Posts tagged ‘ROH KUDUS’

ANGGUR BARU DALAM KANTONG KULIT YANG BARU

ANGGUR BARU DALAM KANTONG KULIT YANG BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Agnes, Perawan Martir – Senin, 21 Januari 2019)

HARI KEEMPAT PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”   Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: Ibr 5:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

Suatu perbedaan yang sangat nyata antara kantong kulit untuk anggur yang tua dan yang baru itu tidak hanya dalam umurnya, tetapi ada atau tidak-adanya minyak dalam kulit itu. Adanya unsur minyak dalam kulit kantong anggur yang baru membuatnya menjadi fleksibel dan mampu mengembang. Bilamana anggur baru dituang ke dalam kantong yang baru itu, maka kantong itu beradaptasi dengan tekanan yang ditimbulkan oleh anggur baru tersebut. Sebaliknya kulit yang sudah tua sudah menjadi keras dan kaku – tidak mampu lagi berkembang. Kantong tua yang diisi dengan anggur baru dapat rusak/robek atau malah meletup.

Apabila kita dibaptis dan diurapi dengan minyak keselamatan, kita pun telah diberikan suatu kemampuan baru untuk menanggapi tindakan Roh Kudus yang menggembirakan itu. Hati kita telah diubah, dibuat lembut oleh pengenalan dan pengalaman akan kasih Allah. Sekarang kita mempunyai kemampuan untuk menerima dari Dia suatu fleksibilitas baru yang dapat menjaga kita agar tetap terbuka bagi cara apa saja yang ditentukan oleh-Nya untuk kita kerjakan, walaupun kelihatannya tidak mungkin atau tidak biasa.

Akan tetapi, pertanyaan yang harus senantiasa kita tanyakan kepada diri kita sendiri, “Apakah aku tetap lembut dan lentur, siap untuk melakukan apa saja yang diminta oleh Roh Kudus dari diriku? Apakah diriku patuh terhadap dorongan Roh Kudus, atau aku semakin mengeraskan diri dan tidak fleksibel? Apakah aku terpaku pada ide-ide yang kaku, atau dapat menanggapi apa yang diinginkan Tuhan dari diriku pada hari ini – di rumah, di tempat kerjaku, di gerejaku, atau ke mana saja Dia memimpin diriku?”

Allah memang kadang-kadang menantang ide-ide kita tentang Siapa diri-Nya dan bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan kita. Jalan-jalan atau cara-cara-Nya dapat sangat berbeda dengan apa yang dapat kita bayangkan. Apakah kita mau membuka diri kita dan menerima Kerajaan-Nya seturut syarat-syarat yang ditetapkan-Nya? Marilah kita mengingat kembali apa yang telah terjadi dengan Abraham. Allah memanggilnya untuk meninggalkan tempat kediamannya dan pergi ke sebuah tempat yang baru samasekali – dan Abraham mematuhi panggilan Allah itu (lihat Kej 12:1 dsj.).

Marilah kita mengingat apa yang terjadi dengan Maria: Perawan dari Nazaret ini sungguh merasa takut ketika dikunjungi malaikat-agung Gabriel, namun ia mengatakan “Ya” kepada Allah, pada saat diminta untuk membawa Kristus ke tengah-tengah dunia (lihat Luk 1:26-38). Kita mengingat pula apa yang terjadi dengan Santa Bunda Teresa dari Kalkuta: Ketika Allah memanggil dirinya untuk melayani orang-orang yang paling miskin (the poorest of the poor), maka dia menukar rencananya sendiri dengan rencana Allah bagi dirinya. Kita pun harus siap untuk mengembang seperti kantong kulit anggur yang baru dan menerima panggilan Allah.

DOA: Roh Kudus, penuhilah hatiku. Lebarkanlah mata hatiku ini agar dapat melihat kehendak-Mu untuk hidupku dan bagi Gereja Kristus di dunia. Ubahlah diriku agar dapat menjadi saksi Kristus yang sejati bagi dunia di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan dengan judul “SELAMA MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA, MEREKA TIDAK DAPAT BERPUASA” (bacaan tanggal 21-1-19), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-1-18  dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

ROH KUDUS SAMA YANG MENGALIR DALAM DIRI YESUS SEKARANG MENGALIR DALAM DIRI KITA MASING-MASING

ROH KUDUS SAMA YANG MENGALIR DALAM DIRI YESUS SEKARANG MENGALIR DALAM DIRI KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Pembaptisan Tuhan – Minggu, 13 Januari 2019)

Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”  (Luk 3:15-16,21-22)

Bacaan Pertama: Yes 42:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1–4,9-10; Bacaan Kedua: Kis 10:34-38

Ajaran Yesus kepada para murid-Nya berasal dari pengetahuan ilahi yang disaring melalui pengalaman manusia. Dia dapat berbicara mengenai mengampuni orang-orang lain karena Dia telah belajar untuk mengampuni para musuh-Nya. Yesus dapat berkata bahwa memberi itu lebih baik daripada menerima, karena dia telah memberi diri-Nya sendiri secara total-lengkap dan menerima banyak pula dari Bapa surgawi. Yesus juga dapat berbicara tentang kuat-kuasa Roh Kudus untuk mengubah hidup orang, karena sebagai seorang manusia Dia sendiri telah dipenuhi oleh Roh Kudus.

Baptism of Jesus Christ

Pada waktu Yesus dibaptis, “terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya” (Luk 3:21-22). Pembaptisan ini mengawali suatu tahapan baru dalam kehidupan Yesus. Karya pelayanan-Nya di tengah masyarakat mencakup juga pembuatan mukjizat dan tanda heran lainnya, suatu kemampuan berkhotbah dengan kuat-kuasa, kemenangan atas roh-roh jahat, dan banyak lagi. Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa sesuatu yang dramatis diperkenalkan oleh-Nya ke tengah dunia pada hari itu, dan Yesus sendiri mengetahui tentang hal itu (Luk 4:18-19; bdk. Yes 61:1-2).

Sesungguhnya, tahukah kita (anda dan saya) apa yang terjadi ada waktu kita dibaptis? Seperti Yesus, baptisan kita juga mencakup kuasa untuk melayani dengan “bonus” tambahan dan menakjubkan. Ketika kita dibaptis, kita (atau diwakili oleh bapa/ibu permandian jika kita masih bayi/anak-anak kecil sekali) tidak hanya memberikan hidup kita kepada Allah. Allah juga memberikan hidup kekal-Nya kepada kita.

 

 

Seiring dengan kuasa untuk membawa Injil ke tengah dunia, kita pun telah menerima suatu perubahan fundamental dalam batin kita.  Roh Kudus sama yang mengalir dalam diri Yesus sekarang mengalir dalam diri kita masing-masing, memberikan kepada kita suatu bagian dalam kodrat ilahi. Keikutsertaan dalam hidup Yesus inilah yang memampukan kita menjadi/berfungsi sebagai instrumen-instrumen-Nya di dunia. Marilah kita menyediakan waktu pada hari ini untuk membaca nas-nas Kitab Suci yang berhubungan dengan pembaptisan: Kis 2:38-39; 2 Kor 1:21-22; Tit 3:4-7; dan 1 Ptr 1:3-4. Marilah kita merenungkan nas-nas ini dan biarlah Allah membangunkan imajinasi kita dan memenuhi diri kita dengan ekspektasi besar akan semua hal yang dapat kita lakukan dalam Kristus.

DOA: Alah Yang Mahakuasa, aku merasa takjub dan penuh syukur atas segala hal yang Kauberikan kepadaku dalam Kristus. Bukalah lebar-lebar mata hatiku agar dapat melihat berkat-berkat rohani yang Kauberikan kepadaku. Luaskanlah pemahamanku sehingga aku dapat benar-benar sadar apa saja yang menjadi milikku lewat pembaptisan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 3:15-16,21-22), bacalah tulisan yang berjudul ‘ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH, KEPADA-MULAH AKU BERKENAN” (bacaan tanggal 13-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH TUHAN ADA PADA-KU

ROH TUHAN ADA PADA-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Kamis, 10 Januari 2019)

Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Lalu tersebarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Kitab Suci. Kepada-Nya diberikan kitab Nabi Yesaya dan setelah membuka kitab itu, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Semua orang itu membenarkan dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya. (Luk 4:14-22a) 

Bacaan Pertama: 1 Yoh 4:19-5:4; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,14-15,17

“Roh Tuhan ada pada-Ku” (Luk 4:18)

Jelaslah bahwa Yesus mengucapkan kata-kata ini untuk menjelaskan tentang diri-Nya sendiri. Namun dapatkah kita (anda dan saya) percaya bahwa kita dapat mengatakan hal yang sama tentang diri kita? Bukankah setiap orang yang telah dibaptis ke dalam Kristus telah menerima Roh Kudus? Apakah kita merasa suka atau tidak – sesungguhnya, apakah pengalaman kita mengatakan kepada kita begitu atau tidak – Roh Kudus memang ada pada kita!

Kalau begitu halnya, apakah yang harus kita lakukan dengan sepotong informasi penting ini? Apakah setelah kita mendengar kebenaran ini dengan rasa takjub, kemudian kita duduk-duduk saja sambil menikmati rasa nyaman karena telah “bernasib” sedemikian baik? Tentu tidak!

Yesus datang ke tengah-tengah dunia untuk melakukan inaugurasi dari Kerajaan Allah, di mana setiap tetes air mata dihapus dan setiap keterikatan dilepaskan. Orang-orang pinggiran dan tertindas akan mendengar Kabar Baik tentang kasih Allah, dan orang-orang buta terhadap diri-Nya akan diberikan penglihatan. Orang-orang yang berada di bawah perbudakan dosa dibebaskan, agar dapat menikmati kebaikan-kebaikan Tuhan. Semua ini terdengar begitu baik, namun harus jelas bagi kita bahwa hal-hal tersebut tidak terjadi secara magic, secara ajaib! Kerajaan Allah hanya bertumbuh selagi kita – para pembawa Roh-Nya – saling mengasihi seperti Dia mengasihi kita (lihat Yoh 15:12). Dengan demikian, Kerajaan-Nya akan maju, baik dalam hidup kita maupun di dalam dunia.

Kita mungkin saja berpikir bahwa kita sangat tidak memadai atau tidak pantas untuk melakukan tugas sedemikian, namun selagi kita memperkenankan Roh Kudus membentuk kita dan menggerakkan kita, maka kita akan melihat bahwa kuat-kuasa ilahi bergerak dalam diri kita dan melalui kita. Selagi kita belajar bagaimana menyerahkan diri kepada Roh Kudus, kita akan mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang disebabkan oleh kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa. Dengan berjalannya waktu, Allah akan mampu menggunakan kita untuk mewujudkan hal-hal yang lebih besar dan lebih besar lagi.

Barangkali Roh Kudus menggerakkan hati kita untuk mengunjungi seorang sahabat yang sudah sekian lama tidak ke gereja. Barangkali kita ingin memulai sebuah kelompok “studi Alkitab” dengan rekan-rekan kerja kita atau “teman-teman satu kelas sewaktu di SMA dahulu”. Roh Kudus juga dapat saja mendorong kita untuk melakukan hal sederhana seperti mengirim kartu Natal atau mengunjungi seorang tetangga yang hidup sendiri. Selagi kita memohon kepada Roh Kudus untuk menolong kita dan melangkah ke luar dalam iman, maka kita akan melihat berkat-berkat besar. Dan jangan salah, kita pun dapat mengalami sesuatu yang menyenangkan hati!

DOA: Tuhan Yesus, aku merasa sangat gembira karena Engkau memanggil diriku untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan Kerajaan Allah. Setiap hari diisi dengan excitement selagi aku melihat bagaimana Engkau memimpin diriku untuk mengasihi orang-orang yang kujumpai. Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau memilih diriku untuk melayani Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:14-22a), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DIUTUS UNTUK MENGGENAPI JANJI-JANJI ALLAH” (bacaan tanggal 10-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG-ORANG MAJUS DATANG MENGHADAP SANG RAJA SEGALA RAJA

ORANG-ORANG MAJUS DATANG MENGHADAP SANG RAJA SEGALA RAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN – Minggu, 6 Januari 2019)

[HARI ANAK MISIONER SEDUNIA]

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur  ke Yerusalem dan bertanya-tanya, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Ketika Raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Lalu dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, kemudian dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya, “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari engkalah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka kapan bintang itu tampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya, “Pergi dan carilah Anak itu dengan teliti dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika melihat bintang itu, mereka sangat bersukacita. Mereka masuk ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, dupa dan mur. Kemudian karena diperingatkan dalam mimpi, syupaya jangan kembali kepada Herodes, pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. (Mat 2:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 60:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,10-13; Bacaan Kedua: Ef 3:2-3a,5-6

Inkarnasi Putera Allah begitu agung, di mana ciptaan Allah seperti sebuah bintang pun dijadikan saksi oleh-Nya atas peristiwa tersebut. Bintang terang itu muncul di langit pada malam hari, menandakan pemenuhan janji Allah untuk mengutus seorang Juruselamat ke tengah-tengah umat manusia di dunia.

Di sini kita dapat melihat bahwa para ahli bintang non-Yahudi yang berada di luar perjanjian dengan YHWH-Allah juga dilibatkan oleh-Nya. Hati mereka digerakkan oleh-Nya agar terdorong untuk mencari Raja yang baru ini. Walaupun mereka belum sampai memahami sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa kelahiran Anak laki-laki ini, apalagi di tengah keluarga sepasang suami-istri dari Galilea yang sederhana dan miskin. Oleh karunia-iman yang penuh misteri, para majus ini mengenali otoritas yang ada dalam diri sang Anak. Mereka sujud menyembah Dia dengan khusyuk. Setting yang penuh kesederhanaan dari tempat tinggal keluarga kecil itu dan kedinaan yang sederhana dari ayah dan ibu Anak ini memang bagaikan awan yang menutupi martabat rajawi dari sang Anak, namun Allah membuat para majus itu mampu melihat kebenaran yang sesungguhnya, dan mereka dipenuhi sukacita (lihat Mat 2:10-11).

Hari ini adalah kesempatan sempurna bagi kita masing-masing untuk mohon kepada Roh Kudus agar Dia sudi membuka mata (hati) kita  agar mampu melihat Yesus dengan suatu cara yang baru. Dia bukan lagi seorang anak kecil yang sederhana. Dia adalah seorang Pribadi yang hidup di dunia sebagai seorang manusia penuh, menderita, mati, bangkit lagi, dan sekarang memerintah di sebelah kanan Allah dalam kemuliaan dan keagungan. Ia adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan, dan Dia telah mencurahkan Roh Kudus-Nya guna memberikan pewahyuan mengenai Diri-Nya, sehingga kita pun akan sujud menyembah-Nya.

Yesus dari Nazaret mengajar kita, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah, maka kamu akan mendapat” (Mat 7:7). Para majus jelas mengalami kebenaran dari sabda Yesus ini. Mereka menyelidiki dan mencari makna dari bintang terang itu, dan Allah membimbing mereka sampai berjumpa dengan Yesus sendiri. Marilah kita dengan sungguh mencari Yesus setiap hari, dan mendengarkan bisikan suara Roh Kudus seserius para Majus itu. Dengan demikian, sebagaimana para majus itu, kita pun akan dipenuhi dengan sukacita karena kita telah melihat Yesus sebagaimana Dia sesungguhnya.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan. Dengan segala kerendahan hati aku menempatkan diriku sepenuhnya di bawah otoritas-Mu, ya Tuhan. Aku sujud menyembah-Mu sebagai Tuhan dan Juruselamatku, sekarang dan selama-lamanya. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 60:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “TERANG KEMULIAAN ALLAH” (bacaan tanggal 6-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-1-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Januari 2019 [PERINGATAN NAMA YESUS YANG TERSUCI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANDA-TANDA ROH KUDUS DI SEKELILING KITA

TANDA-TANDA ROH KUDUS DI SEKELILING KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 21 Desember 2018)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam Pujangga Gereja

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Tidak sedikit orang yang pada saat menerima hadiah Natal (atau hadiah Ulang Tahun) dari anggota keluarga mereka melakukan – mungkin secara tidak sadar – tindakan-tindakan seperti berikut ini: mula-mula menggoyang-goyangkannya sedikit, merasakan bentuk barang yang di dalamnya, mungkin dengan mencium aroma/baunya, tentunya semuanya untuk memperoleh petunjuk tentang apa kiranya barang yang di dalam bungkusan hadiah itu, hal mana juga meningkatkan antisipasi orang yang melakukannya.

Pada saat Elisabet melihat Maria, karunia-karunia anak-anak dalam rahim mereka masing-masing saling menanggapi kehadiran satu sama lain. Bayi dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan, dan Elisabet sendiri juga dipenuhi dengan Roh Kudus. Ini adalah sebuah kasus di mana tidak perlu kita menebak-nebak karunia yang dibawa oleh Maria. Dalam hatinya, Elisabet mengenali bahwa Maria sedang membawa dalam rahimnya sang Mesias sendiri.

Inilah cara bekerja Roh Kudus. Ia berjumpa dengan kita di mana kita berada dan – bilamana kita memperkenan-Nya – menarik kita ke dalam hidup ilahi untuk mana kita dilahirkan. Hati kita dapat melonjak dengan penuh sukacita pada saat kita bergerak dari titik mengetahui kebenaran-kebenaran Injil secara intelektual ke mengalaminya sendiri dalam roh kita. Orang-orang yang biasa melayani dengan penuh kasih para lansia atau anak-anak tuna netra dlsb. menyadari berkat-berkat yang mengalir ke dalam diri mereka dari tanggung jawab pelayanan yang mereka rangkul ini. Bilamana mereka berbicara tentang bagaimana kerja mereka mengajar dan memberkati mereka, kita mengetahui bahwa mereka berbicara dari pengalaman, bukan sekadar teori. Hal yang sama dapat terjadi dengan dengan kita apabila kita berupaya terus untuk mengenal Tuhan.

Dalam Perayaan Ekaristi kita dapat mengetahui dalam “kepala/pikiran” kita bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrasikan oleh imam selebran menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Bukankah itu yang telah diajarkan kepada kita dalam pelajaran agama Katolik, sejak SR/SD sampai dengan SMA/SMU? Namun Allah ingin memberikan kepada kita lebih daripada sekadar suatu pengamatan eksternal dari mukjizat-Nya. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus bergerak di dalam diri kita, maka kita dapat mengalami Yesus secara pribadi dalam Komuni Kudus. Kita dapat diliputi dengan kasih berlimpah-limpah dari Allah, yang mengaruniakan Anak-Nya sendiri ke tengah dunia untuk mati dan bangkit demi keselamatan kita. Suatu pengalaman seperti ini akan menggerakkan kita untuk sujud menyembah Allah dengan segala kerendahan hati. Hal yang sama juga akan menggerakkan kita untuk mengasihi Kristus dalam diri orang-orang lain dengan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sama yang telah ditujukkan oleh-Nya kepada kita.

Roh Kudus tidak menginginkan kita sekadar menggoyang-goyangkan “hadiah” (karunia) yang kita terima dari Allah. Ia ingin kita mengalami  semua yang disediakan Allah bagi kita. Belajar mengenali gerakan-gerakan-Nya akan memenuhi diri kita dengan sukacita, seperti yang dialami oleh Elisabet. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada janji-janji Allah, maka kita pun akan melihat tanda-tanda Roh Kudus di sekeliling kita.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin mengenal Engkau lebih dalam lagi. Tolonglah aku untuk mengalami sukacita yang ingin dinyatakan oleh Roh Kudus dalam kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA ADALAH SEORANG PERAWAN DAN SEORANG IBU DALAM ARTIAN SEBENARNYA” (bacaan tanggal 21-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://bacaan harian.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Desember 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TURUT AMBIL BAGIAN DALAM MISTERI AGUNG

TURUT AMBIL BAGIAN DALAM MISTERI AGUNG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 18 Desember 2018)

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. (Mat 1:18-24)

Bacaan pertama: Yer 23:5-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,12-13,18-19 

Dalam menceritakan kisah Natal ini, Matius menekankan bahwa sejarah Israel digenapi dengan kedatangan Yesus.  Untuk menunjukkan intervensi langsung yang dilakukan oleh Alllah, Matius menunjuk pada kenyataan dikandungnya Yesus dalam rahim Maria oleh kuasa Roh Kudus. Ini adalah sebuah peristiwa ilahi, namun juga bersifat insani; sesuatu hal yang tidak lepas dari kebingungan, teristimewa bagi Yusuf.

Apa yang harus dilakukan oleh Yusuf pada waktu dia memperoleh info dari malaikat Tuhan, bahwa Maria telah mengandung dan dia jelas bukanlah laki-laki yang membuat tunangannya itu mengandung? Apakah Maria pernah memberitahukan kepadanya tentang kondisinya? Apakah Maria juga pernah bercerita kepadanya, bahwa semua ini adalah akibat suatu rahmat istimewa dari Allah? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab dalam Injil Matius. Akan tetapi ada satu kalimat dalam Injil Matius ini yang menguatkan-penuh jaminan, sepotong kalimat yang diucapkan oleh sang malaikat Tuhan: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu” (Mat 1:20). Kiranya kalimat ini sungguh menyejukkan hati Yusuf. Rasa was-was, khawatir, malah rasa takut seperti ini sebenarnya adalah awal dari kebijaksanaan: Suatu rasa takjub penuh hormat di hadapan hadirat Allah sang Mahatinggi. Rasa takut Yusuf, rasa takjubnya ini, membuat dirinya merasa tak berarti apa-apa dan tentunya tak pantas untuk menjadi bagian dari peristiwa ilahi ini. Yusuf hanyalah seorang tukang kayu di Nazaret, seorang laki-laki bersahaja tanpa embel-embel reputasi sosial yang tinggi. Akan tetapi, justru itulah sebabnya Allah memilih dia. Bayangkanlah betapa tergetar hati Yusuf, ketika mengetahui bahwa Allah menginginkan dirinya menjadi bagian dari peristiwa yang menggenapi sejarah semua nenek moyangnya.

Kita pun harus memandang serta menantikan kedatangan Hari Natal yang tinggal satu minggu ini dengan rasa takjub penuh hormat, namun juga dengan kesadaran penuh syukur bahwa Allah memanggil kita untuk turut ambil bagian dalam misteri agung ini, walaupun kita hanyalah orang-orang biasa saja.

“Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman YHWH, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: YHWH – keadilan kita” (Yer 23:5-6).  Ketika nabi Yeremia memproklamasikan pesan ini,  Yehuda berada dalam situasi kacau-balau. Bangsa kecil ini berada dalam ambang kehancurannya di hadapan kekaisaran Babel yang perkasa. Yeremia menyalahkan raja-raja Yehuda yang telah “mengkhianati” rakyatnya, tidak bedanya dengan para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Nya hilang dan terserak (lihat Yer 23:1). Meskipun dalam situasi yang suram sedemikian, Yeremia memproklamasikan janji Allah, bahwa Dia akan menghadirkan seorang raja yang adil-bijaksana, seorang keturunan Daud.

Nubuat nabi Yeremia menunjukkan suatu pandangan terhadap masa depan yang bersifat optimistis, dan hal ini mencirikan liturgi Adven kita. Allah berjanji bahwa hari-hari baik akan datang. Hari-hari baik bagi kita terwujud dengan kelahiran Yesus, namun kita memandang ke depan juga untuk saat-saat yang lebih baik lewat perayaan Natal kita ini. Adven adalah keyakinan bahwa sesuatu yang lebih baik ada di depan mata. Adven adalah suatu harapan bahwa kita akan menemukan (kembali) suatu rasa cinta yang sempat hilang, dan meraih kembali sukacita hari-hari yang lebih membahagiakan. Nubuat nabi Yeremia berarti bahwa kita memiliki alasan kuat untuk bersikap optimistis dan waspada selalu, karena meskipun Kristus sang Gembala Baik sudah hadir di dunia, kita masih menantikan kedatangan-Nya dalam kemuliaan pada akhir zaman.

DOA: Roh Kudus, aku percaya bahwa Engkau ingin sekali berbicara kepadaku tentang siapa Yesus itu dan apa arti dari penghayatan hidup Injili. Tingkatkanlah kesadaranku akan kehadiran-Mu. Tolonglah aku agar mampu mendengar suara-Mu tatkala  aku membaca Kitab Suci. Ajarlah aku jalan-jalan-Mu. Bimbinglah aku dalam penghayatan hidup Kristiani yang telah diberikan Yesus Kristus kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama (Yer 23:5-8), bacalah tulisan yang berjudul “TUNAS DAUD YANG ADIL ADALAH YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 18-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-12-17  dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Desember 2018 [HARI MINGGU ADVEN III – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA

HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Yohanes dr Salib, Imam Pujangga Gereja – Jumat, 14 Desember 2018)

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19) 

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Dunia kita dipenuhi dengan perselisihan, percekcokan dan sakit hati. Kehidupan pribadi kita juga seringkali disentuh oleh kekecewaan dan perjuangan jatuh-bangun. Setiap kehidupan manusia memang berbeda-beda, akan tetapi kita menghadapi tantangan-tantangan dari berbagai kesulitan di tempat kerja, patah hati karena menyaksikan kehancuran perkawinan anggota keluarga kita, atau sakit hati yang disebabkan oleh relasi yang terluka, dlsb. Namun demikian, tokh kecenderungan kita adalah untuk memecahkan masalah-masalah kita yang sering “menggunung” itu dengan menggunakan kekuatan kita sendiri, tanpa Allah. Kadang-kadang kita malah menyalahkan Allah untuk berbagai kesulitan hidup kita dan penderitaan yang kita tanggung, walaupun Ia sesungguhnya adalah satu-satunya sumber damai-sejahtera dan sukacita bagi kita.

Ketika berbicara mengenai reaksi-reaksi orang banyak terhadap Yohanes Pembaptis, Yesus menggambarkan bagaimana mudahnya kita menjadi tidak berbahagia dengan apa saja yang kita temui dalam kehidupan kita. Pada saat kita dikonfrontir dengan panggilan untuk bertobat, kita ingin mengesampingkannya dan menekankan sesuatu yang lebih “positif”. Pada saat kita dipanggil untuk bersukacita dalam kasih Allah, seringkali kita malah mengabaikannya dengan alasan bahwa hal tersebut terlalu idealistis dan sudah keluar dari realitas. Manusia memang suka berubah-ubah!

Yesus bersabda: “Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya” (Mat 11:19). Hal ini berarti bahwa kebenaran dan keadilan Allah dibuktikan benar manakala umat-Nya mengikuti jalan-Nya secara serius dan mengikuti-Nya. Selagi kita memperkenankan Yesus menguasai diri kita dan menaruh kepercayaan kepada segala ketetapan-Nya, maka kita akan mengenal dan mengalami damai sejahtera. Selagi kita mengakui bahwa dosa dan keserakahan ada pada akar segala penderitaan di dalam dunia, maka kita pun akan mulai melihat hal-hal yang sama bergerak dalam hati kita sendiri dan menyadari bagaimana semua itu ada pada akar segala masalah yang kita hadapi. Pengetahuan ini akan memimpin kita kepada suatu ketaatan yang lebih mendalam dan lebih merendah.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, Yesus telah datang untuk membebaskan kita. Dia memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan untuk dapat bebas dari dosa, kemarahan dan luka batin. Yang diminta oleh Yesus hanyalah bahwa kita mendengarkan sabda-Nya dan mencari pertolongan dari Roh Kudus-Nya dalam upaya kita untuk mentaati-Nya. Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, marilah kita berbalik kepada Yesus, dan setiap saat kita berada berjalan di jalan yang salah, berbaliklah kembali kepada-Nya. Kita akan selalu menjumpai Dia sedang menunggu di sana dengan tangan-tangan yang terbuka lebar-lebar untuk menerima kita kembali. Selagi kita berjalan semakin mendekat pada Yesus, maka kita akan melihat Allah menggunakan kita untuk mencurahkan Roh-Nya ke atas diri setiap orang di sekeliling kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami ingin lebih mengenal Engkau lagi. Kami ingin mempersembahkan kepada-Mu keseluruhan hidup kami. Kami ingin mohon kepada-Mu untuk menolong kami berjalan bersama-Mu dan memperkenankan kami balik kembali kepada-Mu setiap kali kami tersesat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 11:16-19), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA MENOLAK YOHANES PEMBAPTIS DAN JUGA YESUS” (bacaan tanggal 14-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Desember 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS