Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

PADA HARI ANAK MANUSIA DINYATAKAN

PADA HARI ANAK MANUSIA DINYATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Jumat, 15 November 2019)

Peringatan Fakultatif S. Albertus Agung, Uskup Pujangga Gereja

FMM: Pesta Wafatnya B. Marie de la Passion, Pendiri Kongregasi FMM

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: Keb 13:1–9; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

“Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali.” (Luk 17:31)

Akhir tahun Kalender Gereja sudah semakin mendekat. Pada hari ini Gereja memberitakan nubuat Yesus tentang akhir zaman. Yesus cukup banyak mengajar tentang akhir zaman sebab manusia memang membutuhkan pemahaman yang benar mengenai masalah ini.

Kita-manusia perlu mengetahui bahwa dunia ini pada akhir zaman tengah berada dalam keadaan seperti biasanya: orang-orang makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun (Luk 17:27-28). Kemudian dunia akan berakhir. Pada hari itu – seperti tercatat dalam “Surat Petrus yang kedua” – langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus oleh nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap (2Ptr 3:10; bdk. 3:12).  Kita perlu mengetahui hal ini sehingga kita tidak akan membiarkan kesejahteraan materi/duniawi menguasai dan menggerogoti hidup kita serta membutakan kita secara rohani. Kita menjadi tidak peduli terhadap sesama yang menderita dlsb. Kita juga perlu mengetahui bahwa dunia kita akan berakhir dalam waktu sekejab. Tidak ada waktu untuk turun dari rumah, atau pulang ke rumah (Luk 17:31]. Jika kita tidak bersiap-siap, kita juga tidak akan mungkin siap selamanya.

Jadi, gambaran yang diberikan oleh Yesus tentang hari-hari menjelang kedatangan-Nya kembali pada akhir zaman sungguh dapat menyebabkan timbulnya rasa takut dalam hati kita. Apabila kita merasa takut, maka kecenderungan alami dari kita adalah untuk mencari rasa aman dalam hal-hal yang sudah familiar bagi kita, yang dapat memberi rasa damai dan stabilitas kepada kita. Namun Yesus mengatakan kepada orang-orang yang mendengarkan pengajaran-Nya, bahwa pada hari kedatangan Tuhan, mereka tidak boleh kembali ke rumah mereka untuk mengumpulkan barang-barang milik mereka. Yesus mendorong mereka – dan kita semua – untuk menemukan keamanan dan damai dalam diri-Nya saja.

Bagi orang-orang yang mengenal Yesus secara pribadi dan akrab/intim, kedatangan-Nya kembali akan merupakan suatu peristiwa yang indah dan menakjubkan. Kita akan begitu tertangkap dalam kasih-Nya dan terpikat oleh pemenuhan semua impian kita yang akan terwujud sebentar lagi, sehingga wajarlah jika kita meninggalkan segalanya di belakang dan berlari untuk menemui Dia. Bagaikan seorang mempelai perempuan maupun mempelai laki-laki, kita akan berkata satu sama lain seperti pada hari pernikahan kita, “Kekasihku sedang mendatangi! Aku tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk berada bersama dengan kekasihku!”

Sekarang kita sedang berada dalam semacam “masa saling mengenal” dengan Yesus. Kita akan sampai pada titik pengenalan betapa mendalam dan memikat kasih-Nya itu. Akan tetapi, pada saat kedatangan-Nya kembali ke dunia, akhirnya kita melihat Dia dalam segala kepenuhan-Nya. Segala selubung akhirnya akan diambil. Selagi kita dari hari ke hari berdiam dalam kasih yang dicurahkan Yesus atas diri kita, kita akan menemukan diri kita sedang melihat ke depan dengan antisipasi besar pada hari di mana kita akan menerima hasil dari apa yang baru saja kita mulai cicipi dalam hidup ini.

Selagi kita berdiam di dekat Yesus dan mengundang Roh Kudus agar menyala-nyala dalam hati kita, maka Yesus akan melayani kita dengan kasih-Nya, hikmat-Nya dan penyembuhan-Nya. Marilah kita tetap taat pada sabda-Nya. Biarlah hati kita senantiasa terbuka bagi-Nya. Selagi kita melakukan hal ini, maka gairah-Nya terhadap diri kita akan menyala menjadi semakin terang benderang sampai hari di mana kita akan berlari untuk bertemu dengan Dia yang kita rindukan. 

DOA: Yesus, wafat-Mu kami kenang, ya Tuhan yang bangkit mulia. Datanglah kami menanti, penuh iman dan harapan. Kami sungguh merindukan Engkau, ya Yesus. Kami berhasrat untuk mengenal-Mu lebih mendalam lagi, hari demi hari. Kami menanti-nantikan saat untuk berada bersama-Mu dan akhirnya dapat bertemu dengan-Mu, muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan yang berjudul “LIHATLAH LEBIH DALAM LAGI” (bacaan tanggal 15-11-19) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 November 2019 [Peringatan Fakultatif S. Didakus dr Alkala, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH DAN KERAJAAN-NYA ADALAH MISTERI

ALLAH DAN KERAJAAN-NYA ADALAH MISTERI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Kamis, 14 November 2019)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan Wajib/Fakultatif S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. Martir

 Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25) 

Bacaan Pertama: Keb 7:22-8:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:89-90,130,135,175 

Yesus sungguh ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan dan bahwa Kerajaan-Nya ada di sini, ada di antara kita; bahwa Kabar Baik-Nya adalah untuk sekarang ini. Ia mengatakan kepada orang-orang Farisi yang bersikap skeptis dan tidak percaya, “… sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21).

Kalau kita masing-masing mau jujur dengan diri kita sendiri, maka kita harus mengakui bahwa begitu sering manusia (termasuk anda dan saya) berkeinginan untuk mempunyai Allah yang berada di dalam kontrol/kendali mereka, atau paling sedikit masih di dalam jangkauan intelegensia mereka sendiri yang terbatas. Cukup sulitlah untuk hidup dengan nyaman di dalam sebuah dunia yang (kita kira) kita pahami dan kendalikan. Namun lebih sulit lagi kiranya jika kita hidup dengan nyaman, tetapi disertai misteri.

Demikian pula orang-orang Farisi dan semua orang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama; mereka ingin berurusan dengan Kerajaan Allah seperti persoalan-persoalan yang lain, bahkan seperti menangani bencana alam yang dapat diprediksi sebelumnya. Memang sangatlah menghibur/menyenangkan apabila kita mampu menempatkan Kerajaan Allah dalam waktu dan ruang, jadi dalam keadaan siap-siaga guna menyambut Kerajaan itu pada saat kedatangannya – seperti halnya pada waktu kita bersiap-siap menyambut kedatangan angin topan yang akan melanda desa/kota kita; yang sudah diramalkan arah dan kekuatannya dll. oleh BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika).

Satu hal memikat dari iman-kepercayaan yang benar adalah bahwa Allah adalah misteri, demikian pula Kerajaan Allah. Andaikan berbagai pertanyaan yang menyangkut Allah dan Kerajaan-Nya dapat dijawab dengan begitu mudah dan/atau mendapatkan solusi dengan mudah, maka bukan tidak mungkin kita menjadi merasa tertipu oleh para guru agama dan gembala kita. Susahnya dengan orang-orang Farisi, dan dengan kita juga, adalah mengenalinya karena mata kita seringkali dibutakan oleh terlalu banyak urusan lain. Orang-orang Farisi dibutakan oleh “legalisme” mereka. Kita dibutakan oleh semua jenis pertimbangan duniawi.

Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah ada di antara kita. Jelas tidak begitu, bukan? Begitu banyak penderitaan, begitu banyak penindasan dan kekerasan yang kita lihat setiap hari, bukan? Di sisi lain, begitu sedikit cinta kasih yang ada di sekeliling kita.  Apakah Kerajaan Allah cocok (Inggris: compatible) dengan semua penderitaan, kebencian, kemarahan, kekerasan, ketiadaan damai yang kita lihat terus saja berlangsung di sekeliling kita? Tentu saja tidak! Namun ada satu jawaban terhadap segala keburukan yang disebutkan tadi. Kerajaan Allah tidak dipaksakan atas diri siapa saja. Yesus sebagai Tuhan bukanlah seorang diktator, bukan seorang tyrant. Ia tidak akan mengganggu kebebasan kita.

Akan tetapi, apabila kita memperkenankan Dia sebagai Tuhan, kalau kita memperkenankan-pemerintahan-Nya, kerajaan-Nya, mengatur hidup kita, maka damai sejahtera-Nya, kasih-Nya, sukacita-Nya dan segala buah Roh Kudus akan datang ke dalam kehidupan kita. 

Apabila semua orang dan semua bangsa mau menerima pemerintahan Allah, menerima kenyataan bahwa Yesus adalah Tuhan atas segalanya, maka kejahatan-kejahatan yang begitu tidak cocok dengan Kerajaan Allah – kemiskinan, penindasan, kekerasan, ketiadaan damai antara bangsa-bangsa, kebencian – semua ini akan menghilang. Paling sedikit semua hal itu akan banyak berkurang dan kita pun akan mampu mengenali pemerintahan Allah di tengah-tengah kita.

Jadi, di mana harus kita mulai? Pertama-tama kita harus mengingat bahwa bangsa-bangsa terdiri dari orang-orang, manusia! Dengan demikian kita harus mulai dengan diri kita sendiri. Hari demi hari kita harus mencoba untuk hidup bersama Yesus sebagai Tuhan. Kehendak-Nya harus menjadi faktor paling penting dalam semua keputusan kita. Apa yang menurut Dia merupakan hukum yang paling utama – mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia – haruslah menjadi hukum yang paling  utama dalam kehidupan kita. Maka kita akan melakukan bagian kita untuk membuat pemerintahan Allah menjadi kelihatan. Dalam hal ini, kita harus menyadari bahwa kita masing-masing diciptakan untuk mengasihi, dan tidak ada misteri yang lebih besar daripada hal itu.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, oleh Roh Kudus tolonglah kami untuk mengasihi-Mu tanpa banyak bertanya ini-itu dan kami sungguh menginginkan agar Engkau menjadi Tuhan dalam hidup kami, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi tanda-tanda kecil dari Kerajaan-Mu. Kami juga berjanji untuk menantikan kedatangan-Mu kembali dengan penuh kepercayaan kepada-Mu, walaupun kami tidak memiliki pengertian sepenuhnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH ADALAH SANG HIKMAT-KEBIJAKSANAAN ITU SENDIRI” (bacaan tanggal 14-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 12 November 2019 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAGAIMANAKAH DENGAN SEMBILAN ORANG YANG DISEMBUHKAN ITU?

BAGAIMANAKAH DENGAN SEMBILAN ORANG YANG DISEMBUHKAN ITU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 13 November 201)

Keluarga OFM: Peringatan Fakultatif S. Didakus dr Alkala, Biarawan

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19) 

Bacaan Pertama: Keb 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 82:3-4,6-7

Bacaan Injil hari ini merupakan sebuah pelajaran tentang pengucapan syukur. Kelihatannya 9 dari 10 orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus tidak mempunyai kebiasaan untuk berterima kasih kepada orang lain. Dari cerita Injil ini kita melihat 10 orang kusta itu baru saja menerima satu dari anugerah terbesar yang pernah diterima oleh mereka masing-masing. Barangkali kita dapat “memaafkan” mereka: “Ah, mereka begitu excited atas kesembuhan mereka yang begitu luarbiasa ajaib, sehingga apa yang dapat mereka pikirkan hanyalah melompat-lompat di atas gerobak sapi yang terdekat sambil ikut pulang ke rumah keluarga masing-masing.”

Reaksi Yesus sangatlah berbeda, dan Ia samasekali tidak berpikir seperti diuraikan di atas. Yesus hanya bertanya, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” (Luk 17:17).

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah hanya kalau kita sedang susah saja maka kita berpaling kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya? Apakah kata-kata dalam doa kita kepada-Nya hanya terdiri dari kata-kata permohonan? Lupakah kita bahwa kasih-Nya bagi kita dalam hal-hal “kecil” yang kita alami setiap hari, seperti udara segar, cahaya matahari yang menghangatkan, makanan, para teman dan sahabat, kehidupan itu sendiri?

Kita sebaiknya menyadari bahwa apa yang “hebat” tentang kehidupan kita bukanlah apa yang kita lakukan bagi Allah, melainkan apa yang dilakukan Allah bagi kita. Apabila kita tidak menyadari hal ini, maka tidak mengherankanlah apabila kita luput menikmati kepenuhan sukacita dari rasa syukur. Sesungguhnya Yesus secara pribadi tidak membutuhkan ucapan terima kasih dari 9 orang kusta yang disembuhkan itu. Yesus tetap akan survive tanpa ucapan terima kasih dari mereka.

Jadi, ketika Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya atas sikap tidak tahu berterima kasih 9 orang tersebut, hal itu tidak berarti bahwa Dia bersedih karena tidak ada orang yang menghargai diri-Nya. Yesus sebenarnya merasa sedih dan kasihan kepada mereka, karena mereka adalah para pecundang. Sukacita yang paling besar dari penyembuhan kebutaan mereka sebenarnya adalah terbukanya hati mereka, semakin dalamnya kasih mereka kepada Allah yang telah menyembuhkan mereka.

Jadi, mereka luput memperoleh kesembuhan yang lebih besar dan berkat yang lebih mendalam. Mereka luput memperoleh kedamaian batiniah dan sukacita dari suatu rasa syukur yang sejati.

DOA: Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi (Mzm 9:2-3). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 6:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PEMIMPIN MEMBUTUHKAN HIKMAT-KEBIJAKSANAAN” (bacaan tanggal 13-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 November 2019 [Peringatan  S. Martinus dr Tours, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BIARLAH KRISTUS MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU LAKUKAN SELANJUTNYA

BIARLAH KRISTUS MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU LAKUKAN SELANJUTNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringataan Wajib S. Yosafat, Uskup Martir – Selasa, 12 November 2019)

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk 17:7-10) 

Bacaan Pertama: Keb 2:23-3:9; Mazmur Tanggapan: 34:2-3,16-19 

Kata-kata Yesus dalam Bacaan Injil di atas yang dialamatkan kepada para rasul terasa sangat keras. Yesus mengatakan kepada mereka bahwa walaupun mereka telah melakukan segala sesuatu yang diminta-Nya, mereka harus tetap menilai diri mereka sebagai hamba-hamba yang tidak berguna.

Bagaimana kita dapat menjelaskan kata-kata Yesus ini dalam terang kasih-Nya yang besar dan juga kepenuhpengertian-Nya yang besar? Kiranya kita mengetahui bahwa Injil Lukas adalah Injil tentang pengabdian yang total. Perumpamaan singkat ini mengingatkan kita agar tidak henti-hentinya bekerja untuk Kristus. Siapakah kita sehingga boleh begitu saja menghakimi dan mengkritisi Tuhan? Adalah sepenuhnya privilese-Nya untuk menuntut banyak dari kita masing-masing. Tugas kita adalah melakukan kehendak-Nya, melakukan pekerjaan yang diminta-Nya dari kita. Penekanan dari perumpamaan singkat di atas adalah dedikasi atau pengabdian. Kita bekerja apabila Tuhan memintanya, dan kita beristirahat apabila Dia menentukan begitu. Sesungguhnya kita tidak pernah dapat berhenti dan rileks dengan ide bahwa kita telah cukup melakukan segala sesuatu. Keputusan sepenuhnya tergantung pada Allah, Dialah yang menentukan!

Santo Paulus sangat memahami dedikasi total semacam ini. Sang Rasul tidak mencari-cari pujian secara istimewa, ganjaran atau sejenisnya. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus menulis, “… jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” (1Kor 9:16).

Seperti dikatakan pada awal tulisan ini, kata-kata Yesus ini dialamatkan kepada para rasul. Mereka baru saja memberitahukan kepada-Nya tentang kebutuhan akan suatu peningkatan dalam iman, jika mereka benar-benar mau mengikuti segala perintah-Nya. Ingatlah kata-kata para rasul kepada Yesus: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5).  Jawaban Yesus sederhana saja, jawaban mana  berisikan tuntutan-Nya akan dedikasi total, seakan-akan Ia berkata: “Jika engkau menaruh kepercayaan pada-Ku, lakukanlah segala sesuatu yang Aku minta, imanmu kepada-Ku pun akan bertumbuh; itu sudah cukup.”

Kita (anda dan saya) adalah para rasul pada jaman NOW ini. Yesus juga mengharapkan “dedikasi total” dari kita masing-masing. Kita tidak dapat bekerja dan beristirahat “semau gue”. Sesungguhnya kita tidak pernah melakukan sesuatu yang luarbiasa dalam melakukan karya pelayanan seturut perintah-Nya, walaupun seandainya kita telah melakukan apa saja yang diminta/diperintahkan-Nya kepada kita masing-masing. Kita harus bekerja demi kemajuan Kerajaan Allah dan menempatkan rasa percaya kita ke dalam tangan-tangan Yesus yang penuh kasih.

Menjelang saat kematiannya, Santo Fransiskus dari Assisi memberi pesan kepada para saudaranya: “Aku telah melakukan apa yang mesti kulakukan, biarlah Kristus mengajar kamu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya” (Legenda Maior XIV:3; bdk. 2Celano 214).

DOA: Tuhan Yesus, kami adalah hamba-hamba-Mu yang tak berguna. Yang kami telah lakukan tidaklah lebih daripada tugas yang Kauberikan kepada kami. Namun, kami menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk meningkatkan iman dan kasih kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “KAMI HANYA MELAKUKAN APA YANG HARUS KAMI LAKUKAN” (bacaan tanggal 12-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 November 2019 [Peringatan Wajib S. Martinus dr Tours, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MASALAH KEBANGKITAN DAN ORANG-ORANG SADUKI

MASALAH KEBANGKITAN DAN ORANG-ORANG SADUKI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [Tahun C] – 10 November 2019)

Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, merekanya semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” (Luk 20:27-38) 

Bacaan Pertama: 2Mak &:1-2,9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8,15; Bacaan Kedua: 2Tes 2:16-3:5 

Orang-orang Saduki adalah sekelompok pemimpin agama yang – seperti orang-orang Farisi – menentang Yesus. Tidak seperti orang-orang Farisi, kaum Saduki tidak percaya akan kebangkitan setelah kematian. Mereka berpegang pada hukum Musa yang tertulis sebagai satu-satunya sumber otoritas. Mereka lebih ketat daripada orang-orang Farisi dalam kepercayaan dan praxis hidup kerohanian. Mereka ‘sungguh tersinggung’ oleh tafsir Yesus atas Kitab Suci yang kelihatan radikal di satu sisi, dan diterimanya Yesus oleh khalayak ramai.

Ketika Yesus mulai mengajar di pelataran Bait Allah, orang-orang Saduki mengutus beberapa orang anggotanya untuk mencoba menjebak-Nya dan dengan demikian dapat mendiskreditkan Dia dan ajaran/pesan-Nya. Yang mereka ajukan adalah persoalan hipotetis berkaitan dengan hukum Levirat (lihat Ul 25:5). Masalah hipotetis ini hanyalah semacam umpan agar Yesus terjebak. Apakah ada kebangkitan dari mati? Kalau begitu, bagaimana ajaran Musa bisa-bisanya memberi ruang untuk adanya suatu situasi yang penuh teka-teki ini?

Yesus mengetahui apa yang ada di benak orang-orang Saduki itu. Yesus menjawab pertanyaan mereka seturut pengertian mereka sendiri, namun pada saat yang bersamaan Ia berupaya mengangkat pikiran mereka kepada kebenaran-kebenaran surgawi. Oleh karena itu, seperti biasa yang dilakukan oleh para rabi, Yesus mempresentasikan sebuah pernyataan yang berisikan ikhtisar dari ajaran-Nya. Guna mendukung pernyataan-Nya Yesus memetik ayat dari Taurat sendiri (Kel 3:6; Luk 20:37), karena itulah satu-satunya sumber yang diterima oleh kaum Saduki.

Bukanlah Yesus kalau Dia berhenti di situ, karena tidak cukuplah bagi-Nya untuk menunjukkan bahwa diri-Nya benar. Memang forma tanggapan Yesus itu sejalan dengan tradisi mereka, namun isinya atau substansinya adalah suatu perpisahan radikal dari tradisi tersebut. Yesus mengatakan bahwa orang-orang benar tidak hanya diangkat ke dalam suatu kehidupan baru, melainkan juga diangkat menjadi “anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20:36). Allah Bapa tidak hanya memberikan kehidupan kepada bumi, melainkan Dia juga menopang dan bahkan mentransformasikan kehidupan sesudah kubur. Karena kematian telah dikalahkan, maka anak-anak kebangkitan “tidak dapat mati lagi”; dihadapan Allah mereka hidup (Luk 20:36.38) dalam suatu kehidupan baru yang mentransenden kehidupan yang mereka alami di atas muka bumi. Dengan demikian jawaban Yesus melampaui pertanyaan-pertanyaan orang Saduki, dengan maksud untuk mengungkapkan kasih dan rahmat Bapa surgawi. Sebagai anak-anak kebangkitan, kita dapat mengalami kehidupan Yesus sendiri, bebas dari kematian dan hidup bagi Allah (lihat Rm 6:5-11). Dengan dibersatukannya kita dengan Yesus dalam iman dan dibaptis ke dalam kematian-Nya, maka kita dapat mengalami kebebasan dari dosa dan kematian, buah pertama dari kehidupan surgawi yang menantikan kita.

Walaupun bacaan Injil hanya sampai dengan Luk 20:38, marilah kita lihat apa yang ditulis dalam dua ayat berikutnya: “Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, ‘Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.’ Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus” (Luk 20:39-40). Dalam permainan catur, pemain yang di ambang kemenangan akan berseru “Skak!” (checkmate) sambil melakukan langkah yang  terakhir. Tidak demikianlah dengan Yesus!

DOA: Bapa surgawi, Engkaulah pengarang dan penopang semua kehidupan. Oleh kematian dan kebangkitan Putera-Mu, Engkau telah menjanjikan kepada kami suatu kehidupan yang telah ditransformasikan dalam kehadiran-Mu. Melalui Roh-Mu, tolonglah kami untuk tetap setia sementara kami mengantisipasi sukacita kehidupan abadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “KEBANGKITAN BADAN DAN SIKAP ORANG-ORANG SADUKI” (bacaan tanggal 10-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Jakarta, 7 November 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR

SEORANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Jumat, 8 November 2019)

Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”  (Luk 16:1-8) 

Bacaan Pertama: Rm 15:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

Bayangkanlah suatu situasi dalam dunia bisnis. Pak Alex telah bekerja lebih dari sepuluh tahun lamanya dalam sebuah perusahaan kontraktor besar di bidang pelayanan pemeliharaan gedung kantor, pabrik dan gudang. Karirnya ini telah mampu membawanya sampai suatu posisi penting dalam perusahaan itu. Kepada Pak Alex sekarang dipercayakan kontrak-kontrak paling besar termasuk kewenangan dalam aspek keuangannya.

Karena suksesnya ini Pak Alex juga menjalani hidup yang nyaman dan rumahnya pun terletak di lokasi yang tergolong “‘elit” (bukan ekonomi sulit). Namun beberapa tahun kemudian ada gosip beredar yang menyebabkan atasannya mempertanyakan integritas Pak Alex. Tidak lama kemudian Pak Alex akan digeser dari kedudukannya dan digantikan oleh orang lain. Tidak ada banyak perusahaan yang mempunyai lowongan untuk jabatan senior seperti yang dipegang Pak Alex, dan dia tidak mempunyai keterampilan teknis yang diperlukan untuk berhasil di bidang-bidang lain. Juga tidak mudahlah bagi keluarganya beradaptasi dengan suatu perubahan sedemikian. Dunia Pak Alex pun menjadi berantakan. Apakah yang harus dilakukan oleh Pak Alex dalam hal ini? Atasan Pak Alex sudah siap untuk mengambil tindakan terhadap dirinya, dan waktunya tinggal sekitar satu minggu lagi. Pak Alex harus bertindak cepat untuk menyelamatkan dirinya dari situasi kelabu yang sedang dihadapinya.

Hari ini, sekitar satu jam lagi Pak Alex mempunyai business appointment dengan langganan terbesar perusahaannya untuk membahas jumlah hutang perusahaan langganan itu dan pembayarannya. Tiba-tiba dia mendapat ide: mengapa tidak memberikan keringanan yang berarti bagi langganannya itu dengan menetapkan fee yang lebih ringan, bukankah hal ini masih berada dalam kewenangannya? Memang dengan begitu perusahaannya memperoleh pendapatan yang relatif lebih kecil, namun bukankah dengan demikian Pak Alex sudah mempunyai “pegangan” seandainya dia  diberhentikan kerja tidak lama lagi? Karena ada pihak/orang yang “berhutang budi”!

Cerita ini pada hakekatnya merupakan pengulangan dari perumpamaan Yesus tentang bendahara yang tidak jujur. Dalam perumpamaan itu Yesus kembali (Luk 12:13-34) kepada pertanyaan tentang kekayaan dan mengajar para murid-Nya mengenai penggunaan uang.

Dari sudut etika, tidak diragukan lagi bahwa apa yang dilakukan oleh bendahara yang tidak jujur itu tidak dapat diterima, namun justru hal ini bukanlah fokus dari pengajaran Yesus. Yesus memuji sang bendahara karena dengan cerdik dia menilai keadaan yang dihadapinya dan mengambil tindakan dengan cepat guna memperoleh manfaat terbaik untuk masa depannya. Sebagai umat Kristiani kita mengetahui mengenai hidup kekal dan kebenaran-kebenaran yang seharusnya membentuk keputusan-keputusan kita di sini dan sekarang. Pada waktu kita harus bekerja untuk keselamatan kita di dunia, dapatkah kita – seperti si bendahara – melihat inti permasalahannya dengan kejernihan hati? Dapatkah kita mentuntaskan pekerjaan kita dengan tindakan-tindakan yang menentukan, sehingga menjamin posisi kita kelak di surga?

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk menggunakan uangku dengan bijaksana. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang mampu menggunakan uangku dan waktuku untuk proyek-proyek yang akan memuliakan nama-Mu. Setiap hari tanamkanlah dalam diriku kepastian akan ‘takdir’ kekalku, dan berikanlah kepadaku suatu ketetapan hati agar mampu menjalani hidup di bumi ini dengan gambaran surga selalu di hadapanku. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan berjudul “CERITA TENTANG SEORANG BENDAHARA YANG CERDIK” (bacaan tanggal 8-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com;  kategori: 19-11  BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA

Cilandak, 7 November 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETIAP PRIBADI MANUSIA TAK TERNILAI HARGANYA DI MATA ALLAH

SETIAP PRIBADI MANUSIA TAK TERNILAI HARGANYA DI MATA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Kamis,  7 November 2019)

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10) 

Bacaan Pertama: Rm 14:7-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

DIRHAM YANG HILANG - 01Yesus menceritakan dua buah perumpamaan, yaitu tentang domba yang hilang dan tentang dirham yang hilang, untuk menunjukkan sukacita Bapa surgawi apabila seorang pendosa bertobat.

Kadang-kadang sulitlah bagi kita untuk percaya bahwa Yesus menilai kita masing-masing sedalam seorang gembala yang menilai domba-dombanya atau seorang janda yang menilai uang dirhamnya yang hilang. Namun pada kenyataannya kita adalah memang sangat berharga di mata-Nya. Seperti sang gembala yang meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari seekor yang hilang, maka Yesus pun akan meninggalkan setiap orang di belakang guna menyelamatkan satu jiwa yang sedang “salah jalan” pada hari ini.

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa setiap pribadi di atas bumi ini diciptakan menurut gambar dan rupa Allah? (lihat Kej 1:26,27). Setiap pribadi manusia tak ternilai harganya di mata Allah, betapa keras kepalanya sekalipun orang itu dalam melawan pesan Kabar Baik (Injil) Yesus Kristus, walaupun betapa berdosa mereka menurut pandangan kita. Jalan Yesus bukanlah “jalan pintas” – Ia memanggul salib-Nya sampai ke Golgota dan di salibkan di bukit itu untuk menebus kita semua – bahkan orang-orang miskin, orang-orang buangan/termarjinalisasi, orang-orang yang tidak masuk hitungan. Kebenaran ini dapat menjadi suatu sumber kepercayaan diri bagi kita, dan suatu sumber belarasa sejati terhadap orang-orang lain. Jika Yesus mengasihi setiap orang dengan begitu mendalam, maka bukankah kita pun harus memiliki hasrat untuk melihat orang-orang lain direstorasikan agar menjadi pribadi-pribadi yang utuh dan bermartabat?

Santa Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “Yesus datang untuk bertemu dengan kita. Guna menyambut Dia, marilah kita pergi menemui-Nya.” Yesus datang tidak hanya dalam kehangatan suatu waktu doa yang baik, melainkan juga dalam rupa seorang yang lapar, seorang yang sedang sunyi-sepi-sendiri, seorang penderita narkoba atau HIV-AIDS, seorang yang membutuhkan pertolongan, dlsb. Dia datang kepada kita dalam diri seorang anggota keluarga yang merasa diabaikan dan kurang diperhatikan. Ia datang kepada kita dalam diri seorang pengemis di sudut jalan dlsb. Apakah kita mengenali kehadiran-Nya? Bunda Teresa dari Kalkuta menulis, “Orang-orang miskin datang kepada kita. Kita harus sadar akan kehadiran mereka agar dapat mengasihi mereka.” 

Manakala kita mengenali orang-orang yang membutuhkan pertolongan, kita dapat menanggapi kebutuhan mereka seturut kemampuan yang kita miliki. Tentu kita semua mempunyai sumber daya yang terbatas, namun kita mempunyai sesuatu yang dapat kita berikan kepada setiap orang: doa kita. Apakah ada seseorang yang lapar, telanjang, tidak mempunyai tempat berteduh? Dalam hal ini kita dapat memohon kepada Bapa surgawi yang memiliki sumber daya berlimpah agar menyediakan makanan, pakaian dan tempat berteduh. Apakah ada seseorang yang menderita sakit atau sedang ketagihan narkoba? Dalam hal ini kita dapat memanggil dan memohon pertolongan dari sang Dokter ilahi. Kita pun dapat melakukan pertempuran atau perang roh bagi mereka yang sedang menderita. Selagi kita melakukan semua itu kita akan bertemu dengan Yesus – dan demikian pula dengan orang-orang yang kita doakan.

DOA: Yesus, aku mengetahui bahwa Engkau menghitung setiap pribadi sebagai milik-Mu yang tak ternilai harganya. Buatlah diriku, ya Tuhan, agar mau dan mampu menaruh perhatian terhadap berbagai kebutuhan orang-orang yang berada di sekelilingku. Tolonglah aku untuk membuka tangan-tanganku guna melayani dan membuka hatiku untuk melakukan doa-doa syafat (pengantaraan) bagi orang-orang yang memerlukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan berjudul “MENCARI SATU YANG HILANG” (bacaan tanggal 7-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saja pada tahun 2015)

Cilandak,  6 November 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS