Posts tagged ‘INJIL LUKAS’

KELAHIRAN SANTO YOHANES PEMBAPTIS

KELAHIRAN SANTO YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Rabu, 24 Juni 2020)

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26 

Allah memilih Zakharia dan Elisabet sebagai pribadi-pribadi yang melalui diri mereka itu Dia akan mengerjakan rencana penyelamatan-Nya, padahal di Israel pada waktu itu terdapat orang-orang yang jauh lebih muda, lebih kuat, atau lebih terpelajar dari kedua orang tersebut. Ini adalah sebuah misteri ilahi: Allah memilih menggunakan seorang imam tua dan istrinya yang mandul. Allah melihat sesuatu yang bernilai tinggi dalam kedua orang Yahudi yang saleh dan taat ini: “Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” (lihat Luk 1:6). Mereka terbilang dalam sisa-sisa Israel yang tetap tak bercacat dan setia pada hukum perjanjian dengan YHWH Allah (kaum Anawim).

Melalui kerja sama sedemikian ini, Bapa surgawi akan memulai pemenuhan janji-Nya yang sudah lama dinanti-nantikan, bekerja melalui anak laki-laki yang dilahirkan dari pasangan  pasutri lansia ini. Jikalau para orangtua menggunakan disiplin untuk melatih/menggembleng anak-anak mereka dan mempersiapkan mereka bagi kehidupan orang dewasa, maka YHWH (melalui hukum) mempersiapkan umat-Nya yang setia (sisa-sisa Israel) untuk menerima rahmat melalui Kristus.

Anak laki-laki yang akan dilahirkan oleh Elisabet itu dinamakan Yohanes seturut perintah malaikat kepada Zakharia. Ketika sudah berkarya di depan publik dia dikenal sebagai Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis ini adalah yang terbesar dari para nabi yang datang ke dunia sebelum Yesus. Orang kudus ini berkonfrontasi dengan para pemimpin Yahudi, baik yang sekular maupun yang berasal dari kalangan agama. Yohanes juga menghibur serta memberi pengharapan kepada para pemungut cukai dan para PSK, dan ia menghayati suatu kehidupan yang didedikasikan kepada doa dan puasa. Namun yang lebih penting lagi adalah, bahwa Yohanes menjadi bentara sang Mesias dan mengakui dirinya sebagai “sahabat sang mempelai laki-laki” (lihat Yoh 3:29).

Dalam membesarkan anak mereka, Zakharia dan Elisabet mendidik agar supaya anak itu menjadi seorang yang sangat menghormati dan taat kepada YHWH. Sejak masa kecilnya, Allah telah memisahkan Yohanes untuk membentuknya menjadi bentara Kabar Baik. Allah telah mempercayakan anak ini kepada kedua orangtuanya yang saleh, kemudian memenuhi dirinya dengan Roh Kudus “sejak dari rahim ibunya” (Luk 1:15). Sang Pemazmur telah mengantisipasikan bagaimana kiranya kehidupan Yohanes kelak: “Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya…… Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib”  (Mzm 71:15,17).

Selama hidupnya Yohanes Pembaptis sungguh menghayati apa yang yang ditulis sang Pemazmur ini dan juga selalu bekerja sama penuh taat dengan rencana Allah. Karena Yohanes memperkenankan Allah untuk membentuk dan memakai dirinya, maka dia mampu mengumumkan dengan jelas kedatangan sang Mesias, dan mempersiapkan orang-orang Israel untuk menerima Juruselamat mereka. Memang mudah untuk melupakan Yohanes selagi kita memusatkan segalanya pada Yesus Kristus, akan tetapi kita perlu melihat apa yang direncanakan Allah untuk dicapai melalui Yohanes dan bagaimana Yohanes bekerja sama dengan Allah sehingga rencana itu pun terpenuhi. Sementara karya Kristus akan membawa umat-Nya kepada kepenuhan rahmat, hukum mempersiapkan mereka dengan mengajar mereka jalan Allah dan membawa mereka kepada ambang pintu rahmat.

Dengan membicarakan rencana Allah pada tataran praktis, kita dapat mempersiapkan diri untuk suatu kedatangan Kristus ke dalam kehidupan kita secara lebih mendalam lagi. Apakah kita mengambil tanggungjawab di hadapan Allah untuk kebenaran yang telah dinyatakan kepada kita? Apabila kita adalah orangtua, apakah kita mengasihi dan penuh perhatian kepada anak-anak kita (bahkan setelah mereka beranjak dewasa) dengan mengajar mereka cara-cara (jalan-jalan) Allah? Pertanyaan-pertanyaan sedemikian dapat menolong kita untuk fokus pada rencana Allah. Semoga sementara kita menggumuli pertanyaan-pertanyaan itu, hati kita dapat menjadi lebih terbuka  bagi ajaran Allah dan sentuhan penuh kasih dari Roh Kudus-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, kami tahu bahwa rencana-Mu bagi kami adalah indah dan demi kebaikan kami semata. Oleh Roh Kudus-Mu – sebagaimana yang terjadi dengan Yohanes Pembaptis – bentuklah kami menjadi seorang insan yang selalu mau dan mampu bekerja sama dan taat kepada segala rencana-Mu atas diri kami. Kami sungguh ingin menjadi murid-murid Yesus Kristus yang baik, Ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MEMPUNYAI RENCANA INDAH BAGI KITA MASING-MASING” (bacaan tanggal 24-6-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-06 BACAAN HARIAN JUNI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-6-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Juni 2020 [Peringatan Wajib S. Thomas More, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH MUNGKIN BAGI KITA UNTUK MEMPUNYAI HATI SEPERTI HATI MARIA?

APAKAH MUNGKIN BAGI KITA UNTUK MEMPUNYAI HATI SEPERTI HATI MARIA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Hati Tersuci SP Maria – Sabtu, 16 Juni 2012)

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Ketika hari-hari itu berakhir, sementara mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah atiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah para guru agama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Semua orang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan jawaban-jawaban hyang diberikan-Nya. Ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Lihat, bapak-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan tetap hidup dalam asuhan mereka. Ibu-Nya pun menyimpan semua hal itu di dalam hatinya. (Luk 2:41-51) 

Bacaan Pertama: Yes 61:9-11; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1,4-8 

Injil Lukas – dalam satu bab saja, dengan rentang waktu 12 tahun – menunjukkan serentetan peristiwa dalam kehidupan Maria yang dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang sungguh indah mempesona: dikunjungi oleh seorang malaikat, mengandung dan melahirkan secara ajaib, mendengar nubuatan seorang nabi tua di Bait Allah, …… dan sekarang menyaksikan anak laki-lakinya yang baru berusia dua belas tahun sedang mengajar dan berdiskusi dengan para guru agama di Bait Allah. Pada hari ini, seperti juga hari-hari sebelumnya, reaksi Maria adalah menaruh kepercayaan kepada Allah tanpa ribut-ribut dan “menyimpan semua hal itu di dalam hatinya” (Luk 2:51).

Apakah mungkin bagi kita untuk mempunyai hati seperti hati Maria? Oleh rahmat Allah, tentu mungkin! Kita telah dilahirkan kembali dalam air baptis dan dibersihkan oleh darah Kristus. Halangan-halangan telah disingkirkan, dan dengan pertolongan Roh Kudus hati kita dapat menjadi murni seperti hati Maria.

Allah menginginkan agar kita mengembangkan kebiasaan untuk merenungkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita walaupun kita tidak sepenuhnya memahami. Inilah yang dilakukan oleh Maria, mulai ketika dia dikunjungi oleh malaikat agung Gabriel. Dalam peristiwa itu Maria tidak berargumentasi atau menantang kata-kata sang malaikat agung. Maria percaya bahwa “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (lihat Luk 1:37-38).

Kemudian, di tengah perjalanannya mengunjungi Elisabet di Ain Karem di pegunungan Yehuda kiranya Maria sempat merenungkan kata-kata Gabriel dan dia mohon hikmat dari Allah. Itulah sebabnya mengapa, ketika Elisabet memberi salam kepadanya dengan kata-kata yang sekarang sangat kita kenal, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42; lihat doa “Salam Maria”),

Maria mampu untuk mengungkap ruang lingkup dari rencana-rencana Allah: “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:48-49). Dalam keheningan meditasinya, Allah menyatakan kepada Maria peranan yang harus dimainkannya dalam sejarah penyelamatan.

Bagaimana kita dapat merenungkan hal-hal ilahi, hal-hal surgawi? Pertama-tama, kita harus menyediakan ruangan dalam hati kita bagi-Nya dengan meminimalisir cinta-cinta yang lain: cinta akan prestise, kepemilikan harta-kekayaan, pencarian kenikmatan, dlsb. Kemudian kita harus menyediakan waktu untuk memperkenankan Allah meresap ke dalam pikiran kita.

Dia akan berbicara kepada kita selagi kita merenungkan pertanyaan tentang kehidupan. “mengapa aku diciptakan?” “Di mana Allah sedang bergerak dalam hatiku?” “Apa yang Ia ingin capat melalui diriku, dan bagaimana saya menanggapinya?” Apabila kita menyediakan waktu setiap hari untuk membuka hati kita bagi Allah, maka Dia pun akan senang menunjukkan kehendak-Nya, dan hati kita pun akan menjadi semakin serupa dengan hati Maria.

DOA: Datanglah Roh Kudus, tolonglah aku agar dapat mendengar bisikan-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat memberi tanggapan kepada Allah seperti yang dilakukan oleh Maria dan juga turut memajukan Kerajaan-Nya di atas bumi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:41-51), bacalah tulisan yang berjudul “KITA SEMUA DAPAT BELAJAR DARI TELADAN MARIA” (bacaan tanggal 20-6-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-06 BACAAN HARIAN JUNI 2020. 

Cilandak, 17 Juni 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERSEKUTUAN YANG AKRAB DENGAN YESUS

PERSEKUTUAN YANG AKRAB DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH III [Tahun A], 26 April 2020)

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35) 

Bacaan Pertama: Kis 2:14,22-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: 1Ptr 1:17-21

Dua orang murid yang melakukan perjalanan menuju Emaus adalah orang-orang yang sedang dirundung rasa sedih yang mendalam. Mereka sungguh mengharapkan segala sesuatunya masih sama seperti pada waktu sebelum Yesus ditangkap. Mereka masih ingat bagaimana kata-kata Yesus – perumpamaan-perumpamaan-Nya, janji-janji-Nya, seluruh ajaran-Nya – telah menembus hati mereka, menyembuhkan mereka dan memenuhi diri mereka dengan kasih Allah. Apa yang akan mereka lakukan sekarang?

Lalu, di tengah-tengah diskusi mereka, seorang asing bergabung dengan mereka. Mereka tidak mengenali diri-Nya, namun ketika Dia berbicara, hati mereka lagi-lagi menjadi berkobar-kobar. Ada pengharapan dan tujuan yang mereka tidak begitu pahami yang mulai terbangun dalam diri mereka. Mereka begitu tersentuh oleh kata-kata “orang asing” itu sehingga mereka mendesak Dia untuk tinggal bersama mereka. Rencana Allah mulai menjadi masuk akal bagi mereka sementara hati mereka terbakar di dalam diri mereka. Pada akhirnya, karena kata-kata orang asing itu telah membuka hati mereka, maka mereka mampu untuk mengenali Dia ketika Dia memecah-mecahkan roti. Dia adalah Yesus sendiri!

Setiap kali kita membaca dan merenungkan sabda Allah, kita diundang ke dalam suatu persekutuan yang akrab dengan Yesus. Ia ingin menyalakan dalam hati kita suatu rasa haus yang semakin mendalam untuk mengenal diri-Nya. Pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, ketika Petrus berkhotbah kepada orang banyak, hati mereka tersayat, dan berkata, “Apa yang harus kami perbuat?” (Kis 2:37). Ini adalah hasrat Allah bagi kita juga. Yesus rindu untuk menyayat melalui kabut dalam hati kita dan menggerakkan kita untuk memberikan tanggapan kepada-Nya.

Allah berbicara kepada kita dalam Misa Kudus, dalam Liturgi Sabda. Selagi sabda Allah dalam Kitab Suci diproklamasikan, Yesus sedang mengajar serta menggugah kita, mengoreksi kita, mengingatkan kita akan kesetiaan-Nya, dan mengatakan kepada kita betapa dalam Dia mengasihi kita. Maukah kita memperkenankan Kitab Suci untuk meyakinkan kita akan kasih Bapa surgawi?

Melalui pembacaan dan permenungan Kitab Suci, ada banyak yang dihasrati oleh Yesus untuk dikatakan-Nya kepada kita. Ia akan menempatkan api kasih-Nya dalam hati kita. Ia telah memberikan suatu karunia sangat berharga dalam sabda-Nya yang hidup dan penuh kuat-kuasa. Apabila kita sungguh mendengarkan, maka pikiran dan hati kita akan diperbaharui. Kemudian kita akan mampu untuk menyembut Dia sepenuhnya dalam Ekaristi.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, tolonglah kami agar dapat melihat dan mendengar Engkau dalam Kitab Suci yang telah Kauberikan kepada kami. Kami juga berkeinginan agar hati kami berkobar-kobar dengan api kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul “PERISTIWA EMAUS: MELIHAT YESUS DALAM EKARISTI” (bacaan tanggal 26-4-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-04 BACAAN HARIAN APRIL 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 April 2020    

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERAWAN MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIELMARIA

PERAWAN MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIEL

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KABAR SUKACITA – Rabu, 25 Maret 2020)

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 

Pada peristiwa “Maria diberi kabar oleh Malaikat Tuhan”,  malaikat agung Gabriel mengundang Maria untuk bekerja sama dalam rencana penyelamatan Allah. Ketika sang perawan dari Nazaret bertanya bagaimana panggilan agung sedemikian mungkin terjadi karena dia belum bersuami (Luk 1:34), maka Gabriel menjelaskan bahwa Maria tidak akan mengandung karena cinta seorang manusia lain, melainkan oleh Roh Kudus: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk 1:35).

Bayangkan iman yang diperlukan Maria untuk memberikan jawaban dengan menyerahkan dirinya dengan bebas kepada kehendak Allah atas dirinya. “Ya,” kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Kepercayaan, iman, pengharapan, kerendahan hati/kedinaan, ketaatan, dan kasih, semua bercampur dan terangkum dengan indah dalam kata-kata sederhana yang diucapkan oleh Maria. Dan dunia pun diubah untuk selama-lamanya karena kata-kata yang diucapkan oleh perawan Nazaret ini.

Cerita dari Injil Lukas inilah yang menyebabkan Santo Fransiskus dari Assisi dan banyak orang kudus lainnya, menyapa Maria sebagai “mempelai Roh Kudus” (“Antifon Santa Perawan Maria” dalam Ibadat Sengsara Tuhan). Akan tetapi kita tidak boleh membatasi gambaran ini sekadar pada saat  Yesus dikandung dalam rahim Perawan Maria oleh Roh Kudus. Roh Kudus “menaungi” Maria tidak hanya pada saat awal peziarahannya di atas muka bumi ini. Ada demikian banyak lagi peristiwa yang dialami oleh Maria dalam kehidupan imannya. Sepanjang hidupnya, Maria bertumbuh dalam ketergantungannya pada Roh Kudus dan menjadi seorang saksi yang lebih besar atas hidup baru yang dibawa oleh Yesus dengan kedatangan-Nya di tengah umat manusia.

Sebagaimana halnya dengan Maria, kita juga dipanggil untuk mengatakan “ya” kepada Allah tidak sekali saja, melainkan lagi, lagi dan lagi. Seperti sang perawan dari Nazaret kitapun telah diundang ke dalam relasi yang erat dengan Roh Kudus – untuk menjadi tempat kediaman-Nya, mendengarkan-Nya, bertindak-tanduk di bawah bimbingan-Nya, dan membawa Kristus ke tengah dunia. Seperti Maria, kita pun dapat juga bertanya: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?”

Santo Augustinus pernah menulis, “Ibunda  Kristus membawa-Nya dalam rahimnya. Semoga kita membawa-Nya dalam hati kita. Sang perawan menjadi hamil dengan inkarnasi Kristus. Semoga hati kita menjadi hamil dengan iman dalam Kristus. Ia (Maria) membawa sang Juruselamat. Semoga jiwa-jiwa kita membawa keselamatan dan puji-pujian”.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar dapat mendengar panggilan-Mu untuk mengasihi dan melayani. Tolonglah aku untuk berkata “ya” kepada Dikau. Utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku, sehingga Yesus sungguh dapat hadir dalam hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan dengan judul “KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MENGATAKAN YA KEPADA ALLAH (bacaan tanggal 25-3-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03 BACAAN HARIAN MARET 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-3-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMUJI PENDEKATAN TERHADAP ALLAH DARI SI PEMUNGUT CUKAI

YESUS MEMUJI PENDEKATAN TERHADAP ALLAH DARI SI PEMUNGUT CUKAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Sabtu, 21 Maret 2020)

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan perumpamaan. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk 18:9-14) 

Bacaan Pertama: Hos 6:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,18-21 

Apakah gambaran anda tentang Allah? Menurut anda, apa kiranya yang ada dalam pikiran Allah ketika Dia memandang anda? Orang Farisi dan si pemungut cukai mempunyai gambaran (imaji) tentang Allah yang sangat berbeda satu sama lain; konsepsi mereka yang berbeda tentang Dia dan bagaimana Dia dipersepsikan secara berbeda oleh mereka masing-masing menyebabkan mereka berdoa dengan cara yang satu sama lain berbeda.

Bagi si Farisi, hubungannya dengan Allah menuntutnya untuk memaksimalkan perbuatan-perbuatan baiknya dan meminimalkan perbuatan-perbuatan buruknya. Martabatnya dan pembenaran atas dirinya didasarkan kepada apa yang dilakukan olehnya bagi Allah, atau sedikitnya sampai seberapa berhasil dia menghindari penghakiman dari Allah. Allah menentukan standar; dan si Farisi hanya harus memenuhi standar itu.

Sebaliknya, bagi si pemungut cukai, Allah itu penuh bela rasa dan belas kasihan. Ia juga mengetahui bahwa Allah menetapkan suatu standar, tetapi dia juga menyadari bahwa dengan kekuatannya sendiri dia tidak akan mampu memenuhi standar tersebut. Namun demikian, dia tidak kehilangan pengharapan atau berputus asa, melainkan menaruh dirinya di tangan-tangan Allah. Dia mengakui bahwa segalanya yang dimilikinya adalah karena berhutang kepada Allah – bahkan keberadaannya sendiri. Dia senantiasa harus bergantung kepada Allah dan mengharapkan pertolongan-Nya.

Si pemungut pajak juga secara benar mengidentifikasikan permohonannya. Sementara si Farisi menunjuk kepada perbuatan-perbuatan baik sebagai dasar dari statusnya. Si pemungut cukai berdoa: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13). Dia mengakui bahwa kebutuhannya akan belas kasihan Allah tidak hanya disebabkan oleh dosa-dosanya.

Yesus memuji pendekatan terhadap Allah yang dilakukan si pemungut cukai, dan mengatakan: “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah” (Luk 18:14). Dari pemahamannya yang benar mengenai Allah, dia memohon belas kasihan Allah dan pengampunan atas dirinya. Doanya didasarkan pada kebenaran yang terdapat dalam Mazmur hari ini: “Hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Mzm 51:19).

Dalam kasih-Nya, Allah Bapa kita semua ingin sekali menyentuh kita satu per satu. Dia menginginkan ketaatan kita, namun Ia tidak membuat ketaatan sebagai sebuah penghalang terhadap penyembuhan dan pengampunan-Nya. Yakin seyakin-yakinnya bahwa kita adalah anak-anak-Nya dan Ia adalah Bapa kita, marilah kita mohon kepada-Nya untuk melingkupi kita dengan belas kasihan dan kasih-Nya. Allah sungguh ingin menyembuhkan dan mengampuni kita, karena Dia ingin membuat kita masing-masing sebagai seorang pribadi yang utuh.

DOA: Bapa surgawi, kami mengakui bahwa segala sesuatu yang baik berasal dari-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah agar hati kami masing-masing dapat menjadi serupa dengan Hati Kudus Yesus, Putera-Mu terkasih. Biarlah kemenangan Putera-Mu atas dosa membasuh bersih dosa-dosa kami dan mentransformasikan diri kami menjadi serupa dengan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hos 6:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENANGGAPI SERUAN NABI HOSEA” (bacaan tanggal 21-3-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03 BACAAN HARIAN MARET 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-3-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

“NASIB” SEORANG NABI DI KAMPUNGNYA SENDIRI

“NASIB” SEORANG NABI DI KAMPUNGNYA SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Senin, 16 Maret 2020)

Kata-Nya lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Lagi pula, Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Pada zaman Nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang disembuhkan selain Naaman, orang Siria itu. Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. (Luk 4:24-30)

Bacaan Pertama: 2 Raj 5:1-15a; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3; 43:3-4

Yesus kembali ke kampung halaman-Nya, Nazaret, untuk mewartakan Kabar Baik bahwa firman Allah dalam Yes 61:1-4 telah digenapi. Allah telah mengutus sang Mesias untuk memelopori zaman baru kebebasan yang penuh rahmat dari sang Ilahi. Namun “gayung tak bersambut!”

Apa kiranya yang membuat  orang-orang sekampung halaman Yesus itu begitu marahnya? Bukankah semuanya dimulai dengan baik-baik saja? Ayat-ayat Kitab Suci dari Kitab nabi Yesaya yang dibacakan oleh-Nya pun adalah ayat-ayat yang penuh dengan penghiburan; ….. warta pembebasan bagi orang-orang kecil, wong cilik. Ramai-ramai dan keributan mulai terjadi ketika Yesus mendeklarasikan diri-Nya sendiri sebagai sang Mesias yang dijanjikan itu – melalui Mesias inilah keselamatan dari Allah akan mengalir. Mungkin saja orang-orang itu berpikir, “Siapa ini? Bukankah dia presis sama seperti kita, orang biasa-biasa saja, seorang tukang kayu?” Kata mereka: “Bukankah Ia anak Yusuf?” (Luk 4:22). Tak peduli akan laporan-laporan yang indah tentang mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus di seluruh tanah Galilea, mereka tetap tak mampu melepaskan pemikiran yang sudah tertanam di kepala mereka, sehingga sungguh sulit untuk percaya bahwa Yesus adalah “Dia yang diurapi”, yang diutus oleh Allah. Jadi meskipun Yesus telah mengingatkan mereka bahwa Allah memilih seorang janda kafir dari Sarfat dan Namaan, orang kusta dari Siria (dan bukannya janda-janda atau orang-orang kusta yang banyak di Israel), tetap saja mereka tidak mengerti dan tentu tidak dapat menerima-Nya.

Reaksi keras orang-orang Nazaret terhadap Yesus dapat merupakan teka-teki bagi kita. Bagaimana mungkin mereka menolak seseorang yang datang justru untuk menyelamatkan mereka? Jangan salah, kita pun dapat menjadi seperti orang-orang Nazaret itu. Kita juga dapat berbahagia ketika mendengar Yesus mengucapkan sabda yang menyenangkan dan menggembirakan pikiran, akan tetapi merasa sulit untuk menerima sabda-Nya yang menantang dan berisikan petuah dan nasihat. Begitu mudahnya untuk menolak cara-cara-Nya ketika  semuanya itu berbeda dengan ide kita sendiri – ketika Dia mengatakan kepada kita untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, atau untuk mengampuni mereka yang telah melukai kita.

Sungguh dapat mengecilkan hati kalau mendengar bahwa kita manusia, “mahkota ciptaan”, tetap dapat menolak Yesus. Tetapi, kita pun boleh bergembira untuk mengetahui bahwa Yesus dengan penuh kerelaan mau mengalami penolakan, bahkan salib sekali pun, demi menyelamatkan kita semua. Karena Dia telah mematahkan kuasa dosa, kita pun dapat dibebaskan dari kekuatan-kekuatan di dalam dan di sekeliling kita yang berusaha untuk menolak Yesus. Yang diminta Yesus hanyalah bahwa kita mengakui kebutuhan-kebutuhan  kita dengan tulus dan menggantungkan diri pada Roh Kudus-Nya untuk memberdayakan kita. Langkah-langkah kita yang paling kecil sekali pun dalam mendekat kepada Yesus dapat memberikan imbalan yang paling besar.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami mengundang Engkau untuk datang lebih dalam lagi ke dalam hati kami dan membuat diri-Mu lebih nyata bagi kami. Tolonglah kami, teristimewa dalam masa Prapaskah ini, untuk lebih menyerahkan kehidupan kami sepenuhnya kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DAN KARYA-KARYA-NYA DITOLAK” (bacaan tanggal 16-3-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 20-03  BACAAN HARIAN MARET 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-3-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG-ORANG SEPERTI LAZARUS DALAM KEHIDUPAN KITA

ORANG-ORANG SEPERTI LAZARUS DALAM KEHIDUPAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Kamis, 12 Maret 2020)

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepada-Nya Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31) 

Bacaan Pertama: Yer 17:5-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Orang kaya dalam perumpamaan Yesus ini kelihatannya mempunyai segalanya: pakaian dan jubah dari kain yang tenunannya halus dan mahal, makanan-minuman yang terbaik, dan kita dapat mengasumsikan bahwa para hamba atau pelayannya senantiasa siap melayaninya dalam segala kebutuhannya. Selagi menceritakan perumpamaan ini, tentang si orang kaya itu Yesus mengatakan bahwa “setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan” (Luk 16:19) untuk menunjukkan bahwa orang kaya itu tidak kekurangan sesuatu apa pun untuk hidup baik dan nyaman. Orang ini begitu kaya dan berkuasa sehingga ada indikasi bahwa keluarganya pun bahkan memiliki salinan Kitab Taurat sendiri dan juga kitab para nabi (lihat Luk 16:29). Dengan segala harta-kekayaan yang dimilikinya dan juga Kitab Sucinya, maka tentunya tidak ada alasan baginya untuk mengabaikan kebutuhan orang miskin yang berbaring dekat pintu rumahnya. Namun sayangnya, orang kaya itu mengabaikan keberadaan si miskin itu.

Kesalahan orang kaya itu bukanlah bahwa pada kenyataannya dia adalah seorang kaya, melainkan dia begitu sibuk dengan pemuasan dirinya dengan segala kenikmatan sehingga tidak memperkenankan sabda Allah dalam Kitab Suci – atau seruan orang miskin – untuk merobek hatinya. Sebagai sabda Allah, Kitab Suci memiliki kuat-kuasa untuk merobek hati kita dan membuka diri kita bagi kebenaran-kebenaran Injili dan DatangBaru. Abraham mengatakan kepada si orang kaya itu bahwa saudara-saudaranya mempunyai “Musa dan para nabi” untuk mengajar mereka tentang Allah, perintah-perintah-Nya dan kasih-Nya – dan semua itu seharusnya cukup bagi mereka.

Open bible on wooden table

Kitab Suci sebagai sabda Allah mempunyai kekuatan untuk menyentuh dan mengubah diri kita. Sang pemazmur mengatakan: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN (YHWH), dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam” (Mzm 1:1-2).

Hidup kita sehari-hari dipenuhi kesibukan, kebutuhan-kebutuhan keluarga, tuntutan-tuntutan di tempat kerja, dan urusan rumah tangga yang kelihatannya tak selesai-selesai. Ini semua adalah tanggung-jawab yang baik dan perlu.  Namun apabila semua itu menjadi fokus kita satu-satunya, maka dengan mudah membuat kita luput menyadari keberadaan orang-orang seperti Lazarus dalam kehidupan kita, dan seperti si orang kaya dalam perumpamaan Yesus ini, kita pun akan terjerat pada urusan-urusan kita sendiri.

Allah menginginkan begitu banyak lagi bagi diri kita. Yang diperlukan dari diri kita adalah membuka pintu dan jendela hati kita dan menyerahkan diri kita kepada-Nya, maka kita pun akan menemukan kekayaan berkelimpahan dari sabda-Nya, kekayaan yang dapat menjadi makanan pesta kita setiap hari. Semoga kita senantiasa membuka diri kita bagi sabda Allah.

DOA: Datanglah Roh Kudus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang terbuka  dan dapat menerima pengajaran-Mu. Aku mungkin sangat sibuk hari ini, namun aku tetap memohon kepada-Mu untuk menolong aku menyerahkan waktuku dan pemusatan perhatianku kepada-Mu, sehingga aku pun dapat disentuh oleh sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “BERSEDIAKAH KITA BERBELA RASA TERHADAP LAZARUS-LAZARUS YANG KITA JUMPAI DALAM KEHIDUPAN KITA?” (bacaan tanggal 12-3-20) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03  PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-3-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS SENDIRILAH STANDAR KITA!

YESUS KRISTUS SENDIRILAH STANDAR KITA!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Senin, 9 Maret 2020)

Peringatan Fakultatif S. Fransiska dari Roma, Janda, OFS – Pendiri Tarekat

Ordo Santa Clara (Ordo II S. Fransiskus): S. Katarina dr Bologna, Perawan

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:36-38) 

Bacaan Pertama: Dan 9:4b-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 79:8,9,11,13 

Sepintas lalu, kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini terasa ditujukan kepada para lawan-Nya, yaitu orang-orang Farisi, para dogmatis dan ekstrimis pada zaman Yesus – bukan ditujukan pada diri kita sendiri. Namun kita harus ingat bahwa ini adalah bagian dari “Khotbah di tanah datar” (Luk 6; bdk. “Khotbah di Bukit” dalam Mat 5-7), artinya di sini Yesus bersabda kepada para murid-Nya sendiri: “Janganlah kamu menghakimi”; “Janganlah kamu menghukum”, “Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk 6:37,38). Sabda Yesus yang terasa keras-keras itu sungguh diperuntukkan bagi mereka yang mengasihi dan sudah menerima kepemimpinan Yesus. Jadi, sungguh ditujukan kepada kita!

Jadi, sebenarnya di sini Yesus menyatakan bahwa standar-standar yang kita pakai dalam mengukur orang-orang lain adalah suatu indeks dari kesehatan spiritual kita, indeks dari gambaran kita tentang Allah dan tentang Gereja. Tidak ada seorang pun dari kita mempunyai sebuah mikroskop yang cukup kuat untuk memampukan kita “mengintip” kondisi jiwa seorang pribadi manusia lain. Yang mampu kita lihat hanyalah hal-hal yang merupakan bagian luar – permukaan dari motif-motif seorang lain, niat-niatnya, dan pikiran-pikirannya. Selebihnya adalah soal kira-kira atau duga-duga saja. Itulah sebabnya mengapa Yesus mengingatkan kita untuk tidak menghakimi orang lain, menghukumnya atau tidak berbela rasa terhadap orang tersebut.

Apakah kata-kata Yesus ini kedengaran keras? Mengutuk? Bukan itu maksud Yesus. Sabda-Nya di sini memang merupakan “kata-kata keras”: sulit dan tidak enak didengar, namun sesungguhnya merupakan suatu undangan kepada kebebasan …… kepada kemerdekaan. Di sini, Yesus – sang Gembala Baik – seakan berseru: “Mari, datanglah kepada-Ku. Biarlah Engkau dikuatkan, kesehatan rohanimu dipulihkan, dan dibebaskan dari beban rasa bersalah dan rasa khawatir serta takut!”

Sementara kita mencari-cari “balok” di dalam mata kita, perkenanlah Roh Kudus untuk membimbing kita. Biarlah Dia dengan halus namun tegas serta pasti menunjukkan dosa-dosa yang selama ini menghalang-halangi upaya kita untuk mengikuti Tuhan Yesus. Di bawah pengawasan mata-Nya yang begitu tajam-menyelidik, mungkin saja kita menjadi merasa gelisah, namun semua ini hanyalah bersifat sementara. Kebebas-merdekaan yang akan dikecap jauh lebih membawa “nikmat” daripada ketidaknyamanan/kesusahan yang dialami sebelumnya. Bapa kita di surga adalah Allah yang baik, sungguh baik, satu-satunya yang baik; Ia tidak akan meninggalkan kita dalam keadaan frustrasi tanpa henti atau merasa bersalah secara terus menerus: terjebak  dalam situasi penuh masalah tanpa bayangan akan adanya solusi. Ketika Roh Kudus mengingatkan kita akan dosa-dosa kita, pada saat bersamaan Ia juga mengangkat hati kita dengan pengharapan akan kesembuhan dan pengampunan.

Pusat perhatian kita haruslah diri kita sendiri agar dengan demikian kita dapat melakukan “pemeriksaan batin”. Masa Prapaskah adalah suatu masa untuk menempatkan diri kita di hadapan salib Kristus dan meninjau dengan teliti hidup kita selama ini, cerita tentang keterlibatan kita dalam dosa dan juga bagaimana kita memperoleh rahmat yang dicurahkan Allah atas diri kita: apa yang kita telah cintai, siapa yang telah kita cintai, sampai berapa sensitif atau tidak sensitifnya kita terhadap rahmat Allah? Mengapa di hadapan salib Kristus? Karena kita berupaya untuk membanding-bandingkan diri kita dengan Yesus Kristus. Kita dipanggil untuk menjadi murid-murid-Nya. Yesus Kristus adalah “model” kita! Seperti dikatakan oleh Santo Paulus: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Flp 2:5). Kita tidak perlu mengukur superioritas atau inferioritas kita ketimbang orang-orang di sekeliling kita. Yesus Kristus sendirilah standar kita!

Di sisi lain, kita memerlukan “pemeriksaan batin” ini karena panggilan untuk mengasihi sesama! Seringkali, dalam upaya kita untuk mengasihi sesama kita, niat baik kita itu terhalang oleh luka-luka kita sendiri. Misalnya, sebagai seorang anak kecil kita mengalami KDRT yang dilakukan orangtua kita sendiri. Dalam situasi-situasi sedemikian kita mengembangkan pola-pola tertentu: cepat-cepat melarikan diri dari konflik; emosi yang diungkapkan secara meledak-ledak, bahkan seakan-akan ingin berkelahi. Apabila tidak ditangani, respons-respons sedemikian akan muncul setiap saat kita menghadapi kemarahan orang lain, walaupun tidak ditujukan kepada diri kita. Hasil dari suatu kerja pelayanan yang terganggu di sana-sini oleh pola-pola yang sedemikian tidak akan dihargai atau sangat efektif!

Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk menyembuhkan diri kita. Dia dapat menunjukkan kepada kita di mana kita harus melakukan pertobatan, mencari kesembuhan, atau mengampuni. Kita tidak akan mampu melakukan hal ini apabila kita mengandalkan pemikiran dan kemampuan kita sendiri. Akan tetapi, dengan ajaran Yesus, penyembuhan-Nya dan pengampunan-Nya dalam kehidupan kita, maka kita memiliki sesuatu yang indah untuk diberikan kepada orang-orang lain – sesuatu yang telah kita terima dari Yesus Kristus sendiri, yang adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Kita harus senantiasa mengingat bahwa kita dapat menjadi instrumen-instrumen penyembuhan dan kehidupan bagi orang-orang di sekeliling kita!

DOA: Tuhan Yesus Kristus, bukalah telinga (-hati)ku agar mampu mendengarkan sabda-Mu. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk menunjukkan kepadaku apa saja dalam diriku yang sesungguhnya Engkau inginkan untuk disembuhkan dan dipulihkan, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi sebuah instrumen penyembuhan dan pemulihan bagi orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:36-38), bacalah tulisan yang berjudul “AJARAN YESUS YANG KERAS” (bacaan tanggal 9-3-20) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03 BACAAN HARIAN MARET 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-3-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 9 Maret 2020

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIMEON DAN HANA

SIMEON DAN HANA: DUA ORANG ANAWIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah – Minggu, 2 Februari 2020)

Lalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orangtua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Lagi pula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, lalu ia menjadi janda sampai ia berumur delapan puluh empat tahun sekarang. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada  semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediaman mereka, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. (Luk 2:22-40) 

Bacaan Pertama: Mal 3:1-4 atau Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10 

“Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya.” (Mal 3:1)

Apakah sebenarnya yang diharapkan oleh Simeon dan Hana ketika mereka berdoa dan berpuasa di  Bait Allah dalam rangka kedatangan sang Mesias? Terkejutkah mereka ketika menyaksikan bahwa jawaban atas doa-doa mereka hanyalah seorang Anak kecil, belum berdaya dan masih sangat tergantung pada orangtua-Nya yang tergolong “wong cilik”? Dapatkah Anak yang masih kecil ini sungguh menjadi “Raja Kemuliaan” sebagaimana dinyatakan oleh sang pemazmur. “TUHAN (YHWH), jaya dan perkasa, YHWH, perkasa dalam peperangan……. YHWH semesta alam” (Mzm 24:7-10). Anak yang kecil ini adalah “Firman yang menjadi manusia” (Yoh 1:14), Allah yang merendahkan diri-Nya. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “Dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa umat” (Ibr 2:17).

Dalam Gereja-gereja Timur, “Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah” dinamakan “Pesta Perjumpaan”. Istilah “perjumpaan” mengindikasikan adanya unsur surprise, seperti kemunculan sang Mesias secara mendadak di Bait Allah (lihat Mal 3:1). Sepanjang hidup mereka. Simeon dan Hana telah mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk perjumpaan ini, walaupun mereka sama sekali tidak tahu kapan atau bagaimana perjumpaan ini akan terjadi. Karena doa-doa mereka dan juga perhatian penuh mereka kepada gerak-gerik Roh Kudus, dua orang “anawim” ini dimampukan melihat keagungan Allah dalam diri Anak kecil Maria. Dipenuhi rasa syukur, Simeon “menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah” (Luk 2:28).  Nanyian pujian (kidung) ini terus terdengar tanpa henti di segenap penjuru dunia dengan berputarnya bumi, ketika umat Allah mendoakan “Ibadat Penutup” setiap malamnya.

Betapa terberkatilah kita bila menyadari, bahwa Tuhan yang bangkit telah datang untuk berdiam dalam bait-Nya. Dalam Ekaristi, dalam rupa roti dan air anggur, Yesus datang untuk menemui kita. Dalam baptisan, Ia telah bertempat tinggal dalam bait/kenisah hati kita juga. Oleh pencurahan  darah-Nya dan Roh-Nya, Dia telah memurnikan kita dan membebaskan kita dari maut (Mal 3:2-3).

Seperti Simeon dan Hana, marilah kita mempersiapkan diri untuk perjumpaan kita dengan Tuhan. Kita dapat saja menjadi terkejut berjumpa dengan-Nya dalam diri orang-orang di sekeliling kita, dalam diri orang-orang sakit dan yang berada dalam sakratul maut, dalam diri “wong cilik” pada umumnya.

Yesus selalu menanti-nantikan kita dalam bait-Nya, dalam Ekaristi; Dia menantikan kita merangkul-Nya dan menempatkan-Nya dekat hati kita. Kasih-Nya – yang lebih kuat ketimbang dosa kita yang mana pun – akan memurnikan diri kita. Kemudian, seperti Simeon juga, diri kita akan dipenuhi dengan damai-sejahtera-Nya (Luk 2:29). Seperti Hana, kita pun akan dimampukan untuk “mengucap syukur kepada Allah” (Luk 2:38).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengaruniakan Putera-Mu sendiri ke tengah-tengah dunia yang terpecah-belah dan menyedihkan hati. Dengan kedatangan-Nya kami pun menerima sukacita, damai-sejahtera, dan penghiburan. Semoga setiap orang akhirnya menerima kenyamanan lahiriah maupun batiniah, karena mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:22-40), bacalah tulisan dengan judul “PERISTIWA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH” (bacaan tanggal 2-2-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-2-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  30 Januari 2020 [Peringatan Wajib S. Yasinta Mareskoti, Perawan OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DATANG KE TENGAH DUNIA DENGAN BELARASA DAN KASIH YANG BESAR

YESUS DATANG KE TENGAH DUNIA DENGAN BELARASA DAN KASIH YANG BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Jumat, 10 Januari 2020)

Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk penyucianmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersebar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi, Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa. (Luk 5:12-16) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Para penderita kusta dan sakit-penyakit kulit lainnya membawa dalam diri mereka stigma “najis” dilihat dari sudut rituale keagamaan. Pada zaman Yesus mereka dipaksa untuk hidup dalam semacam “karantina”. yang kondisinya buruk, kotor dan jorok. Kita hanya dapat membayangkan beban berat psikologis dan emosional sehari-hari yang harus dipikul oleh orang-orang kusta ini.

Dosa adalah sebuah penyakit spiritual yang juga mengakibatkan penderitanya hidup dalam semacam “karantina”. Dosa memisahkan kita satu sama lain dan membuat kita teralienasi/terasing dari Allah. Seperti penyakit fisik, dosa juga mempengaruhi kondisi tubuh dan pikiran kita. Seperti penyakit menular, dosa juga dapat membawa pengaruh buruk atas diri para anggota Tubuh Kristus yang lain. Akhirnya, apabila tidak diurus dengan baik, kondisi pribadi seseorang yang disebabkan oleh dosa dapat menggiringnya kepada kematian kekal.

Dengan belarasa dan kasih yang besar, Yesus datang ke tengah dunia untuk menawarkan sentuhan-Nya yang menyembuhkan segala sakit-penyakit. Dengan risiko “ketularan” penyakit dan kenajisan, Yesus tetap menemui orang-orang sakit, orang-orang yang tersisihkan dlsb., kemudian membersihkan/mentahirkan mereka. Setiap kali Yesus menyentuh seseorang dan membuang penyakit atau beban berat seseorang, sebenarnya ini adalah pratanda dari saat-saat di mana Dia akan “menanggung penyakit dan kesengsaraan kita” di atas kayu salib, dengan demikian memenangkan penebusan bagi umat Allah (lihat Yes 53:4,10-12).

Dalam Yesus, kita pun dapat diubah dari kondisi tidak tahir menjadi tahir, dari sakit menjadi sehat, dari kematian berpindah ke dalam kehidupan, dari dalam kegelapan dosa berpindah ke dalam pancaran cahaya terang kehadiran Allah. Yesus datang untuk menyembuhkan kita dengan “rahmat-Nya melalui permandian kelahiran kembali dan melalui pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5). Darah Kristus yang memancar ke luar dari lambung-Nya memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan kita bahkan pada hari ini, sementara kita berseru kepada-Nya: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Luk 5:12).

Dalam Kristus kita tidak lagi perlu menderita luka-luka kebencian, kemurkaan dan kecemburuan. Kita pun dapat disembuhkan dari berbagai dosa yang menular. Kita tidak perlu lagi hidup dikemudikan oleh rasa takut dan dikendalikan oleh rasa bersalah. Yesus mengampuni kita, menawarkan kepada kita damai sejahtera dan suatu hidup baru dalam Dia. Apabila kita mengenakan kebenaran-Nya, maka kita pun dapat berjalan dalam terang-Nya, bahkan dengan orang-orang dari siapa kita dahulu telah teralienasi. Semua ini sungguh merupakan pesan pengharapan!

Berbicara dalam nama TUHAN (YHWH), nabi Yehezkiel bernubuat: “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu ……  Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu …” (Yeh 36:25-26). Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, marilah sekarang kita berpaling kepada Yesus dalam iman dan memperkenankan Dia membersihkan kita.

DOA: Tuhan Yesus, jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:12-16), bacalah tulisan yang berjudul “SANG DOKTER AGUNG YANG BERNAMA YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 10-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS