Posts tagged ‘PERUMPAMAAN TENTANG PENGAMPUNAN’

MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI [2]

MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 15 Agustus 2019)

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1)

Bacaan Pertama: Yos 3:7-10-11,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 114:1-6 

Petrus mengajukan sebuah pertanyaan kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Petrus tentunya memandang dirinya cukup bermurah hati karena bersedia mengampuni sampai tujuh kali, namun bagi Yesus sikap dan perilaku seperti dikemukakan oleh Petrus itu tidaklah cukup. Bagi Yesus, pengampunan itu haruslah tidak terbatas (Mat 18:21-22).

Agar pendapat-Nya dapat dipahami dengan benar, Yesus mengajarkan sebuah perumpamaan. Dua orang pemain kunci dalam perumpamaan-Nya adalah seorang raja yang berniat untuk mengadakan perhitungan dengan para hambanya, dan seorang hamba yang berhutang kepada raja sebanyak sepuluh ribu talenta, suatu jumlah yang sangat besar – hutang yang praktis tidak akan mampu dilunasinya. Sang raja kemudian memerintahkan supaya hamba itu dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Hukuman berat ini menyebabkan si hamba (yang sudah berstatus debitur macet) itu bersembah sujud di depan sang raja. Ia mohon agar raja sabar dan segala hutangnya akan dia lunasi. Hati sang raja menjadi tergerak oleh belas kasihan, sehingga dia membebaskan si hamba dan menghapuskan hutangnya (Mat 18:24-27).

Kemurahan hati sang raja dalam perumpamaan ini mencerminkan Allah yang penuh bela rasa, mahapengampun dan maharahim (maha berbelaskasih). Allah ingin agar kita masing-masing mencerminkan kerahiman yang telah kita terima dalam kehidupan kita sendiri, dengan menjadi berbela rasa juga kepada orang-orang lain. Roh Kudus ingin bekerja di dalam diri kita untuk memupuk hati yang berbela rasa, yang mencerminkan aspek karakter Yesus yang paling indah.

Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menunjukkan bela rasa terhadap orang-orang di sekeliling kita – orang-orang miskin, orang-orang yang menderita sakit-penyakit, para single parents dan anak-anak mereka yang masih kecil-kecil, orang-orang yang sedang ditimpa berbagai kemalangan, kekhawatiran, keputusasaan, orang-orang yang membutuhkan simpati dari hati yang penuh bela rasa dst. Di mana saja kita menemukan mereka (termasuk dalam rumah kita sendiri), baiklah kita memakai semboyan sederhana namun penuh makna ini: “Seperti Kristus yang sedang berbela rasa”.

Hati yang berbela rasa menjadi langka apabila kita melupakan belas kasihan dan bela rasa yang telah kita terima dari Allah. Si hamba dalam perumpamaan di atas begitu cepat melupakan belas kasihan sang raja atas dirinya. Dengan demikian dia tidak mampu untuk berbelas kasihan terhadap rekannya. Seorang hamba lain yang berhutang kepadanya hanya sejumlah seratus dinar saja. Allah tidak suka melihat sikap dan perilaku seperti ditunjukkan oleh si hamba yang telah diampuni oleh raja tadi. Oleh kuasa Roh Kudus-Nya, Bapa surga ingin membentuk dalam diri kita masing-masing suatu hati yang penuh bela rasa, sebagaimana yang dimiliki Putera-Nya, Yesus Kristus.

DOA: Bapa surgawi, aku bersukacita dan berterima kasih penuh syukur untuk bela rasa dan kerahiman yang telah kuterima dari-Mu melalui Putera-Mu, Yesus Kristus. Aku ingin, ya Allahku, agar menjadi mampu menunjukkan kepada orang-orang lain belas kasihan dan bela rasa yang sama, seperti yang telah kuterima. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), silahkan bacalah tulisan yang berjudul “TENTANG PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 15-8-19), dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Agustus 2019 [Peringatan Fakultatif B Markus dr Aviano, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MENGAMPUNI DENGAN SEGENAP HATI

MENGAMPUNI DENGAN SEGENAP HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 16 Agustus 2018) 

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1) 

Bacaan Pertama: Yeh 12:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-59,61-62

Pernahkah kita masing-masing mencoba untuk memahami betapa luas serta mendalam makna segalanya yang terjadi di Kalvari sekitar 2000 tahun lalu? Ambillah waktu untuk merenungkan peristiwa itu, dan janganlah mengambil sikap “minimalis”: cukup sekali saja atau cukup pada masa Prapaskah saja! Allah memberi kesempatan sangat cukup kepada kita dalam kehidupan penuh kesibukan ini. Ia menyediakan waktu yang cukup bagi kita untuk merenungkan peristiwa agung ini.

Di sana, di Kalvari, Yesus menanggung sendiri beban dosa-dosa manusia di seluruh dunia. Setiap dosa manusia yang pernah ada (tidak hanya yang telah diperbuat, melainkan juga yang disebabkan oleh pemikiran, ucapan kata-kata dan kelalaian), setiap dosa yang sekarang dan setiap dosa di masa depan; semua dosa sepanjang zaman telah dipaku di kayu salib dan diampuni oleh Bapa surgawi. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan, seperti ditulis oleh Santo Paulus: “Di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka” (1Kor 5:19). Apakah yang menggerakkan Allah untuk begitu bermurah-hati, dengan mengorbankan Putera-Nya sendiri? KASIH !!! Ini motivasi satu-satunya, karena Dia adalah Kasih itu sendiri (lihat 1Yoh 4:8.16). Santo Paulus menulis: “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Itulah sebabnya, mengapa kita berani mengucapkan Pengakuan Iman: “Aku percaya akan …… pengampunan dosa …..” (Syahadat Para Rasul).

Kalau “pengampunan”-Nya telah dimenangkan untuk setiap orang, diberikan tanpa diskriminasi kepada semua orang, siapakah kita ini sampai-sampai tidak mau mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita dalam rupa-rupa bentuknya, misalnya fitnah atau pun “pembunuhan karakter”? Yesus mengajarkan kepada Petrus pelajaran mengenai pengampunan ini lewat sebuah perumpamaan tentang dua macam hutang. Orang pertama adalah seorang hamba raja yang berhutang sangat banyak kepada sang raja, jumlah hutangnya lebih besar daripada total penghasilan sebuah provinsi dalam kekaisaran Romawi dan lebih dari cukup untuk menebus seorang raja yang disandera oleh musuh. Setelah memohon-mohon kepada sang raja, hamba ini pun diampuni karena belas kasihan raja. Namun hamba itu tidak mau mengampuni seorang hamba lain yang berhutang kepadanya dalam jumlah yang jauh lebih sedikit ketimbang hutangnya sendiri kepada raja (catatan: 1 talenta = 6000 dinar).

Mengapa begitu sulit bagi kita untuk mengampuni orang lain? Mungkin karena ada rasa bangga yang terlukai, kemasabodohan, atau pun juga prasangka.  Mungkin karena “kesalahan” dari pihak orang “yang bersalah kepada kita” begitu besar , atau telah melukai kita begitu mendalam. Atau kita sedang menunggu dia datang dan datang mohon maaf dan/atau mohon diampuni dan memberi “ganti-rugi” atas “kejahatan”-nya kepada kita. Kalau kita masih berpikir, bersikap dan berperilaku seperti itu, maka ingatlah bahwa di mata Allah, keadilan tanpa belas kasihan adalah sesuatu yang tidak dapat ditoleransi. Memang kita membutuhkan cukup waktu untuk mengubah pikiran, sikap serta perilaku kita, dan memang hal ini tidaklah mudah. Kita tidak mempunyai opsi lain, kecuali untuk mengampuni.

Tentang pengampunan ini Paus Yohanes Paulus II menulis, “Pengampunan menunjukkan kehadiran kasih yang lebih kuat daripada dosa” (Dives in Misericordia, 7). Belas kasihan Allah tidak diskriminatif, tidak membeda-bedakan orang apakah miskin atau kaya, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, pengemudi angkot atau pengusaha konglomerat, pemeluk agama Kristiani atau bukan dst. Dengan demikian, belas kasihan Allah itu tidak eksklusif, dan Ia pun ingin melihat sikap kita yang tidak “tebang pilih”, selalu inklusif dalam mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Pada waktu Engkau mengajar DOA BAPA KAMI kepada para murid-Mu, Engkau mengatakan: “Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga” (Mat 6:14). Tolonglah aku maju selangkah lagi untuk dapat mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami. Tuhan Yesus, aku ingin seperti Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI” (bacaan tanggal 16-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Agustus 2018 [Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAMPUNI, MENGAMPUNI LEBIH SUNGGUH !!!

MENGAMPUNI, MENGAMPUNI LEBIH SUNGGUH !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV [TAHUN A] 17 September 2017)

 

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35) 

Bacaan Pertama: Sir 27:30-28:9; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,9-12; Bacaan Kedua: Rm 14:7-9 

“Mengampuni, mengampuni lebih sungguh. Mengampuni, mengampuni lebih sungguh. Tuhan lebih dulu mengampuni kepadaku. Mengampuni, mengampuni lebih sungguh!” (teks sebuah lagu rohani sederhana).

Setelah ditusuk berkali-kali dengan “jarum tusuk tukang sepatu” oleh seorang laki-laki yang berniat memperkosanya, seorang anak gadis yang baru berumur sekitar 11/12 tahun kedapatan oleh ibunya tergeletak berlumuran darah karena luka-lukanya dan hampir mati. Dalam keadaan gawat menjelang kematiannya, si anak gadis mengucapkan kata-kata ini tentang penyerangnya: “Demi kasih Yesus saya mengampuni dia … dan aku ingin agar dia nanti bersamaku di firdaus.” Nama anak gadis itu adalah Maria Goretti [1890-1902]. St. Maria Goretti meninggal dunia di rumah sakit, 24 jam setelah peristiwa tersebut, di hadapan seorang imam, beberapa orang suster dan ibunya. Ia mengampuni pembunuhnya dan meninggal dunia dengan perasaan ikhlas.

Sebagai orang-orang dewasa pun, kebanyakan dari kita tidak pernah sampai kepada pemahaman mendalam tentang panggilan untuk mengampuni seperti yang telah dihayati dengan baik sekali oleh St. Maria Goretti. Kita cenderung untuk berpikir bahwa kita hanya dapat mengampuni orang lain yang datang memohon maaf/ampun dari kita atau paling sedikit menunjukkan tanda-tanda penyesalan atas kesalahan mereka. Akan tetapi, Maria Goretti mengampuni laki-laki bahkan sebelum dia menyesali perbuatannya dan bertobat. Selama sidang pengadilan laki-laki itu tidak menyesali perbuatannya dan dia dihukum 27 tahun penjara. Namun hanya setelah 8 tahun meringkuk dalam penjara dia menyesali perbuatannya yang buruk itu dan mulai memperbaiki hidupnya. Laki-laki itu menerima pengampunan Maria Goretti maupun pengampunan dari Allah sendiri. Akhirnya, setelah dibebaskan dari penjara dia mencari ibunda Maria Goretti untuk memohon pengampunannya.

Kita harus jujur mengakui, bahwa mengampuni sebanyak “tujuh puluh kali tujuh kali”, artinya untuk mengampuni dari hati terdalam segala kesalahan seorang lain kepada kita, sungguhlah sulit. Banyak orang kudus malah mengatakan, bahwa hal tersebut memang tidak mungkin, apabila kita tidak menyadari bahwa Allah telah terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni diri kita. Sangat perlu kita yakini dalam hati kita yang terdalam, bahwa “ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Kematian Yesus tidak sekadar berurusan dengan dosa-dosa pribadi kita, melainkan juga dengan kecenderungan untuk berdosa dalam diri kita masing-masing, suatu perlawanan terhadap Allah yang kuat berakar dalam diri manusia, yang terus mencari jalan ketidaktaatan terhadap Allah dan jalan mementingkan diri sendiri. Dengan menghancurkan tembok penghalang yang didirikan oleh dosa-dosa kita, Yesus memberikan kita akses kepada segala kuasa penyembuhan dan pemulihan dari Bapa surgawi.

Kesempatan-kesempatan untuk mengampuni dan diampuni datang setiap hari. Selagi kita bertumbuh dalam pemahamam bahwa kita telah diampuni, bukan hanya dosa-dosa kita, kita menjadi semakin memiliki kemauan untuk mengampuni orang-orang lain – bahkan sedramatis seperti yang dilakukan oleh St. Maria Goretti. Hal itu terjadi secara bertahap, sedikit demi sedikit, selagi kita menarik kekuatan Yesus dan terus memilih untuk mengampuni. Jika kita menyadari bahwa kita sebenarnya adalah pribadi-pribadi yang tidak pantas diampuni, maka kita pun dimampukan untuk mengampuni orang-orang lain yang mendzalimi kita. Selagi kita melakukannya, maka kita akan melihat rentetan kepahitan dan kemarahan mulai berjatuhan dan menjauh dari diri kita. Dengan membebaskan orang-orang lain, maka kita pun membebaskan diri kita sendiri!

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena wafat-Mu telah membawa kehidupan bagiku. Semoga semua orang berdosa mengenal dan mengalami belaskasih-Mu dan pengampunan-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-35), bacalah tulisan yang berjudul “SAMPAI BERAPA KALI?” (bacaan tanggaal 17-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-9-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KARUNIA/ANUGERAH PENGAMPUNAN

KARUNIA/ANUGERAH PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Selasa, 21 Maret 2017) 

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35) 

Bacaan Pertama: Dan 3:25,34-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9

Berapa kali kiranya kita (anda dan saya) berada dalam posisi seperti Petrus, yang menetapkan batasan-batasan sehubungan dengan berapa kali kita harus mengampuni seorang pribadi yang telah bersalah kepada kita? Dalam hal pengalaman saya sendiri, tidak sekali dua kali tetapi cukup banyak, walaupun saya sudah tahu apa yang diajarkan Yesus. Pergumulan batin yang satu disusul dengan pergumulan batin yang baru, dst.

Memang ajaran Yesus tentang pengampunan ini merupakan salah satu ajaran Yesus yang paling memberi tantangan: mengampuni tanpa batas. Namun Yesus mengetahui benar bahwa hal itu mungkin karena pengampunan bukanlah sesuatu yang kita lakukan berdasarkan berbagai sumber daya kita sendiri. Sesungguhnya kemauan dan kemampuan kita untuk mengampuni orang lain tergantung pada keterbukaan kita untuk menerima belas kasih Allah dalam hidup kita.

Berapa kalikah kita telah marah terhadap seseorang dan tidak mampu mengatasi kemarahan tersebut? Hal seperti itu dapat menggerus keberadaan kita sebagai seorang pribadi yang utuh. Bagaimana dengan luka batin, rasa cemas, atau depresi yang dapat timbul karena kita disakiti oleh orang yang dekat dengan kita? Yesus samasekali tidak ingin melihat kita hidup seperti ini. Yesus ingin menunjukkan kepada kita betapa penuh kuat-kuasa pengampunan itu dalam mematahkan kemarahan, rasa kesal, depresi dst. yang selama ini mencengkeram kita.

Iblis akan sangat senang untuk membiarkan kita tidak mau dan mampu mengampuni orang yang bersalah kepada kita, terus terjerat oleh ikatan memori-memori yang menyakitkan dll. Hal terakhir yang diinginkan oleh Iblis adalah tindakan kita untuk kembali kepada Allah dan menerima penyembuhan-Nya serta menerima kuat-kuasa untuk mengampuni. Namun Yesus ingin meningkatkan kita kepada suatu tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat belas kasih yang berkelimpahan. Hal ini akan terjadi apabila kita telah mengenal dan mengalami betapa berbelas kasih Allah itu terhadap kita masing-masing. Allah akan mengangkat kita dengan menunjukkan kepada kita betapa siap Dia  untuk mengampuni dosa dan kesalahan kita, dari yang paling kecil sampai yang paling  berat.

Allah akan mengangkat kita dengan meyakinkan kita bahwa pengampunan bukanlah sesuatu yang kita peroleh karena upaya atau kerja keras kita sendiri, melainkan suatu karunia/anugerah yang diberikan oleh-Nya kepada para pendosa – seperti anda dan saya – yang sesungguhnya tidaklah layak untuk menerima karunia/anugerah dimaksud. Jika kita telah diangkat kepada tingkat yang baru ini, kita pun akan menunjukkan kesiapan kita untuk menerima anugerah yang sebenarnya tidak pantas mereka terima: karunia/anugerah kerahiman ilahi.

Masa Prapaskah ini menawarkan kepada kita suatu kesempatan sempurna datang menghadap Yesus dan mengalami pengampunan dan damai sejahtera dari Dia. Masa Prapaskah ini adalah masa yang sempurna untuk membuang segala amarah dan penolakan dari diri kita. Masih adakah seseorang yang kita (anda dan saya) masih ragu-ragu untuk mengampuninya? Marilah kita memohon kepada Yesus untuk menolong kita mengambil satu langkah lagi dalam belas kasih. Walaupun kita belum mampu sepenuhnya mengampuni orang itu, marilah kita mengatakan kepada Yesus bahwa kita akan datang semakin dekat dengan orang itu.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau memungkinkan kami untuk mengalami belas kasih/kerahiman-Mu yang sempurna. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus, buatlah diri kami masing-masing menjadi bejana-bejana kasih-Mu dan kerahiman-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-35), bacalah tulisan yang berjudul “SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI?”  (bacaan tanggal 21-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Maret 2017 [HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI

TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Klara, Perawan – Kamis, 11 Agustus 2016)

Keluarga Fransiskan: Pesta S. Klara dari Assisi, Perawan 

PERUMPAMAAN - PENGAMPUNAN MAT 18 21 DST 001Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1) 

Bacaan Pertama: Yeh 12:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-59,61-62

“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”  (Mat 18:22).

Karena Allah itu Mahasempurna, maka pengampunan-Nya bersifat langsung dan permanen. Sayangnya, tidak demikian halnya dengan kita! Karena kita adalah manusia dan jauh dari sempurna, maka pengampunan dapat menjadi sangat sulit bagi kita. Barangkali itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa dia harus mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali.

Pikirkanlah hal berikut ini: Jika dapat mencapai rekonsiliasi dengan orang yang bersalah kepada kita setelah dua atau tiga kali bertemu, maka relasi-relasi dengan sesame kita akan jauh lebih mudah dipelihara. Bukankah begitu?

Mengampuni seseorang yang telah melukai hati kita seringkali merupakan sebuah proses yang berjalan secara bertahap. Misalnya, kita dapat saja mengampuni seseorang pada awalnya, namun beberapa hari kemudian kita menjadi marah dan kesal lagi. Dalam hal ini kita harus “mendirikan kembali bangunan” pengampunan kita. Ada juga kasus-kasus lain di mana kita sudah mengampuni, namun kita tidak mau lagi berada dekat orang itu. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu (dalam bilangan jam, hari, atau pekan) kita secara perlahan-lahan mampu untuk let go sakit hati kita sehingga kita pun dapat berinteraksi lagi dengan orang tersebut. Situasi apapun yang kita hadapi, hal yang terpenting adalah senantiasa mengambil langkah maju, bukan menjauhi pengampunan yang lengkap dalam setiap situasi.

Apakah kiranya hal-hal yang perlu kita (anda dan saya) lalukan untuk mengambil langkah selanjutnya dalam mengupayakan rekonsiliasi dengan orang lain? Yang pertama, berdoalah untuk orang itu. Marilah kita membayangkan bahwa kita sudah berdamai dengan orang itu. Kedua, marilah kita mengambil keputusan untuk mengampuni, dan terus membuat keputusan itu jika memang diperlukan. Kita harus ingat –seturut sabda Yesus – karena mungkin saja kita benar-benar butuh melakukan ini sebanyak 30, 50 atau 70 kali; dan hal itu oke, oke saja. Ketiga, marilah kita melihat bahwa Yesus mengasihi orang itu seperti Dia juga mengasihi kita masing-masing. Jika kita menjadi lebih merasa pahit atau marah, hal itu berarti bahwa kita membutuhkan waktu yang lebih banyak/lama lagi. Yang penting, kita harus terus mengampuni dalam hati kita sebaik-baiknya seturut kemampuan kita, dan memohon kepada Yesus untuk menolong kita.

Saudari dan Saudaraku, apapun yang kita lakukan, kita tidak boleh menyerah. Yesus pasti akan memberkati sekecil apapun langkah yang kita ambil menuju rekonsiliasi. Di atas segalanya, kita harus ingat bahwa pengampunan bukan tindakan manusiawi semata. Kita membutuhkan rahmat Roh Kudus untuk menolong kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengampuni setiap dosaku. Sekarang, ya Tuhan, tolonglah diriku agar mau dan mampu mengampuni mereka yang bersalah kepadaku. Dari DOA BAPA KAMI yang Kauajarkan, aku menyadari bahwa bagian dari pertukaran agar dosa-dosaku diampuni adalah persyaratan bahwa aku pun harus mengampuni orang yang bersalah kepadaku (Mat 6:12; lihat juga Mat 6:14-15). Tolonglah agar aku mempraktekkan salah satu Sabda Bahagia yang Kaudeklarasikan: “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan” (Mat 5:7). Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “MENGAMPUNI DENGAN SEGENAP HATI” (bacaan tanggal 11-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Agustus 2015 [Peringatan S. Dominikus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARUNIA/ANUGERAH PENGAMPUNAN

KARUNIA/ANUGERAH PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Selasa, 1 Maret 2016) 

PERUMPAMAAN - PENGAMPUNAN MAT 18 21 DST 001Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35) 

Bacaan Pertama: Dan 3:25,34-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9

Berapa kali kiranya kita (anda dan saya) berada dalam posisi seperti Petrus, yang menetapkan batasan-batasan sehubungan dengan berapa kali kita harus mengampuni seorang pribadi yang telah bersalah kepada kita? Dalam hal pengalaman saya sendiri, tidak sekali dua kali tetapi cukup banyak, walaupun saya sudah tahu apa yang diajarkan Yesus. Pergumulan batin yang satu disusul dengan pergumulan batin yang baru, dst.

Memang ajaran Yesus tentang pengampunan ini merupakan salah satu ajaran Yesus yang paling memberi tantangan: mengampuni tanpa batas. Namun Yesus mengetahui benar bahwa hal itu mungkin karena pengampunan bukanlah sesuatu yang kita lakukan berdasarkan berbagai sumber daya kita sendiri. Sesungguhnya kemauan dan kemampuan kita untuk mengampuni orang lain tergantung pada keterbukaan kita untuk menerima belas kasih Allah dalam hidup kita.

Berapa kalikah kita telah marah terhadap seseorang dan tidak mampu mengatasi kemarahan tersebut? Hal seperti itu dapat menggerus keberadaan kita sebagai seorang pribadi yang utuh. Bagaimana dengan luka batin, rasa cemas, atau depresi yang dapat timbul karena kita disakiti oleh orang yang dekat dengan kita? Yesus samasekali tidak ingin melihat kita hidup seperti ini. Yesus ingin menunjukkan kepada kita betapa penuh kuat-kuasa pengampunan itu dalam mematahkan kemarahan, rasa kesal, depresi dst. yang selama ini mencengkeram kita.

Iblis akan sangat senang untuk membiarkan kita tidak mau dan mampu mengampuni orang yang bersalah kepada kita, terus terjerat oleh ikatan memori-memori yang menyakitkan dll. Hal terakhir yang diinginkan oleh Iblis adalah tindakan kita untuk kembali kepada Allah dan menerima penyembuhan-Nya serta menerima kuat-kuasa untuk mengampuni. Namun Yesus ingin meningkatkan kita kepada suatu tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat belas kasih yang berkelimpahan. Hal ini akan terjadi apabila kita telah mengenal dan mengalami betapa berbelas kasih Allah itu terhadap kita masing-masing. Allah akan mengangkat kita dengan menunjukkan kepada kita betapa siap Dia  untuk mengampuni dosa dan kesalahan kita, dari yang paling kecil sampai yang paling  berat.

Allah akan mengangkat kita dengan meyakinkan kita bahwa pengampunan bukanlah sesuatu yang kita peroleh karena upaya atau kerja keras kita sendiri, melainkan suatu karunia/anugerah yang diberikan oleh-Nya kepada para pendosa – seperti anda dan saya – yang sesungguhnya tidaklah layak untuk menerima karunia/anugerah dimaksud. Jika kita telah diangkat kepada tingkat yang baru ini, kita pun akan menunjukkan kesiapan kita untuk menerima anugerah yang sebenarnya tidak pantas mereka terima: karunia/anugerah kerahiman ilahi.

Masa Prapaskah ini menawarkan kepada kita suatu kesempatan sempurna datang menghadap Yesus dan mengalami pengampunan dan damai sejahtera dari Dia. Masa Prapaskah ini adalah masa yang sempurna untuk membuang segala amarah dan penolakan dari diri kita. Masih adakah seseorang yang kita (anda dan saya) masih ragu-ragu untuk mengampuninya? Marilah kita memohon kepada Yesus untuk menolong kita mengambil satu langkah lagi dalam belas kasih. Walaupun kita belum mampu sepenuhnya mengampuni orang itu, marilah kita mengatakan kepada Yesus bahwa kita akan datang semakin dekat dengan orang itu.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau memungkinkan kami untuk mengalami belas kasih/kerahiman-Mu yang sempurna. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus, buatlah diri kami masing-masing menjadi bejana-bejana kasih-Mu dan kerahiman-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-35), bacalah tulisan yang berjudul  “APAKAH AKU SUNGGUH MENGAMPUNI?” (bacaan tanggal 1-3-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 16-03 BACAAN HARIAN MARET 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Februari 2016 [HARI MINGGU PRAPASKAH III – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGAMPUNAN TIDAK MENGENAL BATAS

PENGAMPUNAN TIDAK MENGENAL BATAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 13 Agustus 2015) 

PERUMPAMAAN - PENGAMPUNAN MAT 18 21 DST 001Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1) 

Bacaan Pertama: Yos 3L7-10a,11,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 114:1-6 

Selama karya pelayanan-Nya di depan publik, Yesus membuat jelas bahwa tidak ada batas untuk pengampunan, dan untuk itu Dia mengajarkan sebuah perumpamaan tentang dua macam debitur. Seseorang mempunyai utang yang sangat besar. Pada zaman Yesus jumlahnya malah melebihi penerimaan total dari sebuah pemerintahan Negara. Namun si debitur yang diampuni utangnya tersebut tidak dapat mengampuni orang yang berutang kepadanya, walaupun utang orang tersebut relatif kecil, yaitu 1/100.000 dari utangnya sendiri. Suatu kontras yang luarbiasa. Pesannya? Pengalaman kita akan pengampunan Allah yang tak terbatas harus mendorong kita untuk mengampuni.

ROHHULKUDUSBagaimana kita dapat menunjukkan belas kasih sedemikian? Melalui kuasa kasih Allah yang telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus (Rm 5:5). Sampai di mana kita mengampuni orang-orang yang telah menyakiti/mendzolimi kita menunjukkan sampai di mana kita mengalami pengampunan Allah dan menyadari kebutuhan mutlak akan belas kasih-Nya.

Apakah kita (anda dan saya) mengenal kuasa penyembuhan dari pengampunan dan rekonsiliasi? Yesus datang untuk merekonsiliasikan/mendamaikan kita dengan Allah dan sesama (Ef  2:16). Rencana Allah adalah untuk mempersatukan segala hal dalam Kristus (Ef 1:10) – bahkan relasi-relasi kita. Kasih Allah mempunyai kuasa untuk menyembuhkan luka yang disebabkan oleh tindakan-tindakan dosa. Kasih-Nya menggerakkan kita untuk mengampuni mereka yang menyakiti hati kita. Dosa-dosa dapat menindih serta mengubur kita, namun Allah telah memberikan kepada kita obat penyembuhnya setiap hari, “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”  (Mat 6:12).

Kasih Allah mengalahkan segalanya, bahkan luka-luka kita, rasa takut kita, dan prasangka-prasangka kita. Hanya salib Kristus-lah yang dapat membebaskan kita dari tirani kebencian dan penolakan, dan memberikan kepada kita keberanian untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Kasih yang sedemikian memiliki kuasa untuk menyembuhkan dan menyelamatkan kita dari kehancuran. Santo Augustinus dari Hippo [354-430] pernah berkata, “Mohonlah kepada Allah karunia untuk saling mengasihi. Kasihilah semua orang, bahkan musuh-musuh anda, bukan karena mereka adalah saudari-saudara anda, namun karena mereka dapat menjadi demikian. Kasihilah mereka agar supaya anda senantiasa dibakar oleh api cinta (Sermon on 1John 10:7).

DOA: Bapa surgawi, kasih-Mu membawa kebebasan dan pengampunan. Biarlah belas kasih-Mu berjaya di atas penghakiman dalam setiap relasi. Ya Tuhan Allahku, kuingin mengenal dan mengalami damai sejahtera, sukacita dan kebebasan yang berasal dari Engkau saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI” (bacaan tanggal 13-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Agustus 2015 [Peringatan S. Dominikus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS