Posts tagged ‘PERUMPAMAAN YESUS’

KERAJAAN ALLAH DIMULAI DENGAN AWAL YANG PALING KECIL

KERAJAAN ALLAH DIMULAI DENGAN AWAL YANG PALING KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus – Peringatan Wajib S. Yohanes Bosko, Imam – Jumat, 31 Januari 2020)

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34) 

Bacaan Pertama: 2Sam 11:1-4a,5-10a,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,10-11 

“Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.”  (Mrk 4:26-27)

Dengan mengajar lewat perumpamaan-perumpamaan, Yesus menggunakan imaji-imaji sederhana untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran mendalam tentang Kerajaan Allah. Imaji benih-benih kecil, yang bertunas, tumbuh sampai masak dan dituai menjelaskan kepada kita sesuatu yang penting mengenai efek-efek transformasi dari sabda Allah. Seorang petani harus bekerja keras mempersiapkan tanah untuk ditanami, dan ia harus menjaga tanahnya bebas dari ilalang, hama dan gangguan lainnya. Akan tetapi, si petani tidak dapat membuat benih itu bertunas dan tidak memiliki kendali atas sinar matahari dan curah hujan.

Kerajaan Allah bekerja dengan cara serupa. Kerajaan Allah dimulai dengan awal yang paling kecil dalam hati manusia yang menerima sabda/firman Allah dan bekerja tanpa terlihat, membawa transformasi dari dalam. Sebagaimana sebutir benih yang samasekali tidak mempunyai kuasa untuk mengubah dirinya sendiri sampai saat ditanam ke dalam tanah, maka kita pun tidak dapat mengubah hidup kita untuk menjadi serupa dengan Yesus sampai kita menyerahkan hidup kita kepada Kristus dan mohon Roh Kudus mengubah kita dengan kuat-kuasa-Nya. Apabila benih-benih sabda Allah mulai berkecambah dan bertumbuh, hasilnya adalah tuaian yang berlimpah.

Orang dapat bertanya: “Apakah sabda Allah sunguh bekerja?” “Apakah iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus?” (Rm 10:17). “Apakah firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun?” (Ibr 4:12). Jika demikian halnya, mengapa kondisi dunia seperti sekarang, walaupun ada banyak gereja, ada banyak pengkhotbah, dan ada Alkitab (dengan berbagai versinya)? Jawaban Allah terhadap pertanyaan-pertanyaan sangat penting seperti ini adalah: “…… seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulutku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia; tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes 55:10-11). Sabda Allah sungguh bekerja! Ingatlah apa yang dikatakan Paulus: “… firman Allah tidak terbelenggu” (2Tim 2:9).

Kitab Suci menceritakan kepada kita bagaimana sabda Allah menyebar dari Yerusalem ke kota-kota besar kekaisaran Romawi selagi benih-benih Injil tersebar jauh dan luas – kadang-kadang malah ke tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tentu saja para rasul Kristus yang pertama tidak mempunyai ekspektasi samasekali untuk memperoleh tuaian berlimpah lewat seorang Saulus dari Tarsus, yang sebelumnya merupakan seorang pengejar dan penganiaya Gereja. Demikian pula dengan Timotius, Titus dlsb. yang tidak pernah mempunyai hubungan dengan Yesus dalam pelayanan-Nya di depan umum. Biarpun begitu, tokh Allah memilih mereka untuk menyebarkan benih-benih Injil.

Kita mungkin saja tidak memiliki kharisma dan keberanian seperti Paulus, atau panggilan menjadi rasul seperti Petrus, namun kita dapat menyebarkan benih-benih sabda Allah yang telah dipercayakan kepada kita. Siapa yang dapat mengetahui di mana benih-benih yang kita sebarkan akan mulai berakar? Kita tidak usah terkejut apabila tanggapan-tanggapan datang dari tempat-tempat yang tidak diharap-harapkan, seperti kasir di supermarket tempat biasa kita berbelanja atau rekan-kerja kita yang sehari-hari yang kelihatan suka terbenam dalam kesibukan kerjanya. Siapa tahu? Bukankah kita hanya merupakan instrumen-Nya, keledai yang dikendarai oleh Yesus ketika memasuki kota Yerusalem? Biarlah Roh Kudus menunjukkan kepada kita (anda dan saya) bagaimana kita dapat menjadi penyebar benih sabda Allah.

Perlu kita ingat bahwa ketiadaan iman seorang pewarta/pelayan Sabda dapat membelenggu dirinya. Berbagi sabda Allah dengan orang-orang lain adalah bagaikan menabur benih di tanah. Seringkali kita sendiri tidak melihat efek-efek langsung dari pekerjaan kita (lihat Mrk 4:26 dsj.). Bahkan kalau pun kita dapat melihat hasilnya,  semua itu diawali dengan tindakan bagaikan menaburkan biji sesawi yang kecil di tanah (lihat Mrk 4:31). Agar bertekun dalam menyebarkan sabda Allah, kita harus menabur oleh/dalam iman dan bukan sekadar mengandalkan penglihatan kita (lihat 2Kor 5:7), Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “… kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan beroleh hidup” (Ibr 10:39). Saudari dan Saudaraku, marilah kita bekerja dalam iman dan memberi kesempatan kepada sabda Allah untuk bekerja.

DOA: Bapa surgawi, oleh Roh Kudus-Mu, bukalah mataku agar mampu melihat kuasa-transformasi dari sabda-Mu. Tuntunlah aku dalam mensyeringkan Kabar Baik Yesus dengan orang-orang yang kujumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul “BAGI ALLAH, KITA MASING-MASING SANGATLAH BERHARGA” (bacaan tanggal 31-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-2-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 29 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGAJAR DENGAN MENGGUNAKAN PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN

YESUS MENGAJAR DENGAN MENGGUNAKAN PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III – Kamis, 30 Januari 2020)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Wajib S. Yasinta Mareskoti, Perawan Ordo III (OFS)

 

Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Mungkinkah orang membawa pelita supaya ditempatkan di bawah tempayan atau di bawah tempat tidur? Bukankah supaya ditaruh di atas kaki pelita? Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Lalu Ia berkata lagi, “Perhatikanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil. (Mrk 4:21-25) 

Bacaan Pertama: 2Sam 7:18-19,24-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:1-5,11-14 

Hari Rabu kemarin kita bersama membaca perumpamaan Yesus tentang seorang penabur (Mrk 4:1-10) yang sangat dihargai pada masa Gereja Perdana.  “Perumpamaan tentang seorang penabur” ini menyentuh hati sejumlah pendengar-Nya sedemikian mendalam sehingga mereka berada bersama Yesus lebih lama lagi dan bersama kedua belas murid memohon kepada-Nya untuk mengajar mereka lebih banyak lagi (Mrk 4:10-11).

Yesus melihat hasrat mereka untuk mendapat pengajaran secara lebih mendalam, sehingga dengan segala senang hati Dia menyediakan waktu ekstra untuk bersama dengan mereka. Kita hanya dapat membayangkan bagaimana Yesus meminta kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada-Nya cara terbaik untuk membuka hati orang-orang ini bagi lebih banyak lagi kebenaran-Nya.

Ternyata mengajar dengan menggunakan perumpamaan merupakan cara yang ampuh. Dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya, Yesus membanding-bandingkan Kerajaan Allah dengan kegiatan sehari-hari sehingga orang dapat lebih siap memahami ajaran-Nya. Setelah perumpamaan tentang seorang penabur itu, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan beberapa perumpamaan lagi: (1) Perumpamaan tentang pelita dan tentang ukuran (Mrk 4:21-25) yang merupakan bacaan Injil hari ini; (2) Perumpamaan tentang benih yang tumbuh (Mrk 4:26-29); (3) Perumpamaan tentang biji sesawi (Mrk 4:30-34).

Yesus sangat senang bilamana orang-orang meminta kepada-Nya untuk mengajar mereka secara lebih mendalam, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan untuk memberikan hikmat-Nya kepada mereka. Rasa senang inilah yang berada di belakang kata-kata-Nya, “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu” (Mrk 4:24). Orang-orang yang menyediakan lebih banyak waktu untuk bersimpuh di kaki Yesus mengalami lebih banyak kasih Allah dan berkat-berkat-Nya, dan mereka pun lebih siap untuk mengikut Yesus.

Bahkan hari ini pun Yesus ingin melanjutkan pengajaran-Nya kepada kita. Ada begitu banyak hal yang dapat diajarkan-Nya kepada kita, hanya apabila kita mau menyediakan waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Pada saat-saat seperti inilah – ketika kita memberi perhatian sepenuhnya kepada Allah – Ia dapat membuat mukjizat dalam diri kita.

Marilah kita mohon lebih banyak dari Allah dengan menyediakan waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Setiap kali kita memutuskan untuk memohon lebih banyak dari Allah, kita sebenarnya sedang mengetuk pintu surga, dan Allah telah berjanji bahwa Dia akan senantiasa menjawah kita (lihat Mat 7:7-8).

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau men-sharing-kan hikmat-Mu dengan kami. Oleh Roh Kudus-Mu, bergeraklah dalam diri kami masing-masing agar timbul keinginan dalam diri kami untuk menyediakan waktu bersama-Mu setiap hari. Kami mengetahui bahwa Engkau akan menanggapi hasrat hati kami ini dengan mencurahkan berkat-berkat melimpah atas Gereja-Mu sehingga semua orang akan sungguh mengenal Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:21-25), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERHATIKAN APA YANG KITA DENGAR” (bacaan tanggal 30-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-1-19 dalam situs/bloga SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Januari 2020 [Peringatan S. Thomas Acquino, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI TANAH YANG BAIK DAN SUBUR?

BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI TANAH YANG BAIK DAN SUBUR?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III – Rabu, 29 Januari 2020)

Pada suatu kali Yesus mulai mengajar lagi di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Ia mengajarkan banyak hal dalam  perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka, “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanam-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Sebagian jatuh di tanah yang baik, sehingga tumbuh dengan subur dan berbuah. Hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Lalu kata-Nya, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu bertanya kepada-Nya tentang perumpamaan itu. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun memang melihat, mereka tidak memahami, sekalipun memang mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan diberi pengampunan.” Lalu Ia berkata kepada mereka, “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu mereka segera murtad. Yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri; itulah yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” (Mrk 4:1-20) 

Bacaan Pertama: 2Sam 7:4-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:4-5,27-30

“Akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” (Mrk 4:20)

Perumpamaan Yesus yang sangat dihargai pada masa Gereja perdana ini sungguh merupakan sebuah tantangan besar bagi kita semua. Sekali sabda Allah ditanam dalam hati kita, kita mempunyai pilihan bagaimana kita akan menanggapi sabda tersebut. Yesus mengajar dengan jelas: Apabila benih gagal berakar dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu bertahan ketika menghadapi kesulitan. Tanah yang baik adalah “orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah” (Mrk 4:20). Perumpamaan ini menunjukkan bahwa kita dapat memupuk hati kita sehingga, ketika sang penabur menaburkan benihnya ke dalam diri kita, maka kita akan siap untuk menerima benih (sabda/firman) itu dan memahaminya agar dengan demikian dapat berbuah.

Bagaimana kita dapat menjadi tanah yang baik dan subur? Kita dapat mulai dengan memohon kepada Roh Kudus untuk mengisi diri kita dengan suatu hasrat yang tulus akan sabda Allah dan suatu keterbukaan terhadap kuasa sabda Allah itu guna mentransformasikan diri kita. Kita juga dapat membuat diri kita tersedia bagi Allah sehingga “benih” di dalam diri kita dapat menghasilkan akar yang dalam serta kuat, dan dapat menghasilkan buah secara berlimpah-limpah. Melalui doa-doa harian, bacaan dan studi Kitab Suci serta partisipasi aktif dalam Misa Kudus, kita dapat membawa makanan bagi diri kita secara konstan, menciptakan suatu keadaan di mana benih sabda Allah dapat bertumbuh dan menjadi produktif.

Disamping hati yang baik, jujur dan taat, kita juga membutuhkan kesabaran kalau mau melihat tanaman itu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat. Selagi kita berjalan melalui kehidupan kita ini, pastilah kita mengalami berbagai godaan, masalah dan kesulitan. Barangkali kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit sabda itu sehingga tidak berbuah (Mrk 4:18-19). Namun Allah memerintah dalam hati yang kuat berakar pada sabda-Nya. Allah akan melihat kita melalui saat-saat di mana kita tergoda untuk mengambil jalan-mudah, atau ketika kita  mengalami distraksi (pelanturan) yang disebabkan oleh berbagai tuntutan atas waktu dan perhatian kita. Yesus, sang Firman/Sabda Allah, akan menjaga hati kita agar tetap lembut dan lunak. Kalau kita menantikan-Nya dengan sabar, maka Dia tidak akan mengecewakan kita.

Marilah kita menerima sabda Allah dengan kesabaran dan penuh kepercayaan. Marilah kita minta kepada Roh Kudus untuk menanam sabda-Nya dalam-dalam pada diri kita, sehingga tidak ada yang dapat mencabutnya, apakah Iblis, atau godaan-godaan, atau kekayaan, atau kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan dunia. Baiklah kita memusatkan pikiran dan hati kita pada sabda-Nya, mohon kepada Roh Kudus untuk membawa sabda-Nya itu ke dalam diri kita. Baiklah kita membuat Kitab Suci sebagai fondasi kita yang kokoh-kuat.

Sebelum mengakhiri renungan ini, baiklah kita (anda dan saya) bertanya kepada diri kita masing-masing: Secara jujur, sebenarnya keuntungan/manfaat apa yang kuharapkan dengan menjadi pengikut Yesus Kristus? Jenis tanah seperti apakah diriku sebenarnya? Di mana saja aku dapat melihat buah-buah Kerajaan Allah dalam hidupku?

DOA: Bapa surgawi, berkat rahmat-Mu buatlah agar hidup kami berbuah demi kemuliaan-Mu. Tumbuhkanlah dalam hati kami suatu hasrat untuk menerima sabda-Mu. Ubahlah hati kami supaya menjadi tanah yang baik dan subur bagi sabda-Mu untuk tumbuh dan berbuah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “KITA AKAN MEMAHAMI RAHASIA KERAJAAAN ALLAH JIKA KITA MEMPERKENANKAN BENIH SABDA-NYA BERTUMBUH DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 29-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

 Cilandak, 27 Januari 2020 [Peringatan Fakultatif S. Angela Merici, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELAMA MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA, MEREKA TIDAK DAPAT BERPUASA

SELAMA MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA, MEREKA TIDAK DAPAT BERPUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Senin, 20 Januari 2020)

Peringatan Fakultatif S. Fabianus, Paus-Martir

Peringatan Fakultatif Sebastianus, Martir

Keluarga Fransiskan Konventual (OFMConv.): Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”   Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: 1Sam 15:16-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9;16-17,21,23

Yesus membandingkan kehadiran-Nya di antara manusia selama pelayanan-Nya di depan umum dengan kehadiran seorang mempelai laki-laki dalam sebuah pesta perkawinan.

Pesta seperti ini adalah waktu untuk bersukacita bersama mempelai laki-laki. Mungkin saja di kemudian hari, pada saat-saat menghadapi realitas kehidupan sebagai seorang suami dan sebagai kepala keluarga, dia akan membutuhkan simpati dan belarasa. Namun sekarang, dalam pesta perkawinan ini, semuanya adalah sukacita.

Demikian pula dengan Yesus. Selama Dia masih bersama dengan para murid-Nya, Yesus tidak ingin para murid-Nya berpuasa. Yesus ingin agar para murid-Nya berada dalam keadaan di mana mereka dapat lebih mudah mengalami perubahan-perubahan dalam diri mereka yang diperlukan untuk berasimilasi dan memahami ajaran-ajaran baru yang diberikan-Nya kepada mereka.

Yesus tidak menyalahkan puasa atau berbagai laku-tobat yang menyangkut tubuh orang bersangkutan, namun semua itu harus dilakukan pada waktu dan keadaan yang tepat. Hal seperti itu harus dilakukan secara bijaksana. Ada saat-saat di mana puasa dapat menjadi tindakan yang “salah”, “tidak bijak”, bahkan “tolol”. Misalnya, apabila karena berpuasa seorang ibu tidak memperhatikan anak-anaknya, maka hal itu jelas tidak benar alias salah. Apabila puasa menyebabkan seseorang tidak peduli terhadap sesama yang memerlukan pertolongan dan sedang berdiri di depan matanya, maka sikapnya dan ketiadaan tindakannya untuk menolong orang itu adalah salah.

Ada saat-saat di mana suatu keadaan menuntut kita menggunakan segenap kekuatan kita, baik kekuatan mental maupun kekuatan fisik, untuk mengatasi situasi krisis, suatu perubahan. Seperti diungkapkan dalam berbagai uraian tentang “manajemen perubahan”, perubahan-perubahan apa pun yang diperlukan biasanya tidak mudah untuk diterima, jadi muncul resistensi dengan berbagai alasan, apalagi kalau pekerjaan dasarnya belum dipersiapkan dengan baik. Dalam artian tertentu kita sendiri harus sudah berubah dulu, paling sedikit dalam sikap dan keterbukaan, sebelum kita dapat menerima perubahan-perubahan baik yang diperlukan.

Inilah kiranya yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia mengatakan, “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju ……Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua ……anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula” (Mrk 2:21-22).

Sukacita hidup baru yang datang dari perubahan-perubahan dalam pemberian-hidup yang baik mempunyai tempat dalam kehidupan orang Kristiani. Perayaannya yang cocok tidak memasukkan puasa. Namun sukacita ini, hidup baru ini, pada prinsipnya hanya datang setelah orang yang bersangkutan melakukan pertobatan, penyangkalan diri, dalam artian tertentu: mati terhadap diri sendiri.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengajarkan kepada kami kebenaran tentang puasa dan sukacita Hidup Baru di dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “HAL-IKHWAL BERPUASA DAN SATU LAGI PERUMPAMAAN YESUS” (bacaan tanggal 20-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul untuk bacaan tanggal 21-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Januari 2020 [Peringatan S. Antonius, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GEMBALA BAIK BAGI KITA SEMUA ADALAH YESUS KRISTUS

GEMBALA BAIK BAGI KITA SEMUA ADALAH YESUS KRISTUS 

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Selasa, 10 Desember 2019)

Image result for PERUMPAMAAN DOMBA YANG HILANG"

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak yang hilang.” (Mat 18:12-14) 

Bacaan Pertama: Yes 40:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13 

Kita dapat saja berpikir bahwa seorang gembala akan bersungut-sungut karena harus “membuang-buang” energi hanya untuk mencari seekor domba yang hilang. Namun hal ini bukanlah yang terjadi dengan sang gembala dalam perumpamaan Yesus. Gembala ini begitu berkomitmen pada setiap ekor dombanya sehingga dia ikhlas berlelah-lelah untuk menyelamatkan domba mana pun yang mengalami kesulitan atau hilang. Gembala ini pun akan merasa bahagia apabila domba yang mengalami kesulitan atau hilang itu dapat diselamatkan.

Para nabi Perjanjian Lama seringkali mengibaratkan TUHAN (YHWH) Allah sebagai seorang gembala dalam cara-Nya menjaga Israel: “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” (Yes 40:11). Yesus juga menggunakan gambaran “gembala yang baik” bagi diri-Nya: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh 10:11) dan mencari domba yang hilang (lihat Luk 15:4-5). Santo Gregorius Agung [540-604] menulis bahwa Yesus bahkan “memanggul domba di atas bahunya karena dengan mengambil kodrat manusia, Dia membebani diri-Nya dengan dosa-dosa kita.”

Inilah sesungguhnya makna terdalam dari ungkapan “Yesus adalah gembala kita semua”: Yesus menanggung sendiri dosa-dosa kita semua, bukan hanya segelintir orang yang mencoba untuk menjadi baik, atau sejumlah kecil orang yang telah memiliki kecenderungan-kecenderungan religius. Yesus tidak menolak orang-orang yang dikenal sebagai para pendosa. Yesus tidak menghindari orang-orang yang dipandang rendah oleh orang-orang “terhormat” pada zamannya. Yesus senantiasa mencari kesempatan untuk pergi mencari orang-orang berdosa dan hina dalam masyarakat pada waktu itu. Sebagai akibat dari perjumpaan orang-orang itu dengan Yesus, hidup mereka pun diubah secara dramatis.

Kita tentu masih ingat akan cerita tentang pertobatan Zakheus, bukan? (Luk 19:1-10). Kita pun tentunya tidak akan pernah melupakan cerita tentang perempuan yang kedapatan berzinah (Yoh 8:1-11), dan cerita tentang seorang penjahat yang disalibkan bersama Yesus, namun kemudian bertobat (Luk 23:42-43). Yesus minta kepada kita – para murid-Nya – agar mau ke luar menemui orang-orang seperti tiga orang yang disebutkan di atas. Yesus ingin kita memberkati setiap orang yang kita jumpai, berdoa syafaat bagi mereka, dan mau menunjukkan kepada mereka bela-rasa-Nya bilamana ada kesempatan untuk itu.

Teristimewa dalam masa Adven ini dengan segala macam pertemuan dalam lingkungan dlsb., kita akan mempunyai banyak kesempatan untuk berinter-aksi dengan orang-orang yang memiliki latar-belakang berbeda-beda dengan diri kita sendiri. Kita harus berhati-hati agar jangan cepat-cepat menghakimi mereka, tetapi menyambut setiap orang ke dalam hati kita. Marilah kita memohon kepada Yesus agar mengirimkan “domba-domba yang hilang” kepada kita. Selagi kita melakukannya, maka kita pun akan menemukan diri kita semakin serupa dengan Dia.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau sudi menjadi Gembala yang Baik bagi kami. Selamatkanlah kami semua – domba-domba-Mu, sehingga tidak seorangpun dari kami akan terpisahkan dari-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:12-14), bacalah tulisan yang berjudul ALLAH TIDAK PERNAH MEMBIARKAN KITA BERJUANG SENDIRI-SENDIRI (bacaan tanggal 10-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Desember  2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENTINGNYA MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN

PENTINGNYA MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN

(Bacaan Injil Misa,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Jumat, 29 November 2019)

Keluarga besar Fransiskan: Pesta Semua Orang Kudus Tarekat

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33) 

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81 

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa sebagaimana pohon ara atau pohon-pohon lainnya yang sudah bertunas menandakan sudah dekatnya musim panas, demikian pula akan ada tanda-tanda yang pasti bahwa kerajaan Allah sudah dekat. Metafora yang digunakan Yesus dipahami dengan baik oleh para pendengar-Nya yang adalah orang-orang Yahudi. Mereka memahami bahwa pohon ara akan berbuah dua kali dalam satu tahun – pada awal musim semi dan pada musim gugur. Kitab Talmud mengatakan bahwa buah pertama dimaksudkan untuk datang pada hari setelah Paskah – saat di mana orang-orang Israel percaya bahwa Mesias akan melayani dalam kerajaan Allah.

Dengan mengajarkan perumpamaan ini, Yesus sebenarnya menjelaskan pentingnya bagi orang-orang untuk membaca “tanda-tanda zaman” seperti para petani harus mendengarkan dan memahami prakiraan cuaca agar berhasil dalam bercocok-tanam, maka kita pun harus mampu untuk mendengar dan mengerti tanda-tanda dari Allah dan karya-karya-Nya dalam kehidupan kita sehingga kita dapat siap untuk kedatangan kerajaan-Nya.

Allah berbicara dengan banyak cara: lewat pembacaan dan permenungan Kitab Suci, lewat ajaran-ajaran Gereja, lewat kata-kata yang diucapkan saudari-saudara Kristiani lainnya, dalam hati kita, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia. Akan tetapi, bagaimanakah kiranya kita dapat mengenali suara-Nya di tengah-tengah suara-suara lainnya yang menarik perhatian kita? Rasa percaya (trust) yang didasarkan pada kerendahan hati dan rasa sesal mendalam atas dosa-dosa kita dapat mulai membuka telinga-telinga kita. Mengambil risiko-risiko kecil, senantiasa memohon Roh Kudus agar mengajar kita, semua ini dapat menolong kita bertumbuh dalam keyakinan bahwa Allah tidak ingin meninggalkan kita dalam kegelapan. Jadi, selalu ada kemungkinan bagi kita untuk belajar bagaimana memandang dengan mata iman, mendengarkan dengan telinga-telinga pengharapan, dan memberi tanggapan dengan hati penuh cintakasih.

KKEDATANGANNYA UNTUK KEDUA KALINYA - 4ita tidak mengetahui kapan hari akhir itu akan datang, akan tetapi Yesus mengatakan kepada kita: “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36). Yesus juga memberikan kepada kita tanda-tanda untuk menolong kita agar berjaga-jaga dan dipenuhi hasrat mendalam akan kedatangan kerajaan-Nya. Setiap hari kita dapat menyambut Yesus masuk ke dalam hati kita dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan sedikit lagi rencana-Nya. Allah ingin memenuhi diri kita dengan antisipasi penuh gairah selagi kita menantikan kedatangan-Nya kembali. Marilah kita mendengarkan ketukan-Nya pada pintu hati kita dan menyambut kedatangan kerajaan-Nya dalam kepenuhannya. Peganglah senantiasa kata-kata-Nya: “Perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Luk 21:33).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu mengenali tanda-tanda-Mu hari ini. Apakah yang Kauinginkan untuk kulihat? Bukalah pintu surga, ya Tuhan, agar aku dapat memperoleh pandangan sekilas dari kerajaan-Mu selagi aku berdiri siap untuk menyapa Engkau pada saat kedatangan-Mu kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan berjudul “KETAHUILAH BAHWA KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT” (bacaan tanggal 29-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 November 2019 [Peringatan Wajib S. Yakobus dr Marka, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG UANG MINA

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG UANG MINA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Rabu, 20 November 2019)

FMM: Peringatan Fakultatif S. Agnes dr Assisi – Pelindung Pra-Novis FMM

Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau  sudah tahu bahwa  aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai supuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28) 

Bacaan Pertama: 2Mak 7:1,20-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8b,15

perumpamaan-tentang-talentaApabila seseorang bertanya kepada anda pada hari ini, “Apakah anda pikir anda adalah orang yang paling penting di dunia pada hari ini?”, apakah jawaban anda? Sebagian besar orang tentunya akan menjawab, “Tidak!”

Tidakkah anda menyadari bahwa Yesus dalam bacaan Injil hari ini berkata: “Anda salah, sahabat-Ku. Anda sangat salah!” Tidakkah anda mengetahui bahwa di mana-mana dalam Kitab Suci, teristimewa dalam keempat kitab Injil, Tuhan Yesus terus mengatakan bahwa masing-masing kita adalah seorang pribadi yang penting di mata-Nya.

Inilah pesan dari perumpamaan Yesus pada hari ini: Orang yang menyimpan uang mina dalam sapu tangan terlalu memandang rendah dirinya sendiri. Seakan-akan ia mengatakan, “Setiap orang mengetahui bahwa diriku tidaklah penting, jadi apa artinya dengan sedikit talenta yang kumiliki? Biarlah orang-orang pintar itu yang menjalankan dunia kalau mereka merasa mampu melakukannya. Bakat-bakat yang kumiliki tidak pantaslah untuk diperhitungkan.”

Dan Yesus mengatakan dalam perumpamaan, “Tuhan tidak dapat dikecohkan dengan hal itu. Dia mengetahui sekali apa yang anda dapat atau tidak dapat lakukan. Ada banyak hal yang anda dapat lakukan dengan talenta-talenta yang diberikan Allah kepada anda, dan jangan coba untuk menipu diri anda sendiri. Kita tidak dapat membodohi Allah, sebab itu mengapa kita harus membodohi diri kita sendiri? Apalagi kita juga mengetahui bahwa akan meminta pertanggungan-jawaban dari kita sehubungan dengan bagaimana caranya kita menggunakan setiap anugerah-Nya kepada kita masing-masing.

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Barangkali kita berpikir bahwa diri kita tidak penting karena kita tidak yakin apa yang sebenarnya penting. Oleh karena itu, marilah kita menghadap Pribadi yang paling penting dalam sejarah. Marilah kita bertanya kepada-Nya apakah yang harus kita lakukan untuk menjadi seorang pribadi yang sungguh-sungguh penting.

Pribadi yang paling penting itu adalah Yesus, dan ia bersabda: “Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”  (Mat 23:11). Yang dimaksudkan Yesus di sini adalah: “Apa yang anda lakukan demi cintakasih kepada Allah dan sesamamu, itulah yang sungguh penting.”

DOA: Bapa surgawi, Engkaulah Allah, Pencipta langit dan bumi. Engkau telah membuat kami menjadi anak-anak-Mu dan juga saudari-saudara dari Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Apa lagi yang dibutuhkan oleh kami? Menjadi anak-anak-Mu dan saudari-saudara Yesus Kristus sudah cukuplah untuk membuat diri kami masing-masing merasa penting. Ajarlah kami untuk hidup sebagai anak-anak-Mu yang sejati, yang mengakui pentingnya diri kami sebagai anggota-anggota keluarga-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:11-28), bacalah tulisan yang berjudul “BAIK SEKALI PERBUATANMU ITU, HAI HAMBA YANG BAIK” (bacaan tanggal 20-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 November 2019 [Peringatan S. Agnes dr Assisi, Perawan – Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS