Posts tagged ‘PERUMPAMAAN TENTANG PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR’

MOVE TERAKHIR SANG PEMILIK KEBUN ANGGUR

MOVE TERAKHIR SANG PEMILIK KEBUN ANGGUR

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII-TAHUN A, 8 Oktober 2017)

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktkunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Mat 21:33-43) 

Bacaan Pertama: Yes 5:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:9,12-16,19-20; Bacaan Kedua: Flp 4:6-9 

Ini adalah perumpamaan Yesus yang sangat kaya makna dengan ajaran-Nya yang bersifat paling komprehensif dalam Injil sinoptik tentang Yesus dan kematian-Nya yang menyelamatkan dalam sejarah keselamatan. Ayat pembukaannya yang  menggambarkan seorang tuan tanah yang memiliki kebun anggur, mengingatkan orang Yahudi yang mana saja akan “Nyanyian tentang kebun anggur” dari kitab Yesaya: “Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur, Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam”  (Yes 5:1-2).

Bacaan dari Kitab Yesaya mengidentifikasikan kebun anggur sebagai “kaum Israel” (rumah Israel). Jadi, kebun anggur di sini melambangkan Israel (Yes 5:7). Namun jika dalam Kitab Yesaya penghakiman Allah dijatuhkan atas kebun anggur karena tidak mampu menghasilkan buah anggur yang baik, maka dalam perumpamaan Yesus hari ini fokus-nya adalah pada para penggarap yang menghalang-halangi sang pemilik kebun anggur untuk memperoleh anggur hasil kebunnya. Yang dimaksudkan sebagai para penggarap jahat ini adalah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Akhirnya mereka mengerti bahwa diri merekalah yang dimaksud oleh Yesus (Mat 21:45). Hal ini penting karena di bagian lain Injil Matius para pembaca memperoleh kesan bahwa Yesus ditolak oleh seluruh orang Yahudi, padahal pada kenyataannya para pemimpin korup Yahudilah yang menentang-Nya habis-habisan, walaupun sebagaimana sering terjadi dalam sejarah dunia, para pemimpin sedemikian mendatangkan tragedi atas bangsa mereka sendiri.

Pada zaman Yesus adalah hal biasa apabila kita menemukan adanya pemilik kebun anggur yang tidak menilik kebunnya dari hari ke hari (Inggris: absentee landlords). Secara periodik dia akan mengutus “inspektur” dan pada saat panen mengirim agennya untuk mengklaim bagian sang pemilik kebun anggur. Dalam perumpamaan ini, para hamba yang diutus oleh sang pemilik kebun untuk mengklaim bagiannya mengalami pemukulan, dilempari batu, atau dibunuh. Tidak ada manusia yang menjadi pemilik kebun akan dapat bersabar menghadapi kejahatan para penggarap kebunnya seperti ini. Namun apabila yang dimaksudkan dengan “hamba-hamba”-nya adalah para nabi (lihat Am 3:7; Yer 7:25; 25:4; Za 1:6), maka sang pemilik kebun anggur adalah Dia yang kesabaran-Nya dan penderitaan-Nya yang lama sungguh-sungguh ilahi. Artinya, sang pemilik kebun anggur itu adalah Allah sendiri.

Akhirnya sang pemilik kebun anggur melakukan move terakhir, yaitu mengutus anaknya sendiri. Tidak akan ada lagi move lain! Begitu besar hasrat sang pemilik kebun anggur itu untuk memperoleh anggur hasil dari kebun anggurnya sehingga dia bersedia menanggung risiko mengutus anaknya sendiri. Pikirnya, tentu para penggarap akan menghormati sang anak, yang sama baiknya dengan sang pemilik kebun anggur (Mat 21:37). Anaknya itu bukanlah seorang hamba. Dengan demikian, jelaslah bahwa Yesus (Anak Bapa) itu lebih dari sekadar seorang nabi (hamba)! Ketika melihat sang anak, maka para penggarap yang jahat itu jelas berasumsi bahwa sang pemilik kebun anggur sudah meninggal dunia dan sang anak telah mewarisi kebun anggur itu (mereka memanggil sang anak sebagai “ahli waris”; lihat Mat 21:38). Para penggarap itu menangkap sang anak dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Yesus juga dibunuh pada kayu salib di luar Yerusalem. Kematian sang anak adalah klimaks dari cerita perumpamaan ini. Yesus “meramalkan” kematian-Nya sendiri di tangan mereka kepada siapa Dia menceritakan perumpamaan ini, walaupun baru pada ayat 45-lah kiranya mereka memahami ceritanya.

Yesus bersabda bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari bangsa Israel dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu (Mat 21:43). “Buah” seringkali digunakan dalam Injil Matius untuk “pekerjaan-pekerjaan baik”, tanda dari kebenaran lebih besar yang diproklamasikan Yesus dan diharapkan oleh-Nya dari para murid-Nya. Yesus bersabda: “Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20).

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Maharahim, setiap kali aku hendak menghakimi seseorang yang membalas kebaikanku kepadanya dengan kejahatan, perkenankanlah Roh Kudus-Mu menyadarkan diriku akan kebenaran bahwa apa yang kulakukan kepada Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, juga tidak lebih baik. Ini kulakukan kepada-Nya – sadar maupun tidak sadar – dari hari ke hari. Inilah balasanku terhadap rahmat yang Kaucurahkan kepadaku. Bapa, ampunilah aku anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR” (bacaan tanggal 8-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-10-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

PERUMPAMAAN TENTANG PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR

PERUMPAMAAN TENTANG PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Jumat, 21 Maret 2014) 

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMEN“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi. (Mat 21:33-43,45-46)

Bacaan Pertama: Kej 37:3-4,12-13,17-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 

Perumpamaan Yesus yang sedikit terselubung tentang “para penggarap kebun anggur (yang jahat)” sebenarnya merupakan sebuah peringatan kepada para imam kepala dan orang-orang Farisi. Israel adalah kebun anggur Allah, dan para pemimpinnya adalah para penggarap yang jahat. Allah telah mempercayakan kepada mereka tanggung-jawab untuk melayani umat/rakyat Israel, dan mereka telah mengkhianati kepercayaan itu. Para nenek moyang mereka membunuh nabi-nabi Allah yang diutus dari abad ke abad, dan sekarang mereka akan membunuh Anak-Nya yang tunggal. Orang-orang Farisi memahami pesan Yesus dalam perumpamaan ini, dan hal ini hanya membuat mereka semakin berketetapan hati untuk membunuhnya. Karena berkonfrontasi dengan para pemimpin agama Yahudi dengan cara begini, maka memulai serangkaian peristiwa yang pada akhirnya membawa diri-Nya ke kayu salib di Golgota.

275px-Geertgen_Man_van_smartenDengan menyitir Mzm 118:22 (Mat 21:42), Yesus bernubuat bahwa orang-orang Farisi akan menolak diri-Nya, sang “batu penjuru.” Mengapa? Karena mereka gagal untuk melihat apa, bagaimana dan siapa sebenarnya diri mereka sendiri. Orang-orang Farisi memandang-tinggi diri mereka sendiri. Karena mereka tidak mampu melihat dosa mereka sendiri, maka mereka tidak mengakui adanya kebutuhan mereka akan seorang Juruselamat. Karena mereka mengklaim telah mengikuti segala peraturan yang ada, dan karena orang-orang lain datang memohon bimbingan dari mereka, mereka membiarkan kuasa dan prestise mereka menyelubungi dosa mereka dan kebutuhan mereka akan keselamatan.

Bayangkan berapa banyak orang sepanjang 2.000 tahun ini yang telah membuat kesalahan yang sama. Pada setiap zaman, orang-orang yang memiliki kekuasaan, orang-orang yang hidup nyaman dan kaya-raya seringkali menolak Yesus. Barangkali lebih mudah bagi orang-orang miskin, orang-orang sakit, dan orang-orang yang yang tersisihkan dalam masyarakat melihat kebutuhan mereka akan seorang penyelamat. Ini adalah orang-orang yang merangkul Yesus ketika Dia berada di dunia. Orang-orang itu tidak dapat berpaling ke mana-mana kecuali kepada Yesus, yang mereka percayai sebagai Dia yang dapat membuat diri mereka utuh: sang Juruselamat sejati!

Kita hidup di sebuah dunia di mana kata “dosa” jarang terdengar dan di mana pilihan pribadi digunakan sebagai pembenaran terhadap kejahatan. Seperti orang-orang Farisi, mata (hati) kita dapat dibutakan sehingga tidak dapat melihat adanya kebutuhan akan pengampunan. Akan tetapi, yang pasti adalah bahwa kita semua rentan terhadap dosa – terhadap keserakahan, terhadap kesombongan, terhadap kemasa-bodohan. Menyadari kebutuhan kita, mengakui dosa-dosa kita dan memohon belaskasih Allah – ini adalah sikap-sikap hati yang dapat membuka diri kita bagi suatu relasi dengan Tuhan Yesus yang lebih mendalam dan lebih penuh. Ia senantiasa menantikan kita dengan tangan-tangan terbuka untuk mengampuni kita, menghibur kita dan menyembuhkan kita. 

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah batu penjuru hidup kami. Berikanlah kepada kami keberanian dan kerendahan-hati agar dapat melihat kebutuhan kami akan diri-Mu. Tolonglah kami untuk datang kepada-Mu sehinga Engkau dapat menyentuh kami dan membuat kami menjadi pribadi-pribadi yang utuh. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43,45-46), bacalah tulisan yang berjudul “BATU YANG DIBUANG MENJADI BATU PENJURU” (bacaan tanggal 21-3-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-03 BACAAN HARIAN MARET 2014. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “SEBUAH PERUMPAMAAN PENTING BAGI SETIAP WARGA GEREJA” (bacaan tanggal 1-3-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 37:3-4,12-13,17-28), bacalah tulisan yang berjudul “KISAH YUSUF BIN YAKUB” (bacaan untuk tanggal 9-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-3-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Maret 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS