Posts tagged ‘ROH KUDUS’

SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 13 Juli 2018)

 

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,8-9 

Bilamana kita setia melaksanakan hidup Injili sehari-harinya, kita pun boleh memastikan bahwa kita akan menghadapi kesulitan atau oposisi. Dalam situasi pengejaran dan penganiayaan, ke mana kita akan mencari sebuah jangkar atau sauh sebagai pegangan kita? Apa yang dapat menopang kehidupan kita? Jangkar kita adalah keyakinan bahwa Roh Kudus Allah berdiam dalam diri kita dan Ia mau dan mampu untuk membimbing kita dalam segala macam situasi yang kita hadapi.

Ketika Yesus memberikan peringatan-peringatan dan wejangan-wejangan kepada kedua belas rasul (artinya kepada kita juga yang hidup pada zaman sekarang) dalam rangka mengutus mereka sebagai misionaris-misionaris, sebenarnya Yesus berbicara berdasarkan pengalaman-Nya sendiri. Sadar akan tidak dapat dihindarkannya kesalahpahaman dan penganiayaan, Yesus terus-menerus memasrahkan hati-Nya pada kuasa Roh Kudus dan kasih dan perlindungan Bapa-Nya. Demikian pula, para murid tidak perlu merasa gelisah atau khawatir tentang bagaimana dan apa yang mereka harus katakan pada waktu mereka diserahkan kepada para penguasa karena kesaksian mereka tentang Kristus, karena Yesus mengatakan kepada mereka: “Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10:20).

Yesus dibenci, dikhianati, diadili dalam pengadilan dagelan yang terbesar pada zaman itu, dan akhirnya dijatuhi hukuman mati karena kesaksian-Nya. Akan tetapi, pada setiap saat Yesus mencari kekuatan dan bimbingan dari Roh Kudus. Walaupun pada saat para musuh-Nya berpikir mereka menang atau berada di atas angin, Yesus tetap setia berpegang teguh pada pengetahuan-Nya tentang kasih Allah Bapa bagi diri-Nya. Dia tahu bahwa diri-Nya tidak akan dipermalukan.

Roh Kudus yang sama mencurahkan kasih Allah yang sama ke dalam hati kita masing-masing dan memberikan kepada kita keyakinan ketika kita menghadapi oposisi (lihat Rm 5:1-5). Penganiayaan mungkin tidak dapat dihindari, namun lebih pasti lagi adalah kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita melalui pembaptisan. Ia sangat berhasrat untuk menguatkan diri kita selagi kita melangkah ke luar dalam ketaatan-penuh-setia kepada Allah, dengan penuh kemauan untuk membayar harga kesaksian kita tentang kebesaran Yesus Kristus. Langkah-langkah kecil ketaatan kita dibuat kecil oleh kesetiaan Allah dengan janji-Nya untuk memberikan kita bimbingan dan dorongan oleh Roh-Nya. Tidak ada keyakinan yang lebih besar di sini, karena tidak ada sahabat yang lebih setia menemani kita daripada Roh Kudus sendiri. Oleh karena itu marilah kita mengambil sikap Yesus dan taat kepada Bapa di surga sementara kita dengan penuh keyakinan menanti-nantikan tanggapan penuh setia dari Roh Kudus-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kami keberanian untuk menjadi saksi-saksi-Mu yang berani dan tangguh. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “KEHADIRAN ROH KUDUS DALAM DIRI PARA MURID(bacaan tanggal 13-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juli 2018 [Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk. Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

PINTU YANG SEMPIT DAN JALAN YANG SESAK

PINTU YANG SEMPIT DAN JALAN YANG SESAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 26 Juni 2018)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: 2Raj 19:9b-11,14-21,31-35a,36; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-4,10-11

“Sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:14)

Apakah agama Kristiani merupakan suatu misteri yang hanya diperuntukkan bagi sekelompok kecil manusia saja? Sekelompok kecil murid yang mengelilingi sang Guru? Hanya berjumlah 144.000 saja? (lihat  Why 14:1). Kalau demikian halnya, bagaimanakah mungkin Yesus Kristus, menjelang kenaikan-Nya ke surga memberi amanat agung-Nya yang terkenal: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:18-20). Ada sejumlah ayat lagi di samping petikan ini. Apakah terdapat ayat-ayat yang saling bertentangan dalam Kitab Suci sendiri, karena teks yang satu mengatakan sedikit, sedangkan teks lainnya mengatakan banyak? Jika demikian halnya, Kitab Suci tidak pantas disebut sebagai sabda Allah. Sebagai kata-kata manusia saja tidak mungkin ada pertentangan dalam perkara yang sedemikian pentingnya. Mengapa? Karena pokok pembicaraan dalam Kitab Suci adalah justru keselamatan umat manusia.

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus samasekali tidak bermaksud untuk memberikan ajaran dogmatis-teoritis, seperti misalnya jumlah orang yang terpilih. Yesus ingin mengajak manusia untuk mencari jalan keselamatan dengan segenap hati, serta bertekun di dalamnya. “Masuklah”. Itulah kata pertama yang dikatakan-Nya dan kata itu bersifat “menentukan”.

Untuk menerangkan betapa pentingnya upaya untuk mencari, menemukan, dan masuk ini, Yesus melukiskan pertentangan antara pintu yang kecil dan besar, antara jalan yang luas dan jalan yang sempit. Pertentangan ini tidak mengandung wahyu tentang berapa sih jumlah mereka yang menemukannya, tetapi hanya dasar perintah untuk mencari keselamatan ini dengan sungguh-sungguh. Hanya dengan demikian saja sabda ini ada hubungannya dengan seluruh Khotbah di Bukit. Bahwasanya upaya untuk mencari ini amat penting, sudah jelas karena Dia adalah “Jalan” (Yoh 14:6) dan “Pintu” (Yoh 10:7). Jadi, upaya “menemukan” Yesus Kristus sungguhlah penting. Barangsiapa menemukan Dia akan selamat, dan barangsiapa tidak menemukan Dia akan binasa.

Dengan demikian, yang dimaksudkan di sini adalah agar manusia mencari Yesus Kristus dan sabda-Nya. Jika diambil keseluruhannya, memang di Israel hanya sedikit saja orang yang sungguh menemukan-Nya, oleh karena itu semua manusia harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh peringatan Tuhan Yesus ini, agar supaya dari seluruh umat manusia banyak juga yang menemukan-Nya.

Inilah tuntutan Yesus yang memang berat – namun menentukan – bagi umat manusia. Oleh karena itu marilah kita berupaya dengan sungguh serius agar supaya termasuk dalam jumlah kecil orang yang mencari dengan tulus-jujur serta sungguh-sungguh, yang memilih dengan tegas dan terang-terangan dan yang selanjutnya memperkenankan Allah berbuat seturut kerahiman-Nya terhadap mereka.

DOA: Bapa surgawi, kami bertekad untuk menjadi murid Kristus, Putera-Mu, yang setia dan taat. Oleh kerahiman-Mu, biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa membimbing kami dalam menjalani hidup ini dan melakukan perintah Yesus untuk membuat pilihan-pilihan yang benar di mata-Mu, agar dapat masuk ke dalam surga dan menikmati hidup kekal bersama Allah Tritunggal dan para kudus serta semua makhluk surgawi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH” (bacaan tanggal 26-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG BENIH YANG BERTUMBUH

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG BENIH YANG BERTUMBUH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XI [Tahun B], 17 Juni 2018)

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.” 

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”7

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mrk 4:26-34) 

Bacaan Pertama: Yeh 17:22-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 92:2-3,13-16; Bacaan Kedua: 2Kor 5:6-10 

Kita dapat memandang diri kita –  bahkan membanggakan diri kita –  sebagai ahli dalam banyak bidang, namun apabila didesak untuk memberi penjelasan yang mendetil tentang sesuatu, maka tanpa ragu sedikitpun kita tidak akan mampu alias gagal. Banyak dari kita menguasai bagaimana mengendara sebuah mobil, namun masih melihat sebagai sebuah misteri bagaimana sesungguhnya mobil itu bekerja sebagai suatu sistem. Hal yang sama kurang lebih benar untuk benda-benda seperti pesawat radio, pesawat televisi, kalkulator dlsb. Setiap orang dapat menyalakan korek api, namun berapa banyak yang dapat menjelaskan misteri api? Kita melihat jutaan organisme hidup – pepohonan, burung-burung, binatang-binatang lain dan juga manusia – namun siapa yang sungguh dapat menjelaskan tentang misteri kehidupan?

Sifat “pemerintahan Allah” atau “Kerajaan Allah” yang penuh misteri digambarkan dalam bacaan Injil hari ini. Yesus membandingkan Kerajaan Allah ini dengan sebutir benih yang ditanam untuk pertama kalinya, kemudian “mati” dan akhirnya matang menjadi sebatang tanaman yang bertumbuh-penuh. Bahkan, kata Yesus, sebutir biji mustar yang kecil mampu untuk tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya (Mrk 4:32). Bayangkanlah pohon beringin atau pohon besar apa saja yang menjulang tinggi. Bukankah semua pohon besar tersebut berasal dari sebutir benih yang berukuran relatif kecil? Namun, dalam hal ini, baik benihnya maupun kondisi tanahnya bersifat hakiki.

Tuhan Yesus mengatakan yang sama juga benar dalam hal sabda-Nya dan tanggapan kita. Kerajaan Allah tidak semata-mata didirikan oleh sabda-Nya atau hanya oleh upaya kita, melainkan oleh sintesa keduanya. Seorang petani tidak memahami mengapa atau bagaimana sebutir benih bertumbuh, karena semuanya kelihatannya terjadi secara otomatis, namun sebenarnya sesuai dengan seperangkat “aturan” (atau katakanlah: proses) yang telah di-“program” oleh sang Pencipta. Jadi, petani itu dapat tidur sementara proses pematangan tanaman terjadi.

Sabda Allah – benih dari hidup Kristiani – telah ditanamkan ke dalam diri kita masing-masing pada waktu kita dibaptis. Dalam hal baptisan anak-anak, hal tersebut tidak diketahui oleh sang anak yang dibaptis namun terus bertumbuh, bahkan pada jam-jam tidur. Demikian pula halnya dengan orang yang dibaptis tatkala dia sudah bukan anak-anak lagi. Namun apabila “tanah” jiwa kita menolak benih tersebut, maka tidak akan ada “hidup baru”. Menerima atau menolak benih yang ditanamkan adalah suatu pilihan yang sepenuhnya berada di bawah kuasa pribadi penuh kesadaran dari seseorang. Allah tidak menciptakan kita sebagai robot, melainkan dengan kehendak bebas.

Karena jam-alam bergerak dengan lambat, maka kita tidak boleh memaksakan diri kita untuk matang di luar “jadual” yang sudah ada. Sebelum kita dapat sepenuhnya berkembang, maka pertama-tama kita harus memperkenankan waktu yang cukup banyak bagi benih yang ditanamkan ke dalam diri kita untuk mengembangkan akar-akar iman, pengharapan, kasih, ketekunan dan keadilan ke dalam tanah jiwa kita. Semakin tinggi kita bertumbuh, semakin dalam pula akar-akar tersebut harus masuk ke dalam tanah jiwa kita.

Saudari dan Saudarraku, sabda Allah akan menghasilkan panen berkelimpahan dalam diri kita apabila kita memperkenankannya. Apa yang harus kita lakukan sederhananya adalah menyediakan suatu atmosfir yang cocok bagi penanaman benih, pertumbuhannya dan panenan di ujungnya.

DOA: Ya Tuhan Allah, Engkaulah yang menanamkan benih dalam kehidupan kami, membuat kami bertumbuh dan mendatangkan buah-buah. Tolonglah kami hari ini agar dapat mengenali karya-Mu dan menghargai buah-buah yang dihasilkan. Semoga kami tidak pernah menjadi penghalang terhadap karya-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan dengan judul  “SEBUAH PERMENUNGAN TENTANG GEREJA KRISTUS” (bacaan tanggal 17-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni  2018 [Peringatan/Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBUKA DIRI BAGI KUAT-KUASA ALLAH YANG MENYEMBUHKAN

MEMBUKA DIRI BAGI KUAT-KUASA ALLAH YANG MENYEMBUHKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Sabtu, 16 Juni 2018)

OFMCap.: Peringatan B. Anicetus Koplin, Imam dkk., Martir Polandia

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 19:19-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-8 

Standar-standar kebenaran yang ada dalam Injil untuk kita hayati sungguh dapat mengecilkan hati kita! Hal ini benar teristimewa dalam kasus “Khotbah di Bukit”. Ketika kita mendengar sabda Yesus berkaitan dengan memegang sumpah dan melanggar sumpah, kita dapat saja memandangnya sebagai suatu ketidakmungkinan untuk taat kepada apa yang dikatakan Yesus itu – dan hal ini benar jika kita mengandalkan kekuatan dan kebaikan kita sendiri. Akan tetapi, Yesus mengutus Roh Kudus-Nya untuk tinggal dalam diri kita, menguduskan kita, dan membuat kita semakin serupa dengan diri-Nya.

Selagi kita mengasihi Yesus dan tetap berada dekat dengan diri-Nya setiap hari, maka kita akan mengalami kasih Allah yang mempunyai daya untuk mentransformasikan diri kita. Hidup Yesus akan mengalir ke dalam diri kita dan melalui kita, dan “tuntutan-tuntutan” Yesus terhadap kita pun tidaklah akan kelihatan sedemikian tidak mungkinnya. Kita akan sampai pada titik di mana kita akan memahami dan percaya secara mendalam bahwa Yesus akan memberikan kita rahmat yang diperlukan untuk menghadapi segala macam situasi kehidupan. Jadi, kita tidak akan berputus-asa ketika mencoba – dengan jatuh-bangun – mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan bagi kita.

Kita dapat menaruh kepercayaan pada kemampuan Roh Kudus untuk memurnikan diri kita dari pikiran mendua, rasa curiga dan tipu-daya. Selagi kita semakin dekat dengan Yesus, kita pun dapat menjadi begitu murni dalam hati sehingga tidak perlu lagi bagi kita untuk bersumpah. Integritas kita akan berbicara sendiri! Dapatkah kita membayangkan seseorang memerintahkan Ibu Teresa dari Kalkuta untuk bersumpah – teristimewa berkaitan dengan integritas karya pelayanannya?

Apakah Saudari-Saudara percaya bahwa hal yang sama dapat terjadi atas diri anda? Apakah anda percaya bahwa Allah dapat bekerja dalam hidup anda dengan tingkat kedalaman yang sama? Bagaimana hal ini dapat terjadi? Seperti dikatakan Yesus kepada para murid-Nya, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27). Jadi, selagi kita melakukan pemeriksaan batin dan bertobat atas dosa-dosa kita, marilah kita membuka diri bagi kuat-kuasa Allah yang menyembuhkan. Hanya Dia yang dapat membentuk nurani kita sampai titik di mana kita secara naluriah dapat menghindarkan diri dari godaan-godaan untuk menipu orang-orang lain. Dan selagi terang kesaksian hidup kita menyinari orang-orang lain, mereka akan memuliakan Allah untuk pekerjaan yang telah dilakukan-Nya dalam diri kita (lihat Mat 5:16).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah “Amin” dari Allah (2Kor 1:15-22), satu-satunya pengharapan kami untuk kejujuran dan rasa percaya dalam dunia ini. Oleh Roh Kudus-Mu, bersihkanlah kami dari segala pikiran mendua. Buatlah kami menjadi mercu-mercu suar yang terang bercahaya dari kuat-kuasa Injil-Mu sehingga dengan demikian dunia dapat percaya kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang  berjudul “MENYERAHKAN HATI DAN PIKIRAN KEPADA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 16-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG PEWARTA INJIL DI MASA AWAL GEREJA YANG TIDAK BOLEH KITA LUPAKAN

SEORANG PEWARTA INJIL DI MASA AWAL GEREJA YANG TIDAK BOLEH KITA LUPAKAN

(Bacaan Pertama Misa, PERINGATAN S. BARNABAS, RASUL Senin, 11 Juni 2018

KONGREGASI FRANSISKANES SAMBAS [KFS]: HARI RAYA S. BARNABAS, RASUL – HARI JADI KONGREGASI

Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.

Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.

Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi. (Kis 11:21b;13:1-3) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6; Bacaan Injil: Mat 10:7-13 

Bacaan khusus ini berkenaan dengan peringatan wajib hari ini, yaitu memperingati Santo Barnabas, Rasul, mitra kerja Santo Paulus dalam mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus.  Barnabas berarti “anak penghiburan” (Kis 4:36), sebuah nama sampingan dari seorang Lewi yang bernama Yusuf, seorang kelahiran Siprus. Dalam Gereja Perdana Barnabas terkenal kedermawanannya. Dia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki para rasul (lihat Kis 4:36-37). Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman (Kis 19:24). Pada waktu jemaat di Yerusalem masih takut-takut menerima kehadiran Saulus yang baru bertobat, Barnabaslah yang menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka, bagaimana Saulus berjumpa dengan Tuhan yang telah bangkit di tengah jalan menuju Damsyik dan bahwa Tuhan Yesus berbicara kepadanya dan dia juga menceritakan keberanian Saulus mengajar di Damsyik dalam nama Yesus (Kis 9:26-27).

Kematian Stefanus sebagai martir Kristus (Kis 7:54-60) disusul dengan pengejaran dan penganiayaan terhadap umat Kristiani, sehingga ada yang menyingkir sampai ke Fenisia dan Antiokhia.  Pada waktu itu gereja Antiokhia hanya mewartakan Injil kepada orang Yahudi saja, namun beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di sana mewartakan Injil kepada orang-orang berbahasa Yunani. Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya (Kis 11:21). Ketika gereja induk di Yerusalem mendengar hal itu, diutuslah Barnabas untuk melayani jemaat di Antiokhia. Keberadaan gereja Antiokhia dengan umat campuran Yahudi-Yunani, dan dipenuhi anugerah – singkatnya sebuah jemaat yang hidup – membuat sukacita dalam diri Barnabas  (Kis 11:19-24). Kemudian Barnabas pergi ke Tarsus untuk mencari Saulus, lalu membawanya ke Antiokhia untuk bersama-sama melayani umat di sana selama satu tahun penuh, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhia lah murid-murid Kristus untuk pertama kalinya disebut Kristiani (Kis 11:25-26).  Karena ada nubuatan dari seorang nabi dari Yerusalem yang bernama Agabus tentang akan timbulnya kelaparan besar, jemaat mengumpulkan uang untuk saudari-saudara seiman yang tinggal di Yudea, sumbangan mana dibawa oleh Barnabas dan Saulus ke Yerusalem (Kis 11:27-30). Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem sambil membawa Yohanes Markus (Kis 12:24-25).

Daftar “nabi dan pengajar” dalam Kis 13:1 kelihatannya merupakan daftar nama para pemimpin gereja di Antiokhia, dengan nama Barnabas dicantumkan dalam urutan pertama dan Saulus (Paulus) sebagai yang terakhir. Kemudian, dalam ibadat kepada Tuhan sambil berpuasa, mereka mendengar Roh Kudus menentukan Barnabas dan Saulus untuk pergi sebagai misionaris menyebarkan Injil (Kis 13:2). Nama Barnabas disebut lebih dahulu karena sesungguhnya dialah anggota senior dalam tim dalam perjalanan misioner yang pertama itu, paling sedikit di awal perjalanan (Kis 13:2; lihat juga Kis 13:7).

Barnabas memang lebih senior, akan tetapi Saulus (juga disebut Paulus mulai Kis 13:9), dengan cepat menunjukkan dinamika yang membuatnya menjadi rasul besar (Kis 13:9-12). Selanjutnya tim misionaris tangguh ini dikenal sebagai “Paulus dan kawan-kawan” (Kis 13:13). Terasa dari catatan-catatan di atas bahwa Barnabas adalah seorang pribadi yang dengan sungguh-sungguh selalu memajukan orang lain lebih dari dirinya sendiri, dan dia memang tidak berkeberatan samasekali dengan kepemimpinan Paulus.

Dalam perjalanan misioner yang pertama ini, mula-mula mereka pergi ke Siprus (Kis 13:1-12) dan dari Siprus melanjutkan perjalanan mereka ke sejumlah tempat dan akhirnya kembali ke Antiokhia. Sebuah perjalanan misioner yang panjang dan berbuah banyak (baca Kis 13-14). Pada konsili para rasul di Yerusalem, Paulus dan Barnabas terang-terangan membela keinginan para pengikut Kristus non-Yahudi (baca Kis 15:1-34).

Setelah tiba di Antiokhia, berdiam di sana dan mewartakan Injil untuk beberapa lama, terjadilah perselisihan antara Paulus dan Barnabas. Paulus ingin kembali ke tempat-tempat yang dulu mereka datangi dan mewartakan Injil untuk melihat perkembangan di setiap tempat itu. Barnabas ingin membawa Yohanes Markus, namun Paulus tidak setuju, karena dahulu Yohanes Markus pernah meninggalkan mereka di Pamfilia dan kembali ke Yerusalem (Kis 13:13).Setelah perselisihan yang tajam, berpisahlah mereka. Barnabas membawa serta Yohanes Markus berlayar ke Siprus. Paulus memilih Silas dalam perjalanan kali ini (baca Kis 15:35-41). Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, terdapat satu ayat yang berisikan kritik Paulus terhadap sikap dan perilaku Barnabas pada waktu kunjungan Petrus ke Antiokhia (lihat Gal 2:13).

Ada sebuah “Injil palsu” yang menggunakan nama Barnabas, yang dikarang lebih dari 10 abad setelah masa hidup Yesus di dunia, sekurang-kurangnya sesudah tahun 1.300, malah kemungkinan dalam abad ke-16. Apabila anda ingin mengetahuinya secara lebih mendalam, bacalah buku tipis (26 halaman saja) yang disusun oleh Drs. B.F. Drewes & Drs. J. Slomp dengan judul: SELUK BELUK BUKU YANG DISEBUT INJIL BARNABAS, terbitan Penerbit BPK Gunung Mulia, Jakarta dan Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Adalah baik untuk mengetahui pokok-pokok ulasan dari buku ini karena “Injil Barnabas” suka dipakai oleh orang-orang yang suka menyerang umat Kristiani.

Dari bacaan “Kisah para Rasul” di atas serta uraiannya, kita dapat melihat peranan sentral dari Roh Kudus dalam setiap karya evangelisasi. Para misionaris juga harus didukung penuh oleh jemaat/umat yang mengutus mereka. Umat yang berdoa sambil berpuasa melakukan discernment untuk memastikan kehendak Roh Kudus dalam setiap situasi. Yang mencolok juga adalah ketaatan yang ditunjukkan oleh Barnabas dan Paulus kepada pimpinan jemaat/gereja. Disuruh pergi, mereka pun pergi! Barnabas diutus oleh pimpinan Gereja di Yerusalem untuk melayani gereja di Antiokhia, maka dia pun langsung pergi. Barnabas dan Paulus meninggalkan Antiokhia ketika diutus pergi ke tempat lain, meskipun jelas mereka sangat kerasan berada dalam gereja yang penuh anugerah Roh Kudus itu. Namun demikian, pada zaman sekarang ini kita masih mendengar kabar ada imam yang tidak mau dipindahkan dari gereja paroki yang “dicintainya” meskipun diperintahkan oleh uskup atasannya. Ketaatan adalah sebuah keutamaan, anugerah yang tentunya datang dari Dia sendiri. Kalau saja pastor paroki tadi meresapi dalam hatinya bagaimana ketaatan Yesus kepada Bapa-Nya (lihat Flp 2:5-11), kiranya peristiwa menyedihkan dan memalukan tersebut tidak perlu terjadi.

Seorang pewarta yang baik selalu taat kepada Bunda Gereja. Dia juga selalu mengakui bahwa SANG PEWARTA sesungguhnya adalah Roh Kudus sendiri, sedangkan dia sendiri adalah alat/sarana belaka. Hal ini ditunjukkan oleh Santo Barnabas yang kita peringati hari ini. Semoga semangat Santo Barnabas dan Santo Paulus juga menjiwai setiap pewarta kita.

DOA: Roh Kudus, hadirlah selalu di dalam hati kami. Ingatkanlah kami selalu bahwa Engkaulah sebenarnya Sang Pewarta Kabar Baik Yesus Kristus, sedangkan kami hanyalah alat/sarana pewartaan tersebut. Berikanlah kepada kami juga rahmat untuk mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan kami sendiri, seperti yang telah ditunjukkan oleh Santo Barnabas yang kami peringati hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-13), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 11-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERANAN SANG PENOLONG

PERANAN SANG PENOLONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 20 Mei 2018)

“… Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.” 

“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin amu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya  dan Ia aan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akkan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 15:26-27; 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: Gal 5:16-25 

Roh Kudus disebut sebagai Penolong (Yunani: Parakletos) sebanyak lima kali dalam Perjanjian Baru (Yoh 15:26; 14:16,26; 16:7; 1Yoh 2:1). Dengan menggunakan nama itu Yohanes hendak menggarisbawahi peranan Roh Kudus sebagai seorang penasihat – suatu sumber pendorong, penghiburan, pertolongan dan kebenaran.

Pada waktu Yesus hidup di muka bumi ini sebagai seorang manusia, para murid-Nya mempunyai akses yang bebas dan mudah untuk datang kepada-Nya. Mereka dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mohon nasihat kapan saja mereka inginkan. Namun pada  Perjamuan Terakhir, tahu bahwa diri-Nya tidak akan selalu dapat diakses secara fisik, Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk menyambut kedatangan seorang penolong/penasihat yang lain, yaitu Roh Kudus (Yoh 14:16). Walaupun Yesus tidak akan bersama mereka lagi dalam daging, Roh Kudus – Roh Yesus – akan berdiam di dalam diri mereka. Satu-satunya hal yang lebih baik daripada “Yesus ada bersama dengan kita” adalah “Yesus berada dalam diri kita”.

Dari segala tugas Roh Kudus, satu dari yang paling penting adalah membawa Kitab Suci ke kehidupan di dalam hati kita sehingga diri kita dapat ditransformasikan. Apakah kita pernah berpikir untuk memanggil Dia untuk duduk di samping kita ketika kita duduk membaca Kitab Suci? Dengan Dia sebagai pemandu dan penasihat, kita tentunya dapat melakukan navigasi melalui bagian-bagian bacaan sulit dalam Kitab Suci dan menemukan kedalaman-kedalaman baru dalam hidup Kristiani yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin.

Pada Hari Raya Pentakosta ini, baiklah kita (anda dan saya) datang kepada Roh Kudus dengan sebuah hati yang terbuka. Marilah kita memohon kepada-Nya untuk menolong kita dalam kelemahan-kelemahan kita. Sementara kita membaca Kitab Suci dalam keheningan dan suasana doa, biarlah Dia mencerahkan kata-kata yang ada dalam Kitab Suci dan menolong kita menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus akan mengambil pesan dari Kitab Suci, mengikatnya dengan kehidupan Gereja, dan mencelupkannya dalam-dalam di hati kita masing-masing, di mana kehendak kita dimotivasi untuk bertindak. Lalu perhatikanlah bahwa kehidupan kita pun berubah.

Santo Hieronimus [347-420] berkata: “Ignoratio Scripturarum, Ignoratio Christi est.”  (Inggris: “Ignorance of Scripture is ignorance of Christ.”), yang artinya kira-kira “Tidak kenal/tahu Kitab Suci, tidak kenal/tahu Kristus. Apakah anda mau mengenal Jesus, sang Sabda Allah? Cobalah kenal dengan Roh Kudus, Penolong anda!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk memulihkan relasi kami dengan Dikau. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan Roh Kudus untuk hidup dalam diri kami dan menolong kami dalam segala kelemahan kami. Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati kami umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu dalam hati kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 20-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  17 Mei 2018 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENANTIKAN KEDATANGAN ROH KUDUS

MENANTIKAN KEDATANGAN ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Rabu, 16 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona, OFS

“Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjagas mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.” (Yoh 17:11b-19)

Bacaan Pertama: Kis 20:28-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:29-30,33-36  

Yesus sedang mempersiapkan diri-Nya untuk pergi kepada Bapa-Nya. Dalam doa bagi para murid-Nya ini, Dia mempercayakan mereka kepada pemeliharaan penuh perhatian dari Bapa surgawi. Sungguh merupakan suatu momen yang penuh berkat dan kelemah-lembutan-Nya sebagai Guru dan Gembala bagi mereka, juga sebagai Imam Besar Agung (lihat Ibr 4:14), sang Pengantara dengan Bapa. Yesus telah hidup dan melayani bersama mereka selama tiga tahun – menjaga mereka, mengajar mereka, membentuk/membina mereka dan mengasihi mereka dengan kasih Allah sendiri. Bapa telah memberikan mereka kepada Yesus, dan sekarang Yesus memberikan mereka kembali kepada Bapa-Nya. Bagaimana Bapa akan menjaga dan melindungi mereka? Dengan cara yang penuh kemuliaan, yaitu dengan mengutus Roh Kudus, tidak hanya kepada mereka yang berkumpul di ruang atas (senakel), melainkan kepada semua orang yang meminta (lihat Yoh 17:20-21).

Kita sekarang sedang berada dalam masa persiapan perayaan Hari Raya Pentakosta. Kita menantikan kedatangan Roh Kudus dalam kepenuhan-Nya seperti yang ingin dicurahkan atas diri kita oleh Allah Bapa. Allah tidak pernah merasa lelah untuk melakukan kebaikan atas diri umat-Nya. Dia selalu siap untuk melimpah-limpahkan rahmat dan kuat-kuasa-Nya atas diri mereka yang mencari diri-Nya.

Apakah yang dapat kita harapkan dari Roh Kudus untuk dilakukan-Nya dalam hati kita? Yesus berdoa bahwa melalui Roh Kudus, Bapa akan melindungi kita dari yang jahat [si Jahat] (Yoh 17:15). Yesus juga berdoa agar sukacita-Nya sendiri dapat memenuhi diri kita (Yoh 17:13).  Oleh Roh Kudus, kita dapat mengetahui kebenaran, dan memperkenankan kebenaran itu untuk memisahkan/menguduskan kita bagi Kristus (Yoh 17:19). Kita dapat mengenal dan mengalami kesatuan satu sama lain – kesatuan yang sama seperti yang dimiliki oleh Yesus dan Bapa-Nya (Yoh 17:21). Kita dapat mengasihi sebagaimana Allah mengasihi (lihat Rm 5:5). Kita dapat meyaksikan godaan dan dosa dikalahkan (lihat Rm 8:13).

Semua karunia yang indah ini – dan banyak lagi – adalah milik kita karena Roh Kudus telah datang untuk memasukkan  kita ke dalam kehidupan Allah sendiri: “Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan dia di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1Yoh 4:13). Roh Kudus telah dicurahkan ke dalam diri kita untuk membuat kita bersatu dengan Allah. Selagi kita menantikan Hari Raya Pentakosta yang agung ini, marilah kita berdoa dengan penuh pengharapan:

DOA: Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu guna menyatukan kami masing-masing dengan Dikau dan Putera-Mu terkasih, Tuhan Yesus Kristus. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, utuslah kami untuk mewartakan sabda-Mu, dengan demikian  kami dapat ikut serta dalam upaya memperbaharui muka bumi! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 20:28-38), bacalah tulisan yang berjudul “TETAP KUAT BERAKAR DALAM YESUS” (bacaan tanggal 16-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA   http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018.   

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS