Posts from the ‘Uncategorized’ Category

SIAPAKAH KITA INI, TUAN ATAU HAMBA?

SIAPAKAH KITA INI, TUAN ATAU HAMBA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Selasa, 14 November 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk – Martir 

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk 17:7-10) 

Bacaan Pertama: Keb 2:23-3:9; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-19

Sebagai siapakah kita mau menempatkan diri dalam perumpamaan ini? Sebagai sang tuan atau hamba? Kecenderungan manusiawi yang ada pada diri kita akan mengatakan: “Sebagai Tuan”. Lagipula ide menjadi seorang hamba sungguh tidak membuat nyaman. Kita begitu biasa memiliki kontrol/kendali – besar atau kecil – atas hidup kita sendiri, dan juga kita sangat enggan untuk setiap saat harus siap melayani orang lain. Misalnya, memang dalam kampanye pemilu dan lain sebagainya, ide pemimpin sebagai pelayan rakyat relatif sering digembar-gemborkan, namun biasanya dilupakan begitu sang kandidat berhasil dipilih.  Sifat masyarakat kita yang masih cenderung feodal itu juga membuat kata-kata Yesus ini terdengar sangat radikal.

Di sisi lain penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah merupakan salah satu ciri pribadi yang kita kagumi dari orang-orang kudus. Maria, Yosef, para martir Kristus di abad-abad pertama sejarah Gereja, para misionaris masa lampau dan lain sebagainya adalah contoh-contoh dari orang-orang yang melakukan tindakan penyerahan-diri secara total kepada kehendak Allah. Mereka semua melepaskan hak-hak mereka atas kehidupan mereka sendiri, dan hanya melakukan apa yang dikehendaki Allah supaya mereka lakukan. Mereka menjadi hamba-hamba yang memberikan hidup mereka kepada Allah dalam berbagai cara. Dengan menjadi milik Yesus Kristus, mereka tidak hanya menemukan sukacita, melainkan juga energi, kasih yang sejati dan ketekunan-tahan-banting seperti ditunjukkan dalam kehidupan mereka. Santo Fransiskus dari Assisi adalah sebuah contoh baik dalam hal ini.

Abad ke-20 mengenal Ibu Teresa yang menunjukkan ciri pribadi seperti yang baru disebutkan. Hidup kemiskinan yang dihayati Ibu Teresa dan para susternya mencakup juga kemiskinan-ketaatan (poverty of obedience), artinya menolak pilihan-pilihan pribadi, semua demi pelayanan total kepada Allah. Ibu Teresa menulis:

“Apabila sesuatu adalah milikku, maka aku memiliki kuasa penuh untuk menggunakannya sesuai dengan keinginanku. Aku milik Yesus; maka Dia dapat melakukan apa saja atas diriku sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Karya kami bukanlah panggilan kami. Aku dapat melakukan karya ini tanpa perlu menjadi seorang biarawati. Profesi kami menyatakan bahwa kami adalah milik-Nya. Oleh karena itu aku siap untuk melakukan apa saja: mencuci, menggosok lantai, membersihkan. Aku seperti seorang ibu yang melahirkan seorang anak. Anak itu miliknya. Semua cuciannya, tetap berjaga di waktu malam, dll. membuktikan bahwa anak itu adalah miliknya. Dia tidak akan melakukan hal-hal ini untuk anak lain, namun dia akan melakukan apa saja untuk anaknya sendiri. Apabila aku adalah milik Yesus, maka aku akan melakukan apa saja bagi Yesus” (Total Surrender, hal. 123).

Seperti Santa Teresa dari Kalkuta dan para kudus yang mendahului kita, kita harus percaya  bahwa segalanya adalah milik Allah, dengan demikian kita berhutang kepada-Nya untuk keberadaan kita. Tidak ada pekerjaan baik dari pihak kita yang dapat menghapus hutang kepada Allah. Namun demikian kita harus yakin bahwa kalau tahun-tahun pelayanan kita yang dilakukan dengan rendah-hati berakhir, maka kita akan memperoleh ganjaran melalui kerahiman-Nya. Ingatlah apa yang dikatakan Yesus: “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang” (Luk 12:37). Maka marilah kita bergabung dengan para kudus yang menemukan sukacita dalam melayani Tuan mereka, Yesus Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah seorang hamba yang taat kepada Bapa-Mu melalui kasih yang sempurna. Tolonglah aku untuk mengenal dan mengalami kasih-Mu dalam doa-doa dan tindakan-tindakanku. Tuhan Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu, agar melalui aku orang-orang lain dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 14-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggaal 8-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

HARTA-KEKAYAAN BERKEMUNGKINAN BESAR MENJADI TUAN KITA

HARTA-KEKAYAAN BERKEMUNGKINAN BESAR MENJADI TUAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Martinus dr Tours – Sabtu, 11 November 2017) 

Aku berkata kepadamu: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, mendengar semua ini, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk 16:9-15) 

Bacaan Pertama: Rm 16:3-9,16,22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-5,10-11

Yesus mempunyai cara-Nya sendiri untuk mengkaitkan prinsip-prinsip teoritis dengan hidup-praktis, hal mana terkadang membuat orang merasa tidak nyaman. Pada zaman kita sekarang, misalnya, banyak orang merasa tidak nyaman kalau masalah keuangan dimunculkan berbareng dengan hal-ikhwal hidup rohani. Hidup Kristiani menuntut bagaimana kita harus berurusan dengan uang dan selalu memeriksa batin kita apakah ada keserakahan dalam keputusan yang kita ambil dalam bidang keuangan.

Ada hal-hal yang kita tidak ingin periksa karena bersifat terlalu pribadi; hal-hal tersebut menyentuh kita dengan begitu mendalam. Sebagian besar dari kita sebenarnya memiliki sifat self-focuced, self-centered, berpusat pada diri sendiri; berpikir, bersikap dan bertindak-tanduk demi kepentingan pribadi. Hal seperti ini jelas akan membatasi kemampuan kita untuk melihat diri kita sebagai anggota-anggota dari sebuah komunitas yang lebih besar, sebuah komunitas yang mencakup baik orang-orang miskin maupun kaya. Kata-kata Yesus di atas sungguh relevan untuk para murid-Nya yang dapat digolongkan sebagai kaum miskin, demikian pula untuk mereka yang kaya. Kata-kata-Nya tetap berlaku pada zaman kita ini, berlaku bagi setiap orang.

Yesus memberi peringatan, bahwa harta-kekayaan berkemungkinan besar menjadi tuan kita. Kebanyakan orang mau berpikir bahwa mereka memiliki sikap rasional terhadap peranan harta-kekayaan. Namun pada kenyataannya kuasa uang lebih kuat, sehingga menjadi tuan. Kita tidak dapat menyangkal bahwa uang memiliki kuasa yang begitu kuat, sehingga secara relatif mudah dapat memperbudak orang-orang. Ingatlah rekaman pembicaraan telepon-tersadap yang masih menjadi isu hangat pada hari-hari ini. Lihat bagaimana para pejabat negara yang biasanya tampak angker-menakutkan di depan rakyat kebanyakan, terasa tidak lebih dari budak-budak di hadapan seorang pengusaha-gelap yang mempunyai uang.

Tanyakanlah kepada siapa saja yang anda temui, siapa yang merasa sudah cukup mempunyai uang? Yesus mengatakan bahwa orang-orang Farisi itu adalah hamba-hamba uang (Luk 16:14), meskipun mereka menyangkal kenyataan itu. Nah, pertanyaan yang pantas kita tanyakan kepada diri kita masing-masing sekarang: “Apakah aku lebih baik dari orang-orang Farisi?” Sampai hari ini peringatan dari Yesus tentang kenyataan bahwa uang itu berkompetisi dengan Allah untuk menjadi tuan kita, tetap menggelisahkan banyak orang. Tidak sedikit orang merasa terganggu karena pernyataan Yesus ini, oleh karena itu diam-diam berpindah ke agama/kepercayaan yang lebih dapat mengakomodir keyakinannya tentang fungsi harta-kekayaan dalam kehidupan seseorang.

Sebagai seorang Kristiani kita harus menghadapi isu ini dengan berdiri-tegak. Apakah harta-kekayaan yang sesungguhnya menjadi tuan kita, dan bukannya Allah? Apakah tidak adanya uang menjadi suatu halangan bagi kita dalam menghayati hidup Kristiani? Tidak ada jawaban yang sama untuk setiap situasi. Dari waktu ke waktu kita dapat memiliki sikap yang mendua. Oleh karena itu perlulah untuk kita melakukan pemeriksaan batin di hadapan Allah setiap hari, teristimewa dalam Ibadat Penutup di malam hari, mohon ampun atas dosa-dosa kita dan berketetapan hati untuk kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, terangilah kegelapan hatiku, ubahlah hatiku dan berikanlah kepadaku hati dan pikiran Kristus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:9-15), bacalah tulisan berjudul “BEBERAPA CATATAN DARI BAB [PASAL] TERAKHIR SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI ROMA” (bacaan tanggal 11-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11  BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2017 [Peringatan B. Assunta Pallota, FMM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK ADA YANG BERADA DI LUAR JANGKAUAN KASIH-NYA

TIDAK ADA YANG BERADA DI LUAR JANGKAUAN KASIH-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV  – Jumat, 22 September 2017)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Ignatius dr Shanti, Imam Biarawan 

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 8:1-3) 

Bacaan Pertama:  1Tim 6:2c-12; Mazmur Tanggapan: 49:6-10,17-20 

Pikiran dan rancangan Allah memang tidak pernah dapat ditebak oleh akal-budi manusia yang sungguh terbatas. Dengan Allah, hal-hal yang diharapkan tidak terjadi dan hal-hal yang tidak diharapkan dan tidak dibayangkan justru dialami: “Sebab, rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN [YHWH]” (Yes 55:8).

Pada waktu Yesus menjadi seorang manusia dan tinggal di tengah-tengah kita, Dia memperlebar batasan-batasan dari apa yang diharapkan orang dari seorang Mesias. Ia berjalan ke banyak tempat “memberitakan Injil Kerajaan Allah” (Luk 8:1). Injil atau Kabar Baik yang diberitakan-Nya sungguh mengejutkan sekaligus menggembirakan: Allah menginginkan keselamatan bagi setiap orang – tidak hanya yang “pantas”, yang saleh dalam praktek keagamaan, melainkan setiap orang yang ada.

Hal seperti ini sungguh sukar dicerna oleh orang-orang Yahudi, umat pilihan Allah. Gagasan bahwa Allah harus menebus bangsa-bangsa – bahkan yang tak bermoral, kafir – sungguh tidak terpikirkan oleh mereka. Akan tetapi, kenyataannya hal ini memang benar, sampai hari ini. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari kasih Allah atau hasrat-Nya untuk syering hidup-Nya secara pribadi dan akrab. Tidak ada seorang pun yang hidup dalam dunia ini berada diluar jangkauan kasih Allah atau begitu “terbenam” dalam kedosaan yang tidak mampu ditebut oleh kuasa-Nya.

Kedua belas rasul dan beberapa orang perempuan yang ikut dalam misi Yesus (Luk 8:2) bukanlah yang diharap-harapkan orang dari sebuah rombongan seorang Raja-Mesias. Beberapa orang ex-nelayan, seorang ex-pemungut cukai, seorang ex-Zeloti, sejumlah perempuan dengan berbagai macam latar belakang dst. – kebanyakan mereka miskin, tersisihkan secara sosial, bukan “orang-orang sekolah dalam hal agama” – semua ini sungguh bertolak-belakang dengan adat-istiadat dan nilai-nilai yang dianut bangsa Yahudi, namun pada saat yang sama merupakan suatu testimoni tentang hikmat-kebijaksanaan dan jalan Allah yang tak terbayangkan. Hikmat kebijaksanaan  Allah memporak-porandakan batasan-batasan akal-budi kita, dan dalam Yesus, Ia mendamaikan orang-orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi (kafir), yang kaya dan miskin, yang sehat maupun yang kurang/tidak sehat, yang  benar dan berdosa, seringkali dengan cara-cara yang tak terbayangkan.

Dalam Yesus, Kerajaan Allah terbuka untuk siapa saja: wong cilik dan yang termarginalisasi, yang ternama dan berpengaruh. Ada suatu sukacita yang datang dari pelebaran batasan-batasan manusiawi kita: Kegembiraan yang meluap-luap dalam kasih Allah selagi hal itu memancarkan cahaya lewat kegelapan harapan-harapan kita yang terbatas.

Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita akan mengajar kita kebenaran tentang Yesus. Kebenaran ini – realitas-realitas dan pemikiran-pemikiran Allah Yang Mahakuasa – bukanlah sesuatu yang dapat ketahui dan pahami berdasarkan kekuatan kita sendiri. Hal tersebut secara lengkap-total berada di luar jangkauan akal-budi kita, dengan demikian kita sungguh membutuhkan Roh Kudus untuk membimbing kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13). Oleh karena itu, baiklah kita setiap hari berpaling kepada-Nya agar dapat memperoleh hikmat-kebijaksanaan dan pengetahuan yang datang dari Allah saja.

DOA: Tuhan Yesus, hancurkanlah segala pemikiran yang penuh dengan praduga dan bias-bias yang ada dalam diriku, sehingga dengan demikian aku dapat berpikir seperti Engkau berpikir, mengasihi seperti Engkau mengasihi, dan memilih cara-cara dan rencana-rencana yang Engkau telah tentukan sejak kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA MENGIKUTI-NYA” (bacaan tanggal 22-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-9-16 dalam situsblog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CELAKALAH, HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK

CELAKALAH, HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Rabu, 30 Agustus 2017) 

Celakalah kamu, hal ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, lengkapilah juga apa yang sudah dilakukan nenek moyangmu! (Mat 23:27-32) 

Bacaan Pertama: 1Tes 2:9-13;  Mazmur Tanggapan: Mzm 139:7-12 

Bacaan Injil hari ini terdiri dari dua ucapan Yesus yang terakhir dari keseluruhan tujuh “ucapan celaka” yang diucapkan-Nya terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dalam ketujuh “ucapan celaka” tersebut, Yesus menamakan mereka sebagai “orang-orang munafik”.

Yesus biasanya bersikap sangat baik hati dan penuh pengampunan terhadap para pendosa. Mengapa sikap ini berubah secara tiba-tiba dalam hal dosa kemunafikan? Yesus jelas melihat para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu memiliki sedikit sekali niat atau kecenderungan untuk menerima kesalahan mereka, sedikit hasrat untuk melakukan pertobatan sejati. Yesus melihat bahwa satu-satunya pendekatan adalah dengan menggunakan caci-maki yang terasa keras-kuat. Barangkali Yesus telah melihat adanya kebutuhan dalam diri kita dan semua orang yang mengikuti-Nya. Yesus ingin menunjukkan kepada kita  betapa buruknya kemunafikan itu.

Oleh karena itu Tuhan Yesus menjuluki para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sama seperti kuburan yang dicat putih, indah dilihat bagian luarnya, namun di dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Sampai hari ini pun kuburan di Palestina dicat putih, suatu praktek sejak lebih dari 2.000 tahun lalu. Kuburan yang dicat dengan warna putih akan membantu mengidentifikasi kuburan tersebut.

Dari sinilah muncul istilah white-washing yang berarti menutup-nutupi sesuatu (cover up). Terkait dengan orang-orang Farisi, Yesus mengatakan bahwa kepatuhan pada hukum sebenarnya merupakan cover up untuk sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan Hukum dan semangatnya.

Lihatlah, betapa sering kita cenderung untuk melakukan cover up atas kegagalan-kegagalan kita, bahkan dosa-dosa kita. Kita mencoba untuk menyembunyikan kesalahan-kesalahan kita agar kita terlihat sebagai “orang benar” di mata orang-orang lain, padahal selama itu kita sendiri sangat tahu bahwa kita tidak jujur, kita takut ketahuan. Artinya, kita hidup tanpa kedamaian di dalam hati.

Mengakui kesalahan-kesalahan kita adalah jauh lebih baik, demikian pula memohon pengampunan atas dosa-dosa kita, dan kemudian kita pun disembuhkan. Kita membutuhkan penyembuhan dan pengampunan dari Kristus dan juga antara orang satu sama lain. Namun hanya dengan keterbukaan yang jujur kita dapat mengharapkan untuk menerima penyembuhan dan pengampunan.

DOA: Tuhan Yesus, aku mohon belas kasih-Mu dan pengampunan-Mu. Sembuhkanlah aku dari segala ketidakjujuran dan segala kecemasan yang diakibatkannya.

Cilandak, 28 Agustus 2017 [Peringatan S. Augustinus dr Hippo, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMANLAH YANG DIPERLUKAN

IMANLAH YANG DIPERLUKAN     

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Sabtu, 12 Agustus 2017) 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Lalu kata Yesus, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka, “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:14-20) 

Bacaan Pertama: Ul 6:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4, 47,51

Ketika Petrus, Yakobus, dan Yohanes berada di atas gunung menyaksikan transfigurasi Yesus, ada hal-hal yang tidak beres atau tidak berjalan dengan semestinya yang dihadapi di bawah sana. Seorang laki-laki telah  membawa anaknya kepada para murid itu agar disembuhkan, dan para murid tersebut ternyata tidak mampu menyembuhkan anak laki-laki yang sakit ayan itu (Mat 17:16). Pada saat Yesus sudah kembali ke bawah dan mendengar apa yang telah terjadi, maka Dia menegur pada murid-Nya perihal ketidakpercayaan mereka. Kemudian Yesus mengusir roh jahat yang merasuki anak itu dan menyembuhkannya.

Ketika para murid bertanya kepada Yesus mengapa mereka tidak mampu mengusir roh jahat dari anak itu, kembali Yesus mengemukakan ketiadaan iman-kepercayaan mereka. Yang jelas dan pasti adalah bahwa hari itu bukanlah hari yang baik bagi para rasul!

Namun kemudian Yesus berjanji – sebuah janji yang akan mengangkat para murid dari self-pity mereka – dan Ia juga memberi mereka pengharapan: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sama, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu”  (Mat 17:20). Janji ini tidak hanya diperuntukkan bagi para murid Yesus yang pertama, melainkan bagi kita juga. Kadang-kadang perhatian dan susah hati kita dapat memperlemah iman kita. Pengharapan kita dapat menyusut dan membuat kita merasa tidak berdaya dalam menghadapi kesulitan. Situasi-situasi yang memberi tantangan semakin menekan kita dan kita merasa jauh dari Tuhan. Ini adalah waktu-waktu dimana kita harus berpegang teguh pada janji Yesus yang tak tergoyahkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki benih iman yang paling kecil sekalipun.

Bagaimana caranya kita memelihara bahkan sisa-sisa iman? Iman adalah karunia Allah, namun iman membutuhkan tanggapan kita. Dan barangkali tidak ada cara yang lebih efektif untuk membangun iman daripada datang menghadap hadirat-Nya dalam doa.

Walaupun kedengarannya mengecilkan hati – bahkan menakutkan – hal berdoa itu sesungguhnya cukup mudah. Yang harus kita lakukan adalah mencoba sebaik-baiknya untuk menghilangkan distraksi-distraksi (pelanturan-pelanturan) dan berkonsentrasi pada Yesus. Kita hanya perlu memusatkan pandangan kita pada kasih-Nya dan atas hasrat mendalam yang dimiliki-Nya untuk memberikan segalanya yang kita butuhkan untuk hidup dalam kekudusan. Yesus sangat ingin melihat bahwa kita mempunyai iman yang lebih, dan Ia bahkan sangat berhasrat untuk mencurahkan segala rahmat yang kita butuhkan agar bertumbuh dalam iman dan melihat bahwa iman itu bertumbuh dan bertumbuh – seperti pohon sesawi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah diriku agar dapat memusatkan pandanganku pada-Mu, bukan pada diriku sendiri. Berikanlah kepadaku suatu pemahaman yang segar tentang kasih-Mu bagiku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu sehingga dengan demikian aku akan berjalan dengan/oleh iman dan menjadi saksi-Mu bagi dunia yang sangat membutuhkan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEBESAR BIJI SESAWI” (bacaan tanggal 12-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Agustus 2017 [Pesta S. Laurensius, Diakon Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMAN AKAN SENTUHAN YESUS

IMAN AKAN SENTUHAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Senin, 10 Juli 2017)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick dkk., Martir

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata, “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu disuruh keluar, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Dan tersebarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu. (Mat 9:18-26) 

Bacaan Pertama: Kej 28:10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-4,14-15  

Dalam bacaan Injil hari ini kita menemukan dua mukjizat yang dinarasikan. Ada sesuatu yang sangat serupa antara dua mukjizat tersebut, yaitu berkaitan dengan sentuhan Kristus dan iman akan sentuhan-Nya. Seorang pemimpin sinagoga datang kepada Yesus, menyembah-Nya, dan memohon kepada-Nya: “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup” (Mat 9:18). Dengan imannya yang sederhana namun mantap, pemimpin sinagoga itu percaya, bahwa apabila Yesus datang ke rumahnya dan menyentuh anaknya, maka dia akan hidup kembali. Dengan iman pemimpin sinagoga itu melihat bahwa Yesus Kristus mempunyai kuasa atas hidup dan mati. Imannya akan sentuhan Yesus Kristus memperoleh ganjarannya, karena pada saat Ia sampai dan masuk ke dalam rumah si pemimpin sinagoga Yesus “memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu” (Mat 9:23-25).

Di sisi lain, perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita sakit pendarahan menunjukkan iman besar pada sentuhan Yesus Kristus yang menyembuhkan itu. Ia berkata dalam hatinya: “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh” (Mat 9:21). Lagi-lagi imannya yang besar itulah yang menyembuhkan penyakitnya. Yesus bersabda kepada perempuan itu: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:22). Inilah tanggapan Yesus  terhadap iman perempuan itu akan sentuhan-Nya.

Dalam tindakan-tindakan Yesus yang menentukan itu kita melihat bahwa Dia sungguh ingin menyentuh orang-orang secara pribadi dan membawa rahmat dan belas kasih-Nya bagi mereka. Dalam Injil Lukas kita membaca: “Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu” (Luk 6:18-19; bdk. Mat 4:23-24).

Inilah sebabnya mengapa Tuhan kita datang ke tengah dunia, agar iman kita dapat mencapai titik di mana kita dapat menyentuh Dia, agar kuasa-Nya dan kebaikan-Nya dapat keluar untuk menyentuh kita.

Selama hidup-Nya di tengah dunia, Yesus datang berkontak dengan orang-orang beriman lewat kehadiran-Nya secara fisik, sabda-Nya, tindakan-tindakan-Nya. Dia ingin dan merencanakan untuk melanjutkan kehadiran-Nya oleh sabda/kata-kata dan tindakan-tindakan-Nya. Dalam sakramen-sakramen, Yesus melanjutkan sentuhan-sentuhan-Nya; lewat sabda dan tindakan-tindakan-Nya, sama seringnya dengan pendekatan kita kepada-Nya dalam iman.

Dalam Ekaristi Kudus, Kristus ada di tengah-tengah kita untuk menyentuh kita secara fisik, untuk memberi makan kepada kita dan membuat diri kita menjadi kudus. Dalam Sakramen Rekonsiliasi, kata-kata Yesus adalah untuk mengampuni dan menyembuhkan kita. Kita mendengar semua itu melalui seorang imam. Dalam Gereja-Nya, kuasa Yesus Kristus, sabda-Nya, tindakan-tindakan-Nya terus berlanjut untuk menyentuh kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Mesias dari Allah yang memberikan hidup kepada semua orang, baik orang besar maupun kecil di mata masyarakat. Aku menaruh kepercayaanku pada janji-Mu dan datang kepada-Mu dalam iman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:18-26), bacalah tulisan yang berjudul “DISELAMATKAN KARENA IMAN” (bacaan tanggal 10-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Juli 2017 [Peringatan S. Maria Goretti, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA

YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu,  6 Mei  2017) 

Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.

Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida. Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Kata Petrus kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangkitlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Karena Lida dekat dengan Yope, murid-murid yang mendengar bahwa Petrus ada di Lida, menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan, “Segeralah datang ke tempat kami.”  Lalu berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersebar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. (Kis 9:31-42)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-17; Bacaan Injil: Yoh 6:60-69 

Petrus  berkata kepada Eneas yang lumpuh untuk bangkit dan memberesi tempat tidurnya, dan orang lumpuh itu sembuh seketika (Kis 9:33-34). Kemudian di Yope Petrus berdoa dan kemudian mengatakan kepada jenazah Tabita: “Tabita, bangkitlah!”; maka Tabita yang sudah mati itu bangkit dan hidup lagi (Kis 9:36-41). Sungguh merupakan mukjizat-mukjizat menakjubkan yang dilakukan Petrus dan para murid Yesus lainnya. Jika kita lihat sejarah Gereja – khususnya sejarah para kudus – maka kita dapat membaca cerita-cerita tentang S. Fransiskus dari Assisi, S. Antonius dari Padua, S. Padre Pio dari Pietrelcina, Santo Don Bosco, dll. yang berdoa dengan penuh kuat-kuasa untuk menyembuhkan, baik ketika mereka masih hidup di atas bumi dan bahkan setelah mereka wafat. Cerita-cerita itu cukup untuk membuat anda menjadi takjub dan terkesima. Apakah para kudus itu mengetahui sesuatu yang kita tidak tahu?

Kebenarannya adalah bahwa di belakang setiap mukjizat, ada sumber unik yang sama: Yesus Kristus. Apakah Petrus sendiri memiliki sejumlah talenta atau karunia/anugerah luarbiasa untuk menyembuhkan orang sakit atau membangkitkan orang yang sudah mati? Apakah para kudus memiliki kuasa ilahi atau kuasa ajaib yang menyebabkan mereka mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin kita dapat lakukan? Tentu saja tidak! “Rahasia” dari keberhasilan, sukses, atau kehebatan mereka adalah Yesus, Tuhan yang sudah bangkit.

Namun kalau dikatakan sebagai “rahasia”, itu juga tidak sepenuhnya benar. Misalnya Petrus secara terbuka mengatakan kepada Eneas: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” (Kis 9:34). Tidak ada pekerjaan/karya penyembuhan yang dapat terlaksana dengan kekuatan dan upaya manusia, melainkan hanya oleh kuat-kuasa Yesus yang dimohonkan melalui doa. Sebelum membangkitkan Tabita, Petrus menyuruh setiap orang untuk ke luar ruangan, kemudian dia “berlutut dan berdoa” (Kis 9:40). Kita pun dapat berdoa dalam iman, dengan ekspektasi akan hal-hal luarbiasa dari Yesus. Yesus adalah sumber belas kasih (kerahiman) dan penyembuhan dari Siapa Petrus memperoleh kuat-kuasa untuk menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Tabita.

Dalam doa, kita dapat memohon kesembuhan jiwa dan raga bagi diri kita sendiri. Kita dapat berpartisipasi dalam pelayanan penyembuhan Allah dengan berdoa untuk seseorang yang sedang menderita sakit dan/atau membutuhkan pertolongan. Kelihatannya mengandung risiko atau menakutkan, atau bahkan menggoncang diri kita untuk berani melangkah  dan berdoa dengan cara begini. Namun kita akan mulai memohon dengan penuh keyakinan apabila kita berpikir bagaimana Bapa surgawi ingin mencurahkan  kesembuhan dan kasih atas diri kita. Bahkan apabila kita tidak menerima mukjizat-mukjizat yang kita mohon, hal itu bukanlah berarti bahwa ada cacat atau kekurangan dalam iman kita atau iman orang lain. Allah mempunyai alasan-alasan-Nya sendiri. Walaupun begitu, apa pun yang terjadi kita dapat ikut ambil bagian dalam keyakinan para kudus bahwa Dia mendengarkan. Allah akan senantiasa menggunakan sarana yang paling “pas” (hanya Dia yang mengetahui) untuk memenuhi rencana-Nya bagi hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang besar kepadaku, yang memberikan kepadaku keyakinan untuk mendekati-Mu dalm iman dan memohon kesembuhan dari-Mu dalam nama Putera-Mu, Yesus Kristus. Semoga darah-Nya membersihkan diriku selagi Roh Kudus-Mu bergerak dengan penuh kuasa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan dengan judul “YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH” (bacaan tanggal 6-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Mei 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS