tidak peduli terhadap sesama yang memerlukan pertolongan dan sedang berdiri di depan matanya, maka sikapnya dan ketiadaan tindakannya untuk menolong orang itu adalah salah.

Ada saat-saat di mana suatu keadaan menuntut kita menggunakan segenap kekuatan kita, baik kekuatan mental maupun kekuatan fisik, untuk mengatasi situasi krisis, suatu perubahan. Seperti diungkapkan dalam berbagai uraian tentang “manajemen perubahan”, perubahan-perubahan apa pun yang diperlukan biasanya tidak mudah untuk diterima, jadi muncul resistensi dengan berbagai alasan, apalagi kalau pekerjaan dasarnya belum dipersiapkan dengan baik. Dalam artian tertentu kita sendiri harus sudah berubah dulu, paling sedikit dalam sikap dan keterbukaan, sebelum kita dapat menerima perubahan-perubahan baik yang diperlukan.

Inilah kiranya yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia mengatakan, “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju ……Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua ……anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula” (Mrk 2:21-22).

Sukacita hidup baru yang datang dari perubahan-perubahan dalam pemberian-hidup yang baik mempunyai tempat dalam kehidupan orang Kristiani. Perayaannya yang cocok tidak memasukkan puasa. Namun sukacita ini, hidup baru ini, pada prinsipnya hanya datang setelah orang yang bersangkutan melakukan pertobatan, penyangkalan diri, dalam artian tertentu: mati terhadap diri sendiri.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengajarkan kepada kami kebenaran tentang puasa dan sukacita Hidup Baru di dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “HAL-IKHWAL BERPUASA DAN SATU LAGI PERUMPAMAAN YESUS” (bacaan tanggal 20-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul untuk bacaan tanggal 21-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Januari 2020 [Peringatan S. Antonius, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH SANG ANAK DOMBA ALLAH

YESUS ADALAH SANG ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun A] –  19 Januari 2020)

HARI KEDUA PEKAN DOA SEDUNIA

Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”

Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku. Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34) 

Bacaan Pertama: Yes 49:3,5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 1:1-3

Saat yang sudah sekian lama dinanti-nantikan akhirnya tiba bagi Yohanes Pembaptis. Ia telah berseru-seru di padang gurun, “Luruskanlah jalan Tuhan”. Akhirnya sekarang ia dapat membuat deklarasi: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29).  Kita dapat membayangkan betapa hati Yohanes dipenuhi sukacita dan rasa syukur. Misinya telah selesai ketika dia memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah – Seseorang yang sebelumnya tidak dikenalinya, yang Allah telah nyatakan kepada-Nya pada akhirnya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya” (Yoh 1:32).

Dengan menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, Yohanes sebenarnya memenuhi sabda Allah dalam Kitab Suci yang berbicara mengenai sang Mesias sebagai seekor anak domba – lemah lembut dan rendah hati, namun pada saat yang sama kuat dan agung. Yesus adalah “anak domba yang dibawa yang dibawa ke pembantaian” (Yes 53:7), namun Ia juga “ditakdirkan” untuk memimpin umat Allah, membebaskan mereka dari para lawan mereka dan memerintah mereka. Kita dapat melihat imaji-ganda ini secara paling jelas dalam Kitab Wahyu di mana Yesus digambarkan sebagai “Singa dari suku Yehuda” yang telah berkemenangan, dan sebagai Anak Domba, hanya Dialah yang dapat membuka gulungan kitab penghakiman Allah (Why 5:5-14).

Dalam saat penuh berkat, Yohanes Pembaptis dimampukan untuk melihat Yesus tidak seperti sebelum-sebelumnya. Barangkali dalam masa Natal ini kita pun dapat mempunyai saat-saat penuh berkat seperti Yohanes Pembaptis. Seperti Yohanes Pembaptis, kita pun dapat menerima pernyataanj/perwahyuan ilahi yang akan menggetarkan hatri kita. Roh Kudus yang sama, yang telah memberdayakan Yesus dan membuka pikiran Yohanes Pembaptis berdiam dalam diri kita. Kita menerima Roh Kudus pada saat kita dibaptis. Nah, sekarang Roh Kudus ini menantikan kita untuk memanggil-Nya sebagai Guru dan Penghibur kita. Dalam doa kita hari ini, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita lebih lagi tentang sang Anak Domba Allah yang memenuhi janji-janji Allah itu.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk menyerahkan hidup-Nya agar kami dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, terangilah kami agar dapat melihat kuat-kuasa dan keindahan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang perkasa – dibantai namun memerintah dengan jaya sebagai Raja segala raja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), bacalah tulisan yang berjudul “IA INILAH ANAK ALLAH” (bacaan tanggal 15-1-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA

Cilandak, 16 Januari 2020 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Protomartir Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS