Posts tagged ‘INJIL LUKAS’

SIMEON DAN HANA

SIMEON DAN HANA: DUA ORANG ANAWIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah – Minggu, 2 Februari 2020)

Lalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orangtua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Lagi pula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, lalu ia menjadi janda sampai ia berumur delapan puluh empat tahun sekarang. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada  semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediaman mereka, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. (Luk 2:22-40) 

Bacaan Pertama: Mal 3:1-4 atau Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10 

“Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya.” (Mal 3:1)

Apakah sebenarnya yang diharapkan oleh Simeon dan Hana ketika mereka berdoa dan berpuasa di  Bait Allah dalam rangka kedatangan sang Mesias? Terkejutkah mereka ketika menyaksikan bahwa jawaban atas doa-doa mereka hanyalah seorang Anak kecil, belum berdaya dan masih sangat tergantung pada orangtua-Nya yang tergolong “wong cilik”? Dapatkah Anak yang masih kecil ini sungguh menjadi “Raja Kemuliaan” sebagaimana dinyatakan oleh sang pemazmur. “TUHAN (YHWH), jaya dan perkasa, YHWH, perkasa dalam peperangan……. YHWH semesta alam” (Mzm 24:7-10). Anak yang kecil ini adalah “Firman yang menjadi manusia” (Yoh 1:14), Allah yang merendahkan diri-Nya. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “Dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa umat” (Ibr 2:17).

Dalam Gereja-gereja Timur, “Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah” dinamakan “Pesta Perjumpaan”. Istilah “perjumpaan” mengindikasikan adanya unsur surprise, seperti kemunculan sang Mesias secara mendadak di Bait Allah (lihat Mal 3:1). Sepanjang hidup mereka. Simeon dan Hana telah mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk perjumpaan ini, walaupun mereka sama sekali tidak tahu kapan atau bagaimana perjumpaan ini akan terjadi. Karena doa-doa mereka dan juga perhatian penuh mereka kepada gerak-gerik Roh Kudus, dua orang “anawim” ini dimampukan melihat keagungan Allah dalam diri Anak kecil Maria. Dipenuhi rasa syukur, Simeon “menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah” (Luk 2:28).  Nanyian pujian (kidung) ini terus terdengar tanpa henti di segenap penjuru dunia dengan berputarnya bumi, ketika umat Allah mendoakan “Ibadat Penutup” setiap malamnya.

Betapa terberkatilah kita bila menyadari, bahwa Tuhan yang bangkit telah datang untuk berdiam dalam bait-Nya. Dalam Ekaristi, dalam rupa roti dan air anggur, Yesus datang untuk menemui kita. Dalam baptisan, Ia telah bertempat tinggal dalam bait/kenisah hati kita juga. Oleh pencurahan  darah-Nya dan Roh-Nya, Dia telah memurnikan kita dan membebaskan kita dari maut (Mal 3:2-3).

Seperti Simeon dan Hana, marilah kita mempersiapkan diri untuk perjumpaan kita dengan Tuhan. Kita dapat saja menjadi terkejut berjumpa dengan-Nya dalam diri orang-orang di sekeliling kita, dalam diri orang-orang sakit dan yang berada dalam sakratul maut, dalam diri “wong cilik” pada umumnya.

Yesus selalu menanti-nantikan kita dalam bait-Nya, dalam Ekaristi; Dia menantikan kita merangkul-Nya dan menempatkan-Nya dekat hati kita. Kasih-Nya – yang lebih kuat ketimbang dosa kita yang mana pun – akan memurnikan diri kita. Kemudian, seperti Simeon juga, diri kita akan dipenuhi dengan damai-sejahtera-Nya (Luk 2:29). Seperti Hana, kita pun akan dimampukan untuk “mengucap syukur kepada Allah” (Luk 2:38).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengaruniakan Putera-Mu sendiri ke tengah-tengah dunia yang terpecah-belah dan menyedihkan hati. Dengan kedatangan-Nya kami pun menerima sukacita, damai-sejahtera, dan penghiburan. Semoga setiap orang akhirnya menerima kenyamanan lahiriah maupun batiniah, karena mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:22-40), bacalah tulisan dengan judul “PERISTIWA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH” (bacaan tanggal 2-2-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-2-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  30 Januari 2020 [Peringatan Wajib S. Yasinta Mareskoti, Perawan OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DATANG KE TENGAH DUNIA DENGAN BELARASA DAN KASIH YANG BESAR

YESUS DATANG KE TENGAH DUNIA DENGAN BELARASA DAN KASIH YANG BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Jumat, 10 Januari 2020)

Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk penyucianmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersebar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi, Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa. (Luk 5:12-16) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Para penderita kusta dan sakit-penyakit kulit lainnya membawa dalam diri mereka stigma “najis” dilihat dari sudut rituale keagamaan. Pada zaman Yesus mereka dipaksa untuk hidup dalam semacam “karantina”. yang kondisinya buruk, kotor dan jorok. Kita hanya dapat membayangkan beban berat psikologis dan emosional sehari-hari yang harus dipikul oleh orang-orang kusta ini.

Dosa adalah sebuah penyakit spiritual yang juga mengakibatkan penderitanya hidup dalam semacam “karantina”. Dosa memisahkan kita satu sama lain dan membuat kita teralienasi/terasing dari Allah. Seperti penyakit fisik, dosa juga mempengaruhi kondisi tubuh dan pikiran kita. Seperti penyakit menular, dosa juga dapat membawa pengaruh buruk atas diri para anggota Tubuh Kristus yang lain. Akhirnya, apabila tidak diurus dengan baik, kondisi pribadi seseorang yang disebabkan oleh dosa dapat menggiringnya kepada kematian kekal.

Dengan belarasa dan kasih yang besar, Yesus datang ke tengah dunia untuk menawarkan sentuhan-Nya yang menyembuhkan segala sakit-penyakit. Dengan risiko “ketularan” penyakit dan kenajisan, Yesus tetap menemui orang-orang sakit, orang-orang yang tersisihkan dlsb., kemudian membersihkan/mentahirkan mereka. Setiap kali Yesus menyentuh seseorang dan membuang penyakit atau beban berat seseorang, sebenarnya ini adalah pratanda dari saat-saat di mana Dia akan “menanggung penyakit dan kesengsaraan kita” di atas kayu salib, dengan demikian memenangkan penebusan bagi umat Allah (lihat Yes 53:4,10-12).

Dalam Yesus, kita pun dapat diubah dari kondisi tidak tahir menjadi tahir, dari sakit menjadi sehat, dari kematian berpindah ke dalam kehidupan, dari dalam kegelapan dosa berpindah ke dalam pancaran cahaya terang kehadiran Allah. Yesus datang untuk menyembuhkan kita dengan “rahmat-Nya melalui permandian kelahiran kembali dan melalui pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5). Darah Kristus yang memancar ke luar dari lambung-Nya memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan kita bahkan pada hari ini, sementara kita berseru kepada-Nya: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Luk 5:12).

Dalam Kristus kita tidak lagi perlu menderita luka-luka kebencian, kemurkaan dan kecemburuan. Kita pun dapat disembuhkan dari berbagai dosa yang menular. Kita tidak perlu lagi hidup dikemudikan oleh rasa takut dan dikendalikan oleh rasa bersalah. Yesus mengampuni kita, menawarkan kepada kita damai sejahtera dan suatu hidup baru dalam Dia. Apabila kita mengenakan kebenaran-Nya, maka kita pun dapat berjalan dalam terang-Nya, bahkan dengan orang-orang dari siapa kita dahulu telah teralienasi. Semua ini sungguh merupakan pesan pengharapan!

Berbicara dalam nama TUHAN (YHWH), nabi Yehezkiel bernubuat: “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu ……  Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu …” (Yeh 36:25-26). Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, marilah sekarang kita berpaling kepada Yesus dalam iman dan memperkenankan Dia membersihkan kita.

DOA: Tuhan Yesus, jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:12-16), bacalah tulisan yang berjudul “SANG DOKTER AGUNG YANG BERNAMA YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 10-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH SENDIRILAH YANG MENENTUKAN NAMA ANAK ITU

ALLAH SENDIRILAH YANG MENENTUKAN NAMA ANAK ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 23 Desember 2019)

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Luk 1:57-66)

Bacaan Pertama: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14 

Para orang-tua tentunya mempunyai banyak alasan mengapa mereka memilih sendiri nama anak mereka. Dalam kasus Yohanes Pembaptis, yang menentukan nama sang anak bukanlah orangtuanya, melainkan Allah sendirilah yang menentukan namanya sebagai bagian dari perwahyuan atas makna Natal. Nama “Yohanes” (bahasa Yunani: Iôannès) menunjukkan suatu kebenaran penting tentang kedatangan Tuhan ke dalam dunia.  Kata Ibrani-nya dapat diterjemahkan sebagai:  “YHWH memberikan karunia”. Ingatlah apa yang dikatakan malaikat Gabriel kepada Maria: “Salam, hai engkau yang dikaruniai” (catatan: dalam doa “Salam Maria” kita mengatakan “penuh rahmat”). Salam malaikat ini mencerminkan  perwahyuan yang ada dalam kata “Yohanes”. Salam malaikat ini mengandung makna, bahwa Maria adalah puteri Allah yang paling terberkati.

Maria dipilih menjadi ibunda Yesus bukan karena usahanya sendiri, melainkan sepenuhnya karena kehendak Allah. Demikian pula halnya dengan kita. Natal adalah pemberian dari Allah bagi kita yang bersifat “gratis” (catatan: kata bahasa Latin gratia atau grace dalam bahasa Inggris berarti rahmat), murni karunia. Tanpa upaya apapun dari pihak manusia, Allah memberikan kepada kita karunia-Nya yang terbesar, yaitu Putera-Nya sendiri.

Pada zaman nabi Maleakhi, orang-orang Yahudi baru pulang kembali ke tanah terjanji setelah hidup dalam pembuangan di Babel. Mereka berjuang melawan kemiskinan yang selama ini telah membelenggu mereka. Mereka mengeluh kepada Allah mengapa hanya orang-orang jahat saja yang hidup makmur. Kendati mereka sendiri juga tidak setia kepada Allah, mereka mau tahu bilamana Allah akan memenuhi janji-Nya untuk menurunkan berkat-berkat kepada mereka.

Pada zaman modern ini pun kita terkadang (atau seringkali?) masih bertanya mengenai kemakmuran dan kenikmatan hidup orang-orang yang kelihatan tidak peduli pada Allah maupun perintah-perintah-Nya. Dalam hal ini kita harus ingat perwahyuan bahwa tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari cintakasih Kristus. Mereka yang kaya dan berkuasa juga termasuk, misalnya para majus. Namun orang-orang miskin, bersahaja dan berderajat sosial/ekonomi rendah sungguh menerima karunia-Nya secara istimewa. Yang pertama datang menyambut kedatangan bayi Yesus adalah para gembala. Mereka mewakili “wong cilik”, orang-orang bersahaja yang menggantungkan “nasib” mereka sepenuhnya kepada Allah, bukannya harta kekayaan atau kekuasaan yang dimiliki.

Dalam Magnificat-nya Maria memuji-muji Allah karena “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (Luk 1:52). Kita akan menerima berkat-berkat Natal selama kita berendah hati di hadapan Allah, dan  bahwa kita tidak menggantungkan diri pada kekayaan dunia ini, melainkan pada kekayaan belas kasih Allah.

DOA: Bapa surgawi, nama “Yohanes” mengingatkan kami, bahwa Engkau-lah Sang Pemberi karunia kepada umat manusia. Biarlah Roh Kudus-Mu mempersiapkan hati kami agar sungguh siap menerima kedatangan karunia-Mu yang terbesar, Yesus Putera-Mu, pada hari Natal ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mal 3:1-4; 4:5-6); bacalah tulisan yang berjudul “SUPAYA IA MEMPERSIAPKAN JALAN DI HADAPAN-KU” (bacaan tanggal 23-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

FIAT SEORANG PERAWAN NAZARET

FIAT SEORANG PERAWAN NAZARET

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 20 Desember 2019)

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia (Luk 1:26-38). 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38)

Tatkala malaikat agung Gabriel menampakkan diri kepada perawan Maria dan mengungkapkan rencana Allah bagi dirinya, Maria sungguh merasa terkejut. Santo Lukas menceritakan kepada kita bahwa Maria “terkejut”, lalu bertanya di dalam hatinya apakah arti salam itu. Kemudian, setelah memperoleh penjelasan dari Gabriel, ia bertanya:  “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk 1:29,34). Setelah mendengarkan keterangan/penjelasan dari Gabriel, Maria berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Jawaban “ya” (disebut juga: fiat) dari Maria yang berdasarkan ketaatan mutlak kepada kehendak sang Khalik langit dan bumi, serta kerendahan hati sejati inilah yang memberi jalan kepada kasih Allah untuk mengubah sejarah umat manusia.

Memang Maria tidak dapat sekaligus melihat gambaran sepenuhnya. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu, dia mulai memahami hal-hal indah yang sedang dikerjakan Allah atas dirinya. Dia melihat bahwa Yesus “ditakdirkan” untuk memberikan hidup-Nya untuk kita manusia, bahkan ia sendiri akan menanggung penderitaan karena “suatu pedang akan menembus jiwanya sendiri” (lihat Luk 2:35). Maria tentunya telah belajar juga tentang hasrat Allah yang terdalam, bahwa melalui Yesus kita akan dipenuhi dengan hidup ilahi-Nya: Allah ingin “mengilahikan” kita. Bagi Maria, apa yang diawali dengan suatu kunjungan yang “membingungkan” dari “seorang” malaikat berkembang menjadi suatu kehidupan yang dipenuhi dengan rasa takjub atas keluasan rencana Allah bagi umat-Nya.

Banyak Pujangga Gereja juga telah memberi komentar mereka atas rencana Allah untuk memenuhi diri kita dengan hidup ilahi. Santo Thomas Aquinas [1225-1274] menulis: “Sang Anak Tunggal Allah, karena ingin membuat kita ikut ambil bagian dalam keilahian-Nya, mengambil kodrat kita, sehingga Dia yang menjadi manusia, dapat membuat orang-orang semakin menjadi seperti Allah (Tentang Pesta Corpus Christi, 1). Demikian pula, Santo Atanasius [296-373] menulis, bahwa Yesus “sungguh mengambil kemanusiaan sehingga kita dapat menjadi peserta di dalam [hidup] Allah” (Tentang Inkarnasi). Biarpun kedengaran hampir tidak mungkin atau mustahil, inilah yang terjadi dengan kita masing-masing pada saat kita dibaptis dan akan disempurnakan pada saat Yesus datang lagi dalam kemuliaan-Nya kelak.

Pada saat malaikat agung Gabriel minta kepada Maria untuk menerima usulan/undangan Allah, Maria tidak ragu sedikit pun walaupun ia belum memahami segalanya secara langsung. Maria ingin melakukan kehendak Allah, dan pada saat yang sangat penting dalam sejarah manusia, hal itu berarti sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada-Nya.

Akan tetapi, rahasia hikmat dan pemahaman Maria jauh melampaui keputusannya untuk menaruh kepercayaan kepada Allah. Maria juga berpaling ke dalam dirinya sendiri untuk merenungkan jabang bayi yang mulai mengambil bentuk dalam rahimnya.

Dalam keheningan dan kejernihan akal budinya, Maria memohon kepada Roh Kudus untuk mengungkapkan misteri-misteri rencana Allah bagi dirinya, dan selagi dia melakukannya, dia pun semakin dipenuhi dengan rahmat Allah.

Marilah kita meneladan Maria, tidak hanya dalam menaruh kepercayaan kepada rencana Allah, melainkan juga dengan menyediakan waktu yang sungguh cukup untuk doa dan permenungan misteri-misteri Allah dalam kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, tunjukkanlah kepadaku bagaimana merenungkan dan menghargai segala hal yang Engkau sedang lakukan pada zaman ini. Ajarlah aku bagaimana menaruh kepercayaan pada-Mu sepenuhnya seperti yang telah dilakukan oleh Maria sekitar 2.000 tahun lalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “PILIHAN ALLAH SENDIRI” (bacaan  tanggal 20-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LAGI-LAGI ALLAH MEMBUKTIKAN BAHWA SEGALA MUNGKIN BAGI-NYA

LAGI-LAGI ALLAH MEMBUKTIKAN BAHWA SEGALANYA MUNGKIN BAGI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 19 Desember 2019)

Pada zaman Herodes, raja Yudea, ada seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.

Pada suatu kali, waktu tiba giliran kelompoknya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk  ke dalam Bait Suci dan membakar dupa di situ. Pada waktu pembakaran dupa, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Lalu tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran dupa. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan dia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya dan ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka. Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu, “Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Jawab malaikat itu kepadanya, “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara kepadamu untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya.” Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, dan ia tetap bisu. Ketika selesai masa pelayanannya, ia pulang ke rumah.

Beberapa lama kemudian Elisabet, istrinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” (Luk 1:5-25)

Bacaan Pertama: Hak 13:2-7.24-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:5-6,16-17

Pada saat Zakharia mendengar malaikat agung Gabriel memberitahukan kepadanya tentang janji Allah baginya untuk memberinya seorang anak laki-laki, dia meminta bukti bagaimana kiranya hal itu akan menjadi kenyataan karena dia dan istrinya – Elisabet – sudah tua. Karena ketiadaan imannya, Zakharia dibuat menjadi bisu sampai janji itu dipenuhi. Sembilan bulan kemudian, Allah menganugerahi Zakharia dan Elisabet seorang anak laki-laki. Dalam hal ini Allah lagi-lagi melakukan pekerjaan ajaib seperti yang telah dilakukan-Nya atas diri para pasutri lainnya dalam Kitab Suci: Abraham dan Sara (Kej 18:9-10;21:1-2), Elkana dan Hana (1Sam 1:2,19-20), dan Manoa dan istrinya (Hak 13:2,24). Ketika bayi dalam kandungan Elisabet berumur 6 bulan, kepada seorang perawan di Nazaret malaikat agung Gabriel membuat pernyataan: “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37).

Jadi, untuk kesekian kalinya Tuhan membuktikan bahwa segalanya mungkin bagi-Nya. Ketika Sara tertawa mendengar bahwa kepadanya dijanjikan seorang anak laki-laki, Allah berkata kepada Abraham: “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN (YHWH)?” (Kej 18:14). Iman Abraham akan janji Allah tidak pernah menyusut. Ia “berkeyakinan penuh bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (Rm 4:21).

Pada waktu YHWH menyatakan diri-Nya kepada Ayub, ia juga diyakinkan akan kuat-kuasa Allah, sehingga dia menyatakan: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayb 42:2). Dalam sebuah doanya, nabi Yeremia tercatat mengatakan: “Ah Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!” (Yer 32:17). YHWH menanggapi doa yang cukup panjang dari Yeremia itu dan mengawali sabda-Nya sebagai berikut: “Sesungguhnya, Akulah YHWH, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” (Yer 32:27).

“Kemustahilan” tertinggi diwujudkan oleh Allah melalui Putera-Nya. Yesus dilahirkan dari seorang perempuan, walaupun Ia adalah Allah; Ia menderita sengsara dan mati karena cintakasih-Nya kepada kita walaupun kita – manusia – menolak-Nya. Ia bangkit dari antara orang mati, menghancurkan kuasa dosa, Iblis dan dunia; dan Ia membuat kita menjadi anak-anak Allah, para pewaris kehidupan kekal bersama-Nya.

Karena Allah telah mengerjakan segala sesuatu yang “mustahil” di mata manusia melalui Yesus (misalnya membuat mukjizat penyembuhan dan tanda-tanda heran lainnya seperti menghidupkan kembali orang yang sudah mati), maka kita harus percaya bahwa pada masa Adven ini pun Yesus Kristus akan melakukan “kemustahilan” dalam kehidupan kita dan keluarga kita. Ingatlah, bahwa “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamnya” (Ibr 13:8). Barangkali kita sedang menghadapi masalah perpecahan dalam keluarga, memerlukan penyembuhan atas salah seorang anggota keluarga yang sedang menderita sakit, memerlukan solusi untuk mengatasi masalah keuangan yang menindih, mencari pekerjaan atau merestorasi perdamaian antara pihak-pihak yang bersengketa dalam keluarga dlsb. Kita sungguh membutuhkan iman bahwa Allah dapat melakukan segala hal dalam kehidupan kita yang kita pandang sebagai “kemustahilan”.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku percaya bahwa semua hal mungkin bagi-Mu dan Engkau dapat melakukan “kemustahilan” dalam hidupku. Tolonglah aku agar dapat sungguh percaya bahwa kehendak-Mu atas diriku dapat terjadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:5-25), bacalah tulisan yang berjudul “PANGGILAN ALLAH KEPADA KITA MASING-MASING” (bacaan untuk tanggal 19-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANPA NODA DOSA

TANPA NODA DOSA

(Bacaan Injil Misa, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA – Senin, 9 Desember 2019)

Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT

Image result for MARY IMMACULATE CONCEPTION"

Catatan: Hari Raya khusus ini dirayakan pada hari ini karena tanggal 8 Desember 2019 bertepatan dengan hari Minggu Adven II.

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: Ef 1:3-6,11-12. 

“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38)

Dalam fiat (persetujuan) Maria kepada Allah ini. Lukas menunjukkan kepada kita secara sekilas hati Maria yang tak bernoda. Penulis Injil ini menunjukkan kepada para pembaca Injilnya sebuah hati yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah – tanpa reserve – yang mengasihi-Nya, dan ingin menyenangkan dan taat kepada-Nya lebih daripada segalanya yang lain. Dikaruniai oleh Allah, dengan bebas Maria merangkul rencana penyelamatan Allah dan rela untuk berkorban apa saja demi terlaksananya rencana tersebut.

Jadi, benarlah – teristimewa pada hari yang istimewa ini – apabila kita menghormati hati Maria yang tak bernoda. Namun benarlah juga apabila pada hari ini kita mengenang hal sama yang menjaga Maria dari efek-efek dosa pada saat ia mulai diperkandung dalam rahim ibunya – keuntungan-keuntungan dari kematian dan kebangkitan Yesus yang kita peroleh pada saat pembaptisan. Ketika kita dibaptis, kita dibasuh bersih dari segala noda dosa, dan surga pun terbuka bagi kita. Roh Kudus menaungi kita, dan Yesus datang untuk hidup dalam hati kita. Kita menjadi mampu memiliki disposisi kasih dan kepercayaan terhadap Allah seperti yang dimiliki oleh Maria. Sesungguhnya, kita semua dapat mempunyai hati yang tak bernoda (Inggris: immaculate heart). Ini bukanlah pernyataan yang berlebihan atau “lebai”!

Tentu saja hal ini tidak akan terjadi secara otomatis. Suatu disposisi seperti yang dimiliki oleh Maria haruslah dibentuk dalam diri kita dengan berjalannya waktu selagi kita melakukan pertobatan atas dosa-dosa kita dan menempatkan diri kita sebagai hamba-hamba yang melayani Allah. Disposisi ini diberi asupan “makanan” setiap kali kita berjumpa dengan Yesus dalam sakramen-sakramen dan dalam doa-doa kita. Disposisi ini akan diperkuat setiap saat kita berjumpa dengan Yesus dalam diri orang miskin dan “wong cilik” pada umumnya.

Kita memang harus berupaya untuk menyingkirkan pikiran-pikiran kita yang penuh kedosaan dan kecenderungan-kecenderungan buruk. Memang upaya seperti ini tidaklah mudah, namun lihatlah ganjaran yang akan kita peroleh kelak! Kita juga dapat memiliki hati yang taat kepada Allah dan senantiasa memiliki komitmen agar rencana Allah menjadi kenyataan. Semakin jauh kita berjalan di atas jalan yang disediakan oleh Yesus, semakin intim pula relasi kita dengan Allah sebagaimana yang telah dialami oleh Maria.

Kita tidak pernah boleh melupakan apa yang telah terjadi atas diri kita pada saat kita dibaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus! Janganlah kita lupa bahwa innocense kita dipulihkan pada saat pembaptisan, demikian juga dengan kemurnian hati, dan kuasa Allah dalam diri kita. Jadi, sebenarnya hati murni seperti yang dimiliki oleh Maria dapat kita miliki juga. Selagi kita berketetapan hati dan terus mengejar kemurnian itu, maka Allah Bapa akan membuat upaya kita itu menjadi kenyataan dalam diri kita.

DOA: Yesus Kristus, aku menyembah Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Aku memuji kebesaran-Mu, ya Allah Pencipta langit dan bumi. Terima kasih penuh syukur kupanjatkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepadaku sebuah hati baru yang tidak lagi digelapkan oleh dosa, melainkan telah dibuat murni oleh darah-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, berikanlah kepadaku kekuatan dan keberanian untuk bekerja sama dengan Engkau dalam pewartaan Injil-Mu kepada dunia di sekelilingku. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:3-6,11-12),  bacalah  tulisan yang berjudul “SEBAGAI PUJI-PUJIAN BAGI KEMULIAAN-NYA” (bacaan tanggal 9-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 6 Desember 2018 [Peringatan S. Nikolaus, Uskup]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENTINGNYA MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN

PENTINGNYA MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN

(Bacaan Injil Misa,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Jumat, 29 November 2019)

Keluarga besar Fransiskan: Pesta Semua Orang Kudus Tarekat

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33) 

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81 

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa sebagaimana pohon ara atau pohon-pohon lainnya yang sudah bertunas menandakan sudah dekatnya musim panas, demikian pula akan ada tanda-tanda yang pasti bahwa kerajaan Allah sudah dekat. Metafora yang digunakan Yesus dipahami dengan baik oleh para pendengar-Nya yang adalah orang-orang Yahudi. Mereka memahami bahwa pohon ara akan berbuah dua kali dalam satu tahun – pada awal musim semi dan pada musim gugur. Kitab Talmud mengatakan bahwa buah pertama dimaksudkan untuk datang pada hari setelah Paskah – saat di mana orang-orang Israel percaya bahwa Mesias akan melayani dalam kerajaan Allah.

Dengan mengajarkan perumpamaan ini, Yesus sebenarnya menjelaskan pentingnya bagi orang-orang untuk membaca “tanda-tanda zaman” seperti para petani harus mendengarkan dan memahami prakiraan cuaca agar berhasil dalam bercocok-tanam, maka kita pun harus mampu untuk mendengar dan mengerti tanda-tanda dari Allah dan karya-karya-Nya dalam kehidupan kita sehingga kita dapat siap untuk kedatangan kerajaan-Nya.

Allah berbicara dengan banyak cara: lewat pembacaan dan permenungan Kitab Suci, lewat ajaran-ajaran Gereja, lewat kata-kata yang diucapkan saudari-saudara Kristiani lainnya, dalam hati kita, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia. Akan tetapi, bagaimanakah kiranya kita dapat mengenali suara-Nya di tengah-tengah suara-suara lainnya yang menarik perhatian kita? Rasa percaya (trust) yang didasarkan pada kerendahan hati dan rasa sesal mendalam atas dosa-dosa kita dapat mulai membuka telinga-telinga kita. Mengambil risiko-risiko kecil, senantiasa memohon Roh Kudus agar mengajar kita, semua ini dapat menolong kita bertumbuh dalam keyakinan bahwa Allah tidak ingin meninggalkan kita dalam kegelapan. Jadi, selalu ada kemungkinan bagi kita untuk belajar bagaimana memandang dengan mata iman, mendengarkan dengan telinga-telinga pengharapan, dan memberi tanggapan dengan hati penuh cintakasih.

KKEDATANGANNYA UNTUK KEDUA KALINYA - 4ita tidak mengetahui kapan hari akhir itu akan datang, akan tetapi Yesus mengatakan kepada kita: “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36). Yesus juga memberikan kepada kita tanda-tanda untuk menolong kita agar berjaga-jaga dan dipenuhi hasrat mendalam akan kedatangan kerajaan-Nya. Setiap hari kita dapat menyambut Yesus masuk ke dalam hati kita dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan sedikit lagi rencana-Nya. Allah ingin memenuhi diri kita dengan antisipasi penuh gairah selagi kita menantikan kedatangan-Nya kembali. Marilah kita mendengarkan ketukan-Nya pada pintu hati kita dan menyambut kedatangan kerajaan-Nya dalam kepenuhannya. Peganglah senantiasa kata-kata-Nya: “Perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Luk 21:33).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu mengenali tanda-tanda-Mu hari ini. Apakah yang Kauinginkan untuk kulihat? Bukalah pintu surga, ya Tuhan, agar aku dapat memperoleh pandangan sekilas dari kerajaan-Mu selagi aku berdiri siap untuk menyapa Engkau pada saat kedatangan-Mu kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan berjudul “KETAHUILAH BAHWA KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT” (bacaan tanggal 29-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 November 2019 [Peringatan Wajib S. Yakobus dr Marka, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS