Posts tagged ‘YAKOBUS’

PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Kamis, 18 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

Sesudah berdebat beberapa waktu lamanya, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka, “Hai Saudara-saudara, kamu tahu bahwa sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraanku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Allah, yang mengenal hati manusia, memberi kesaksian untuk mereka dengan mengaruniakan Roh Kudus kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak membeda-bedakan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya bahwa melalui anugerah Tuhan Yesus Kristus kita akan diselamatkan sama seperti mereka juga.”

Lalu diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceritakan segala tanda dan mukjizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di antara bangsa-bangsa lain. Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus, “Hai Saudara-saudara, dengarkanlah aku: Simon telah menceritakan bahwa pada mulanya Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: Kemudian aku akan kembali dan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan bahkan segala bangsa yang atasnya nama-Ku disebut, demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui sejak semula. Sebab itu aku berpendapat bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari hal-hal yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.” (Kis 15:7-21)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10; Bacaan Injil: Yoh 15:9-11

Pada waktu orang-orang non-Yahudi mulai menerima Injil, maka Gereja perdana yang semula hanya terdiri dari orang-orang Kristiani Yahudi (baik Yahudi-Palestina maupun Yahudi-Helinis[tis]), harus bergumul dengan suatu isu yang mungkin saja tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya: Apa hubungannya antara mengikuti Hukum Musa dan mengikuti Yesus? Sungguh suatu isu yang pelik. Ada kelompok yang percaya sekali bahwa para pengikut Yesus harus melanjutkan menepati seluruh hukum Allah yang telah diberikan melalui Musa. Mereka bersikukuh bahwa persyaratan ini juga harus diterapkan tidak hanya pada orang Yahudi, tetapi juga pada orang-orang “kafir” yang ingin bergabung ke dalam Gereja/Jemaat.

Orang-orang Yahudi Kristiani ini memang tidak berpandangan bahwa mereka dapat diselamatkan oleh kepatuhan mereka pada Hukum Musa ini. Akan tetapi mereka memandang ketaatan pada hukum itu sebagai jalan untuk menanggapi intervensi Allah dalam kehidupan mereka. Allah telah memberikan kepada mereka suatu relasi dengan diri-Nya, dan memelihara hukum-Nya merupakan jalan sentral bagi mereka untuk memelihara relasi dengan Allah itu. Dengan demikian, orang-orang Yahudi Kristiani ini berpikir bahwa hukum harus tetap berperan sentral dalam tanggapan mereka kepada Allah – bahkan setelah kedatangan Yesus  dan perjanjian baru dalam darah-Nya.

Di lain pihak orang-orang Yahudi Kristiani yang lain, seperti Paulus dan Petrus tidak sependapat dengan kelompok tadi. Bagi kelompok Paulus dkk. hukum Musa seharusnya tidak lagi menempati tempat sentral dalam relasi umat dengan Allah. Sebaliknya, Yesus-lah yang harus menjadi pusat!!! Tentu hukum tetap harus menjadi panduan kita untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, namun tanggapan kita terhadap Allah haruslah difokuskan pada  “mengikuti jejak Kristus”. Konflik ini terangkat ke permukaan sejak adanya beberapa orang Yahudi Kristiani yang datang mengunjungi gereja di Antiokhia. Ketika krisis memuncak, diputuskanlah untuk membawa isu ini ke sidang sebuah konsili di Yerusalem.  Jangan bayangkan Konsili Yerusalem ini diselenggarakan dengan tenang. Perhatikanlah kata “debat” dalam bacaan di atas (Kis 15:7). Ini adalah pertarungan antara para pembela doktrin-doktrin yang berbeda secara prinsipiil.

Pemimpin Gereja di Yerusalem adalah Yakobus saudara Tuhan Yesus (lihat Gal 1:18-19), dan dalam hal ini tugasnya memang tidak mudah. Petrus tidak berbicara lembek dalam konsili ini. Satu kalimatnya yang keras: “Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?” (Kis 15:10).

Yakobus  adalah seorang Yahudi yang sangat saleh, tetapi dia memiliki satu ciri seorang pemimpin yang baik: dia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk mendengarkan! Sikap yang ditunjukkan Yakobus cukup luwes: dia tidak membuang segala tradisi, dan secara hati-hati melalukan discernment apakah yang kiranya cocok untuk gereja “campuran” yang semakin bertumbuh-kembang. Yakobus patuh pada rencana Allah sehingga konflik yang ada pun dapat diselesaikan dengan tetap memelihara kesatuan dan persatuan dalam Gereja perdana.

Lihatlah betapa pentingnya kita saling mendengarkan, bahkan lebih penting lagi mendengarkan “suara” Roh Kudus! Begitu mudah kita jatuh cinta pada ide-ide kita sendiri, lalu kita menutup telinga terhadap suara-suara yang lain. Ingatlah, kalau kita begitu mencintai ide-ide kita sendiri, bisa-bisa kita lupa dan luput mencintai Allah dan saudari-saudara kita. Dalam situasi sedemikian kita menjadi target yang empuk dari tipu-daya si Jahat. Lihatlah sejarah perpecahan dalam Gereja yang sungguh merupakan skandal, dan hal itu jelas tidak sesuai dengan maksud Yesus mendirikan Gereja-Nya. Allah sungguh berhasrat melihat kita mengalami kesatuan dan persatuan yang penuh kasih dan sukacita secara mendalam. Dia sendiri mohon kepada Bapa agar kita menjadi satu (Yoh 17:11). Allah akan melakukan hal itu – hanya kalau kita memperkenankan-Nya membuat diri kita orang-orang yang mau mendengarkan, mau belajar dan mau mengasihi.

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah aku seorang pendengar yang baik! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-11), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA HAL: KASIH, KETAATAN DAN  SUKACITA” (bacaan tanggal 18-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

TURUTILAH TELADAN PENDERITAAN DAN KESABARAN PARA NABI YANG TELAH BERBICARA DEMI NAMA TUHAN !!!

TURUTILAH TELADAN PENDERITAAN DAN KESABARAN PARA NABI YANG TELAH BERBICARA DEMI NAMA TUHAN !!!

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun A], 15 Desember 2013) 

KEDATANGANNYA UNTUK KEDUA KALINYA - 4Saudara-saudara, bersabarlah sampai kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan (Yak 5:7-10).

Bacaan Pertama: Yes 35:1-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:6-10; Bacaan Injil: Mat 11:2-11 

Kita kini hidup dalam masyarakat cepat-saji dan serba instan. Nilai keutamaan “kesabaran” sedikit saja mendapat perhatian, karena kita selalu bergegas ke sana ke mari, dengan cepat berpindah dari  peristiwa yang satu ke peristiwa lainnya. Kita menuntut jawaban langsung terhadap pertanyaan-pertanyaan dan kebutuhan-kebutuhan kita. Kelihatannya Yakobus sedang menghadapi situasi yang serupa pada abad pertama. Umat beriman yang sedang menanti-nanti hari kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya dalam hidup mereka, mulai menjadi tidak sabar dan dengan berjalannya waktu merasakan bahwa semakin beratlah menghayati hidup Injili. Anggota-anggota Gereja mulai menggerutu dan saling mempersalahkan satu sama lain, yang kaya mulai mengabaikan yang miskin, dan gosip-gosip pun semakin menjadi-jadi dan meraja-lela. Ah, kiranya Yesus cepat datang kembali, dan membawa mereka ke surga!

Akan tetapi Yakobus tahu benar bahwa itu bukanlah jawaban yang sesungguhnya. Maka, dia memanggil warga gerejanya untuk meneguhkan hati mereka (Yak 5:8) supaya mereka menanti-nanti dengan sabar kedatangan kembali Tuhan Yesus Kristus. Hal ini tidak selalu mudah, karena kita dituntut menggunakan kebenaran-kebenaran Injil untuk menjawab berbagai kecemasan dan tantangan yang bermunculan dalam pikiran kita. Hal sedemikian menuntut kita untuk mengesampingkan solusi-solusi langsung, katakanlah yang bersifat instan. Sebaliknya, kita harus menaruh kepercayaan pada hikmat-kebijaksanaan Allah dalam menentukan waktu atau saat-Nya.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Allah ingin mengajar kita bagaimana mendisiplinkan pemikiran kita sehingga kita tidak menjadi objek belas kasihan percikan-percikan emosi atau keadaan-keadaan yang menyakitkan. Ia ingin mengajar kita bagaimana mengevaluasi pemikiran-pemikiran kita berdasarkan tolok ukur berupa kebenaran-kebenaran kasih-Nya yang tanpa syarat bagi kita, hasrat-Nya yang tetap untuk melakukan kebaikan bagi kita, dan kebebasan dari dosa yang telah dimenangkan oleh salib Yesus bagi kita. Allah menginginkan kita menjadikan suatu kebiasaan teratur untuk menghentikan sejenak kegiatan rutin kita selama beberapa kali dalam satu hari, dan setiap kali berhenti itu lalu bertanya kepada diri kita sendiri apakah kebingungan, rasa takut, bahkan dusta menguasai pemikiran-pemikiran kita?

Selagi kita mengembangkan kebiasaan membawa kebenaran-kebenaran Yesus masuk ke dalam pikiran kita, kita pun akan mengalami Roh Kudus memperbaharui akal budi kita. Pola-pola pemikiran yang lama (yang buruk) akan dirontokkan-Nya. Frustrasi akan digantikan oleh damai-sejahtera dan kecemasan akan digantikan oleh pengharapan. Kita pun akhirnya akan disadarkan benar bahwa kita adalah sungguh anak-anak Allah yang sangat dikasihi oleh-Nya. Dan …… tidak ada siapa dan/atau apa pun yang dapat menggoyahkan kita dari kebenaran-kebenaran mendasar/fundamental salib (kematian) dan kebangkitan Yesus Kristus.

DOA: Datanglah, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kuasailah pemikiran-pemikiran kami hari ini. Ajarlah kami untuk menaruh iman-kepercayaan kami dalam kebenaran-kebenaran yang telah Kaunyatakan. Hiburlah kami, ya Tuhan, dengan kehadiran-Mu selagi kami berupaya mempersiapkan diri kami untuk hidup di dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:2-11), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DAN YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 15-12-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-12-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Desember 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ASAL KAMU TETAP TEGUH BERPEGANG PADA INJIL

ASAL KAMU TETAP TEGUH BERPEGANG PADA INJIL

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA V – 10 Februari 2013) 

pompeo-batoni-st-paul-473x593Dan sekarang, Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Melalui Injil itu kamu diselamatkan, seperti yang telah kuberitakan kepadamu, asal kamu teguh berpegang padanya, kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena akulah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya jemaat Allah. Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku. Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya (1Kor 15:1-11).

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1-2,16-17,28; Bacaan Injil: Luk 7:36-50 

Paulus mengingatkan umat di Korintus tentang fondasi-fondasi dasar iman-kepercayaan mereka: Kristus mati untuk dosa-dosa kita, dikuburkan, dan bangkit lagi dari antara orang mati. Paulus mendorong orang untuk berpegang teguh pada kebenaran-kebenaran sederhana ini sebagai “yang sangat penting” (1Kor 15:3). Kata-kata yang tidak banyak ini berisikan hakekat penyelamatan kita dan adalah dasar dari pengharapan kita.

Dalam penggambaran (pemerian) Paulus atas penampakan-penampakan Kristus setelah kebangkitan-Nya, kita melihat kemenangan Yesus atas maut dan kuasa-Nya untuk menyentuh kehidupan banyak orang. Jaminan bahwa Allah dapat mentransformir kehidupan kita seharusnya memberikan kepada kita penghiburan, kekuatan dan sukacita yang besar. Apa yang telah dilakukan Allah dalam diri orang-orang lain, dapat juga dilakukan-Nya dalam diri kita. Kita hanya perlu membuka diri agar mampu menerima rahmat yang terus-menerus dicurahkan-Nya kepada anak-anak-Nya.

YearofFaith - 000Paulus menceritakan bagaimana rahmat Allah diberikan juga kepadanya walaupun dia merasa tidak pantas untuk disebut rasul karena pengejaran serta penganiayaannya atas Gereja (lihat 1Kor 15:9). Kita dapat melihat kuasa Allah, kemampuan-Nya untuk memanggil umat-Nya dan memberikan diri-Nya sendiri kepada mereka, tidak hanya dalam kehidupan Paulus, melainkan juga dalam kehidupan setiap orang yang pernah disentuh oleh Allah. Rahmat Allah jauh lebih besar daripada dosa-dosa kita! Siapa saja dapat menerima karunia mutlak dari Allah. Rahmat (Latin: gratia) kita terima dari Allah bukanlah karena kepantasan diri kita, dan rahmat juga bukan sebuah hak yang dapat kita tuntut dari Allah. Yang diminta oleh-Nya hanyalah kita mempunyai iman kepada-Nya dan kita membuka diri agar dapat menerima kasih-Nya.

Pencurahan rahmat Allah juga bersifat terus-menerus, dengan demikian membawa dampak atas kehidupan kita secara berkesinambungan. Rahmat diberikan kepada kita melalui kematian Kristus yang menebus, dan dengan rahmat itu kita diselamatkan, asal kita teguh berpegang pada Injil (lihat 1Kor 15:2). Kematian Kristus adalah titik awal, dan kebangkitan-Nya adalah dasar yang berkesinambungan bagi transformasi dan pengudusan yang terus berlanjut.

Katekismus Gereja Katolik [KGK] mengajarkan kepada kita: “Rahmat Allah berarti bahwa Allah memberi kehidupan-Nya secara cuma-cuma kepada kita. Ia mencurahkannya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus, untuk menyembuhkannya dari dosa dan untuk menguduskannya (KGK, 1999).

DOA: Bapa surgawi, kami membuka hati kami agar pemberian rahmat-Mu untuk keselamatan kami, penyembuhan kami, dan tranformasi kami menjadi gambar (imaji) dan rupa Kristus dapat terlaksana dalam diri kami. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “CARA ALLAH BERBICARA DENGAN UMAT-NYA” (bacaan tanggal 10-2-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2013.

Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “MULAI SEKARANG ENGKAU AKAN MENJALA MANUSIA” (bacaan tanggal 1-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, dan “PENJALA IKAN MENJADI PENJALA MANUSIA” (bacaan tanggal 1-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-9-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Januari 2013 [Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS