Posts tagged ‘ROH KUDUS’

SANG PARAKLETOS

SANG PARAKLETOS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 23 Mei 2017)

 

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Sementara Yesus terus berbicara dengan para murid (rasul)-Nya tentang diri-Nya yang akan  meninggalkan mereka untuk pergi kepada Bapa surgawi yang mengutus-Nya, Dia melihat bahwa mereka dikuasai oleh kesedihan. Mereka kelihatannya tidak memahami mengapa Yesus harus pergi. Yesus juga dengan terus terang berbicara kepada mereka tentang kebenaran. Apabila Dia tidak pergi, maka Parakletos, Roh Kudus, tidak akan datang kepada para murid. Jadi, Dia akan pergi dan mengutus Roh Kudus kepada mereka.

Apakah yang akan dilakukan oleh Roh Kudus apabila Dia datang? Ia akan menjadi penasihat mereka, penghibur mereka. Dia akan membimbing dan memberdayakan  mereka dalam relasi mereka, dalam perjumpaan mereka dengan dunia.

Roh Kudus akan membuktikan bahwa dunia salah tentang dosa, tentang keadilan, tentang penghukuman. Ia (Roh Kudus) akan menunjukkan lewat kehidupan Gereja yang ilahi, adil dan kudus yang akan dibimbingnya, Kristus yang tanpa dosa, bahwa Dia adil, bahwa Dia tidak pantas dihukum. Orang-orang yang menolak untuk percaya kepada-Nya, untuk mentaati perintah-perintah-Nya, adalah mereka yang salah. Merekalah yang tidak adil dan patut dihukum.

Sekarang, kita berada di pihak yang mana? Apakah kita orang-orang yang ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi dengan iman, ketaatan dan cinta kasih kita? Apakah kita termasuk orang-orang adil dan benar dari Kristus? Apakah kehidupan kita memberi kesaksian tentang kekudusan Kristus, tubuh-Nya (Gereja), di mana kita semua adalah para anggotanya?

Ketika dibaptis, kita telah menerima Roh Kudus seperti yang telah dialami oleh para rasul. Ia adalah penasihat kita juga. Dia adalah pembimbing dan penghibur kita. Dia memberikan kepada kita berbagai instruksi, bimbingan dan kekuatan, keberanian untuk hidup dengan/bersama Kristus, dengan/dalam Gereja-Nya. Kita tidak perlu menderita penghukuman. Dunialah yang dihukum setiap kali kita bersaksi – oleh/dengan kuasa Roh Kudus tentang Kristus sebagai Tuhan kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengutus Roh Kudus-Mu kepada kami. Semoga Dia menolong kami untuk hidup kudus dan dan benar dalam kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA” (bacaan tanggal 23-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05  BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TUGAS SANG PENOLONG: MENGAJARKAN DAN MENGINGATKAN

TUGAS SANG PENOLONG: MENGAJARKAN DAN MENGINGATKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 4 Mei 2015) 

“Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya, “Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?”Jawab Yesus “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.  (Yoh 14:21-26) 

Bacaan Pertama: Kis 14:5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16 

“… Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”  (Yoh 14:26)

Ini adalah untuk kedua kalinya Yohanes berbicara mengenai sang Penolong (Roh Kebenaran; lihat Yoh 14:16-17). Dalam ayat Yoh 14:26 ini Yohanes mulai mengidentifikasikan sang Penolong dengan Roh Kudus. Sang Penolong (Yunani: Parakletos), seperti juga Anak (Putera) diutus oleh Bapa, namun dalam nama Yesus (lihat petikan ayat di atas). Sang Penolong akan menggantikan peranan Yesus dalam komunitas orang beriman. Sang Penolong inilah yang menjamin perwahyuan yang bersifat permanen di dalam dunia. Sang Penolong atau Roh Kudus ini merupakan satu-satunya jawaban yang tersedia bagi mereka yang ingin tetap berada bersama Yesus dan mau melihat Bapa surgawi.

Sang Penolong diutus oleh Bapa surgawi dalam nama Yesus untuk “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26). Dengan demikian, peranan sang Penolong adalah melanjutkan pekerjaan Yesus dengan menjamin adanya perwahyuan yang bersifat permanen di dalam dunia. Namun tugas ini dilaksanakan dalam komunitas orang beriman di mana dan pada saat mana sabda Yesus diproklamasikan dan didengar, di mana dan pada saat mana perintah-perintah-Nya didengar dan ditaati.

Inilah sebabnya mengapa sang Penolong ini diidentifikasikan dengan Roh Kudus. Ia adalah kuasa dari kehadiran Yesus yang bangkit dalam komunitas mereka yang percaya kepada-Nya. Komunitas orang beriman adalah komunitas di mana sabda Yesus diproklamasikan. Proklamasi termaksud adalah pekerjaan sang “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (Yoh 14: 26).

Jadi, para pembaca Injil tidak dapat mengabaikan fakta bahwa hal ini adalah yang dilakukan oleh Yohanes ketika dia menulis Injilnya. Ini adalah yang dilakukan oleh setiap pewarta Injil. Ini adalah yang dilakukan oleh komunitas orang beriman bilamana mereka mendengar, mendengarkan dan sampai kepada pemahaman Injil. Mengajar dan mengingatkan tidak pernah merupakan suatu tindakan yang berdiri sendiri. Mereka yang diajar, yang diingatkan “akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26), adalah bagian dari operasi seperti orang-orang yang mengajar mereka dan mengingatkan mereka apa yang dikatakan oleh Yesus. Itulah sebabnya kita mengacu kepada mereka sebagai “komunitas orang beriman”.

Operasi gabungan dari “mengajarkan dan mengingatkan” adalah pekerjaan “sang Penolong, Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (Yoh 14:25). Sang Penolong diutus oleh Bapa “dalam nama-Ku” karena “Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku” (Yoh 16:14). Tugas sang Penolong bukanlah untuk menyingkap sesuatu yang baru, melainkan untuk melestarikan/memelihara kebaharuan dari perwahyuan di dalam komunitas umat beriman.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Roh Kudus dalam nama Yesus kepada kami, untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kami dan mengingatkan kami kami akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada kami semua di sepanjang masa. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 14:5-18), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI” (bacaan tanggal 15-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05  BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Mei 2017 [Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA

YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu,  6 Mei  2017) 

Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.

Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida. Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Kata Petrus kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangkitlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Karena Lida dekat dengan Yope, murid-murid yang mendengar bahwa Petrus ada di Lida, menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan, “Segeralah datang ke tempat kami.”  Lalu berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersebar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. (Kis 9:31-42)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-17; Bacaan Injil: Yoh 6:60-69 

Petrus  berkata kepada Eneas yang lumpuh untuk bangkit dan memberesi tempat tidurnya, dan orang lumpuh itu sembuh seketika (Kis 9:33-34). Kemudian di Yope Petrus berdoa dan kemudian mengatakan kepada jenazah Tabita: “Tabita, bangkitlah!”; maka Tabita yang sudah mati itu bangkit dan hidup lagi (Kis 9:36-41). Sungguh merupakan mukjizat-mukjizat menakjubkan yang dilakukan Petrus dan para murid Yesus lainnya. Jika kita lihat sejarah Gereja – khususnya sejarah para kudus – maka kita dapat membaca cerita-cerita tentang S. Fransiskus dari Assisi, S. Antonius dari Padua, S. Padre Pio dari Pietrelcina, Santo Don Bosco, dll. yang berdoa dengan penuh kuat-kuasa untuk menyembuhkan, baik ketika mereka masih hidup di atas bumi dan bahkan setelah mereka wafat. Cerita-cerita itu cukup untuk membuat anda menjadi takjub dan terkesima. Apakah para kudus itu mengetahui sesuatu yang kita tidak tahu?

Kebenarannya adalah bahwa di belakang setiap mukjizat, ada sumber unik yang sama: Yesus Kristus. Apakah Petrus sendiri memiliki sejumlah talenta atau karunia/anugerah luarbiasa untuk menyembuhkan orang sakit atau membangkitkan orang yang sudah mati? Apakah para kudus memiliki kuasa ilahi atau kuasa ajaib yang menyebabkan mereka mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin kita dapat lakukan? Tentu saja tidak! “Rahasia” dari keberhasilan, sukses, atau kehebatan mereka adalah Yesus, Tuhan yang sudah bangkit.

Namun kalau dikatakan sebagai “rahasia”, itu juga tidak sepenuhnya benar. Misalnya Petrus secara terbuka mengatakan kepada Eneas: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” (Kis 9:34). Tidak ada pekerjaan/karya penyembuhan yang dapat terlaksana dengan kekuatan dan upaya manusia, melainkan hanya oleh kuat-kuasa Yesus yang dimohonkan melalui doa. Sebelum membangkitkan Tabita, Petrus menyuruh setiap orang untuk ke luar ruangan, kemudian dia “berlutut dan berdoa” (Kis 9:40). Kita pun dapat berdoa dalam iman, dengan ekspektasi akan hal-hal luarbiasa dari Yesus. Yesus adalah sumber belas kasih (kerahiman) dan penyembuhan dari Siapa Petrus memperoleh kuat-kuasa untuk menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Tabita.

Dalam doa, kita dapat memohon kesembuhan jiwa dan raga bagi diri kita sendiri. Kita dapat berpartisipasi dalam pelayanan penyembuhan Allah dengan berdoa untuk seseorang yang sedang menderita sakit dan/atau membutuhkan pertolongan. Kelihatannya mengandung risiko atau menakutkan, atau bahkan menggoncang diri kita untuk berani melangkah  dan berdoa dengan cara begini. Namun kita akan mulai memohon dengan penuh keyakinan apabila kita berpikir bagaimana Bapa surgawi ingin mencurahkan  kesembuhan dan kasih atas diri kita. Bahkan apabila kita tidak menerima mukjizat-mukjizat yang kita mohon, hal itu bukanlah berarti bahwa ada cacat atau kekurangan dalam iman kita atau iman orang lain. Allah mempunyai alasan-alasan-Nya sendiri. Walaupun begitu, apa pun yang terjadi kita dapat ikut ambil bagian dalam keyakinan para kudus bahwa Dia mendengarkan. Allah akan senantiasa menggunakan sarana yang paling “pas” (hanya Dia yang mengetahui) untuk memenuhi rencana-Nya bagi hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang besar kepadaku, yang memberikan kepadaku keyakinan untuk mendekati-Mu dalm iman dan memohon kesembuhan dari-Mu dalam nama Putera-Mu, Yesus Kristus. Semoga darah-Nya membersihkan diriku selagi Roh Kudus-Mu bergerak dengan penuh kuasa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan dengan judul “YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH” (bacaan tanggal 6-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Mei 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SANTO STEFANUS, MARTIR KRISTUS

SANTO STEFANUS, MARTIR KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Atanasius, Uskup Pujangga Gereja – Selasa, 2 Mei 2017)

 “Hai orang-orang yang keras kepala, yang keras hati dan tuli, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu. Siapa dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan bunuh. Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu tidak menurutinya.”

Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Sesudah berkata demikian, ia pun meninggal. Saulus juga setuju dengan pembunuhan atas Stefanus. (Kis 7:51-8:1a)

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21; Bacaan Injil: Yoh 6:30-35

Dalam menghadapi para penuduhnya yang sudah panas-hati dan siap untuk merajamnya, Stefanus menolak untuk mundur. Sebaliknya, dia menyebut para lawannya itu sebagai orang-orang yang keras kepala, keras hati dan tuli dan selalu menentang Roh Kudus (lihat Kis 7:51). Apakah kita mempunyai keberanian untuk berdiri tegak seperti Stefanus dalam menghadapi para penuduh kita? Apakah kita siap mati demi keyakinan kita tentang Yesus? Stefanus terus mengucapkan kata-kata yang diberikan Allah kepadanya. Dalam artian tertentu kehidupan Stefanus paralel dengan kehidupan Yesus; keduanya penuh dengan rahmat dan mampu membuat mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya.

Teks Kitab Suci yang saya pakai di atas adalah teks Perjanjian Baru terbitan LAI, Edisi TB II. Teks Kis 7:51 menurut Alkitab terbitan LAI Edisi TB berbunyi sebagai berikut: “Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu.”  Marilah kita menyoroti potongan kalimat yang digarisbawahi di atas.

Apakah yang dimaksudkan Stefanus dengan tidak bersunat? Dalam Kitab Ulangan, Musa berbicara mengenai nilai sejati dari penyunatan yang merupakan bagian dari tradisi warisan bangsa Israel: “YHWH, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasithi YHWH, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup” (Ul 30:6). Di bawah perjanjian baru yang dicanangkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus,  hati lama kita yang keras seperti batu, sekarang dapat digantikan dengan hati yang taat, seperti dikatakan oleh Nabi Yehezkiel: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh 36:26).

Stefanus menggambarkan para pemuka agama Yahudi sebagai orang-orang tidak bersunat hati dan telinga. Mengapa demikian? Karena mereka telah menutup diri bagi Allah sedemikian rupa sehingga Dia tidak dapat bergerak dalam diri para pemuka agama tersebut dan menghangatkan diri mereka dengan kasih-Nya. Karena para tokoh agama itu lebih menyukai hikmat mereka sendiri ketimbang hikmat Allah, maka telinga mereka pun dapat dikatakan tidak bersunat. Karena hanya mengandalkan diri pada “pembenaran diri mereka sendiri”, maka mereka tidak dapat menerima rahmat Roh Kudus. Mereka menentang semua orang yang dapat membawa mereka kepada pertobatan dalam arti sesungguhnya. Sederhananya, mereka tidak terbuka terhadap sapaan Tuhan Allah.

Marilah kita teladani Stefanus yang begitu berani berbicara mengenai kebenaran tentang Tuhan Yesus. Seperti Yesus dan Stefanus, marilah kita mengampuni para penuduh kita atau mereka yang membenci kita karena kita adalah pengikut-pengikut Kristus, sehingga dengan demikian kehidupan Yesus semakin dimanisfestasikan dalam diri kita. Marilah kita berketetapan hati untuk tidak merasa takut terhadap salib pengejaran/penganiayaan, kesalahpahaman, fitnah, umpatan dan caci-maki dari mereka yang tidak senang kepada kita. Sebaliknya, marilah kita rangkul salib yang diperuntukkan bagi kita itu dengan pengharapan dan sukacita. Barangkali saja kita akan dipanggil untuk memberi kesaksian tentang Yesus seperti yang dilakukan oleh Stefanus. Tidak sedikit saudara-saudari kita di Korea, Jepang, Cina telah membuktikan bahwa mereka pun pantas diberi gelar martir, saksi Kristus, murid Kristus yang sejati. Nama-nama mereka turut menghiasi buku para martir Kristus yang bab pertamanya sudah dimulai sejak zaman Gereja perdana. Sungguh suatu sukacita luarbiasa bagi kita apabila kita memperkenankan salib melakukan pekerjaannya dalam diri kita. Sebagai catatan penutup, baiklah kita mendengar sabda bahagia dari Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Mat 5:11-12).

DOA: Roh Kudus Allah, aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Bergeraklah dengan bebas dan penuh kuasa dalam diriku, sehingga Yesus dapat dimuliakan dalam diriku seperti halnya Dia dimuliakan dalam diri Santo Stefanus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:30-35), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SANG ROTI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 12-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 10-04 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan denganj judul sama untuk bacaan tanggal 12-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Mei 2017 [Peringatan S. Yusuf Pekerja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA MEMPUNYAI ROH KUDUS DALAM DIRI KITA

KITA MEMPUNYAI ROH KUDUS DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Selasa, 14 Maret 2017) 

Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 1:10,16-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23 

Kalau kita memperhatikan kenyataan dalam masyarakat dewasa ini, maka kelihatannya kerendahan hati merupakan suatu keutamaan yang sedang mengalami kemerosotan. Hampir di segala bidang kita melihat sikap mau menang sendiri, angkuh dlsb. Kelihatannya hanya yang kaya-raya, gagah-ganteng, yang kuat, yang memegang kuasa, yang cantik dan “yang kelihatan suci” sajalah yang “berhasil” maju dalam kehidupan ini.

Dengan demikian sungguh mengejutkan jika orang-orang mendengar apa yang dikatakan oleh Yesus seperti tercatat dalam bacaan Injil di atas. Semuanya adalah kebalikan dari kenyataan yang ada. Yesus memerintahkan: Jadilah rendah hati. Jadilah seorang hamba/pelayan. Rendahkanlah dirimu dan kamu akan ditinggikan. Reaksi alamiah dari kita ketika mendengar perintah-perintah Yesus ini adalah menggeliat di tempat duduk kita sambil berkata: “Semua itu terlalu sulit untuk dilakukan!” Rasa sombong datang kepada kita jauh lebih alamiah daripada kerendahan hati. Sekarang pikirkanlah pengalaman kita sendiri. Ketika seseorang mendzolimi kita (anda dan saya), apakah kecenderungan kita yang pertama adalah mengampuni orang yang menjahati kita itu? Atau apakah kita menyadari bahwa hasrat untuk membalas dendam menumpuk dengan cepat dalam diri kita – bahkan tanpa kita harus memikirkannya?

Syukurlah bahwa kita tidak perlu menggantungkan diri pada upaya-upaya kita sendiri untuk bersikap dan bertindak dengan rendah hati. Kita mempunyai Roh Kudus di dalam diri kita masing-masing, yang menolong kita mengatasi kecenderungan-kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dan menggantikan semua itu dengan sifat Yesus sendiri. Roh Kudus menolong kita menolak hasrat untuk pertama-tama mementingkan diri sendiri sehingga dengan demikian kita dapat menjadi pelayan-pelayan yang penuh kasih dalam rumahtangga kita, di tempat kerja kita dan dalam komunitas kita masing-masing. Bagaimana Roh Kudus melakukan hal ini? Dengan menempatkan imaji Yesus di depan mata kita. Yesus adalah contoh sempurna dari kerendahan hati; Dia meninggalkan takhta-Nya di surga dan menggantikan kita dengan menerima kematian di kayu salib. Ia merendahkan diri-Nya sampai mengalami kematian. Yesus memenangkan bagi kita kemuliaan hidup kekal. Demi sukacita melihat diri kita dibersihkan dan ditebus, Yesus menjadi pelayan bagi kita semua

Pada hari ini, marilah kita memohon agar Roh Kudus membuka mata kita agar dapat melihat kesempatan-kesempatan bagi kita untuk melayani, bukan untuk dilayani. Kita mohon agar Roh Kudus juga menolong kita memutuskan untuk mengasihi, bukan dikasihi. Selagi kita melakukan hal ini, kita tidak saja mengenakan kerendahan hati Yesus, melainkan juga menemukan damai-sejahtera memenuhi hati kita; dengan cara yang melampaui pemahaman kita. Damai-sejahtera tersebut akan meninggikan kita sampai kepada sukacita surgawi. 

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena teladan-Mu dalam hal kerendahan hati dan pengorbanan-diri. Oleh kuasa Roh Kudus, berilah kepadaku rahmat untuk mengasihi dan melayani sesamaku, sehingga dengan demikian akupun dapat semakin serupa dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS INGIN AGAR KITA MEMILIKI KERENDAHAN HATI” (bacaan tanggal 14-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Maret 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TINGGAL DI DALAM KRISTUS

TINGGAL DI DALAM KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregrorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja – Senin, 2 Januari 2017

saint-john-420x429Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab siapa yang menyangkal Anak, ia tidak memiliki Bapa. Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa. Dan kamu, apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar sejak semula itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetapi tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.

Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. (1 Yoh 2:22-28).

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Yoh 1:19-28 

Ungkapan “tinggal dalam Kristus” beberapa kali muncul dalam petikan bacaan di atas. Kenyataan ini kiranya merupakan tanda betapa penting arti ungkapan itu. Memang sungguh vital bagi kita untuk mempelajari rahasia dari ungkapan “tinggal dalam Kristus” ini – berada bersama Dia sepanjang masa. Yohanes menjelaskan bahwa “pengurapan” (baptis) kita “terima dari dari Dia tinggal dalam diri kita (1 Yoh 2:27). Kita  dapat mengalami saat-saat berdoa yang terasa manis dan indah selagi kita mulai memahami bahwa Yesus sungguh hidup dalam diri kita! Kita merasakan indahnya kehadiran Yesus apabila kita memahami pernyataan/perwahyuan bahwa kita adalah anak-anak Allah!

Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kita sehari-hari, apakah kita (anda dan saya) ingat untuk mencari Juruselamat kita? Apakah kita merasakan betapa hangat kehadiran-Nya pada saat-saat doa yang dipenuhi keheningan? Apakah kita juga merasakan kehangatan kehadiran-Nya itu selagi kita menjalankan tugas-tugas harian kita? Yohanes menjelaskan bahwa Yesus itu begitu riil dan berwujud sehingga hampir dapat merasakan sentuhan-Nya atau mendengar suara-Nya yang lembut. Bisikan kasih-Nya dan bisikan dorongan guna menyemangati kita seharusnya membuat hati kita tenang. Sabda Allah dalam Kitab Suci seharusnya hidup dalam diri kita, memenuhi diri kita dengan sukacita dan pernyataan diri-Nya.

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Kadang-kadang memang kita merasa bahwa hubungan kita dengan Yesus suka keluar dari rel. Barangkali karena kita memperkenankan tekanan/beban kehidupan sehari-hari kita membuat kita hampir berputus-asa dan merampas rasa percaya kita akan kehadiran-Nya. Barangkali, selagi kita menghadapi berbagai kesulitan atau pengejaran serta penganiayaan dalam hidup kita, kita bertanya kepada diri kita: “Di mana Allah dalam setiap peristiwa ini? Dalam hal ini kita harus senantiasa tidak boleh lupa bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kita. Dia memanggil kita kepada suatu iman yang lebih mendalam, suatu pengosongan diri yang lebih mendalam lagi guna memberi ruang yang lebih luas lagi bagi-Nya. Selagi kita bereksperimen dengan iman kita kepada-Nya, kita mulai memahami kasih-Nya dengan lebih mendalam lagi.

“Tinggal di dalam Kristus” berarti kita menerima dalam iman bahwa Yesus telah mencurahkan Roh Kudus-Nya ke dalam diri kita. Tidak pernah ada waktu sedikit pun di mana Dia meninggalkan kita – tidak pernah ada waktu sedikit pun di mana Dia tidak tinggal dalam diri kita. Semakin besar kepercayaan kita pada kebenaran ini, semakin sering pula kita akan mengingat dan menggantungkan hidup kita pada kasih-Nya selagi kita menjalani hidup kita sehari-harinya.

Manakala kita (anda dan saya) merasa terpisah dari Allah, marilah kita memohon kepada-Nya untuk menyatakan kehadiran-Nya dalam hati kita. Marilah kita mengingatkan diri kita bahwa Yesus tidak akan meninggalkan kita. Dia tidak pernah melupakan “kasih setia dan kesetiaan-Nya” (Mzm 98:3).

DOA: Yesus, aku percaya bahwa Engkau ada bersamaku. Dalam iman dan kasih, aku menyerahkan diriku kepada kehendak-Mu. Aku menyatakan dalam iman bahwa Engkau tidak pernah akan meninggalkan diriku. Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku yang sungguh setia, ya Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 2:22-28), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS TETAP TINGGAL DI DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 2-1-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dati tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 Desember 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PESAN YOHANES PEMBAPTIS MASIH AKTUAL HARI INI DAN KESAKSIAN HIDUPNYA MASIH MENJADI CONTOH BAGI KITA

PESAN YOHANES PEMBAPTIS MASIH AKTUAL HARI INI DAN KESAKSIAN HIDUPNYA MASIH MENJADI CONTOH BAGI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 23 Desember 2016)

yohanes-pembaptis-diberi-namaKemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Luk 1:57-66)

Bacaan pertama: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14

Dalam hal kelahiran Yohanes Pembaptis, acuan-acuan terselubung dan nubuatan-nubuatan penuh misteri yang sudah berumur berabad-abad, akhirnya mengambil rupa seorang manusia. Mengapa? Karena dialah sang bentara, sang nabi yang akan “mempersiapkan jalan di hadapan-Ku. Ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal 3:1; 4:6). Pada hari ini pun pesan Yohanes Pembaptis dapat berbicara kepada hati kita, seperti juga kesaksian hidupnya dapat menjadi sebuah contoh bagi hidup kita.

Yohanes Pembaptis diumumkan secara ilahi dan diberikan nama di tengah tanda-tanda heran yang ajaib, Yohanes menjadi suara yang berseru-seru di padang gurun: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN (YHWH), luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! (Yes 40:3). Ia menghibur umat yang sudah lama menantikan pemenuhan janji-janji Allah. Yohanes Pembaptis memproklamasikan akhir dari hidup penuh sengsara mereka dan bahwa kesalahan umat ini telah diampuni (Yes 40:2). Sungguh merupakan Kabar Baik! Ia naik ke atas gunung yang tinggi dan berseru dengan suara nyaring, berkata kepada kota-kota Yehuda, “Lihat, itu Allahmu!” (Yes 40:9).

Kalau kita merenungkannya dengan serius, sungguh semua ini merupakan “pendahuluan” dari sejarah keselamatan! Bahkan Yesus sendiri berkata tentang Yohanes Pembaptis sebagai berikut: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis” (Mat 11:11). Bagaimana Yohanes Pembaptis sampai memahami dengan benar apa yang direncanakan Allah atas dirinya? Sejak hari-hari awal hidupnya bersama Zakharia dan Elisabet, sampai saat-saat ketika dia menyibukkan diri dengan tulisan-tulisan kenabian, Yohanes Pembaptis belajar mengabdikan dirinya mencari panggilan Allah bagi hidupnya. Karena dia telah mengembangkan suatu hidup doa yang kuat, Yohanes Pembaptis lebih daripada sekadar sebatang buluh yang ditiup angin ke sana ke mari atau seorang nabi akhir zaman yang bermata liar. Yohanes Pembaptis dengan penuh keyakinan sebagai seorang yang dibimbing Allah sendiri, seseorang yang hidupnya didedikasikan bagi Kerajaan Allah yang akan diinaugurasikan. Yesus memberi konfirmasi bahwa Yohanes Pembaptis sesungguhnya adalah “Elia” yang akan datang sebagai seorang pendahulu hari kedatangan Tuhan (lihat Mat 17:10-13).

Saudari dan Saudaraku, seperti halnya dengan Yohanes Pembaptis, Allah memanggil kita, untuk mengkomit hidup kita terhadap kehendak-Nya. Oleh karena itu, marilah kita (anda dan saya) mengabdikan seluruh energi untuk mencari panggilan-Nya dan memohon kepada Roh Kudus-Nya kuat-kuasa untuk melaksanakan hal itu. Dengan penuh kepercayaan, marilah kita maju terus bersama Tuhan, dengan penuh sukacita turut memajukan kerajaan Allah. Bersama-sama, marilah kita berseru: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (Luk 3:4).

DOA: Datanglah, ya Imanuel – Allah beserta kita – Raja kami, Hakim kami. Selamatkanlah kami, ya Tuhan Allah kami! Hidupkanlah kami dengan Roh Kudus-Mu sehingga kami sungguh dapat mempersiapkan jalan bagi kedatangan-Mu untuk kedua kalinya kelak, sebagaimana Yohanes Pembaptis telah melakukannya untuk kedatangan-Mu yang pertama. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mal 3:1-4;4:5-6), bacalah tulisan yang berjudul “BIARLAH KEDATANGAN-MU DI TENGAH-TENGAH KAMI PADA HARI NATAL MEMURNIKAN DIRI KAMI” (bacaan tanggal 23-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS