Posts tagged ‘PETRUS’

IMAN PETRUS KEPADA YESUS SEBAGAI MESIAS, ANAK ALLAH YANG HIDUP

IMAN PETRUS KEPADA YESUS SEBAGAI MESIAS, ANAK ALLAH YANG HIDUP

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA TAKHTA SANTO PETRUS, RASUL – Sabtu, 22 Februari 2020)

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: 1Ptr 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 

Pada “Pesta Takhta Santo Petrus, Rasul” yang kita rayakan pada hari ini, tema IMAN  jelas terasa dalam liturgi Gereja. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa iman kepada Yesus sebagai “Mesias” (Kristus) dan “Putera (Anak) Allah yang hidup” (Mat 16:16) terletak pada jantung pelayanan Petrus sebagai kepala Gereja di atas bumi dan uskup pertama Roma. Pesta hari ini merayakan iman itu dan menunjuk pada pelayanan Petrus.

Gereja Kristus dibangun di atas batu karang pengakuan iman Petrus. Iman Petrus bahwa Yesus adalah Mesias dan Putera Allah merupakan pemberian Allah sendiri. Tidak ada seorang pun manusia menyatakan ini kepadanya; hal ini diberikan oleh Bapa surgawi sendiri! (Mat 16:17). Iman yang teguh-kokoh kepada Kristus ini merupakan fondasi di atas mana Gereja dibangun, bahkan sampai pada hari ini. Kemampuan Petrus (dan semua penggantinya) untuk menggembalakan kawanan domba seturut cara Kristus tergantung pada iman sedemikian – baik iman sang gembala maupun iman kawanan dombanya.

Iman Petrus kepada Yesus adalah iman yang diajarkan Petrus kepada Gereja; iman yang membawa kita kepada Kerajaan kekal abadi. Tidak ada sesuatu pun di atas bumi yang berkaitan dengan Takhta Petrus – kebesarannya, otoritasnya, bahkan pelayanannya – dapat membawa kita kepada Kerajaan ini kalau tidak bertumpu dan memancar dari batu karang iman.

Gereja dalam pesta ini merenungkan pentingnya jabatan-mengajar Petrus dan juga bagaimana sentralnya iman kepada Yesus dalam jabatan ini. Ini adalah dasar pelayanan Petrus dan para penggantinya, dan untuk kesejahteraan kawanan domba yang digembalakan mereka. Pesta ini harus mendorong kita memeriksa diri kita sendiri apakah kita menghargai karunia pelayanan Petrus kepada Gereja yang diberikan oleh Kristus? Selagi para gembala membawa kawanannya kepada Kristus, apakah kita memiliki hasrat untuk mengikuti jalan Kristus? Selagi Petrus dan para penggantinya memproklamasikan kebenaran Kristus dan bagaimana Dia ingin kita menjalani kehidupan kita seturut kehendak-Nya, apakah kita mendengarkan apa yang mereka ajarkan?

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahapengasih, kami berdoa untuk Paus Fransiskus yang sekarang duduk di takhta Petrus dan para penggantinya nanti. Berkatilah pelayanan Sri Paus  dan topanglah dia dalam kebenaran selagi dia menggembalakan umat – kawanan dombanya – menuju Kerajaan kekal abadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul “APA YANG DILIHAT YESUS DALAM DIRI PETRUS ADALAH IMANNYA” (bacaan tanggal 22-2-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-2-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Februari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH KITA MEMAHAMI IMPLIKASI SEPENUHNYA DARI APA YANG KITA PERMAKLUMKAN TENTANG YESUS SEBAGAI KRISTUS?

APAKAH KITA MEMAHAMI IMPLIKASI SEPENUHNYA DARI APA YANG KITA PERMAKLUMKAN TENTANG YESUS SEBAGAI KRISTUS?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Kamis, 20 Februari 2020)

Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke desa-desa di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?”  Jawab mereka kepada-Nya, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan: Seorang dari para nabi.”  Ia bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”  Jawab Petrus, “Engkaulah Mesias!”  Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras. Lalu berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia menegur Petrus dengan keras, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk 8:27-33) 

Bacaan Pertama:  Yak 2:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-7 

“Engkaulah Mesias!” (Mrk 8:29). Ini adalah proklamasi yang sungguh luarbiasa menakjubkan – dan Simon Petrus membuat pernyataan ini setelah Yesus mengalami begitu banyak oposisi dari para pemuka agama Yahudi, dan ajaran-ajaran-Nya pun tidak kurang membingungkan para murid-Nya! Walaupun orang-orang Farisi telah menyaksikan sendiri mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya, mereka tetap meminta agar Yesus memberikan tanda dari surga (lihat Mrk 8:11-13). Kemudian Yesus mencoba mengingatkan para murid-Nya agar waspada terhadap kemunafikan orang-orang Farisi dan Herodes (dan para pendukungnya), namun pesan-Nya tidak dipahami oleh para murid-Nya (lihat Mrk 8:14-21). Akhirnya, ketika Yesus berupaya untuk menyembuhkan seorang buta di Betsaida, Dia hanya dapat menyembuhkan orang buta itu secara bertahap (lihat Mrk 8:22-26). Orang itu tidak langsung dapat melihat secara penuh – demikian pula kiranya Simon Petrus dan murid-murid yang lain dalam memandang siapa Yesus bagi mereka.

Dengan proklamasinya tentang Yesus sebagai sang Mesias (lihat Mrk 8:29), kelihatannya Petrus akhirnya telah sampai kepada pemahaman tentang siapa Yesus sebenarnya dan mengapa Dia datang ke dunia. Namun, seperti orang buta yang belum sepenuhnya disembuhkan, visi Petrus masih belum jelas. Pada saat Yesus mulai menjelaskan bahwa Mesias “ditakdirkan” untuk menderita dan mati, maka Petrus memprotes. Protes Petrus ini membuktikan bahwa dia (dan murid-murid lainnya) tidak/belum memahami implikasi-implikasi sepenuhnya dari apa yang baru saja dipermaklumkannya dengan begitu meyakinkan. Beberapa menit sebelumnya Petrus memproklamasikan Yesus sebagai Mesias (Kristus) – Yang diurapi oleh Allah – sekarang Petrus malah berselisih pendapat dengan Yesus.

Sekarang, bagaimana halnya dengan kita sendiri? Kita sering sekali memproklamasikan Yesus sebagai Kristus (Mesias), namun masalahnya apakah kita memahami implikasi sepenuhnya dari apa yang kita permaklumkan? Para murid Yesus berpikir bahwa mereka mengetahui apa yang harus diharapkan dari seorang Mesias: peragaan kuasa dan kemuliaan dunia. Mereka tidak memahami bahwa Yesus justru mengalahkan dosa dengan menyerahkan diri-Nya untuk menanggung hukuman yang sebenarnya pantas ditimpakan atas diri kita. Dalam penderitaan sengsara-Nya Tubuh-Nya penuh dengan luka-luka yang merupakan efek-efek dari ketidaktaatan kita.

Sebagian besar dari kita akan setuju bahwa Yesus adalah Mesias. Akan tetapi, sampai berapa jauh kita menghubungkan pernyataan itu dengan kematian-Nya di atas kayu salib? Mungkinkah kita merasa takut untuk melihat ke dalam hati kita sendiri dan melihat kebutuhan kita akan pengampunan dan pembebasan (pelepasan) dari kedosaan kita? Inilah sebenarnya KABAR BAIK YESUS KRISTUS: Yesus telah mengampuni kita; Dia telah memenangkan bagi kita kebebasan kita dari perbudakan dosa. Kita mempunyai seorang Juruselamat yang sangat mengasihi kita, sehingga kita tidak perlu merasa takut untuk melihat ke dalam hati kita, karena Dia sungguh mengetahui apa yang ada di dalam hati kita itu dan Ia pun menawarkan kebebasan dan kasih-Nya kepada kita. Apa yang diminta oleh-Nya dari kita adalah agar kita datang menghadap-Nya dengan rendah hati dan membuka diri kita bagi kasih-Nya yang menyembuhkan.

DOA: Yesus, kami memproklamasikan bahwa Engkau adalah Mesias, Kristus yang diutus oleh Bapa surgawi karena Bapa begitu mengasihi dunia (Yoh 3:16), dan kemudian Engkau menderita karena dosa-dosa kami. Bukalah mata kami lebar-lebar, ya Tuhan Yesus! Tolonglah kami agar mau dan mampu percaya bahwa oleh kematian dan kebangkitan-Mu, Engkau telah mematahkan kuasa dosa dan memberikan kesembuhan bagi siapa saja yang datang menghadap Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:27-33), bacalah tulisan dengan judul “” (bacaan tanggal 20-2-20), dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-2-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Februari 2020 [Peringatan S. Konradus dr Piacenza, Ordo III S. Fransiskus – Sekular] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAHAYA DARI KELIMPAHAN HARTA-KEKAYAAN

BAHAYA DARI KELIMPAHAN HARTA-KEKAYAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Bernardus, Abas Pujangga Gereja – Selasa, 20 Agustus 2019)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat tercengang mereka dan berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mat 19:23-30) 

Bacaan Pertama: Hak 6:11-24a;  Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9,11-14 

Yesus menggambarkan dengan jelas bahaya dari kelimpahan harta-kekayaan. Orang-orang yang materialistis – yang mementingkan materi dalam hidup ini – disibukkan sehari-harinya dengan kekayaan dan kenikmatan-kenikmatan hidup, dan mereka tidak akan menjadi matang (dewasa). Hasrat mereka dan kasih mereka tidak dapat mengembang. Mereka adalah orang-orang yang diperbudak oleh berbagai macam “kebutuhan”, misalnya mode/fashion yang paling akhir, sebuah rumah yang serba lengkap dan mewah dan dua-tiga mobil baru yang mahal-mahal, agar setiap ruang diperlengkapi dengan televisi model terakhir, lemari es yang super-modern dan kerap kali menjamu tamu-tamu penting dengan makanan-minuman pesanan dari perusahaan catering kelas satu. Dengan cara hidup begini, jiwa orang bersangkutan pun dengan cepat dapat tercekik.

Sayang sekali kasih tidak dapat tumbuh dengan subur di mana kekayaan materiil berkelimpahan, karena seseorang harus mengosongkan dirinya agar dapat mengasihi secara murni. Ketamakan dan kecemburuan secara tetap mengancam kasih; harta-kekayaan membuatnya menuntut tanpa belas kasih. Hal tersebut sungguh merusak.

Orang-orang seperti itu mengabaikan upaya-upaya Kristiani untuk menjamin terciptanya keadilan bagi orang-orang yang tertindas, pertolongan bagi orang-orang yang menderita, atau bantuan bagi mereka yang miskin, karena pekerjaan seperti ini terasa tidak mengenakkan, tidak nyaman! Mereka akan memberi sumbangan atau “sedekah” untuk upaya karitatif, hanya jika tidak membutuhkan pengorbanan pribadi. Dalam teori mereka setuju bahwa “setiap orang harus mempunyai kesempatan yang sama”, dan “persamaan hak adalah ide yang baik”, namun mereka tidak pernah mengganggap serius peringatan akan kehampaan dan bahaya dari hidup semata-mata untuk uang, kenikmatan dunia, popularitas dan kekuasaan. Bagi orang-orang jenis ini semua peringatan ini adalah omong-kosong para pengkhotbah saja! Mereka sungguh dikuasai oleh rasa cemburu atau iri hati ketika melihat orang-orang lain yang lebih “hebat”. Kalau mereka diberi kesempatan, maka mereka pun akan tanpa malu-malu mengeruk segala hal yang “baik” dalam kehidupan ini dengan kedua tangan mereka.

Bagaimana dengan Kristus, yang mempunyai segalanya dan mengosongkan diri-Nya? (Flp 2:7). Bagaimana dengan para kudus – para martir, para rasul, para kontemplatif dan mereka yang secara sukarela memilih hidup miskin di segala zaman – yang meninggalkan segalanya untuk mengikuti jejak Kristus dan melayani sesama mereka? Apakah orang-orang ini merupakan orang-orang sinting dan/atau aneh karena hanya mereka saja yang mengetahui bagaimana mengasihi?

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, janji-Mu adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah (bdk. Mzm 12:7). Jagalah diriku dari dosa, ya Tuhan Allahku, walaupun orang-orang kaya tersandung jatuh karena sibuk dengan harta kekayaan mereka, dan para penguasa yang hidupnya hanya untuk hal-hal duniawi juga jatuh dari “takhta” mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MENAWARKAN KESELAMATAN-NYA KEPADA SETIAP ORANG” (bacaan tanggal 20-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 17 Agustus 2019 [HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KENISCAYAAN SALIB

KENISCAYAAN SALIB

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan Wajib S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah [OP], Imam – Kamis, 8 Agustus 2019)

OP: Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat, Imam

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Setelah Yesus tiba di daerah Kaesarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan; Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.

Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.” Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat 16:13-23) 

Bacaan Pertama: Bil 20:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9 

Setelah Yesus mendengar pernyataan Petrus (sebagai wakil para murid) bahwa diri-Nya adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:15). Yesus kemudian berjanji untuk mendirikan Gereja-Nya dengan Petrus sebagai batu karang dan fondasi: “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan aku berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan diatas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:17-19).

Kemudian Yesus memberitahukan kepada para murid-Nya bahwa Dia akan menanggung banyak penderitaan dari para pemuka bangsa dan agama Yahudi, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Langsung saja Petrus menanggapi pemberitahuan Yesus itu, bahwa hal sedemikian tidak harus terjadi. Petrus tidak mengerti! Yesus dengan keras menegurnya dan mengatakan kepadanya, bahwa Petrus tidak boleh melakukan penilaian sekadar berdasarkan standar-standar manusia dan bukannya standar-standar Allah (Mat 16:21-23).

Setelah itu Yesus mulai mengajar tentang syarat seseorang untuk menjadi murid-Nya: SALIB! Salib telah menjadi sebuah batu sandungan tidak hanya bagi Petrus, melainkan juga untuk umat manusia secara umum, sampai hari ini. Pertanyaan yang sering diajukan adalah mengapa orang harus menderita? Mengapa harus salib? Mengapa Kristus  harus mengambil jalan yang begitu menyusahkan dan menyakitkan, agar supaya kita dapat menjadi anak-anak Allah?

“Penderitaan dan kematian” tetaplah merupakan sebuah misteri, namun kita dapat melihat terangnya pada peristiwa-peristiwa dalam alam. Kita melihat di sini adanya “kebenaran-aneh”, …… “paradoks”, bahwa kematian menghasilkan kehidupan. Sebutir benih harus mati agar dapat menghasilkan sebatang tetumbuhan baru. Seorang ibu mengalami sakit bersalin yang luarbiasa untuk dapat membawa kehidupan baru … bayinya! Demikian pula, kita tidak dapat mencapai hidup-kekal tanpa sebelumnya mati terhadap hidup ini.

Kematian Kristus memungkinkan terwujudnya kehidupan-kekal bagi kita. Akan tetapi kita pertama-tama harus ikut ambil bagian dalam kematian-Nya dengan mati terhadap diri sendiri. Yesus sangat jelas tentang hal ini: “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16:24). Tidak ada plus-minus di sini, tidak ada tawar-menawar pula! Sabda Yesus di sini jelas dan penuh empati. Di mana pun dalam Kitab Suci kita dapat membaca bahwa persatuan kita dengan Kristus dikondisikan oleh konformitas kita dengan diri-Nya dalam penderitaan-penderitaan-Nya di atas bumi.

Sehubungan dengan hal ini, Santo Paulus menulis: “Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” (Rm 6:3-5). Jadi, alasan mengapa kita harus menderita bersama Kristus adalah bahwa dengan demikian kita dapat dimuliakan bersama-Nya.

Tanpa salib, tidak ada kemuliaan! Tanpa kematian, tidak ada kebangkitan! Tanpa Hari Jumat Agung, tidak ada hari Paskah! Demikian pula dengan Paskah kita, yaitu kebangkitan kita kepada hidup-baru, baik di dunia maupun dalam kehidupan selanjutnya, tergantung pada bagaimana kita menerima hari Jumat Agung kita selama hidup di dunia.

DOA: Tuhan Yesus, jika aku harus menderita dan mati bersama-Mu, aku percaya bahwa aku juga akan hidup bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-23), bacalah tulisan yang  berjudul “TETAPI APA KATAMU, SIAPAKAH AKU?” (bacaan tanggal 8-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpresscom; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Agustus 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MELAKUKAAN BANYAK KEBAIKAN LAIN JUGA DI LUAR YANG TERCATAT DALAM INJIL

 YESUS MELAKUKAN BANYAK KEBAIKAN LAIN JUGA DI LUAR YANG TERCATAT DALAM INJIL

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 8 Juni 2019)

OFMCap. (Kapusin): Peringatan B. Nikolaus Gesturi, Imam Biarawan

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25) 

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7 

Kitab-kitab Injil adalah anugerah dari Allah bagi kita semua, diinspirasikan oleh Roh   Kudus dan ditulis pada masa Gereja awal, agar kita dapat percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah dan Juruselamat dunia (Yoh 20:31). Kitab-kitab Injil ini tidak memuat semua mukjizat Yesus, melainkan memberi kesaksian tentang kedatangan Yesus sebagai seorang manusia, tentang ajaran-ajaran-Nya dan mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya, dan akhirnya tentang kematian dan kebangkitan-Nya, semuanya itu dengan satu  tujuan: Agar kita dapat ikut ambil bagian dalam hidup-Nya. Karena itu kita membaca bahwa Yesus melakukan banyak hal lain juga, hal-hal yang tidak termasuk/tercatat dalam kitab-kitab Injil itu (Yoh 21:25).

Yesus melakukan banyak lagi hal-hal lain di luar yang diceritakan dalam kitab-kitab Injil, dan oleh Roh Kudus-Nya, Dia terus melakukan banyak hal lagi setelah kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Yesus tidak pernah berhenti bekerja, bahkan sampai sekarang. Umat Kristiani dari abad ke abad – melalui kuat-kuasa Roh Kudus – telah memberi kesaksian tentang kekuatan-Nya, kasih-Nya dan kemuliaan-Nya. Misalnya, khotbah-khotbah Santo Yohanes Krisostomos [c. 345-407] di Konstantinopel menghidupkan kembali isi kitab-kitab Injil, sehingga menarik umat semakin dekat dengan Kristus. Pada saat Santo Fransiskus dari Assisi [1182-1226] merangkul kemiskinan dan menolak potensi warisan besar dari ayahnya, sebenarnya dia mengikuti bimbingan Roh Kudus dan memberi kesaksian tentang kuat-kuasa Allah untuk membawa sukacita, bahkan dalam keadaan yang paling miskin dan sulit sekali pun.

Santa Elizabeth Ann Setton [1774-1821] memberi kesaksian tentang Yesus ketika dia mengajar anak-anak miskin dan mengubah status sosialnya menjadi insan yang hidup dalam kedinaan dan kesederhanaan. Karena karya Roh Kudus dalam dirinya, dia diberdayakan untuk memberikan kesaksian yang dinamis tentang Kristus dalam peranannya sebagai seorang ibu rumah tangga, sebagai seorang ibu, seorang janda dan seorang pendidik di Amerika Serikat yang baru saja merebut kemerdekaannya dari penjajah Inggris.

Setiap hari, selagi kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Roh Kudus, maka kita pun dapat menambah bab-bab baru dalam cerita-cerita Injil. Yesus berjanji bahwa melalui Roh Kudus, kita akan mampu untuk melakukan hal-hal yang bahkan lebih besar daripada yang telah dilakukan oleh-Nya, apabila kita percaya dan mentaati-Nya (Yoh 14:12). Melalui diri kita, Roh Kudus  akan memampukan Yesus untuk melayani dan menyatakan kemuliaan Bapa kepada dunia pada zaman kita ini. Benarlah apa yang ditulis oleh Santo Yohanes Penginjil: “Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh 21:25). Memang tidak mungkinlah dunia ini dapat memuat seluruh kitab yang memberi kesaksian tentang karya mulia Allah dalam kehidupan umat-Nya!

DOA: Roh Kudus, hembuskanlah nafas kehidupan-Mu ke dalam diri kami agar kami dapat memberi kesaksian Injil. Berdayakanlah kami agar dapat melakukan karya-karya yang dilakukan oleh Yesus. Semoga hidup kami dapat menjadi bab-bab baru dalam tawarikh keselamatan dari Allah. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS AKAN MEMPERBAIKI KEKURANGAN-KEKURANGAN KITA (bacaan tanggal 8-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tangal 19-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS JUGA MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA KEPADA KITA MASING-MASING

YESUS JUGA MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA KEPADA KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 7 Juni 2019)

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20 

Apabila kita mau berempati dengan Petrus, mencoba untuk menempatkan diri kita dalam posisinya, barangkali kita dapat memahami rasa sedih yang dirasakan olehnya ketika Yesus yang sudah bangkit itu bertanya kepada dirinya sebanyak tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15-17). Pertanyaan yang diajukan Yesus sebanyak tiga kali itu sungguh membuat Petrus merasa kecil dan tentunya pedih-sakit dalam hati, namun pertanyaan-pertanyaan Yesus ini juga memberi sinyal bahwa Yesus menerima Petrus sebagai kepala para rasul (Latin: primus inter pares; yang utama dari yang sama). Afirmasi Petrus sebanyak tiga kali mengimbangi penyangkalannya sebanyak tiga kali pula terhadap Yesus sebelum penyaliban-Nya.

Inilah hasil dari pengamatan kita, namun inti masalahnya adalah bahwa Yesus menginginkan kasih dari Petrus, sebagaimana Dia menginginkan kasih kita. Setiap hari, dengan bela rasa yang sama tulusnya, Yesus bertanya kepada diri kita masing-masing, “Apakah engkau mengasihi Aku?” 

Kehidupan kita dapat dengan mudah menjadi penuh dengan rasa cemas, rasa takut dan kekurangan-kekurangan lainnya. Kita dapat begitu disibukkan dengan upaya-upaya untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup sampai-sampai kita kehilangan fokus pada apa yang sesungguhnya merupakan persoalan yang paling penting untuk dipecahkan. Di tengah setiap kegiatan, kita harus mohon kepada Roh Kudus untuk mengingatkan kita, bahwa hal yang paling penting adalah apakah kita sungguh mengasihi Yesus.

“Kasih menutupi banyak sekali dosa” (1Ptr 4:8).  Kata-kata ini dipandang sebagai kata-kata Petrus sendiri, tentunya dengan alasan yang baik. Yesus menantang dan membujuk Petrus kembali ke dalam suatu relasi dengan diri-Nya melalui pertanyaan sederhana, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Kasih adalah suatu kharisma ilahi yang memiliki kuasa untuk membuka hati orang-orang agar mampu menerima bahkan kasih yang lebih banyak lagi. Semakin banyak kita mengasihi Allah, semakin banyak pula kita dimurnikan dari kecenderungan-kecenderungan gelap kodrat kedosaan kita. Kasih memperluas perspektif kita dan mengangkat pikiran kita sampai kepada tataran realitas Allah. Kasih bahkan memberikan kepada kita kuasa untuk membebaskan mereka yang diperbudak oleh rasa takut.

Yesus wafat di kayu salib untuk memenangkan kasih kita, bukan ketaatan buta kita. Allah yang sama – yang menciptakan kita masing-masing dengan suatu kehendak bebas – akan mengundang kita menghadap hadirat-Nya dengan suatu pertanyaan yang bersifat terbuka (open-ended question): “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jika kita menjawab “ya”, Dia pun mengutus Roh-Nya secara berlimpah. Kita memasuki suatu relasi yang sebenarnya direncanakan Allah sejak awal dunia ini. Jalannya tidak selalu mulus. Pada kenyataannya, Yesus mengingatkan sebelumnya kepada Petrus “bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah” (Yoh 21:19). Namun demikian kita dapat mengenal dan mengalami suatu sukacita yang istimewa kalau tinggal bersama dengan Tuhan sepanjang hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau. Tolonglah aku bertumbuh semakin dekat dengan diri-Mu, sehingga aku dapat menerima apa saja yang Engkau minta untuk kukerjakan. Aku ingin menjadi pelayan-Mu dan sahabat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA KALI, TIGA KALI DAN TIGA KALI” (bacaan tanggal 7-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Juni 2019 [PERINGATAN S. BONIFASIUS, USKUP MARTIR] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELALUI ROH KUDUS, YESUS MENGULURKAN TANGAN-NYA KEPADA KITA

MELALUI ROH KUDUS, YESUS MENGULURKAN TANGAN-NYA KEPADA KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu, 11 Mei 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Ignasius dr Laconi, Biarawan

Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.

Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida. Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Kata Petrus kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangkitlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Karena Lida dekat dengan Yope, murid-murid yang mendengar bahwa Petrus ada di Lida, menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan, “Segeralah datang ke tempat kami.”  Lalu berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersebar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. (Kis 9:31-42)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 116: 12-17; Bacaan Injil: Yoh 6:60-69 

Dari bacaan beberapa hari lalu kita lihat Lukas menggambarkan pengejaran dan penganiayaan terhadap Gereja di Yerusalem (Kis 8:1-3). Akan tetapi pada hari ini kita membaca Gereja “berada dalam keadaan damai”, …. “dibangun”(Kis 9:31). Mengapa terjadi perubahan seperti itu? Bagian akhir dari ayat ini memberikan alasannya: “hidup dalam takut akan Tuhan dan bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus” (Yoh 9:31). Bilamana kita (anda dan saya) disentuh Roh Kudus, maka kita akan bergerak dalam hidup kita secara bebas dan dengan penuh keyakinan.

Kita melihat kebebasan ini dalam diri Petrus, seorang mantan nelayan biasa yang membuat mukjizat-mukjizat yang serupa dengan mukjizat-mukjizat Yesus sendiri. Apakah Petrus merasa gugup ketika menghadapi kelumpuhan yang diderita Eneas dan/atau kematian Tabita (Dorkas)? Dari bacaan di atas, tidak nampak adanya tanda-tanda kegugupan dalam diri Petrus dalam situasi-situasi yang dihadapinya. Daripada membiarkan dirinya dihinggapi rasa bingung apa yang harus dikatakannya atau bagaimana mengatakannya, rasa percaya Petrus pada Yesus memampukannya untuk bertindak secara bebas dan dengan kesederhanaan yang besar dan mengagumkan. Petrus menggunakan kata-kata sehari-hari yang tidak muluk-muluk. Kepada Eneas yang sudah 8 tahun lamanya terbaring di tempat karena lumpuh, Petrus berkata: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” (Kis 9:34). Kepada Tabita yang sudah menjadi mayat, Petrus berkata; “Tabita, bangkitlah!” (Kis 9:40). Tentu Petrus berdoa sebelum melakukan mukjizat, seperti dalam kasus Tabita di mana tercatat Petrus menyuruh semua orang ke luar, lalu ia berlutut dan berdoa (Kis 9:40). Petrus membuat banyak mukjizat yang memimpin orang banyak berbalik kepada Tuhan (Kis 9:35,42).

Mengamati bagaimana Yesus bertindak melalui Petrus seharusnya membuat kita berpikir. Petrus ini bukanlah seseorang yang mempunyai reputasi sebagai seorang yang fasih berbicara atau berpidato/berkhotbah dan juga bukanlah orang yang dapat mengontrol diri. Sebaliknya dia dikenal sebagai orang yang suka berbicara tanpa pikir-pikir terlebih dahulu, seorang yang suka bertindak secara impulsif. Apabila seseorang yang jauh dari sempurna itu dipanggil untuk melakukan pekerjaan Tuhan, maka apakah tidak mungkin apabila Yesus pun ingin menggunakan kita juga? Bukankah tetap ada kemungkinan bagi kita untuk dapat melayani Dia tanpa harus menjadi sempurna atau sepenuhnya yakin bagaimana harus melangkah selanjutnya?

Kita dapat mencoba mengikuti arahan/pimpinan dari Roh Kudus, namun bagaimana kalau hasilnya tidak positif? Contoh-contoh dari Petrus menunjukkan bahwa Kristus hidup dalam diri kita masing-masing. Secara tetap Dia menawarkan keberanian dan pengharapan. Jadi, kalau memang diperlukan, kita bertobat dan mengakui dosa-dosa kita, kemudian mendengarkan suara Yesus yang lemah-lembut yang akan menolong kita kembali ke rel ….. membangun Kerajaan-Nya. Melalui Petrus, Yesus mengulurkan tangan-Nya sendiri kepada Tabita dan membantunya untuk bangkit berdiri. Demikian pula, melalui Roh Kudus-Nya, Yesus mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Oleh karena itu marilah kita bangkit dalam setiap peristiwa, kita berbicara bebas tentang Kabar Baik kepada setiap orang yang kita jumpai, tentunya seturut dorongan Roh Kudus.

DOA: Tuhan Yesus, dengan kekuatanku sendiri aku tidak akan pernah mampu melakukan hal-hal yang Kaulakukan. Namun demikian Engkau sangat bermurah-hati.

Engkau telah membagikan Roh Kudus-Mu sendiri dengan diriku dan memberdayakanku untuk melakukan pekerjaan-Mu. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Bentuklah hatiku. Aku sungguh ingin menjadi seperti Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan dengan judul “TUHAN, KEPADA SIAPAKAH KAMI AKAN PERGI?” (bacaan untuk tanggal 11-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-4-18)

Cilandak, 9 Mei 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS