Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

ALLAH MAHAKASIH, NAMUN IA JUGA HAKIM YANG MAHAADIL

ALLAH MAHAKASIH, NAMUN IA JUGA HAKIM YANG MAHAADIL

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Kamis, 23 November 2017)

Ketika Ia telah mendekati dan melihat kota itu, Yesus menangisinya, kata-Nya: “Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, ketika musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Mereka akan membinasakan engkau beserta dengan penduduk yang ada padamu, dan mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau.” (Luk 19:41-44)

Bacaan Pertama: 1Mak 2:15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1-2,5-6,14-15

Betapa dalam kepedihan yang dirasakan oleh hati Yesus bagi orang-orang Yahudi di Yerusalem! Yesus akrab-familiar dengan kasih dan bela rasa Bapa-Nya, namun pada saat yang sama Dia juga mengenal keadilan Allah serta kekudusan-Nya. Hal ini memampukan diri-Nya untuk melihat jauh ke depan konsekuensi-konsekuensi kerusakan yang akan menimpa orang-orang yang tidak mau merangkul diri-Nya atau Injil yang diwartakan-Nya. Sekali pun selagi Dia menyiapkan pengorbanan-Nya yang paling besar demi keselamatan kita, Yesus mengetahui bahwa banyak orang tetap tidak mau menerima pesan-Nya dan lebih suka memilih hidup dalam dosa.

Sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci berulang kali menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak senang melihat kita mati dalam kedosaan dan dengan demikian menjadi terpisah dari diri-Nya. Dia mengasihi kita! Namun kita harus selalu mengingat dengan baik, bahwa sementara Dia adalah Bapa kita yang sangat mengasihi anak-anak-Nya, Allah juga adalah Hakim yang adil, dan keadilan serta penghukuman-Nya tidak boleh dipandang enteng. Allah tidak begitu saja mengabaikan ketidaktaatan atau ketidaksetiaan kita. Kalau begitu halnya, maka akan merupakan kontradiksi terhadap kodrat-Nya.

Kadang-kadang, dalam upaya membenarkan diri dari kedosaan kita atau untuk menghindarkan diri dari panggilan untuk berubah, kita berpikir atau berkata kepada diri kita sendiri, “Allah adalah kasih. Ia tidak akan menghukum aku.” Atau kita terus saja mendesak dosa-dosa kita ke belakang pikiran kita, melupakan bahwa diri kita harus bertobat dan mengabaikan tuntutan bahwa kita harus kembali kepada Allah. Namun hal ini menunjukkan ketiadaan hakiki dari pemahaman akan kodrat Allah. Bahkan orang-orang Yahudi, umat pilihan-Nya sendiri yang sangat dikasihi-Nya, harus mengalami hukuman demi penyucian. Dengan demikian, tentu saja kita tidak dapat mengambil kesimpulan bahwa kita dikecualikan dari keadilan Allah.

Puji Tuhan untuk frase paling akhir dari perikop Injil hari ini: “…… saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau” (lihat Luk 19:44). Syukur kepada Allah, kita masih berada dalam “masa kunjungan” suatu masa di mana  rahmat dan belas kasihan Allah ditawarkan kepada kita semua sebelum pengadilan terakhir. Setiap hari Roh Kudus “mengusik” hati kita untuk kembali kepada Allah sebelum terlambat. Setiap hari, belas kasihan dan rahmat Allah tersedia bagi siapa saja yang bertobat, berbalik kepada jalan-Nya. Santo Paulus menasihati jemaat di Efesus: “Aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, menasihatkan kamu, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (Ef 4:1).

Sekarang kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah aku hidup sesuai dengan janji-janji baptisku? Apakah aku cepat bertobat apabila aku sampai melibatkan diri dalam dosa (dengan pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian)? Apakah aku membawa orang-orang lain untuk mengenal Allah?

Saudari dan Saudariku yang dikasihi Kristus, setiap saat kita dapat berpaling kepada Yesus dan mengalami pembersihan oleh darah-Nya dan menerima hidup baru. Oleh karena itu, marilah kita menghadap-Nya dengan hati yang penuh pertobatan dan menerima amanat agung (Mat 28:18-20) dari Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita – untuk pergi ke tengah dunia dengan membawa pesan keselamatan-Nya kepada saudari-saudara kita yang lain.

DOA: Bapa surgawi, pada saat ini aku berdiri dengan penuh kekaguman akan perbuatan-perbuatan-Mu yang agung! Dengan tulus hati aku menundukkan diriku terhadap kekuasaan-Mu. Engkau adalah Khalik langit dan bumi, Mahakuasa, Mahaperkasa, …… Mahalain dalam hal-hal yang baik bagi kami ciptaan-Mu. Curahkanlah karunia “takut akan Allah” ke dalam diriku sebagai makhluk ciptaan-Mu. Kasihanilah bangsa kami yang sedang sakit parah ini agar dapat beriman kepada-Mu secara benar. Anugerahkanlah “hikmat-kebijaksanaan” kepada para pemimpin bangsa kami, termasuk para pemuka agamanya. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Allah yang Mahaagung, yang kusembah dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku! Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:41-44), bacalah tulisan berjudul “NUBUATAN YESUS TENTANG KEJATUHAN KOTA YERUSALEM” (bacaan  tanggal 23-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sang sabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 21 November 2017 [Peringatan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah]

Sdr. F.X. Indrapradja OFS 

Advertisements

TIGA MACAM TANGGAPAN TERHADAP YESUS

TIGA MACAM TANGGAPAN TERHADAP YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Sesilia, Perawan Martir – Rabu, 22 November 2017)

 

Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau  sudah tahu bahwa  aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai supuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28) 

Bacaan Pertama: 2Mak 7:1,20-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8b,15

Yesus sudah dekat dengan kota Yerusalem untuk menyelesaikan misinya di atas muka bumi. Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem (Luk 9:51-19:27), Yesus memberikan banyak pengajaran tentang apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Sekarang, ketika Dia sudah hampir sampai ke tempat di mana Dia akan mengalami sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, sekali lagi Yesus mengajar – lewat sebuah perumpamaan – tentang apa apa artinya mengikuti jejak-Nya. Dengan iman saya berkeyakinan, bahwa peristiwa Yesus di Yerusalem bersifat sangat menentukan dalam sejarah manusia, dan tanggapan (pilihan) kita menentukan hidup atau mati bagi kita. Kita tidak bisa netral dalam hal ini, karena terhadap apa yang telah dilakukan Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, suatu tanggapan (yang bersifat afirmatif) dituntut dari kita masing-masing sebagai pribadi.

Perumpamaan Yesus kali ini menggambarkan tiga macam tanggapan. Tanggapan pertama adalah menerima martabat Yesus sebagai Raja, bekerja dengan rajin dan menghasilkan buah rohani sehubungan berbagai kemampuan/karunia yang diberikan Allah (lihat Luk 19:16-19). Tanggapan kedua adalah menerima Yesus, namun karena takut atau alasan-alasan lainnya, tidak berhasil untuk merangkul-Nya dengan penuh dan menghasilkan buah-buah seperti dihasrati-Nya (Luk 19:20-24). Tanggapan ketiga adalah menunjukkan sikap bermusuhan terhadap Dia dan menolak klaim-Nya untuk memiliki kuasa atas dirinya (Luk 19:14).

Untuk dapat menghasilkan buah-buah sesuai dengan karunia yang dianugerahkan Allah kepadanya, seseorang harus merangkul sepenuhnya Yesus dan kematian serta kebangkitan-Nya dan memperkenankan-Nya bekerja dalam kehidupannya. Demikian pula dengan kita semua! Hanya dengan begitu kita dapat menomor-duakan agenda kita sendiri dan menerima rencana-sempurna Allah bagi hidup kita, dengan segala berkat-Nya yang melimpah. Apabila roh kita, intelek kita, emosi kita dan kehendak kita ditundukkan di bawah kuasa Roh Kudus, maka kita dapat menghasilkan  ‘pendapatan bunga rohani’ bagi Allah (Luk 19:23). Dari sini timbullah berbagai prioritas pribadi, berbagai sasaran- tujuan pribadi dan berbagai tindakan pribadi yang sungguh-sungguh untuk melayani Allah. Berbagai kemampuan kita, inteligensia kita, atau situasi kehidupan pada akhirnya tidak membuat perbedaan; Yesus ingin kita menanggapi Dia sesuai dengan apa yang telah diberikan-Nya kepada kita. Tindakan-tindakan yang kita lakukan harus mencerminkan keadaan hati kita.

Yesus telah “meresmikan” Kerajaan Allah dan kerajaan itu memang ada di tengah-tengah kita. Melalui Roh Kudus, kita ikut dalam buah-buah pertama kerajaan itu, bahkan hari ini. Sementara kita tidak akan tahu mengenai kepenuhan janji sampai kedatangan Yesus untuk kedua kali, kita menaruh kepercayaan atas kebenaran janji itu.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku menyingkirkan kebutuhanku untuk mengendalikan kehidupanku. Ajarlah aku untuk merangkul sepenuhnya rencana-Mu bagiku, sehingga di bawah kuasa-Mu sebagai Raja, aku dapat ikut serta dalam panen raya mendatang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:11-28), bacalah tulisan berjudul “APA SAJA YANG DIPERCAYAKAN OLEH ALLAH KEPADA SEORANG PRIBADI MANUSIA HARUSLAH BERBUAH” (bacaan tanggal 22-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 November 2017 [Peringatan S. Agnes dr Assisi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KESELAMATAN KEPADA SEISI RUMAH INI

KESELAMATAN KEPADA SEISI RUMAH INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah – Selasa, 21 November 2017) 

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata kepadanya, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”  (Luk 19:1-10) 

Bacaan Pertama: 2Mak 6:18-31; Mazmur Tanggapan: 4:2-7 

“Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini.” (Luk 19:9)

Cerita mengenai Zakheus yang hanya terdapat dalam Injil Lukas ini memang selalu menarik. Setiap kali membaca perikop ini, selalu ada saja aspek yang menarik untuk disoroti. Misalnya, pada hari ini marilah kita mulai dengan pertanyaan: “Apakah kiranya yang menggerakkan hati Yesus sehingga sampai membuat pernyataan di atas? Apakah karena Zakheus mencari Yesus dengan caranya yang begitu kreatif – dengan memanjat pohon ara? Atau apakah karena keputusannya untuk membayar kembali segala keuntungan “haram” yang selama ini telah diperolehnya sebagai seorang pejabat pajak (kepala pemungut cukai)? Jika kita simak dengan serius jawabannya bisa saja dua-duanya.

Yesus merasa gembira bahwa Zakheus mencari diri-Nya dan menyambut Dia ke dalam rumahnya, namun Ia tidak memberikan konfirmasi tentang keselamatan jiwa Zakheus, sampai saat pejabat pajak ini membuat komitmen untuk mengubah cara-cara hidupnya yang lama. Yesus sesungguhnya memperhatikan saat-saat sampai iman Zakheus diungkapkan dengan tindakan nyata.

Namun demikian, Saudari dan Saudaraku, jangan salah tangkap: Keselamatan adalah murni anugerah atau karunia yang diberikan secara gratis oleh Allah kepada kita. Akan tetapi, tanggapan kita terhadap anugerah gratis ini sungguh bersifat crucial.  Apa gunanya iman kita, apabila iman itu tidak memimpin kita masuk ke dalam suatu kehidupan yang dipenuhi dengan cintakasih untuk melayani sesama kita? Demikian pula halnya dengan Zakheus. Tidak banyak gunanya bagi Zakheus untuk mengakui dan menerima Yesus sebagai sang Mesias, dan kemudian melanjutkan kehidupannya sebagai kepala pajak yang suka menipu orang-orang lain. Adegan Zakheus (tidak ada dalam Injil) yang berjalan sepanjang jalan sambil memberikan uangnya kepada orang-orang yang membutuhkan tentunya lebih mengandung makna daripada ribuan kata yang dapat diucapkannya tentang betapa besar dan mendalam cintakasihnya kepada Yesus.

Pada hari ini, baiklah kita mengambil waktu sejenak untuk memeriksa jalan-iman kita masing-masing. Posisi dari sebagian besar kita adalah antara suatu kehidupan “hanya iman” di satu sisi, dan “hanya kerja” di sisi lain. Apabila kehidupan doa dan praktek-praktek keagamaan anda kuat, pertimbangkanlah apakah yang anda dapat lakukan lebih guna menunjukkan cintakasihmu kepada Tuhan Allah dan kepada orang-orang lain atas suatu dasar yang regular. Pikirkanlah satu cara dengan mana anda dapat melayani keluargamu pada hari ini, melayani komunitasmu, atau melakukan tugas pelayanan dalam parokimu. Santo Paulus mendorong jemaat di Filipi untuk “tetap mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar”, bukan saja seperti waktu sang rasul masih hadir di tengah-tengah jemaat, tetapi terlebih lagi waktu Paulus tidak berada bersama mereka (lihat Flp 2:12). Apabila anda sudah kuat dalam perbuatan-perbuatan baik, tanyakanlah apakah kehidupan doamu dapt ditingkatkan. Sekarang, dalam keheningan, katakanlah kepada Tuhan betapa anda mengasihi-Nya. Memang ini adalah tindakan membuat segalanya seimbang, namun tujuan kita selalu adalah bahwa iman kita yang riil dan yang mengubah-hidup akan mengekspresikan dirinya melalui pekerjaan-pekerjaan atau tindakan-tindakan nyata.

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur untuk karunia keselamatan yang telah Kauberikan kepadaku. Semoga aku tidak pernah cepat merasa puas dalam mengasihi-Mu dan sesamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:1-10), bacalah tulisan berjudul “PERTOBATAN ZAKHEUS” (bacaan tanggal 21-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 20 November 2017 [Peringatan S. Agnes dr Assisi] 

Sdr. F.X.Indrapradja, OFS 

SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO DISEMBUHKAN OLEH YESUS

SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO DISEMBUHKAN OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Minggu Biasa XXXIII – Senin, 20 November 2017)

FMM: Peringatan S. Agnes dr Assisi, Pelindung Pra-Novis FMM 

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43) 

Bacaan Pertama: 1Mak 1:10-15,41-43,54-57,62-64; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:53,61,134,150,155,158 

Lukas menempatkan cerita tentang mukjizat penyembuhan yang dilakukan Yesus terhadap seorang pengemis buta, di tengah-tengah diskusi panjang mengenai pemuridan/kemuridan Kristiani dan jalan Kristiani. Apa yang dapat kita pelajari dari Yesus dalam peristiwa ini? Satu hal yang tidak boleh luput dari pengamatan kita: cintakasih Yesus kepada orang-orang kurang/tidak beruntung dalam masyarakat, mereka yang menderita sakit-penyakit dan lain-lain. Bahkan the poorest of the poor pada zaman Yesus – mereka yang mungkin telah ditimpa kemiskinan dan rupa-rupa kemalangan secara habis-habisan, merasa yakin bahwa mereka dapat datang kepada Yesus untuk mohon pertolongan-Nya. Mereka sangat percaya bahwa apabila mereka datang kepada-Nya dan dijamah oleh-Nya, maka mereka dapat disembuhkan.

Yesus menaruh belas kasih terhadap semua orang, keprihatinan-Nya tidaklah terbatas pada situasi-situasi sulit yang dihadapi oleh orang-orang tertentu saja. Beberapa saat sebelum orang buta itu disembuhkan, orang itu berseru “Anak Daud, kasihanilah aku!”, dan orang-orang yang berjalan di depan menegur dia supaya diam. Namun Yesus berhenti dan menyuruh orang-orang itu membawa orang buta itu kepada-Nya. Teguran mereka mungkin saja disebabkan rasa marah, malu atau alasan lain, karena yang berseru (catatan: berteriak-teriak) itu adalah seorang pengemis buta … “Wong Cilik”. Sebenarnya apakah yang mau diingatkan oleh Lukas dalam hal ini? Sebuah pesan bagi para pemimpin Gereja untuk jangan sampai mengabaikan kebutuhan-kebutuhan orang-orang miskin dan kurang beruntung. Ini adalah sebuah pesan penting, bahkan sampai hari ini, tidak hanya bagi para pemimpin Gereja tetapi juga bagi semua orang Kristiani.

Peristiwa ini juga menunjukkan pertumbuhan iman dan pemahaman si pengemis buta itu akan Yesus. Mula-mula dia memanggil Yesus sebagai “Anak Daud” (Luk 18:38), sebuah gelar mesianis yang mengandung makna bahwa Yesus diutus oleh Allah guna mewujudkan Kerajaan-Nya. Kemudian dia menyapa Yesus sebagai Tuhan (Luk 18:41; Inggris: Lord; Yunani: Kyrios). Kyrios diakui Gereja Perdana sebagai sebuah gelar Kristologis, yang mengkontraskan Allah yang satu dan Tuhan, dengan banyak ilah dan tuhan di dunia Yunani. Iman si pengemis buta menyembuhkan dia dari kebutaannya, dan akhirnya membuat dia mengikuti Yesus dalam perjalanannya ke Yerusalem. Dalam hal ini ada pelajaran bagi kita semua: Pemahaman kita akan Yesus harus selalu bertumbuh dan semakin mendalam. Adalah iman kita yang memperkenankan Allah bekerja dalam hidup kita, yang pada gilirannya memperkaya pemahaman kita tentang siapa Yesus itu.

DOA: Tuhan Yesus, seperti si pengemis buta di pinggir dekat Yerikho, aku menyadari bahwa diriku juga membutuhkan pencurahan belas kasih-Mu. Aku sadar sepenuhnya bahwa aku juga buta dan mohon kepada-Mu agar menyembuhkan “kebutaan” hatiku sehingga dengan demikian aku mampu melihat dan mengenal kebenaran yang sejati, yaitu Engkau sendiri yang adalah “Kebenaran, Jalan dan Hidup”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN ORANG BUTA ITU TELAH MENYELAMATKAN DIRINYA” (bacaan tanggal 20-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 November 2017 [Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, Ratu] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DAPAT MEMBERDAYAKAN KITA MASING-MASING

YESUS DAPAT MEMBERDAYAKAN KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXIII [TAHUN A] – 19 November 2017) 

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorng lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu  talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.”  (Mat 25:14-30) 

Bacaan Pertama: Ams 31:10-13,19-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5; Bacaan Kedua: 1Tes 5:1-6

Kebanyakan dari kita barangkali akan mengidentifikasikan diri kita lebih-lebih dengan hamba yang ketiga dalam perumpamaan Yesus tentang talenta ini. Betapa cepat kita merasa takut bahwa kita akan kehilangan sesuatu yang sedikit, yang kita pikir kita miliki. Kita bahkan berkecenderungan untuk melihat hasil dari perumpamaan ini sebagai sesuatu yang tidak/kurang adil. Mengapa mereka yang sudah mempunyai banyak malah diberi lebih banyak lagi?

Butir pengajaran pokok dari perumpamaan Yesus hari ini bukanlah tentang “adil” atau “tidak adil”, melainkan bahwa Yesus dapat memberdayakan kita masing-masing agar dapat menghasilkan buah-buah berlipat ganda terkait Injil-Nya dan semuanya itu malah jauh melampaui ekspektasi kita yang biasa. Hidup baru yang ditanamkan dalam diri kita pada saat kita dibaptis memiliki suatu potensi yang menakjubkan agar kita menghasilkan buah berlimpah dalam pelayanan kita bagi Allah dan sesama. Dengan kuat-kuasa Roh Kudus dalam diri kita, sungguh banyaklah perbuatan baik yang dapat kita lakukan.

Pikirlah dan bayangkanlah potensi kerusakan yang dapat diakibatkan oleh seorang Kristiani terhadap rencana-rencana jahat Iblis, asal saja dia mau bekerja sama dengan Roh Kudus. Seorang pribadi manusia yang relatif sederhana dan tidak dikenal sekali pun dapat digunakan oleh Allah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti penyembuhan orang sakit, mempertobatkan seorang saudari/saudara yang sedang berada dalam jalan yang salah, mewujudkan rekonsiliasi dlsb. Pikirlah dan bayangkanlah seorang ibu yang mengajar anak-anaknya untuk bertumbuh dalam jalan Tuhan. Hari demi hari, pekan yang satu disusul oleh pekan lainnya, dia membawa masuk pemerintahan Kristus ke dalam hidup anak-anaknya, dan hal tersebut berpengaruh juga atas generasi-generasi selanjutnya.

Atau, pikirlah dan bayangkanlah seorang Kristiani yang sungguh merupakan seorang pendengar yang berbela-rasa dan seorang sahabat sejati dari seorang rekan kerja yang sedang ditindih beban berat hidup ini. Orang Kristiani seperti ini dapat membawa kesembuhan tidak hanya pada diri rekan kerjanya tersebut, melainkan pada keluarga rekan kerjanya itu juga. Atau, bagaimana dengan seorang siswa SMU yang menjadi saksi Kristus yang baik –  lewat sikapnya, kata-katanya dan perbuatannya – di sekolahnya. Pikirlah dan bayangkanlah berapa banyak siswi-siswa lain yang dapat dipengaruhinya sehingga mereka pun mempunyai ekspektasi positif bahwa Allah akan bekerja dalam hidup mereka juga.

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Allah dapat menggunakan diri kita untuk turut ambil bagian dalam memajukan Kerajaan-Nya? Marilah kita masing-masing melangkah maju dalam iman pada pekan ini dan melihat perbedaan apa saja yang dapat kita perbuat dalam keluarga kita, komunitas kita, paroki kita dlsb. Perkenankanlah Roh Kudus untuk memerintah dalam hidup kita, dan perhatikanlah buah-buah baik sebagai hasilnya.

DOA: Roh Kudus, aku memperkenankan Engkau untuk bekerja lebih mendalam lagi dalam hidupku. Datanglah dan penuhilah diriku dengan kuat-kuasa dan karunia-karunia, sehingga dengan demikian aku dapat menghasilkan buah untuk Kerajaan Surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan yang berjudul “MELIPAT-GANDAKAN TALENTA KITA MASING-MASING” (bacaan untuk tanggal 19-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacan tanggal 16-11-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2017 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEORANG HAKIM YANG TIDAK TAKUT KEPADA ALLAH

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEORANG HAKIM YANG TIDAK TAKUT KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Sabtu, 18 November 2017)

Ordo Klaris Kapusin (OSCCap.): Peringatan B. Salomea, Perawan 

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8) 

Bacaan Pertama: Keb 18:14-16,19:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-3,36-37,42-43 

Kita melihat begitu banyak terjadi ketidak-adilan dan keserakahan pada banyak tempat di dunia ini, termasuk di negeri kita tercinta ini. “Wong Cilik” diperlakukan dengan semena-mena tanpa mempedulikan sedikit pun hak-hak azasi mereka.  Bahkan dalam hidup kita sendiri pun, tentunya kita juga mengalami di sana-sini “ketidak-adilan” itu. Kita merasa tak berdaya dan tidak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi. Dalam situasi-situasi seperti ini hati kita berseru: “Akankah Allah menurunkan keadilan atas mereka yang tak bersalah?”

Yesus menjamin bahwa seruan kita tidaklah percuma. Dalam perumpamaan Yesus ini, sang janda merupakan personifikasi dari orang yang paling rentan dalam masyarakat, yang paling mudah dilecehkan oleh orang lain. Dalam ketidak-berdayaannya dia mohon kepada Pak Hakim untuk membela hak-haknya. Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk menolongnya, tidak mempunyai kedudukan sosial sebagai orang terpandang, tidak pula mempunyai uang dan kuasa. Sekarang, secara lengkap dia tergantung pada good-will Pak Hakim. Tetapi Pak Hakim ini bukanlah seorang yang memikirkan masalah keadilan, dia tidak takut kepada Allah dan tidak juga menaruh respek kepada orang-orang lain. Oleh karena itu kelihatannya permohonan sang janda itu akan sia-sia belaka. Namun demikian, permohonan sang janda yang tabah-ulet ini akhirnya meluluhkan hati Pak Hakim karena dia sudah merasa begitu terganggu oleh permohonan-permohonan sang janda yang datang secara bertubi-tubi.

Dari perumpamaan ini Yesus menarik tiga buah kesimpulan yang harus diterapkan dalam hidup kita. Pertama, kalau Pak Hakim yang tidak jujur itu mau mendengarkan permohonan sang janda, maka lebih-lebih lagi Allah yang menurunkan keadilan kepada mereka yang dikasihi-Nya manakala mereka berseru kepada-Nya secara terus-menerus. Allah adalah “seorang” Bapa penuh-kasih yang membela orang-orang yang tak bersalah. Allah mendengarkan dan menjawab seruan-seruan kita. Kedua, Allah tidak akan menunda lama-lama. Dengan “cepat” Ia akan menjawab doa-doa umat beriman. “Cepat” bukan berarti doa kita “langsung” dijawab-Nya, karena mungkin saja Dia masih menunda. Namun demikian mengapa Allah tidak langsung menjawab permohonan kita? Pertanyaan ini membawa kita kepada butir berikutnya. Ketiga, Yesus mengakhiri perumpamaan-Nya dengan sebuah pertanyaan: “… jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:8). Pada waktu Yesus datang untuk menghakimi dunia, apakah masih ada orang yang berdoa untuk kedatangan-Nya dan percaya bahwa hal itu akan terjadi? Pertanyaan sebenarnya bukanlah apakah Allah akan membawa keadilan pada akhir zaman, melainkan apakah kita dengan penuh kepercayaan masih berpengharapan bahwa hal itu akan dilakukan-Nya? Allah menunda jawaban-Nya supaya memberikan kepada kita suatu kesempatan untuk memanifestasikan iman kita kepada-Nya. Iman yang ingin dilihat Allah dari kita adalah iman seperti iman sang janda dalam perumpamaan di atas. Kalau kita memiliki iman seperti itu, maka doa-doa kita pun tidak penuh diisi dengan berbagai permohonan dari seorang peminta-segala, akan tetapi diisi dengan pengharapan penuh sukacita. Marilah kita mengikuti contoh sang janda yang tekun ini sementara kita menempatkan segala kebutuhan kita di hadapan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar menjadi lebih yakin lagi akan kebaikan-Mu dan berilah aku kesabaran yang diperlukan untuk mampu melihat perkembangan segala sesuatu seturut kehendak-Mu. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, keberanian untuk bertekun dalam doa-doaku, walaupun selagi Engkau memberikan damai-sejahtera kepadaku karena mengetahui bahwa Engkau akan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “MENYERAHKAN HIDUP KITA SEPENUHNYA KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 18-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2017 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, yang bersama S. Ludovikus IX adalah Orang-orang Kudus Pelindung OFS – Jumat, 17 November 2017)

 

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: Keb 13:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Hampir semua orang merasa tidak enak kalau merenungkan masalah akhir zaman. Namun demikian Yesus membahas hal-ikhwal akhir zaman ini dengan para murid-Nya, dan Gereja mengundang kita semua untuk merenungkan janji-janji-Nya tentang apa yang akan datang kelak. Yesus membuat jelas kepada para murid-Nya bahwa semua pengikut-Nya harus percaya akan kedatangan-Nya untuk kedua kali kelak.

Yesus mengatakan bahwa akhir sejarah umat manusia akan menyangkut suatu “perpisahan”. Ia bersabda, “Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling  gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (Luk 17:34-35). Kebudayaan modern cenderung untuk mengabaikan “peringatan akan suatu penghakiman”. Banyak orang merasa bahwa Allah yang penuh kasih tidak akan menghukum siapa pun. Namun jelaslah bahwa Yesus mengajarkan bahwa Bapa surgawi telah memberikan kepada-Nya wewenang penuh untuk menghakimi dunia. Dalam kesempatan lain Ia bersabda: “Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia” (Yoh 5:23-24). Akan tetapi hanya Allah sajalah yang menentukan kapan “perpisahan” itu akan terjadi. Situasi umat manusia zaman sekarang tidak ubahnya dengan zaman Nuh (lihat Luk 17:26-27). Manusia akan melanjutkan rutinitas kehidupan mereka sampai kedatangan waktu yang ditentukan Allah itu.

Kita dapat dengan mudah menjadi takut akan hal-hal yang akan terjadi pada hari-hari terakhir bumi ini. Bukanlah maksud Yesus untuk menakut-nakuti kita, melainkan untuk menyiapkan kita akan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya kelak. Yesus mengingatkan para murid-Nya: “Ingatlah akan istri Lot!” (Luk 17:32). Kita ketahui bahwa istri Lot menolak pesan dari malaikat: ia menoleh ke belakang, artinya dia mau tetap berpaut pada masa lampaunya; dan dia menjadi tiang garam (lihat Kej 19:26).  Yesus bersabda: “Siapa  saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Luk 17:33). Roh Kudus akan mengajarkan kepada kita tentang apa artinya melepaskan diri kita dari keterlekatan pada kehidupan dunia dan mencari dulu Kerajaan Allah (lihat Mat 6:33).

Yesus tidak pernah menyembunyikan apa pun dari para murid-Nya. Bagi mereka yang menolak tawaran Allah untuk hidup dalam Kristus, akan ada penderitaan. Namun demikian, kabar baiknya adalah bahwa bila Yesus datang kembali kelak, Ia akan membawa serta kita kepada suatu hidup penuh kemuliaan. Hidup mulia seperti itu dapat dimulai sekarang, melalui partisipasi kita dalam sakramen-sakramen (teristimewa Ekaristi); kehidupan doa kita; kegiatan membaca serta merenungkan firman Allah dalam Kitab Suci; dan berbagai kegiatan pelayanan-penuh-kasih kita kepada orang-orang lain (termasuk berbagai bentuk  evangelisasi, tentunya). Dengan membuat langkah-langkah sedemikian, kita sebenarnya menyiapkan hati kita untuk kedatangan hari mahapenting itu di mana Allah akan memanggil kita untuk datang menghadap-Nya dan hidup bersama-Nya. Bagi orang-orang yang mengenal Yesus dan menjalani hidup Injili seturut jejak-Nya secara pribadi dan intim, maka kedatangan-Nya kembali akan merupakan suatu peristiwa yang indah-menakjubkan dan penuh sukacita. Kita akan begitu terserap ke dalam kasih-Nya dan tertangkap oleh pemenuhan harapan-harapan dan impian-impian kita, sehingga tentunya akan meninggalkan segalanya yang ada pada kita di belakang kita , dan kita pun akan berlari-lari untuk menyambut kedatangan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, cepatlah datang. Aku sangat merindukan kedatangan-Mu. Aku tidak dapat menunggu untuk dapat bersama dengan-Mu, dan akhirnya memandang-Mu ‘muka ketemu muka’.  Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN KEMBALI YESUS KE DUNIA PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 17-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 November 2017 [Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan OFM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS