Posts tagged ‘YHWH’

MARILAH KITA MENGOYAKKAN HATI KITA MASING-MASING

MARILAH KITA MENGOYAKKAN HATI KITA MASING-MASING

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RABU ABU – 14 Februari 2018) 

Vienna – Fresco of Joel prophet by Carl von Blaas from 19. cent. in Altlerchenfelder church on July 27, 2013 Vienna.

“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN (YHWH), “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada YHWH, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi YHWH, Allahmu.

Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanloah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah pengantin laki-laki keluar dari kamarnya, dan pengantin perempuan dari kamar tidurnya; baiklah para imam, pelayan-pelayan YHWH, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: “Sayangilah, ya YHWH, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: di mana Allah mereka?”

YHWH menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya. (Yl 2:12-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,12-14,17; Bacaan Kedua: 2Kor 5:20-6:2; Bacaan Injil: Mat 6:1-6,16-18

Dengan hari Rabu Abu ini Gereja mengawali masa Prapaskah. Pada masa yang istimewa ini kita dapat berupaya membuat diri kita semakin dekat dengan Allah, mengenal Dia semakin mendalam dan menjadi semakin menyerupai Dia. Tuhan sangat menginginkan agar kita semakin dekat dengan diri-Nya. Seperti difirmankan-Nya kepada umat Israel di zaman dahulu, Dia pun berfirman kepada kita pada hari ini: “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu” (Yl 2:12).

Nabi Yoel mengumumkan kepada orang-orang Israel,  bahwa pertobatan, puasa dan doa adalah jalan atau cara-cara yang diperlukan untuk kembali kepada Allah.  Namun kita melakukan praktek-praktek pertobatan, puasa dan doa selama masa Prapaskah ini bukan sekadar untuk pendisiplinan diri, atau untuk perbaikan diri kita. Kalau begitu halnya, maka kita sekadar “mengoyakkan pakaian kita” saja dan bukan hati kita (lihat Yl 2:13). Allah menyerukan kita untuk melakukan hal-hal ini karena dapat menolong kita membuka hati kita bagi kasih-Nya.

Allah sungguh rindu agar kita masuk ke dalam suatu relasi cintakasih dengan-Nya sehingga Dia dapat memberkati kita. Orang-orang Israel telah melupakan kasih mereka kepada Allah dan  justru mencintai berkat-berkat dari tanah yang telah diberikan kepada mereka. Nabi Yoel menggambarkan “tulah belalang” yang dikirim YHWH guna mengoreksi sikap mereka ini (lihat Yl 1:1-13). Belalang-belalang merupakan sebuah peringatan dini  mengenai Hari Tuhan yang malah jauh lebih dahsyat (digambarkan dengan lebih jelas dalam Yl 2:28-32), pada saat mana orang-orang tidak lagi mempunyai kesempatan untuk bertobat. Pada saat itu orang-orang yang hatinya menyenangkan Allah akan menerima Roh Kudus yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi para nabi dan penglihat. Hati yang tetap belum bertobat akan mengalami pengadilan akhir. Tuhan ingin “menyelamatkan” mereka dari kehancuran akhir dan ingin agar mereka memperoleh warisan mulia yang telah disediakan bagi mereka.

Pada masa Prapaskah ini, marilah kita melaksanakan apa yang diserukan oleh nabi Yoel, yaitu untuk “mengoyakkan hati kita” (Yl 2:13) di hadapan Tuhan. Dalam doa, puasa, dan pemberian-diri kita, marilah kita meninggalkan hal-hal yang dapat dengan mudah membuat kita melenceng dari fokus yang seharusnya. Marilah kita menyediakan ruangan bagi Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sementara kita membuka hati kita kepada Tuhan, maka kita akan mengalami berkat Roh-Nya yang akan datang ke dalam hati kita dengan lebih penuh kuat-kuasa, memenuhi diri kita dengan cintakasih bagi-Nya dan membentuk karakter/watak Yesus dalam diri kita.

DOA: Datanglah Roh Kudus, dan gerakkanlah kami untuk membuka hati kami bagi Yesus dalam masa Prapaskah ini. Melalui setiap tindakan yang Kauinspirasikan kepada kami untuk mengambilnya, semoga kami menjadi semakin dekat kepada Bapa surgawi, mengenal dan mengalami kasih-Nya, sehingga pada gilirannya kami pun mengasihi-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:1-6,16-18), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBERI SEDEKAH, BERDOA DAN BERPUASA SETURUT AJARAN YESUS” (bacaan tanggal 14-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

ALLAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN KITA

ALLAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Rabu, 16 Agustus 2017)

 

Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN (YHWH) memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan, seluruh Naftali, tanah Efraim dan Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat, Tanah Negeb dan Lembah Yordan, lembah Yerikho, kota pohon korma itu, sampai Zoar. Dan berfirmanlah YHWH kepadanya: “Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.”

Lalu matilah Musa, hamba YHWH itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman YHWH. Dan dikuburkanNyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini. Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang. Orang Israel menangisi Musa di dataran Moab tiga puluh hari lamanya.

Maka berakhirlah hari-hari tangis perkabungan karena Musa itu. Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangan ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan YHWH kepada Musa. Seperti Musa yang dikenal YHWH dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, dalam hal segala tanda   dan mukjizat, yang dilakukannya atas perintah YHWH di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel. (Ul 34:1-12) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-3,5,8,16-17; Bacaan Injil: Mat 18:15-20 

Pada bulan Oktober 2005, Allah Yang Mahabaik memperkenankan istri dan saya – lewat kebaikan pasutri sahabat kami – untuk mengikuti ziarah ke Tanah Suci. Kami masuk melalui Yordania, sehingga dengan demikian gunung Nebo dan Yerikho merupakan tempat-tempat pertama yang kami kunjungi, bahkan sebelum masuk hotel (di Nazaret). Sebagai peziarah, sah-sah saja jika kita menanyakan kepada tour guide apakah para arkeolog pernah melakukan ekskavasi guna menemukan di mana sesungguhnya Musa dimakamkan (lihat Ul 34:6). Memang yang dikatakan dalam teks bacaan di atas bahwa tidak ada orang yang tahu kuburnya sungguh dapat membuat “penasaran” orang yang membacanya. Kita seringkali merasa enggan untuk menerima sabda Alah secara terlalu harfiah, barangkali karena takut dituduh sebagai seorang fundamentalis. Namun dapatkah kita (anda dan saya) membayangkan yang akan terjadi dengan Yosua apabila dia mempunyai perasaan yang sama?

Kematian Musa merupakan pukulan yang berat bagi umat Israel. Musa adalah pemimpin besar mereka yang telah memimpin mereka keluar dari perbudakan di Mesir, dan sekarang ia telah tiada, justru pada saat-saat menjelang mereka memasuki tanah terjanji, setelah selama 40 tahun berkelana mengarungi padang gurun yang tidak ramah. Mereka menangis dan meratap untuk 30 hari lamanya, namun ketika masa berkabung sudah selesai mereka melihat kepada pemimpin baru mereka Yosua, terhadap siapa Musa telah meletakkan tangannya.  Bagaimana mungkin Yosua menggantikan Musa, satu-satunya orang kepada siapa YHWH-Allah telah berbicara dengan berhadapan muka?

Yosua tidak perlu berlama-lama memikirkan dan merenungkan pertanyaan ini, karena Allah bersabda kepadanya: “Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau, Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yos 1:5). Yosua tahu bahwa YHWH-Allah yang telah menyediakan manna, daging dan air minum di padang gurun akan setia pada janji-Nya. YHWH tidak pernah berubah dalam hasrat-Nya untuk memelihara umat-Nya.

Allah kita adalah Allah Yang Mahasetia. Dia setia kepada Abraham, Musa dan Yosua, dan Ia tetap setia kepada kita hari ini juga. Dia memanggil kita masing-masing kepada suatu relasi yang penuh keintiman dengan diri-Nya. Kita cenderung berpikir bahwa walaupun Allah telah melakukan hal-hal besar bagi orang-orang besar di masa lampau, misalnya para nabi, Bunda Maria dlsb., hal-hal besar itu tidak ada urusannya dengan orang-orang kecil, orang-orang biasa seperti kita. Kita percaya bahwa Allah mempunyai rencana bagi umat pilihan-Nya, namun kita suka dilanda perasaan kurang percaya/yakin tentang keberadaan rencana-Nya bagi kita masing-masing. Akan tetapi, semakin dekat kita datang kepada-Nya, semakin banyak pula kita mengalami kasih-Nya bagi kita masing-masing. Dan kasih itu dapat membuat siapa saja dari kita menjadi tergolong “orang besar” juga.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, satu-satunya yang baik, kami ingin mengenal-Mu lebih akrab lagi dan untuk menjadi lebih tanggap terhadap rencana-Mu bagi hidup kami masing-masing. Roh Kudus, Engkau menginspirasikan Musa dan Yosua. Bimbinglah kami juga agar mau dan mampu menerima secara penuh misi Kristus bagi kami sebagai murid-murid-Nya yang sejati. Berilah rasa percaya diri kepada kami , ya Roh Kudus, berkaitan dengan karya-Mu dalam hidup kami masing-masing. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “BELAS KASIH BERDIRI LEBIH TINGGI DARIPADA PENGHAKIMAN” (bacaan tanggal 16-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Agustus 2017 [Peringatan S. Maximilianus Maria Kolbe, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS SANG PEMBEBAS

YESUS SANG PEMBEBAS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: KAMIS PUTIH, 13 April 2017) 

Berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: “Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun. Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang. Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaat Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja. Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.

Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi YHWH.

Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, YHWH. Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat daripada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir. Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya. (Kel 12:1-8,11-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: 1 Kor 11:23-26; Bacaan Injil: Yoh 13:1-15 

Hari ini, pada awal Tri Hari (Triduum) Paskah yang agung, cocoklah apabila kita membaca narasi tentang orang-orang Israel yang sedang bersiap-siap untuk meninggalkan hidup perbudakan mereka di Mesir. Selama akhir pekan yang penuh kuasa dan rahmat ini, Allah memanggil kita juga untuk mempersiapkan diri untuk “keluaran” (exodus) kita sendiri menuju kebebasan yang telah dimenangkan oleh Putera-Nya yang tunggal, lewat kematian-Nya di kayu salib di Kalvari.

Sepanjang pekan ini, kita telah bertanya terus, “Apakah yang telah dicapai oleh Salib Kristus?” Sore ini, dalam cerita tentang Paskah yang pertama, kita dapat melihat sebuah “pratanda” dari darah yang akan dicurahkan oleh Yesus dari atas kayu salib, dan kuasa dari darah itu untuk mengalahkan dosa dan maut. Pada Paskah pertama, orang-orang Israel harus membubuhkan pada kedua tiang pintu rumah mereka dan juga ambangnya dengan darah anak domba (kambing) jantan yang mereka sembelih, sebagai perlindungan dari malaikat pembunuh. Anak domba itu tidak boleh bercacat, seperti Yesus yang tanpa dosa – suatu kurban persembahan kepada Bapa yang sempurna dan sepenuhnya dapat diterima. Sekarang, karena Dia mencurahkan darah-Nya bagi kita, Yesus juga telah memenangkan bagi kita perlindungan melawan kekuatan-kekuatan jahat.

Ketika Allah melihat darah Yesus, maka maut (kematian) dan dosa melewati kita (Paskah=Dia lewat). Melalui iman akan darah-Nya, kita mengalami “keluaran” kita sendiri dari perbudakan dosa dan dibawa ke hadapan hadirat-Nya. Upaya-upaya kita untuk membebaskan diri kita sendiri, untuk menyenangkan hati Allah, tidak akan berhasil sepenuhnya. Oleh karena itu, daripada mencoba untuk membuat diri kita kudus dengan mengandalkan kekuatan atau kerja keras kita sendiri, kita harus yakin bahwa kita dilindungi oleh darah sang Anak Domba. Dengan demikian barulah kita mengenal dan mengalami perlindungan dari sengat dan tipu-daya si Jahat, juga pembebasan/pelepasan dari kuasa dosa.

YHWH Allah menebus orang-orang Israel dari tanah Mesir, demikian pula Yesus juga menebus kita. Seperti Musa yang telah membebaskan orang-orang Israel dari penindasan Firaun, Yesus juga telah membebaskan kita dari perbudakan dosa/Iblis. Sementara kita memasuki akhir pekan yang penuh rahmat dan kuasa ini, marilah kita menaruh di hadapan-Nya segala hal yang selama ini telah membelenggu kita dengan cara-cara dunia ini. Marilah kita memohon kepada-Nya untuk menunjukkan kepada kita kemuliaan-Nya selagi kita menantikan-Nya pada akhir pekan ini.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Penebus dan Juruselamatku. Dalam tiga hari ke depan ini aku menanti-nantikan kebangkitan-Mu dengan tongkat di tanganku, dengan kasut pada kakiku, dan pinggang yang terikat, siap untuk mengikuti Engkau menuju kebebasan sejati. Terpujilah Engkau selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Yoh 13:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “PEMBASUHAN KAKI PARA MURID OLEH GURU DAN TUHAN MEREKA” (bacaan tanggal 13-4-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul untuk bacaan tanggal 24-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEMANGAT NATAL

SEMANGAT NATAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 21 Desember 2015)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam & Pujangga Gereja

Champaigne_visitationBeberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Apabila salah seorang anak kita menunjukkan wajah yang bersungut-sungut menjelang hari Natal ini, tentu kita akan bertanya: “Ada apa dengan kamu? Tidakkah engkau memiliki semangat Natal?” Kita memang tidak dapat mendefinisikan secara rinci apa yang dimaksudkan dengan “semangat Natal” atau Christmas Spirit itu, namun kita tahu hal itu berarti kita mengesampingkan keserakahan kita, menekan sifat dan sikap “mau menang sendiri” kita, menahan diri dari dorongan-dorongan tidak baik, dan pada saat yang sama kita lebih giat mengulurkan tangan-tangan kita untuk menolong orang-orang lain.

Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat sebuah contoh indah dari makna penuh “semangat Natal”, contoh mana diberikan oleh Maria sendiri. Pada waktu dia mendengar bahwa saudaranya yang sudah tua, Elisabet, telah mengandung, maka Maria pun tidak membuang-buang waktu. Langsung saja dia pergi ke tempat tinggal Zakharia dan Elisabet di Ain Karim yang terletak di pegunungan Yehuda. Perjalanan ini cukup jauh (sekitar 112 km) dan juga cukup membahayakan (tidak ada highway patrol pada zaman itu). Mungkin Maria bergabung dengan sebuah rombongan (kafilah) dari Nazaret (Galilea) yang sedang menuju daerah Yudea. Bayangkanlah bagaimana khawatir dan risau hati Yusuf memikirkan perjalanan Maria ini. Mungkin Yusuf mengajukan protes, tetapi Maria maju terus … untuk membantu Elisabet yang sudah tua dan waktu itu adalah bulan keenam dia mengandung (Luk 1:36).

Patut dicatat bahwa pada waktu itu Maria juga sudah mengandung. Ketika Elisabet melihat Maria, kepadanya diberikan rahmat untuk mampu memandang betapa beda dirinya dengan perempuan muda yang datang mengunjunginya itu. Kepada Elisabet diberikan rahmat untuk mampu mengenali Maria sebagai seorang perempuan yang terberkati di antara semua perempuan, karena Bayi yang dikandungnya. Maria datang ke Ain Karim untuk memberikan pelayanan, dan apa yang dilakukannya sesungguhnya adalah membawa Kristus sendiri kepada Elisabet dan kepada Yohanes yang ada dalam kandungannya. Seperti Maria, kita pun dengan penuh kemauan dan tanpa pamrih harus memberikan pelayanan kepada orang-orang lain – dengan membawa Kristus sendiri kepada mereka. Inilah yang dinamakan “semangat Natal”.

zephaniahNabi Zefanya adalah seorang nabi yang dapat disebut pesimis, boleh dikatakan termasuk prophets of doom. Penduduk Yerusalem telah jatuh lagi ke dalam penyembahan berhala. Mereka menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang, bukan YHWH sang Pencipta.  Meskipun nabi Zefanya telah mengingatkan tentang suatu hari kemurkaan Allah, imannya kepada Allah tidak membiarkan dirinya tetap bersikap negatif.  Ia berjanji bahwa Allah dalam kerahiman-Nya akan menjaga dan memelihara sisa Israel yang suci. Bacaan dari Kitab Nabi Zefanya hari ini mengungkapkan kesimpulan yang optimistis dari sang nabi. Di sini dia mendorong umat beriman untuk bersukacita karena YHWH, Allah mereka, sang Penyelamat yang mahaperkasa berada di tengah-tengah mereka: “Raja Israel, yakni YHWH, ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan” (Zef 3:15).

Kembali kepada teks Injil di atas, kita lihat Elisabet juga berperan sebagai seorang nabiah yang mengumumkan berita positif yang penuh harapan dan sukacita. Sapaannya kepada Maria menjadi bagian dari sebuah doa favorit umat beriman dalam menghormati Maria: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42). Yesus dinamakan Imanuel – Allah yang menyertai kita. Oleh iman kita percaya bahwa Dia hidup di tengah-tengah kita dan dalam diri kita. Kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita dan dalam diri kita inilah yang merupakan penyebab sikap penuh sukacita kita yang kita namakan “semangat Natal”.

DOA: Roh Kudus Allah, jagalah agar kami tetap memiliki “semangat Natal” yang sejati dan – seperti Bunda Maria – membawa Yesus kepada orang-orang lain yang kami jumpai. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “IA YANG PERCAYA ADALAH YANG BERBAHAGIA” (bacaan tanggal 21-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ALLAH YANG PENUH KOMITMEN KEPADA ANAK-ANAK-NYA

ALLAH YANG PENUH KOMITMEN KEPADA ANAK-ANAK-NYA

(Bacaan Pertama Misa, Hari Biasa Pekan II Adven – Selasa, 6 Desember 2016) 

isaiah_bible_cardHiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepada-Nya, bahwa perhambaannya sudah  berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab  ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN (YHWH) dua kali lipat karena segala dosanya.

Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk YHWH, luruskanlah di padang belantara raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan  dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus  menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan YHWH akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, YHWH sendiri telah mengatakannya.”

Ada suara yang berkata: “Berserulah!” Jawabku: “Apakah yang harus kuserukan? “Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila YHWH menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita untuk selama-lamanya.”

Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!” Lihat, itu

Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati. (Yes 40:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13; Bacaan Injil: Mat 18:12-14 

“Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan …” (Yes 40:10).

Kata-kata seperti “kuasa” dan “kekuatan” dapat menciptakan dalam pikiran kita gambaran tentang seorang pribadi atau sekelompok orang yang mencoba untuk memaksakan niat-niat atau kehendak-kehendak mereka atas orang lain atau kelompok lain yang tidak/kurang setuju dengan niat-niat atau kehendak-kehendak tersebut. Kita biasanya tidak mengasosiasikan kata-kata ini dengan gambaran seorang gembala yang dengan lemah lembut memangku seekor anak domba dlsb. (lihat Yes 40:10-11). Namun ini adalah gambaran yang diberikan Allah tentang kuasa dan kekuatan-Nya.

Keluar dari dan didorong oleh kasih-Nya yang berlangsung terus, Allah merancang, menciptakan dan menebus kita masing-masing. Segenap ciptaan adalah objek dari kasih Allah, dan kita adalah mahkota dari ciptaan Allah. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (Putera Allah yang tunggal), Allah telah menjanjikan kepada kita masing-masing suatu hidup baru di atas bumi dan hidup kekal di surga.

Cima_da_Conegliano,_God_the_FatherKita dapat saja tergoda untuk merasa takjub dan heran akan kasih Allah dan belas kasih-Nya mengingat betapa seriusnya kedosaan kita masing-masing. Terus terang saja, kita semua adalah pendosa-pendosa. Akan tetapi rencana-rencana Allah tidak pernah dapat digagalkan oleh dosa kita. Salib Kristus bukanlah suatu perubahan rancangan Allah yang dibuat pada menit-menit terakhir karena keadaan darurat, yang disebabkan oleh kejatuhan manusia disebabkan oleh godaan-godaan Iblis. Ingatlah bahwa Allah bukanlah “seorang” Pribadi yang dapat dibuat terkaget-kaget dengan perubahan dalam peristiwa-peristiwa. Sebagaimana dengan segala hal yang dilakukan-Nya, Allah bertindak karena didorong kasih-Nya yang murni, yaitu dengan menyelamatkan kita melalui salib Putera-Nya yang terkasih.

Allah tidak pernah meninggalkan atau membuang kita supaya kita berjuang sendiri-sendiri dalam menghadapi segala perkara. Dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi, orang-orang telah mengalami keadilan Allah dan belas kasih-Nya selagi mereka mengambil keputusan dan bertindak berbalik dari dosa serta memperkenankan Dia untuk memulihkan mereka kepada kasih-Nya. Allah sekali-kali tidak membuang kita, melainkan secara intim melibatkan diri-Nya – sejak awal – dalam proses realisasi rencana-rencana-Nya. Kita dapat membayangkan bagaimana mata Allah terus-menerus memandang Putera-Nya, sambil mengantisipasi momen yang sempurna untuk mengutus Putera-Nya itu ke tengah dunia guna menyelamatkan kita-manusia. Jadi, semua adalah karena kasih-Nya.

Yesus datang ke tengah-tengah umat manusia sebagai seorang bayi tak berdaya, namun Ia menebus kita sebagai seorang Pribadi yang kuat-perkasa. Sekarang Ia telah bangkit dalam kemuliaan; memiliki kuat-kuasa untuk mengampuni dosa dan mencurahkan Roh-Nya ke dalam hati kita masing-masing. Pada suatu hari kelak, Ia akan kembali untuk membawa kepada kita ke dalam suatu relasi yang komplit dan intim dengan diri-Nya. Ini bukanlah pekerjaan dari jarak jauh yang dilakukan “seorang” Allah yang kurang mau tahu urusan umat-Nya. Dia tidak pernah berkata: EGP! (Emangnya gue pikirin!). Ia adalah “seorang” Allah yang penuh komitmen, tak dapat kita bayangkan, … karena Dia adalah sang “Mahalain”.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa Engkau adalah “seorang” Allah Yang Mahaperkasa. Biarlah kasih-Mu membasuh diriku, agar supaya sungguh bersih dari dosa-dosaku. Perkenanlah Roh Kudus-Mu senantiasa mengajar dan membentuk aku menjadi semakin serupa dengan Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:12-14), bacalah tulisan yang berjudul “DOMBA YANG HILANG” (bacaan tanggal 6-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-12-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Desember 2016 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI WAHAH/OASIS DI TENGAH PADANG GURUN

MENJADI WAHAH/OASIS DI TENGAH PADANG GURUN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Senin, 5 Desember 2016) 

libya_oasis_c02043413d2e475a807f80f8f0937583

Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN (YHWH), semarak Allah kita. 

Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”

Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan. Di situ akan ada jalan raya yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya. Di situ tidak akan ada singa, binatang buas tidak akan menjalaninya dan tidak akan terdapat di sana; orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ, dan orang-orang yang dibebaskan YHWH akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh. (Yes 35:1-10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan Injil: Luk 5:17-26

“…… mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara”  (Yes 35:6).

Pernahkah anda bertemu dengan seseorang  yang masuk ruang kantor anda atau ruang rapat dan segera mengubah atmosfir hanya dengan kehadirannya? Suasana yang tadinya menegangkan menjadi rileks dan tenang, yang tadinya letih lesu menjadi bersemangat lagi, dst. Tidakkah anda ingin menjadi seorang pribadi seperti itu?

Allah ingin membuat kita masing-masing menjadi semacam wahah/oasis rohani bagi orang-orang lain, seorang pribadi yang kehadirannya semata mampu mengubah suatu situasi atau bahkan atmosfir dari sebuah tempat. Yang lebih meningkatkan semangat kita adalah kenyataan bahwa Dia lebih daripada sekadar mampu untuk mentransformasikan kita sehingga kita memancarkan damai sejahtera, kebaikan hati, kasih, dan semua buah Roh Kudus. Kita sendiri mungkin tidak menyadari hal tersebut, namun padang gurun dan padang kering seperti yang dikatakan Yesaya termasuk juga orang-orang yang kita temui setiap hari. Kita dapat membawa hal-hal yang dapat menyegarkan mereka kembali, dan juga istirahat bagi mereka yang paling membutuhkannya.

ROHHULKUDUSJadi, bagaimana caranya kita dapat menjadi wahah/oasis rohani? Satu cara yang pasti adalah dengan memfokuskan perhatian kita pada kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, dengan memfokuskan pada apa yang tidak kelihatan, bukan pada hal-hal yang kelihatan. Santo  Paulus mengatakan: “Kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang  tidak kelihatan adalah kekal” (2 Kor 4:18).

Dalam kehidupan kita di atas bumi ini, kita dapat dengan mudahnya terbiasa dengan gerakan turun-naik kekuatan spiritual/rohani kita. Pada hari tertentu kia merasa begitu dekat dengan Tuhan, namun esok harinya Dia seakan begitu jauh dari kita. Akan tetapi, jika Yesus datang kembali kelak, Ia akan menjadi segala dalam segalanya, dan semua penghalang yang ada antara Dia dan kita akan dibuang jauh-jauh. Rasa sedih dan pedih akan menghilang, dan setiap tetes air mata akan dihapus. Seperti dikatakan oleh Yesaya, “sukacita abadi akan meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh” (Yes 35:10).

Selagi kita (anda dan saya) menjalani rutinitas kita pada hari ini, marilah kita berefleksi seperti ini untuk membayangkan gambaran seperti apa yang ada pada saat Yesus datang kembali. Pada waktu kehidupan kita menjadi sulit, marilah kita mencoba untuk mengingat bahwa hidup ini dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya bersifat sementara, namun Allah telah mempersiapkan sebuah tempat kediaman bagi kita masing-masing. Marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk menolong kita, dan kita pun akan melihat bahwa Allah menggunakan kita untuk menyemangati dan mendorong orang-orang di sekeliling kita, juga menyegarkan dan memperkuat mereka. Dengan begitu, kita (anda dan saya) akan menjadi seperti wahah/oasis di tengah padang gurun.

DOA:  Tuhan Yesus, datanglah dan dirikanlah pemerintahan-Mu. Biarlah air pemberi kehidupan dari-Mu mengalir melalui diriku  kepada orang-orang lain yang kutemui. Semoga Engkau senantiasa ditinggikan di dalam surga maupun diatas bumi. Terpujilah nama-Mu yang kudus dan penuh belas kasih, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:17-26), bacalah tulisan yang berjudul “WAJAH SEJATI ALLAH ADALAH KASIH ALLAH YANG MENGAMPUNI” (bacaan tanggal 5-12-16) dalam situs SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Desember 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBAGAI HUKUM YANG DIBERIKAN ALLAH

BERBAGAI HUKUM YANG DIBERIKAN ALLAH

(Bacaan  Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Senin, 15 Februari 2016) 

Moses1

TUHAN (YHWH) berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, YHWH, Allahmu, kudus.

Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya. Jangan kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah YHWH. Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya. Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah YHWH. Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah YHWH.

Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah YHWH. (Im 19:1-2,11-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15; Bacaan Injil: Mat 25:31-46 

Bagi kita yang tinggal di kota Jakarta, tidaklah sulit untuk melihat berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang setiap hari: menyeberang jalan bukan di zebra cross, pengendara sepeda motor yang menyalib dari sebelah kiri secara tiba-tiba, bis kota yang berhenti dan mengambil penumpang bukan di halte bis, orang yang memetik bunga seenaknya di taman kota padahal ada tanda larangan untuk tidak memetik bunga, demikian pula membuang sampah sembarangan dll.

Terkadang desakan hati untuk melanggar berbagai macam peraturan terasa berlaku tanpa pandang umur, dari anak-anak kecil sampai yang sudah tua bangka. Bukankah hati kita merasa sedih ketika melihat penumpang di mobil mercedez-benz di depan mobil kita terlihat melemparkan gelas plastik air aqua yang sudah kosong ke atas jalan? Ya, sejak kejatuhan Adam dan Hawa karena mengabaikan larangan dari Allah (lihat Kej 3:3), kita manusia senantiasa digoda untuk tidak taat kepada Allah. Sejak saat itu pula kita harus membayar “biaya” atas ketidaktaatan kita. Itulah sebabnya mengapa Allah memberikan kepada kita “hukum” seperti yang kita baca dari Kitab Imamat di atas. Berbagai “hukum” itu dimaksudkan untuk memimpin umat Allah ke dalam sebuah masyarakat yang lebih adil.

Bagaimana kita dapat mengolah sebuah hati yang lebih taat? Sesungguhnya kita tidak dapat melakukan hal ini dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Tindakan kita yang pertama adalah memohon kepada Roh Kudus untuk membangun suatu rasa hormat kepada Allah dan juga kepada setiap orang yang telah diciptakan-Nya. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita martabat dari semua orang, maka kita pun akan merasa tergerak untuk membangun sebuah dunia yang mencerminkan kasih-Nya, belas kasih-Nya dan keadilan-Nya. Kita akan merasa tergerak untuk melawan setiap ketidakadilan yang membuat orang terikat dalam ketiadaan pengharapan.

alfonso_maria_de_liguori_e-3Seperti seorang ibu atau bapak yang melihat keterbatasan-keterbatasan anak-anaknya, maka Allah juga mengetahui kelemahan-kelemahan dan pergumulan-pergumulan kita. Sebagaimana halnya dengan orangtua yang mengasihi anak-anaknya, maka Allah ingin menolong kita. Allah mengetahui bahwa keadilan dan damai sejahtera bukanlah hal-hal yang kita dapat capai dengan kekuatan kita sendiri. Semua hal itu datang melalui hidup Allah dalam diri kita. Oleh karena itu, marilah kita berseru kepada-Nya sambil memohon agar rahmat-Nya dicurahkan atas diri kita. Kita harus percaya sepenuhnya bahwa Allah tidak akan meninggalkan atau membuang kita. Allah akan memberdayakan kita agar mampu mengasihi sesama seperti Yesus mengasihi kita semua. Santo Alfonsus Liguori [1696-1787] pernah berkata, “Manakala kita menemukan diri kita lemah dan tak mampu mengatasi hawa nafsu atau kesulitan-kesulitan besar untuk memenuhi apa yang dituntut Allah dari kita, maka kita harus berani. …… Dengan kekuatan kita sendiri tentunya kita tidak dapat melakukan apa-apa, namun dengan pertolongan Allah kita dapat melakukan setiap hal” (Love Is Prayer, Prayer is Love, hal. 36).

DOA: Bapa surgawi, berikanlah kepadaku kerendahan hati sehingga dengan demikian aku dapat mencintai perintah-perintah-Mu dan mencari pertolongan-Mu dalam mengikuti perintah-perintah-Mu tersebut. Aku ingin menyerahkan hidupku agar senantiasa seturut kehendak-Mu. Tolonglah diriku agar mau dan mampu bekerja bersama-Mu dalam membangun sebuah dunia berkeadilan dan penuh damai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH YANG SESUNGGUHNYA” (bacaan tanggal 15-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  11 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS