Posts tagged ‘YUDAS ISKARIOT’

KATA YESUS KEPADA YUDAS: ENGKAU TELAH MENGATAKANNYA

KATA YESUS KEPADA YUDAS: ENGKAU TELAH MENGATAKANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM PEKAN SUCI 28 Maret 2018)

Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata, “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus, “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam Yesus duduk makan bersama-sama dengan keduabelas murid itu. Ketika mereka sedang makan, Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku.” Lalu dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya, “Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab, “Dia yang  bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuati dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan. Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu berkata, “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.” (Mat 26:14-25) 

Bacaan Pertama: Yes 50:4-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:8-10, 21-22,31,33-34 

Ketika Yesus mengatakan bahwa salah seorang murid-Nya akan mengkhianati diri-Nya, maka sebelas orang murid-Nya, satu persatu bertanya kepada-Nya, “Bukan aku, ya Tuhan?”. Kemudian Yudas juga mengajukan pertanyaan yang mirip tetapi tidak sama: “Bukan aku, ya Rabi?” (Mat 26:22,25). Jelas kelihatan bahwa kesebelas murid telah mampu melihat Yesus sebagai seseorang yang bukan sekadar seorang rabi dan guru berbakat dengan visi baru untuk Israel. Sesuatu telah terjadi atas diri mereka yang membuat mereka memandang diri Yesus sebagai seorang yang layak dan pantas untuk ditaati, seorang pribadi yang mereka harus sapa sebagai “Tuhan”. Sebaliknya, Yudas tidak berhasil sampai ke titik itu.

Ada banyak cara untuk memandang Yesus: sebagai seorang guru yang berkharisma, seorang tabib pandai, seorang nabi besar, seorang kudus yang luarbiasa. Sebenarnya Yesus jauh lebih daripada sekadar gelar-gelar yang diberikan tadi. Dia juga adalah Tuhan, Ia memerintah atas segala sesuatu dengan otoritas yang penuh. Ia memang pantas untuk segala kehormatan, kemuliaan dan kuasa.

Kita semua sudah familiar dengan frase-frase ini, namun apa yang dimaksudkan oleh frase-frase tersebut bagi kita pada tingkat praktis? Bagaimana kebenaran-kebenaran ini mempengaruhi cara kita hidup dan cara kita memandang kehidupan kita? Satu jawaban adalah sementara kita harus memandang Yesus sebagai sahabat kita, kita juga harus melihat dia sebagai Allah kita. Dia memiliki otoritas atas diri kita yang dapat dikalahkan oleh siapa dan apa pun juga. Ajaran-ajaran-Nya sendiri sangat berbobot dan pantas untuk dipatuhi. Kekuasaan-Nya juga mutlak. Kita dapat memandang Yesus dengan iman yang penuh pengharapan, karena kita tahu bahwa Dia dapat membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya, melepaskan orang-orang dari penderitaann mereka, dan memperhatikan kehidupan kita dan kehidupan orang-orang di sekeliling kita sampai ke detil-detilnya.

Martabat Yesus sebagai Tuhan atas diri kita tidaklah boleh dilihat sebagai beban yang menekan. Sebaliknya, malah memberikan kebebasan dan damai-sejahtera yang luarbiasa. Ketuhanan-Nya mentransformasikan kita, memberikan kepada kita arahan bagi kehidupan kita yang jauh lebih memuaskan daripada rencana apa pun bikinan kita sendiri. Yesus bukanlah seorang penguasa yang tidak adil dan masa bodoh. Sebagai Allah, Dia adalah kasih.

Pada hari ini, marilah kita mengikuti kesebelas murid yang memanggil Yesus sebagai Tuhan. Selagi kita melakukannya, Yesus akan membuat kehadiran-Nya dan kuasa-Nya terwujud dalam kehidupan kita. Dia akan menciptakan sebuah hati yang baru dalam diri kita masing-masing dan memberikan kepada kita suatu damai-sejahtera yang jauh melampaui semua pemahaman manusia.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan diriku kepada-Mu. Tolonglah aku untuk mampu menerima Engkau dengan sepenuh hati dalam hatiku dan pikiranku. Tolonglah aku agar selalu berjalan di jalan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 26:14-25), bacalah tulisan yang berjudul “LEBIH BAIK BAGI ORANG ITU SEKIRANYA IA TIDAK DILAHIRKAN” (bacaan tanggal 28-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

PERBUATLAH DENGAN SEGERA

PERBUATLAH DENGAN SEGERA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI – 27 Maret 2018)

Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Salah seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, “Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Lalu murid yang duduk dekat Yesus berpaling dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, “Dialah yang kepadanya aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mencelupkan roti itu, lalu mengambil dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti mengapa Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas, ada yang menyangka bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Setelah menerima roti itu, Yudas segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula sekarang Aku mengatakannya kepada kamu juga.

Simon Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus, “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus, “Nyawamu akan kauberikan kepada-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (Yoh 13:21-33.36-38) 

Bacaan Pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17

Episode dari Injil Yohanes di atas menggambarkan saat-saat genting-penting dalam kehidupan Yesus di dunia: pengkhianatan oleh si murid (rasul) korup (lihat Yoh 12:4-6). Gambaran besarnya adalah “perjamuan terakhir”, perjamuan Yesus dengan para murid dalam rangka perayaan Paskah. Upacara “pembasuhan kaki para murid” disertai pengajaran agar para murid mengikuti teladan-Nya telah selesai dilakukan oleh-Nya (Yoh 13:1-15). Demikian pula dengan pengajaran singkat yang diakhiri dengan pernyataan sangat penting bagi para murid-Nya pada waktu itu, tentunya para murid/utusan-Nya di masa-masa mendatang: “Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku” (Yoh 13:20). Episode di atas kemudian disusul dengan serangkaian pengajaran Yesus (Yoh 14:1-16:33). Setelah itu, sebelum ditangkap di taman Getsemani, Injil Yohanes menggambarkan Yesus yang berdoa kepada Bapa surgawi untuk para murid-Nya (Yoh 17:1-26).

Yesus tahu benar tentang rencana jahat Yudas. Ia berkata kepada Yudas, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera” (Yoh 13:27). Dengan begitu Yesus memperkenankan dimulainya serangkaian kejadian yang akan memuncak keesokan siang harinya dengan kematian-Nya di kayu salib di bukit Kalvari. Di sinilah terletak ironi besar dalam Pekan Suci. Setelah Yudas meninggalkan ruangan perjamuan, Yesus bersabda: “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera” (Yoh 13:31-32). Ia mengatakan ini justru setelah baru saja mengkomit diri-Nya pada kematian di kayu salib, yaitu dengan memberi lampu hijau kepada Yudas. Pernyataan Yesus ini mengandung kebenaran tersembunyi tentang keputusan-Nya tersebut.

Ada paradoks rencana penyelamatan ilahi di sini. Karena kasih, Putera Allah yang Mahakuasa menjadi manusia agar Ia dapat menyelamatkan dunia, dan dalam upaya penyelamatan itu kematian di salib adalah jalan yang harus ditempuh. Dalam kematian Yesus di kayu salib kita melihat hikmat Allah, suatu perwujudan-nyata dari kasih Allah yang penuh kerahiman bagi dunia dan seisinya.  Yesus melihat kemuliaan-Nya dan kemuliaan Bapa surgawi, dalam peristiwa pengkhianatan seorang murid yang dipilih-Nya sendiri dan dikasihi-Nya; juga pada saat-saat Dia dituduh dan dihukum oleh para pemuka agama bangsa-Nya sendiri dan dihukum oleh seorang penguasa negara yang plin-plan.  Yesus dimuliakan pada saat Ia disiksa, didera, diludahi dan diolok-olok serta dihina, karena dengan demikian Ia menerima kehendak Bapa – bahwa Dia harus menanggung hukuman mati demi saudari-saudaranya (manusia) yang berdosa. Justru karena Yesus telah mengalami diri-Nya ditinggalkan oleh Bapa, mengalami desolasi dan penolakan demi ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa, maka sekarang Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa; dari sanalah Ia melakukan syafaat untuk seluruh umat manusia.

Ketika sejarah berada pada titik kritis, ketaatan Yesus pada kehendak Bapa memancar terang dengan indah dan penuh keagungan. Yesus mempertimbangkan ketundukan serta ketaatan pada Allah – yang justru ditolak Lucifer dan begundal-begundalnya – sebagai kehormatan dan kemenangan besar. Ketaatan Yesus telah menjungkir-balikkan segala pra-konsepsi dan membuktikan bahwa Allah itu mahaadil dan maharahim. Cintakasih Yesus yang total kepada Bapa mengungkapkan kasih yang total Allah kepada dunia. Di sini ditunjukkanlah seorang Bapa, yang demi menyelamatkan anak-anak-Nya tidak sungkan-sungkan untuk membayar harga semahal apa pun. At all costs! 

DOA: O Raja segala raja, Engkau menerima mahkota berduri, jubah penderitaan dan kematian demi keselamatan diriku. Engkau tidak pernah mengkhianati Bapa, sedangkan aku – seperti Yudas Iskariot – pernah menghianati-Mu. Jagalah aku selalu agar tidak mengkhianati-Mu lagi. Aku kehabisan kata-kata untuk memuji-muji-Mu, ya Tuhan. Hanya terima kasih penuh syukur yang dapat kuucapkan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:21-33,36-38), bacalah tulisan yang berjudul “TERANG BAGI BANGSA-BANGSA” (bacaan tanggal 27-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGKHIANATAN YUDAS DIUNGKAPKAN OLEH YESUS

PENGKHIANATAN YUDAS DIUNGKAPKAN OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM PEKAN SUCI – 12 April 2017)

 

Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata, “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus, “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam Yesus duduk makan bersama-sama dengan keduabelas murid itu. Ketika mereka sedang makan, Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku.” Lalu dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya, “Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab, “Dia yang  bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan. Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu berkata, “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.” (Mat 26:14-25)  

Bacaan Pertama: Yes 50:4-9a; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 69:8-10, 21-22,31,33-34 

Mengapa Yudas mengkhianati Yesus? Jawaban terhadap pertanyaan ini terletak dalam konflik antara “daging” dan “roh” yang ada dalam setiap orang. Kehidupan Yudas Iskariot dikemudikan oleh dorongan dalam dirinya yang begitu kuat untuk memuliakan-diri sendiri (Inggris: a strong sense of self-glorification) dan hal ini memungkinkan kedagingannya bergerak  bebas ke sana ke mari.

Hasrat-hasrat kedagingan Yudas (dan para murid lainnya) bertentangan secara tajam dengan hasrat perempuan yang datang ketika Yesus berada dalam rumah Simon si kusta di Betania; dia yang mengurapi Yesus dengan minyak wangi yang mahal (Mat 26:6-7). Dari sudut pandang yang rasional, reaksi mendongkolkan dari Yudas (dan para murid lainnya) terhadap pengurapan perempuan itu atas diri Yesus kiranya mengandung kebenaran juga. Uang sejumlah 300 dinar dari hasil penjualan minyak narwastu yang mahal itu memang dapat menolong banyak orang yang membutuhkan (Mat 26:9). Akan tetapi, sebenarnya “orang miskin” bukanlah keprihatinan si Yudas; dia hanyalah seorang “koruptor” munafik, yang mementingkan kantong sendiri. Hal ini terungkap dalam Injil Yohanes yang mencatat peristiwa serupa, namun terjadi di rumah Lazarus di Betania dan perempuan itu adalah Maria, salah seorang saudara perempuan dari Lazarus (lihat Yoh 12:6). Menurut Yesus perempuan itu justru “telah melakukan perbuatan baik” pada-Nya (Mat 26:10). Dia  sungguh mencari Allah dan dalam rohnya dia melihat Yesus sebagai Pribadi yang datang untuk memberikan kehidupan bagi dunia. Ungkapan cinta-kasih dan syukurnya sungguh memuliakan Yesus, teristimewa sebagai persiapan penguburan-Nya (Mat 26:12; Mrk 14:8).

Di taman Getsemani, Yesus menasihati Petrus: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang berniat  baik, tetapi tabiat manusia lemah” (Mat 26:41). Yudas tidak dapat bertahan dalam menghadapi dan menanggung “saat-saat pencobaan” karena dia tidak pernah mencari Allah, untuk mengenal-Nya dalam roh. Karena tidak mampu melihat rencana Allah yang lebih besar, nanti kita akan melihat bahwa Yudas menjadi putus-asa dan menggantung dirinya sendiri (Mat 27:3-5). Akan tetapi, Petrus berhasil bertahan pada “saat-sat pencobaan”. Seperti juga halnya dengan Yudas, dia mengalami kegalauan karena telah mengkhianati Yesus (Mat 26:75), namun – tidak seperti Yudas – Petrus juga terbuka bagi Roh Kudus. Pada hari Pentakosta, Petrus dipenuhi dengan Roh Kudus dan dalam rohnya memahami keindahan dari rencana penyelamatan Allah. Kemudian dia bertindak atas dasar pengalaman ini dan mulai mewartakan Injil dengan penuh kuat-kuasa (Kis 2:14-36).

Semakin kita melangkah maju untuk memperoleh penerangan atas roh kita dengan kebenaran-kebenaran ilahi, semakin banyak pula kita akan dituntun oleh Roh Kudus dan semakin sedikit pula kita akan hidup dalam daging. Dengan taat menekuni resolusi-resolusi kita untuk masa Prapaskah, kita bekerja-sama dengan rahmat Allah dan mulai untuk hidup dalam roh secara lebih mendalam.

DOA: Datanglah, Roh Kudus Allah. Ajarlah kami untuk membuka diri bagi kehadiran Allah. Tolonglah kami untuk membuang segala cara kedagingan dan hidup dalam Roh ketika kami memeluk rencana Allah yang penuh kasih bagi kami semua dalam Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 26:14-25), bacalah tulisan yang berjudul “KATA YESUS KEPADA YUDAS: ENGKAU TELAH MENGATAKANNYA” (bacaan tanggal 12-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERSEMBAHAN BAGI YESUS

PERSEMBAHAN BAGI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI – 10 April 2017) 

Enam hari sebelum Paskah, Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedangkan salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Lalu Maria mengambil setengah liter minyak narwastu murni yang mahal sekali, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Hal ini dikatakannya bukan karena ia memperhatikan orang-orang miskin, melainkan karena ia seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Lalu kata Yesus, “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada bersama kamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama kamu.”

Sejumlah besar orang Yahudi mendengar bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala berencana untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus. (Yoh 12:1-11) 

Bacaan Pertama: Yes 42:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1-3,13-14

Maria dari Betania mengurapi Yesus dengan minyak narwastu yang harum mewangi dan bernilai mahal sekali (Yoh 12:3). Tanpa disadari olehnya, dengan perbuatannya Maria sebenarnya sedang mempersiapkan penguburan Yesus.

Dengan tetap membiarkan Yudas menjadi pemegang kas bagi Yesus dan para murid-Nya yang selalu mengikuti-Nya dalam rombongan, Yesus kehilangan uang banyak sekali. Tentu saja Yesus tahu bahwa Yudas itu adalah seorang pengkhianat (lihat Mat 26:21), dan tentu juga Dia mengetahui bahwa Yudas adalah seorang koruptor yang suka mencuri uang kas bersama (Yoh 12:6).

Mungkin saja Yesus membiarkan Yudas mencuri uang kas agar supaya memberikan kesempatan luas dan banyak kepadanya untuk bertobat dan juga banyak kesempatan kepadanya untuk menghindarkan diri dari pemikiran dan tindakan pengkhianatan dan bunuh diri (lihat Mat 27:5).

Banyak orang, juga  kaum muda, yang terlalu cepat meninggal dunia dan dikubur. Beberapa orang malah begitu cepat mati dan menjadi celaka abadi. Maka janganlah kita (anda dan saya) menyia-nyiakan waktu untuk mempersembahkan para baptis baru dengan urapan api Roh Kudus kepada-Nya (lihat Rm 15:16).

Bagi banyak orang waktunya terasa cepat berlalu untuk menerima keselamatan dari Yesus. Juga bagi kita rasanya waktu begitu cepat berlalu untuk dapat syering/berbagi dengan orang-orang lain tentang kasih Yesus. Semoga berkat tuntunan Roh Kudus, kita sungguh dapat mengupayakan agar supaya sebanyak mungkin orang mau menyerahkan diri mereka kepada Yesus dan percaya kepada-Nya karena kesaksian hidup kita (bdk. Yoh 12:11).

Saudari dan Saudaraku, selamat menjalani Pekan Suci tahun 2017.

DOA: Bapa surgawi, seperti juga dalam hal Paulus,  jadikanlah aku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak orang bagi-Mu (1Kor 9:19). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 42:1-7) bacalah tulisan yang berjudul “HAMBA YHWH PERJANJIAN BARU ADALAH YESUS SENDIRI” (bacaan tanggal 10-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017.

 (Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERKENANKAN YESUS MELAYANI KITA

MEMPERKENANKAN YESUS MELAYANI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Kamis, 30 April 2015)

OFMCap.: Peringatan B. Benediktus dr Urbino, Biarawan

OSU: Peringatan B. Maria dr Inkarnasi

LAST SUPPER -12Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada orang yang mengurusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah digenapi nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya bahwa Akulah Dia. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh 13:16-20) 

Bacaan Pertama: Kis 13:13-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 89L2-3,21-22,25,27

Pernahkah anda mempunyai pengalaman seperti berikut ini? Anda bangun tidur di pagi hari dengan penuh semangat; anda berketetapan hati untuk membuat suatu perubahan di dunia dengan menjalani hidup bagi Kristus dan menjadi hamba-Nya yang rendah hati. Anda melompat dari tempat tidur, mantap untuk menjadi bentara kasih-Nya – seperti yang ada dalam pikiran Yesus ketika Dia berkata: “Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku” (Yoh 13:20). Akan tetapi, pada malam harinya semangat yang menggelora di pagi hari sudah menyusut, malah menghilang, dan anda pun merasa heran dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah yang telah terjadi. Anda dengan keras mencoba untuk hidup sebagai seorang duta Kristus. Anda sungguh ingin agar orang-orang mengetahui dan mengalami bahwa Yesus adalah Sumber dari sukacita anda. Namun kalau melihat perkembangan sepanjang hari ini, anda merasa bahwa masih ada sesuatu yang kurang. Serasa segala upaya anda sepanjang hari ini tidaklah memadai – tidak cukup persuasif, tidak cukup setia, tidak cukup kadar kasihnya, atau bahkan hampir sia-sia.

Memang hari-hari seperti ini akan selalu kita alami, namun apabila sungguh hadir maka kita harus melihatnya sebagai karunia istimewa dari Allah. Pada hari-hari seperti inilah kita diingatkan bahwa pada dirinya sendiri – berbagai upaya manusia (tanpa pertolongan Allah) akan senantiasa tidak memadai. Apabila kita mengandalkan diri pada upaya kita sendiri – kekuatan kita sendiri – maka yang akan kita alami adalah kekecewaan, … upaya kita tidak mengenai sasaran. Seperti juga Petrus dan para rasul lainnya yang membiarkan Yesus membasuh kaki-kaki mereka, maka sama jugalah halnya dengan kita semua (Yoh 13:3-12). Hanya apabila kita memperkenankan Yesus melayani kita maka kita akan dibuat cocok dan siap untuk melayani orang-orang lain.

Bayangkanlah diri anda sedang berada di kaki atau bagian bawah sebuah jalan menanjak dengan banyak sekali anak tangga, dan di ujung atas sana berdirilah Yesus. Pandangan-Nya yang penuh kemuliaan dan pancaran kasih dari diri-Nya sungguh memikat hati anda dan membuat diri anda ingin sekali untuk berada bersama-Nya. Namun setiap kali anda mencoba untuk naik satu-dua langkah, anda turun lagi. Anda mencoba lagi, hal yang sama pula yang terjadi: tergelincir dan tergelincir lagi. Akhirnya, anda merasa frustrasi karena merasa gagal. Anda berteriak minta tolong. Dalam sekejab saja Yesus  turun ke anak tangga paling rendah dan kemudian Ia menggendong anda sampai ke atas.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus. Janganlah kita membiarkan hari ini menjadi hari seperti yang diceritakan di atas. Mulailah dengan menempatkan diri anda di dalam kehadiran Tuhan melalui doa dan keterbukaan hati yang penuh damai. Perkenankanlah Yesus menggendong diri anda, membasuh kaki-kaki anda. Inilah yang seharusnya menjadi titik awal hari kita. Kita tidak pernah akan menjadi bentara kasih Allah berdasarkan kehendak dan kekuatan kita sendiri. Allah juga tidak pernah memaksudkan agar anda menjadi begitu. Semoga kebenaran ini memenuhi diri hati kita semua dengan sukacita dan dorongan untuk bergerak lebih maju lagi.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku sehingga sudi mengutus aku untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang lain. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang lembah lembut dan dipenuhi dengan kedinaan, sehingga dengan demikian aku dapat melayani seperti Engkau sendiri melayani. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAKLAH LEBIH TINGGI DARIPADA TUANNYA” (bacaan tanggal 30-4-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-04 BACAAN HARIAN APRIL 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 27 April 2015 [Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIA-LAH YANG MENGASIHI TERLEBIH DAHULU

DIA-LAH YANG MENGASIHI TERLEBIH DAHULU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI – 30 Maret 2015) 

KAKI YESUS DIBERSIHKAN DI RUMAH FARISI SIMONEnam hari sebelum Paskah, Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedangkan salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Lalu Maria mengambil setengah liter minyak narwastu murni yang mahal sekali, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Hal ini dikatakannya bukan karena ia memperhatikan orang-orang miskin, melainkan karena ia seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Lalu kata Yesus, “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada bersama kamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama kamu.”

Sejumlah besar orang Yahudi mendengar bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala berencana untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus. (Yoh 12:1-11) 

Bacaan Pertama: Yes 42:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1-3,13-14 

Contoh yang diberikan oleh Maria dari Betania dalam bacaan Injil hari ini sungguh kuat-mendalam. Dalam hasratnya untuk menghormati Yesus, tampaknya tidak ada biaya yang terlampau mahal. Tidak ada yang lebih berarti bagi dirinya selain berada bersama Yesus. Sukacita karena dikasihi oleh Yesus memenuhi dirinya dan hal ini tidak dapat diungkapkan sekadar dengan kata-kata …… Maria ingin dirinya bersama Yesus selama mungkin.

Bayangkan betapa gembira Tuhan kita apabila ada di antara kita yang datang kepada-Nya dengan cintakasih dan devosi yang sama bobotnya dengan yang telah ditunjukkan oleh Maria dari Betania! Bila kita mendekati Yesus seperti yang dilakukan oleh Maria, curahan kasih kita akan menyebarkan bau (aroma) semerbak yang memenuhi segala hal yang kita lakukan. Aroma semerbak itu menyebar secara berlimpah ke dalam segala situasi yang kita hadapi, dan yang membuat damai-sejahtera yang memenuhi hati kita memancar ke luar kepada orang-orang lain. Rekan kerja di pabrik atau kantor di mana kita bekerja akan merasa “heran” mengapa kita kelihatan begitu baik hati dan tenang dalam menghadapi banyak masalah pekerjaan. Para tetangga merasa tertarik sehingga mulai “curhat” dan mengharapkan nasihat-nasihat kita. Para anggota keluarga merasa tersentuh melihat perilaku kita yang tidak mementingkan diri sendiri, bahkan dalam hal-hal yang kecil, termasuk “tidak rakus” lagi ketika duduk bersama di meja makan.

KAKI YESUS DIURAPI DI RUMAH ORANG FARISIBagaimana Maria dari Betania dapat sampai ke tahapan ini dalam kehidupannya? Kita salah jika kita berpikir bahwa dialah yang pertama-tama mengasihi Yesus dan hal itu menggerakkan Yesus untuk memberkati dirinya sebagai ganjaran. Seperti Yohanes, Petrus dan perempuan Samaria di sumur Yakub, orang yang buta sejak lahir, dan banyak lagi pribadi-pribadi yang lain, Maria pertama-tama dan terutama adalah seorang pribadi yang menerima kasih Yesus. Yesus-lah yang menemukan dia dan kasih Yesus-lah yang menyentuh bagian terdalam dari hati Maria. Kasih Yesus bagi dirinya-lah yang membangunkan kasihnya kepada Yesus dan menggerakkan dirinya melakukan tindakan penyembahan yang luarbiasa seperti diceritakan dalam Injil hari ini.

Pada Pekan Suci ini, dapatkah kita semua duduk bersama Yesus dan memperkenankan diri-Nya mengucapkan sabda kasih-Nya kepada kita – kasih yang tidak mengenal batas? Beranikah kita membuka hati kita bagi-Nya dan memperkenankan Dia menyembuhkan segala luka kita – baik luka-luka fisik maupun batiniah – dan memancarkan cahaya terang ke dalam kegelapan kita? Lalu, setelah diubah oleh kemuliaan-Nya, setiap tindakan kita pun akan memenuhi rumah kita dengan aroma mewangi cintakasih kita kepada Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, aku tahu bahwa walaupun sekiranya aku merupakan satu-satunya orang yang membutuhkan penyelamatan dari-Mu, Engkau akan tetap datang dan mati untuk diriku. Tolonglah aku untuk menanggapi kasih-setiaMu dengan memuji-muji Engkau dan melayani Engkau dengan segenap hatiku. Tuhan, aku sungguh mengasihi Engkau! Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 42:1-7) bacalah tulisan yang berjudul “NYANYIAN PERTAMA TENTANG HAMBA YHWH YANG MENDERITA” (bacaan tanggal 30-3-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH HAMBA YHWH PERJANJIAN BARU” (bacaan tanggal  18-4-11) dalam situs/blog SANG SABDA, dan “HAMBA-KU, YANG KEPADANYA AKU BERKENAN” (bacaan tanggal 14-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:1-11), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “KAMI MENYEMBAH ENGKAU, TUHAN YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 25-3-13) dan “BAU SEMERBAK MINYAK ITU MEMENUHI SELURUH RUMAH” (bacaan tanggal 2-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-4-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PUN DIPANGGIL DAN DIPILIH OLEH ALLAH

KITA PUN DIPANGGIL DAN DIPILIH OLEH ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA SANTO MATIAS, RASUL – Selasa, 14 Mei 2013)

LAST SUPPER - SEBELUM YUDAN BERKHIANAT“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengaar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain.” (Yoh 15:9-17)

Bacaan Pertama: Kis 1:15-17,20-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-8 

Ketika saat penyaliban-Nya sudah mulai mendekat, Yesus bersabda kepada para murid-Nya “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15:16). Yesus mengetahui bahwa apabila para murid-Nya harus menjadi cukup kuat dalam menghadapi tantangan-tantangan sehubungan dengan pembangunan Gereja-Nya di atas bumi, mereka perlu mengetahui bahwa mereka telah dipilih secara pribadi – dipanggil oleh Allah sendiri.

Dengan demikian pentinglah bagi para murid untuk menyadari bahwa mereka itu dipilih! Yesus memahami ini karena Dia telah mengalaminya sendiri – dalam Bait Allah di Yerusalem (Luk 2:49), ketika Dia dibaptis di sungai Yordan (Mat 3:16-17), dan pada peristiwa transfigurasi di atas gunung (Mrk 9:3). Yesus mengetahui bahwa Bapa telah memilih-Nya dan akan menyediakan segalanya yang diperlukan oleh-Nya untuk menanggapi panggilan-Nya. Dengan cara yang serupa, Yesus menginginkan agar kita mengetahui bahwa kita juga telah dipilih.

ST. MATTHIASKitab Suci memiliki sedikit saja catatan tentang Santo Matias, kecuali tentang bagaimana para rasul berdoa bersama secara serius ketika mempertimbangkan Matias sebagai calon penerus Yudas Iskariot. Akhirnya, Matias dipilih oleh Allah untuk bersama dengan Yesus dan para rasul lainnya. Tentu saja sudah lama dia mengikut Yesus pada waktu Yesus berkeliling melayani orang banyak. Dengan berjalannya waktu, panggilan Matias pun semakin matang dan pada akhirnya Dia pun mati sebagai martir Kristus, sebuah kematian karena kasih mendalam kepada Dia yang telah memanggilnya.

Seperti Matias yang dipilih oleh Allah sendiri, masing-masing kita pun secara khusus dipanggil dan dipilih. Apabila kepada ditanya mengapa kita berdoa, membaca Kitab Suci, atau pergi ke gereja, kita dapat mananggapi pertanyaan tersebut dari hati kita, “Karena Allah sendiri telah telah memilihku dan memanggilku. Aku adalah milik-Nya yang spesial.” Kita mungkin saja tergoda untuk berpikir bahwa kita berada di mana kita berada sekarang sebagai sesuatu yang kebetulan. Salahlah kalau kita berpikir seperti itu! Allah itu begitu besar dan agung, Ia begitu mengasihi kita sehingga tidak akan meninggalkan kita sendiri sebagai korban keadaan. Dalam hikmat-kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, segalanya berjalan untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi dan mengikuti-Nya. Marilah kita mohon kepada-Nya agar membimbing, menuntun serta menunjukkan kepada kita bagaimana Dia menginginkan kita untuk bersikap dan berperilaku dalam kehidupan kita sehari-hari.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telam memanggil kami sebagai anak-anak-Mu. Kami mohon agar Engkau memenuhi diri kami masing-masing dengan Roh Kudus-Mu agar supaya kami dapat semakin dalam merangkul panggilan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 1:15-17,20-26), bacalah tulisan yang berjudul  “MATIAS MENGGANTIKAN YUDAS ISKARIOT” (bacaan tanggal 14-5-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: BACAAN HARIAN MEI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “SETELAH PENTAKOSTA CERITANYA MENJADI LAIN” (bacaan tanggal 14-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Injil (Yoh 15:9-17), bacalah tulisan yang berjudul “KITA PUN DIPILIH DAN DIPANGGIL SEPERTI MATIAS” (bacaan tanggal 14-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-5-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 MEI 2013 [HARI MINGGU PASKAH VII – HARI MINGGU KOMUNIKASI SEDUNIA] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS