Posts tagged ‘ROH KUDUS’

BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS

BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS [TAHUN A] – Minggu, 11 Juni 2017)

Akhirnya, Saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!

Berilah salam seorang kepda yang lain dengan ciuman kudus. Salam dari semua orang kudus kepada kamu.

Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. (2Kor 13:11-13) 

Bacaan Pertama: Kel 34:4b-6,8-9; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56; Bacaan Injil: Yoh 3:16-18 

Kiranya hanya sedikit dari kita yang akan memikirkan bahwa kita telah memecahkan misteri Tritunggal Mahakudus. Bagaimana Allah yang satu sungguh terdiri dari tiga Pribadi berbeda-beda, namun tetap saja satu Allah? Kita akan dengan cepat merasa terbeban dengan pemikiran rumit ini dan kita pun menyimpulkan bahwa Allah itu terlalu sulit untuk dimengerti secara penuh.

Pokok dari Hari Raya Tritunggal Mahakudus bukanlah untuk memecahkan sebuah teka-teki matematika (1+1+1=3 atau 1x1x1=1) atau teka-teki metafisika. Sebaliknya, pada hari ini kita berkumpul untuk merayakan Allah yang adalah misteri ini, dan bahwa Dia telah menyatakan diri-Nya kepada ciptaan-Nya. Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini adalah salah satu dari sedikit hari-raya/pesta yang didedikasikan kepada sebuah doktrin dan bukannya suatu peristiwa keselamatan. Perayaan ini diawali pada abad pertengahan. Pernyataan Allah kepada ciptaan-Nya ini sungguh agung. Kita melihat Bapa surgawi mencurahkan hidup-Nya dan kasih-Nya ke dalam diri Putera-Nya yang kekal. Kita melihat sang Putera membalas kasih ini melalui tindakan penyembahan dan ketaatan kepada Bapa-Nya. Kita pun melihat bahwa kasih yang eksis terjalin antara Bapa dan Putera-Nya begitu besar sehingga kasih ini juga adalah “seorang” Pribadi ilahi, Roh Kudus.

Dengan menakjubkan sekali kebenaran-kebenaran indah ini dinyatakan tidak seturut apa yang dispekulasikan oleh para filsuf, melainkan melalui tindakan Allah yang mendekati orang-orang berdosa melalui Putera-Nya, Yesus Kristus. Selagi Yesus berjalan sebagai seorang manusia di antara manusia-manusia lain di atas bumi ini, Dia menunjukkan kepada kita kasih Allah in action. Selagi Yesus tergantung di kayu salib, Ia membebaskan kita-manusia dari dosa dan membuka pintu surga bagi kita. Sekarang Yesus yang telah bangkit dalam kemuliaan mengutus Roh Kudus-Nya untuk menghangatkan hati kita dengan pengalaman akan kasih berlimpah ini. Ini adalah pernyataan-diri yang paling disenangi oleh Allah untuk diberikan kepada kita, karena hal itu memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan segala luka kita, memenuhi diri kita dengan pengharapan, dan mempersatukan kita dengan diri-Nya.

Dalam doa dan Misa Kudus hari ini, marilah kita memusatkan pandangan kita pada Allah Tritunggal Mahakudus dan memohon agar kepada kita diberikan suatu pernyataan kasih Bapa dan Putera yang lebih mendalam. Kita (anda dan saya) harus cukup berani untuk meminta kepada Roh Kudus agar menarik kita ke dalam hidup Allah sendiri. Ini adalah warisan kita masing-masing sebagai seorang Kristiani yang dibaptis, dan hal ini adalah sesuatu yang dirindukan oleh Bapa surgawi untuk melakukannya bagi kita semua. Pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, patutlah kita mempunyai ekspektasi bahwa Allah –   yang mampu melakukan segala sesuatu – mampu juga untuk memenuhi diri kita dengan hidup ilahi-Nya dan memberikan kepada kita rasa dari kasih-Nya yang melampaui setiap kekuatan lain dalam alam semesta.

DOA: Allah Yang Mahakuasa, kekal, adil dan berbelaskasihan, perkenankanlah kami yang malang ini, demi Engkau sendiri, melakukan apa yang setahu kami Engkau kehendaki, dan selalu menghendaki apa yang berkenan kepada-Mu, agar setelah batin kami dimurnikan dan diterangi serta dikobarkan oleh api Roh Kudus, kami mampu mengikuti jejak Putera-Mu yang terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, dan berkat rahmat-Mu semata-mata sampai kepada-Mu, Yang Mahatinggi, Engkau yang dalam tritunggal yang sempurna dan dalam keesaan yang sederhana, hidup dan memerintah serta dimuliakan, Allah Yang Mahakuasa sepanjang segala masa. Amin. (doa S. Fransiskus dari Assisi pada akhir Suratnya kepada Seluruh Ordo).

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “DALAM NAMA BAPA, PUTERA DAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 11-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017). 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI   

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 4 Juni 2017)

Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Waktu itu di Yerusalem tinggal orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika terdengar bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka terkejut karena mereka masing-masing mendengar orang-orang percaya itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Prigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: 1 Kor 12:3-7,12-13; Bacaan Injil: Yoh 20:19-23 

“Datanglah, ya Roh Kudus!”  Seringkah anda pernah mendengar doa ini? Barangkali begitu seringnya, sehingga anda tidak merasakan lagi bahwa anda sesungguhnya sedang berbicara kepada Allah. Akan tetapi, pada hari raya yang agung ini, marilah kita berani untuk menemukan kembali betapa beraninya doa permohonan ini!

Apakah ada yang lebih layak dan pantas pada Hari Raya Pentakosta ini daripada menyambut kedatangan Roh Kudus secara sederhana dan penuh kerendahan hati seperti yang dilakukan oleh para rasul sekitar 2.000 tahun lalu di Yerusalem? Apakah ada cara yang lebih layak dan pantas untuk berdoa pada hari ini daripada secara sederhana mengulang-ulang doa singkat tadi: “Datanglah, ya Roh Kudus!”, percaya bahwa Allah mendengar dan menjawab doa kita itu. Walaupun kelihatannya “tolol” dan repetitif, “don’t worry, be happy!” Permohonan-permohonan sederhana seperti ini dapat menjadi sangat penuh kuat-kuasa. Teruslah berdoa, “Datanglah, ya Roh Kudus”, dan lihatlah pemikiran-pemikiran, imaji-imaji, atau emosi-emosi apa yang mengalir ke dalam hati anda. Kita dapat merasa yakin bahwa apabila semua itu adalah pemikiran-pemikiran yang baik dan menyangkut hal-hal yang Ilahi, maka Roh Kudus berada di belakangnya.

Pendekatan Yesus terhadap anak-anak sangatlah sederhana. Dia bersabda: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:14-16). Semua itu jauh dari komplikasi, namun sungguh menyentuh hati – baik bagi anak-anak itu dan para orangtua mereka. Demikian pula, ketika kita berdoa dengan kata-kata sederhana, “Datanglah, ya Roh Kudus!”, kita sebenarnya berperilaku seperti anak-anak kecil. Kita percaya kepada Allah, menaruh pengharapan dalam diri-Nya, dan menghadap hadirat-Nya untuk berkat-berkat-Nya.

Pencurahan Roh seperti apa yang akan Allah berikan kepada kita (anda dan saya) apabila kita menyambut Roh Kudus secara sederhana? Dia dapat memenuhi diri kita dengan pemahaman mendalam tentang kasih Allah sehingga kita mengenal serta mengalami bahwa Dia sungguh nyata dalam suatu cara yang baru. Dia dapat menunjukkan kepada kita belas kasih yang begitu mendalam sehingga kita pun sampai bertelut penuh syukur dan bersembah sujud kepada-Nya. Roh Kudus yang sama dapat membawa kita kepada air mata pertobatan, atau menggerakkan kita untuk menari penuh sukacita dan kebebasan. Roh Kudus juga dapat melakukan sesuatu yang samasekali tidak diharap-harapkan – namun tetap indah-menakjubkan. Oleh karena itu, marilah kita masing-masing pada hari ini datang menghadap Allah sebagai seorang anak kecil: murni, sederhana, dan terbuka. Kita tidak tahu apa yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk dilakukan-Nya bagi anak-anak-Nya pada hari yang penuh dengan rahmat dan kuasa surgawi?

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus!

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS” (bacaan tanggal 4-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini  adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Juni 2017 [Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Bruder] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENTAKOSTA YANG SEJATI

PENTAKOSTA YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Yustinus, Martir – Kamis, 1 Juni 2017

 

Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26)

Bacaan Pertama: Kis 22:30;23:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11  

“Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:20-21)

Selama Novena Pentakosta ini kita berdoa guna menerima Roh Kudus secara lebih mendalam, yaitu Roh Kesatuan (lihat Ef 4:3), supaya kita dapat bersatu sebagaimana Bapa surgawi dan Yesus satu adanya (Yoh 17:21). Akan tetapi kesatuan yang kita upayakan bukanlah untuk menutupi adanya perpecahan; melainkan justru kita mau mengambil sikap berani untuk mengamati dan menghadapi perpecahan tersebut. Misalnya saja, Paulus mengamati adanya perpecahan yang ada antara orang-orang Farisi dan kaum Saduki (Kis 23:6-7; dalam bacaan pertama hari ini). Oleh karena itu hampir saja Paulus dihajar habis-habisan (dikoyak-koyak) oleh kedua kelompok yang saling bertentangan itu (Kis 23:10). Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa jika kita menerima Roh Kudus – Roh persatuan – maka kita akan menghadapi ketidaksatuan itu secara frontal dan tentu saja wajar saja apabila kita menderita karenanya.

Hal ini menimbulkan masalah. Walaupun kita sangat menginginkan persatuan dengan Allah, dalam Gereja, bahkan juga persatuan antar-kelompok yang saling bermusuhan, mungkin saja kita berkeberatan untuk mengorbankan hidup kita “untuk mengumpulkan dan mempersatukan umat Allah yang tercerai berai” (Yoh 11:52). Akan tetapi, apabila kita enggan untuk berkorban – apalagi bersedia mati – bagi persatuan, maka hal ini berarti bahwa kita tidak sudi menerima Roh Kudus (Roh persatuan) tersebut. Maka perlu kita menyadari bahwa Pentakosta, kesatuan, sedia mati berkorban demi persatuan, semuanya menjadi satu dan sejalan.

Kita akan memiliki Pentakosta yang sejati atau Pentakosta yang sebenarnya, apabila cinta kasih kepada Allah dan sesama kita jauh lebih kuat daripada cinta-diri kita dan rasa takut kita terhadap kematian/maut (lihat Kid 8:6). Cinta kasih adalah suatu katalisator yang membimbing kita kita menuju mati terhadap diri sendiri, membangun persatuan dan menerima Pentakosta baru. Cinta kasih yang mendalam akan menuntun kita untuk masuk ke dalam kemartiran, suatu gerak-maju Pentakosta dan Trinitas-kesatuan. Dengan bekal cinta kasih yang memadai, maka kita pun berani untuk berdoa: “Datanglah, ya Roh Kudus!” 

DOA: Bapa surgawi, Yesus Kristus, Roh Kudus, Engkau adalah Allah yang satu dalam cinta kasih. Buatlah kami semua satu dalam iman dan cinta kasih. Jadikanlah diri kami biji-biji gandum yang jatuh ketanah dan mati, lalu akan menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24). Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, sekarang dan selama-lama-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “AGAR SUPAYA MEREKA SEMUA MENJADI SATU” (bacaan tanggal 1-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Mei 2016 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SANG PARAKLETOS

SANG PARAKLETOS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 23 Mei 2017)

 

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Sementara Yesus terus berbicara dengan para murid (rasul)-Nya tentang diri-Nya yang akan  meninggalkan mereka untuk pergi kepada Bapa surgawi yang mengutus-Nya, Dia melihat bahwa mereka dikuasai oleh kesedihan. Mereka kelihatannya tidak memahami mengapa Yesus harus pergi. Yesus juga dengan terus terang berbicara kepada mereka tentang kebenaran. Apabila Dia tidak pergi, maka Parakletos, Roh Kudus, tidak akan datang kepada para murid. Jadi, Dia akan pergi dan mengutus Roh Kudus kepada mereka.

Apakah yang akan dilakukan oleh Roh Kudus apabila Dia datang? Ia akan menjadi penasihat mereka, penghibur mereka. Dia akan membimbing dan memberdayakan  mereka dalam relasi mereka, dalam perjumpaan mereka dengan dunia.

Roh Kudus akan membuktikan bahwa dunia salah tentang dosa, tentang keadilan, tentang penghukuman. Ia (Roh Kudus) akan menunjukkan lewat kehidupan Gereja yang ilahi, adil dan kudus yang akan dibimbingnya, Kristus yang tanpa dosa, bahwa Dia adil, bahwa Dia tidak pantas dihukum. Orang-orang yang menolak untuk percaya kepada-Nya, untuk mentaati perintah-perintah-Nya, adalah mereka yang salah. Merekalah yang tidak adil dan patut dihukum.

Sekarang, kita berada di pihak yang mana? Apakah kita orang-orang yang ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi dengan iman, ketaatan dan cinta kasih kita? Apakah kita termasuk orang-orang adil dan benar dari Kristus? Apakah kehidupan kita memberi kesaksian tentang kekudusan Kristus, tubuh-Nya (Gereja), di mana kita semua adalah para anggotanya?

Ketika dibaptis, kita telah menerima Roh Kudus seperti yang telah dialami oleh para rasul. Ia adalah penasihat kita juga. Dia adalah pembimbing dan penghibur kita. Dia memberikan kepada kita berbagai instruksi, bimbingan dan kekuatan, keberanian untuk hidup dengan/bersama Kristus, dengan/dalam Gereja-Nya. Kita tidak perlu menderita penghukuman. Dunialah yang dihukum setiap kali kita bersaksi – oleh/dengan kuasa Roh Kudus tentang Kristus sebagai Tuhan kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengutus Roh Kudus-Mu kepada kami. Semoga Dia menolong kami untuk hidup kudus dan dan benar dalam kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA” (bacaan tanggal 23-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05  BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TUGAS SANG PENOLONG: MENGAJARKAN DAN MENGINGATKAN

TUGAS SANG PENOLONG: MENGAJARKAN DAN MENGINGATKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 4 Mei 2015) 

“Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya, “Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?”Jawab Yesus “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.  (Yoh 14:21-26) 

Bacaan Pertama: Kis 14:5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16 

“… Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”  (Yoh 14:26)

Ini adalah untuk kedua kalinya Yohanes berbicara mengenai sang Penolong (Roh Kebenaran; lihat Yoh 14:16-17). Dalam ayat Yoh 14:26 ini Yohanes mulai mengidentifikasikan sang Penolong dengan Roh Kudus. Sang Penolong (Yunani: Parakletos), seperti juga Anak (Putera) diutus oleh Bapa, namun dalam nama Yesus (lihat petikan ayat di atas). Sang Penolong akan menggantikan peranan Yesus dalam komunitas orang beriman. Sang Penolong inilah yang menjamin perwahyuan yang bersifat permanen di dalam dunia. Sang Penolong atau Roh Kudus ini merupakan satu-satunya jawaban yang tersedia bagi mereka yang ingin tetap berada bersama Yesus dan mau melihat Bapa surgawi.

Sang Penolong diutus oleh Bapa surgawi dalam nama Yesus untuk “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26). Dengan demikian, peranan sang Penolong adalah melanjutkan pekerjaan Yesus dengan menjamin adanya perwahyuan yang bersifat permanen di dalam dunia. Namun tugas ini dilaksanakan dalam komunitas orang beriman di mana dan pada saat mana sabda Yesus diproklamasikan dan didengar, di mana dan pada saat mana perintah-perintah-Nya didengar dan ditaati.

Inilah sebabnya mengapa sang Penolong ini diidentifikasikan dengan Roh Kudus. Ia adalah kuasa dari kehadiran Yesus yang bangkit dalam komunitas mereka yang percaya kepada-Nya. Komunitas orang beriman adalah komunitas di mana sabda Yesus diproklamasikan. Proklamasi termaksud adalah pekerjaan sang “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (Yoh 14: 26).

Jadi, para pembaca Injil tidak dapat mengabaikan fakta bahwa hal ini adalah yang dilakukan oleh Yohanes ketika dia menulis Injilnya. Ini adalah yang dilakukan oleh setiap pewarta Injil. Ini adalah yang dilakukan oleh komunitas orang beriman bilamana mereka mendengar, mendengarkan dan sampai kepada pemahaman Injil. Mengajar dan mengingatkan tidak pernah merupakan suatu tindakan yang berdiri sendiri. Mereka yang diajar, yang diingatkan “akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26), adalah bagian dari operasi seperti orang-orang yang mengajar mereka dan mengingatkan mereka apa yang dikatakan oleh Yesus. Itulah sebabnya kita mengacu kepada mereka sebagai “komunitas orang beriman”.

Operasi gabungan dari “mengajarkan dan mengingatkan” adalah pekerjaan “sang Penolong, Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (Yoh 14:25). Sang Penolong diutus oleh Bapa “dalam nama-Ku” karena “Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku” (Yoh 16:14). Tugas sang Penolong bukanlah untuk menyingkap sesuatu yang baru, melainkan untuk melestarikan/memelihara kebaharuan dari perwahyuan di dalam komunitas umat beriman.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Roh Kudus dalam nama Yesus kepada kami, untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kami dan mengingatkan kami kami akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada kami semua di sepanjang masa. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 14:5-18), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI” (bacaan tanggal 15-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05  BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Mei 2017 [Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA

YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu,  6 Mei  2017) 

Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.

Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida. Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Kata Petrus kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangkitlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Karena Lida dekat dengan Yope, murid-murid yang mendengar bahwa Petrus ada di Lida, menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan, “Segeralah datang ke tempat kami.”  Lalu berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersebar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. (Kis 9:31-42)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-17; Bacaan Injil: Yoh 6:60-69 

Petrus  berkata kepada Eneas yang lumpuh untuk bangkit dan memberesi tempat tidurnya, dan orang lumpuh itu sembuh seketika (Kis 9:33-34). Kemudian di Yope Petrus berdoa dan kemudian mengatakan kepada jenazah Tabita: “Tabita, bangkitlah!”; maka Tabita yang sudah mati itu bangkit dan hidup lagi (Kis 9:36-41). Sungguh merupakan mukjizat-mukjizat menakjubkan yang dilakukan Petrus dan para murid Yesus lainnya. Jika kita lihat sejarah Gereja – khususnya sejarah para kudus – maka kita dapat membaca cerita-cerita tentang S. Fransiskus dari Assisi, S. Antonius dari Padua, S. Padre Pio dari Pietrelcina, Santo Don Bosco, dll. yang berdoa dengan penuh kuat-kuasa untuk menyembuhkan, baik ketika mereka masih hidup di atas bumi dan bahkan setelah mereka wafat. Cerita-cerita itu cukup untuk membuat anda menjadi takjub dan terkesima. Apakah para kudus itu mengetahui sesuatu yang kita tidak tahu?

Kebenarannya adalah bahwa di belakang setiap mukjizat, ada sumber unik yang sama: Yesus Kristus. Apakah Petrus sendiri memiliki sejumlah talenta atau karunia/anugerah luarbiasa untuk menyembuhkan orang sakit atau membangkitkan orang yang sudah mati? Apakah para kudus memiliki kuasa ilahi atau kuasa ajaib yang menyebabkan mereka mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin kita dapat lakukan? Tentu saja tidak! “Rahasia” dari keberhasilan, sukses, atau kehebatan mereka adalah Yesus, Tuhan yang sudah bangkit.

Namun kalau dikatakan sebagai “rahasia”, itu juga tidak sepenuhnya benar. Misalnya Petrus secara terbuka mengatakan kepada Eneas: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” (Kis 9:34). Tidak ada pekerjaan/karya penyembuhan yang dapat terlaksana dengan kekuatan dan upaya manusia, melainkan hanya oleh kuat-kuasa Yesus yang dimohonkan melalui doa. Sebelum membangkitkan Tabita, Petrus menyuruh setiap orang untuk ke luar ruangan, kemudian dia “berlutut dan berdoa” (Kis 9:40). Kita pun dapat berdoa dalam iman, dengan ekspektasi akan hal-hal luarbiasa dari Yesus. Yesus adalah sumber belas kasih (kerahiman) dan penyembuhan dari Siapa Petrus memperoleh kuat-kuasa untuk menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Tabita.

Dalam doa, kita dapat memohon kesembuhan jiwa dan raga bagi diri kita sendiri. Kita dapat berpartisipasi dalam pelayanan penyembuhan Allah dengan berdoa untuk seseorang yang sedang menderita sakit dan/atau membutuhkan pertolongan. Kelihatannya mengandung risiko atau menakutkan, atau bahkan menggoncang diri kita untuk berani melangkah  dan berdoa dengan cara begini. Namun kita akan mulai memohon dengan penuh keyakinan apabila kita berpikir bagaimana Bapa surgawi ingin mencurahkan  kesembuhan dan kasih atas diri kita. Bahkan apabila kita tidak menerima mukjizat-mukjizat yang kita mohon, hal itu bukanlah berarti bahwa ada cacat atau kekurangan dalam iman kita atau iman orang lain. Allah mempunyai alasan-alasan-Nya sendiri. Walaupun begitu, apa pun yang terjadi kita dapat ikut ambil bagian dalam keyakinan para kudus bahwa Dia mendengarkan. Allah akan senantiasa menggunakan sarana yang paling “pas” (hanya Dia yang mengetahui) untuk memenuhi rencana-Nya bagi hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang besar kepadaku, yang memberikan kepadaku keyakinan untuk mendekati-Mu dalm iman dan memohon kesembuhan dari-Mu dalam nama Putera-Mu, Yesus Kristus. Semoga darah-Nya membersihkan diriku selagi Roh Kudus-Mu bergerak dengan penuh kuasa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan dengan judul “YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH” (bacaan tanggal 6-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Mei 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SANTO STEFANUS, MARTIR KRISTUS

SANTO STEFANUS, MARTIR KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Atanasius, Uskup Pujangga Gereja – Selasa, 2 Mei 2017)

 “Hai orang-orang yang keras kepala, yang keras hati dan tuli, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu. Siapa dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan bunuh. Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu tidak menurutinya.”

Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Sesudah berkata demikian, ia pun meninggal. Saulus juga setuju dengan pembunuhan atas Stefanus. (Kis 7:51-8:1a)

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21; Bacaan Injil: Yoh 6:30-35

Dalam menghadapi para penuduhnya yang sudah panas-hati dan siap untuk merajamnya, Stefanus menolak untuk mundur. Sebaliknya, dia menyebut para lawannya itu sebagai orang-orang yang keras kepala, keras hati dan tuli dan selalu menentang Roh Kudus (lihat Kis 7:51). Apakah kita mempunyai keberanian untuk berdiri tegak seperti Stefanus dalam menghadapi para penuduh kita? Apakah kita siap mati demi keyakinan kita tentang Yesus? Stefanus terus mengucapkan kata-kata yang diberikan Allah kepadanya. Dalam artian tertentu kehidupan Stefanus paralel dengan kehidupan Yesus; keduanya penuh dengan rahmat dan mampu membuat mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya.

Teks Kitab Suci yang saya pakai di atas adalah teks Perjanjian Baru terbitan LAI, Edisi TB II. Teks Kis 7:51 menurut Alkitab terbitan LAI Edisi TB berbunyi sebagai berikut: “Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu.”  Marilah kita menyoroti potongan kalimat yang digarisbawahi di atas.

Apakah yang dimaksudkan Stefanus dengan tidak bersunat? Dalam Kitab Ulangan, Musa berbicara mengenai nilai sejati dari penyunatan yang merupakan bagian dari tradisi warisan bangsa Israel: “YHWH, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasithi YHWH, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup” (Ul 30:6). Di bawah perjanjian baru yang dicanangkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus,  hati lama kita yang keras seperti batu, sekarang dapat digantikan dengan hati yang taat, seperti dikatakan oleh Nabi Yehezkiel: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh 36:26).

Stefanus menggambarkan para pemuka agama Yahudi sebagai orang-orang tidak bersunat hati dan telinga. Mengapa demikian? Karena mereka telah menutup diri bagi Allah sedemikian rupa sehingga Dia tidak dapat bergerak dalam diri para pemuka agama tersebut dan menghangatkan diri mereka dengan kasih-Nya. Karena para tokoh agama itu lebih menyukai hikmat mereka sendiri ketimbang hikmat Allah, maka telinga mereka pun dapat dikatakan tidak bersunat. Karena hanya mengandalkan diri pada “pembenaran diri mereka sendiri”, maka mereka tidak dapat menerima rahmat Roh Kudus. Mereka menentang semua orang yang dapat membawa mereka kepada pertobatan dalam arti sesungguhnya. Sederhananya, mereka tidak terbuka terhadap sapaan Tuhan Allah.

Marilah kita teladani Stefanus yang begitu berani berbicara mengenai kebenaran tentang Tuhan Yesus. Seperti Yesus dan Stefanus, marilah kita mengampuni para penuduh kita atau mereka yang membenci kita karena kita adalah pengikut-pengikut Kristus, sehingga dengan demikian kehidupan Yesus semakin dimanisfestasikan dalam diri kita. Marilah kita berketetapan hati untuk tidak merasa takut terhadap salib pengejaran/penganiayaan, kesalahpahaman, fitnah, umpatan dan caci-maki dari mereka yang tidak senang kepada kita. Sebaliknya, marilah kita rangkul salib yang diperuntukkan bagi kita itu dengan pengharapan dan sukacita. Barangkali saja kita akan dipanggil untuk memberi kesaksian tentang Yesus seperti yang dilakukan oleh Stefanus. Tidak sedikit saudara-saudari kita di Korea, Jepang, Cina telah membuktikan bahwa mereka pun pantas diberi gelar martir, saksi Kristus, murid Kristus yang sejati. Nama-nama mereka turut menghiasi buku para martir Kristus yang bab pertamanya sudah dimulai sejak zaman Gereja perdana. Sungguh suatu sukacita luarbiasa bagi kita apabila kita memperkenankan salib melakukan pekerjaannya dalam diri kita. Sebagai catatan penutup, baiklah kita mendengar sabda bahagia dari Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Mat 5:11-12).

DOA: Roh Kudus Allah, aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Bergeraklah dengan bebas dan penuh kuasa dalam diriku, sehingga Yesus dapat dimuliakan dalam diriku seperti halnya Dia dimuliakan dalam diri Santo Stefanus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:30-35), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SANG ROTI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 12-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 10-04 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan denganj judul sama untuk bacaan tanggal 12-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Mei 2017 [Peringatan S. Yusuf Pekerja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS