Posts tagged ‘YESUS DATANG BUKAN UNTUK MENIADAKAN HUKUM TAURAT’

YESUS KRISTUS ADALAH PENGGENAPAN SEGALA HUKUM ALLAH

YESUS KRISTUS ADALAH PENGGENAPAN SEGALA HUKUM ALLAH

(Bacaan Injil Misa, PERINGATAN S. ANTONIUS DARI PADUA – Rabu, 13 Juni 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Antonius dari Padua, Imam & Pujangga Gereja

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia dkan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama: 1Raj 18:20-39; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,4-5,8,11

Yesus tidak memperkenankan diri-Nya ditempatkan sebagai oposisi terhadap Hukum Taurat dan para Nabi (Mat 5:17). Melalui sarana-sarana ini, Allah berbicara kepada para kekasih-Nya, umat pilihan. Yesus membuat jelas, bahwa ajaran-ajaran-Nya dan mukjizat-mukjizat-Nya sepenuhnya sejalan dengan Hukum Taurat, dan Ia adalah penggenapannya – Dia yang akan menyempurnakan Hukum Taurat sesempurna-sempurnanya.

Yesus menyempurnakan Hukum Taurat dengan memenuhi tujuan Allah dalam memberikan hukum itu pertama kalinya, yaitu bahwa kita akan mampu untuk berelasi dengan Allah secara murni dan benar, demikian pula halnya dengan relasi dengan sesama. Dengan mendamaikan kita dengan Bapa surgawi lewat kemenangan-Nya di atas kayu salib, Yesus membuat setiap orang dimungkinkan untuk berdiri di hadapan hadirat Allah, bersih dan bebas dari kesalahan. Ditebus oleh darah-Nya dan dibawa ke dalam suatu kehidupan baru dalam air baptis, kita dapat dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus-Nya, yang membentuk hati kita serta mengajar kita jalan ketaatan.

Dibebaskan dari rasa takut akan dihukum, semakin yakin akan kasih Allah kepada kita, sekarang kita dapat menerima kehidupan ilahi. Dari kuasa kehidupan itulah, kita dapat menyenangkan Dia lewat/oleh tindakan-tindakan iman kita. Hukum tetap diperlukan karena perjuangan terus menerus berlangsung antara daging dan roh, namun tujuannya telah dinaikkan kepada suatu tingkatan yang jauh lebih tinggi. Kristus telah memberikan kepada kita hidup baru yang mentransformasikan diri kita, menarik kita semakin jauh lagi dari dosa dan semakin dekat kepada Bapa surgawi. Dengan demikian, ketika Yesus menggemakan dan menggenapi perintah-perintah berkaitan dengan pembunuhan, perzinahan, dan perceraian (lihat Mat 5:21,27,31), Ia tidak hanya memanggil kita untuk menghayati kehidupan moral yang lebih baik, melainkan juga mengundang kita ke dalam inti kehidupan Allah sendiri, yang dimulai sekarang di dunia ini.

Santo Irenaeus [c.130-c.200] dalam tulisannya, Adversus omnes Haereses (Melawan semua Bid’ah), mengatakan “Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup; akan tetapi kehidupan manusia adalah visi Allah” Allah dimuliakan apabila kita sampai kepada kepenuhan hidup, dan kepenuhan hidup bagi kita adalah untuk mengenal dan mengasihi Allah. Marilah kita berdoa, agar Kristus – pemenuhan segala hukum Allah – akan datang masuk lebih dalam lagi ke hati kita dan membawa kita kepada kepenuhan dalam Dia.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah pemenuhan segala hukum Allah. Dalam perayaan Ekaristi hari ini, buatlah agar kami menyambut tubuh-Mu dengan rasa lapar dan haus yang lebih besar, karena tubuh-Mulah kehidupan dan sukacita kami yang sejati. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS ADALAH PENGGENAPAN HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 13-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MEMUJI DAN MEMULIAKAN ALLAH TANPA HENTI

MEMUJI DAN MEMULIAKAN ALLAH TANPA HENTI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Rabu, 14 Juni 2017)

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama: 2Kor 3:4-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-9

Kita, orang-orang Kristiani zaman modern, sering mengatakan bahwa mematuhi perintah-perintah Allah sampai ke detil-detilnya itu merupakan sesuatu yang membosankan. Namun seringkali rasa takut akan kebosanan ini hanyalah sekadar “jas penutup” saja. Rasa takut kita sebenarnya bukanlah takut pada kebosanan atau rutinitas. Sebenarnya kita merasa takut menghadapi tuntutan-tuntutan Allah yang tidak mengenal kompromi, kesusahan setiap hari melakukan pertempuran rohani tanpa henti, betapa melelahkannya mengembangkan hikmat dan kehendak yang serupa dengan yang dimiliki Kristus. Orang Kristiani modern yang merasa “bosan” adalah seperti seorang anak laki-laki yang berkata bahwa dia tidak menyukai sepak bola karena bermain sepak bola itu “membosankan” atau tidak membutuhkan keterampilan seperti jenis-jenis olah-raga lainnya, sebenarnya karena dia takut terluka atau dipermalukan oleh pemain bola yang lebih baik. Banyak alasan kita adalah sekadar “dalih”!

Yesus bersabda: “… ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat 7:2; bdk.Mrk 4:24; Luk 6:38). Terlalu banyak dari kita yang berpura-pura takut akan “kebosanan” agama dan “monotomi” dalam memuji-muji Allah – terlalu banyak dari kita sebenarnya tidak ingin melakukan apa-apa. Secara salah kita memberi cap “membosankan” pada hal-hal yang sesungguhnya dapat membebaskan kita dari kebosanan lebih besar yang kita pilih sendiri. Kita takut terhadap segala hal yang mungkin memaksa kita melakukan sesuatu yang berharga, karena karya-karya besar ini menuntut pengorbanan dari pihak kita.

Kita sebenarnya berada dalam bahaya besar. Tidak melakukan apa-apa, menikmati kehidupan kita yang sudah nyaman, maka menjaga kenyamanan kita merupakan bentuk mementingkan diri sendiri yang utama. Mementingkan diri sendiri, keserakahan, ketamakan merupakan unsur dosa yang mendasar. Bosan dengan diri kita sendiri dan rasa takut akan upaya yang dibutuhkan untuk bangkit dari lethargy (rasa lesu-malas) kita, maka kita pun akan berpaling kepada salah bentuk dosa sebagai suatu cara menyelesaikan sesuatu. Kita mengenal ungkapan dalam bahasa Inggris,  “getting the fun out of life” dan “living only once”, …… bukankah kita hidup hanya sekali? Dengan kata lain, kita begitu mementingkan diri sendiri, sehingga begitu bangun tidur, kita pun akan bertindak-tanduk secara ego-sentris.

Orang-orang yang besar di mata Allah dan manusia lainnya akan menghadapi pekerjaan yang harus dilakukan tanpa henti guna memuji dan memuliakan Allah; semua makhluk akan memimpin mereka kepada Allah; setiap talenta akan dipakai untuk memuliakan Dia; bahkan saat-saat istirahat dan kesantaian mereka dijalani dalam kehadiran-Nya yang penuh kasih. Mereka tidak mengenal “kebosanan” dalam relasi mereka dengan Allah Tritunggal Mahakudus.

DOA: Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada (Mzm 146:1). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS ADALAH PENGGENAPAN SEGALA HUKUM ALLAH” (bacaan tanggal 14-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS KRISTUS MENARIK KITA KEPADA BAPA

YESUS KRISTUS MENARIK KITA KEPADA BAPA

(Bacaan Injil Misa,  Hari Biasa Minggu Biasa X – Rabu, 10 Juni 2015)

 www-St-Takla-org--Jesus-Sermon-on-the-Mount-030

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama: 2Kor 3:4-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-9 

“Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17).

Memang mudahlah bagi kita untuk tidak melihat, malah mengabaikan berkat-berkat Allah yang ditujukan kepada kita. Misalnya, kita dapat memandang hukum Musa/Taurat sebagai aturan yang terlalu banyak menuntut, yang mengarahkan orang kepada suatu jenis “kebenaran” yang tidak seorang pun akan berhasil mencapainya. Akan tetapi sang pemazmur dengan jelas mengatakan: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN (YHWH), dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil”  (Mzm 1:1-3). Jadi, sejatinya Hukum Taurat dimaksudkan sebagai suatu sumber kebahagiaan dan kehidupan, namun seringkali disalahpahami sebagai serangkaian perintah yang membebani kehidupan manusia. Sebenarnya yang ada dalam pikiran Allah jauh lebih besar daripada sekadar perintah-perintah untuk melakukan dan tidak melakukan (Inggris: do’s and don’ts) sesuatu tindakan.

Yesus Kristus, Putera Allah, datang ke tengah dunia untuk mengumumkan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Kita mengetahui bahwa suatu pesan rahasia dapat dipahami jikalau kita mampu memecahkan kode yang tersembunyi. Demikian pula makna dan tujuan sesungguhnya dari Perjanjian Lama akan terungkap dalam pernyataan Kerajaan Allah. Pesannya adalah berikut ini: Putera Allah yang terkasih  – Yesus Kristus – secara sempurna dan lengkap akan menarik kita kepada Bapa dengan menggenapi tuntutan-tuntutan adil dari hukum Musa.

Yesus bukanlah datang untuk meniadakan hukum Taurat atau melanjutkan mengajar hukum itu dari suatu perspektif yang baru. Samasekali bukan! Ia datang sebagai penggenapan dari setiap pengharapan, perintah dan impian yang diungkapkan dalam hukum Taurat itu. Ajaran Yesus tentang Perjanjian Lama adalah baru secara total, bukan karena dipelintir-pelintir isi hukum itu oleh-Nya, namun karena Dia sendiri dapat melaksanakan hukum itu secara sempurna, taat secara sempurna kepada hukum itu sepanjang hidup-Nya di dunia.

Hidup Yesus yang relatif singkat di muka bumi ini secara penuh memberi pencerahan atas hukum Musa. Semua kebenaran berhasil dicapai oleh-Nya. Secara moral Yesus adalah orang benar – tanpa noda dosa sedikit pun atau tanpa ketidaktaatan kepada Allah. Yesus juga benar secara lengkap dalam relasi-relasi-Nya: Dia mengasihi Allah dengan segenap hati-Nya dan semua orang dengan rasa keadilan dan belas kasih yang lengkap. Akhirnya, melalui kematian-Nya pada kayu salib, Ia menggenapi semua kebenaran dengan mensyeringkan kesempurnaan-Nya dengan kita-manusia, sehingga dengan demikian kita pun dapat dibuat benar di mata Allah. Atas dasar alasan inilah maka hukum Taurat diberikan, dan sekarang, melalui Yesus, kita semua dapat menerima berkat-berkat kebenaran Allah dalam hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami menyembah Engkau! Kami memuji keindahan-Mu dan cara-Mu yang sempurna, yang telah menggenapi segala kebenaran untuk kami. Kami memuji Engkau dan berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena lewat persatuan dengan diri-Mu kami dapat menikmati buah ketaatan-Mu dengan menjadi semakin serupa dengan Engkau, dengan demikian menyenangkan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “AGAR TAURAT MENJADI BERBUAH” (bacaan tanggal 10-6-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06 BACAAN HARIAN JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 7 Juni 2015 [HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS