Posts tagged ‘MASA PRAPASKAH’

RENCANA ALLAH UNTUK MEMIMPIN KITA KEPADA SUATU KEHIDUPAN YANG PENUH DENGAN KEMULIAAN

RENCANA ALLAH UNTUK MEMIMPIN KITA KEPADA SUATU KEHIDUPAN YANG PENUH DENGAN KEMULIAAN

(Bacaan Pertama Upacara, TRIHARI PASKAH: HARI JUMAT AGUNG, 19 April 2019)

Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia – begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi – demikianlah ia akan membuat tercengang  banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.

Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN (YHWH) dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan YHWH dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan  bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi YHWH  telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan gtipu tidak ada dalam mulutnya. Tetapi YHWH berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak YHWH akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak. (Yes 52:13-53:12) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2,6,12-13,15-17,25; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16; 5:7-9; Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:42 

Biarlah bumi sunyi-senyap pada hari ini, karena inilah hari di mana Penciptanya mati. Penampilan Yesus terlihat begitu “rusak” disebabkan oleh penyaliban sehingga Dia kelihatan lebih-lebih sebagai seekor hewan kurban daripada seorang manusia. Yesus mencurahkan darah-Nya dan menyerahkan hidup-Nya sebagai pengganti dari hukuman yang sebenarnya pantas kita terima karena dosa-dosa kita. Walaupun kerajaan-Nya bukan dari dunia ini, Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya kelak untuk menghakimi orang hidup dan mati.

Yesus – sang Raja dari segala raja – datang ke tengah dunia dalam keadaan yang dina, lahir di kandang hewan, anak laki-laki dari seorang tukang kayu miskin dari Nazaret, sebuah “kampung” kecil di Galilea. Dia ikut ambil bagian dalam kepedihan hidup orang-orang miskin, orang-orang sakit, dan orang-orang yang tertindas dalam masyarakat. Ia melayani kebutuhan-kebutuhan mereka, baik kebutuh fisik maupun kebutuhan spiritual. Akan tetapi, bagaimana pun banyaknya perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan oleh-Nya, Dia dihina dan ditolak oleh sebagian besar pemuka/pemimpin agama Yahudi pada waktu itu. Yesus mengasihi setiap orang yang dijumpai-Nya dan menerima undangan-undangan makan dengan orang-orang dari setiap tingkatan dalam masyarakat. Ia ingin agar mereka tahu bahwa Bapa surgawi sangat mengasihi mereka. Namun pada akhirnya Dia ditolak. Malahan kelihatan seakan-akan Allah telah melupakan diri-Nya, …… membuang-Nya!

Marilah sekarang kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah aku sungguh menghargai kenyataan bahwa untuk menebus dosa-dosakulah Yesus mati di kayu salib? Sampai berapa mendalam kebenaran ini mempengaruhi kehidupanku sehari-hari? Sadarkah aku bahwa walaupun aku telah banyak berdosa, Allah tetap mengasihiku dan memanggil aku untuk menerima kasih-Nya? Apakah aku mengasihi sang “Anak Domba Allah” yang mengambil tanggung-jawab untuk segala dosaku? “Sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Memang Yesus tidak mempunyai dosa apapun, namun Ia diadili dalam “pengadilan dagelan”, disiksa, dihukum sampai mati di atas kayu salib. Ia tidak mengeluh dan Ia menerima penderitaan sengsara-Nya …… demi kita.

Yesus melihat ke depan bahwa setelah kematian-Nya, kita akan diberkati apabila percaya kepada-Nya. Hal itu sangat membuat-Nya penuh sukacita. Yesus sungguh rindu untuk melihat kita menerima penebusan kita. Sekarang, dapatkah anda menerima kehendak Allah untuk memanggul salib anda, menyangkal diri, dan mengikut Yesus? Dapatkah anda menaruh kepercayaan pada rencana Allah untuk memimpin anda kepada suatu kehidupan penuh kemuliaan? Ia sekarang telah bangkit, oleh karena itu baiklah kita bersama sang pemazmur berseru kepada kepada-Nya: “Engkau membebaskan aku, ya TUHAN (YHWH), Allah yang setia” (Mzm 31:6).

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku percaya bahwa Engkau mencurahkan darah-Mu untuk mengampuni dosa-dosaku dan untuk menawarkan kepadaku suatu kehidupan baru. Bebas dari rasa bersalah dan malu, dengan berani aku mendekati takhta Bapa surgawi. Aku menerima anugerah darah dan kuasa-Mu untuk mengatasi godaan dan mengampuni orang-orang yang bersalah kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 18:1-19:42), bacalah tulisan berjudul “KITA MENJADI MANUSIA BEBAS-MERDEKA KARENA KASIH KRISTUS BAGI KITA” (bacaan tanggal 19-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 19-04 BACAAN HARAIAN APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-3-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

LEBIH BAIK BAGI ORANG ITU SEKIRANYA IA TIDAK DILAHIRKAN

LEBIH BAIK BAGI ORANG ITU SEKIRANYA IA TIDAK DILAHIRKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM PEKAN SUCI – 17 April 2019)

Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata, “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus, “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam Yesus duduk makan bersama-sama dengan keduabelas murid itu. Ketika mereka sedang makan, Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku.” Lalu dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya, “Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab, “Dia yang  bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan. Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu berkata, “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.” (Mat 26:14-25) 

Bacaan Pertama: Yes 50:4-9a; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 69:8-10, 21-22,31,33-34 

Mengapa Yudas mengkhianati Yesus? Kita dapat menemukan jawaban terhadap pertanyaan ini dalam konflik antara “daging” dan “roh” yang ada dalam setiap orang. Kehidupan Yudas Iskariot dikemudikan oleh dorongan dalam dirinya yang begitu kuat untuk memuliakan-diri sendiri (Inggris: a strong sense of self-glorification) dan hal ini memungkinkan kedagingannya bergerak  bebas ke sana ke mari.

Hasrat-hasrat kedagingan Yudas (dan para murid lainnya) bertentangan secara tajam dengan hasrat perempuan yang datang ketika Yesus berada dalam rumah Simon si kusta di Betania; dia yang mengurapi Yesus dengan minyak wangi yang mahal (Mat 26:6-7). Dari sudut pandang yang rasional, reaksi mendongkolkan dari Yudas (dan para murid lainnya) terhadap pengurapan perempuan itu atas diri Yesus kiranya mengandung kebenaran juga. Uang sejumlah 300 dinar dari hasil penjualan minyak narwastu yang mahal itu memang dapat menolong banyak orang yang membutuhkan (Mat 26:9). Akan tetapi, sebenarnya “orang miskin” bukanlah keprihatinan si Yudas; dia hanyalah seorang “koruptor” yang munafik. Hal ini terungkap dalam Injil Yohanes yang mencatat peristiwa serupa, namun terjadi di rumah Lazarus di Betania dan perempuan itu adalah Maria, salah seorang saudara perempuan dari Lazarus (lihat Yoh 12:6). Menurut Yesus perempuan itu justru “telah melakukan perbuatan baik” pada-Nya (Mat 26:10). Dia  sungguh mencari Allah dan dalam rohnya dia melihat Yesus sebagai Pribadi yang datang untuk memberikan kehidupan bagi dunia. Ungkapan cinta-kasih dan syukurnya sungguh memuliakan Yesus, teristimewa sebagai persiapan penguburan-Nya (Mat 26:12; Mrk 14:8).

Di taman Getsemani, Yesus menasihati Petrus: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang berniat  baik, tetapi tabiat manusia lemah” (Mat 26:41). Yudas tidak dapat bertahan dalam menghadapi dan menanggung “saat-saat pencobaan” karena dia tidak pernah mencari Allah, untuk mengenal-Nya dalam roh. Karena tidak mampu melihat rencana Allah yang lebih besar, nanti kita akan melihat bahwa Yudas menjadi putus-asa dan menggantung dirinya sendiri (Mat 27:3-5). Akan tetapi, Petrus berhasil bertahan pada “saat-saat pencobaan”. Seperti juga halnya dengan Yudas, dia mengalami kegalauan karena telah mengkhianati Yesus (Mat 26:75), namun – tidak seperti Yudas – Petrus juga terbuka bagi Roh Kudus. Pada hari Pentakosta, Petrus dipenuhi dengan Roh Kudus dan dalam rohnya memahami keindahan dari rencana penyelamatan Allah. Kemudian dia bertindak atas dasar pengalaman ini dan mulai mewartakan Injil dengan penuh kuat-kuasa (Kis 2:14-36).

Semakin kita melangkah maju untuk memperoleh penerangan atas roh kita dengan kebenaran-kebenaran ilahi, semakin banyak pula kita akan dituntun oleh Roh Kudus dan semakin sedikit pula kita akan hidup dalam daging. Dengan taat menekuni resolusi-resolusi kita untuk masa Prapaskah, kita bekerja-sama dengan rahmat allah dan mulai untuk hidup dalam roh secara lebih mendalam.

DOA: Datanglah, Roh Kudus. Ajarlah kami untuk membuka diri bagi kehadiran Allah. Tolonglah kami untuk membuang segala cara kedagingan dan hidup dalam roh ketika kami memeluk rencana Allah yang penuh kasih bagi kami semua dalam Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 50:4-9a), bacalah tulisan berjudul “JALAN YESUS MENUJU SALIB” (bacaan tanggal 17-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-04 BACAAN HARIAN APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-3-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TERANG BAGI BANGSA-BANGSA

TERANG BAGI BANGSA-BANGSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI – 16 April 2019)

Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN (YHWH)  telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Tetapi aku berkata: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada YHWH dan upahku pada Allahku.” Maka sekarang firman YHWH, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya – maka aku dipermuliakan di mata YHWH, dan Allahku menjadi kekuatanku – , firman-Nya “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” (Yes 49:1-6) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17; Bacaan Injil: Yoh 13:21-33,36-38

Allah orang Israel adalah Allah yang Mahabesar, dan rencana-Nya adalah juga rencana yang besar dan agung. Betapa dalam kasih-Nya! Dalam hikmat-kebijaksanaan-Nya, Allah (YHWH) memanggil Israel untuk menjadi saksi dari kemuliaan-Nya dan otoritas-Nya. Dengan memegang teguh hubungan perjanjian mereka dengan YHWH, maka mereka akan mengenal dan mengalami berkat-Nya dan memberi kesaksian kepada dunia bahwa YHWH adalah Allah  yang satu dan benar.

Akan tetapi, pada masa nubuatan ini diserukan, Israel bukanlah sedang terang bercahaya sehingga sungguh berfungsi sebagai “terang bagi bangsa-bangsa” (lihat Yes 49:6). Kota suci Yerusalem sudah luluh lantak, Bait Suci sudah hancur berantakan dan praktis rata dengan tanah; orang-orang Yahudi digiring keluar dari tanah mereka menuju pembuangan Babel. Tentu orang-orang Yahudi dapat mengidentifikasikan diri mereka dengan keluhan serta ratapan sang Nabi: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna” (Yes 49:4). Namun demikian, justru dalam situasi hampir putus-asa dan terhina inilah orang-orang Yahudi di pembuangan belajar betapa penuh komitmen Allah pada janji-janji-Nya. Mereka tidak lagi menggantungkan diri pada Bait Suci dan tanah milik mereka untuk membuktikan bahwa Allah mengasihi mereka, melainkan belajar bahwa Dia ingin memenuhi diri mereka – pribadi lepas pribadi – dengan  kasih-Nya dan dengan demikian membuat mereka menjadi saksi-saksi-Nya, apa pun keadaaannya.

Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah TERANG DUNIA (lihat Yoh 8:12; 9:5). Memang di atas segalanya, Yesus adalah terang Allah kepada bangsa-bangsa, bahkan dalam sengsara dan wafat-Nya. Dalam keadaan lemah dan dina sedemikian, Yesus menggantungkan diri sepenuhnya kepada janji-janji Allah, percaya bahwa Bapa-Nya akan tetap bersama Dia dan tindakan Yesus akan diberi ganjaran oleh Bapa-Nya. Ditinggikan melalui kebangkitan-Nya, Yesus menjadi “terang bagi bangsa-bangsa” yang sejati, yang mendatangkan keselamatan “sampai ke ujung bumi” (Yes 49:6). Sekarang, setiap orang diundang ke dalam kerajaan Allah. Tidak seorang pun yang dikesampingkan.

Kita semua telah mengalami bagaimana rasanya frustrasi dan patah semangat. Barangkali ketika seorang anggota keluarga kita meninggalkan jalan Tuhan dan menghindar dari persekutuan kita. Kita mungkin masih bergumul terus dengan dosa-dosa kita. Atau mungkin juga memori-memori masa lalu telah membelenggu kita dalam rasa takut yang mencekam dan ketiadaan pengharapan. Seperti Yesus, sang Hamba YHWH Perjanjian Baru, kita pun dapat belajar dari berbagai kesulitan ini suatu ketergantungan kepada Allah yang lebih mendalam. Bahkan dalam saat-saat yang paling gelap sekali pun dalam kehidupan kita, Allah selalu beserta kita. Dia mengajar kita dan mengajar kita agar  benar-benar menjadi seturut gambar dan rupa-Nya (lihat Kej 1:26-27). Marilah kita membuka hati kita kepada-Nya dan memperkenankan Roh Kudus-Nya untuk menghibur dan memperkuat kita. Dalam setiap situasi, Allah selalu beserta kita, minta kepada kita agar mempercayai-Nya. Marilah kita membuat hati kita siap menerima janji-janji-Nya untuk membuat kita menjadi “terang yang mencerminkan kemuliaan-Nya kepada seluruh dunia”.

DOA: Bapa surgawi, bukalah mata kami agar mampu melihat betapa agung rencana-Mu bagi kami semua. Tolonglah aku untuk melihat apakah makna sesungguhnya dari segalanya yang terjadi atas diri kami dalam membentuk kami dan memperdalam hidup kami dengan Engkau. Yesus, kami ingin menjadi terang-Mu bagi dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:21-33,36-38), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS MENGAKUI DAN MENERIMA KENYATAAN BAHWA KITA MEMBUTUHKAN TUHAN” (bacaan tanggal 16-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-04 BACAAN HARIAN 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-3-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMI MENYEMBAH ENGKAU, TUHAN YESUS KRISTUS, DI SINI DAN DI SEMUA GEREJA-MU YANG ADA DI SELURUH DUNIA

KAMI MENYEMBAH ENGKAU, TUHAN YESUS KRISTUS, DI SINI DAN DI SEMUA GEREJA-MU YANG ADA DI SELURUH DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI – 15 April 2019)

Enam hari sebelum Paskah, Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedangkan salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Lalu Maria mengambil setengah liter minyak narwastu murni yang mahal sekali, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Hal ini dikatakannya bukan karena ia memperhatikan orang-orang miskin, melainkan karena ia seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Lalu kata Yesus, “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada bersama kamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama kamu.”

Sejumlah besar orang Yahudi mendengar bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala berencana untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus. (Yoh 12:1-11) 

Bacaan Pertama: Yes 42:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1-3,13-14 

Dalam pekan sebelum kematian-Nya, Yesus tinggal di Betania yang terletak dekat Yerusalem. Ia tiba “enam hari sebelum Paskah” (lihat Yoh 12:1), menyediakan cukup waktu persiapan untuk pesta besar di kota suci itu dan juga persembahan kurban-Nya yang terakhir. Marilah kita semua mengikuti teladan Yesus pada pekan yang istimewa ini. Marilah kita memperlakukan hari-hari ini sebagai suatu waktu untuk mempersiapkan kedatangan Hari Raya Paskah dengan memperdalam pemahaman kita akan makna penebusan Yesus.

Kita telah mendengar bahwa pengampunan atas dosa-dosa kita adalah berkat pertama yang mengalir dari atas kayu salib Yesus. Namun sebenarnya ada begitu banyak lagi berkat lain! Maria dari Betania menunjukkan satu berkat ketika keluarganya menjamu Yesus. Belum lama berselang Yesus membangkitkan saudaranya Lazarus dari kematian, sehingga tentunya ada suatu rasa takjub dalam ruang perjamuan. Maria memahkotai perjamuan itu ketika dia meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal sekali, dan menyekanya dengan dengan rambutnya (lihat Yoh 12:3).

Jauh dari perbuatan yang sia-sia (buang-buang minyak narwastu seharga tiga ratus dinar), tindakan luarbiasa dari Maria itu merupakan tindakan yang benar di mata-Nya. Bagi Maria sendiri tindakan itu mungkin merupakan tanda atau ungkapan kasih dan syukur atas kasih Yesus yang ditunjukkan oleh-Nya dengan membangkitkan Lazarus. Pada tataran yang lain, tindakannya menunjukkan sejenis penyembahan (adorasi) dan puji-pujian yang secara alami akan muncul pada saat seseorang mengkontemplasikan kasih yang telah ditunjukkan Allah kepada dirinya.

Dalam doa kita hari ini, baiklah kita mengkontemplasikan kasih yang telah dicurahkan Yesus pada kayu salib. Oleh kematian-Nya, dimungkinkanlah bagi kita untuk ditarik ke dalam persekutuan (communio) yang intim/akrab dengan diri-Nya. Kasih-Nya bagi kita adalah kekal-abadi, senantiasa segar, tanpa syarat, dan kreatif. Dia telah menyelamatkan kita dari kematian dan memenuhi diri kita dengan hidup ilahi. Yesus sungguh ingin memegang, merangkul anda dan saya erat-erat agar dekat pada hati-Nya.

Biarlah kebenaran-kebenaran ini mengendap ke dalam hati kita masing-masing. Kita memang mempunyai tanggung-jawab terhadap orang-orang miskin, keluarga dan komunitas masing-masing, namun dalam pekan suci ini baiklah kita membuat suatu komitmen istimewa untuk melakukan penyembahan kepada Yesus yang begitu mengasihi kita semua. Marilah kita “buang” waktu dan energi kita untuk melakukan sembah-bakti pada pekan istimewa ini, sehingga dengan demikian pancaran harum-mewangi dari penyembahan anda dan saya dapat memenuhi seluruh rumah Allah.

DOA: Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini dan di semua Gereja-Mu yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 42:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “YANG DIMAKSUDKAN ADALAH YESUS DAN SETIAP ORANG YANG DIPERSATUKAN DENGAN DIA DALAM IMAN” (bacaan tanggal 15-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-04 BACAAN HARIAN APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-3-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARENA KASIH-NYA YANG TOTAL

KARENA KASIH-NYA YANG TOTAL

(Bacaan Pertama Misa Kudus,  HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN [TAHUN C] – 14 Maret 2019)

Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu. (Yes 50:4-7) 

Bacaan Perarakan: Luk 19:28-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:8-9,17-20,23-24; Bacaan Kedua: Flp 2:6-11; Bacaan Injil: Luk 22:14-23:56 (Luk 23:1-49)

Hari Minggu Palma ini adalah awal dari Pekan Suci. Pekan Suci adalah waktu yang tepat sekali untuk mengingat cintakasih Yesus bagi kita selagi Dia memanggul salib-Nya ke Kalvari dan mati disalib di atas bukit itu. Sementara kita mengingat-ingat kerahiman-Nya, Yesus menjadikan Pekan Suci ini lebih daripada sekadar kenangan. Ia mengundang kita untuk berjalan bersama-Nya, untuk berdiri menyaksikan dan menanti bersama-Nya, supaya dalam cintakasih kita dapat menghibur-Nya.

Bacaan pertama di atas yang diambil dari Kitab Yesaya adalah sebagian dari “Nyanyian Hamba YHWH” yang bagi kita – umat Kristiani – adalah tentang Yesus Kristus sendiri. Karena kasih-Nya yang total kepada kita semua, Yesus membiarkan punggung-Nya dipukuli (bdk. Yes 50:6). Karena kasih-Nya yang total kepada kita semua, Yesus tidak menutupi  wajah-Nya dari penodaan dan peludahan (bdk. Yes 50:6). Karena kasih-Nya yang total kepada kita semua, dengan patuh Yesus sudi menerima hukuman mati, “bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8). Yesus menderita sengsara dan mati karena kasih-Nya yang total kepada kita, yaitu anda semua dan saya.

Yesus mati di kayu salib: boleh dikatakan hampir semua orang normal percaya akan hal ini. Ini adalah fakta sejarah. Statistik tahun 2010 menunjukkan bahwa dari total penduduk dunia sebanyak 6,9 milyar orang, sebanyak 2,18 milyar adalah pemeluk agama Kristiani. Umat Kristiani percaya bahwa Yesus wafat di kayu salib karena kasih-Nya yang total kepada kemanusiaan. Akan tetapi berapa banyak umat Kristiani yang sungguh percaya bahwa kematian Yesus di kayu salib itu karena kasih-Nya yang total kepada kita, pribadi lepas pribadi?

Sekarang, apakah anda sendiri percaya bahwa sewaktu Yesus tergantung di kayu salib, Ia memikirkan diri anda juga secara khusus? Apakah anda juga berpendapat bahwa Dia juga menyebut nama anda? (lihat Yes 43:1). Apakah anda percaya bahwa nama anda telah tertulis di telapak tangan-Nya yang terpaku di kayu salib? (Yes 49:16).

Memang cukup sukar untuk percaya bahwa Yesus memperhatikan kita satu persatu sewaktu Dia tergantung di kayu salib, sebab kita sendiri hanya mampu memperhatikan secara khusus beberapa orang saja. Akan tetapi, kita juga harus ingat bahwa Yesus itu bukan sekadar manusia seperti kita-kita ini. Yesus juga sungguh Allah. Ia dapat dan memang wafat khusus untuk kita (anda dan saya), juga apabila anda hanya pribadi satu-satunya yang masih hidup di dunia. Dia akan wafat bagi anda, karena Dia mengasihi anda secara pribadi, secara khusus. Oleh karena itu, marilah kita mengasihi-Nya juga seperti itu.

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau memberikan Putera-Mu sendiri untuk mengasihi diriku secara pribadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Flp 2:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BERTERIMA KASIH SECARA KHUSUS KEPADA TUHAN YESUS PADA HARI MINGGU PALMA INI” (bacaan tanggal 14-4-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KONSPIRASI JAHAT UNTUK MEMBUNUH YESUS

KONSPIRASI JAHAT UNTUK MEMBUNUH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Sabtu, 13 April 2019)

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi beberapa di antara mereka pergi kepada orang-orang Farisi dan menceritakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata, “Apa yang harus kita lakukan? Sebab Orang itu membuat banyak mukjizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita. Tetapi salah seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia  bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.

Karena itu Yesus tidak tampil lagi di depan umum di antara orang-orang Yahudi, tetapi Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.

Pada  waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain, “Bagaimana pendapatmu? Aka datang jugakah Ia ke pesta?” (Yoh 11:45-56) 

Bacaan Pertama: Yeh 37:21-28; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13

“Sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi  telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia.” (Yoh 11:57)

Petikan ayat ini tidak termasuk dalam Bacaan Injil hari ini, namun saya akan menggunakannya juga agar pembahasan kita atas niat jahat orang-orang yang menentang Yesus dilatar-belakangi secara lebih lengkap.

Mengapa orang-orang Farisi dan para pemuka Yahudi begitu membenci Yesus sehingga berniat untuk membunuh-Nya? Mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus dan kebenaran-kebenaran yang diajarkan-Nya itu dimaksudkan untuk melembutkan hati orang dan menarik orang untuk lebih dekat lagi pada Allah. Yesus menginginkan agar orang-orang yang dikasihi-Nya itu memahami bahwa Allah telah datang untuk menyelamatkan mereka. Namun demikian, tindakan-tindakan Yesus itu malah semakin memisahkan orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi itu dari diri-Nya.

Memang mudahlah bagi kita untuk melihat bahwa orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi sebagai manusia-manusia berkepala batu dan memiliki hati keras, akan tetapi baiklah pada saat ini kita melihat hati kita sendiri. Tidak mengherankanlah kalau kita mendapatkan hati kita sebenarnya “lebih dekat” dengan hati kaum Farisi dan konco-konco mereka, meskipun kita samasekali tidak mau menerima kenyataan pahit itu. Orang-orang Farisi sangat religius, suatu hal yang harus kita akui. Mereka mengetahui firman Allah dan merasa yakin sekali bahwa mereka memahami benar cara kerja Allah.  Namun demikian, mereka tetap saja menolak Yesus dan tidak mau menerima hal-hal baik yang dilakukan oleh Yesus, malah mereka selalu mencari-cari kesempatan dan celah untuk menjatuhkan-Nya. Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita percaya bahwa kita mengetahui benar bagaimana Allah  bekerja? Bagaimana kita akan bereaksi terhadap cerita-cerita ajaib yang menyangkut mukjizat-mukjizat? Bagaimana kita akan bereaksi manakala kita mendengarkan kesaksian seseorang tentang bagaimana Allah bertindak dalam kehidupannya lewat suatu cara yang tidak biasa? Apakah kita akan mempertimbangkannya sebagai sekadar sesuatu yang berbau takhyul atau langsung mencap orang yang bersaksi itu sebagai seorang fanatik? Barangkali kita merasa tertantang ketika mendengar cerita-cerita seperti itu, tetapi akal-budi kita tetap tidak dapat menerimanya, dst.

Yang perlu kita ketahui adalah, bahwa Allah tidak pernah menyerah. Ia akan tetap mencurahkan rahmat dan kuasa-Nya untuk memimpin kita kepada suatu iman yang lebih mendalam. Ia akan menemui kita di mana Dia mau, dengan penuh kelemah-lembutan dan cintakasih. Ia akan menarik kita kepada-Nya, agar kita mengenal diri-Nya dengan lebih baik. Seandainya Allah kelihatan tidak bertindak sesuai dengan pengetahuan/pengalaman kita, maka kita harus berhati-hati agar kita tidak bereaksi secara negatif. Allah adalah Allah yang Mahasegala, dan kita hanyalah manusia dengan pengetahuan yang sangat-sangat terbatas (meski memiliki gelar S3 dalam teologi sekali pun). Kita tidak pernah boleh memandang rendah dan remeh sesuatu yang mungkin saja memang sungguh merupakan intervensi ilahi dalam sebuah kasus yang dihadapi manusia. Kita juga sekali-kali tidak boleh memandang “miring” terhadap orang yang katanya menerima berkat Allah itu (mis. disembuhkan dari penyakit berat secara ajaib dst.), lalu dengan mudahnya kita berkomentar: “Ah dasar orang Karismatik, fanatik, titik!” Bukankah sikap seperti itu tidak lebih baik dari sikap yang ditunjukkan kaum Farisi dan para pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus hidup di muka bumi?

Tentu saja dalam hal seperti ini sangat perlulah untuk melakukan upaya membeda-bedakan roh atau katakanlah melakukan discernment (discretio), tetapi yang penting sekali juga di sini adalah bagi kita untuk membuka diri terhadap kemungkinan bahwa Allah sedang melakukan sesuatu yang berbeda, yang mungkin saja dimaksudkan untuk menolong kita mengalami kasih-Nya juga. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar membimbing kita selalu. Baiklah kita dengan rendah hati bersiap untuk menerima rahmat Allah, meskipun datang dalam bentuk yang tidak seperti kita harap-harapkan.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin sungguh-sungguh terbuka terhadap sentuhan kasih-Mu. Tolonglah aku untuk percaya bahwa apa saja yang Dikau lakukan terhadapku adalah karena Dikau mengasihiku. Tolonglah aku agar tidak merasa takut terhadap pekerjaan-Mu yang dapat Dikau lakukan dengan berbagai cara yang terkadang tidak dapat diterima oleh akal-budiku. Tuhan Yesus, aku mengasihi Dikau dengan sepenuh hatiku. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yeh 37:21-28), bacalah tulisan yang berjudul AKU AKAN MENJADI ALLAH MEREKA DAN MEREKA AKAN MENJADI UMAT-KU”  (bacaan tanggal 13-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-04 BACAAN HARIAN APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA SAMPAI KEHILANGAN KESEMPATAN

JANGANLAH KITA SAMPAI KEHILANGAN KESEMPATAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Jumat, 12 April 2019)

Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah. Kata Yesus kepada mereka, “Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ilah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ilah – sedangkan Kitab Suci tidak dapat dibatalkan – masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali-kali mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini memang benar.” Lalu banyak orang di situ percaya kepada-Nya. (Yoh 10:31-42) 

Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-7 

Bagaimana mungkin orang-orang Yahudi, bangsa-Nya sendiri, sampai melawan Yesus  dengan sedemikian hebatnya? Bukankah lebih mudah bagi mereka untuk menerima Dia dan ajaran-Nya? Di sisi lain, kita tidak boleh menolak kenyataan bahwa ajaran Yesus sangatlah susah dan keras, teristimewa bagi orang-orang bagi orang-orang yang bangga (sombong?) akan posisi mereka sebagai umat pilihan Allah. Sebelum pertobatannya, Santo Paulus kiranya tidak dapat menerima kenyataan bahwa Injil diwartakan oleh Petrus dan para rasul – walaupun mereka semua berkebangsaan Yahudi. Kita bisa saja berpikir bahwa Paulus adalah pemenuhan sejati dari pengharapan-pengharapan segenap bangsa Israel.

Memang cukup mengherankanlah kalau ada begitu banyak orang Yahudi yang menolak Dia, namun kita selalu harus mengingat kenyataan bahwa oposisi terhadap Yesus terletak dalam setiap hati manusia, termasuk hati kita masing-masing. Orang-orang Yahudi  telah menyaksikan sendiri begitu banyak mukjizat Yesus dan mendengar khotbah-khotbah-Nya dan perumpamaan-perumpamaan-Nya yang sedemikian membumi, akan tetapi bilamana mereka dikonfrontasikan dengan dosa mereka sendiri dan kebutuhan akan pertobatan, menjadi susahlah untuk menerima Dia. Berapa banyak mukjizat yang kita saksikan sendiri, semua itu tidak akan pernah cukup untuk meyakinkan diri kita. Ada sesuatu dalam hati kita masing-masing yang harus berubah.

Allah ingin agar kita semua mengenali apa saja perlawanan kita terhadap Yesus dan ajaran-Nya, sehinga melalui pertobatan kita akan berbalik kepada-Nya dan mengenal serta mengalami kemerdekaan yang sejati. Allah menginginkan agar kita memeriksa hati nurani kita dan melihat perlawanan terhadap Allah yang kita “bawa-bawa” terus dalam hati kita. Kita dapat memohon kepada Roh Kudus untuk menyelidiki hati kita dan menolong kita melihat kekerasan hati kita. Kekerasan hati dapat mengejawantah dalam kemarahan atau kepahitan. Barangkali ketidaksabaran dan sifat cepat marah. Atau yang terasa lebih halus, adalah kita berpikir bahwa diri kita lebih baik daripada orang-orang lain, atau …… kita bersikap “sombong rohani” (“Aku kan berdoa Ibadat Harian secara teratur?”; “Aku kan berdoa rosario setiap hari”; “Aku kan berdoa Kerahiman Ilahi dengan teratur?”) , kita merasa “better than thou” setiap kali berhadapan dengan orang lain. Apa pun dosa-dosa kita yang spesifik, semua menunjuk pada satu realitas sentral: oposisi terhadap Yesus dan Injil-Nya.

Itulah sebabnya mengapa Gereja menyediakan Sakramen Rekonsiliasi. Allah ingin menunjukkan kepada kita dosa-dosa kita, bukan untuk menghukum kita, melainkan untuk memberikan kepada kita hidup baru dan kebebasan/kemerdekaan. Kemerdekaan yang kita dapat alami manakala kita mengakui dosa-dosa kita memampukan kita untuk berjalan lebih dekat dengan Tuhan Yesus. Oleh karena itu, janganlah sampai kita kehilangan kesempatan untuk berjalan lebih dekat dengan-Nya.

DOA: Roh Kudus, selidikilah hatiku dan tunjukkanlah kepadaku cara-caraku yang salah dalam upayaku membenarkan diriku dan gagal mengakui dosa-dosaku. Aku mengakui bahwa aku adalah seorang pendosa, dan aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Berdayakanlah diriku untuk dapat berjalan bersama-Nya dan mengalami kasih-Nya yang memerdekakan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:31-42), bacalah tulisan yang  berjudul “YESUS DAN PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI YANG MELAWAN-NYA” (bacaan tanggal 12-3-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-04 BACAAN HARIAN APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-3-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS