Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

MEMPERSIAPKAN DIRI KITA MENJADI TANAH YANG BAIK

MEMPERSIAPKAN DIRI KITA MENJADI TANAH YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI –  Jumat, 28 Juli 2017)

Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di  tanah yang berbatu-batu ialah orang yang  mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang ini pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (Mat 13:18-23)

Bacaan Pertama: Kel 20:1-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

Marilah kita membayangkan perumpamaan tentang seorang penabur yang diajarkan Yesus (Mat 13:1-9). Ada sejumlah imaji yang langsung bermunculan dalam pikiran kita: benih-benih yang tersebar di beberapa tempat sepanjang jalan yang dilalui sang penabur, ada benih-benih yang jatuh di tanah di pinggir jalan, ada benih-benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, ada benih-benih yang jatuh di tengah semak duri, dan ada pula benih-benih yang jatuh di tanah yang baik. Kita bahkan dapat membayangkan diri kita mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda bahwa kita memahami apa yang dijelaskan tentang makna perumpamaan ini: “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (Mat 13:23).

Ini adalah sebuah kesaksian tentang keterampilan atau katakanlah kepiawaian Yesus sebagai seorang pengkhotbah, sehingga berbagai imaji ini tetap begitu hidup dan mengesankan bagi kita. Namun demikian, dapatkah kita “memindahkan” berbagai simbol familiar dari perumpamaan ini ke dalam hidup kita? Bagaimana kita dapat mempersiapkan diri kita menjadi “tanah yang baik” bagi sabda Allah? Bagaimana kita dapat menjadi bagian dari mereka yang mendengar sabda Allah dan menghasilkan buah?

Sebuah petunjuk terdapat dalam bacaan pertama (Kel 20:1-17). Dalam mengumumkan “Sepuluh Perintah”-Nya, Allah menetapkan bagi kita masing-masing suatu panggilan untuk menjadi kudus: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. …… Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri.” Hukum-hukum ini membentuk suatu garis pembatas yang tak dapat kita langgar. Apabila kita melanggarnya, kita tahu bahwa kita telah berdosa dan tidak memenuhi panggilan kita untuk menjadi kudus tersebut. Atau, menggunakan penggambaran dari perumpamaan Yesus, kita dapat mengidentifikasikan berbagai rintangan yang menghalangi pertumbuhan sabda (firman) Allah dalam diri kita.

Namun ada satu hal lagi sehubungan dengan pesan Yesus tentang pentingnya tanah yang baik. Tanah yang paling subur pun butuh dipelihara dan dikelola dengan seksama oleh petani. Tanah yang baik butuh dibajak dlsb. Batu-batu yang ada di sana-sini harus dibuang. Untuk mendalami perumpamaan ini lebih lanjut, kita dapat bertanya, Peralatan apakah yang  harus kita gunakan untuk mengerjakan “tanah” yang menjadi dasar hati kita? Bagaimana kita dapat menyuburkan dan memperkaya “dasar batiniah” kita? Tentu saja, kita menyuburkan hati kita melalui doa dan bacaan Kitab Suci, namun kita juga harus melakukan pemeriksaan batin dan pertobatan guna membuang berbagai rintangan dan mengerjakan tanah dasar hati kita itu agar dapat ditanami secara baru.

Semakin kita melakukan pertobatan, kita pun menjadi semakin menjadi reseptif terhadap sabda Allah dan semakin berlimpah pula tuaian dari kebaikan-Nya dalam hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita tidak mengabaikan atau menghindari upaya untuk melihat dosa-dosa kita, melainkan menerima pertobatan sebagai suatu karunia. Allah kita penuh belas kasih. Jika kita membuka hati kita bagi-Nya, maka kita akan melihat buah-buah-Nya dalam hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, sejak sediakala Engkau adalah Allah yang berbelas kasih. Dan, belas kasih-Mu ini tanpa batas. Anugerahkanlah kepadaku rahmat agar mau dan mampu membuka hatiku lebih lebar lagi bagi sabda-Mu, hari demi hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:18-23), bacalah tulisan yang berjudul “KARYA TRANSFORMASI DARI KEMATIAN DAN KEBANGKITAN-NYA” (bacaan tanggal 28-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juli 2017 [Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KRISTUS TERUS SAJA MENGETUK PINTU HATI KITA

KRISTUS TERUS SAJA MENGETUK PINTU HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Kamis, 27 Juli 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Perawan (Ordo II – Ordo Santa Klara) 

Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan? Jawab Yesus, “kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia  berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Jadi, pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak memahami. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. (Mat 13:10-17) 

Bacaan Pertama: Kel 19:1-2,9-11,16-20b; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-54,56 

Sejak awal mula, Allah sudah berhasrat untuk memenuhi diri kita (manusia) dengan kehidupan ilahi dan menarik kita ke dalam pelukan-Nya. Allah memiliki hasrat agar kita mempunyai suatu relasi dengan diri-Nya di mana kita belajar daripada-Nya, menerima berkat-berkat-Nya yang tak terbilang banyaknya, dan membuat dunia ini menjadi suatu pencerminan yang lebih sempurna dari kemuliaan-Nya dan kasih-Nya.

Ingatkah anda akan lukisan Kristus yang berdiri di depan sebuah rumah dan mengetuk pintu rumah itu, dan pintu bagian depannya tidak mempunyai tombol pembuka? Pelukis aslinya adalah William Holman Hunt dan lukisannya diberi nama Light of the World. Maksud lukisan itu adalah, bahwa Kristus Yesus hanya dapat masuk ke dalam rumah itu apabila orang yang berada dalam rumah tersebut membukakan pintu dari dalam. Ya, Kristus memang selalu ingin masuk ke dalam hati kita, tetapi sungguh tergantung kepada kita sendiri apakah kita mau membuka pintu hati kita, membuka diri kita? Satu petikan dari Kitab Wahyu: “Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Why 3:20). Jadi, orang yang berdiam di dalam rumahlah yang harus mengambil keputusan: membuka atau tidak membuka pintu rumahnya.

Banyak dari kita telah mendengar Tuhan Yesus Kristus mengetuk-ngetuk pintu hati kita dan pintu pun kita buka. Barangkali kita membukanya tidak lebar-lebar, namun sempat juga mencicipi kebaikan-Nya. Pintu kebanyakan kita memang masih belum terbuka lebar-lebar, padahal Kristus ingin agar kita membukanya semakin dan semakin lebar lagi, agar dengan demikian kita dapat menerima lebih banyak berkat dari diri-Nya. Kita tidak boleh sungkan-sungkan atau bahkan “pelit” dalam membuka pintu hati kita bagi Kristus Yesus, padahal Ia yang penuh belas kasihan dan bela rasa itu ingin memberikan begitu banyak kebaikan bagi kita.

Saudari dan Saudaraku, Allah kita itu tanpa batas dalam hal rahmat yang hendak dicurahkan-Nya ke atas diri kita masing-masing. Dia juga tanpa batas dalam hal hikmat-kebijaksanaan, dalam hal belas kasihan, atau dalam hal berkat-berkat-Nya yang serba melimpah itu. Tidak ada ujung atau batasnya, apabila kita berbicara mengenai kehidupan ilahi yang tersedia bagi kita, apabila kita tetap rendah hati dan terbuka untuk menerimanya. Bahkan pada hari ini pun Kristus masih terus mengetuk pintu hati kita. Bahkan pada hari ini pun Ia masih bertanya kepada kita masing-masing: “Apakah anda masih merasa haus dan lapar? Apakah anda percaya bahwa masih ada banyak lagi yang dapat anda terima?”

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku ingin membuat tanggapan terhadap rahmat yang Dikau tawarkan kepadaku sekarang. Ampunilah aku karena terkadang aku tidak membuka pintu hatiku dan mencoba untuk menjauh dari diri-Mu.  Ya Tuhan dan Allahku, aku telah berketetapan hati untuk selalu terbuka bagi kehendak-Mu atas kehidupanku, sekarang dan selamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “HUKUM KEHIDUPAN YANG KERAS” (bacaan tanggal 27-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini  bersumberlam sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 25 Juli 2017 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK

BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria – Selasa,  26 Juli 2017)

 

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17

Oleh karena Yoakim dan Anna adalah kakek dan nenek dari Yesus, maka peringatan hari ini menjadi peringatan istimewa bagi para kakek dan nenek juga. Banyak kakek-nenek kita yang merasa prihatin melihat anak-anak dan cucu-cucu mereka tidak mengenal Allah dan tidak pergi ke Gereja. Hal ini merupakan hal serius kalau kita berbicara teristimewa mengenai negara-negara Eropa Barat dan negara-negara lain yang tergolong maju yang selama berabad-abad dikenal sebagai negara-negara Kristiani. Namun hal ini terjadi di mana-mana, bahkan juga di negeri kita.

Sesungguhnya Allah ingin mendukung para kakek-nenek yang merasa prihatin tersebut. Lewat nabi Yesaya TUHAN (YHWH) berjanji: “Adapun Aku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN” (Yes 59:21).

Allah juga tidak ingin mempermalukan para kakek-nenek mempermalukan diri mereka sendiri karena anak-anak dan cucu-cucu mereka kurang beriman. Adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, bahwa karena diciptakan dengan kehendak bebas, maka dapat saja terjadi bahwa orangtua yang baik pun mempunyai anak yang buruk. Walaupun demikian, mereka hendaknya mengakui bahwa  mereka telah membuat masalah-masalah menjadi lebih buruk karena dosa-dosa mereka sendiri. Para kakek-nenek perlu bertobat dan dengan demikian mereka mengeluarkan balok dari mata mereka sendiri (lihat Mat 7:5). Dengan begitu mereka akan mampu melihat untuk dapat mengeluarkan serpihan kayu dari mata anak-anak mereka.

Para kakek-nenek hendaknya memusatkan perhatian mereka untuk mengarahkan anak-anak mereka menuju pertobatan daripada kebanyakan lalu lebih memperhatikan cucu-cucu mereka, karena cucu-cucu itu lebih terbuka menerima kakek-nenek mereka. Hal terbaik yang dapat dilakukan para kakek-nenek bagi cucu-cucu mereka adalah bukannya dengan mengurangi tanggungjawab orangtua mereka, melainkan dengan dukungan doa memberi tantangan terhadap para orangtua cucu-cucu mereka agar mereka berbalik kepada Yesus Kristus dan memberi tanggungjawab mereka untuk mendidik anak-anak mereka (artinya cucu-cucu kakek-nenek tersebut). Yesus Kristus adalah Harapan kita.

DOA: Bapa surgawi, pada hari peringatan S. Yoakim dan S. Anna ini, kami mendoakan agar para kakek-nenek menjadi kakek-nenek yang agung dengan menerima rahmat-Mu guna menjadi para orangtua yang agung. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan berjudul “KEDUA ORANGTUA SP MARIA” (bacaan tanggal 26-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

MINUM CAWAN YANG DIMINUM YESUS

MINUM CAWAN YANG DIMINUM YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Yakobus, Rasul – Selasa, 25 Juli 2017) 

Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:20-28) 

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6 

“Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? (Mat 20:22). Yesus mengajukan pertanyaan ini kepada Yakobus dan Yohanes sesaat setelah ibunda mereka mohon kepada Yesus agar mereka berdua memperoleh posisi-posisi terbaik dalam Kerajaan-Nya. Bukannya menjamin tersedianya tempat-tempat terhormat ini bagi mereka, Yesus malah menantang mereka untuk meneladan-Nya dalam melakukan karya pelayanan – bahkan sampai mati, jikalau diperlukan. Yesus bersabda: “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Inilah hakekat terdalam dari servant leadership, kepemimpinan yang melayani.

Yakobus menerima ajaran Yesus ini dengan sepenuh hati, karena beberapa tahun kemudian ia benar-benar meminum cawan seperti yang dilakukan oleh Yesus, Tuhan dan Gurunya. Di sekitar tahun 44, Raja Herodes Agripa, anak laki-laki dari Raja Herodes Agung, mulai melakukan pengejaran dan penganiayaan terhadap komunitas Kristiani di Yerusalem. Sebuah catatan singkat dari ‘Kisah para Rasul’: “Ia menyuruh membunuh Yakobus, dengan pedang” (Kis 12:2). Menurut sebuah tradisi awal Gereja yang disampaikan oleh Klemens dari Aleksandria, penuduh yang membawa Yakobus ke hadapan Herodus Agripa begitu tersentuh hatinya ketika mendengar kesaksian sang rasul sehingga dia sendiri pun menjadi seorang Kristiani di tempat itu juga; …… dan kepalanya kemudian dipenggal …… bersama dengan Yakobus.

Yakobus kehilangan nyawanya karena dia memegang teguh komitmennya untuk melayani Gereja yang masih muda usia. Sebenarnya Yakobus bisa saja melarikan diri ke Siprus atau Antiokhia dan bersembunyi sementara dari angkara murka raja Herodes Agripa. Namun dia memilih untuk diam di Yerusalem, tempat di mana Allah telah memanggilnya dan menyerahkan dirinya di sana. Sebagai akibatnya, Gereja di Yerusalem mampu bersatu dengan kokoh dan malah bertumbuh selama masa  yang sangat berbahaya.

Dalam dunia kuno, menawarkan seseorang untuk minum dari cawan sendiri merupakan sebuah tanda persahabatan yang besar. Yakobus tidak menciut samasekali walaupun ia mengambil bagian dalam cawan Yesus, hal mana berarti memberikan dirinya sendiri untuk melayani orang-orang lain, bahkan ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara Gurunya. Yesus menyebut kita sahabat (Yoh 15:14-15), dan menawarkan cawan-Nya juga kepada kita. Dengan demikian dalam setiap relasi di mana kita terlibat – dengan anggota-anggota keluarga kita, dengan para teman/sahabat kita, dengan para kerabat kerja kita, dengan para tetangga kita – dan dalam setiap situasi di mana kita berada, pertanyaan utama kita adalah, “Apa yang diminta oleh Yesus padaku untuk melayani di sini?” Selagi kita menanggapi permintaan Yesus dengan penuh kemurahan hati, kita akan melihat rahmat Allah mengalir melalui diri kita seperti yang terjadi dengan Yakobus, dan kita pun akan menghasilkan buah berlimpah dalam Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah hatiku seperti hati-Mu. Anugerahilah aku cintakasih dan keberanian untuk mampu melihat melampaui diriku sendiri dan untuk melayani orang-orang lain dengan penuh kemurahan hati, seperti Engkau sendiri telah lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Kor 4:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP KRISTUS DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 25-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SALIB KRISTUS SEBAGAI SATU-SATUNYA TANDA

SALIB KRISTUS SEBAGAI SATU-SATUNYA TANDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Senin, 24 Juli 2017) 

Pada waktu itu berkatalah bebeberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari Engkau.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman Ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan akan bangkit bersama-sama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!” (Mat 12:38-42) 

Bacaan Pertama: Kel 14:5-18; Mazmur Tanggapan: Kel 15:1-6 

Iman itu melampaui apa yang dipersepsikan oleh indera-indera fisik kita. Permintaan tak berkesudahan akan tanda-tanda dari para ahli Taurat dan Farisi yang menentang Yesus sesungguhnya merupakan hasil dari suatu iman yang tidak didasarkan pada Allah yang tak kelihatan, namun atas dasar bukti-bukti nyata yang semakin menumpuk. Walaupun demikian, kebenarannya adalah bahwa beberapa ahli Taurat dan orang Farisi itu telah cukup melihat dan mendengar “bukti nyata” untuk dapat mengakui siapa Yesus sebenarnya. Di depan mereka, Yesus menggenapi seluruh Kitab Suci Ibrani yang begitu mereka cintai. Namun mereka tidak mau percaya.

Para ahli Taurat dan Farisi ini tentunya sangat familiar dengan pengharapan-pengharapan dan kerinduan-kerinduan yang diungkapkan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Sekarang, di depan mata mereka sendiri, Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, mentahirkan orang-orang kusta, mengusir roh-roh jahat dan membangkitkan orang yang sudah mati. Namun bagi sebagian dari mereka, tidak ada satu pun perbuatan baik Yesus yang menyentuh hati mereka. Mengapa? Kesombongan, keangkuhan dan pemikiran yang sempit begitu memenuhi diri mereka dengan kegelapan sehingga terang sabda Allah tidak dapat masuk meresap.

Ketika Yesus mengatakan kepada para pendengar-Nya bahwa diri-Nya  “lebih daripada Yunus” (Mat 12:41), maka Dia sebenarnya bukanlah menunjuk kepada kemampuan-Nya untuk membuat mukjizat yang lebih besar dan lebih baik. Yesus tidak pernah berminat untuk  tebar pesona atau menjadi “a side show attraction”. Yang dimaksudkan oleh-Nya adalah, bahwa sabda kehidupan-Nya dan pengorbanan-Nya untuk segenap umat manusia akan menembus hati secara lebih penuh kuat-kuasa daripada khotbah-khotbah dan pengorbanan-pengorbanan yang telah dilakukan oleh para nabi terdahulu.

Bagi kita, pertanyaannya bukanlah berapa banyak mukjizat yang telah kita alami, melainkan apakah masih ada ruangan dalam iman kita bagi sabda Allah agar dapat mengubah diri kita. Kematian Yesus dan kebangkitan-Nya saja sudah cukup sebagai tanda-tanda yang diperlukan. Kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya telah membuka pintu surga untuk kita dan membuat mungkin bagi kita untuk diangkat ke dalam kehidupan ilahi. Namun demikian, sementara Allah dengan bebas menawarkan dan memberikan kepada kita  karunia iman,  kita dapat memutuskan untuk menerima atau menolak karunia iman termaksud. Walaupun karunia iman itu diberikan Allah dengan bebas, ada “biaya” yang secara pribadi yang selalu harus kita “bayar” apabila kita menerimanya, yaitu bahwa kita mati terhadap cara-cara dan pemikiran-pemikiran kita sendiri selagi kita membuka hati kita agar dapat merangkul satu-satunya “tanda” yang diperlukan:  SALIB KRISTUS, di mana segala dosa disalibkan. Apabila kita menempatkan iman kita dalam darah yang dicurahkan dari atas kayu salib itu, maka pintu surga pun akan dibukakan bagi kita.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa Putera-Mu terkasih wafat di kayu salib agar aku dapat bangkit dan memandang kemuliaan-Mu. Perkenankanlah aku sekarang memuji-muji Dikau, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah” (Why 4:8) selagi aku berdiri dengan penuh rasa takjub di hadapan “takhta putih yang besar” (Why 20:11) milik-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 12:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “LEBIH DARIPADA YUNUS” (bacaan tanggal 24-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM (2)

PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI  MINGGU BIASA XVI [TAHUN A] – 23 Juli 2017)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama:  Keb: 12:13,16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:5-6,9-10,15-16; Bacaan Kedua: Rm 8:26-27; Bacaan Injil (versi panjang): Mat 13:24-43

Bacaan Injil untuk hari ini cukup panjang. Saya mengambil versi yang singkat berdasarkan pertimbangan praktis. Dalam “perumpamaan tentang lalang di antara gandum”, Yesus berbicara tidak hanya mengenai orang-orang baik dan orang-orang jahat di dunia, melainkan juga mengenai unsur-unsur terang dan gelap yang ditemukan di dalam Gereja. Suatu pandangan yang realistis tentang Kekristenan (Kristianitas) harus mampu menunjukkan kepada kita bahwa ada orang-orang dalam Gereja yang menjadi sedemikian terbiasa terbawa arus dosa, keduaniawian, dan si Jahat sehingga hal-hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi hidup orang-orang Kristiani lainnya.

Yesus memperingatkan para murid-Nya – dan Ia terus saja memperingatkan kita – tentang kebutuhan-kebutuhan Gereja. Para bapak Konsili Vatikan II mengakui, “Gereja merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri. Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (Lumen Gentium, 8). Namun di sinilah kita harus berhati-hati. Peranan kita bukanlah untuk mulai mengidentifikasikan “lalang-lalang” yang ada dalam paroki atau dalam gereja yang lebih besar dan mencoba sendiri menangani dan berurusan dengan mereka semua. Dengan demikian berarti kita menghakimi mereka. Penghakiman atas diri orang lain barangkali juga merupakan lalang yang sangat bersifat destruktif dan satu dari tanda-tanda yang paling jelas dari karya Iblis, “pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita” (Why 12:10).

Menyadari bahwa betapa cepat kita dapat menghakimi orang-orang lain, Yesus memperingatkan kita agar selalu memperhatikan balok yang ada di mata kita sendiri sebelum kita mencoba mengeluarkan serpihan kayu dari mata saudara kita (Mat 7:1-5). Dalam kenyataannya kita tidak ingin melihat dicabutnya semua “orang jelek”, karena kita sendiri tahu betapa tidak ada artinya diri kita sendiri dalam membangun Kerajaan Allah. Kita masing-masing memiliki “benih-benih buruk” dalam hati kita. Jalan terbaik untuk menjamin perlindungan Gereja adalah memohon kepada Roh Kudus supaya menolong kita memeriksa nurani kita dan membebaskan kita dari dosa.

Allah tidak menginginkan kita untuk tidak berbelas-kasih dalam penilaian kita terhadap orang-orang lain. Sebaliknya, Dia ingin agar kita berdoa bagi diri kita sendiri dan bagi Gereja, dengan demikian menjadi para peniru Yesus, yang selalu melakukan syafaat bagi kita masing-masing di hadapan takhta Bapa (lihat Ibr 7:25). Kita menjadi seperti Anak Domba Allah yang rindu untuk melihat setiap orang dibebaskan dari dosa dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, selagi Engkau menyelidiki hati umat-Mu, Engkau melihat lalang-lalang dalam diri kami semua. Akan tetapi Engkau juga melihat Putera-Mu terkasih hidup  dalam diri kami. Tolonglah kami menyerahkan diri kami sepenuhnya kepada Yesus sehingga dengan demikian Gereja yang didirikan-Nya di atas bumi dapat menjadi terang yang sejati bagi dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENAWARKAN APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?” (bacaan tanggal 23-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 20-7-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEBANGKITAN YESUS MEMBUKA PINTU SURGA BAGI SEMUA ORANG YANG PERCAYA KEPADA-NYA

KEBANGKITAN YESUS MEMBUKA PINTU SURGA BAGI SEMUA ORANG YANG PERCAYA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Maria Magdalena – Sabtu, 22 Juli 2017)

OSF Semarang: Pesta S. Maria Magdalena, nama pendiri tarekat: Sr. Magdalena Daemen

 

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!”  Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:1-2,11-18) 

Bacaan Pertama: Kid 3:1-4a atau 2Kor 5:14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9

O betapa dalam cintakasih Maria Magdalena pada Yesus! Kita dapat membayangkan dia pada pagi-pagi benar ketika hari masih gelap itu, bergegas  menuju kubur – hanya mendapatkan bahwa kubur itu sudah kosong! Ketika mencari Yesus sambil menangis, dia bahkan menjawab pertanyaan malaikat-malaikat kepadanya dengan jawaban yang sangat terasa sungguh ke luar dari hati yang penuh cintakasih: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan”  (Yoh 20:13). Kita sekarang dapat membayangkan betapa penuh sukacitanya Maria Magdalena pada saat ia akhirnya mengenali suara Yesus. “… kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku ditemui ronda-ronda kota … Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku …” (Kid 3:2-4).

Maria Magdalena tahu sekali apa artinya menjadi seorang pendosa dan sampah masyarakat. Dia telah mengalami isolasi dan degradasi yang disebabkan dosa. Namun segalanya berubah pada waktu dia mengalami kasih dan pengampunan dari Tuhan Yesus yang “kasih-Nya sampai ke langit, setia-Nya sampai ke awan” (lihat Mzm 36:6); “kasih setia-Nya lebih baik dari pada hidup” (Mzm 63:3). Maria Magdalena belum/tidak sepenuhnya memahami apa yang akan terjadi kelak – keseluruhan tujuan kematian Yesus di kayu salib itu sendiri. Betapa menghancurkan hati bagi Maria Magdalena tentunya, ketika dia menyaksikan sendiri bagaimana Yesus diperlakukan sebelum disalibkan. Ketika dia mengenali suara-Nya di taman kuburan pada pagi hari itu, Maria Magdalena sungguh dipenuhi kegembiraan sejati.

“Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu”  (Yoh 20:17). Dengan kata-kata ini, Yesus mengungkapkan tujuan-Nya kepada Maria Magdalena dan kita semua, bahwa Dia sedang terlibat pada suatu misi surgawi. Inilah hal yang begitu sulit untuk dipahami para murid. Meski Yesus sudah mengajar mereka tentang ke mana para murid tak dapat mengikuti-Nya – tentang menyediakan tempat bagi mereka – tujuan Yesus tetap tidak jelas sampai Dia kembali (lihat Yoh 14:2-3). Tetapi sekarang, dengan kebangkitan Yesus, Injil menjadi terang.

Kebangkitan Yesus membuka pintu surga bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Apakah anda telah menemukan surga yang terbuka itu? Itu tersedia bagi kita semua. Kita dapat mengalami berkat ini selagi kita dengan pertobatan yang mendalam datang menghadap Tuhan Yesus, percaya bahwa darah-Nya telah  menghancur-leburkan ikatan-ikatan dosa. Yesus ingin agar kita turut serta dalam kemenangan-Nya dan menjadi pewaris-bersama dengan Dia. Marilah sekarang kita datang kepada-Nya dan mengasihi-Nya dengan segenap hati kita; dengan demikian kita pun dapat berkata bersama Maria Magdalena: “Aku telah melihat Tuhan!”  (Yoh 20:18).

DOA: Yesus yang bangkit, kami datang bergegas kepada-Mu, seperti yang dilakukan oleh Maria Magdalena. Engkau telah membuka surga bagi kami dan sekarang kami dapat memandang dan menyentuh Engkau secara pribadi. Terima kasih untuk keselamatan bagi kami!  Amin.

Catatan: Untuk Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-2,11-18), bacalah tulisan yang berjudul “PERJUMPAAN DENGAN KRISTUS YANG BANGKIT DALAM SUASANA INTIM” (bacaan tanggal 22-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS