Posts tagged ‘PERTOBATAN SEJATI’

MARILAH KITA MENGOYAKKAN HATI KITA MASING-MASING

MARILAH KITA MENGOYAKKAN HATI KITA MASING-MASING

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RABU ABU – 14 Februari 2018) 

Vienna – Fresco of Joel prophet by Carl von Blaas from 19. cent. in Altlerchenfelder church on July 27, 2013 Vienna.

“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN (YHWH), “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada YHWH, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi YHWH, Allahmu.

Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanloah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah pengantin laki-laki keluar dari kamarnya, dan pengantin perempuan dari kamar tidurnya; baiklah para imam, pelayan-pelayan YHWH, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: “Sayangilah, ya YHWH, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: di mana Allah mereka?”

YHWH menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya. (Yl 2:12-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,12-14,17; Bacaan Kedua: 2Kor 5:20-6:2; Bacaan Injil: Mat 6:1-6,16-18

Dengan hari Rabu Abu ini Gereja mengawali masa Prapaskah. Pada masa yang istimewa ini kita dapat berupaya membuat diri kita semakin dekat dengan Allah, mengenal Dia semakin mendalam dan menjadi semakin menyerupai Dia. Tuhan sangat menginginkan agar kita semakin dekat dengan diri-Nya. Seperti difirmankan-Nya kepada umat Israel di zaman dahulu, Dia pun berfirman kepada kita pada hari ini: “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu” (Yl 2:12).

Nabi Yoel mengumumkan kepada orang-orang Israel,  bahwa pertobatan, puasa dan doa adalah jalan atau cara-cara yang diperlukan untuk kembali kepada Allah.  Namun kita melakukan praktek-praktek pertobatan, puasa dan doa selama masa Prapaskah ini bukan sekadar untuk pendisiplinan diri, atau untuk perbaikan diri kita. Kalau begitu halnya, maka kita sekadar “mengoyakkan pakaian kita” saja dan bukan hati kita (lihat Yl 2:13). Allah menyerukan kita untuk melakukan hal-hal ini karena dapat menolong kita membuka hati kita bagi kasih-Nya.

Allah sungguh rindu agar kita masuk ke dalam suatu relasi cintakasih dengan-Nya sehingga Dia dapat memberkati kita. Orang-orang Israel telah melupakan kasih mereka kepada Allah dan  justru mencintai berkat-berkat dari tanah yang telah diberikan kepada mereka. Nabi Yoel menggambarkan “tulah belalang” yang dikirim YHWH guna mengoreksi sikap mereka ini (lihat Yl 1:1-13). Belalang-belalang merupakan sebuah peringatan dini  mengenai Hari Tuhan yang malah jauh lebih dahsyat (digambarkan dengan lebih jelas dalam Yl 2:28-32), pada saat mana orang-orang tidak lagi mempunyai kesempatan untuk bertobat. Pada saat itu orang-orang yang hatinya menyenangkan Allah akan menerima Roh Kudus yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi para nabi dan penglihat. Hati yang tetap belum bertobat akan mengalami pengadilan akhir. Tuhan ingin “menyelamatkan” mereka dari kehancuran akhir dan ingin agar mereka memperoleh warisan mulia yang telah disediakan bagi mereka.

Pada masa Prapaskah ini, marilah kita melaksanakan apa yang diserukan oleh nabi Yoel, yaitu untuk “mengoyakkan hati kita” (Yl 2:13) di hadapan Tuhan. Dalam doa, puasa, dan pemberian-diri kita, marilah kita meninggalkan hal-hal yang dapat dengan mudah membuat kita melenceng dari fokus yang seharusnya. Marilah kita menyediakan ruangan bagi Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sementara kita membuka hati kita kepada Tuhan, maka kita akan mengalami berkat Roh-Nya yang akan datang ke dalam hati kita dengan lebih penuh kuat-kuasa, memenuhi diri kita dengan cintakasih bagi-Nya dan membentuk karakter/watak Yesus dalam diri kita.

DOA: Datanglah Roh Kudus, dan gerakkanlah kami untuk membuka hati kami bagi Yesus dalam masa Prapaskah ini. Melalui setiap tindakan yang Kauinspirasikan kepada kami untuk mengambilnya, semoga kami menjadi semakin dekat kepada Bapa surgawi, mengenal dan mengalami kasih-Nya, sehingga pada gilirannya kami pun mengasihi-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:1-6,16-18), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBERI SEDEKAH, BERDOA DAN BERPUASA SETURUT AJARAN YESUS” (bacaan tanggal 14-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

ANAK MANUSIA DATANG UNTUK ……

ANAK MANUSIA DATANG UNTUK ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Selasa 19 November 2013)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Agnes dari Assisi, Perawan (Ordo II) 

ZAKHEUS - 005Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata kepadanya, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”  (Luk 19:1-10)

Bacaan Pertama: 2Mak 6:18-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 4:2-7 

“Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 19:10).

Bagaimana kiranya sampai-sampai Pak Zakheus dinyatakan sebagai orang yang hilang? Begini ceritanya: Zakheus adalah seorang kepala pemungut cukai. Dia tentunya ditakuti rakyat dan sekaligus dibenci karena dipandang sebagai seorang pemeras rakyat dan sekaligus kolaborator dengan penguasa Roma. Zakheus telah menjadi kaya lewat perilakunya yang korup, dia “memeras” para wajib pajak dan pada saat bersamaan dia juga kiranya menipu/mengelabui pemerintahan Roma. Apalagi sistem pemungutan pajak Kekaisaran Roma juga korup, sehingga mudahlah bagi Pak Zakheus untuk membuat dirinya menjadi cepat kaya, namun dengan cara yang tidak halal sama sekali.

Sekarang Zakheus merasa bersalah, dan ia sungguh bertobat. Ia ingin berjumpa dengan Yesus. Ia ingin berada dekat dengan “orang suci” yang mengampuni dosa-dosa ini. Si kepala pemungut cukai ini lalu berkata kepada Yesus, “Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk 19:8). Kita merasakan bahwa Zakheus kali ini tidak berbohong, …… ia mengatakannya dengan tulus, karena Yesus tidak pernah takut untuk mendamprat seseorang yang “ngomong gede”. Sebelum itu Yesus telah mengidentifikasikan para pembohong, mengekpos celoteh penuh tipu dan kemunafikan.

Cerita tentang Zakheus ini menggambarkan “pertobatan sejati”, malah merupakan ilustrasi terbaik perihal pertobatan yang sejati. Zakheus membuat pengakuan dosa, namun sebelum Yesus memberikan “absolusi”-Nya, dia membuat resolusinya yang begitu tegas. Tidak banyak artinya Allah mengampuni kita, apabila kita tidak memiliki niat untuk memperbaiki “kerusakan” yang telah kita perbuat.

Tidak sedikit umat mengatakan bahwa “Pengakuan dosa dalam Sakramen Rekonsiliasi” tidak banyak artinya karena tidak mendatangkan kebaikan bagi diri mereka. Barangkali pernyataan ini ada benarnya juga. Namun kalau begitu halnya, maka semua itu disebabkan karena orang mengabaikan aspek ketiga dan merupakan aspek terpenting dari Sakramen Rekonsiliasi, yaitu “reparasi” atau tindakan perbaikan. Pengakuan dosa, penyesalan mendalam dan reparasi: ketiga-tiganya diperlukan untuk suatu pertobatan sejati! Rasa sedih karena penyesalan mendalam hampir tidak riil apabila tidak disertai dan didukung oleh resolusi yang menghasilkan buah-buah yang riil. Kelemahan iman dan kelemahan resolusi menghabiskan rahmat yang seharusnya datang ke atas diri seseorang.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau bersabda, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat 7:21). Tuhan Yesus, perkenankanlah Roh Kudus menempa diriku agar aku dapat menjadi murid-Mu yang baik, yang taat dan patuh kepada kehendak Bapa di surga. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SENANTIASA MENCARI KITA” (bacaan tanggal 19-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-11-12) 

Cilandak, 18 November 2013 [Peringatan B. Salomea, Perawan Ordo II] 

Sdr. F.X.Indrapradja, OFS