Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

APA SAJA YANG DIPERCAYAKAN OLEH ALLAH KEPADA SEORANG PRIBADI MANUSIA HARUSLAH BERBUAH

APA SAJA YANG DIPERCAYAKAN OLEH ALLAH KEPADA SEORANG PRIBADI MANUSIA HARUSLAH BERBUAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah – Rabu, 21 November 2018)

 

Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau  sudah tahu bahwa  aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (catatan: orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai supuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28) 

Bacaan Pertama: Why 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6

Perayaan Paskah sudah semakin mendekat. Kota Yerikho dipadati oleh kelompok-kelompok peziarah yang sedang menuju ke kota suci Yerusalem untuk merayakan Paskah – peringatan peristiwa pembebasan bangsa Yahudi dari tanah Mesir. Setiap orang berpikir inilah saatnya bagi Yesus untuk berjaya, dan Kerajaan Allah akan segera kelihatan … Dalam waktu singkat, di dekat pintu gerbang Yerusalem, mungkin hanya beberapa jam lagi, mereka akan mengelu-elukan sang “Putera Daud” sambil melambai-lambaikan daun palma (baca Luk 19:28 dsj.).

Sekitar sepuluh hari kemudian, dua orang murid dalam perjalanan menuju Emmaus akan mengungkapkan kekecewaan mereka dengan kata-kata berikut ini: “Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel” (Luk 24:21), dan lima puluh hari kemudian, para rasul-Nya masih saja bertanya kepada-Nya: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6).

Pada masa itu, sewaktu Santo Lukas menulis Injilnya, banyak peragu masih saja mempertanyakan dengan nada menghina: “Di mana janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapak-bapak leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan” (2Ptr 3:4).

Memang kelihatannya Allah seakan-akan membuat umat-Nya menanti dan menanti. Kita memang tidak banyak menyaksikan kemegahan Kerajaan-Nya! Sebenarnya Yesus telah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang ragu-ragu itu. Di manakah kita dapat memperoleh jawaban Yesus itu? Dalam ‘perumpamaan tentang uang mina’! …… “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali” (Luk 19:12-13).

Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus itu mengharapkan kedatangan sebuah Kerajaan, yang akan langsung diwujudkan di atas bumi ini. Yesus mencoba menjelaskan kepada mereka bahwa sebelum Kerajaan itu diwujud-nyatakan, akan akan semacam penundaan, dan selama masa penundaan itu Ia mempercayakan tugas serta tanggung jawab yang menyertai tugas itu kepada kita – para murid-Nya – yang hidup di atas bumi ini. Kurun waktu di dalam mana kita hidup bukanlah untuk “bermimpi”, melainkan untuk “bekerja”, melakukan pekerjaan yang akan “berbuah”. “Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami”  (Luk 19:14). Orang-orang yang hidup pada zaman Yesus sebenarnya mengharap-harapkan kedatangan sebuah Kerajaan yang penuh kemuliaan, sebuah Kerajaan yang berjaya dan mampu mengalahkan bangsa-bangsa lain. Yesus ingin para murid-Nya memahami, bahwa peresmian atau inaugurasi dari Kerajaan-Nya akan didahului dengan sebuah pemberontakan – katakanlah “revolusi” – melawan “RAJA” ini. Beribu-ribu tahun telah lewat, namun masih saja terngiang-ngiang di telinga kita (umat Kristiani yang hidup di abad ke-21 ini) apa saja yang diteriakkan dengan penuh kebencian oleh sebagian besar bangsa pilihan Allah: “Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami! …… Salibkan Dia! Salibkan Dia!” (Luk 23:18,21).

Sengsara Yesus …… Sengsara Allah karena ditolak oleh umat-Nya sendiri, adalah sebuah peristiwa sejarah yang sangat mengganggu nurani setiap insan yang normal. Yesus mempermaklumkan hal tersebut …… Ini adalah sebuah fenomena aktual – sebuah peristiwa dalam setiap zaman.

Di samping itu, Yesus sebenarnya membuat allusi pada suatu peristiwa historis yang baru saja terjadi sebelumnya: Arkhelaus (anak raja Herodes; lihat Mat 2:22) di mana kota Yerikho berada dalam kekuasaannya – pergi ke Roma untuk meminta gelar “Raja” dari Kaisar Agustus – namun sebuah delegasi yang terdiri dari 50 pemimpin Yahudi mengusahakan agar permohonan tersebut ditolak.

“Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing” (Luk 19:15). Mulai dari titik ini dalam “perumpamaan tentang uang mina” ini, kita dapat merasakan adanya keserupaan narasi antara perumpamaan ini dengan “perumpamaan tentang talenta” yang hanya terdapat dalam Injil Matius (Mat 25:14-30), dan dalam suatu konteks eskatologis yang serupa. Jangka waktu yang mendahului “Kerajaan Allah yang terlihat” adalah suatu masa di mana Allah sudah memerintah/meraja, namun belum kelihatan secara kasat mata. Ini adalah masa pengejaran dan penganiayaan. Ini adalah masa di mana iman umat diuji, …… masa untuk bertekun. Ini adalah masa untuk bekerja bagi Allah: “apa saja yang telah dipercayakan oleh Allah kepada seorang pribadi manusia haruslah berbuah” …… Ini adalah masa bagi kita untuk setia “dalam hal-hal kecil” (Luk 16:10) sampai saat di mana Allah mempercayakan kepada kita masing-masing dengan tugas dan tanggung jawab yang lebih penting: hamba yang berhasil mengelola uang mina diberikan kekuasaan untuk memerintah kota-kota. Ini adalah masa Gereja …… Ini adalah HARI INI. 

DOA: Bapa surgawi, banyak orang di segala zaman mengalami pengejaran dan penganiayaan karena iman mereka kepada-Mu dalam Yesus Kristus. Bila hal sedemikian terjadi atas diri kami, berikanlah kepada kami keberanian untuk tetap berpegang pada kebenaran-Mu – bahkan sampai mati sekali pun. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:11-28), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN YESUS TENTANG UANG MINA” (bacaan untuk tanggal 22-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 November 2018 [Peringatan S. Agnes dr Assisi, Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PERTOBATAN ZAKHEUS

PERTOBATAN ZAKHEUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Selasa, 20 November 2018)

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata kepadanya, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”  (Luk 19:1-10) 

Bacaan Pertama: Why 3:1-6,14-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5 

Belas kasih Allah dapat memberikan kepada kita suatu harapan yang dapat mengangkat kita kepada hadirat Allah. Walaupun Kitab Suci melihat dosa sebagai sesuatu yang melawan Allah, narasi Lukas tentang pertobatan Zakheus menunjukkan dengan jelas bahwa dalam Kristus Yesus, sikap Allah yang utama terhadap orang-orang yang bertobat dari dosa-dosa mereka adalah belas kasih dan pengampunan.

Zakheus sendiri tidak sampai melihat bahwa keinginan-tahunya tentang Yesus akan memimpinnya kepada suatu perubahan hidup. Yesus “datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 19:10). Motif sang kepala pemungut cukai, walaupun belum merupakan pertobatan sejati, merupakan sebuah pintu yang terbuka melalui mana Yesus akan masuk. Yesus mulai mencari orang kaya ini dengan menyatakan kepadanya belas kasih Allah. Orang-orang pada umumnya membenci Zakheus dan orang-orang seperti dirinya karena mereka merupakan para kolaborator dengan pihak bangsa Roma yang menjajah negeri Yahudi itu. Yesus mengejutkan setiap orang dengan mengundang diri-Nya sendiri untuk menginap di rumah orang yang dibenci rakyat itu. Keterbukaan sikap tidak ragu lagi merupakan daya penarik bagi Zakheus dan dia pun mulai mengalami perubahan. “Orang berdosa” ini menerima Yesus dengan sukacita, sementara banyak orang malah menggerutu (Luk 19:6-7).

Yesus penuh dengan kesabaran penuh pengharapan akan apa yang dapat dilakukan Allah dalam kehidupan seorang pendosa yang bertobat. Yesus tidak menjadi ciut hati dengan kehidupan dosa orang ini, karena Dia mengetahui bahwa “apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah” (Luk 18:27). Dengan kehadiran Yesus Kristus, sesuatu yang terasa sangat tidak mungkin – pertobatan seorang pendosa kelas kakap seperti Zakheus – menjadi kenyataan. Zakheus menunjukkan pertobatannya yang sejati lewat tindakannya; dalam sukacita dia memberikan separuh dari harta-kekayaannya kepada orang miskin (Luk 19:8). Perbuatan/tindakan seperti ini merupakan tanda dari suatu pertobatan batin (conversio) melalui suatu relasi dengan Yesus Kristus.

Bilamana kita melihat dosa dalam diri kita sendiri atau dalam dunia, tanggapan kita dapat berupa keputus-asaan dan ketiadaan pengharapan; bahkan kita dapat tergoda untuk berpikir bahwa tidak ada harapan samasekali. Akan tetapi hati Allah penuh dengan hasrat untuk memberikan pengampunan dan mengubah diri kita. Penulis Kitab Kebijaksanaan Salomo menulis: “Dari sebab itu orang-orang yang jatuh Kauhukum berdikit-dikit, dan Kautegur dengan mengingatkan kepada mereka dalam hal manakah mereka sudah berdosa, supaya percaya kepada Dikau, ya Tuhan, setelah mereka menjauhi kejahatan itu” (Keb 12:2).

Pada hari ini kita didesak untuk menerima keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Selagi kita menyerahkan diri kepada-Nya dengan penuh sukacita, maka perbuatan-perbuatan belas kasih kita tidak lagi sekadar merupakan tugas-tugas yang dilakukan untuk menyenangkan Allah yang jauh di sana. Sebaliknyalah, tindakan-tindakan kasih ini merupakan kesaksian kepada dunia bahwa Yesus Kristus hadir dalam hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengenal Engkau lebih mendalam lagi. Datanglah, ya Tuhan, dan penuhilah hidupku dengan Roh Kudus-Mu. Berikanlah aku iman agar sungguh mau dan mampu percaya bahwa Engkau sungguh merupakan Juruselamatku satu-satunya. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “HARI INI TELAH TERJADI KESELAMATAN KEPADA SEISI RUMAH INI” (bacaan tanggal 20-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 November 2018 [Peringatan S. Agnes dr Assisi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN ORANG BUTA ITU TELAH MENYELAMATKAN DIRINYA

IMAN ORANG BUTA ITU TELAH MENYELAMATKAN DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Senin, 19 November 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Agnes dr Assisi, Perawan (Ordo II)

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43) 

Bacaan Pertama: Why 1:1-4; 2:1-5; Mazmur Tanggapan:  1:1-4,6

“Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Luk 18:42)

Begitu sering kita membaca, bahwa ketika Dia menyembuhkan seorang buta atau lumpuh, atau  yang menderita sakit-penyakit lainnya, Yesus mengatakan kepada orang itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” , misalnya kepada seorang dari sepuluh orang kusta yang disembuhkannya (Luk 17:19); kepada perempuan berdosa yang mengurapinya (Luk 7:50).

Iman memberikan kepada kita visi batiniah mendalam, yang lebih penting  daripada karunia kesembuhan itu sendiri, seperti membuat mata orang dapat melihat. Seorang yang memiliki iman memiliki mata terbuka yang dapat melihat jari-jari Allah bergerak menelusuri rencana hidupnya di dunia ini.

Dalam segala hal yang diamatinya, seorang insan beriman senantiasa memandang Allah dulu. Barangkali cara terbaik adalah menggambarkan dengan suatu kontras: seorang pribadi manusia yang mengikuti jalan Allah dan seorang baik, namun dari dunia ini – katakanlah bahwa dia adalah seorang yang percaya pada ilmu pengetahuan semata. Mengapa kita sampai membanding-bandingkan seperti itu. Karena ada kecenderungan di dunia modern untuk mencari kontradiksi-kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan Allah, seakan-akan Allah sang Mahapencipta bukanlah penguasa, sumber dan motor dari ilmu pengetahuan itu. Mereka tidak melihat bahwa ilmu pengetahuan pun sebenarnya adalah ciptaan Allah. Mereka berpandangan seakan-akan ilmu pengetahuan dapat menghalangi pancaran dari sumber pengetahuan yang jauh lebih tinggi.

Pada dasarnya  asumsi sedemikian dapat mengerucut pada pandangan bahwa benda-benda bukanlah pribadi-pribadi, maka kita tidak dapat mempunyai pribadi-pribadi; atau apabila kita menerima keberadaan pribadi-pribadi, maka kita tidak dapat percaya kepada benda-benda. Mengapa kita tidak mempunyai dua-duanya? Bukankah kita mempunyai bukti-bukti dari keberadaan pribadi-pribadi dan benda-benda? Apakah tidak mungkin bagi kita untuk mengenal baik ciptaan maupun sang Pencipta?

Bagaimana seorang ilmuwan memandang dunia ini? Ia mempelajari benda-benda dan hubungan antara benda-benda ini dan hukum yang mengatur hal-ikhwal benda-benda. Dunia kita memang terbuat dari benda-benda – unsur-unsur, kombinasi-kombinasi, dan hukum yang mengatur semua itu.

Di lain pihak seorang pendoa, yang melihat dunia yang sama, mencari seorang Pribadi: Orang itu mempelajari tindakan pribadi, tujuan, rencana dengan mana Pribadi termaksud menggerakkan dunia.

Mengapa hal-hal ini harus menjadi kontradiktif? Para ilmuwan mencari hukum, sedangkan seorang beriman berbicara dengan sang Pembuat Hukum itu. Sang ilmuwan mengejar pengetahuan: ia menyelidiki hal-hal yang dapat diamati, ia membuat klasifikasi atas benda-benda yang diselidiki, lalu mencari penyebab sekunder dari semua itu.

Seorang pendoa mencari suatu relasi pribadi, dia menanggapi sang Pribadi yang telah memberikan hukum-hukum dan sebab-sebab dari makna hukum-hukum itu. Dia juga mencari pengetahuan, namun demi Kasih. Inilah pribadi manusia yang dipuji oleh Yesus ketika mengatakan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau!” Kita juga kiranya dapat mendengar seakan Yesus berkata: “Engkau telah melangkah melampaui benda-benda, sehingga sampai kepada suatu rasa percaya pada diri sang Pribadi yang sebenarnya adalah sumber dari segala sesuatu yang baik. Dan rasa percayamu, imanmu, kasihmu telah bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam hidupmu.” 

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami datang menghadap hadirat-Mu seperti orang buta di dekat Yerikho, tanpa rasa ragu dan tanpa rasa takut. Bukalah mata hati kami sehingga dengan demikian kami dapat memandang diri-Mu dalam segala kemurnian, kasih, dan kesetiaan. Yesus, Putra Daud, kasihanilah kami! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEORANG BUTA DI DEKAT KOTA YERIKHO” (bacaan tanggal 19-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  15 November 2018 [Pesta Wafatnya B. Marie de la Passion, Pendiri FMM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UMAT PEZIARAH YANG SEDANG MENUJU RUMAH BAPA

UMAT PEZIARAH YANG SEDANG MENUJU RUMAH BAPA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXIII [TAHUN B] – 18 November 2018)

“Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Pada waktu itu juga Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.

Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.

Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” (Mrk 13:24-32) 

Bacaan Pertama: Dan 12:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:5-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:11-14,18

Walaupun kita sekarang masih berada pada pertengahan bulan November, Gereja pada Misa Kudus hari ini menatap ke akhir dari tahun liturgi, yang jatuh pada hari Minggu yang akan datang, dan tentunya menatap ke akhir zaman di mana Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Apakah hari yang mahapenting itu sudah dekat atau masih jauh di masa depan, kita tidak tahu. Sekali lagi: kita tidak tahu! Walaupun demikian, hari itu penting sekali bagi kita semua, dan kita harus mengakui bahwa dengan berjalannya waktu – hari lepas hari – kita terus melangkah maju dan menjadi semakin dekat dengan hari itu.

Bacaan pertama hari ini yang diambil dari Kitab Daniel, dan juga bacaan Injil mengajar kita – walaupun dengan menggunakan imaji-imaji yang sangat kompleks – tentang kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Kedatangan kedua kali dari Yesus yang bersifat final ini adalah keprihatinan setiap Misa Kudus yang kita rayakan. Lagu Aklamasi Anamnesis dalam Doa Syukur Agung dengan jelas merujuk kepada kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Imam mengajak umat: “Marilah menyatakan misteri iman kita.” Umat menjawab: “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan.” Lihatlah beberapa alternatif Aklamasi Anamnesis lainnya. Setelah doa “Bapa Kami”, ada doa sisipan atau Embolisme yang diucapkan oleh Imam Selebran. Salah satu contohnya: “Ya Bapa, bebaskanlah kami dari segala yang jahat dan berilah kami damai-Mu. Kasihanilah dan bantulah kami supaya selalu bersih dari noda dosa dan terhindar dari segala gangguan, sehingga kami dapat hidup dengan tenteram, sambil mengharapkan kedatangan Penyelamat kami Yesus Kristus.” Umat yang hadir menjawab: “Sebab Engkaulah Raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya.” Bukankah ini juga merujuk kepada kedatangan Yesus untuk kedua kalinya?

Jadi, sebagai umat yang sudah lama berada dalam perjalanan ziarah untuk kembali ke rumah Bapa – kita harus senantiasa menatap ke depan, yaitu kepada Yesus yang akan datang ke dunia untuk kedua kalinya. Rumah berarti tempat untuk beristirahat dan juga tempat yang nyaman, dan suatu akhir dari segala beban yang kita pikul dan juga ketidaknyamanan selama perjalanan ziarah kita. Rumah Bapa, yang juga merupakan rumah kita bersama, adalah akhir dari perjalanan kita, namun itu adalah awal dari hidup kekal yang sungguh membahagiakan.

Selagi kita melakukan perjalanan ziarah dalam hidup ini, kita perlu memiliki suatu sikap yang seimbang (a balanced attitude). Kita tidak dapat hanya memikirkan surga saja seakan hidup di dunia ini tidak bernilai dan tanpa tujuan sama sekali, namun di lain pihak kita sangat bodoh kalau menjalani hidup dengan hanya memikirkan eksistensi kita di dunia. Karena kita begitu disibukkan dengan pemenuhan berbagai kebutuhan hidup di dunia guna menopang hidup keluarga, kenikmatan hidup duniawi, barangkali kebanyakan dari kita perlu mengingat bahwa ada hal yang jauh lebih besar terkait eksistensi kita daripada sekadar yang kita alami sekarang.

Ada dua titik ekstrim dalam hidup kita di mana kita harus mengingat bahwa ada banyak hal lagi yang akan datang. Pertama-tama adalah ketika kita mengalami penderitaan pada titiknya yang tertinggi, pada waktu kita menderita frustrasi total dan hampir mengalami keputusasaan; segalanya terasa gelap. Memang cukup pantas bagi seorang beriman untuk mencari penghiburan dan pengharapan bahwa Allah merencanakan  sesuatu yang lebih baik bagi kita, bahwa kita harus menderita dan bahkan mati seperti Yesus sendiri, sehingga dengan demikian kita dapat masuk ke dalam kebahagian tanpa akhir yang telah dipersiapkan Allah bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Titik kedua adalah ketika hidup kita terasa paling nikmat, ketika semua berjalan dengan baik bagi kita dsb.; di sini barangkali kita luput untuk memikirkan Allah dan kebaikan-Nya, … kita lupa. Mengapa? Karena pikiran kita mengatakan bahwa kita tidak membutuhkan Allah, puas dengan segala yang kita miliki dan terjadi dengan diri kita. Memang bukan hal yang aneh bagi orang-orang tertentu untuk berpaling kepada Allah dan berdoa kepada-Nya hanya jika adalah kebutuhan yang besar, yang mendesak, masalah hidup atau mati, misalnya dalam suasana perang atau setelah mengalami bencana hebat seperti gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, tsunami dlsb. Kita harus memandang saat-saat baik sebagai “icip-icip” dari apa yang akan datang, dengan demikian memuji dan bersyukur kepada Allah selagi mengalami semua itu karena kebaikan-Nya kepada kita.

Secara sederhana, baik pada saat-saat semua baik atau pun buruk, layaklah bagi seseorang beriman untuk hidup dengan mata yang memusatkan perhatian pada surga. Kita adalah umat yang sedang berziarah, dan kita tidak pernah boleh luput melihat tujuan perjalanan ziarah kita. Di lain pihak, kita tidak boleh memusatkan perhatian kita pada surga dengan menggunakan kedua biji mata kita. Hidup ini dan dunia ini mempunyai makna dan tujuan. Kita semua adalah anak-anak Allah dan kepada kitalah Dia mempercayakan dunia ciptaan-Nya ini. Rencana-Nya adalah bahwa segenap ciptaan akan secara perlahan-lahan menuju suatu saat penyempurnaan, dan kita adalah bagian dari rencana itu. Apakah yang kita lakukan – melalui bantuan rahmat Allah – untuk berkontribusi terhadap pembangunan ciptaan, sampai Yesus Kristus menyelesaikan pekerjaan-Nya melalui kuat-kuasa penebusan kematian dan kebangkitan-Nya.

Dengarlah ajaran Konsili Vatikan II yang indah ini: “… pria maupun wanita, yang – sementara mencari nafkah bagi diri maupun keluarga mereka – melakukan pekerjaan mereka sedemikian rupa sehingga sekaligus berjasa-bakti bagi masyarakat, memang dengan tepat dapat berpandangan, bahwa dengan jerih-payah itu mereka mengembangkan karya Sang Pencipta” (Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, 34). Hidup ini bermakna sebagai bagian dari rencana Allah.

Dalam setiap Perayaan Ekaristi, kita diingatkan bahwa kita adalah umat yang sedang berziarah. Berjalan dalam prosesi untuk menyambut Komuni Kudus adalah sebuah tanda liturgis berkenan dengan perjalanan spiritual kita. Dan sebagai suatu umat peziarah kita mempunyai makanan untuk menopang hidup kita, Ekaristi. Kitab berdiri untuk menerima Komuni Kudus, karena berdiri adalah tanda kuno dalam Gereja dari kebangkitan Kristus. Makanan ini adalah jaminan, janji sehubungan dengan keikutsertaan kita dengan kebangkitan Kristus, yang telah berjanji, “Siapa saja yang makan daging-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). Kita berasal dari Allah dan berada dalam perjalanan ziarah ke suatu tujuan – karunia hidup kekal-abadi melalui keikutsertaan kita dalam kebangkitan Kristus.

Kita harus menjalani kehidupan di dunia ini, namun marilah kita melaksanakannya  tanpa rasa cemas dan kekhawatiran, karena kita percaya bahwa dengan ketaatan penuh rendah hati kepada Yesus kita akan sampai pada tujuan kita, rumah Bapa.

DOA:  Tuhan Yesus, Engkau adalah andalanku. Aku menyerahkan hidupku sepenuhnya kepada-Mu, ya Tuhan. Aku memohon pertolongan-Mu agar aku selalu sanggup menanggung beban-beban dalam perjalanan ziarahku di dunia. Ajarlah aku agar senantiasa penuh keyakinan akan kehadiran-Mu. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 13:24-32), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN-NYA KEMBALI PADA AKHIR ZAMAN ADALAH SEBUAH PERISTIWA PENUH SUKACITA” (bacaan tanggal 18-11-8) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

Cilandak, 14 November 2018 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENYERAHKAN HIDUP KITA SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

MENYERAHKAN HIDUP KITA SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, Orang Kudus Pelindung Ordo Fransiskan Sekular – Sabtu, 17 November 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Elisabet dr Hungaria 

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8) 

Bacaan Pertama: 3Yoh 5-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6 

Apakah pandangan anda tentang Allah? Apakah anda melihat Dia sebagai seorang hakim yang tidak adil? Apakah anda pikir anda harus membujuk-Nya dulu sebelum Ia benar-benar mau memperhatikan anda? Betapa mudahlah bagi kita untuk menjadi salah paham tentang cara Allah bekerja! Betapa cepatnya kita mengembangkan persepsi-persepsi yang keliru berdasarkan cara kita menafsirkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita. Namun kebenaran yang sejati tetap tegak, yaitu bahwa Allah kita adalah Allah yang sangat mengasihi dan adil. Kita dapat mengandalkan Dia untuk memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan.

Hakim dalam perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini adalah seorang hakim yang jahat dan tidak mengindahkan moralitas. Menurut Hukum Yahudi (Ul 24:17-22), si janda mempunyai hak untuk memohon pertolongan dari hakim tersebut. Pada kenyataannya, hakim itu harus memberikan prioritas atas permintaan si janda. Namun, sebaliknyalah yang terjadi: Bapak Hakim itu menolak terus permintaan si janda agar hak-haknya dibela olehnya sebagai hakim demi keadilan. Tetapi si janda tidak putus asa dan ia terus mendatangi Pak Hakim dengan permintaan yang sama, sehingga pada akhirnya pun Pak Hakim membenarkan/meluluskan permintaan si janda.

Berlawanan dengan sikap si hakim yang jahat itu, Allah kita itu mahaadil, mahasetia dan mahapengasih. Ada kemungkinan kita tidak memperoleh jawaban yang langsung atau instan terhadap doa-doa kita, namun kita tidak perlu khawatir dan putus-asa. Ada saat-saat di mana Allah menunda jawaban-Nya terhadap doa kita agar dapat mengajar kita bagaimana menaruh kepercayaan kepada-Nya. Ada kalanya juga jawaban yang kita pikir sebagai jawaban terbaik sebenarnya dapat menyakiti diri kita.

Memang tidak mudahlah untuk mempercayakan segala urusan kita kepada Allah. Kita tidak dapat mengharapkan untuk memahami mengapa dan bagaimana Allah memilih untuk menjawab doa-doa kita – karena kita tidak mengetahui tujuan-tujuan ilahi-Nya. Akan tetapi, kita dapat berpaling kepada Yesus dan memohon kepada-Nya agar menunjukkan cara/jalan untuk menaruh kepercayaan dan jalan ketaatan. Yesus sepenuhnya mempasrahkan hidup-Nya kepada Allah Bapa. Bahkan di tengah penderitaan fisik, emosional dan spiritual, Yesus dengan setia dan taat merangkul kehendak Bapa-Nya. Di taman Getsemani Yesus berdoa kepada Bapa-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi” (Luk 22:42). Paulus menulis tentang perendahan diri Yesus dan ketaatan-Nya kepada Bapa surgawi sampai mati di kayu salib. Sebagai akibatnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemulian Allah, Bapa! (Flp 2:6-11).

Kita semua dapat mengenal dan mengalami kasih Allah seperti Yesus. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa berdoa dengan penuh ketekunan dan menanti untuk melihat bagaimana Allah akan menanggapi doa-doa kita dalam kasih. Allah sungguh mengasihi kita. Apabila ada sesuatu yang tidak bekerja seperti kita rencanakan, janganlah kita cepat-cepat merasa putus-asa atau mulai menggerutu, bahkan menyalahkan Allah. Marilah kita merenungkan teladan hidup Yesus sendiri  dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Allah Bapa mempunyai pemikiran terbaik bagi Yesus dan tentu Ia juga mempunyai pemikiran yang terbaik bagi kita – walaupun dalam sikon-sikon paling sulit yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Sudah sepantasnyalah bagi kita untuk mempercayai Allah dan cara kerja-Nya. Yang jelas kasih-Nya kepada kita akan tetap ada, karena Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16).

DOA: Bapa surgawi, ampunilah kami apabila kami kadang-kadang berpikir bahwa Engkau telah berlaku tidak adil terhadap kami dan tidak mengasihi kami. Kami ini lemah dan tidak mampu memahami cara-cara atau jalan-jalan-Mu, ya Bapa. Tolonglah kami dalam kelemahan kami ini dan kuatkanlah kami selagi kami bertekun dalam doa kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “MENGENAL KEBAIKAN ALLAH DAN KESETIAAN-NYA” (bacaan tanggal 17-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2018 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KE DUNIA PADA AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KE DUNIA PADA AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Jumat, 16 November 2018)

 

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: 2Yoh 4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1,2,10-11,17-18 

Sungguh tidak mudah untuk memahami kasih Allah bagi kita seperti halnya dalam sejumlah sabda Yesus, teristimewa ketika Dia berbicara mengenai kedatangan-Nya untuk kedua kali. Bahkan barangkali kita memandang kedatangan Kerajaan Allah sebagai saat-saat sulit-menakutkan, ketika keselamatan kita berada di luar jangkauan dan “burung-burung nasar” sudah berterbangan di langit. Namun ini bukanlah gambaran yang Yesus inginkan kita ambil dari bacaan ini. Yesus datang untuk memberikan hidup berkelimpahan kepada kita: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Yesus tidak datang untuk memberi keselamatan kepada kita yang kita sendiri tidak mampu untuk mencapainya.

Sebagai umat Kristiani, kita telah diangkat dari kematian dan dibawa ke dalam kehidupan oleh  belas kasih (kerahiman) Allah dan cintakasih-Nya. Kita sudah diselamatkan. Sebelum kita menerima Yesus ke dalam hati kita, sesungguhnya kita tidak ubahnya seperti domba tanpa gembala – hilang di hutan belantara, mangsa yang empuk bagi musuh-musuh kita. Namun hal tersebut tidak lagi begitu. Kita adalah anak-anak Allah. Masing-masing kita adalah bait Roh Kudus. Dan …… posisi kita dalam Kristus sudah terjamin!

Jadi, daripada terus-menerus dirundung rasa khawatir dan takut, kita seharusnya dipenuhi dengan sukacita! Kita telah dibawa dekat kepada Allah oleh darah Kristus. Dengan hidup dalam Roh-Nya, kita dapat berjalan dalam terang kasih-Nya dan mengenal serta mengalami kebebasan yang semakin meningkat, …… kebebasan dari dosa dan keterikatan. Kita tidak perlu lagi merasa khawatir dan takut akan hidup kita. Sebaliknya, kita harus merasa khawatir dan takut bagi mereka yang belum percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat – mereka yang hilang di tengah hutan belantara dosa dan ketidakpedulian.

Kita sudah merangkul keselamatan yang diberikan oleh-Nya dan hidup dalam ketaatan dan kasih akan Allah. Oleh karena itu kita dapat bertindak seturut “Amanat Agung” yang diberikan oleh Yesus Kristus sebelum Ia diangkat ke surga (lihat Mat 28:19-20), yaitu menyebarkan Kabar Baik-Nya dalam kata-kata maupun perbuatan/tindakan kita. Kita dapat menjadi seorang pewarta Kabar Baik yang memberi kesaksian atas kasih dan kerahiman Allah. Dalam nama Yesus kita dapat mengundang mereka ke dalam Kerajaan Allah.

Dengan demikian, marilah kita singkirkan segala kekhawatiran dan keraguan kita. Diri kita dapat dipenuhi dengan kuat-kuasa Roh Kudus. Marilah kita menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya pada akhir zaman. Bagaimana? Dengan setiap hari hidup dalam keakraban dengan Yesus. Persenjatailah diri anda dengan doa-doa syafaat bagi orang-orang yang tidak/belum percaya kepada Yesus. Mulailah dengan mereka yang anda sudah kenal: para anggota keluarga yang bukan Kristiani, para teman dan sahabat serta kenalan-kenalan lainnya. Baiklah anda melangkah dalam iman, dengan penuh keyakinan bahwa Allah sesungguhnya ingin menyelamatkan setiap orang di atas bumi ini.

Semoga kesaksian kita atas kuat-kuasa Injil akan menarik banyak orang kepada Allah yang adalah kasih, sehingga dengan demikian tidak ada lagi kesempatan bagi “burung-burung nasar” untuk ramai-ramai berkerumun dan memangsa pada saat Tuhan Yesus datang kembali kelak!

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mengenal Engkau lebih dalam lagi. Penuhilah hati kami dan perkenankanlah kami masing-masing mendengar suara-Mu, agar dapat menjadi berkat bagi orang-orang lain. Perkenankanlah kami, para murid-Mu, melihat Engkau datang dalam kemuliaan pada akhir zaman, saat di mana kegelapan pada akhirnya akan disingkirkan dari tengah-tengah kami. Dimuliakanlah nama-Mu senantiasa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan yang berjudul “PADA HARI ANAK MANUSIA DINYATAKAN” (bacaan tanggal 16-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2018 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DARI SEPULUH ORANG YANG DISEMBUHKAN YESUS HANYA SEORANG SAJA YANG BERTERIMA KASIH KEPADA-NYA

DARI SEPULUH ORANG YANG DISEMBUHKAN YESUS HANYA SEORANG SAJA YANG BERTERIMA KASIH KEPADA-NYA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 14 November 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19) 

Bacaan Pertama: Tit 3:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem … Kita tidak pernah boleh melupakan konteks ini. Yesus sedang berada dalam perjalanan-Nya yang terakhir … ke Yerusalem, di mana para nabi telah dibunuh: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!” (Luk 13:34). Sebelumnya Dia juga mengatakan: “… tidak semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem” (Luk 13:33). Jalan Yesus adalah jalan salib, dan jalan salib ini sudah dimulai sekitar 2.000 tahun lalu. Yesus melakukan perjalanan ke Yerusalem itu secara bebas, penuh kesadaran, dengan sukarela … meskipun Ia tahu apa yang menunggu-Nya di sana.

Ketika rombongan Yesus memasuki sebuah desa, datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Apa yang dikatakan oleh Hukum Taurat dalam hal orang kusta? “Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya (Im 13:45-46). Sebagai poorest of the poor, biasanya mereka menghormati Hukum. Oleh karena itu mereka berseru-seru dari kejauhan: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Seruan ini adalah ungkapan doa seorang yang sungguh miskin. Kita sendiri selalu mengucapkannya dalam awal Misa; “Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.” Janganlah takut dinilai bodoh kalau kita menyerukan doa sederhana ini.

Dalam Kitab Suci, penyakit kusta seringkali merupakan sebuah simbol dosa – kejahatan yang merusak manusia. Bayangkanlah apa arti dosa di mata Allah. Allah membenci dosa, … namun Dia tidak membenci para pendosa. Maka ketika Yesus melihat kesepuluh orang kusta itu, Dia berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Perintah Yesus ini pun sesuai Hukum yang berlaku: “Inilah yang harus menjadi hukum tentang orang yang sakit kusta pada hari pentahirannya: ia harus dibawa kepada imam , dan imam harus pergi ke luar perkemahan; kalau menurut pemeriksaan imam penyakit kusta itu telah sembuh dari padanya, maka imam harus memerintahkan, supaya bagi orang yang akan ditahirkan itu diambil dua ekor burung yang hidup dan yang tidak haram, juga kayu aras, kain kirmizi dan hisop …” (Im 14:2-4; lengkapnya Im 14:1-32). Di tengah jalan mereka disembuhkan.

Mukjizat kesembuhan yang menyangkut sepuluh orang kusta ini menggambarkan bagaimana Yesus ingin menyembuhkan kita semua, baik secara spritual maupun fisik. Kesepuluh orang kusta itu disembuhkan, namun hanya hanya ada seorang yang kembali kepada Dia yang telah menyembuhkannya sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya (Luk 17:15-16). Satu orang saja yang kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, tanpa rasa malu sedikit pun, karena dia menyadari bahwa ini adalah kesembuhan ilahi. Kalau kita membaca apa yang dikatakan Yesus selanjutnya, maka kita dapat mengatakan bahwa hanya yang satu inilah yang menerima kesembuhan yang lebih mendalam – dalam hatinya (Luk 17:19).

Orang yang satu ini menunjukkan satu sikap hakiki dari seseorang yang diselamatkan: mengucap syukur kepada Allah! Sikap ini juga diminta dari setiap orang yang mengambil bagian dalam Ekaristi (Yunani: Eucharistia) yang artinya adalah pengucapan syukur.  Oleh karena itu marilah kita semua datang ke perayaan Ekaristi dengan hati yang penuh sukacita, penuh kegembiraan sejati karena sangat sadar akan karya-karya Allah yang agung di tengah-tengah umat manusia, di tengah-tengah kita. Sikap penuh syukur memang harus ada dalam hidup sehari-hari seorang Kristiani. Ada sebuah buku bagus dalam rak buku saya dengan judul 10,000 THINGS TO PRAISE GOD FOR. Dalam buku itu dipaparkan contoh contoh mengenai hal-hal untuk mana kita patut mengucap syukur kepada Allah, dari hal-hal yang besar sampai hal-hal yang biasanya kita anggap memang harus begitu, taken for granted, yang terasa tidak ada “istimewa-nya”. Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan dalam perikop ini. Orang yang tahu berterima kasih itu adalah seorang Samaria, mereka yang nista di mata orang Yahudi, tidak murni, tidak asli, non-pribumi! Terima kasih Bapa surgawi, Engkau adalah Khalik langit dan bumi. Dan, Engkau adalah Allah yang sejati karena tidak membatasi bangsa mana yang akan Kauselamatkan.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk dapat mengakui berkat-berkat-Mu atas diriku dan orang-orang lain. Tolonglah aku agar mampu dengan penuh sukacita mensyukuri segala rahmat yang kuterima dari-Mu. Ingatkanlah aku agar setiap malam dapat merenungkan hari yang baru kulalui dan melihat karya-karya tangan-Mu atas diriku pada hari itu, dengan demikian membuat aku dengan penuh sukacita mengucap syukur kepada-Mu seperti orang kusta yang Kausembuhkan dalam perjalanan ke Yerusalem dulu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-19), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANAKAH DENGAN SEMBILAN ORANG YANG DISEMBUHKAN ITU?” (bacaan tanggal 15-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2018 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS