Posts tagged ‘ROH KUDUS’

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 20 Oktober 2018)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2-7 

NYT2010100712284619C

Kebaktian gereja di Munich, Jerman, telah selesai, ketika tiba-tiba perempuan itu melihat laki-laki itu; mantan prajurit SS Nazi yang bertugas menjaga di dekat pintu kamar mandi di kamp konsentrasi Ravensbruck. Banyak tahun telah berlalu, namun memori-memori membanjiri pikiran perempuan itu – ruangan yang penuh berisi laki-laki yang mengolok-olok dirinya, tumpukan baju, rasa takut yang bercampur dengan marah dan malu. Pada suatu hari, setelah baru saja menyelesaikan ceramahnya, seorang laki-laki muncul dari antara orang-orang yang hadir dan mendatanginya dan berkata kepada perempuan itu, “Betapa penuh syukur saya mendengar pesan anda, …… berpikir bahwa Yesus telah membasuh bersih dosa-dosaku!”

Mula-mula perempuan ini, yang sudah begitu sering berceramah tentang betapa perlunya mengampuni, tidak mau mengulurkan tangannya ketika laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyalaminya. Merasakan keengganan dirinya, kemudian perempuan itu memohon kepada Yesus untuk menolongnya mengampuni laki-laki itu. Tanpa mampu tersenyum sedikit pun, perempuan itu berdoa lagi: “Yesus, aku tidak dapat. Berikanlah pengampunanmu kepadaku.” Pada akhirnya, selagi dia berjabatan tangan dengan laki-laki itu, “terjadilah suatu hal yang luar biasa. Dari pundakku terus melewati lengan dan tanganku, terasa adanya sesuatu yang mengalir dari diriku kepada orang itu, sementara dari kedalaman hatiku mengalirlah keluar cintakasih bagi orang asing ini, hal mana hampir membuat aku ‘kewalahan’ karena karena rasa gembira yang penuh ketakjuban.”

Perempuan itu adalah Corrie ten Boom [1892-1983]. Siapa yang dapat menyalahkan Corrie untuk sikapnya yang tidak mau mengampuni? Keluarganya dihabiskan oleh para penguasa Nazi hanya karena mereka adalah orang-orang Kristiani yang menyembunyikan orang-orang Yahudi dari pengejaran para penguasa Nazi tersebut. Akan tetapi, melalui rahmat Allah yang bersifat supernatural, Corrie dimampukan untuk dapat melihat melampaui rasa sakit hatinya dan berpaling kepada Yesus dalam momen pengambilan keputusan yang krusial.  Sebagai bukti kebenaran-kebenaran dari hal-hal yang telah disyeringkan olehnya kepada orang-orang lain, sikap dan tindakan sederhana Corrie terhadap mantan-penganiayanya menunjukkan, bahwa belas-kasih dapat menang-berjaya atas penghakiman.

Apakah mereka mengetahuinya atau tidak – dan apakah kita mempersepsikannya atau tidak – sebenarnya setiap insan (Nazi, komunis, atheis, agnostik dlsb.) memiliki kerinduan untuk mengenal Injil. Itulah sebabnya, mengapa Allah memanggil kita masing-masing untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Itulah sebabnya, mengapa Dia memberikan kepada kita berbagai kesempatan setiap hari untuk menyebarkan Kabar Baik-Nya kepada para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para rekan-kerja kita dll. Evangelisasi tidak perlu sulit-sulit amat! Evangelisasi dapat sama sederhananya dengan percakapan sehari-hari. Dengan tetap berada dekat dengan Yesus membuat kita terus terbuka bagi gerakan-gerakan Roh-Nya. Dengan demikian, Injil yang kita hayati dalam kehidupan kita akan menarik banyak orang kepada Allah.

Marilah kita menjaga diri kita agar tetap terbuka bagi Roh Kudus dan senantiasa mengingat kebenaran yang satu ini: yaitu bahwa Roh Kudus inilah yang melakukan evangelisasi, bukan kita. Roh Kudus Allah-lah yang sesungguhnya merupakan SANG PEWARTA, Dia yang senantiasa bekerja di belakang layar.

DOA: Roh Kudus yang penuh kuasa dan kasih, berikanlah kepadaku hati seorang penginjil. Semoga diriku senantiasa mencerminkan kebenaran-kebenaran Injil. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA” (bacaan tanggal 20-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SEDIKIT CATATAN MENGENAI BUAH ROH

SEDIKIT CATATAN MENGENAI BUAH ROH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir – Rabu, 17 Oktober 2018)

Akan tetapi, jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, percekcokan, perpecahan, kedengkian, bermabuk-mabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu – seperti yang telah kulakukan dahulu – bahwa siapa saja yang melakukan hal-hal demikian tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Siapa saja yang menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki. (Gal 5:18-25) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6; Bacaan Injil: Luk 11:42-46

Paulus sangat menyadari bahwa “celah pada baju zirah” (maksudnya: titik lemah) setiap orang-percaya adalah kecenderungannya untuk memuaskan ego-nya, memuaskan dirinya sendiri. Inilah yang dimaksudkan olehnya ketika  menyebut kata “daging”. Iblis menyerang titik lemah kita-manusia agar dapat meruntuhkan kepercayaan kita tentang apa yang telah dicapai oleh Allah dalam kehidupan kita. Misalnya, apabila kita membiarkan diri kita dilanda kemarahan atau rasa iri hati, maka sulitlah bagi kita untuk percaya bahwa “di dalam Kristus Yesus, Ia (=Allah Bapa) telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia (=Kristus) di surga” (Ef 2:6). Iblis mengetahui tentang hal ini dan ia selalu berupaya untuk terus mengacau-balaukan hati dan pikiran kita, sehingga kita menjadi semakin tak keruan,  dan hidup tanpa arah.

Sekarang masalahnya adalah, apakah kita harus menyerah begitu saja ketika kita terus-menerus mengalami kecenderungan negatif ini dalam diri kita? Jangan menyerah! Ingatlah bahwa kepada kita telah diberikan seorang Penolong, yaitu Roh Kudus, yang seturut janji Yesus sendiri, akan senantiasa menemani dan mengajar kita (baca Yoh 14:15-26). Ini adalah Roh yang dimaksudkan oleh Paulus ketika dia menulis: “…… jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh  Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat” (lihat Gal 5:18). Hal ini bukan berarti bahwa kita mempunyai kebebasan untuk melanggar perintah-perintah Allah; melainkan berarti bahwa kita tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan akan dihukum, tetapi hidup dalam suatu pelukan penuh gairah dari Tuhan dan segalanya yang Ia ingin lakukan dalam diri kita.

“Dipimpin oleh Roh Kudus” berarti kita terus ditemani oleh-Nya yang senantiasa menolong kita agar jangan sampai jatuh terjerumus ke dalam cara-cara yang mementingkan diri kita sendiri dan mendorong kita untuk melakukan pertobatan apabila kita berdosa. Terus terang saja, hal ini pada suatu hari dapat menjadi sebuah pertempuran. Kita mengetahui bahwa Roh Kudus sedang memimpin kita untuk menjadi baik hati, setia dan lemah lembut. Namun hasrat untuk menjadi orang yang dipenuhi semangat negatif atau katakanlah segala sesuatu yang mementingkan kenikmatan diri sendiri bisa jauh lebih kuat berakar dalam diri kita. Mengapa sampai begitu? Karena hati kita belum sepenuhnya mengalami transformasi. Itulah sebabnya mengapa kita harus secara terus-menerus menyerahkan hati kita kepada Tuhan, … “menyalibkan daging  dengan segala hawa nafsu dan keinginannya”  (Gal 5:24).

Melalui Roh, kita dibebas-merdekakan dari hidup lama kita yang mementingkan diri sendiri dan ego. Semua yang jelek itu tidak seharusnya menguasai diri kita lagi. Kita dapat mengenal dan mengalami sukacita dan damai sejahtera Kristus, dan kita dapat memanifestasikan buah [-buah] Roh yang disebutkan dalam bacaan di atas – malah lebih banyak lagi – kepada setiap orang yang kita jumpai (lihat Gal 5:22-23). Kehidupan kita akan berkelimpahan kalau kita mencari terus Tuhan Yesus dalam doa-doa harian kita, juga dalam Kitab Suci dan selagi kita “berjalan di bawah pimpinan Roh” (Gal 5:25).

DOA: Bapa surgawi, Allah khalik langit dan bumi. Kami memuji dan menyembah Engkau karena Dikau memberikan Roh Kudus-Mu untuk membimbing kami dan menolong kami agar mampu memanifestasikan buah (-buah) Kerajaan-Mu. Perkenankanlah agar Roh Kudus-Mu itu memenuhi diri kami masing-masing. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:42-56), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS” (bacaan tanggal 17-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Oktober 2018 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DENGAN RENDAH HATI DAN TEKUN BEDOA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS

DENGAN RENDAH HATI DAN TEKUN BERDOA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 11 Oktober 2018)

Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13) 

Bacaan Pertama: Gal 3:1-5; Mazmur Tanggapan: 1:69-75 

Perumpamaan Yesus tentang sahabat yang tekun ini menunjukkan kepada kita betapa Dia berkeinginan untuk menjawab doa-doa kita. Kita adalah anak-anak Allah, dan seperti orangtua mana saja yang baik, Bapa surgawi mau memberikan kepada kita. Apabila kita dengan setia dan rendah hati mengikuti Tuhan Yesus, maka Bapa surgawi akan memberikan kepada kita segalanya yang kita minta dalam nama-Yesus. Hati yang rendah dan penuh ketekunanlah yang mengenal hiburan Tuhan.

Ketika Abraham berdoa syafaat untuk Sodom (lihat Kej 18:20-32), dia cukup rendah hati untuk mengetahui bahwa hanya Allah sajalah yang dapat menyelamatkan orang-orang di Sodom itu. Dia tahu bahwa situasi mereka sudah sangat susah. Dia tidak tahan lagi melihat mereka dihukum, maka dia pun memanjatkan doa permohonan kepada Allah bagi orang-orang itu. Hati yang rendah dan penuh semangat seperti hati Abraham menyenangkan Allah.  Karena doa syafaat Abraham yang tekun itu, maka sepupunya Lot dan dua orang anak perempuannya dibebaskan dari penghakiman yang ditimpakan atas penduduk Sodom. Bayangkan sekarang, apa yang akan terjadi apabila kita berdoa kepada Bapa surgawi dalam nama Yesus!

Yesus berkata kepada para murid-Nya, “… jika kamu … tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya”  (Luk 11:13). Selagi kita memasuki hadirat Tuhan dalam doa, kita mendapat kesempatan untuk mengatakan: “Tuhan, aku tahu bahwa aku tidak mempunyai semuanya yang kubutuhkan untuk menyenangkan-Mu hari ini. Aku membutuhkan rahmat-Mu. Aku perlu menerima hidup dari-Mu. Penuhilah aku dengan Roh-Mu.” Kemudian, dipenuhi dengan rahmat, kita pun dapat bergerak terus dengan berdoa bagi orang-orang lain – sesempurna seperti yang telah dilakukan oleh Abraham.

Marilah kita sekarang berseru kepada Allah agar dia memberkati setiap orang di muka bumi ini. Marilah kita berdoa agar semua orang dapat mengenal Tuhan Yesus. Selagi kita membuka diri kita bagi Roh Kudus, Ia akan mengajar kita bagaimana berdoa. Dia akan mengajar kita untuk menjadi seperti sang sahabat yang penuh ketekunan itu, yang tak pernah malu dan kendur-semangat mengajukan permintaan-permintaannya di hadapan Dia yang dapat memenuhi segala kebutuhan kita.

DOA: Bapa surgawi, berikanlah kepada kami hati yang merindukan berkat-berkat-Mu atas segala sesuatu. Curahkanlah Roh-Mu ke atas bangsa-bangsa, ya Tuhan, sehingga semua orang dapat mengenal Engkau dan hidup untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:5-13), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TIDAK PERNAH DAPAT DIKALAHKAN DALAM HAL KEMURAHAN HATI” (bacaan tanggal 11-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Sabtu, 6 Oktober 2018)

OFS: Peringatan S. Maria Fransiska dr ke-5 luka Yesus, Perawan

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24) 

Bacaan Pertama: Ayb 42:1-3,5-6,12-17; Mazmur 119:66,71,75,91,125,130 

Baru saja kembali dari misi mereka, para murid Yesus bersukacita karena kuasa luarbiasa yang telah diberikan Yesus kepada mereka untuk menolong orang-orang yang sakit dan tertindas. Namun Yesus dengan cepat mengingatkan para murid-Nya yang terdiri dari 70 orang itu, bahwa janganlah mereka sibuk memikirkan apa yang telah diberikan oleh-Nya untuk memberdayakan mereka. Yang benar adalah, bahwa mereka bersukacita karena Dia, sumber kuat-kuasa yang sekarang ada dalam diri mereka dan juga pencinta jiwa-jiwa mereka.

Yesus ingin agar para misionaris “junior” ini menghargai nilai-tertinggi keberadaan mereka bersama dengan diri-Nya. Para murid ini mempunyai privilese berdiam berjam-jam lamanya mendengarkan pengajaran-Nya dan belajar mengenai cintakasih-Nya. Para murid memiliki sukacita mengetahui bahwa Yesus telah membuka “jalan kepada Bapa” bagi mereka. Nama-nama mereka telah “terdaftar di surga” (Luk 10:20). Bukankah hal ini merupakan sebuah alasan yang jauh lebih besar dan penting untuk kegembiraan mereka?

Santa Bunda Teresa dari Kalkuta pada suatu kesempatan mengatakan, “Panggilanku didasarkan pada fakta bahwa aku milik Yesus. Hal itu berarti mengasihi Dia dengan perhatian dan kesetiaan yang tak terpecah-pecah. Pekerjaan yang kami lakukan tidak lebih daripada suatu sarana untuk mentransformir kasih kami kepada Kristus ke dalam sesuatu yang konkret.”

Sebagaimana para murid Yesus, kita pun seringkali mengalami kesulitan berurusan dengan tegangan antara melaksanakan tugas-tugas yang telah diberikan Allah kepada kita dan mengembangkan relasi kita dengan Yesus. Seringkali kita mengalami tegangan yang sama dalam hal relasi kita dengan orang-orang lain: Kita tergoda untuk menerapkan cara-cara fungsional dalam memecahkan masalah-masalah dengan pasangan hidup kita, anak-anak kita, para sahabat terdekat kita ……; padahal bertumbuh dalam kasih dan persatuan harus menjadi prioritas lebih utama daripada sekadar melaksanakan tugas-tugas kita.

Apabila kita membuka hidup kita bagi Yesus dan memperkenankan pernyataan diri-Nya meresap ke dalam hati dan pikiran kita, maka kita akan mulai mengenal kekayaan hikmat-Nya dan kasih-Nya. Sabda Allah dalam Kitab Suci akan terbuka bagi kita. Pola-pola pemikiran dan tindakan yang keliru akan disembuhkan. Kita akan berpaling kepada Roh-Nya untuk memohon pertolongan-Nya dalam mengambil keputusan-keputusan penting sepanjang hari. Kita yang lemah dapat menjadi kuat melalui relasi kita dengan Yesus. Kita yang miskin dapat menjadi kaya. Kita yang tuli dapat mendengar. Dan kita yang buta dapat melihat.

Marilah kita mulai pada hari ini. Marilah kita membuka hati kita bagi Yesus dalam doa-doa kita dan dalam pembacaan dan permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Marilah kita menyambut-Nya ke dalam setiap aspek kehidupan kita dan mohon kepada-Nya untuk mencerminkan kehadiran-Nya kepada setiap orang yang kita jumpai.

DOA: Roh Kudus, bukalah mataku lebih lebar lagi agar dapat melihat Yesus. Tolonglah aku untuk memandang Yesus sebagai Pribadi di atas segala segalanya yang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “BERSUKACITA BERSAMA TUHAN YESUS” (bacaan tanggal 6-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Oktober 2018 [HARI RAYA S. FRANSISKUS ASSISI, Pendiri Tarekat] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIDUP KRISTUS DALAM DIRI KITA

HIDUP KRISTUS DALAM DIRI KITA

(Bacaan Pertama  Misa Kudus, Pesta Santo Yakobus, Rasul – Rabu, 25 Juli 2018)

Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Dengan demikian, maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

Namun demikian karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. Karena kami tahu bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus, Ia juga akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. Sebab semuanya itu terjadi karena kamu, supaya anugerah yang semakin besar berhubungan dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. (2Kor 4:7-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6; Bacaan Injil: Mat 20:20-28 

Pada hari ini kita merayakan pesta Santo Yakobus, saudara dari Yohanes dan anak dari Zebedeus, dan merupakan salah seorang murid Yesus pertama yang mati sebagai seorang martir Kristus (Kis 12:2). Memang cocok bagi kita pada hari ini untuk membaca bagaimana mungkin bagi seseorang untuk mengikut Kristus walaupun orang itu mempunyai kelemahan-kelemahan manusiawi.

Menurut Santo Paulus – seseorang yang  sungguh mengetahui melalui pengalaman pribadinya sendiri – para murid Yesus ditindas, namun tidak hancur terjepit; habis akal, namun tidak putus asa; dianiaya namun tidak ditinggalkan sendirian; dihempaskan namun tidak binasa (2Kor 4:8-9). Alasan mengapa kita tidak dibiarkan hancur atau putus asa adalah karena Kristus berdiam dalam diri kita oleh/melalui kuasa Roh Kudus. Bahkan ketika kita hidup, bekerja dan menciptakan kembali, kita dapat mengenal hidup Kristus dalam diri kita.

Umat Kristiani percaya bahwa seperti kita telah mati bersama Kristus, maka kita pun hidup bersama-Nya (Rm 6:6-8). Sementara kita mengetahui bahwa kematian daging dan kebangkitan kepada kehidupan baru telah terjadi dalam diri kita sekali dan selamanya melalui iman kita dan pembaptisan ke dalam Kristus, kita pun mengetahui bahwa hal itu harus terjadi secara baru dalam diri kita setiap hari selagi kita menjalani hidup baru bersama Kristus. Paulus mengungkapkan hal ini dengan baik: “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini” (2Kor 4:11).

Hidup Kristus dalam diri kita memungkinkan kita untuk mengasihi dan melayani dalam Yesus. Hanya dengan hidup ini kita dapat membawa kehadiran Yesus kepada keluarga-keluarga, rumah-rumah, gereja-gereja, dan lingkungan-lingkungan kerja. Untuk sungguh mengasihi serta melayani orang-orang miskin dan menderita – apakah kemiskinan mereka itu bersifat materiil atau spiritual – hati kita harus “penuh kehidupan” dalam Yesus.

Paulus menekankan bahwa misteri Kristus dalam diri kita itu adalah seperti harta-kekayaan yang disimpan dalam bejana-bejana tanah liat. Ketika Allah memanggil kita untuk membangun tubuh Kristus, maka Dia memanggil orang-orang yang mempunyai berbagai kelemahan dan ketidaksempurnaan. Hal ini membuktikan kepada kita dan dunia bahwa kita dapat melayani Allah bukan dengan talenta atau kemampuan, melainkan dengan kuasa Roh Kudus yang ada di dalam diri kita (1Kor 4:7).

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa melalui pembaptisan aku telah mati dan bangkit bersama Engkau. Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Engkau yang hidup di dalam aku (Gal 2:20). Buatlah ini suatu realitas harian dalam hidupku sehingga dengan demikian aku yang sekadar merupakah bejana dari tanah liat dapat diberdayakan untuk mengasihi dan melayani dalam nama-Mu yang terkudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2 Kor 4:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG SALAH SEORANG BOANERGES” (bacaan tanggal 25-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Juli 2018 [Peringatan S. Kunigunda dr Hungaria, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 13 Juli 2018)

 

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,8-9 

Bilamana kita setia melaksanakan hidup Injili sehari-harinya, kita pun boleh memastikan bahwa kita akan menghadapi kesulitan atau oposisi. Dalam situasi pengejaran dan penganiayaan, ke mana kita akan mencari sebuah jangkar atau sauh sebagai pegangan kita? Apa yang dapat menopang kehidupan kita? Jangkar kita adalah keyakinan bahwa Roh Kudus Allah berdiam dalam diri kita dan Ia mau dan mampu untuk membimbing kita dalam segala macam situasi yang kita hadapi.

Ketika Yesus memberikan peringatan-peringatan dan wejangan-wejangan kepada kedua belas rasul (artinya kepada kita juga yang hidup pada zaman sekarang) dalam rangka mengutus mereka sebagai misionaris-misionaris, sebenarnya Yesus berbicara berdasarkan pengalaman-Nya sendiri. Sadar akan tidak dapat dihindarkannya kesalahpahaman dan penganiayaan, Yesus terus-menerus memasrahkan hati-Nya pada kuasa Roh Kudus dan kasih dan perlindungan Bapa-Nya. Demikian pula, para murid tidak perlu merasa gelisah atau khawatir tentang bagaimana dan apa yang mereka harus katakan pada waktu mereka diserahkan kepada para penguasa karena kesaksian mereka tentang Kristus, karena Yesus mengatakan kepada mereka: “Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10:20).

Yesus dibenci, dikhianati, diadili dalam pengadilan dagelan yang terbesar pada zaman itu, dan akhirnya dijatuhi hukuman mati karena kesaksian-Nya. Akan tetapi, pada setiap saat Yesus mencari kekuatan dan bimbingan dari Roh Kudus. Walaupun pada saat para musuh-Nya berpikir mereka menang atau berada di atas angin, Yesus tetap setia berpegang teguh pada pengetahuan-Nya tentang kasih Allah Bapa bagi diri-Nya. Dia tahu bahwa diri-Nya tidak akan dipermalukan.

Roh Kudus yang sama mencurahkan kasih Allah yang sama ke dalam hati kita masing-masing dan memberikan kepada kita keyakinan ketika kita menghadapi oposisi (lihat Rm 5:1-5). Penganiayaan mungkin tidak dapat dihindari, namun lebih pasti lagi adalah kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita melalui pembaptisan. Ia sangat berhasrat untuk menguatkan diri kita selagi kita melangkah ke luar dalam ketaatan-penuh-setia kepada Allah, dengan penuh kemauan untuk membayar harga kesaksian kita tentang kebesaran Yesus Kristus. Langkah-langkah kecil ketaatan kita dibuat kecil oleh kesetiaan Allah dengan janji-Nya untuk memberikan kita bimbingan dan dorongan oleh Roh-Nya. Tidak ada keyakinan yang lebih besar di sini, karena tidak ada sahabat yang lebih setia menemani kita daripada Roh Kudus sendiri. Oleh karena itu marilah kita mengambil sikap Yesus dan taat kepada Bapa di surga sementara kita dengan penuh keyakinan menanti-nantikan tanggapan penuh setia dari Roh Kudus-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kami keberanian untuk menjadi saksi-saksi-Mu yang berani dan tangguh. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “KEHADIRAN ROH KUDUS DALAM DIRI PARA MURID(bacaan tanggal 13-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juli 2018 [Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk. Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PINTU YANG SEMPIT DAN JALAN YANG SESAK

PINTU YANG SEMPIT DAN JALAN YANG SESAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 26 Juni 2018)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: 2Raj 19:9b-11,14-21,31-35a,36; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-4,10-11

“Sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:14)

Apakah agama Kristiani merupakan suatu misteri yang hanya diperuntukkan bagi sekelompok kecil manusia saja? Sekelompok kecil murid yang mengelilingi sang Guru? Hanya berjumlah 144.000 saja? (lihat  Why 14:1). Kalau demikian halnya, bagaimanakah mungkin Yesus Kristus, menjelang kenaikan-Nya ke surga memberi amanat agung-Nya yang terkenal: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:18-20). Ada sejumlah ayat lagi di samping petikan ini. Apakah terdapat ayat-ayat yang saling bertentangan dalam Kitab Suci sendiri, karena teks yang satu mengatakan sedikit, sedangkan teks lainnya mengatakan banyak? Jika demikian halnya, Kitab Suci tidak pantas disebut sebagai sabda Allah. Sebagai kata-kata manusia saja tidak mungkin ada pertentangan dalam perkara yang sedemikian pentingnya. Mengapa? Karena pokok pembicaraan dalam Kitab Suci adalah justru keselamatan umat manusia.

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus samasekali tidak bermaksud untuk memberikan ajaran dogmatis-teoritis, seperti misalnya jumlah orang yang terpilih. Yesus ingin mengajak manusia untuk mencari jalan keselamatan dengan segenap hati, serta bertekun di dalamnya. “Masuklah”. Itulah kata pertama yang dikatakan-Nya dan kata itu bersifat “menentukan”.

Untuk menerangkan betapa pentingnya upaya untuk mencari, menemukan, dan masuk ini, Yesus melukiskan pertentangan antara pintu yang kecil dan besar, antara jalan yang luas dan jalan yang sempit. Pertentangan ini tidak mengandung wahyu tentang berapa sih jumlah mereka yang menemukannya, tetapi hanya dasar perintah untuk mencari keselamatan ini dengan sungguh-sungguh. Hanya dengan demikian saja sabda ini ada hubungannya dengan seluruh Khotbah di Bukit. Bahwasanya upaya untuk mencari ini amat penting, sudah jelas karena Dia adalah “Jalan” (Yoh 14:6) dan “Pintu” (Yoh 10:7). Jadi, upaya “menemukan” Yesus Kristus sungguhlah penting. Barangsiapa menemukan Dia akan selamat, dan barangsiapa tidak menemukan Dia akan binasa.

Dengan demikian, yang dimaksudkan di sini adalah agar manusia mencari Yesus Kristus dan sabda-Nya. Jika diambil keseluruhannya, memang di Israel hanya sedikit saja orang yang sungguh menemukan-Nya, oleh karena itu semua manusia harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh peringatan Tuhan Yesus ini, agar supaya dari seluruh umat manusia banyak juga yang menemukan-Nya.

Inilah tuntutan Yesus yang memang berat – namun menentukan – bagi umat manusia. Oleh karena itu marilah kita berupaya dengan sungguh serius agar supaya termasuk dalam jumlah kecil orang yang mencari dengan tulus-jujur serta sungguh-sungguh, yang memilih dengan tegas dan terang-terangan dan yang selanjutnya memperkenankan Allah berbuat seturut kerahiman-Nya terhadap mereka.

DOA: Bapa surgawi, kami bertekad untuk menjadi murid Kristus, Putera-Mu, yang setia dan taat. Oleh kerahiman-Mu, biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa membimbing kami dalam menjalani hidup ini dan melakukan perintah Yesus untuk membuat pilihan-pilihan yang benar di mata-Mu, agar dapat masuk ke dalam surga dan menikmati hidup kekal bersama Allah Tritunggal dan para kudus serta semua makhluk surgawi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH” (bacaan tanggal 26-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS