Posts tagged ‘HARI BIASA PEKAN BIASA XXVIII’

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 19 Oktober 2019)

Peringatan Fakultatif S. Yohanes dr Brebeuf dan Isaac Jogues, Imam dkk. Martir-Kanada

Peringatan Fakultatif S. Paulus dr Salib, Pendiri Tarekat CP (Pasionis)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Rm 4:13,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:6-9, 42-43 

Yesus melanjutkan pengajaran singkatnya kepada para murid-Nya sebelum Ia mengajar kepada orang banyak. Ia mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka harus kuat dalam menghadapi berbagai pencobaan. Biaya dari kemuridan yang sejati adalah penderitaan dan pengejaran serta penganiayaan, namun kemenangan vital adalah suatu keniscayaan. Dengan gamblang Yesus mengatakan bahwa apabila mereka mengakui-Nya di hadapan manusia, maka Dia akan mengakui mereka di hadapan Allah. Namun apabila mereka menyangkal-Nya di depan manusia, maka dia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah (Luk 12:8-9).

Martir-martir dari Gereja awal mestinya sangat menyadari makna kata-kata Yesus ini. Mereka mengetahui dan percaya akan janji Yesus. Tidak ada siapapun atau apapun yang dapat memisahkan mereka dari Yesus. Santo Paulus menulis, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? ….. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35,38-39).

Kita semua dipanggil untuk menjadi murid-murid Kristus. Tidak ada “orang banyak” dalam Kekristenan (Kristianitas) yang sejati (sebagai contoh, bacalah Yoh 6:60-71). Yang ada adalah murid-murid Kristus! Kita semua harus menjadi para murid Kristus, para pengikut Kristus, para pengikut jejak Kristus! Itulah makna sebenarnya jika kita hendak dinamakan umat Kristiani. Kata-kata Yesus ini juga dimaksudkan untuk kita semua yang hidup pada abad ke-21 ini, artinya jaman NOW. Barangkali kita tidak “bernasib” sama dengan begitu banyak murid Kristus di abad-abad pertama Gereja, yaitu mengalami kematian sebagai martir, namun kita harus kuat dalam upaya kita menolak semangat duniawi yang sangat kuat-berpengaruh dalam kehidupan kita, dan cara-cara jahat dan nilai-nilai buruk yang diturunkannya. Kita harus menjadi “tanda lawan” dalam masyarakat di mana “materialisme”, “konsumerisme”, “hedonisme”, “individualisme” dan sejenisnya merupakan nilai-nilai yang dianut banyak sekali orang.

Kita harus menghayati/ menjalani hidup Kristiani sejati yang penuh dengan sukacita dan cintakasih, yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita di depan orang-orang lain, apakah kita seorang menteri kabinet, seorang anggota DPR-RI, seorang anggota Mahkamah Konstitusi, seorang jenderal, seorang guru sekolah, seorang dokter atau perawat, seorang eksekutif perusahaan, seorang petani, dlsb., apalagi sebagai pemuka Gereja.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya agar mereka siap menghadapi oposisi, pengejaran, penganiayaan serta penindasan dari pihak lawan. Yesus mengasumsikan bahwa para murid-Nya akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman mereka kepada-Nya. Namun Dia seakan-akan berkata, “Don’t worry, be happy! Aku akan menyertai Engkau di mana saja engkau berada atau ke mana saja engkau pergi. Roh Kudus-Ku akan mengajar engkau apa yang harus kaukatakan dan lakukan” (lihat Luk 12:11-12).

Barangkali kita tidak akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman kita kepada Yesus. Namun pasti ada saat-saat dalam kehidupan setiap orang dari kita umat Kristiani, di mana kita harus sungguh berkonfrontasi dengan kejahatan dunia. Inilah moments of truth yang tidak bisa kita hindari! Kita tidak pernah boleh merasa ragu karena Kristus telah berjanji untuk senantiasa menyertai kita [Dia adalah Imanuel (Mat 1:23; 28:20)], memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya untuk mengarahkan dan membimbing kita dalam pertempuran melawan kuasa kejahatan (si Jahat).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Bersama sang pemazmur kami ingin memanjatkan syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus: “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi” (Mzm 58:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHUJAT ROH KUDUS” (bacaan  tanggal 19-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Oktober 2019 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEMUNAFIKAN ITU BAGAIKAN SEBILAH PISAU BERMATA DUA

KEMUNAFIKAN ITU BAGAIKAN SEBILAH PISAU BERMATA DUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Ignatius dr Antiokhia – Kamis, 17 Oktober 2019)

Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, padahal nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian, kamu mengaku bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Karena itu, hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan sebagian dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari orang-orang zaman ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari orang-orang zaman ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.”

Setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan berbagai pertanyaan. Mereka berusaha menjebak-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya. (Luk 11:47-54) 

Bacaan Pertama Rm 3:21-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-6 

Yesus menuduh orang orang Farisi “telah mengambil kunci pengetahuan” (Luk 11:52). Yesus tidak hanya meyakinkan mereka bahwa mereka sendiri belum masuk ke dalam pengetahuan dan hikmat itu sendiri, namun ajaran mereka telah menghalang-halangi orang lain untuk mengenal kebenaran.

Orang-orang muda dengan cepat dapat mendeteksi adanya kemunafikan dalam diri para orangtua mereka. “Ayahku terus saja melarang-larang aku merokok padahal aku tahu pasti bahwa beliau pun merokok, walaupun secara diam-diam dan sekali-kali saja.” Ada juga yang mengatakan, “Generasi yang lebih tua sungguh tidak memahami kita. Namun aku yakin sekali bahwa mereka tidak lebih baik daripada kita pada waktu mereka cukup muda untuk menikmati hidup ini.”

“Mereka seharusnya tidak marah-marah kepadaku dengan berteriak-teriak seperti itu. Lihatlah kekacau-balauan dunia yang dibuat oleh ulah generasi mereka.” “Mereka terus saja berkhotbah betapa buruknya minuman keras itu, namun setiap kali mereka pulang ke rumah aku dapat mencium bau napas mereka, …… penuh aroma miras.”

Apakah protes-protes ini, keluhan-keluhan ini, sama tuanya dengan sejarah umat manusia? Kita bisa saja bertanya-tanya kepada diri kita sendiri. Setiap generasi baru kaum muda bangkit untuk menuduh kemunafikan generasi yang lebih tua, untuk menuduh masyarakat karena berbagai kejahatan yang dilakukan dalam dunia, dst. – namun tidak ada satu generasi pun yang kelihatan berhasil menuntaskan upaya perbaikan atas “kekeliruan-kekeliruan” yang dibuat di masa lampau oleh mereka yang mendahului. Bayangkanlah bagaimana generasi mendatang (sekarang masih anak-anak kecil) di Indonesia tercinta ini akan memaki-maki generasi di atas mereka yang telah menggiring negeri ini menuju keterpurukan dan harus memikul beban utang negara yang begitu fantastis jumlahnya. Juga bagaimana kekayaan negara berupa berbagai sumber daya alam yang konon berlimpah-ruah sudah menjadi sedemikian menyusut, sebagian besar disebabkan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh para “pemimpin” yang terdiri dari pribadi-pribadi serakah dan tamak, yang lebih memilih kenyamanan diri mereka daripada kepentingan/kesejahteraan umum. Sekarang, pertanyaannya adalah apakah yang telah kita lakukan berkaitan dengan keluhan-keluhan kita sendiri?

Orang-orang Farisi selama berabad-abad mencoba untuk memecahkan masalah pelik seperti ini dengan melipat-gandakan jumlah hukum/peraturan. Berbagai hukum/ peraturan itu dapat menjadi “benteng kebenaran” yang dengan bebas dapat didengung-dengungkan oleh para pemuka agama setiap saat mereka berkhotbah seturut kebutuhan audiensi yang ada. Berbagai hukum/peraturan ini juga ditaati oleh orang-orang yang “saleh-lugu”, pokoknya mematuhi semua hukum/peraturan yang tersurat (belum tentu yang tersirat). Berbagai hukum/peraturan itu juga dengan mudah dapat diabaikan oleh sebagian lagi orang, yang akan bersikap dan berperilaku seturut “sikon” yang ada.

Kemunafikan itu bagaikan sebilah pisau yang bermata dua. Kita menggunakannya dalam melawan orang-orang lain untuk menutup-nutupi kesalahan-kesalahan atau kegagalan-kegagalan kita sendiri. Mengapa koq selalu begitu mudahnya bagi kita untuk melihat kemunafikan dalam diri orang-orang lain, tetapi tidak dalam diri kita sendiri? Memang kelihatannya seakan-akan tidak ada jalan keluar dari “lingkaran setan”, kecuali jalan kejujuran yang bersifat terbuka.

Sekali peristiwa di dekat pintu gerbang Yerikho, Yesus bertanya kepada seorang buta yang bernama Bartimeus, apakah yang dikehendaki orang buta itu untuk dilakukan Yesus atas dirinya. Bartimeus menjawab dengan jujur penuh keterbukaan, “Rabuni, aku ingin dapat melihat!” (Mrk 10:51). Permohonan atau doa Bartimeus ini adalah sebuah doa yang dibutuhkan oleh kita semua. Kita membutuhkan kejujuran, agar Yesus Kristus  dapat melihat siapa diri kita sebenarnya. Kemunafikan tidak pernah dapat dikalahkan, kecuali kalau kita masing-masing mau belajar untuk mengalahkan kemunafikan kita sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukannya untuk Saudari-Saudara!

DOA:  Tuhan Yesus, bebaskanlah diriku dari pengucapan kata-kata yang mengandung kebencian, dan jagalah aku jangan sampai ketidakbenaran membutakan jalanku. Jagalah agar aku tidak terlibat dalam rancangan-rancangan jahat terhadap orang lain dan buatlah diriku semakin kudus dari hari ke hari. Perkenankanlah aku berdiam di dekat hadirat-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:47-54), bacalah tulisan yang berjudul “SERUAN CELAKA YANG DITUJUKAN KEPADA ORANG-ORANG FARISI” (bacaan tanggal 17-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Oktober 2019 [Peringatan Wajib S. Teresia dr Yesus, Perawan Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS

PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Rabu, 15 Oktober 2019)

Peringatan Fakultatif S. Hedwig, Biarawati

Peringatan Fakultatif S. Margarita Maria Alacoque, Perawan

“ ……… Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terbaik di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab, “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun. ………” (Luk 11:42-46) 

Bacaan Pertama: Rm 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:2-3,6-7,9 

Bayangkanlah anda mengundang seorang tamu istimewa untuk makan bersama di rumahmu dan kemudian anda malah “dimaki-maki” dan dihina, demikian para tamu lain yang hadir. Tamu macam apa yang akan menyerang tuan rumah dengan kata-kata yang terasa sangat keras itu?

Seperti seekor singa ganas yang menyerang mangsanya, Yesus – singa dari suku Yehuda (Why 5:5) – menyerang sikap negatif yang telah begitu lama mengendap dalam hati orang-orang Farisi. Dalam menafsirkan Hukum Musa, sejumlah orang Farisi menggunakan pendekatan kaku yang mengabaikan panggilan untuk membuat keseimbangan antara keadilan dan belas kasih. Dalam menanggapi hal itu, Yesus berupaya untuk menunjukkan kepada mereka “semangat” atau roh dari hukum tersebut. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat pada acara makan malam tersebut adalah para pakar dalam bidang hukum Musa. Namun Yesus ingin agar mereka melihat bahwa Kerajaan Allah adalah terlebih-lebih mengenai relasi daripada mengenai peraturan-peraturan. Tantangannya bukanlah sekadar kepatuhan-kaku untuk melakukan “persepuluhan” dan/atau kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya, melainkan untuk mengasihi Allah dan bersikap serta berlaku adil terhadap umat-Nya. Mematuhi perintah-perintah Allah bukanlah untuk membuktikan kekudusan seorang pribadi, melainkan untuk mengasihi Allah dan tetap bersikap dan berlaku benar terhadap kasih perjanjian-Nya.

Tidak seperti para ahli Taurat yang dikatakan oleh Yesus “tidak menyentuh beban yang diletakkan oleh mereka pada orang dengan satu jari pun” (lihat Luk 11:46), Yesus memikul semua beban dan dosa-dosa kita pada kayu salib. Tidak seperti orang-orang Farisi, yang membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi tidak bagian dalamnya (Luk 11:39), Yesus datang untuk membersihkan kita luar-dalam, guna memurnikan hati kita dan menarik diri kita kepada-Nya. Yesus tidak hanya mengatakan kepada kita bagaimana kita harus bertindak. Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban agar dengan demikian kita akan memiliki kuasa untuk mengikuti perintah-perintah-Nya.

Inilah seluruh alasan mengapa Allah menghendaki adanya inkarnasi: “Sabda menjadi daging!” (Yoh 1:14). Yesus datang ke dunia untuk berada bersama kita, untuk menjadi seorang pribadi manusia seperti kita, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi seperti Dia dan hidup dengan-Nya untuk selama-lamanya. Setiap hari Yesus berada bersama kita – Dia adalah Imanuel – untuk menolong kita memikul beban-beban kita dan untuk mencurahkan rahmat ilahi secara berlimpah. Yesus tidak meninggalkan kita sendiri ketika Dia kembali kepada Bapa di surga. Yesus meninggalkan Roh Kudus-Nya bagi kita untuk menjadi Penasihat dan Penghibur kita, dan Ia meninggalkan bagi kita tubuh-Nya dan darah-Nya dalam Ekaristi. Bukankah semua ini merupakan bukti betapa besar kasih-Nya kepada kita?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku, jiwa dan ragaku! Ini, terimalah hatiku ini! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil dosa-dosaku dan memikul beban-bebanku. Aku juga bersyukur sedalam-dalamnya karena kasih-Mu yang tak terkira, Engkau bersedia mati demi aku. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan berilah aku makan “roti kehidupan”. Berilah makanan bagi jiwaku dengan “asupan makanan yang bergizi”. Puaskanlah rasa hausku akan hal-hal rohani. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAB ALLAH TIDAK MEMANDANG BULU” (bacaan tanggal 16-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Oktober 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERIKANLAH ISINYA SEBAGAI SEDEKAH DAN SESUNGGUHNYA SEMUANYA AKAN MENJADI BERSIH BAGIMU

BERIKANLAH ISINYA SEBAGAI SEDEKAH DAN SESUNGGUHNYA SEMUANYA AKAN MENJADI BERSIH BAGIMU

(Bacaan Pertama Misa Kudus,  Peringatan Wajib S. Teresia dr Yesus – Selasa, 15 Oktober 2019)

KSFL: Pesta Tarekat – Hari Jadi Persaudaraan KSFL

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.” (Luk 11:37-41) 

Bacaan Pertama: Rm 1:16-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Pada tingkatan tertentu, orang Farisi ini kelihatannya seorang pribadi terhormat. Dengan mengundang Yesus makan malam, dia menunjukkan bahwa dirinya sungguh berminat untuk mengenal rabi yang populer akhir-akhir ini. Dengan mencuci tangannya secara seremonial sebelum makan, orang Farisi ini juga menunjukkan bahwa dia berhati-hati dan taat dalam memenuhi kewajiban-kewajiban keagamaannya. Akhirnya, dengan menahan diri dari tindakan mengkritisi tamunya, orang Farisi ini menunjukkan kesantunannya. Namun demikian Yesus menegur orang ini dan orang-orang Farisi lainnya dengan keras, dengan mengatakan bahwa orang Farisi itu serakah (“bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”; Luk 11:39). Mengapa Yesus sampai berkata-kata keras seperti itu, apalagi sebagai tamu istimewa dalam suatu acara makan malam? Kiranya bukan karena Yesus tidak mengasihi orang Farisi itu. Yesus senantiasa memandang setiap orang dengan kebaikan hati yang penuh bela-rasa. Jadi, apa yang dilakukan oleh Yesus?

Orang itu mempunyai masalah, yaitu bahwa dia tidak melihat atau tidak mau melihat. Walaupun dari luar kelihatan bahwa perilaku keagamaannya itu nyaris sempurna, hatinya dipenuhi dengan motivasi-motivasi non-religius. Pada dasarnya orang Farisi ini seorang pribadi yang serakah … tamak,  yang menginginkan untuk memperoleh lebih dan lebih lagi bagi dirinya, bukan memberi kepada orang-orang lain. Perilaku keagamaannya hanyalah merupakan tabir yang menghalanginya untuk dapat melihat kebutuhannya sendiri akan suatu perubahan batiniah. Hal paling baik yang dapat dilakukan oleh Yesus bagi diri si Farisi adalah memindahkan tabir itu ke tempat lain dan menunjukkan kepadanya apa saja yang ada di situ setelah tabir itu disingkirkan.

Sekarang, bagaimana dengan diri kita sendiri? Sampai seberapa seringkah kita menghindar, kita tidak mau menghadapi masalah keserakahan/ketamakan  yang ada dalam hati dan pikiran kita? Kita dapat saja berpikir bahwa mengubah diri kita sendiri itu sungguh sulit, bahkan tidak mungkin. Namun Yesus ingin membangunkan kita dari tidur dan mengingatkan akan kebutuhan kita untuk bertobat karena Dia ingin menyembuhkan kita. Yesus ingin membersihkan hati kita – bukan sekadar secara umum: Ia ingin menyembuhkan pikiran dan hati kita yang suka mementingkan diri sendiri, nafsu-nafsu dan kecemburuan serta rasa iri hati kita. Sekarang, maukah kita memperkenankan Yesus menjamah kita, menyentuhkan jari-jari kasih-Nya pada pemikiran-pemikiran dan pola-pola perilaku kita yang membutuhkan perubahan? Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa takut. Ia sudah mengetahui dosa-dosa kita, bahkan sebelum kita mengungkapkannya ……, dan bagaimana pun juga Dia tetap mengasihi kita.

Yesus bukanlah Yesus sekiranya Dia tidak memberi solusi atas masalah yang dihadapi seseorang. Yesus tidak hanya mengkritisi orang Farisi itu. Dia menunjukkan kepadanya jalan keluar dari keterikatan pada hal-hal yang buruk itu: “Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu” (Luk 11:41). Yesus berjanji kepada kita, bahwa apabila kita melangkah keluar dari pemikiran, sikap dan perilaku yang mementingkan diri sendiri, dan mulai menunjukkan perhatian secara konkret-praktis terhadap orang-orang lain, maka kita akan mengalami rahmat-Nya bekerja dalam diri kita dan mengubah hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memang membutuhkan perubahan batiniah. Namun aku tidak dapat melakukannya sendiri, untuk itu tolonglah aku. Sembuhkanlah diriku, agar aku dapat mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:37-41), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU YANG MENCERMINKAN KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 15-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10  BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Oktober 2019 [Peringatan Fakultatif S. Kalistus I, Paus Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI SEBUAH TANDA BAGI DUNIA

MENJADI SEBUAH TANDA BAGI DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Senin, 14 Oktober 2019)

Peringatan Fakultatif S. Kalistus I, Paus Martir

 

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Rm 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

“Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Luk 11:29).

Banyak orang menyaksikan sendiri berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya yang dibuat oleh Yesus. Segala mukjizat dan tanda heran itu tidak dapat disangkal kebenarannya: penyembuhan-penyembuhan, pengusiran roh-roh jahat, penggandaan makanan dlsb. Sekarang masalahnya adalah, mengapa mereka meminta tanda lagi? Mereka ternyata mencari makna, bukan mencari tanda-tanda itu sendiri. Walaupun mereka telah menyaksikan sendiri berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat oleh Yesus, mereka luput memperoleh pesan sesungguhnya yang disampaikan lewat mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda tersebut, yaitu bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.

Membaca kata-kata Yesus, kita dapat mulai bertanya-tanya apakah kita sungguh perlu memusingkan diri mencoba untuk menjadi sebuah “tanda”. Tentu saja kita harus menjadi “tanda”. Semoga saja kita tidak pernah membiarkan orang-orang yang tidak percaya merusak kesempatan bagi orang-orang lain untuk percaya. Dari sekian ratus orang yang tidak percaya kepada Yesus, tentunya ada satu-dua yang percaya. Pada abad pertama ada nama-nama seperti Simon Petrus, Yohanes, Yakobus, Maria Magdalena, Saulus dlsb. Apakah kita tidak ingin memberi kesempatan kepada orang-orang seperti mereka yang hidup pada jaman NOW ini?

Yang perlu kita ketahui dan yakini adalah bahwa Yesus Kristus ada dalam diri kita masing-masing. Kehadiran kita dalam sebuah pertemuan, misalnya, dapat membawa efek yang langsung terlihat. Ingatlah bahwa kita adalah “garam bumi” dan “terang dunia” (Mat 5:13-16). Semakin dekat kita dengan Yesus, maka diri kita pun menjadi semakin terasa “asin”. Orang-orang akan melihat Kristus dalam diri kita dan semakin merasa haus akan kehadiran-Nya. Dan semakin dekat kita kepada Yesus, semakin bercahaya pula terang kita ke tengah dunia yang sudah sekian lama terjebak dalam kegelapan dan dosa. Selagi terang kita semakin bercahaya, maka terang kita itu dapat menarik banyak orang kepada Yesus: para anggota keluarga, para sahabat, dan bahkan orang-orang yang tidak kita kenal. Kesaksian kita tidak perlu bersifat dramatis atau diikuti dengan perbuatan ajaib atau mukjizat, namun dapat menjadi sangat efektif.

Setiap hari dalam doa, perkenankanlah Allah menstransformasikan diri kita masing-masing untuk menjadi semakin serupa dengan Putera-Nya. Dengan berjalannya hari, biarlah Dia berbicara melalui kata-kata dan tindakan-tindakan kita. Kita (anda dan saya) dapat menjadi sebuah “tanda” bagi dunia ini. Hayatilah dan jalanilah dengan tekun hidup Injili, maka dalam artian tertentu Saudari-Saudara juga mewartakan Injil. Didorong oleh kasih Kristus, bersahabatlah dengan orang-orang, maka Roh Kudus dapat mempertobatkan orang-orang itu lewat “pewartaan Injil” Saudari-Saudara. Percayalah bahwa Saudari-Saudara senantiasa diberi kesempatan untuk menjadi Yesus bagi orang-orang dalam hidup Saudari-Saudara, dan men-sharing-kan Yesus dengan mereka.

DOA: Bapa surgawi, penuhilah diriku dengan kasih tanpa syarat kepada sesamaku. Yesus, transformasikanlah hati dan pikiranku. Roh Kudus, biarlah terang-Mu bercahaya melalui diriku. Allah Tritunggal Mahakudus, buatlah diriku menjadi pribadi seturut rencana-Mu waktu aku diciptakan. Terpujilah Allah, Bapa, Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:29-32), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH CATATAN MENGENAI TANDA NABI YUNUS” (bacaan tanggal 14-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Oktober 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 20 Oktober 2018)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2-7 

NYT2010100712284619C

Kebaktian gereja di Munich, Jerman, telah selesai, ketika tiba-tiba perempuan itu melihat laki-laki itu; mantan prajurit SS Nazi yang bertugas menjaga di dekat pintu kamar mandi di kamp konsentrasi Ravensbruck. Banyak tahun telah berlalu, namun memori-memori membanjiri pikiran perempuan itu – ruangan yang penuh berisi laki-laki yang mengolok-olok dirinya, tumpukan baju, rasa takut yang bercampur dengan marah dan malu. Pada suatu hari, setelah baru saja menyelesaikan ceramahnya, seorang laki-laki muncul dari antara orang-orang yang hadir dan mendatanginya dan berkata kepada perempuan itu, “Betapa penuh syukur saya mendengar pesan anda, …… berpikir bahwa Yesus telah membasuh bersih dosa-dosaku!”

Mula-mula perempuan ini, yang sudah begitu sering berceramah tentang betapa perlunya mengampuni, tidak mau mengulurkan tangannya ketika laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyalaminya. Merasakan keengganan dirinya, kemudian perempuan itu memohon kepada Yesus untuk menolongnya mengampuni laki-laki itu. Tanpa mampu tersenyum sedikit pun, perempuan itu berdoa lagi: “Yesus, aku tidak dapat. Berikanlah pengampunanmu kepadaku.” Pada akhirnya, selagi dia berjabatan tangan dengan laki-laki itu, “terjadilah suatu hal yang luar biasa. Dari pundakku terus melewati lengan dan tanganku, terasa adanya sesuatu yang mengalir dari diriku kepada orang itu, sementara dari kedalaman hatiku mengalirlah keluar cintakasih bagi orang asing ini, hal mana hampir membuat aku ‘kewalahan’ karena karena rasa gembira yang penuh ketakjuban.”

Perempuan itu adalah Corrie ten Boom [1892-1983]. Siapa yang dapat menyalahkan Corrie untuk sikapnya yang tidak mau mengampuni? Keluarganya dihabiskan oleh para penguasa Nazi hanya karena mereka adalah orang-orang Kristiani yang menyembunyikan orang-orang Yahudi dari pengejaran para penguasa Nazi tersebut. Akan tetapi, melalui rahmat Allah yang bersifat supernatural, Corrie dimampukan untuk dapat melihat melampaui rasa sakit hatinya dan berpaling kepada Yesus dalam momen pengambilan keputusan yang krusial.  Sebagai bukti kebenaran-kebenaran dari hal-hal yang telah disyeringkan olehnya kepada orang-orang lain, sikap dan tindakan sederhana Corrie terhadap mantan-penganiayanya menunjukkan, bahwa belas-kasih dapat menang-berjaya atas penghakiman.

Apakah mereka mengetahuinya atau tidak – dan apakah kita mempersepsikannya atau tidak – sebenarnya setiap insan (Nazi, komunis, atheis, agnostik dlsb.) memiliki kerinduan untuk mengenal Injil. Itulah sebabnya, mengapa Allah memanggil kita masing-masing untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Itulah sebabnya, mengapa Dia memberikan kepada kita berbagai kesempatan setiap hari untuk menyebarkan Kabar Baik-Nya kepada para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para rekan-kerja kita dll. Evangelisasi tidak perlu sulit-sulit amat! Evangelisasi dapat sama sederhananya dengan percakapan sehari-hari. Dengan tetap berada dekat dengan Yesus membuat kita terus terbuka bagi gerakan-gerakan Roh-Nya. Dengan demikian, Injil yang kita hayati dalam kehidupan kita akan menarik banyak orang kepada Allah.

Marilah kita menjaga diri kita agar tetap terbuka bagi Roh Kudus dan senantiasa mengingat kebenaran yang satu ini: yaitu bahwa Roh Kudus inilah yang melakukan evangelisasi, bukan kita. Roh Kudus Allah-lah yang sesungguhnya merupakan SANG PEWARTA, Dia yang senantiasa bekerja di belakang layar.

DOA: Roh Kudus yang penuh kuasa dan kasih, berikanlah kepadaku hati seorang penginjil. Semoga diriku senantiasa mencerminkan kebenaran-kebenaran Injil. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA” (bacaan tanggal 20-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KITA DAPAT MENGATASI RASA TAKUT KITA

DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KITA DAPAT MENGATASI RASA TAKUT KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Jumat, 19 Oktober 2018)

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi Aku akan menunjukkan kepada kamu siapa yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang  setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang  ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah lima ekor burung pipit dijual seharga dua receh terkecil? Sungguh pun demikian tidak seekor pun yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit. (Luk 12:1-7) 

Bacaan Pertama: Ef 1:11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,12-13 

“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” (Luk 12:4)

“… jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.” (Luk 12:7)

Pada tahun 1933, pada puncaknya masa susah “Great Depression”, presiden Franklin Roosevelt membuat pengumuman sebagai berikut: “Kita tidak perlu takut kepada apa pun kecuali ketakutan itu sendiri.”  Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut ……” (Luk 12:4). Presiden Roosevelt berbicara mengenai suatu krisis politik dan ekonomi, sedangkan Yesus berbicara mengenai suatu krisis yang jauh lebih penting, yaitu krisis spiritual.

Ketakutan dapat melumpuhkan jiwa, dapat melemahkan tekad kita untuk menghindari godaan dan bekerja sama dengan rahmat Allah. Ketakutan dapat menggantikan keberanian  dengan kepengecutan, dan menggantikan pengharapan dengan keputusasaan. Namun dalam segala hal ini, kita masing-masing menunjukkan diri kita sebagai seorang pribadi yang manusiawi. Bahkan Yesus sendiri mengalami rasa takut yang luar biasa di taman Getsemani.

Kabar baiknya adalah bahwa dengan pertolongan Allah kita dapat mengatasi rasa takut kita.  Keberanian yang sejati bukan berarti tanpa rasa takut samasekali, melainkan bertindak berdasarkan kehendak Allah walaupun ketika kita merasa takut. Sejak beliau nyaris tertembak mati oleh seorang pembunuh pada tahun 1981, pastilah Paus Yohanes Paulus II masih dihinggapi rasa takut setiap kali beliau harus tampil di depan publik. Namun beliau terus melakukannya.

Demikian pula halnya dengan kita, walaupun dalam skala kecil-kecilan. Melalui doa, penghiburan yang kita terima dari orang-orang lain, dan kekuatan batiniah yang disediakan oleh rahmat Allah, maka kita semua dapat menerima rasa takut kita dan memperoleh pertolongan yang kita perlukan untuk mengubah pikiran dan motif kita. Lalu, kita akan melihat bahwa rasa takut kita semakin menyusut dan kita akan semakin berakar dalam kasih.

Menjadi manusiawi berarti menjadi lemah dalam diri kita sendiri namun kuat dalam Kristus, berdosa dalam diri kita sendiri namun kudus di dalam Dia, merasa takut dalam diri kita namun berani melalui Roh-Nya. Santa Teresia dari Lisieux pernah berkata bahwa bahkan tindakan-tindakan kita yang paling mulia sekali pun tetap dinodai oleh berbagai kelemahan. Namun demikian, selagi kita dengan cara yang jauh dari sempurna berjalan tertatih-tatih menuju Allah, kita tetap dapat memberikan kemuliaan kepada-Nya. Pertimbangkanlah kelemahan-kelemahan yang berbeda dari para rasul Yesus dan yakinlah bahwa pada akhirnya yang menang-berjaya adalah kuat-kuasa yang dari atas itu. Semoga Yesus memberikan kepada kita damai-sejahtera yang melampaui segala pengertian kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji Engkau dan aku meninggikan Engkau. Engkau adalah batu karangku dan tempat pengungsianku. Semoga aku senantiasa berpegang erat-erat pada-Mu sebagai seorang anak yang senantiasa berpegang erat-erat pada bapanya. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (LLuk 12:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA SESUATU PUN YANG TERSEMBUNYI YANG AKAN DIKETAHUI” (bacaan tanggal 19-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10  BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Oktober 2018 [Peringatan S. Margareta Maria Alacoque] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS