Posts tagged ‘RAGI ORANG FARISI’

DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KITA DAPAT MENGATASI RASA TAKUT KITA

DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KITA DAPAT MENGATASI RASA TAKUT KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Jumat, 19 Oktober 2018)

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi Aku akan menunjukkan kepada kamu siapa yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang  setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang  ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah lima ekor burung pipit dijual seharga dua receh terkecil? Sungguh pun demikian tidak seekor pun yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit. (Luk 12:1-7) 

Bacaan Pertama: Ef 1:11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,12-13 

“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” (Luk 12:4)

“… jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.” (Luk 12:7)

Pada tahun 1933, pada puncaknya masa susah “Great Depression”, presiden Franklin Roosevelt membuat pengumuman sebagai berikut: “Kita tidak perlu takut kepada apa pun kecuali ketakutan itu sendiri.”  Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut ……” (Luk 12:4). Presiden Roosevelt berbicara mengenai suatu krisis politik dan ekonomi, sedangkan Yesus berbicara mengenai suatu krisis yang jauh lebih penting, yaitu krisis spiritual.

Ketakutan dapat melumpuhkan jiwa, dapat melemahkan tekad kita untuk menghindari godaan dan bekerja sama dengan rahmat Allah. Ketakutan dapat menggantikan keberanian  dengan kepengecutan, dan menggantikan pengharapan dengan keputusasaan. Namun dalam segala hal ini, kita masing-masing menunjukkan diri kita sebagai seorang pribadi yang manusiawi. Bahkan Yesus sendiri mengalami rasa takut yang luar biasa di taman Getsemani.

Kabar baiknya adalah bahwa dengan pertolongan Allah kita dapat mengatasi rasa takut kita.  Keberanian yang sejati bukan berarti tanpa rasa takut samasekali, melainkan bertindak berdasarkan kehendak Allah walaupun ketika kita merasa takut. Sejak beliau nyaris tertembak mati oleh seorang pembunuh pada tahun 1981, pastilah Paus Yohanes Paulus II masih dihinggapi rasa takut setiap kali beliau harus tampil di depan publik. Namun beliau terus melakukannya.

Demikian pula halnya dengan kita, walaupun dalam skala kecil-kecilan. Melalui doa, penghiburan yang kita terima dari orang-orang lain, dan kekuatan batiniah yang disediakan oleh rahmat Allah, maka kita semua dapat menerima rasa takut kita dan memperoleh pertolongan yang kita perlukan untuk mengubah pikiran dan motif kita. Lalu, kita akan melihat bahwa rasa takut kita semakin menyusut dan kita akan semakin berakar dalam kasih.

Menjadi manusiawi berarti menjadi lemah dalam diri kita sendiri namun kuat dalam Kristus, berdosa dalam diri kita sendiri namun kudus di dalam Dia, merasa takut dalam diri kita namun berani melalui Roh-Nya. Santa Teresia dari Lisieux pernah berkata bahwa bahkan tindakan-tindakan kita yang paling mulia sekali pun tetap dinodai oleh berbagai kelemahan. Namun demikian, selagi kita dengan cara yang jauh dari sempurna berjalan tertatih-tatih menuju Allah, kita tetap dapat memberikan kemuliaan kepada-Nya. Pertimbangkanlah kelemahan-kelemahan yang berbeda dari para rasul Yesus dan yakinlah bahwa pada akhirnya yang menang-berjaya adalah kuat-kuasa yang dari atas itu. Semoga Yesus memberikan kepada kita damai-sejahtera yang melampaui segala pengertian kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji Engkau dan aku meninggikan Engkau. Engkau adalah batu karangku dan tempat pengungsianku. Semoga aku senantiasa berpegang erat-erat pada-Mu sebagai seorang anak yang senantiasa berpegang erat-erat pada bapanya. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (LLuk 12:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA SESUATU PUN YANG TERSEMBUNYI YANG AKAN DIKETAHUI” (bacaan tanggal 19-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10  BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Oktober 2018 [Peringatan S. Margareta Maria Alacoque] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

PERTANYAAN-PERTANYAAN SEORANG GURU KEPADA PADA MURID-NYA

PERTANYAAN-PERTANYAAN SEORANG GURU KEPADA PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI –  Selasa, 13 Februari 2018)

Murid-murid Yesus lupa membawa roti, kecuali satu roti saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”  Mereka pun memperbincangkan di antara mereka bahwa mereka tidak mempunyai roti. Ketika Yesus mengetahui hal itu, Ia berkata, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Belum pekakah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Dua belas bakul.”  “Pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Tujuh bakul.”  Lalu kata-Nya kepada mereka, “Belum mengertikah kamu?”  (Mrk 8:14-21) 

Bacaan Pertama: Yak 1:12-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 94:12-15,18-19 

Yesus memperingatkan para murid tentang ragi orang Farisi dan ragi Herodes (Mrk 8:15). Ia minta mereka agar mereka waspada dan berjaga-jaga terhadap sikap dan perilaku dari orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya. Ragi adalah suatu gambaran yang cukup tepat untuk mereka yang memusuhi Kristus, karena kata ini menyarankan suatu kontras antara kata-kata dan substansi. Apabila kita menambahkan ragi pada adonan, maka hasilnya bukanlah lebih banyak roti, tetapi lebih banyak udara di dalam roti yang sudah ada. Dengan perkataan lain ragi membuat bengkak … membuat gembung! Ragi tidak menambahkan substansi! Sebaliknya, Yesus datang untuk membawa roti sejati – sesuatu yang diingatkan-Nya kepada para murid, sewaktu Dia merujuk kepada kemampuan-Nya untuk memberi makan kepada ribuan orang dalam suatu mukjizat pergandaan (Mrk 8:19-20).

Yesus datang untuk membuat perubahan-perubahan yang substansial dan radikal dalam diri kita. Ia datang untuk memungkinkan kita turut ambil bagian dalam hidup ilahi. Yesus tidak berminat untuk “menggembungkan” hidup kita – membuat kita sedikit lebih menyenangkan, atau sedikit lebih sabar, atau sedikit lebih bersahabat. Ia mau mencabut dari kita sifat mementingkan diri sendiri dan memberikan kepada kita hati yang dipenuhi dengan cintakasih kepada Allah dan hasrat serta rasa rindu untuk melayani umat-Nya.

Tentu saja Yesus senang manakala kita menjadi lebih penuh pertimbangan dalam berhubungan dengan pasangan hidup kita atau menjadi lebih sabar dengan anak-anak kita. Tetapi visi Yesus bagi kita adalah jauh melampaui hal seperti ini. Ia berniat untuk mengubah kita sehingga kita menjadi laki-laki dan perempuan spiritual – orang-orang yang mengenal damai-sejahtera secara mendalam, memiliki sukacita dan harapan, meski dalam situasi-situasi yang paling sulit sekalipun. Yesus ingin membuat kita menjadi sebuah tanda bagi dunia, yaitu tanda dari hidup yang ditawarkan Allah kepada setiap orang yang berpaling kepada-Nya dan mengikuti jalan-Nya.

Tentu saja, dengan kekuatan sendiri kita tidak mungkin membuat perubahan seperti itu, … powerless. Akan tetapi Yesus yang telah membuktikan diri-Nya mampu melakukan mukjizat pergandaan makanan untuk ribuan orang, Dia memiliki kuat-kuasa untuk membuat kita menjadi baru.

Para murid tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus karena mereka tidak dapat melihat lebih jauh dari roti yang bersifat material (Mrk 8:16). Mereka berpikir Yesus berbicara mengenai perut mereka, bukan hati mereka. Bukankah kita kadang-kadang juga membatasi perhatian kita pada keprihatinan-keprihatinan dan kesusahan-kesusahan sehari-hari kita yang bersifat keduniaan, dan kita luput melihat Yesus dengan kuat-kuasa-Nya yang mampu mengubah kita. Marilah hari ini – teristimewa dalam Ekaristi – kita sambut Yesus untuk masuk ke dalam hati kita, dan kita mohon kepada-Nya untuk melanjutkan karya transformasi-Nya. Jangan sampai Dia bertanya kepada kita sama seperti yang ditanyakan-Nya kepada para murid-Nya yang awal: “Belum mengertikah kamu?” (Mrk 8:21).

DOA:  Datanglah Roh Kudus, penuhilah diriku dengan hidup Kristus. Aku ingin menjadi seorang ciptaan baru oleh kuasa transformasi-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “MEMOHON KARUNIA AGAR DAPAT MEMAHAMI YESUS DAN KARYA-NYA” (bacaan tanggal 13-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  10 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RAGI ROH KUDUS YANG MENTRANSFORMASIKAN HIDUP KITA

RAGI ROH KUDUS YANG MENTRANSFORMASIKAN HIDUP KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Sirilus, Pertapa & S. Metodius, Uskup –  Selasa, 14 Februari 2017) 

1-0-jesus-christ-super-starMurid-murid Yesus lupa membawa roti, kecuali satu roti saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”  Mereka pun memperbincangkan di antara mereka bahwa mereka tidak mempunyai roti. Ketika Yesus mengetahui hal itu, Ia berkata, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Belum pekakah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Dua belas bakul.”  “Pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Tujuh bakul.”  Lalu kata-Nya kepada mereka, “Belum mengertikah kamu?”  (Mrk 8:14-21) 

Bacaan Pertama: Kej 6:5-8,7:1-5,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10

Ketika Yesus berbicara mengenai “ragi” (Mrk 8:15), Ia sebenarnya mengacu kepada suatu sumber kegiatan yang mampu menumbuh-kembangkan sesuatu. Bagi orang-orang Farisi, kepentingan-diri sendiri merupakan inti kegiatan ini, dan hal ini berkembang menjadi adonan yang jauh dari kasih dan belas kasih Allah. Hasil pertumbuhan dari “ragi” sedemikian adalah rasa tidak percaya, kecurigaan, dan tuduhan.

Di lain pihak, seorang murid Yesus mempunyai akses kepada suatu sumber kegiatan yang lain – Roh Kudus, yang mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita (lihat Rm 5:5). Pencurahan kasih ilahi ini dimaksudkan untuk mengangkat kita agar dapat memahami bahwa kita adalah anak-anak Allah. Hal ini dimaksudkan untuk memindahkan kita dari sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri sehingga dengan demikian kita dapat memandang melampaui diri kita sendiri agar dapat melihat Yesus sendiri, sang Pencinta jiwa-jiwa kita semua. Seorang murid Yesus mengetahui bahwa dirinya telah diangkat dan dilepaskan dari jerat dosa dan telah diberikan suatu hidup baru oleh kasih Kristus yang tersalib.

Ragi Roh Kudus dimaksudkan untuk menyebabkan suatu transformasi dalam kehidupan kita – sesuatu yang kita tidak dapat lakukan sendiri, tetapi suatu karunia yang diberikan secara bebas dari Roh Kudus. Jadi, bukan lagi kita, melainkan Kristus di dalam diri kita yang menjadi dasar dari pengharapan dan visi bagi hidup kita. Tidak lagi sumber daya kita sendiri, melainkan Kristus dalam diri kita lah yang menjadi sumber kekuatan. Yesus ingin mengangkat kita dan membebaskan kita dari hal-hal yang terus saja membenamkan kita dalam kedosaan dan hukuman. Bersatu dengan Yesus, kita pun dapat mati terhadap diri kita dan dibangkitkan ke takhta Allah! Roh Kudus akan memenuhi diri kita dengan kerinduan untuk semakin serupa dengan Yesus, suatu hasrat mendalam untuk menyatu dengan Bapa surgawi dan melayani umat Allah dengan bebas.

Besok, kita akan mengawali Masa Prapaskah. Marilah kita merenungkan “ragi” yang bekerja di dalam diri kita dan transformasi yang kita hasrati. Maukah kita datang kepada Yesus pada Masa Prapaskah ini dan memohon kepada-Nya agar kita diangkat-Nya? Selagi hati kita terbuka bagi-Nya, Dia akan menghembuskan nafas hidup-Nya ke dalam diri kita dan memampukan kita untuk menjadi roti bagi orang-orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, semoga ragi Roh Kudus-Mu bekerja dalam diriku. Aku tidak ingin memusatkan perhatianku pada diriku sendiri, melainkan pada Engkau saja. Yesus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “PERTANYAAN-PERTANYAAN SEORANG GURU KEPADA PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 14-2-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS