Posts tagged ‘SAKSI-SAKSI KRISTUS’

SEBUAH CATATAN TENTANG PETRUS DAN PAULUS

SEBUAH CATATAN TENTANG PETRUS DAN PAULUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Kamis, 29 Juni 2017)

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu  akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: Kis 12:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,17-18

Di dekat kota Kaisarea Filipi yang terletak di bagian utara sekali dari Israel, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat sangat fundamental kepada para murid-Nya sehubungan pendapat orang tentang diri-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (Mat 16:13). Pendapat umum tentang Yesus itu sudah tinggi pada saat itu, namun tidak seorang pun mengakui Dia sebagai sang Mesias. Yesus sudah dikait-kaitkan dengan Yohanes Pembaptis dan para nabi besar Perjanjian Lama, a.l. Elia, Yeremia, dll.

Lalu Yesus bertanya  kepada para murid-Nya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Sekarang giliran para muridlah untuk menjawab apa pendapat mereka sendiri tentang Yesus yang telah mereka ikuti untuk kurun waktu yang cukup lama. Seperti biasanya, Petrus mengambil fungsi sebagai “jubir” para murid (rasul), Petrus menjawab: Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Jawaban Petrus ini adalah pengakuan penuh akan Yesus sebagai Mesias – utusan Allah yang sudah lama dinanti-nantikan – dan Anak (Putera) Allah yang hidup – artinya seorang Pribadi yang memiliki relasi intim dan istimewa dengan Allah Bapa dan menyatakan kasih Allah kepada orang-orang di dunia.

Pengakuan Petrus ini mempunyai tempat istimewa dalam Injil Matius. Ayat-ayat Mat 16:17-19 hanya terdapat dalam Injil Matius ini. Pengakuan Petrus ini adalah akibat dari pernyataan dari Allah Bapa sendiri (Mat 16:17), dan Yesus menjanjikan kepada sang pemimpin para rasul ini suatu peranan penting dalam pembentukan komunitas Kristiani yang kita sebut Gereja (Mat 16:18). Yesus akan memberikan kepada Petrus kunci Kerajaan Surga: Apa yang kauikat akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:19; suatu kemungkinan alusi dengan Yes 22:15-25).

 Orang biasa mengatakan, bahwa sementara kepada Petrus diberikan kunci-kunci kepada Kerajaan Surga dan otoritas untuk menggembalakan Gereja yang masih muda usia itu, maka Paulus dipanggil untuk mewartakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi dan membangun Gereja. Walaupun begitu, kita tidak boleh mengandaikan bahwa Petrus hanyalah seorang administrator atau Paulus hanyalah seorang pengkhotbah. Karya pelayanan yang dilakukan oleh kedua pribadi rasul ini memiliki unsur-unsur, baik dari peranan administrator maupun dari peranan pengkhotbah. Kedua orang itu mewartakan Injil dan dua-duanya juga bekerja untuk memperkuat gereja-gereja lokal. Yang utama dalam hati kedua orang ini adalah keprihatinan pembentukan serta kesejahteraan Tubuh Kristus.

Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja (Mat 16:18). Hal ini telah terbukti kebenarannya. Tidak ada satu kekuatan pun, betapa jahat atau gelapnya, yang pernah berhasil menghancurkan Gereja yang didirikan oleh Kristus. Meskipun begitu, Gereja dapat diperlemah, teristimewa apabila umatnya tidak mengenal kebenaran Injil. Apabila hal ini terjadi, maka orang-orang Kristiani tidak dapat menghayati kehidupan yang sudah menjadi warisan mereka. Dan dunia pun mendapat kesan bahwa Allah itu jauh, mungkin hanya sekadar ide abstrak yang tidak atau sedikit saja memiliki nilai praktis.

Bilamana orang-orang tidak mengenal kuasa Injil, maka apa yang dapat mereka lakukan adalah meratapi kondisi dunia; mereka tidak dapat datang dengan solusi. Dengan berbicara mengenai dosa-dosa di dunia namun tidak mampu untuk mencerminkan kemuliaan Kristus, maka kita mencabut dunia dari kepenuhan firman Allah. Dengan memberikan solusi-solusi atas penyakit-penyakit sosial tanpa memproklamasikan kebenaran dan kasih Kristus, kita mencabut orang dari solusi-solusi yang berlaku untuk waktu lama. Gereja dimaksudkan sebagai kehadiran Kristus di dalam dunia. Kita semua dipanggil untuk menjadi Tubuh Kristus hari ini; kita melakukannya dengan mewartakan Injil dan menghayati kehidupan yang saleh dan suci. Oleh karena itu baiklah kita mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus sedemikian sehingga orang-orang memandang Gereja sebagaimana semula diniatkan oleh Allah.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkanku lagi ketika membaca Injil hari ini bahwa Engkau juga mengajukan pertanyaan yang sama kepadaku: “Siapakah Aku ini?” Aku percaya bahwa Engkau adalah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk bekerja di dalam hatiku dan mengubah diriku seperti Engkau telah mengubah Petrus dan Paulus. Bangkitkanlah para pelayan Sabda seperti para rasul agung ini, untuk pergi mewartakan Kabar Baik-Mu dan menjadi saksi-saksi dari kuasa-Mu yang mampu mengubah manusia. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 16:13-19], bacalah tulisan yang berjudul “PETRUS DAN PAULUS: PILAR-PILAR UTAMA GEREJA PERDANA” (bacaan tanggal 29-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 26 Juni 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Kamis, 18 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

Sesudah berdebat beberapa waktu lamanya, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka, “Hai Saudara-saudara, kamu tahu bahwa sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraanku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Allah, yang mengenal hati manusia, memberi kesaksian untuk mereka dengan mengaruniakan Roh Kudus kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak membeda-bedakan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya bahwa melalui anugerah Tuhan Yesus Kristus kita akan diselamatkan sama seperti mereka juga.”

Lalu diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceritakan segala tanda dan mukjizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di antara bangsa-bangsa lain. Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus, “Hai Saudara-saudara, dengarkanlah aku: Simon telah menceritakan bahwa pada mulanya Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: Kemudian aku akan kembali dan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan bahkan segala bangsa yang atasnya nama-Ku disebut, demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui sejak semula. Sebab itu aku berpendapat bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari hal-hal yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.” (Kis 15:7-21)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10; Bacaan Injil: Yoh 15:9-11

Pada waktu orang-orang non-Yahudi mulai menerima Injil, maka Gereja perdana yang semula hanya terdiri dari orang-orang Kristiani Yahudi (baik Yahudi-Palestina maupun Yahudi-Helinis[tis]), harus bergumul dengan suatu isu yang mungkin saja tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya: Apa hubungannya antara mengikuti Hukum Musa dan mengikuti Yesus? Sungguh suatu isu yang pelik. Ada kelompok yang percaya sekali bahwa para pengikut Yesus harus melanjutkan menepati seluruh hukum Allah yang telah diberikan melalui Musa. Mereka bersikukuh bahwa persyaratan ini juga harus diterapkan tidak hanya pada orang Yahudi, tetapi juga pada orang-orang “kafir” yang ingin bergabung ke dalam Gereja/Jemaat.

Orang-orang Yahudi Kristiani ini memang tidak berpandangan bahwa mereka dapat diselamatkan oleh kepatuhan mereka pada Hukum Musa ini. Akan tetapi mereka memandang ketaatan pada hukum itu sebagai jalan untuk menanggapi intervensi Allah dalam kehidupan mereka. Allah telah memberikan kepada mereka suatu relasi dengan diri-Nya, dan memelihara hukum-Nya merupakan jalan sentral bagi mereka untuk memelihara relasi dengan Allah itu. Dengan demikian, orang-orang Yahudi Kristiani ini berpikir bahwa hukum harus tetap berperan sentral dalam tanggapan mereka kepada Allah – bahkan setelah kedatangan Yesus  dan perjanjian baru dalam darah-Nya.

Di lain pihak orang-orang Yahudi Kristiani yang lain, seperti Paulus dan Petrus tidak sependapat dengan kelompok tadi. Bagi kelompok Paulus dkk. hukum Musa seharusnya tidak lagi menempati tempat sentral dalam relasi umat dengan Allah. Sebaliknya, Yesus-lah yang harus menjadi pusat!!! Tentu hukum tetap harus menjadi panduan kita untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, namun tanggapan kita terhadap Allah haruslah difokuskan pada  “mengikuti jejak Kristus”. Konflik ini terangkat ke permukaan sejak adanya beberapa orang Yahudi Kristiani yang datang mengunjungi gereja di Antiokhia. Ketika krisis memuncak, diputuskanlah untuk membawa isu ini ke sidang sebuah konsili di Yerusalem.  Jangan bayangkan Konsili Yerusalem ini diselenggarakan dengan tenang. Perhatikanlah kata “debat” dalam bacaan di atas (Kis 15:7). Ini adalah pertarungan antara para pembela doktrin-doktrin yang berbeda secara prinsipiil.

Pemimpin Gereja di Yerusalem adalah Yakobus saudara Tuhan Yesus (lihat Gal 1:18-19), dan dalam hal ini tugasnya memang tidak mudah. Petrus tidak berbicara lembek dalam konsili ini. Satu kalimatnya yang keras: “Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?” (Kis 15:10).

Yakobus  adalah seorang Yahudi yang sangat saleh, tetapi dia memiliki satu ciri seorang pemimpin yang baik: dia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk mendengarkan! Sikap yang ditunjukkan Yakobus cukup luwes: dia tidak membuang segala tradisi, dan secara hati-hati melalukan discernment apakah yang kiranya cocok untuk gereja “campuran” yang semakin bertumbuh-kembang. Yakobus patuh pada rencana Allah sehingga konflik yang ada pun dapat diselesaikan dengan tetap memelihara kesatuan dan persatuan dalam Gereja perdana.

Lihatlah betapa pentingnya kita saling mendengarkan, bahkan lebih penting lagi mendengarkan “suara” Roh Kudus! Begitu mudah kita jatuh cinta pada ide-ide kita sendiri, lalu kita menutup telinga terhadap suara-suara yang lain. Ingatlah, kalau kita begitu mencintai ide-ide kita sendiri, bisa-bisa kita lupa dan luput mencintai Allah dan saudari-saudara kita. Dalam situasi sedemikian kita menjadi target yang empuk dari tipu-daya si Jahat. Lihatlah sejarah perpecahan dalam Gereja yang sungguh merupakan skandal, dan hal itu jelas tidak sesuai dengan maksud Yesus mendirikan Gereja-Nya. Allah sungguh berhasrat melihat kita mengalami kesatuan dan persatuan yang penuh kasih dan sukacita secara mendalam. Dia sendiri mohon kepada Bapa agar kita menjadi satu (Yoh 17:11). Allah akan melakukan hal itu – hanya kalau kita memperkenankan-Nya membuat diri kita orang-orang yang mau mendengarkan, mau belajar dan mau mengasihi.

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah aku seorang pendengar yang baik! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-11), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA HAL: KASIH, KETAATAN DAN  SUKACITA” (bacaan tanggal 18-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PEKERJAAN YANG BELUM SELESAI

PEKERJAAN YANG BELUM SELESAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Selasa, 16 Mei 2017)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona, Wanita Kudus (OFS)

Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka mempengaruhi orang banyak itu sehingga berpihak kepada mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka bahwa ia telah mati. Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe.

Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan yang kepada-Nya mereka percaya. Mereka menjelajahi seluruh Pisidia dan tiba di Pamfilia. Di situ mereka memberitakan firman di Perga, lalu pergi ke Atalia. Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada anugerah Allah untuk memulai pekerjaan yang telah mereka selesaikan. Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman. Di situ mereka lama tinggal bersama-sama dengan murid-murid itu. (Kis  14:19-28) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,21; Bacaan Injil: Yoh 14:27-31a.

“Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka bahwa ia telah mati. Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe.” (Kis 14:19-20)

Sejak hari pertama pertobatannya dalam perjalanannya ke Damsyik sampai akhir hayatnya, Paulus banyak menanggung penderitaan dalam perjuangannya membangun Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Bagi Paulus yang mantan Farisi ini, salib sempat menjadi batu sandungan, namun sekarang dia mengabdikan dirinya untuk “menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22).

Dalam perjalanan misioner mereka yang pertama, Paulus dan Barnabas diusir dari Antiokhia (yang di daerah Pisidia), dari Ikonium dan Listra.  Akan tetapi dengan sesegera mungkin mereka kembali ke tempat itu untuk menyelesaikan tugas mendirikan gereja-gereja (jemaat-jemaat) di tempat tersebut (Kis 14:21). “Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan yang kepada-Nya mereka percaya” (Kis 14:22-23). 

Untuk memulai sebuah gereja atau jemaat, kita harus menguatkan hati para murid agar tetap tekun dalam iman meski pun harus menderita banyak pencobaan, dan kita harus berdoa, berpuasa dan menetapkan pemimpin-pemimpin untuk gereja setempat tersebut.

Sekarang, apakah umat paroki kita (anda dan saya), komunitas kita atau keluarga kita pernah didorong dan dikuatkan untuk tabah menahan penderitaan demi penebusan? Apakah diri kita juga ikut berpuasa dan berdoa bagi para pemimpin gereja dan bagi para pemimpin baru dalam Gereja di seluruh dunia?

Apabila kita benar-benar banyak mensyeringkan iman kita dan semuanya itu dilakukan dengan ketulusan hati dan ketaatan pada dan demi perintah Yesus, maka kita pun “berhak” atau “pantas” memperoleh kesempatan untuk dianiaya dan menderita. Dengan demikian Gereja tak mungkin terbagi-bagi, terpecah-pecah, melemah dan loyo! Dan apabila dalam penderitaan kita tetap berdoa dan berpuasa bagi para pimpinan Gereja. Kiranya kita tidak akan mengalami krisis panggilan, melainkan suatu “ledakan” dalam hal jumlah panggilan, pemimpin baru dan kehidupan Gereja yang segar.

Saudari dan Saudaraku, marilah kita melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus untuk mewartakan Kabar Baik-Nya. Kita berdoa, berpuasa dan tetap tabah dalam menanggung derita. Dengan demikian, kita pun dapat menyaksikan bertumbuh-kembangnya Gereja sebagaimana yang dikehendaki Tuhan.

DOA: Bapa surgawi, kadang-kadang aku merasa seperti yang kiranya telah dirasakan Paulus: dipukuli, disiksa, dilempari batu dan sangat lelah. Gunakanlah keadaan-keadaan dalam hidupku seperti ini untuk memuliakan nama-Mu yang kudus dan membawa Yesus kepada semua orang yang kujumpai. Biarlah aku menolong orang-orang lain agar supaya tak terkalahkan dalam pencobaan-pencobaan mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:27-31a), bacalah tulisan yang berjudul “DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADAMU” (bacaan tanggal 16-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-4-16) 

Cilandak, 15 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SATU ABAD FATIMA [13 MEI 1917 – 13 MEI 2017]

SATU ABAD FATIMA [13 Mei 1917 – 13 Mei 2017]

Pada hari ini Gereja memperingati penampakan Bunda Maria 100 tahun lalu, yaitu pada tahun 1917 kepada tiga orang anak desa Fatima, Portugal. Nama tiga orang anak itu adalah Lucia dos Santos, dan dua orang sepupunya: Francisco Marto dan Jacinta. Penampakannya sendiri terjadi di dekat Fatima, di dataran yang bernama Cova da Iria.

Saya masih ingat ketika masih sekolah di SR Budi Mulia, Jalan Mangga Besar di tahun 50-an, pada suatu malam banyak sekali anak-anak yang menonton film hitam putih tentang peristiwa Fatima ini di halaman terbuka Gereja Mangga Besar (S. Petrus dan Paulus) yang masih bangunan darurat – dengan menggunakan layar tancap. Sebuah film yang bagus, mengasyikkan dan sungguh membekas.

Selama penampakan-penampakannya, Bunda Maria memberi instruksi kepada anak-anak itu untuk melaksanakan prosesi guna menghormati Maria yang dikandung tanpa noda dan untuk mempromosikan doa Rosario agar sering-sering dilakukan, berdoa untuk pertobatan Rusia, dan beberapa instruksi lainnya. Pada penampakannya yang terakhir, tanggal 13 Oktober, Maria menyatakan dirinya sebagai “Ratu Rosario”: di hadapan 50.000 – 70.000 orang yang hadir, dan sebuah mukjizat yang telah dijanjikannya terjadi, yaitu suatu gejala alam yang dijuluki sebagai matahari yang berputar-putar.

Bunda Maria berjanji, bahwa jika permintaan-permintaannya diikuti, maka Rusia akan bertobat, sebuah peperangan dahsyat akan dapat dihindari, banyak jiwa akan diselamatkan, dan perdamaian dunia dapat tercapai. Francisco meninggal dunia di tahun 1919, disusul oleh Jacinta di tahun 1920. Lucia, yang belakangan masuk Ordo Karmelites, menerima penampakan yang ke tujuh kalinya pada tanggal 18 Juni 1921.

Setelah penyelidikan selama tujuh tahun, pada tahun 1930, para uskup Portugal mendeklarasikan bahwa penampakan-penampakan Bunda Maria di Fatima sebagai otentik. Persetujuan diberikan atas devosi kepada S.P. Maria dari Fatima dengan judul Ratu Rosario.

Sekarang pertanyaannya, “Mengapa Maria justru menampakkan dirinya di Fatima?” Pada awal abad ke-20, Fatima, sebuah desa kecil di negeri Portugal, praktis tidak dikenal oleh dunia. Mengapa? Karena desa itu tidak memiliki signifikansi apa pun bagi dunia luar. Bahkkan desa ini pun tidak ada dalam peta yang biasa digunakan oleh masyarakat Portugis sendiri. Fatima terletak di daerah pegunungan yang bernama Serra de Aire, sebuah desa penuh damai seakan tak tersentuh oleh dunia luar yang hiruk pikuk. Nama Fatima sendiri adalah kenangan akan masa lampau di mana bangsa Moor (Islam) masih berkuasa di negeri itu.

Pada hari ini, apa yang dikatakan di atas semuanya telah berubah. Pada hari ini Fatima tidak mengenal perbatasan. Orang-orang percaya dari seluruh dunia berlutut dan bersembah sujud di sana. Kemasyhurannya dan kemuliaannya dipublikasikan dalam hampir seluruh bahasa nasional yang ada di dunia. Mengapa hal ini sampai terjadi perubahan yang begitu besar? Karena di sana pada tahun 1917, S.P. Maria tak bernoda (Maria Imakulata), Ratu Surga, datang secara pribadi ke tempat terpencil yang miskin ini untuk berbicara dengan manusia yang murni, jiwa-jiwa pilihan, dengan kata-kata penuh afeksi, penuh simpati, memberi nasihat-nasihat dan janji, bahkan juga peringatan. Namun pada dasarnya Bunda Maria mengunjungi Fatima sebagai seorang bentara damai dan kasih.

Gereja di Fatima hanyalah sebuah gereja paroki yang kecil, dan sejak tahun 1920 berada di bawah Keuskupan Leiria yang sangat miskin, kurang lebih 75 mil sebelah utara Lisboa (ibu kota Portugal). Kalau diperhatikan dengan baik, Fatima yang berlokasi di provinsi Estremadura, berada hampir di titik pusat Portugal. Dari semua provinsi di Portugal, provinsi Estremadura menyajikan topografi yang paling luarbiasa. Landskapnya sangat tidak beraturan. Setiap aspek wilayah ini mempunyai karakteristik yang khusus, yang jelas kelihatan berpengaruh atas temperamen dan adat-kebiasaan penduduknya.

Orang yang berangkat dari Lisboa ke arah utara dapat menikmati keindahan panorama sampai ke Alcobaca. Lalu, membentanglah lembah Batalha dan Leiria yang indah. Namun, begitu orang itu memasuki jalan yang langsung menuju Fatima, pemandangan berubah secara drastis menjadi kebalikan dari yang sebelumnya. Tanahnya menjadi semakin tidak rata, lebih gersang dan pemandangan pun tak lagi penuh warna-warni. Serra da Aire mulai terlihat. Pemandangan yang suram, tanah kering dan tidak produktif. Kawanan domba dapat terlihat di sana-sini, namun tak ada banyak tetumbuhan, kecuali kelompok-kelompok tipis pohon ek dan pohon zaitun di sepanjang punggung bukit, hal mana membantu meringankan monotomi yang menekan. Di lereng gunung, di tempat tinggi di Serra, terletak desa kecil yang bernama Fatima diliputi suasana kesendirian yang mendalam, seakan tempat bagi orang-orang yang terbuang. Di dekat situ ada dataran bebatuan yang dikenal sebagai Cova da Iria. Tempat ini dikuduskan oleh kehadiran Ratu Surga dan dipilih oleh Penyelenggaraan Ilahi untuk memancarkan cinta kasih dan berkat ke segala penjuru dunia sebagai balasan terhadap devosi kepada Maria Imakulata.

Penduduk pegunungan yang di tinggal di Fatima berbicara sedikit, terasa dingin tanpa hati. Akan tetapi seluruh hidup mereka berpusat pada tiga cinta kasih yang besar: cinta kasih kepada Allah, keluarga, pekerjaan kasar (bukan pekerjaan di belakang meja). Rumah-rumah mereka kecil dan kasar dengan jendela-jendela yang rendah dan sempit/kecil. Dapur dalam rumah mereka sederhana yang tidak berisikan apa-apa kecuali sebuah meja kayu, tempat untuk menaruh peralatan masak dan perapian. Ruang keluarga dan ruang tidur juga sederhana. Di sebelah luar, tetapi masih berhubungan dengan rumah adalah tempat untuk kawanan domba, barangkali ada juga sebatang pohon ara atau pohon zaitun atau sejumah pohon ek di dekat rumah.

Kehidupan penduduk Fatima itu keras. Mereka bekerja di gunung atau di ladang dengan penghasilan minim. Pakaian mereka layaknya orang miskin, kecuali pada hari pesta di mana mereka memakai topi, jas pendek dengan bordiran, dan celana panjang ketat di pinggang namun semakin lebar ke bawah. Para perempuan bertugas mengatur rumah. Mereka menyiapkan makanan, memintal dan melakukan tugas-tugas rumah tangga dan memperhatikan dengan serius pertumbuhan fisik maupun spiritual dari anak-anak mereka.

Pekerjaan menggembalakan domba dipegang oleh anak-anak. Mereka meninggalkan rumah pagi-pagi sekali sambil membawa makanan siang mereka. Mereka tak akan kembali ke rumah sampai sore ketika lonceng memanggil mereka untuk berdoa Angelus (Malaikat Tuhan). Sedikit dari mereka yang pernah belajar membaca dan menulis. “Sekolah” mereka hanyalah terdiri dari pengetahuan elementer dan kebenaran-kebenaran menyangkut agama, dan keterampilan-keterampilan rumah tanggal yang diturunkan oleh sang ibu rumah tangga.

Hanya untuk waktu singkat di malam hari, setelah makan malam dan pekerjaan yang melelahkan sepanjang hari, semua anggota keluarga menikmati keintiman hidup berkeluarga. Mengapa? Karena mereka harus  tidur cepat agar dapat cukup beristirahat dan disegarkan kembali untuk bekerja di esok hari. Ada adat-kebiasaan umum bahwa sebelum tidur seluruh keluarga bersama-sama berdoa Rosario. Sang ayah memimpin doa dengan perlahan-lahan dan dengan sikap penuh hormat, sementara sang ibu dan anak menanggapi dengan semangat penuh pengabdian yang sama. Doa Rosaria disusul dengan doa-doa memohon berkat Allah atas keluarga. Akhirnya didoakan “De Profundis” (Mzm 130). Kehidupan seperti ini, devosi yang bersifat konstan seperti ini, kemurnian dan kesederhanaan hidup inilah yang kiranya menarik ke bawah afeksi dari Maria, Ratu Rosario dari atas sana.

Bagian dari bumi yang kecil ini, bagian dari Portugal yang tidak signifikan ini, dipisahkan dan dipilih oleh Hikmat ilahi yang tak mungkin kita mengerti berdasarkan akal budi semata, seperti Israel di masa lampau, guna membantu – sebagai sebuah instrumen yang kuat – untuk melanjutkan penebusan Allah dan pengudusan-Nya atas dunia melalui Maria, ibunda-Nya, yang dikandung tanpa noda dosa.

Kardinal Emanuel Goncalves Cerejeira, Patriarkh dari Lisboa pada tahun 1931 mengatakan: “Ratu Surga turun ke tanah yang adalah miliknya sejak awal, suatu negeri yang dikonsekrasikan kepadanya dengan kelahiran bangsa dan dinamakan Terra de Santa Maria, tanah dari Santa Maria.” Bunda Allah bersedia menampakkan dirinya dengan kelemahlembutan yang luarbiasa kepada umat yang cinta pada tugas mereka ini. Bunda Maria berhasrat untuk menempatkan orang-orang seperti itu ke bawah perlindungannya yang penuh kuat-kuasa. Bunda Maria memang senantiasa dekat dengan orang-orang yang tidak pernah lelah menghormatinya dalam doa Rosario yang indah itu.

Bunda Maria berketetapan hati untuk mendirikan takhtanya di Fatima, di dalam teritori yang telah menjadi miliknya sejak berabad-abad. Dari takhta penuh kemuliaan tersebut ia ingin mengirimkan sebuah pesan universal: bahwa tidak hanya Portugal, melainkan semua bangsa harus didekasikan kepadanya; bahwa dia akan mendengarkan seruan-seruan dari dunia yang bertobat dan sudah lelah dengan keributan dan memberikan perdamaian bagi bangsa-bangsa yang saling berperang – suatu perdamaian besar dan tahan lama setelah penghukuman dijatuhkan atas orang karena kekerasan hatinya.

Akan tetapi Bunda Maria juga mengingatkan akan bencana-bencana lebih besar yang  akan menimpa dunia apabila umat manusia terus saja sibuk dengan sensualitas yang semakin merosot, dan juga “nasib” buruk dari para pendosa yang pantas diadili oleh sang Hakim kekal.

Akhirnya, Bunda Maria datang untuk memberitahukan dunia bahwa hatinya yang penuh cintakasih dan tak bernoda senantiasa merupakan tempat perlindungan yang aman bagi jiwa-jiwa yang tersobek-sobek oleh goncangan-goncangan dan kesedihan, dan bahwa dia tidak pernah tidak akan menolong orang-orang yang mencari pertolongannya dengan memanggilnya sebagai “Santa Perawan dari Fatima”, “Hati Maria yang tak bernoda”, dan “Ratu Rosario.”

Sumber: (1) Alphonse M. Cappa, S.S.P, (terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh William H. Lyden), “FATIMA – Cove of Wonders”, Boston, Ma.: St. Paul Editions, 1979, hal. 18-23; (2) Matthew Bunson (Illustrated by Margaret Bunson; foreword by: Archbishop Oscar H. Lipscomb), “Our Sunday Visitor’s Encyclopedia of Catholic History”, Huntington, Indiana: Ou Sunday Visitor, Inc., 1955, hal. 312-313.

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2016 yang berjudul “FATIMA” dengan beberapa perubahan kecil.)

Jakarta, 13 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RASUL FILIPUS DAN RASUL YAKOBUS

RASUL FILIPUS DAN RASUL YAKOBUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Filipus dan Yakobus, Rasul – Rabu, 3 Mei 2017)

 

Dan sekarang, Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Melalui Injil itu kamu diselamatkan, seperti yang telah kuberitakan kepadamu, asal kamu teguh berpegang padanya, kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. (1 Kor 15:1-8) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5; Bacaan Injil: Yoh 14:6-14

Filipus dan Yakobus (bukan anak Pak Zebedeus) bukanlah rasul-rasul yang menonjol sekali, namun kuasa kebangkitan Yesus telah mengubah mereka menjadi rasul-rasul yang penuh semangat, keberanian dan iman yang hidup akan Kristus. Pada akhirnya mereka menjadi begitu yakin siapa Yesus itu sebenarnya sehingga dua-duanya mengalami kematian sebagai martir-martir Yesus yang sejati. Mengapa? Memang benar tidak ada  banyak bukti kuat tentang kedua orang ini, namun ada satu hal yang pasti: Selama tiga tahun mereka mengikuti sang Rabi dari Nazaret yang bernama Yesus, yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain mewartakan kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Mereka belajar banyak dari sang Guru, mereka menjadi saksi mata dari banyak penyembuhan, mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat Yesus. Hidup dekat dengan Yesus selama tiga tahun tentunya mengubah hidup mereka secara luarbiasa. Mereka belajar dari tangan pertama tentang kebenaran-kebenaran yang tersembunyi dalam Kitab Suci. Hidup bersama Yesus mengakibatkan asumsi-asumsi awal mereka tentang banyak hal kehidupan ini menjadi tertantang dan mimpi-mimpi mereka pun tentang kehidupan surgawi yang kekal-abadi dan lain-lain hal yang ilahi menjadi terwujud dalam kenyataan.

Tadi saya katakan, bahwa mereka hidup bersama Yesus untuk kurun waktu yang cukup lama, namun semua itu belumlah cukup. Filipus dan Yakobus – bersama para rasul lain tentunya – masih tetap harus melakukan PR mereka dengan tekun dan serius. Bahkan setelah kenaikan Yesus ke surga dan mengutus Roh Kudus-Nya, para murid-Nya yang pertama ini tetap menggunakan waktu mereka  – entah berapa lama – untuk membanding-bandingkan pengalaman mereka dengan pengajaran Yesus. Mereka mempelajari Kitab Suci Ibrani (= Perjanjian Lama = Perjanjian Pertama), dan memohon agar diberikan perwahyuan lebih lanjut dari Allah. Dan hasil dari semua kerja keras yang penuh ketekunan ini adalah bacaan di atas. Yang ditulis Paulus di sini adalah pengungkapan paling awal dari ajaran dasar Gereja, yaitu credo atau pernyataan iman pertama yang sampai hari ini diketahui: “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya….” (1 Kor 15:3 dsj.).

Filipus dan Yakobus mengetahui sekali, bahwa dalam hidup ini tidak dimungkinkanlah untuk mempelajari dan mengetahui segalanya tentang Allah dan Yesus Kristus. Kebenaran ini juga berlaku bagi kita – manusia zaman modern ini. Oleh karena itu kita harus terus bersimpuh pada kaki Tuhan Yesus dan belajar dari Dia. Hanya Yesus-lah yang dapat memimpin kita kepada Bapa surgawi. Hanya Roh Kudus-Nya yang dapat menanamkan misteri-misteri iman yang besar dan agung ke dalam diri kita. Jadi, selalu ada saja yang harus kita pelajari, karena memang tidak ada akhir dari “eksperimen-eksperimen dalam iman” yang dapat kita lakukan. Para kudus Gereja – orang-orang yang disebut Santo atau Santa – pun mengalami hal yang sama dalam perkembangan iman-kepercayaan mereka masing-masing.

Marilah setiap hari kita terus menggumuli sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci. Marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar membuka “kekayaan” Injil secara lebih penuh lagi. Selagi kita melakukan ini, maka kita pun akan bertumbuh dalam pemahaman kita, dan seperti kepada Filipus dahulu kita pun dapat mendengar Ia bersabda kepada kita masing-masing: “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu” (Yoh 14:10-12). Dengan demikian keefektifan kita di dalam dunia pun akan meningkat.

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus untuk kehadiran-Mu yang terus-menerus tanpa henti. Pimpinlah aku agar menjadi lebih dekat lagi dengan Bapa surgawi. Biarlah Roh Kudus-Mu membentuk diriku senantiasa agar dapat mengalami dengan lebih mendalam segala perwahyuan, kebenaran dan pemahaman akan segalanya yang ilahi. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:6-14), bacalah tulisan yang berjudul “FILIPUS DAN YAKOBUS: DUA RASUL YANG KURANG DIKENAL” (bacaan tanggal 3-5-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017) 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  1 Mei 2017 [Peringatan S. Yusuf Pekerja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENGAJARKAN DAN MEWARTAKAN SABDA ALLAH

MENGAJARKAN DAN MEWARTAKAN SABDA ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Katarina dari Siena, Perawan Pujangga Gereja – Sabtu, 29 April 2017)

Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang orang-orang Ibrani, karena pembagian keperluan sehari-hari. Kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata, “Tidak baik jika kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, Saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan  pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan menumpangkan tangan di atas mereka.

Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.  (Kis 6:1-7)

Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19; Bacaan Injil: Yoh 6:16-21 

“Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak, juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya” (Kis 6:7).

Bacaan dari “Kisah para Rasul” hari ini adalah teristimewa tentang pengangkatan 7 (tujuh) orang diakon. Namun pada kesempatan ini saya mau menyoroti ayat terakhir seperti dipetik di awal tulisan ini.

Yesus memanggil kita agar kita sebagai murid-murid-Nya tetap tinggal di dalam sabda-Nya (Yoh 8:31). Kita merenungkan hukum dan sabda (firman)-Nya siang dan malam (lihat Mzm 1:2). Selayaknya kita merenungkannya siang dan malam (Yos 1:8). Sabda Allah sepatutnya “menjadi kegirangan dan kesukaan” hati kita (lihat Yer 15:16).

Bagaimana pun juga, dunia, kedagingan dan Iblis terus berupaya menyeret kita ke luar dari kehidupan kita dalam/seturut sabda Allah. Dengan demikian kita dapat terseret dari sabda Allah yang hidup, digoda untuk mengalihkan hidup kita agar ikut campur ke dalam berbagai masalah, dan tidak lagi melayani sabda Allah (Kis 6:2). Seperti halnya dengan para rasul, kita seyogianya memanggil orang-orang lain untuk ikut memecahkan berbagai masalah agar perhatian kita akan sabda Allah  tidak terpecah belah (lihat Kis 6:4).

Sebagai contoh, ketika Paulus berkhotbah, Eutikhus mengantuk dan jatuh dari jendela di tingkat tiga dan meninggal dunia (Kis 20:9). Akan tetapi tidak ada catatan bahwa Paulus langsung menghentikan khotbahnya (Kis 20:11). Paulus kemudian turun ke bawah dan dengan kuasa Tuhan menghidupkan orang itu kembali. Setelah kembali di ruang atas pertemuan dilanjutkan dengan memecah-mecahkan roti lalu makan sampai fajar menyingsing. Pemuda yang dihidupkan kembali itu pun kemudian dihantar pulang ke rumahnya (Kis 20:12).

Paulus juga menyuruh Timotius untuk berkhotbah kapan saja, pada waktu baik ataupun waktu yang kurang kondusif (lihat 2 Tim 4:2). Kisah para Rasul pun ditutup dengan kata-kata yang menegaskan: “Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus (Kis 28:30-31).

Kita harus mengingat selalu bahwa Yesus sendiri tidak membiarkan kematian-Nya menghentikan karya pewartaan sabda. Yesus bangkit dari mati dan menafsirkan “apa yang tertulis tentang Dia di dalam seluruh Kitab Suci kepada semua murid yang sedang berkumpul di Yerusalem (lihat Luk 24:45).

Saudari dan Saudaraku, janganlah membiarkan diri kita (anda dan saya) terlena sehingga tidak “mengajarkan dan mewartakan sabda Allah”.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Maharahim, aku mohon agar di dalam mewartakan sabda Allah aku dapat bebas dan tidak terbelenggu (2 Tim 2:9). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “UNDANGLAH YESUS KE DALAM PERAHU KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 29-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 26 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BELAJAR UNTUK MENGGANTUNGKAN DIRI PADA YESUS

BELAJAR UNTUK MENGGANTUNGKAN DIRI PADA YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA YOHANES RASUL-PENULIS INJIL, Hari Ketiga dalam Oktaf Natal – Selasa, 27 Desember 2016)

saint-john-1621Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah  yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Semuanya ini kami tuliskan kepada kamu supaya  sukacita kami menjadi sempurna. (1Yoh 1:1-4)

Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,11-12; Bacaan Injil: Yoh 20:2-8  

Pada hari ini kita merayakan pesta Santo Yohanes, rasul dan penulis Injil. Barangkali hidup kesalehan di kalangan umum dan kesenian Kristiani juga salah dengan membuat diri sang rasul kelihatan lemah dan sentimental.  Secara tradisional, Yohanes diidentifikasikan dengan “murid yang dikasihi Yesus” yang bersandar di dekat Yesus, di sebelah kanan-Nya pada perjamuan terakhir (lihat Yoh 13:23). Jika “murid yang dikasihi Yesus” itu sungguh adalah Yohanes, saudara dari Yakobus, maka kecil kemungkinannya bahwa dia adalah seorang anak emas sang Guru.

Yohanes rasul adalah seorang yang memiliki kemauan keras dan berpendirian keras pula, dan dia juga memiliki keberanian. Ia juga memiliki sisi gelap seperti kita semua, yaitu haus akan kekuasaan. Bersama saudaranya, Yakobus, dia mencoba untuk memperoleh tempat terhormat di samping Yesus (lihat Mat 20:28; Mrk 10:35-45). Yohanes ini pula yang bersama Yakobus berniat untuk menurunkan api dari langit  untuk “menghabiskan” orang-orang yang menolak Yesus di sebuah desa Samaria (lihat Luk 9:54). Dari sebab itu bagaimana mungkin orang ini (Yohanes) menjadi seorang murid yang ideal? Jawabnya: Karena segala sesuatu yang Yohanes telah “lihat dan dengar” selagi dia hidup dengan Yesus (1Yoh 1:3).

Siapakah yang merupakan seorang murid Yesus yang ideal? Dia – seperti Yohanes – yang telah mengalami perjumpamaan susul-menyusul dengan Yesus dan memperkenankan kasih sempurna dari Yesus mengkonfrontir dan mengubah kodratnya yang cenderung berdosa. Yohanes sangat menyadari kebutuhannya akan seorang Juruselamat. Dari salah satu suratnya kita dapat membaca pengakuannya: “Jika kita berkata bahwa kita tidak pernah berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita” (1Yoh 1:10). Dengan mengatakan bahwa diri kita berdosa, maka sama saja artinya kita menipu diri kita sendiri.

Karena Yohanes mengetahui kebutuhannya, maka dia belajar untuk menggantungkan diri pada Yesus, bukan menggantungkan diri pada dirinya sendiri. Dia belajar untuk menaruh kepercayaan pada hikmat Yesus daripada pada hikmatnya sendiri, dan untuk memperhatikan hasrat-hasrat Yesus daripada hasrat-hasratnya sendiri. Kita tidak dapat berpikir bahwa hanya pada perjamuan terakhir Yohanes bersender pada Yesus.

Dengan bebas Yohanes menerima segala sesuatu dari Yesus, dan dengan bebas pula dia memberi kepada orang-orang lain apa saja yang dimiliki-Nya. Perjumpaannya dengan Yesus yang berulang-ulang mengubah/mentransformasikan Yohanes menjadi seorang saksi Injil yang kokoh-kuat. Yohanes juga adalah seorang “model” bagi kita semua. Jika tidak mengenal dan mengalami kasih Yesus dengan cara yang semakin mendalam, apa yang akan membuat kita bertahan dalam mewartakan Injil dalam sebuah dunia yang semakin hiruk pikuk dengan hal-hal lain yang sekilas lintas jauh lebih menarik dilihat dari mata dunia? Bagaimana kita dapat memproklamasikan dengan penuh keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan dan sang Juruselamat dunia?

Kita-manusia sungguh diberkati dengan kedatangan Yesus – Putera Allah yang tunggal – di tengah-tengah kita! Kita sekarang dapat mengalami kuat-kuasa-Nya yang dapat mentransformasikan hidup masing-masing pribadi manusia secara dramatis, seperti yang telah dilakukan-Nya atas diri Yohanes rasul.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, sementara kita melanjutkan perayaan Natal kita, marilah kita mengkomit diri kita kembali kepada Yesus, mempraktekkan ketergantungan kita pada-Nya, dan mendedikasikan diri kita untuk pewartaan Injil-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh ingin mengenal Engkau dan mengalami Engkau secara lebih mendalam lagi. Nyatakanlah diri-Mu kepadaku secara lebih jelas lagi. Aku sungguh membutuhkan Engkau, ya Guru dan Juruselamatku! Berdayakanlah diriku agar mau dan mampu menjadi seorang saksi-Mu yang tangguh bagi dunia di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 20:2-8), bacalah tulisan berjudul “YOHANES MELIHAT DAN PERCAYA” (bacaan tanggal 27-12-16); dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-12-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Desember 2016 [Pesta S. Stefanus, Martir Pertama]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS