Posts tagged ‘TUHAN ATAS HARI SABAT’

MENGAPA MEREKA BERBUAT SESUATU YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?

MENGAPA MEREKA BERBUAT SESUATU YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Agnes, Perawan Martir – Selasa, 21 Januari 2020)

HARI KEEMPAT PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: 1Sam 16:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28

Narasi tentang Yesus dan para murid-Nya yang memetik bulir gandum pada hari Sabat, selagi mereka berjalan menuju sinagoga terdapat dalam tiga kitab Injil sinoptik hampir sama, kata demi kata. Kita melihat dari bacaan ini bagaimana orang-orang Farisi memprotes tindak-tanduk para murid Yesus, dan mengatakan bahwa mereka melakukan suatu pekerjaan yang terlarang pada hari Sabat. Menyiapkan makanan adalah salah satu dari 39 macam pekerjaan yang termasuk dalam daftar yang disusun oleh para rabi sebagai tindakan-tindakan yang melawan istirahat Sabat. Fakta bahwa para rabi itu memasukkan tindakan memetik bulir gandum atau jagung sebagai pekerjaan menunjukkan betapa keras dan ketat mereka dalam menafsirkan Hukum.

Para penganut aliran keras ke luar untuk menyalahkan orang-orang yang tidak bersalah guna membuat diri mereka sendiri kelihatan baik. Jawaban Yesus menunjukkan keprihatinan-Nya yang mendalam atas kebutuhan-kebutuhan manusia, artinya pendekatan Yesus terhadap Hukum jauh lebih manusiawi.

Yesus bertanya kepada orang-orang Farisi apakah mereka tidak pernah membaca Kitab Suci tentang Raja Daud yang karena kebutuhan fisik/manusiawi dari para bawahannya (lapar) menilai sebagai benar untuk bertindak sesuatu yang dalam keadaan normal dilarang, yaitu masuk ke dalam rumah Allah dan makan roti persembahan yang sebenarnya hanya dapat dimakan oleh imam dalam keadaan normal (lihat 1Sam 21:1-6; Imam Ahimelekh, bukan Abyatar). Apa yang dikatakan Yesus adalah bahwa ada Hukum lain di atas hukum yang tertulis, apakah hukum itu berasal dari Allah atau manusia; sebuah Hukum yang ditempatkan oleh sang Pencipta ke dalam kodrat manusia: kebutuhan-kebutuhan legitim yang bersifat urgent melampaui hukum yang tertulis.

Apabila kita membaca ulang  bacaan Injil hari ini dan merenungkannya, maka secara tahap demi tahap kita akan mengenal Yesus lebih mendalam. Kita melihat Dia secara lebih jelas lagi sebagai Allah dan manusia. Kita akan melihat bahwa Yesus adalah sungguh seorang manusia yang sangat memperhatikan bahkan kebutuhan-kebutuhan kecil dari orang-orang lain. Yesus juga sungguh ilahi, yang dipenuhi dengan hikmat yang benar untuk langsung melihat melalui kelemahan hukum, dipenuhi dengan kasih ilahi, prihatin atas segala hal yang dihadapi orang-orang, seakan Ia berkata: “Bahkan hari yang diperuntukkan untuk menghormati diri-Ku bagaimana pun tidak boleh melukai (hati) umat-Ku yang Kukasihi, teristimewa mereka yang paling dina.”

Sebagai umat Kristiani, kita harus senantiasa dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus melalui penerimaan sakramen-sakramen dan praktek-praktek keagamaan kita. Jika kita menerapkan aturan-aturan agama secara mekanistis, maka ada kemungkinan hal tersebut membuat kita malah menjadi menyimpang dari hidup spiritual sesungguhnya.

Bacaan Injil hari ini adalah satu dari serangkaian kontroversi antara Yesus dan para pemuka agama Yahudi. Bacaan Injil kemarin (Mrk 2:18-22) menyoroti soal berpuasa. Bacaan Injil hari ini menyangkut soal hari Sabat karena Gereja awal (perdana) telah menggantikan ibadat mingguan dari Sabat menjadi hari Minggu. Namun Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa jika ibadat kita menjadi tujuan dan bukan sarana untuk berada dalam persekutuan dengan Allah, maka ibadat tersebut malah dapat menjadi penghalang yang serius untuk mencapai tujuan sebenarnya. Mungkin saja ketaatan seseorang kepada aturan karena dia mencintai aturan tersebut, bukan mencintai Allah. Hari Sabat aslinya adalah dimaksudkan untuk merayakan perjanjian dengan TUHAN (YHWH) dan pembebasan. Lembaga keagamaan Yahudi telah mengubahnya menjadi beban. Dengan demikian kita dapat menjadi budak-budak praktek (keagamaan) kita sendiri apabila semua itu tidak mampu membebaskan kita untuk berkomunikasi dengan Bapa di surga.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan atas hari Sabat dan kasih-Mu tidak dapat diutarakan dengan kata-kata. Hukum cintakasih-Mu adalah sukacita kami dan keselamatan kami. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:23-28), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH TUHAN” (bacaan tanggal 21-1-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulsan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH TUHAN

YESUS ADALAH TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 22 Januari 2019)

HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: Ibr 6:10-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,4-5,9-10

Anak-anak tidak selalu sadar akan kebutuhan untuk tidur siang. Tetapi para orangtua tahu benar segala tanda yang ditunjukkan oleh anak-anak mereka kalau tiba saat bagi mereka untuk tidur, misalnya anak-anak itu menjadi semakin rewel, menangis, gelisah dan lain sebagainya. Barangkali kita sebagai anak-anak Allah juga tidak dapat mengenali kebutuhan akan istirahat yang telah ditentukan oleh Bapa surgawi. Kita mungkin saja berpikir bahwa akal budi kita jernih dan cukup energetik, padahal pada kenyataannya kita mungkin kehilangan sesuatu yang vital karena kita tidak beristirahat dalam hadirat-Nya.

Seperti orang-orang Farisi yang telah salah sasaran karena berpikir cuma di sekitar parameter-parameter legalistik, kita pun dapat saja membatasi jenis istirahat yang Allah ingin berikan kepada kita. Menjalankan hari Sabat bagi kita mungkin berarti suatu hari bebas dari kerja, tetapi kita tetap saja tidak mengambil kesempatan untuk mengalami istirahat dan penyegaran kembali dalam hadirat Allah.

Pada hari istirahat ini Allah ingin memberikan kepada kita sesuatu yang jauh melampaui harapan-harapan kita yang biasa. Beristirahat secara tepat pada hari Sabat bukanlah sekadar tidak melakukan apa-apa demi ketaatan kepada perintah-perintah Allah. Kita mengalami istirahat Sabat yang penuh apabila kita memperkenankan Yesus melimpahi kita secara lebih lagi dengan cintakasih dan rahmat-Nya. Ini adalah roh dari hukum, dan inilah jenis istirahat yang ditawarkan Yesus kepada para murid-Nya.

Kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini mempunyai arti istimewa bagi umat Kristiani awal (perdana) yang memindahkan perayaan Sabat mereka ke hari Minggu setelah mereka tidak diperbolehkan lagi berdoa di sinagoga/rumah ibadat Yahudi. Di balik kontroversi ini dan tindakan penuh percaya diri dan berani dari umat Kristiani perdana untuk memindahkan kewajiban ibadat ke hari Minggu adalah pengakuan bahwa Yesus adalah sumber dan segalanya yang menghidupkan hukum agama dan prakteknya. Tanpa Roh Kudus dari Kristus, hukum agama dapat dengan mudah menjadi suatu beban dan mesin dosa.

Setiap hari Sabat, Allah menunggu kita untuk mengalami persekutuan dengan-Nya – suatu persekutuan doa di mana kita menyembah Dia, mendengarkan firman-Nya dan memperkenankan Dia menunjukkan kepada kita secara lebih penuh siapa kita sebenarnya dalam Dia. Ini adalah istirahat yang dilukiskan oleh sang pemazmur dengan jelasnya: “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku”  (Mzm 23:2-3a).

Bahkan sekarang pun, pemikiran bahwa doa adalah cara Allah melayani kita sulit untuk dipahami. Kita dapat saja berpikir bahwa istirahat Sabat hanyalah untuk mengikuti aturan-aturan Allah, padahal berada bersama Yesus adalah tujuan sejati dari Sabat itu. Susahnya dalam hal orang Farisi adalah bahwa mereka begitu penuh dengan ide-ide mereka sendiri tentang Sabat, sehingga luput melihat kehidupan yang Yesus mau berikan kepada mereka. Tidak saja mereka melihat kesalahan pada Yesus, mereka pun menghalang-halangi orang lain untuk mengalami istirahat-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin mengalami istrahat Sabat-Mu. Tolonglah kami agar dapat menerima segala anugerah yang Dikau ingin berikan kepada kami. Ajarlah kami untuk menerima kehidupan dan penyegaran kembali dari-Mu pada saat-saat kami bekerja maupun pada saat-saat kami bekerja maupun pada saat-saat kami beristirahat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:23-28), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA MEREKA BERBUAT SESUATU YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?” (bacaan tanggal 22-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

Cilandak, 19 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS, TUHAN ATAS HARI SABAT

YESUS, TUHAN ATAS HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Sabtu,  5 September 2015) 

MURID-MURID YESUS MEMETIK GANDUM PADA HARI SABATPada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:1-5)

Bacaan Pertama: Kol 1:21-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-4,6,8

Pada waktu Lukas menulis Injilnya, umat Kristiani sedang menyebar ke tempat-tempat atau negeri-negeri yang jauh dari Yerusalem. Banyak anggota jemaat yang baru berasal dari kaum non-Yahudi (baca: Kafir) yang tidak familiar dengan berbagai adat-kebiasaan Yahudi. Salah satu tujuan Lukas menulis Injilnya ini adalah untuk mengajar umat Kristiani ex non-Yahudi itu bahwa mereka termasuk dalam rencana Allah untuk membawa semua orang kepada keselamatan dalam Kristus. Lukas berupaya untuk mematahkan halangan-halangan dari peraturan-peraturan Yahudi dan memproklamasikan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan segenap umat manusia.

Lukas menunjukkan bagaimana Yesus secara gradual – tahap demi tahap – mengungkapakan kebenaran siapa Dia sebenarnya, … Juruselamat dunia. Kemudian Dia mengembangkan lebih lanjut tema, bahwa agar dapat mengikut Kristus kita perlu menolak dan membuang cara-cara berpikir kita yang lama dan menjalankan suatu cara hidup baru yang bersifat radikal. Selagi jalan di jalan antara ladang-ladang gandum, para murid Yesus memetik bulir gandum, menggosok-gosoknya untuk membuang sekamnya, kemudian memakannya. Bagi orang Farisi, tindakan para murid Yesus ini melanggar hukum Sabat Yahudi (lihat Ul 5:14) yang melarang orang untuk bekerja pada hari Sabat. Secara teknis, para murid Yesus telah melakukan suatu pekerjaan (memetik bulir gandum dst.) yang terlarang di hari Sabat.

Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengingatkan mereka pada waktu di mana Daud memberi makan pasukannya yang lapar dengan roti kudus, yaitu roti sajian yang ditempatkan dalam tabernakel (Luk 6:3-4; 1Sam 21:1-6).  Menurut hukum yang berlaku roti seperti ini hanya dapat dimakan oleh para imam dari Rumah Allah (Im 24:9), akan tetapi diberikan kepada Daud dan pasukannya atas dasar pertimbangan unsur kemanusiaan. Lalu Yesus bersabda, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Yesus mengungkapkan dua buah kebenaran yang penting dalam pernyataannya ini. Yesus menunjukkan bahwa Dia dan para murid-Nya tidak melanggar hukum Sabat. Sebaliknya, sebagai “Tuhan atas hari Sabat”, Dia sedang mengungkap makna sesungguhnya dari hari Sabat itu. Pertama-tama, hari Sabat ditetapkan sebagai karunia Allah bagi umat manusia, satu hari yang disisihkan bagi orang-orang  agar mereka memalingkan hati dan pikiran mereka kepada Allah. Kedua, Dia menyatakan siapa diri-Nya sebenarnya – Anak Manusia dengan otoritas, bahkan atas hari Sabat juga.

Sekarang marilah kita memusatkan pikiran dan hati kita kepada Anak Manusia, Yesus Kristus, agar Dia sudi mengajar kita dan kita pun dapat semakin mengenal-Nya. Bagaimana? (1) Dengan menyediakan waktu yang cukup setiap hari – paling sedikit 10 menit – untuk berdoa dan memuji-muji Allah sambil membuka hati kita selebar-lebarnya bagi-Nya. (2) Dengan melakukan pemeriksaan batin/nurani kita setiap hari, biasanya sebelum kita pergi tidur di malam hari. Pada kesempatan ini kita dapat bertobat atas pola-pola kebiasaan lama yang selama ini membatasi karya Allah dalam kehidupan kita. (3) Dengan membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci sehingga dengan demikian membuka diri kita terhadap sentuhan Roh Kudus yang menyatakan kasih dan kerahiman Allah. (4) Dengan membuat serta bertindak atas rencana-rencana pertumbuhan spiritual yang mencakup pembacaan dan permenungan atas bacaan-bacaan rohani dan keikutsertaan dalam kehidupan Gereja. Hal ini akan menolong terjaminnya keanggotaan kita dalam komunitas iman yang dinamakan Gereja/Tubuh Kristus, di mana Kristus adalah Kepalanya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kol 1:21-23), bacalah tulisan yang berjudul “LEBIH DEKAT LAGI DENGAN YESUS MELALUI SALIB-NYA” (bacaan tanggal 5-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggaal 6-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 2 September 2015 [Peringatan para Martir Revolusi Perancis] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANG ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

YESUS MEMANG ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 9 September 2013) 

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG YANG MATI TANGAN KANANNYAPada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:24-2:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:6-7,9 

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat terus mengamati gerak-gerik Yesus supaya dapat memperoleh tanda-tanda bahwa Dia melanggar hukum, khususnya yang berkaitan dengan hari Sabat. Banyaknya peraturan sehubungan dengan Sabat membuat para pemuka agama Yahudi tersebut memegang kendali sepenuhnya atas hal-ikhwal (pernak-pernik?) hari Sabat. Mentalitas seperti ini membatasi penyembahan kepada Allah yang menyentuh hati. Yesus, “Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5), akan menunjukkan apa itu sesungguhnya kebaktian/persembahan hari Sabat.

Yesus tidak dapat diintimidasi oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Pendekatan Yesus terhadap upaya memelihara kesucian hari Sabat didasarkan secara kuat pada keyakinan bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama manusia (Luk 10:25-37). Pandangan Yesus ini mencerminkan keyakinan-Nya bahwa ketiadaan hormat kita kepada sesama manusia tidak dapat menghormati Allah.  Juga adalah suatu kejahatan apabila kita membiarkan penderitaan/kesengsaraan berlangsung terus, padahal hal tersebut dapat dihentikan (bahkan pada hari Sabat) dengan suatu perbuatan baik.

Orang-orang Farisi memasukkan Yesus dalam kategori “penyembuh”, dan mereka mengamat-amati Yesus secara ketat, kalau-kalau Dia menyembuhkan pada hari Sabat (Luk 6:7). Tafsir mereka atas hukum memperkenankan intervensi medis pada hari Sabat, hanya untuk kelahiran, penyunatan, dan penyakit mematikan. Melakukan penyembuhan pada hari Sabat untuk alasan apa pun kecuali atas penyakit yang mematikan seperti yang dilakukan oleh Yesus jelas merupakan pelanggaran terang-terangan atas istirahat hari Sabat.

Yesus bukanlah Yesus jika Dia tidak mengetahui isi hati dari orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Yesus memerintahkan orang yang mati tangannya itu untuk maju ke depan, jadi sesungguhnya mengkonfrontir para pemuka agama Yahudi itu ketika Dia bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:8-9). Dalam pikiran Yesus, apa saja yang membiarkan seseorang tetap menderita tidaklah menghormati Allah, dan Allah seharusnya dihormati, teristimewa pada hari Sabat. Jadi, Yesus memerintahkan orang itu untuk mengulurkan tangannya yang lumpuh. Ia melakukannya sesuai perintah Yesus itu, dan ia pun disembuhkan. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menjadi marah besar karena sekali lagi Yesus menunjukkan bahwa “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Sekarang marilah kita (anda dan saya) bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah hati dan pikiran kita juga terbelenggu oleh sikap-sikap restriktif menyangkut pokok-pokok berikut ini: Allah, penyembahan kepada-Nya, keluarga, pekerjaan, relasi di dalam komunitas kita? Apakah kita menghayati atau menjalani kehidupan kita dengan cara-cara yang menghormati Allah dan sesama? Ataukah kehidupan spiritual kita sudah menjadi layu seperti tangan orang itu? Yesus, dengan kasih dan bela-rasa, minta kepada kita untuk hidup seperti Dia hidup, … dalam kasih dan bela-rasa.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat kebutuhan kami akan penyembuhan-Mu dalam kehidupan kami. Semoga terang-Mu menyinari diri kami sehingga kami dapat mengasihi Allah dan sesama. Semoga kami Kaujadikan hidup dan bergembira dalam Engkau, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kol 1:24-2:3), bacalah tulisan yang berjudul “DI DALAM KRISTUS TERSEMBUNYI SEGALA HARTA HIKMAT DAN PENGETAHUAN” (bacaan tanggal 9-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 September 2013  

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SABAT: HARI KEBEBASAN DAN SUKACITA

SABAT: HARI KEBEBASAN DAN SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Sabtu,  7 September 2013) 

MURID-MURID YESUS MEMETIK GANDUM PADA HARI SABAT

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:1-5)

Bacaan Pertama: Kol 1:21-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-4,6,8

Lukas menulis Injilnya teristimewa bagi orang-orang dengan latar belakang Yunani, yang tidak memiliki pemahaman atau sedikit saja memiliki pemahaman tentang tradisi Yahudi. Oleh karena itu, tidak mengherankanlah apabila Lukas sering menekankan konfrontasi-konfrontasi Yesus dengan orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi lainnya yang pada umumnya berlawanan paham dengan sang Rabi dari Nazaret. Dengan demikian ketika orang-orang Farisi menuduh para murid Yesus melanggar peraturan hari Sabat, maka dengan cepat Yesus membela para murid-Nya dan menunjukkan bahwa tindakan-tindakan mereka masih tetap berada dalam batas-batas hukum. Di sini, dan juga dalam peristiwa-peristiwa lain, Yesus menunjukkan bahwa Dia datang bukan untuk menghapuskan hukum, melainkan untuk menggenapinya. Dengan tegas Yesus menyatakan kepada para lawan-Nya: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Yesus dapat melihat  bagaimana orang-orang Farisi berupaya untuk memegang kendali atas Allah (yang benar kebalikannya, bukan?) dengan menyusun peraturan-peraturan dan panduan-panduan ketat yang seringkali bahkan melampaui tuntutan-tuntutan hukum itu sendiri. Misalnya, tafsiran mereka atas hukum Sabat memusatkan perhatian pada hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat itu. Sebaliknya, Yesus ingin mengindentifikasikan hakekat dari hukum itu dan mengundang umat-Nya untuk mengalami kebebasan yang dimungkinkan apabila mereka memahami tujuan sentral dari setiap hukum Allah. Allah menetapkan hari Sabat karena cintakasih-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya kebebasan dari beban-beban kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat datang menghadap hadirat-Nya dan menyembah-Nya. Memusatkan perhatian pada hal-hal yang tidak boleh dilakukan berarti salah sasaran. Artinya, kita kehilangan kesempatan menerima undangan untuk beristirahat dan disegarkan kembali.

Selagi mereka berjalan di ladang gandum, murid-murid Yesus mempunyai kesempatan menikmati jalan bersama dengan Yesus tanpa “gangguan” dari orang banyak. Ini adalah peluang bagi para murid untuk berada dekat Yesus. Mereka dapat berdoa bersama dengan Dia dan menyaksikan serta mengalami betapa dekat Yesus dengan Bapak-Nya. Waktu Sabat untuk beristirahat dalam keheningan merupakan suatu bagian penting dari relasi mereka dengan Yesus. Disegarkan kembali dengan Dia dengan cara ini akan memampukan mereka untuk menjawab berbagai tuntutan pelayanan yang Yesus ingin percayakan kepada mereka.

Bahkan hari ini pun, Allah ingin agar Sabat merupakan hari di mana kita dapat mengalami kebebasan-Nya yang menyelamatkan dan sukacita. Sebagaimana orang-orang Farisi, kita dapat berhenti bekerja guna memuaskan huruf-huruf yang tersurat dalam Hukum, atau  kita dapat membuat hening hati kita dan beristirahat di depan Yesus. Hari ini, selagi kita mempersiapkan Sabat, marilah kita memohon kepada Yesus agar menyatakan hati-Nya yang penuh kasih dan menyegarkan kita kembali dalam persiapan untuk pekan mendatang.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kol 1:21-23), bacalah tulisan yang berjudul “KETEKUNAN” (bacaan tanggal 7-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT” (bacaan tanggal 3-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-9-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 2 September 2013 [Peringatan Martir-martir Revolusi Perancis] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DI SINI ADA YANG MELEBIHI BAIT ALLAH

DI SINI ADA YANG MELEBIHI BAIT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 19 Juli 2013) 

MURID-MURID YESUS MEMETIK GANDUM PADA HARI SABATPada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentang kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mat 12:1-8)

Bacaan Pertama: Kel 11:10-12:14; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18 

Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat dan Tuhan dari Bait Allah. Orang-orang Farisi telah mengembangkan peraturan-peraturan yang ekstensif berkaitan dengan hari Sabat dan upacaya penyembahan di Bait Allah. Semua ini berasal dari hasrat yang tulus untuk melindungi apa saja yang kudus …… apa saja yang suci. Dengan memperkenankan para murid-Nya untuk melanggar peraturan-peraturan itu, sebenarnya Yesus menantang orang-orang Farisi dan semua orang untuk memandang diri-Nya sebagai Pribadi yang memegang otoritas tertinggi/final atas hari Sabat dan Bait Allah. Injil Matius mengajak kita untuk memandang Yesus, dan melihat bahwa Dia adalah pencerminan Allah sendiri, bahkan ketika Dia ditolak oleh para pemimpin agama pada zaman itu.

Yesus melihat bagaimana orang-orang Farisi melihat hukum. Bagi mereka Hukum Taurat adalah pemberian dari Allah sendiri, lalu mereka membangun di atasnya suatu sistem yang terdiri dari peraturan-peraturan dan regulasi-regulasi yang digunakan untuk mengukur orang-orang lain dan memisahkan diri mereka dari para “pendosa”. Dengan cara begini mereka tidak akan “terpolusi” oleh dosa orang-orang lain. Ini adalah cara yang samasekali berlawanan dengan cara Yesus. Ia mengasosiasikan diri-Nya dengan para pendosa dan pelanggar hukum, bahkan makan bersama dengan mereka (Mat 9:9-10). Yesus, yang adalah manisfestasi kasih dan kerahiman Allah, selalu menunjukkan kasih dan belas-kasihan kepada mereka yang berada di sekeliling-Nya. Yesus tidak akan membiarkan huruf-huruf hukum membenarkan pengabaian kebutuhan manusia dan menghalang-halangi aliran cintakasih-Nya.

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETDengan memperkenankan para murid untuk memetik bulir gandum pada hari Sabat dan dalam mempermaklumkan bahwa “Di sini ada yang melebihi Bait Allah” (Mat 12:6), Yesus bertindak sebagai penafsir final dari hukum yang dikirim oleh Allah. Ia menyatakan identitas-Nya sebagai Tuhan dan Mesias yang mengajar dan menghayati jalan cintakasih yang bersifat sentral bagi Kerajaan Allah.

Teladan yang diberikan Yesus dapat menolong kita memandang hidup kita sendiri untuk melihat apakah kita berjalan dalam jalan cintakasih-Nya? Apakah kita cepat mencari kesalahan  dalam diri orang-orang yang tidak memenuhi standar-standar kita sendiri? Apakah kita menarik garis perbedaan antara diri kita dan orang-orang lain berdasarkan sikap-sikap kita yang mencerminkan superioritas? Apakah kita sungguh berupaya untuk mencerminkan kasih Allah dalam kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan?

DOA: Tuhan Yesus, bahkan sekarang pun Engkau hadir di tengah-tengah kami, ya Tuhan, sebagai Pribadi yang adalah Tuhan atas hari Sabat dan lebih besar dari Bait Allah. Semoga kami mau dan mampu menaruh kepercayaan pada-Mu dan mengikuti Engkau dalam jalan cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kel 11:10-12:4), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SUNGGUH INGIN MEMERDEKAKAN KITA” (bacaan tanggal 19-7-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-07 BACAAN HARIAN JULI 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “HARI SABAT UMAT KRISTIANI” (bacaan tanggal 20-7-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-7-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Juli 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS