Posts tagged ‘PERUMPAMAAN YESUS’

MENANGGAPI UNDANGAN YANG KITA TERIMA

MENANGGAPI UNDANGAN YANG KITA TERIMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVIII [Tahun A], 15 Oktober 2017)

Lalu Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya, hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Lalu pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:1-14)  

Bacaan Pertama: Yes 25:6-10a; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Flp 4:12-14,19-20 

Perumpamaan tentang perjamuan kawin kerajaan menceritakan tentang undangan Allah kepada keselamatan dan tanggapan orang terhadap undangan tersebut. Pesta perkawinan adalah imaji yang sangat cocok karena kita dipanggil untuk mengasihi Allah, untuk dipersatukan dengan Dia dalam pikiran dan hati, dan untuk menjalani kehidupan di atas bumi yang mengantisipasi surga. Dalam Bacaan Pertama hari ini, Yesaya menjanjikan sebuah perjamuan pesta penuh sukacita dan hidup di atas Gunung Tuhan.

Matius dengan piawai mengkombinasikan cerita mengenai pesta perkawinan dan baju pesta sebagai sebuah pelajaran tentang sejarah keselamatan bagi Gereja Kristiani pada masa dia menulis Injilnya.

Bagian pertama dari sejarah keselamatan menyangkut orang-orang Yahudi sebagai Umat Pilihan. Dalam perumpamaan Yesus, mereka digambarkan sebagai orang-orang yang pertama-tama menerima undangan untuk pesta perjamuan kerajaan. Tetapi mereka tidak mau datang dengan berbagai alasan, pendeknya mereka lebih berminat untuk menyibukkan diri dengan urusan mereka masing-masing. Lalu raja pun mengutus lebih banyak lagi hambanya untuk mengundang orang-orang. Hamba-hamba ini menggambarkan para nabi, yang ditangkap, disiksa, bahkan ada yang  dibunuh. Dalam menggambarkan reaksi keras sang raja, Matius menafsirkan hal tersebut sebagai suatu hukuman dari Allah, ….. perusakan Yerusalem oleh pasukan Romawi, walaupun peristiwa tersebut baru akan terjadi beberapa tahun saja sebelum dia menulis Injilnya.

Kemudian, tentang bagian kedua dari sejarah keselamatan. Pesta perkawinan itu menggambarkan pernikahan antara Allah dengan umat manusia yang terjadi ketika Putera Allah menjadi manusia seperti kita. Kita mendengar sang raja berkata “Perjamuan telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu” (Mat 22:8-9). Para hamba pada titik ini dalam cerita adalah para rasul Kristiani yang diutus ke persimpangan-persimpangan jalan dunia untuk mengundang setiap orang kepada perjamuan perkawinan surgawi. Undangan tersebut tidak lagi terbatas pada sebuah bangsa pilihan. Juga tidak diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak terkontaminasi atau murni/bersih secara ritual Yahudi. Setiap orang diundang, yang bagus maupun yang jelek, Banyak pelajaran Injil yang lalu-lalu kembali teringat. Allah, yang mengasihi semuanya, membuat matahari bersinar dan hujan turun, baik bagi orang baik maupun bagi orang jahat, jujur maupun tidak jujur (Mat 5:45). Kerajaan Allah adalah bagaikan sebidang tanah yang dipenuhi lalang di antara gandum (Mat 13:24-30), atau sebuah jala besar yang berisikan ikan baik maupun ikan yang tidak baik (Mat 13:47-52). 

Namun sekarang ada sebuah peringatan bagi Gereja Kristiani. Orang-orang yang menerima undangan Allah harus mengenakan pakaian pesta. Ini dapat berarti mengenakan baju hari Minggu mereka yang terbaik, atau sesuatu yang istimewa untuk peristiwa penting kerajaan. Dilihat dari sudut pandang sejarah keselamatan, kegagalan untuk mengenakan pakaian pesta dapat dipahami dengan dua cara.

Pertama. Penerimaan ke dalam Gereja melalui pembaptisan tidaklah mencukupi kalau seseorang tidak menjalani kehidupan yang serupa dengan Kristus seperti dilambangkan oleh baju putih pada waktu penerimaan sakramen baptis. “… kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru … Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kol 3:9-12). Surat/Sertifikat Baptisan/Permandian hampir tidak ada gunanya tanpa suatu kehidupan yang menunjukkan buah-buah rahmat. 

Kedua. Dalam interpretasi kedua tentang pakaian pesta, jika kita memandangnya sebagai sebuah tanda istimewa dari suatu peristiwa kerajaan yang penting, maka pakaian pesta itu menunjukkan perlunya rahmat ilahi selain upaya manusiawi kita. Siapa pun yang menganggap remeh kebutuhan akan rahmat ilahi dan mengabaikan sarana rahmat yang biasa seperti doa dan sakramen, maka orang itu dapat dinilai sebagai kedapatan tidak mengenakan pakaian istimewa untuk pesta.

Allah mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus, untuk merangkul dunia dalam pesta perkawinan keselamatan. Undangan itu ditujukan kepada semua orang untuk datang dan merayakan perjamuan kawin. Namun cerita keselamatan pribadi masing-masing adalah interaksi yang penuh misteri antara undangan ilahi dan tanggapan bebas dari manusia. Agar dapat memberi tanggapan, kita harus mendengarkan panggilan, menerimanya dengan penuh perhatian dan respek, dan tidak memperkenankan kepentingan-kepentingan kita sendiri menjadi penghalang di tengah jalan. Kita menerima baju pesta rahmat dalam sakramen-sakramen, namun kita harus mengenakan baju ini dalam hidup yang menyerupai Kristus.

DOA: Bapa surgawi, kami bekerja keras untuk memperoleh keselamatan seakan-akan hal ini tergantung pada upaya kami sendiri. Kemudian kami menyadari bahwa hal itu bermula dan berakhir dalam suatu karunia dari-Mu saja. Oleh Roh Kudus-Mu, ingatkanlah kami senantiasa bahwa keselamatan adalah kombinasi dari undangan ilahi dan upaya manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 22:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “BANYAK YANG DIPANGGIL, TETAPI SEDIKIT YANG DIPILIH” (bacaan  tanggal 15-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-10-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  12 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

Advertisements

ROH KUDUS AKAN DIBERIKAN OLEH BAPA SURGAWI KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

ROH KUDUS AKAN DIBERIKAN OLEH BAPA SURGAWI KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 12 Oktober 2017)

Keluarga OFMCap.: Peringatan S. Serafinus dr Montegranaro, Biarawan 

Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13) 

Bacaan Pertama: Mal 3:13-4:32a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Apakah artinya iman apabila tidak diiringi dengan rasa percaya (trust) dan ketekunan? Allah menginginkan kita untuk menjadi orang yang tidak bergeming sampai sahabat-tetangganya memberikan kepadanya semua yang dibutuhkannya. Allah ingin agar kita datang kepada-Nya dengan penuh gairah serta menghasrati berkat-Nya dan mempunyai harapan Ia akan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. Jika Ia tidak langsung memberikan apa yang kita mohonkan, maka hal itu tidak disebabkan Ia terlalu sibuk dengan hal-hal lain atau memang tidak cukup memperhatikan kita. Seringkali, Ia ingin agar kita menunggu karena Dia mengetahui bagaimana ketekunan yang mendalam dapat mengubah kita. Santo Paulus menulis: “…… kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Rm 5:3-4).

Seperti halnya orang-orang tertentu, kita bisa saja merasa cepat putus-asa apabila kita tidak langsung menerima sebuah jawaban dari Yang Ilahi. Kita dapat merasa seperti menyerah berharap kepada Allah dan mulai mengandalkan diri kepada kekuatan kita sendiri.  Akan tetapi Allah mendesak kita agar supaya tetap mengetuk pintu; Ia berjanji akan membukakan pintu dan mencurahkan Roh Kudus-Nya. Kita tidak pernah boleh melupakan, bahwa Dia adalah “seorang” Bapa yang hikmat-Nya mentransenden (melampaui) pemahaman manusiawi yang kita miliki.

Bilamana Allah menunda pemberian jawaban-Nya terhadap doa kita, maka hal itu seringkali disebabkan karena Dia sedang mengajar kita untuk takut kepada-Nya secara layak dan pantas. Dia adalah Allah dan kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Allah selalu baik, kudus dan benar. Dia selalu pantas bagi rasa percaya kita dan Dia taat-setia apakah kehidupan kita lurus di jalan-Nya atau suka melenceng kesana-kemari. Fondasi batu-karang kita yang kokoh adalah perwahyuan Allah sendiri tentang diri-Nya dalam Yesus Kristus, bukan turun-naiknya kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita mendasarkan kehidupan kita atas kenyataan siapa Allah itu  dan kasih-Nya yang tak pernah gagal, maka kita dapat melihat bahwa doa-doa kita dijawab oleh-Nya. Sama seperti orang yang dengan tekunnya meminta bantuan sahabat-tetangganya dan akhirnya sang sahabat-tetangganya itu memberikan apa saja yang dibutuhkan olehnya, maka kita pun akan menerima berkat-berkat yang Allah inginkan untuk dicurahkan atas diri kita.

Melalui kesetiaan dan ketekunan, kita dapat memperkenankan Allah untuk membentuk diri kita menjadi bejana-bejana bagi kemuliaan-Nya. Selagi kita menanti-nanti-Nya, kita pun belajar untuk menaruh kepercayaan kepada diri-Nya, dan dalam menaruh rasa percaya itu pada-Nya, kita pun bertumbuh semakin kuat dan lebih mampu untuk menolong orang-orang lain. Itulah saatnya di mana Dia dapat memakai kita sebagai instrumen-instrumen untuk mewujudkan kasih dan kuat-kuasa-Nya ke tengah-tengah dunia.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau penuh kasih dan baik hati. Aku percaya bahwa sementara aku bertekun dalam doa dan ketaatan, maka Engkau akan mencurahkan Roh Kudus-Mu ke atas diriku, untuk membuat diriku seorang “ciptaan baru” seturut karakter Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:5-13), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN RENDAH HATI DAN TEKUN BERDOA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 12-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 10 Oktober 2017 [Peringatan S. Daniel dkk., Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA?

SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA?

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Senin, 9 Oktober 2017

 

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37) 

Bacaan Pertama: Yun 1:1-17;2:10; Mazmur Tanggapan: Yun 2:2-5,8 

Dengan bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?” ahli Taurat itu mencoba untuk mengetahui  sampai berapa jauh kewajiban-kewajiban (hukum)-nya. Apakah “sesamaku” hanya terbatas pada sahabat-sahabatku yang terdekat? Bagaimana dengan penduduk kotaku yang lain? Bagaimana dengan musuh-musuhku? Bagaimana dengan orang-orang gelandangan yang tergeletak di pinggir jalan? Apakah aku diharapkan untuk mengasihi orang-orang seperti itu juga? Yesus menjawab ahli Taurat itu dengan sebuah perumpamaan, yaitu “perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati”. Melalui perumpamaan termaksud, Yesus menunjukkan bahwa segala sesuatu berpusat pada kasih, bukan kewajiban-kewajiban hukum. Santo Paulus memahami hal inti benar, ketika dia menulis, “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Rm 13:10).

Orang yang tergeletak babak belur setengah mati di jalan antara Yerusalem dan Yerikho karena habis dirampok dan dipukuli adalah seorang Yahudi, sedangkan yang datang menolongnya adalah seorang Samaria. Pada zaman itu hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria sangatlah buruk, termasuk di dalamnya ketegangan rasial. Yang ingin dikemukakan Yesus adalah bahwa kasih yang sejati tidak mengenal batas-batas yang disebabkan perbedaan dalam suku, ras, status sosial dlsb. Perintah untuk mengasihi sesama mengacu pada semua orang, termasuk orang-orang asing yang tinggal di tengah-tengah kita, mereka yang termajinalisasi dalam masyarakat, orang-orang miskin, yang lapar, …… wong cilik!

Allah Bapa menunjukkan kasih-Nya kepada umat-Nya ketika Dia mengirim Putera-Nya yang tunggal untuk membawa pengampunan dan rekonsiliasi. Yesus mempunyai kasih yang sama ketika Dia mengatakan “ya” terhadap rencana Bapa, walaupun hal itu berarti meninggalkan kemuliaan surgawi dan memperkenankan orang-orang yang diciptakan dan dikasihi-Nya dengan begitu intens malah membunuh-Nya di kayu salib. Seperti cintakasih yang ditunjukkan oleh orang Samaria itu, kasih Yesus juga tanpa batas-batas yang bersifat diskriminatif. Kita – murid-murid-Nya – juga harus mengasihi tanpa diskriminasi macam apa pun.

Menunjukkan cintakasih dan belas kasihan dapat mengubah hati kita. Hal itu dapat mengajar kita untuk memandang setiap pribadi sebagai anak yang sangat dikasihi Allah, pantas dan layak sebagai pribadi yang bermartabat – batasan apa pun yang ada.

Dalam pekan ini kita dapat mencoba melakukan dua hal. Pertama, marilah kita keluar untuk bertemu dengan orang-orang lain, siapa pun mereka itu. Perhatian penuh cintakasih dari kita kepada orang-orang yang kita jumpai dapat membantu “menggairahkan” kembali kehidupan seseorang yang hampir mencapai titik terendah. Kedua, marilah kita membuat diri kita semakin dekat dengan Allah dan menerima kasih dan kerahiman-Nya. Roh-Nya dapat memberdayakan kita untuk melanjutkan sikap dan tindakan cintakasih kita manakala kita merasa sudah tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan kepada orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, tunjukkan diri-Mu kepada semua orang yang berada dalam kesendirian di dunia ini. Penuhilah diri mereka dengan Roh-Mu dan tolonglah kami keluar menemui orang-orang yang tidak mempunyai  siapa-siapa lagi yang memperhatikan mereka. Bangkitkanlah “orang-orang Samaria yang baik hati” di seluruh dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:25-37), bacalah tulisan yang berjudul “SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA” (bacaan tanggal 9-10-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 6 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MOVE TERAKHIR SANG PEMILIK KEBUN ANGGUR

MOVE TERAKHIR SANG PEMILIK KEBUN ANGGUR

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII-TAHUN A, 8 Oktober 2017)

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktkunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Mat 21:33-43) 

Bacaan Pertama: Yes 5:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:9,12-16,19-20; Bacaan Kedua: Flp 4:6-9 

Ini adalah perumpamaan Yesus yang sangat kaya makna dengan ajaran-Nya yang bersifat paling komprehensif dalam Injil sinoptik tentang Yesus dan kematian-Nya yang menyelamatkan dalam sejarah keselamatan. Ayat pembukaannya yang  menggambarkan seorang tuan tanah yang memiliki kebun anggur, mengingatkan orang Yahudi yang mana saja akan “Nyanyian tentang kebun anggur” dari kitab Yesaya: “Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur, Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam”  (Yes 5:1-2).

Bacaan dari Kitab Yesaya mengidentifikasikan kebun anggur sebagai “kaum Israel” (rumah Israel). Jadi, kebun anggur di sini melambangkan Israel (Yes 5:7). Namun jika dalam Kitab Yesaya penghakiman Allah dijatuhkan atas kebun anggur karena tidak mampu menghasilkan buah anggur yang baik, maka dalam perumpamaan Yesus hari ini fokus-nya adalah pada para penggarap yang menghalang-halangi sang pemilik kebun anggur untuk memperoleh anggur hasil kebunnya. Yang dimaksudkan sebagai para penggarap jahat ini adalah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Akhirnya mereka mengerti bahwa diri merekalah yang dimaksud oleh Yesus (Mat 21:45). Hal ini penting karena di bagian lain Injil Matius para pembaca memperoleh kesan bahwa Yesus ditolak oleh seluruh orang Yahudi, padahal pada kenyataannya para pemimpin korup Yahudilah yang menentang-Nya habis-habisan, walaupun sebagaimana sering terjadi dalam sejarah dunia, para pemimpin sedemikian mendatangkan tragedi atas bangsa mereka sendiri.

Pada zaman Yesus adalah hal biasa apabila kita menemukan adanya pemilik kebun anggur yang tidak menilik kebunnya dari hari ke hari (Inggris: absentee landlords). Secara periodik dia akan mengutus “inspektur” dan pada saat panen mengirim agennya untuk mengklaim bagian sang pemilik kebun anggur. Dalam perumpamaan ini, para hamba yang diutus oleh sang pemilik kebun untuk mengklaim bagiannya mengalami pemukulan, dilempari batu, atau dibunuh. Tidak ada manusia yang menjadi pemilik kebun akan dapat bersabar menghadapi kejahatan para penggarap kebunnya seperti ini. Namun apabila yang dimaksudkan dengan “hamba-hamba”-nya adalah para nabi (lihat Am 3:7; Yer 7:25; 25:4; Za 1:6), maka sang pemilik kebun anggur adalah Dia yang kesabaran-Nya dan penderitaan-Nya yang lama sungguh-sungguh ilahi. Artinya, sang pemilik kebun anggur itu adalah Allah sendiri.

Akhirnya sang pemilik kebun anggur melakukan move terakhir, yaitu mengutus anaknya sendiri. Tidak akan ada lagi move lain! Begitu besar hasrat sang pemilik kebun anggur itu untuk memperoleh anggur hasil dari kebun anggurnya sehingga dia bersedia menanggung risiko mengutus anaknya sendiri. Pikirnya, tentu para penggarap akan menghormati sang anak, yang sama baiknya dengan sang pemilik kebun anggur (Mat 21:37). Anaknya itu bukanlah seorang hamba. Dengan demikian, jelaslah bahwa Yesus (Anak Bapa) itu lebih dari sekadar seorang nabi (hamba)! Ketika melihat sang anak, maka para penggarap yang jahat itu jelas berasumsi bahwa sang pemilik kebun anggur sudah meninggal dunia dan sang anak telah mewarisi kebun anggur itu (mereka memanggil sang anak sebagai “ahli waris”; lihat Mat 21:38). Para penggarap itu menangkap sang anak dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Yesus juga dibunuh pada kayu salib di luar Yerusalem. Kematian sang anak adalah klimaks dari cerita perumpamaan ini. Yesus “meramalkan” kematian-Nya sendiri di tangan mereka kepada siapa Dia menceritakan perumpamaan ini, walaupun baru pada ayat 45-lah kiranya mereka memahami ceritanya.

Yesus bersabda bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari bangsa Israel dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu (Mat 21:43). “Buah” seringkali digunakan dalam Injil Matius untuk “pekerjaan-pekerjaan baik”, tanda dari kebenaran lebih besar yang diproklamasikan Yesus dan diharapkan oleh-Nya dari para murid-Nya. Yesus bersabda: “Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20).

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Maharahim, setiap kali aku hendak menghakimi seseorang yang membalas kebaikanku kepadanya dengan kejahatan, perkenankanlah Roh Kudus-Mu menyadarkan diriku akan kebenaran bahwa apa yang kulakukan kepada Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, juga tidak lebih baik. Ini kulakukan kepada-Nya – sadar maupun tidak sadar – dari hari ke hari. Inilah balasanku terhadap rahmat yang Kaucurahkan kepadaku. Bapa, ampunilah aku anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR” (bacaan tanggal 8-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-10-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BEKERJA DI KEBUN ANGGUR ALLAH

BEKERJA DI KEBUN ANGGUR ALLAH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [Tahun A] – 1 Oktober 2017)

 

“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Anak itu menjawab: Baik, Bapa, tetapi ia tidak pergi. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka, “Yang pertama.” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur percaya kepadanya. Meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” (Mat 21:28-32) 

Bacaan pertama: Yeh 18:25-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: Flp 2:1-11

Bacaan Injil pada hari Minggu lalu (Hari Minggu Biasa XXV) berupa sebuah perumpamaan yang mengambil TKP-nya di sebuah kebun anggur. Kejadian yang digambarkan dalam perumpamaan itu adalah tidak puasnya para pekerja yang bekerja lebih lama terhadap para pekerja yang datang belakangan, namun menerima upah yang sama. Ketidakpuasan tersebut juga dialamatkan kepada sang pemilik kebun anggur. Rahmat Allah yang berlimpah kepada semua orang tanpa diskriminasi, dilihat oleh mata manusia sebagai suatu ketidakadilan. Dalam bacaan Injil hari ini – juga sebuah perumpamaan – kita lihat seorang pemilik kebun anggur menemui anak laki-lakinya yang sulung dan memerintahkannya untuk bekerja di kebun anggur. Anak itu mengatakan “tidak mau”, namun kemudian ia pergi juga ke kebun anggur untuk bekerja. Bapak itu memerintahkan putera bungsunya untuk melakukan hal yang sama. Anaknya itu mengatakan “ya, Bapa”, namun ia tidak pergi ke kebun anggur.

Nah, apabila kita diminta oleh Allah untuk bekerja di kebun anggurnya, kita pun harus mau dan rela tangan-tangan kita menjadi kotor. Lain sekali sikap orang-orang Farisi yang pada umumnya munafik itu. Mereka takut tangan-tangan mereka menjadi kotor atau terkontaminasi. Sebagai “orang-orang yang terpisah”, orang-orang Farisi membuat hidup beragama yang tidak terkontaminasi oleh kesalahan-kesalahan orang-orang lain. Penjagaan-diri menjadi ideal mereka. Di mata mereka, para pendosa sungguh tidak mempunyai pengharapan. No hope! Inilah yang membuat Yesus menjadi marah. 

Panenan di kebun anggur atau ladang Allah sudah siap untuk dituai. Misi Yohanes Pembaptis menunjukkan bahwa ada banyak pendosa yang siap untuk memberi tanggapan terhadap orang-orang yang akan memberikan kesempatan kedua dalam hidup mereka. Yohanes Pembaptis menawarkan kepada mereka air, pembasuhan, pembaharuan, suatu halaman baru yang bersih dan menyegarkan.

Sebagaimana dikatakan Yohanes (Luk 3:16-17), Yesus datang dengan Roh Kudus dan api. Yesus melakukan “blusukan” ke mana-mana dan Ia berjumpa dengan orang-orang yang sakit, para pendosa, orang-orang yang tertindas dan tersisihkan, … wong cilik! Yesus membawa kesembuhan kepada mereka, Dia juga memberikan sebuah akhir dan sebuah awal baru dalam kehidupan mereka, air mata ungkapan kelegaan, bahkan makanan bagi mereka (Mat 14:13-21;15:32-39). Orang-orang Farisi tidak tahan menyaksikan sikap penuh bela rasa dan tindak-tanduk Yesus yang  penuh belas kasih. Yesus memang benar ketika mengajar dengan perumpamaan bahwa “anggur baru tidak dapat dimasukkan kedalam kantong kulit yang tua” (Mat 9:17). Di mata orang-orang Farisi, Yesus adalah sebuah skandal!

Untuk menjadi pengikut/murid Yesus Kristus, seseorang dipanggil untuk menjadi misioner dan apostolik: untuk bekerja di ladang-Nya dan tangan-tangan pun menjadi kotor juga. Para murid Yesus bukanlah mereka yang banyak berdoa hanya untuk kepentingan bisnis mereka sendiri, berdoa untuk keselamatan diri sendiri, tetapi tidak mau tangan mereka menjadi kotor dan tidak mau jadual kehidupan mereka yang nyaman dirusak.

Misi orang Kristiani dapat digambarkan dengan sederhana: cara terbaik untuk menjadi seorang sahabat Yesus adalah membawa seorang sahabat kepada Yesus!

Di ladang Allah pada hari ini ada banyak sekali panenan yang siap untuk dituai. Ada banyak sekali jiwa yang belum pernah disentuh oleh Kabar Baik tentang Yesus Kristus, mereka melangkah tanpa tujuan di atas jalan tanpa makna: mereka merasa bosan, marah dan agresif, mereka menjadi letih-lesu dan sakit karena sensualitas. Mereka hidup tanpa pengharapan. Jika orang-orang merasa down dan susah, hal terahir yang ingin mereka dengar adalah suatu khotbah yang menyalah-nyalahkan mereka. Yang mereka butuhkan adalah tangan-tangan terulur guna mengangkat diri mereka. 

Sebenarnya orang-orang zaman modern ini bukannya tidak/belum pernah mendengar tentang Yesus. Apa yang terjadi dengan banyak orang adalah sedikit pengalaman tentang agama yang mereka terima begitu negatif, sehingga efeknya hanya membuat mereka menjadi imun terhadap realitas sesungguhnya. Kuasa Roh Kudus dan api dari hati belum mencapai mereka. Mereka ditinggal tanpa pengharapan, energi, atau rasa percaya diri. Dan siapakah yang dapat membawa pengharapan kepada mereka? Marilah kita berdoa kepada Bapa surgawi untuk mengirimkan para pekerja untuk tuaian yang ada (lihat Luk 10:2; Mat 9:37-38). Namun, janganlah kita (anda dan saya) sekadar berdoa untuk orang-orang lain agar disentuh. Janganlah kita takut tangan-tangan kita menjadi kotor. Untuk membawa seorang sahabat kepada Allah, kita tidak dapat melakukannya dari jarak jauh. Kita juga diminta oleh Allah untuk menjadi saksi yang hidup dan efektif dari kasih Allah.  Ketika anda berdoa “jadikanlah aku pembawa damai-Mu”, bersiaplah untuk terlibat, untuk menerima kenyataan bahwa rutinitas kita yang sudah mapan dan nyaman menjadi terganggu. Jika dikatakan kita harus siap melihat tangan-tangan kita menjadi kotor, kita akan menyadari bahwa tanah di ladang Allah itu sesuatu yang kotor namun bersih.

Uraian di atas adalah adaptasi dari P. Silvester O’Flynn OFMCap., The Good News of Matthew’s Year, Dublin, Ireland: Cathedral Books/The Columba Press, 1989/1992 [second printing], hal. 235-238.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau senantiasa menerima pertobatan anak-anak-Mu, mencurahkan belas kasih-Mu kepada para pendosa yang bertobat dan menarik mereka semua untuk masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Ya Bapa, oleh Roh Kudus bentuklah aku menjadi murid Yesus yang setia, siap terlibat dan mengotori tangan-tanganku, untuk membawa para sahabatku kepada-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 21:28-32), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG DUA ORANG ANAK” (bacaan tanggal 1-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG PELITA YANG MENYALA

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG PELITA YANG MENYALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Senin, 25 September 2017) 

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18) 

Bacaan Pertama: Ezr 1:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6 

Kita semua mengetahui bahwa bagaimana caranya kita “mendengar” (lihat Luk 8:18) merupakan suatu faktor signifikan dalam hal “berjalan bersama” kita dengan Allah dan kemampuan kita menghasilkan buah untuk kerajaan-Nya. Akan tetapi kita juga mengetahui bahwa kita hidup dalam sebuah dunia yang hingar-bingar, yang dipenuhi dengan kata-kata, pandangan-pandangan, pendapat-pendapat. Radio, Televisi, jaringan internet terus terbuka sepanjang hari/malam. Jumlah majalah, tulisan berupa artikel, buku dan koran/harian begitu banyaknya, belum lagi billboards dan berbagai spanduk sepanjang jalan, bendera-bendera berbagai partai politik dll. Semua dapat menjadi pelanturan yang akan mengganggu konsentrasi dalam “proses mendengarkan” kita. Di tengah-tengah berbagai macam “distraksi” atau pelanturan ini, bagaimana caranya kita dapat mendengar suara Allah yang lemah lembut?

Apakah anda pernah mencoba melakukan percakapan dengan seseorang dalam sebuah ruangan yang berisik dan penuh sesak? Agar dapat mendengar dengan cukup baik, anda harus membuat perubahan-perbuatan dalam arti adjustments, dalam cara anda mendengarkan suara pihak lawan bicara anda. Misalnya, anda dapat mencondongkan telingamu kepadanya sehingga anda dapat memusatkan perhatian/fokus hanya pada suaranya. Atau anda dapat menarik dia ke tempat yang lebih sepi.  Demikian pula halnya kita dalam hal mendengarkan suara Allah yang lemah-lembut itu. Kadang-kadang atau malah seringkali kita harus mencondongkan telinga-hati kita kepada-Nya atau pergi ke sebuah tempat yang hening untuk berdoa.

Percayakah anda bahwa Allah dapat berbicara dengan anda? Apakah anda rindu untuk membaca Kitab Suci sedemikian rupa sehingga kelihatan bahwa nas-nas kelihatan seakan melompat keluar dari lembaran-lembaran Kitab Suci itu dan berbicara kepada anda secara langsung? Agar mampu mendengar suara Allah dengan cara-cara seperti ini, anda harus “meninggalkan” dunia dan segala pengaruhnya untuk beberapa saat lamanya. Bebaskanlah diri anda dari segala rasa susah, gelisah-khawatir dan pelanturan yang membuat kusut pikiranmu selama ini. Tanyakanlah kepada dirimu sendiri apakah anda fokus pada Allah dan mendengarkan Dia penuh perhatian tentang apa yang dikatakan-Nya?

Marilah kita membuka diri kita bagi Yesus pada saat-saat dan tempat-tempat tertentu yang khusus disediakan bagi-Nya saja. Apabila kita melakukannya dengan setia-teratur, maka banyak “kekayaan surgawi” yang tak terbayangkan akan terwujud. Doa dari hati kita yang terdalam seakan sebuah tungku-perapian untuk transformasi, tempat pertobatan. Di sinilah, pada saat yang penuh keheningan dengan Allah kita dapat berjumpa dengan Yesus, Guru kita, dan kita pun dapat menerima perwahyuan dari Roh Kudus. Marilah kita mengheningkan pikiran kita dan mencondongkan telinga kita kepada Yesus selagi Dia berbicara dengan kita.

DOA: Berbicaralah ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan. Ya Allahku, berikanlah kepadaku sebuah hati yang terbuka. Bukalah pikiranku sehingga aku dapat mendengar dan menanggapi apa yang Kausabdakan kepadaku pada hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS MEMPERHATIKAN CARA KITA MENDENGAR” (bacaan tanggal 25-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 September 2017 [HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH

KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN A, 24 September 2017) 

“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapti orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk gterakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Bacaan Pertama: Yes 55:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,8-9,17-18 Bacaan Kedua: Flp 1:20c-24,27a

Dalam liburan mereka, sebuah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan seorang anak laki-laki mereka yang masih duduk di kelas 3 SD mengunjungi sebuah kebun anggur. Karena dirasakan tepat setting-nya, maka sang ayah bercerita mengenai perumpamaan Yesus tentang para pekerja kebun anggur yang ada dalam bacaan Injil hari ini. Anaknya yang masih kecil itu berseru, “Sangat tidak adil!” Kalau kita jujur, kita dapat menerima kenyataan bahwa kita pun akan bereaksi serupa. Biar bagaimana pun, para pekerja yang datang paling akhir boleh dikatakan hampir belum bekerja sama sekali. Mengapa mereka diberi upah sama dengan para pekerja yang bekerja di bawah terik matahari sepanjang hari?

Dalam perumpaman ini Yesus mengajarkan, bahwa sebenarnya tidak seorang pun pantas untuk masuk ke dalam surga. Kita semua telah berdosa dan kehilangan hak kita sebagai pewaris surga. Namun karena rahmat Allah yang berlimpah-limpah, maka pintu surga sekali lagi terbuka bagi kita semua. Semua orang yang datang dengan suatu iman-hidup kepada Yesus dapat ikut ambil bagian dalam belas kasih-Nya yang berkelimpahan – yang terakhir sama banyaknya dengan yang pertama.

Allah tidak menilai kita untuk apa yang kita lakukan bagi-Nya atau berapa banyak kita berkontribusi kepada masyarakat. Itu adalah cara/jalan kita, bukan cara/jalan-Nya. Dengan perumpamaan ini Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memandang dan menilai diri kita. Allah memandang dan menilai kita sebagai anak-anak-Nya sendiri – anggota-anggota Kristus yang dirajut menjadi sepotong permadani hiasan dinding yang sangat indah penuh warna-warni. Jika ada satu benang saja yang hilang, seluruh permadani tersebut kehilangan sesuatu dari nilainya. Kita masing-masing sama penting dan berharganya di mata Allah, sama bernilainya sampai Putera Allah sendiri rela mati untuk kita, masing-masing sedemikian berharga sehingga dapat menjadi tempat kediaman Roh Kudus.

Sekarang masalahnya adalah, apakah kita (anda dan saya) menyadari akan hal ini? Apakah kita mengawali dan mengakhiri setiap hari dengan pikiran ini? Apakah pengetahuan ini muncul ke permukaan setiap saat kita gagal dalam tugas-pekerjaan kita, memaki-maki pasangan hidup dan/atau anak-anak kita, atau tergelincir lagi ke dalam kedosaan? Dalam hal ini kita harus senantiasa mengingat bahwa kita dapat menerima kasih Kristus yang “sama bobot”-nya dengan yang diterima S. Fransiskus dari Assisi, S. Antonius dari Padua, Santa Bunda Teresa dari Kalkuta, atau orang-orang kudus yang kita dapat sebutkan namanya. Jika kita sungguh menyadari akan kebenaran ini, maka – seperti Yesus – kita pun dapat mengampuni orang-orang lain yang telah menyakiti hati atau mendzolimi kita. Kita pun akan mampu untuk melihat gambar dan rupa Allah dalam diri mereka. Oleh karena itu, marilah kita tidak memohon kepada Allah agar diperlakukan secara adil, melainkan memohon agar kepada kita diberikan hati yang dapat memperlakukan orang-orang lain sebagaimana Bapa surgawi memperlakukan kita. 

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahapengampun. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengampuni orang-orang yang telah menyakiti dan mendzolimi diriku. Transformasikanlah kami semua dengan kasih-Mu yang berlimpah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yag berjudul “YANG TERAKHIR AKAN MENJADI YANG PERTAMA DAN YANG PERTAMA AKAN MENJADI YANG TERAKHIR” (bacaan tanggal 24-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  22 September 2017 [Peringatan S. Ignasius dr Santhi, Imam Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS