Posts tagged ‘YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG LUMPUH’

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 12 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dr Corleone, Biarawan

 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: 1Sam 8:4-7,10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19 

Narasi Injil yang cukup dramatis ini adalah mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah oleh empat orang yang membawanya ke tempat itu. Cerita tentang penyembuhan orang lumpuh ini adalah yang pertama dari lima cerita konflik dalam Injil Markus (2:1-3:6), yang menyoroti perlawanan para pemuka agama Yahudi terhadap pernyataan siapa diri Yesus itu. Dengan berpegang teguh pada ide-ide kuno mereka sendiri, para ahli Taurat dan orang Farisi gagal mengalami bela rasa dan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam diri Yesus.

Ada beberapa pokok konflik yang muncul antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi selama berlangsungnya proses penyembuhan. Yang pertama terjadi ketika Yesus mendeklarasikan bahwa dosa-dosa orang itu diampuni (Mrk 2:5). Dalam Perjanjian Lama, kuasa untuk mengampuni dosa hanya milik Allah saja (Kel 34:6-7; Yes 43:25). Lalu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10). Tradisi Yahudi pada waktu itu memahami bahwa yang dimaksudkan dengan “anak manusia” (Dan 7:13-14) mengacu kepada sang Mesias yang akan membawa umat ke dalam Kerajaan Allah. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan tokoh mesianis ini untuk mulai menyatakan diri-Nya dan mempersiapkan umat bagi pekerjaan yang akan dilaksanakan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Tanggapan umat yang hadir terhadap peristiwa penyembuhan orang lumpuh ini merupakan sebuah kontras yang tajam terhadap ketakutan yang melumpuhkan dari para ahli Taurat (Mrk 2:7). Orang banyak takjub dan memuliakan Allah, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Mereka memberi tanggapan positif terhadap kebaikan dan belas kasih Allah. Kiranya tidak sedikit dari orang banyak itu kemudian menjadi murid-murid Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang banyak  dapat mengenali siapa Yesus itu, sementara para pemimpin agama Yahudi buta sehingga tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus? Jawabnya terletak pada iman mereka. Yesus melihat iman dari mereka yang membawa orang lumpuh dan juga iman si lumpuh sendiri (Mrk 2:5). Walaupun kuat-kuasa dan belas kasih Yesus begitu terlihat oleh mereka yang percaya (beriman), ketidak-percayaan telah membutakan mata (terutama mata hati) para pemuka agama Yahudi tersebut. Para pemuka agama Yahudi itu tidak mau mengubah mindset  mereka, juga tidak mempunyai keberanian untuk keluar dari comfort zone mereka. Bukankah implisit dalam pengertian apa iman itu, terdapat unsur-unsur keberanian dan perubahan diri?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar mampu melihat karya-Mu dengan lebih jelas dalam hidup kami. Sembuhkanlah kami dari berbagai cara berpikir kami yang membatasi – bahkan menghalangi – pemahaman kami tentang rencana penyelamatan Bapa surgawi atas segenap umat manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SUGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA” (bacaan tanggal 12-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA] 

Cilandak, 9 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

YESUS YANG MENYEMBUHKAN DAN MEMBERI PENGAMPUNAN

YESUS YANG MENYEMBUHKAN DAN MEMBERI PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 6 Juli 2017)

Peringatan S. Maria Goretti, Perawan Martir

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Kej 22:1–19; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:1-6,8-9

Sepanjang karya pelayanan-Nya di depan publik, Yesus secara tetap mencari kesempatan-kesempatan untuk mengajar dan mewartakan pesan dan misi-Nya kepada orang banyak. Pada banyak kesempatan Ia menunjukkan keilahian-Nya dengan memanifestasikan kuat-kuasa-Nya dan keprihatinan-Nya atas sakit-penyakit yang menimpa umat manusia, baik fisik, kejiwaan maupun rohaniah.

Yesus menggunakan setiap kesempatan untuk menunjukkan kepada para murid-Nya bahwa Dia mempunyai kuat-kuasa ilahi atas dosa dan mampu mengalahkan segala kuasa kegelapan. Dia ingin mereka mengetahui bahwa diri-Nya dapat mengampuni dosa-dosa, karena memang mempunyai hak untuk itu. Salah satu ceritanya dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini.

Jikalau kita melihat padanan perikop ini dalam Injil Markus (Mrk 2:1-12) maka kita dapat mengatakan bahwa mukjizat penyembuhan oleh Yesus yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini terjadi di Kapernaum, basis operasi Yesus dan para murid-Nya. Seorang lumpuh dibawa kepada-Nya. Yesus melihat iman orang-orang yang menggotong si lumpuh ke TKP dan tentunya iman si lumpuh sendiri. Kemudian Ia berkata kepada si lumpuh: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mat 9:2). Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah” (Mat 9:3).  

Inti cerita dalam bacaan ini terfokus pada otoritas Yesus untuk mengampuni dosa-dosa, sebuah pokok masalah yang diungkapkan oleh ketidaksetujuan sejumlah ahli Taurat yang hadir (lihat Mat 9:3). Para ahli Taurat itu menghakimi (dalam hati mereka) bahwa Yesus telah menghujat Allah. Meskipun masih dalam hati, Yesus mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka dan bertanya kepada mereka: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?” Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”  Kemudian Yesus berkata kepada si lumpuh: “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat 9:4-6). Orang itu pun bangun lalu pulang (Mat 9:7). Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa Dia memiliki kuat-kuasa ilahi untuk menyembuhkan manusia secara instan. Tentunya Dia juga mempunyai kuat-kuasa untuk mengampuni dosa. Keduanya mensyaratkan kuasa ilahi.

Sekali lagi: penyembuhan si lumpuh bukan saja merupakan bukti dari klaim Yesus, melainkan juga sesungguhnya merupakan sebuah manifestasi yang kasat mata dari kuat-kuasa-Nya untuk mengampuni dosa-dosa. Sebagaimana halnya dengan kasus eksorsisme, pelepasan dari kuasa jahat: dosa dan sakit-penyakit saling berkaitan – namun tidak perlu selalu dalam artian bahwa sakit-penyakit seseorang merupakan suatu penghukuman atas dosa pribadinya, melainkan sebagai gejala-gejala berbeda dari maut yang merusak ciptaan. 

Reaksi orang banyak adalah ketakjuban,  lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia (Mat 9:8), kelihatannya ingin mengatakan bahwa cerita mukjizat ini juga menunjukkan kuasa untuk mengampuni yang diberikan kepada komunitas Kristiani (lihat Mat 18:18). Kuasa untuk mengampuni dosa ada di dalam Gereja (lihat Yoh 20:22-23) – dalam Sakramen Rekonsiliasi dan juga dalam tindakan-tindakan pengampunan yang dilakukan oleh umat Kristiani terhadap dunia yang memusuhi mereka. Dari waktu ke waktu kita harus bertanya, apakah kita sungguh menghargai Sakramen Pengampunan Dosa (Sakramen Tobat/Sakramen Rekonsiliasi) ini dengan cukup wajar? Sakramen Rekonsiliasi adalah sebuah tanda bahwa Gereja masih terus melanjutkan pelayanan penyembuhan dari Yesus. Bukankah begitu? 

DOA: Tuhan Allah kami, Engkau telah banyak sekali mengampuni kami. Berikanlah kepada kami keberanian untuk menjadi pembawa damai di dalam dunia yang telah terkoyak-koyak oleh berbagai macam kekerasan dan permusuhan. Perkenankanlah Roh Kudus-Mu membentuk kami menjadi murid-murid Yesus yang tangguh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 6-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Juli 2017 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu, Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS