Posts tagged ‘PERUMPAMAAN TENTANG MUTIARA’

DI MATA BAPA SURGAWI KITA ADALAH ANAK-ANAK-NYA YANG SANGAT DIKASIHI-NYA

DI MATA BAPA SURGAWI KITA ADALAH ANAK-ANAK-NYA YANG SANGAT DIKASIHI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori – Rabu, 1 Agustus 2018)

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46) 

Bacaan Pertama: Yer 15:10,16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 59:2-5a,10-11,17-18

Adalah suatu praktek umum dalam dunia kuno bagi orang-orang untuk menyembunyikan barang-barang berharga milik mereka di dalam tanah. Teristimewa dalam masa-masa peperangan, keluarga-keluarga seringkali “menanam” barang-barang berharga mereka sebelum mereka meninggalkan tempat mereka untuk melarikan diri (mengungsi) ke tempat lain, dengan harapan dapat kembali ke tempat tinggal mereka  dan mengambil kembali harta mereka yang ditanam itu, apabila keadaan sudah pulih kembali. Yesus tahu bahwa para pendengar-Nya familiar dengan praktek-praktek yang disebutkan di atas. Dengan demikian Ia mengetahui bahwa para pendengar-Nya itu akan memahami sukacita besar dan excitement yang dirasakan seseorang yang menemukan harta-benda yang telah lama terpendam itu.

Lagi-lagi, dalam menggunakan ilustrasi “mutiara”, Yesus yakin bahwa para pendengar-Nya mengetahui bahwa mutiara dinilai sebagai benda yang sangat berharga dan relatif mahal. Di samping nilainya secara moneter, orang-orang juga melihat keindahannya. Dalam menggunakan contoh-contoh ini, Yesus mengilustrasikan nilai dan keindahan Kerajaan Allah yang luarbiasa tingginya, di samping itu juga Dia mengilustrasikan sukacita besar yang dialami seseorang karena mengenal dan mengalami kasih Allah.

Sekarang, baiklah kita (anda dan saya) membayangkan diri kita sebagai harta kekayaan atau mutiara yang tak ternilai harganya itu. Bayangkan Allah sangat menghargai kita karena Dia tahu sekali nilai kita yang sebenarnya dan Ia ingin memiliki diri kita. Bagi banyak dari kita, hal ini dapat menjadi sulit. Kita dapat memandang diri kita sebagai barang “BS” …… damaged goods …… “nggak mulus lagi” …… karena dosa-dosa dan segala kesalahan dan kegagalan dalam mematuhi perintah-perintah-Nya. Kita dapat merasa bahwa kita telah melakukan sesuatu yang menjadikan diri kita tidak pantas, bahkan tak dapat diampuni lagi, pokoknya …… penuh noda!

Tetapi kebenarannya adalah bahwa Yesus sudah sedemikian lama mencari-cari kita; Dia ingin berjumpa dengan kita. Dia telah memberikan segalanya, diri-Nya sendiri, bahkan sampai mati kayu salib, agar kita dapat menjadi anak-anak Bapa-Nya dan bersama-sama dengan-Nya menjadi pewaris-pewaris harta kekayaan Kerajaan Allah. O, kita sungguh mempunyai “seorang” Allah luarbiasa. “Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi. Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut ……” (Santo Fransiskus dari Assisi, Anggaran Dasar Tanpa Bulla, XXIII:9). Di mata-Nya kita adalah anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya, sangat berharga, bahkan bisa jadi jauh lebih berharga daripada “harta” dan “mutiara” dalam dua perumpamaan di atas.

Saudari dan Saudaraku, marilah kita membuat diri kita agar dapat dijumpai oleh Yesus pada hari ini. Janganlah kita menyembunyikan dosa-dosa kita, termasuk kesombongan kita. Janganlah kita mencoba-coba untuk membuat diri kita kelihatan baik di mata-Nya. Dia telah memanggil kita masing-masing sebagai harta-kekayaan-Nya sendiri. Dia rindu untuk datang masuk ke dalam hati kita dan membuat kita masing-masing ikut ambil bagian dalam kehidupan-Nya – suatu kehidupan sukacita, penuh damai-sejahtera dan pelayanan bagi orang-orang lain. Marilah kita menyambut Dia dalam doa kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu, agar dengan demikian aku menjadi harta kesayangan-Mu. Aku adalah milik-Mu sepenuhnya! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan dengan judul “PENEMUAN HARTA TERPENDAM DAN MUTIARA” (bacaan tanggal 1-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Jakarta, 31 Juli 2018 [Peringatan S. Ignatius dr Loyola, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARTA TERPENDAM ATAU MUTIARA INDAH ADALAH YESUS SENDIRI

HARTA TERPENDAM ATAU MUTIARA INDAH ADALAH YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Rabu, 2 Agustus 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Maria Ratu para Malaikat, Portiunkula 

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46) 

Bacaan Pertama: Kel 34:29-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-7,9

Dapatkah anda membayangkan menjual segalanya yang anda miliki? Pertukaran macam apa yang mungkin memotivasi  anda untuk membuat transaksi yang begitu drastis dan radikal? Yesus menggambarkan adanya harta terpendam di sebuah ladang, dan sebutir mutiara yang indah. Akan tetapi, apa sebenarnya semua ini? Bagi seorang ahli geologi tentunya nilai sepotong batu permata lain sekali dengan apa yang dilihat oleh seorang arkeolog, atau seorang isteri boss konglomerat yang senang bersolek dan berpesta-pora. Bagaimana pun juga “beauty is in the eye of the beholder, kata orang yang berbahasa Inggris, artinya “keindahan atau kecantikan itu tergantung mata siapa yang memandangnya”. Nah, ngomong-ngomong soal “eye of the beholder” ini, maka di mata para rabi Yahudi, Yesus hanyalah seorang guru agama keliling Yahudi yang menyebabkan kepala para penguasa Romawi di tanah Palestina sedikit pusing.

Akan tetapi tentunya sekarang kita lebih mengetahui daripada para pemuka agama Yahudi itu. Dari abad ke abad banyak sekali orang  meninggalkan segalanya yang mereka miliki untuk dan demi mengikuti Yesus, seperti halnya dengan orang-orang yang diceritakan dalam perumpamaan-perumpamaan singkat di atas, dan mereka pun telah memperoleh ganjaran dari Yang Ilahi, jauh melampaui mimpi mereka yang paling ‘gila’ sekali pun. Kita masing-masing pun tentunya sudah sedikit banyak sempat memandang “batu permata atau mutiara yang sangat indah” yang bernama Yesus ini. Ingat-ingatlah lagi di mana saja, kapan saja, dengan cara yang bagaimana saja hati anda pernah merasa tersentuh dan mata anda pun terbuka bagi hal-hal yang sebelumnya tak terlihat, misalnya ketika menyanyikan doa BAPA KAMI dalam perayaan Ekaristi. Kalau tak bisa mengingatnya, maka renungkanlah betapa jauh langkah yang telah dibuat Yesus untuk menebus anda. Renungkanlah sengsara yang sedemikian dahsyat yang harus diderita-Nya agar supaya dosa-dosa kita dapat diampuni. Biarlah kebenaran-kebenaran ini meyakinkan anda bahwa anda dapat mendengar hikmat yang diucapkan-Nya bagi kehidupan anda. Biarlah semuanya itu membuktikan kepada anda bahwa meskipun dalam kemuliaan-Nya, Yesus ingin merendahkan diri-Nya agar dapat berbicara dengan anda. Dia bahkan ingin memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri sebagai asupan makanan bergizi-tinggi bagi kehidupan spiritual anda!

Bagi orang-orang tertentu, Yesus adalah sumber pembebasan/pelepasan dari pola-pola dosa yang telah mereka gumuli bertahun-tahun lamanya. Bagi orang-orang lain, Ia mungkin adalah seorang penyembuh dan penyelamat sebuah perkawinan yang sudah berada di ambang kehancuran, atau pemulih suatu relasi orangtua dan anak yang sudah genting serta berbahaya. Mungkin Ia juga telah menyembuhkan secara fisik seseorang dari penyakit tertentu, atau dari depresi dan lain-lain.

Adakah yang lain lagi, yang lebih menarik daripada Yesus, Juruselamat, Penebus, dan Pembebas kita ini? Cintakasih tanpa syarat yang dilimpah-limpahkan-Nya ke atas diri kita, kebebasan dari dosa, persekutuan dengan Roh-Nya di dalam diri kita, janji akan kehidupan kekal di surga bersama-Nya. Semua hal ini dapat menggerakkan kita setiap hari agar kita dapat memberikan sedikit lebih lagi bagian kehidupan kita, sehingga dengan demikian pada suatu hari kita sudah sepenuhnya menyerahkan diri kepada-Nya. Yesus memang harus menjadi pusat kehidupan kita!

Pengalaman pribadi akan sentuhan-Nya dalam kehidupan seseorang tidak dapat diperdebatkan. Pengalaman akan Yesus itu melampaui segala kemampuan untuk menulisnya sebagai sebuah kisah. Para penulis riwayat hidup Orang Kudus, misalnya Santo Fransiskus dari Assisi, tidak dapat menceritakan bagaimana detilnya pengalaman pribadi orang kudus ini akan Allah/Yesus. Yang jelas, setelah perjumpaan pribadi dengan-Nya, hidupnya pun diubah secara drastis, dan dia pun menghayati hidup Injili secara radikal.

DOA: Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu! Engkau adalah harta paling berharga yang aku dapat miliki, dan Engkau dengan bebas-merdeka telah memberikan diri-Mu sendiri bagiku. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu sambil melepas segalanya yang lain, sehingga dengan demikian Engkau dapat hidup di dalam diriku, dan aku dalam Engkau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan yang berjudul “DI MATA BAPA SURGAWI KITA ADALAH ANAK-ANAK-NYA YANG SANGAT DIKASIHI-NYA” (bacaan tanggal 2-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Agustus 2017 [Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS