Posts tagged ‘PERUMPAAN YESUS’

KEDATANGAN KEMBALI SANG RAJA DI AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN KEMBALI SANG RAJA DI AKHIR ZAMAN

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [TAHUN A], 12 November 2017) 

Selanjutnya kami tidak mau, Saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa dengan perantaraan Yesus, Allah akan mengumpulkan bersama-sama dengan Dia mereka yang telah meninggal. Hal ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: Kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab pada waktu aba-aba diberi pada waktu pemimpin malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. (1Tes 4:13-17) 

Bacaan Pertama: Keb 6:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-8;  Bacaan Injil: Mat 25:1-13 

Tiga hari Minggu terakhir “Masa Biasa” dalam penanggalan liturgi Gereja memusatkan perhatian pada kedatangan kembali Tuhan Yesus pada akhir zaman, jadi berhubungan erat dengan hari-hari pertama Masa Adven yang gagasan utama pada awalnya juga kedatangan eskatologis dari Kristus pada saat Parousia-Nya. Pada hari ini kepada kita akan diingatkan: “Jagalah agar pelitamu tetap bernyala pada saat Tuhan datang” (lihat Injil hari ini) Ini adalah kebijaksanaan yang sejati. Kebijaksanaan yang sejati ditemukan oleh mereka yang mencarinya (lihat Bacaan Pertama). Pada saat Parousia, orang-orang yang telah meninggal dunia tidak akan memiliki disadvantage ketimbang mereka yang masih hidup. Yang telah meninggal dunia dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit, baru setelah itu mereka yang masih hidup; dan bersama-sama mereka akan menyongsong Tuhan Yesus (Bacaan Kedua).

Para raja dan penguasa lainnya dinasihati untuk senantiasa mencari kebijaksanaan (lihat Keb 6:8-11). Kebijaksanaan ini dengan mudah dapat ditemukan oleh mereka yang mencintainya. Sejak pagi hari Tuan Puteri Kebijaksanaan sudah menunggu di depan pintu kita, dengan demikian dapat ditemukan oleh mereka yang mencarinya (Keb 6:12-14). Kebijaksanaan mencari mereka yang menghasratinya (Keb 6:16). Kebijaksanaan akan bertemu dengan orang yang memikirkannya (Keb 6:15).

Paulus telah memberitakan tentang Parousia Kristus. Umat Kristiani perdana memiliki pengharapan bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali dalam waktu yang singkat. “Maran atha, datanglah Tuhan Yesus!” adalah doa mereka yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Saat itu adalah klimaks dari sejarah Gereja. Namun demikian, ada sejumlah umat Kristiani di Tesalonika yang telah meninggal dunia. Apakah mereka akan mengalami Parousia juga? Dalam bacaan kedua inilah Paulus memberikan jawaban atas pertanyaan tadi: Umat Kristiani yang masih hidup ketika Tuhan Yesus datang kembali tidak memiliki advantage  ketimbang mereka yang telah meninggal dunia. Bersama-sama mereka akan menyongsong Tuhan Yesus dan akan hidup bersama dengan Dia selama-lamanya.

Bacaan Injil hari ini adalah “‘Perumpamaan tentang Sepuluh Gadis”. Yesus mulai mengajarkan perumpamaan ini dengan berkata: “Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki” (Mat 25:1). Para pengiring/pendamping mempelai laki-laki ini dapat dan harus mengetahui dari pengalaman bahwa mempelai laki-laki seringkali datang pada larut malam. Dengan demikian mereka harus selalu siap ketika mempelai laki-laki itu datang. Apabila mereka tidak mempunyai cukup minyak, maka mereka tidak akan mampu untuk ikut mengiringi mempelai ke pesta perjamuan. Tidak ada gunanya mencari minyak belakangan. Dengan minyak yang diperoleh terlambat, mereka tidak dapat menerangi jalannya prosesi mempelai dan rombongannya. Terlambatlah sudah! Mereka pun akan kehilangan kesempatan turut serta bergembira dalam pesta perjamuan. Mereka akan tersingkir!

Kita akan melihat bahwa perumpamaan Yesus ini tidak sedikit pun berbicara secara mendetil tentang mempelai laki-laki atau mempelai perempuan. Yang disoroti adalah sepuluh gadis pendamping mempelai. Kita diibaratkan sebagai sepuluh gadis-gadis itu. Kristus diibaratkan sebagai pengantin laki-laki. Surga diibaratkan sebagai pesta perjamuan perkawinan Kristus. Kita akan diterima masuk ke dalam perjamuan kekal apabila pelita-pelita kita menyala pada saat Yesus datang kembali, artinya apabila kita siap mengiringi-Nya ketika Dia datang.

Gadis-gadis yang bijaksana menolak memberikan sebagian dari minyak mereka kepada gadis-gadis yang bodoh (Mat 25:8-9). Hal ini mereka lakukan bukan karena mereka tidak berbelas kasih dan memiliki hati yang telah mengeras seperti batu, melainkan karena itulah satu-satunya sikap dan tindakan yang masuk akal: mereka pun tidak akan mempunyai cukup minyak untuk menerangi prosesi mempelai secara lengkap, jikalau mereka memberikan sebagian dari minyak mereka. Demikian pula, ketika mempelai laki-laki menolak lima orang gadis bodohtersebut untuk memasuki ruangan pesta, hal itu bukanlah berarti bahwa dia menyangkal lima gadis itu telah berbuat sesuatu bagi dirinya, melainkan karena mereka telah gagal dalam tugas mereka yang hakiki: untuk memberi penerangan bagi prosesi mempelai.

Perumpamaan ini ini adalah mengenai titik akhir. Pada saat titik akhir itu datang, entah pada saat kematian individu-individu, atau pada hari penghakiman umat manusia, maka tidak ada waktu lagi. Waktu telah berakhir. Hanya ada dua kondisi yang menentukan “nasib” seseorang: dia siap dengan cukup perlengkapan atau tidak siap. Apa yang telah dilalaikan oleh seseorang, tidak lagi dapat diperbaikinya. Tidak ada waktu lagi untuk membuat kompensasi atas kekurangan seseorang.

Pelajaran yang dapat kita tarik: Siaplah selalu, karena kita dapat terlambat apabila Hari Tuhan tiba! Ada hal-hal tertentu dalam kehidupan yang kita hanya dapat lakukan sekali. Dan dalam artian tertentu kita hanya dapat melakukan segala sesuatu sekali saja. Apa saja yang kita lakukan di mata Allah merupakan pekerjaan kita yang pertama, bahkan semacam sebuah gladi-resik. Gladi yang kedua untuk pekerjaan final yang sama di mata Allah merupakan suatu tindakan baru. Jadi, setiap pekerjaan kita dapat lakukan hanya sekali saja.

Tidak cukuplah apabila kita sekadar melakukan sesuatu, bahkan tidak cukup hanya bekerja keras. Kita harus melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepada kita dengan baik. Lima gadis yang bodoh itu sangat tidak dapat mengatakan kepada sang mempelai laki-laki bahwa mereka telah menanti-nantikan dia sepanjang malam, bahwa mereka berminat untuk menghadiri pesta perkawinan, bahwa hanya karena faktor kebetulan sajalah mereka tidak berpikir untuk membawa minyak dalam jumlah cukup. Tugas pekerjaan mereka yang utama adalah mengiringi mempelai dengan pelita/obor yang menyala. Datang terlambat berarti merusak tujuan utama pekerjaan mereka, karena pelayanan mereka tidak lagi dibutuhkan.

Apabila pekerjaan kita adalah sebagai guru tetapi melakukan pekerjaan kita dengan buruk, maka kita tidak dapat menghibur diri kita bahwa kita telah berhasil mendidik murid-murid kita dengan baik. Demikian pula, apabila kita mengklaim diri kita sebagai pendidik namun tak mampu memelihara disiplin, maka kita sebenarnya telah gagal dalam tugas pekerjaan kita yang hakiki, dst.

Tidak cukup apabila kita sekadar mempunyai niat-niat baik, bermaksud baik. Kita harus menghadirkan fakta-fakta yang diperlukan. Kita semua tahu apa artinya apabila seseorang mengecewakan kita. Bayangkanlah betapa kecewanya sang mempelai laki-laki ketika mendapatkah hanya separuh saja dari gadis-gadis pengiring yang muncul menyambutnya. Reliability (sifat dapat diandalkan/dipercaya) adalah satu dari kualitas-kualitas dalam kehidupan manusia yang indah.

Peringatan untuk senantiasa bersiap-siaga berlaku juga bagi umat manusia secara keseluruhan, tidak hanya bagi orang sebagai individu-individu. Umat Kristiani perdana memandang ke depan dengan penuh kerinduan dan pengharapan akan kedatangan kembali (Parousia) Kristus, diiringi doa setiap hari: “Maran atha!” , “O Tuhan, datanglah” (1Kor 16:22; Why 22:20)! Bagi mereka kedatangan Yesus untuk kedua kali ini adalah klimaks dari sejarah Gereja. Sikap ini memampukan mereka untuk menggunakan waktu mereka secara paling baik, yaitu untuk bersiap-siaga setiap saat.

Pada zaman modern ini kita barangkali tidak banyak berpikir tentang kedatangan kembali Yesus ke dunia dalam waktu yang relatif dekat. Hampir tidak ada umat yang memikirkan secara serius tentang akhir zaman, padahal adalah kenyataan bahwa kehancuran dunia dapat begitu mudah terjadi kalau ada orang – di mana saja di dunia ini – yang mulai menekan tombol senjata nuklir. Kedatangan Yesus untuk kedua kalinya sudah menjadi sesuatu yang terasa asing bagi telinga mayoritas umat Kristiani pada zaman ini.

Memang tidak seorang pun dapat berjaga sepanjang waktu, tanpa sekali-kali jatuh tertidur. Bahkan gadis-gadis yang bijaksana sekali pun jatuh tertidur juga. Mereka juga melakukan antisipasi untuk beristirahat agar dapat memulihkan kekuatan fisik mereka untuk malam yang masih sangat panjang. Demikian pula, kita juga tidak dapat berdoa sepanjang waktu agar menjadi siap-siaga apabila Tuhan datang. Namun kita dapat melakukan tugas kita sepanjang waktu dan dengan demikian kita pun akan siap, kapan pun Kristus datang. Kita akan mati seturut cara hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, jagalah agar diri kami senantiasa siap-siaga dalam menantikan kedatangan Yesus Kristus ke dunia untuk kedua kalinya. Dengan demikian kami pun dengan penuh sukacita dapat berdoa “Datanglah, Tuhan Yesus”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG GADIS-GADIS BIJAKSANA DAN GADIS-GADIS YANG BODOH” (bacaan untuk tanggal 12-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-11-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

KASIH BAPA SURGAWI YANG BEGITU BESAR

KASIH BAPA SURGAWI YANG BEGITU BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 22 Maret 2014) 

ANAK YANG HILANG PULANGPara pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk 15:1-3,11-32).

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 103:1-4.9-12 

LUK 15 ANAK YANG HILANGPerumpamaan tentang “Anak yang hilang” adalah salah satu perumpamaan Yesus yang paling terkenal. Dari zaman ke zaman, para kudus Gereja dan para komentator telah mempertimbangkannya dari banyak sudut yang berbeda-beda satu sama lain: pertobatan si anak bungsu dan kembalinya dia kepada sang ayah, sikap membenarkan diri sendiri si anak sulung dan kemarahannya, dan cintakasih sang ayah kepada dua orang anaknya. Pendekatan yang paling biasa adalah untuk memandang cerita ini dari sudut si anak bungsu. Biar bagaimana pun juga si anak bungsu ini kelihatan sebagai tokoh utama, dan dialah subjek dari judul tradisional perumpamaan ini.

Akan tetapi cerita ini terutama mengenai cintakasih seorang ayah kepada anak-anaknya – tidak hanya tentang keterpurukan si anak bungsu dan penolakan si anak sulung. Apabila kita memandang cerita ini dari sudut pandang sang ayah, maka secara sekilas kita akan memperoleh gambaran tentang hati Bapa di surga, sebuah hati yang dipenuhi dengan kasih bagi kita masing-masing. Kita adalah anak-anak-Nya yang sudah berdosa dan jauh di bawah kemuliaan-Nya dalam banyak hal.

Bayangkanlah betapa besar kasih Bapa surgawi terhadap diri kita. Begitu besar kasih-Nya sehingga Dia memberikan kehendak bebas kepada kita masing-masing untuk mengasihi Dia atau menolak Dia. Ini adalah pilihan kita. Bahkan jika kita memilih untuk menolak Dia dan jalan-jalan-Nya, dan mengalami konsekuensi-konsekuensi dosa kita, Allah tetap mengasihi kita dan dengan penuh kerinduan menantikan kita kembali kepada-Nya. Pada saat kita sadar akan kedosaan kita, lalu bertobat dan kembali kepada-Nya, Dia ada di sana menunggu kita. Allah tidak menunggu sampai kita berubah secara lengkap karena Dia tidak mencari kesempurnaan dari diri kita. Allah hanya ingin agar kita datang menghadap-Nya dengan hati yang bertobat.

Sekali kita memutuskan untuk kembali kepada Allah, Dia akan datang berlari menemui kita bahkan ketika masih berada cukup jauh dari diri-Nya (bdk. Luk 15:20). Allah sangat senang pada fakta bahwa kita telah memilih untuk kembali kepada-Nya. Dia tidak membuat kita harus membuktikan bahwa kita pantas berada di hadapan-Nya. Satu-satunya hal yang penting bagi Allah adalah bahwa kita pernah mati dalam dosa kita, namun sekarang hidup melalui darah Yesus yang mahakudus. Diri kita itu lebih penting bagi Bapa surgawi ketimbang apa pun yang telah kita lakukan; kasih-Nya dan kerahiman (belas kasih)-Nya begitu besar sehingga tidak ada dosa yang tidak mau diampuni-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku datang menghadap-Mu mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Aku tidak pantas menjadi anak-Mu. Namun demikian, aku menaruh kepercayaan pada kasih-Mu dan kerahiman (belas kasih)-Mu. Dengan ini aku memohon pengampunan-Mu. Bapa, aku ingin kembali ke rumah-Mu dan ke dalam pelukan kasih-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “MENELADANI SANG BAPAK ATAU SI ANAK SULUNG?” (bacaan tanggal 22-3-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-03 BACAAN HARIAN MARET 2014. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “PERKENANKANLAH DIA MERANGKUL ANDA ERAT-ERAT DENGAN BELAS KASIH-NYA” (bacaan tanggal 2-3-13) dan “PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG” (bacaan tanggal 10-3-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-3-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Maret 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK PESTA PERKAWINAN

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN KAWIN - MENGUNDANG ORANG MISKINMEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK PESTA PERKAWINAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu – Kamis, 22 Agustus 2013)

Lalu Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya, hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Lalu pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:1-14) 

Bacaan Pertama: Hak 11:29-39a; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:5-10 

Pesta perkawinan biasanya dipenuhi dengan saat-saat yang membahagiakan – bahkan penuh excitement – bagi kedua keluarga yang terlibat. Kedua mempelai juga dipenuhi dengan perasaan yang penuh dengan pengharapan, petualangan, bahkan suatu langkah awal yang baru. Cintakasih mereka satu sama lain membuat segalanya yang lain tidak ada artinya lagi apabila dibanding-bandingkan. Para sahabat dan anggota-anggota keluarga kedua mempelai ini pun larut dalam excitement ini. Siapa di antara kita yang tidak merasa istimewa ketika sepucuk surat undangan pernikahan dimasukkan ke dalam kotak surat kita? Kita merasa bangga dimasukkan ke dalam daftar tamu dan dengan begitu memegang peranan juga dalam kehidupan kedua mempelai. Pada saat terjadinya pesta perkawinan, excitement yang dihasilkannya menyebabkan persiapan-persiapan menjadi pusat perhatian utama. Segala sesuatu yang lain dapat dikesampingkan untuk sementara waktu sampai selesainya pesta perkawinan itu.

Jikalau pesta perkawinan seorang sahabat atau orang yang kita kasihi dapat menyebabkan kita menjadi begitu terlibat dan fokus, maka tentunya betapa lebih lagi excitement dan fokus kita dalam mempersiapkan pesta perkawinan sang Anak Domba Allah. Allah telah mengundang kita untuk datang ke pesta perkawinan Putera-Nya sendiri. Kebanyakan dari kita tidak pernah bermimpi untuk datang ke pesta perkawinan dari seorang yang kita kasihi dengan mengenakan pakainan yang kiranya tidak layak untuk sebuah pesta atau tanpa memberi kado. Nah, betapa lebih lagi kita seharusnya menanggapi undangan Allah untuk datang ke pesta perkawinan Putera-Nya.

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN KAWIN - TANPA BAJU PESTAKita telah menerima undangan kelas-satu untuk menghadiri suatu royal wedding: pesta perkawinan Yesus Kristus dengan mempelai perempuan-Nya, yaitu Gereja (anda dan saya). Jadi, seperti halnya kita menerima undangan untuk datang ke pesta perkawinan seorang sahabat, maka kita pun harus menanggapi undangan Allah dengan penuh gairah dan syukur. Selagi Roh Allah bergerak dalam hati kita masing-masing, maka kita harus berkata, “Ya Tuhan, aku akan menyingkirkan segalanya yang lain agar dapat mempersiapkan peristiwa yang tidak ada tandingannya ini.”

Sekali kita telah memberi tanggapan terhadap undangan Allah, maka kita harus tetap berada dalam “persiapan” yang terus-menerus sehingga kita dapat berada dalam keadaan yang terbaik pada saat Kristus, sang Mempelai laki-laki, datang ke tengah-tengah kita. Kita tidak pernah akan menerima undangan istimewa, kemudian melupakannya. Kita tidak pernah boleh mengatakan “ya” namun kemudian tidak muncul. Seperti juga halnya kita akan tetap berada dekat dengan orang yang kita kasihi yang siap menikah, marilah kita menghaturkan permohonan kepada Roh Kudus untuk memenuhi diri kita dengan pengharapan dan hasrat akan Yesus dan pesta perkawinan sang Anak Domba Allah.

DOA: Tuhan Yesus, aku merasa cemas-cemas gembira menantikan peristiwa sangat penting, yaitu pesta perkawinan-Mu. Aku ingin merayakan peristwa itu dengan penuh sukacita bersama Engkau. Datanglah Tuhan, dengan demikian aku dapat bersama-Mu, muka ketemu muka, untuk selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “BANYAK YANG DIPANGGIL, TETAPI SEDIKIT YANG DIPILIH” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG PERJAMUAN KAWIN” (bacaan tanggal 18-8-11) dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak, 16 Agustus 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS