Posts tagged ‘INJIL YOHANES’

PERKAWINAN DI KANA YANG DI GALILEA

PERKAWINAN DI KANA YANG DI GALILEA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa II [Tahun C] – 20 Januari 2019)

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur.”  Kata Yesus kepadanya, “Mau apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya kira-kira seratus liter. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu, “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Mereka pun mengisinya sampai penuh. Sesudah itu, kata Yesus kepada mereka, “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mencicipi air yang telah menjadi anggur itu – dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya – ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dilakukan Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. (Yoh 2:1-11)

Bacaan pertama: Yes 62:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,7-9; Bacaan Kedua: 1Kor 12:4-11 

“Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.” (Yoh 2:1-2) 

Bacaan Injil hari ini tidak menyebutkan nama-nama kedua mempelai yang melangsungkan pesta perkawinan, suatu peristiwa yang kiranya sangat penting dalam kehidupan mereka dan keluarga mereka. Namun demikian, hal tersebut memang tidak begitu penting karena perkawinan sesungguhnya yang dirayakan dalam cerita hari ketiga tersebut adalah kebersatuan Allah dan umat manusia dalam Yesus …… perkawinan antara langit dan bumi.

Sebelum Yesus, relasi Allah dengan Umat pilihan-Nya seakan menyerupai relasi antara dua insan sebelum resmi melangsungkan perkawinan – suatu masa untuk melakukan berbagai persiapan yang diperlukan. Sistem agama yang tua direpresentasikan dalam cerita ini oleh enam buah tempayan. Air dalam tempayan-tempayan itu adalah untuk pembasuhan menurut rituale Yahudi guna persiapan sebelum pesta. Tempayan-tempayan yang terbuat dari batu dinilai sangat bersih. Akan tetapi, ketaatan yang berlebihan terhadap kebersihan secara ritual adalah bagian dari sistem agama Yahudi yang dipraktekkan. Ujung-ujungnya, yang ada adalah orang-orang yang memiliki hati seperti tempayan yang terbuat dari batu tersebut .. hati yang keras-membatu.

Tempayan-tempayan yang ada berjumlah enam buah – kurang satu dari jumlah tujuh, yaitu angka kepenuhan dan kesempurnaan. Sekarang air yang dalam tempayan-tempayan tersebut diubah oleh Yesus menjadi air-anggur. Hal ini mengindikasikan bahwa relasi sebelum perkawinan yang resmi telah mencapai hari H Perkawinan, Juga hati yang terbuat dari batu akan digantikan dengan hati manusia yang sesungguhnya.

Yohanes Penginjil tidak menggunakan kata “mukjizat” dalam Injilnya. Sebagai penggantinya sang penginjil menggunakan kata “tanda”. Injil Yohanes dikenal juga sebagai “Injil tujuh tanda”. Peristiwa di Kana ini adalah “tanda pertama” dari kemuliaan Yesus. Pandangan pertama tentang kemuliaan-Nya membuat para murid Yesus percaya kepada-Nya (Yoh 2:11). Kemuliaan Yesus akan dinyatakan sepenuhnya, saat-Nya akan tiba, yaitu ketika Dia akan ditinggikan dari bumi di bukit Kalvari sebelum akhirnya bangkit dan kembali ke rumah Bapa. Dengan ditinggikan-Nya di atas kayu salib, Yesus menarik semua orang kepada diri-Nya, merangkul semua orang sebagai mempelai perempuan-Nya, mengasihi mereka sampai titik akhir. Ketika kembali ke rumah Bapa, Yesus membawa pulang umat yang percaya kepada-Nya sebagai mempelai perempuan-Nya.

Jika sistem agama lama dilambangkan dengan air pembasuh, maka agama yang baru dicirikan dengan anggur perjamuan. Perjamuan ini senantiasa segar dalam kenangan akan Ekaristi Yesus. “Mengingat” berarti memproklamasikan bahwa perbuatan-perbuatan Allah tidaklah terbatas pada suatu hari tertentu melainkan sekarang menjadi bagian dari dari kekekalan-abadi. Ekaristi adalah kenangan hidup akan perkawinan langit dan bumi. “Bapa, kami mengenangkan Yesus Kristus, Putera-Mu, yang telah menderita, bangkit dari alam maut, dan naik ke surga dengan mulia demi keselamatan kami.” …… (DOA SYUKUR AGUNG III).

Perkawinan yang pertama kali terlihat pada saat air diubah menjadi anggur di Kana, diwujudkan di bukit Kalvari dalam perjalanan-sempurna Yesus kepada Bapa di surga, perjalanan mana berisikan sengsara, kematian dan kemuliaan-Nya. Kita yang berkumpul dalam iman pada kenangan Ekaristis adalah anak-anak dari perwujudan tersebut. Mari kita dengar apa yang dnubuatkan oleh nabi Yesaya: “Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu” (bacaan pertama: Yes 62:5).

Yesus adalah mempelai ilahi yang telah mengambil umat pilihan kepada/bagi diri-Nya sebagai pengantin perempuan. Ketika sang mempelai hadir, maka itu adalah saatnya untuk bersukacita. Perayaan perkawinan selalu diperbaharui dalam kenangan hidup dalam perjamuan Ekaristi. Perjanjian yang baru memuat suatu ikatan unik yang dibentuk antara Allah dan umat pilihan-Nya, suatu kebersatuan yang dimanifestasikan dalam Gereja.

Sumber utama tulisan ini: Romo Silvester O’Flynn OFMCap., The Good News of Luke’s Year, Dublin, Ireland: THE COLUMBIA PRESS in association with CATHEDRAL BOOKS, 1991 [1994 Reprinting], pages 116-118.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, kuduslah nama-Mu. Bacaan Injil hari ini memberikan gambaran yang indah tentang hubungan penuh kasih antara Bapa dan kami – umat-Mu – melalui Putera-Mu terkasih, Yesus. Ia telah datang ke tengah dunia untuk mengklaim kami sebagai milik-Mu sendiri dan Ia sangat bermurah hati. Yesus memberi kepada kami bukan hanya hal-hal biasa saja melainkan juga “anggur kelas satu” yang sangat banyak jumlahnya. Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “ HAL INI DILAKUKAN YESUS DI KANA YANG DI GALILEA” (bacaan tanggal 20-1-19) dalm situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

Cilandak, 17 Januari 2019 [Peringatan S. Antonius, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

JIKA KITA MERENDAHKAN DIRI KITA, MAKA ALLAH AKAN MENINGGIKAN KITA

JIKA KITA MERENDAHKAN DIRI KITA, MAKA ALLAH AKAN MENINGGIKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Sabtu, 12 Januari 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dr Corleone, Biarawan Kapusin

Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia tinggal di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi, Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air. Orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.

Lalu timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya, “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang Sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah bersaksi, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Jawab Yohanes, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga. Kamu sendiri dapat bersaksi bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang punya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. (Yoh 3:22-30) 

Bacaan Pertama: 1 Yoh 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9 

“… dan sekarang sukacitaku itu penuh.” (Yoh 3:29)

Pada waktu para muridnya bertanya kepada Yohanes Pembaptis tentang seorang pengkhotbah lain yang menjadi “pesaing” baginya, Yohanes memberi tanggapan yang tidak seperti biasanya, yaitu bahwa dirinya sangat bergembira melihat pengkhotbah lainnya tersebut menarik banyak orang kepada-Nya. Yohanes mengetahui bahwa Yesus bukanlah sekadar seorang pengkhotbah, melainkan Ia adalah sang Mempelai Laki-laki dari umat-Nya dan pemenuhan dari janji-janji Allah.

Sebagai seorang yang mendengarkan suara sang Mempelai Laki-laki, Yohanes bersukacita melihat bahwa mempelai perempuan – Umat Allah atau Gereja – pada akhirnya datang kepada sang Mempelai Laki-laki. Kerajaan Allah menerobos masuk ke tengah dunia dengan suatu cara yang baru dan menentukan!

Apakah kita sungguh mengetahui bahwa Yesus adalah sang Mempelai Laki-laki bagi kita – kekasih dari jiwa kita dan Pemberi semua hal yang baik? Melalui hidup-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuat harta-kekayaan hidup surgawi menjadi tersedia bagi kita sekarang.

Pertanyaannya sekarang: Apakah kita mempunyai kebutuhan akan Yesus? Dalam “Khotbah di Bukit” Yesus telah memberi jaminan kepada kita bahwa apabila kita mencari Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33). Apakah kita merasa khawatir atau takut? Yesus berjanji bahwa tidak ada sesuatu pun terjadi tanpa sepengetahuan Bapa surgawi. Sabda Yesus yang berikut ini sangat menghibur: “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu” (Mat 10:28-29). Apakah kita sedang sakit atau menderita? Yesus selalu ada bersama kita, menawarkan kepada kita kesembuhan dan kekuatan (lihat Mrk 1:41).

Semua janji ini dan juga banyak lagi kebaikan tersedia bagi kita dalam Kristus. Ini adalah sebuah Kabar Baik yang sungguh menakjubkan. Allah sang Mahapencipta segenap alam semesta, telah merendahkan diri-Nya untuk bergabung dengan umat manusia dalam suatu persatuan intim yang memungkinkan kita masuk ke dalam surga. Akan tetapi, bagaimana kita menerima harta-kekayaan ini dan mengalami kuat-kuasa Kerajaan Allah? Jawabnya: Kita harus mengikuti contoh yang telah diberikan oleh Yohanes: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

Yohanes Pembaptis tidak mencari nama atau ketenaran yang bukan miliknya. Sebaliknya, dia menunjuk kepada Yesus. Jika kita merendahkan diri kita, maka Allah akan meninggikan kita. Apabila kita memutuskan untuk kehilangan nyawa kita, maka kita akan dipenuhi dengan hidup dari sang Mempelai Laki-laki sendiri. Apakah hidup kita terpuruk dalam kedosaan? Dengan bebas Yesus membebaskan bahkan orang-orang yang mendzolimi-Nya (lihat Luk 23:34). Tentu saja Dia akan mengampuni dan mengasihi orang-orang yang mengikuti jejak-Nya berdasarkan kehendak bebas dan para pendosa yang berbalik kepada-Nya dengan hati yang penuh dengan pertobatan. Selagi kita pergi menghadap Yesus dan membuang dosa-dosa yang selama ini menghalangi kita, maka awan yang selama ini mengaburkan pandangan kita terhadap Yesus akan menghilang.

DOA: Yesus, bagaimana aku dapat mengungkapkah kasihku kepada-Mu? Engkau telah memberikan begitu banyak hal kepadaku, malah jauh lebih banyak daripada yang pantas kuterima. Engkau adalah sang Putera Allah, namun pada saat yang sama Engkau adalah teman seperjalananku yang akrab. Aku mengasihi-Mu dengan sepenuh hatiku, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “KESAKSIAN SANG BENTARA TENTANG YESUS” (bacaan tanggal 12-1-19) dalam  situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK DOMBA ALLAH

ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Kamis, 3 Januari 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Nama Yesus Yang Tersuci

Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”

Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku. Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:29—3:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,3-6 

Saat yang sudah sekian lama dinanti-nantikan akhirnya tiba bagi Yohanes Pembaptis. Ia telah berseru-seru di padang gurun, “Luruskanlah jalan Tuhan”. Akhirnya sekarang ia dapat membuat deklarasi: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29).  Kita dapat membayangkan betapa hati Yohanes dipenuhi sukacita dan rasa syukur. Misinya telah selesai ketika dia memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah – Seseorang yang sebelumnya tidak dikenalinya, yang Allah telah nyatakan kepada-Nya pada akhirnya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya” (Yoh 1:32).

Dengan menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, Yohanes sebenarnya memenuhi sabda Allah dalam Kitab Suci yang berbicara mengenai sang Mesias sebagai seekor anak domba – lemah lembut dan rendah hati, namun pada saat yang sama kuat dan agung. Yesus adalah “anak domba yang dibawa yang dibawa ke pembantaian” (Yes 53:7), namun Ia juga “ditakdirkan” untuk memimpin umat Allah, membebaskan mereka dari para lawan mereka dan memerintah mereka. Kita dapat melihat imaji-ganda ini secara paling jelas dalam Kitab Wahyu di mana Yesus digambarkan sebagai “Singa dari suku Yehuda” yang telah berkemenangan, dan sebagai Anak Domba, hanya Dialah yang dapat membuka gulungan kitab penghakiman Allah (Why 5:5-14).

Dalam saat penuh berkat, Yohanes Pembaptis dimampukan untuk melihat Yesus tidak seperti sebelum-sebelumnya. Barangkali dalam masa Natal ini kita pun dapat mempunyai saat-saat penuh berkat seperti Yohanes Pembaptis. Seperti Yohanes Pembaptis, kita pun dapat menerima pernyataan/perwahyuan ilahi yang akan menggetarkan hati kita. Roh Kudus yang sama, yang telah memberdayakan Yesus dan membuka pikiran Yohanes Pembaptis berdiam dalam diri kita. Kita menerima Roh Kudus pada saat kita dibaptis. Nah, sekarang Roh Kudus ini menantikan kita untuk memanggil-Nya sebagai Guru dan Penghibur kita. Dalam doa kita hari ini, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita lebih lagi tentang sang Anak Domba Allah yang memenuhi janji-janji Allah itu.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk menyerahkan hidup-Nya agar kami dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, terangilah kami agar dapat melihat kuat-kuasa dan keindahan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang perkasa – dibantai namun memerintah dengan jaya sebagai Raja segala raja.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBEDA-BEDAKAN ROH” (bacaan  tanggal 3-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-1-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Januari 2019 [HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI

BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita – Sabtu, 15 September 2018)

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:25-27) 

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-11 atau Ibr 5:7-9 (Alternatif); Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-6,15-16,20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 2:33-35 

Maria sangat menderita ketika berdiri di dekat salib Yesus di bukit Kalvari selagi dia menyaksikan kematian Anaknya yang mengerikan. Ia menunjukkan kepada Anaknya cintakasih-Nya dengan satu-satunya cara yang ia dapat lakukan, yaitu dengan kehadirannya bersama Anaknya. Oleh rahmat Roh Kudus, Maria memiliki mata iman yang percaya bahwa rencana Allah akan berbuah, walaupun tidak ada tanda-tandanya yang kelihatan. Maria menangisi ketidakadilan yang  berlangsung di depan matanya, namun ia percaya bahwa kuasa Allah akan mengalahkan kematian/maut.

Dikelilingi oleh para penganiaya Yesus, Maria merasa dirinya dipanggil untuk bergabung dengan Yesus dalam doa-Nya; “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Seandainya ada rasa marah dan dendam dalam dirinya, Maria tidak akan bersatu dengan Yesus. Hanya dengan berpaling kepada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, Maria dapat mengampuni dan memberkati dalam menghadapi situasi ketidakadilan, penuh dengan kebencian dan kekerasan.

Kita semua akan mengalami sikap dan perlakuan kasar dari orang-orang lain dalam hidup kita. Dapatkah kita tetap berada di dekat salib Kristus bersama Maria dan mengampuni mereka yang telah menyakiti kita dengan kata-kata maupun perbuatan-perbuatan mereka? Maria menerima undangan Yesus untuk mengambil “murid yang dikasihi-Nya” sebagai anaknya, dan dengan melakukan hal itu, dia menerima semua murid-Nya sebagai anggota-anggota keluarganya. Bahkan pada saat itu, 33 tahun setelah  menerima pemberitahuan dari malaikat agung Gabriel, sekali lagi Maria diminta untuk mengesampingkan ide-idenya sendiri perihal keluarga dan apa yang diinginkannya dalam hidupnya. Dan sekali lagi, ketaatan Maria merupakan buah Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya.

Kita semua juga dipanggil untuk mengasihi semua orang yang menamakan diri mereka orang Kristiani dan juga mereka yang memiliki iman berbeda. Apakah kita siap untuk mengikuti jejak Maria dan merangkul semua anggota keluarga Allah, dan mengesampingkan  segala rasa praduga dan prasangka?

Banyak orang yang dekat dengan diri kita, bahkan kita sendiri pun, akan menghadapi dan mengalami penderitaan. Kita akan melihat betapa sulit bagi kita untuk memahami mengapa hal-hal yang begitu tidak adil dan menyakitkan terjadi atas diri kita dan juga atas orang-orang yang kita kasihi? Peringatan gerejawi hari ini mengingatkan kita akan rahmat Allah yang bekerja dalam diri Maria selagi dia ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara Yesus. Maria mendorong dan menyemangati kita agar mau dan mampu menghadapi serta menanggung kesedihan kita juga, tentunya dengan pertolongan Roh Kudus.

DOA: Roh Kudus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Aku membutuhkan Engkau, seperti juga halnya dengan Maria pada waktu ia berada di dekat Salib Kristus. Aku merindukan penghiburan dari pada-Mu dan juga kekuatan-Mu. Tolonglah diriku agar dapat memiliki rasa percaya kepada Allah dan tetap mengasihi-Nya dan sesamaku, bahkan di tengah-tengah penderitaanku. Berilah kepadaku keyakinan bahwa Yesus telah mengalahkan kuasa maut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:33-35), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU PEDANG AKAN MENEMBUS JIWA MARIA” (bacaan tanggal 15-9-18) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 September 2017 [Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERANAN SANG PENOLONG

PERANAN SANG PENOLONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 20 Mei 2018)

“… Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.” 

“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin amu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya  dan Ia aan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akkan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 15:26-27; 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: Gal 5:16-25 

Roh Kudus disebut sebagai Penolong (Yunani: Parakletos) sebanyak lima kali dalam Perjanjian Baru (Yoh 15:26; 14:16,26; 16:7; 1Yoh 2:1). Dengan menggunakan nama itu Yohanes hendak menggarisbawahi peranan Roh Kudus sebagai seorang penasihat – suatu sumber pendorong, penghiburan, pertolongan dan kebenaran.

Pada waktu Yesus hidup di muka bumi ini sebagai seorang manusia, para murid-Nya mempunyai akses yang bebas dan mudah untuk datang kepada-Nya. Mereka dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mohon nasihat kapan saja mereka inginkan. Namun pada  Perjamuan Terakhir, tahu bahwa diri-Nya tidak akan selalu dapat diakses secara fisik, Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk menyambut kedatangan seorang penolong/penasihat yang lain, yaitu Roh Kudus (Yoh 14:16). Walaupun Yesus tidak akan bersama mereka lagi dalam daging, Roh Kudus – Roh Yesus – akan berdiam di dalam diri mereka. Satu-satunya hal yang lebih baik daripada “Yesus ada bersama dengan kita” adalah “Yesus berada dalam diri kita”.

Dari segala tugas Roh Kudus, satu dari yang paling penting adalah membawa Kitab Suci ke kehidupan di dalam hati kita sehingga diri kita dapat ditransformasikan. Apakah kita pernah berpikir untuk memanggil Dia untuk duduk di samping kita ketika kita duduk membaca Kitab Suci? Dengan Dia sebagai pemandu dan penasihat, kita tentunya dapat melakukan navigasi melalui bagian-bagian bacaan sulit dalam Kitab Suci dan menemukan kedalaman-kedalaman baru dalam hidup Kristiani yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin.

Pada Hari Raya Pentakosta ini, baiklah kita (anda dan saya) datang kepada Roh Kudus dengan sebuah hati yang terbuka. Marilah kita memohon kepada-Nya untuk menolong kita dalam kelemahan-kelemahan kita. Sementara kita membaca Kitab Suci dalam keheningan dan suasana doa, biarlah Dia mencerahkan kata-kata yang ada dalam Kitab Suci dan menolong kita menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus akan mengambil pesan dari Kitab Suci, mengikatnya dengan kehidupan Gereja, dan mencelupkannya dalam-dalam di hati kita masing-masing, di mana kehendak kita dimotivasi untuk bertindak. Lalu perhatikanlah bahwa kehidupan kita pun berubah.

Santo Hieronimus [347-420] berkata: “Ignoratio Scripturarum, Ignoratio Christi est.”  (Inggris: “Ignorance of Scripture is ignorance of Christ.”), yang artinya kira-kira “Tidak kenal/tahu Kitab Suci, tidak kenal/tahu Kristus. Apakah anda mau mengenal Jesus, sang Sabda Allah? Cobalah kenal dengan Roh Kudus, Penolong anda!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk memulihkan relasi kami dengan Dikau. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan Roh Kudus untuk hidup dalam diri kami dan menolong kami dalam segala kelemahan kami. Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati kami umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu dalam hati kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 20-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  17 Mei 2018 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI YESUS DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA

MENGASIHI YESUS DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 18 Mei 2018)

OSCCap and OSCCap: Peringatan S. Krispinus dr Viterbo, Imam Kapusin

 

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25) 

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7 

Setelah Petrus mengafirmasikan kasihnya kepada Yesus sebanyak tiga kali, hal mana menunjukkan bahwa hatinya berada di tempat yang benar, sang Rasul Kepala ini menunjuk “murid yang dikasihi Yesus” (Yoh 21:20) dan bertanya kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini? Yesus menegur Petrus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku” (Yoh 21:21-22). Dalam artian tertentu, tanggapan Yesus ini adalah suatu “perpanjangan” dari pertanyaan yang diajukan-Nya kepada Petrus sebanyak tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15-17). Mengasihi Allah berarti mengikuti Dia dalam ketaatan, tanpa harus membanding-bandingkan apa yang dilakukan oleh orang-orang lain.

Kita dipanggil untuk mengasihi Yesus dengan ukuran yang sama, namun tidak harus dengan jalan yang sama. Petrus harus memahami bahwa mengikuti Yesus berarti sesuatu yang berbeda bagi dirinya ketimbang “murid yang dikasihi Yesus”. Apabila rasul yang lain itu tidak dipanggil untuk mati sebagai martir Kristus seperti yang dialami oleh Petrus, sudahlah … so be it! Allah mempunyai berbagai karunia dan peranan yang berbeda-beda bagi setiap anggota tubuh Kristus (lihat 1Kor 12:1-31).

Bagaimana halnya dengan kita sendiri? Rasanya, kita juga memiliki “sedikit Petrus” dalam diri kita masing-masing. Tidak pernahkah kita berpikir, “Mengapa orang ini tidak dapat melakukan pekerjaan seperti yang kulakukan?” atau “Mengapa orang itu tidak melakukan pengorbanan-pengorbanan pribadi untuk Tuhan seperti yang kulakukan?” Sebaliknya kalau kita melihat dari suatu perspektif yang lain, apakah kita menjadi ciut-hati karena kita tidak dapat menghayati kehidupan Kristiani – spiritualitas – sehari-hari seperti seorang pribadi lain? Yesus menegaskan di sini, bahwa mengikuti diri-Nya tidaklah berarti harus konform dengan suatu pola atau formula peraturan-peraturan tertentu. Mengikuti jejak Yesus berarti memberikan diri kita sendiri bagi suatu relasi-pribadi yang bersifat batiniah dengan diri-Nya.

Sekarang, marilah kita syeringkan panggilan dan privilese kita untuk boleh mendengar Tuhan Yesus bersabda: “Ikutlah Aku” ini. Yesus dapat memimpin kita ke arah yang baru, bahkan (barangkali) kepada jalan-jalan yang kita sendiri tidak akan pilih. Semua yang diminta adalah bahwa kita mengasihi Kristus setiap hari, tetap setia pada sabda yang telah ditaruh-Nya dalam hati kita masing-masing, dan menyerahkan baik masa lalu maupun masa depan kita kepada penyelenggaraan(-ilahi)-Nya. Hakekat Pentakosta bukanlah membentuk masyarakat yang homogen. Upaya untuk membangun sistem sedemikian akan dapat berujung pada bencana. Allah mencurahkan Roh-Nya untuk mendorong terciptanya persatuan dan kesatuan dan kasih yang riil di tengah berbagai macam ragam perempuan dan laki-laki yang berasal dari berbagai macam bangsa dan budaya. Dia mengumpulkan kita semua yang berasal dari segala macam status kehidupan ke dalam satu umat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyembah-Mu dan memuji-Mu. Engkau menciptakan aku dalam kasih, menyelamatkan aku melalui kasih, dan memenuhi diriku dengan kasih setiap hari. Pada hari ini aku mengkomit diriku kembali untuk senantiasa taat pada panggilan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MELAKUKAN BANYAK KEBAIKAN LAIN JUGA DI LUAR YANG TERCATAT DALAM INJIL” (bacaan tanggal 19-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Mei 2018 [Peringatan S. Margareta dr Cortona] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AGAR SUPAYA MEREKA SEMUA MENJADI SATU

AGAR SUPAYA MEREKA SEMUA MENJADI SATU

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan VII Paskah – Kamis, 17 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Paskalis Baylon, Biarawan (Bruder)

Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26)

Bacaan Pertama: Kis 22:30;23:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11

“Kesatuan segenap umat manusia yang terbagi-bagi itulah yang dikehendaki oleh Allah” (Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik UT UNUM SINT [SEMOGA MEREKA BERSATU], tanggal 25 Mei 1995, # 6).

Selagi kita mempersiapkan diri dalam menyambut HARI RAYA PENTAKOSTA, marilah kita menoleh ke belakang ke saat-saat Yesus menderita sengsara dan doa syafaat-Nya yang terakhir sebelum sengsara dan kematian-Nya. Untuk tiga tahun lamanya Yesus telah hidup segalang-segulung dengan para murid-Nya. Karena tahu bahwa inilah saat-saat terakhir bagi-Nya untuk bersama-sama dengan para murid yang dikasihi-Nya itu, maka Dia berdoa kepada Bapa-Nya di surga untuk terakhir kalinya bagi mereka. Dalam doa syafaat-Nya ini Yesus mempersembahkan mereka kepada Bapa, sambil berkata: “supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku” (Yoh 17:23).

Melalui baptisan, kita direkonsiliasikan dengan Allah, artinya didamaikan kembali, relasi kita dengan Allah dipulihkan. Roh Kudus datang untuk berdiam dalam diri kita masing-masing dan kita menjadi sebagian dari Tubuh Kristus di atas bumi ini. Kita dipersatukan dengan Allah dan dengan umat beriman yang lain sebagai orang-orang yang mengambil bagian dalam rahmat penebusan. Selagi Roh Kudus mengembangkan karya rahmat dalam diri kita, maka Dia membersihkan serta memurnikan kita dari dosa yang selama ini telah memisahkan kita dari Allah dan dari sesama kita. Karya pemurnian ini memampukan kita untuk memberi kesaksian tentang kuasa salib Kristus dan menyiapkan kita dalam menyongsong kedatangan Yesus untik kedua kalinya kelak.

Apabila hari ini kita memandang Gereja Kristus dalam artiannya yang luas, maka hati kita sepantasnya merasa pedih disebabkan ketiadaan kesatuan dan persatuan yang kita lihat. Walaupun banyak kemajuan dalam bidang ekumenisme pada tingkat pimpinan gereja-gereja yang ada, kenyataan sebaliknyalah yang seringkali terlihat pada tingkat akar rumput. Pimpinan gereja setempat yang satu mengkritisi gereja yang lain  dan sebaliknya juga; evangelisasi bagi mereka kiranya bukanlah mewartakan Kabar Baik kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus, melainkan giat mencuri domba-domba dari gereja yang lain lewat daya tarik khotbah yang berapi-api yang sering tanpa menyentuh kata-kata keras Yesus atau penderitaan sengsara dan salib-Nya. Setiap perpecahan yang terjadi dalam Gereja Kristus adalah skandal, bukan kehendak Roh Kudus, karena Roh Allah ini adalah Roh Pemersatu, bukan Roh Pemecah. Dengan demikian seharusnya kita merasa sedih  atas segala perseteruan yang kita lihat, perselisihan yang tidak sehat yang terjadi di dalam dan di antara gereja-gereja, komunitas-komunitas Kristiani, dalam paroki-paroki dan tarekat-tarekat yang ada di dalam Gereja. Dari semua ini yang harus membuat kita paling bersedih adalah perpecahan yang terjadi antara berbagai denominasi-denominasi Kristiani. Sungguh tragislah, manakala mereka yang menyatakan percaya kepada Allah yang sama, percaya kepada karya penyelamatan yang sama dari Putera-Nya, Yesus Kristus, percaya kepada karya Roh Kudus, namun tetapi tidak bersekutu satu sama lain secara penuh dalam artian yang sesungguhnya. Oleh karena itu berbagai macam kegiatan ekumenisme, seperti “baksos bersama”, haruslah kita dukung dengan sepenuh hati.

Selagi kita mempersiapkan kedatangan Roh Kudus pada HARI RAYA PENTAKOSTA, marilah kita mohon dengan sangat kepada-Nya agar membawa rekonsiliasi antara semua orang yang mengakui diri sebagai Kristiani dan semua denominasi Kristiani yang begitu banyak dalam jumlah dan ragam. Marilah kita memeriksa hati kita masing-masing sampai berapa banyak “sumbangan” dari diri kita sendiri ke dalam perpecahan itu – barangkali lewat/oleh cara kita “menghakimi” saudari-saudara Kristiani lainnya, atau oleh cara kita merasa kesal atau dendam tak berkesudahan terhadap kesalahan atau kekeliruan gereja lain di masa lampau. Namun ada satu hal yang harus kita camkan, yaitu bahwa kita dapat diperdamaikan (direkonsiliasikan) satu sama lain hanya apabila diri kita telah diperdamaikan dengan Allah.

DOA: Roh Kudus, datanglah kepada kami dengan terang-Mu. Bersinarlah di dalam hati kami masing-masing. Curahkanlah rahmat rekonsiliasi dan persatuan atas diri kami semua sehingga dengan demikian kehendak Bapa surgawi dapat terpenuhi. Biarlah karya-Mu dalam diri kami menjadi saksi dari kasih dan kuasa-Mu agar dunia pun dapat percaya. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “DOA YANG MENGUNGKAPKAN KASIH YESUS KEPADA PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 17-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 15 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS