Posts from the ‘18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018’ Category

ALLAH MEMANGGIL KITA

ALLAH MEMANGGIL KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA III [TAHUN B],  21 Januari 2018)

Hari Keempat Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” 

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, Ia melihat Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia. (Mrk 1:14-20) 

Bacaan Pertama: Yun 3:1-5,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: 1Kor 7:29-31

Dalam kreativitas-Nya yang tanpa batas, Allah memanggil kita agar mengenal Dia dan melayani-Nya dengan cara yang unik untuk kita masing-masing. Dalam cerita tentang Yunus, Allah berurusan dengan seorang nabi yang ditimpa rasa takut, yang pada awalnya menolak panggilan Allah. Ketika Yunus mencoba melarikan diri dari Allah, dia malah lebih merasakan kebutuhan akan Allah lagi ketimbang sebelumnya. Allah memberikan kesempatan kedua kepada Yunus, dan sebagai akibatnya seluruh kota Niniwe luput dari murka Allah (bacalah Yun 1:1 – 4:11). Pada waktu Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama, mereka juga memulai suatu petualangan yang jauh melebihi apa saja yang mereka harapkan (lihat Mrk 1:16-20).

Dalam dua kasus ini, sang Pencipta yang tanpa batas dan mahakuasa turun ke dunia dan memanggil manusia yang penuh keterbatasan, makhluk ciptaan, yang memiliki kecenderungan berdosa …… untuk mengikut Dia, dan hal itu sungguh menggoncang diri mereka dengan hebat sekali. Kita tidak perlu terkejut melihat ini semua. Pada kenyataannya kita harus memiliki ekspektasi akan adanya intervensi atau campur tangan Allah untuk menimbulkan semacam goncangan. Yunus jelas ditantang untuk bergerak maju melampaui apa yang dipikirnya sebagai batas kemampuannya. Demikian pula halnya dengan para murid Yesus, yang harus berjuang untuk jangka waktu yang relatif lama guna memahami siapa sebenarnya Yesus itu dan apa sebabnya sampai Dia begitu berpengaruh atas diri mereka. Dalam dua hal tersebut, Allah membentuk orang-orang yang dipanggil-Nya menjadi para pelayan yang sejati, saksi-saksi dari kasih-Nya yang tangguh.

Allah menginginkan kita masing-masing menjadi saksi dan pelayan Kerajaan-Nya. Kita harus senantiasa mengingat bahwa Dia tidak mengenal favoritisme. Sampai berapa tinggi pun tingkat pendidikan kita atau bagaimana pun dalamnya pengabdian kita kepada-Nya, panggilan Allah akan menantang kita dan menggoncang kita. Barangkali yang kita alami tidaklah sedramatis apa yang dialami oleh nabi Yunus atau para murid Yesus yang awal. Mungkin sekali bagi kita hal itu merupakan suatu proses yang berjalan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lamanya. Namun – cepat atau lambat – hal itu akan terjadi. Suatu moment of truth akan kita alami! Allah ingin mengundang kita semua untuk bergabung dalam suatu petualangan melayani Kerajaan-Nya.

Saudari dan saudaraku yang terkasih. Apabila kita berupaya sungguh-sungguh untuk setia dalam hal-hal kecil yang “ditugaskan-Nya” kepada kita setiap hari, maka dengan berjalannya waktu kita akan ditransformasikan. Allah akan membentuk diri kita menjadi para murid yang memiliki kemampuan untuk membuat suatu perubahan dalam dunia, seperti para rasul-Nya dan para nabi-Nya. Yang dicari oleh-Nya adalah pribadi-pribadi yang rendah hati dan senantiasa terbuka bagi sentuhan kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah melingkupi kami masing-masing dengan kasih-Mu dan memenuhi diri kami dengan Roh Kudus-Mu. Engkau malah telah memasukkan kami ke dalam hidup-Mu sendiri. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah memanggil kami menjadi murid-murid Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Dengan penuh sukacita kami pun menyadari bahwa hidup kami tidak akan pernah sama lagi. Oleh karena itu kami menanggapi panggilan-Mu secara positif. Terpujilah Allah, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “SAATNYA TELAH GENAP; ……” (bacaan tanggal 21-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-1-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KEPRIHATINAN KELUARGA YESUS

KEPRIHATINAN KELUARGA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Sabtu,  20 Januari 2018)

Hari Ketiga Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Keluarga Fransiskan Conventual (OFMConv.): Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam Martir

Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Orang banyak datang lagi berkerumun, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak  waras lagi.  (Mrk 3:20-21)

Bacaan Pertama: 2Sam 1:1-4,11-12,19,23-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,5-7 

Tentunya sangat sulit bagi keluarga Yesus dan para sahabat untuk memahami perilaku-Nya. Dia hampir selalu dikerumuni oleh kumpulan orang banyak, terlibat konflik dengan para pemuka agama Yahudi dan bekerja serta berdoa lama sampai tengah malam. Bacaan kali ini memberikan kepada kita satu contoh lagi betapa keras Yesus bekerja. Sementara Dia kembali dari atas bukit bersama para rasul yang baru ditunjuk-Nya, Yesus menuju sebuah rumah, dan yang didapati-Nya adalah kerumunan orang banyak lagi yang sedang menunggu Dia. Tergerak oleh belarasa, Yesus melayani orang banyak ini sampai membuat diri-Nya dan para rasul-Nya juga begitu sibuk, sehingga untuk makan pun kelihatannya mereka tak mempunyai waktu.

Keluarga Yesus dan para sahabat, yang selama ini mengamati gerak-gerik Yesus, mulai menjadi prihatin jangan-jangan Yesus bekerja tanpa menggunakan akal sehat. Mungkin saja Dia juga sudah tidak waras. Akan tetapi, meski keluarga-Nya kuatir dan takut  bahwa Yesus tidak berkarya seperti para rabi lainnya, Yesus memiliki keprihatinan tak tergoyahkan sehubungan dengan Kerajaan Allah. Yesus dengan penuh kemauan mengambil risiko menantang berbagai rutinitas dan tradisi orang-orang Yahudi demi Kerajaan Allah ini. Hati-Nya berkobar-kobar dengan suatu hasrat untuk melakukan kehendak Bapa dengan menolong siapa saja yang datang kepada-Nya dengan berbagai macam kebutuhan.

Cerita semacam ini mengungkapkan betapa dalam Allah mengasihi kita semua. Yesus tidak malu melayani orang banyak yang berkerumun di luar rumah. Demikian pula, Dia tidak akan malu melayani kita apabila kita datang kepada-Nya dengan segala kelemahan kita. Yesus adalah “Sang Sabda yang menjadi Daging”, “Firman yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14), sehingga dengan demikian Dia dapat menyembuhkan kita. Dalam cintakasih, Dia tidak menolak kita, tetapi merangkul kelemahan-kelemahan kita. Keluarga-Nya yang sejati adalah semua orang yang datang kepada-Nya dengan iman, yang percaya bahwa Dia telah datang dari Bapa surgawi untuk menyelamatkan kita dari semua dosa dan kegelapan.

Sebagai contoh, harapan kita untuk bersatu dengan saudari-saudara Kristiani yang lain kelihatannya meragukan – malah terasa tidak mungkin – kalau semua dilihat, dipikirkan dan diikhtiarkan secara manusiawi belaka. Namun kita akan memperoleh jawabannya kalau kita memandang dengan mendalam kepada hati Kristus dan memperkenankan Dia membebaskan kita dari sikap-sikap dan pandangan-pandangan yang menyebabkan kita – orang-orang Kristiani – terpisah satu sama lain selama ini.

Hanya apabila kita mau datang menghadap Yesus seperti orang banyak yang diceritakan dalam Injil di atas, kita dapat bertumbuh dalam pemahaman kita akan niat-niat-Nya sehingga dengan demikian kita semua dapat dipimpin oleh-Nya menuju persatuan dan kesatuan yang lebih mendalam lagi, teristimewa karena Dia sendiri sangat mendambakan persatuan dan kesatuan di antara para pengikut-Nya (lihat Yoh 17:1-26).

DOA: Bapa surgawi, ajarlah kami untuk dapat lebih dekat lagi dengan Yesus, Anak Tunggal-Mu,  yang telah menjadi manusia seperti kami. Tolonglah kami untuk berjalan dalam roh belarasa, kesabaran dan persatuan, bersama dengan para saudari-saudara Kristiani lainnya, sampai tiba saatnya  kami dapat bertatap muka dengan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:20-21), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBERKATI, MENGAMPUNI DAN BERDOA SYAFAAT BAGI MEREKA” (bacaan tanggal 20-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Januari 2018 [Peringatan S. Antonius, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

FAVORITISME TIDAK DIKENAL OLEH YESUS

FAVORITISME TIDAK DIKENAL OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Jumat, 19 Januari 2018)

Hari Kedua Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia. (Mrk 3:13-19)

Bacaan Pertama: 1Sam 24:3-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:2-4,6,11

Kita dapat membayangkan betapa hati kedua belas murid yang dipanggil oleh Yesus itu terbakar oleh kegembiraan penuh gairah. Belum lama mereka bersama Yesus, namun Yesus telah memanggil nama mereka satu per satu, “… untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan”  (Mrk 3:14-15). Sungguh suatu keistimewaan luar biasa untuk diberikan peranan sedemikian. Akan tetapi, masih banyak yang mereka harus pelajari mengenai arti sesungguhnya menjadi murid Yesus.

Kita lihat juga bahwa Yesus sungguh tidak mengenal favoritisme; para rasul yang dipanggil-Nya berasal dari berbagai macam segmen masyarakat, ada nelayan, ada pemungut pajak, ada (mantan) anggota gerakan revolusioner  (Zeloti) dari Galilea, dan lain-lain. Pokoknya Dia tidak pandang bulu!

Di bagian kemudian Injil ini, Markus menceritakan suatu diskusi yang terjadi di antara para murid, yakni mengenai siapa di antara mereka yang paling besar (Mrk 9:33). Yesus mengetahui perdebatan yang terjadi di antara para murid dan Dia pun sadar akan konsekuensi perpecahan di antara mereka. Oleh karena itu Yesus mengajarkan kepada mereka suatu pelajaran yang fundamental tentang apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Kedua belas murid ini telah saling membandingkan diri satu sama lain, barangkali didasarkan atas gagasan mengenai kekudusan/kesucian diri: berapa banyak mukjizat yang dilakukan, perbuatan baik apa saja yang dilakukan dan seterusnya. Yesus menghalau perbandingan-perbandingan seperti itu dengan mengatakan kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (Mrk 9:35). Ini adalah hakekat dari SERVANT LEADERSHIP.

Teguran halus dari Yesus itu dimaksudkan untuk mengingatkan para murid-Nya agar tidak mencari-cari kemuliaan menurut standar atau ukuran dunia ini, tetapi agar menjadi seperti anak-anak kecil, yang penuh keinginan untuk menerima rahmat dan berkat dari Allah yang mahamurah. Menimba dari Bapa surgawi dalam segala hal akan mengajar kedua belas murid itu bahwa pada dasarnya, “kemuridan” (discipleship) adalah mengakui Yesus sebagai pokok anggur, dalam Dia-lah para murid menimba kehidupan (lihat Yoh 15:5). Segala mukjizat dan tanda heran yang dilakukan mereka sesungguhnya hanyalah buah dari hubungan mereka dengan Yesus. Jadi jangan sampai para murid-Nya mencuri kemuliaan Allah, sehingga “bernasib” sama seperti Musa yang karena kesalahannya sampai dihukum tak dapat masuk ke tanah terjanji (baca: Bil 20:2-13, teristimewa 20:10-12). Bukan kuasa Musa yang berhasil mengeluarkan pancaran air dari bukit batu, melainkan kuasa YHWH sendiri. Peristiwa  di Masa dan Meriba ini (lihat Kel 17:1-7) sepantasnya diingat terus oleh para hamba Allah sepanjang masa, para pelayan Sabda atau para pewarta mimbar yang “hebat-hebat”, yang nyaris disanjung-sanjung oleh umat, jangan  sampai mereka sendiri tidak diperkenankan untuk sampai ke tanah terjanji surgawi. Oleh karena itu, jangan sampai seorang pun dari kita ini mencuri kemuliaan Yesus!

Yesus telah membuka jalan bagi kita dan telah memanggil kita masing-masing untuk menjadi murid-murid-Nya. Yesus tidak lagi menyapa kita sebagai orang asing, akan tetapi sahabat dan saudari-saudara. Kepada kita masing-masing Yesus telah memberikan hak istimewa untuk mengenal Dia secara pribadi. Kepada kita masing-masing Ia telah memberikan anugerah-anugerah unik untuk membangun Gereja-Nya di atas muka bumi ini. Marilah kita tetap waspada agar jangan sampai tergoda untuk membandingkan diri kita dan berbagai bagai karunia atau anugerah yang ada pada kita dengan orang-orang lain. Marilah kita tolak kesombongan yang meletakkan diri kita pada tempat yang lebih tinggi daripada saudari-saudara kita yang berlainan gereja (bahkan mereka yang beriman-kepercayaan lain), yang hanya akan menyebabkan timbulnya kecurigaan dan perpecahan.

Martabat kita tidak terletak pada berbagai kemampuan kita, tetapi dalam kenyataan bahwa Yesus telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing. Secara khusus, “Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani” yang sedang kita jalani ini adalah saat yang cocok  untuk merenungkan hal yang baru saja disebutkan tadi, dan merenungkannya secara sangat-sangat serius.

DOA: Bapa surgawi, kami menghadap-Mu hari ini sebagai anak-anak kecil, yang perlu dipenuhi dengan hidup-Mu sendiri. Oleh Roh-Mu, ajarlah kami untuk bekerja sama membawa terang-Mu ke dalam dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 24:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHORMATI DAN MENDOAKAN PARA PEMIMPIN” (bacaan tanggal 19-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Januari  2018 [Peringatan S. Antonius, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DI KALA ROH-ROH JAHAT PEMBOHONG MENGATAKAN KEBENARAN

DI KALA ROH-ROH JAHAT PEMBOHONG MENGATAKAN KEBENARAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Kamis, 18 Januari 2017)

Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

 

Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya, juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menyentuh-Nya. Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.  (Mrk 3:7-12)

Bacaan Pertama: 1Sam 18:6-9;19:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:2-3,9-13

Roh-roh jahat tersungkur sujud di hadapan Yesus dan berseru, “Engkaulah Anak Allah” (Mrk 3:11). Yesus menyuruh mereka diam. Apa salahnya menyatakan Yesus Anak Allah? Kedudukan Yesus sebagai Anak Allah adalah titik puncak Injil Markus. Injil ini diawali  dengan pernyataan sebagai berikut: “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk 1:1). Sekarang, baiklah kita baca kata-kata kepala pasukan di dekat salib Yesus yang ada pada bagian akhir Injil itu: “Sungguh, orang ini Anak Allah” (Mrk 15:39).

Pemberian kesaksian bahwa  Yesus adalah Anak Allah juga adalah salah satu dari butir-butir terpenting dalam Syahadat (Credo). Roh jahat yang diusir oleh Yesus telah membeberkan kebenaran, kebenaran Injil. Bahkan roh jahat itu mengatakan inti sari Credo yang dirumuskan di kemudian hari. Lalu apa sebab Yesus tetap “melarang mereka dengan keras agar tidak mewartakan siapakah Dia?” (Mrk 3:12).

Iblis adalah “pembunuh manusia sejak semua dan tidak hidup dalam kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata dari diri sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa pendusta” (Yoh 8:44). Bala tentara si Iblis adalah roh-roh jahat. Mereka juga adalah pembohong-pembohong. Dengan demikian, mudah saja untuk Iblis dan roh-roh jahatnya membuat kebohongan dengan menceritakan kebenaran pada saat dan situasi ketika kebenaran itu mudah disalahartikan. Iblis senantiasa mencoba untuk mengkaitkan antara ke-Allahan Yesus dengan penyembuhan dan mukjizt. Dengan cara ini akan terjadi penyesatan yang sungguh berbahaya.

Yesus menghendaki agar kedudukan-Nya sebagai Anak Allah selalu dikaitkan dengan SALIB (Mrk 15:39). Hanya di kayu saliblah pribadi dan karya Yesus dapat dipahami dengan benar. Kita semua jangan sampai percaya akan kebohongan Iblis tentang Yesus, walaupun kebohongan itu terasa nyata dan benar. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus menulis: “… aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor 2:2). Yesus tidak pernah dapat dipisahkan dari salib-Nya.

DOA: Bapa surgawi, berikanlah kepadaku keberanian untuk mengatakan kebenaran, terutama pada waktu dan situasi yang tepat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Saam 18:6-9;19:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “KECEMBURUAN RAJA SAUL MENCERMINKAN KETIDAKPERCAYAANNYA KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 18-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 16 Januari 2018 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk. para Protomartir Ordo S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Rabu, 17 Januari 2018) 

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: 1Sam 17:32-33,37,40-51; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1,2,9-10

Inkarnasi Yesus menandakan: (1) sudah berlalunya hukum dosa serta maut dan (2) datangnya kerajaan Allah. Yesus adalah Anggur yang baru, …. hidup baru. Allah telah lama mempersiapkan umat-Nya untuk menerima hidup baru ini. Akan tetapi, meskipun Yesus memberikan kepada orang banyak kesembuhan, pengampunan dan cintakasih, para pemimpin agama memandang dan memperlakukan Dia sebagai lawan dan obyek cemoohan.

Konflik itu, yang dimulai ketika Yesus menyembuhkan seorang lumpuh (Mrk 2:1-12), malah meningkat ketika Dia menyembuhkan seorang lain yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-6). Sampai saat ini, orang-orang Farisi selalu melontarkan kritik dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang, Yesus ganti bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, yang menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi diam saja. Mereka tetap mempertahankan kedegilan hati mereka di hadapan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan dari mereka membuat Yesus marah dan sekaligus sedih. Dalam kerahiman-Nya, Yesus menyembuhkan tangan si sakit, sekali lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:27-28). Orang-orang Farisi marah sekali karena Yesus telah melanggar pembatasan-pembatasan hari Sabat. Oleh karena itu mereka pun mulai bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk menghancurkan Yesus (Mrk 3:6).

Mengapa sampai ada orang yang mau membunuh Yesus yang justru datang melakukan kebaikan? Sikap mandiri yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia semata-mata seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan malah menyebabkan kita menentang Dia, bahkan pada saat kita tidak menyadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusia yang cenderung jatuh ke dalam dosa selalu menghindari sikap penyerahan diri kepada Allah. Akan tetapi, seperti kita ketahui, untuk menerima keselamatan, kita harus berserah-diri kepada-Nya. Apabila kita menolak kebaikan Allah, maka kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai lebih tinggi berbagai aturan, ketimbang kebutuhan-kebutuhan saudari-saudara kita. Sikap mandiri yang keliru akan menghalangi kita untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Sebaliknya, kalau kita bersikap seperti anak-anak, kita akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian kita pun akan mampu menerima kerahiman-Nya dan hidup baru-Nya. Yesus akan mengubah hati dan pikiran kita sehingga hasrat-hasrat-Nya dan pikiran-pikiran-Nya menjadi hasrat-hasrat dan pikiran-pikiran kita. Dia akan mengajarkan kepada kita jalan-Nya dan memberdayakan kita agar supaya taat kepada firman-Nya. Kalau anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan kerahiman Tuhan, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, sehingga bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ubahlah hati kami agar dapat semakin serupa dengan hati-Mu. Biarlah kasih-Mu memancar ke dalam hati kami dan melalui hati kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu menyediakan waktu dan energi bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 17:32-33,37,40-51), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG DAUD BERTARUNG MELAWAN GOLIAT” (bacaan tanggal 17-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.worpress.com;  18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 16 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Martir-martir Pertama Fransiskan

 

Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: 1 Sam 16:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28

“Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.” (Mrk 2:28)

Kata-kata Yesus ini merupakan tantangan bagi orang-orang Farisi. Mereka mengajukan pertanyaan yang kelihatan legitim (Inggris: legitimate) berkaitan dengan tindakan-tindakan para murid Yesus yang jelas bertentangan dengan hukum Sabat. Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengkonfrontir kekerdilan pemikiran mereka tentang diri-Nya dan karya pelayanan-Nya. Yesus juga mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat.

SONY DSC

Tindakan para murid memetik bulir gandum di hari Sabat jelas merupakan suatu pelanggaran peraturan-peraturan Yahudi berkaitan dengan hari Sabat. Ketika orang-orang Farisi itu mempertanyakan tindakan-tindakan para murid-Nya, Yesus menanggapinya dengan menyatakan otoritas-Nya dengan dua cara. Pertama, Ia memberi contoh dari Perjanjian Lama, yaitu pada waktu Daud dan para pengikutnya memakan roti suci yang ada di Rumah Allah. Dalam hal ini Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan Daud. Sebagaimana Daud mengizinkan para pengikutnya memuaskan rasa lapar mereka dengan mengorbankan kepatuhan yang ketat terhadap hukum, demikian pula Yesus dapat memperkenankan para murid-Nya untuk memuaskan rasa lapar mereka dengan memetik bulir gandum pada hari Sabat. Daud adalah pralambang dari Mesias yang dinanti-nantikan. Sudah diterima secara umum dalam masyarakat Yahudi bahwa sang Mesias yang dinanti-nantikan itu adalah seorang keturunan Daud. Jadi, Yesus mempunyai semacam hak prerogatif untuk mengupayakan agar kebutuhan-kebutuhan para murid-Nya terpenuhi; mereka yang telah meninggalkan segala milik mereka untuk mengikuti sang Rabi dari Nazaret dalam pelayanan-Nya kepada orang banyak.

Cerita tentang konfrontasi ini mengundang kita untuk melihat terobosan dari Kerajaan Allah. Sebagaimana pra-konsepsi orang-orang Farisi tentang karya pelayanan Yesus dan hukum dipertanyakan, maka kita pun ditantang untuk memahami bahwa Yesus jauh lebih daripada sekadar seorang manusia atau seorang guru yang baik. Anak Manusia adalah Tuhan atas segala sesuatu, bahkan atas hari Sabat!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu melihat dengan jelas otoritas dan martabat-Mu sebagai Tuhan. Engkau harus makin besar, tetapi kami harus makin kecil (bdk. Yoh 3:30). Kami ingin hidup seturut hukum kasih-Mu dan di bawah kekuasan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Pertama hari ini (1Sam 16:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG DAUD YANG DIURAPI MENJADI RAJA ISRAEL” (bacaan tanggal 16-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaa tanggal 17-1-17 dalam situs/blog SANG  SABDA) 

Cilandak, 14 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANGGUR BARU SEHARUSNYA DISIMPAN DALAM KANTONG KULIT BARU

ANGGUR BARU SEHARUSNYA DISIMPAN DALAM KANTONG KULIT BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Senin, 15 Januari 2018)

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”   Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Mrk 2:18-22) 

Bacaan Pertama: 1Sam 15:16-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Puasa, latar belakang pesta perkawinan, kain penambal dan baju tua, anggur dan kantong kulit penyimpan anggur, semua ini dirajut dengan indahnya. Inilah contoh betapa kreatif cara mengajar Yesus, Sang Guru. Bagi para murid, bersama Yesus, sang mempelai laki-laki yang sudah sekian lama dinanti-nantikan, sudah barang tentu tidak seperti pengalaman-pengalaman mereka sebelumnya. Menerima Yesus, bagi para murid juga samasekali tidak seperti yang selama itu mereka tahu. Semua kategori yang lama, aturan-aturan yang lama, dan bahkan harapan-harapan yang lama tidak berlaku lagi.

Kita semua diciptakan dengan kapasitas – dan kebutuhan – yang luarbiasa untuk menerima cintakasih, terutama sekali kasih Allah. Namun karena efek-efek dosa dalam hidup kita, kapasitas kita untuk menerima kasih Allah menjadi banyak terhalang, dengan kata lain menjadi semakin menciut. Karenanya kita mungkin berupaya memenuhi kebutuhan kita akan afeksi ilahi dengan mencari kepuasan-diri, dengan mencoba agar kita dapat diterima oleh orang-orang lain, dengan mencoba melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, atau dengan mengumpulkan harta benda kekayaan. Akan tetapi dalam hati, kita merasa bahwa tidak ada satu pun dari upaya yang disebutkan tadi, yang sungguh dapat mengisi kehampaan diri kita, meski kita telah menaruh harapan pada berbagai upaya tersebut. HANYA ALLAH YANG DAPAT MEMENUHI KEBUTUHAN-KEBUTUHAN KITA YANG PALING DALAM.

Dalam perumpamaan-Nya tentang anggur yang baru dan kantong kulit yang baru, Yesus seakan-akan mengatakan kepada orang-orang, “Aku adalah Anggur yang baru untuk-Nya kamu semua merasa haus. Bapa-Ku menciptakan kamu dengan rasa haus akan Daku ini. Rayakanlah kehadiran-Ku di tengah-tengah kamu, karena Akulah Mempelai laki-laki yang telah lama dinanti-nantikan. Makanlah tubuh-Ku, minumlah darah-Ku, terimalah cintakasih-Ku bagimu. Kalau Aku pergi, apabila kamu berpuasa dan berdoa dan meminta kepada Bapa, maka Dia akan mengutus Roh Kudus yang dijanjikan, yang akan memperbaiki kapasitasmu yang indah untuk menerima Aku dengan lebih lagi. Dia akan membuat kamu menjadi bejana-bejana yang dapat berisikan hidup-Ku sendiri. Kamu akan sungguh menjadi kantong kulit anggur baru yang dipenuhi Aku, Anggur yang baru.”

Yesus, sang Mempelai laki-laki, telah datang. Dia adalah Anggur yang baru, bukan seperti anggur manapun yang pernah kita cicipi. Yesus minta agar kita membuka diri kita bagi suatu cara hidup yang samasekali baru dalam Dia. Kini kita masih berpuasa, akan tetapi sekarang dengan hasrat untuk membuang jauh-jauh hidup dosa lama kita, kategori-kategori hidup yang lama dalam dunia ini, untuk menyiapkan diri kita bagi hari pada saat mana Yesus akan datang kembali untuk mengambil kita kepada diri-Nya sendiri dan mempersatukan kita sebagai satu umat dalam hadirat-Nya.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh-Mu, tingkatkanlah kapasitas kami untuk menerima Yesus, mempelai laki-laki kami. Semoga darah-Nya menyembuhkan luka-luka kami dan menyatukan Gereja-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “ANGGUR BARU DALAM KANTONG KULIT YANG BARU” (bacaan tanggal 15-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS