Posts tagged ‘PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM’

APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?

APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 27 Juli 2019)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Perawan (Ordo II)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama: Kel 24:3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1-2,5-6,14-15

Pernahkah anda menanam benih rumput yang bagus untuk taman pekarangan anda, dan belakangan anda menyaksikan ada juga rumput alang-alang perusak halaman yang tumbuh bersama dengan rumput mahal? Jika begitu halnya, maka anda barangkali memahami apa yang dipikirkan oleh para hamba pemilik ladang dalam perumpamaan di atas: cabutlah lalang itu sekarang juga, karena tumbuhan itu hanya merusak tumbuhan gandum! Sebuah keputusan yang memberi kesan cepat-tepat!

Akan tetapi bagaimana dengan orang yang menaburkan benih gandum itu? Apa dan bagaimana reaksinya? Ia langsung mengetahui dari mana lalang itu berasal. Namun tidak seperti para hambanya, dia lambat marah terhadap perbuatan licik musuhnya, dan hal ini memampukannya untuk berpikir secara jernih dan mengambil keputusan yang tepat tentang bagaimana menangani masalahnya. Dengan sabar, bahkan penuh belas kasihan, dia bersedia untuk membiarkan lalang itu bertumbuh, demi hasil gandum yang baik di akhir cerita. Tindakannya juga adil, karena meski dia menanti sampai waktu menuai, dia sungguh-sungguh menyuruh bakar lalang yang sudah diikat berberkas-berkas itu, dan gandum pun dikumpulkan ke dalam lumbungnya.

Perumpamaan ini menunjukkan kepada kita bahwa apabila Allah menyatakan diri-Nya kepada kita, kita dapat merasa bersalah dan bahkan terkutuk, karena rancangan Allah bukanlah rancangan kita, dan jalan-Nya bukanlah jalan kita (lihat Yes 55:8). Kita bertanya: “Mengapa tidak langsung saja mencabut lalang dan biarkan gandum itu bertumbuh?” Respons tergesa-gesa seperti itu menunjukkan bahwa kita perlu merefleksikan lebih lanjut satu hal: Sebagai ‘siapa’ Allah menyatakan diri-Nya? Allah kita bukanlah ‘seorang’ Allah yang langsung menghukum. Ia adalah Allah yang panjang sabar yang menawarkan setiap “lalang” kesempatan untuk diubah menjadi “gandum”. Selagi kita mulai sedikit memahami kerahiman Allah dan kesabaran-Nya, maka hati kita dapat disentuh dengan suatu hasrat untuk ikut ambil bagian dalam misi-Nya mentransformir dunia kita sehingga dapat menjadi lahan yang subur dan menghasilkan buah. Kita semua mengakui bahwa musuh dapat menaburkan benih lalang, namun Allah tetap yakin bahwa Dia dapat membawa kebaikan dan mengalahkan kejahatan.

Santa Katarina dari Siena pernah mengatakan bahwa Allah adalah “lautan yang dalam”: “semakin banyak yang kita cari, semakin banyak pula yang kita temukan, dan semakin banyak yang kita temukan, semakin banyak pula yang kita cari.” Pada waktu kita berdoa, ketika kita membaca Kitab Suci, bahkan perumpamaan-perumpamaan Yesus yang paling sederhana sekali pun, Ia mengejutkan kita dengan pernyataan-Nya yang tak sebagaimana diharap-harapkan sebelumnya: pernyataan kasih-Nya, kerahiman-Nya, kesenangan-Nya serta sayang-Nya akan ciptaan-Nya. Singkat cerita: Allah menjungkirbalikkan asumsi-asumsi kita dan membuktikan bahwa diri-Nya lebih setia dan jauh lebih penuh dengan kuat-kuasa daripada apa yang kita pernah bayangkan!

DOA: Bapa surgawi, selagi aku berdoa dan membaca Kitab Suci pada hari ini, tunjukkanlah kepadaku dengan lebih jelas lagi siapa sebenarnya Engkau. Aku ingin mengenal kuat-kuasa-Mu untuk mengubah hati manusia – bahkan hatiku sendiri juga – agar dapat menjadi gandum yang terbaik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN YESUS TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 27-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignatius dr Loyola – Selasa, 31 Juli 2018)

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Yer 14:17-22; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

Bacaan Injil hari ini adalah penjelasan Yesus atas “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30). Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Dalam pelayanan-Nya di tengah masyarakat, Yesus menyerang ekslusivitas yang ditemukan-Nya dalam masyarakat Yahudi, dipromosikan teristimewa oleh orang-orang Farisi, namun dipraktekkan juga oleh kelompok-kelompok lainnya.

Yesus membentuk komunitas-Nya yang terdiri dari para pemungut cukai/pajak, para pendosa, dan juga orang-orang terhormat dalam masyarakat. Praktek ini pada gilirannya berlaku dalam Gereja setelah kebangkitan Kristus, yang sekarang merupakan campuran tidak hanya antara orang-orang yang berbeda-beda kelas sosial melainkan juga antara para kudus dan para pendosa, antara mereka yang terus mencoba untuk hidup seturut ekspektasi Yesus yang tinggi dan orang-orang tidak/kurang peduli terhadap ekspektasi Yesus. Kecenderungan dari orang-orang yang disebutkan belakangan adalah santai dan ikut-angin, sementara orang-orang yang disebutkan duluan dapat menjadi tidak sabar dan ingin melakukan upaya bersih-bersih secepatnya.

Perumpamaan ini seperti sebatang pedang yang bermata dua. Bagi mereka yang santai-malas ada penghakiman yang tidak dapat ditawar-tawar. Bagi mereka yang tergesa-gesa ingin berbenah, perumpamaan ini menganjurkan adanya kesabaran, karena waktu itu sendiri adalah rahmat, dan apa yang dinilai sebagai ilalang pada saat itu dapat saja pada akhirnya sebenarnya adalah gandum, atau sebaliknya.

Seandainya Augustinus dari Hippo dan Charles de Foucauld dihakimi atas dasar peri kehidupan mereka semasa muda, maka mereka tidak pernah akan menjadi orang-orang kudus Gereja. Hal ini bukan berarti bahwa sebuah komunitas tidak berhak untuk menetapkan standar-standar keanggotaan tertentu. Namun memang ada suatu semangat yang tidak sabar untuk mencapai kesempurnaan, hal mana kurang serasi dengan belas kasih dan kesabaran yang ditunjukkan Bapa surgawi (lihat “Perumpamaan tentang anak yang hilang” [Luk 15:11-32]).

Penjelasan atas perumpamaan di atas terdapat dalam Mat 13:36-43, bacaan Injil dalam Misa Kudus hari ini. Di dalam penjelasan ini dilakukan alegori dari unsur-unsurnya dan memperluas ajarannya. Ladang bukan Gereja, melainkan dunia. Pemisahan antara orang-orang yang diselamatkan dan tidak bukanlah antara anggota Jemaat/Gereja dan mereka yang berada di luar Gereja, karena ada orang yang berada di luar Gereja yang akan diselamatkan dan ada yang sekarang berada di dalam Gereja namun tidak diselamatkan. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat 7:21; lihat juga 7:22).

(Adaptasi dari George T. Montague, SM, COMPANION GOD – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, hal. 157-158)

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami, dan Engkau adalah Guru Agung kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu pada hari ini, teristimewa untuk penjelasan yang Kauberikan atas “Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum”. Karena belas kasih dan kesabaran-Mu, banyak dari kami yang sebenarnya masih termasuk kategori “lalang” diberi kesempatan untuk pada akhirnya menjadi gandum. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 31-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

Jakarta, 30 Juli 2018 [Hari Raya Pemberkatan Katedral Semarang] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBERADAAN LALANG DI ANTARA GANDUM

KEBERADAAN LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 28 Juli 2018)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama: Yer 7:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11

Dalam “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” ini, Yesus tidak hanya berbicara mengenai “orang baik” dan “orang jahat” di dalam dunia ini, melainkan juga mengenai unsur-unsur terang dan gelap yang ada di dalam Gereja kita. Suatu pandangan realistis tentang Kristianitas harus menunjukkan kepada kita bahwa ada orang-orang dalam Gereja yang menjadi begitu akrab dengan irama dosa, keduniawian dan si Jahat sehingga mereka sungguh merupakan ancaman atas kehidupan orang-orang Kristiani lainnya.

Contohnya, antara lain adalah kasus-kasus skandal perilaku seks yang menjijikkan serta memalukan, ulah sejumlah imam gereja Katolik di Amerika Serikat dan juga di Eropa, yang terus menerus dibongkar sejak beberapa tahun lalu. Tuntutan-tuntutan pengadilan dalam uang yang besar jumlahnya sempat membuat keuskupan-keuskupan tertentu di Amerika Serikat menjadi berada di ambang kebangkrutan keuangan. Belum lagi luka-luka batin dan akar kepahitan yang bertumbuh untuk waktu lama dalam diri para korban pelecehan seksual termaksud. Sangat terpujilah kenyataan, bahwa Sri Paus telah minta maaf atas perilaku tak senonoh para imamnya, namun kita semua juga tahu bahwa perkara hukum akan berjalan terus, apalagi kalau yang muncul di atas permukaan dan dihebohkan itu baru puncak dari sebuah gunung es. Seorang imam Indonesia, guru dan teman yang saya hormati, sekian tahun lalu pernah mengirim e-mail kepada saya dengan nada sedih. Beliau menulis a.l. begini: “Saya melihat, kecuali persoalan kelainan seksual, ada soal ketidakadilan yang dibuat oleh para imam yang sakit yang tidak peka itu. Ada suatu kecenderungan bahwa Gereja hancur dari dalam, karena ulah gembala yang memangsa dombanya. Saya yakin, kalau para gembala kehilangan sense of justice dalam pelayanan mereka dan dalam relasi-relasi mereka, risiko yang sama bisa terjadi pula di Indonesia, dalam bentuk yang lain. … Anyway, saya tetap mencintai Gereja Kristus ini dalam segala keterbatasannya.” Sebuah catatan yang mengharukan, yang perlu ditanggapi oleh kita umat awam dalam doa-doa syafaat untuk para imam kita secara konstan.

Yesus mengingatkan para murid-Nya – sampai hari ini pun Ia masih terus mengingatkan – tentang kebutuhan dalam Gereja. Para Bapak Konsili Vatikan II dengan jujur mengakui: “Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (Lumen Gentium, 8). Akan tetapi, …… di sinilah justru kita harus berhati-hati. Peranan kita bukanlah untuk mengindentifikasikan lalang-lalang yang ada dalam paroki, atau dalam keuskupan dst. dan lalu mencoba menangani perkara ini sendiri. Menghakimi orang secara semena-mena barangkali juga merupakan suatu bentuk lalang yang sangat merusak dan satu tanda yang paling jelas dari pekerjaan si Jahat, “pendakwa saudara-saudara  seiman kita” (Why 12:10). Yesus mengetahui sekali betapa cepat kita menghakimi orang-orang lain. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita untuk selalu “mengeluarkan dahulu balok dari mata kita, agar kita dapat melihat dengan jelas serpihan kayu dari saudara kita” (lihat Mat 7:1-5). Dalam kenyataannya, kita sesungguhnya tidak ingin “mencabut orang-orang yang tidak baik” – karena kita sendiri pun sebenarnya tidak pantas untuk Kerajaan Surga. Kita menyimpan “benih-benih buruk” dalam hati kita masing-masing. Cara terbaik untuk menjamin adanya perlindungan atas Gereja adalah untuk mohon kepada Roh Kudus agar menolong kita memeriksa batin kita sendiri dan membebaskan diri kita dari dosa. Beginilah firman YHWH semesta alam: “Perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu” (Yer 7:3).

Allah tidak menginginkan kita menghakimi diri kita sendiri dan orang-orang lain tanpa belas kasih. Ia menginginkan kita mendoakan diri kita sendiri dan juga untuk Gereja. Dengan cara ini, secara bertahap kita pun akan menjadi para peniru Yesus, yang selalu berdoa syafaat bagi kita masing-masing di hadapan takhta Allah Bapa, karena Yesus hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara kita (lihat Ibr 7:25). Kita menjadi seperti Anak Domba Allah yang rindu untuk melihat setiap orang dibebaskan dari yang jahat dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, Allah khalik langit dan bumi. Selagi Engkau mengamati hati umat-Mu, tentunya Engkau melihat lalang yang tumbuh dalam diri kami semua. Namun Engkau juga melihat bahwa Putera-Mu terkasih juga berdiam dalam diri kami masing-masing. Tolonglah kami untuk menyerahkan diri kami seratus persen kepada Yesus, sehingga Gereja-Mu dapat menjadi terang sejati bagi dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 7:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG-ORANG ISRAEL TELAH MEMBUAT SESUATU YANG SUNGGUH KUDUS MENJADI BERHALA” (bacaan tanggal 28-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Juli 2018 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus de Liguori, Uskup Pujangga Gereja – Selasa, 1 Agustus 2017)

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Bacaan Injil hari ini adalah penjelasan Yesus atas “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30). Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Menurut Dr. William Barclay (THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Matthew – Volume 2 – Chapters 11-28, Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1975 [Revised Edition], hal. 74), dalam hal pelajaran-pelajaran yang diberikan maka ini adalah salah satu perumpamaan yang paling praktis yang pernah diajarkan oleh Yesus. Berikut ini adalah saduran bebas saya dari pemikiran Dr. William Barclay yang tertuang dalam buku termaksud, hal. 74-75.

  1. Perumpamaan ini mengajar kita bahwa selalu akan ada suatu kekuasaan jahat di dalam dunia, yang berupaya dan menantikan saatnya untuk menghancurkan benih yang baik. Dari pengalaman dapat dilihat adanya dua jenis pengaruh yang bekerja dalam kehidupan kita. Yang pertama adalah pengaruh yang menolong benih-benih dunia menjadi subur dan bertumbuh, dan yang kedua adalah pengaruh yang berupaya untuk menghancurkan benih yang baik, bahkan sebelum benih itu dapat menghasilkan buah.
  1. Perumpamaan ini mengajar kita betapa sulit untuk membedakan antara mereka yang ada dalam Kerajaan dan mereka yang tidak. Seorang pribadi manusia dapat kelihatan baik namun faktanya dia buruk. Sebaliknya, seseorang dapat kelihatan jelek/buruk namun pada kenyataannya dia baik. Kita terlalu cepat mengklasifikasikan orang-orang dan memberi mereka “label” baik atau buruk tanpa mengetahui semua fakta.
  1. Perumpamaan ini mengajar kita untuk tidak cepat-cepat menilai/menghakimi orang. Apabila para penuai bekerja menurut kehendak mereka sendiri, maka mereka akan langsung saja mencoba untuk mencabut lalang, dengan demikian mereka akan mencabut juga gandum yang ada. Penghakiman harus menanti saat tuaian. Seorang pribadi manusia pada akhirnya akan dihakimi, tidak oleh satu-dua tindakannya semasa hidupnya, melainkan oleh keseluruhan hidupnya. Penghakiman baru dapat terlaksana pada titik akhir. Seseorang dapat saja membuat suatu kesalahan besar, kemudian menyesali perbuatannya itu, dan oleh rahmat Allah dia melakukan pertobatan yang membuat sisa hidupnya menjadi sebuah persembahan yang indah bagi Allah. Sebaliknya, seseorang dapat saja menjalani hidup saleh, namun kemudian mengalami kehancuran hidup disebaban keruntuhan akhlak serta kejatuhannya ke dalam jurang dosa. Tidak ada seorang pun yang hanya melihat sebagian saja dari satu keseluruhan dapat memberi penilaian atas keseluruhan tersebut. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hanya sebagian saja dari kehidupan seseorang dapat memberi penilaian atas keseluruhan pribadi orang tersebut.
  1. Perumpamaan ini mengajar bahwa penghakiman datang pada titik akhir. Penghakiman tidak datang dengan tergesa-gesa, tetapi pasti datang. Berbicara secara manusiawi, seseorang dapat saja seorang pendosa menghindari konsekuensi-konsekuensi dosanya, namun ada kehidupan yang akan datang. Berbicara secara manusiawi, kebaikan tidak pernah kelihatan akan memperoleh ganjarannya, tetapi ada sebuah dunia baru untuk memperbaiki ketidakseimbangan di masa lampau.
  1. Perumpamaan ini mengajar bahwa satu-satunya Pribadi yang berhak untuk menghakimi adalah Allah. Allah saja-lah yang dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Hanya Allah-lah yang melihat semua aspek/bagian dari seorang manusia dan seluruh kehidupannya. Hanya Allah-lah yang dapat menghakimi.

Dengan demikian, pada akhirnya dapat dikatakan bahwa perumpamaan ini mempunyai dwifungsi: (1) sebagai peringatan agar kita tidak menghakimi orang lain; dan (2) sebagai peringatan bahwa pada akhirnya datanglah penghakiman dari Allah sendiri.

DOA:  Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengingatkan lagi kepada kami ajaran-Mu yang menekankan bahwa kami tidak boleh menghakimi orang lain. Penghakiman adalah hak Bapa surgawi semata. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]” (bacaan tanggal 1-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Juli 2017 [Peringatan S. Ignatius dr Loyola, Imam – Pendiri Tarekat SJ] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM (2)

PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI  MINGGU BIASA XVI [TAHUN A] – 23 Juli 2017)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama:  Keb: 12:13,16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:5-6,9-10,15-16; Bacaan Kedua: Rm 8:26-27; Bacaan Injil (versi panjang): Mat 13:24-43

Bacaan Injil untuk hari ini cukup panjang. Saya mengambil versi yang singkat berdasarkan pertimbangan praktis. Dalam “perumpamaan tentang lalang di antara gandum”, Yesus berbicara tidak hanya mengenai orang-orang baik dan orang-orang jahat di dunia, melainkan juga mengenai unsur-unsur terang dan gelap yang ditemukan di dalam Gereja. Suatu pandangan yang realistis tentang Kekristenan (Kristianitas) harus mampu menunjukkan kepada kita bahwa ada orang-orang dalam Gereja yang menjadi sedemikian terbiasa terbawa arus dosa, keduaniawian, dan si Jahat sehingga hal-hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi hidup orang-orang Kristiani lainnya.

Yesus memperingatkan para murid-Nya – dan Ia terus saja memperingatkan kita – tentang kebutuhan-kebutuhan Gereja. Para bapak Konsili Vatikan II mengakui, “Gereja merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri. Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (Lumen Gentium, 8). Namun di sinilah kita harus berhati-hati. Peranan kita bukanlah untuk mulai mengidentifikasikan “lalang-lalang” yang ada dalam paroki atau dalam gereja yang lebih besar dan mencoba sendiri menangani dan berurusan dengan mereka semua. Dengan demikian berarti kita menghakimi mereka. Penghakiman atas diri orang lain barangkali juga merupakan lalang yang sangat bersifat destruktif dan satu dari tanda-tanda yang paling jelas dari karya Iblis, “pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita” (Why 12:10).

Menyadari bahwa betapa cepat kita dapat menghakimi orang-orang lain, Yesus memperingatkan kita agar selalu memperhatikan balok yang ada di mata kita sendiri sebelum kita mencoba mengeluarkan serpihan kayu dari mata saudara kita (Mat 7:1-5). Dalam kenyataannya kita tidak ingin melihat dicabutnya semua “orang jelek”, karena kita sendiri tahu betapa tidak ada artinya diri kita sendiri dalam membangun Kerajaan Allah. Kita masing-masing memiliki “benih-benih buruk” dalam hati kita. Jalan terbaik untuk menjamin perlindungan Gereja adalah memohon kepada Roh Kudus supaya menolong kita memeriksa nurani kita dan membebaskan kita dari dosa.

Allah tidak menginginkan kita untuk tidak berbelas-kasih dalam penilaian kita terhadap orang-orang lain. Sebaliknya, Dia ingin agar kita berdoa bagi diri kita sendiri dan bagi Gereja, dengan demikian menjadi para peniru Yesus, yang selalu melakukan syafaat bagi kita masing-masing di hadapan takhta Bapa (lihat Ibr 7:25). Kita menjadi seperti Anak Domba Allah yang rindu untuk melihat setiap orang dibebaskan dari dosa dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, selagi Engkau menyelidiki hati umat-Mu, Engkau melihat lalang-lalang dalam diri kami semua. Akan tetapi Engkau juga melihat Putera-Mu terkasih hidup  dalam diri kami. Tolonglah kami menyerahkan diri kami sepenuhnya kepada Yesus sehingga dengan demikian Gereja yang didirikan-Nya di atas bumi dapat menjadi terang yang sejati bagi dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENAWARKAN APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?” (bacaan tanggal 23-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 20-7-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA SEMUA TENTUNYA INGIN MENJADI GANDUM

KITA SEMUA TENTUNYA INGIN MENJADI GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – 23 Juli 2016)

gandum dan ilalang - mat 13 24-43Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama: Yer 7:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11

Kita semua tentunya ingin menjadi “gandum” seperti diceritakan dalam perumpamaan ini. Kita semua ingin diketemukan dalam keadaan pantas bagi Kerajaan Allah pada akhir zaman. Syukurlah, karena inilah juga yang dikehendaki Yesus bagi kita semua, dan Ia mengetahui  bahwa hal seperti itu hanya akan terjadi apabila kita percaya kepada-Nya dan menerima Roh-Nya ke dalam kehidupan kita.

Tentang Roh Kudus ini, Santo Paulus menulis: “Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm 8:26). Doa bagi kita itu sama perlunya dengan air dan cahaya matahari, tidak banyak bedanya dengan kenyataan bahwa bahan-bahan bergizi diperlukan bagi pertumbuhan gandum. Namun, apabila kita mencoba semuanya itu atas dasar kekuatan sendiri, maka doa dengan mudah dapat menjadi kering dan tak berbuah. Hanya Roh Allah-lah yang mengetahui pikiran Allah, sebagaimana ditulis oleh Santo Paulus: “Siapa di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah (1Kor 2:11). Jadi, hanya Roh Kudus-lah yang dapat menghembuskan kehidupan ilahi ke dalam doa kita.

ROHHULKUDUSRoh Kudus adalah “ragi” (lihat Mat 13:33) yang mengangkat kita ke dalam kehidupan rahmat dan memberikan kepada kita hati yang berbelas kasihan dan memiliki kasih. Memang tidak selalu mudah bagi kita masing-masing untuk hidup sebagai seorang Kristiani di dalam dunia. Adalah suatu kenyataan hidup bahwa tidak mudahlah bagi kita masing-masing untuk mengatasi godaan si jahat dan kelemahan karena kodrat kita yang cenderung untuk berdosa. Akan tetapi, oleh kuasa Roh Kudus, sementara kita terus menyerahkan hidup kita kepada-Nya, maka kita dapat menemukan diri kita berbuah secara berlimpah. Sebagaimana Musa belajar untuk menaruh kepercayaan kepada TUHAN (YHWH) selama 40 tahun hidup di tanah Midian (lihat Kel 7:7; Kis 7:23,30), demikian pula kita dapat belajar tentang hal yang sama. Yang diminta Allah hanyalah adanya upaya serius dari pihak kita. Selebihnya? Dia akan menunjukkan jalan-Nya kepada kita!

Sepanjang hari ini, marilah kita coba untuk melakukan sedikit “eksperimen”. Apabila memori-memori yang berkaitan dengan situasi menyakitkan dari masa lalu muncul ke permukaan, maka kita mohon kepada Roh Kudus untuk menolong kita mengampuni. Apabila kita disadarkan bahwa kita menolak melakukan sesuatu yang kita tahu diminta oleh Allah sendiri dari diri kita, maka baiklah kita mendoakan sebuah doa singkat kepada Roh Kudus agar kita diberikan kekuatan. Dengan berjalannya waktu, kita pun kiranya akan “bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa” (lihat Mat 13:43).

DOA: Roh Kudus Allah, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kehadiran-Mu dalam kehidupanku. Tolonglah aku agar diubah menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus. Biarlah kuat-kuasa-Mu mengalir di dalam dan melalui diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-43 atau versi singkat Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “KEBERADAAN LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 23-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 20 Juli 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA ADALAH KEDUA-DUANYA: GANDUM DAN LALANG

KITA ADALAH KEDUA-DUANYA: GANDUM DAN LALANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Selasa, 28 Juli 2015)

jesus christ super starSesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Banyak dari perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Surga menyangkut persoalan “kebaikan dan kejahatan”, dan bagaimana Allah ingin agar keduanya (baik dan jahat) ada dalam kehidupan kita, namun pada akhirnya harus dipisahkan. Dalam perumpamaan ini gandum harus diselamatkan karena satu-satunya yang bernilai. Di lain pihak lalang harus dicabut dan dibakar. Waktu panen/tuain adalah waktu untuk mengambil keputusan, waktu penghakiman, pada waktu mana yang baik harus dipisahkan dari yang jahat.

Dapatkah kita memandang masalah ini secara sempit: gandum itu adalah orang-orang baik, sedangkan lalang adalah orang-orang jahat? Apakah pandangan ini sejalan dengan kebanyakan pengalaman kita? Apakah memang kita menemukan orang-orang yang sepenuhnya baik dan di sisi lain orang-orang yang sepenuhnya jahat? Atau, apakah kita melihat dalam diri kita masing-masing, bahwa kita adalah kedua-duanya: gandum dan lalang, baik dan jahat? Kalau memang demikian halnya, maka cepat atau lambat – sebelum kita menikmati kebahagiaan sejati dan ganjaran surgawi – maka semua lalang atau apa saja yang jahat harus dicabut dari diri kita dan kemudian dibakar habis!

gandum dan ilalang - mat 13 24-43Sayangnya, memang kita masing-masing bertumbuh sebagai tumbuhan mendua, tumbuhan ganda yang terdiri dari gandum yang baik yang bercampur dengan lalang yang jahat. Lalang harus dibakar sebelum gandum itu menjadi cukup baik agar dapat disimpan dalam lumbung kebahagiaan di masa mendatang. Itulah sebabnya mengapa Allah memperkenankan kita menderita, itulah sebabnya mengapa kita harus banyak berkorban, menyangkal diri kita, dan memperbaiki diri dari berbagai kesalahan yang kita buat, termasuk kelalaian kita untuk mematuhi perintah-perintah-Nya. Lalang bertumbuh dan berkembang-biak dalam kebun atau ladang yang tak terurus. Jadi, lalang yang dimaksudkan oleh Yesus dalam perumpamaan ini adalah kejahatan-kejahatan yang bertumbuh-kembang dalam sebuah jiwa yang tak terurus, tak karuan arahnya.

Satu lagi realitas yang kita lihat: banyak dari kita, sayangnya tidak menyelesaikan pekerjaan memotong lalang sebelum Allah memanggil kita dan berkata: “Waktumu sudah habis!” Itulah sebabnya kita percaya akan keberadaan purgatorio – api pencucian – sebuah “tempat” pemurnian. Kita berharap akan adanya sebuah cara di mana sisa lalang yang belum dicabut dapat dibakar habis, agar hanya gandum yang baik sajalah yang tertinggal. Kebahagiaan sempurna adalah bagi orang-orang yang sempurna, sehingga dengan demikian tidak tersisa apa pun yang jahat.

Jadi, ada kebutuhan yang mendesak bagi kita untuk melakukan kebaikan; agar kita dapat mengalami proses pemurnian itu sebanyak mungkin selama kita masih hidup di dunia. Allah menciptakan kita untuk saling menolong. Orang-orang lain juga adalah anak-anak Allah, jadi mereka adalah saudari-saudara kita yang harus ditolong ketika mereka mengalami kesusahan. “Model” sempurna bagaimana caranya melakukan kebaikan adalah Yesus Kristus sendiri, Saudara tua kita semua. Dengan demikian janganlah kita pernah lupa – teristimewa pada waktu kita berada dalam posisi nyaman – untuk bermurah hati, lemah-lembut, dan tidak “mikiran diri sendiri melulu”. Janganlah kita lupa juga untuk mendoakan orang-orang lain …… termasuk mereka yang telah mendzolimi diri kita. Hidup yang terselamatkan lewat perbuatan baik kita boleh jadi adalah hidup kita sendiri!

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami berjalan kembali kepada-Mu, sembuhkanlah hati kami dan perbaharuilah hidup kami. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 28-7-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-07 SANG SABDA JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-7-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Juli 2015 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS