Posts tagged ‘INJIL YOHANES’

YESUS ADALAH SANG ANAK DOMBA ALLAH

YESUS ADALAH SANG ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun A] –  19 Januari 2020)

HARI KEDUA PEKAN DOA SEDUNIA

Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”

Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku. Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34) 

Bacaan Pertama: Yes 49:3,5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 1:1-3

Saat yang sudah sekian lama dinanti-nantikan akhirnya tiba bagi Yohanes Pembaptis. Ia telah berseru-seru di padang gurun, “Luruskanlah jalan Tuhan”. Akhirnya sekarang ia dapat membuat deklarasi: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29).  Kita dapat membayangkan betapa hati Yohanes dipenuhi sukacita dan rasa syukur. Misinya telah selesai ketika dia memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah – Seseorang yang sebelumnya tidak dikenalinya, yang Allah telah nyatakan kepada-Nya pada akhirnya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya” (Yoh 1:32).

Dengan menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, Yohanes sebenarnya memenuhi sabda Allah dalam Kitab Suci yang berbicara mengenai sang Mesias sebagai seekor anak domba – lemah lembut dan rendah hati, namun pada saat yang sama kuat dan agung. Yesus adalah “anak domba yang dibawa yang dibawa ke pembantaian” (Yes 53:7), namun Ia juga “ditakdirkan” untuk memimpin umat Allah, membebaskan mereka dari para lawan mereka dan memerintah mereka. Kita dapat melihat imaji-ganda ini secara paling jelas dalam Kitab Wahyu di mana Yesus digambarkan sebagai “Singa dari suku Yehuda” yang telah berkemenangan, dan sebagai Anak Domba, hanya Dialah yang dapat membuka gulungan kitab penghakiman Allah (Why 5:5-14).

Dalam saat penuh berkat, Yohanes Pembaptis dimampukan untuk melihat Yesus tidak seperti sebelum-sebelumnya. Barangkali dalam masa Natal ini kita pun dapat mempunyai saat-saat penuh berkat seperti Yohanes Pembaptis. Seperti Yohanes Pembaptis, kita pun dapat menerima pernyataanj/perwahyuan ilahi yang akan menggetarkan hatri kita. Roh Kudus yang sama, yang telah memberdayakan Yesus dan membuka pikiran Yohanes Pembaptis berdiam dalam diri kita. Kita menerima Roh Kudus pada saat kita dibaptis. Nah, sekarang Roh Kudus ini menantikan kita untuk memanggil-Nya sebagai Guru dan Penghibur kita. Dalam doa kita hari ini, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita lebih lagi tentang sang Anak Domba Allah yang memenuhi janji-janji Allah itu.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk menyerahkan hidup-Nya agar kami dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, terangilah kami agar dapat melihat kuat-kuasa dan keindahan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang perkasa – dibantai namun memerintah dengan jaya sebagai Raja segala raja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), bacalah tulisan yang berjudul “IA INILAH ANAK ALLAH” (bacaan tanggal 15-1-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA

Cilandak, 16 Januari 2020 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Protomartir Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESAKSIAN SANG BENTARA TENTANG YESUS

KESAKSIAN SANG BENTARA TENTANG YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Sabtu, 11 Januari 2020)

Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia tinggal di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi, Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air. Orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.

Lalu timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya, “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang Sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah bersaksi, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Jawab Yohanes, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga. Kamu sendiri dapat bersaksi bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang punya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. (Yoh 3:22-30) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9 

Seorang pemain sepak bola baru saja menciptakan sebuah gol spektakuler, ia baru saja berhasil memasukkan bola ke dalam gawang lawan pada menit terakhir sebuah pertandingan menentukan. Ia pun kemudian diarak dengan penuh kegembiraan oleh rekan-rekan satu timnya dan para penonton pendukung tim-nya pun mengelu-elukan dia. Untuk kesekian kalinya mereka menjadi juara liga sepak bola di negeri mereka! Seorang eksekutif perusahaan baru saja menutup sebuah business deal yang sangat penting. Ia melihat pandangan kagum penuh penghargaan dari atasannya dan para rekan kerjanya. Seorang remaja baru saja lulus SMU, dan ia difoto bersama dengan kedua orangtuanya yang bangga akan prestasinya. Ya, di dalam masyarakat seperti kita kenal, biasanya kekaguman datang hanya sebagai ganjaran atas capaian atau perbuatan yang legitim dan baik menurut ukuran manusia.

Namun, Yohanes pembaptis mengungkapkan bahwa Yesus memandang diri kita secara berbeda. Dia bersukacita karena memandang kita apa adanya, bukan hanya karena apa yang berhasil kita capai. Kita adalah “mempelai/pengantin” dan Kristus adalah “mempelai laki-laki” (Why 21:1-2). Yesus memandang kita dengan sukacita sebegitu rupa sehingga pada kenyataannya Dia bernyanyi karena kita. Hal ini mengingatkan kita kepada ayat Kitab Suci berikut ini: “TUHAN (YHWH) Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai …” (Zef 3:17). Ia senang sekali memandang kita seperti seseorang memandang kekasihnya, dan Ia bergembira melakukan sesuatu yang baik bagi kita karena Dia mengasihi kita. Mari kita lihat apa yang dikatakan-Nya: “Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; aku akan menaruh takut kepada-Ku ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari pada-Ku. Aku akan bergirang karena mereka untuk berbuat baik kepada mereka dan Aku akan membuat mereka tumbuh di negeri ini dengan kesetiaan, dengan segenap hati-Ku dan dengan segenap jiwa-Ku” (Yer 32:40-41). “Capaian” kita, prestasi kita, terletak pada penerimaan kasih-Nya dengan kerendahan hati, dan berjuang untuk hidup sebagai mempelai-Nya yang setia.

Selagi Yohanes Pembaptis mengamati awal karya Yesus di depan umum, ia dengan segala senang hati menuntun para pengikutnya kepada sang “mempelai laki-laki”. Motto-nya sekarang adalah, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). Kesenangan Yohanes karena boleh ikut ambil bagian dalam cintakasih Yesus lebih besar daripada kepuasan apa saja yang mungkin dirasakannya karena berhasil dengan baik melakukan tugas yang diberikan kepadanya. Mendengar suara Yesus saja sudah menjadikan Yohanes penuh dengan sukacita (Yoh 3:29).

Sebagaimana halnya dengan Yohanes Pembaptis, kita pun dapat bersukacita dalam Yesus sementara kita menantikan datangnya saat untuk perjamuan surgawi, seperti ada tertulis: “Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba”  (Why 19:9). Saat itu adalah saat di mana “Ia akan menghapus segala air mata dari mata kita, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (lihat Why 21:4). Cobalah kita membayangkan bagaimana merdunya suara para malaikat yang dengan penuh sukacita menyanyikan puji-pujian mereka selagi mereka melihat betapa besar kasih Allah kepada pengantinnya.

Pada hari ini, baiklah kita sediakan waktu yang istimewa untuk merenungkan bagaimana Yesus, sang mempelai laki-laki, sungguh rindu untuk hidup bersama kita  dalam kehidupan kekal.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau begitu mengasihi diriku dan sungguh menyenangi aku, bahkan ketika aku berada dalam kelemahan-kelemahanku. Tuhan Yesus, aku ingin menjadi mempelai-Mu yang senantiasa menyenangkan hati-Mu. Biarlah cara-cara-Mu semakin besar dalam diriku dan cara-caraku sendiri menjadi semakin kecil. Terima kasih, ya Tuhan Yesus, karena Engkau membuat sukacitaku menjadi penuh selagi aku mendekat kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 11-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA 2019) 

Cilandak, 9 Januari 2020

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YOHANES, RASUL PENULIS INJIL: MURID YANG DIKASIHI YESUS

YOHANES, RASUL PENULIS INJIL: MURID YANG DIKASIHI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA YOHANES RASUL-PENULIS INJIL, Hari Ketiga dalam Oktaf Natal – Kamis, 27 Desember 2019)

Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai ke kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Kemudian datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain. Sesudah itu, masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. (Yoh 20:2-8) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6.11-12 

Seorang imam muda telah beberapa tahun melayani sebagai pastor pembantu di sebuah paroki. Untuk kurun waktu yang cukup lama, imam yang memang berwajah muda belia (katakanlah, baby face) itu membuat sejumlah warga paroki cenderung untuk “menghakimi” dia sebagai naif dan tidak berpengalaman. Barangkali mis-persepsi serupa mempengaruhi bagaimana sebagian dari kita memandang Santo Yohanes Penginjil yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini.

Menurut tradisi, Yohanes disebut sebagai “murid yang dikasihi Yesus” (lihat Yoh 20:2). Orang kudus ini juga dilukiskan sebagai seorang rasul muda-usia yang menaruh kepalanya di atas punggung Yesus pada waktu Perjamuan Terakhir. Namun gambaran seperti ini tentang Yohanes dapat saja menutupi kekuatan pribadi sang rasul yang datang dari relasi penuh keintiman sedemikian dengan diri Yesus.

Injil mencatat, “… ia melihatnya dan percaya” (Yoh 20:8). Ini adalah dasar dari kedekatan Yohanes dengan Yesus, yaitu kasihnya dan imannya bahwa Yesus wafat dan bangkit untuk kita-manusia. Kasih yang ditunjukkan oleh Yohanes di kubur pada hari Minggu Paskah tidak bersifat statis, melainkan terus membawanya sepanjang masa hidupnya yang diperkirakan sangat panjang. Karena Yohanes cukup rendah hati untuk memperkenankan keakrabannya dengan Yesus bertumbuh, maka dikatakan bahwa dia telah menunjukkan kekuatan yang luarbiasa ketika mengalami pencobaan-pencobaan berat dalam hidupnya. Memang kita tidak memiliki kepastian mengenai kehidupan Yohanes, namun beberapa tulisan yang berasal dari abad kedua dan ketiga kelihatannya memberi kesaksian yang mendukung komitmen tak-tergoyahkan dari sang rasul terhadap Yesus walaupun pada saat-saat dia menanggung penderitaan: dipenjara, percobaan pembunuhan atas dirinya dengan memasukkannya ke dalam sebuah ketel yang berisikan minyak mendidih, dan pengasingan sementara dirinya dari kota Efesus. Melalui itu semua, Yohanes memberi contoh tentang iman yang tak tergoyahkan dalam kuat-kuasa Tuhan Yesus yang telah bangkit.

Dari abad ke abad, berbagai tradisi menyangkut Yohanes Penginjil disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya: dari Santo Ireneus (c.125-c.201) yang mengenal Santo Polykarpus (c.69-c.155) yang adalah seorang murid dari Santo Yohanes. Inilah bagaimana Injilnya sampai kepada kita juga. Selama 2.000 tahun, umat Kristiani yang setia telah menyampaikan kabar-kabar bahwa Yesus datang  untuk menyatakan kasih Bapa surgawi yang bersifat intim. Sekarang, kita harus mengambil peranan dalam rangkaian komunikasi tersebut. Marilah kita masing-masing meneladan Santo Yohanes dengan bertumbuh dalam keintiman dengan Yesus dan memperkenankan Kabar Baik tentang Kasih Allah disampaikan melalui kita kepada generasi yang akan datang.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin terhitung sebagai salah seorang murid Yesus Kristus yang dikasihi oleh-Nya. Aku ingin bertumbuh dalam keintiman relasi dengan Yesus, untuk lebih mengenal lagi Allah Tritunggal Mahakudus, dan dengan kasih dalam hidupku …… untuk men-sharing-kan Injil dengan generasi-generasi yang akan datang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 1:1-4), bacalah tulisan berjudul “MENGGANTUNGKAN DIRI SEPENUHNYA PADA YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 27-12-19) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Desember 2019 [PESTA S. STEFANUS, MARTIR PERTAMA]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA MENYAMBUT TUHAN DAN SAUDARA KITA

MARILAH KITA MENYAMBUT TUHAN DAN SAUDARA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus siang, Hari Raya Natal – Rabu, 25 Desember 2019)

Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya melalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran. Yohanes bersaksi tentang Dia dan berseru, “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian daripada aku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”  Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah; sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yoh 1:1-18)  

Bacaan Pertama: Yes 52:7-10; Mazmur Tanggapan: 98:1-6; Bacaan Kedua: Ibr 1:1-6

Ucapan “Selamat Natal!” terdengar di mana-mana pada hari ini, baik diucapkan keras-keras maupun dengan suara yang lemah lembut disertai cipika-cipiki; dapat juga lewat telpon rumah/HP, lewat WA-WA, FACEBOOK, INSTAGRAM, BBM, SMS, E-MAIL, KARTU NATAL dlsb. dst. Namun demikian, begitu mudahnya kita mengucapkan “Selamat Natal” ini secara rutin, maklum orang-orang kota besar yang selalu sibuk (busy-busy) …… senantiasa on the move!  

Pada hari yang sangat penting seperti Hari Raya Natal ini, Allah ingin agar kita merenungkan “misteri agung” yang kita rayakan ini – sebuah misteri yang kedalamannya sangat mengherankan dan sekaligus membuat kita merasa takjub. Injil Yohanes mengingatkan serta menghibur hati kita yang berbeban berat, bahwa Allah melakukan segalanya yang mungkin agar kita diselamatkan, berapa pun biayanya.

Dalam diri Yesus, Allah Bapa mengutus  “Yang Sulung” dari umat manusia (Rm 8:29; 1Kor 15:20,23; Kol 1:15,18, Ibr 1:6). “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3). Yesus itu bagaikan tangan Allah guna menyelamatkan manusia dari kedalaman lembah kedosaan kita, sehingga dengan demikian kita dapat masuk ke dalam relasi yang hidup dengan Dia.

Yesus adalah sang Sabda (Firman) yang berkata bahwa Allah rela mengorbankan Putera-Nya yang tunggal daripada tidak dapat mengumpulkan bersama seluruh keluarga-Nya. Yesus adalah sang Sabda yang mengatakan kepada kita, bahwa Bapa di surga tidak ingin kehidupan kekal tanpa keberadaan kita, sebagai anak-anak-Nya. Dia juga berkata, bahwa kita bukanlah sekadar debu dan abu. Kedatangan Yesus ke tengah-tengah kita di dunia mengungkapkan kasih Allah yang tidak menghitung-hitung biaya untuk membawa kita kembali kepada-Nya. Hal itu mengatakan kepada kita, bahwa kita sungguh berarti bagi-Nya, bahwa Allah mengasihi kita dengan sangat mendalam, bahkan kita memberikan sukacita kepada-Nya dengan menjadi anak-anak-Nya yang baik.

Kasih mendalam dari Allah Bapa dinyatakan dalam diri Yesus Kristus – “Sabda yang menjadi daging” atau “Firman yang menjadi manusia” (Yoh 1:14). Oleh karena itu sepantasnyalah apabila kita menyambut Dia dengan penuh hasrat pada hari ini, mengakui diri-Nya sebagai seorang “Saudara” yang menderita karena ditolak oleh ciptaan-Nya sendiri: “Ia datang kepada milik-Nya, tetapi milik-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11). Walaupun Saudara kita ini sejak awal ada bersama-sama Allah dan Dia adalah Allah, dan segala sesuatu dijadikan oleh-Nya (Yoh 1:2-3), Dia datang ke tengah dunia untuk hidup bersama-sama dengan kita-manusia, …… ke dalam sejarah kehidupan manusia yang dibatasi ruang dan waktu.

Yesus adalah “Terang yang bercahaya di dalam kegelapan” (Yoh 1:5). Ia datang untuk menghancurkan pekerjaan-pekerjaan si Jahat, yang hanya dapat melawan rancangan-rancangan Allah saja. “Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri. Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu” (Keb 2:23-24). Sebagai Allah, dan juga sebagai Dia yang ikut ambil bagian dalam kondisi manusiawi kita yang dina, Yesus bertemu dengan musuh-Nya dan mengalahkan dia dengan biaya darah-Nya sendiri.

Apa tolok ukur dari seorang sahabat yang sejati? Seseorang yang berdiri di samping kita, bahkan ketika kita tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya. Sahabat-sahabat sejati duduk dalam ruangan di rumah sakit menemani kita pada saat-saat kita sakit, menolong kita membangun rumah kita, menghibur kita pada saat-saat kita mengalami kegelapan dan kehilangan. Kita mengetahui bahwa para sahabat ini mengasihi diri kita karena yang mereka lakukan mengandung biaya. Bagi Yesus – Ia yang paling sejati dari para sahabat – biaya mengasihi kita adalah nyawa-Nya sendiri – biaya yang dengan gembira dibayar oleh-Nya.

Memang sulitlah bagi kita untuk membayangkan kenyataan bahwa Allah Bapa dan Putera sangat mengasihi kita. Namun demikian, biarlah kebenaran ini mengendap, dan janganlah sampai dibuang. Apa yang dipikirkan Allah tentang kita lebih penting daripada apa yang dipikirkan oleh orang-orang lain. Jadi, bagaimana pun “tak masuk akal”-nya hal itu di mata kita, Allah mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya dan melihat Putera-Nya sendiri, “Terang manusia”, berdiam dalam diri kita masing-masing (Yoh 1:4). Allah adalah bagi kita dan telah merencanakan bahwa kita harus mengenal-Nya. Dia ingin membuat suatu kejutan – surprise –  bagi kita dengan pengetahuan bahwa kita adalah milik-Nya, walaupun kita merasa bukan milik siapa pun dalam dunia ini.

Pada hari ini, biarlah Bapa surgawi mengatakan kepada kita betapa dalam Ia mengasihi kita. Kalau dimungkinkan, baiklah kita menyediakan waktu untuk memandang “kandang Natal” dalam keheningan. Pada saat itu, baiklah kita merenungkan keagungan rancangan Allah untuk menjadi satu dengan kita anak-anak-Nya. Marilah kita menyambut kedatangan Yesus ke tengah dunia dan ke dalam hati kita dengan cara baru pada hari ini, dan berterima kasih penuh syukur kepada-Nya karena sudi menjadi seorang Saudara kita ……, seorang Saudara yang sangat mengasihi kita masing-masing, bagaimana pun tidak sempurnanya kita.

DOA: Yesus, Tuhanku dan Saudaraku, perkenankanlah aku memandang Engkau, teristimewa pandangan mata-Mu. Engkau turun dari tempat yang tinggi untuk menemukan diriku. Engkau membayar biaya yang begitu besar untuk membawa aku kembali kepada Bapa surgawi. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Tuhan dan Juruselamatku. Aku sungguh ingin senantiasa bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil untuk Misa Natal siang (Yoh 1:1-18, bacalah tulisan yang berjudul “PERENDAHAN DIRI ALLAH” (bacaan tanggal 25-12-19), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERJUMPAAN DENGAN KRISTUS YANG BANGKIT DALAM SUASANA INTIM

PERJUMPAAN DENGAN KRISTUS YANG BANGKIT DALAM SUASANA INTIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Maria Magdalena – Senin, 22 Juli 2019)

OSF: Pesta S. Maria Magdalena, nama pendiri tarekat: Sr. Magdalena Daemen

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!”  Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:1-2,11-18) 

Bacaan Pertama: Kid 3:1-4a atau 2Kor 5:14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9 

“Maria!” (Yoh 20:16). Apabila Allah berbicara, maka surga dan bumi pun bergetar. Bayangkanlah betapa rasa takut mencekam orang-orang Israel yang datang bersama Musa ke gunung Sinai yang dikelilingi oleh awan-awan tebal dan api yang berkobar-kobar, walaupun mereka hanya sampai ke kaki gunung saja (bacalah: Kel 19:1-25). Namun di puncak gunung itulah Allah mewahyukan/menyatakan perjanjian-Nya. dengan umat Israel lewat Musa. Demikian pula, betapa takut kiranya Maria Magdalena ketika dia mendapati kubur yang sudah kosong pada hari Paskah pagi (Yoh 20:1). Namun ia akan berjumpa dengan Kristus yang telah bangkit, Tuhan dan Juruselamat yang akan membawa dirinya ke dalam sebuah perjanjian yang baru dan kekal.

Sekarang, marilah kita merenungkan sejenak perjanjian baru yang telah kita terima dalam darah Yesus. Seluruh alam ciptaan adalah milik Allah, namun Ia memilih Israel, dan kemudian Gereja-Nya (Israel yang baru), untuk dipisahkan tersendiri sebagai suatu testimoni yang memancarkan sinar terang kemuliaan-Nya. Dia datang ke Israel dalam awan tebal dlsb. Ia berbicara kepada mereka melalui Musa, sang mediator. Ia datang kepada kita dalam Ekaristi dan berbicara secara langsung kepada hati kita oleh/melalui Roh Kudus-Nya. Maria berjumpa dengan Tuhan yang bangkit dalam suasana intim. Demikian pula kiranya yang terjadi dengan kita masing-masing setiap kali kita datang menghadap hadirat-Nya dalam doa, teristimewa dalam perayaan Ekaristi.

Ketika berkumpul di kaki gunung Sinai, orang-orang Israel sungguh tidak tahan mendengar suara YHWH-Allah (lihat Ibr 12:19-20). Semuanya begitu dahsyat serta menakutkan. Ketika Yesus menyebut nama “Maria”, maka keseluruhan hidupnya pun ditransformasikan. Kesedihan memberi jalan kepada suka-cita dan keputus-asaan memberi jalan kepada pengharapan. Segalanya yang diharapkan oleh Maria Magdalena adalah untuk mendengar suara Tuhan Yesus sendiri yang berbicara langsung kepadanya. Dan Tuhan yang bangkit memperkenankan hal ini terjadi dengan murid-setia-Nya yang perempuan ini!

Hal ini adalah privilese besar dari hidup kita sebagai anak-anak perjanjian baru. Kita tidak datang kepada kegelapan dan kegalauan, melainkan kepada Tuhan Yesus yang lemah-lembut, sang Anak Domba Allah yang disembelih untuk menebus dosa-dosa kita. Dalam Yesus kita dapat menyentuh takhta Allah dan diangkat dari kematian kepada kehidupan. Setiap hari kita dapat mendengar Tuhan Yesus menyebut nama kita. Setiap hari pula kita dapat diangkat sampai ke hadapan takhta Allah. Oleh karena itu, janganlah kita melarikan diri dari suara-Nya yang menyebut-nyebut nama kita.

DOA: Tuhan Yesus, ketika Maria Magdalena dan Maria yang lain menengok kubur-Mu pada hari Paskah pagi, tiba-tiba terjadilah gempa bumi yang hebat (Mat 28:1-2) yang tidak hanya menggoncangkan bumi, melainkan juga hati para murid-Mu. Engkau juga telah berjanji untuk menggoncangkan alam ciptaan lagi pada saat Engkau kembali dalam kemuliaan kelak. Aku menanti-nanti kedatangan-Mu dengan kerinduan yang besar. Datanglah, Tuhan Yesus! (Why 22:20). Datanglah! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-2,11-18), bacalah tulisan yang berjudul “AKU TELAH MELIHAT TUHAN!” (bacaan tanggal 22-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MELAKUKAAN BANYAK KEBAIKAN LAIN JUGA DI LUAR YANG TERCATAT DALAM INJIL

 YESUS MELAKUKAN BANYAK KEBAIKAN LAIN JUGA DI LUAR YANG TERCATAT DALAM INJIL

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 8 Juni 2019)

OFMCap. (Kapusin): Peringatan B. Nikolaus Gesturi, Imam Biarawan

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25) 

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7 

Kitab-kitab Injil adalah anugerah dari Allah bagi kita semua, diinspirasikan oleh Roh   Kudus dan ditulis pada masa Gereja awal, agar kita dapat percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah dan Juruselamat dunia (Yoh 20:31). Kitab-kitab Injil ini tidak memuat semua mukjizat Yesus, melainkan memberi kesaksian tentang kedatangan Yesus sebagai seorang manusia, tentang ajaran-ajaran-Nya dan mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya, dan akhirnya tentang kematian dan kebangkitan-Nya, semuanya itu dengan satu  tujuan: Agar kita dapat ikut ambil bagian dalam hidup-Nya. Karena itu kita membaca bahwa Yesus melakukan banyak hal lain juga, hal-hal yang tidak termasuk/tercatat dalam kitab-kitab Injil itu (Yoh 21:25).

Yesus melakukan banyak lagi hal-hal lain di luar yang diceritakan dalam kitab-kitab Injil, dan oleh Roh Kudus-Nya, Dia terus melakukan banyak hal lagi setelah kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Yesus tidak pernah berhenti bekerja, bahkan sampai sekarang. Umat Kristiani dari abad ke abad – melalui kuat-kuasa Roh Kudus – telah memberi kesaksian tentang kekuatan-Nya, kasih-Nya dan kemuliaan-Nya. Misalnya, khotbah-khotbah Santo Yohanes Krisostomos [c. 345-407] di Konstantinopel menghidupkan kembali isi kitab-kitab Injil, sehingga menarik umat semakin dekat dengan Kristus. Pada saat Santo Fransiskus dari Assisi [1182-1226] merangkul kemiskinan dan menolak potensi warisan besar dari ayahnya, sebenarnya dia mengikuti bimbingan Roh Kudus dan memberi kesaksian tentang kuat-kuasa Allah untuk membawa sukacita, bahkan dalam keadaan yang paling miskin dan sulit sekali pun.

Santa Elizabeth Ann Setton [1774-1821] memberi kesaksian tentang Yesus ketika dia mengajar anak-anak miskin dan mengubah status sosialnya menjadi insan yang hidup dalam kedinaan dan kesederhanaan. Karena karya Roh Kudus dalam dirinya, dia diberdayakan untuk memberikan kesaksian yang dinamis tentang Kristus dalam peranannya sebagai seorang ibu rumah tangga, sebagai seorang ibu, seorang janda dan seorang pendidik di Amerika Serikat yang baru saja merebut kemerdekaannya dari penjajah Inggris.

Setiap hari, selagi kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Roh Kudus, maka kita pun dapat menambah bab-bab baru dalam cerita-cerita Injil. Yesus berjanji bahwa melalui Roh Kudus, kita akan mampu untuk melakukan hal-hal yang bahkan lebih besar daripada yang telah dilakukan oleh-Nya, apabila kita percaya dan mentaati-Nya (Yoh 14:12). Melalui diri kita, Roh Kudus  akan memampukan Yesus untuk melayani dan menyatakan kemuliaan Bapa kepada dunia pada zaman kita ini. Benarlah apa yang ditulis oleh Santo Yohanes Penginjil: “Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh 21:25). Memang tidak mungkinlah dunia ini dapat memuat seluruh kitab yang memberi kesaksian tentang karya mulia Allah dalam kehidupan umat-Nya!

DOA: Roh Kudus, hembuskanlah nafas kehidupan-Mu ke dalam diri kami agar kami dapat memberi kesaksian Injil. Berdayakanlah kami agar dapat melakukan karya-karya yang dilakukan oleh Yesus. Semoga hidup kami dapat menjadi bab-bab baru dalam tawarikh keselamatan dari Allah. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS AKAN MEMPERBAIKI KEKURANGAN-KEKURANGAN KITA (bacaan tanggal 8-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tangal 19-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS JUGA MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA KEPADA KITA MASING-MASING

YESUS JUGA MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA KEPADA KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 7 Juni 2019)

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20 

Apabila kita mau berempati dengan Petrus, mencoba untuk menempatkan diri kita dalam posisinya, barangkali kita dapat memahami rasa sedih yang dirasakan olehnya ketika Yesus yang sudah bangkit itu bertanya kepada dirinya sebanyak tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15-17). Pertanyaan yang diajukan Yesus sebanyak tiga kali itu sungguh membuat Petrus merasa kecil dan tentunya pedih-sakit dalam hati, namun pertanyaan-pertanyaan Yesus ini juga memberi sinyal bahwa Yesus menerima Petrus sebagai kepala para rasul (Latin: primus inter pares; yang utama dari yang sama). Afirmasi Petrus sebanyak tiga kali mengimbangi penyangkalannya sebanyak tiga kali pula terhadap Yesus sebelum penyaliban-Nya.

Inilah hasil dari pengamatan kita, namun inti masalahnya adalah bahwa Yesus menginginkan kasih dari Petrus, sebagaimana Dia menginginkan kasih kita. Setiap hari, dengan bela rasa yang sama tulusnya, Yesus bertanya kepada diri kita masing-masing, “Apakah engkau mengasihi Aku?” 

Kehidupan kita dapat dengan mudah menjadi penuh dengan rasa cemas, rasa takut dan kekurangan-kekurangan lainnya. Kita dapat begitu disibukkan dengan upaya-upaya untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup sampai-sampai kita kehilangan fokus pada apa yang sesungguhnya merupakan persoalan yang paling penting untuk dipecahkan. Di tengah setiap kegiatan, kita harus mohon kepada Roh Kudus untuk mengingatkan kita, bahwa hal yang paling penting adalah apakah kita sungguh mengasihi Yesus.

“Kasih menutupi banyak sekali dosa” (1Ptr 4:8).  Kata-kata ini dipandang sebagai kata-kata Petrus sendiri, tentunya dengan alasan yang baik. Yesus menantang dan membujuk Petrus kembali ke dalam suatu relasi dengan diri-Nya melalui pertanyaan sederhana, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Kasih adalah suatu kharisma ilahi yang memiliki kuasa untuk membuka hati orang-orang agar mampu menerima bahkan kasih yang lebih banyak lagi. Semakin banyak kita mengasihi Allah, semakin banyak pula kita dimurnikan dari kecenderungan-kecenderungan gelap kodrat kedosaan kita. Kasih memperluas perspektif kita dan mengangkat pikiran kita sampai kepada tataran realitas Allah. Kasih bahkan memberikan kepada kita kuasa untuk membebaskan mereka yang diperbudak oleh rasa takut.

Yesus wafat di kayu salib untuk memenangkan kasih kita, bukan ketaatan buta kita. Allah yang sama – yang menciptakan kita masing-masing dengan suatu kehendak bebas – akan mengundang kita menghadap hadirat-Nya dengan suatu pertanyaan yang bersifat terbuka (open-ended question): “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jika kita menjawab “ya”, Dia pun mengutus Roh-Nya secara berlimpah. Kita memasuki suatu relasi yang sebenarnya direncanakan Allah sejak awal dunia ini. Jalannya tidak selalu mulus. Pada kenyataannya, Yesus mengingatkan sebelumnya kepada Petrus “bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah” (Yoh 21:19). Namun demikian kita dapat mengenal dan mengalami suatu sukacita yang istimewa kalau tinggal bersama dengan Tuhan sepanjang hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau. Tolonglah aku bertumbuh semakin dekat dengan diri-Mu, sehingga aku dapat menerima apa saja yang Engkau minta untuk kukerjakan. Aku ingin menjadi pelayan-Mu dan sahabat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA KALI, TIGA KALI DAN TIGA KALI” (bacaan tanggal 7-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Juni 2019 [PERINGATAN S. BONIFASIUS, USKUP MARTIR] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS