Posts tagged ‘DOA BAPA KAMI’

YESUS MENGAJARKAN DOA BAPA KAMI

YESUS MENGAJARKAN DOA BAPA KAMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIKamis, 22 Juni 2017)

 

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: 2Kor 11:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-4,7-8

Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk tidak berdoa seperti orang-orang munafik yang suka mengucapkan doa mereka dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang; dan kalau berdoa juga jangan bertele-tele dengan menggunakan banyak kata” (lihat Mat 6:5,7), melainkan berdoa dengan sebuah cara yang baru – dengan kerendahan hati dan iman.

Dengan memberikan “Doa Bapa Kami”, Yesus mendesak kita untuk menyapa Allah sebagai “Bapa kami yang di surga”, yang menunjukkan pentingnya relasi intim/akrab Bapa surgawi dengan kita dalam kuat-kuasa-Nya yang bersifat transenden. Sebagai Bapa yang sangat mengasihi kita anak-anak-Nyak Dia memperhatikan kita dan mengetahui segala kebutuhan kita. Dia tidak lagi berada jauh dan tidak dapat diakses oleh kita (sebagaimana dibayangkan dalam Perjanjian Lama), melainkan sungguh dapat didekati melalui pencurahan darah Kristus pada kayu salib (lihat Ibr 10:19). Melalui doa-doa kita, kita akan bertumbuh dalam relasi yang akrab (yang dimulai pada waktu kita dibaptis) dengan Bapa surgawi.

Walaupun Bapa surgawi mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita sebelum kita meminta, Dia sungguh ingin agar kita menghaturkan permohonan kepada-Nya, untuk menyatakan rasa percaya dan iman kita kepada-Nya. Yesus mengedepankan “Doa Bapa kami” sebagai sebuah contoh bagaimana – melalui doa – kita dapat menikmati persekutuan yang akrab dengan Bapa surgawi. “Doa Bapa kami” memusatkan perhatian pada pemenuhan akhir/puncak dari kehendak Allah di atas bumi dan di dalam surga. Kita berdoa agar kehendak Bapa surgawi dipenuhi (Mat 6:10).

Kita yang mendoakan “Doa Bapa kami” dipanggil untuk menghadirkan kedaulatan Allah pada hari ini, untuk menyambut kedatangan Kerajaan Allah, dan untuk berdoa demi terwujudnya secara penuh rencana Allah pada akhir zaman. Manakala kita mendoakan “Doa Bapa kami” ini, kita menyatukan diri kita dengan Yesus dalam hasrat kita untuk melihat terwujudnya rencana kekal-abadi dari Allah.

Kadang-kadang “Doa Bapa kami” mengungkapkan keragu-raguan kita sendiri tentang rahmat Allah yang mampu mentransformasikan hidup kita. Kita dipaksa untuk mengakui bahwa ada keinginan dalam diri kita untuk tidak mau mengubah pola dosa kita, untuk tidak mau mengampuni, atau untuk tidak mau menerima kehendak Allah selain kehendak kita sendiri. “Doa Bapa kami” berisikan apa saja yang Yesus inginkan agar menjadi hasrat sejati hati kita. Karena Yesus telah hidup dalam Roh sepenuhnya, maka Dia lebih memahami tentang rencana penyelamatan Allah yang penuh kemuliaan ketimbang apa yang kita mampu pikirkan.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur karena Engkau telah mengajarkan kepada kami bagaimana berdoa. Dalam iman, kami memberikan hati kami masing-masing kepada-Mu sehingga dengan demikian rahmat-Mu dapat mentransformasikan kami menjadi “ciptaan-ciptaan baru” yang rindu untuk melihat kepenuhan dari rencana kekal-abadi dari Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAMPUNI DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 22-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AMPUNILAH DAN BERDAMAILAH !!!

AMPUNILAH DAN BERDAMAILAH !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Kamis, 15 Juni 2017)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: 2Kor 3:15-4:1,3-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Ada orang yang mengibaratkan persahabatan itu seperti porselen yang indah. Sungguh sesuatu yang sangat berharga, yang mudah pecah namun sulit diperbaiki. Kita semua mengetahui betapa sulitnya untuk mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita,  menjatuhkan kita, katakanlah mendzolimi kita. Di samping luka yang kita derita  karena pengkhianatan sahabat kita, ada juga luka lain yang disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk mengampuni atau tidak adanya kemauan untuk berdamai dari pihak kita sendiri. Pada kenyataannya, dalam beberapa kasus, tidak mau mengampuni dapat menyebabkan luka yang lebih berat daripada tindakan awal orang lain yang membuat kita geram dan marah. Luka-luka kecil kalau dibiarkan saja dapat bertumbuh menjadi luka-luka yang lebih besar, konsekuensinya lebih sukar untuk disembuhkan.

Itulah sebabnya, mengapa Yesus memerintahkan kita untuk mengampuni. Namun pada saat yang sama baiklah kita ketahui bahwa Dia tidak memandang remeh sulitnya mengampuni orang lain yang telah mendzolimi kita. Bagaimana pun juga Yesus sendiri mengalami pengkhianatan dari seorang murid yang sangat dipercayai oleh-Nya. Sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana Hati Yesus meratapi Yudas Iskariot berkaitan dengan pengkhianatan murid yang satu ini. Meskipun Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tokh Ia mengajarkan kepada kita untuk mengampuni, untuk berdamai, untuk let go luka-luka lama.

Dalam Doa “Bapa Kami” yang diajarkan oleh Yesus sendiri, kita mendengar potongan kalimat seperti berikut: “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Doa “Bapa Kami” itu segera disusul oleh dua ayat penting: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang,  Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15). Mengakhiri perumpamaan-Nya tentang pengampunan (Mat 18:21-35), Yesus bersabda: “Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat 18:35).

Kita tidak dapat berdalih dalam hal pengampunan ini karena perintah Yesus begitu jelas dan gamblang. Terasa  berat memang, suatu tuntutan yang sulit dipenuhi. Dalam hal ini ingatlah belas kasih Yesus kepada kita sepanjang hidup kita. Tuhan Yesus menyediakan “segudang” cintakasih-Nya bagi kita untuk menutupi kekurangan kita dalam hal mengasihi orang lain. Ia sungguh dapat menolong kita manakala hati kita sedang membeku-keras atau mengalami kepahitan dalam hidup ini.

Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tidak terjadi secara instan, seringkali bertahap. Bagi-Nya kurang penting apakah kita telah mengampuni setiap orang secara penuh. Yang penting di mata Yesus adalah bahwa kita memelihara hati lembut dan mohon kepada-Nya rahmat agar kita semakin lembut hari lepas hari. Dengan demikian, berdamailah dengan saudari dan saudara kita, dan ampunilah apa yang harus diampuni! Biarlah kasih Kristus memenuhi diri kita masing-masing, sehingga kita dapat memberikan cintakasih dan belas kasih kepada semua orang dalam kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, hanya Engkau yang dapat membetulkan hati yang patah dan menyembuhkan jiwa-jiwa yang terluka. Buatlah aku utuh oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk mengampuni. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26),  bacalah tulisan yang berjudul “SALING BERSAUDARA SATU SAMA LAIN” (bacaan tanggal 15-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni 2017 [Peringatan/Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS SENDIRI

DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Selasa, 7 Maret 2017) 

jesus_christ_image_227

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tela seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanyaakan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikudusanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: Yes 55:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:4-7,16-19

Doa “Bapa Kami” ini, yang diberikan kepada kita oleh Yesus sendiri, tidak hanya merupakan sebuah pernyataan mengenai bagaimana kita seharusnya berdoa, melainkan juga merupakan sebuah refleksi tentang bagaimana Yesus sendiri berdoa (lihat Luk 11:1-4). Sungguh lebih menakjubkan apabila kita mempertimbangkan bagaimana Yesus – yang tanpa dosa – berdoa, “Ampunilah kami dari kesalahan kami”! Inilah contoh bagaimana Yesus secara begitu penuh mengidentifikasikan diri-Nya dengan kita-manusia biasa. Yesus malah melangkah lebih jauh lagi, yaitu menyerahkan hidup-Nya sendiri untuk menjamin pengampunan yang didoakan-Nya.

“… seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”! Permohonan pengampunan di atas tidak terbatas pada pengharapan akan belas kasihan Allah. Yesus tidak mati di kayu salib sekadar untuk menebus dosa-dosa kita kita. Kita juga mati bersama Dia dalam baptisan, seperti telah ditulis Santo Paulus: “Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus telah dibaptis dalam kematian-Nya” (Rm 6:3; lihat seluruh teks Rm 6:1-4). Sekarang, oleh iman dalam Yesus, kita dapat bangkit bersama-Nya dan mengampuni seperti Dia mengampuni. Janji Injil adalah kalau kita memperkenankan Yesus diam dalam diri kita dengan mati terhadap kehidupan lama kita (dosa), kita dapat menjadi lebih berbelas kasihan.

Mengampuni orang-orang yang telah menyakiti hati kita memang dapat sangat sulit, bahkan kadang kala terasa tak mungkin. Kita membutuhkan rahmat Allah hanya untuk mengkontemplasikan kemungkinan untuk mengampuni. Namun, inilah jalan yang diminta Yesus untuk kita ikuti dan lalui. Paulus malah menulis, bahwa kita harus mendoakan dan bahkan memberkati para penganiaya kita. Inilah yang ditulis oleh Paulus: “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengeluh!” (Rm 12:14). Bukankah Yesus juga menyerukan kepada kita untuk mengasihi para musuh kita (lihat Mat 5:44)?

Sekarang, kita harus mengingat satu hal: Kita harus selalu bersikap hati-hati namun juga berbelas kasihan pada saat bersamaan. Mengampuni bukan berarti melupakan kewaspadaan kita dan mengabaikan masa lalu. Mengampuni berarti membuang penghukuman dan melepaskan seseorang sehingga dia dapat mengalami belas kasihan Allah. Yesus memang sangat berbelas kasihan, namun Dia juga realistis tentang keadaan hati seorang insan manusia. Dalam Injil Yohanes kita dapat membaca bagaimana Yesus sangat berhati-hati tentang siapa yang akan dipercayainya (lihat Yoh 2:24-25). Apabila kita dipanggil untuk berbelas kasihan seperti Yesus, maka hal ini berarti bahwa kita pun dipanggil untuk menjadi bijak seperti Dia.

Yesus tidak pernah kaget atau terkejut dengan dosa yang dijumpai-Nya, dengan demikian tentunya Dia pun tidak akan terkejut dengan dosa-dosa kita. Kegelapan apa pun yang dilihat-Nya dalam hati kita, Dia tidak pernah akan menyerah untuk mengundang kita kembali ke jalan Tuhan. Ia juga tidak akan pernah bersikap sinis dan pesimis terhadap berbagai potensi yang kita miliki masing-masing sebagai seorang pribadi. Dia selalu melihat kemungkinan bahwa mereka yang telah diampuni olehnya akan melakukan pertobatan dan bangkit dalam kemuliaan bersama-Nya. Sekarang pertanyaannya adalah: Dapatkah kita mempunyai pandangan yang sama tentang setiap orang di sekeliling kita?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sudi memilih untuk merangkul penderitaan dan dosa kami, sehingga dapat membangkitkan kami untuk hidup kekal bersama dengan-Mu. Ajarlah kami agar dapat menjadi pribadi-pribadi yang berbelas kasihan kepada sesama kami, seperti Engkau sendiri penuh belas kasihan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 55:10-11), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUAT MASA PRAPASKAH INI MENJADI MASA YANG PALING BAIK DALAM HIDUP KITA” (bacaan tanggal 7-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-2-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Maret 2017 [HARI MINGGU PRAPASKAH I – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAPATKAH DAN MAUKAH KITA BERDOA SEPERTI YESUS?

DAPATKAH DAN MAUKAH KITA BERDOA SEPERTI YESUS?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII [Tahun C] –  24 Juli 2016

The Lord's PrayerPada suatu kali Yesus berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Jawab Yesus kepada mereka, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:1-13) 

Bacaan Pertama: Kej 18:20-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,6-8; Bacaan Kedua: Kol 2:12-14 

Bacaan Pertama pada hari ini menunjukkan bahwa  Allah tidak pernah menyembunyikan diri dari kita atau meninggalkan kita karena merasa ragu terhadap relasi-Nya dengan kita. Roh Allah bekerja dalam hati Abraham, memberikan kepadanya pandangan sekilas berkaitan dengan bela rasa-Nya dan hasrat-Nya untuk mengampuni dan menyelamatkan. Selagi kita membaca tentang Abraham yang melakukan tawar-menawar dengan Allah berkaitan dengan kehidupan para pendosa di Sodom dan Gomora, kita merasakan seruan dari seorang anak yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada “seorang” Bapa yang baik, yang berbela rasa dan senantiasa memperhatikan umat-Nya (Kej 18:23-32).

Benih kepercayaan antara seorang anak dan Bapa-nya ini digemakan oleh sang pemazmur, yang mendeklarasikan kasih kekal-abadi dari Allah. Ia mengetahui bahwa Allah begitu menghargai ciptaan-Nya sehingga Dia tidak akan meninggalkan karya tangan-Nya: “Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku” (Mzm 138:7).

Yesus menyapa Allah sebagai “Bapa” (Luk 11:2). Bagi para murid-Nya, ini adalah suatu momen yang sangat berharga, ketika mereka melihat “hati yang mengasihi” dari seorang Anak yang sempurna, yang secara total terbuka bagi hasrat-hasrat Bapa-Nya dan secara total berkomitmen bahwa rencana penyelamatan Bapa dapat diwujudkan di atas bumi ini. Ketika Yesus berdoa “dikuduskan nama-Mu” (Luk 11:2), Dia mengakui dan memuji kekudusan kodrat Bapa-Nya.

Apabila kita berdoa seperti ini, maka maksudnya bukanlah bahwa doa kita membuat Allah menjadi kudus, melainkan kekudusan-Nya akan memancar melalui diri kita dan selagi hal itu terjadi, maka Kerajaan-Nya pun akan dibangun di atas bumi ini. Isu sentral dari kehidupan Yesus adalah menghasrati didirikannya Kerajaan Allah di muka bumi ini. Kita pun dapat ikut ambil bagian dalam hasrat ini dan melanjutkan kerinduan kita akan tercapainya hal ini secara lengkap sampai saat Yesus datang kembali dalam kemuliaan.

Sekarang masalahnya adalah, apakah kita dapat keluar atau “membebaskan diri” dari kesibukan-kesibukan kita sehari-hari yang mementingkan diri sendiri? Kita semua tentu sudah hafal “Doa Bapa Kami” yang diajarkan oleh Yesus sendiri ini, namun dapatkah kita berdoa seperti Dia? Tentu saja dapat! Dalam bacaan kedua hari ini kita membaca Santo Paulus mengatakan bahwa berkat pembaptisan ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus, kita telah keluar dari kematian spiritual dan dibuat hidup kembali dalam Yesus (Kol 2:12-13). Dengan demikian kita dapat berpikir, mengasihi dan menghasrati dengan hati-Nya. Yesus adalah “roti”  yang kita butuhkan untuk makanan kita setiap hari. Yesus adalah anugerah Bapa surgawi agar kita tetap eksis.

Dengan demikian, marilah kita menaruh kepercayaan kepada Bapa surgawi, bahwa Dia akan melakukan dalam diri kita hal-hal baik yang jauh melampaui apa saja yang dapat kita bayangkan selagi kita berdoa seturut pola yang diajarkan oleh Yesus itu.

DOA: Bapa surgawi, aku memuji-Mu karena Engkau telah memberikan kepadaku karunia agung, yaitu Roh Kudus-Mu sendiri. Kuatkanlah rasa percayaku kepada-Mu, teristimewa pada saat-saat aku mengalami kesulitan dan penderitaan, agar dengan demikian aku dapat melanjutkan penyerahan diriku sepenuhnya kepada karya Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS KEPADA KITA SEMUA” (bacaan tanggal 24-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul untuk bacaan tanggal 28-7-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Juli 2016 [Pesta S. Laurensius dr Brindisi, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIKUDUSKANLAH NAMA-MU

DIKUDUSKANLAH NAMA-MU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIKamis, 16 Juni 2016)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Anisetus Koplin, Imam dkk. Martir Polandia

 sermon_on_the_mount_carl_bloch-e1296500203637

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yan g jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: Sir 48:1-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-7

“Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu”  (Mat 5:9).

Kita selalu memulai doa kita dengan memuji Allah. Pujian menempatkan diri kita dalam relasi yang benar dengan Allah. Dengan memuji-Nya, kita menunjukkan ketertundukan kita di bawah otoritas-Nya. Allah adalah Dia yang Mahamulia, Mahakuasa, Makakekal, … Mahalain. Di lain pihak, kita adalah ciptaan-Nya yang sedang berjuang, makhluk berdosa yang tergantung kepada-Nya akan penebusan dan rahmat, iman dan pengharapan, penyelamatan dan kebenaran. Oleh karena itu, setiap kali kita mengawali “Doa Bapa kami”, Yesus mengajar kita supaya selalu mengucapkan kata-kata di atas.

Sekarang, apakah kita sungguh menghayati kata-kata yang kita ucapkan tersebut? Apakah hidup kita sungguh mengungkapkan suatu hasrat yang tulus untuk memanifestasikan kekudusan Bapa surgawi? Apakah cara hidup kita menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh mencari kemuliaan-Nya. Nama Allah Bapa dikuduskan atau dimuliakan ketika kekudusan-Nya dimanifestasikan dan dimuliakan. Apabila kita memanifestasikan kekudusan-Nya dalam hidup kita, maka orang-orang lain akan melihat hal tersebut, dan kemudian memuliakan nama-Nya juga. Yesus bersabda, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan bapamu yang di surga”  (Mat 5:16). Dengan memuliakan Allah Bapa lewat praktek hidup kita, maka kita pun akan melanjutkan misi Kristus sendiri untuk menjadi “kemuliaan” dalam menyatakan Bapa surgawi.

Hanya apabila kita sungguh mengasihi dan menghormati kekudusan Allah dari kedalaman hati kita, maka kita akan melakukan segala sesuatu yang mampu kita lakukan untuk memanifestasikan dan memuliakan nama-Nya. Jika kita sungguh mengasihi dan menghormati Allah dari kedalaman hati kita, maka kita akan sungguh merasa pedih karena ketiadaan rasa hormat orang-orang lain kepada-Nya. Kita merasa sakit bilamana orang-orang lain “merusak” kekudusan Allah lewat kehidupan penuh dosa mereka.

Rasa hormat kita yang mendalam kepada Allah akan ditunjukkan dalam hidup kita, menyatakan kekudusan-Nya kepada orang-orang lain, sehingga mereka pun ditarik untuk menghormati-Nya. Santo Petrus menulis, “Milikilah cara hidup yang baik di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai pelaku kejahatan, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka” (1Ptr 2:12). Dengan kata-kata ini, Petrus sebenarnya hanya mengulangi sabda Yesus dalam “Khotbah di Bukit” berikut ini: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan bapamu yang di surga”  (Mat 5:16).

Perbuatan-perbuatan baik apa yang memanifestasikan Allah Bapa dengan suatu cara yang istimewa, dengan demikian menyebabkan orang-orang lain memuliakan-Nya? Perbuatan-perbuatan baik yang menunjukkan bahwa kita adalah sungguh anak-anak dari Bapa surgawi. Ini adalah pekerjaan-pekerjaan kasih yang melimpah. Yesus menggambarkan semua itu sebagai kebenaran yang mengungguli. Dia bersabda, “Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20). “Kebenaran yang mengungguli” ini, kasih yang berlimpah ini, mengalir ke luar dan merangkul bahkan musuh-musuh kita juga. Yesus bersabda: “Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga”  (Mat 5:44-45).

Kasih sedemikian dalam diri anak-anak-Nya menyatakan kasih dalam Allah, Bapa mereka. Kasih itu memanifestasikan diri-Nya sebagai Bapa, agar supaya orang-orang lain juga akan menerima dan memuliakan-Nya sebagai Bapa. Kasih sedemikian kepada para musuh mensyaratkan rasa hormat mendalam kepada Allah dan segalanya yang merupakan milik-Nya. Setiap pribadi manusia, apakah seorang pendosa atau seorang kudus, adalah milik-Nya: Dialah “yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45).

Setiap pribadi adalah sakral di mata Allah, karena adalah mutlak bahwa setiap orang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (lihat Kej 1:26,27). Jadi, apakah seorang pribadi adalah seorang kudus atau seorang pendosa, dia tetap merupakan gambar dan rupa Allah, dengan demikian harus dihormati seperti itu. Tujuan dari suatu imaji (gambaran) adalah untuk memanifestasikan yang dicitrakan/digambarkan. Setiap pribadi manusia diciptakan untuk menjadi suatu manifestasi dari Allah sendiri. Imaji itu disempurnakan hanya apabila seseorang mengasihi seperti Allah mengasihi, karena kasih pada hakekatnya adalah kodrat Allah sendiri. Di atas segala-galanya, Allah dimanifestasikan dalam kasih dan bela rasa-Nya terhadap umat-Nya.

Melalui dosa, kita mendistorsi diri kita sendiri sebagai imaji Allah. Kristus mati di kayu salib untuk memulihkan citra Allah ini dalam diri kita masing-masing, dan imaji ini dipulihkan ketika kasih Allah sendiri dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita (lihat Rm 5:5). Jadi, setiap pribadi manusia harus dihormati sebagai seorang saudari atau saudara “untuk siapa Kristus telah mati” (1Kor 8:11).

Dengan demikian, karena rasa hormat kita kepada Allah yang mengasihi semua orang tanpa kecuali, kita (anda dan saya) pun harus mengasihi orang-orang lain termasuk musuh-musuh kita. Jadi, dalam hal ini kita menunjukkan diri kita sebagai anak-anak sejati dari Bapa surgawi, dan kita memanifestasikan Bapa kepada orang-orang lain.

Jadi, setiap kali kita berdoa: “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu”, maka kita berdoa bahwa kita akan siap dan mampu untuk memuliakan Bapa surgawi, bahkan dengan mengasihi musuh-musuh kita. Mengapa? Karena bagaimana kita dengan tulus dapat mengatakan nama Allah untuk dikuduskan atau dimuliakan, dimanifestasikan sebagai kudus, kalau kita tidak dengan tulus mencoba untuk memanifestasikan kekudusan-Nya dengan kekudusan hidup kita sendiri?

Saudari-Saudaraku dalam Kristus, kasih kita kepada musuh-musuh kita merupakan manifestasi puncak dari kekudusan Bapa surgawi. Karena rasa hormat kita yang mendalam kepada kekudusan Bapa, kita pun tidak menyakiti orang lain, kita berbuat kebaikan bagi setiap orang, karena setiap orang adalah kudus di mata Bapa surgawi dan setiap orang adalah milik-Nya.  Allah Bapa merangkul semua orang dalam kasih-Nya dan mengharapkan kita masing-masing melakukan hal yang sama.

DOA: Bapa surgawi, dikuduskanlah nama-Mu. Oleh kuasa Roh Kudus, ajarlah aku untuk berdoa dengan benar seturut apa yang diajarkan oleh Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGAJARKAN ‘DOA BAPA KAMI’” (bacaan tanggal 16-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-6-15 dalam situs SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS TIDAK HANYA MENGAJAR KITA DOA BAPA KAMI

YESUS TIDAK HANYA MENGAJAR KITA DOA BAPA KAMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIKamis, 18 Juni 2015)

 www-St-Takla-org--Jesus-Sermon-on-the-Mount-030

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: 2Kor 11:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-4,7-8

O betapa indahnya, kita dapat menyapa Allah Yang Mahakuasa sebagai “Bapa”!  Karena pengorbanan Yesus di kayu salib, kita telah diangkat menjadi anggota keluarga Allah dan diberikan segala hak sebagai anak-anak-Nya yang sah. Rasa bersalah kita telah dicuci bersih, dan sekarang kita dapat menghadap hadirat Allah sebebas anak-anak kecil yang berlarian ke ayah mereka. Kita bahkan telah dibuat menjadi pewaris surga bersama Kristus.

Yesus mengetahui ketidakmampuan kita untuk berdoa. Dengan demikian Ia tidak hanya mengajar kita doa “Bapa Kami”, tetapi juga memberikan Roh Kudus guna menghembuskan kehidupan ke dalam doa kita. Ini adalah Roh yang hidup dalam hati setiap orang Kristiani terbaptis dan yang berseru kepada Allah dengan menggunakan kata-kata yang diajarkan Yesus untuk berdoa: “Abba! Bapa!” (Gal 4:6). Ini adalah Roh yang melakukan syafaat bagi kita dan membimbing kita dalam berdoa pada saat kita merasa tidak yakin apa yang harus dilakukan atau apa yang harus kita minta dari Allah (Rm 8:26-27). Ini adalah juga Roh yang “mengganggu” hati nurani kita dan menggerakkan kita kepada pertobatan, ketaatan, dan suatu hasrat yang lebih mendalam untuk berada dalam persatuan dengan para saudari dan saudara kita dalam Yesus (Yoh 16:7-11).

Manakala kita merasa bahwa hasrat kita akan Allah mulai meluntur, maka kita dapat berpaling kepada Roh Kudus dan memohon kepada-Nya agar diberikan kuat-kuasa untuk berdoa sepenuh hati, bukannya berdoa secara mekanistis. Ketika kita tidak tahu bagaimana berdoa, kita dapat memohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita. Selagi Roh Kudus menyatakan Yesus kepada kita dengan lebih jelas dan membuka kebenaran-kebenaran Kitab Suci kepada kita, maka kodrat kita yang lama akan dimatikan, doa kita akan menjadi sebuah sumber makanan rohani/spiritual, dan kita pun dibuat menjadi ciptaan baru.

Saudari dan Saudariku yang terkasih. Marilah kita menghaturkan permohonan kepada Yesus agar mencurahkan Roh-Nya atas diri kita. Kemudian kita menyerahkan diri kita masing-masing ke bawah pengendalian Roh-Nya. Dia akan membimbing, mengarahkan, dan melakukan syafaat untuk kita tidak hanya pada waktu kita berdoa, melainkan sepanjang hari. Dia akan menolong menempatkan segala rasa susah dan keprihatinan kita ke tangan-tangan kasih Allah, dan juga menyerahkan diri kita kepada-Nya. Inilah bagaimana kita akan mengalami damai sejahtera dan persatuan dengan Bapa surgawi yang digambarkan dalam doa “Bapa Kami” dengan begitu indah. Melalui cara-cara yang segar dan unik dengan mana Roh Kudus ingin memimpin kita, doa kita dapat menjadi suatu perjalanan yang exciting yang akan membawa diri kita semakin dekat dengan Allah, hari demi hari.

DOA: Bapa surgawi, ajarlah aku untuk berdoa dengan benar. Penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu dan tolonglah aku dalam kelemahanku, sehingga dengan demikian doaku akan menyenangkan Tritunggal Mahakudus dan memuliakan nama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “DIKUDUSKANLAH NAMA-MU” (bacaan tanggal 18-6-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06 BACAAN HARIAN JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI

MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Selasa, 10 Maret 2015) 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETKemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35)

Bacaan Pertama: Dan 3:25,34-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9 

Petrus bertanya kepada Yesus berapa kali dia harus mengampuni seseorang yang berdosa terhadap dirinya: “Sampai tujuh kali?” (Mat 18:21), barangkali angka 7 (tujuh) bagi Petrus sudah merupakan angka kemurahan-hati yang luar biasa ……, artinya untuk ukuran Petrus. Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22). Dengan mengikuti tradisi Yahudi, Petrus berpikir bahwa setelah seseorang berdosa terhadap dirinya sejumlah tertentu maka diperbolehkanlah bagi dirinya untuk tidak mengampuni. Akan tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita harus senantiasa mengampuni orang yang berdosa terhadap diri kita, berapa kali pun orang itu berdosa terhadap diri kita.

Hampir semua orang Kristiani mengetahui ajaran Yesus ini, dan kita ditantang untuk mengampuni orang lain yang berdosa terhadap diri kita karena inilah yang diperintahkan oleh Yesus. Namun, apakah realitasnya dalam kehidupan kita? Apakah kita sungguh mengampuni orang-orang lain “dari hati kita” (Mat 18:35)? Atau apakah kita menolak untuk mengampuni orang-orang yang berulang kali menyakiti hati kita?

Dasar dari kemampuan kita untuk mengampuni orang-orang lain secara mendalam adalah pengampunan Allah atas diri kita. Raja dalam perumpamaan Yesus hari ini – yang melambangkan Allah sendiri – mengampuni utang yang besar dari seorang hambanya, semua dianggap lunas. Akan tetapi hambanya ini tidak mengampuni seperti dirinya sendiri diampuni oleh sang raja, dengan demikian ia ditegur keras. Ia tidak menyadari betapa besar belas kasih yang telah ditunjukkan oleh sang raja bagi dirinya.

Kita dipanggil untuk mengampuni orang-orang lain yang melukai dan berdosa terhadap diri kita karena Allah sendiri telah mengampuni dosa-dosa kita terhadap-Nya. Baik “Doa Bapa Kami” (Mat 6:12) maupun perumpamaan Yesus hari ini membuat jelas pokok ini. Apabila kita merenungkan kebesaran/keagungan dari pengampunan Allah dan belas kasih-Nya yang terbukti dalam kematian Yesus di kayu salib, maka kita pun tertantang untuk mengampuni orang-orang lain dari kedalaman hati kita dan dengan penuh sukacita mengikuti jejak Yesus.

ROHHULKUDUSBagaimana kiranya kita dapat menjadi orang Kristiani yang penuh pengampunan? Pertama-tama, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membuat nyata bagi kita pengampunan penuh kasih yang telah kita terima dari Bapa surgawi. Baiklah kita juga menerima rahmat yang telah diberikan Allah kepada kita untuk mengampuni, karena pengampunan adalah karya Allah di dalam diri kita. Kemudian, dalam terang belas kasih Allah dan diberdayakan oleh rahmat-Nya, kita pun dapat mulai mengampuni orang-orang lain. Seringkali hal ini tidaklah mudah, dan kita mungkin perlu mengucapkan pengampunan kita kepada Allah dalam doa, atau bahkan kepada orang yang perlu kita ampuni. Akan tetapi ketika kita sungguh mengampuni seseorang dari hati, meka kita pun menerima kebebasan dan pembersihan, dan kita mampu untuk maju terus dalam kehidupan ini, bahkan membangun relasi cintakasih yang lebih kuat lagi.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa sukar bagiku untuk mengampuni orang yang berdosa terhadap diriku. Roh-Mu adalah Roh pengampunan sedangkan roh yang tidak mau mengampuni berasal dari si Jahat. Namun dengan kekuatanku sendiri, aku tidak akan mampu mengampuni orang-orang yang telah mendzolimi aku. Aku percaya bahwa Engkau telah menang atas kuasa Iblis. Taruhlah Roh-Mu yang kudus ke dalam hatiku agar aku dapat mengampuni. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-35), bacalah tulisan yang berjudul “KARUNIA/ANUGERAH PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 10-3-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI SAUDARAKU?” (bacaan tanggal 13-3-12) dan “PERUMPAMAAN TENTANG HAMBA YANG TAK BERBELAS KASIH” (bacaan tanggal 5-3-13), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-3-13

Dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Februari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS