Posts tagged ‘S. PAULUS’

BUKAN KARENA MEREKA ADALAH MANUSIA-MANUSIA SEMPURNA

BUKAN KARENA MEREKA ADALAH MANUSIA-MANUSIA SEMPURNA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup – Sabtu, 26 Januari 2019

Dari Paulus, rasul Kristus Yesus atas kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus. Kepada Timotius, anakku yang terkasih: Anugerah, rahmat dan  damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

Aku mengucap syukur kepada Allah yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan aku selalu mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. Apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan aku yakin hidup juga di dalam dirimu. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu melalui penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi, janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. (2Tim 1:1-8) 

Bacaan Pertama (Alternatif): Tit 1:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,7-8a,10Bacaan Injil: Luk 10:1-9 

Pada hari ini Gereja memperingati secara khusus Timotius dan Titus, dua orang rekan-kerja Paulus dalam mewartakan dan menyebarkan Injil. Timotius adalah putera dari seorang ayah Yunani dan ibu Yahudi yang soleha. Para penulis biasanya melihat Timotius sebagai seseorang yang jauh lebih muda dari Paulus. Ia bergabung dengan Paulus pada perjalanan misionernya yang kedua, menolong sang rasul mendirikan gereja di Filipi dan menjadi seorang pemimpin gereja di Efesus (Kis 16:1-5; 1Tim 1:3). Di sisi lain Titus adalah seorang tangan-kanan Paulus yang paling dipercaya; peranannya instrumental dalam gereja-gereja Korintus dan Kreta (2Kor 8:16.23; Titus 1:5).

Kedua orang ini menjadi orang kudus bukan karena mereka adalah manusia-manusia sempurna.  Misalnya saja Timotius; dia belum berpengalaman dan tidak yakin kepada dirinya sendiri dalam berurusan dengan orang-orang lain. Paulus harus mengingatkan Timotius bahwa Yesus telah menganugerahkan kepadanya suatu roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban yang lebih dari cukup untuk mengatasi kelemahan alamiah seseorang (2Tim 1:7). Kelihatannya Timotius juga memiliki perut (pencernaan) yang sering lemah (1Tim 5:23). Namun di sisi lain Timotius juga memiliki hati yang mengasihi Yesus. Dalam menempatkan kepentingan Yesus Kristus di atas segalanya, Paulus memandang tinggi sekali Timotius, seperti ditulisnya kepada jemaat di Filipi: “… tidak ada seorang pun padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia” (Flp 2:20).

Apakah anda memiliki hati yang sungguh mengasihi Yesus? Apabila anda dapat menjawab “ya”, maka sesungguhnya anda dapat membawa Kristus kepada orang-orang lain, seperti yang telah dilakukan oleh Timotius dan Titus. Kita semua tidak perlu menjadi orator atau pengkhotbah ulung untuk mewartakan Kabar Baik-Nya. Kita tidak perlu secara sempurna membersihkan diri dari segala dosa atau masalah dalam kehidupan kita, meski pun pertobatan batiniah tetap merupakan syarat utama. Yang kita perlukan adalah hati yang dapat diajar, hati yang mengasihi Yesus dan ingin melayani Dia dan orang-orang lain yang kita hadapi.

Sayangnya, ada begitu banyak orang yang memandang diri mereka masing-masing tidak dalam suatu terang yang positif, melainkan dalam terang yang negatif. Orang-orang itu memusatkan perhatian mereka pada segala hal yang menurut pandangan mereka adalah penghalang-penghalang dalam hidup Kristiani mereka. Apabila hal yang begitu merupakan kecenderungan pada diri kita, maka pantaslah kita mohon kepada Yesus agar kita mampu memandang diri kita sendiri seperti Dia memandang kita. Ingatlah selalu bahwa Yesus sangat mengasihi kita masing-masing – Dia menebus kita, membersihkan kita oleh darah-Nya, memenuhi diri kita dengan Roh-Nya dan melengkapi kita semua sebagai agen-agen yang dinamis bagi kerajaan-Nya.

Oleh karena itu marilah kita memberi kesempatan kepada Yesus agar bekerja melalui diri kita hari ini juga. Lupakan dulu segala keterbatasan kita dan pikirkanlah apa yang dapat dilakukan-Nya melalui diri kita. Kita masing-masing mohon kepada-Nya agar diberikan kesempatan untuk bertemu atau berada dalam suatu situasi, dimana kita dapat mensyeringkan kasih-Nya dengan orang lain. Kita boleh yakin bahwa apa yang kita lakukan itu menyenangkan hati-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban, sama seperti yang telah Dikau anugerahkan kepada Timotius dan Titus. Berikanlah kepadaku keberanian untuk mengatasi keraguan apa saja yang ada dalam diriku untuk menjadi pelayan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Tim 1:1-8), bacalah tulisan yang berjudull “TIMOTIUS DAN TITUS: ANAK-ANAK ROHANI PAULUS” (bacaan tanggal 26-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-1-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Januari 2018 [Peringatan S. Fransiskus dr Sales, Uskup Pujangga Gereja]  

Sdr. F.X. Indrapradja. OFS

PERTOBATAN PAULUS, SI PENGEJAR DAN PENGANIAYA UMAT KRISTIANI PERDANA

PERTOBATAN PAULUS, SI PENGEJAR DAN PENGANIAYA UMAT KRISTIANI PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul – Jumat, 25 Januari 2019)

PENUTUPAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

 

“Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara. Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-Tua dapat bersaksi. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum.

Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah mendekati Damsyik, kira-kira tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku. Lalu rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suara yang berkata kepadaku: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Jawabku: Siapakah Engkau, Tuan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu. Orang-orang yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar. Lalu kataku: Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? Kata Tuhan kepadaku: Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu. Karena aku tidak dapat melihat disebabkan oleh cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik. Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang yang saleh menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. Ia datang berdiri di dekatku dan berkata: Saulus, saudaraku, hendaklah engkau melihat kembali! Seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia. Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar. Sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan! (Kis 22:3-16)

Bacaan Pertama alternatif: Kis 9:1-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: 16:15-18

Saulus dari Tarsus adalah seorang pengejar dan penganiaya orang-orang Kristiani yang tak mengenal lelah. Dan dia memang mempunyai wewenang untuk melakukan pengejaran berdasarkan kuasa dari lembaga keagamaan Yahudi tertinggi di Yerusalem. Semuanya demi Allah yang disembahnya. Lalu, pada suatu hari secara dramatis dia “berjumpa” dengan Tuhan Yesus dan mendengar sendiri Dia berbicara kepadanya di jalan menuju kota Damsyik. Setelah peristiwa itu, tidak ada lagi yang sama bagi/tentang Saulus,  …… dia berubah (diubah). Dia mengalami revolusi batiniah (inner revolution). Sebelum peristiwa itu hatinya dipenuhi kebencian luarbiasa terhadap para pengikut “Jalan Tuhan”, namun setelah peristiwa itu Paulus (nama baru dari Saulus) menjadi pewarta KABAR BAIK YESUS KRISTUS kelas wahid, nyaris tak tertandingi. Seorang penginjil sejati!!!

Ananias yang saleh menjelaskan kepada Saulus tentang apa yang baru saja terjadi atas dirinya dan apa yang harus dilakukannya: “Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya……. Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan” (Kis 22:14,16).

Dengan begitu, Paulus menjadi sebuah bejana rahmat yang besar dan merupakan salah satu orang kudus Gereja yang paling mengemuka. Namun demikian, Paulus tidak pernah melupakan “siapa dirinya dulu”, dan  bagaimana Allah telah menyelamatkannya. Bertahun-tahun setelah peristiwa di jalan menuju Damsyik itu, Paulus menulis kepada salah seorang rekan kerjanya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa” (1Tim 1:15). Paulus tidak pernah mengedepankan peranan dirinya sendiri dalam transformasi pribadinya. Paulus sangat mengetahui bahwa dia berhutang segalanya kepada belas kasihan dan pengampunan mutlak dari Allah: “… aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang yang ganas tetapi telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah anugerah Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus” (1Tim 1:13-14).

Rahmat dan belas kasih Allah yang telah mentransformasikan “Teroris dari Tarsus” menjadi pahlawan agung Gereja yang bernama Santo Paulus masih bekerja, bahkan pada hari ini juga. Hal itu disebabkan karena semua pertobatan – baik yang cepat dan dramatis atau yang bertahap – adalah karya Allah, dan Allah tidak pernah berubah. Nah, apabila Yesus dapat mengubah secara radikal seorang musuh Gereja yang begitu membenci umat-Nya, pikirkanlah apa yang dapat dilakukannya dalam diri kita – orang-orang yang sudah menjadi anggota tubuh-Nya dan telah dibersihkan oleh air baptisan. Allah ingin agar kita sepenuhnya hidup dalam Roh-Nya. Dia ingin memenuhi diri kita dengan kehidupan-Nya sendiri, sehingga secara alami kita dapat memanifestasikan sukacita karena mengenal Yesus secara pribadi dan menunjukkan kepada orang lain vitalitas dari kehidupan-Nya. Dengan demikian kita masing-masing mampu mengenal Yesus, sedalam Paulus mengenal-Nya, dan mengalami kehidupan dan kuasa-Nya. Yesus yang sama, yang telah menyentuh Saulus secara pribadi, pada saat ini pun siap dan mampu mentransformasikan diri kita masing-masing, membakar kita dengan api kasih-Nya.

Kunci untuk menerima lebih mendalam lagi Tuhan Yesus dan kuasa kehidupan-Nya adalah rasa haus serta lapar akan Dia; sederhananya: mohon terus kepada-Nya, lagi dan lagi. Di segala zaman tak terhitung banyaknya orang Kristiani yang dapat memberi kesaksian bahwa mereka pernah berjumpa dengan Yesus dalam suatu cara yang unik, baru dan penuh kuasa, sehingga hidup mereka berubah (diubah) secara dramatis – seperti Saulus yang kemudian menjadi Paulus. Banyak dari mereka, seperti Saulus, ditransformasikan secara radikal dan diberdayakan untuk salah satu peran pelayanan sebagai bagian dari misi tubuh Kristus. Kuasa dari “Tuhan yang bangkit” ini tersedia bagi kita masing-masing. Marilah kita menghaturkan permohonan kepada-Nya agar Ia menyentuh kita secara segar, sehingga dengan demikian kita pun akan berubah menjadi seorang manusia baru. Percayalah, Saudari dan Saudaraku, Yesus dapat melakukannya!

DOA: Tuhan Yesus, aku mohon kepada-Mu agar Engkau sudi memberi sentuhan lebih mendalam dari kuasa-Mu dan kemuliaan-Mu ke dalam diriku. Aku tahu bahwa Engkau tidak pernah mengecewakan aku. Ubahlah diriku secara radikal, ya Tuhan, agar aku dapat mengasihi-Mu dan melayani-Mu sepanjang hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama alternatif hari ini (Kis 9:1-22), bacalah tulisan yang berjudul “PERISTIWA YANG DIALAMI SAULUS DI DEKAT KOTA DAMSYIK DAN PERTOBATANNYA” (bacaan tanggal 25-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-1-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JIKA KITA MEMBERITAKAN INJIL, TIDAK ADA ALASAN BAGI KITA UNTUK MEMEGAHKAN DIRI

JIKA KITA MEMBERITAKAN INJIL, TIDAK ADA ALASAN BAGI KITA UNTUK MEMEGAHKAN DIRI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam – Senin, 3 Desember 2018)

Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil! Andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang dipercayakan kepadaku. Jika demikian, apakah upahku? Upahku ialah ini: Bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak menggunakan hakku sebagai pemberita Injil. Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat memenangkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka. Semuanya ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya. (1Kor 9:16-19,22-23) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Mrk 16:15-20

Cinta S. Paulus kepada Yesus Kristus diawali pada waktu dia dalam perjalanan ke Damsyik di mana dia mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus yang bangkit (Kis 9:1-9). Pada waktu itu dia masih bernama Saulus. Selama tiga hari setelah peristiwa tersebut, Paulus mengalami kebutaan. Dia tidak makan atau pun minum selagi dia – lewat doa-doanya dalam keheningan – berupaya untuk memahami apa yang telah dan sedang dikerjakan Tuhan atas dirinya. Bayangkanlah betapa berat beban dosa yang dirasakan menindih dirinya, teristimewa ketika dia mengingat dosa yang menyangkut pengejaran dan penganiayaan atas umat Kristiani yang diperintahkan olehnya dan di mana dia sendiri turut ambil bagian di dalamnya. Akan tetapi, begitu dia dibaptis, kesadaran Paulus akan kasih Allah dan kuasa Yesus yang bangkit langsung saja menggerakkan dia untuk mulai mewartakan Kabar Baik bahwa Yesus adalah Putera Allah (Kis 9:17-20).

Pengabdian Paulus yang penuh gairah kepada Yesus memampukan dirinya menanggung kesusahan dan oposisi terhadap dirinya karena dia mewartakan Injil. Paulus akan menanggung apa saja asal dia dapat memenangkan orang-orang kepada cintakasih Kristus – cintakasih yang telah mentransformir hidupnya sendiri. Paulus dapat melihat bahwa umat di Korintus cenderung untuk melakukan segala hal dengan semangat berapi-api – meski terkadang terasa berlebihan. Mereka merasa tertarik pada pengkhotbah-pengkhotbah (pewarta-pewarta) tertentu, lalu membentuk kelompok-kelompok yang sayangnya menjadi saling bersaing satu sama lain, agar memperoleh reputasi tertinggi. Dalam entusiasme itu, mereka kehilangan “kerendahan-hati” dan “cintakasih persaudaraan”. Paulus berupaya menyatukan mereka itu kembali.

Inilah sebabnya mengapa Paulus mengatakan kepada umat di Korintus: “Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. …… Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka” (1Kor 9:19.22). Kemauan Paulus untuk berbagi Kabar Baik Yesus Kristus dengan siapa saja yang mau mendengarkan, sungguh mengena di jantung kesombongan dan sikap serta perilaku orang-orang Korintus yang suka terpecah-pecah dan saling bersaing secara tidak sehat.

Cintakasihnya kepada Kristus begitu berdampak pada dirinya, sehingga memungkinkan Paulus mengatasi masalah pemisahan antara orang Yahudi dan bukan-Yahudi (Yunani; kafir), hamba dan orang merdeka, perempuan dan laki-laki, karena dia sudah mempunyai keyakinan teguh bahwa semua adalah satu dalam Kristus Yesus (lihat Gal 3:28). Bagi Paulus, satu-satunya garis pemisah adalah antara mereka yang mengenal serta mengalami kasih Allah yang dicurahkan dalam Kristus, dan mereka yang belum mendengar mengenai Sang Juruselamat atau mengalami sentuhan-Nya. Bagi Paulus, hal-hal lainnya tidak perlu dipikirkan, demikian pula seharusnya dengan sikap yang harus diambil oleh umat di Korintus dan kita yang telah membaca suratnya ini.

Fransiskus Xaverius. Pada hari ini Gereja (anda dan saya) merayakan pesta S. Fransiskus Xaverius [1506-1552], yang bersama-sama dengan S. Teresa dari Lisieux [1873-1897] adalah orang-orang kudus pelindung Misi. S. Fransiskus Xaverius adalah misionaris terbesar yang dikenal Gereja sejak rasul Paulus. Tidak lama setelah Ignatius dari Loyola mendirikan Serikat Yesus, Fransiskus Xaverius mengikuti jejak kawan sekamarnya, Petrus Faber, bergabung dengan Serikat Yesus. Hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk bergabung karena pertanyaan penuh tantangan yang diajukan oleh S. Ignatius dari Loyola: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).

Kegiatan misioner S. Fransiskus Xaverius di Asia sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang, termasuk kepulauan Maluku di Indonesiia. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila nama baptis Fransiskus Xaverius juga sudah menjadi nama “pasaran” (sangat populer) di kalangan umat Katolik di Indonesia.

Sebelum sempat melakukan tugas misionernya di daratan Tiongkok, pada tanggal 21 November 1552 Fransiskus Xaverius jatuh sakit demam serta terkurung di pondok rindangnya di pantai pulau kecil San Jian. Dia dirawat oleh Antonio, seorang pelayan Cina yang beragama Katolik. Beberapa tahun kemudian, Antonio menulis sebuah laporan tentang hari-hari terakhir hidup orang kudus itu di dunia. Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Desember dan jenazahnya dikuburkan di pulau itu. Pada musim semi tahun berikutnya jenazahnya dibawa ke Malaka untuk dimakamkan di sebuah gereja Portugis di sana. Beberapa tahun kemudian sisa-sisa tubuhnya dibawa lagi ke Goa di India untuk dimakamkan di Gereja Bom Jesus.

DOA: Bapa surgawi, tunjukkanlah kasih-Mu kepada kami sehingga hidup kami dapat ditransformasikan. Kami ingin menjadi seperti Paulus dan Fransiskus Xaverius, para pewarta Kabar Baik sejati yang menjadi segala-galanya bagi semua orang, sehingga kami juga dapat menunjukkan apa artinya menjadi anak-anak Allah dan pewaris Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:15-20), bacalah tulisan berjudul “MEWARTAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS KE SELURUH DUNIA” (bacaan  tanggal 3-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Desember 2018 [Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Martir Indonesia]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMI HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

KAMI HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII [Tahun C] – 2 OKTOBER 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak tanah atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepda hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata; Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”  (Luk 17:5-10) 

Bacaan Pertama: Hab: 1:2-3; 2;2-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2, 6-9; Bacaan Kedua: 2Tim 1:6-8, 13-14

Menurut Yesus, iman – betapa pun kecilnya – adalah kunci yang membuka kuasa dari surga. Kuasa ini, tentunya, bukanlah suatu kekuatan yang dapat kita manipulasikan seturut keinginan atau kesukaan kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa Yesus menggambarkan hati dari orang-orang yang mengenal dan mengasihi Bapa-Nya: Mereka memandang diri mereka sendiri sebagai “hamba-hamba yang tidak berguna” (Luk 17:10).

Ide sebagai “hamba-hamba yang tidak berguna” pada awalnya tentu terasa keras. Apakah Yesus benar-benar menginginkan kita untuk merasa tidak berguna, tidak berarti? Bukan begitu! Allah menciptakan kita dalam kasih, dan Ia sendiri melihat kita “sungguh amat baik” (Kej 1:31). Yesus memberikan perumpamaan ini sebagai potret seorang hamba yang begitu berdedikasi kepada tuannya dan mencintai tuannya itu dengan mendalam, sehingga dia melayani dan sungguh menghormatinya. Hamba ini tidak puas dengan hanya melakukan “persyaratan minimum” tugas pekerjaannya, tetapi dia ikhlas untuk membuang segalanya demi menyenangkan tuannya.

ROHHULKUDUSKerendahan hati atau kedinaan sedemikian – yang membuka kunci kuat-kuasa Allah dalam hidup kita – datang selagi kita memohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita dengan lebih mendalam lagi akan keagungan, kesempurnaan, dan kekudusan Allah yang kita layani. Pernyataan/perwahyuan ini dapat mengubah hidup kita dan menggerakkan kita untuk memberikan keseluruhan hidup kita kepada-Nya. Kebaikan-Nya kepada kita dapat mencairkan hati kita: Dia mengetahui semua dosa dan kelemahan kita, namun Ia mengasihi kita secara lengkap dan tanpa syarat sedikit pun. Allah adalah Tuhan yang harus kita layani dengan penuh syukur dan kasih, bukan dengan rasa takut dan rasa benci terhadap diri kita sendiri karena dosa-dosa kita.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, “Kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor 5:14-15). Hidup untuk Kristus akan menempatkan kita pada posisi yang sangat dekat dengan hasrat-hasrat-Nya. Sebagai akibatnya, doa-doa kita dan kata-kata kita akan mengalir dari kehendak-Nya dan hati-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, keagungan-Mu memenuhi surga dan bumi, namun Engkau merendahkan diri-Mu demi menyelamatkan diriku dari maut karena dosa-dosaku. Engkau layak dan pantas untuk menerima semua afeksi dan ketaatanku. Tuhan Yesus, dengan rendah hati aku memberikan kepada-Mu seluruh hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HANYALAH HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA” (bacaan tanggal 2-10-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-10 BACAAN HARIAN OKTOER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 September 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS