Posts tagged ‘PERUMPAMAAN YESUS’

ORANG KAYA YANG BODOH

ORANG KAYA YANG BODOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 21 Oktober 2019)

OSU (Ordo Santa Ursula): Hari Raya S. Ursula, Perawan – Pelindung Tarekat

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah  terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Rm 4:20-25; Mazmur Tanggapan: Luk 1:69-75 

“Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”  (Luk 12:21)

Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh ini hanya terdapat dalam Injil Lukas.  Sah-sah saja apabila ada orang yang bertanya: “Siapakah orang yang tidak ingin kaya?”  Tetapi kaya yang bagaimana? Dengan demikian, tidak mengherankanlah apabila “bertumbuh menjadi (semakin) kaya untuk diri sendiri sebagai lawan dari bertumbuh menjadi (semakin) kaya di hadapan Allah” merupakan tema yang berada di jantung dari semua spiritualitas Kristiani.

Orang kaya dalam bacaan Injil hari ini adalah seorang yang bodoh. Mengapa dikatakan bodoh? Karena dia mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, padahal seharusnya dia kaya di hadapan Allah (Luk 12:21). Perumpamaan ini menggarisbawahi kebutuhan akan perspektif yang tepat. Yesus tidak mencela kekayaan di sini. Yesus berbicara mengenai distraksi yang terjadi pada area-area lain dalam kehidupan kita sebagai akibat dari suatu hasrat tanpa kendali untuk menumpuk kekayaan.

Menjadi kaya di hadapan Allah janganlah diartikan bahwa kita harus menghabiskan uang kita – bahkan sampai menguras semua uang yang ada dalam rekening-rekening kita di bank. Menjadi kaya di hadapan Allah adalah perkembangan dari sumber daya batiniah dan kekuatan spiritual dalam diri kita yang memampukan kita menghargai kasih Allah bagi kita dan kehadiran-Nya yang penuh kasih-sayang seorang Bapa dalam kehidupan kita. Kekuatan batiniah itu menjadi batu karang yang kokoh yang di atasnya hidup kita dibangun. Atas dasar fondasi yang kokoh itulah kita menghayati kehidupan sosial maupun profesional kita.

Menimbun kekayaan untuk kepentingan sendiri – seperti disoroti dalam perumpamaan ini – adalah upaya untuk mengakumulasi harta-kekayaan tanpa dasar moral dan spiritual yang diperlukan sebagai dasar. Dengan demikian kita menjadi budak dari harta-kekayaan kita. Katakanlah bahwa kekayaan duniawi menjadi berhala yang kita sembah. Seandainya semua itu hilang-lenyap, maka kita pun tidak memiliki apa-apa lagi untuk menggantungkan diri. Ada orang yang mengatakan bahwa kekayaan duniawi pada hakekatnya adalah sejenis kebangkrutan spiritual.

Allah, Bapa kita kaya dalam rahmat-Nya (Ef 2:4). Ia juga memiliki kekayaan anugerah besar sekali yang tak terbayangkan oleh kita (Ef 2:7; 3:8). Santo Paulus menulis: “Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus” (Ef 1:18). Salahkah kita jika mengatakan bahwa sebagai anak-anak Allah kita adalah yang paling kaya di dunia, tetapi tidak perlu kaya dalam pengertian duniawi?

Kita bertumbuh-kembang semakin kaya di hadapan Allah dengan mewarisi sepenuh mungkin kekayaan kemuliaan-Nya. Kita benar-benar akan kaya dengan menghayati janji-janji Baptis kita sesetia mungkin sebagai anak-anak Allah. Kita akan memegang teguh sabda Yesus: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berilah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di surga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusak ngengat” (Luk 12:32-33; bdk. Mat 19:21). Kita juga harus “berbuat baik, menjadi kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi dan dengan demikian, mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya” (1Tim 6:18-19).

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (1Kor 8:9). Allah memang menghendaki agar anak-anak-Nya benar-benar kaya dengan kekayaan-Nya dan menurut ukuran Allah. Bersama Santo Paulus marilah kita berkata: “… segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp 3:8). Marilah kita (anda dan saya) menjadi semakin kaya di hadapan Allah.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik. Kuduslah nama-Mu, ya Khalik langit dan bumi. Terangilah mata hatiku supaya mengenali betapa kayanya kemuliaan warisan-Mu kepadaku sebagai anak-Mu (Ef 1:18). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “HAI ENGKAU YANG BODOH(bacaan tanggal 21-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

[Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan “kaya di hadapan Allah” (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam “Sabda Bahagia” terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan “kaya di hadapan Allah” di atas.]

 

Cilandak, 18 Oktober 2019 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PERUMPAMAAN TENTANG HAKIM YANG TAK BENAR

PERUMPAMAAN TENTANG HAKIM YANG TAK BENAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIX [TAHUN C] – 20 Oktober 2019)

HARI MINGGU MISI

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8) 

Bacaan Pertama: Kel 17:8-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 121:1-8; Bacaan Kedua: 2Tim 3:14-4:2 

Kita melihat begitu banyak terjadi ketidak-adilan dan keserakahan pada banyak tempat di dunia ini, termasuk di negeri kita tercinta ini. ‘Wong Cilik’ diperlakukan dengan semena-mena tanpa mempedulikan sedikit pun hak-hak azasi mereka.  Bahkan dalam hidup kita sendiri pun, tentunya kita juga mengalami di sana-sini ‘ketidak-adilan’ itu. Kita merasa tak berdaya dan tidak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi. Dalam situasi-situasi seperti ini hati kita berseru: “Akankah Allah menurunkan keadilan atas mereka yang tak bersalah?”

Yesus menjamin bahwa seruan kita tidaklah percuma. Dalam perumpamaan Yesus ini, sang janda merupakan personifikasi dari orang yang paling rentan dalam masyarakat, yang paling mudah dilecehkan oleh orang lain. Dalam ketidak-berdayaannya dia mohon kepada Pak Hakim untuk membela hak-haknya. Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk menolongnya, tidak mempunyai kedudukan sosial sebagai orang terpandang, tidak pula mempunyai uang dan kuasa. Sekarang, secara lengkap dia tergantung pada good-will Pak Hakim. Tetapi Pak Hakim ini bukanlah seorang yang memikirkan masalah keadilan, dia tidak takut kepada Allah dan tidak juga menaruh respek kepada orang-orang lain. Oleh karena itu kelihatannya permohonan sang janda itu akan sia-sia belaka. Namun demikian, permohonan sang janda yang tabah-ulet ini akhirnya meluluhkan hati Pak Hakim karena dia sudah merasa begitu terganggu oleh permohonan-permohonan sang janda yang datang secara bertubi-tubi.

Dari perumpamaan ini Yesus menarik tiga buah kesimpulan yang harus diterapkan dalam hidup kita. Pertama, kalau Pak Hakim yang tidak jujur itu mau mendengarkan permohonan sang janda, maka lebih-lebih lagi Allah yang menurunkan keadilan kepada mereka yang dikasihi-Nya manakala mereka berseru kepada-Nya secara terus-menerus. Allah adalah “seorang” Bapa penuh-kasih yang membela orang-orang yang tak bersalah. Allah mendengarkan dan menjawab seruan-seruan kita. Kedua, Allah tidak akan menunda lama-lama. Dengan “cepat” Ia akan menjawab doa-doa umat beriman. “Cepat” bukan berarti doa kita “langsung” dijawab-Nya, karena mungkin saja Dia masih menunda. Namun demikian mengapa Allah tidak langsung menjawab permohonan kita? Pertanyaan ini membawa kita kepada butir berikutnya. Ketiga, Yesus mengakhiri perumpamaan-Nya dengan sebuah pertanyaan: “… jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:8). Pada waktu Yesus datang untuk menghakimi dunia, apakah masih ada orang yang berdoa untuk kedatangan-Nya dan percaya bahwa hal itu akan terjadi? Pertanyaan sebenarnya bukanlah apakah Allah akan membawa keadilan pada akhir zaman, melainkan apakah kita dengan penuh kepercayaan masih berpengharapan bahwa hal itu akan dilakukan-Nya? Allah menunda jawaban-Nya supaya memberikan kepada kita suatu kesempatan untuk memanifestasikan iman kita kepada-Nya. Iman yang ingin dilihat Allah dari kita adalah iman seperti iman sang janda dalam perumpamaan di atas. Kalau kita memiliki iman seperti itu, maka doa-doa kita pun tidak penuh diisi dengan berbagai permohonan dari seorang peminta-segala, akan tetapi diisi dengan harapan penuh sukacita. Marilah kita mengikuti contoh sang janda yang tekun ini sementara kita menempatkan segala kebutuhan kita di hadapan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar menjadi lebih yakin lagi akan kebaikan-Mu dan berilah aku kesabaran yang diperlukan untuk mampu melihat perkembangan segala sesuatu seturut kehendak-Mu. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, keberanian untuk bertekun dalam doa-doaku, walaupun selagi Engkau memberikan damai-sejahtera kepadaku karena mengetahui bahwa Engkau akan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK BERDOA DENGAN IMAN DAN PENUH KEYAKINAN” (bacaan tanggal 20-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Oktober 2019 [Peringatan Wajib S. Ignatiu dr Antiokhia, Uskup Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERGILAH, DAN PERBUATLAH DEMIKIAN!

PERGILAH, DAN PERBUATLAH DEMIKIAN!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib SP Maria, Ratu Rosario – Senin, 7 Oktober 2019)

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37) 

Bacaan Pertama: Yun 1:1-17;2-10; Mazmur Tanggapan: Yun 2:2-5,8

Bayangkanlah sekarang seseorang dengan siapa anda paling sulit berelasi sebagai pribadi: misalnya seorang atasan yang tidak pernah puas kalau dia masih belum membebani anda dengan pekerjaan yang bertumpuk, seorang anggota keluarga yang selalu mau benar sendiri, seorang tetangga yang selalu mau cari ribut dengan anda. Kalau kita jujur, maka kita harus mengakui bahwa kita suka menempatkan pagar-pagar pembatas atas siapa saja yang kita kasihi. Dalam artian tertentu kita memperkenankan diri kita menimbang-nimbang siapa yang merupakan bagian “kelompok kita” dan siapa yang “orang luar”, dalam menentukan siapa saja yang akan kita kasihi. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus juga tidak berbeda! Bagi mereka, “sesama” berarti sama-sama orang Israel. Kenyataan ini membuat pernyataan Yesus yang ada dalam Injil Yohanes menjadi lebih mengejutkan bagi para pendengar pada zaman-Nya: “… Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32). Ini adalah sikap non-eksklusivitas Yesus yang dibuktikan-Nya ketika Dia memanggil para murid-Nya yang pertama: ada nelayan, ada pemungut cukai dst. Di mata Yesus semua orang adalah sesama-Nya.

Mengasihi sesama berarti menghancurkan segala pagar pembatas, segala pengkotak-kotakan. Yesus tidak mengenal pribumi atau non-pribumi, orang kaya atau miskin, awam atau kaum berjubah dst. Hal ini berarti Yesus melihat atau memandang hal-hal dari sudut pandang orang lain itu, lalu menanggapinya tanpa menimbang-nimbang apa yang kelihatan secara eksternal, misalnya penampilan dll. “Perumpamaan tentang Orang Samaria yang murah hati” ini menunjukkan kasih yang keluar dari hati Yesus. Orang Samaria itu menghentikan perjalanannya agar dapat menolong seorang pribadi manusia yang baru saja menjadi korban perampokan. Kondisinya sudah habis-habisan karena dianiaya oleh para perampok dan dia sungguh membutuhkan pertolongan orang lain. Tentu dia sudah tidak dapat menolong dirinya sendiri karena memang sudah setengah mati (Luk 10:30). Hati orang Samaria itu pun tergerak oleh belaskasihan! Dia tidak mengelak atau menghindarkan diri (tokh yang tergeletak itu adalah seorang Yahudi yang membenci kaumnya?), melainkan datang menolong!

Ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus itu tahu benar, bahwa Hukum Taurat dapat diringkas menjadi “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Luk 10:27; lihat Im 19:18, Ul 6:5). Yesus menantang si ahli Taurat itu: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (Luk 10:28).

Tantangan Yesus itu juga ditujukan kepada kita pada hari ini! Akan tetapi, daripada kita mencoba membenarkan diri seperti si ahli Taurat, baiklah kita masing-masing dengan tulus bertanya kepada Yesus, “Bagaimana, ya Tuhan Yesus? Bagaimana kiranya aku dapat memenuhi niat Allah, agar aku dapat mengasihi semua orang, orang-orang yang paling “tidak pas” dengan diriku dan bahkan musuh-musuhku sekali pun? Inilah tanggapan yang dinanti-nantikan Yesus. Jawaban Yesus dari pertanyaan kita  kiranya begini: “Engkau sendiri tidak dapat, namun Roh Allah yang ada dalam dirimu dapat!”

Allah menyelamatkan kita melalui Yesus dan terus-menerus memberikan kepada kita kehidupan, melalui Yesus juga. Allah-lah yang akan melakukan pekerjaan yang kelihatan tak mungkin itu, bukan kita. Pekerjaan itu tergantung kepada Yang Ilahi, bukan tergantung kepada kita. Betapa seringnya kita bersikap dan berperilaku seperti si ahli Taurat, imam dan orang Lewi, yaitu mencoba untuk mereduksi  atau membuat lebih ringan perintah Allah, supaya kita dapat mengasihi sesuatu yang lebih sedikit daripada yang dituntut. Kita tidak mau merasa tidak nyaman, kita tidak mau mengambil langkah melampaui batasan kemampuan alami kita. Dengan demikian mengesampingkan kasih yang harus kita tunjukkan seturut perintah Allah.  Yesus menuntut kita semua untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar yang dapat kita capai dengan kekuatan kita sendiri. Hanya dalam Kristus sajalah kita dapat sungguh mengasihi sesama kita, atau dengan sepenuh hati mengasihi Allah.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Hanya dalam Engkau-lah kami dapat mengasihi sesama kami.  Tinggallah dalam diri kami, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:25-37), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN YESUS TENTANG ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI” tanggal 7-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA). 

Cilandak, 4 Oktober 2019 [Hari Raya S. Fransiskus dr Assisi, Pendiri Tarekat] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA HANYALAH HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

KITA HANYALAH HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII [Tahun C] – 6 OKTOBER 2019)

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak tanah atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata; Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”  (Luk 17:5-10) 

Bacaan Pertama: Hab: 1:2-3; 2;2-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2, 6-9; Bacaan Kedua: 2Tim 1:6-8, 13-14

Sebagai siapakah kita (anda dan saya) mau menempatkan diri dalam perumpamaan ini? Sebagai sang tuan atau hamba? Kecenderungan manusiawi yang ada pada diri kita akan mengatakan: “Sebagai Tuan”. Lagipula ide menjadi seorang hamba sungguh tidak membuat nyaman. Kita begitu biasa memegang kendali/kontrol – besar atau kecil – atas hidup kita sendiri, dan juga kita sangat enggan untuk setiap saat harus siap melayani orang lain. Misalnya, memang dalam kampanye pemilu dan lain sebagainya, ide pemimpin sebagai pelayan rakyat relatif sering digembar-gemborkan, namun biasanya dilupakan begitu sang kandidat berhasil dipilih.  Sifat masyarakat kita juga membuat kata-kata Yesus ini terdengar sangat radikal.

Di sisi lain penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah merupakan salah satu ciri pribadi yang kita kagumi dari orang-orang kudus. Maria, Yosef, para martir Kristus di abad-abad pertama sejarah Gereja, para misionaris masa lampau dan lain sebagainya adalah contoh-contoh dari orang-orang yang melakukan tindakan penyerahan-diri secara total kepada kehendak Allah. Mereka semua melepaskan hak-hak mereka atas kehidupan mereka sendiri, dan hanya melakukan apa yang dikehendaki Allah supaya mereka lakukan. Mereka menjadi hamba-hamba yang memberikan hidup mereka kepada Allah dalam berbagai cara. Dengan menjadi milik Yesus Kristus, mereka tidak hanya menemukan sukacita, melainkan juga energi, kasih yang sejati dan ketekunan-tahan-banting seperti ditunjukkan dalam kehidupan mereka.

Abad ke-20 mengenal Santa Bunda Teresa dari Kalkuta yang menunjukkan ciri pribadi seperti yang baru disebutkan. Hidup kemiskinan yang dihayati Bunda Teresa dan para pengikutnya mencakup juga kemiskinan-ketaatan (poverty of obedience), artinya menolak pilihan-pilihan pribadi, semua demi pelayanan total kepada Allah. Bunda Teresa menulis:

“Kalau sesuatu adalah milikku, maka aku memiliki kuasa penuh untuk menggunakannya sesuai dengan keinginanku. Aku milik Yesus; maka Dia dapat melakukan apa saja atas dirinku sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Karya kami bukanlah panggilan kami. Aku dapat melakukan karya ini tanpa perlu menjadi seorang biarawati. Profesi kami menyatakan bahwa kami adalah milik-Nya. Oleh karena itu aku siap untuk melakukan apa saja: mencuci, menggosok lantai, membersihkan. Aku seperti seorang ibu yang melahirkan seorang anak. Anak itu miliknya. Semua cuciannya, tetap berjaga di waktu malam, dll. membuktikan bahwa anak itu adalah miliknya. Dia tidak akan melakukan hal-hal ini untuk anak lain, namun dia akan melakukan apa saja untuk anaknya sendiri. Apabila aku adalah milik Yesus, maka aku akan melakukan apa saja bagi Yesus” (Total Surrender, hal. 123).

Seperti Bunda Teresa dari Kalkuta, kita semua adalah milik Allah, dengan demikian kita berhutang kepada-Nya untuk keberadaan kita. Tidak ada pekerjaan baik dari pihak kita yang dapat menghapus hutang kepada Allah. Namun demikian kita harus yakin bahwa kalau tahun-tahun pelayanan kita yang dilakukan dengan rendah-hati berakhir, maka kita akan memperoleh ganjaran melalui kerahiman-Nya. Ingatlah apa yang dikatakan Yesus: “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang” (Luk 12:37). Maka marilah kita bergabung dengan para kudus yang menemukan sukacita dalam melayani Tuan mereka, Yesus Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah seorang hamba yang taat kepada Bapa-Mu melalui kasih yang sempurna. Tolonglah aku untuk mengenal dan mengalami kasih-Mu dalam doa-doa dan tindakan-tindakanku. Tuhan Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu, agar melalui aku orang-orang lain dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:5-10), bacalah tulisan yang berjudul “PERMOHONAN PARA RASUL KEPADA YESUS UNTUK MENAMBAHKAN IMAN MEREKA” (bacaan tanggal 6-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Oktober 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [Tahun C] – 25 September 2016)

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyjukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar maereka jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepada-Nya Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31) 

Bacaan Pertama: Am 6:1a,4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10; Bacaan Kedua 1Tim 6:11-16  

Yesus rindu untuk membebas-merdekakan hati kita dari perbudakan dosa dan memulihkan persatuan kita dengan Bapa surgawi. Dalam “Perumpamaan tentang Orang kaya dan Lazarus yang miskin” yang ditulis hanya oleh Lukas ini, Yesus tidak saja mengilustrasikan kasih Allah bagi orang miskin, melainkan juga Dia mengungkapkan hasrat Bapa surgawi untuk membebaskan kita dari tipu muslihat dan perbudakan dosa.

Dosa orang kaya itu tidak hanya cintanya akan uang, melainkan juga cinta-diri. Dari kedalaman alam maut, si kaya masih saja dikuasai oleh dorongan hatinya untuk memuaskan kebutuhan diri sendiri: “Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini” (Luk 16:24). Dia tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda bahwa dirinya menyesali dosa ketamakannya; dia masih menginginkan agar orang-orang lain melayani dirinya.

Di sisi lain, si kaya mencari suatu kesempatan untuk melayani saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia, dengan meminta agar Lazarus memperingatkan mereka tentang “tempat penderitaan” di mana dia sekarang berada (lihat Luk 16:28). Apakah hal ini mencerminkan suatu perubahan hati? Tidak sampai begitu! Hal ini hanya menunjukkan bahwa selama hidupnya di dunia, si kaya sadar akan kehendak Allah, namun telah memilih untuk mengabaikannya. Sadar bahwa saudara-saudaranya juga mengabaikan sabda Allah, dia menginginkan terjadinya suatu peristiwa yang bersifat supernatural agar dapat menggoncangkan hati mereka sehingga akhirnya menjadi percaya. Jawaban Abraham mematahkan harapan hampanya itu: “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Mat 16:31).

Perumpamaan sederhana Yesus ini menunjukkan wawasan sesungguhnya betapa hati manusia dapat mendua atau “salah arah”. Dalam “perjuangan” kita untuk mencapai “kebahagiaan”, kita bekerja dan berjuang; kita akan melakukan hampir segalanya untuk meraih kekayaan, popularitas, atau sukses. Akan tetapi, ketika menyangkut pelaksanaan hal-hal yang berurusan dengan Allah kita dapat berpikir bahwa hampir tidak mungkinlah untuk mentaati-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, biarkanlah Roh-Mu menyelidiki hati kami dan mencabut segala kecintaan kami akan segala hal yang bertentangan dengan kehendak-Mu. Tolonglah kami agar dapat berbuah dan hidup dalam Engkau dan menempatkan hal-hal Kerajaan-Mu di atas segala hal yang lain. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN” (bacaan tanggal 29-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggaal 25-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 September 2019 [Peringatan Fakultatif S. Elziar & Delfina, OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMU TIDAK DAPAT MENGABDI KEPADA ALLAH DAN KEPADA MAMON

KAMU TIDAK DAPAT MENGABDI KEPADA ALLAH DAN KEPADA MAMON

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI MINGGU BIASA XXV [TAHUN C], 22 September 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 16:1-13

Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang. Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Luk 16:1-13) 

Bacaan Pertama: Am 8:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-2,4-8; Bacaan Kedua: 1Tim 2:1-8;  Bacaan Injil (versi singkat): Luk 16:10-13

Yesus mengajarkan bahwa mereka yang tidak menjadi hamba dari sumber daya yang mereka miliki adalah orang-orang yang mengetahui bagaimana menggunakan berbagai sumber daya tersebut dengan bijak. Mereka dapat hidup dengan berkelimpahan atau berkekurangan seturut “sikon” yang mereka hadapi. Namun kemampuan untuk berhenti dari ketergantungan akan hal-hal yang bersifat materiil dan berpaling kepada Allah untuk kebutuhan-kebutuhan kita tidaklah datang secara otomatis. Sifat dari kejatuhan kita ke dalam dosa adalah sedemikian rupa sehingga kita merasa sulit untuk mempercayai keberadaan penyelenggaraan ilahi. Sebaliknya, kita  menggantungkan diri pada dunia ini dan menaruh kenikmatan kita di atas kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain.

Satu-satunya jalan keluar dari spiral kejatuhan ini adalah dengan menyerahkan hidup kita kepada Yesus – memutuskan bahwa kita tidak lagi memerintah atas diri kita sendiri, melainkan menempatkan diri kita di bawah otoritas-Nya. Selagi kita memberi kesempatan kepada Yesus untuk menyatakan diri-Nya kepada kita, hati kita pun akan dibakar dengan cintakasih kepada-Nya. Kita akan melihat kemahaunggulan-Nya dan menaruh kepercayaan bahwa Dia akan selalu memperhatikan segala kebutuhan kita.

Melayani Allah bukanlah terutama sebuah isu tentang melakukan segala hal yang diperintahkan-Nya.  Mengasihi Allah adalah sebuah isu yang riil. Ini adalah suatu masalah bagaimana membiarkan diri-Nya menangkap afeksi-afeksi kita. Fondasi lainnya dari kehidupan Kristiani kita (selain mengasihi-Nya) adalah lemah dan pada akhirnya akan hancur berantakan. Bilamana kita melihat kasih-Nya bagi kita, maka secara alami kita pun merasa ditarik untuk ingin mentaati-Nya dan melayani-Nya. Dunia pun tidak lagi menarik kita sebagaimana halnya dahulu.

Bagaimana kita dapat memusatkan pandangan kita kepada Allah? Jenis perubahan ini biasanya tidak terjadi dengan mendadak. Sebaliknya, kita dapat mengambil langkah-langkah kecil setiap hari. Kita dapat menyediakan waktu untuk berdoa setiap pagi, mohon kepada Yesus untuk memenuhi diri kita dengan kasih-Nya. Setiap malam hari, sebelum kita pergi tidur, kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri siapa saja yang kita layani pada hari ini dan menyesali serta bertobat apabila kita melihat dosa dan kelemahan. Kita dapat mengunjungi kamar pengakuan secara teratur untuk menerima sakramen rekonsiliasi dan juga menghadiri perayaan Ekaristi guna menerima Tubuh-Nya dalam Komuni Kudus. Dengan demikian kita menerima kekuatan dan rahmat yang dicurahkan oleh-Nya. Allah ingin menunjukkan kepada kita di mana prioritas kita sesungguhnya. Marilah kita pada hari ini menyediakan waktu sejenak untuk memohon kepada Tuhan agar menunjukkan kepada kita siapa sebenarnya yang kita layani: Allah? Diri kita sendiri? Benda-benda materiil?

DOA: Bapa surgawi, apa yang kumiliki adalah segala sesuatu yang telah Engkau berikan kepadaku – kebebasanku, keluargaku, rumahku, seluruh keberadaanku. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengembalikan semua itu kepada-Mu. Aku hanyalah memohon kasih dan rahmat-Mu. Dengan kasih dan rahmat-Mu itu, aku akan cukup kaya dan tidak membutuhkan apa-apa lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari (Luk 16:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “LEBIH BAIKKAH DIRIKU KETIMBANG ORANG-ORANG FARISI? (bacaan tanggal 22-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 September 2019 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DOMBA YANG HILANG DAN DIRHAM YANG HILANG

DOMBA YANG HILANG DAN DIRHAM YANG HILANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV [TAHUN C] – 15 September 2019)

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10) 

Bacaan Pertama: Kel 32:7-11,13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,17,19; Bacaan Kedua: 1Tim 1:12-17; Bacaan Injil (Versi Panjang): Luk 15:1-32 

Dalam kesempatan ini saya hanya menguraikan versi pendek dari Bacaan Injil pada hari Minggu ini.

Seorang ayah baru saja pulang ke rumahnya di sebuah desa yang terpencil. Pada saat dia pulang, rumah itu sedang terbakar dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil terjebak di dalam rumah. Para tetangga yang tidak banyak jumlahnya itu, mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk menyelamatkan anak-anaknya. Namun demikian sang bapak keluarga ini – tanpa ragu-ragu – langsung masuk ke dalam kobaran api dan mencari anak-anaknya dari ruangan yang satu ke ruangan yang lain. Satu persatu berhasil diselamatkan olehnya.

Mengapa seseorang melakukan tindakan yang terasa begitu mengabaikan kehati-hatian, tanpa hitung-hitung, malah sembrono, seperti ditunjukkan oleh sang ayah dari tiga orang anak itu? Jawabnya cukup sederhana: Karena cinta! Cintakasih mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. Cintakasih melindungi; cintakasih bertekun! Cintakasih berarti menanggung risiko ditolak, bahkan cidera pribadi juga, demi kebaikan orang-orang yang kita cintai. Dalam dua perumpamaan di atas, Yesus menunjukkan bagaimana Bapa surgawi berupaya secara luarbiasa untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Allah sampai mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dunia (lihat Yoh 3:16-17) bahkan sampai menemui ajal di kayu salib. Semua ini agar manusia kembali ke rumah-Nya

stdas0736Bagaimana kalau salah seorang anak yang kita cintai mulai menyeleweng dari iman Kristiani? Dalam hal ini, bayangkanlah dia sebagai seekor domba yang hilang atau sebuah dirham yang hilang. Bapa surgawi tahu bahwa anak itu “hilang”. Maka Dia pun langsung mencari anak yang hilang itu, tanpa hitung-hitung. Seperti sang ayah yang menerobos sebuah rumah yang sedang terbakar hebat, Allah pun tidak akan berhenti untuk mencari pribadi-pribadi yang kita cintai dan membawa mereka ke tempat yang aman. Sementara itu yang dapat kita lakukan adalah berdoa, berdoa dan berdoa. Sedapat mungkin, jadilah Yesus bagi dia. Bersahabatlah dengan dia, menjadi “telinga yang mendengarkan” baginya, dan berilah dorongan-dorongan positif kepadanya, kasihilah mereka tanpa reserve. Bayangkanlah dia ditemukan oleh Bapa surgawi. Bayangkan juga pesta penuh sukacita yang diadakan di surgawi kalau mereka kembali kepada hidup iman semula.

Santa Monika berdoa untuk anaknya, Augustinus, bertahun-tahun lamanya. Saya pun dapat merasakan bagaimana ibuku untuk bertahun-tahun lamanya tanpa banyak omong berdoa rosario (dan doa-doa lain) bagi diri dan keluarga saya ketika saya  cukup lama tidak ke gereja dan agama (Ilah) saya adalah kerja dan karir belaka. Santa Monika dan ibuku tidak pernah kehilangan harapan. Mereka terus berdoa untuk anak-anak mereka masing-masing sampai Yesus membawa mereka pulang.

DOA: Tuhan Yesus, pada hari ini aku membawa ke hadapan-Mu orang-orang ini yang telah “hilang”. [Sebutkanlah nama-nama orang yang kita kasihi secara spesifik]. Tuhan, meskipun aku tidak dapat melihat bagaimana Engkau akan berkarya dalam kehidupan orang-orang ini, aku tetap percaya bahwa Engkau mendengarkan doa-doaku dan akan menjawab doa-doa itu. Aku membayangkan orang-orang yang kukasihi ini duduk dalam meja perjamuan-Mu di surga, dan aku berjanji untuk mengasihi dan menjaga mereka sampai mereka kembali pulang kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami melengkapi Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan berjudul “KITA SEMUA MEMANG MILIK-NYA” (Luk 15:11-32; bacaan tanggal 15-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com;  kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS