KITA HARUS MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH DENGAN PENUH GAIRAH DAN SYUKUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Bernardus, Abas Pujangga Gereja – Kamis, 20 Agustus 2020)

Lalu Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya, hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Lalu pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:1-14)  

Bacaan Pertama: Yeh 36:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-15,18-19 

Pesta perkawinan biasanya dipenuhi dengan saat-saat yang membahagiakan – bahkan penuh excitement – bagi kedua keluarga yang terlibat. Kedua mempelai juga dipenuhi dengan perasaan yang penuh dengan pengharapan, petualangan, bahkan suatu langkah awal yang baru. Cintakasih mereka satu sama lain membuat segalanya yang lain tidak ada artinya lagi apabila dibanding-bandingkan. Para sahabat dan anggota-anggota keluarga kedua mempelai ini pun larut dalam excitement ini. Siapa di antara kita yang tidak merasa istimewa ketika sepucuk surat undangan pernikahan dimasukkan ke dalam kotak surat kita? Kita merasa bangga dimasukkan ke dalam daftar tamu dan dengan begitu memegang peranan juga dalam kehidupan kedua mempelai. Pada saat terjadinya pesta perkawinan, excitement yang dihasilkannya menyebabkan persiapan-persiapan menjadi pusat perhatian utama. Segala sesuatu yang lain dapat dikesampingkan untuk sementara waktu sampai selesainya pesta perkawinan itu.

Jikalau pesta perkawinan seorang sahabat atau orang yang kita kasihi dapat menyebabkan kita menjadi begitu terlibat dan fokus, maka tentunya betapa lebih lagi excitement dan fokus kita dalam mempersiapkan pesta perkawinan sang Anak Domba Allah.

Allah telah mengundang kita untuk datang ke pesta perkawinan Putera-Nya sendiri. Kebanyakan dari kita tidak pernah bermimpi untuk datang ke pesta perkawinan dari seorang yang kita kasihi dengan mengenakan pakainan yang kiranya tidak layak untuk sebuah pesta atau tanpa memberi kado. Nah, betapa lebih lagi kita seharusnya menanggapi undangan Allah untuk datang ke pesta perkawinan Putera-Nya.

Kita telah menerima undangan kelas-satu untuk menghadiri suatu royal wedding: pesta perkawinan Yesus Kristus dengan mempelai perempuan-Nya, yaitu Gereja (anda dan saya). Jadi, seperti halnya kita menerima undangan untuk datang ke pesta perkawinan seorang sahabat, maka kita pun harus menanggapi undangan Allah dengan penuh gairah dan syukur.

Selagi Roh Allah bergerak dalam hati kita masing-masing, maka kita harus berkata, “Ya Tuhan, aku akan menyingkirkan segalanya yang lain agar dapat mempersiapkan peristiwa yang tidak ada tandingannya ini.”

Sekali kita telah memberi tanggapan terhadap undangan Allah, maka kita harus tetap berada dalam “persiapan” yang terus-menerus sehingga kita dapat berada dalam keadaan yang terbaik pada saat Kristus, sang Mempelai laki-laki, datang ke tengah-tengah kita. Kita tidak pernah akan menerima undangan istimewa, kemudian melupakannya. Kita tidak pernah boleh mengatakan “ya” namun kemudian tidak muncul. Seperti juga halnya kita akan tetap berada dekat dengan orang yang kita kasihi yang siap menikah, marilah kita menghaturkan permohonan kepada Roh Kudus untuk memenuhi diri kita dengan pengharapan dan hasrat akan Yesus dan pesta perkawinan sang Anak Domba Allah.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku merasa cemas-cemas gembira menantikan peristiwa sangat penting, yaitu pesta perkawinan-Mu. Aku ingin merayakan peristwa itu dengan penuh sukacita bersama Engkau. Datanglah Tuhan, dengan demikian aku dapat bersama-Mu, muka ketemu muka, untuk selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “APABILA UNDANGAN ALLAH DIDENGARKAN DAN DITANGGAPI” (bacaan tanggal 20-8-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-8-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Agustus 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS