Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Senin, 21 Mei 2018)

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang muloutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29) 

Bacaan Pertama: Yak 3:13:18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Begitu turun dari gunung bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yesus menghadapi kegagalan murid-murid-Nya yang lain dalam melakukan pelepasan (deliverance) atas diri seorang anak yang sudah lama dirasuki roh jahat. Setelah meratapi ketiadaan iman mereka, Yesus mengusir roh jahat itu, lalu mengatakan kepada para murid-Nya ketika sendirian dengan Dia, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jelas di sini, bahwa iman dan doa merupakan dua hal vital agar dapat melihat Allah bekerja dengan penuh kuat-kuasa.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan sebagai berikut: “Ini merupakan kekuatan doa, karena ‘tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya’ (Mrk 9:23) dan ‘tidak bimbang’ (Mat 21:21) dalam iman ini. Yesus bersedih hati karena ‘ketidakpercayaan’ (Mrk 6:6) sanak keluarga dan ‘orang yang kurang percaya’ di antara murid-murid-Nya (Mat 8:26), dan Ia amat kagum akan ‘iman besar’ dari perwira Roma (Mat 8:10) dan wanita Kanaan (bdk. Mat 15:28)” (KGK, 2610).

Apa yang dimaksudkan dengan iman? Sebagaimana seekor burung yang merasakan kedatangan cahaya matahari dan kemudian bernyanyi untuk menyapa terbitnya matahari sementara keadaan masih gelap, maka iman adalah suatu kepercayaan akan Allah yang mengetahui bahwa kita akan melihat hasil-hasilnya, walaupun dalam keadaan yang kelihatannya tidak memberikan harapan. Sekarang, apa yang dimaksudkan dengan doa? Doa dapat dikatakan sebagai suatu keterbukaan dan tanggapan penuh kepercayaan terhadap kehadiran dan kehendak Allah, dalam kerendahan hati.

Apabila kita ingin mengalami kemerdekaan sejati dalam kehidupan kita, atau ingin melihat seorang sahabat atau anggota keluarga kita disembuhkan dan dibuat menjadi utuh, maka kita harus percaya dengan sepenuh hati kita dan berdoa sekuat tenaga kita. Yesus telah datang untuk membebas-merdekakan segenap umat-Nya. Yesus tidak suka melihat penderitaan kita. Kita harus percaya bahwa Dia ingin menyembuhkan dan membebaskan kita. Dia mau membebaskan kita dari segala keterikatan pada dosa. Kita juga tidak pernah boleh mengabaikan doa, bahkan sampai akhir hayat kita. Kita harus tetap konsisten dan mencoba terus. Kita harus percaya, bahwa sementara kita menyerahkan situasi-situasi yang kita hadapi kepada Yesus, maka Dia akan bertindak seturut hikmat dan kuasa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyelamatkan dan membebaskan aku dari dosa. Ajarlah aku untuk percaya lebih mendalam lagi dan berdoa dengan lebih penuh keyakinan lagi. Tuhan, Engkau tahu situasi yang sedang kuhadapi. Perkenankanlah aku melihat karya-Mu yang penuh kuasa pada hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan yang berjudul “MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG” (bacaan tanggal 21-5-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  17 Mei 2018 [Peringatan S. Paskalis Baylon, Bruder Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PERANAN SANG PENOLONG

PERANAN SANG PENOLONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 20 Mei 2018)

“… Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.” 

“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin amu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya  dan Ia aan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akkan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 15:26-27; 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: Gal 5:16-25 

Roh Kudus disebut sebagai Penolong (Yunani: Parakletos) sebanyak lima kali dalam Perjanjian Baru (Yoh 15:26; 14:16,26; 16:7; 1Yoh 2:1). Dengan menggunakan nama itu Yohanes hendak menggarisbawahi peranan Roh Kudus sebagai seorang penasihat – suatu sumber pendorong, penghiburan, pertolongan dan kebenaran.

Pada waktu Yesus hidup di muka bumi ini sebagai seorang manusia, para murid-Nya mempunyai akses yang bebas dan mudah untuk datang kepada-Nya. Mereka dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mohon nasihat kapan saja mereka inginkan. Namun pada  Perjamuan Terakhir, tahu bahwa diri-Nya tidak akan selalu dapat diakses secara fisik, Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk menyambut kedatangan seorang penolong/penasihat yang lain, yaitu Roh Kudus (Yoh 14:16). Walaupun Yesus tidak akan bersama mereka lagi dalam daging, Roh Kudus – Roh Yesus – akan berdiam di dalam diri mereka. Satu-satunya hal yang lebih baik daripada “Yesus ada bersama dengan kita” adalah “Yesus berada dalam diri kita”.

Dari segala tugas Roh Kudus, satu dari yang paling penting adalah membawa Kitab Suci ke kehidupan di dalam hati kita sehingga diri kita dapat ditransformasikan. Apakah kita pernah berpikir untuk memanggil Dia untuk duduk di samping kita ketika kita duduk membaca Kitab Suci? Dengan Dia sebagai pemandu dan penasihat, kita tentunya dapat melakukan navigasi melalui bagian-bagian bacaan sulit dalam Kitab Suci dan menemukan kedalaman-kedalaman baru dalam hidup Kristiani yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin.

Pada Hari Raya Pentakosta ini, baiklah kita (anda dan saya) datang kepada Roh Kudus dengan sebuah hati yang terbuka. Marilah kita memohon kepada-Nya untuk menolong kita dalam kelemahan-kelemahan kita. Sementara kita membaca Kitab Suci dalam keheningan dan suasana doa, biarlah Dia mencerahkan kata-kata yang ada dalam Kitab Suci dan menolong kita menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus akan mengambil pesan dari Kitab Suci, mengikatnya dengan kehidupan Gereja, dan mencelupkannya dalam-dalam di hati kita masing-masing, di mana kehendak kita dimotivasi untuk bertindak. Lalu perhatikanlah bahwa kehidupan kita pun berubah.

Santo Hieronimus [347-420] berkata: “Ignoratio Scripturarum, Ignoratio Christi est.”  (Inggris: “Ignorance of Scripture is ignorance of Christ.”), yang artinya kira-kira “Tidak kenal/tahu Kitab Suci, tidak kenal/tahu Kristus. Apakah anda mau mengenal Jesus, sang Sabda Allah? Cobalah kenal dengan Roh Kudus, Penolong anda!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk memulihkan relasi kami dengan Dikau. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan Roh Kudus untuk hidup dalam diri kami dan menolong kami dalam segala kelemahan kami. Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati kami umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu dalam hati kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 20-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  17 Mei 2018 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI YESUS DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA

MENGASIHI YESUS DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 18 Mei 2018)

OSCCap and OSCCap: Peringatan S. Krispinus dr Viterbo, Imam Kapusin

 

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25) 

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7 

Setelah Petrus mengafirmasikan kasihnya kepada Yesus sebanyak tiga kali, hal mana menunjukkan bahwa hatinya berada di tempat yang benar, sang Rasul Kepala ini menunjuk “murid yang dikasihi Yesus” (Yoh 21:20) dan bertanya kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini? Yesus menegur Petrus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku” (Yoh 21:21-22). Dalam artian tertentu, tanggapan Yesus ini adalah suatu “perpanjangan” dari pertanyaan yang diajukan-Nya kepada Petrus sebanyak tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15-17). Mengasihi Allah berarti mengikuti Dia dalam ketaatan, tanpa harus membanding-bandingkan apa yang dilakukan oleh orang-orang lain.

Kita dipanggil untuk mengasihi Yesus dengan ukuran yang sama, namun tidak harus dengan jalan yang sama. Petrus harus memahami bahwa mengikuti Yesus berarti sesuatu yang berbeda bagi dirinya ketimbang “murid yang dikasihi Yesus”. Apabila rasul yang lain itu tidak dipanggil untuk mati sebagai martir Kristus seperti yang dialami oleh Petrus, sudahlah … so be it! Allah mempunyai berbagai karunia dan peranan yang berbeda-beda bagi setiap anggota tubuh Kristus (lihat 1Kor 12:1-31).

Bagaimana halnya dengan kita sendiri? Rasanya, kita juga memiliki “sedikit Petrus” dalam diri kita masing-masing. Tidak pernahkah kita berpikir, “Mengapa orang ini tidak dapat melakukan pekerjaan seperti yang kulakukan?” atau “Mengapa orang itu tidak melakukan pengorbanan-pengorbanan pribadi untuk Tuhan seperti yang kulakukan?” Sebaliknya kalau kita melihat dari suatu perspektif yang lain, apakah kita menjadi ciut-hati karena kita tidak dapat menghayati kehidupan Kristiani – spiritualitas – sehari-hari seperti seorang pribadi lain? Yesus menegaskan di sini, bahwa mengikuti diri-Nya tidaklah berarti harus konform dengan suatu pola atau formula peraturan-peraturan tertentu. Mengikuti jejak Yesus berarti memberikan diri kita sendiri bagi suatu relasi-pribadi yang bersifat batiniah dengan diri-Nya.

Sekarang, marilah kita syeringkan panggilan dan privilese kita untuk boleh mendengar Tuhan Yesus bersabda: “Ikutlah Aku” ini. Yesus dapat memimpin kita ke arah yang baru, bahkan (barangkali) kepada jalan-jalan yang kita sendiri tidak akan pilih. Semua yang diminta adalah bahwa kita mengasihi Kristus setiap hari, tetap setia pada sabda yang telah ditaruh-Nya dalam hati kita masing-masing, dan menyerahkan baik masa lalu maupun masa depan kita kepada penyelenggaraan(-ilahi)-Nya. Hakekat Pentakosta bukanlah membentuk masyarakat yang homogen. Upaya untuk membangun sistem sedemikian akan dapat berujung pada bencana. Allah mencurahkan Roh-Nya untuk mendorong terciptanya persatuan dan kesatuan dan kasih yang riil di tengah berbagai macam ragam perempuan dan laki-laki yang berasal dari berbagai macam bangsa dan budaya. Dia mengumpulkan kita semua yang berasal dari segala macam status kehidupan ke dalam satu umat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyembah-Mu dan memuji-Mu. Engkau menciptakan aku dalam kasih, menyelamatkan aku melalui kasih, dan memenuhi diriku dengan kasih setiap hari. Pada hari ini aku mengkomit diriku kembali untuk senantiasa taat pada panggilan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MELAKUKAN BANYAK KEBAIKAN LAIN JUGA DI LUAR YANG TERCATAT DALAM INJIL” (bacaan tanggal 19-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Mei 2018 [Peringatan S. Margareta dr Cortona] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS BERSABDA KEPADA PETRUS: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU

YESUS BERSABDA KEPADA PETRUS: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 18 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20 

Dalam Gereja Perdana, kepada Petrus diberikan kedudukan yang penting, yaitu sebagai fondasi dari Gereja dan pemegang peranan pening dalam pelayanan dan otoritas (lihat Mat 16:18). Paulus menulis bahwa setelah kebangkitan-Nya, Yesus “menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” (1Kor 15:5). Sementara peranan Petrus itu unik baginya, apa yang pertama-tama diterimanya (misalnya berjumpa dengan Kristus yang bangkit) kemudian dibagikan kepada para murid lainnya. Bacaan Injil hari ini sebenarnya menunjukkan masa depan Gereja dan pembentukan sebuah struktur yang didasarkan pada tatanan Allah sendiri, suatu tatanan yang berkelanjutan sampai hari ini melalui Uskup Roma (Paus).

Panggilan Petrus untuk memimpin mengalir dari pengakuannya akan Yesus yang bangkit sebagai Kepala Gereja. Dialog yang dilakukan oleh Yesus dengan Petrus mencerminkan sikap Yesus sendiri terhadap pemeliharaan pastoral atas kawanan domba, yaitu umat Kristiani. Yesus adalah “gembala yang baik” (Yoh 10:11). Bapa surgawi mempercayakan pemeliharaan umat-Nya kepada Yesus karena kasih yang saling mengikat antara Bapa dan Putera. Yesus bersabda: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali” (Yoh 10:17). Ketika Petrus mendeklarasikan cintakasihnya kepada-Nya sampai tiga kali, maka Yesus memberi amanat kepada-Nya untuk melayani sebagai pemimpin Gereja-Nya.

Yesus menunjuk kepada Gereja-Nya sebagai sebuah komunitas di dunia ini, komunitas mana mempunyai sebuah struktur yang kelihatan. Namun Yesus juga menunjuk lebih jauh lagi, yaitu kepada Roh-Nya sendiri yang memberi kehidupan, akan memenuhi diri semua umat beriman, mempersatukan mereka dengan diri-Nya dan mempersatukan mereka satu sama lain. Roh Kudus datang dengan hikmat-Nya, kuasa-Nya dan kasih-Nya, maka para murid diberdayakan agar dapat mewujudkan kasih yang penuh pengorbanan, suatu sacrificial love. Dinamika pelayanan dan otoritas yang mengalir dari kasih, adalah jantung dari penyertaan kita dalam imamat Kristus (imamat umum).

Kita dapat berpartisipasi dalam “misteri persatuan yang mendalam” ini seperti layaknya relasi  cintakasih antara suami dan istri. Paulus menulis sebagai berikut: “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi memelihara dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Rahasia itu besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Ef 5:28-32).

Melalui/oleh Roh Kudus kita dapat menjadi lebih serupa lagi dengan Yesus. Kita akan dimampukan untuk menanggung pencobaan-pencobaan yang menimpa diri kita seiring dengan pekerjaan kita mewartakan Injil dan/atau upaya saling memperhatikan penuh kasih dalam keluarga yang merupakan gereja domestik, dan dalam  komunitas Kristiani. Dengan pemikiran dan upaya kita sendiri semata-mata, kita tidak akan mampu memahami panggilan kita ini atau mewujudkan panggilan tersebut ke dalam tindakan nyata.

DOA: Datanglah, ya Roh Pengertian, turunlah atas diri kami dan terangilah pikiran kami sehingga kami dapat mengetahui dan percaya akan semua misteri penyelamatan, memahami ajaran Yesus Kristus, dan melaksanakannya dalam hidup kami sehari-hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS JUGA MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA KEPADA KITA MASING-MASING” (bacaan tanggal 18-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENANTIKAN KEDATANGAN ROH KUDUS

MENANTIKAN KEDATANGAN ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Rabu, 16 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona, OFS

“Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjagas mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.” (Yoh 17:11b-19)

Bacaan Pertama: Kis 20:28-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:29-30,33-36  

Yesus sedang mempersiapkan diri-Nya untuk pergi kepada Bapa-Nya. Dalam doa bagi para murid-Nya ini, Dia mempercayakan mereka kepada pemeliharaan penuh perhatian dari Bapa surgawi. Sungguh merupakan suatu momen yang penuh berkat dan kelemah-lembutan-Nya sebagai Guru dan Gembala bagi mereka, juga sebagai Imam Besar Agung (lihat Ibr 4:14), sang Pengantara dengan Bapa. Yesus telah hidup dan melayani bersama mereka selama tiga tahun – menjaga mereka, mengajar mereka, membentuk/membina mereka dan mengasihi mereka dengan kasih Allah sendiri. Bapa telah memberikan mereka kepada Yesus, dan sekarang Yesus memberikan mereka kembali kepada Bapa-Nya. Bagaimana Bapa akan menjaga dan melindungi mereka? Dengan cara yang penuh kemuliaan, yaitu dengan mengutus Roh Kudus, tidak hanya kepada mereka yang berkumpul di ruang atas (senakel), melainkan kepada semua orang yang meminta (lihat Yoh 17:20-21).

Kita sekarang sedang berada dalam masa persiapan perayaan Hari Raya Pentakosta. Kita menantikan kedatangan Roh Kudus dalam kepenuhan-Nya seperti yang ingin dicurahkan atas diri kita oleh Allah Bapa. Allah tidak pernah merasa lelah untuk melakukan kebaikan atas diri umat-Nya. Dia selalu siap untuk melimpah-limpahkan rahmat dan kuat-kuasa-Nya atas diri mereka yang mencari diri-Nya.

Apakah yang dapat kita harapkan dari Roh Kudus untuk dilakukan-Nya dalam hati kita? Yesus berdoa bahwa melalui Roh Kudus, Bapa akan melindungi kita dari yang jahat [si Jahat] (Yoh 17:15). Yesus juga berdoa agar sukacita-Nya sendiri dapat memenuhi diri kita (Yoh 17:13).  Oleh Roh Kudus, kita dapat mengetahui kebenaran, dan memperkenankan kebenaran itu untuk memisahkan/menguduskan kita bagi Kristus (Yoh 17:19). Kita dapat mengenal dan mengalami kesatuan satu sama lain – kesatuan yang sama seperti yang dimiliki oleh Yesus dan Bapa-Nya (Yoh 17:21). Kita dapat mengasihi sebagaimana Allah mengasihi (lihat Rm 5:5). Kita dapat meyaksikan godaan dan dosa dikalahkan (lihat Rm 8:13).

Semua karunia yang indah ini – dan banyak lagi – adalah milik kita karena Roh Kudus telah datang untuk memasukkan  kita ke dalam kehidupan Allah sendiri: “Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan dia di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1Yoh 4:13). Roh Kudus telah dicurahkan ke dalam diri kita untuk membuat kita bersatu dengan Allah. Selagi kita menantikan Hari Raya Pentakosta yang agung ini, marilah kita berdoa dengan penuh pengharapan:

DOA: Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu guna menyatukan kami masing-masing dengan Dikau dan Putera-Mu terkasih, Tuhan Yesus Kristus. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, utuslah kami untuk mewartakan sabda-Mu, dengan demikian  kami dapat ikut serta dalam upaya memperbaharui muka bumi! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 20:28-38), bacalah tulisan yang berjudul “TETAP KUAT BERAKAR DALAM YESUS” (bacaan tanggal 16-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA   http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018.   

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YANG ALLAH INGINKAN KITA LAKUKAN HANYALAH SEBAGIAN DARI SESUATU YANG JAUH LEBIH BESAR

YANG ALLAH INGINKAN KITA LAKUKAN HANYALAH SEBAGIAN DARI SESUATU YANG JAUH LEBIH BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Selasa, 15 Mei 2018)

Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai Yesus Kristus yang  telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan  kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a)

Bacaan Pertama: Kis 20:17-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:10-11.20-21

Ada suatu kesejajaran antara kata-kata Yesus dalam bacaan Injil di atas dengan kata-kata Paulus dalam bacaan pertama dari “Kisah para Rasul”. Baik Yesus maupun Paulus sudah mendekati akhir pelayanan mereka di dunia, dan dua-duanya merenungkan cara mereka menanggapi panggilan mereka. Yesus mengetahui bahwa Dia telah mengakhiri tugas pekerjaan yang telah diberikan Allah Bapa kepada-Nya. Demikian juga halnya dengan Paulus. Rasul Kristus ini merasa bahwa dia pun telah melaksanakan amanah yang diberikan Tuhan Yesus kepadanya dengan sebaik mungkin sesuai kemampuannya.

Namun demikian, lihatlah apa yang ada ketika Yesus melihat ke sekeliling meja perjamuan pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya? Yang ada hanyalah segelintir murid-Nya, satu di antaranya malah akan mengkhianati-Nya, seorang lagi akan menyangkal Dia (mengaku tidak kenal dengan diri-Nya), dan kebanyakan dari mereka akan melarikan diri karena ditimpa rasa takut pada waktu Dia ditangkap. Kalau orang melihat sekadar dari sudut pandang manusia, maka legacy-Nya  tidak  terlihat sangat mengesankan pada waktu itu. Malah sebaliknyalah, semuanya terasa seakan sudah berada di tepi jurang kehancuran. Akan tetapi kelihatannya Yesus tidak merasa susah dan cemas. Ia telah memberitahukan para murid-Nya perihal apa yang akan terjadi, tetapi Dia sendiri tidak kelihatan tertekan. Mengapa? Karena Yesus merasa yakin bahwa Dia telah datang ke dunia untuk meresmikan kerajaan Allah lewat berbagai khotbah/pewartaan dan banyak mukjizat serta tanda-heran yang dibuat-Nya; teristimewa melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Yesus tahu benar bahwa kerajaan Allah akan menyebar-luas setelah Dia pulang-kembali ke surga, karena kedatangan Roh Kudus. Yesus tidak perlu melihat semua itu terjadi sebelum Ia wafat. Ia tahu benar bahwa Dia telah melakukan bagian yang ditugaskan kepada-Nya, dan itu cukup bagi-Nya.

Demikian pula, Allah telah memberikan kepada kita masing-masing sesuatu untuk kita lakukan dalam kehidupan ini. Sumbangan yang Ia inginkan kita lakukan hanyalah sebagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Barangkali benih-benih kerajaan-Nya yang kita taburkan akan berakar dan bertumbuh melalui pelayanan yang dilakukan oleh orang lain. Barangkali hal-hal kecil yang kita lakukan untuk orang miskin akan berkembang menjadi suatu sumber penghiburan bagi banyak orang. Kita hanyalah dipanggil untuk melakukan pekerjaan yang diberikan oleh Yang Mahatinggi dan tidak melakukan tugas pekerjaan yang tidak diperuntukkan bagi kita.

Baiklah kita setia pada hal-hal kecil yang telah diberikan Allah kepada kita untuk kita kerjakan. Allah sangat menilai tinggi semua itu. Yesus adalah bukti bahwa Dia dapat melakukan banyak hal dengan suatu hati yang penuh penyerahan.

DOA: Datanglah Roh Kudus, berdayakanlah aku agar dapat melaksanakan semua pekerjaan pelayanan yang telah dipercayakan kepadaku dan jagalah hatiku agar tidak merasa gelisah tentang masa depanku sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “DOA YESUS KEPADA BAPA-NYA UNTUK PARA MURID” (bacaan tanggal 15-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengnn judul sama untuk bacaan tanggal 30-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 14 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERAN PEMIMPIN

PERANAN PEMIMPIN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO MATIAS, RASUL – Senin, 14 Mei 2018)

Pada suatu hari berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara seiman yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata, “Hai Saudara-saudara, haruslah digenapi nas Kitab Suci, yang disampaikan lebih dahulu oleh Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus. Dahulu ia termasuk salah seorang dari kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini.”

“Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: ‘Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya,’ dan: ‘Biarlah jabatannya diambil orang lain.’ Jadi, harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus diangkat ke surga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.”

Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan juga bernama Yustus, dan Matias. Mereka semua berdoa dan berkata, “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah pergi ke tempat yang wajar baginya.” Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada kesebelas rasul itu. (Kis 1:15-17,20-26)

Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-8; Bacaan Injil: Yoh 15:9-17 

“Hai Saudara-saudara, haruslah digenapi nas Kitab Suci, yang disampaikan lebih dahulu oleh Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus.” (Kis 1:16)

Sebelum Roh Kudus turun atas umat perdana pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, para rasul perlu membereskan beberapa persoalan yang berhubungan dengan kepemimpinan. Pada saat itu mereka:

  • mengakui Petrus sebagai pemimpin para rasul walaupun ia pernah tiga kali mengkhianati Yesus;
  • menerima para rasul sebagai pemimpin mereka walaupun mereka meninggalkan Kristus sebelum wafat-Nya;
  • bersepakat untuk membicarakan siapa yang akan menggantikan Yudas Iskariot, rasul yang telah mengkhianati Kristus, lalu menggantung diri;
  • bersepakat bahwa yang menggantikan Yudas Iskariot hendaknya orang yang telah hidup bersama Yesus selama tiga tahun dalam penampilan-Nya dan karya-karya-Nya di depan publik;
  • mencalonkan dua orang, berdoa dan membuang undi (Kis 1:23-26).

Pilihan kemudian jatuh pada Matias, yang lalu ditambahkan kepada sebelas rasul (lihat Kis 1:26).

Apakah ada seorang pemimpin yang seharusnya kita (anda dan saya) ikuti, namun kita menolak dir? Apakah kita telah memaafkan pemimpin yang bersalah dan berdosa? Apakah anda tunduk kepada kuasa dari Tuhan, dari Gereja, tunduk pada suami, orangtua, pastor paroki, pimpinan perusahaan di mana kita bekerja dan para atasan kita?

Sebaliknya, apabila kita (anda dan saya) memegang peranan sebagai pemimpin, apakah kita telah mengambil tanggungjawab untuk memimpin? Apakah ada pemimpin yang telah tiada dan kita harus menggantikannya? Apakah kita mengundurkan diri dari kepemimpinan karena adanya pengalaman pahit waktu memimpin? Apakah kita membutuhkan seorang “Matias” guna menyembuhkan luka-luka yang ditinggalkan oleh “Yudas”?

Mengapa Roh Kudus harus turun atas diri orang-orang yang tidak sudi dituntun/ dibimbing? Mengapa Roh Kudus turun atas diri orang-orang yang tidak melakukan apa yang dilakukan oleh para murid Yesus sebelum peristiwa Pentakosta Kristiani yang pertama? 

DOA: Bapa surgawi, terima kasih atas anugerah kepemimpinan yang Engkau telah berikan kepadaku. Biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa mengingatkan diriku bahwa pada dasarnya memimpin adalah melayani, sehingga aku benar-benar dapat disebut murid Yesus Kristus yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis  1:15-17,20-26), bacalah tulisan yang berjudul “MATIAS YANG DIPILIH MENJADI RASUL UNTUK MENGGANTIKAN YUDAS ISKARIOT” (bacaan tanggal 14-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS