Posts tagged ‘PERUMPAMAAN YESUS’

DOMBA YANG HILANG

DOMBA YANG HILANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan II Adven – Selasa, 12 Desember 2017)

Peringatan SP Maria Guadalupe 

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak yang hilang.” (Mat 18:12-14) 

Bacaan Pertama: Yes 40:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13 

Marilah kita berempati dengan sang gembala dalam perumpamaan ini dengan menempatkan diri sebagai dirinya. Apabila anda adalah gembala yang bertanggung jawab atas seratus ekor domba, apakah anda akan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari seekor domba yang hilang? Tidak seorang pun yang masih atau pernah berkecimpung di dunia bisnis akan melakukannya! Yang jelas seorang pelaku bisnis yang berorientasi pada keuntungan (istilah kerennya: profit making) dan memahami manajemen risiko (risk management) tidak akan melakukannya. Orang itu mempertimbangkan lebih baik kehilangan seekor dombanya dan bekerja lebih keras untuk melindungi domba-dombanya yang masih ada.

Namun demikian, justru pesan Yesus kepada kita adalah yang terasa tak masuk akal itu. Ajaran-Nya terasa radikal, bukan? Nah, Yesus kita ini memang tidak berminat untuk terlibat dalam penghitungan bottom line, untung atau rugi, dan Ia juga tidak tertarik dengan cost analysis seperti saya, atau kita-kita ini yang sekolahnya di bidang ekonomi/bisnis. Yesus telah menginvestasikan dalam diri kita masing-masing gairah dan komitmen yang sama dalam jumlah dan substansinya, tidak peduli siapa kita ini dan jalan apa yang ditempuh oleh kita masing-masing.

Yesus adalah sang Gembala Baik. Ia mempunyai komitmen untuk mencari domba asuhan-Nya yang hilang, apa dan berapa pun biayanya! Dia akan pergi ke mana saja di atas muka bumi ini untuk menemukan kembali siapa saja yang hilang. Kepada kita – satu per satu – Yesus memberi kesempatan untuk memeluk-Nya, merangkul diri-Nya. Bukankah ini adalah prinsip dasar cintakasih dan bela rasa yang kita sedang persiapkan guna merayakan Hari Natal?

Sebenarnya kita masing-masing adalah seekor domba yang hilang. Bayangkanlah di mana kita pada saat ini seandainya cara berpikir Yesus itu tidak berbeda dengan cara berpikir para pelaku bisnis yang menekankan perhitungan rugi-laba belaka: “Ah, biarlah kita menerima sedikit kerugian agar supaya dapat menyelamatkan margin keuntungan kita.” Lalu, pertimbangkanlah cintakasih begitu mengagumkan yang menggerakkan Yesus untuk mengorbankan segalanya untuk membawa kita kembali kepada hati-Nya. Kita berterima kasih penuh syukur kepada Tuhan Allah, karena rancangan-Nya bukanlah rancangan kita (Yes 55:8)! Dalam hal kebaikan, Allah kita memang Mahalain!

Dalam doa-doa kita hari ini, pertimbangkanlah bagaimana cara berpikir kita apabila dibandingkan dengan cara berpikir Yesus. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk melihat keluarga kita, sahabat-sahabat kita dan sesama kita dibawa ke dalam Kerajaan Allah, dan negeri kita tercinta mengalami kelimpahan berkat karena mengenal Kristus? Marilah kita bertanya kepada Roh Kudus, langkah-langkah apa yang harus kita ambil hari ini agar cara berpikir kita semakin dekat dengan cara berpikir Yesus. Memang hal ini tidak selalu mudah, akan tetapi percayalah bahwa Yesus – sang Gembala Baik – tidak akan meninggalkan kita. Dan …… Roh Kudus-Nya akan mengajar kita agar cara-cara-Nya dapat menjadi cara-cara kita, dan pikiran-pikiran-Nya menjadi pikiran-pikiran kita. Marilah kita menjalani masa Adven ini dengan memuji-muji Yesus yang akan datang menyelamatkan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihiku dengan kasih yang menakjubkan. Terima kasih karena Engkau datang ke tengah dunia untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Yesus, dan akan selalu setia mengikuti jejak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:12-14),  bacalah  tulisan yang berjudul “BUKANKAH KITA JUGA ADALAH DOMBA-DOMBA HILANG YANG DISELAMATKAN OLEH YESUS?” (bacaan tanggal 12-12-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 Desember 2017 [HARI MINGGU ADVEN II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

ORANG BIJAKSANA MENDIRIKAN RUMAH DI ATAS BATU

ORANG BIJAKSANA MENDIRIKAN RUMAH DI ATAS BATU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ambrosius, Uskup Pujangga Gereja – Kamis, 7 Desember 2017) 

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. (Mat 7:21,24-27)

Bacaan Pertama: Yes 26:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27 

Ke mana saja Dia pergi, Yesus membuat banyak mukjizat yang membuat takjub orang-orang yang menyaksikannya. Namun demikian, di tengah-tengah publik yang banyak terperana dan terpesona karena “kehebatan”-Nya, Yesus tetap jelas-jernih mengenai tujuan utamanya. Dia tidak ingin sekadar membuang penderitaan orang-orang. Dia ingin memberikan kepada mereka sebuah dasar yang kokoh bagi kehidupan mereka, sesuatu yang dapat bertahan dalam berbagai badai dan pencobaan yang merupakan bagian kehidupan di dunia ini. Dalam setiap perumpamaan yang diajarkan-Nya dan setiap khotbah yang diberikan-Nya, pesan Yesus tetap sama: “Dengarkanlah Aku. Ikutilah perintah-perintah-Ku, maka kamu akan aman-selamat.”

Kitab Suci barangkali merupakan alat yang paling memiliki kekuatan untuk membangun sebuah fondasi yang kokoh untuk kehidupan kita sehari-hari. Dengan kisah-kisahnya, doa-doanya, nubuat-nubuatnya dan doktrin-doktrinnya – semuanya diinspirasikan oleh Roh Kudus – Kitab Suci sungguh berisikan database yang berkelimpahan, daripadanya kita dapat menimba kekuatan, hikmat, dan penghiburan, kesulitan apa pun yang sedang kita hadapi.

Bacaan Pertama pada hari ini, misalnya, adalah sebuah contoh yang baik: “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya” (Yes 26:3). Sementara kita sudah mendekati akhir dari Pekan I Adven, mudahlah bagi kita untuk mulai sibuk memikirkan rencana liburan, jadual kita yang ketat, atau seorang anggota keluarga yang agak sulit perangainya berencana untuk mengunjungi rumah kita. Manakala berbagai tekanan terasa semakin berat, janganlah kita lupa berdoa kepada Yesus: “Tuhan Yesus Kristus, aku memusatkan segenap perhatianku kepada-Mu saja. Engkaulah andalanku, ya Tuhan. Perkenankanlah aku untuk mengenal dan mengalami damai sejahtera-Mu yang sempurna”. Kita harus terus-menerus percaya bahwa Yesus telah mendengar doa kita itu. Kita mengulang-ulang doa itu  sampai kita merasakan damai-sejahtera dalam hati. Kita dapat membayangkan Yesus merangkul kita dan mengatakan kepada kita bahwa Dia beserta kita.

Santo Paulus pernah mengatakan, bahwa sabda Allah adalah “pedang Roh” (lihat Ef 6:17). Apabila kita sedang berada di tengah sebuah pertempuran spiritual, kita harus mengangkat senjata ampuh ini untuk menjaga diri kita. Kita juga dapat menyiapkan diri untuk pertempuran seperti ini dengan membaca Kitab Suci secara teratur, setiap hari. Dengan demikian pikiran kita diisi dengan janji-janji dan kebenaran-kebenaran yang dapat bertahan melawan serangan-serangan si Jahat. Tidak ada apa atau siapa pun yang dapat mengalahkan seorang pribadi manusia yang berdiri kokoh di atas sabda Allah.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, isilah diriku dengan cintakasih yang lebih besar akan sabda-Mu dalam Kitab Suci. Aku mau mendirikan kehidupanku di atas kebenaran-Mu dan janji-janji-Mu. Berikanlah kepadaku telinga yang dapat mendengar suara-Mu di masa Adven ini agar dengan demikian Engkau dapat menjadi batu fondasiku yang kokoh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini [Yes 26:1-6],  bacalah  tulisan yang berjudul “SAKSI-SAKSI HIDUP DARI KUASA DAN RAHMAT ALLAH” (bacaan tanggal 7-12-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com;  kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-12-16 dalam situs SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Desember 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

LANGIT DAN BUMI AKAN BERLALU, TETAPI PERKATAAN-KU TIDAK AKAN BERLALU

LANGIT DAN BUMI AKAN BERLALU, TETAPI PERKATAAN-KU TIDAK AKAN BERLALU

(Bacaan Injil Misa,  Peringatan B. Dionisius & Redemptus, Biarawan Martir Indonesia – Jumat, 1 Desember 2017)


Lalu Yesus mengatrakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33) 

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81

Semakin dekat saatnya bagi Yesus untuk mempersembahkan hidup-Nya demi keselamatan dunia. Dia hampir menyelesaikan kerja pelayanan-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya sudah di depan mata dan hal ini menandakan “peresmian” (inaugurasi) Kerajaan Allah serta kelahiran Gereja. Meskipun menghadapi penolakan, penganiayaan dan oposisi,  Yesus memproklamasikan dengan penuh keyakinan bahwa keselamatan kita sudah dekat. Sementara kita menantikan Yesus datang kembali, kita – sebagai Gereja – harus bertumbuh dalam kedewasaan  dalam kuasa Roh Kudus.

Yesus ingin agar kita memiliki keyakinan penuh, selagi menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Kita akan mengalami oposisi dan penganiayaan, akan tetapi seperti Yesus telah berjaya, kita pun akan berjaya, kalau kita percaya pada firman-Nya. Kita tidak perlu merasa gundah atau ciut-hati di kala kita mengalami kesengsaraan atau kemalangan. Sebaliknya, kalau kesulitan-kesulitan bertumbuh dalam intensitas, maka semua itu harus dilihat sebagai indikasi-indikasi positif bahwa perwujudan final dan penuh kemuliaan dari keselamatan kita sudah semakin dekat. Yesus mengumpamakan semua itu sebagai pohon ara yang kalau sudah bertunas menjamin bahwa musim panas sudah dekat.

Setiap hari kita menghadapi pilihan-pilihan. Kita dapat mempertimbangkan apa yang telah dilakukan Yesus untuk menebus dan menyembuhkan kita. Kita menaruh kepercayaan pada firman-Nya untuk manifestasi kemuliaan-Nya secara penuh pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kali. Atau, kita dapat melihat penderitaan kita di dunia dan dengan cepat menjadi takut dan khawatir. Apabila kita datang menghadap Tuhan dalam doa dan memperkenankan firman-Nya yang memberi pengharapan dan dorongan untuk menyentuh hati kita dan mengarahkan pemikiran-pemikiran kita, maka kita akan diangkat dan dipenuhi dengan sukacita dan damai-sejahtera, dan memampukan kita untuk melihat lebih daripada sekadar keadaan kita sendiri. Firman-Nya menggerakkan batin kita dan kita dapat percaya bahwa dalam Dia semua hal adalah mungkin.

Pada zaman modern ini banyak orang Kristiani masih menderita di bawah rezim-rezim atheis dan totaliter. Terkadang situasi sedemikian memberi kesan bahwa kuasa kegelapan telah menang dan berjaya. Namun munculnya kembali Kristianitas di Eropa Timur misalnya, membuktikan bahwa masih berlakunya kata-kata Yesus bahwa Dia akan melindungi Gereja-Nya. Pada zaman ini orang-orang Kristiani adalah saksi-saksi hidup atas ucapan Yesus ini: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Luk 21:33).

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami kuasa dan kebenaran firman-Mu. Biarlah firman-Mu menjadi batu karang dan benteng di tengah-tengah keributan kehidupan. Biarlah firman-Mu menjadi pelita bagi langkah kami, sehingga kami dapat menantikan kedatangan-Mu dengan pengharapan penuh sukacita. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “PENTINGNYA MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN” (bacaan tanggal 1-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan denga judul sama untuk bacaan tanggal 25-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 November 2017 [Pesta Semua Orang Kudus Tarekat keluarga besar Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TIGA MACAM TANGGAPAN TERHADAP YESUS

TIGA MACAM TANGGAPAN TERHADAP YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Sesilia, Perawan Martir – Rabu, 22 November 2017)

 

Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau  sudah tahu bahwa  aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai supuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28) 

Bacaan Pertama: 2Mak 7:1,20-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8b,15

Yesus sudah dekat dengan kota Yerusalem untuk menyelesaikan misinya di atas muka bumi. Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem (Luk 9:51-19:27), Yesus memberikan banyak pengajaran tentang apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Sekarang, ketika Dia sudah hampir sampai ke tempat di mana Dia akan mengalami sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, sekali lagi Yesus mengajar – lewat sebuah perumpamaan – tentang apa apa artinya mengikuti jejak-Nya. Dengan iman saya berkeyakinan, bahwa peristiwa Yesus di Yerusalem bersifat sangat menentukan dalam sejarah manusia, dan tanggapan (pilihan) kita menentukan hidup atau mati bagi kita. Kita tidak bisa netral dalam hal ini, karena terhadap apa yang telah dilakukan Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, suatu tanggapan (yang bersifat afirmatif) dituntut dari kita masing-masing sebagai pribadi.

Perumpamaan Yesus kali ini menggambarkan tiga macam tanggapan. Tanggapan pertama adalah menerima martabat Yesus sebagai Raja, bekerja dengan rajin dan menghasilkan buah rohani sehubungan berbagai kemampuan/karunia yang diberikan Allah (lihat Luk 19:16-19). Tanggapan kedua adalah menerima Yesus, namun karena takut atau alasan-alasan lainnya, tidak berhasil untuk merangkul-Nya dengan penuh dan menghasilkan buah-buah seperti dihasrati-Nya (Luk 19:20-24). Tanggapan ketiga adalah menunjukkan sikap bermusuhan terhadap Dia dan menolak klaim-Nya untuk memiliki kuasa atas dirinya (Luk 19:14).

Untuk dapat menghasilkan buah-buah sesuai dengan karunia yang dianugerahkan Allah kepadanya, seseorang harus merangkul sepenuhnya Yesus dan kematian serta kebangkitan-Nya dan memperkenankan-Nya bekerja dalam kehidupannya. Demikian pula dengan kita semua! Hanya dengan begitu kita dapat menomor-duakan agenda kita sendiri dan menerima rencana-sempurna Allah bagi hidup kita, dengan segala berkat-Nya yang melimpah. Apabila roh kita, intelek kita, emosi kita dan kehendak kita ditundukkan di bawah kuasa Roh Kudus, maka kita dapat menghasilkan  ‘pendapatan bunga rohani’ bagi Allah (Luk 19:23). Dari sini timbullah berbagai prioritas pribadi, berbagai sasaran- tujuan pribadi dan berbagai tindakan pribadi yang sungguh-sungguh untuk melayani Allah. Berbagai kemampuan kita, inteligensia kita, atau situasi kehidupan pada akhirnya tidak membuat perbedaan; Yesus ingin kita menanggapi Dia sesuai dengan apa yang telah diberikan-Nya kepada kita. Tindakan-tindakan yang kita lakukan harus mencerminkan keadaan hati kita.

Yesus telah “meresmikan” Kerajaan Allah dan kerajaan itu memang ada di tengah-tengah kita. Melalui Roh Kudus, kita ikut dalam buah-buah pertama kerajaan itu, bahkan hari ini. Sementara kita tidak akan tahu mengenai kepenuhan janji sampai kedatangan Yesus untuk kedua kali, kita menaruh kepercayaan atas kebenaran janji itu.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku menyingkirkan kebutuhanku untuk mengendalikan kehidupanku. Ajarlah aku untuk merangkul sepenuhnya rencana-Mu bagiku, sehingga di bawah kuasa-Mu sebagai Raja, aku dapat ikut serta dalam panen raya mendatang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:11-28), bacalah tulisan berjudul “APA SAJA YANG DIPERCAYAKAN OLEH ALLAH KEPADA SEORANG PRIBADI MANUSIA HARUSLAH BERBUAH” (bacaan tanggal 22-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 November 2017 [Peringatan S. Agnes dr Assisi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DAPAT MEMBERDAYAKAN KITA MASING-MASING

YESUS DAPAT MEMBERDAYAKAN KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXIII [TAHUN A] – 19 November 2017) 

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorng lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu  talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.”  (Mat 25:14-30) 

Bacaan Pertama: Ams 31:10-13,19-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5; Bacaan Kedua: 1Tes 5:1-6

Kebanyakan dari kita barangkali akan mengidentifikasikan diri kita lebih-lebih dengan hamba yang ketiga dalam perumpamaan Yesus tentang talenta ini. Betapa cepat kita merasa takut bahwa kita akan kehilangan sesuatu yang sedikit, yang kita pikir kita miliki. Kita bahkan berkecenderungan untuk melihat hasil dari perumpamaan ini sebagai sesuatu yang tidak/kurang adil. Mengapa mereka yang sudah mempunyai banyak malah diberi lebih banyak lagi?

Butir pengajaran pokok dari perumpamaan Yesus hari ini bukanlah tentang “adil” atau “tidak adil”, melainkan bahwa Yesus dapat memberdayakan kita masing-masing agar dapat menghasilkan buah-buah berlipat ganda terkait Injil-Nya dan semuanya itu malah jauh melampaui ekspektasi kita yang biasa. Hidup baru yang ditanamkan dalam diri kita pada saat kita dibaptis memiliki suatu potensi yang menakjubkan agar kita menghasilkan buah berlimpah dalam pelayanan kita bagi Allah dan sesama. Dengan kuat-kuasa Roh Kudus dalam diri kita, sungguh banyaklah perbuatan baik yang dapat kita lakukan.

Pikirlah dan bayangkanlah potensi kerusakan yang dapat diakibatkan oleh seorang Kristiani terhadap rencana-rencana jahat Iblis, asal saja dia mau bekerja sama dengan Roh Kudus. Seorang pribadi manusia yang relatif sederhana dan tidak dikenal sekali pun dapat digunakan oleh Allah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti penyembuhan orang sakit, mempertobatkan seorang saudari/saudara yang sedang berada dalam jalan yang salah, mewujudkan rekonsiliasi dlsb. Pikirlah dan bayangkanlah seorang ibu yang mengajar anak-anaknya untuk bertumbuh dalam jalan Tuhan. Hari demi hari, pekan yang satu disusul oleh pekan lainnya, dia membawa masuk pemerintahan Kristus ke dalam hidup anak-anaknya, dan hal tersebut berpengaruh juga atas generasi-generasi selanjutnya.

Atau, pikirlah dan bayangkanlah seorang Kristiani yang sungguh merupakan seorang pendengar yang berbela-rasa dan seorang sahabat sejati dari seorang rekan kerja yang sedang ditindih beban berat hidup ini. Orang Kristiani seperti ini dapat membawa kesembuhan tidak hanya pada diri rekan kerjanya tersebut, melainkan pada keluarga rekan kerjanya itu juga. Atau, bagaimana dengan seorang siswa SMU yang menjadi saksi Kristus yang baik –  lewat sikapnya, kata-katanya dan perbuatannya – di sekolahnya. Pikirlah dan bayangkanlah berapa banyak siswi-siswa lain yang dapat dipengaruhinya sehingga mereka pun mempunyai ekspektasi positif bahwa Allah akan bekerja dalam hidup mereka juga.

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Allah dapat menggunakan diri kita untuk turut ambil bagian dalam memajukan Kerajaan-Nya? Marilah kita masing-masing melangkah maju dalam iman pada pekan ini dan melihat perbedaan apa saja yang dapat kita perbuat dalam keluarga kita, komunitas kita, paroki kita dlsb. Perkenankanlah Roh Kudus untuk memerintah dalam hidup kita, dan perhatikanlah buah-buah baik sebagai hasilnya.

DOA: Roh Kudus, aku memperkenankan Engkau untuk bekerja lebih mendalam lagi dalam hidupku. Datanglah dan penuhilah diriku dengan kuat-kuasa dan karunia-karunia, sehingga dengan demikian aku dapat menghasilkan buah untuk Kerajaan Surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan yang berjudul “MELIPAT-GANDAKAN TALENTA KITA MASING-MASING” (bacaan untuk tanggal 19-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacan tanggal 16-11-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2017 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEORANG HAKIM YANG TIDAK TAKUT KEPADA ALLAH

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEORANG HAKIM YANG TIDAK TAKUT KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Sabtu, 18 November 2017)

Ordo Klaris Kapusin (OSCCap.): Peringatan B. Salomea, Perawan 

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8) 

Bacaan Pertama: Keb 18:14-16,19:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-3,36-37,42-43 

Kita melihat begitu banyak terjadi ketidak-adilan dan keserakahan pada banyak tempat di dunia ini, termasuk di negeri kita tercinta ini. “Wong Cilik” diperlakukan dengan semena-mena tanpa mempedulikan sedikit pun hak-hak azasi mereka.  Bahkan dalam hidup kita sendiri pun, tentunya kita juga mengalami di sana-sini “ketidak-adilan” itu. Kita merasa tak berdaya dan tidak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi. Dalam situasi-situasi seperti ini hati kita berseru: “Akankah Allah menurunkan keadilan atas mereka yang tak bersalah?”

Yesus menjamin bahwa seruan kita tidaklah percuma. Dalam perumpamaan Yesus ini, sang janda merupakan personifikasi dari orang yang paling rentan dalam masyarakat, yang paling mudah dilecehkan oleh orang lain. Dalam ketidak-berdayaannya dia mohon kepada Pak Hakim untuk membela hak-haknya. Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk menolongnya, tidak mempunyai kedudukan sosial sebagai orang terpandang, tidak pula mempunyai uang dan kuasa. Sekarang, secara lengkap dia tergantung pada good-will Pak Hakim. Tetapi Pak Hakim ini bukanlah seorang yang memikirkan masalah keadilan, dia tidak takut kepada Allah dan tidak juga menaruh respek kepada orang-orang lain. Oleh karena itu kelihatannya permohonan sang janda itu akan sia-sia belaka. Namun demikian, permohonan sang janda yang tabah-ulet ini akhirnya meluluhkan hati Pak Hakim karena dia sudah merasa begitu terganggu oleh permohonan-permohonan sang janda yang datang secara bertubi-tubi.

Dari perumpamaan ini Yesus menarik tiga buah kesimpulan yang harus diterapkan dalam hidup kita. Pertama, kalau Pak Hakim yang tidak jujur itu mau mendengarkan permohonan sang janda, maka lebih-lebih lagi Allah yang menurunkan keadilan kepada mereka yang dikasihi-Nya manakala mereka berseru kepada-Nya secara terus-menerus. Allah adalah “seorang” Bapa penuh-kasih yang membela orang-orang yang tak bersalah. Allah mendengarkan dan menjawab seruan-seruan kita. Kedua, Allah tidak akan menunda lama-lama. Dengan “cepat” Ia akan menjawab doa-doa umat beriman. “Cepat” bukan berarti doa kita “langsung” dijawab-Nya, karena mungkin saja Dia masih menunda. Namun demikian mengapa Allah tidak langsung menjawab permohonan kita? Pertanyaan ini membawa kita kepada butir berikutnya. Ketiga, Yesus mengakhiri perumpamaan-Nya dengan sebuah pertanyaan: “… jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:8). Pada waktu Yesus datang untuk menghakimi dunia, apakah masih ada orang yang berdoa untuk kedatangan-Nya dan percaya bahwa hal itu akan terjadi? Pertanyaan sebenarnya bukanlah apakah Allah akan membawa keadilan pada akhir zaman, melainkan apakah kita dengan penuh kepercayaan masih berpengharapan bahwa hal itu akan dilakukan-Nya? Allah menunda jawaban-Nya supaya memberikan kepada kita suatu kesempatan untuk memanifestasikan iman kita kepada-Nya. Iman yang ingin dilihat Allah dari kita adalah iman seperti iman sang janda dalam perumpamaan di atas. Kalau kita memiliki iman seperti itu, maka doa-doa kita pun tidak penuh diisi dengan berbagai permohonan dari seorang peminta-segala, akan tetapi diisi dengan pengharapan penuh sukacita. Marilah kita mengikuti contoh sang janda yang tekun ini sementara kita menempatkan segala kebutuhan kita di hadapan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar menjadi lebih yakin lagi akan kebaikan-Mu dan berilah aku kesabaran yang diperlukan untuk mampu melihat perkembangan segala sesuatu seturut kehendak-Mu. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, keberanian untuk bertekun dalam doa-doaku, walaupun selagi Engkau memberikan damai-sejahtera kepadaku karena mengetahui bahwa Engkau akan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “MENYERAHKAN HIDUP KITA SEPENUHNYA KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 18-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2017 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEORANG BENDAHARA

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEORANG BENDAHARA

Bacaan Injil Misa Kudus – Peringatan S. Leo Agung, Paus Pujangga Gereja – Jumat, 10 November 2017 

Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”  (Luk 16:1-8) 

Bacaan Pertama: Rm 15:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

Kesan pertama kita setelah membaca perumpamaan ini mungkin saja mengira bahwa bendahara dalam cerita ini adalah seorang “pencuri” (kata indahnya: “maling”) berkaitan dengan caranya dia berhubungan dengan para debitur majikannya. Namun jika dengan berhati-hati kita membaca bahwa sang majikan menuduh si bendahara bersalah dalam hal ketidakberesan dalam hal pengelolaan (mismanagement) dan pemborosan, bukan pencurian: “Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya” (Luk 16:1). Siapakah yang memberi informasi kepada sang majikan sehingga si bendahara sampai dituduh seperti itu? Mungkin saja salah seorang debitur, yang menjadi geram karena si bendahara membebani bunga terlalu tinggi atas utang yang ada. Upah atau gaji seorang bendahara seringkali dibayarkan dari jumlah hasil pendapatan bunga yang dibebankan atas saldo utang yang ada, dan mungkin sekali si bendahara membebankan bunga secara berlebihan demi kepentingannya sendiri.

Jadi, dengan menceritakan perumpamaan ini Yesus sebenarnya tidak mendorong orang untuk menjadi tidak jujur. Sebaliknya,  Yesus mengkontraskan pemikiran si bendahara yang “energetik” dan “cerdik”. Bagaimana pun juga, ketika si bendahara menyadari bahwa majikannya akan memecatnya, maka dia membangun tali persahabatan dengan para debiturnya – tidak dengan mencuri melainkan dengan menurunkan gajinya untuk keuntungan para debiturnya. Dengan demikian kedua pihak menjadi pemenang (win-win solution); pembayaran debitur-debitur menjadi lebih rendah; sedangkan di sisi lain si bendahara sudah memperoleh tempat yang cukup terjamin di luar rumah tanggal majikannya, dan reputasi sang majikan juga dipulihkan.

Moralitas si bendahara yang patut dipertanyakan di sini bukanlah merupakan inti masalah dari perumpaan Yesus ini. Yang Ia ingin kita soroti adalah prinsip “kelihaian/kelicinan” yang digunakan oleh si bendahara. Seperti si bendahara menggunakan uangnya untuk menyiapkan tempat tinggal bagi dirinya di atas muka bumi, maka kita pun dapat menggunakan uang kita dengan cerdik guna membangun Kerajaan Allah di atas muka bumi. Apa yang kita perbuat bagi orang-orang miskin dan membutuhkan pertolongan di atas muka bumi ini akan membawa ganjaran kekal-abadi bagi kita dan orang-orang lain juga.

Bagaimana? Apabila kita menyerahkan diri kita sendiri dan uang kita, maka orang-orang yang mungkin saja memilih cara-cara yang jahat dan berdosa dapat diselamatkan. Misalnya kemurahan-hati kita dalam mendukung berbagai macam pelayanan gerejawi tidak hanya menyenangkan Bapa surgawi, melainkan juga menolong orang-orang lain menghindarkan diri atau meninggalkan pilihan-pilihan buruk. Kita dapat dengan “lihai” menjalin relasi kita juga, membangun persahabatan dengan para teman/sahabat dan anggota keluarga seturut jalan Allah. Dengan demikian semuanya akan menang! Kita mengembangkan relasi-relasi yang lebih akrab, dan kita menolong orang-orang lain agar semakin dekat dengan Yesus.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, lanjutkanlah mengajar diriku melalui sabda-Mu yang ada dalam Kitab Suci. Lanjutkanlah tindakan-Mu mengubah pikiranku agar dapat cerdik dan licin dalam membangun serta menjalin tali persahabatan dalam jalan Allah – jalan-Mu sendiri –  dengan orang-orang lain dan juga dalam memajukan Kerajaan Surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR” (bacaan tanggal 10-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-11-16 alam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2017 [Peringatan B. Assunta Pallota FMM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS