Posts from the ‘18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018’ Category

PENGALAMAN MENYEDIHKAN BAGI YESUS DI NAZARET

PENGALAMAN MENYEDIHKAN BAGI YESUS DI NAZARET

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Bosko, Imam – Rabu, 31 Januari 2018)

Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan banyak orang takjub mendengar-Nya dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hal-hal itu? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya? Bagaimanakah mukjizat-mukjizat yang demikian dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada di sini bersama kita?”  Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya. Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya di atas mereka. Ia merasa heran karena mereka tidak percaya. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar(Mrk 6:1-6) 

Bacaan Pertama: 2Sam 24:2,9-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7 

Banyak kisah dalam Kitab Suci mengilustrasikan bagaimana sangat mungkin bagi umat Allah untuk luput mengenali Allah atau hamba-hamba-Nya pada pandangan pertama. Penduduk Nazaret bukanlah jahat atau keras hati. Mereka adalah orang-orang biasa sehari-hari seperti kita. Justru karena seperti kita, maka mereka pun rentan terhadap kecenderungan yang sama, yaitu sangat menggantungkan diri kepada kemampuan mereka sendiri untuk menentukan kebenaran-kebenaran spiritual. Jadi, tanpa mengambil keputusan yang sengaja untuk menolak Tuhan, mereka telah menjadi buta terhadap Yesus karena mereka begitu percaya kepada ide-ide mereka sendiri tentang Allah dan Mesias-Nya. Baiklah kita berhati-hati untuk tidak berpikir bahwa kita sendiri kebal terhadap pemikiran seperti ini.

Orang-orang Nazaret memang tersentuh oleh kata-kata yang diucapkan Yesus, namun mereka tetap mempertanyakan di mana dan dari siapa Yesus memperoleh hikmat yang tersirat dalam kata-kata penuh-kuasa yang diucapkan-Nya. Mereka bertanya: “Dari mana diperoleh-Nya hal-hal itu? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya? Bagaimanakah mukjizat-mukjizat yang demikian dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?” (Mrk 6:2-3). Mata iman mereka tertutup ketika melihat Yesus, padahal mukjizat-mukjizat dan kata-kata-Nya merupakan bukti-bukti nyata karya Mesias, Dia yang dinanti-nantikan kedatangan-Nya oleh mereka? Cara-cara Yesus yang sederhana dan penuh belarasa  rupanya “tidak cocok” dengan konsep harapan-harapan mereka akan seorang Mesias semacam Raja-Panglima yang dengan pedang terhunus akan membebaskan mereka dari kekuasaan penjajah asing.

Seperti nabi Yehezkiel, Yesus juga ditolak oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi yang “keras kepala dan tegar hati” (Yeh 2:4) itu tidak percaya kepada kedua orang itu dan malah menganiaya kedua hamba Allah ini. Orang-orang yang menolak ini merupakan bagian dari umat yang telah melanggar perjanjian mereka sendiri dengan Allah. Akibatnya, mereka pun mengalami penderitaan di pembuangan. Pesan nabi Yehezkiel dapat saja gagal menyakinkan orang-orang Yahudi, namun mereka akan tetap mengetahui bahwa Allah sesungguhnya telah berbicara kepada mereka lewat nabi-Nya (lihat Yeh 2:5). Dalam kedatangan Yesus, Allah menyatakan kedalaman kasih dan belarasa-Nya. Yesus, sang firman Allah memanggil umat manusia untuk kembali kepada kasih dan kelemah-lembutan Bapa. Sungguh menyedihkan bahwa orang-orang Nazaret tidak mampu mengenali Yesus sebagai “Firman yang telah menjadi manusia” (Yoh 1:14) …… Sang Sabda!

Menutup telinga terhadap sapaan Allah memang sudah merupakan hal yang biasa pada zaman Yesus hidup di dunia dan dalam zaman modern ini. Seringkali pengetahuan dan pemahaman kita tentang misi Yesus sebagai Firman yang menjadi manusia di tengah-tengah kita hanya terbatas pada pokok-pokok yang dapat kita tangkap dengan pikiran kita yang serba terbatas ini. Kita menolak untuk menanggapi tantangan di hadapan kita dengan menggunakan jalan melampaui apa yang biasa kita lakukan dan terima, padahal rencana indah Allah biasanya melampaui pemahaman kita sendiri yang begitu terbatas dan “miskin” sebenarnya.  Barangkali karena kita seringkali berpuas-diri dengan mengenal Yesus secara superficial (cetek-cetek saja; tidak mendalam), maka kita pun berpikir kita sudah cukup melakukan apa yang diwajibkan dari diri kita masing-masing. Namun kita harus ingat, bahwa sikap seperti ini tidak menjadikan kita terbuka terhadap kepenuhan hidup ilahi dan kasih Allah yang telah direncanakan-Nya sejak semula untuk disyeringkan-Nya bersama kita dalam Yesus (bacalah perikop “Doa untuk pengertian tentang kemuliaan Kristus” dalam Ef 1:15-23, teristimewa Ef 1:17-18).

Firman Allah bagi kita dalam liturgi dan doa-doa dan pembacaan Kitab Suci, semuanya merupakan suatu undangan kepada kita untuk menyerahkan hidup kita secara lebih total lagi kepada kehendak-Nya. Marilah kita singkirkan segala pikiran dan urusan kita yang mengunci kita ke dalam suatu pemikiran yang terpusat pada situasi “di sini dan sekarang”, dan sekarang juga bukalah pikiran dan hati kita bagi pekerjaan yang Allah ingin lalukan dalam diri kita masing-masing.

DOA: Roh Kudus Allah, nyatakanlah kepada kami betapa dalam kami membutuhkan iman yang mempercayai, berharap dan yakin akan kasih Allah itu. Ampunilah kami untuk ketidakpercayaan kami. Oleh rahmat-Mu, berdayakanlah kami agar dapat merangkul kepenuhan hidup yang telah dimenangkan Yesus bagi kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG-ORANG NAZARET LUPUT MELIHAT KEILAHIAN YESUS” (bacaan tanggal 31-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  28 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA IV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MOHON DIBERIKAN TELINGA YANG MAU DAN MAMPU MENDENGARKAN SUARA YESUS

MOHON DIBERIKAN TELINGA YANG MAU DAN MAMPU MENDENGARKAN SUARA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Selasa, 30 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan, Ordo III (OFS) 

Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sementara Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia de depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya, “Anak perempuanku sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Sebab katanya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah berhentilah pendarahannya dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada saat itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berbalik di tengah orang banyak dan bertanya, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menyentuh Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan sujud di depan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang terjadi. Lalu kata-Nya kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!”

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah meninggal, untuk apa engkau masih menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan taku, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk Ia berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia.

Semua orang itu disuruh-Nya keluar, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu serta mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya, “Talita kum,” yang berarti, “Hai anak perempuan, aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. (Mrk 5:21-43) 

Bacaan Pertama: 2Sam 18:9-10,14b,24-25a,30-19:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6 

Bayangkanlah sejenak apa yang kiranya terjadi dalam pikiran si pemimpin sinagoga yang bernama Yairus itu, sebelum dia akhirnya menemui Yesus untuk memohon pertolongan-Nya. Sebagai seorang pemimpin sinagoga, posisinya cukup penting dalam komunitas lokal Yahudi. Mungkin dia telah sekian lama bergumul dengan pemikiran-pemikiran seperti berikut: “Seseorang dengan posisiku tidak dapat meminta-minta pertolongan kepada seorang tukang kayu dari Nazaret yang sekarang menjadi pengkhotbah keliling! Bukankah aku harus ja-im (jaga image)?” Bagaimana dengan perempuan yang menderita pendarahan? Setelah 12 tahun lamanya menderita penyakit, bagaimana kiranya dia harus mengatasi ketiadaan harapan dan rasa takut sebelum “meneroboskan” dirinya  melalui orang banyak yang berdesak-desakan di sekeliling Yesus yang sedang berjalan menuju rumah Yairus, kemudian mengambil kesempatan yang ada untuk menyentuh jubah Yesus?

Apa pun tantangan-tantangan yang mereka hadapi, baik Yairus maupun perempuan yang menderita pendarahan itu telah memilih untuk percaya kepada Yesus dengan membuat langkah iman yang berani. Karena mereka percaya pada sesuatu yang belum mereka lihat (lihat Ibr 11:1), maka mereka pun menerima ganjarannya: Yairus melihat anak perempuannya dibangkitkan dari kematian oleh Yesus, dan perempuan yang menderita pendarahan itu pun secara instan disembuhkan dan disuruh pergi dengan iringan berkat dari Putera Allah sendiri! Sungguh indah semuanya ini!

Kedua pribadi manusia ini, Yairus dan perempuan yang menderita pendarahan, memberikan kepada kita dua contoh dari iman yang diminta oleh Yesus untuk kita tumbuh-kembangkan dalam diri kita masing-masing. Bukankah kita semua telah mengalami situasi-situasi di mana sebelumnya kita begitu merasa ragu-ragu atau takut mengambil tindakan karena hal itu berarti mengambil risiko? Barangkali kita memang belum siap untuk melangkah keluar dari “zona kenyamanan” (comfort zone) kita. Barangkali kita merasa khawatir apa yang ada dalam pikiran orang-orang tentang diri kita. Barangkali kita takut gagal. Bagaimana dengan menawarkan diri untuk mendoakan doa kesembuhan untuk seorang tetangga yang sedang sakit? Apakah kita akan melakukannya bila kita menyadari bahwa Yesus lah yang meminta kita untuk melakukannya? Dari waktu ke waktu Yesus memberikan inspirasi kepada kita lewat sentuhan-sentuhan-Nya pada hati kita masing-masing! Apabila kita membuat langkah-iman sambil menghadapi risiko yang ada, maka kita sering menemukan bahwa orang-orang menerima pencurahan cintakasih Tuhan lewat diri kita ini dengan gembira dan terbuka. Apabila kita memperkenankan Roh Kudus bekerja dalam diri kita, maka kita akan menyaksikan bahwa  Allah menyentuh orang-orang lain melalui doa-doa kita dan kesaksian hidup kita dalam Yesus.

Hari ini, perkenankanlah Yesus mengetahui bahwa Saudari-Saudara sedang mencari inspirasi apa yang dikehendaki-Nya untuk diberikan kepada anda. Katakanlah kepada Tuhan Yesus  bahwa anda sungguh ingin mengatasi rasa takut dan ragu-ragu yang selama ini menekan diri anda, dan sungguh mau bertindak mengatasinya. Mohonlah rahmat untuk melangkah dalam iman sebagaimana ditunjukkan oleh-Nya. Ketuklah, maka pintu pun akan dibuka untuk anda – pintu yang akan memimpin anda ke dalam iman yang lebih mendalam dan intim dengan Yesus, supaya menjadi berkat bagi orang-orang lain juga.

DOA: Tuhan Yesus, berbicaralah kepada hatiku pada hari ini. Berikanlah kepadaku telinga yang mau dan mampu mendengarkan suara-Mu dan mengenali arahan dari-Mu. Tolonglah aku agar bertumbuh dalam iman yang aktif, penuh keyakinan, dan berani mengambil risiko. Aku menaruh kepercayaan pada kebaikan dan belas kasihan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:21-43), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN TAKUT, PERCAYA SAJA” (bacaan tanggal 30-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Januari 2017 [HARI MINGGU BIASA IV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENGUSIRAN ROH JAHAT DARI ORANG GERASA

PENGUSIRAN ROH JAHAT DARI ORANG GERASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV –  Senin, 29 Januari 2018) 

Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Orang itu tinggal di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantai itu diputuskannya dan belenggu itu dipatahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak, “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya, “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” Kemudian Ia bertanya kepada orang itu, “Siapa namamu?” Jawabnya, “Namaku Legion, karena kami banyak.” Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir mereka keluar dari daerah itu.

Di lereng bukit itu banyak sekali babi sedang mencari makan, lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, “Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!” Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan merasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati lemas di dalamnyal

Penjaga-penjaga babi itu lari dan menceritakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan Legion itu. Mereka pun merasa takut. Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceritakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. Lalu mereka mulai mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan ini meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu, “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” Orang itu pun pergi dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran (Mrk 5:1-20) 

Bacaan Pertama: Ibr 11:32-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:20-24 

Banyak kebudayaan kuno jelas percaya akan keberadaan roh-roh jahat. Dikisahkan bahwa roh-roh jahat itu berdiam dalam tempat-tempat gelap dan terpencil seperti kawasan hutan, padang gurun dan makam-makam, tidak banyak bedanya dengan tempat di mana Yesus bertemu dengan orang yang sangat menderita karena berada di bawah pengaruh buruk roh-roh jahat seperti digambarkan dalam bacaan Injil hari ini. Pertemuan itu sendiri bersifat dramatis, seakan-akan suatu legenda kuno. Bagaimana dengan kita sekarang? Dapatkah kita mengenali pengaruh Iblis dan roh-roh jahat lainnya pada zaman modern ini? Apakah kita hanya mau mencari aspek dramatisnya saja, dan kalau kita tidak mampu menemukannya lalu kita mengklaim bahwa Iblis dan roh-roh jahat itu sebenarnya tidak ada? Kalau demikian halnya, maka kita sudah hampir terjebak oleh tipu-daya si Iblis dan antek-anteknya yang licin dan licik.

Inilah sebenarnya apa yang diinginkan si Iblis! Dia tahu benar bahwa apabila kita menyangkal keberadaannya, maka dia pun akan bebas meraja-lela dalam pekerjaan jahatnya menipu manusia, karena kita sudah tidak peduli lagi untuk menggunakan otoritas pemberian Allah yang ada pada kita atas mereka. Sebagai akibatnya, kita akan tetap terikat pada dosa, siksaan mental dan berbagai kelemahan. Kita memang tidak dapat menggunakan Iblis dan roh-roh jahat lainnya sebagai dalih untuk setiap masalah yang kita hadapi, namun pentinglah untuk mengakui cara-cara licin dan licik yang digunakan Iblis dan roh-roh jahat lainnya untuk mempengaruhi pemikiran kita. Misalnya, pernahkah kita terjebak dalam suatu situasi  tertentu, begitu banyak waktu yang kita gunakan (terbuang), kita menjadi  cemas secara tak terkendalikan mengenai anak-anak kita, terus-menerus kita meragukan pengampunan Allah atas dosa-dosa yang kita sudah akui di depan imam Kristus, atau tanpa dasar mencurigai motif orang lain? Bagaimana dengan flashbacks sehubungan dengan peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan di masa lampau, atau luka-luka lama? Hal-hal sedemikian dapat merupakan kerja si Jahat yang memang bertujuan untuk merampas kita dari sukacita, damai-sejahtera, pengharapan, dan iman.

Sebagian besar dari kita tentunya tidak mau bergumul sampai-sampai akhirnya memukuli diri dengan batu seperti orang Gerasa itu, namun kita dapat menderita karena pikiran-pikiran yang menyiksa. Marilah kita memerangi Iblis dan roh-roh jahat lainnya dengan menempatkan kepercayaan kita pada diri Yesus. Ia jauh lebih berkuasa daripada si Iblis (lihat 1Yoh 4:4). Pembebasan akan datang pada  waktu kita mengklaim perlindungan-Nya dan pengampunan-Nya atas dosa-dosa apapun yang telah membuat kita rentan terhadap serangan Iblis dan roh-roh jahatnya. Iblis adalah pendusta. Begitu kita mengenali dustanya, maka kita dapat menolak dan mengabaikan dia dan begundal-begundalnya. Yesus telah merebut kemenangan atas si Jahat, maka dalam Dialah kita dapat sungguh-sungguh dibebaskan.

DOA: Tuhan Yesus, selagi aku merangkul hidup baru dalam Engkau, perkenankanlah aku lebih berakar lagi dalam rahmat-Mu. Aku tidak ingin melakukan apa saja yang berada di luar bimbingan-Mu. Yesus Engkau adalah segalanya bagiku. Betapa rindu aku menceritakan kepada siapa saja yang aku temui tentang tanda-tanda heran yang telah Kauperbuat. Tuhan Yesus, aku sekarang dan selama-lamanya akan bersyukur kepada-Mu untuk segalanya yang Kauperbuat atas diriku dan dunia sekelilingku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG GERASA YANG DISEMBUHKAN ITU DIUTUS OLEH YESUS SENDIRI UNTUK MEMBERITAKAN BELAS KASIH ALLAH” (bacaan tanggal 29-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Januari 2018 [Pesta Bertobatnya S. Paulus, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH KEJUTAN DI KAPERNAUM

SEBUAH KEJUTAN DI KAPERNAUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA IV [TAHUN B] – 28 Januari 2018)

 

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”  Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!”  Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua  takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: Ul 18:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9; Bacaan Kedua: 1Kor 7:32-35

Orang-orang yang mendengar pengajaran penuh kuasa dari Yesus dalam sebuah sinagoga di Kapernaum sangat terkesan dan merasa takjub, padahal peristiwa itu terjadi pada awal-awal karya pelayanan sang Rabi dari Nazaret di tengah publik. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Mrk 1:27).

Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekadar khotbah atau homili yang dibawakan dalam “semangat” rutinitas. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa”  (1Kor 2:4).

Setiap kebenaran Injil dapat dianalisis dengan kekuatan intelek – katakanlah secara ilmiah – dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32). Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebas-merdekakan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita (anda dan saya) mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa sehingga kita dapat mengalami kuasanya untuk memerdekakan diri kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari tindakan kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada saat-saat pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis.   Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan kita masing-masing untuk mengundang Dia ke dalam hati kita – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain”  (Katekismus Gereja Katolik, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui hati kami dan hasrat yang ada dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang-Mu untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana hidup  untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “PENGAJARAN PENUH KUASA, MUKJIZAT DAN TANDA HERAN DI KAPERNAUM” (bacaan tanggal 28-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Januari 2018 [Pesta  Bertobatnya S. Paulus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SANGAT PEDULI

YESUS SANGAT PEDULI

 (Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa III – Sabtu, 27 Januari 2018)

Ordo Santa Ursula (OSU): Hari Raya S. Angela Merici, Pendiri Tarekat

Pada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak  dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa  kamu begitu  takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41) 

Bacaan Pertama: 2Sam 12:1-7a,11-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-17 

“Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:41).

Para murid masih dilanda ketidakpastian. Kebingungan telah membawa diri mereka kepada kesalahpahaman mereka tentang Yesus, misi-Nya dan niat-Nya. Mereka telah menyaksikan sendiri roh-roh jahat secara ajaib diusir dari orang-orang, sakit-penyakit disembuhkan secara menakjubkan, dan misteri-misteri Kerajaan Allah dijelaskan kepada mereka. Namun ketika topan mengamuk dengan dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu mereka, segala sesuatu yang telah mereka saksikan dan dengar dari Yesus ternyata belum cukup mampu menopang kepercayaan mereka pada Allah.

Ternyata kita juga mirip-mirip – katakanlah tidak berbeda jauh – dengan para murid Yesus yang pertama. Kita telah mengenal dan mengalami campur-tangan Allah dalam kehidupan kita, telah mendengar kesaksian Kitab Suci,  telah menerima kesembuhan dan pembebasan (pelepasan) dari Yesus, dan mengenal kasih-Nya. Walaupun  begitu pada saat badai yang terkadang menerpa dalam kehidupan kita, dalam kepanikan kita berteriak: “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? (Mrk 4:38).

Tentu saja Yesus sangat peduli, …… bahkan sampai hari ini dan di masa depan sekalipun! “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Yesus begitu mengasihi para murid-Nya (termasuk kita semua), sehingga Dia memperkenankan mereka mengalami amukan dahsyat topan dan ombak besar agar Dia dapat memanifestasikan diri-Nya, secara dramatis, siapakah Dia sebenarnya. Dengan menenangkan angin topan dan ombak dahsyat, Yesus menunjukkan bahwa Dia memegang kendali atas alam ciptaan, dengan demikian mengidentifikasikan diri-Nya dengan YHWH-Allah Perjanjian Lama, Dia yang memiliki otoritas atas alam ciptaan (Mrk 4:41; lihat juga Kel 14:21). Pada hari ini Yesus masih mencari kesempatan untuk menenangkan angin topan yang membuat diri kita merasa takut. Ia begitu mengasihi kita sehingga Dia mau menyatakan diri-Nya kepada semua orang yang mencari-Nya.

Santa Teresa dari Avila [1515-1582] sangat terinspirasi oleh cerita “Yesus menenangkan angin topan dan ombak di danau” ini. Pada saat-saat merasa takut dan khawatir, suster Karmelites yang suci ini dan juga tokoh pembaharu tarekatnya, seringkali merenungkan bacaan Injil ini. Dia bertanya kepada dirinya sendiri: “Siapa sebenarnya Orang ini, sehingga segenap pancainderaku mentaati-Nya – Dia yang sebentar memancarkan sinar terang ke tengah kegelapan yang begitu pekat, melembutkan sebuah hati yang kelihatannya terbuat dari batu, dan mengirimkan air berupa tetesan-tetesan airmata ke tempat yang sudah begitu lama mengalami kekeringan? …… Siapakah yang memberikan keberanian ini?” Jawaban atas pertanyaan orang kudus ini bersifat implisit: Allah sendiri! Sebelumnya Santa Teresa dari Avila telah menulis: “Di sini aku, dibuat tenang bukan oleh apa pun juga, melainkan oleh sabda Allah, dan dianugerahi ketabahan dan keberanian dan keyakinan dan ketenangan …… Sabda-Nya adalah perbuatan-perbuatan” (Life, 25).

Para murid belajar bahwa sabda (kata-kata) Yesus adalah perbuatan-perbuatan. Yesus ingin agar kita mengetahui, mengenal dan menggantungkan diri pada kenyataan ini juga. Yang harus kita lakukan adalah berdoa dan memohon kepada-Nya agar supaya kita menerima jaminan yang berasal dari Dia sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah agar kami selalu sadar akan keberadaan berbagai anugerah-Mu dan tolonglah kami agar dapat bertumbuh dalam iman sehingga dapat menghadapi berbagai pencobaan dengan penuh ketenangan. Bukalah mata-hati kami terhadap kehadiran-Mu sebagai Imanuel di tengah-tengah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:35-41), bacalah tulisan yang berjudul “APABILA KITA MERASA KESEPIAN DAN/ATAU PUTUS ASA, MAKA BERSERULAH KEPADA ALLAH(bacaan tanggal 27-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Januari 2018 [Peringatan S. Fransiskus dr Sales, Uskup Pujangga Gereja – HARI KETUJUH PEKAN DOA SEDUNIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MELALUI KESETIAAN DAN DEDIKASI TIMOTIUS DAN TITUS

MELALUI KESETIAAN DAN DEDIKASI TIMOTIUS DAN TITUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup – Jumat, 26 Januari 2018)

Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang tampak dalam ibadah kita, dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh allah yang tidak berdusta. Pada waktu yang dikehendaki-Nya, Ia telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil yang telah dipercayakan kepadaku sesuai dengan perintah Allah, Juruselamat kita.

Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama: Anugerah dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau.

Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu. (Tit 1:1-5)

Bacaan Pertama (Alternatif): 2Tim 1:1-8, Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,7-8,10; Bacaan Injil: Luk 10:1-9 

Pada hari ini, 26 Januari, Gereja memperingati dua orang kudus yang mempunyai banyak keserupaan satu sama lain. Dua-duanya adalah anak-anak dari bapak yang kafir (non-Yahudi) dan menerima iman melalui evangelisasi yang dilakukan oleh Paulus. Keduanya teman seperjalanan dan sepelayanan, dan dua-duanya adalah orang kepercayaan Paulus. Kedua orang ini diberi tugas penting dalam Gereja perdana, dua-duanya adalah penerima surat Paulus yang termasuk kategori “surat-surat pastoral”. Lewat kesetiaan dan dedikasi mereka, Gereja perdana dibangun, diperkuat dan ditopang.

Banyak sekali yang harus dikerjakan pada masa mereka. Mungkin sekali sangat merepotkan, baik bagi Timotius maupun Titus. Bimbingan dari Santo Paulus sangat mendasar: “Supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur” (Tit 1:5). Inilah tugas mereka berdua, dan tetap merupakan tugas pribadi-pribadi yang mengikuti jejak mereka sebagai murid-murid Kristus.

Pekerjaan membangun, memperkuat dan menopang Gereja terus ada dari generasi ke generasi berikutnya dan tak pernah lengkap-selesai, melainkan terus berlanjut sampai kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaan kelak. Bagi Uskup Titus, tugas ini termasuk juga menetapkan penatua-penatua (imam-imam) di setiap kota (Tit 1:5) yang – sebagai pembantu uskup – harus memimpin dan membimbing jemaat masing-masing. Bagi kita, tugas  itu mungkin untuk mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus, melakukan pekerjaan guna menopang dan memperkuat umat beriman sebagai anggota-anggota dari Tubuh Kristus yang satu, untuk membantu orang bertumbuh dalam kekudusan, untuk terlibat dalam pekerjaan guna mencapai keadilan dan perdamaian, persaudaraan, atau barangkali membantu orang yang mempunyai kebutuhan atau berkekurangan.

Surat-surat Perjanjian Baru banyak berisikan wejangan-wejangan kepada para pembaca/ pendengarnya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang masih belum selesai. Surat kepada jemaat di Efesus, misalnya, mengingatkan semua umat beriman bahwa Kristuslah “yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus (Ef 4:11-12).

Penulis “Surat kepada orang Ibrani” menasihati para pembaca suratnya: “Peliharalah kasih persaudaraan! Jangan kamu lalai memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat. Ingatlah orang –orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Ingatlah juga orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini” (Ibr 13:1-3). Santo Paulus juga menulis: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mukjizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam berbagai jenis bahasa lidah” (1Kor 12:27-28). Semua dimaksudkan untuk memperkuat Gereja!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau memanggil Timotius dan Titus untuk melayani Gereja-Mu. Semoga teladan dan doa-doa syafaat mereka akan menolong kami semua untuk melanjutkan tugas membangun dan memperkuat Gereja-Mu, agar pada saat kedatangan-Mu kembali pada akhir zaman, Engkau sungguh menemukan iman di muka bumi ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami  Bacaan Pertama (Alternatif) hari ini (2Tim 1:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN KARENA MEREKA ADALAH MANUSIA-MANUSIA SEMPURNA” (bacaan tanggal 26-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 23 Januari 2018 [HARI KEENAM PEKAN DOA SEDUNIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERTOBATAN PAULUS

PERTOBATAN PAULUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Bertobatnya Santo Paulus – Kamis, 25 Januari 2018)

Penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?” Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat  dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!” Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!” Firman Tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagipula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.” Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” Seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya.

Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata, “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan siapa saja yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?” Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias. (Kis 9:1-22)

Bacaan Pertama [alternatif]: Kis 22:3-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Mrk 16:15-18. 

Pada hari ini kita merayakan pertobatan Santo Paulus. Pertobatannya ini tidak hanya mengubah kehidupan seorang anak manusia yang bernama Saulus, yang kemudian berganti nama menjadi Paulus. Lebih dari itu! Menjawab pertanyaan Saulus tentang siapa Dia, Yesus menjawab: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kis 9:5). Kata-kata Yesus ini memberikan kepada Paulus dan juga kepada kita semua, suatu perwahyuan indah tentang apa artinya menjadi anggota Tubuh Kristus. Sebelum itu Yesus bertanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis 9:4), Di sini Yesus mengindikasikan bahwa serangan terhadap siapa saja yang adalah anggota tubuh-Nya, merupakan serangan terhadap diri-Nya.

Kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, yang digabungkan dengan Dia dalam baptisan. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada salah satu dari kita yang tidak berpengaruh pada Yesus. Tidak ada satu pun rasa sakit dan penderitaan seorang pengikut-Nya akan luput dari perhatian-Nya, karena Dia sesungguhnya berpartisipasi dalam rasa sakit dan penderitaan tersebut. Yesus bahkan merasakan kesedihan dan “sakit-kepala” yang kita rasakan, karena Dia berdiam dalam diri kita. Kita tidak dapat mengabaikan kebenaran ini. Apabila orang-orang lain mencemooh atau menyerang kita karena iman-kepercayaan kita, Yesus satu dengan kita: Dia juga merupakan pihak yang dicemoohkan dan diserang. Sejalan dengan itu, perilaku kita  terhadap orang-orang lainpun mempengaruhi Yesus secara langsung. Maka bagaimana kita dapat mengumpat seorang saudari atau saudara, apabila kita mengetahui bahwa dengan demikian kita juga menyakiti Yesus? Bagaimana kita dapat merobek-robek sesama anggota tubuh-Nya, apabila kita sadar bahwa tindakan destruktif kita itu secara langsung menyerang hati Yesus sendiri? Walaupun kita merasa pantas untuk melakukan hal seperti itu karena ada just cause di belakangnya, tanggapan kita selalu harus diperlunak sebab kenyataannya adalah bahwa kita berbagi kesatuan dalam Kristus dengan “pihak lawan” kita.

Ambillah satu menit untuk merenungkan hal yang sungguh serius ini. Sebelum kita berbicara tentang hal ini dalam ruang lingkup lintas-gereja, sebelum berbicara tentang bagaimana inter-aksi kita dalam gereja kita sendiri, pada tingkat paroki/wilayah/lingkungan; bagaimana dengan inter-aksi dalam keluarga/komunitas kita sendiri?  Oleh iman kita yakin bahwa tidak ada satu pun situasi yang tidak dapat direkonsiliasikan, apabila kita menerima kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati kita masing-masing melalui Roh Kudus. Bahkan Paulus, seorang pengejar dan pembunuh para pengikut Kristus, pada akhirnya mengabdikan hidupnya bagi Yesus. Apabila bersama Paulus kita menghormati “Tubuh Kristus”, maka bayangkanlah efek kesatuan kita itu terhadap dunia: kuasa Kristus “mendaging” di tengah-tengah kita, menyadi suatu kekuatan yang sungguh nyata.

DOA: Tuhan Yesus, kami mohon pengampunan-Mu karena kami telah menyakiti-Mu melalui ketiadaan kasih kami kepada anggota-anggota tubuh-Mu yang lain. Satukanlah kami sebagai satu tubuh – satu Gereja, mempelai-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama alternatif hari ini (Kis 22:3-16), bacalah tulisan dengan judul “PERTOBATAN PAULUS, SI PENGEJAR DAN PENGANIAYA UMAT KRISTIANI PERDANA” (bacaan tanggal 25-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Januari  2018 [HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS