Posts from the ‘Uncategorized’ Category

TIDAK ADA YANG BERADA DI LUAR JANGKAUAN KASIH-NYA

TIDAK ADA YANG BERADA DI LUAR JANGKAUAN KASIH-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV  – Jumat, 22 September 2017)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Ignatius dr Shanti, Imam Biarawan 

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 8:1-3) 

Bacaan Pertama:  1Tim 6:2c-12; Mazmur Tanggapan: 49:6-10,17-20 

Pikiran dan rancangan Allah memang tidak pernah dapat ditebak oleh akal-budi manusia yang sungguh terbatas. Dengan Allah, hal-hal yang diharapkan tidak terjadi dan hal-hal yang tidak diharapkan dan tidak dibayangkan justru dialami: “Sebab, rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN [YHWH]” (Yes 55:8).

Pada waktu Yesus menjadi seorang manusia dan tinggal di tengah-tengah kita, Dia memperlebar batasan-batasan dari apa yang diharapkan orang dari seorang Mesias. Ia berjalan ke banyak tempat “memberitakan Injil Kerajaan Allah” (Luk 8:1). Injil atau Kabar Baik yang diberitakan-Nya sungguh mengejutkan sekaligus menggembirakan: Allah menginginkan keselamatan bagi setiap orang – tidak hanya yang “pantas”, yang saleh dalam praktek keagamaan, melainkan setiap orang yang ada.

Hal seperti ini sungguh sukar dicerna oleh orang-orang Yahudi, umat pilihan Allah. Gagasan bahwa Allah harus menebus bangsa-bangsa – bahkan yang tak bermoral, kafir – sungguh tidak terpikirkan oleh mereka. Akan tetapi, kenyataannya hal ini memang benar, sampai hari ini. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari kasih Allah atau hasrat-Nya untuk syering hidup-Nya secara pribadi dan akrab. Tidak ada seorang pun yang hidup dalam dunia ini berada diluar jangkauan kasih Allah atau begitu “terbenam” dalam kedosaan yang tidak mampu ditebut oleh kuasa-Nya.

Kedua belas rasul dan beberapa orang perempuan yang ikut dalam misi Yesus (Luk 8:2) bukanlah yang diharap-harapkan orang dari sebuah rombongan seorang Raja-Mesias. Beberapa orang ex-nelayan, seorang ex-pemungut cukai, seorang ex-Zeloti, sejumlah perempuan dengan berbagai macam latar belakang dst. – kebanyakan mereka miskin, tersisihkan secara sosial, bukan “orang-orang sekolah dalam hal agama” – semua ini sungguh bertolak-belakang dengan adat-istiadat dan nilai-nilai yang dianut bangsa Yahudi, namun pada saat yang sama merupakan suatu testimoni tentang hikmat-kebijaksanaan dan jalan Allah yang tak terbayangkan. Hikmat kebijaksanaan  Allah memporak-porandakan batasan-batasan akal-budi kita, dan dalam Yesus, Ia mendamaikan orang-orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi (kafir), yang kaya dan miskin, yang sehat maupun yang kurang/tidak sehat, yang  benar dan berdosa, seringkali dengan cara-cara yang tak terbayangkan.

Dalam Yesus, Kerajaan Allah terbuka untuk siapa saja: wong cilik dan yang termarginalisasi, yang ternama dan berpengaruh. Ada suatu sukacita yang datang dari pelebaran batasan-batasan manusiawi kita: Kegembiraan yang meluap-luap dalam kasih Allah selagi hal itu memancarkan cahaya lewat kegelapan harapan-harapan kita yang terbatas.

Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita akan mengajar kita kebenaran tentang Yesus. Kebenaran ini – realitas-realitas dan pemikiran-pemikiran Allah Yang Mahakuasa – bukanlah sesuatu yang dapat ketahui dan pahami berdasarkan kekuatan kita sendiri. Hal tersebut secara lengkap-total berada di luar jangkauan akal-budi kita, dengan demikian kita sungguh membutuhkan Roh Kudus untuk membimbing kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13). Oleh karena itu, baiklah kita setiap hari berpaling kepada-Nya agar dapat memperoleh hikmat-kebijaksanaan dan pengetahuan yang datang dari Allah saja.

DOA: Tuhan Yesus, hancurkanlah segala pemikiran yang penuh dengan praduga dan bias-bias yang ada dalam diriku, sehingga dengan demikian aku dapat berpikir seperti Engkau berpikir, mengasihi seperti Engkau mengasihi, dan memilih cara-cara dan rencana-rencana yang Engkau telah tentukan sejak kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA MENGIKUTI-NYA” (bacaan tanggal 22-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-9-16 dalam situsblog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

CELAKALAH, HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK

CELAKALAH, HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Rabu, 30 Agustus 2017) 

Celakalah kamu, hal ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, lengkapilah juga apa yang sudah dilakukan nenek moyangmu! (Mat 23:27-32) 

Bacaan Pertama: 1Tes 2:9-13;  Mazmur Tanggapan: Mzm 139:7-12 

Bacaan Injil hari ini terdiri dari dua ucapan Yesus yang terakhir dari keseluruhan tujuh “ucapan celaka” yang diucapkan-Nya terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dalam ketujuh “ucapan celaka” tersebut, Yesus menamakan mereka sebagai “orang-orang munafik”.

Yesus biasanya bersikap sangat baik hati dan penuh pengampunan terhadap para pendosa. Mengapa sikap ini berubah secara tiba-tiba dalam hal dosa kemunafikan? Yesus jelas melihat para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu memiliki sedikit sekali niat atau kecenderungan untuk menerima kesalahan mereka, sedikit hasrat untuk melakukan pertobatan sejati. Yesus melihat bahwa satu-satunya pendekatan adalah dengan menggunakan caci-maki yang terasa keras-kuat. Barangkali Yesus telah melihat adanya kebutuhan dalam diri kita dan semua orang yang mengikuti-Nya. Yesus ingin menunjukkan kepada kita  betapa buruknya kemunafikan itu.

Oleh karena itu Tuhan Yesus menjuluki para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sama seperti kuburan yang dicat putih, indah dilihat bagian luarnya, namun di dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Sampai hari ini pun kuburan di Palestina dicat putih, suatu praktek sejak lebih dari 2.000 tahun lalu. Kuburan yang dicat dengan warna putih akan membantu mengidentifikasi kuburan tersebut.

Dari sinilah muncul istilah white-washing yang berarti menutup-nutupi sesuatu (cover up). Terkait dengan orang-orang Farisi, Yesus mengatakan bahwa kepatuhan pada hukum sebenarnya merupakan cover up untuk sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan Hukum dan semangatnya.

Lihatlah, betapa sering kita cenderung untuk melakukan cover up atas kegagalan-kegagalan kita, bahkan dosa-dosa kita. Kita mencoba untuk menyembunyikan kesalahan-kesalahan kita agar kita terlihat sebagai “orang benar” di mata orang-orang lain, padahal selama itu kita sendiri sangat tahu bahwa kita tidak jujur, kita takut ketahuan. Artinya, kita hidup tanpa kedamaian di dalam hati.

Mengakui kesalahan-kesalahan kita adalah jauh lebih baik, demikian pula memohon pengampunan atas dosa-dosa kita, dan kemudian kita pun disembuhkan. Kita membutuhkan penyembuhan dan pengampunan dari Kristus dan juga antara orang satu sama lain. Namun hanya dengan keterbukaan yang jujur kita dapat mengharapkan untuk menerima penyembuhan dan pengampunan.

DOA: Tuhan Yesus, aku mohon belas kasih-Mu dan pengampunan-Mu. Sembuhkanlah aku dari segala ketidakjujuran dan segala kecemasan yang diakibatkannya.

Cilandak, 28 Agustus 2017 [Peringatan S. Augustinus dr Hippo, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMANLAH YANG DIPERLUKAN

IMANLAH YANG DIPERLUKAN     

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Sabtu, 12 Agustus 2017) 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Lalu kata Yesus, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka, “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:14-20) 

Bacaan Pertama: Ul 6:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4, 47,51

Ketika Petrus, Yakobus, dan Yohanes berada di atas gunung menyaksikan transfigurasi Yesus, ada hal-hal yang tidak beres atau tidak berjalan dengan semestinya yang dihadapi di bawah sana. Seorang laki-laki telah  membawa anaknya kepada para murid itu agar disembuhkan, dan para murid tersebut ternyata tidak mampu menyembuhkan anak laki-laki yang sakit ayan itu (Mat 17:16). Pada saat Yesus sudah kembali ke bawah dan mendengar apa yang telah terjadi, maka Dia menegur pada murid-Nya perihal ketidakpercayaan mereka. Kemudian Yesus mengusir roh jahat yang merasuki anak itu dan menyembuhkannya.

Ketika para murid bertanya kepada Yesus mengapa mereka tidak mampu mengusir roh jahat dari anak itu, kembali Yesus mengemukakan ketiadaan iman-kepercayaan mereka. Yang jelas dan pasti adalah bahwa hari itu bukanlah hari yang baik bagi para rasul!

Namun kemudian Yesus berjanji – sebuah janji yang akan mengangkat para murid dari self-pity mereka – dan Ia juga memberi mereka pengharapan: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sama, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu”  (Mat 17:20). Janji ini tidak hanya diperuntukkan bagi para murid Yesus yang pertama, melainkan bagi kita juga. Kadang-kadang perhatian dan susah hati kita dapat memperlemah iman kita. Pengharapan kita dapat menyusut dan membuat kita merasa tidak berdaya dalam menghadapi kesulitan. Situasi-situasi yang memberi tantangan semakin menekan kita dan kita merasa jauh dari Tuhan. Ini adalah waktu-waktu dimana kita harus berpegang teguh pada janji Yesus yang tak tergoyahkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki benih iman yang paling kecil sekalipun.

Bagaimana caranya kita memelihara bahkan sisa-sisa iman? Iman adalah karunia Allah, namun iman membutuhkan tanggapan kita. Dan barangkali tidak ada cara yang lebih efektif untuk membangun iman daripada datang menghadap hadirat-Nya dalam doa.

Walaupun kedengarannya mengecilkan hati – bahkan menakutkan – hal berdoa itu sesungguhnya cukup mudah. Yang harus kita lakukan adalah mencoba sebaik-baiknya untuk menghilangkan distraksi-distraksi (pelanturan-pelanturan) dan berkonsentrasi pada Yesus. Kita hanya perlu memusatkan pandangan kita pada kasih-Nya dan atas hasrat mendalam yang dimiliki-Nya untuk memberikan segalanya yang kita butuhkan untuk hidup dalam kekudusan. Yesus sangat ingin melihat bahwa kita mempunyai iman yang lebih, dan Ia bahkan sangat berhasrat untuk mencurahkan segala rahmat yang kita butuhkan agar bertumbuh dalam iman dan melihat bahwa iman itu bertumbuh dan bertumbuh – seperti pohon sesawi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah diriku agar dapat memusatkan pandanganku pada-Mu, bukan pada diriku sendiri. Berikanlah kepadaku suatu pemahaman yang segar tentang kasih-Mu bagiku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu sehingga dengan demikian aku akan berjalan dengan/oleh iman dan menjadi saksi-Mu bagi dunia yang sangat membutuhkan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEBESAR BIJI SESAWI” (bacaan tanggal 12-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Agustus 2017 [Pesta S. Laurensius, Diakon Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMAN AKAN SENTUHAN YESUS

IMAN AKAN SENTUHAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Senin, 10 Juli 2017)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick dkk., Martir

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata, “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu disuruh keluar, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Dan tersebarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu. (Mat 9:18-26) 

Bacaan Pertama: Kej 28:10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-4,14-15  

Dalam bacaan Injil hari ini kita menemukan dua mukjizat yang dinarasikan. Ada sesuatu yang sangat serupa antara dua mukjizat tersebut, yaitu berkaitan dengan sentuhan Kristus dan iman akan sentuhan-Nya. Seorang pemimpin sinagoga datang kepada Yesus, menyembah-Nya, dan memohon kepada-Nya: “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup” (Mat 9:18). Dengan imannya yang sederhana namun mantap, pemimpin sinagoga itu percaya, bahwa apabila Yesus datang ke rumahnya dan menyentuh anaknya, maka dia akan hidup kembali. Dengan iman pemimpin sinagoga itu melihat bahwa Yesus Kristus mempunyai kuasa atas hidup dan mati. Imannya akan sentuhan Yesus Kristus memperoleh ganjarannya, karena pada saat Ia sampai dan masuk ke dalam rumah si pemimpin sinagoga Yesus “memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu” (Mat 9:23-25).

Di sisi lain, perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita sakit pendarahan menunjukkan iman besar pada sentuhan Yesus Kristus yang menyembuhkan itu. Ia berkata dalam hatinya: “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh” (Mat 9:21). Lagi-lagi imannya yang besar itulah yang menyembuhkan penyakitnya. Yesus bersabda kepada perempuan itu: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:22). Inilah tanggapan Yesus  terhadap iman perempuan itu akan sentuhan-Nya.

Dalam tindakan-tindakan Yesus yang menentukan itu kita melihat bahwa Dia sungguh ingin menyentuh orang-orang secara pribadi dan membawa rahmat dan belas kasih-Nya bagi mereka. Dalam Injil Lukas kita membaca: “Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu” (Luk 6:18-19; bdk. Mat 4:23-24).

Inilah sebabnya mengapa Tuhan kita datang ke tengah dunia, agar iman kita dapat mencapai titik di mana kita dapat menyentuh Dia, agar kuasa-Nya dan kebaikan-Nya dapat keluar untuk menyentuh kita.

Selama hidup-Nya di tengah dunia, Yesus datang berkontak dengan orang-orang beriman lewat kehadiran-Nya secara fisik, sabda-Nya, tindakan-tindakan-Nya. Dia ingin dan merencanakan untuk melanjutkan kehadiran-Nya oleh sabda/kata-kata dan tindakan-tindakan-Nya. Dalam sakramen-sakramen, Yesus melanjutkan sentuhan-sentuhan-Nya; lewat sabda dan tindakan-tindakan-Nya, sama seringnya dengan pendekatan kita kepada-Nya dalam iman.

Dalam Ekaristi Kudus, Kristus ada di tengah-tengah kita untuk menyentuh kita secara fisik, untuk memberi makan kepada kita dan membuat diri kita menjadi kudus. Dalam Sakramen Rekonsiliasi, kata-kata Yesus adalah untuk mengampuni dan menyembuhkan kita. Kita mendengar semua itu melalui seorang imam. Dalam Gereja-Nya, kuasa Yesus Kristus, sabda-Nya, tindakan-tindakan-Nya terus berlanjut untuk menyentuh kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Mesias dari Allah yang memberikan hidup kepada semua orang, baik orang besar maupun kecil di mata masyarakat. Aku menaruh kepercayaanku pada janji-Mu dan datang kepada-Mu dalam iman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:18-26), bacalah tulisan yang berjudul “DISELAMATKAN KARENA IMAN” (bacaan tanggal 10-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Juli 2017 [Peringatan S. Maria Goretti, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA

YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu,  6 Mei  2017) 

Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.

Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida. Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Kata Petrus kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangkitlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Karena Lida dekat dengan Yope, murid-murid yang mendengar bahwa Petrus ada di Lida, menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan, “Segeralah datang ke tempat kami.”  Lalu berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersebar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. (Kis 9:31-42)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-17; Bacaan Injil: Yoh 6:60-69 

Petrus  berkata kepada Eneas yang lumpuh untuk bangkit dan memberesi tempat tidurnya, dan orang lumpuh itu sembuh seketika (Kis 9:33-34). Kemudian di Yope Petrus berdoa dan kemudian mengatakan kepada jenazah Tabita: “Tabita, bangkitlah!”; maka Tabita yang sudah mati itu bangkit dan hidup lagi (Kis 9:36-41). Sungguh merupakan mukjizat-mukjizat menakjubkan yang dilakukan Petrus dan para murid Yesus lainnya. Jika kita lihat sejarah Gereja – khususnya sejarah para kudus – maka kita dapat membaca cerita-cerita tentang S. Fransiskus dari Assisi, S. Antonius dari Padua, S. Padre Pio dari Pietrelcina, Santo Don Bosco, dll. yang berdoa dengan penuh kuat-kuasa untuk menyembuhkan, baik ketika mereka masih hidup di atas bumi dan bahkan setelah mereka wafat. Cerita-cerita itu cukup untuk membuat anda menjadi takjub dan terkesima. Apakah para kudus itu mengetahui sesuatu yang kita tidak tahu?

Kebenarannya adalah bahwa di belakang setiap mukjizat, ada sumber unik yang sama: Yesus Kristus. Apakah Petrus sendiri memiliki sejumlah talenta atau karunia/anugerah luarbiasa untuk menyembuhkan orang sakit atau membangkitkan orang yang sudah mati? Apakah para kudus memiliki kuasa ilahi atau kuasa ajaib yang menyebabkan mereka mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin kita dapat lakukan? Tentu saja tidak! “Rahasia” dari keberhasilan, sukses, atau kehebatan mereka adalah Yesus, Tuhan yang sudah bangkit.

Namun kalau dikatakan sebagai “rahasia”, itu juga tidak sepenuhnya benar. Misalnya Petrus secara terbuka mengatakan kepada Eneas: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” (Kis 9:34). Tidak ada pekerjaan/karya penyembuhan yang dapat terlaksana dengan kekuatan dan upaya manusia, melainkan hanya oleh kuat-kuasa Yesus yang dimohonkan melalui doa. Sebelum membangkitkan Tabita, Petrus menyuruh setiap orang untuk ke luar ruangan, kemudian dia “berlutut dan berdoa” (Kis 9:40). Kita pun dapat berdoa dalam iman, dengan ekspektasi akan hal-hal luarbiasa dari Yesus. Yesus adalah sumber belas kasih (kerahiman) dan penyembuhan dari Siapa Petrus memperoleh kuat-kuasa untuk menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Tabita.

Dalam doa, kita dapat memohon kesembuhan jiwa dan raga bagi diri kita sendiri. Kita dapat berpartisipasi dalam pelayanan penyembuhan Allah dengan berdoa untuk seseorang yang sedang menderita sakit dan/atau membutuhkan pertolongan. Kelihatannya mengandung risiko atau menakutkan, atau bahkan menggoncang diri kita untuk berani melangkah  dan berdoa dengan cara begini. Namun kita akan mulai memohon dengan penuh keyakinan apabila kita berpikir bagaimana Bapa surgawi ingin mencurahkan  kesembuhan dan kasih atas diri kita. Bahkan apabila kita tidak menerima mukjizat-mukjizat yang kita mohon, hal itu bukanlah berarti bahwa ada cacat atau kekurangan dalam iman kita atau iman orang lain. Allah mempunyai alasan-alasan-Nya sendiri. Walaupun begitu, apa pun yang terjadi kita dapat ikut ambil bagian dalam keyakinan para kudus bahwa Dia mendengarkan. Allah akan senantiasa menggunakan sarana yang paling “pas” (hanya Dia yang mengetahui) untuk memenuhi rencana-Nya bagi hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang besar kepadaku, yang memberikan kepadaku keyakinan untuk mendekati-Mu dalm iman dan memohon kesembuhan dari-Mu dalam nama Putera-Mu, Yesus Kristus. Semoga darah-Nya membersihkan diriku selagi Roh Kudus-Mu bergerak dengan penuh kuasa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan dengan judul “YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH” (bacaan tanggal 6-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Mei 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TUBUH KRISTUS

TUBUH KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH – 18 April 2017) 

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!”  Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:11-18) 

Bacaan Pertama: Kis 2:36-41; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-5,18-19,20,22

Sewaktu kedua malaikat bertanya kepda Maria Magdalena, mengapa dia menangis, dia menjawab “Tuhanku telah diambil orang!” (Yoh 20:13). Yang dimaksudkan ialah bahwa jenasah Yesus sudah tidak ada lagi di dalam kubur. Maria Magdalena lebih terpaku memikirkan tubuh (fisik) Yesus ketimbang memperhatikan kedua malaikat yang berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya (Yoh 20:12).

Namun, sewaktu Yesus yang sudah bangkit, yang disangka olehnya sebagai seorang tukang kebun bertanya mengapa dia menangis, Maria Magdalena menjawab bahwa dirinya akan mengambil tubuh Yesus, jika kepadanya diberitahukan di mana tubuh Yesus itu sekarang berada (Yoh 20:15). Beberapa saat kemudian, ketika Yesus menyebut nama Maria, maka Maria Magdalena langsung mau memegang tubuh Yesus (Yh 20:16-17).

Maria Magdalena (Maria dari Magdala) sungguh-sungguh mengasihi Yesus dan tubuh-Nya. Nah, apabila kita bertemu dengan Kristus yang telah bangkit, maka kita harus mengasihi Yesus dalam Tubuh-Nya yang telah mulia di surga, tubuh-Nya di dunia, yaitu Gereja (Ef 5:25), dan tubuh-Nya dalam Ekaristi.

Saudari dan Saudaraku terkasih, marilah kita (anda dan saya) mengenali Yesus yang telah bangkit lewat pelayanan Gereja – tubuh Kristus – dan lewat pemecahan roti (Luk 24:30-31), yakni tubuh Kristus ! Marilah kita mencintai Gereja dan Ekaristi! Seperti Maria Magdalena marilah kita pun harus mencintai tubuh Kristus yang telah bangkit dengan mulia.

DOA: Bapa surgawi, sebelum aku menerima tubuh Kristus yang telah bangkit mulia dalam bentuk hosti kudus di tanganku, perkenankanlah aku dengan iman yang teguh menjawab “amin”, pada saat imam dan/atau petugas pembagi komuni kudus menunjukkan hosti kudus dan mengucap: “Tubuh Kristus!” Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:36-41), bacalah tulisan yang berjudul “HATI MEREKA TERSAYAT” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA 

Cilandak, 17 April 2017 [HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENGAPA ORANG-ORANG ZAMAN INI MEMINTA TANDA?

MENGAPA ORANG-ORANG ZAMAN INI MEMINTA TANDA ?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Senin, 13 Februari 2017)

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Kemudian muncullah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari Dia suatu tanda dari surga. Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”  Ia meninggalkan mereka, lalu Ia naik lagi ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mrk 8:11-13) 

Bacaan Pertama: Kej 4:1-15,25; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1,8,16-17,20-21

Sebagai umat beriman kita mengetahui dan percaya bahwa Yesus adalah Allah, maka kita cenderung luput melihat kenyataan, bahwa sebagai seorang manusia Dia juga mengalami berbagai reaksi dan emosi seperti kita. Mengapa? Karena Dia adalah sungguh Allah, sungguh manusia, sebagaimana diproklamirkan dalam Konsili Kalsedon [451].

Kita dapat terkejut membaca frustrasi Yesus sebagaimana diungkapkan Markus, “Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya” (Mrk 8:12). Akan tetapi, Yesus dapat membaca hati orang (lihat Luk 9:47); Ia tahu bahwa permintaan orang-orang Farisi kepada-Nya untuk menunjukkan sebuah tanda dari surga bukanlah berasal dari pencaharian akan kebenaran, melainkan untuk mencobai Dia (lihat Mrk 8:11). Di sini Yesus dinyatakan sebagai seseorang seperti kita dalam segala hal, bahkan dalam konflik-konflik penuh frustrasi dengan para pemuka agama Yahudi yang tidak percaya.

Dalam Perjanjian Lama, Allah menguatkan iman-kepercayaan umat-Nya dengan memori tentang tanda-tanda di masa lampau (misalnya Keluaran/Exodus dari Mesir), dengan menyediakan kepada mereka tanda-tanda hari ini, dan dengan menyemangati mereka lewat nubuatan-nubuatan akan masa depan. Banyak dari para pemimpin mereka mengharapkan hari-hari mesianis akan memberikan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban, paling sedikit setara dengan yang ada dalam Keluaran (Exodus)  dari Mesir. Berbagai ekspektasi atau pengharapan itu pada umumnya dihubungkan dengan mimpi-mimpi kemenangan atas orang-orang non Yahudi (=kafir).

Dari sudut pandang manusiawi, Yesus barangkali telah mengecewakan pengharapan-pengharapan sedemikian, namun dari sudut pandang spiritual Ia memenuhi pengharapan-pengharapan itu secara sempurna. Yesus meneguhkan keselamatan sejati dalam tanda-tanda mukjizat-Nya dan ditinggikannya Dia dalam kemuliaan di kayu salib (lihat Yoh 3:14; bdk. Bil 21:9). Tidak seperti umat Israel di padang gurun, Yesus menolak mencobai Allah dengan meminta tanda-tanda bagi diri-Nya sendiri atau untuk memuaskan mereka yang meminta tanda-tanda untuk mencobai Dia.

Jikalau kita melihat sikap dari orang-orang yang minta tanda kepada Yesus, dapatkah kita menyadari bahwa kita pun suka bersikap seperti itu? Apakah pengharapan kita dari misi penyelamatan Yesus? Apakah kita menerima dan mengakui bahwa kematian-Nya yang menyelamatkan serta kebangkitan-Nya merupakan tanda tertinggi dalam kehidupan kita? Ataukah kita memang mau mencobai Dia dengan meminta tanda-tanda yang cocok dengan keinginan kita, bukannya  percaya kepada-Nya dan mengakui ketergantungan total kita kepada-Nya. Apakah kita sungguh percaya akan kebenaran sabda-Nya, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat 6:8)? Apakah kehidupan kita menunjukkan kepercayaan seperti itu?

DOA: Bapa surgawi, pada hari ini aku hendak memperbaharui komitmenku untuk percaya secara total kepada kasih-Mu, kurban penebusan Putera-Mu, dan karya penyucian Roh Kudus atas diriku. Ya Allah, aku sadar bahwa aku tidak memerlukan tanda yang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:11-13), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG FARISI MEMINTA DARI YESUS SUATU TANDA DARI SURGA” (bacaan tanggal 13-2-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-2-15 dalam situs/plug SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Februari 2017 [Peringatan S. Skolastika, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS