Posts tagged ‘PETRUS’

ITU BUKAN URUSANMU !!! [2]

ITU BUKAN URUSANMU !!! [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 3 Juni 2017) 

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25) 

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7 

Selagi kita mendekati penghujung Masa Paskah, kita membaca enam ayat terakhir dari Injil Yohanes yang berisikan sebuah pelajaran yang indah bagi kita.

Dalam penampilan-Nya sebagai Tuhan yang bangkit, Yesus baru saja mengatakan kepada Petrus bagaimana rasul-Nya itu akan menderita penganiayaan dan mengalami kematiannya sebagai martir Kristus. Karena Yesus tidak mengatakan apa-apa tentang kematian Yohanes, Petrus menjadi ingin tahu dan bertanya kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” (Yoh 21:21).

Yesus tidak pernah memberi jawaban langsung terhadap pertanyaan-pertanyaan “kosong” yang diajukan demi memenuhi rasa ingin tahu seseorang. Dalam Injil Lukas, misalnya, ada seseorang yang tertanya kepada Yesus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat ……” (Luk 13:23 dsj.). Jadi, dalam kasus kita kali ini, Yesus juga memberikan jawaban yang seakan mengandung “teka-teki”, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku” (Yoh 21:22). Yesus tidak memberi kepuasan terhadap rasa ingin tahu Petrus. Yesus hanya mengatakan kepada Petrus agar dia benar-benar mengikuti jejak-Nya, sampai kepada penyalibannya. Itulah yang penting!

Mengapa kita begitu ingin tahu tentang perkara-perkara orang-orang lain? Mengapa kita bertanya mengenai cara-cara Allah dalam mengasihi masing-masing kita sebagai individu. Yesus seakan berkata kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus dan Yohanes adalah Yohanes. Aku tidak dapat memperlakukan kamu berdua secara sama. Aku harus menghargai individualitasmu masing-masing, karunia-karuniamu yang istimewa.” Patut dicatat bahwa kebenaran ini tidak hanya berlaku di kalangan kaum awam dalam Gereja, melainkan juga berlaku di kalangan para anggota pimpinan Gereja.

Seringkali kita merasa iri hati dan kesal karena Allah kelihatannya memperlakukan orang-orang lain dengan kasih yang melebihi kasih-Nya kepada kita sendiri. Bagaimana hal ini sampai terjadi? Allah adalah kasih. Kasih Allah itu tanpa batas kepada setiap orang tanpa kecuali. Kita harus belajar untuk menerima kasih-Nya bagi kita dan cara Dia mengasihi kita, walaupun kadang-kadang kita tidak memahaminya. Mulai saat ini, janganlah sampai kita merasa kurang dikasihi ketimbang orang-orang lain.

Allah kita adalah “Allah yang cemburu” (lihat Kel 34:14). Ia menginginkan setiap relasi-Nya dengan anak-anak-Nya merupakan relasi yang sepenuhnya personal dan unik.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihiku secara sangat mempribadi. Aku sungguh berbahagia karena di mata-Mu aku adalah seorang pribadi yang istimewa. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan dengan judul “MENGASIHI YESUS DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA” (bacaan tanggal 3-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Juni 2017 [Peringatan S. Yustinus, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Kamis, 18 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

Sesudah berdebat beberapa waktu lamanya, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka, “Hai Saudara-saudara, kamu tahu bahwa sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraanku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Allah, yang mengenal hati manusia, memberi kesaksian untuk mereka dengan mengaruniakan Roh Kudus kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak membeda-bedakan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya bahwa melalui anugerah Tuhan Yesus Kristus kita akan diselamatkan sama seperti mereka juga.”

Lalu diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceritakan segala tanda dan mukjizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di antara bangsa-bangsa lain. Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus, “Hai Saudara-saudara, dengarkanlah aku: Simon telah menceritakan bahwa pada mulanya Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: Kemudian aku akan kembali dan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan bahkan segala bangsa yang atasnya nama-Ku disebut, demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui sejak semula. Sebab itu aku berpendapat bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari hal-hal yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.” (Kis 15:7-21)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10; Bacaan Injil: Yoh 15:9-11

Pada waktu orang-orang non-Yahudi mulai menerima Injil, maka Gereja perdana yang semula hanya terdiri dari orang-orang Kristiani Yahudi (baik Yahudi-Palestina maupun Yahudi-Helinis[tis]), harus bergumul dengan suatu isu yang mungkin saja tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya: Apa hubungannya antara mengikuti Hukum Musa dan mengikuti Yesus? Sungguh suatu isu yang pelik. Ada kelompok yang percaya sekali bahwa para pengikut Yesus harus melanjutkan menepati seluruh hukum Allah yang telah diberikan melalui Musa. Mereka bersikukuh bahwa persyaratan ini juga harus diterapkan tidak hanya pada orang Yahudi, tetapi juga pada orang-orang “kafir” yang ingin bergabung ke dalam Gereja/Jemaat.

Orang-orang Yahudi Kristiani ini memang tidak berpandangan bahwa mereka dapat diselamatkan oleh kepatuhan mereka pada Hukum Musa ini. Akan tetapi mereka memandang ketaatan pada hukum itu sebagai jalan untuk menanggapi intervensi Allah dalam kehidupan mereka. Allah telah memberikan kepada mereka suatu relasi dengan diri-Nya, dan memelihara hukum-Nya merupakan jalan sentral bagi mereka untuk memelihara relasi dengan Allah itu. Dengan demikian, orang-orang Yahudi Kristiani ini berpikir bahwa hukum harus tetap berperan sentral dalam tanggapan mereka kepada Allah – bahkan setelah kedatangan Yesus  dan perjanjian baru dalam darah-Nya.

Di lain pihak orang-orang Yahudi Kristiani yang lain, seperti Paulus dan Petrus tidak sependapat dengan kelompok tadi. Bagi kelompok Paulus dkk. hukum Musa seharusnya tidak lagi menempati tempat sentral dalam relasi umat dengan Allah. Sebaliknya, Yesus-lah yang harus menjadi pusat!!! Tentu hukum tetap harus menjadi panduan kita untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, namun tanggapan kita terhadap Allah haruslah difokuskan pada  “mengikuti jejak Kristus”. Konflik ini terangkat ke permukaan sejak adanya beberapa orang Yahudi Kristiani yang datang mengunjungi gereja di Antiokhia. Ketika krisis memuncak, diputuskanlah untuk membawa isu ini ke sidang sebuah konsili di Yerusalem.  Jangan bayangkan Konsili Yerusalem ini diselenggarakan dengan tenang. Perhatikanlah kata “debat” dalam bacaan di atas (Kis 15:7). Ini adalah pertarungan antara para pembela doktrin-doktrin yang berbeda secara prinsipiil.

Pemimpin Gereja di Yerusalem adalah Yakobus saudara Tuhan Yesus (lihat Gal 1:18-19), dan dalam hal ini tugasnya memang tidak mudah. Petrus tidak berbicara lembek dalam konsili ini. Satu kalimatnya yang keras: “Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?” (Kis 15:10).

Yakobus  adalah seorang Yahudi yang sangat saleh, tetapi dia memiliki satu ciri seorang pemimpin yang baik: dia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk mendengarkan! Sikap yang ditunjukkan Yakobus cukup luwes: dia tidak membuang segala tradisi, dan secara hati-hati melalukan discernment apakah yang kiranya cocok untuk gereja “campuran” yang semakin bertumbuh-kembang. Yakobus patuh pada rencana Allah sehingga konflik yang ada pun dapat diselesaikan dengan tetap memelihara kesatuan dan persatuan dalam Gereja perdana.

Lihatlah betapa pentingnya kita saling mendengarkan, bahkan lebih penting lagi mendengarkan “suara” Roh Kudus! Begitu mudah kita jatuh cinta pada ide-ide kita sendiri, lalu kita menutup telinga terhadap suara-suara yang lain. Ingatlah, kalau kita begitu mencintai ide-ide kita sendiri, bisa-bisa kita lupa dan luput mencintai Allah dan saudari-saudara kita. Dalam situasi sedemikian kita menjadi target yang empuk dari tipu-daya si Jahat. Lihatlah sejarah perpecahan dalam Gereja yang sungguh merupakan skandal, dan hal itu jelas tidak sesuai dengan maksud Yesus mendirikan Gereja-Nya. Allah sungguh berhasrat melihat kita mengalami kesatuan dan persatuan yang penuh kasih dan sukacita secara mendalam. Dia sendiri mohon kepada Bapa agar kita menjadi satu (Yoh 17:11). Allah akan melakukan hal itu – hanya kalau kita memperkenankan-Nya membuat diri kita orang-orang yang mau mendengarkan, mau belajar dan mau mengasihi.

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah aku seorang pendengar yang baik! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-11), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA HAL: KASIH, KETAATAN DAN  SUKACITA” (bacaan tanggal 18-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA

YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu,  6 Mei  2017) 

Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.

Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida. Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Kata Petrus kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangkitlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Karena Lida dekat dengan Yope, murid-murid yang mendengar bahwa Petrus ada di Lida, menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan, “Segeralah datang ke tempat kami.”  Lalu berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersebar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. (Kis 9:31-42)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-17; Bacaan Injil: Yoh 6:60-69 

Petrus  berkata kepada Eneas yang lumpuh untuk bangkit dan memberesi tempat tidurnya, dan orang lumpuh itu sembuh seketika (Kis 9:33-34). Kemudian di Yope Petrus berdoa dan kemudian mengatakan kepada jenazah Tabita: “Tabita, bangkitlah!”; maka Tabita yang sudah mati itu bangkit dan hidup lagi (Kis 9:36-41). Sungguh merupakan mukjizat-mukjizat menakjubkan yang dilakukan Petrus dan para murid Yesus lainnya. Jika kita lihat sejarah Gereja – khususnya sejarah para kudus – maka kita dapat membaca cerita-cerita tentang S. Fransiskus dari Assisi, S. Antonius dari Padua, S. Padre Pio dari Pietrelcina, Santo Don Bosco, dll. yang berdoa dengan penuh kuat-kuasa untuk menyembuhkan, baik ketika mereka masih hidup di atas bumi dan bahkan setelah mereka wafat. Cerita-cerita itu cukup untuk membuat anda menjadi takjub dan terkesima. Apakah para kudus itu mengetahui sesuatu yang kita tidak tahu?

Kebenarannya adalah bahwa di belakang setiap mukjizat, ada sumber unik yang sama: Yesus Kristus. Apakah Petrus sendiri memiliki sejumlah talenta atau karunia/anugerah luarbiasa untuk menyembuhkan orang sakit atau membangkitkan orang yang sudah mati? Apakah para kudus memiliki kuasa ilahi atau kuasa ajaib yang menyebabkan mereka mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin kita dapat lakukan? Tentu saja tidak! “Rahasia” dari keberhasilan, sukses, atau kehebatan mereka adalah Yesus, Tuhan yang sudah bangkit.

Namun kalau dikatakan sebagai “rahasia”, itu juga tidak sepenuhnya benar. Misalnya Petrus secara terbuka mengatakan kepada Eneas: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” (Kis 9:34). Tidak ada pekerjaan/karya penyembuhan yang dapat terlaksana dengan kekuatan dan upaya manusia, melainkan hanya oleh kuat-kuasa Yesus yang dimohonkan melalui doa. Sebelum membangkitkan Tabita, Petrus menyuruh setiap orang untuk ke luar ruangan, kemudian dia “berlutut dan berdoa” (Kis 9:40). Kita pun dapat berdoa dalam iman, dengan ekspektasi akan hal-hal luarbiasa dari Yesus. Yesus adalah sumber belas kasih (kerahiman) dan penyembuhan dari Siapa Petrus memperoleh kuat-kuasa untuk menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Tabita.

Dalam doa, kita dapat memohon kesembuhan jiwa dan raga bagi diri kita sendiri. Kita dapat berpartisipasi dalam pelayanan penyembuhan Allah dengan berdoa untuk seseorang yang sedang menderita sakit dan/atau membutuhkan pertolongan. Kelihatannya mengandung risiko atau menakutkan, atau bahkan menggoncang diri kita untuk berani melangkah  dan berdoa dengan cara begini. Namun kita akan mulai memohon dengan penuh keyakinan apabila kita berpikir bagaimana Bapa surgawi ingin mencurahkan  kesembuhan dan kasih atas diri kita. Bahkan apabila kita tidak menerima mukjizat-mukjizat yang kita mohon, hal itu bukanlah berarti bahwa ada cacat atau kekurangan dalam iman kita atau iman orang lain. Allah mempunyai alasan-alasan-Nya sendiri. Walaupun begitu, apa pun yang terjadi kita dapat ikut ambil bagian dalam keyakinan para kudus bahwa Dia mendengarkan. Allah akan senantiasa menggunakan sarana yang paling “pas” (hanya Dia yang mengetahui) untuk memenuhi rencana-Nya bagi hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang besar kepadaku, yang memberikan kepadaku keyakinan untuk mendekati-Mu dalm iman dan memohon kesembuhan dari-Mu dalam nama Putera-Mu, Yesus Kristus. Semoga darah-Nya membersihkan diriku selagi Roh Kudus-Mu bergerak dengan penuh kuasa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan dengan judul “YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH” (bacaan tanggal 6-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Mei 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERTEMU DENGAN YESUS YANG SUDAH BANGKIT

BERTEMU DENGAN YESUS YANG SUDAH BANGKIT

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI MINGGU PASKAH KEBANGKITAN TUHAN, 16 April 2017) 

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Kemudian datanglah Simon Petrus yang menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain. Sesudah itu, masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. (Yoh 20:1-9) 

Bacaan Pertama: Kis 10:34a.37-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1-2.16-17.22-23; Bacaan Kedua: Kol 3:1-4 atau 1Kor 5:6-8

Selagi kita merayakan Hari Minggu Paskah, marilah kita menyoroti laki-laki pertama yang memasuki kubur Yesus yang sudah kosong. Petrus tentunya melangkah masuk ke dalam kubur dengan perasaan yang bercampur-baur dan hati yang gundah gulana. Mungkin saja ada secercah harapan dalam dirinya bahwa Yesus masih hidup sehingga  masih ada kesempatan untuk rekonsiliasi setelah dia menyangkal-Nya sampai tiga kali.

Melihat kain kafan yang terletak di tanah dan kain peluh yang terlipat tersendiri di tempat yang lain, membuat Petrus teringat pada tindakan-tindakannya yang menyebabkan “nasib” Yesus yang berakhir secara tragis seperti itu. Ada pergumulan (batin) dalam dirinya: “Mula-mula aku omong besar bagaimana aku setia kepada-Nya, namun kemudian aku mengkhianati Dia: aku menyangkal Dia, bahkan sampai tiga kali. Sekarang, jika benar-benar Yesus telah dibangkitkan, aku harus menghadapi Dia. Yesus mengetahui bahwa aku seorang pengecut dan pengkhianat. Maukah Yesus menerimaku kembali?” Sementara pandangan Petrus begitu negatif, lainlah halnya dengan Yesus. Yesus mempunyai suatu cara pendekatan yang berbeda. Yesus melihat hati Petrus yang terdalam dan melihat bahwa ada cintakasih sang murid kepada diri-Nya walaupun dia memiliki kekurangan dan kelemahan sebagai pribadi.

Mari kita coba membayangkan percakapan pertama antara Petrus dan Tuhan Yesus yang telah bangkit. “Mengapa Engkau masih mau bertemu dengan diriku, Tuhan? Aku telah mengkhianatimu!” “Semua sudah berlalu Petrus, itu masa lalu. Aku mengetahui hatimu dan aku mengetahui juga cintakasihmu kepada-Ku. Bila Roh Kudus datang, kamu akan dikuatkan melampaui apa yang kamu dapat bayangkan. Oleh karena itu, tenanglah dan tetaplah hatimu penuh damai. Aku ingin agar engkau menjaga domba-domba-Ku.”

Seperti Petrus, kita semua pun pernah “omong besar” dan membuat pernyataan-pernyataan “hebat” tentang hidup kita atau tentang iman kita. Kita pun semua pernah merasa malu sendiri pada waktu realitas tidak “pas” dengan klaim-klaim kita tersebut. Pastilah kita semua mempunyai – sedikit banyak – sifat Petrus dalam diri kita masing-masing.

Jadi, apa yang harus kita (anda dan saya) lakukan ketika kita bertemu dengan Yesus yang sudah bangkit pada hari Minggu Paskah ini? Pertama-tama, marilah kita membuang pandangan-pandangan negatif kita atas diri kita sendiri. Bukankah Paulus telah menulis dengan jelas keyakinannya: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31). Kedua, marilah kita mendengarkan Yesus ketika Dia mengatakan kepada kita bahwa Dia mengetahui betapa dalam kita mengasihi-Nya. Marilah kita memperkenankan kata-kata penuh kasih dari Yesus ini untuk menggerakkan kita melangkah ke tengah dunia untuk ikut serta memelihara domba-domba-Nya. Semoga berkat Allah senantiasa menyertai anda sekalian, teristimewa pada hari Paskah ini.

DOA: Segala puji syukur kuhaturkan kepada-Mu, ya Tuhan Yesus. Engkau telah mengalahkan dosa dan maut. Segala puji syukur bagi-Mu, ya Putera Allah, karena Engkau telah mengangkat diriku untuk berada bersama-Mu sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “PASKAH: KEBANGKITAN YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 16-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  15 April 2017 [HARI SABTU SUCI] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFSIT

SERATUS KALI LIPAT

SERATUS KALI LIPAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII Selasa,  28 Februari 2017) 

1-0-jesus-christ-super-starLalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang karena aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, atau saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau ibunya atau bapanya, atau anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mrk 10:28-31) 

Bacaan Pertama: Sir 35:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-8,14,23 

Bacaan hari ini dapat dipandang sebagai sebuah penghiburan yang memberikan rasa lega, apabila dibandingkan dengan kata-kata Yesus yang keras (the hard sayings of Jesus) yang baru saja diucapkan-Nya kepada para pengikutnya. Yesus memang seorang radikal yang sering membuat kata-kata serta tindakan-tindakan-Nya menggoncang hati mereka yang mendengar atau melihat-Nya. Ketika si orang muda-kaya datang mendekati Yesus, ada rasa bangga atas dirinya sendiri karena sebagai seorang Yahudi dia selama itu telah berhasil mematuhi perintah-perintah Allah. Namun Yesus menanggapi pertanyaan orang muda-kaya itu dengan menetapkan beberapa tuntutan yang sungguh mengagetkan bagi seluruh dunia dari abad ke abad.

Tuntutan-tuntutan Yesus yang keras ini telah “melahirkan” para anggota Gereja yang menjadi tokoh-tokoh pembaharuan penuh dedikasi seperti Santo Benediktus [480-547], Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226], Santo Dominikus [1170-1221], Santo Ignatius dari Loyola [1491-1556], Santa Teresa dari Avila [1515-1582], dll., juga sekian banyak anggota yang berdedikasi dari berbagai tarekat religius atau katakanlah “keluarga rohani” dalam Gereja. Para perempuan dan laki-laki kudus ini praktis mengikuti secara literer kata-kata yang diucapkan oleh Yesus ketika Dia menanggapi pertanyaan si orang-muda kaya itu: “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21).

saint-peter-100Perihal kata-kata Yesus ini tidak ada “kalau begini” atau “kalau begitu”. Seorang murid Yesus adalah dia yang sepenuhnya melepaskan diri dari setiap hal dan setiap orang. Dalam kata-kata Yesus, seorang murid “melepaskan rumahnya, saudari dan saudaranya, ibu dan ayahnya, anak-anaknya atau harta-kekayaannya” bagi Yesus dan bagi Injil. Yesus memang seorang pemimpin yang radikal! Seorang murid Yesus yang sejati adalah seseorang yang secara total-penuh melekat pada Yesus dan Kerajaan-Nya yang baru. Orang itu harus mengistimewakan Yesus di atas segala sesuatu yang dicintai dunia. Seorang murid Yesus yang “awam” boleh-boleh saja diberkati oleh Allah dengan harta-kekayaan, kekuasaan dll. namun semua itu tidak boleh menjadi berhalanya (idola-nya). Yang boleh dikejar-kejar dan disembah olehnya hanyalah  Tuhan saja!

Tuntutan radikal dari Yesus sungguh mengejutkan para murid-Nya, apalagi ketika Dia mengatakan: “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Mat 10:23). Yesus melanjutkan: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mrk 10:24-25). Para murid semakin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang akan diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab sregala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:26-27).

Sejarah para kudus, para anggota Gereja Kristus yang penuh dedikasi dari segala tempat dan masa, menunjukkan kepada kita bahwa Allah sungguh dapat memberi anak-anak-Nya kuasa untuk melakukan dedikasi secara total kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah menjanjikan para murid-Mu ganjaran sebanyak seratus kali lipat pada masa ini, masa yang akan datang dan akan menerima kehidupan kekal, apabila mereka setia dalam mengikuti jejak-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu jagalah kami agar senantiasa menjadi murid-Mu yang patuh dan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:28-31); bacalah tulisan yang berjudul “IA AKAN MENERIMA HIDUP YANG KEKAL” (bacaan tanggal 28-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

Jakarta, 26 Februari 2017 [HARI MINGGU BIASA VIII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TIKET MASUK KE DALAM SURGA

TIKET MASUK KE DALAM SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Senin, 8 Agustus 2016) 

PETRUS SECARA AJAIB MENEMUKAN KOIN DALAM IKANPada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27) 

Bacaan Pertama: Yeh 1:2-5,24-2:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14 

Pada zaman Yesus, orang laki-laki di seluruh “dunia” mendukung Bait Suci di Yerusalem dengan cara setiap tahun membayar pajak yang relatif tidak besar jumlahnya (Mat 17:24). Dengan membayar pajak termaksud seseorang diidentifikasikan sebagai seorang anggota dari komunitas Yahudi, walaupun orang itu tidak berpartisipasi dalam ibadat penyembahan di dalam Bait Allah. Jadi, tidak mengherankanlah jika Yesus dan para murid-Nya diharapkan untuk membayar pajak termaksud.

Namun Yesus mempertanyakan asumsi ini. Karena para penguasa dunia tidak membebankan pajak atas diri para sanak-saudaranya, apakah Allah menuntut pembayaran pajak dari anak-anak-Nya? Petrus mempunyai ekspektasi bahwa Yesus – yang telah diakuinya sebagai Anak Allah – akan membayar pajak itu (Mat 16:16). Akan tetapi Petrus sesungguhnya belum memahami sepenuhnya kebebasan yang diberikan oleh Yesus kepada mereka yang ikut ambil bagian dalam martabat-Nya yang bersifat ilahi  sebagai Anak Allah.

Seperti Petrus, sampai berapa sering kita luput melihat keuntungan-keuntungan yang sebenarnya kita dapat peroleh karena posisi kita sebagai anak-anak Allah? Yesus telah membuat diri kita menjadi para pewaris surga bersama diri-Nya. Melalui Yesus kita mempunyai akses kepada Bapa surgawi. Allah sangat senang meluangkan waktu dengan anak-anak-Nya dan melimpah-limpahkan kasih-Nya kepada anak-anak-Nya. Kita tidak perlu membayar apa-apa lagi agar dapat dengan bebas menyembah Dia atau mendengar suara-Nya.

Kontribusi keuangan yang kita buat untuk gereja-gereja bukanlah dimaksudkan sebagai “tiket” tanda masuk kita ke surga. Seharusnya itu mencerminkan rasa syukur kita atas rahmat Allah dan hasrat kita untuk mendukung Gereja dalam karya evangelisasi, pelayanan bagi orang-orang yang membutuhkan, menolong penegakan damai dan keadilan bagi orang-orang yang kurang beruntung (bdk. Ul 10:18).

Sebagaimana Yesus memperhatikan pembayaran pajak Bait Suci a.n. Petrus dan diri-Nya sendiri dengan mukjizat penangkapan seekor ikan (Mat 17:27), Dia juga telah memperhatikan “tiket masuk” kita ke dalam bait surgawi Allah melalui penderitaan sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus. Pintu-pintu masuk Kerajaan Allah telah dibuka bagi semua orang oleh Kristus, dan Bapa surgawi sekarang menyambut kita dengan tangan-tangan terbuka.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kebebasan yang telah Kauberikan kepadaku menghadap hadirat-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Allahku dan aku menggantungkan diri sepenuhnya pada kasih-Mu padaku. Tidak ada seautu pun lainnya yang kuinginkan, selain duduk bersimpuh di hadirat-Mu dan dalam kasih mencurahkan hati kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU” (bacaan tanggal 8-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-8-14) 

Cilandak, 5 Agustus 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS PUN AKAN BERTANYA KEPADA KITA

YESUS PUN AKAN BERTANYA KEPADA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam – Kamis, 4 Agustus 2016) 

saint-peter -100Setelah Yesus tiba di daerah Kaesarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan; Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.

Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.” Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat 16:13-23) 

Bacaan Pertama: Yer 31:31-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-15,18-19 

Di sini kita berjumpa dengan sebuah titik balik dari Injil, suatu bacaan yang menyatakan tidak hanya siapa Yesus sebenarnya, melainkan juga apa Gereja itu dan peranan Petrus di dalamnya. Ini dilanjutkan dengan prediksi Yesus yang pertama mengenai sengsara dan kematian-Nya.

Di dekat kota Kaesarea Filipi di bagian paling utara dari Israel, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat fundamental kepada para murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”  (Mat 16:13). Beda dengan Injil Markus di mana Yesus menyebut diri-Nya dengan kata “Aku” (lihat Mrk 8:27), di sini Matius mencatat bahwa Yesus menggunakan gelar “Anak Manusia”, yang dalam Injil dipakai untuk menggambarkan Yesus dalam pelayanan-Nya serta sengsara-Nya di atas bumi dan juga kedatangan-Nya kembali ke dunia dalam kemuliaan (bdk. Mat 25:31; Dan 7:13). Pandangan atau pendapat tentang Yesus waktu itu memang tinggi, namun tidak ada yang sampai mengenali atau mengakui-Nya sebagai sang Mesias.

Herodus Antipas telah berbicara mengenai Yesus sebagai Yohanes Pembaptis yang sudah bangkit dari antara orang mati (Mat 14:2). Orang-orang lain berpikir mengenai Elia yang datang kembali dan orang-orang lain lagi berpikiran mengenai nabi Yeremia (hal ini hanya ada dalam Injil Matius). Pada tingkatan tertentu khotbah-khotbah Yesus mungkin mengingatkan orang-orang akan nabi Yeremia, namun pada tahapan suntingan oleh Matius, Yeremia adalah nabi yang menderita yang membuat prediksi tentang kejatuhan Yerusalem dan sang nabi ditolak oleh orang-orang, suatu gambaran awal dari Yesus sendiri. Namun identitas menurut “kata orang” tidak cukup bagi para murid Yesus. Matius secara progresif telah memisahkan para murid dengan orang banyak, dan sekarang sampailah mereka kepada moment of truth yang tidak dapat dihindari…… pengakuan pribadi mereka tentang siapa Yesus itu.

Seperti biasanya dalam Injil, Petrus berbicara sebagai juru bicara para murid: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:17). Ini adalah pengakuan penuh bahwa Yesus adalah sang Mesias yang dinanti-nantikan itu. Pengakuan seperti itu belum pernah dibuat oleh murid Yesus yang mana pun sampai saat itu. Namun pemahaman Petrus yang orisinal tentang “Mesias” masih mengandung pengertian-pengertian seturut pemikiran politis dan duniawi masa itu. Hal itu dikoreksi oleh Yesus dengan cepat. Walaupun begitu, pengakuan Petrus itu merupakan pengakuan Kristiani yang benar. Petrus malah menambah dengan frase “Anak Allah yang hidup”. “Allah yang hidup” adalah yang digunakan untuk TUHAN dalam Perjanjian Lama untuk membedakan-Nya dengan ilah-ilah mati dari bangsa-bangsa lain. Pengakuan Petrus ini ditanggapi oleh Yesus dengan memberikan “tugas besar” kepada Yesus yang didahului dengan “ucapan bahagia”: “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. …… Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:17-19).

SIAPAKAH AKU INI - MAT 16Yesus memberi nama Petrus kepada Simon. Petrus (bahasa Aram: Kepha) berarti “batu karang”. Seperti perubahan nama Abram menjadi Abraham, maka perubahan nama Simon menjadi Petrus atau batu karang ini terfokus secara unik pada misinya. Abraham adalah gunung batu yang daripadanya umatnya terpahat, dan lobang penggalian batu yang dari padanya umat tergali (Yes 51:1-2). Petrus akan menjadi batu fondasi di atas mana Yesus akan membangun Gereja-Nya. Matius adalah satu-satunya kitab Injil yang menggunakan kata ekklesia (Gereja dalam bahasa Yunani, dua kali disebut; lihat Mat 18:17). Dalam Septuaginta (Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani), ekklesia berarti sidang umat yang dipanggil ke luar dari Mesir oleh TUHAN. Di antara orang Kristiani kata ekklesia dengan cepat menggantikan kata yang lebih terbatas, yaitu “sinagoga” yang digunakan oleh bangsa Yahudi untuk sidang jemaat lokal mereka.

Pada janji-Nya untuk mendirikan gereja-Nya di atas Petrus, Yesus menambahkan satu janji lainnya yang cukup mengejutkan: “alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18). Di sini Yesus menjanjikan bahwa  Gereja-Nya tidak akan mati dari berbagai kekuatan yang memusuhinya, termasuk segala kuasa kegelapan. Kepada Petrus pribadi diberikanlah oleh-Nya “kunci Kerajaan Surga” (Mat 16:19). Sungguh semuanya ini merupakan berkat bagi Petrus.Setelah itu Yesus mulai memberitahukan kepada murid-murid-Nya untuk pertama kalinya tentang penderitaan-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga (Mat 16:21). Kita semua mengetahui bagaimana Petrus menanggapi pemberitahuan Yesus tersebut (lihat Mat 16:22) dan apa reaksi Yesus (Mat 16:23). Teguran Yesus itu kiranya membuat bingung Petrus. Ia tidak mampu membedakan antara dua tanggapannya. Dalam dua kesempatan itu, Petrus mencoba melakukan hal yang terbaik menurut pikirannya. Namun dua hal itu mengundang dua macam reaksi dari Yesus.

Tidak ada seorang rasul pun yang lebih dekat dengan Yesus daripada Petrus. Ketika peristiwa itu terjadi, Petrus sudah hidup segalang-segulung dengan Yesus untuk hampir tiga tahun lamanya. Akan tetapi, setelah sekian lama hidup bersama Yesus dan sekian banyak pelajaran yang diberikan Yesus, Petrus masih saja tidak selalu dapat membedakan antara suara Allah dan suara Iblis.

Kita tidak tahu apa yang memotivasi Petrus untuk mencoba meyakinkan Yesus agar tidak merangkul salib. Barangkali dia tidak ingin melihat Yesus pergi meninggalkan dirinya. Barangkali dia tidak dapat menanggung beratnya pikiran bahwa Guru-Nya akan menderita secara begitu tidak adil. Kita hanya tahu bahwa seperti juga Petrus, kita semua mempunyai mindsets yang sudah usang, yang walaupun didasarkan niat yang baik, akan tetap mempengaruhi kemampuan kita untuk melakukan discernment guna mendengar suara Allah yang sesungguhnya.

Jadi, apakah yang harus kita lakukan? Jawabnya: ikutilah jejak Petrus! Kita dapat membayangkan bahwa setelah episode ini Petrus secara privat bertemu dengan Yesus dan menanyakan kepada-Nya apa sebenarnya kesalahan yang telah dibuatnya. Kita juga dapat membayangkan bagaimana dengan sabar Yesus menjelaskan kepadanya, membuatnya lebih percaya diri agar dia dapat melakukan discernment terhadap gerakan-gerakan Roh Kudus dalam hati dan pikirannya.

Pertanyaan Yesus yang diajukan kepada para murid-Nya juga akan ditanyakan kepada kita masing-masing, teristimewa selagi kita membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci: “Siapakah Aku ini?” Jawaban terhadap pertanyaan Yesus ini adalah tanggung jawab kita masing-masing sebagai murid-Nya. Untuk menjawab pertanyaan Yesus itu, karunia untuk membeda-bedakan roh (discernment) adalah suatu keniscayaan. Allah memang senantiasa ingin menganugerahkan karunia yang khusus ini, namun hal ini memerlukan ketekunan dari pihak kita. Dalam setiap kesempatan yang ada, marilah kita bertanya kepada Roh Kudus apakah pikiran-pikiran kita dan tindakan-tindakan kita sesuai dengan rencana Allah atau melawan rencana Allah. Dengan berjalannya waktu kita pun dapat menjadi semakin yakin dan mampu melakoni perjalan ziarah kita di atas bumi ini seperti yang telah berhasil dilakukan oleh Petrus dan murid-murid Yesus lainnya.

DOA: Tuhan Yesus, janganlah lewatkan daku. Ajukanlah pertanyaan-Mu kepadaku dan tolonglah aku agar supaya dapat menjawab pertanyaan-Mu sebagai murid-Mu yang baik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-23), bacalah tulisan yang berjudul “KARUNIA MEMBEDA-BEDAKAN ROH” (bacaan tanggal 4-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpresscom; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 2 Agustus 2016 [Pesta S. Maria Ratu para Malaikat, Portiuncula) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS