Posts tagged ‘PERUMPAMAAN YESUS’

KITA HARUS MEMPERHATIKAN CARA KITA MENDENGAR

KITA HARUS MEMPERHATIKAN CARA KITA MENDENGAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Senin, 24 September 2018)

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18) 

Bacaan Pertama: Ams 3:27-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5 

“Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar.” (Luk 8:18)

Kata-kata dalam Kitab Suci adalah seperti benih-benih. Apabila lingkungannya – teristimewa tanahnya –  cocok, benih-benih tersebut dapat bertumbuh dan membuahkan hasil yang berlimpah. Menghubungkan hal ini dengan apa yang dijanjikan Yesus bahwa Allah akan memberi kepada yang sudah mempunyai (Luk 8:18), kita dapat membayangkan apa yang akan terjadi apabila kita membaca kata-kata dalam potongan bacaan Kitab Suci: Selagi kita merenungkannya dan mewujudkannya dalam tindakan, maka “benih firman” itu dapat bertumbuh dan bertumbuh.

Pada suatu hari dalam Misa hari Minggu, seorang pemuda kaya yang baru berumur 20 tahun tersentuh oleh sebuah ayat Injil Matius yang dibacakan pada hari itu: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Mat 19:21). Hati pemuda itu tergerak untuk mematuhi perintah itu secara harafiah. Dengan cepat ia membagi-bagikan harta-kekayaan dan uangnya, menahan sedikit saja guna menopang hidupnya dan saudara perempuannya.

Dalam Misa kemudian setelah itu, pemuda itu mendengar satu ayat lagi yang menyentuh hatinya lagi: “Janganlah kamu khawatir tentang hari esok” (Mat 6:34). Sejak saat itu, dia “lompatan iman”. Setelah menyisihkan segala sesuatu yang diperlukan untuk saudara perempuannya, dia memberikan segala sesuatu yang tersisa dari harta-kekayaannya kepada orang-orang miskin, lalu pindah sebuah pondok kecil yang letaknya terisolasi di mana dia dapat mengabdikan dirinya untuk berdoa dan menopang kehidupannya dengan membuat alat-alat rumah tangga yang sederhana. Di mana? Di padang gurun Libia. Sepanjang hari berdoa, belajar dan bekerja kasar, sekadar cukup untuk hidup pada hari itu. Siapa nama orang yang “aneh” itu? Namanya Antonius (Yunani: Antonios) Pertapa atau Antonius dari padang gurun [251-356], kelahiran dekat Memphis (Mesir), bapa monastisisme.

Antonius tidak jarang mendapat godaan, baik rohani maupun jasmani. Namun berkat rahmat Tuhan yang dilimpah-limpahkan atas dirinya, dia sanggup mengatasi godaan-godaan tersebut. Ada catatan, bahwa pada waktu umat Kristiani dikejar-kejar dan dianiaya oleh Kaisar Maximinus, ia mengunjungi orang-orang  yang disekap dalam penjara dan menguatkan iman dan pengharapan mereka. Untuk bertahun-tahun lamanya, Antonius hidup sendiri dalam kemiskinan. Akan tetapi, hari lepas hari dia menerima semakin banyak kehidupan Allah sendiri. Pada suatu saat, reputasinya menarik orang-orang lain, dan mereka datang mohon didoakan dan nasihat-nasihatnya yang penuh hikmat. Bahkan banyak yang lalu bergabung dengan dirinya dalam gaya-hidup seperti itu. Kemudian mereka membentuk kelompok pertapa dengan aturan hidup yang sedikit lebih longgar, sedangkan Antonius sendiri hampir selalu menyendiri.

Pada usia 60-an tahun, Antonius pergi ke Alexandria memberikan nasihat dan semangat kepada S. Atanasius (Atanasios) temannya dan para penentang bid’ah Arianisme. Antonius adalah pertapa yang bijaksana dan bukan seorang “bonek”. Kehidupan rohaninya sangat mendalam dan seluruh hidupnya diarahkan demi mengabdi Tuhan secara radikal. Sementara itu para pengikutnya semakin banyak: ribuan orang mengundurkan diri dari kehidupan kota-kota besar yang penuh dengan godaan nafsu duniawi. Mereka menyepi di gurun pasir mengejar panggilan kesempurnaan sebagai orang Kristiani.

Pada saat wafatnya, 85 tahun setelah untuk pertama kalinya dia menanggapi secara positif sabda yang hidup dalam Kitab Suci, pekerjaan Antonius telah memperbaharui seluruh Gereja. Pada kenyataannya, dampaknya atas kehidupan Gereja tak dapat diukur sampai hari ini. Santo Antonius Pertapa mengambil sedikit saja kata-kata yang ada dalam Kitab Suci lalu dihayatinya dengan sungguh-sungguh, dan lebih banyak lagi yang diberikan kepadanya. Sekitar sembilan abad kemudian, di Italia terjadi peristiwa yang serupa (tapi tak sama), yaitu panggilan pertobatan Santo Fransiskus dari Assisi yang juga berdampak sangat luas dan dalam dalam kehidupan Gereja untuk masa-masa selanjutnya. Sekitar 2000 tahun yang lalu, Yesus sudah bersabda, “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar” (Luk 8:18).

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita menjadi “pendengar yang baik” dan “pelaku firman” (Yak 1:22 dsj.). Santo Antonius Pertapa, Santo Fransiskus dari Assisi dan sejumlah orang kudus lainnya mengambil hanya sedikit saja nas-nas Kitab Suci ke dalam hati mereka masing-masing dan mereka menerima lebih banyak lagi dari Dia yang begitu baik, sumber segala kebaikan. Semoga ada sedikit ayat Kitab Suci yang berakar dalam diri kita masing-masing, sehingga kita pun dapat menerima lebih banyak lagi dari Sang Pemberi.

DOA: Roh Kudus, terima kasih kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau berbicara kepadaku melalui kata-kata yang ada dalam Kitab Suci. Semoga berkat kuasa-Mu, semakin banyak lagi kata-kata dalam Kitab Suci menjadi sabda yang hidup bagi diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP RAHASIA KERAJAAN ALLAH PADA AKHIRNYA AKAN DINYATAKAN” (bacaan tanggal 24-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 September 2018 [Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PETANI YANG MENABURKAN BENIHNYA

PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PETANI YANG MENABURKAN BENIHNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Sabtu, 22 September 2018)

Keluarga Fransiskan Kapusin (OFMCap.: Peringatan S. Ignatius dr Santhi, Imam

SCJ: Peringatan Falkutatif B. Yohanes Maria dr Salib, Martir Pertama SCJ

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri dengan Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8:4-15) 

Bacaan Pertama: 1Kor 15:35-37,42-49; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:10-14 

Perumpamaan ini sungguh merupakan sebuah tantangan besar. Sekali firman Allah ditanam dalam hati kita, kita mempunyai pilihan bagaimana kita akan menanggapi firman tersebut. Yesus mengajar dengan jelas: Apabila benih gagal berakar dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu bertahan ketika menghadapi kesulitan. Tanah yang baik adalah “hati yang baik dan jujur serta taat” (lihat Luk 8:15). Kalau firman Allah bertemu dengan hati yang demikian, maka firman itu akan tumbuh dan berbuah. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa kita dapat memupuk hati kita sehingga, ketika sang penabur menaburkan benihnya ke dalam diri kita, maka kita akan siap untuk menerima benih itu dan memberi makan kepada benih itu agar dapat hidup dan tumbuh dalam diri kita.

Bagaimana kita dapat menjadi tanah yang baik dan subur? Kita dapat mulai dengan memohon kepada Roh Kudus untuk mengisi diri kita dengan suatu hasrat yang tulus akan firman Allah dan suatu keterbukaan terhadap kuasa firman Allah itu untuk mentransformasikan kita. Kita juga dapat membuat diri kita tersedia bagi Allah sehingga ‘benih’ di dalam diri kita dapat menghasilkan akar yang dalam serta kuat, dan dapat menghasilkan buah secara berlimpah-limpah. Melalui doa-doa harian, bacaan dan studi Kitab Suci serta partisipasi aktif dalam Misa Kudus, kita dapat membawa makanan bagi diri kita secara konstan, menciptakan suatu keadaan di mana benih firman Allah dapat bertumbuh dan menjadi produktif.

Disamping hati yang baik, jujur dan taat, kita juga membutuhkan kesabaran kalau mau melihat tanaman itu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat. Selagi kita berjalan melalui kehidupan kita ini, pastilah kita mengalami berbagai godaan, masalah dan kesulitan. Barangkali kita tertarik pada kekayaan dan kenikmatan hidup (Luk 8:14). Namun Allah memerintah dalam hati yang kuat berakar pada firman-Nya. Allah akan melihat kita melalui waktu-waktu di mana kita tergoda untuk mengambil jalan-mudah, atau ketika kita  mengalami distraksi (pelanturan) yang disebabkan oleh berbagai tuntutan atas waktu dan perhatian kita. Yesus, sang Firman Allah, akan menjaga hati kita tetap lembut dan lunak. Kalau kita menantikan-Nya dengan sabar, maka Dia tidak akan mengecewakan kita.

Marilah kita menerima firman Allah dengan kesabaran dan penuh kepercayaan. Marilah kita minta kepada Roh Kudus untuk menanam firman-Nya dalam-dalam pada diri kita, sehingga tidak ada yang dapat mencabutnya, apakah Iblis, atau godaan-godaan, atau kekayaan, atau kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan dunia. Baiklah kita memusatkan pikiran dan hati kita pada firman-Nya, mohon kepada Roh Kudus untuk membawa firman-Nya ke dalam diri kita. Baiklah kita membuat Kitab Suci sebagai fondasi kita yang kokoh-kuat.

DOA: Bapa surgawi, kuduslah nama-Mu ya Allah-ku. Bapa, berkat rahmat-Mu buatlah agar hidupku berbuah demi kemuliaan-Mu. Tumbuhkanlah dalam hati kami suatu hasrat untuk menerima firman-Mu. Ubahlah hati kami supaya menjadi tanah yang baik dan subur bagi firman-Mu untuk tumbuh dan berbuah. Jagalah terus hati kami agar firman-Mu jangan sampai terhimpit mati di dalamnya seakan terhimpit di tengah semak duri, jangan sampai menjadi kering di dalamnya seakan jatuh ke atas tanah yang berbatu-batu, jangan sampai sia-sia seperti benih yang jatuh di pinggir jalan kemudian diambil oleh Iblis. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:4-15), bacalah tulisan yang  berjudul “” (bacaan tanggal 22-9-18) dalam situs SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 19 September 2018 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporroso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH ANGGUR YANG BARU

YESUS ADALAH ANGGUR YANG BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Jumat, 7 September 2018)

Orang-orang Farisi itu berkata lagi kepada Yesus, “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia menyampaikan juga suatu perumpamaan kepada mereka, “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” (Luk 5:33-39)

Bacaan Pertama: 1Kor 4:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,27-28,39-40

Puasa, latar belakang pesta perkawinan, kain penambal dan baju tua, anggur dan kantong kulit penyimpan anggur, semua ini diramu menjadi satu dengan indahnya. Inilah contoh betapa kreatif cara mengajar Yesus, Sang Guru. Bagi para murid, bersama Yesus, sang mempelai laki-laki yang sudah sekian lama dinanti-nantikan, sudah barang tentu tidak seperti pengalaman-pengalaman mereka sebelumnya. Menerima Yesus, bagi para murid juga samasekali tidak seperti yang selama itu mereka tahu. Semua kategori yang lama, aturan-aturan yang lama, dan bahkan harapan-harapan yang lama tidak berlaku lagi.

Kita semua diciptakan dengan kapasitas – dan kebutuhan – yang luarbiasa untuk menerima cintakasih, terutama sekali kasih Allah. Namun karena efek-efek dosa dalam hidup kita, kapasitas kita untuk menerima kasih Allah menjadi banyak terhalang, dengan kata lain menjadi semakin menciut. Karenanya kita mungkin berupaya memenuhi kebutuhan kita akan afeksi ilahi dengan mencari kepuasan-diri, dengan mencoba agar kita dapat diterima oleh orang-orang lain, dengan mencoba melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, atau dengan mengumpulkan harta benda kekayaan. Akan tetapi dalam hati, kita merasa bahwa tidak ada satu pun dari upaya yang disebutkan tadi, yang sungguh dapat mengisi kehampaan diri kita, meski kita telah menaruh harapan pada berbagai upaya tersebut. Hanya Allah-lah yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang paling dalam.

Dalam perumpamaan-Nya tentang anggur yang baru dan kantong kulit yang baru, Yesus seakan-akan mengatakan kepada orang-orang, “Akulah Anggur yang baru untuk itu kamu semua merasa haus. Bapa-Ku menciptakan kamu dengan rasa haus akan Daku ini. Rayakanlah kehadiran-Ku di tengah-tengah kamu, karena Akulah Mempelai laki-laki yang telah lama dinanti-nantikan. Makanlah tubuh-Ku, minumlah darah-Ku, terimalah cintakasih-Ku bagimu. Kalau Aku pergi, apabila kamu berpuasa dan berdoa dan meminta kepada Bapa, maka Dia akan mengutus Roh Kudus yang dijanjikan, yang akan memperbaiki kapasitasmu yang indah untuk menerima Aku dengan lebih lagi. Dia akan membuat kamu menjadi bejana-bejana yang dapat berisikan hidup-Ku sendiri. Kamu akan sungguh menjadi kantong kulit anggur baru yang dipenuhi diri-Ku, Anggur yang baru.”

Yesus, sang Mempelai laki-laki, telah datang. Dia adalah Anggur yang baru, bukan seperti anggur manapun yang pernah kita cicipi. Yesus minta agar kita membuka diri kita bagi suatu cara hidup yang samasekali baru dalam Dia. Kini kita masih berpuasa, akan tetapi sekarang dengan hasrat untuk membuang jauh-jauh hidup dosa lama kita, kategori-kategori hidup yang lama dalam dunia ini, untuk menyiapkan diri kita bagi hari pada saat mana Yesus akan datang kembali untuk mengambil kita kepada diri-Nya sendiri dan mempersatukan kita sebagai satu umat dalam hadirat-Nya.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh-Mu, tingkatkanlah kapasitas kami untuk menerima Yesus, mempelai laki-laki kami. Semoga darah-Nya menyembuhkan luka-luka kami dan menyatukan Gereja-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:33-39), bacalah tulisan dengan judul “FLEKSIBEL-KAH AKU TERHADAP DORONGAN ROH KUDUS?” (bacaan  tanggal 7-9-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

Cilandak, 4 September 2018 [Peringatan S. Rosa dr Viterbo, OFS – Perawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELIPAT-GANDAKAN TALENTA KITA

MELIPAT-GANDAKAN TALENTA KITA

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Sabtu, 1 September 2018)

HARI SABTU IMAM 

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorng lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu  talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.”  (Mat 25:14-30) 

Bacaan Pertama: 1Kor 1:26-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-13,18-21 

Seringkali kita dinasihati serta didorong untuk memeriksa batin kita sehingga dengan demikian kita dapat diampuni untuk dosa-dosa dalam bentuk pikiran-pikiran, kata-kata, perbuatan-perbuatan dan kelalaian-kelalaian kita, yang telah memisahkan kita dari Allah. Akan tetapi, lewat pemberian “perumpamaan tentang talenta”’ ini Yesus mengundang kita untuk merenungkan karunia-karunia / anugerah-anugerah kita – bukan kesalahan-kesalahan kita – dan Ia bertanya bagaimana kita menggunakan berbagai karunia/anugerah tersebut. Apakah kita mengembangkan segala karunia/anugerah yang kita terima dari Allah itu untuk memuliakan Bapa-Nya itu?

Memang perumpamaan-perumpamaan Yesus – kalau dibaca dengan serius – selalu membuat kita berpikir dan merenungkan maknanya. Misalnya, setelah membaca “perumpamaan tentang talenta”  ini, kita dapat mulai berpikir-pikir apakah kita pernah seperti hamba yang menyembunyikan uang talentanya di dalam tanah? (Mat 25:18). Melalui bacaan-bacaan yang menyangkut ekonomi/keuangan, nasihat/wejangan para guru dan orangtua serta pengalaman hidup,  bukankah kita diajarkan untuk menjamin keamanan keuangan kita? Maka kalau dilihat dari pandangan ini, bukankah si hamba dengan satu talenta itu telah memilih alternatif yang paling aman, pendekatan yang paling bebas dari risiko? [istilah keren-nya dalam bahasa teknis ilmu keuangan: most risk-free approach]. Memang hal ini dapat merupakan sebuah keputusan bidang keuangan yang bijaksana, akan tetapi sepanjang berurusan dengan Yesus sebagai murid-murid-Nya, “memendam/menguburkan/menyembunyikan talenta” bukanlah sebuah opsi bagi kita untuk mengambil keputusan.

Merasa susah dan khawatir akan kegagalan atau penolakan tidak akan dipuji oleh Guru kita. Dia memberikan kepada kita sejumlah karunia dan talenta yang ‘pas’ bagi kita masing-masing, ada yang banyak – ada juga yang tidak banyak. Bisa saja kita bergumul dalam hati: “Kok lain-lain ya, ada yang banyak – ada yang sedikit? Kalau gitu Dia tidak adil dong! Katanya, Dia Mahaadil? Semua ini adalah urusan Tuhan Allah, yang menciptakan kita, nggak usah dipikirin!” Pada titik ini kita harus ingat, bahwa di mata Allah yang penting bukanlah berupa-rupa macam karunia dan talenta yang kita punya, melainkan bagaimana kita menggunakan segala karunia dan talenta itu. Allah menghendaki agar kita mengidentifikasikan berbagai karunia dan talenta kita yang bersifat unik dan “menginvestasikan” semua itu dalam kerajaan-Nya. Mungkin saja anda diberikan olehnya talenta sebagai pendengar yang baik. Dapatkah anda “melebarkan sayapmu” dan mengunjungi seseorang yang sedang mengalami kesendirian, yang merasa telah dibuang oleh komunitasnya? Apakah anda memiliki talenta dalam pekerjaan membuat alat-alat dari kayu? Bersediakah anda mempertimbangkan untuk membuat main-mainan yang terbuat dari kayu dengan menggunakan sisa-sisa kayu, khususnya untuk dihadiahkan kepada anak-anak dari keluarga sangat miskin yang sedang dirawat di rumah sakit atau mereka yang tinggal di panti asuhan?

Jikalau kita menginvestasikan talenta yang telah dianugerahkan Allah kepada kita, maka dividennya pun tidak sedikit. Bahkan kalau kita tidak menggunakan talenta secara langsung untuk membangun kerajaan-Nya, misalnya hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan manusiawi kita, maka hal sedemikian memuliakan Allah juga. Adalah suatu testimoni kuat atas kreavitas Allah, apabila kita sungguh mengembangkan bakat manusiawi kita, maka kita cenderung untuk bertumbuh secara rohani juga. Mengapa? Karena seluruh keberadaan kita – tubuh, jiwa dan roh – saling terjalin dengan erat, sehingga kalau salah satunya diperkuat, maka yang lainnya juga diperkuat. Dengan demikian, janganlah pernah takut untuk menginvestasikan talenta-talenta anda. Allah ingin membuat anda menjadi seorang hamba/pelayan yang “berbuah” dalam segala hal yang anda lakukan! Kita semuanya seharusnya merindukan bahwa pada  suatu hari kelak, Bapa surgawi berkata kepada kita seperti sang Tuan kepada dua orang hambanya yang telah menunjukkan kemauan serta kemampuan untuk melipat-gandakan talenta yang mereka miliki masing-masing: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:23; bdk. 25:21).

DOA: Bapa surgawi, bukalah mataku agar dapat melihat bagaimana aku dapat memuliakan Dikau dengan talenta-talenta yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Aku menghaturkan puji-pujian dan syukur kepada-Mu untuk segala karunia dan talenta  yang telah Engkau percayakan kepadaku untuk dimanfaatkan demi pembangunan kerajaan-Mu lewat perbuatan-perbuatan baik kepada orang-orang yang kujumpai dalam hidup di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan yang berjudul “MENGGUNAKAN SEGALA KARUNIA/ANUGERAH DARI ALLAH SECARA BIJAKSANA (bacaan tanggal 1-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 Agustus 2018 [Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG LIMA GADIS BIJAKSANA DAN LIMA GADIS BODOH

PERUMPAMAAN TENTANG LIMA GADIS BIJAKSANA DAN LIMA GADIS BODOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 31 Agustus 2018)

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya. (Mat 25:1-13) 

Bacaan Pertama: 1Kor 1:17-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,10-11 

Perumpamaan tentang sepuluh gadis (lima orang bijaksana dan lima orang bodoh) ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Perumpamaan ini menekankan lagi pentingnya sikap berjaga-jaga atau kesiap-siagaan dalam masa yang penuh dengan ketidakpastian sebelum kedatangan akhir zaman (bdk. Mat 24:37-44). Dalam merenungkan perumpamaan ini sangatlah baik  bagi kita untuk tidak terjebak dalam mencoba mengartikan arti simbolis yang mendetil dari hal-hal yang ada dalam perumpamaan ini, misalnya “apa arti dari 10 gadis”, mengapa tidak “20 gadis”? Apa signifikansi dari minyak dalam perumpamaan ini? Dst. Yang penting adalah menangkap pesan keseluruhan dari perumpamaan itu.

Kesepuluh gadis itu adalah para pendamping pengantin yang sedang menanti-nantikan kedatangan mempelai laki-laki di rumah keluarga bapak mertuanya. Sangat realistis dan sungguh membumi, karena praktek ini masih dapat diketemukan pada zaman modern ini. Di rumah itulah akan diselenggarakan pesta perjamuan kawin. Para gadis itu akan menjadi bagian dari rombongan mempelai laki dan ikut serta dalam pesta. Lima orang dari mereka tidak membawa minyak dalam jumlah yang cukup untuk pelita atau “obor” yang digunakan dalam prosesi. Tidak adanya persiapan pada akhirnya menyebabkan mereka  tidak dapat mengikuti acara pesta. Inilah “nasib” mereka yang tidak siap! Tragis!

Seperti juga perumpamaan-perumpamaan Yesus lainnya, perumpamaan tentang sepuluh gadis ini mempunyai makna langsung dan bersifat lokal, di sisi lain juga memiliki arti yang lebih luas dan universal. Signifikansinya yang langsung terarah pada orang-orang Yahudi. Mereka adalah umat terpilih; keseluruhan sejarah mereka seyogianya merupakan suatu persiapan bagi kedatangan Putera Allah; mereka harus dalam kesiapsiagaan guna menyambut diri-Nya apabila Dia datang. Kenyataannya adalah bahwa orang-orang Israel tidak siap menyambut-Nya. Inilah kiranya tragedi yang dialami orang-orang Yahudi karena ketidaksiapan mereka.

Sudah lama dalam Perjanjian Lama hubungan antara TUHAN (YHWH) dan Israel digambarkan sebagai hubungan suami-istri. Kasih YHWH terhadap Israel sebagai mempelai perempuan-Nya dan kasih Israel terhadap YHWH dapat kita jumpai dalam “Kidung Agung”. Yehezkiel menyatakan yang sama, ketika dia menyebut kemurtadan Yerusalem sebagai zinah (baca Yeh 16:1-63). Ketika pemazmur dalam Mzm 45 melambungkan lagu bagi Raja dan Ratu, maka orang-orang memahami bahwa yang dimaksudkan di situ adalah YHWH dan umat-Nya.

Namun demikian, semua itu hanyalah persiapan belaka. Pada kedatangan Yesus Kristus, Israel baru saja memasuki suatu hubungan perkawinan Perjanjian Baru. Kristus adalah sang Mempelai laki-laki dan Gereja sebagai mempelai perempuan. Yohanes Pembaptis menyebut dirinya sebagai sahabat Mempelai laki-laki (Yoh 3:29). Namun sekarang ini masih merupakan pertunangan. Apabila Kristus datang kembali pada akhir zaman (parousia), Ia akan menjemput mempelai perempuan-Nya dan akan mulailah pesta perkawinan yang sesungguhnya. Itulah kiranya mengapa Yesus memakai perumpamaan tentang perjamuan nikah surgawi. Itulah pula sebabnya, mengapa Kitab Wahyu juga menyebut peristiwa yang menyusul akhir zaman sebagai “Perjamuan kawin Anak Domba (baca: Why 19:6-10). Gereja yang telah dibersihkan dan dikuduskan akan berhias untuk menyambut kedatangan sang Mempelai laki-laki. Beberapa kali Santo Paulus menulis mengenai gagasan tersebut. Baginya pertunangan serta perkawinan insani hanyalah gambaran samar-samar saja dari pertunangan serta perkawinan antara Kristus dan Gereja-Nya. Gagasan itu dapat kita jumpai misalnya dalam Surat kepada jemaat di Efesus (lihat Ef 5:22-33).

Kesiapsiagaan adalah yang pertama dan utama. Orang-orang di rumah keluarga mempelai perempuan, termasuk ke sepuluh gadis itu tahu bahwa sang mempelai laki-laki akan datang, namun tidak seorangpun tahu jam berapa tepatnya sang mempelai laki akan tiba. Demikian pula manusia tidak tahu kapan tepatnya Tuhan akan datang menjemputnya pada saat kematian. Manusia juga tidak tahu kepada Tuhan Yesus akan datang dalam kemuliaan-Nya untuk menjemput Gereja dan menjadikannya Gereja yang Berjajya. Namun, karena seluruh pikiran dan perbuatan ditujukan pada saat yang didamba-dambakan kedatangannya itu, maka masuk akallah  apabila dibutuhkan kesiapsiagaan dalam artiannya yang paling serius. Pelita (atau obor) saja tidak cukup, persediaan minyak juga harus selalu mencukupi. Jadi, secara lahiriah seseorang masuk menjadi anggota Gereja belumlah cukup, karena harus pula ada padanya iman yang hidup, rahmat pengudusan dan cintakasih sejati sebagai isinya. Tempat dan perhiasan yang indah-indah tidak ada gunanya, apabila isinya tidak ada. Maka, hanya manusia rohani, yang memiliki kekayaan ilahilah yang benar-benar dapat dinilai siap siaga. Percumalah tubuh yang sehat, kuat dan indah, akal budi yang tajam dan dipenuhi ilmu pengetahuan, kehendak yang kuat dan giat, serta hati yang bernyala-nyala, apabila semua itu tidak diisi oleh rahmat Allah. Lampu yang terbuat dari emas dan diperlengkapi dengan ukiran-ukiran yang indah-indah tak ada gunanya di dalam tempat gelap, jikalau tidak sekaligus diisi dengan minyak yang memberi terang. “Aku tidak mengenal kamu”, demikianlah bunyi jawaban yang akan diberikan Tuhan kepada mereka yang percaya kepada kekuatan, kecantikan, ketajaman budinya, kegiatan, perasaan hati, dan wataknya sendiri, tetapi tidak mempedulikan Allah, sabda-Nya, cintakasih serta rahmat-Nya. Memang orang-orang seperti ini mempunyai pelita (atau obor), tetapi mereka tidak mempunyai persediaan minyak yang diperlukan.

Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak dapat diperoleh pada menit-menit terakhir. Terlambatlah bagi seorang mahasiswa untuk mulai belajar pada hari terakhir menjelang ujian akhir. Juga tidak mungkinlah bagi seseorang untuk memperoleh suatu keterampilan tertentu secara mendadak ketika tugas yang membutuhkan keterampilan tersebut sudah ada di hadapannya. Demikian pula dalam hal mempersiapkan diri kita untuk bertemu dengan Allah. Dari perumpamaan di atas kita juga melihat bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak dapat dipinjam dari orang lain. Gadis-gadis yang bodoh dalam perumpamaan mengalami bahwa tidaklah mungkin untuk meminjam minyak pada waktu mereka membutuhkannya. Demikian pula, seseorang tidak dapat meminjam suatu relasi dengan Allah; dia harus memiliki relasi dengan Allah bagi dirinya sendiri. Jadi ada hal-hal yang harus kita peroleh bagi diri kita sendiri, karena kita tidak dapat meminjamnya dari orang lain.

Kesiapsiagaan harus diperagakan dengan penuh ketekunan. Sebagai Gereja (Tubuh Mistik Kristus), kita berada dalam masa pertunangan dan perkawinan. Sebagai Gereja, kita adalah mempelai perempuan sendiri yang sedang menantikan kedatangan sang Mempelai laki-laki. Maka setiap orang anggota Gereja dan Gereja seluruhnya harus siap sedia menanti-nanti dengan gembira. Memang menurut koderatnya manusia itu takut terhadap kematian dan karenanya berupaya menghindarinya sedapat mungkin. Akan tetapi berdasarkan iman, seseorang mempunyai pandangan lain samasekali terhadap kematian itu. Dalam iman, kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu, melainkan justru merupakah awal sukacita yang besar. Itulah iman Kristiani! Misalnya, bagi Santo Fransiskus dari Assisi dan para anggota ketiga ordonya, kematian adalah seorang Saudari, Saudari Maut (Badani).

Bagi seorang Kristiani sejati, sabda Tuhan Yesus, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya”, tidak lagi merupakan kesiapsiagaan yang dipenuhi rasa khawatir dan takut seperti dengan Nuh yang melihat air bah mendatang, atau seperti tuan rumah yang menantikan kedatangan pencuri. Bagi seorang Kristiani sejati, kesiapsiagaannya merupakan penantian yang penuh kegembiraan. Penantian itu akan merupakan Kabar Baik, Rahasia Cintakasih, sukacita karena pelukan mesra, persatuan antara Allah dan manusia, dan karenanya merupakan pemenuhan segala kerinduan umat yang terpendam selama ini. Mempelai perempuan mengungkapkan kerinduan terdalam itu dengan seruan: “Datanglah, Tuhan Yesus!” Sang Mempelai laki-laki berkata: “Ya, Aku datang segera!” (Why 22:20). 

DOA: Tuhan Yesus, selagi aku menanti-nantikan kedatangan-Mu di akhir zaman, aku hanya dapat melakukan hal-hal yang biasa saja, kadang-kadang hal-hal yang monoton yang tersedia dalam hidupku ini. Akan tetapi, ya Tuhanku dan Allahku, aku dapat melakukan hal-hal kecil tersebut secara istimewa demi cintakasihku kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 1:17-25), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH BERKENAN MENYELAMATKAN MEREKA YANG PERCAYA OLEH KEBODOHAN PEMBERITAAN INJIL” (bacaan tanggal 31-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 26 Agustus 2018 [HARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SENANTIASA BERJAGA-JAGA

SENANTIASA BERJAGA-JAGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Kamis, 30 Agustus 2018)

Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.

Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi. (Mat 24:42-51)

Bacaan Pertama: 1Kor 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-7 

Yesus menggunakan sebuah gambaran tidak seperti biasanya  ketika berbicara mengenai diri-Nya sendiri – seperti seorang pencuri yang datang di malam hari.  Pokok yang mau disampaikan-Nya di sini adalah, bahwa “pencuri” tidak dapat membuat kita terkejut, apabila kita siap-siaga menyambut kedatangannya.

Beberapa kalimat kemudian Yesus mengatakan bahwa “pencuri” yang akan mengejutkan hamba di rumah sebenarnya adalah tuannya, yang berminat untuk melihat apa yang dilakukan oleh para hambanya. Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang, …… sebaliknya, celakalah hamba yang jahat membuang-buang waktu dan  kedapatan sedang bermabuk-mabukan ketika tuannya datang.

Solusinya? Jangan biarkan Anak Manusia datang kepada kita (anda dan saya) sebagai seorang asing, sebagai seseorang yang kedatangannya kita tidak harapkan atau nanti-nantikan. Seandainya kita bertanya kepada Yesus, “Bagaimana kita dapat sungguh-sungguh bersiap-siaga?” Kiranya Yesus akan menjawab, “Berjaga-jagalah dan berdoalah”, bukankah begitu?

Jika kita mengenal Yesus dengan baik dalam doa-doa harian pada waktu-waktu tertentu yang telah kita sediakan, tentunya kita tidak akan menjadi terkaget-kaget bilamana Dia datang menemui kita. Kita dapat berkata kepada-Nya: “Aku baru saja berbicara dengan Engkau, Tuhan. Selamat datang Sahabatku!”

Apabila kita telah berhadapan dengan Yesus secara jujur, lewat waktu-waktu teratur sehari-hari bersama dengan-Nya, maka kita telah memperkenankan Dia menyiapkan diri kita bagi kedatangan-Nya dalam kemuliaan pada akhir zaman.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau ingin agar aku senantiasa bersiap-siaga menantikan kedatangan-Mu, seperti hamba yang baik itu. Biarlah Roh Kudus-Mu  senantiasa membimbingku dan mengingatkan aku akan hal ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 24:42-51), bacalah tulisan yang berjudul “SENANTIASA WASPADA MENANTIKAN KEDATANGAN TUHAN YESUS” (bacaan tanggal 30-8-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 26 Agustus 2018 [HDARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARUS MENGENAKAN PAKAIAN PESTA

HARUS MENGENAKAN PAKAIAN PESTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Kamis, 23 Agustus 2018)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan B. Berardus dr Offida, Biarawan

Lalu Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya, hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Lalu pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:1-14) 

Bacaan Pertama: Yeh 36:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-15,18-19

Dalam kerahiman-Nya yang berlimpah, Allah telah mengundang semua orang untuk menghadiri pesta perkawinan kerajaan antara Putera-Nya dengan Gereja. Nabi Yesaya mengumumkan undangan Allah ini: “TUHAN (YHWH) semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya” (Yes 25:6). Dalam ‘perumpamaan tentang perjamuan kawin’ hari ini, kita kembali membaca tentang suatu perjamuan kawin yang terbuka untuk semua orang, sebuah pesta di mana tidak seorang pun dikecualikan (Mat 22:1-14).

Yesus menekankan bahwa undangan Tuhan itu bukanlah sebuah undangan untuk menghadiri sebuah peristiwa yang akan dihadiri oleh kaum elit saja (jadi, bukan a high-society event). Semua orang diundang tanpa melihat status kehidupan mereka, posisi dalam masyarakat, kekayaan materi, ras, umur dst. Pencampuran kelompok-kelompok sosial merupakan suatu konsep yang radikal pada masa Yesaya, Yesus dan juga pada masa kita. Orang-orang Farisi pada masa Yesus, misalnya memandang hina para pemungut cukai dan pendosa, namun para “pendosa” ini sering diterima oleh Yesus  di depan orang-orang Farisi yang memandang diri paling benar itu (Mat 9:10-12). Pada zaman modern ini, orang-orang yang terdidik dan berkecukupan dalam segi keuangan seringkali menghindar dari Injil, sementara orang-orang miskin dan wong cilik justru memeluk Injil itu dengan penuh gairah.

Dalam Sakramen Ekaristi, Allah mengundang semua orang untuk mencicipi kasih-Nya yang besar dan agung. Selagi kita berpartisipasi dalam liturgi Ekaristi, Allah meningkatkan hasrat kita dan kesiap-siagaan kita dalam menghadapi perjamuan surgawi yang akan datang. Bagaimana kita akan menanggapi undangan Allah untuk perjamuan kawin Putera-Nya? Akankah kita begitu disibukkan dengan berbagai masalah dunia sehingga tidak mudah untuk dapat menerima undangan itu dengan rendah hati? Atau akankah kita menanggapi undangan itu secara spontan dengan hati yang dipenuhi cintakasih dan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia penyegaran-Nya dan kesempatan untuk berdiam dalam rumah-Nya sepanjang masa (Mzm 23:3,6)?

Yesus bersabda: “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Mat 22:14). Raja menolak orang yang tidak mengenakan pakaian pesta karena orang itu tidak memandang undangannya sebagai suatu kehormatan besar. Artinya, dia tidak peduli untuk “mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef 4:24). Sebaliknya, para tamu yang mengenakan pakaian pesta adalah orang-orang yang dapat mengenali kerahiman (belas kasihan) dan kasih Allah yang berlimpah-limpah sebagai sumber kekuatan dan pengharapan mereka satu-satunya, sehingga dengan demikian mereka sendiri dapat mengenakan baju belas-kasihan Allah ini.

Marilah kita merangkul karunia kasih Allah dan rahmat-Nya dalam Ekaristi Kudus. Dengan melakukannya sedemikian, Ia akan memampukan kita menerima dengan sepenuh hati undangan-Nya untuk bergabung dalam perayaan pesta kawin sang Anak Domba.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar sungguh siap untuk ikut-serta dalam pesta perjamuan surgawi kelak. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu buatlah aku agar tidak ragu menanggapi undangan-Mu. Ingatkanlah aku juga agar tidak lupa mengenakan pakaian pestaku. Amin. 

Catatan: Untuk memperdalam bacaan Injil hari ini (Mat 22:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “SEDIKIT YANG DIPILIH” (bacaan tanggal 23-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 21 Agustus 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS