Posts from the ‘Uncategorized’ Category

APAKAH KITA BERSAMA YESUS DAN MENGUMPULKAN BERSAMA DIA?

APAKAH KITA BERSAMA YESUS DAN MENGUMPULKAN BERSAMA DIA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Jumat, 11 Oktober 2019)

Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26) 

Bacaan Pertama: Yl 1:13-15;2:1-2; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-3,6,16,8-9

Yesus bersabda, “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan” (Luk 11:23). Mungkin saja Yesus menambahkan sedikit penjelasan atas pernyataannya tadi, misalnya: “Dia yang tidak menolong aku memanggul salib sebenarnya membuat salib itu lebih berat: dia yang tidak berjalan dengan Aku dan berbicara dengan-Ku dan hidup dengan-Ku, tentunya dia mengikuti seseorang lain di samping diri-Ku.”

Apabila kita merasa ragu-ragu apakah kita adalah pengikut/murid Kristus yang sejati atau tidak, apakah kita hidup bagi Kristus atau melawan Kristus, kita dengan mudah dapat memperoleh jawabannya dengan bertanya kepada diri sendiri – dan satu hari Jumat tentunya adalah sebuah hari yang baik untuk melakukan hal ini – apakah aku menolong Kristus memanggul salib-Nya? Apakah aku menyangkal diriku sendiri agar dapat menolong orang-orang lain yang membutuhkan pertolongan? Kristus memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita semua. Apakah aku memiliki kemauan untuk memikul salib demi cintakasihku kepada orang-orang miskin, mereka yang membutuhkan pertolongan, mereka yang kesepian karena hidup sendiri dan diasingkan? Dapatkah aku mengorbankan waktuku, energiku, uangku agar orang-orang lain dapat hidup lebih pantas serta layak … dan lebih bahagia?

Apakah kita bersama Kristus dalam pemikiran-pemikiran dan kata-kata? Apakah hidup doa kita sedemikian rupa sehingga Kristus seringkali berada bersama kita dan kita dengan diri-Nya? Para sahabat cenderung untuk seringkali berkumpul bersama. Apabila hidup kita bagi Kristus, jika kita memandang Dia sebagai seorang sahabat yang kita kasihi, maka kita akan bersama dengan-Nya secara teratur dalam doa.

Kristus berada bersama dengan kita dalam Gereja-Nya. Dia membuat kehendak-Nya diketahui dan dikenal oleh kita melalui Gereja-Nya. Apakah kita bersama dengan Gereja yang adalah Tubuh Kristus sendiri? Atau, barangkali kita suka kritik sini kritik sana terhadap Gereja, sehingga dengan demikian mengkritisi Yesus Kristus, kepala dari Tubuh itu, …… menunjukkan bahwa kita melawan diri-Nya?

Sekali lagi, ingatlah akan sabda-Nya, “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.” 

DOA: Tuhan Yesus, engkaulah Jalan, jalan satu-satunya bagi kami. Hanya apabila kami mati bersama-Mu, maka kami dapat sungguh bersama-Mu sampai kehidupan kekal. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:15-26), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERBICARA MENGENAI REALITAS ROH-ROH JAHAT” (bacaan tanggal 11-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-19-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Oktober 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOMBA YANG HILANG DAN DIRHAM YANG HILANG

DOMBA YANG HILANG DAN DIRHAM YANG HILANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV [TAHUN C] – 15 September 2019)

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10) 

Bacaan Pertama: Kel 32:7-11,13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,17,19; Bacaan Kedua: 1Tim 1:12-17; Bacaan Injil (Versi Panjang): Luk 15:1-32 

Dalam kesempatan ini saya hanya menguraikan versi pendek dari Bacaan Injil pada hari Minggu ini.

Seorang ayah baru saja pulang ke rumahnya di sebuah desa yang terpencil. Pada saat dia pulang, rumah itu sedang terbakar dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil terjebak di dalam rumah. Para tetangga yang tidak banyak jumlahnya itu, mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk menyelamatkan anak-anaknya. Namun demikian sang bapak keluarga ini – tanpa ragu-ragu – langsung masuk ke dalam kobaran api dan mencari anak-anaknya dari ruangan yang satu ke ruangan yang lain. Satu persatu berhasil diselamatkan olehnya.

Mengapa seseorang melakukan tindakan yang terasa begitu mengabaikan kehati-hatian, tanpa hitung-hitung, malah sembrono, seperti ditunjukkan oleh sang ayah dari tiga orang anak itu? Jawabnya cukup sederhana: Karena cinta! Cintakasih mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. Cintakasih melindungi; cintakasih bertekun! Cintakasih berarti menanggung risiko ditolak, bahkan cidera pribadi juga, demi kebaikan orang-orang yang kita cintai. Dalam dua perumpamaan di atas, Yesus menunjukkan bagaimana Bapa surgawi berupaya secara luarbiasa untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Allah sampai mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dunia (lihat Yoh 3:16-17) bahkan sampai menemui ajal di kayu salib. Semua ini agar manusia kembali ke rumah-Nya

stdas0736Bagaimana kalau salah seorang anak yang kita cintai mulai menyeleweng dari iman Kristiani? Dalam hal ini, bayangkanlah dia sebagai seekor domba yang hilang atau sebuah dirham yang hilang. Bapa surgawi tahu bahwa anak itu “hilang”. Maka Dia pun langsung mencari anak yang hilang itu, tanpa hitung-hitung. Seperti sang ayah yang menerobos sebuah rumah yang sedang terbakar hebat, Allah pun tidak akan berhenti untuk mencari pribadi-pribadi yang kita cintai dan membawa mereka ke tempat yang aman. Sementara itu yang dapat kita lakukan adalah berdoa, berdoa dan berdoa. Sedapat mungkin, jadilah Yesus bagi dia. Bersahabatlah dengan dia, menjadi “telinga yang mendengarkan” baginya, dan berilah dorongan-dorongan positif kepadanya, kasihilah mereka tanpa reserve. Bayangkanlah dia ditemukan oleh Bapa surgawi. Bayangkan juga pesta penuh sukacita yang diadakan di surgawi kalau mereka kembali kepada hidup iman semula.

Santa Monika berdoa untuk anaknya, Augustinus, bertahun-tahun lamanya. Saya pun dapat merasakan bagaimana ibuku untuk bertahun-tahun lamanya tanpa banyak omong berdoa rosario (dan doa-doa lain) bagi diri dan keluarga saya ketika saya  cukup lama tidak ke gereja dan agama (Ilah) saya adalah kerja dan karir belaka. Santa Monika dan ibuku tidak pernah kehilangan harapan. Mereka terus berdoa untuk anak-anak mereka masing-masing sampai Yesus membawa mereka pulang.

DOA: Tuhan Yesus, pada hari ini aku membawa ke hadapan-Mu orang-orang ini yang telah “hilang”. [Sebutkanlah nama-nama orang yang kita kasihi secara spesifik]. Tuhan, meskipun aku tidak dapat melihat bagaimana Engkau akan berkarya dalam kehidupan orang-orang ini, aku tetap percaya bahwa Engkau mendengarkan doa-doaku dan akan menjawab doa-doa itu. Aku membayangkan orang-orang yang kukasihi ini duduk dalam meja perjamuan-Mu di surga, dan aku berjanji untuk mengasihi dan menjaga mereka sampai mereka kembali pulang kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami melengkapi Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan berjudul “KITA SEMUA MEMANG MILIK-NYA” (Luk 15:11-32; bacaan tanggal 15-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com;  kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANGGIL LEWI UNTUK MENJADI MURID-NYA

YESUS MEMANGGIL LEWI UNTUK MENJADI MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Jumat, 5 Juli 2019)

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13)

Bacaan Pertama: Kej 23:1-4,19;24:1-8,62-67; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

“… Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:13)

Ada seorang Kristiani yang sedang melakukan ziarah di Tanah Suci. Pada suatu malam orang itu berada sendirian di taman Getsemani. Ada banyak sekali bintang di langit dan orang itu sungguh menikmati malam yang indah itu. Karena terharu, dia pun mulai berlinang air mata. Dia berlutut dan berdoa dengan suara keras: “Tuhan, janganlah pernah membiarkan aku berdosa terhadap-Mu.” Malam itu sungguh sunyi senyap. Tiba-tiba terdengar suara dari kegelapan yang berkata: “Anak-Ku, Engkau minta kepada-Ku untuk tidak pernah membiarkan Engkau berdosa terhadap-Ku. Apabila Aku memenuhi permintaan doa-Mu bagi semua anak-Ku di dunia, bagaimana Aku dapat menunjukkan belas kasih-Ku kepada mereka?”

Cerita di atas mengingatkan kita bahwa kita semua adalah pendosa-pendosa. Ada saat-saat di mana masing-masing kita – seberapa baiknya pun diri kita – berdosa melawan Allah. Apabila hal seperti ini terjadi dengan diri kita, kita tidak perlu ciut hati – seperti halnya pengalaman Yudas Iskariot. Kita harus menyesali dosa kita dan memohon  pengampunan, seperti yang telah dilakukan oleh Petrus.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita semua bahwa Dia datang untuk orang-orang berdosa. Dia datang untuk orang-orang yang menyadari bahwa selama ini mereka melangkah di jalan yang tidak benar dan ingin mencari rekonsiliasi …… berdamai lagi dengan Allah.

Ada perbedaan antara orang bersalah yang telah kehilangan kemampuan untuk membedakan antara benar dan salah dalam kehidupannya, dan seorang pribadi yang sadar bahwa dia telah berdosa dan sekarang mencari kekuatan untuk mulai melangkah di atas jalan yang benar.

Kasus Lewi (Matius) merupakan contoh dari insiden di atas yang disebut belakangan. Kasus ini mengingatkan kita akan karunia/anugerah hebat yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yaitu anugerah yang disebut nurani, dan bagi kita yang telah dibaptis, adalah kehadiran Roh Kudus dalam diri kita masing-masing. Bagi orang Kristiani yang Katolik juga termasuk ajaran Gereja. Ini adalah faktor-faktor yang dapat membantu kita memperbaharui dan mengubah hidup kita, seberat apapun pelanggaran kita terhadap-Nya di masa lalu.

Kita dapat memperlawankan (mengkontraskan) ini dengan kasus seseorang yang kehidupannya – dilihat dari keseriusannya maupun dari sudut moral – sudah dapat dikatakan mengalami kondisi disfungsional, namun celakanya dia bahkan samasekali tidak menyadari kenyataan tersebut. Seorang pribadi seperti itu hidup tanpa menyadari penyakit “kanker” yang selama ini menggerogoti dirinya sampai semuaya sudah terlambat.

Kita semua – masih jauh atau sudah dekat – semua masih berada di bawah garis kemuliaan Allah. Jika kita menyadari kebenaran itu, inilah tanda awal dari pertumbuhan dalam hidup spiritual kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan-Mu sekarang ini. Engkau telah membayar harga dosa-dosaku di atas kayu salib sehingga aku dapat diperdamaikan dengan Allah Bapa. Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANGGIL SEORANG PEMUNGUT CUKAI UNTUK MENJADI MURID-NYA” (bacaan tanggal 5-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 3 Juli 2019 [PESTA S. TOMAS, RASUL]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA TETAP FOKUS PADA KASIH YESUS

MARILAH KITA TETAP FOKUS PADA KASIH YESUS

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Sabtu, 29 Juni 2019)

Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. 

… tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. (2Tim 4:6-8,17-18) 

Bacaan Pertama: Kis 12:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Injil: Mat 16:13-19

Allah memberikan kepada kita para kudus untuk mendorong kita, menyemangati kita! Selagi kita memperhatikan contoh bagaimana mereka melayani Yesus dan umat-Nya, maka hati kita pun digerakkan (oleh Roh Kudus) untuk meneladan para kudus itu. Namun demikian, kita harus senantiasa menghindarkan diri dari kesalahan bersikap seakan para kudus tersebut adalah “supermen”. Seorang kudus bukanlah seorang “superman”, karena pada kenyataannya mereka tidak berbeda dengan kita. Mereka adalah para perempuan dan laki-laki, yang dalam saat-saat kritis kehidupan mereka (katakanlah ketika mengalami “diskontinuitas” dalam jalan kehidupan mereka), berpaling kepada Allah dan menerima rahmat-Nya. Dengan demikian dimungkinkanlah bagi setiap dan masing-masing kita untuk melakukan hal yang sama.

Petrus dan Paulus adalah contoh-contoh yang indah tentang kemampuan Allah mengambil pribadi-pribadi yang memiliki berbagai kelemahan atau sisi negatif, dan kemudian membalikkan mereka menjadi saksi-saksi Injil yang penuh kuat-kuasa. Tidak ada seorang pun dari mereka berdua mencapai hasil pekerjaan begitu mengagumkan hanya karena kerja-keras, kreativitas dan kemampuan-kemampuan administratif yang unggul. Sebagai akibat dari campur tangan Allah dalam kehidupan mereka, mereka pun disadarkan akan adanya kebutuhan akan diri-Nya dan tertangkap oleh kasih-Nya – cinta kasih yang paling mendesak yang akan pernah dikenal oleh dunia.

Paulus adalah seorang laki-laki brilian yang unggul dalam segala sesuatu yang dilakukannya (lihat Flp 3:4-6). Akan tetapi, melalui situasi-situasi yang dihadapi-Nya dalam kehidupannya, Allah membawa Paulus ke suatu titik di mana dia tidak menginginkan apa-apa lagi selain menjadi seperti Yesus. Petrus juga adalah seorang laki-laki yahg penuh dengan gairah. Ia sangat mengasihi Yesus, namun ia condong untuk menaruh kepercayaan pada hikmat-kebijaksanaannya sendiri. Yesus memperkenankan Petrus untuk melihat keadaan riil dari hati-Nya, dan akibatnya bukanlah keputusasaan, melainkan suatu pengalaman akan kasih dan kerahiman dari seorang Juruselamat yang tidak akan meninggalkannya. Hal ini membawa Petrus kepada cinta kasih kepada Yesus yang semakin besar.

Kita semua dipanggil untuk menjadi para kudus, masing-masing dengan cara kita sendiri. Namun ini hanya akan terjadi apabila kita memperkenankan Yesus untuk membentuk kita. Selagi kita memperkenankan tangan Yesus yang lemah-lembut dan penuh kasih itu memecahkan “benteng bagian luar diri kita yang berwujud kemandirian dalam sikap dan perilaku, maka kita pun berubah menjadi seperti parfum yang mewangi ke segala penjuru, menyegarkan kembali keluarga kita, paroki-paroki kita, lingkungan tempat tinggal kita, tempat kerja kita, dan semua orang yang datang untuk berkontak dengan kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengabdikan hidupku bagi-Mu. Buatlah aku seorang kudus sebagaimana yang Engkau sendiri inginkan dari diriku. Tolonglah aku untuk tetap fokus pada kasih-Mu and bukan pada sukacita dan kesedihan kehidupan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 12:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “BEBERAPA CATATAN TENTANG S. PETRUS DAN S. PAULUS” (bacaan tanggal 29-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA   http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JIKA MATAMU BAIK, TERANGLAH SELURUH TUBUHMU …

JIKA MATAMU BAIK, TERANGLAH SELURUH TUBUHMU …

(Bacaan Kudus Misa Kudus, Peringatan S. Aloisius Gonzaga, Biarawan Yesuit – Jumat, 21 Juni 2019)

“Janganlah kamu mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi; di bumi ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Mat 6:19-23) 

Bacaan Pertama: 2Kor 11:18,21b-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-7

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Mat 6:22-23)

Mata untuk melihat adalah sebuah karunia dan merupakan salah satu dari assets yang sangat berharga. Melalui mata kita dapat mengetahui dan mengenal keindahan dunia dan orang-orang di sekeliling kita; kita membuat penilaian-penilaian yang didasarkan pada observasi-observasi dengan menggunakan mata; kita melihat dunia dan mulai memahaminya. Akan tetapi, ketika Yesus berbicara tentang mata kita yang baik atau jahat (Mat 6:22-23), sebenarnya Dia  tidak mengacu pada penglihatan kita yang bersifat natural. Sebaliknya, Yesus menggunakan kontras yang sudah familiar, yaitu kontras antara “terang” dan “gelap” guna menggambarkan suatu realitas spiritual.

Kiranya yang dimaksudkan oleh Yesus dengan “mata” di sini adalah kesadaran spiritual kita, kapasitas kita untuk menerima pengetahuan dari Allah. “Terang” adalah iman kita: pernyataan dari kebenaran Allah. “Terang” ini lebih daripada sekadar pengetahuan tentang doktrin yang bersifat intelektual karena mencakup juga prinsip-prinsip mendasar yang menjadi tumpuan untuk pengambilan keputusan-keputusan dan tatanan kehidupan kita. Oleh Roh Kudus, Allah memancarkan terang kasih-Nya yang abadi dan kuat-kuasa penebusan dari salib atas diri kita, dan hal ini menjadi dasar pengharapan kita dalam setiap situasi. Jadi, apabila “mata” kita terbuka bagi kebenaran-kebenaran ini, maka keseluruhan pribadi kita akan dipenuhi dengan terang, damai-sejahtera, dan hikmat-kebijaksanaan. Akan tetapi, apabila “mata” kita tertutup terhadap “terang” ini, maka kita akan tertatih-tatih tanpa tujuan seakan-akan seorang yang sedang mabuk dalam sebuah ruangan gelap.

Pernahkah anda memperhatikan bagaimana dua orang yang menyaksikan suatu peristiwa yang sama, namun mengambil kesimpulan yang saling bertentangan? Kadang-kadang dengan mudah kita dapat mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh perbedaan gender, perbedaan dalam usia, atau perbedaan budaya. Namun dalam banyak kasus, perbedaannya terletak dalam pandangan mata spiritual. Bagaimana kita dapat menjelaskan bahwa seseorang menemukan martabat dan tujuan hidupnya di dalam penderitaan, sedangkan seorang lainnya memandang penderitaan sebagai kesia-siaan tanpa pengharapan? Bagaimana seorang pribadi dapat mengalami kepuasan dalam pengejaran kekayaan sementara seorang pribadi lain menemukan sukacita dalam melayani kaum miskin?

Janganlah sampai kita terkecoh; terang iman mengungkapkan masing-masing situasi apa adanya, bukannya sekadar apa yang “kelihatan” oleh mata fisik. Betapa menyedihkanlah bagi mereka  yang menutup mata mereka bagi iman dan telah membangun hidup mereka di atas fondasi yang mudah rusak. Pada saat yang menyusahkan, mereka tidak mengenal Penghibur yang dapat memberikan pengharapan kepada mereka. Semoga kita semua membuka “mata” kita lebar-lebar agar dapat memandang Allah, sehingga dengan demikian hati kita masing-masing dapat dipenuhi dengan terang-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyatakan diri-Mu kepada kami. Semoga semua orang membuka mata mereka kepada-Mu oleh iman, sehingga dengan demikian kegelapan mereka dikalahkan oleh terang-Mu yang mulia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN MENGUMPULKAN HARTA BAGI DIRI SENDIRI DI BUMI” (bacaan tanggal 21-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

POKOK AJARAN YESUS TENTANG ZINA

POKOK AJARAN YESUS TENTANG ZINA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 14 Juni 2019)

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh di campakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:10-11,15-16 

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menyempurnakan Hukum yang ada dengan menekankan pentingnya sikap batiniah dan kesetiaan kuat dari seorang pribadi, teristimewa yang menyangkut hal-hal seksual.

Yesus mengingatkan kita bahwa walaupun perzinahan/perselingkuhan dapat merusak hidup perkawinan kita, nafsu dalam hati dan pikiran seorang pribadi dapat menjadi sama jahatnya. Mengapa? Karena mempunyai kemampuan untuk merusak relasi dalam hidup perkawinan dengan kekuatan merusak yang sama beratnya. Yesus mengatakan bahwa karena Dia mengetahui sekali bahwa apabila kita memperkenankan pikiran-pikiran yang tidak bersih merasuki diri kita, maka semua itu akan merugikan diri kita sendiri dan mereka yang sungguh kita kasihi (misalnya pasangan hidup dan anggota keluarga kita masing-masing). Yesus memandang pemikiran penuh nafsu dengan sangat serius sehingga Dia mendeklarasikan hal sedemikian sebagai sama seriusnya dengan melakukan perzinahan.

Yesus mengetahui benar bahwa jika kita memperkenankan pemikiran-pemikiran kotor/ penuh nafsu menguasai diri kita, maka kita sebenarnya melibatkan diri dalam penyembahan yang salah arah. Secara salah kita percaya bahwa kita dapat memperoleh kepuasan dalam ketidaksetiaan kita, mencapai kebahagiaan dengan melanggar perjanjian dan relasi cintakasih yang samasekali tidak mencerminkan kasih Allah yang murni. Inilah sebabnya mengapa orang menjadi terluka secara batiniah. Allah sendiri memanggil kita dan meminta kita untuk sepenuhnya puas dengan kasih-Nya karena inilah satu-satunya kasih yang akan membawa kita kepada kepenuhan sejati. Ini adalah kasih yang akan membawa segala relasi kita dalam tatanan yang benar.

Martabat kita sebagai anak-anak Allah paling terlihat nyata dalam kasih yang bersifat pengorbanan diri – tipe cintakasih yang dimaksudkan sebagai tanda hidup perkawinan Kristiani. Cintakasih tipe ini mengungkapkan kemampuan kita untuk berpikir dan memilih dan menjadi satu dengan orang-orang lain. Hal ini berarti memberikan diri kita sendiri demi orang-orang lain. Di lain pihak, nafsu ke luar dari dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan diri kita yang bersifat sesaat. Sebagai suatu sakramen, perkawinan adalah tanda luar dari rahmat yang menunjuk kepada suatu realitas yang jauh lebih mendalam. Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya (lihat Kej 1:26,27), dan kita diciptakan untuk mengasihi semurni Allah mengasihi manusia. Jikalau kita berpikir penuh nafsu, maka hal ini berarti kita memperkenankan dosa untuk menggerogoti kasih sejati dari Allah.

Menjaga/memelihara kesetiaan kita terhadap pasangan kita atau Allah bukanlah sekadar masalah apa yang kita lakukan dengan tubuh/fisik kita, melainkan juga menyangkut dengan apa yang kita lakukan dengan pikiran-pikiran kita, perasaan-perasaan kita dan hati kita. Kekuatan untuk menciptakan, menjaga/memelihara atau merusak suatu relasi, semuanya ada dalam diri kita sendiri. Patut diingat bahwa ikatan spiritual dari perkawinan dapat dirusak dengan cara-cara lain di luar perzinahan. Ketidaksetiaan dimulai dari pikiran kita.

Saudari dan Saudari terkasih, marilah kita menanggapi panggilan Yesus kepada kemurnian. Ia sungguh mengasihi kita dan ingin agar kita semua berbahagia. Marilah kita bergegas menghadap hadirat Allah dan memohon kepada-Nya agar memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Hanya kasih-Nya saja yang dapat membuat kita puas lahir batin. Marilah kita menghadap Yesus dan memohon kepada-Nya agar kita dapat ikut ambil bagian dalam kasih-Nya sehingga hidup perkawinan kita dapat ditransformasikan secara lebih mendalam lagi ke dalam berbagai pencerminan kemurnian ilahi. Marilah kita membawa kasih murni Kristus kepada orang-orang lain selagi kita menemukan kebenaran siapa sebenarnya kita dalam Dia dan panggilan khusus yang telah diberikan-Nya kepada kita.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku untuk menata dengan baik segala pemikiranku dan hasratku seturut martabatku dan panggilanku sebagai murid Kristus. Tolonglah aku untuk menjaga pikiranku agar tetap fokus pada-Mu dan untuk selalu menghormat pasangan hidupku, orang-orang di sekelilingku, dan diriku sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENYERANG SEGALA MACAM KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 14-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

INKARNASI YESUS DAN GEREJA

INKARNASI YESUS DAN GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN [Tahun C] – Kamis, 30 Mei 2019)

Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia diangkat ke surga. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya melalui Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya. Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak bukti Ia menunjukkan bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang sebagaimana dikatakan-Nya, “telah kamu dengar dari Aku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” 

Lalu ketika berkumpul, mereka bertanya kepada-Nya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya kepada mereka, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih di dekat mereka, dan berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.” (Kis 1:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9; Bacaan Kedua: Ef 1:17-23 atau Ibr 9:24-28; 10:19-23; Bacaan Injil: Luk 24:46-53

“Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya” (Kis 1:9).

Kenaikan Yesus ke surga tampaknya telah mengakhiri saat-saat para murid-Nya untuk mengambil manfaat dari Inkarnasi-Nya. Mereka tidak dapat lagi memandang wajah Allah, mendengarkan-Nya dan menyentuh-Nya. Namun demikian Yesus telah berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan para murid-Nya di segala zaman sebagai yatim piatu (Yoh 14:8). Ia akan senantiasa menyertai kita (Mat 28:20), dan adalah lebih berguna bagi para murid jika Ia pergi (Yoh 16:7).

Yesus menyadari bahwa para murid-Nya tidak akan mengerti tentang kenaikan-Nya ke surga, maka Dia mengatakan kepada mereka untuk tetap tinggal di Yerusalem. Dalam beberapa hari lagi mereka akan dibaptis dalam Roh Kudus (Kis 1:5). Mereka mematuhi Tuhan setelah kenaikan-Nya ke surga dan kemudian “kembali ke Yerusalem dengan sukacita”. Di Yerusalem mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah (Luk 24:52-53). Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama (Kis 1:14).

Setelah berdoa selama sembilan hari, 120 dari pengikut Tuhan Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis 1:15; 2:4). Pada hari itu juga (hari Pentakosta Kristiani yang pertama) telah dibaptis kira-kira sebanyak 3000 orang (Kis 2:41), dan dengan demikian lahirlah Gereja. Gereja akhirnya menjadi dikenal sebagai Tubuh Kristus, sebagai kelanjutan dan perkembangan dari inkarnasi Tuhan Yesus (lihat misalnya 1 Kor 12:12: Ef 1:23).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita berdoa selama sembilan hari (Novena) kepada Roh Kudus agar hadir dan membimbing kita kekpada seluruh kebenaran (Yoh 16:13), khususnya kebenaran tentang Inkarnasi dan Gereja-Nya.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan bersemayamlah di dalam diri kami. Semoga Engkau senantiasa menjadi terang hati kami dan kehidupan jiwa kami. Penuhilah diri kami dengan kekudusan dan hikmat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:17-23), bacalah tulisan yang berjudul “IA NAIK KE SURGA TETAPI MENINGGALKAN ROH KUDUS, PENOLONG BAGI KITA PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 30-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Mei 2019 [Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan-OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS