Posts tagged ‘HARI BIASA PEKAN II ADVEN’

BENTARA SANG MESIAS SUDAH DATANG

BENTARA SANG MESIAS SUDAH DATANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Yohanes dr Salib, Imam Pujangga Gereja – Sabtu, 14 Desember 2019)

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13) 

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19 

Bertahun-tahun lamanya sebelum kelahiran Yesus Kristus, nabi Maleakhi mempermaklumkan bahwa nabi Elia akan datang kembali ke dunia sebelum kedatangan hari YHWH: “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN (YHWH) yang besar dan dahsyat itu” (Mal 4:5). Sekitar 400 (empat ratus) tahun kemudian, Simon Petrus memproklamasikan bahwa “Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Dalam Yesus, “hari TUHAN” sudah dekat. Namun tidak kembali-kembalinya Elia membingungkan para murid. Bukankah Elia harus datang dulu sebelum kedatangan sang Mesias?

Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya bahwa Elia telah datang dan menderita di tangan orang-orang yang tidak percaya (Mat 17:12). Dari kata-kata Yesus, para murid memahami bahwa yang dimaksudkan oleh-Nya adalah Yohanes Pembaptis, bentara Tuhan yang dipenggal kepalanya atas perintah Herodus Antipas (lihat Mat 14:1-12).

Baik Yohanes Pembaptis maupun Elia dipandang sebagai pribadi-pribadi yang “radikal”. Dua-duanya tinggal di padang gurun; menghayati suatu kehidupan yang ekstrim dan keras; tidak memiliki apa-apa, jauh dari hiruk-pikuknya kehidupan kota (lihat Mat 3:4; 1Raj 17:1-7). Dua-duanya adalah nabi-nabi yang berapi-api, yang menolak dengan tegas ketidakadilan dan dosa yang ada dalam kehidupan mereka yang berkuasa. Yohanes Pembaptis melihat dosa Herodes Antipas karena mengambil istri saudaranya sebagai “isteri”, dan Yohanes Pembaptis kemudian mengkonfrontir sang raja (Mat 14:3-5). Di sisi lain Elia mengenali tipu-muslihat para nabi Baal dan sendirian ia menantang para nabi Baal itu dalam sebuah “duel mati-hidup ilahi” (1Raj 18:17-39). Ia juga mengkonfrontir raja Ahab dan istrinya yang bernama Izebel karena pembunuhan atas diri Nabot agar supaya mendapatkan kebun anggurnya (1Raj 21:17-29).

Yohanes Pembaptis dan Elia adalah pribadi-pribadi yang heroik, yang menempatkan diri mereka dalam risiko (Yohanes Pembaptis sampai kehilangan nyawanya) dengan secara setia memproklamirkan sabda Allah. Di atas segalanya, taat kepada Allah adalah hal yang terpenting bagi mereka.

Pada hari ini memang kita tidak makan belalang dan madu, hidup menyendiri di padang gurun, atau sendirian berdiri melawan para penguasa jahat seperti yang dilakukan oleh Elia dan Yohanes Pembaptis. Namun demikian, kita semua dipanggil untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati kita, seperti kedua nabi itu. Dalam kehidupan kita yang lebih “biasa-biasa/normal”, kita dapat mohon kepada Allah agar memberikan kepada kita suatu visi yang lebih besar tentang apa artinya melayani Tuhan dalam situasi kita sehari-hari. Seringkali kita membatasi diri kita karena pandangan yang keliru seperti berikut ini. Kita berpikir, karena kita tidak dapat sehebat atau sebesar para kudus di masa lampau, maka tidak banyaklah yang dapat kita persembahkan. Akan tetapi, apabila kita membuka diri bagi kehendak Bapa, maka Dia dapat bekerja melalui kita sehebat yang telah dilakukan-Nya melalui Elia dan Yohanes Pembaptis.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku menyerahkan pikiranku, kata-kataku, dan perbuatan-perbuatanku kepada-Mu. Aku mengakui bahwa tanpa Engkau aku tidak dapat melakukan sesuatu pun, namun dengan Engkau aku dapat melakukan apa saja yang baik. Biarlah kuasa-Mu mengalir melalui diriku sehingga Engkau dimuliakan pada hari ini dan selamanya. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 17:10-13),  bacalah  tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS DAN YOHANES PEMBAPTIS, BENTARA-NYA” (bacaan tanggal 14-12-19) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

 Cilandak, 11 Desember 2019 [Peringatan Fakultatif S. Damasus I, Paus]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEREKA MENOLAK YOHANES PEMBAPTIS DAN JUGA YESUS

MEREKA MENOLAK YOHANES PEMBAPTIS DAN JUGA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan Wajib S. Lusia, Perawan Martir – Jumat, 13 Desember 2019)

Image result for IMAGES OF MATTHEW 11:16-19"

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19) 

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6

Kita hampir dapat membayangkan suara yang keluar dari mulut Yesus ketika mengucapkan kata-kata di atas, teristimewa dengan mengingat orang banyak yang menolak untuk menerima kebenaran, tidak peduli siapa yang mengumumkan kebenaran itu. Orang-orang yang tidak percaya adalah seperti anak-anak yang keras kepala, menolak apa saja yang ditawarkan kepada mereka …… serba salah!

Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus datang ke tengah orang-orang Yahudi untuk mengumumkan apa yang mereka (sebagai umat) selama berabad-abad telah merindukannya, yaitu kedatangan sang Mesias, Putera Daud, Raja Israel! Seperti anak-anak yang disebutkan di atas, ada saja orang-orang Yahudi yang menghina Yohanes Pembaptis dan pesannya dan menuduhnya sebagai seorang yang kerasukan setan. Ketika Yesus datang – seorang yang datang setelah Yohanes dan lebih besar daripada Yohanes (lihat Mat 3:11-12) – mereka menolaknya pula, mencapnya sebagai seorang visioner yang risau, yang bersahabat dengan para pendosa.

Begitu sering kita mendengar orang-orang menolak pesan Kristus/Kristiani dengan berbagai alasan yang tidak rasional, misalnya: “Aku mengenal terlalu banyak anggota gereja yang munafik, yang duduk di bangku bagian depan setiap hari Minggu!” Atau komentar seperti ini: “Gereja ada di dalam hatiku; aku tidak membutuhkan siapa pun untuk mengajarku tentang apa yang harus kulakukan!” Lagi: “Jika Allah adalah kasih, maka Dia tidak akan menghukum orang yang melakukan yang terbaik yang dapat dilakukannya!”  Kita telah mendengar rasionalisasi-rasionalisasi atau pembenaran-pembenaran yang diungkapkan oleh orang-orang itu. Kalau mau jujur, sekali-sekali kita pun – dalam perjalanan hidup kita – suka juga melakukan hal yang sama dalam situasi-situasi di mana tidak nyamanlah bagi kita untuk bersikap jujur dan benar terhadap pesan Injil Yesus Kristus.

Matius mencatat bahwa sejarah akan menjadi hakim atas siapa yang benar dan siapa yang salah: “Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya” (Mat 11:19). Kata-kata sang pemazmur itu benar pada hari ini seperti juga benar pada zaman Yesus mewartakan Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan ketika masih hidup di atas muka bumi: “Orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman …” (Mzm 1:5).

Allah adalah Allah yang Mahasetia; Dia tidak akan membuang orang-orang yang tetap setia kepada-Nya. Dalam Yesus, kita mempunyai seorang Pengantara yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa, yang tak henti-hentinya melakukan doa syafaat bagi mereka yang menyerukan nama-Nya. Kita harus memperkenankan rahmat dan kasih Allah dicurahkan atas diri kita untuk bekerja dalam hidup kita, jikalau kita mau mengalami sukacita dan memperoleh pemenuhan janji menyangkut keanggotaan kita dalam keluarga Allah.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau sungguh indah! Aku ingin lebih mengenal Engkau lagi. Aku ingin memberikan kepada-Mu seluruh hidupku. Aku ingin agar Engkau menolongku untuk berjalan bersama-Mu dan menjaga aku untuk senantiasa kembali kepada-Mu, bila karena sesuatu sebab aku menjadi tersesat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 11:16-19), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MEMPERKENANKAN YESUS MENJADI PEMBIMBING ATAU PENUNJUK JALAN KITA” (bacaan tanggal 13-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN UMAT-NYA

ALLAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN UMAT-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Kamis, 12 Desember 2019)

Peringatan Fakultatif SP Maria Guadalupe

MC: Hari Raya SP Maria yang Tetap Perawan, Bunda Allah Pencipta Surga dan Bumi Guadalupe

Sebab Aku ini, TUHAN (YHWH), Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: “Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.” Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman YHWH, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel. Sesungguhnya, aku membuat engkau menjadi papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar; engkau akan mengirik gunung-gunung dan menghancurkannya, dan bukit-bukitpun akan kaubuat seperti sekam. Engkau akan menampi mereka, lalu angin akan menerbangkan mereka, dan badai akan menyerakkan mereka. Tetapi engkau ini akan bersorak-sorak di dalam YHWH dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel.

Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air,  tetapi tidak  ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, YHWH, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka. Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya, supaya semua orang melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan YHWH yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya. (Yes 41:13-20) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:9-13; Bacaan Injil: Mat 11:11-15

Orang-orang Israel tahu bahwa YHWH adalah Tuhan dari seluruh sejarah, namun Ia juga memperhatikan setiap hidup orang sebagai individu. Oleh karena itu tidak sulitlah bagi orang-orang Israel yang sedang berada dalam pembuangan di Babel untuk memahami kata-kata nubuatan yang diucapkan lewat mulut sang nabi untuk mencari tanda-tanda intervensi YHWH: “Aku tidak akan meninggalkan mereka. Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul. …… dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan  air dari tanah kering” (Yes 41:17-18). Melalui tanda-tanda pembaharuan ini, setiap orang “melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan YHWH yang membuat semuanya ini” (Yes 41:20). Dengan perkataan lain, tidak meragukan lagi bahwa Allah memang bekerja pada waktu para orang buangan ini kembali ke Yerusalem.

Bagaimana dengan zaman modern ini? Pada abad ke-21 ini pun Allah ingin diri-Nya dikenali. Di mana kita dapat mencari manifestasi dari pembaharuan yang dilakukan Allah? Marilah kita “memperhatikan dan memahami” tanda-tanda ini: Uskup Agung Oscar Romero [15/8/1917-24/3/80] dari San Salvador, El Salvador, ditembak mati ketika merayakan Misa Kudus. Mengapa? Karena dia berbicara lantang melawan ketidakadilan dan penindasan serta teror yang dilakukan oleh pihak penguasa. Dia dihormati, bahkan di luar Gereja Katolik juga. Gereja Anglikan, misalnya, menempatkan Mgr. Romero sebagai satu dari sepuluh orang martir abad ke-20 yang hari peringatannya ada dalam kalender di buku Common Worship, juga patungnya ada di Great West Door dari Westminster Abbey di London. Pada tahun 2008, Majalah A DIFFERENT VIEW  yang berdomisili di Eropa menempatkan Mgr. Oscar Romero sebagai salah seorang dari 15 Champions of World Democracy. Mgr. Oscar Romero dikanonisasikan sebagai seorang Santo dalam Gereja Katolik pada tanggal 14 Oktober 2018. 

Kiranya juga masih segar dalam ingatan kita semua kiprah Santa Bunda Teresa dari Kalkuta dalam menolong orang-orang yang miskin dan menderita di banyak tempat di dunia. Karya tarekat religius yang didirikan olehnya masih berlangsung terus sampai hari ini. Masih banyak lagi contoh yang dapat diberikan. Tanda-tanda seperti ini ada di mana-mana, yaitu tanda-tanda bahwa Allah masih bekerja!

Dalam hidup umat Allah sejak sekitar 2.000 tahun lampau, kita terus-menerus melihat kehadiran Tuhan Allah dalam urusan-urusan manusia. Seorang Farisi murid Guru Gamaliel di Yerusalem yang sedang giat mengejar dan menganiaya umat Kristiani perdana – Saulus – ditransformasikan oleh-Nya menjadi Paulus, seorang rasul dan pewarta Kabar Baik Yesus Kristus yang kiranya paling ulung.

Pada zaman yang berbeda, seorang anak muda suka pesta-pora yang berasal dari keluarga pedagang kaya ditransformasikan oleh-Nya menjadi seorang pengemis untuk Kerajaan Allah dan pendiri keluarga rohani terbesar dalam Gereja. Itulah Santo Fransiskus dari Assisi [c. 1181-1226]. Pada abad ke-16 muncullah Santo Ignatius dari Loyola [1491-1556] – seorang mantan perwira dari Basque, Spanyol – yang  mendirikan sebuah tarekat religus yang baru dalam sistem organisasi, karakter dan peraturan hidupnya; yang cocok untuk menghadapi situasi sebagai akibat reformasi Protestan pada waktu itu.

Riwayat hidup Santa Teresa dari Lisieux [1873-1897], Santo Maximilian Kolbe [1894-1941] dan sangat banyak lagi yang lain, merupakan testimoni-testimoni, bahwa Yesus Kristus telah datang untuk menyelamatkan kita. Mereka juga membentuk sumber air hidup yang merupakan testimoni tentang kemampuan Allah memuaskan rasa haus-dahaga banyak orang akan diri-Nya.

Dengan semakin dekatnya kita kepada Tuhan, kita pun dapat memberikan kesaksian bahwa Allah (Putera) sungguh telah menjadi menjadi manusia dan mengalahkan dosa serta maut. Kita juga janganlah sampai lupa menghadap-Nya dan mohon Dia untuk mentransformasikan kita. Marilah kita mohon kepada Yesus agar membuat diri kita menjadi saksi-saksi-Nya yang sungguh memiliki kuasa sehingga membuat banyak orang mencari Dia juga.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena mendatangkan banyak orang kudus di dunia justru ketika situasi-kondisi di dalam dunia membutuhkan orang-orang seperti mereka. Ajarlah kami untuk menyerahkan diri kami kepada-Mu secara lebih penuh lagi, sehingga kamipun dapat menjadi pemimpin-pemimpin dan contoh-contoh bagi anggota-anggota Gereja-Mu yang lain, sekarang dan di masa mendatang. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 11:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “KITA SEDANG BERADA DI TENGAH SEBUAH PERTEMPURAN” (bacaan tanggal 12-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMANFAATKAN MENIT-MENIT YANG MENYEGARKAN BERSAMA KRISTUS

MEMANFAATKAN MENIT-MENIT YANG MENYEGARKAN BERSAMA KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Rabu, 11 Desember 2019)

Peringatan Fakultatif S. Damasus I, Paus

Image result for PICTURES OF MATTHEW 11:28-30"

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Yes 40:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10 

Bacaan-bacaan hari ini terdengar seakan-akan sebuah panggilan untuk “Rehat Kopi” pada pertengahan masa Adven. Nabi Yesaya melihat bahwa TUHAN “memberikan kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yes 40:29). Yesaya juga mengatakan, bahwa “orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru” (Yes 40:31).  Yesus dalam bacaan Injil mengundang kita untuk datang kepada-Nya jika kita sedang letih lesu dan berbeban berat, dan Ia pun akan menyegarkan kita kembali (lihat Mat 11:28).

Apabila kita mengikuti sebuah seminar tentunya ada rehat kopi (kata-kata kerennya adalah coffee break). Saya masih ingat ketika bekerja di Citibank Manila di awal tahun 1970-an, setiap hari menjelang jam 10 pagi semua karyawan berhenti bekerja dan  mulai membeli makanan kecil dan secangkir kopi/teh dari penjaja yang berkeliling. Ini juga saat yang digunakan untuk mengobrol sejenak. Hal yang sama diulang lagi di siang hari sekitar jam 3 siang. Nama “acara” seperti itu adalah mirienda, mungkin sebuah warisan dari zaman penjajahan Spanyol. Rehat Kopi: tentu kita semua mengharapkannya, kita menghargainya, kita membutuhkannya. Kita berkembang atas istirahat dari kerja walaupun sejenak, penyegaran yang memulihkan diri kita dan membuat pekerjaan kita menjadi lebih baik. Apakah kita begitu sibuk bekerja sehingga tidak dapat berhenti sebentar untuk memperoleh penyegaran kembali dalam bidang rohani? Yesus kiranya bersabda, “Slow down sedikit dan dengarkanlah sebentar,” dan jiwa kita juga akan dapat beristirahat.

Kita memberi terlalu banyak tekanan hanya pada “melakukan pekerjaan-pekerjaan”,  menyibukkan diri dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain, dari promosi jabatan yang satu ke promosi jabatan yang lain. Atau, apabila kita suka bersedekah, maka kita disibukkan dalam hal masalah-masalah sosial saja. Hal ini memang dapat saja baik, namun tidak boleh menjadi kegiatan yang berlebihan …… tidak boleh sampai “overkill.”  Pekerjaan yang paling baik sekali pun, apabila tidak menyediakan waktu untuk penyegaran spiritual, untuk doa dan refleksi/renungan dalam keheningan, pada akhirnya akan menjadi steril.

Dedikasi membutuhkan suatu sense of direction. Karya karitatif yang paling baik, terbaik dalam tindakan Kristiani tidak dapat survive tanpa adanya “rehat kopi” rohani. Kita senantiasa membutuhkan pengarahan dari Yang Ilahi (Inggris: divine direction) di atas bumi ini. Begitu mudah kita kehilangan arah tanpa “pengarahan ilahi” termaksud. Begitu banyak peristiwa menyedihkan telah dialami oleh banyak pribadi karena mereka mengabaikan “pengarahan ilahi” yang diperlukan.

Sikap yang paling bijak adalah untuk berhenti dari kesibukan kerja secara teratur, untuk memanfaatkan menit-menit yang menyegarkan bersama Kristus, yang telah berjanji bahwa kita akan belajar dari diri-Nya dan hal tersebut akan membawa damai sejahtera kepada jiwa kita.

DOA:  Bapa surgawi, lewat nabi Yeremia Engkau telah bersabda: “Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan” (Yer 6:16). Kami akan mentaati petunjuk-Mu, ya Allah. Kami akan secara teratur mengikuti “pengarahan ilahi” dari-Mu untuk saat-saat penyegaran spiritual, untuk doa dan melakukan refleksi dalam keheningan. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu perkenankanlah kami dibentuk menjadi murid-murid Yesus yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “GANDAR YANG KUPASANG ITU MENYENANGKAN DAN BEBAN-KU PUN RINGAN” (bacaan tanggal 11-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GEMBALA BAIK BAGI KITA SEMUA ADALAH YESUS KRISTUS

GEMBALA BAIK BAGI KITA SEMUA ADALAH YESUS KRISTUS 

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Selasa, 10 Desember 2019)

Image result for PERUMPAMAAN DOMBA YANG HILANG"

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak yang hilang.” (Mat 18:12-14) 

Bacaan Pertama: Yes 40:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13 

Kita dapat saja berpikir bahwa seorang gembala akan bersungut-sungut karena harus “membuang-buang” energi hanya untuk mencari seekor domba yang hilang. Namun hal ini bukanlah yang terjadi dengan sang gembala dalam perumpamaan Yesus. Gembala ini begitu berkomitmen pada setiap ekor dombanya sehingga dia ikhlas berlelah-lelah untuk menyelamatkan domba mana pun yang mengalami kesulitan atau hilang. Gembala ini pun akan merasa bahagia apabila domba yang mengalami kesulitan atau hilang itu dapat diselamatkan.

Para nabi Perjanjian Lama seringkali mengibaratkan TUHAN (YHWH) Allah sebagai seorang gembala dalam cara-Nya menjaga Israel: “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” (Yes 40:11). Yesus juga menggunakan gambaran “gembala yang baik” bagi diri-Nya: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh 10:11) dan mencari domba yang hilang (lihat Luk 15:4-5). Santo Gregorius Agung [540-604] menulis bahwa Yesus bahkan “memanggul domba di atas bahunya karena dengan mengambil kodrat manusia, Dia membebani diri-Nya dengan dosa-dosa kita.”

Inilah sesungguhnya makna terdalam dari ungkapan “Yesus adalah gembala kita semua”: Yesus menanggung sendiri dosa-dosa kita semua, bukan hanya segelintir orang yang mencoba untuk menjadi baik, atau sejumlah kecil orang yang telah memiliki kecenderungan-kecenderungan religius. Yesus tidak menolak orang-orang yang dikenal sebagai para pendosa. Yesus tidak menghindari orang-orang yang dipandang rendah oleh orang-orang “terhormat” pada zamannya. Yesus senantiasa mencari kesempatan untuk pergi mencari orang-orang berdosa dan hina dalam masyarakat pada waktu itu. Sebagai akibat dari perjumpaan orang-orang itu dengan Yesus, hidup mereka pun diubah secara dramatis.

Kita tentu masih ingat akan cerita tentang pertobatan Zakheus, bukan? (Luk 19:1-10). Kita pun tentunya tidak akan pernah melupakan cerita tentang perempuan yang kedapatan berzinah (Yoh 8:1-11), dan cerita tentang seorang penjahat yang disalibkan bersama Yesus, namun kemudian bertobat (Luk 23:42-43). Yesus minta kepada kita – para murid-Nya – agar mau ke luar menemui orang-orang seperti tiga orang yang disebutkan di atas. Yesus ingin kita memberkati setiap orang yang kita jumpai, berdoa syafaat bagi mereka, dan mau menunjukkan kepada mereka bela-rasa-Nya bilamana ada kesempatan untuk itu.

Teristimewa dalam masa Adven ini dengan segala macam pertemuan dalam lingkungan dlsb., kita akan mempunyai banyak kesempatan untuk berinter-aksi dengan orang-orang yang memiliki latar-belakang berbeda-beda dengan diri kita sendiri. Kita harus berhati-hati agar jangan cepat-cepat menghakimi mereka, tetapi menyambut setiap orang ke dalam hati kita. Marilah kita memohon kepada Yesus agar mengirimkan “domba-domba yang hilang” kepada kita. Selagi kita melakukannya, maka kita pun akan menemukan diri kita semakin serupa dengan Dia.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau sudi menjadi Gembala yang Baik bagi kami. Selamatkanlah kami semua – domba-domba-Mu, sehingga tidak seorangpun dari kami akan terpisahkan dari-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:12-14), bacalah tulisan yang berjudul ALLAH TIDAK PERNAH MEMBIARKAN KITA BERJUANG SENDIRI-SENDIRI (bacaan tanggal 10-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Desember  2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG DIMAKSUDKAN DENGAN ELIA ADALAH YOHANES PEMBAPTIS

YANG DIMAKSUDKAN DENGAN ELIA ADALAH YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Sabtu, 15 Desember 2018)

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13) 

Bacaan Pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19 

Keadilan dan damai sejahtera; rahmat dan pengampunan; cintakasih dan kebaikan: Bukankah ini yang dibutuhkan dunia – yang paling dihasrati manusia? Masa Adven mengingatkan kita akan Allah yang telah berjanji untuk merestorasi (memulihkan) semuanya yang telah hilang karena dosa dan membuat segala sesuatu menjadi baru lagi.

Para nabi diutus untuk menarik orang-orang kembali kepada Allah dan kepada jalan kekudusan dan keadilan-Nya. Elia adalah salah seorang nabi Perjanjian Lama yang paling besar. Dalam sebuah pertarungan antara hidup dan mati melawan para nabi Baal yang berjumlah 450 orang, Elia mendatangkan api YHWH dari langit yang menyambar habis korban bakaran yang ada (lihat 1Raj 18:38). Doa permohonannya: “Ya YHWH, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah, ya YHWH, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali” (1Raj 18:36). Dalam pertarungan ini Elia menunjukkan bahwa YHWH adalah Allah yang sejati, dan lewat peristiwa itu dia berhasil menarik kembali orang-orang Israel untuk melakukan penyembahan yang benar kepada YHWH.

Nah, Yohanes Pembaptis datang dalam semangat Elia ini. Dia berhasil membakar hati orang-orang dengan suatu kerinduan untuk menjadi suci. Dengan mewartakan pertobatan, Yohane Pembaptis sebenarnya mempersiapkan orang-orang Israel untuk menyambut kedatangan Mesias, bahkan kalau hal itu berarti harus berbicara lantang menentang Raja Herodes serta menempatkan dirinya sendiri dalam situasi yang berbahaya. Seperti juga Elia, Yohanes Pembaptis sangat dikenal untuk keberanian dan semangatnya yang berapi-api dalam mengikuti jalan Tuhan.

Setiap orang Kristiani yang telah dibaptis sesungguhnya dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam misi kenabian Yesus. Melalui karunia-karunia dan karya Roh Kudus, kita masing-masing dapat menjadi rasul-rasul Allah dalam memulihkan kekudusan Allah serta keadilan-Nya di tengah-tengah dunia (lihat Katekismus Gereja Katolik, 901;  bdk. Lumen Gentium, 34). Kita mungkin saja tidak dipanggil untuk tampil di panggung nasional seperti Elia dan Yohanes Pembaptis. Namun demikian ada satu hal yang pasti, yaitu bahwa Allah mempunyai sebuah peran bagi kita masing-masing dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari. Entah di rumah, di tempat kerja, di sekolah, kita dapat menjadi terang di tengah kegelapan, yang mengarahkan serta membawa orang-orang kepada Yesus Kristus, juga memberi kesaksian tentang kuasa Injil melalui kata-kata yang kita ucapkan, tindakan-tindakan kita dan sikap-sikap kita.

Allah selalu siap untuk mentranformasikan diri kita dan memenuhi diri kita dengan kasih dan bela rasa-Nya. Oleh karena itu marilah kita terus berusaha untuk semakin dekat dengan Dia, teristimewa dalam Masa Adven ini. Kita juga mohon kepada-Nya agar mengajar kita bagaimana menjadi suara kenabian bagi dunia kita ini.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan buatlah hati kami berkobar-kobar dengan kasih kepada Kristus, sehingga dengan demikian kami dapat mempersembahkan dunia kepada Bapa surgawi dan mewartakan Kabar Baik kepada semua orang yang mau mendengarkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:10-13), bacalah tulisan yang berjudul “BENTARA SANG MESIAS SUDAH DATANG” (bacaan tanggal 15-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 13 Desember 2018 [Peringatan S. Lusia, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA

HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Yohanes dr Salib, Imam Pujangga Gereja – Jumat, 14 Desember 2018)

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19) 

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Dunia kita dipenuhi dengan perselisihan, percekcokan dan sakit hati. Kehidupan pribadi kita juga seringkali disentuh oleh kekecewaan dan perjuangan jatuh-bangun. Setiap kehidupan manusia memang berbeda-beda, akan tetapi kita menghadapi tantangan-tantangan dari berbagai kesulitan di tempat kerja, patah hati karena menyaksikan kehancuran perkawinan anggota keluarga kita, atau sakit hati yang disebabkan oleh relasi yang terluka, dlsb. Namun demikian, tokh kecenderungan kita adalah untuk memecahkan masalah-masalah kita yang sering “menggunung” itu dengan menggunakan kekuatan kita sendiri, tanpa Allah. Kadang-kadang kita malah menyalahkan Allah untuk berbagai kesulitan hidup kita dan penderitaan yang kita tanggung, walaupun Ia sesungguhnya adalah satu-satunya sumber damai-sejahtera dan sukacita bagi kita.

Ketika berbicara mengenai reaksi-reaksi orang banyak terhadap Yohanes Pembaptis, Yesus menggambarkan bagaimana mudahnya kita menjadi tidak berbahagia dengan apa saja yang kita temui dalam kehidupan kita. Pada saat kita dikonfrontir dengan panggilan untuk bertobat, kita ingin mengesampingkannya dan menekankan sesuatu yang lebih “positif”. Pada saat kita dipanggil untuk bersukacita dalam kasih Allah, seringkali kita malah mengabaikannya dengan alasan bahwa hal tersebut terlalu idealistis dan sudah keluar dari realitas. Manusia memang suka berubah-ubah!

Yesus bersabda: “Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya” (Mat 11:19). Hal ini berarti bahwa kebenaran dan keadilan Allah dibuktikan benar manakala umat-Nya mengikuti jalan-Nya secara serius dan mengikuti-Nya. Selagi kita memperkenankan Yesus menguasai diri kita dan menaruh kepercayaan kepada segala ketetapan-Nya, maka kita akan mengenal dan mengalami damai sejahtera. Selagi kita mengakui bahwa dosa dan keserakahan ada pada akar segala penderitaan di dalam dunia, maka kita pun akan mulai melihat hal-hal yang sama bergerak dalam hati kita sendiri dan menyadari bagaimana semua itu ada pada akar segala masalah yang kita hadapi. Pengetahuan ini akan memimpin kita kepada suatu ketaatan yang lebih mendalam dan lebih merendah.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, Yesus telah datang untuk membebaskan kita. Dia memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan untuk dapat bebas dari dosa, kemarahan dan luka batin. Yang diminta oleh Yesus hanyalah bahwa kita mendengarkan sabda-Nya dan mencari pertolongan dari Roh Kudus-Nya dalam upaya kita untuk mentaati-Nya. Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, marilah kita berbalik kepada Yesus, dan setiap saat kita berada berjalan di jalan yang salah, berbaliklah kembali kepada-Nya. Kita akan selalu menjumpai Dia sedang menunggu di sana dengan tangan-tangan yang terbuka lebar-lebar untuk menerima kita kembali. Selagi kita berjalan semakin mendekat pada Yesus, maka kita akan melihat Allah menggunakan kita untuk mencurahkan Roh-Nya ke atas diri setiap orang di sekeliling kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami ingin lebih mengenal Engkau lagi. Kami ingin mempersembahkan kepada-Mu keseluruhan hidup kami. Kami ingin mohon kepada-Mu untuk menolong kami berjalan bersama-Mu dan memperkenankan kami balik kembali kepada-Mu setiap kali kami tersesat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 11:16-19), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA MENOLAK YOHANES PEMBAPTIS DAN JUGA YESUS” (bacaan tanggal 14-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Desember 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS