Posts tagged ‘RAHASIA MESIANIS’

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 11 Januari 2018)

Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: 1Sam 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 44:10-11,14-15,24-25

Kita dapat saja berspekulasi mengenai apa yang dipikirkan oleh orang kusta itu ketika Yesus menyembuhkannya tetapi memberinya peringatan keras untuk tidak “membocorkan info” sehubungan dengan peristiwa mukjizat ini (lihat Mrk 1:44). Barangkali orang kusta yang baru disembuhkan itu tidak tahan lagi menahan entusiasme yang melanda dirinya, lalu dia pun pergi ke mana-mana menceritakan peristiwa yang baru dialaminya. Mungkin saja dia berpikir, dengan menyebarkan informasi ini ke mana-mana, dia melakukan sesuatu yang baik bagi Yesus. Markus menggunakan kisah ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan terlihat sepanjang Injilnya, yakni pertama: Yesus meminta dengan tegas dipegangnya “rahasia mesianis” dan kedua: ketegangan yang segera akan mengelilingi-Nya.

Dalam seluruh Injil-nya, Markus menggambarkan Yesus yang “enggan” menyandang gelar “Mesias” (lihat Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan “keengganan” Yesus ini untuk mengajar para pembaca, bahwa bukan segala mukjizat itulah yang menyatakan/mewahyukan diri-Nya sebagai Mesias. Mukjizat-mukjizat itu menunjuk kepada suatu perwahyuan yang lebih penuh, yakni: Dia yang diurapi Allah akan membebaskan kita dari dosa oleh kematian-Nya di kayu salib. Oleh karena itu siapa saja yang mau menjadi murid sang Mesias ini harus memanggul salibnya dan mengikuti-Nya (lihat Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Orang kusta yang disembuhkan itu mengabaikan perintah Yesus, namun – seperti diterangkan di atas – bisa saja atas dasar “maksud baik” manusiawi. Tetapi dengan demikian dia membawa masuk segala ketegangan yang akan mempengaruhi pelayanan-pelayanan Yesus selanjutnya. Sebelum itu semuanya berjalan lancar dan fantastis: mukjizat-mukjizat, pengusiran roh-roh jahat dsb. Akan tetapi tiba-tiba muncul kerumitan: “…Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota”  (Mrk 1:45). Perubahan suasana ini memberi petunjuk mengenai konfrontasi yang akan dialami Yesus dengan orang-orang Farisi dll. – suatu konfrontasi yang akhirnya akan membawanya ke kayu salib (lihat Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus mengetahui benar bahwa pelayanan-Nya akan menyebabkan timbulnya konflik. Orang kusta yang disembuhkan itu tidak kooperatif, dia mengabaikan perintah Yesus atau mungkin juga berpikir untuk “memperbaiki” rencana Allah. Serupa halnya dengan kodrat manusia pada sisi buruknya, mau tidak mau akan berkonflik dengan Kerajaan Allah. Namun Yesus tidak pernah membiarkan konflik ini menjadi penghalang bagi-Nya untuk memanggil orang-orang datang kepada-Nya. Yesus menerima biaya/harga dari konflik, meski maut sekali pun, demi membebaskan kita.

Marilah kita mengikuti Mesias kita yang dengan rendah hati begitu taat kepada Bapa surgawi dalam segala hal. Janganlah kita dengan “seenaknya” mengambil dan memilih yang mau kita taati saja (artinya ada yang kita tidak ambil dan tidak pilih untuk ditaati). Sebaliknya berikanlah kepada Yesus keseluruhan hati kita. Hanya dengan demikian kita akan mengalami sukacita sesungguhnya dari suatu relasi yang lebih mendalam dengan-Nya.

Betapa pun catatan negatif yang ada pada kita tentang orang kusta itu, kita harus sangat menghargai imannya yang begitu kuat (namun tanpa memaksa-maksa Tuhan), seperti tercermin dalam kata-kata permohonannya kepada Yesus: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku” (Mrk 1:40). Permohonan penuh iman inilah yang menggerakkan hati Yesus oleh belas kasihan, dan Yesus pun menyembuhkan orang itu (lihat Mrk 1:41-42). Sungguh patut kita teladani!

DOA: Ya Tuhan Yesus, melakukan kehendak-Mu adalah sukacitaku. Terima kasih kasih Tuhan, Engkau membebaskan aku sehingga dapat melayani-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP SETURUT KEHENDAK ALLAH” (bacaan  tanggal 11-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Januari 2018 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

TETAPI ORANG ITU PERGI MEMBERITAKAN PERISTIWA ITU SERTA MENYEBARKANNYA KE MANA-MANA

TETAPI ORANG ITU PERGI MEMBERITAKAN PERISTIWA ITU SERTA MENYEBARKANNYA KE MANA-MANA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 12 Januari 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam Kapusin

009-lumo-man-leprosySeseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: Ibr 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:6-11

Memang menarik untuk berspekulasi tentang apa yang ada dalam pikiran orang kusta itu ketika Yesus menyembuhkan dirinya dan memperingatkan dengan keras kepadanya untuk tidak mengatakan kepada siapa pun tentang penyembuhan tersebut (Mrk 1:44). Apakah dia begitu dipenuhi dengan antusiasme sehingga dirinya terdorong dan penuh semangat untuk menceritakan semua yang dialaminya kepada orang-orang yang dijumpainya? Atau, apakah dia berpikir bahwa dengan “memberikan kredit” kepada Yesus atas penyembuhan yang dialaminya, dia sebenarnya membantu Yesus? Apa pun alasannya, Markus menggunakan cerita ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan terus kita lihat ada dalam Injil-nya: (1) rahasia mesianis dan (2) ketegangan yang sebentar lagi akan terus membayangi Yesus.

010-lumo-man-leprosySepanjang Injil-nya, Markus menggambarkan Yesus yang enggan untuk menerima gelar “Mesias” (Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan atau menggaris-bawahi keengganan Yesus ini sehingga dengan demikian ia dapat menunjukkan bahwa berbagai mukjizat dan tanda heran tidaklah cukup untuk menyatakan Yesus sebagai sang Mesias. Berbagai mukjizat dan tanda heran menunjuk pada suatu pernyataan yang lebih penuh, yaitu bahwa Sang Terurapi akan membebaskan umat manusia dari dosa lewat kematian-Nya di kayu salib. Jadi, siapa saja yang akan menjadi seorang murid dari Mesias haruslah memikul salib dan mengikuti Dia (Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Dengan mengabaikan perintah Yesus untuk tidak diam (tidak banyak omong), maka orang kusta yang disembuhkan itu dengan tak sengaja memicu ketegangan yang membawa dampak pada pelayanan Yesus selanjutnya.  Sampai hari itu, setiap hal telah berjalan dengan sangat baik – boleh dikatakan sangat fantastis. Akan tetapi, tiba-tiba masalahnya menjadi rumit: “Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota” (Mrk 1:45). Perubahan suasana ini mengisyaratkan adanya konfrontasi yang akan dialami oleh Yesus dengan banyak pemuka/pemimpin agama Yahudi, suatu konfrontasi yang akhirnya menggiring-Nya kepada kematian di kayu salib (Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus menyadari bahwa karya pelayanan-Nya akan menyebabkan konflik. Seperti orang kusta yang telah disembuhkan namun tidak kooperatif – mengabaikan perintah Yesus atau berpikir bahwa tindakannya akan memperbaiki rencana Allah, kodrat manusia kita yang cenderung berdosa akan – mau tidak mau – akan berkonflik dengan Kerajaan Allah. Walaupun begitu, hal ini tidak pernah membuat Yesus mundur dari karya-Nya melakukan kebaikan: menyembuhkan orang sakit, memberi pengajaran dan mengambil orang-orang untuk datang kepada-Nya dan mengikuti-Nya. Yesus menerima “biaya” konflik, dimusuhi oleh para petinggi agama, bahkan mengalami kematian yang mengenaskan …… demi membebas-merdekakan kita.

011-lumo-man-leprosySaudari-Saudara, marilah kita mengikuti jejak sang Mesias yang telah memilih “jalan perendahan”, taat kepada Bapa-Nya dalam kerendahan hati (lihat Flp 2:6-8). Sekarang, janganlah kita pilih-pilih. Marilah kita memberikan kepada Yesus seluruh hati kita. Dengan demikian, kita pun akan mengalami betapa berbahagianya kita mengalami relasi yang lebih mendalam dengan Dia.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Melakukan kehendak-Mu adalah kesenanganku, ya Tuhan. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah membebas-merdekakan diriku untuk menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN” (bacaan tanggal 12-1-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Januari 2017 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

RAHASIA MESIANIS DAN KETEGANGAN-KETEGANGAN

RAHASIA MESIANIS DAN KETEGANGAN-KETEGANGAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 16 Januari 2014)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Protomartir Fransiskan

Jesus_heals_leper_1140-152Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45)

Bacaan Pertama: Ibr 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:6-11

Kita dapat/boleh saja berspekulasi tentang apa yang dipikirkan oleh orang kusta itu ketika dia sudah disembuhkan oleh Yesus dan Ia mengatakan kepadanya untuk tidak menceritakan mukjizat itu kepada siapa pun (Mrk 1:44). Apakah orang kusta yang disembuhkan Yesus itu begitu dipenuhi antusiasme karena rasa gembira sehingga merasa bahwa dia sungguh harus bercerita kepada setiap orang tentang mukjizat yang baru saja terjadi atas dirinya? Bukankah dengan kesembuhannya orang itu dibebaskan dari keterasingannya dalam masyarakat (lihat Im 13:45-46)? Ataukah orang itu berpikir, “Aku akan melakukan suatu kebaikan bagi Yesus dengan menceritakan mukjizat penyembuhan ini kepada semua orang!” Apa pun kasusnya, Markus menggunakan cerita ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan kita temui di sana-sini dalam Injilnya: Pertama-tama, Yesus bersikukuh untuk menjaga “rahasia Mesianis” berkaitan dengan diri-Nya, dan kedua adalah ketegangan yang akan menyertai Yesus selama Dia melaksanakan misi-Nya, yaitu mewartakan Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan.

Sepanjang Injilnya, Markus menggambarkan Yesus yang enggan untuk menyandang gelar “Mesias” (lihat Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan keengganan ini agar ia dapat menunjukkan bahwa mukjizat-mukjizat saja tidaklah cukup untuk menyatakan Yesus sebagai Mesias. Mukjizat-mukjizat itu menunjuk pada suatu pernyataan/perwahyuan yang lebih penuh: Dia yang diurapi Allah akan membebas-merdekakan umat manusia dari dosa lewat kematian-Nya di atas kayu salib. Oleh karena itu, siapa saja yang mau menjadi seorang murid dari sang Mesias, harus memanggul salib dan mengikuti Dia (lihat Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Dengan mengabaikan perintah Yesus untuk menutup mulutnya, dengan tak sengaja orang kusta yang disembuhkan itu membawa ketegangan yang membawa dampak atas pelayanan Yesus selanjutnya. Sampai saat-saat sebelum penyembuhan orang kusta itu, semuanya berjalan baik-baik dan lancar-lancar saja. Namun tiba-tiba timbullah komplikasi yang dengan sederhana dicatat oleh Markus: “… Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota” (Mrk 1:45). Perubahan atmosfir ini merupakan sinyal kemunculan konfrontasi yang akan dialami Yesus dengan banyak pemimpin agama Yahudi – konfrontasi yang akhirnya menggiring diri-Nya ke kayu salib (Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus mengetahui bahwa pelayanan-Nya di depan umum akan menyebabkan timbulnya konflik. Seperti orang kusta yang tidak kooperatif atau tidak taat tadi, yang mengabaikan perintah Yesus atau berpikir ia dapat “memperbaiki” rencana Allah, maka sisi buruk dari kodrat manusiawi kita juga akan – mau tidak mau – membawa kita kepada situasi konflik dengan Kerajaan Allah. Walaupun demikian Yesus tidak pernah membiarkan pergumulan ini mencegah diri-Nya untuk menyembuhkan, memberitakan Kabar Baik dan memanggil orang-orang kepada diri-Nya. Yesus menerima biaya/harga dari konflik betapa pun mahalnya demi membebaskan kita, bahkan sampai mati di kayu salib.

Marilah kita mengikuti jejak sang Mesias, yang dengan penuh kerendahan hati taat pada Bapa surgawi dalam segala hal (bacalah Flp 2:6-11; lihat juga Luk 22:42 dan padanannya). Janganlah kita hanya taat pada perintah-perintah-Nya yang kita sukai saja. Sebaliknya, marilah kita berikan segenap hati kita kepada Yesus. Maka, kita pun akan mengalami betapa berbahagianya diri kita karena terjalinnya suatu relasi yang lebih mendalam dengan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku (Mzm 143:10). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG KUSTA” (bacaan tanggal 16-1-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2014. 

Cilandak,  14 Januari 2014 [Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS