Posts from the ‘Uncategorized’ Category

ANGGUR BARU TIDAK DITUANG KE DALAM KANTONG KULIT TUA

ANGGUR BARU TIDAK DITUANG KE DALAM KANTONG KULIT TUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Sabtu, 7 Juli 2018)

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Mat 9:14-17) 

Bacaan Pertama: Am 9:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:11-14 

Yohanes Pembaptis dan murid-murid-Nya menjalani suatu kehidupan asketis. Ia datang ke tengah-tengah masyarakat untuk memanggil banyak orang untuk menyesali dosa-dosa mereka  dan melakukan pertobatan. Oleh karena sangatlah pantas bahwa mereka harus melakukan puasa. Akan tetapi, para murid Yohanes seakan menghadapi sebuah teka-teki mengapa para murid Yesus tidak berpuasa.

Dalam jawaban-Nya, Yesus menggunakan bahasa figuratif namun maknanya jelas. Berpuasa adalah sebuah tanda berduka-cita, kesedihan, atau pertobatan. Tentunya hal sedemikian tidak cocok atau layak pada sebuah pesta pernikahan. Sementara Yesus – sang mempelai laki-laki – bersama dengan para undangan-Nya, maka yang ada haruslah sukacita, suatu suasana penuh kebebasan dan cintakasih.

Berpuasa adalah sebuah tindakan yang baik, namun harus dilakukan secara bebas dan layak dari sudut waktu, tempat dan cara puasa itu dilaksanakan. Berpuasa tidak pernah boleh menjadi tujuan, berpuasa hanyalah sarana atau alat guna mencapai tujuan.

Yesus terus berbicara tentang keseluruhan cara hidup baru yang sedang diperkenalkan-Nya. Yesus membuat jelas bahwa Dia bukanlah sekadar menyelipkan di sana-sini ide-ide baru, interpretasi-interpretasi baru dari Hukum Lama. Yesus berkata, “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua. … Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua” (Mat 9:16,17). Dengan cara yang sama, Pesan Yesus tidak boleh kita campur-adukkan dengan Hukum Lama. Injil-Nya, Kabar Baik-Nya adalah berita atau kabar yang seluruhnya baru. Yesus ingin untuk menempatkan kita ke dalam suatu relasi dengan Allah yang seluruhnya baru, suatu relasi persahabatan dan cintakasih dan bukannya relasi yang dipenuhi dengan rasa takut.

Kita juga telah dipanggil ke dalam suatu hidup baru. Melalui pembaptisan kita dilahirkan kembali. Kiranya Allah telah memberikan kepada kita suatu semangat yang diperbaharui dalam iman kita, suatu relasi cintakasih dengan Dia. Oleh karena itu mengapa kita harus terus berpegang erat-erat pada hal-hal yang lama? Mengapa kita harus mencoba untuk merekonsiliasikan cara-cara kita yang lama – kepentingan-kepentingan diri sendiri dan bersifat duniawi – dengan panggilan Tuhan kepada hidup baru? Kita harus mati terhadap diri kita yang lama dan tidak mencoba untuk berkompromi.

DOA: Yesus Kristus, oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu buatlah baptisan kami menjadi hidup. Buatlah segala sesuatu baru karena kami hidup di bawah hukum cintakasih yang Kauajarkan kepada kami para murid-Mu. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus Kristus, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-17), bacalah tulisan yang berjudul “HAL-IKHWAL BERPUASA” (bacaan tanggal 7-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Juli 2018 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu, Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MENGHASILKAN BUAH-BUAH YANG BAIK

MENGHASILKAN BUAH-BUAH YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 27 Juni 2018)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: 2Raj 22:8-13;23:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:33-37,40

Pada waktu Yohanes Pembaptis mengirim pesan kepada Yesus dengan perantaraan dua orang murid-Nya apakah Dia adalah sang Mesias, Yesus sebenarnya dapat saja mengatakan secara sederhana dan singkat: “Ya”. Ternyata Yesus mengundang Yohanes Pembaptis untuk mempertimbangkan bukti-bukti yang ada: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar; Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dari kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22). Dengan perkataan lain, kepada Yohanes Pembaptis diberitahukan agar menerapkan pada diri Yesus tolok ukur yang telah diajarkan Yesus sebagai cara untuk membedakan antara nabi-nabi yang baik dan nabi-nabi palsu: Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16).

Pengujian “buah-buah” merupakan suatu reality check yang baik juga bagi kita. Kita semua mengetahui bahwa kita seharusnya menjadi “terang dunia” (Mat 5:14). Namun kita juga tahu bahwa sekadar berbicara itu sangatlah mudah.  Masalah sesungguhnya adalah, apakah tindakan-tindakan kita mendukung kata-kata yang kita ucapkan. Dalam kesaksian di dalam keluarga kita sendiri dan bagi dunia sekeliling kita, apakah terdapat kecocokan antara apa yang kita ucapkan dengan apa yang kita lakukan secara nyata? Apabila kita adalah orangtua yang sedang membesarkan anak-anak, apakah kita mempraktekkan apa yang kita khotbahkan?

Apabila kita berbicara mengenai pembentukan nurani, ekspektasi, dan kebiasaan anak-anak kita, maka  keteladanan orangtua itu penting secara unik. Akan tetapi, bagi anak-anak untuk benar-benar  memahami pesannya, maka pesan itu harus dikomunikasikan oleh orang-orang dewasa lainnya. Jadi apabila diriku adalah seorang kakek, bibi atau paman, pendidik, atau sekadar seorang dewasa yang mempunyai keprihatinan terhadap generasi mendatang, apakah “buah-buah” dari teladan yang kuberikan itu konsisten dengan kata-kata yang kuucapkan? Apakah aku berdoa bagi kehidupan keluarga? Bagaimana pula dengan kontak-kontakku dengan tetangga-tetanggaku, para kolegaku di tempat kerja dan sahabat-sahabatku? Apabila  aku ingin agar mereka mengetahui dan mengenal kebesaran kasih Allah, maka bagaimana penghayatan hidupku sehari-hari harus mengungkapkan hal itu? Terkait dengan pokok ini, Santo Bonaventura dan Beato Thomas dari Celano menulis tentang Santo Fransiskus dari Assisi seperti berikut: “Karena dia sendiri mempraktekkan lebih dahulu dalam perbuatan apa yang hendak dianjurkannya kepada orang-orang lain dalam khotbahnya, maka ia tidak takut akan pengecam dan mewartakan kebenaran dengan penuh keyakinan” (LegMaj XII:8; bdk. 1Cel 36).

Buah-buah yang baik berarti akar-akar yang baik. Yesus ingin agar kita berakar dalam diri-Nya setiap hari, tidak hanya melalui doa-doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, juga dengan memperkenankan Dia memangkas kita layaknya ranting-ranting anggur. Dengan mempraktekkan cara mendengarkan secara aktif, kita dapat tetap menangkap bisikan Roh Kudus. Janganlah sampai kita mengabaikan suara-Nya ketika Dia berbicara mengenai hal-hal yang perlu kita ubah atau tinggalkan!  Baiklah kita hidup dalam cara yang membuat kita saksi-saksi profetis di tengah dunia! Dengan demikian kita semua akan menghasilkan buah secara berlimpah – buah yang tetap (Yoh15:16).

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahatahu, selidikilah hatiku. Tolonglah aku mencabut sampai ke akar-akarnya segala dosa yang Kaunyatakan. Pimpinlah aku dalam jalan hidup yang berbuah, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK” (bacaan tanggal 27-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUBUH DAN DARAH KRISTUS

TUBUH DAN DARAH KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 3 Juni 2018)

 

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya, “Ke mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan, “Pergilah ke kota; di sana seorang yang membawa kendi berisi air akan menemui kamu. Ikutilah dia dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: Di manakah ruangan tempat Aku akan makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku? Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!” Kedua murid itu pun berangkat dan setibanya di kota, mereka dapati semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, “Ambillah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.” (Mrk 14:12-16,22-26) 

Bacaan Pertama: Kel 24:3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: Ibr 9:11-15

Perjamuan Terakhir berhubungan erat dengan peristiwa penggandaan roti (dan ikan) (Mrk 6:30-44; 8:1-10) di mana Yesus memberi makan kepada ribuan orang yang mengikuti-Nya. Mukjizat-mukjizat ini dan Perjamuan Terakhir berbicara tentang roti. Dalam peristiwa penggandaan roti dan Perjamuan Terakhir, para murid memberikan rekomendasi kepada Yesus (lihat Mrk 6:35-36; 14:12), tetapi kali ini Yesus menerima usul mereka (Mrk 14:15).

Kata-kata “ambillah”, “mengucap syukur”, “memecah-mecahkan”, “memberikan” (Mrk 6:41; 8:6; 14:22) merupakan kata-kata yang telah melembaga dan sangat kita kenal serta menggemakan mukjizat penggandaan roti.

Perjamuan Terakhir juga dihubungkan dengan kematian Yesus. Tubuh yang dibagikan Yesus kepada para murid/pengikut-Nya (Mrk 14:22) telah diminyaki untuk pemakaman-Nya (Mrk 14:8). Cawan penderitaan-Nyalah (Mrk 10:39; 14:36) yang diberikan-Nya kepada para murid-Nya untuk diminum (Mrk 14:23).

Dengan demikian bacaan hari ini memberikan kepada kita dua pemikiran mendasar tentang Ekaristi. Sebagaimana pemberian makan kepada ribuan orang, Ekaristi merupakan cara Yesus memberi makan kepada orang-orang yang datang untuk mendengarkan sabda-Nya, suatu sumber kekuatan bagi kita yang mungkin datang dari tempat yang jauh” (bdk. Mrk 8:3). Kemudian, dalam Ekaristi kita mengambil bagian dalam kurban kematian Yesus. Makan dan minum dalam Ekaristi memperdalam persatuan kita dengan Allah, dan juga satu sama lain, karena kita menerima tubuh dan darah Kristus yang mati untuk kita. Ekaristi memperbaharui relasi Allah dengan kita yang telah diperoleh Yesus dengan kematian-Nya di kayu salib (Mrk 14:24).

Para murid tidak memahami apa yang dilakukan oleh Yesus ketika Dia memberi makan ribuan orang (lihat Mrk 8:17-21). Pada saat itu mereka tidak dapat mengerti, karena pemberian makan itu menunjuk kepada Perjamuan Terakhir, dan hal ini tidak dapat dipahami jika terlepas dari kematian Yesus di kayu salib.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri: “Setiap kali aku ikut serta dalam Perayaan Ekaristi, apakah aku mengingat kembali peristiwa pemberian makan kepada ribuan oleh Yesus dan juga akan kematian-Nya di kayu salib?

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau memberikan diri-Mu dalam Ekaristi. Terima kasih sedalam-dalamnya juga karena Engkau memperbaharui perjanjian-Mu dengan kami setiap kami merayakan Ekaristi. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 14:12-16,22-26), bacalah tulisan yang berjudul “MAKNA BARU DARI PERJAMUAN PASKAH” (bacaan tanggal 3-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

Cilandak, 2 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

(Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 14:12-16,22-26), bacalah tulisan yang berjudul “TUBUH DAN DARAH KRISTUS” (bacaan tanggal 3-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

Cilandak, 2 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KATA-KATA KERAS YESUS

KATA-KATA KERAS YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Kamis, 24  Mei 2018)

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan.

Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?

Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” (Mrk 9:41-50) 

Bacaan Pertama: Yak 5:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 49:14-20

Dalam bacaan hari ini kita melihat sebuah koleksi dari kata-kata keras Yesus, yang satu sama lain terhubung secara lepas. Sebagian besar kata-kata keras ini merupakan peringatan-peringatan terkait skandal, menyebabkan orang lain berdosa, dan sebab-sebab dari dosa yang melibatkan diri kita. Kelompok ketiga dari kata-kata keras ini mengacu kepada berbagai macam penderitaan dan penganiayaan yang harus dilalui/dialami oleh para murid Yesus dalam hidup mereka di dunia.

Apa yang dikatakan Yesus adalah bahwa kita harus memegang prioritas-prioritas kita dengan tegas. Kita harus mempunyai nilai keselamatan jika kita mau menghindari segala sesuatu yang menyebabkan nilai keselamatan tersebut menjadi berantakan, baik dalam kehidupan orang-orang lain maupun dalam kehidupan kita sendiri.

Untuk menanamkan hal ini dalam diri para murid-Nya (termasuk anda dan saya di abad ke-21 ini), Yesus menggunakan beberapa imaji yang sangat kuat. Misalnya, “Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut” (Mrk 9:42). “… setiap orang akan digarami dengan api” (Mrk 9:49). Murid-murid Yesus yang sejati akan ditempa dan dikuatkan melalui pengejaran dan penganiayaan. Ketika Markus mencatat kata-kata Yesus ini, sangat mungkin bahwa umat Kristiani telah mengalami berbagai pengejaran dan penganiayaan. Inilah yang membuat kata-kata Yesus sungguh relevan bagi kita semua, para murid-Nya.

Apakah kita menyadari bahwa ada kemungkinan kata-kata kita atau tindakan-tindakan kita menggiring seseorang ke dalam jurang dosa? Yesus menginginkan agar kita melihat dengan sungguh-sungguh peri kehidupan kita. Apakah kita senantiasa memberikan pengaruh positif atas diri orang-orang lain?

Bagaimana dengan prioritas-prioritas kita? Kita mengetahui bahwa hal-hal tertentu, kegiatan-kegiatan tertentu adalah dosa. Apakah kita cukup memberi nilai atas relasi kita dengan Tuhan guna menghindari hal-hal dan kegiatan-kegiatan dimaksud dengan penuh kesadaran?

Memang kini kita di Indonesia tidak sedang berada di tengah gelombang pengejaran dan penganiayaan seperti yang dialami oleh para Saudari dan Saudara kita di tempat-tempat lain di dunia, namun dalam artian tertentu tanda-tanda yang mengarah ke situ sudah terasa. Walaupun seandainya tidak ada pengejaran dan penganiayaan yang mengancam kita, keselamatan kita berada dalam bahaya disebabkan oleh nilai-nilai duniawi yang terus saja mengganggu kita. Apakah kita sudah cukup ditempa dengan disiplin, dengan Sabda Allah untuk tetap hidup di dunia sebagai murid-murid Yesus yang setia?

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengutus Putera-Mu, Yesus, guna menyelamatkan kami semua. Kami mengakui bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus, bentuklah kami menjadi murid-murid Yesus yang setia. Buatlah hati kami seperti hati-Nya. Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:41-50), bacalah tulisan yang berjudul “MOHON BIMBINGAN ROH KUDUS AGAR KITA DAPAT MENEMUKAN CARA-CARA PRAKTIS MELAWAN DOSA” (bacaan tanggal 24-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEMUA HAL JAHAT TIMBUL DARI DALAM, BUKAN DARI LUAR

SEMUA HAL JAHAT TIMBUL DARI DALAM, BUKAN DARI LUAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Rabu, 7 Februari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Koleta dr Corbie, Biarawati Klaris

Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka, “Kamu semua, dengarkanlah Aku dan perhatikanlah. Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang, dapat menajiskannya; tetapi hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya. Siapa saja yang bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar! Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Lalu jawab-Nya, “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam diri seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu keluar ke jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”  (Mrk 7:14-23)

Bacaan Pertama: 1Raj 10:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:5-6,30-31,39-40

Pernahkah anda memperhatikan betapa bersinarnya wajah orang-orang yang sedang jatuh cinta? Memang anda seringkali dapat “membaca” apa yang sedang terjadi dalam hati mereka dengan sekadar memperhatikan wajah-wajah mereka. Demikian pula, tindakan-tindakan kita seringkali mengungkapkan sikap-sikap kita. Tidak sulitlah untuk memandang kehidupan sehari-hari dari seseorang dan mulai memahami bagaimana atau apa yang dirasakannya sehubungan dengan isu-isu poleksosbud, bahkan tentang Allah.

Ada orang-orang yang tidak banyak berbicara mengenai hidup batiniah mereka, namun kasih dan damai-sejahtera terpancar dari wajah mereka, berbagai sikap dan perilaku yang ditunjukkannya ketika berbelanja di pasar, ketika memimpin rapat dalam perusahaan dlsb. Sebaliknya ada juga orang-orang yang mungkin “melakukan” segala hal yang dirasakan benar atau kelihatan benar, namun tidak memiliki relasi yang hidup dengan Kristus.

Orang-orang Farisi adalah ahli-ahli menyusun berbagai peraturan dan jago/jawara dalam mentaati peraturan-peraturan yang berdasarkan tradisi-tradisi kuno. Akan tetapi, untuk sebagian dari mereka, hati mereka jauh dari Allah para nenek-moyang mereka. Kita juga suka begitu, bukan? Kita terkadang (atau sering?) mencampur-adukkan antara kesalehan praktek rituale dengan kesalehan sejati seorang abdi Allah, atau antara mentaati tradisi dengan kemurnian batiniah. Apabila menepati peraturan dilihat sebagai tujuan dalam dirinya sendiri, dan bukan sebagai pencerminan suatu cintakasih dan rasa hormat kepada Allah, maka kita kehilangan kehidupan penuh sukacita dan damai-sejahtera yang dijanjikan oleh Kristus.

Memang mudahlah untuk percaya bahwa ada tembok yang memisahkan antara hati kita dan tubuh kita, antara diri kita yang terdalam dan tindakan-tindakan kita. Akan tetapi Allah menciptakan kita sebagai pribadi-pribadi yang satu dan tidak terpisah-pisah (Inggris: unified persons), dengan tubuh-tubuh yang dirancang untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hati kita, dan hati kita secara intim dikaitkan dengan relasi-relasi kita dunia. Allah sungguh prihatin dengan hati kita; dan Ia sungguh meminati secara mendalam cara kita berelasi dengan orang lain. Apabila kita menemukan hal-hal yang jahat dalam relasi-relasi kita seperti disebutkan oleh Yesus – pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Mrk 7:21-22) – maka kita perlu memahami bahwa itu semua adalah pencerminan dari sebuah hati yang memerlukan pemurnian oleh Tuhan. Apabila kita memperkenankan hal-hal jahat ini masuk ke dalam relasi kita dengan orang-orang lain, maka kita terus membawa ketidakmurnian ke dalam hati kita.

Yesus mengatakan bahwa perintah yang paling utama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita dan dengan segenap kekuatan kita; dan mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita sendiri (Mrk 12:28-31). Apabila kasih sedemikian yang merupakan urusan kita, maka kita berada dalam jalan menuju kemurnian hati; kita memperoleh kehidupan dan asupan yang diperlukan dari kepatuhan kita; dan kita pun dimampukan untuk berelasi dengan orang lain dalam ketulusan hati dan cintakasih.

DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah diriku dan tolonglah aku agar mampu melihat bagaimana aku dapat memberi tanggapan kepada-Mu secara lebih mendalam dan saling mengasihi dengan para saudari-saudaraku dengan lebih baik lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:14-23), bacalah tulisan yang berjudul “MANUSIA MELIHAT TINDAKAN, NAMUN ALLAH MELIHAT NIAT” (bacaan tanggal 8-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Februari 2018 [Peringatan S. Agata, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIAPAKAH KITA INI, TUAN ATAU HAMBA?

SIAPAKAH KITA INI, TUAN ATAU HAMBA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Selasa, 14 November 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk – Martir 

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk 17:7-10) 

Bacaan Pertama: Keb 2:23-3:9; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-19

Sebagai siapakah kita mau menempatkan diri dalam perumpamaan ini? Sebagai sang tuan atau hamba? Kecenderungan manusiawi yang ada pada diri kita akan mengatakan: “Sebagai Tuan”. Lagipula ide menjadi seorang hamba sungguh tidak membuat nyaman. Kita begitu biasa memiliki kontrol/kendali – besar atau kecil – atas hidup kita sendiri, dan juga kita sangat enggan untuk setiap saat harus siap melayani orang lain. Misalnya, memang dalam kampanye pemilu dan lain sebagainya, ide pemimpin sebagai pelayan rakyat relatif sering digembar-gemborkan, namun biasanya dilupakan begitu sang kandidat berhasil dipilih.  Sifat masyarakat kita yang masih cenderung feodal itu juga membuat kata-kata Yesus ini terdengar sangat radikal.

Di sisi lain penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah merupakan salah satu ciri pribadi yang kita kagumi dari orang-orang kudus. Maria, Yosef, para martir Kristus di abad-abad pertama sejarah Gereja, para misionaris masa lampau dan lain sebagainya adalah contoh-contoh dari orang-orang yang melakukan tindakan penyerahan-diri secara total kepada kehendak Allah. Mereka semua melepaskan hak-hak mereka atas kehidupan mereka sendiri, dan hanya melakukan apa yang dikehendaki Allah supaya mereka lakukan. Mereka menjadi hamba-hamba yang memberikan hidup mereka kepada Allah dalam berbagai cara. Dengan menjadi milik Yesus Kristus, mereka tidak hanya menemukan sukacita, melainkan juga energi, kasih yang sejati dan ketekunan-tahan-banting seperti ditunjukkan dalam kehidupan mereka. Santo Fransiskus dari Assisi adalah sebuah contoh baik dalam hal ini.

Abad ke-20 mengenal Ibu Teresa yang menunjukkan ciri pribadi seperti yang baru disebutkan. Hidup kemiskinan yang dihayati Ibu Teresa dan para susternya mencakup juga kemiskinan-ketaatan (poverty of obedience), artinya menolak pilihan-pilihan pribadi, semua demi pelayanan total kepada Allah. Ibu Teresa menulis:

“Apabila sesuatu adalah milikku, maka aku memiliki kuasa penuh untuk menggunakannya sesuai dengan keinginanku. Aku milik Yesus; maka Dia dapat melakukan apa saja atas diriku sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Karya kami bukanlah panggilan kami. Aku dapat melakukan karya ini tanpa perlu menjadi seorang biarawati. Profesi kami menyatakan bahwa kami adalah milik-Nya. Oleh karena itu aku siap untuk melakukan apa saja: mencuci, menggosok lantai, membersihkan. Aku seperti seorang ibu yang melahirkan seorang anak. Anak itu miliknya. Semua cuciannya, tetap berjaga di waktu malam, dll. membuktikan bahwa anak itu adalah miliknya. Dia tidak akan melakukan hal-hal ini untuk anak lain, namun dia akan melakukan apa saja untuk anaknya sendiri. Apabila aku adalah milik Yesus, maka aku akan melakukan apa saja bagi Yesus” (Total Surrender, hal. 123).

Seperti Santa Teresa dari Kalkuta dan para kudus yang mendahului kita, kita harus percaya  bahwa segalanya adalah milik Allah, dengan demikian kita berhutang kepada-Nya untuk keberadaan kita. Tidak ada pekerjaan baik dari pihak kita yang dapat menghapus hutang kepada Allah. Namun demikian kita harus yakin bahwa kalau tahun-tahun pelayanan kita yang dilakukan dengan rendah-hati berakhir, maka kita akan memperoleh ganjaran melalui kerahiman-Nya. Ingatlah apa yang dikatakan Yesus: “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang” (Luk 12:37). Maka marilah kita bergabung dengan para kudus yang menemukan sukacita dalam melayani Tuan mereka, Yesus Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah seorang hamba yang taat kepada Bapa-Mu melalui kasih yang sempurna. Tolonglah aku untuk mengenal dan mengalami kasih-Mu dalam doa-doa dan tindakan-tindakanku. Tuhan Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu, agar melalui aku orang-orang lain dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 14-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggaal 8-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARTA-KEKAYAAN BERKEMUNGKINAN BESAR MENJADI TUAN KITA

HARTA-KEKAYAAN BERKEMUNGKINAN BESAR MENJADI TUAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Martinus dr Tours – Sabtu, 11 November 2017) 

Aku berkata kepadamu: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, mendengar semua ini, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk 16:9-15) 

Bacaan Pertama: Rm 16:3-9,16,22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-5,10-11

Yesus mempunyai cara-Nya sendiri untuk mengkaitkan prinsip-prinsip teoritis dengan hidup-praktis, hal mana terkadang membuat orang merasa tidak nyaman. Pada zaman kita sekarang, misalnya, banyak orang merasa tidak nyaman kalau masalah keuangan dimunculkan berbareng dengan hal-ikhwal hidup rohani. Hidup Kristiani menuntut bagaimana kita harus berurusan dengan uang dan selalu memeriksa batin kita apakah ada keserakahan dalam keputusan yang kita ambil dalam bidang keuangan.

Ada hal-hal yang kita tidak ingin periksa karena bersifat terlalu pribadi; hal-hal tersebut menyentuh kita dengan begitu mendalam. Sebagian besar dari kita sebenarnya memiliki sifat self-focuced, self-centered, berpusat pada diri sendiri; berpikir, bersikap dan bertindak-tanduk demi kepentingan pribadi. Hal seperti ini jelas akan membatasi kemampuan kita untuk melihat diri kita sebagai anggota-anggota dari sebuah komunitas yang lebih besar, sebuah komunitas yang mencakup baik orang-orang miskin maupun kaya. Kata-kata Yesus di atas sungguh relevan untuk para murid-Nya yang dapat digolongkan sebagai kaum miskin, demikian pula untuk mereka yang kaya. Kata-kata-Nya tetap berlaku pada zaman kita ini, berlaku bagi setiap orang.

Yesus memberi peringatan, bahwa harta-kekayaan berkemungkinan besar menjadi tuan kita. Kebanyakan orang mau berpikir bahwa mereka memiliki sikap rasional terhadap peranan harta-kekayaan. Namun pada kenyataannya kuasa uang lebih kuat, sehingga menjadi tuan. Kita tidak dapat menyangkal bahwa uang memiliki kuasa yang begitu kuat, sehingga secara relatif mudah dapat memperbudak orang-orang. Ingatlah rekaman pembicaraan telepon-tersadap yang masih menjadi isu hangat pada hari-hari ini. Lihat bagaimana para pejabat negara yang biasanya tampak angker-menakutkan di depan rakyat kebanyakan, terasa tidak lebih dari budak-budak di hadapan seorang pengusaha-gelap yang mempunyai uang.

Tanyakanlah kepada siapa saja yang anda temui, siapa yang merasa sudah cukup mempunyai uang? Yesus mengatakan bahwa orang-orang Farisi itu adalah hamba-hamba uang (Luk 16:14), meskipun mereka menyangkal kenyataan itu. Nah, pertanyaan yang pantas kita tanyakan kepada diri kita masing-masing sekarang: “Apakah aku lebih baik dari orang-orang Farisi?” Sampai hari ini peringatan dari Yesus tentang kenyataan bahwa uang itu berkompetisi dengan Allah untuk menjadi tuan kita, tetap menggelisahkan banyak orang. Tidak sedikit orang merasa terganggu karena pernyataan Yesus ini, oleh karena itu diam-diam berpindah ke agama/kepercayaan yang lebih dapat mengakomodir keyakinannya tentang fungsi harta-kekayaan dalam kehidupan seseorang.

Sebagai seorang Kristiani kita harus menghadapi isu ini dengan berdiri-tegak. Apakah harta-kekayaan yang sesungguhnya menjadi tuan kita, dan bukannya Allah? Apakah tidak adanya uang menjadi suatu halangan bagi kita dalam menghayati hidup Kristiani? Tidak ada jawaban yang sama untuk setiap situasi. Dari waktu ke waktu kita dapat memiliki sikap yang mendua. Oleh karena itu perlulah untuk kita melakukan pemeriksaan batin di hadapan Allah setiap hari, teristimewa dalam Ibadat Penutup di malam hari, mohon ampun atas dosa-dosa kita dan berketetapan hati untuk kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, terangilah kegelapan hatiku, ubahlah hatiku dan berikanlah kepadaku hati dan pikiran Kristus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:9-15), bacalah tulisan berjudul “BEBERAPA CATATAN DARI BAB [PASAL] TERAKHIR SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI ROMA” (bacaan tanggal 11-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11  BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2017 [Peringatan B. Assunta Pallota, FMM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS