Posts tagged ‘TUBUH DAN DARAH KRISTUS’

TUBUH DAN DARAH-NYA YANG MAHAKUDUS

TUBUH DAN DARAH-NYA YANG MAHAKUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS [TAHUN A] – Minggu, 18  Juni 2017)

 

“Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58) 

Bacaan Pertama: Ul 8:2-3,14b-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Kedua: 1 Kor 10:16-17

“… dengan mata badaniah kita yang kita lihat adalah roti dan anggur; tetapi hendaklah kita melihat dan percaya dengan teguh, bahwa itu adalah tubuh dan darah-Nya yang mahakudus, yang hidup dan benar.” (S. Fransiskus dr Assisi, “Petuah-Petuah” 1:21)

Satu dari alasan-alasan yang paling menyenangkan dan paling natural bagi keluarga-keluarga dan/atau sahabat-sahabat untuk berkumpul bersama adalah untuk berbagi makanan/minuman dalam sebuah perjamuan. Ini adalah suatu kebiasaan yang bersifat universal sejak awal mula sejarah manusia.

Orang-orang Ibrani kuno, dengan adat kebiasaan keluarga dan praktek-praktek keagamaan mereka mempunyai banyak peristiwa/peringatan untuk dijadikan alasan berkumpul di sekeliling meja perjamuan kudus mereka. Satu perjamuan yang sangat signifikan adalah yang dimaksudkan untuk merayakan Paskah, yang memperingati pembebasan bangsa mereka dari perbudakan Mesir.

Yesus dan para murid-Nya (catatan: Yohanes Penginjil tidak menyebut mereka “rasul-rasul”, melainkan “murid-murid”) sungguh setia dalam melaksanakan rituale Paskah setiap tahunnya. Berkaitan dengan Perayaan Paskah ini, Yesus menginisiasi suatu perjamuan kudus lainnya, yaitu Perjamuan Terakhir. Dalam perjamuan malam itu, Yesus bersabda: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! … perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:24,25). “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” adalah kata-kata suci yang selalu digunakan oleh umat Kristiani dalam dalam menghormati dan memenuhi perintah dari Sang Juruselamat, yang diberikan pada malam sebelum kematian-Nya di kayu salib. Ketika kita berkumpul dalam Misa Kudus, kita merayakan dan meneruskan serta melanggengkan arahan yang diberikan oleh Yesus ini, yang diucapkan-Nya pada Perjamuan Terakhir.

Hari Raya Corpus Christi (resminya dalam Bahasa Indonesia: “Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus”) yang kita rayakan pada hari ini mengingatkan kita akan martabat dari Perjamuan Terakhir dan warisan berharga berupa kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita manakala kita berkumpul dalam iman di sekeliling meja-Nya. Yang kita terima adalah tubuh dari Tuhan yang sudah bangkit, dan dalam hal ini kita juga diingatkan akan kasih-Nya yang kekal-abadi bagi kita masing-masing. Kuat-kuasa-Nya, hikmat-Nya dan persahabatan-Nya datang kepada kita ketika kita menerima sang Roti Kehidupan.

Ekaristi Kudus kiranya serupa dengan syering minum anggur dalam sebuah perjamuan keluarga sambil mengenang kepala keluarga yang sudah almarhum, yaitu sang pembuat air anggur yang tinggi kualitasnya. Ekaristi Kudus serupa, tetapi tidak sama – malah mengandung makna yang lebih lagi – ketimbang apa yang digambarkan tadi. Ekaristi Kudus adalah kehadiran riil dari Tuhan yang telah bangkit yang tinggal dengan umat-Nya dalam tubuh-Nya yang dipermuliakan. Ini adalah cara-Nya yang unik untuk bersama kita selalu.

Hari Raya Corpus Christi menimbulkan memori-memori dari Ruang Atas tempat diselenggarakannya Perjamuan Terakhir, penggandaan roti, manna di padang gurun dll. Hari raya ini adalah sebuah kenangan akan masa lalu.

Hari Raya Corpus Christi berbicara kepada kita hari ini. Yesus bersabda: “Akulah roti kehidupan” (Yoh 6:48,51). Artinya sekarang juga, hari ini, karena diucapkan dengan menggunakan present tense.  Melalui penerimaan kita akan Roti Kehidupan, diri kita diperkuat pada saat ini juga.

Hari Raya Corpus Christi juga sebuah janji masa depan, janji kekal: Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh 6:58).

DOA: Tuhan Yesus, dalam Ekaristi Kudus yang luhur Kauwariskan kepada kami peringatan akan wafat dan kebangkitan-Mu. Semoga kami menghormati misteri kudus tubuh dan darah-Mu dengan pantas, sehingga kami selalu dapat menikmati hasil penebusan-Mu. Sebab Engkaulah pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa, dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:51-58), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH ROTI KEHIDUPAN YANG TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 18-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

Cilandak, 16 Juni 2017 [Peringatan B. Anisetus Koplin, Imam dkk. Martir Polandia] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

BERBAHAGIALAH KITA YANG DIUNDANG KE PERJAMUAN-NYA

BERBAHAGIALAH KITA YANG DIUNDANG KE PERJAMUAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 7 Juni 2015)

 last-supper

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya, “Ke mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan, “Pergilah ke kota; di sana seorang yang membawa kendi berisi air akan menemui kamu. Ikutilah dia dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: Di manakah ruangan tempat Aku akan makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku? Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!” Kedua murid itu pun berangkat dan setibanya di kota, mereka dapati semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, “Ambillah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.” (Mrk 14:12-16,22-26) 

Bacaan Pertama:: Kel 24:3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: Ibr 9:11-15 

Pater Brennan Manning adalah seorang imam Fransiskan berkebangsaan Amerika. Pada suatu hari romo ini berkisah mengenai ibunya, pada waktu itu sudah berumur sekitar 70 tahun, yang tinggal di Brooklyn, New York City. Kehidupan Nyonya Manning berpusat pada Ekaristi secara harian. Karena ibu tua itu menjadi seorang sukarelawati pada sebuah “drug detoxification center” yang bertugas setiap hari mulai jam 7.30, maka satu-satunya Misa yang dapat didengarnya setiap hari adalah Misa jam 5.30 pagi.

Di seberang rumahnya tinggallah seorang ahli hukum (lawyer) yang sangat sukses, yang berumur sekitar 30 tahun; dia menikah dan mempunyai dua orang anak. Ahli hukum itu tidak beragama dan secara khusus suka mengkritisi orang-orang yang suka mendengar/mengikuti Misa Harian. Pada suatu pagi  di bulan Januari, jam 5, ketika mengendara mobil pulang ke rumahnya dari sebuah pesta, dan jalan sangat licin karena es, ia berkata kepada istrinya: “Taruhan yu, nenek tua itu pasti tidak keluar rumah pagi ini”, maksudnya Nyonya Manning. Namun alangkah terkejutnya sang ahli hukum, ketika kelihatan dari kejauhan Ibu Manning sedang tertatih-tatih berjuang menghadapi jalan licin yang menanjak menuju gereja. Tangan-tangannya pun digunakan untuk bergerak maju.

Sesampainya di rumah Bapak Pengacara itu mencoba untuk tidur, namun tidak dapat. Sekitar jam 9 pagi dia bangkit, pergi ke pastoran di sana dan minta bertemu dengan seorang imam. Ia berkata kepada imam di hadapannya: “Padre, aku bukan anggota umatmu. Aku tidak beragama. Akan tetapi, dapatkah kiranya anda menceritakan kepadaku apa yang anda miliki di dalam sana yang mampu membuat seorang perempuan tua merangkak dengan tangan dan lutut pada suatu pagi yang begitu dingin dan jalan begitu licin.” Inilah awal dari pertobatan sang ahli hukum, bersama istri dan anak-anaknya.

Padre Pio Receiving CommunionSeperti ibuku sendiri dahulu, Nyonya Manning adalah salah seorang umat kebanyakan di Gereja yang tidak pernah mempelajari buku-buku keagamaan/rohani yang dalam-dalam. Ia juga tidak pernah mengetahui serta mengenal istilah-istilah teologis yang keren-keren, namun ia mengetahui apa artinya berjumpa dengan Yesus Kristus dalam Komuni Kudus.

Kita mempunyai segalanya yang kita butuhkan dalam Komuni Kudus. Yesus Kristus adalah roti kehidupan kita. Apa lagi yang kita inginkan? Kita tidak membutuhkan sistem-sistem yang rumit, kata-kata atau istilah-istilah mentereng, tempat-tempat ziarah yang jauh-jauh, program-program psikologis atau sejenisnya apabila kita memiliki suatu iman yang sederhana namun kuat dalam Ekaristi Kudus. Ekaristi adalah Yesus sendiri: Ekaristi adalah segalanya!

Dalam Liturgi Ekaristi ada dua kalimat yang pantas untuk direnungkan. Kalimat pertama adalah: “Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya” yang diucapkan imam selebran (Persiapan Komuni). Sungguh bahagialah, sungguh terberkatilah siapa saja yang diundang ke perjamuan Tuhan dan menerima tubuh-Nya (dan darah-Nya). Kalimat kedua adalah tanggapan umat: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh” (Persiapan Komuni). Komuni Kudus bukanlah sebuah hadiah karena seseorang itu baik hidupnya. Kita juga tidak berpura-pura untuk menjadi pantas. Kita datang ke Misa karena kita adalah para pendosa yang terus berjuang untuk memperbaiki diri. Kita datang ke meja perjamuan bukan karena kita sudah kenyang, melainkan sesungguhnya karena kita merasa lapar dan lemah. Yesus tidak mengambil sekeping medali emas sebagai tempat persembunyiannya melainkan roti dan anggur … makanan dan minuman … makanan dan perayaan.

Berbahagialah kita yang mempunyai segalanya di sana …… Yesus Kristus …… Roti Kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, dalam Ekaristi Kudus Engkau datang kepadaku dalam rupa roti untuk menjadi makananku hari ini, sebagai seorang Sahabat yang akan mendampingiku, sebagai Terang yang akan membimbingku. Engkau adalah kekuatanku melawan godaan, energiku untuk bekerja dalam nama-Mu, dan tantanganku untuk membawa kasih-Mu kepada orang-orang yang akan kujumpai pada hari ini dan hari-hari selanjutnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 14:12-16,22-26), bacalah tulisan yang berjudul “MISA KUDUS TELAH DATANG KEPADA ANDA” (bacaan tanggal 10-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Juni 2015 [Peringatan S. Karolus Lwanga dkk.-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

EKARISTI ADALAH MAKANAN ILAHI YANG AKAN MEMBAWA KITA KEPADA KEHIDUPAN KEKAL

EKARISTI ADALAH MAKANAN ILAHI YANG AKAN MEMBAWA KITA KEPADA KEHIDUPAN KEKAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 22  Juni 2014) 

MUKJIZAT - YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANG“Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58)

Bacaan Pertama: Ul 8:2-3,14b-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Kedua 1Kor 10:16-17

YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANG LAKI-LAKI - 600“Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51).

Perayaan Corpus Christi hari ini adalah sebuah kesempatan untuk memperbaharui penghargaan kita terhadap Ekaristi dengan mencoba untuk mewujudkan satu saja kebenaran dari banyak kebenaran yang menyangkut Ekaristi. Satu kebenaran itu adalah bahwa Ekaristi memanifestasikan kuat-kuasa dan kasih Allah dengan cara yang paling luarbiasa.

Kuat-kuasa dan kasih Allah senantiasa dimanifestasikan dalam dunia, kadang-kadang dengan cara-cara yang istimewa. Misalnya dalam bacaan pertama kita diingatkan akan kuat-kuasa Allah yang secara ajaib memberi makan umat Yahudi yang sedang berjalan di padang gurun menuju tanah terjanji, dengan manna yang turun dari surga. Allah memberi makan umat-Nya dengan cara begini karena Dia sangat mengasihi mereka. Akan tetapi betapa jauh lebih besar kuat-kuasa dan kasih yang ditunjukkan Allah kepada kita dalam Ekaristi. Ekaristi bukanlah sekadar sepotong roti ajaib, melainkan sungguh adalah tubuh dan darah Yesus Kristus. Ekaristi juga bukan sepotong roti yang akan mengenyangkan kita untuk sementara waktu seperti halnya manna pada masa keluaran dari tanah perbudakan Mesir, melainkan makanan ilahi yang akan membawa kita kepada kehidupan kekal. Ekaristi adalah suatu realitas hanya apabila melalui kuat-kuasa Allah, dan Ekaristi adalah karunia bagi kita karena kasih Allah yang begitu besar bagi kita. Hanya kuat-kuasa yang maha-dahsyat dari Allah yang dapat mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus. Hanya kasih-Nya yang begitu besar sajalah yang menggerakkan Dia untuk memberikan karunia yang begitu besar kepada kita.

KOMUNI KUDUS - 111Bacaan Injil hari ini diawali dengan janji pertama Ekaristi (Yoh 6:51). Yohanes Penginjil mencatat bahwa setelah itu orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” (Yoh 6:52). Memang tidak mengherankanlah apabila orang-orang itu tidak mau menerima ajaran Yesus ini. Mereka memandang Yesus, dan yang mereka lihat hanyalah seorang manusia biasa. Tanpa iman, mereka tidak dapat mengenali bahwa kata-kata yang ada pada bibir Yesus bukanlah pepesan kosong. Tanpa iman, mereka tidak akan dapat menyadari bahwa tangan-tangan Yesus itu penuh kuat-kuasa dan hati-Nya penuh dengan cintakasih.

Sepanjang hidup-Nya, Yesus menggunakan kuat-kuasa-Nya sebagai suatu tanda kasih selagi dia berjalan dari tempat yang satu ke tempat yang lain untuk berbuat kebaikan, menyembuhkan orang sakit, memulihkan mereka yang sakit kusta, dan memberi makan mereka yang miskin dan lapar. Ketika datang waktunya bagi Dia untuk meninggalkan dunia ini, Yesus menunjukkan betapa luas cakupan kuat-kuasa-Nya dan betapa dalam kasih-Nya. Pada Perjamuan Terakhir, Ia mengambil roti , mengucap syukur, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, “Minumlah kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa” (Mat 26:26-28). Yesus memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri untuk menyembuhkan kita dari penyakit dosa dan untuk menjadi makanan spiritual yang akan memberikan kehidupan kekal bagi kita.

Dalam Misa Kudus pada hari ini, Yesus berkata kepada kita, “Datanglah, datanglah ke altar untuk menerima Aku dalam Komuni Kudus. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya. Seberapa sering pun kita menerima tubuh (dan darah) Kristus, kita tidak pernah boleh lupa menghargai bahwa Ekaristi adalah suatu karunia yang besar dan agung. Imam atau para petugas komuni seperti prodiakon memegang hosti kudus di depan kita dan berkata “Tubuh Kristus”. Selagi kita memandang tubuh Ekaristik Kristus, maka “amin” kita harus mengungkapkan iman kita dalam kebenaran bahwa tangan-tangan-Nya penuh dengan kuat-kuasa dan hati-Nya penuh dengan cintakasih.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberi makan kepadaku dan memperkuat diriku dengan tubuh dan darah-Mu sendiri. Engkau mengenyangkan aku. Terangilah jalanku selagi aku berupaya untuk membawa hidup-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Cilandak, 19 Juni 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEREKA SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG

MEREKA SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG

(Bacaan Injil Misa, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 2 Juni 2013)

FEEDING THE 5000Ia menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. Pada waktu hari mulai malam datanglah kedua belas murid-Nya kepada-Nya dan berkata, “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang terpencil. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Kamu harus memberi mereka makan!” Mereka menjawab, “Yang ada pada kami tidak lebih daripada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.” Sebab di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok.” Murid-murid melakukannya dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. Setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya disajikan kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkan potongan-potongan roti yang lebih sebanyak dua belas bakul. (Luk 9:11b-17)

Bacaan Pertama: Kej 14:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 1101-4; Bacaan Kedua: 1Kor 11:23-26

Hari ini kita merayakan kebaikan Yesus dalam memberi makan kepada kita melalui Ekaristi. Dalam mengisahkan peristiwa pemberian makan kepada orang-orang yang begitu banyak, Lukas menceritakan kepada kita bahwa, sebelumnya Yesus bermaksud pergi menyendiri dengan para rasul untuk beristirahat, namun malah menerima orang banyak yang mengikuti-Nya (lihat Luk 9:10-11a). Seperti seorang gembala yang lemah lembut, Ia mengurusi orang-orang yang sakit, mengajar mereka tentang Kerajaan Allah dan dengan mukjizat memberi makan kepada orang banyak itu. Ia melayani orang banyak itu sampai setiap orang dipuaskan (lihat Luk 9:17).

Sewaktu dia menulis kepada Jemaat (Gereja) di Korintus yang sedang mengalami kesulitan, Santo Paulus menjelaskan bahwa Yesus masih mampu untuk memelihara umat-Nya: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang”  (1Kor 11:26). Setiap kali kita membaca Kitab Suci, kita dapat disegarkan kembali. Setiap kali kita berdoa, kita dapat dipenuhi dengan Roh Kudus. Pengorbanan Yesus yang kita kenang dalam setiap Misa Kudus, masih tetap memiliki kuat-kuasa untuk menghapus dosa-dosa kita dan mengisi diri kita dengan hidup ilahi.

ROTI DAN ANGGUR - 001Roti dan anggur yang diubah menjadi tubuh dan darah Yesus sungguh dapat menopang kita selagi kita mendekati altar-Nya dengan kerendahan hati. Pada saat yang sama, setiap kali kita makan dan minum, kita juga memandang hari, pada saat mana Yesus akan datang lagi. Mulai saat itu, Yesus sendirilah yang akan memberi kita makan secara langsung, tidak lagi melalui sabda dan sakramen. “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu”  (Why 21:4).

Pada hari ini, marilah kita makan tubuh dan minum darah Kristus dengan hati yang dipenuhi rasa syukur. Dialah yang memberi kita makan. Dialah yang memenuhi segala kebutuhan fisik dan spiritual kita. Marilah kita memandang hari di mana kita akan bersama-Nya. Segala pengharapan kita berpusat pada hal itu.

DOA: Ya Tuhan Yesus, dalam sabda-sabda-Mu kami menemukan kebenaran. Dalam luka-luka-Mu kami menemukan kehidupan. Dalam darah-Mu yang mulia kami menemukan kekuatan untuk menjadi lebih dekat lagi pada-Mu. Dalam kematian-Mu kami menemukan kehidupan. Dalam kebangkitan-Mu kami menemukan harapan untuk hidup kekal. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:11b-17), bacalah tulisan yang berjudul “KITA MEMBERITAKAN KEMATIAN YESUS SAMPAI IA DATANG” (bacaan tanggal 2-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-6-10 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 21 Mei 2013

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS