Posts tagged ‘INJIL YOHANES’

YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH

YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu, 21 April 2018)

 

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka, “Apakah perkataan itu mengguncangkan kamu? Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata, “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Lalu kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:60-69) 

Bacaan Pertama: Kis 9:31-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-17

TUHAN (YHWH) bersabda lewat mulut sang Nabi: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu., dan jalanmu bukanlah jalan-Ku … Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:8,9). Sepanjang hidup-Nya, Yesus menyatakan beberapa dari pemikiran-pemikiran agung dan tinggi yang diungkapkan-Nya dalam bab 6 Injil Yohanes. Ia berbicara, baik mengenai relasi-Nya dengan Bapa-Nya dan relasi-Nya dengan kita sebagai “roti kehidupan”. Mereka yang mendengar Dia, menerima pandangan sekilas Yesus sebagai “AKU ADALAH AKU” (Kel 3:14), yang mentransenden segala batasan eksistensi yang membatasi dan menentukan kemanusiaan kita.

Kedalaman pengajaran-pengajaran-Nya ini menjadi batu sandungan bagi banyak orang yang mendengar Yesus memproklamasikannya. Mereka mencoba untuk memahami hal-hal ilahi dari Allah hanya dengan intelek manusia. Sebagai akibatnya, tibalah saat yang tidak dapat dicegah lagi ketika kata-kata Yesus (khususnya tentang Ekaristi) menjadi tidak mungkin untuk dicerna otak manusia dan diterima (Yoh 6:66). Banyak yang mengundurkan diri sebagai pengikut-Nya. Sungguh suatu tragedi! Justru ajaran yang ditolak oleh mereka adalah pemberian Yesus mengenai satu cara lain untuk dikuatkan dalam mengikuti Dia.

Dalam awal Injil Yohanes, Yesus digambarkan sebagai Sabda (Firman) Allah (Yoh 1:1). Dalam membawa sabda Allah kepada kita, Yesus memberikan kepada kita hikmat yang kita perlukan untuk menghayati kehidupan seturut niat Allah atas diri kita. Dalam membawa hikmat, Yesus datang dalam sabda dan sakramen; Ia memberikan diri-Nya kepada kita secara lengkap. Dengan memberikan kepada kita sabda dan Ekaristi, Dia memberikan kepada kita “makanan penguat penuh gizi” yang kita perlukan untuk menghayati suatu hidup Kristiani di dunia. Dalam hal ini Yesus sungguh membuat diri-Nya menjadi sumber kehidupan sejati agar kita dapat memperoleh hidup kekal.

Walaupun begitu, ada sejumlah pengikut-Nya yang pergi meninggalkan-Nya karena mereka tidak memperkenankan kebenaran menyentuh hati mereka. Santo Bernardus dari Clairvaux [1090-1153] menulis: “Bagi sebagian orang jelas bahwa kata-kata Yesus adalah roh dan hidup, dengan demikian mereka dapat mengikuti Dia; sedangkan orang-orang yang lain menilai kata-kata-Nya terlalu keras dan mereka mencari penghiburan sial-menyedihkan di tempat lain” (Sermons on Various Occasions, 5). Kita semua dihadapkan pada pilihan yang sama – Yesus atau dunia ini!

Kita mempunyai bukti nyata karya Roh Kudus dalam hati kita, apabila kita dapat berkata bersama Petrus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah roti yang turun dari surga untuk mengangkat kami ke surga. Engkau menyisihkan mahkota kemuliaan-Mu di surga dan datang ke tengah-tengah kami di dunia sebagai manusia dina dan miskin, menawarkan kepada kami keikutsertaan dalam kehidupan kekal. Bahkan sekarang pun – setiap hari – Engkau memberikan Ekaristi kepada kami. Engkau datang untuk menemui kami dalam doa dan dalam sabda-Mu dalam Kitab Suci, menguatkan kami dan mencurahkan kasih-Mu ke atas diri kami setiap hari. Tolonglah agar kami dapat memegang segala karunia sangat berharga yang telah Kauberikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 9:31-42), bacalah tulisan dengan judul “MELALUI ROH KUDUS, YESUS MENGULURKAN TANGAN-NYA KEPADA KITA” (bacaan tanggal 21-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 18 April 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 13 April 2018)

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banhyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Ada yang mengatakan, bahwa makan sambil berdiri atau berjalan kian kemari dapat menyebabkan gangguan dalam pencernaan. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk menyuruh orang banyak duduk. Memang demikianlah halnya: tubuh kita harus dalam keadaan duduk dan rileks agar makanan yang masuk dapat dicerna dengan baik. Hal yang sama berlaku untuk pencernaan secara rohaniah (spiritual). Kita harus rileks dan tidak sibuk kesana kemari agar supaya Yesus dapat memberi makanan kepada roh kita. Kita dapat menderita sakit pencernaan spiritual apabila kita hanya berdoa sementara disibukkan dengan pekerjaan kita. Boleh saja kita mengatakan “karyaku adalah doaku”, tetapi doa dalam keheningan di tengah quality time kita harus tetap dilakukan. Mengapa? Karena pengalaman banyak orang mengatakan bahwa betapa sulit jadinya untuk mendengar suara Allah dan beristirahat dalam kasih-Nya apabila setiap saat dari hari-hari kehidupan kita hanya dipenuhi dengan kesibukan.

Orang banyak yang diberi makanan oleh Yesus mengikuti Dia ke atas gunung karena mereka lapar akan jawaban-jawaban Yesus – akan pengharapan, tujuan, dan perjumpaan pribadi dengan kasih Allah. Mereka mempunyai banyak kebutuhan: Ada yang sakit, ada juga yang sedang tertindas. Bagi orang-orang lain, untuk survive dari hari ke hari saja sudah sulit. Akan tetapi, Yesus melihat dan merasakan kebutuhan-kebutuhan mereka semua dan menjawabnya satu persatu pada setiap tingkat. Ia minta agar para murid-Nya menyuruh orang banyak untuk duduk dan beristirahat, sehingga dengan demikian Ia dapat memberi mereka makan. Ia memberi orang banyak itu makan untuk memperkuat mereka dalam perjalanan pulang mereka ke rumah masing-masing. Ia mewartakan kabar baik dari Kerajaan Allah kepada orang banyak itu. Ia bahkan menyembuhkan mereka di bidang fisik, spiritual dan emosional.

Lebih dari dua ribu tahun kemudian, di abad ke-21 ini, kehidupan kita masih banyak menuntut. Penderitaan masih hadir di sekeliling kita dalam berbagai bentuknya. Setiap orang menghadapi berbagai kebutuhan dan tekanan yang harus diatasi. Memang tidak sulit untuk merasakan  bagaimana pikiran kita bergerak dengan cepat, bahkan ketika kita mencoba untuk diam dan berdoa secara hening. Yesus tetap meminta kita untuk duduk, membuat tenang pikiran kita dan menerima dari Dia.

Satu cara yang dapat menolong kita dalam berdoa adalah dengan menggunakan imajinasi. Kita dapat membayangkan berada bersama Yesus, para rasul dan orang banyak di atas gunung itu. Kita dapat membayangkan sedang memperhatikan Yesus yang memandang ke surga selagi Dia memohon kepada Bapa-Nya di surga untuk memberkati lima roti jelai dan dua ekor ikan yang tersedia. Kemudian kita membayangkan didatangi oleh salah seorang rasul yang menawarkan roti dan ikan sesuai dengan keinginan kita. Sekarang, marilah kita mohon agar Yesus memenuhi diri kita dengan damai sejahtera dan sukacita sementara Dia berjanji untuk menolong kita agar setiap kebutuhan kita dipenuhi.

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan kepada-Mu segala keprihatinan yang ada dalam pikiranku sekarang. Tolonglah aku agar dapat membuat tenang hatiku sehingga aku pun dapat duduk di dekat kaki-Mu dan ikut ambil bagian dalam perjamuan-Mu sepanjang hidupku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA” (bacaan tanggal 13-4-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 8 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SAHABAT-SAHABAT YESUS

SAHABAT-SAHABAT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Jumat 23 Mei 2014)

the-last-supper

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku  tidak menyebut  kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain. (Yoh 15:12-17)

Bacaan Pertama: Kis 15:22-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:8-12 

Sungguh suatu kehormatan menjadi sahabat-sahabat Yesus! Kita tidak sembarang memakai gelar “sahabat-sahabat Yesus” itu, karena memang diberikan oleh Allah sendiri. Yesus mengasihi kita masing-masing sebagai pribadi dengan kasih yang tak dapat dilampaui oleh kasih yang mana pun juga. Dia bersabda kepada para murid-Nya: Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya”(Yoh 15:13). Karena ini adalah yang dilakukan Yesus bagi kita, maka kita dapat sepenuhnya percaya bahwa kita memang adalah para sahabat-Nya.

Yesus adalah seorang sahabat yang paling sempurna dari segala sahabat. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih yang diberikan-Nya kepada kita. Kasih-Nya bukanlah kasih yang bersifat abstrak, melainkan suatu kasih penuh afeksi yang dapat kita alami. Dia menunjukkan kasih-Nya bagi kita dengan cara-cara konkret. Yang paling penuh dengan kuat-kuasa tentunya adalah kerelaan-Nya untuk mati bagi kita. Akan tetapi, setiap hari Dia menawarkan karunia-karunia-Nya: “kesabaran” manakala jiwa kita terancam iritasi sehingga mau berontak; “kelemah-lembutan” manakala kekerasan sudah mulai melanda diri kita; “hikmat-kebijaksanaan” manakala hikmat manusiawi kita mulai habis. Dan akhirnya ada karunia “keselamatan” – pengampunan kita, kelahiran baru kita, dan janji akan hidup kekal!

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Pada saat Roh Kudus menuliskan kata “sahabat” pada hati kita, kita mulai mencicipi kasih Yesus bagi kita. Menuduh dan menghukum orang lain – dan diri sendiri – selesailah sudah. Rasa takut, rasa bersalah dan rasa cemas serta was-was digantikan oleh pengampunan, dapat menerima, dan damai-sejahteera. Keyakinan bahwa hidup kita terjaga akan menghilangkan rasa ragu dan takut. Hidup kita pun akan memiliki tujuan yang lebih besar selagi kita menanggapi panggilan Yesus sebagai terang dunia dan garam bumi (Mat 5:13-16). Setiap hal yang diterima oleh Yesus dari Bapa-Nya juga menjadi bagian dalam roh kita, dan kita pun mulai menghasilkan buah (Yoh 15:16).

Setiap hari, banyak kali dalam sehari, Yesus menawarkan kepada kita bukti-bukti kasih-Nya dan persahabatan-Nya. Tidak bagi kita saja – tidak untuk disimpan di bawah bantal atau tabungan rohani – melainkan dimaksudkan agar kita dimampukan untuk mengasihi orang-orang lain sebagaimana kita sendiri dikasih oleh-Nya. Dengan cara ini, kita mematuhi perintah-Nya untuk saling mengasihi, dengan demikian semakin serupa dengan gambaran-Nya (Yoh 15:12). Inilah yang dimaksudkan oleh Yesus bagi Gereja-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah memilih kami sebagai sahabat-sahabat-Mu. Kami sungguh bersukacita dalam persahabatan ini dan dalam transformasi yang dibawa oleh Roh Kudus dalam hidup kami. Kami mengkomit diri kami untuk mengasihi-Mu, melayani-Mu, dan untuk taat kepada-Mu sepanjang hidup kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:12-17), bacalah tulisan yang berjudul “SAHABAT SEJATI” (bacaan tanggal 23-5-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN MEI 2014.

Bacalah juga tulisan berjudul “PERINTAH DARI SEORANG SAHABAT: SUPAYA KAMU SALING MENGASIHI, SEPERTI AKU TELAH MENGASIHIMU” (bacaan tanggal 27-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 15:22-31), bacalah tulisan yang berjudul “RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA AWAL – LANJUTAN” (bacaan tanggal 11-5-12) dalam situs/ blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-5-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 19 Mei 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENJANJIKAN SUKACITA KEPADA KITA

YESUS MENJANJIKAN SUKACITA KEPADA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Kamis, 22 Mei 2014) 

Champaigne - THE LAST SUPPER

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh.” (Yoh 15:9-11) 

Bacaan Pertama: Kis 15:7-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10 

Yesus menjanjikan sukacita kepada kita, apabila kita tinggal dalam kasih-Nya. Tinggal di dalam kasih Yesus berarti menemukan suatu kebebasan karena kita mengandalkan diri kepada-Nya. Apabila kita tinggal di dalam kasih Yesus, maka kita pun akan mengakui bahwa hanya Dia-lah yang memberikan kepada kita kuat-kuasa untuk mengampuni, untuk saling mengasihi, dan untuk mengalami keagungan-Nya. Sukacita akan datang ketika kita mengatakan kepada Yesus: “Yesus, aku tidak dapat berbuat apa pun yang baik tanpa Engkau. Namun melalui Engkau, semuanya menjadi mungkin.”  Tuhan mengetahui bahwa kebanyakan kita memiliki iman yang masih jauh dari “iman sempurna”, namun setiap hari Dia menyambut kita dengan tangan-tangan yang terbuka lebar. Setiap hari Yesus memberikan kepada kita kekuatan untuk mentaati-Nya dan juga kemampuan untuk bangkit berdiri lagi setiap kali kita jatuh.

Berapa besar kasih Allah kepada kita? Allah mengaruniakan Putera-Nya sendiri untuk mati bagi kita, bahkan ketika masih menjadi “musuh-musuh”-Nya. Inilah yang ditulis oleh Santo Paulus: “Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar – tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:6-8). Ia mengutus Roh Kudus-Nya agar kita dapat ikut ambil bagian dalam sengsara dan kematian Kristus dengan mati terhadap dosa, dan ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya dengan dilahirkan kembali dalam suatu hidup baru. Allah menawarkan kepada kita sukacita setiap hari selagi Dia mentransformasikan hati kita. Allah telah memberikan begitu banyak kepada kita! Karena kematian dan kebangkitan Yesus, kita dapat berada dekat dengan Bapa surgawi dalam doa-doa penyembahan, kita dapat memohon pertolongan-Nya ketika kita berada dalam kesusahan, dan menerima penghiburan-Nya pada saat-saat hati kita terluka.

Jesus_181Terkadang kehidupan Kristiani dapat terasa sebagai sebuah beban yang berat. Menaruh kepercayaan pada Allah saja ketika segala sesuatu dalam hidup kita terasa tidak beres dan malah berantakan, mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, melaksanakan tugas pelayanan yang sulit dengan gembira – semua ini melibatkan kita dalam suatu pergumulan yang serius dsan terus-menerus dengan kodrat kita yang cenderung untuk berdosa. Akan tetapi pada saat-saat kita merasa letih-lesu, sumber penyegaran kita adalah keyakinan bahwa Allah yang sama, yang telah memberikan Putera-Nya, masih mengasihi kita dengan begitu mendalam sehingga Dia akan melakukan apa saja yang diperlukan untuk membawa kita kepada diri-Nya (lihat Rm 8:31-39). Bahkan ketika kita gagal dan merasa tidak ada sesuatu pun yang baik dalam diri kita, Allah tetap  rindu untuk menyambut kita. Pernyataan-pernyataan sedemikian harus membebaskan kita sampai pada suatu titik di mana kita tidak hanya mengalami damai-sejahtera, melainkan juga merasa berbahagia, bahkan merasa terbebaskan dari beban berat yang selama ini kita pikul.

Kapan terakhir kali kita mensyukuri dengan penuh sukacita kasih Allah dan segala hal baik yang diberikan-Nya kepada kita? Allah memang ingin diri kita semua mengalami sukacita. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada-Nya agar menunjukkan dengan jelas kebebasan kita dalam Kristus sehingga kita dapat sungguh bersukacita.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang tak terhingga bagi diriku dan saudari-saudaraku. Oleh Roh Kudus-Mu, ajarlah aku agar dapat tinggal di dalam Yesus Putera-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat mengenal dan mengalami sukacita kehidupan yang lengkap bersama Engkau selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-11), bacalah tulisan yang berjudul “JIKALAU KAMU MENURUTI PERINTAH-KU” (bacaan tanggal 22-5-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN MEI 2014.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “YESUS BERBICARA MENGENAI KASIH BAPA-NYA” (bacaan tanggal 2-5-13) dan “KASIH, KETAATAN DAN SUKACITA !!!” (bacaan tanggal 10-5-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama  (Kis 15:7-21), bacalah tulisan yang berjudul “RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA AWAL” (bacaan tanggal 26-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-5-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Mei 2014 [Peringatan S. Krispinus dr Viterbo, Bruder Kapusin] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAMAI SEJAHTERA DARI YESUS

DAMAI SEJAHTERA DARI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Selasa, 20 Mei 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Bernardinus dr Siena, Imam

LAST SUPPER - 30Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku, tetapi dunia harus tahu bahwa aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku (Yoh 14:27-31a).

Bacaan Pertama: Kis 14:19-28; Mazmur Tanggapan: 145:10-13,21

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan dan gentar hatimu” (Yoh 14:27).

Selama hidup-Nya di muka bumi, Yesus menyatakan damai sejahtera dari Allah sendiri – suatu damai sejahtera yang melampaui segala pemahaman. Menjelang awal pelayanan-Nya, Yesus dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun di mana Dia digoda oleh Iblis. Walaupun menghadapi serangan-serangan dari si Jahat, Yesus tetap teguh berpegang pada kasih dan kebenaran Bapa-Nya (Luk 4:1-13).

YESUS BERDOA - 1Seringkali Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa dan mendengarkan suara Bapa-Nya. Selama saat-saat yang istimewa ini, Yesus akan menerima rahmat dan damai-sejahtera yang dicurahkan oleh Bapa atas diri-Nya. Ketika bersama para murid/rasul-Nya di dalam perahu dan kemudian badai mengamuk dengan hebatnya, Yesus tetap tidur di buritan, seakan tak terganggu dengan apa yang terjadi. Ketika Dia dibangunkan oleh para murid yang sudah ketakutan itu,  Yesus membentak angin itu agar menjadi reda dan tenang. Hal tersebut mengingatkan para murid pada Allah dan kuat-kuasa-Nya (Mrk  4:35-41).

Ke mana saja Yesus pergi, orang banyak berdesak-desakan mengikuti-Nya agar dapat menerima kesembuhan dan pelepasan/pembebasan dari kuasa roh-roh jahat, namun Yesus tidak pernah merasa kewalahan. Ia selalu kembali berpaling kepada Bapa-Nya, mengandalkan diri-Nya pada hikmat dan kekuatan Allah Bapa. Yesus menunjukkan ketaatan, memberi respons hanya seturut apa yang diperintahkan oleh Bapa-Nya, maka Dia mampu untuk tetap berada dalam damai sejahtera Allah.

Hati Yesus penuh dengan kasih-Nya kepada Bapa, menaruh kepercayaan pada diri-Nya, dan mengandalkan sepenuhnya kepada kuat-kuasa-Nya. Bahkan ketika Dia meninggalkan/memberikan damai sejahtera-Nya kepada para murid-Nya, Yesus mengetahui bahwa saat-Nya Dia memanggul salib sudah semakin dekat. Walaupun begitu, Yesus mendeklarasikan bahwa kebesaran/keagungan Bapa-Nya: “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh 14:28); “Aku pergi kepada Bapa-Ku” (Yoh 14:28); “Aku mengasihi Bapa” (Yoh 14:31).

Kita semua tentunya menghadapi pencobaan, mengalami kekecewaan-kekecewaan dan rasa takut. Namun ingatlah bahwa Yesus bersabda: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh 14:27). Walaupun pada saat-saat kita tidak mengalami banyak kesusahan, Yesus terus saja mengucapkan kata-kata ini kepada kita. Dia ingin memenuhi hati kita dengan kehadiran-Nya. Dia rindu untuk menarik kita semua kepada Bapa sehingga kita dapat mengenal damai sejahtera yang tidak tergantung pada situasi-situasi di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah sang Raja Damai. Datanglah memerintah dalam hati kami. Ingatkanlah kami akan kasih dan kerahiman sempurna Bapa. Roh Kudus, kuatkanlah rasa percaya kami akan Bapa surgawi,  sehingga dengan demikian kami akan berjalan setiap hari dalam damai sejahtera dan kehadiran Allah Tritunggal Mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:27-31a), bacalah tulisan yang berjudul “DAMAI SEJAHTERA KUTINGGALKAN BAGIMU” (bacaan tanggal 20-5-14) dalam situs/ blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN MEI 2014.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADA-MU” (bacaan tanggal 30-4-13) dan “DUNIA HARUS TAHU BAHWA AKU MENGASIHI BAPA” (bacaan tanggal 24-5-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 14:19-28), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK MASUK KE DALAM KERAJAAN ALLAH, KITA HARUS MENGALAMI BANYAK SENGSARA” (bacaan untuk tanggal 8-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-4-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Mei 2014 [HARI MINGGU PASKAH V]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS