Posts tagged ‘SAKSI-SAKSI KRISTUS’

KITA TIDAK PERNAH BOLEH KEHILANGAN PENGHARAPAN

KITA TIDAK PERNAH BOLEH KEHILANGAN PENGHARAPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Minggu, 24 Juni 2018)

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26 

Dalam usia mereka yang sudah tidak muda lagi, Zakharia dan Elisabet tetap sangat menginginkan untuk mempunyai seorang anak, teristimewa ketika mereka melihat keluarga-keluarga di RT mereka bertumbuh. Namun demikian, bagaimana pun dalamnya hasrat pasutri  Zakharia dan Elisabet untuk mempunyai seorang anak, keinginan Allah adalah agar iman mereka kepada-Nya menjadi lebih dalam lagi. Yohanes Pembaptis merupakan buah dari masa penantian mereka yang lama agar Tuhan memenuhi impian mereka. Hari demi hari, selagi mereka berdoa agar dianugerahi seorang anak, mereka ditantang untuk melanjutkan pengharapan mereka akan kebaikan Allah. Setiap hari, mereka menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah Allah dapat dipercaya? Apakah Dia sungguh mengasihi kita? Apakah Dia akan memperhatikan dan memenuhi segala kebutuhan kita?” Setiap kali mereka menjawab “ya” terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, maka iman mereka pun bertumbuh sedikit lebih kuat lagi.

Ketika Zakharia dibuat menjadi bisu oleh malaikat Tuhan (Luk 1:20), sesungguhnya dia memasuki suatu saat-saat berkat dari Tuhan yang intens. Allah ingin mengajar Zakharia agar nanti dia dapat mengajar anaknya tentang apa artinya menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. Pada waktu Yohanes dilahirkan, tanggapan Zakharia merupakan kesaksian atas buah dari ketidakmampuannya berbicara selama sembilan bulan. Dipenuhi dengan Roh Kudus, Zakharia memproklamasikan kesetiaan Allah dan menubuatkan berkat-berkat besar atas diri puteranya (lihat Kidung Zakharia: Luk 1:67-79).

Betapa pentingnya waktu ini bagi Zakharia – dan keseluruhan sejarah penyelamatan! Yohanes “ditakdirkan” untuk bertahun-tahun lamanya hidup sendiri di padang gurun, mendengarkan suara Allah dan menantikan waktu kapan dia harus muncul di depan publik dan mengumumkan kedatangan sang Mesias. Kemudian, ketika dia sedang ditahan dalam penjara oleh Herodes dan menanti-nanti nasibnya, lagi-lagi Yohanes perlu ditopang dengan segala hal yang telah dijanjikan oleh Allah. Di mana dia telah belajar kesabaran dan rasa percaya yang sedemikian, kalau bukan dari Zakharia dan Elisabet?

Kita semua mempunyai hasrat-hasrat dan pengharapan-pengharapan yang belum terpenuhi. Sebagai anak-anak terkasih Allah, kita tidak pernah boleh kehilangan pengharapan. Kita dapat menaruh kepercayaan kepada Dia yang telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing (bdk. Yes 43:1) dan mendengar setiap doa yang datang dari hati kita (bdk. Mzm 65:3). Selagi kita menanti-nanti Tuhan, marilah kita memohon kepada-Nya agar membentuk karakter kita dan membuat kita semakin serupa dengan-Nya. Pada akhirnya, kita akan melihat bahwa rencana-Nya jauh lebih baik daripada rencana kita. Seperti yang terjadi dengan Zakharia, kita akan dimampukan untuk menyanyikan kidung yang memproklamasikan bahwa bukan karena kuat-kuasa manusiawi kita mengalami hal-hal indah dalam hidup kita, melainkan karena kuat-kuasa ilahi Allah saja yang bekerja dalam diri kita dan situasi kehidupan di mana kita berada (lihat Kidung Zakharia). Kidung Zakharia ini senantiasa kita nyanyikan dalam Ibadat Pagi, bukan?

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengetahui segalanya tentang diriku. Engkau tidak pernah berhenti berpikir tentang diriku dan mengelilingi aku dengan kasih-Mu. Engkau tahu apa yang sesungguhnya akan memenuhi diriku dan memberikan kepadaku damai-sejahtera. Jalan dan cara-Mu memang indah, ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “KELAHIRAN BENTARA SANG MESIAS” (bacaan tanggal 24-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

FILIPUS DAN YAKOBUS: DUA RASUL YANG KURANG DIKENAL

FILIPUS DAN YAKOBUS: DUA RASUL YANG KURANG DIKENAL

(Bacaan  Injil Misa Kudus, Pesta S. Filipus dan Yakobus – Kamis, 3 Mei 2018)

Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:6-14) 

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Hari ini kita merayakan pesta Rasul Santo Filipus dan Santo Yakobus. Kalau Injil menceritakan sekali-kali tentang Filipus, tidak demikian halnya dengan Yakobus anak Alfeus (lihat Mat 10:3). Gereja perdana mempunyai tradisi menamakan dia “Yakobus yang kecil”  untuk membedakannya dengan Yakobus (saudara Yohanes) anak Zebedeus. Ada juga tradisi yang menyamakan dia dengan Yakobus pemimpin komunitas Kristiani awal di Yerusalem. Hal ini juga dirasakan kurang tepat karena Yakobus di Yerusalem ini adalah saudara Yesus (lihat Gal 1:19; 2:9). Dengan demikian, siapa sebenarnya Yakobus bin Alfeus ini tetap saja tidak jelas, namun yang jelas ialah bahwa dia adalah salah seorang 12 rasul Kristus.

Seperti telah dikatakan di atas, Filipus muncul beberapa kali dalam Injil. Injil Yohanes menempatkan Filipus sebagai salah seorang murid pertama yang dipanggil Yesus. Filipus berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus (Yoh 1:44). Pada saat Yesus memanggilnya, Filipus langsung menemui Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret” (Yoh 1:45). Natanael yang masih ragu melontarkan pertanyaannya yang “terkenal” itu: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Terhadap kalimat bertanya-tak-bertanya itu, Filipus hanya berkata kepada Natanael: “Mari dan lihatlah!” (Yoh 1:47).

Belakangan, ketika beberapa orang Yunani mendekati Filipus dengan permintaan untuk bertemu dengan Yesus, Filipus langsung memberitahukannya Andreas; lalu Andreas dan Filipus menyampaikannya kepada Yesus. Ada pendapat, mungkin sekali Filipus-lah yang mengundang orang-orang Yunani seperti pada waktu dia mengajak Natanael: “Mari dan lihatlah!” (lihatlah Yoh 12:21-22).  Nama Filipus disebut dalam peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki, dan dia memang memegang peranan juga dalam peristiwa itu (lihat Yoh 6:5-7). Seperti ditunjukkan dalam petikan bacaan di atas, nama Filipus pun tercatat pada waktu Yesus memberi pengajaran-pengajaran pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya (Yoh 14:8-9). Filipus juga hadir bersama para rasul yang lain di ruang atas di Yerusalem untuk berdoa bersama dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus dan saudara-saudara Yesus (lihat Kis 1:12-14). Ada tradisi yang mengatakan bahwa Filipus menjadi rasul yang diutus ke Phrygia (di Turki sekarang), di mana dia melanjutkan misinya memimpin orang-orang lain kepada Yesus: “Mari dan lihatlah!”

Sebagai seorang duta Kristus, seorang rasul tidak hanya membawa/menyampaikan sebuah pesan, melainkan juga mewakili Pribadi yang mengutusnya. Filipus dan dan Yakobus bin Alfeus mengenal Yesus dengan baik, baik sebelum maupun setelah kebangkitan-Nya. Sebelum kenaikan-Nya ke surga Yesus memberi amanat kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15). Dalam melaksanakan amanat agung ini Filipus dan Yakobus bin Alfeus serta para rasul  lainnya sesungguhnya mewakili Yesus dan meneruskan pesan ini kepada orang-orang lain juga. Dua ribu tahun kemudian, kita menjadi mengetahui tentang Tuhan yang bangkit, sebagian melalui kesaksian mereka. Sekarang kitalah yang dipanggil untuk melanjutkan misi mereka. Oleh karena itu – seperti Filipus dan Yakobus bin Alfeus yang kita rayakan pestanya hari ini – marilah kita mohon kepada Allah agar Roh Kudus-Nya memberikan keberanian untuk mewartakan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus, dan menyiapkan hati mereka kepada siapa kita akan mewartakan Kabar Baik itu.

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau memberikan kepadaku Roh Kudus-Mu sehingga aku dapat menjadi saksi-Mu. Berikanlah kepadaku keberanian untuk mengundang orang-orang lain datang dan berjumpa dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:6-14), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS: DUA ORANG RASUL KRISTUS” (bacaan tanggal 3-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 1 Mei 2017 [Peringatan S. Yusuf Pekerja]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELALUI KESETIAAN DAN DEDIKASI TIMOTIUS DAN TITUS

MELALUI KESETIAAN DAN DEDIKASI TIMOTIUS DAN TITUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup – Jumat, 26 Januari 2018)

Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang tampak dalam ibadah kita, dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh allah yang tidak berdusta. Pada waktu yang dikehendaki-Nya, Ia telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil yang telah dipercayakan kepadaku sesuai dengan perintah Allah, Juruselamat kita.

Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama: Anugerah dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau.

Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu. (Tit 1:1-5)

Bacaan Pertama (Alternatif): 2Tim 1:1-8, Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,7-8,10; Bacaan Injil: Luk 10:1-9 

Pada hari ini, 26 Januari, Gereja memperingati dua orang kudus yang mempunyai banyak keserupaan satu sama lain. Dua-duanya adalah anak-anak dari bapak yang kafir (non-Yahudi) dan menerima iman melalui evangelisasi yang dilakukan oleh Paulus. Keduanya teman seperjalanan dan sepelayanan, dan dua-duanya adalah orang kepercayaan Paulus. Kedua orang ini diberi tugas penting dalam Gereja perdana, dua-duanya adalah penerima surat Paulus yang termasuk kategori “surat-surat pastoral”. Lewat kesetiaan dan dedikasi mereka, Gereja perdana dibangun, diperkuat dan ditopang.

Banyak sekali yang harus dikerjakan pada masa mereka. Mungkin sekali sangat merepotkan, baik bagi Timotius maupun Titus. Bimbingan dari Santo Paulus sangat mendasar: “Supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur” (Tit 1:5). Inilah tugas mereka berdua, dan tetap merupakan tugas pribadi-pribadi yang mengikuti jejak mereka sebagai murid-murid Kristus.

Pekerjaan membangun, memperkuat dan menopang Gereja terus ada dari generasi ke generasi berikutnya dan tak pernah lengkap-selesai, melainkan terus berlanjut sampai kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaan kelak. Bagi Uskup Titus, tugas ini termasuk juga menetapkan penatua-penatua (imam-imam) di setiap kota (Tit 1:5) yang – sebagai pembantu uskup – harus memimpin dan membimbing jemaat masing-masing. Bagi kita, tugas  itu mungkin untuk mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus, melakukan pekerjaan guna menopang dan memperkuat umat beriman sebagai anggota-anggota dari Tubuh Kristus yang satu, untuk membantu orang bertumbuh dalam kekudusan, untuk terlibat dalam pekerjaan guna mencapai keadilan dan perdamaian, persaudaraan, atau barangkali membantu orang yang mempunyai kebutuhan atau berkekurangan.

Surat-surat Perjanjian Baru banyak berisikan wejangan-wejangan kepada para pembaca/ pendengarnya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang masih belum selesai. Surat kepada jemaat di Efesus, misalnya, mengingatkan semua umat beriman bahwa Kristuslah “yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus (Ef 4:11-12).

Penulis “Surat kepada orang Ibrani” menasihati para pembaca suratnya: “Peliharalah kasih persaudaraan! Jangan kamu lalai memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat. Ingatlah orang –orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Ingatlah juga orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini” (Ibr 13:1-3). Santo Paulus juga menulis: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mukjizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam berbagai jenis bahasa lidah” (1Kor 12:27-28). Semua dimaksudkan untuk memperkuat Gereja!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau memanggil Timotius dan Titus untuk melayani Gereja-Mu. Semoga teladan dan doa-doa syafaat mereka akan menolong kami semua untuk melanjutkan tugas membangun dan memperkuat Gereja-Mu, agar pada saat kedatangan-Mu kembali pada akhir zaman, Engkau sungguh menemukan iman di muka bumi ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami  Bacaan Pertama (Alternatif) hari ini (2Tim 1:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN KARENA MEREKA ADALAH MANUSIA-MANUSIA SEMPURNA” (bacaan tanggal 26-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 23 Januari 2018 [HARI KEENAM PEKAN DOA SEDUNIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBAGAI CARA/JALAN UNTUK MENUNJU KEKUDUSAN

BERBAGAI CARA/JALAN UNTUK MENUJU KEKUDUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus pada HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS – Rabu, 1 November 2017

 

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah-lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kehendak Allah, karena akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas-kasihan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga. (Mat 5:1-12a)  

Bacaan Pertama: Why 7:2-34, 9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-3 

Puji Tuhan! Bersukacitalah kita semua dalam Yesus Kristus! Dalam hikmatnya, Gereja telah menetapkan berbagai hari raya, pesta dan peringatan yang memperkenankan kita datang berkumpul bersama-sama sebagai keluarga dan merayakan siapa kita ini sebagai umat Allah. HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS yang kita rayakan pada tanggal 1 November setiap tahun ini adalah salah satu hari di kala mana kita mengenang mereka yang telah mendahului kita dalam iman.

Para kudus yang kita rayakan pada hari ini tidaklah terbatas pada mereka yang secara resmi telah dikanonisasikan oleh Gereja sebagai para martir dan orang-orang yang sangat suci lainnya. Pada hari ini kita merayakan “orang-orang kudus” yang digambarkan dalam Perjanjian Baru sebagai mereka yang percaya kepada Yesus Kristus dan mengikuti jejak-Nya. Misalnya Santo Paulus menyebut orang-orang Kristiani di Korintus sebagai “mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus” (1Kor 1:2). Demikian pula, dia (Paulus) menamakan umat Kristiani di Efesus sebagai “orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus” (Ef 1:1). Dengan perkataan lain, kita (anda dan saya) merayakan panggilan agung bagi kita semua! Kita semua sesungguhnya diundang oleh-Nya untuk menjadi salah seorang dari 144.000 orang yang disebut dalam Kitab Wahyu (Why 7:4). Tetapi jangan salah, angka 144.000 ini adalah lambang kepenuhan dari semua orang yang dikumpulkan ke dalam kerajaan Allah, jadi bukan angka untuk membatasi.

Dalam sejarahnya yang sudah 2.000 tahun lamanya, Gereja telah menunjukkan bukti-bukti ada begitu banyak umat-Nya yang hidup dalam kasih sejati: sebagai pelayan sesama, sebagai pendoa syafaat dsb. Orang-orang yang tak terbilang banyaknya itu bisa saja seorang Santo Fransiskus dari Assisi, seorang Santa Klara dari Assisi, seorang Santo Antonius dari Padua, seorang Ignatius dari Loyola, seorang Petrus Kanisius, seorang Santa Teresa dari Lisieux, seorang Santa Teresa dari Kalkuta dst., namun bisa juga seorang perempuan tua warga lingkungan kita yang selalu mendoakan orang-orang lain selama berjam-jam setiap harinya. Bisa juga dia adalah seorang “katekis” (tanpa ijazah akademis yang resmi) yang bekerja tanpa bayaran dan tentunya tanpa pamrih serta penuh pengabdian mendidik para katekumen di parokinya. Bisa juga dia adalah seorang biarawati dari sebuah kongregasi  religius yang relatif kecil, yang memberikan diri sepenuhnya bagi orang-orang kusta. Terlalu banyak contohnya untuk disebutkan satu persatu.

Pada “Khotbah di Bukit”, Yesus mengajarkan berbagai cara/jalan untuk menuju kekudusan, yaitu menaruh kepercayaan penuh kepada Allah, memiliki kelemah-lembutan, memiliki rasa lapar dan haus akan kehendak Allah, berbelaskasihan, memiliki hati yang suci,  dan membawa damai. Kita dapat mengalami kehidupan surgawi di atas bumi ini, sementara kita mengikuti jejak Yesus Kristus dari hari ke hari. Mengikuti jejak Kristus seringkali terasa berat dan tidak mudah karena hal itu berarti mengesampingkan hasrat-hasrat pribadi kita sendiri. Namun demikian, manakala Yesus memanggil kita agar mati  terhadap kepentingan diri sendiri, Dia juga memberikan kepada kita kuasa-Nya dan memimpin kita kepada kemenangan-Nya. Percayalah bahwa kita masing-masing juga dapat menjadi orang-orang kudus, karena dia memanggil kita kepada kesucian (baca: Lumen Gentium, Bab V: 39-42).

DOA: Tuhan Yesus. Pada waktu kami dibaptis, Engkau memenuhi diri kami dengan Roh Kudus. Oleh Roh Kudus-Mu ini, ya Tuhan, tolonglah kami agar mau dan mampu mengabdikan hidup kami bagi suatu kehidupan yang menghayati sepenuhnya “Ucapan Bahagia” (Sabda Bahagia) yang kami baca dan renungkan pada hari ini. Kami memuji Engkau, ya Tuhan Yesus. Dengan penuh syukur kami memuliakan nama-Mu senantiasa, karena Engkau telah memanggil kami untuk ikut ambil bagian dalam kehidupan-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PARA KUDUS YANG DIRAYAKAN GEREJA PADA HARI INI” (bacaan tanggal 1-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CERITA TENTANG DUA ORANG RASUL KRISTUS

CERITA TENTANG DUA ORANG RASUL KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul – Sabtu,  28 Oktober 2017)

 

Pada hari-hari itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu.  (Luk 6: 12-19)  

Bacaan Pertama: Ef 2:19-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Hari ini kita merayakan Pesta dua orang  rasul yang kurang dikenal, yaitu Santo Simon orang Zelot dan Santo Yudas. Kita tidak dapat belajar banyak tentang mereka dalam keempat Injil. Kita tahu bahwa Simon dilahirkan di Kana dan dipanggil sebagai “orang Zelot” (lihat Mat 10:4; Luk 6:15). Kemungkinan besar dia mempunyai pandangan-pandangan politik sebuah kelompok radikal yang percaya bahwa semua cara (termasuk kekerasan) dapat dibenarkan guna mencapai kemerdekaan bangsa Yahudi. “Orang Zelot” pada umumnya berarti seorang anggota gerakan melawan pendudukan Roma di tanah Palestina yang dimulai pada tahun 63 SM.

Yudas adalah rasul yang pada waktu perjamuan terakhir bertanya kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Yoh 14:22). Dalam “Surat Yudas”, Yudas menyandang predikat “hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus” (Yud 1:1) dan diidentifikasikan sebagai penulis “Surat Yudas” itu sendiri.  Namun banyak ahli mempunyai pandangan bahwa penulis surat tersebut menggunakan “nama samaran”. Para ahli ini bersepakat bahwa Yudas penulis surat (epistola) ini bukanlah anak Yakobus (Yudas bin Yakobus), seperti diidentifikasikan dalam Luk 6:16 dan Kis 1:13 sebagai salah seorang rasul. Dalam Mat 10:2-4 dan Mrk 3:16-19, yang muncul adalah nama “Tadeus”. Secara tradisional, Yudas diidentifikasikan dengan Yudas, salah seorang “saudara Tuhan” (Mat 13:55; Mrk 6:3; bdk. Kis 1:14; 1Kor 9:5). Identifikasinya dengan rasul Yudas dalam Yoh 14:22 masih dapat dipertanyakan.

Kendati Santo Simon dan Santo Yudas praktis telah “hilang” dalam sejarah yang serba tidak jelas, kita tahu dan yakin sekali bahwa Allah telah melakukan karya-rahmat dalam diri kedua orang rasul ini. Tentunya mereka – seperti para rasul lainnya – mempunyai banyak kesempatan untuk bersama sang Guru – melakukan tanya-jawab dengan-Nya serta menyadari dalam hati mereka masing-masing bahwa Guru dan Tuhan mereka sangat mengasihi mereka seperti juga halnya dengan para rasul/murid lainnya. Setelah menerima “Amanat Agung” dari Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga (Mat 28:19-20)dan mengalami pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis 2:1 dsj.), maka dapat dipastikan bahwa mereka pun dengan aktif mewartakan kabar baik keselamatan kepada dunia.

Baik Santo Simon maupun Santo Yudas menanggapi dengan benar rahmat yang telah dicurahkan Allah kepada mereka masing-masing. Oleh rahmat itu, mereka diberdayakan untuk percaya kepada Yesus dan melaksanakan misi-pelayanan yang telah disiapkan Allah bagi mereka masing-masing. Yesus juga mengharapkan tanggapan yang sama dari kita semua. Iblis tentunya selalu ingin meyakinkan kita bahwa rahmat Allah berada di luar jangkauan kita. Dalam hal ini kita harus yakin akan sebuah kebenaran yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, yaitu bahwa rahmat dan segala kebaikan Allah kepada kita bukanlah disebabkan oleh kerja keras kita sendiri. Rahmat Allah dianugerahkan kepada kita secara bebas, secara gratis setiap saat dan setiap hari (Latin: gratia; gratis). Peran kita hanyalah untuk membuka hati dan menerima rahmat yang diberikan Allah itu.

Orang-orang yang dibaptis dalam nama Allah Tritunggal dan menghayati iman-kepercayaan kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka memperoleh privilese untuk mengalami rahmat Allah dalam hidup mereka. Namun sayangnya, kita kadang-kadang memperkenankan adanya berbagai rintangan yang menghalangi kita untuk memperoleh rahmat itu. Bisa saja hati kita sudah terpaku pada rencana-rencana lain yang mungkin bertentangan dengan rencana-rencana Yesus bagi kita. Barangkali juga kita terlalu memperkenankan (bahkan menikmati) pelanturan-pelanturan yang terjadi pada waktu kita berdoa dan kurang peka terhadap kehadiran Tuhan. Sementara kita membuang rencana-rencana kita dan menerima apa yang dikehendaki Allah dari kehidupan kita, maka kita pun akan menjadi pelaksana yang lebih efektif dari rahmat-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah memilih diriku untuk menjadi milik-Mu sendiri. Ampunilah dosa-dosaku karena tidak jarang aku membiarkan rahmat-Mu terhalang untuk masuk ke dalam hatiku. Aku terlalu sibuk berupaya lewat berbagai cara – namun dengan mengandalkan kekuatanku sendiri – untuk membuat diriku pantas menerima rahmat-Mu. Di lain pihak, aku juga sering terpengaruh oleh berbagai bentuk pelanturan pada waktu aku berdoa, aku bahkan menikmati pelanturan-pelanturan tersebut. Tuhan Yesus, seperti halnya Santo Simon dan Santo Yudas, perkenankanlah Roh Kudus-Mu untuk membuat aku memiliki sikap reseptif terhadap rancangan-rancangan-Mu dan berani membuang rancangan-rancanganku sendiri. Hari ini, ya Tuhan Yesus Kristus, datanglah kerajaan-Mu, baik dalam kehidupanku sendiri maupun dalam kehidupan orang-orang yang kutemui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 2:19-22), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 28-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak,  24 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH CATATAN TENTANG PETRUS DAN PAULUS

SEBUAH CATATAN TENTANG PETRUS DAN PAULUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Kamis, 29 Juni 2017)

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu  akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: Kis 12:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,17-18

Di dekat kota Kaisarea Filipi yang terletak di bagian utara sekali dari Israel, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat sangat fundamental kepada para murid-Nya sehubungan pendapat orang tentang diri-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (Mat 16:13). Pendapat umum tentang Yesus itu sudah tinggi pada saat itu, namun tidak seorang pun mengakui Dia sebagai sang Mesias. Yesus sudah dikait-kaitkan dengan Yohanes Pembaptis dan para nabi besar Perjanjian Lama, a.l. Elia, Yeremia, dll.

Lalu Yesus bertanya  kepada para murid-Nya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Sekarang giliran para muridlah untuk menjawab apa pendapat mereka sendiri tentang Yesus yang telah mereka ikuti untuk kurun waktu yang cukup lama. Seperti biasanya, Petrus mengambil fungsi sebagai “jubir” para murid (rasul), Petrus menjawab: Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Jawaban Petrus ini adalah pengakuan penuh akan Yesus sebagai Mesias – utusan Allah yang sudah lama dinanti-nantikan – dan Anak (Putera) Allah yang hidup – artinya seorang Pribadi yang memiliki relasi intim dan istimewa dengan Allah Bapa dan menyatakan kasih Allah kepada orang-orang di dunia.

Pengakuan Petrus ini mempunyai tempat istimewa dalam Injil Matius. Ayat-ayat Mat 16:17-19 hanya terdapat dalam Injil Matius ini. Pengakuan Petrus ini adalah akibat dari pernyataan dari Allah Bapa sendiri (Mat 16:17), dan Yesus menjanjikan kepada sang pemimpin para rasul ini suatu peranan penting dalam pembentukan komunitas Kristiani yang kita sebut Gereja (Mat 16:18). Yesus akan memberikan kepada Petrus kunci Kerajaan Surga: Apa yang kauikat akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:19; suatu kemungkinan alusi dengan Yes 22:15-25).

 Orang biasa mengatakan, bahwa sementara kepada Petrus diberikan kunci-kunci kepada Kerajaan Surga dan otoritas untuk menggembalakan Gereja yang masih muda usia itu, maka Paulus dipanggil untuk mewartakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi dan membangun Gereja. Walaupun begitu, kita tidak boleh mengandaikan bahwa Petrus hanyalah seorang administrator atau Paulus hanyalah seorang pengkhotbah. Karya pelayanan yang dilakukan oleh kedua pribadi rasul ini memiliki unsur-unsur, baik dari peranan administrator maupun dari peranan pengkhotbah. Kedua orang itu mewartakan Injil dan dua-duanya juga bekerja untuk memperkuat gereja-gereja lokal. Yang utama dalam hati kedua orang ini adalah keprihatinan pembentukan serta kesejahteraan Tubuh Kristus.

Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja (Mat 16:18). Hal ini telah terbukti kebenarannya. Tidak ada satu kekuatan pun, betapa jahat atau gelapnya, yang pernah berhasil menghancurkan Gereja yang didirikan oleh Kristus. Meskipun begitu, Gereja dapat diperlemah, teristimewa apabila umatnya tidak mengenal kebenaran Injil. Apabila hal ini terjadi, maka orang-orang Kristiani tidak dapat menghayati kehidupan yang sudah menjadi warisan mereka. Dan dunia pun mendapat kesan bahwa Allah itu jauh, mungkin hanya sekadar ide abstrak yang tidak atau sedikit saja memiliki nilai praktis.

Bilamana orang-orang tidak mengenal kuasa Injil, maka apa yang dapat mereka lakukan adalah meratapi kondisi dunia; mereka tidak dapat datang dengan solusi. Dengan berbicara mengenai dosa-dosa di dunia namun tidak mampu untuk mencerminkan kemuliaan Kristus, maka kita mencabut dunia dari kepenuhan firman Allah. Dengan memberikan solusi-solusi atas penyakit-penyakit sosial tanpa memproklamasikan kebenaran dan kasih Kristus, kita mencabut orang dari solusi-solusi yang berlaku untuk waktu lama. Gereja dimaksudkan sebagai kehadiran Kristus di dalam dunia. Kita semua dipanggil untuk menjadi Tubuh Kristus hari ini; kita melakukannya dengan mewartakan Injil dan menghayati kehidupan yang saleh dan suci. Oleh karena itu baiklah kita mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus sedemikian sehingga orang-orang memandang Gereja sebagaimana semula diniatkan oleh Allah.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkanku lagi ketika membaca Injil hari ini bahwa Engkau juga mengajukan pertanyaan yang sama kepadaku: “Siapakah Aku ini?” Aku percaya bahwa Engkau adalah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk bekerja di dalam hatiku dan mengubah diriku seperti Engkau telah mengubah Petrus dan Paulus. Bangkitkanlah para pelayan Sabda seperti para rasul agung ini, untuk pergi mewartakan Kabar Baik-Mu dan menjadi saksi-saksi dari kuasa-Mu yang mampu mengubah manusia. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 16:13-19], bacalah tulisan yang berjudul “PETRUS DAN PAULUS: PILAR-PILAR UTAMA GEREJA PERDANA” (bacaan tanggal 29-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 26 Juni 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Kamis, 18 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

Sesudah berdebat beberapa waktu lamanya, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka, “Hai Saudara-saudara, kamu tahu bahwa sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraanku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Allah, yang mengenal hati manusia, memberi kesaksian untuk mereka dengan mengaruniakan Roh Kudus kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak membeda-bedakan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya bahwa melalui anugerah Tuhan Yesus Kristus kita akan diselamatkan sama seperti mereka juga.”

Lalu diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceritakan segala tanda dan mukjizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di antara bangsa-bangsa lain. Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus, “Hai Saudara-saudara, dengarkanlah aku: Simon telah menceritakan bahwa pada mulanya Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: Kemudian aku akan kembali dan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan bahkan segala bangsa yang atasnya nama-Ku disebut, demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui sejak semula. Sebab itu aku berpendapat bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari hal-hal yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.” (Kis 15:7-21)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10; Bacaan Injil: Yoh 15:9-11

Pada waktu orang-orang non-Yahudi mulai menerima Injil, maka Gereja perdana yang semula hanya terdiri dari orang-orang Kristiani Yahudi (baik Yahudi-Palestina maupun Yahudi-Helinis[tis]), harus bergumul dengan suatu isu yang mungkin saja tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya: Apa hubungannya antara mengikuti Hukum Musa dan mengikuti Yesus? Sungguh suatu isu yang pelik. Ada kelompok yang percaya sekali bahwa para pengikut Yesus harus melanjutkan menepati seluruh hukum Allah yang telah diberikan melalui Musa. Mereka bersikukuh bahwa persyaratan ini juga harus diterapkan tidak hanya pada orang Yahudi, tetapi juga pada orang-orang “kafir” yang ingin bergabung ke dalam Gereja/Jemaat.

Orang-orang Yahudi Kristiani ini memang tidak berpandangan bahwa mereka dapat diselamatkan oleh kepatuhan mereka pada Hukum Musa ini. Akan tetapi mereka memandang ketaatan pada hukum itu sebagai jalan untuk menanggapi intervensi Allah dalam kehidupan mereka. Allah telah memberikan kepada mereka suatu relasi dengan diri-Nya, dan memelihara hukum-Nya merupakan jalan sentral bagi mereka untuk memelihara relasi dengan Allah itu. Dengan demikian, orang-orang Yahudi Kristiani ini berpikir bahwa hukum harus tetap berperan sentral dalam tanggapan mereka kepada Allah – bahkan setelah kedatangan Yesus  dan perjanjian baru dalam darah-Nya.

Di lain pihak orang-orang Yahudi Kristiani yang lain, seperti Paulus dan Petrus tidak sependapat dengan kelompok tadi. Bagi kelompok Paulus dkk. hukum Musa seharusnya tidak lagi menempati tempat sentral dalam relasi umat dengan Allah. Sebaliknya, Yesus-lah yang harus menjadi pusat!!! Tentu hukum tetap harus menjadi panduan kita untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, namun tanggapan kita terhadap Allah haruslah difokuskan pada  “mengikuti jejak Kristus”. Konflik ini terangkat ke permukaan sejak adanya beberapa orang Yahudi Kristiani yang datang mengunjungi gereja di Antiokhia. Ketika krisis memuncak, diputuskanlah untuk membawa isu ini ke sidang sebuah konsili di Yerusalem.  Jangan bayangkan Konsili Yerusalem ini diselenggarakan dengan tenang. Perhatikanlah kata “debat” dalam bacaan di atas (Kis 15:7). Ini adalah pertarungan antara para pembela doktrin-doktrin yang berbeda secara prinsipiil.

Pemimpin Gereja di Yerusalem adalah Yakobus saudara Tuhan Yesus (lihat Gal 1:18-19), dan dalam hal ini tugasnya memang tidak mudah. Petrus tidak berbicara lembek dalam konsili ini. Satu kalimatnya yang keras: “Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?” (Kis 15:10).

Yakobus  adalah seorang Yahudi yang sangat saleh, tetapi dia memiliki satu ciri seorang pemimpin yang baik: dia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk mendengarkan! Sikap yang ditunjukkan Yakobus cukup luwes: dia tidak membuang segala tradisi, dan secara hati-hati melalukan discernment apakah yang kiranya cocok untuk gereja “campuran” yang semakin bertumbuh-kembang. Yakobus patuh pada rencana Allah sehingga konflik yang ada pun dapat diselesaikan dengan tetap memelihara kesatuan dan persatuan dalam Gereja perdana.

Lihatlah betapa pentingnya kita saling mendengarkan, bahkan lebih penting lagi mendengarkan “suara” Roh Kudus! Begitu mudah kita jatuh cinta pada ide-ide kita sendiri, lalu kita menutup telinga terhadap suara-suara yang lain. Ingatlah, kalau kita begitu mencintai ide-ide kita sendiri, bisa-bisa kita lupa dan luput mencintai Allah dan saudari-saudara kita. Dalam situasi sedemikian kita menjadi target yang empuk dari tipu-daya si Jahat. Lihatlah sejarah perpecahan dalam Gereja yang sungguh merupakan skandal, dan hal itu jelas tidak sesuai dengan maksud Yesus mendirikan Gereja-Nya. Allah sungguh berhasrat melihat kita mengalami kesatuan dan persatuan yang penuh kasih dan sukacita secara mendalam. Dia sendiri mohon kepada Bapa agar kita menjadi satu (Yoh 17:11). Allah akan melakukan hal itu – hanya kalau kita memperkenankan-Nya membuat diri kita orang-orang yang mau mendengarkan, mau belajar dan mau mengasihi.

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah aku seorang pendengar yang baik! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-11), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA HAL: KASIH, KETAATAN DAN  SUKACITA” (bacaan tanggal 18-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS