Posts tagged ‘PERTOBATAN PAULUS’

PERGUMULAN PRIBADI ANANIAS

PERGUMULAN PRIBADI ANANIAS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 15 April 2016)

saint_paul_ananias_sight_restored

Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikut Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanan ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?”  Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah  ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!”  Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!”  Firman tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagi pula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.”  Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk  ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”  Seketika itu juga seolah-oleh selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. (Kis 9:1-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Yoh 6:52-59

Bacaan yang diambil dari “Kisah para Rasul” ini menceritakan tentang saat-saat pertobatan Paulus. Namun marilah sekarang kita soroti murid Kristus yang bernama Ananias ini.

Pernahkah kita (anda dan saya) merenungkan bagaimana dan apa yang berkecamuk dalam pikiran Ananias ketika dia sedang melangkahkan kaki-kakinya di “Jalan Lurus” menuju rumah Yudas yang menampung Saulus (Paulus) dari Tarsus, untuk berdoa bersamanya? Memang mudah bagi kita untuk berpikir bahwa tidak ada masalah bagi Ananias untuk melakukan tugas yang diberikan Tuhan Yesus kepada-Nya. Namun bisa juga tidak begitu, karena bagaimana pun juga Ananias adalah seorang pribadi yang memiliki sifat-sifat manusiawi seperti kita. Barangkali yang memenuhi pikirannya adalah seperti berikut ini:

“Tuhan, Engkau benar-benar mempunyai suatu sense of humor yang aneh. Tidakkah Engkau tahu bahwa Saulus telah bersumpah untuk menangkap dan bahkan membunuh para pengikut-Mu? Barangkali sekarang aku harus mulai membuat fatwa warisku. Aku, Ananias, sehat dalam pikiran dan secara fisik, memberikan semua milikku di dunia kepada para saudari dan saudaraku dalam Tuhan …… Bapa, aku tahu bahwa rencana-Mu itu sempurna. Namun siapakah aku sehingga Kaupilih menjadi hamba/pelayan-Mu dalam kasus ini? Segala sesuatu dalam diriku menginginkan agar aku lari dan menyembunyikan diri. Aku tidak ingin melayani orang yang terlibat dalam kematian martir-Mu, saudara kami Stefanus. Barangkali Engkau dapat menyembuhkan dia dan mempertobatkan dia dulu, lalu aku akan datang menemuinya dan berbicara dengan dia.

“Yesus, hatiku rindu akan Engkau, namun “dagingku” takut kepada orang ini. Dia sangat berpengaruh dalam sinagoga-sinagoga. Bagaimana aku dapat menghadapinya? Apakah Engkau ingin agar aku mati sebagai martir juga? Apakah hidupku harus berakhir sekarang, setelah baru saja menemukan Engkau? Tuhan, ampunilah diriku karena tidak atau kurang menaruh kepercayaan kepada-Mu. Aku tahu bahwa rencana-Mu sempurna. Aku tahu bahwa Engkau tidak akan pernah meninggalkan diriku seandainya ada hal-hal yang menghalangiku di tengah jalan. Aku yakin, ya Tuhan, bahwa Engkau akan menolongku. Apa pun yang terjadi, Engkau senantiasa ada bersamaku. Ya Roh Kudus, jalanlah di depanku dan persiapkanlah hati Saulus. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana berbicara dengan dia, bagaimana mengasihinya, dan bagaimana membawanya kepada-Mu.”

Kita masing-masing kadang kala menghadapi tugas-tugas sulit – tantangan-tantangan yang kita lebih suka untuk hindari. Akan tetapi, seperti akan dialami Ananias, justru ketika kita mengatasi tantangan-tantangan ini melalui iman dan kepercayaan akan Allah maka kita menyaksikan mukjizat-mukjizat. Jadi, apabila kita sedang menghadapi pergumulan seperti itu, bayangkanlah apa yang terjadi dengan Ananias. Bayangkanlah dia memandang ke belakang 10 tahun setelah pertemuannya yang pertama dengan Saulus dan begitu merasa takjub akan transformasi yang terjadi pada orang itu dan juga kesetiaan Allah. Hal yang serupa dapat terjadi pada kita (anda dan saya) juga!

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh kepercayaan kepada-Mu sepenuhnya. Aku percaya bahwa Engkau dapat berbuat segala sesuatu. Aku percaya bahwa Engkau dapat membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya, walaupun melalui diriku. Tuhan, pada saat-saat aku merasa tidak pantas, penuhilah diriku dengan keyakinan. Dengan keberadaan Engkau bersamaku, apakah yang harus kutakuti? Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:52-59), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN MENUJU KEHIDUPAN KEKAL-NYA ADALAH MELALUI SALIB” (bacaan tanggal 15-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 April 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DALAM PERJALANAN KE DAMSYIK

DALAM PERJALANAN KE DAMSYIK

(Bacaan Pertama [Alternatif] Misa, Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul – Sabtu, 25 Januari 2014)

HARI PENUTUP PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI 

stdas0641 - PAUL ON WAY TO DAMASCUSSementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?” Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat  dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!” Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!” Firman Tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagipula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.” Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” Seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya.

Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata, “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan siapa saja yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?” Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias (Kis 9:1-22).

Bacaan Pertama [alternatif]: Kis 22:3-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Mrk 16:15-18.  

PERTOBATAN PAULUS - 105Sebelum pertobatannya, Santo Paulus bertahun-tahun lamanya mempelajari Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama). Ketika mendengar laporan-laporan orang-orang Yahudi yang memproklamirkan Yesus sebagai  Mesias, Paulus (waktu itu bernama Saulus) menjadi marah. Pesan orang-orang Yahudi itu secara total bertentangan dengan segalanya yang selama itu dipelajarinya dan dihayatinya dalam hidupnya. Maka, ia pun mulai misi satu orang untuk menghancurkan “gerakan” baru ini. Paulus menyebabkan banyak kesulitan bagi orang-orang Yahudi yang telah menyerahkan diri mereka kepada Yesus. Ia menangkap mereka, bahkan mencari jalan untuk membunuh mereka. Akan tetapi, ternyata Allah (yang Mahalain) mempunyai rencana lain untuk orang Farisi fanatik ini: “…… orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel” (Kis 9:15). 

Dalam perjalanannya ke Damsyik (Damaskus; sekarang terletak di Suriah) untuk menangkap sejumlah orang yang telah menjadi pengikut Kristus dan membawa mereka kembali ke Yerusalem, “Kristus yang bangkit” menampakkan diri kepadanya dalam cahaya yang memancar dari langi. Langsung saja Paulus menjadi buta. Kebutaan mata Paulus ini mencerminkan kebutaan yang selama itu telah menyelubungi hatinya. Sang Farisi yang telah mengabdikan dirinya untuk mematuhi Hukum Taurat, ternyata tidak mampu mengenali dan mengakui Yesus sebagai Mesias, yaitu Dia yang menjadi pemenuhan segala pengharapan dan janji dari Hukum Taurat itu. 

Di hari-hari setelah peristiwa di jalan menuju Damsyik itu, Paulus menyediakan waktunya untuk berdoa secara tetap. Tidak meragukan lagi, dalam suasana doa itu dia bergumul terus untuk merekonsiliasikan segala hal yang telah dipelajarinya dengan apa yang baru dialaminya. Allah tentunya mengetahui pergumulan anak manusia ini. Maka, Allah mengutus Ananias untuk berdoa dengan Paulus dan menolongnya agar mampu berpaling kepada Yesus dan menghadap-Nya. Secara ajaib, mata Paulus pun dicelikkan. Pada saat yang bersamaan tabir yang selama itu menyelubungi hatinya pun diangkat. Dengan berjalannya waktu Paulus pun ditransformasikan menjadi bejana yang luarbiasa mengagumkan untuk karya Allah. Dengan tanpa takut Ia memproklamasikan kesetiaan Allah dan segala kebaikan-Nya bagi umat manusia. 

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk berjumpa dengan kami dalam perjalanan kami. Engkau telah memberkati kami dengan berlimpah dan telah memanggil kami sebagai anak-anak-Mu yang terkasih. Dalam kasih-Mu, ya Bapa, singkirkanlah tabir yang masih menyelubungi hati kami dan menghalangi kami untuk mengenal siapa Engkau sesungguhnya. Kami sungguh ingin menjadi bejana-bejana roh Kudus-Mu dan saksi-saksi dari rahmat-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama alternatif hari ini (Kis 22:3-16), bacalah tulisan yang berjudul “PAULUS DAN PERTOBATANNYA” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-1-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Januari 2014

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PAULUS DAN PERTOBATANNYA

PAULUS DAN PERTOBATANNYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul – Jumat, 25 Januari 2013)

HARI PENUTUP PEKAN DOA SEDUNIA 

800px-Hans_Speckaert_-_Conversion_of_St_Paul_on_the_Road_to_Damascus_-_WGA21655

“Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara. Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-Tua dapat bersaksi. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum.

Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah mendekati Damsyik, kira-kira tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku. Lalu rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suara yang berkata kepadaku: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Jawabku: Siapakah Engkau, Tuan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu. Orang-orang yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar. Lalu kataku: Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? Kata Tuhan kepadaku: Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu. Karena aku tidak dapat melihat disebabkan oleh cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik. Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang yang saleh menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. Ia datang berdiri di dekatku dan berkata: Saulus, saudaraku, hendaklah engkau melihat kembali! Seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia. Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar. Sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan! (Kis 22:3-16).

Bacaan Pertama alternatif: Kis 9:1-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: 16:15-18 

Dari semua orang yang kita temui dalam Kitab Suci, Paulus kiranya menduduki salah satu tempat teratas – kalaupun tidak paling atas – dalam hal sepenuhnya taat kepada perintah Yesus untuk mewartakan Injil seperti diungkapkan dalam bacaan Injil hari ini. William Barclay malah memberi judul “AMBASSADOR FOR CHRIST” (DUTA BAGI KRISTUS) untuk bukunya tentang hidup dan ajaran Paulus (The Saint Andrew Press, 1973). Orang kudus ini berubah dari orang yang membenci Yesus menjadi orang yang sangat mengasihi-Nya dan memberikan hidupnya bagi Dia agar supaya setiap orang dapat mengenal kasih-Nya yang sangat indah.

PERTOBATAN PAULUS - 105Cerita tentang pertobatan dapat memenuhi diri kita dengan pengharapan besar. Ia pernah berdosa karena kesalahan serius, yaitu memimpin penganiayaan atas para pengikut Yesus. Namun demikian, Yesus menunjukkan belas kasih-Nya kepada Paulus dan menjadikan dia sebagai salah seorang kudus terbesar sepanjang masa. Apabila Yesus dapat melakukan “keajaiban” seperti itu terhadap diri Paulus, maka bayangkanlah apa yang dapat dibuat-Nya bagi kita! Pada hari ini kita merayakan pesta dalam rangka pertobatan seseorang yang dahulunya sombong, suka memaksakan kehendaknya, keras kepala, dan kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan. Pertobatan Paulus adalah sebuah tanda yang sungguh menyemangati kita dan menambah keyakinan kita bahwa belas kasih dan rahmat Yesus dapat mengubah para pendosa yang terburuk sekali pun, untuk menjadi pelayan-Nya yang sungguh tangguh.

Dengan Paulus kita tidak hanya merayakan pertobatannya yang dramatis pada awal perjalanannya bersama Yesus, melainkan juga pertobatannya yang terus-menerus dalam hidupnya. Kita dapat saja membayangkan Paulus sebagai seorang pribadi yang tidak pernah marah besar, selalu bersikap serta berperilaku baik dan lemah lembut, dan tidak pernah membuat kesalahan. Namun Perjanjian Baru memberikan gambaran yang agak lain tentang orang kudus ini. Di depan umum Paulus mengkonfrontasi Petrus ketika berada di Antiokhia (lihat Gal 2:11-14). Ia berselisih dengan Barnabas mengenai Yohanes Markus yang mengakibatkan perpecahan antara dua orang yang dahulunya bersahabat sangat erat (Kis 15:36-40). Paulus bahkan mengatakan orang-orang Galatia itu “bodoh” (Gal 3:1), padahal dia dipanggil untuk menggembalai jemaat itu dengan kasih Kristus.

Seperti kita semua, Paulus mempunyai sisi negatif dalam karakter pribadinya yang membutuhkan sekian tahun lamanya untuk diluruskan oleh Allah. Paulus tidak selalu merupakan suatu “model” kesempurnaan.  Sesungguhnya, dia adalah seorang pribadi manusia yang riil, yang berkembang dari seorang yang mengasihi diri sendiri menjadi seorang yang sungguh mengasihi Yesus. Hal tersebut dapat memakan waktu seumur hidupnya, namun Allah tetap setia. Paulus terus berjuang untuk menjadi serupa dengan Yesus. Jadi, di mana pun posisi kita hari ini dalam berjalan dengan Tuhan, bahkan jika kita “gagal banget”, jatuh dan jatuh lagi, Allah akan bekerja dalam diri kita apabila setiap kali kita jatuh kita bangkit lagi dan tetap berbalik kepada-Nya.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, percayalah bahwa kita semua dapat ditransformasikan dengan penuh kuasa seperti Paulus juga.

DOA: Tuhan Yesus, betapa belas kasih-Mu terhadap para pendosa! Aku sungguh berterima kasih penuh syukur karena oleh Roh Kudus-Mu, Engkau membawa pertobatan dan transformasi mendalam dalam diriku.  Buatlah aku menjadi seorang kudus, bahkan ketika aku melihat diriku sebagai seorang pendosa besar. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama alternatif hari ini (Kis 9:1-22), bacalah tulisan yang berjudul “DALAM PERJALANAN KE DAMSYIK” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERTOBATAN SANTO PAULUS” (bacaan tanggal 25-1-12) dalam situs/blog SANG SABDA; “PAULUS BERTOBAT” (bacaan tanggal 25-1-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM; “SAULUS BERTOBAT DAN MENJADI PAULUS” (bacaan tanggal 13-5-11) dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak, 6 Januari 2013 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS