Posts tagged ‘PENGAMPUNAN’

BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI

BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita – Sabtu, 15 September 2018)

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:25-27) 

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-11 atau Ibr 5:7-9 (Alternatif); Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-6,15-16,20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 2:33-35 

Maria sangat menderita ketika berdiri di dekat salib Yesus di bukit Kalvari selagi dia menyaksikan kematian Anaknya yang mengerikan. Ia menunjukkan kepada Anaknya cintakasih-Nya dengan satu-satunya cara yang ia dapat lakukan, yaitu dengan kehadirannya bersama Anaknya. Oleh rahmat Roh Kudus, Maria memiliki mata iman yang percaya bahwa rencana Allah akan berbuah, walaupun tidak ada tanda-tandanya yang kelihatan. Maria menangisi ketidakadilan yang  berlangsung di depan matanya, namun ia percaya bahwa kuasa Allah akan mengalahkan kematian/maut.

Dikelilingi oleh para penganiaya Yesus, Maria merasa dirinya dipanggil untuk bergabung dengan Yesus dalam doa-Nya; “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Seandainya ada rasa marah dan dendam dalam dirinya, Maria tidak akan bersatu dengan Yesus. Hanya dengan berpaling kepada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, Maria dapat mengampuni dan memberkati dalam menghadapi situasi ketidakadilan, penuh dengan kebencian dan kekerasan.

Kita semua akan mengalami sikap dan perlakuan kasar dari orang-orang lain dalam hidup kita. Dapatkah kita tetap berada di dekat salib Kristus bersama Maria dan mengampuni mereka yang telah menyakiti kita dengan kata-kata maupun perbuatan-perbuatan mereka? Maria menerima undangan Yesus untuk mengambil “murid yang dikasihi-Nya” sebagai anaknya, dan dengan melakukan hal itu, dia menerima semua murid-Nya sebagai anggota-anggota keluarganya. Bahkan pada saat itu, 33 tahun setelah  menerima pemberitahuan dari malaikat agung Gabriel, sekali lagi Maria diminta untuk mengesampingkan ide-idenya sendiri perihal keluarga dan apa yang diinginkannya dalam hidupnya. Dan sekali lagi, ketaatan Maria merupakan buah Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya.

Kita semua juga dipanggil untuk mengasihi semua orang yang menamakan diri mereka orang Kristiani dan juga mereka yang memiliki iman berbeda. Apakah kita siap untuk mengikuti jejak Maria dan merangkul semua anggota keluarga Allah, dan mengesampingkan  segala rasa praduga dan prasangka?

Banyak orang yang dekat dengan diri kita, bahkan kita sendiri pun, akan menghadapi dan mengalami penderitaan. Kita akan melihat betapa sulit bagi kita untuk memahami mengapa hal-hal yang begitu tidak adil dan menyakitkan terjadi atas diri kita dan juga atas orang-orang yang kita kasihi? Peringatan gerejawi hari ini mengingatkan kita akan rahmat Allah yang bekerja dalam diri Maria selagi dia ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara Yesus. Maria mendorong dan menyemangati kita agar mau dan mampu menghadapi serta menanggung kesedihan kita juga, tentunya dengan pertolongan Roh Kudus.

DOA: Roh Kudus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Aku membutuhkan Engkau, seperti juga halnya dengan Maria pada waktu ia berada di dekat Salib Kristus. Aku merindukan penghiburan dari pada-Mu dan juga kekuatan-Mu. Tolonglah diriku agar dapat memiliki rasa percaya kepada Allah dan tetap mengasihi-Nya dan sesamaku, bahkan di tengah-tengah penderitaanku. Berilah kepadaku keyakinan bahwa Yesus telah mengalahkan kuasa maut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:33-35), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU PEDANG AKAN MENEMBUS JIWA MARIA” (bacaan tanggal 15-9-18) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 September 2017 [Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PERINTAH YESUS YANG PALING KERAS DAN SULIT

PERINTAH YESUS YANG PALING KERAS DAN SULIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomus – Kamis, 13 September 2018)

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu. Siapa saja yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan siapa saja yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada yang mengambil kepunyaanmu. Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari dia, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:27-38) 

Bacaan Pertama: 1Kor 8:1b-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-14,23-24 

“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu.” (Luk 6:27-28)

Rasanya, dari perintah Yesus yang keras-keras, maka perintah untuk mengasihi musuh inilah perintah paling keras dan sulit yang harus kita laksanakan. Berapa banyak dari kita telah mendengar perintah Yesus ini memandangnya sebagai “terlalu idealistis”? Berapa banyak dari kita yang telah mendengar sabda Yesus ini dan merasa bersalah karena ketidakmampuan kita selama ini untuk setia pada perintah itu. Biar bagaimana pun, siapakah yang dapat sungguh mengasihi secara sempurna?

Kasih yang sempurna itu murah hati dan konstan. Karena didirikan di atas suatu komitmen batiniah (dari dalam, interior), maka kasih yang sempurna tidak berubah berdasarkan tindakan-tindakan orang yang kita kasihi. Mengasihi musuh-musuh kita juga bukan merupakan hasil dari kalkulasi cost and benefit seperti halnya rata-rata keputusan bisnis. Kalau kita sungguh mengasihi mereka, maka bukan berarti ada jaminan bahwa musuh-musuh kita kemudian menjadi kawan kita.

Tujuan utama dari “mengasihi musuh-musuh” adalah agar kita dapat mencerminkan kasih Allah kepada mereka. Lewat tindakan kita tersebut kita membantu melembutkan hati mereka terhadap Allah. Allah ingin agar kita memandang musuh-musuh kita seperti Dia memandang mereka. Mereka adalah orang-orang yang dikasihi Allah seperti kita juga; orang-orang yang membutuhkan belas kasih Allah, seperti kita juga.

Kasih sempurna adalah kasih Allah yang ditunjukkan oleh-Nya pada waktu Dia mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan kita, meskipun kita masih menjadi musuh-musuh-Nya (lihat Rm 5:8-10). Sebagai anak-anak Allah sekarang kita turut serta dalam hidup ilahi-Nya. Ini adalah sumber “kasih sempurna”. Inilah yang akan memampukan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Yesus mengetahui bahwa tidak mungkinlah bagi kita untuk mengasihi musuh kita berdasarkan sumber daya manusiawi yang terpisah dari Allah. Kita hanya dapat mengasihi seperti Yesus sendiri mengasihi, kalau kita menanggapi rahmat yang mengalir dari kematian dan kebangkitan-Nya.

Semakin besar kita bertumbuh dalam kesatuan dengan Kristus, semakin besar pula kita akan mencerminkan “kasih sempurna”-Nya kepada setiap orang dalam kehidupan kita – baik musuh-musuh maupun kawan-kawan. Kasih Yesus yang “lebar” akan mengatasi kasih kita yang “sempit”. Hati-Nya yang lemah lembut akan mengalahkan hati kita yang keras. Sebagai akibatnya, kita akan mengalami sukacita besar ketika kita menyadari bahwa kita mengasihi orang-orang lain dengan cara yang melebihi kemampuan alami kita sendiri.

DOA: Roh Kudus, bukalah mataku agar dapat memandang orang-orang lain dengan kasih, dengan kasih mana Yesus sendiri memandang mereka. Perbaikilah kesempitan pandanganku dengan visi Yesus yang jelas mengenai kasih yang kekal-abadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU YANG BENAR DALAM MENGHADAPI MUSUH” (bacaan tanggal 13-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 September 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI?

SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Selasa, 6 Maret 2018) 

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35) 

Bacaan Pertama: Dan 3:25,34-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9

Kebanyakan kita tentunya setuju, bahwa mengampuni orang yang bersalah kepada kita bukanlah hal yang gampang untuk dilakukan. Namun demikian, dalam perumpamaan di atas Yesus menjelaskan, bahwa pengampunan adalah salah satu aspek kehidupan yang fundamental dalam kerajaan Allah. Pada kenyataannya, Yesus mengatakan bahwa apabila kita ingin mengetahui, mengenal serta mengalami damai-sejahtera dan sukacita kerajaan Allah, maka kita harus mengampuni siapa saja yang bersalah kepada kita, dan mengampuni seringkali.

Ajaran Yesus selalu saja menantang pemikiran-pemikiran “normal” manusia, misalnya “kasihilah musuh-musuhmu”, atau “siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” dan lain-lain sebagainya. Sekarang, mengenai pengampunan. Mengapa begini? Karena hidup Kristiani itu dialaskan pada pengampunan yang dengan bebas diberikan kepada orang-orang yang sesungguhnya “tak pantas” untuk diampuni, yaitu kita semua. Belas kasih adalah konstitusi dan piagam kerajaan Allah, dan tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengalami berkat-berkat kerajaan itu tanpa ikut saling mengampuni satu sama lain, pengampunan yang begitu bebas diberikan oleh-Nya kepada kita masing-masing.

Kata-kata Yesus tentang pengampunan bukan sekadar teoritis. Kalau kita tidak/belum mengampuni seseorang, maka pada saat kita mengingat orang itu kita pun akan mengalami perubahan-perubahan fisik. Denyut jantung kita menjadi lebih cepat. Napas kita juga menjadi lebih cepat. Tubuh kita menjadi tegang, dan wajah kita pun tampak tambah jelek-loyo. Dalam pikiran kita pun bermunculanlah “flashbacks” peristiwa atau peristiwa-peristiwa ketika kita didzolimi, berulang-ulang. Bermunculanlah lagi alasan-alasan mengapa orang itu sesungguhnya tidak pantas untuk kita ampuni. Mulailah datang segala macam pemikiran negatif bahwa  semua anggota keluarga dan teman orang itu pun jahat semua. Bayangkanlah apa yang terjadi dengan diri kita pada tingkat spiritual. Pikirkanlah betapa sulitnya untuk menaruh kepercayaan pada kasih Allah. Juga betapa sulitnya untuk mengalami damai-sejahtera Kristus atau merasakan gerakan-gerakan Roh Kudus; semuanya karena kita tidak mau mengampuni.

Memang ini merupakan suatu gambaran yang suram, namun jangan sampai membuat kita frustrasi. Yang diminta Allah dari kita sebenarnya hanyalah untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar kita dapat sampai pada tindakan pengampunan, teristimewa pada masa Prapaskah ini. Sediakanlah beberapa menit setiap hari untuk memandang Salib Kristus dalam keheningan, sambil merenungkan bahwa Yesus menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk memperoleh pengampunan bagi kita.

Mohonlah kepada Roh Kudus untuk menolong anda menemukan jalan untuk sampai pada damai-sejahtera, restorasi relasi dan rekonsiliasi dengan Sang Mahatinggi. Katakanlah pada-Nya bahwa anda sungguh mencoba. Dia tahu bahwa dapat saja anda tidak sampai menuntaskan segalanya dalam jangka waktu yang singkat, namun dengan mengambil beberapa langkah ke arah yang benar, anda akan memberikan kesempatan kepada Allah untuk melakukan mukjizat dalam kehidupan anda.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau adalah perwujudan belas kasih Allah sendiri. Oleh Roh Kudus-Mu, ajarlah aku untuk berjalan di jalan belas kasih-Mu, agar akupun dapat mengalami kebebasan-Mu sendiri. Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk mengampuni mereka yang  bersalah kepadaku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-35), bacalah tulisan yang berjudul  “MENARUH KEPERCAYAAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 6-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Maret 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH III – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI BERBELAS KASIH SEPERTI YESUS SENDIRI

MENJADI BERBELAS KASIH SEPERTI YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Senin, 13 November 2017)

OFM: Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan 

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tidak mungkin tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat dosa, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini berbuat dosa. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17:1-6) 

Bacaan Pertama: Keb 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-10 

Ketika seorang eksekutif perusahaan – katakanlah namanya Franky – mendengar bahwa rekan kerjanya yang bernama Brutus baru saja terserang penyakit kanker serius, ia merasakan bahwa barangkali Tuhan menginginkan dirinya mengunjungi Brutus di rumah sakit dan menghiburnya. Akan tetapi kemudian muncul dalam ingatannya bahwa Pak Brutus ini beberapa tahun yang lampau pernah berbicara buruk tentang dirinya (di belakang punggungnya) sehingga Franky kehilangan kesempatan untuk sebuah promosi guna menduduki jabatan sangat penting dalam perusahaan. Sebenarnya Franky telah melupakan peristiwa atau insiden itu, namun berita tentang jatuh sakitnya Pak Brutus ini mendatangkan kembali penolakan yang selama ini telah ditekannya. Pada saat itu Franky menyadari bahwa sekali lagi dia harus mematuhi perintah Allah untuk mengampuni Pak Brutus – tujuh puluh kali setiap hari – kalau memang diperlukan.

Memang tidak mudah bagi kita untuk mengampuni orang-orang lain, teristimewa mereka yang menyakiti hati kita secara mendalam, telah memperlakukan kita dengan tidak adil, telah mendzolimi kita. Akan tetapi, kita harus selalu mengingat tiga alasan besar mengapa kita harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita itu. Pertama-tama, Yesus sendiri memerintahkan kita untuk mengampuni. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus dengan jelas menyatakan bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, bahkan mengampuni mereka lagi dan lagi (bdk. Mat 18:22). Akan tetapi seperti halnya Franky, kita pun dapat menilai  bahwa “dosa/kesalahan” orang lain itu kepada kita begitu besarnya – dan luka-luka yang diakibatkan oleh orang lain itu begitu sakitnya – untuk dapat kita ampuni. Pada tingkatan ini, ingatlah bahwa Yesus tidak akan meminta kita melakukan sesuatu yang kita tidak dapat lakukan. Sederhana saja: Kita harus belajar bagaimana mengampuni.

Kedua, adalah baik bagi kita untuk mengampuni. Dengan mengampuni orang lain, kita membuat diri kita terbebaskan dari kepahitan yang merusak, yang menggerogoti hati kita, bahkan yang dapat menjadi sedemikian kuat sehingga membawa dampak buruk atas kesehatan kita. Dengan mengampuni, kita membiarkan pergi segala beban penolakan yang sedemikian. Jangan pula kita melupakan salah satu Sabda Bahagia dari Yesus: “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan” (Mat 5:7).

Ketiga, belas kasih dan pengampunan kita dapat juga mengubah hati orang-orang lain. Apabila kita memperlakukan seseorang dengan respek dan penuh martabat – walaupun orang itu telah menyakiti hati kita – maka kita dapat membantu melunakkan hatinya. Siapa tahu? Mungkin saja pengampunan kita akan menggerakkan orang itu menjadi berbelas kasihan juta, menyebabkan terjadinya reaksi-berantai yang melibatkan lebih banyak orang lain lagi!

Jadi, apa kiranya pendapat Saudari dan Saudara? Mungkinkah bagi kita (anda dan saya) untuk mengambil satu langkah lebih dekat lagi dengan panggilan Yesus untuk menjadi berbelaskasih seperti diri-Nya? Dapatkah kita memohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita bela rasa sedikit lebih lagi? Tidak perlulah untuk segalanya diperoleh sekaligus, tetapi dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit namun mantap.

DOA: Tuhan Yesus, hati-Mu penuh berlimpah dengan belas kasih yang tanpa batas. Tolonglah aku agar dapat menjadi seperti diri-Mu, yaitu dalam hal mempraktekkan belas kasih dan pengampunan kepada semua orang yang bersalah kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENANGGAPI PANGGILAN YESUS UNTUK MENGAMPUNI” (bacaan tanggal 13-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 November 2017 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ANAK YANG HILANG

ANAK YANG HILANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 18 Maret 2017) 

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32)

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 103:1-4.9-12

Perumpamaan di atas sungguh merupakan cerita tentang seorang ayah yang penuh pengampunan. Yesus menceritakan perumpamaan ini guna menunjukkan kepada kita bagaimana Allah merasakan isi hati siapa saja dari kita yang menyadari bahwa dirinya adalah pendosa, namun mengambil keputusan untuk kembali kepada Bapa. Allah sungguh mengasihi kita dan ingin merayakan kembalinya kita dengan penuh kebahagiaan kepada-Nya bersama dengan kita.

Bab 15 dari Injil Lukas memuat pengajaran Yesus lewat tiga buah perumpamaan secara berturut-turut: [1] Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:3-7); [2] Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10); [3] Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Sungguh menarik untuk dicatat apa yang terjadi sebelum Yesus mengajar dengan tiga perumpamaan ini. Lukas mencatat bahwa para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia” (Luk 15:1). Mengapa?  Apakah yang telah dikatakan dan dilakukan oleh Yesus sehingga memikat para pendosa, padahal mereka dinilai rendah sekali oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dan membuat para pemuka agama tersebut bersungut-sungut? (lihat Luk 15:2).

Kiranya di sini Yesus mengundang para pendengar-Nya dan pada saat sama mengemukakan sebuah tantangan. Yesus telah mengajar para pendengar-Nya dengan perumpamaan tentang perjamuan besar (perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih; Luk 14:15-24). Dalam perumpamaan itu Allah yang diibaratkan sebagai seorang raja mengundang banyak orang, namun mereka mengemukakan berbagai alasan untuk tidak hadir. Oleh karena sang raja mengutus para hambanya untuk mengundang orang-orang lain. Setelah perumpamaan ini, Yesus menantang para pendengar-Nya untuk berani menjadi murid-murid-Nya, karena mereka harus memikul salib bersama dengan-Nya (lihat Luk 14:25-27). Hal inilah yang menarik para pendosa untuk datang kepada Yesus! Yesus mengundang mereka dan pada saat sama menantang mereka untuk masuk ke dalam suatu hidup baru, suatu kehidupan yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka kenal selama ini.

Sekiranya ada dari para pendosa yang mendengarkan Yesus ini bertanya-tanya: “Apakah aku yang dimaksudkan oleh-Nya?”, maka Yesus datang dengan “Perumpamaan tentang anak yang hilang”, sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu. Perumpamaan ini mengajarkan: “Biar bagaimana pun juga engkau berpikir bahwa engkau telah gagal, Bapamu di surga akan menerima engkau kembali dengan penuh kasih, dan Ia mengundang engkau masuk ke dalam suatu hidup baru dalam Dia dan bersama Dia.”

Itulah undangan dan tantangan yang diberikan oleh Yesus kepada kita masing-masing. Kasih Allah kepada kita masing-masing tidak pernah luntur dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan kasih Allah itu digambarkan dalam perumpamaan anak yang hilang ini. Kita harus mencatat peranan dari si anak dalam cerita ini. Sang  ayah tidak dapat mengampuni anaknya apabila dia tidak kembali kepada ayahnya guna menerima pengampunan itu. Anak laki-laki itu terbuka dan siap menerima pengampunan, karena dia cukup jujur untuk melihat dirinya sebagai apa adanya. Dia melihat bahwa hidupnya sungguh kosong, bahwa dia telah melempar jauh-jauh berkat-berkat nyata yang diterimanya dan menggantikannya dengan “berkat-berkat palsu”, kemudian menyadari bahwa dirinya akan lebih baik tanpa batas jika kembali kepada Bapanya.

DOA: Tuhan Yesus, lewat perumpamaan ini kami disadarkan bahwa kami adalah orang-orang berdosa dan kami sungguh membutuhkan belas kasih Bapa surgawi. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG AYAH YANG  SANGAT MENGASIHI ANAK-ANAKNYA ” (bacaan tanggal 18-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Maret 201 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ANAK YANG HILANG

ANAK YANG HILANG

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 27 Februari 2016)

 prodigal-son

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32) 

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 103:1-4.9-12

Perumpamaan di atas sungguh merupakan cerita tentang seorang ayah yang penuh pengampunan. Yesus menceritakan perumpamaan ini guna menunjukkan kepada kita bagaimana Allah merasakan isi hati siapa saja dari kita yang menyadari bahwa dirinya adalah pendosa, namun mengambil keputusan untuk kembali kepada Bapa. Allah sungguh mengasihi kita dan ingin merayakan kembalinya kita dengan penuh kebahagiaan kepada-Nya bersama dengan kita.

Bab 15 dari Injil Lukas memuat pengajaran Yesus lewat tiga buah perumpamaan secara berturut-turut: [1] Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:3-7); [2] Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10); [3] Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Sungguh menarik untuk dicatat apa yang terjadi sebelum Yesus mengajar dengan tiga perumpamaan ini. Lukas mencatat bahwa para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia” (Luk 15:1). Mengapa?  Apakah yang telah dikatakan dan dilakukan oleh Yesus sehingga memikat para pendosa, padahal mereka dinilai rendah sekali oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dan membuat para pemuka agama tersebut bersungut-sungut? (lihat Luk 15:2).

Kiranya di sini Yesus mengundang para pendengar-Nya dan pada saat sama mengemukakan sebuah tantangan. Yesus telah mengajar para pendengar-Nya dengan perumpamaan tentang perjamuan besar (perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih; Luk 14:15-24). Dalam perumpamaan itu Allah yang diibaratkan sebagai seorang raja mengundang banyak orang, namun mereka mengemukakan berbagai alasan untuk tidak hadir. Oleh karena sang raja mengutus para hambanya untuk mengundang orang-orang lain. Setelah perumpamaan ini, Yesus menantang para pendengar-Nya untuk berani menjadi murid-murid-Nya, karena mereka harus memikul salib bersama dengan-Nya (lihat Luk 14:25-27). Hal inilah yang menarik para pendosa untuk datang kepada Yesus! Yesus mengundang mereka dan pada saat sama menantang mereka untuk masuk ke dalam suatu hidup baru, suatu kehidupan yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka kenal selama ini.

Sekiranya ada dari para pendosa yang mendengarkan Yesus ini bertanya-tanya: “Apakah aku yang dimaksudkan oleh-Nya?”, maka Yesus datang dengan “Perumpamaan tentang anak yang hilang”, sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu. Perumpamaan ini mengajarkan: “Biar bagaimana pun juga engkau berpikir bahwa engkau telah gagal, Bapamu di surga akan menerima engkau kembali dengan penuh kasih, dan Ia mengundang engkau masuk ke dalam suatu hidup baru dalam Dia dan bersama Dia.”

Itulah undangan dan tantangan yang diberikan oleh Yesus kepada kita masing-masing. Kasih Allah kepada kita masing-masing tidak pernah luntur dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan kasih Allah itu digambarkan dalam perumpamaan anak yang hilang ini. Kita harus mencatat peranan dari si anak dalam cerita ini. Sang  ayah tidak dapat mengampuni anaknya apabila dia tidak kembali kepada ayahnya guna menerima pengampunan itu. Anak laki-laki itu terbuka dan siap menerima pengampunan, karena dia cukup jujur untuk melihat dirinya sebagai apa adanya. Dia melihat bahwa hidupnya sungguh kosong, bahwa dia telah melempar jauh-jauh berkat-berkat nyata yang diterimanya dan menggantikannya dengan “berkat-berkat palsu”, kemudian menyadari bahwa dirinya akan lebih baik tanpa batas jika kembali kepada Bapanya.

DOA: Tuhan Yesus, lewat perumpamaan ini kami disadarkan bahwa kami adalah orang-orang berdosa dan kami sungguh membutuhkan belas kasih Bapa surgawi. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “PENGAMPUNAN ALLAH ITU ADIL” (bacaan tanggal 27-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGAMPUNAN TIDAK MENGENAL BATAS

PENGAMPUNAN TIDAK MENGENAL BATAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 13 Agustus 2015) 

PERUMPAMAAN - PENGAMPUNAN MAT 18 21 DST 001Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1) 

Bacaan Pertama: Yos 3L7-10a,11,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 114:1-6 

Selama karya pelayanan-Nya di depan publik, Yesus membuat jelas bahwa tidak ada batas untuk pengampunan, dan untuk itu Dia mengajarkan sebuah perumpamaan tentang dua macam debitur. Seseorang mempunyai utang yang sangat besar. Pada zaman Yesus jumlahnya malah melebihi penerimaan total dari sebuah pemerintahan Negara. Namun si debitur yang diampuni utangnya tersebut tidak dapat mengampuni orang yang berutang kepadanya, walaupun utang orang tersebut relatif kecil, yaitu 1/100.000 dari utangnya sendiri. Suatu kontras yang luarbiasa. Pesannya? Pengalaman kita akan pengampunan Allah yang tak terbatas harus mendorong kita untuk mengampuni.

ROHHULKUDUSBagaimana kita dapat menunjukkan belas kasih sedemikian? Melalui kuasa kasih Allah yang telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus (Rm 5:5). Sampai di mana kita mengampuni orang-orang yang telah menyakiti/mendzolimi kita menunjukkan sampai di mana kita mengalami pengampunan Allah dan menyadari kebutuhan mutlak akan belas kasih-Nya.

Apakah kita (anda dan saya) mengenal kuasa penyembuhan dari pengampunan dan rekonsiliasi? Yesus datang untuk merekonsiliasikan/mendamaikan kita dengan Allah dan sesama (Ef  2:16). Rencana Allah adalah untuk mempersatukan segala hal dalam Kristus (Ef 1:10) – bahkan relasi-relasi kita. Kasih Allah mempunyai kuasa untuk menyembuhkan luka yang disebabkan oleh tindakan-tindakan dosa. Kasih-Nya menggerakkan kita untuk mengampuni mereka yang menyakiti hati kita. Dosa-dosa dapat menindih serta mengubur kita, namun Allah telah memberikan kepada kita obat penyembuhnya setiap hari, “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”  (Mat 6:12).

Kasih Allah mengalahkan segalanya, bahkan luka-luka kita, rasa takut kita, dan prasangka-prasangka kita. Hanya salib Kristus-lah yang dapat membebaskan kita dari tirani kebencian dan penolakan, dan memberikan kepada kita keberanian untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Kasih yang sedemikian memiliki kuasa untuk menyembuhkan dan menyelamatkan kita dari kehancuran. Santo Augustinus dari Hippo [354-430] pernah berkata, “Mohonlah kepada Allah karunia untuk saling mengasihi. Kasihilah semua orang, bahkan musuh-musuh anda, bukan karena mereka adalah saudari-saudara anda, namun karena mereka dapat menjadi demikian. Kasihilah mereka agar supaya anda senantiasa dibakar oleh api cinta (Sermon on 1John 10:7).

DOA: Bapa surgawi, kasih-Mu membawa kebebasan dan pengampunan. Biarlah belas kasih-Mu berjaya di atas penghakiman dalam setiap relasi. Ya Tuhan Allahku, kuingin mengenal dan mengalami damai sejahtera, sukacita dan kebebasan yang berasal dari Engkau saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI” (bacaan tanggal 13-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Agustus 2015 [Peringatan S. Dominikus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS