Posts tagged ‘YOHANES PEMBAPTIS’

YESUS ITU SIAPA SEBENARNYA?

YESUS ITU SIAPA SEBENARNYA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Vincentius a Paulo – Kamis, 27 September 2018)

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Yohanes telah dibangkitkan dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. (Luk 9:7-9) 

Bacaan Pertama: Pkh 1:2-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6,12-14,17 

“Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” (Luk 9:9)

Herodes mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat baik, walaupun ia telah mengeraskan hatinya terhadap jawaban atas pertanyaan itu. Sekarang, apakah yang kita sendiri ketahui tentang Yesus? Allah mempunyai niat agar kita menjalin suatu hubungan yang akrab dan mempribadi dengan Putera-Nya, bahkan sebelum Ia menciptakan kita-manusia, dan Ia tidak pernah membatalkan niatnya ini. Allah sangat senang dalam menyatakan kasih-Nya, rencana-Nya, keberadaan-Nya kepada mereka yang duduk dalam keheningan di hadapan hadirat-Nya dan mohon kepada-Nya untuk mengajar mereka.

Bagaimana kita dapat merenungkan Allah yang tidak kelihatan? Tanda-tanda ada di sekeliling kita, hanya apabila kita mencoba mencarinya. Misalnya, Santo Paulus menulis: “Sifat-sifat-Nya yang tidak tampak, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak dan dipahami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan” (Rm 1:20). Sang pemazmur juga mendeklarasikan, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm 19:1). Apabila kita menyaksikan pemandangan indah matahari yang sedang terbit atau terbenam, atau memandang bintang-bintang di langit pada malam hari dan banyak lagi hal lain yang menyangkut alam ciptaan, maka semua itu akan banyak menyingkapkan kebaikan dan kasih Allah.

Pada abad ke-17/18 ada seorang imam di Perancis yang bernama P. François Fénelon. Imam ini dilahirkan pada tahun 1651. Ia mengabdikan dirinya untuk merenungkan kebenaran-kebenaran Allah dan mengajar orang-orang lain bagaimana melakukan hal yang sama. Dia membagi waktunya antara memperhatikan serta merawat orang-orang miskin serta mereka yang menderita sakit-penyakit, dan membesarkan cucu laki-laki dari Raja Ludovikus XIV (Louis XIV) dalam rangka mempersiapkan cucu raja itu menjadi raja pada suatu hari kelak.  Baik ketika dia berada di tengah-tengah orang-orang dalam istana raja maupun ketika dia sedang berada di tengah-tengah para fakir miskin dan wong cilik pada umumnya, P. Fénelon menggunakan pengaruhnya untuk mengajar orang-orang tentang nilai penting untuk memberikan setiap waktu yang tersedia bagi Allah.

Fénelon sangat menyadari adanya tekanan-tekanan atas kehidupan sehari-hari, akan tetapi dia tetap mengajar, “Anda tidak boleh menanti sampai datangnya waktu senggang; ketika anda dapat menutup pintumu dan dan tidak melihat seorang pun ….. langsung arahkan hatimu kepada Allah, dengan sederhana, dengan akrab, dan dengan penuh kepercayaan.” Ia juga mengajar, “Kemana saja Allah akan memimpin anda, di situ engkau akan menemukan-Nya, dalam urusan yang paling mengganggu seperti juga dalam doa yang paling hening.” Sebagaimana Fénelon, kita juga dapat belajar bagaimana menyaring berbagai distraksi/pelanturan yang datang “mengganggu” kita setiap hari, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah yang menyelidik tentang Diri-Nya. Dan seperti Fénelon, kita juga dapat menemukan kuasa yang mengubah-kehidupan dengan mengenal Yesus semakin dalam dan dalam lagi dari hari ke hari.

DOA: Bapa surgawi, seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allahku. Curahkanlah rahmat dan kasih-Mu kepadaku. Tanpa Engkau diriku hampa belaka. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:7-9), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 27-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 25 September 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU

KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Rabu, 19 September 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporroso, Biarawan

Peringatan Falkutatif: Santo Yanuarius, Uskup & Martir

Kata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35) 

Bacaan Pertama: 1Kor 12:31-13:13; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-5,12,22 

Banyak orang pada zaman Yesus menolak ajaran-Nya maupun ajaran Yohanes Pembaptis. Nampaknya tidak ada yang cocok dengan “selera” mereka. Ini adalah orang-orang yang diibaratkan Yesus sebagai anak-anak yang susah dibuat senang, tidak berbahagia dengan apa pun juga. Ketika Yohanes Pembaptis hidup dalam kesederhanaan dan mewartakan sebuah pesan pertobatan, mereka memandang dia sebagai orang yang terlalu keras dan terlalu menuntut. Namun, ketika Yesus makan bersama orang-orang berdosa dan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka, mereka menilai diri-Nya terlalu mudah/gampangan dalam bergaul dengan orang-orang. O, betapa seringkali “ngaco” hati mereka itu. Apa pun yang tidak sesuai dengan “selera” mereka berarti salah!

Orang-orang yang tergolong generasi Yesus mempunyai preconceived ideas mereka sendiri perihal ide-ide pribadi macam apa Mesias itu, dan Yesus tidak cocok …, tidak pas dengan pengharapan mereka. Orang-orang itu terbelenggu oleh pandangan mereka sendiri tentang segala sesuatu. Sebagai orang-orang yang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk mengenal Yesus, mereka malah tidak ingin mengakui Yesus atau menyambut tindakan Allah melalui diri Yesus. Mereka tetap terikat pada penilaian mereka sendiri dan pandangan mereka sendiri, seperti anak-anak yang keras kepala dalam bacaan Injil hari ini. Sebagai akibatnya, mereka luput menerima sentuhan kasih-Nya.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, berapa sering kita bertindak seperti anak-anak tersebut. Barangkali kita sudah mengambil keputusan sampai berapa banyak Allah dapat meminta sesuatu dari diri kita; dengan demikian kita pun telah menutup pintu kita terhadap apa saja lagi yang diminta-Nya. Barangkali kita telah memperkenankan sebuah relasi yang baik dirusak karena kita tidak mau mengalah atas perkara yang sebenarnya tidak penting. Barangkali kita tidak memberikan kesempatan kepada pasangan hidup kita untuk membuktikan bahwa dia telah berubah karena kita tidak mau menerima permintaan maafnya. Barangkali kita telah menghakimi pastor paroki kita dengan keras karena pernyataan yang dibuatnya dalam sebuah homili Misa hari Minggu. Berapa banyak dan sering kita kehilangan kesempatan untuk mempunyai seorang teman baru karena kita tidak menyukai caranya berpakaian? Dlsb., dsj.

 

Bilamana kita menutup diri kita terhadap orang-orang lain berdasarkan prakonsepsi- prakonsepsi kita, penilaian-penilaian yang keliru, dan prasangka-prasangka, maka kita tidak saja membuat mereka menderita, kita pun menderita karenanya. Walaupun Yesus mengakui kekerasan hati dari mereka yang menentang diri-Nya, Dia tahu bahwa hikmat Allah pada akhirnya akan membuktikan keabsahan dalam kehidupan orang-orang yang menerima-Nya (Luk 7:35). Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk melembutkan hati kita masing-masing dan membebaskan kita dari prasangka-prasangka buruk dan miskonsepsi-miskonsepsi yang selama ini membelenggu diri kita. Marilah kita mencari Tuhan setiap hari untuk mendapatkan hikmat-Nya dan mengenal serta mengalami hidup-Nya  dalam diri kita.

DOA: Yesus, bukalah mata (-hati)ku agar dengan demikian aku dapat melihat siapa sesungguhnya Dikau sebagai Tuhan dan Mesias (Kristus). Singkirkanlah setiap rintangan dalam hatiku supaya aku dapat menerima hidup-Mu dalam diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 7:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “MENDENGARKAN SUARA ALLAH DAN PERCAYA” (bacaan tanggal 19-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 September 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA TIDAK PERNAH BOLEH KEHILANGAN PENGHARAPAN

KITA TIDAK PERNAH BOLEH KEHILANGAN PENGHARAPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Minggu, 24 Juni 2018)

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26 

Dalam usia mereka yang sudah tidak muda lagi, Zakharia dan Elisabet tetap sangat menginginkan untuk mempunyai seorang anak, teristimewa ketika mereka melihat keluarga-keluarga di RT mereka bertumbuh. Namun demikian, bagaimana pun dalamnya hasrat pasutri  Zakharia dan Elisabet untuk mempunyai seorang anak, keinginan Allah adalah agar iman mereka kepada-Nya menjadi lebih dalam lagi. Yohanes Pembaptis merupakan buah dari masa penantian mereka yang lama agar Tuhan memenuhi impian mereka. Hari demi hari, selagi mereka berdoa agar dianugerahi seorang anak, mereka ditantang untuk melanjutkan pengharapan mereka akan kebaikan Allah. Setiap hari, mereka menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah Allah dapat dipercaya? Apakah Dia sungguh mengasihi kita? Apakah Dia akan memperhatikan dan memenuhi segala kebutuhan kita?” Setiap kali mereka menjawab “ya” terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, maka iman mereka pun bertumbuh sedikit lebih kuat lagi.

Ketika Zakharia dibuat menjadi bisu oleh malaikat Tuhan (Luk 1:20), sesungguhnya dia memasuki suatu saat-saat berkat dari Tuhan yang intens. Allah ingin mengajar Zakharia agar nanti dia dapat mengajar anaknya tentang apa artinya menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. Pada waktu Yohanes dilahirkan, tanggapan Zakharia merupakan kesaksian atas buah dari ketidakmampuannya berbicara selama sembilan bulan. Dipenuhi dengan Roh Kudus, Zakharia memproklamasikan kesetiaan Allah dan menubuatkan berkat-berkat besar atas diri puteranya (lihat Kidung Zakharia: Luk 1:67-79).

Betapa pentingnya waktu ini bagi Zakharia – dan keseluruhan sejarah penyelamatan! Yohanes “ditakdirkan” untuk bertahun-tahun lamanya hidup sendiri di padang gurun, mendengarkan suara Allah dan menantikan waktu kapan dia harus muncul di depan publik dan mengumumkan kedatangan sang Mesias. Kemudian, ketika dia sedang ditahan dalam penjara oleh Herodes dan menanti-nanti nasibnya, lagi-lagi Yohanes perlu ditopang dengan segala hal yang telah dijanjikan oleh Allah. Di mana dia telah belajar kesabaran dan rasa percaya yang sedemikian, kalau bukan dari Zakharia dan Elisabet?

Kita semua mempunyai hasrat-hasrat dan pengharapan-pengharapan yang belum terpenuhi. Sebagai anak-anak terkasih Allah, kita tidak pernah boleh kehilangan pengharapan. Kita dapat menaruh kepercayaan kepada Dia yang telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing (bdk. Yes 43:1) dan mendengar setiap doa yang datang dari hati kita (bdk. Mzm 65:3). Selagi kita menanti-nanti Tuhan, marilah kita memohon kepada-Nya agar membentuk karakter kita dan membuat kita semakin serupa dengan-Nya. Pada akhirnya, kita akan melihat bahwa rencana-Nya jauh lebih baik daripada rencana kita. Seperti yang terjadi dengan Zakharia, kita akan dimampukan untuk menyanyikan kidung yang memproklamasikan bahwa bukan karena kuat-kuasa manusiawi kita mengalami hal-hal indah dalam hidup kita, melainkan karena kuat-kuasa ilahi Allah saja yang bekerja dalam diri kita dan situasi kehidupan di mana kita berada (lihat Kidung Zakharia). Kidung Zakharia ini senantiasa kita nyanyikan dalam Ibadat Pagi, bukan?

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengetahui segalanya tentang diriku. Engkau tidak pernah berhenti berpikir tentang diriku dan mengelilingi aku dengan kasih-Mu. Engkau tahu apa yang sesungguhnya akan memenuhi diriku dan memberikan kepadaku damai-sejahtera. Jalan dan cara-Mu memang indah, ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “KELAHIRAN BENTARA SANG MESIAS” (bacaan tanggal 24-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMBAPTISAN TUHAN YESUS DI SUNGAI YORDAN

PEMBAPTISAN TUHAN YESUS DI SUNGAI YORDAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Pembaptisan Tuhan – Senin, 8 Januari 2018)

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11) 

Bacaan Pertama: Yes 55:1-11 atau Kis 10:34-38; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 5:1-9 

Pada hari Minggu kemarin kita merayakan “Hari Raya Penampakan Tuhan” atau “Hari Raya Epifani”. Kita melihat bahwa kata “epifani” berarti “manifestasi”. Sang Bayi Yesus dimanifestasikan sebagai sang Juruselamat, tidak hanya bagi orang-orang Yahudi, melainkan juga untuk segenap umat manusia. Pada hari ini, “Pesta Pembaptisan Tuhan”, juga merupakan suatu “epifani”, suatu pesta yang merupakan manifestasi Tuhan Yesus yang lebih mendalam lagi.

Pada hari ini Gereja minta kepada kita untuk menyingkirkan gambaran kandang Yesus yang manis penuh romantisme. Hari ini kita harus melihat Yesus tidak sebagai seorang bayi kecil yang tak berdaya, melainkan sebagai seorang laki-laki dewasa yang mengambil alih serta menanggung sebuah beban dan tanggung jawab yang sangat berat. Beban ini adalah beratnya dosa-dosa umat manusia, sedangkan tanggung jawab di sini adalah “reparasi” atas dosa-dosa itu.

Kenyataan bahwa Yesus dibaptis oleh Yohanes merupakan sesuatu yang sungguh sulit untuk dicerna oleh Gereja awal. Baptisan Yohanes merupakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa-dosa. Gereja awal sangat menyadari kenyataan bahwa Yesus sebagai Yang Ilahi mutlak tanpa dosa. Pertanyaannya adalah mengapa seseorang yang tanpa dosa harus menyerahkan diri untuk dibaptis, yang di dalam rituale-nya termasuk pengakuan dosa. Kenyataan bahwa Tuhan kita dibaptis oleh Yohanes menunjukkan bahwa Dia mengambil alih serta menanggung dosa-dosa seluruh dunia, walaupun Ia sendiri sempurna tanpa dosa.

Yesus menanggung sendiri dosa-dosa dunia untuk menghilangkan rasa bersalah. Seperti yang dikatakan oleh Santo Yohanes Pembaptis: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29, 36). Baptisan Yesus adalah suatu perendahan diri sendiri, suatu ungkapan kedinaan. Namun dari dalam air sungai Yordan, Yesus muncul sebagai seorang Juruselamat yang dimuliakan.

Sabda atau kata-kata Allah Bapa juga merupakan suatu epifani, suatu manifestasi: “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan” (Mrk 1:11). Kata-kata ini membuat jelas nas-nas tentang Hamba YHWH yang menderita dalam Perjanjian Lama. Dalam Kitab Yesaya kita membaca: “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan …” (Yes 42:1). Dalam artian yang paling penuh, ide tentang hamba YHWH yang menderita terwujud dalam diri Yesus, dan Yesus sendirilah yang dengan jelas mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Hamba Allah. Jadi, Yesus memang menderita demi dosa-dosa semua orang.

Dengan demikian, pesta hari ini memanifestasikan bahwa Yesus datang ke tengah dunia untuk menjadi Juruselamat kita melalui ketaatan dan penerimaan-Nya yang penuh kasih terhadap penderitaan. Namun pesta ini juga memanifestasikan bagaimana seharusnya kita menjalani hidup kita sebagai umat Kristiani, sebagai para pengikut Kristus, sebagai murid-murid-Nya, sebagai orang-orang yang menghayati hidup-Kristus pada hari ini.

Hidup kita sebagai umat Kristiani dimulai pada saat baptisan kita. Baptisan ini pun merupakan perendahan diri kita, suatu ungkapan kedinaan. Namun kita muncul dari dalam air baptis sebagai manusia baru dengan suatu hidup baru. Baptisan kita merupakan sebuah akhir, namun pada saat yang sama juga merupakan sebuah awal. Baptisan adalah akhir dari hidup dosa dan awal dari hidup baru dalam kebaikan Allah. Baptisan adalah suatu keikutsertaan dalam kematian dan kebangkitan Yesus.

Sebagai orang yang sudah dibaptis, maka setiap kali kita merayakan Misa, kita mengidentifikasikan diri kita dengan Yesus, selagi kematian kurban-Nya di kayu salib dihadirkan kembali. Secara implisit kita mengatakan bahwa kita pun ingin untuk menjadi hamba-hamba Allah yang menderita, dan kita kita pun ingin menerima penderitaan apa pun yang diperlukan untuk memisahkan diri kita dari kedosaan. Kita masing-masing tentunya telah mengalami bahwa penyangkalan diri dan penderitaan seringkali terlibat dalam upaya menghindari dosa. Bahkan lebih penting lagi adalah upaya untuk secara positif menjalani suatu kehidupan yang baik, yaitu suatu kehidupan seperti-Kristus yang penuh pengorbanan dan kemurahan-hati. Dalam Misa Kudus kita tidak hanya mengidentifikasikan diri kita dengan penderitaan dan kemurahan-hati Kristus, melainkan juga kita melihat model dan teladan sempurna berkaitan dengan pertanyaan bagaimana hidup kita seharusnya: suatu pemberian diri kita sendiri kepada Allah dalam ketaatan dan kasih.

Semua pengorbanan dan kemurahan-hati memang bernilai karena semua itu akan memimpin kita kepada kepenuhan hidup yang kita rindukan. Santo Paulus mengingatkan bahwa kita harus menyadari bahwa “Jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia” (Rm 6:8).

Pada hari ini Gereja memanggil kita agar memindahkan perhatian kita dari sang Bayi yang berbaring dalam palungan kepada SALIB sang Juruselamat. Namun dengan melakukan hal itu Gereja tidak merusak sukacita dan kebahagiaan kita pada hari Natal. Pada hari ini Gereja menunjukkan kepada kita tujuan kelahiran Kristus itu sendiri: kepenuhan hidup yang datang dari penderitaan dan kematian Yesus. Pada hari ini kepenuhan hidup itu adalah pengharapan dan ekspektasi kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, kuduslah nama-Mu. Bapa, aku merasa takjub penuh syukur perihal apa saja yang telah Engkau berikan kepadaku dalam Kristus. Bukalah mata hatiku agar dapat melihat berkat-berkat spiritual dari-Mu. Luaskanlah pengertianku agar dengan demikian aku dapat memahami segala hal yang telah kuterima melalui baptisanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Midsa Misa hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH” (bacaan tanggal 8-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

Cilandak, 4 Januari 2018 (Peringatan S. Angela dr Foligno, Ordo III S. Fransiskus) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PADA SAAT PEMBAPTISAN YESUS

PADA SAAT PEMBAPTISAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Sabtu, 6 Januari 2018

Keluarga OFMCap.: Peringatan B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam

HARI SABTU IMAM

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11)

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 3:23-38

Mengapa Yesus yang tanpa noda dosa itu “menyerahkan” diri-Nya untuk dibaptis-tobat oleh Yohanes? Karena pada saat baptisan itu Yesus menerima misi/perutusan-Nya sebagai hamba Allah yang menderita atas nama semua orang berdosa. Dengan menyerahkan diri-Nya penuh kerendahan hati untuk menerima pembaptisan oleh Yohanes, sebenarnya Yesus memberikan kepada kita suatu pertanda akan “baptisan” kematian-Nya yang penuh darah di kayu salib kelak, di mana demi cinta kasih-Nya, Dia memberikan hidup-Nya guna menebus dosa-dosa kita (Mrk 10:38,45).

Karena Yesus merendahkan diri-Nya sedemikian totalnya, maka Bapa-Nya mempermaklumkan dengan suara yang dapat didengar manusia, betapa berkenan Dia akan Yesus (Mrk 1:11). Roh Kudus pun hadir dan mengurapi Yesus untuk karya yang akan dimulai-Nya. Pada saat pembaptisan, Yesus menjadi sumber Roh Kudus bagi semua orang yang mau percaya kepada-Nya. Langit terkoyak, Roh Kudus turun dan ciptaan baru pun di-inaugurasi-kan.

Kalau kita ingin mengalami kekuatan dan rahmat ciptaan baru ini dalam kehidupan kita sendiri, maka kita harus mengikuti contoh yang diberikan oleh Yesus. Santo Gregorius dari Nazianzen, seorang Bapa Gereja di abad IV memberikan kepada kita nasihat ini: “Marilah kita dikuburkan bersama Kristus oleh baptisan agar dapat bangkit bersama Dia. Marilah kita bangkit bersama-Nya agar dapat dimuliakan bersama Dia.”  Maka kalau kita ingin diubah, baiklah kita minta Roh Kudus untuk menempa diri kita masing-masing agar dapat terisi dengan kerendahan hati  sama, yang telah ditunjukkan Yesus pada saat pembaptisan-Nya. Kalau kita melakukannya, maka surga pun akan terbuka bagi kita.

Sesungguhnya Yesus selalu siap untuk memperbaharui kita dalam Roh-Nya dan mengurapi kita untuk misi/perutusan-Nya. Dia ingin sekali menjadikan kita “terang” dan “garam” bagi orang-orang di sekeliling kita (Mat 3:13,14). Yesus ingin agar cinta kasih-Nya dan kebenaran-Nya bersinar melalui diri kita sehingga orang-orang lain akan tersentuh oleh kebaikan-Nya. Marilah kita mohon kepada Tuhan agar memenuhi diri kita masing-masing dengan Roh Kudus agar kita dapat memancarkan sinar sukacita Injil kepada orang-orang di sekeliling anda.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu. Perkenankanlah aku menemukan sukacita yang sejati selagi bekerja guna menyenangkan-Mu, seperti Engkau menemukan sukacita dalam berusaha menyenangkan Bapa di surga. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES” (bacaan tanggal 6-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-1-17 dalam situs/blog)

Cilandak, 3 Januari 2018 [Peringatan Nama Yesus Yang Tersuci] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANG ANAK DOMBA ALLAH

SANG ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Kamis, 4 Januari 2018)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Santa Angela dari Foligno, Ordo III Sekular 

Keesokan harinya Yohanes berdiri di situ lagi dengan dua orang muridnya. Ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka, “Apa yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya, “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia  berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:35-42) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 3:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9 

Satu hari setelah Yohanes Pembaptis memberi kesaksian di depan publik, bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah, ia mengulanginya lagi secara privat kepada dua orang muridnya. Peristiwa sederhana ini barangkali memicu salah satu “reaksi-berantai” yang paling dinamis dalam sejarah,  khususnya di bidang iman-kepercayaan manusia.

Pertama-tama, Andreas dan seorang murid Yohanes lainnya pergi untuk menyelidiki siapa Yesus ini sebenarnya. Mula-mula mereka menyapa-Nya sebagai “Rabi”, namun setelah tinggal bersama-Nya selama satu hari mereka menjadi yakin bahwa Dia adalah sang Mesias (lihat Yoh 1:38,41). Andreas menjadi begitu bersemangat sehingga dia tidak menunda-nunda lagi untuk mensyeringkan pengalamannya dengan Simon, saudaranya. Setelah berjumpa secara pribadi dengan Yesus, Simon pun memulai hidup baru sebagai Petrus atau Kefas, artinya Batu Karang (Yoh 1:42). Di sisi lain, Filipus yang tinggal sekota (Betsaida) dengan Simon dan Andreas juga bertemu dengan Yesus pada keesokan harinya. Filipus “menularkan” pengalaman perubahan dirinya kepada Natanael, yang selang beberapa saat setelah perjumpaannya dengan Yesus membuat sebuah deklarasi, bahwa Yesus adalah “Anak Allah” dan “Raja orang Israel” (Yoh 1:45,49).

Sungguh exciting semua rangkaian cerita ini! Kata-kata yang diucapkan oleh seorang kawan, hati yang terbuka, suatu perjumpaan pribadi dengan Yesus – dan sebuah “komunitas orang-orang percaya” pun terbentuklah. Nelayan-nelayan tanpa pendidikan yang memadai kelak menjadi para rasul yang diberdayakan oleh Roh Allah sendiri, hal ini dimungkinkan karena bergabungnya mereka dengan Yesus. Mereka menjadi mengenal Dia yang telah lama dinanti-nantikan Israel dan telah dinubuatkan berabad-abad sebelumnya oleh para nabi Perjanjian Lama. Sejak perjumpaan pribadi mereka masing-masing dengan Yesus, sang Rabi dari Nazaret itu, mereka dan dunia tidak akan pernah sama lagi!

Seperti para murid Yesus yang pertama, kita pun akan menjadi semakin dekat dengan diri-Nya, semakin mengenal Dia, justru karena menyediakan waktu kita yang cukup untuk berjumpa dengan Dia dalam doa, dalam Kitab Suci, berjumpa dengan-Nya dalam diri orang-orang yang kita temui, dan teristimewa menerima kasih-Nya dalam Ekaristi Kudus.

Yesus ingin memenuhi hati kita dengan pengetahuan, pengenalan dan pengalaman akan diri-Nya sebagai sang Anak Domba Allah, Penebus kita, Saudara kita dan banyak lagi. Sebagaimana telah dialami oleh banyak orang sebelum kita, kita pun dapat mengalami transformasi selagi kita mengikuti Yesus. Kita dapat menjadi bagian dari “petualangan” yang dialami para murid-Nya yang pertama sementara kita menyediakan waktu untuk bersama dengan Yesus, kemudian memulai suatu reaksi-berantai iman-kepercayaan di antara para sahabat dan kawan kita.

Pada awal tahun baru ini, baiklah kita membuat komitmen lagi untuk melakukan beberapa hal yang akan menolong kita menyediakan waktu bersama dengan Tuhan Yesus: (1) Menyediakan sepuluh menit atau lebih untuk doa pribadi (di luar Ibadat Harian) setiap hari, memohon Roh Kudus untuk menyatakan Yesus kepada kita; (2) Memeriksa nurani kita setiap hari, mohon Roh Kudus menolong kita untuk melakukan pertobatan atas dosa-dosa yang selama ini memisahkan kita dari Allah; (3) Menyediakan waktu sedikitnya sepuluh menit setiap hari untuk merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci dalam suasana doa; (4) Merancang sebuah rencana yang akan menolong kita bertumbuh dalam iman, termasuk membaca bacaan-bacaan rohani dan secara aktif berpartisipasi dalam kehidupan Gereja.

DOA: Yesus, Anak Domba Allah, Engkau yang menghapus dosa-dosa dunia, kasihanilah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 3:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “MELAKUKAN KEBENARAN” (bacaan tanggal 4-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IA YANG PERCAYA ADALAH YANG BERBAHAGIA

IA YANG PERCAYA ADALAH YANG BERBAHAGIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 21 Desember 2017)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam Pujangga Gereja

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

“Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Apakah sebenarnya yang dipercayai oleh Maria? Tidak meragukan lagi, Maria percaya akan janji-janji khusus Tuhan kepada dirinya. Bahkan, secara lebih luas ia percaya segala hal yang dikatakan Allah mengenai dirinya dan apa yang harus dilakukannya. Pemikiran Maria sederhana, yaitu karena Allah telah terbukti setia di masa lampau, maka Dia akan tetap setia di masa depan juga. Allah tidak berubah, Dia adalah Allah Yang Mahasetia! Inilah yang menjadi fondasi tak tergoyahkan dari kehidupan Maria. Selagi dia percaya pada Allah di atas segalanya, dia pun menerima kekuatan untuk berdiri tegak dalam situasi-situasi sulit yang dihadapinya. Itulah sebabnya, mengapa umat Kristiani (khususnya Katolik) memandang Maria sebagai “model iman” dan “model seorang murid Kristus” yang patut diteladani.

Seperti Maria, kita pun dipanggil untuk untuk membangun kehidupan kita di atas fondasi yang kokoh dari Allah dan janji-janji-Nya. “Aku akan menjadi kota bentengmu”, Tuhan meyakinkan kita. “Taruhlah pengharapanmu dalam Aku.” Inilah yang diproklamasikan oleh sang pemazmur ketika dia berseru: “Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN (YHWH), Dialah penolong kita dan perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya” (Mzm 33:20-21). Allah kita mahasetia, dan orang-orang yang percaya kepada-Nya sungguh mengenal “kegembiraan hati” yang sejati, yang dapat menggoncang dunia.

Dalam perhatiannya terhadap sabda Allah, Maria itu seperti perempuan dalam kitab “Kidung Agung” yang selalu mendengarkan suara dari kekasihnya (Kid 2:8). Nah, Allah adalah “Kekasih” kita juga. Apakah kita (anda dan saya) melihat-Nya dan percaya bahwa janji-janji-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci merupakan janji-janji yang dibuat oleh-Nya bagi kita secara pribadi? Dia yang bersabda bahwa diri-Nya tidak pernah akan membiarkan kita terlantar – Dia itu mahasetia dalam membimbing langkah-langkah kita dan memberikan kekuatan kepada kita. Apakah kita berada dalam situasi yang berkemungkinan besar kehilangan pekerjaan kita, pindah ke rumah baru yang jauh dari tempat kerja dan sekolah yang baik bagi anak-anak, memasuki hidup perkawinan, menderita sakit-penyakit, mengatasi ketidakmampuan, atau berbagai macam kesulitan lainnya, kita tetap dapat mengingat kesetiaan Allah dan mohon pertolongan-Nya, bersama Bunda Maria dan dalam nama Yesus Kristus. Dalam setiap keadaan hidup, kita dapat mempermaklumkan bahwa Allah tidak hanya berada di samping kita, melainkan Dia menggendong kita senantiasa.

Teristimewa dalam masa Adven yang penuh rahmat ini, dalam doa marilah kita memohon kepada Allah untuk meyakinkan diri kita masing-masing tentang kesetiaan-Nya. Dia akan memberikan kepada kita damai-sejahtera yang mampu mengatasi godaan, rasa takut dan cemas kita. Kita harus percaya bahwa Allah akan melakukan segala sesuatu yang dikatakan-Nya akan dilakukan-Nya. Pax et Bonum bagi anda semua!

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang Mahasetia. Aku percaya segala janji-Mu karena Engkau memang senantiasa setia pada sabda-Mu. Engkau adalah pengharapanku dan perisaiku. Aku sangat bersukacita karena menaruh kepercayaan pada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “TANDA-TANDA ROH KUDUS DI SEKELILING KITA” (bacaan tanggal 21-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017.

(Tulisan  ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Jakarta, 19 Desember 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS