Posts tagged ‘ROH KUDUS’

TANDA-TANDA TERSEBUT TIDAK BERHENTI PADA PERJANJIAN BARU

TANDA-TANDA TERSEBUT TIDAK BERHENTI PADA PERJANJIAN BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 27 Oktober 2017) 

Yesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59) 

 Bacaan Pertama: Rm 7:18-25a; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:66,68,76-77,93-94

Allah membuat banyak “tanda-tanda heran” bagi umat-Nya selagi Dia memimpin mereka menuju “tanah terjanji”. Dia membelah Laut Teberau (Kel 14:15-31), membimbing perjalanan mereka di padang gurun dengan tiang api dan awan (Kel 13:21), bahkan Ia memberi makan mereka secara ajaib dengan manna dan buruh puyuh (baca: Kel 16). Dengan jalan serupa, Yesus juga membuat banyak mukjizat dan tanda heran, semuanya merupakan indikator bahwa Kerajaan Allah sudah ada di tengah mereka.

Terpujilah Allah, karena tanda-tanda tersebut tidak berhenti pada Perjanjian Baru. Dalam setiap zaman, Allah bekerja, dengan penuh kuasa membentangkan rencana penyelamatan-Nya. Sebagaimana orang-orang pada zaman Yesus, kita pun dipanggil untuk membaca tanda-tanda dari tindakan Allah dan kedatangan Kerajaan-Nya di tengah-tengah kita.

Banyak tanda-tanda hari ini menunjuk pada hasrat Allah akan persatuan, tidak hanya dengan umat Kristiani yang terpecah-pecah sejak berabad-abad lalu, melainkan juga dengan kemanusiaan yang terpecah-pecah. Kita dapat melihat, misalnya, beberapa hal yang telah dilakukan oleh almarhum Santo Paus Yohanes Paulus II beberapa tahun menjelang tahun 2000. Beliau memberi persetujuan atas “Deklarasi Bersama tentang Doktrin Pembenaran” (Joint Declaration on the Doctrine of Justification) yang ditandatangani oleh Vatikan dan Federasi Gereja Lutheran Dunia (the World Lutheran Federation) pada bulan Oktober 1999. Sri Paus juga memimpin suatu kebaktian doa ekumenis untuk persatuan umat Kristiani dengan para pemimpin Kristiani di Basilika Santo Paulus Di luar tembok pada bulan Januari 2000. Dalam bulan Februari 2000, beliau melakukan perjalanan ziarah ke Gunung Sinai untuk berdoa bagi umat manusia agar merangkul hukum moral dan kebenaran Allah. Pada bulan Maret tahun yang sama, beliau mendoakan sebuah doa pengakuan dosa di mana beliau memohon pengampunan atas dosa-dosa para warga Gereja di masa lampau dan sekarang. Akhirnya di Yerusalem, Sri Paus menghimbau terwujudnya kerja sama antara umat Yahudi, Kristiani dan Muslim. Semua tindakan Sri Paus ini dan juga banyak lagi tindakan serupa sebenarnya merupakan ungkapan kenabian, tanda-tanda bagi semua umat yang percaya berkaitan dengan hasrat mendalam dari Bapa surgawi untuk terciptanya persatuan umat manusia.

Tanda-tanda ini memang ada dan terjadi di sekeliling kita – bahkan di dalam hati kita masing-masing. Kita sekarang hidup pada masa pencurahan rahmat secara istimewa dari surga. Oleh karena itu, marilah kita dengan tekun melanjutkan berdoa untuk tercapainya persatuan Kristiani, bagi orang-orang Yahudi, dan untuk semua orang yang belum mengenal Allah, semoga mereka mencari Dia dengan segenap hati dan akhirnya menemukan-Nya.  Marilah kita senantiasa membuka mata kita terbuka bagi tanda-tanda dan menyambut gerakan-gerakan Yesus melalui Roh-Nya di dalam dunia.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mata kami agar mampu melihat apa yang Engkau sedang lakukan di tengah-tengah kami. Berikanlah kepada kami visi yang segar, pengharapan yang segar dan sukacita yang segar dalam membawa Kabar Baik kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA ROH KUDUS BEKERJA DI ATAS MUKA BUMI” (bacaan tanggal 27-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

BUKAN DAMAI, MELAINKAN PERTENTANGAN

BUKAN DAMAI, MELAINKAN PERTENTANGAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Kamis, 26 Oktober 2017) 

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana! Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”  (Luk 12:49-53) 

Bacaan Pertama: Rm 6:19-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 1-4,6 

Sadar atau tidak sadar, kita manusia adalah makhluk-makhluk yang terikat pada adat-kebiasaan. Kita menyukai rutinitas yang sudah familiar dan seringkali mencari keamanan dari hal-hal yang kita dapat kendalikan. Misalnya refren yang biasa kita dengar: “Pokoknya, damai tenteram!” Akan tetapi Yesus mengatakan: “Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan” (Luk 12:51). Kadang-kadang kata-kata Yesus memang sulit untuk dipahami. Injil-Nya bukanlah sekadar suatu pesan damai dan sukacita, melainkan pesan mengenai perpecahan dan perjuangan juga. Dia datang ke tengah umat manusia untuk memisahkan kegelapan dari terang, namun kecenderungan pribadi kita untuk berdosa menolak pemisahan sedemikian.

Sifat dari salib Kristus-lah yang akan membuat kita mampu untuk memisahkan daging dan roh. Semakin penuh kita menyerahkan diri kepada kerja Kristus membersihkan kita – walaupun terasa sulit – semakin besar pula warisan yang kita terima daripada-Nya pada akhir zaman. Dengan demikian, semakin besar pula sukacita dan damai sejahtera kita dalam kehidupan ini.

Yesus Kristus, sang Raja Damai, ingin agar kita memahami bahwa damai-sejahtera-Nya akan memenuhi diri kita apabila kita memilih diri-Nya dan jalan-Nya, bukannya jalan-jalan atau cara-cara dunia yang ujung-ujungnya berakibat negatif bagi keselamatan jiwa kita. Kemuridan/pemuridan Kristiani mengandung biaya yang tidak sedikit, karena dapat mengakibatkan perpecahan dalam keluarga. Akan tetapi, meski dalam situasi yang paling sulit dan penuh pencobaan pun, Yesus memerintahkan kita – seperti juga ketika Dia memberdayakan kita – untuk mengasihi musuh-musuh kita dan mendoakan mereka yang menganiaya kita (Mat 5:44). Ini adalah pilihan yang dapat kita buat di tengah-tengah konflik-konflik keluarga. Sebagai akibatnya, berkat-berkat ilahi akan mengalir dengan deras ketika kita mengingat belas kasih Allah atas diri kita masing-masing dan menempatkan iman kita dalam kehadiran Roh-Nya di dalam diri kita.

Yesus mengutus Roh Kudus – api cintakasih Allah – untuk memurnikan kita dan mencerahkan pikiran kita bagi kebenaran-kebenaran Kerajaan-Nya. Sementara kita terus setia dalam doa-doa harian kita dan pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan selagi kita dengan setia pula berpartisipasi dalam liturgi-liturgi (terutama dalam perayaan Ekaristi) dan karya-karya pelayanan Gereja, maka Roh Kudus-Nya akan senantiasa bersama kita: Dia membimbing, menuntun dan memberdayakan kita dengan tak henti-hentinya. Roh Kudus ini akan memperkuat dan membimbing kita melalui setiap konflik dan perjuangan kita. Yesus meyakinkan kita: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:33).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Tuhan, berikanlah kepadaku sebuah hati seperti hati-Mu, yang senantiasa bersedia melakukan kehendak Bapa. Penuhilah pikiran dan hatiku dengan kebenaran-Mu sehingga dengan demikian aku akan mengetahui bilamana diriku dimurnikan oleh api cintakasih-Mu. Engkau memang pantas untuk dikasihi, dipuji disembah dan dimuliakan, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:49-53), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK MELEMPARKAN API KE BUMI” (bacaan tanggal 26-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Oktober 2017 [HARI MINGGU BIASA XXIX – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KERAJAAN ALLAH HADIR APABILA ROH KUDUS MEMILIKI KEBEBASAN UNTUK BEKERJA

KERAJAAN ALLAH HADIR APABILA ROH KUDUS MEMILIKI KEBEBASAN UNTUK BEKERJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 21 Oktober 2017)

Ordo Santa Ursula (OSU): Hari Raya S. Ursula, Perawan, Pelindung Tarekat 

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Rm 4:13,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:6-9,42-43 

Yesus mempercayakan para murid-Nya secara penuh kepada pemeliharaan Roh Kudus. Roh Kudus ini akan memimpin para murid ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13) dan mengingatkan mereka akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada mereka (Yoh 14:26). Roh Kudus ini juga akan bersama para murid ketika mereka menghadapi kekuatan-kekuatan yang melawan mereka di dunia (Luk 12:11) Roh Kudus ini dijanjikan kepada semua orang yang percaya dan dibaptis (Kis 2:38-39), akan menjadi sebuah sumber kekuatan, hikmat dan penghiburan bagi mereka, selagi mereka berupaya mengikuti jejak Yesus dan tahap demi tahap menjadi semakin serupa dengan Dia. Untuk alasan inilah Yesus memperingati para pendengar-Nya agar jangan sekali-kali menghujat Roh Kudus (Luk 12:10).

Menolak hasrat Allah yang mau berdiam dalam diri kita dan membuat kita seperti Dia, berarti menolak kenyataan bahwa Dia memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal yang ajaib dan menakjubkan. Kalau kita takut atau bingung, maka hal ini berarti secara diam-diam kita percaya bahwa Roh Kudus tidaklah cukup untuk menjawab doa-doa kita atau menguatkan kita dalam berbagai kesulitan. Demikian pula, kalau kita menjalani hari-hari kita seakan-akan sudah mempunyai jawaban atas segala kebutuhan kita, maka hal ini berarti bahwa Roh Kudus bukanlah kehidupan Allah yang diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, tetapi sekadar sebuah pemberian ‘ekstra’, pemberian bagus dari Allah yang bersifat opsional, bukannya sumber kehidupan yang sebenarnya.

Seorang murid Yesus dapat menghadapi oposisi, baik internal maupun eksternal. Satu jenis oposisi saja sudah dapat merisaukan hatinya, melemahkan imannya, dan menggerus sukacitanya dalam mengikuti jejak Kristus. Namun demikian, percayalah bahwa janji Yesus tetap benar dan sangat dapat diandalkan, yaitu bahwa para murid tidak akan pernah ditinggalkan sendiri. Dalam satu kesempatan lain Yesus bersabda: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu” (Luk 12:32). Kerajaan Allah hadir apabila Roh Kudus memiliki kebebasan untuk bekerja. Marilah kita – baik dalam hati maupun pikiran kita – tetap berpegang teguh pada kenyataan bahwa Roh Kudus telah diberikan kepada kita untuk mentransformasikan diri kita; Roh Kudus ada dalam Gereja untuk menguduskan umat, dan Roh Kudus ada di dalam dunia untuk membawa penebusan bagi semua orang yang mengikuti Kristus.

DOA: Ya Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu. Penuhilah hati umat-Mu, nyalakanlah di dalamnya api cinta-Mu,  dan baharuilah seluruh muka bumi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN” (bacaan tanggal 21-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Oktober 2017 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ROH KUDUS AKAN DIBERIKAN OLEH BAPA SURGAWI KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

ROH KUDUS AKAN DIBERIKAN OLEH BAPA SURGAWI KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 12 Oktober 2017)

Keluarga OFMCap.: Peringatan S. Serafinus dr Montegranaro, Biarawan 

Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13) 

Bacaan Pertama: Mal 3:13-4:32a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Apakah artinya iman apabila tidak diiringi dengan rasa percaya (trust) dan ketekunan? Allah menginginkan kita untuk menjadi orang yang tidak bergeming sampai sahabat-tetangganya memberikan kepadanya semua yang dibutuhkannya. Allah ingin agar kita datang kepada-Nya dengan penuh gairah serta menghasrati berkat-Nya dan mempunyai harapan Ia akan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. Jika Ia tidak langsung memberikan apa yang kita mohonkan, maka hal itu tidak disebabkan Ia terlalu sibuk dengan hal-hal lain atau memang tidak cukup memperhatikan kita. Seringkali, Ia ingin agar kita menunggu karena Dia mengetahui bagaimana ketekunan yang mendalam dapat mengubah kita. Santo Paulus menulis: “…… kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Rm 5:3-4).

Seperti halnya orang-orang tertentu, kita bisa saja merasa cepat putus-asa apabila kita tidak langsung menerima sebuah jawaban dari Yang Ilahi. Kita dapat merasa seperti menyerah berharap kepada Allah dan mulai mengandalkan diri kepada kekuatan kita sendiri.  Akan tetapi Allah mendesak kita agar supaya tetap mengetuk pintu; Ia berjanji akan membukakan pintu dan mencurahkan Roh Kudus-Nya. Kita tidak pernah boleh melupakan, bahwa Dia adalah “seorang” Bapa yang hikmat-Nya mentransenden (melampaui) pemahaman manusiawi yang kita miliki.

Bilamana Allah menunda pemberian jawaban-Nya terhadap doa kita, maka hal itu seringkali disebabkan karena Dia sedang mengajar kita untuk takut kepada-Nya secara layak dan pantas. Dia adalah Allah dan kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Allah selalu baik, kudus dan benar. Dia selalu pantas bagi rasa percaya kita dan Dia taat-setia apakah kehidupan kita lurus di jalan-Nya atau suka melenceng kesana-kemari. Fondasi batu-karang kita yang kokoh adalah perwahyuan Allah sendiri tentang diri-Nya dalam Yesus Kristus, bukan turun-naiknya kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita mendasarkan kehidupan kita atas kenyataan siapa Allah itu  dan kasih-Nya yang tak pernah gagal, maka kita dapat melihat bahwa doa-doa kita dijawab oleh-Nya. Sama seperti orang yang dengan tekunnya meminta bantuan sahabat-tetangganya dan akhirnya sang sahabat-tetangganya itu memberikan apa saja yang dibutuhkan olehnya, maka kita pun akan menerima berkat-berkat yang Allah inginkan untuk dicurahkan atas diri kita.

Melalui kesetiaan dan ketekunan, kita dapat memperkenankan Allah untuk membentuk diri kita menjadi bejana-bejana bagi kemuliaan-Nya. Selagi kita menanti-nanti-Nya, kita pun belajar untuk menaruh kepercayaan kepada diri-Nya, dan dalam menaruh rasa percaya itu pada-Nya, kita pun bertumbuh semakin kuat dan lebih mampu untuk menolong orang-orang lain. Itulah saatnya di mana Dia dapat memakai kita sebagai instrumen-instrumen untuk mewujudkan kasih dan kuat-kuasa-Nya ke tengah-tengah dunia.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau penuh kasih dan baik hati. Aku percaya bahwa sementara aku bertekun dalam doa dan ketaatan, maka Engkau akan mencurahkan Roh Kudus-Mu ke atas diriku, untuk membuat diriku seorang “ciptaan baru” seturut karakter Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:5-13), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN RENDAH HATI DAN TEKUN BERDOA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 12-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 10 Oktober 2017 [Peringatan S. Daniel dkk., Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS

BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS [TAHUN A] – Minggu, 11 Juni 2017)

Akhirnya, Saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!

Berilah salam seorang kepda yang lain dengan ciuman kudus. Salam dari semua orang kudus kepada kamu.

Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. (2Kor 13:11-13) 

Bacaan Pertama: Kel 34:4b-6,8-9; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56; Bacaan Injil: Yoh 3:16-18 

Kiranya hanya sedikit dari kita yang akan memikirkan bahwa kita telah memecahkan misteri Tritunggal Mahakudus. Bagaimana Allah yang satu sungguh terdiri dari tiga Pribadi berbeda-beda, namun tetap saja satu Allah? Kita akan dengan cepat merasa terbeban dengan pemikiran rumit ini dan kita pun menyimpulkan bahwa Allah itu terlalu sulit untuk dimengerti secara penuh.

Pokok dari Hari Raya Tritunggal Mahakudus bukanlah untuk memecahkan sebuah teka-teki matematika (1+1+1=3 atau 1x1x1=1) atau teka-teki metafisika. Sebaliknya, pada hari ini kita berkumpul untuk merayakan Allah yang adalah misteri ini, dan bahwa Dia telah menyatakan diri-Nya kepada ciptaan-Nya. Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini adalah salah satu dari sedikit hari-raya/pesta yang didedikasikan kepada sebuah doktrin dan bukannya suatu peristiwa keselamatan. Perayaan ini diawali pada abad pertengahan. Pernyataan Allah kepada ciptaan-Nya ini sungguh agung. Kita melihat Bapa surgawi mencurahkan hidup-Nya dan kasih-Nya ke dalam diri Putera-Nya yang kekal. Kita melihat sang Putera membalas kasih ini melalui tindakan penyembahan dan ketaatan kepada Bapa-Nya. Kita pun melihat bahwa kasih yang eksis terjalin antara Bapa dan Putera-Nya begitu besar sehingga kasih ini juga adalah “seorang” Pribadi ilahi, Roh Kudus.

Dengan menakjubkan sekali kebenaran-kebenaran indah ini dinyatakan tidak seturut apa yang dispekulasikan oleh para filsuf, melainkan melalui tindakan Allah yang mendekati orang-orang berdosa melalui Putera-Nya, Yesus Kristus. Selagi Yesus berjalan sebagai seorang manusia di antara manusia-manusia lain di atas bumi ini, Dia menunjukkan kepada kita kasih Allah in action. Selagi Yesus tergantung di kayu salib, Ia membebaskan kita-manusia dari dosa dan membuka pintu surga bagi kita. Sekarang Yesus yang telah bangkit dalam kemuliaan mengutus Roh Kudus-Nya untuk menghangatkan hati kita dengan pengalaman akan kasih berlimpah ini. Ini adalah pernyataan-diri yang paling disenangi oleh Allah untuk diberikan kepada kita, karena hal itu memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan segala luka kita, memenuhi diri kita dengan pengharapan, dan mempersatukan kita dengan diri-Nya.

Dalam doa dan Misa Kudus hari ini, marilah kita memusatkan pandangan kita pada Allah Tritunggal Mahakudus dan memohon agar kepada kita diberikan suatu pernyataan kasih Bapa dan Putera yang lebih mendalam. Kita (anda dan saya) harus cukup berani untuk meminta kepada Roh Kudus agar menarik kita ke dalam hidup Allah sendiri. Ini adalah warisan kita masing-masing sebagai seorang Kristiani yang dibaptis, dan hal ini adalah sesuatu yang dirindukan oleh Bapa surgawi untuk melakukannya bagi kita semua. Pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, patutlah kita mempunyai ekspektasi bahwa Allah –   yang mampu melakukan segala sesuatu – mampu juga untuk memenuhi diri kita dengan hidup ilahi-Nya dan memberikan kepada kita rasa dari kasih-Nya yang melampaui setiap kekuatan lain dalam alam semesta.

DOA: Allah Yang Mahakuasa, kekal, adil dan berbelaskasihan, perkenankanlah kami yang malang ini, demi Engkau sendiri, melakukan apa yang setahu kami Engkau kehendaki, dan selalu menghendaki apa yang berkenan kepada-Mu, agar setelah batin kami dimurnikan dan diterangi serta dikobarkan oleh api Roh Kudus, kami mampu mengikuti jejak Putera-Mu yang terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, dan berkat rahmat-Mu semata-mata sampai kepada-Mu, Yang Mahatinggi, Engkau yang dalam tritunggal yang sempurna dan dalam keesaan yang sederhana, hidup dan memerintah serta dimuliakan, Allah Yang Mahakuasa sepanjang segala masa. Amin. (doa S. Fransiskus dari Assisi pada akhir Suratnya kepada Seluruh Ordo).

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “DALAM NAMA BAPA, PUTERA DAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 11-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017). 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI   

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 4 Juni 2017)

Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Waktu itu di Yerusalem tinggal orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika terdengar bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka terkejut karena mereka masing-masing mendengar orang-orang percaya itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Prigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: 1 Kor 12:3-7,12-13; Bacaan Injil: Yoh 20:19-23 

“Datanglah, ya Roh Kudus!”  Seringkah anda pernah mendengar doa ini? Barangkali begitu seringnya, sehingga anda tidak merasakan lagi bahwa anda sesungguhnya sedang berbicara kepada Allah. Akan tetapi, pada hari raya yang agung ini, marilah kita berani untuk menemukan kembali betapa beraninya doa permohonan ini!

Apakah ada yang lebih layak dan pantas pada Hari Raya Pentakosta ini daripada menyambut kedatangan Roh Kudus secara sederhana dan penuh kerendahan hati seperti yang dilakukan oleh para rasul sekitar 2.000 tahun lalu di Yerusalem? Apakah ada cara yang lebih layak dan pantas untuk berdoa pada hari ini daripada secara sederhana mengulang-ulang doa singkat tadi: “Datanglah, ya Roh Kudus!”, percaya bahwa Allah mendengar dan menjawab doa kita itu. Walaupun kelihatannya “tolol” dan repetitif, “don’t worry, be happy!” Permohonan-permohonan sederhana seperti ini dapat menjadi sangat penuh kuat-kuasa. Teruslah berdoa, “Datanglah, ya Roh Kudus”, dan lihatlah pemikiran-pemikiran, imaji-imaji, atau emosi-emosi apa yang mengalir ke dalam hati anda. Kita dapat merasa yakin bahwa apabila semua itu adalah pemikiran-pemikiran yang baik dan menyangkut hal-hal yang Ilahi, maka Roh Kudus berada di belakangnya.

Pendekatan Yesus terhadap anak-anak sangatlah sederhana. Dia bersabda: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:14-16). Semua itu jauh dari komplikasi, namun sungguh menyentuh hati – baik bagi anak-anak itu dan para orangtua mereka. Demikian pula, ketika kita berdoa dengan kata-kata sederhana, “Datanglah, ya Roh Kudus!”, kita sebenarnya berperilaku seperti anak-anak kecil. Kita percaya kepada Allah, menaruh pengharapan dalam diri-Nya, dan menghadap hadirat-Nya untuk berkat-berkat-Nya.

Pencurahan Roh seperti apa yang akan Allah berikan kepada kita (anda dan saya) apabila kita menyambut Roh Kudus secara sederhana? Dia dapat memenuhi diri kita dengan pemahaman mendalam tentang kasih Allah sehingga kita mengenal serta mengalami bahwa Dia sungguh nyata dalam suatu cara yang baru. Dia dapat menunjukkan kepada kita belas kasih yang begitu mendalam sehingga kita pun sampai bertelut penuh syukur dan bersembah sujud kepada-Nya. Roh Kudus yang sama dapat membawa kita kepada air mata pertobatan, atau menggerakkan kita untuk menari penuh sukacita dan kebebasan. Roh Kudus juga dapat melakukan sesuatu yang samasekali tidak diharap-harapkan – namun tetap indah-menakjubkan. Oleh karena itu, marilah kita masing-masing pada hari ini datang menghadap Allah sebagai seorang anak kecil: murni, sederhana, dan terbuka. Kita tidak tahu apa yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk dilakukan-Nya bagi anak-anak-Nya pada hari yang penuh dengan rahmat dan kuasa surgawi?

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus!

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS” (bacaan tanggal 4-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini  adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Juni 2017 [Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Bruder] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENTAKOSTA YANG SEJATI

PENTAKOSTA YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Yustinus, Martir – Kamis, 1 Juni 2017

 

Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26)

Bacaan Pertama: Kis 22:30;23:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11  

“Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:20-21)

Selama Novena Pentakosta ini kita berdoa guna menerima Roh Kudus secara lebih mendalam, yaitu Roh Kesatuan (lihat Ef 4:3), supaya kita dapat bersatu sebagaimana Bapa surgawi dan Yesus satu adanya (Yoh 17:21). Akan tetapi kesatuan yang kita upayakan bukanlah untuk menutupi adanya perpecahan; melainkan justru kita mau mengambil sikap berani untuk mengamati dan menghadapi perpecahan tersebut. Misalnya saja, Paulus mengamati adanya perpecahan yang ada antara orang-orang Farisi dan kaum Saduki (Kis 23:6-7; dalam bacaan pertama hari ini). Oleh karena itu hampir saja Paulus dihajar habis-habisan (dikoyak-koyak) oleh kedua kelompok yang saling bertentangan itu (Kis 23:10). Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa jika kita menerima Roh Kudus – Roh persatuan – maka kita akan menghadapi ketidaksatuan itu secara frontal dan tentu saja wajar saja apabila kita menderita karenanya.

Hal ini menimbulkan masalah. Walaupun kita sangat menginginkan persatuan dengan Allah, dalam Gereja, bahkan juga persatuan antar-kelompok yang saling bermusuhan, mungkin saja kita berkeberatan untuk mengorbankan hidup kita “untuk mengumpulkan dan mempersatukan umat Allah yang tercerai berai” (Yoh 11:52). Akan tetapi, apabila kita enggan untuk berkorban – apalagi bersedia mati – bagi persatuan, maka hal ini berarti bahwa kita tidak sudi menerima Roh Kudus (Roh persatuan) tersebut. Maka perlu kita menyadari bahwa Pentakosta, kesatuan, sedia mati berkorban demi persatuan, semuanya menjadi satu dan sejalan.

Kita akan memiliki Pentakosta yang sejati atau Pentakosta yang sebenarnya, apabila cinta kasih kepada Allah dan sesama kita jauh lebih kuat daripada cinta-diri kita dan rasa takut kita terhadap kematian/maut (lihat Kid 8:6). Cinta kasih adalah suatu katalisator yang membimbing kita kita menuju mati terhadap diri sendiri, membangun persatuan dan menerima Pentakosta baru. Cinta kasih yang mendalam akan menuntun kita untuk masuk ke dalam kemartiran, suatu gerak-maju Pentakosta dan Trinitas-kesatuan. Dengan bekal cinta kasih yang memadai, maka kita pun berani untuk berdoa: “Datanglah, ya Roh Kudus!” 

DOA: Bapa surgawi, Yesus Kristus, Roh Kudus, Engkau adalah Allah yang satu dalam cinta kasih. Buatlah kami semua satu dalam iman dan cinta kasih. Jadikanlah diri kami biji-biji gandum yang jatuh ketanah dan mati, lalu akan menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24). Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, sekarang dan selama-lama-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “AGAR SUPAYA MEREKA SEMUA MENJADI SATU” (bacaan tanggal 1-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Mei 2016 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS