Posts tagged ‘PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH’

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 16 April 2018)

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Pikir-pikir, paling sedikit ada satu hal yang baik (sisi positif) dari orang banyak yang mengikuti Yesus seperti diceritakan dalam  bacaan Injil di atas: Orang banyak itu memiliki ketekunan! Banyak dari mereka telah menyaksikan penyembuhan orang buta, orang lumpuh, orang yang menderita berbagai macam sakit-penyakit lainnya, dan mereka sendiri telah diberi makan sampai kenyang secara ajaib sehari sebelumnya. Dan sekarang, ketika Yesus “menghilang” dari pandangan mata mereka, mereka terus saja mencari Dia sampai ketemu di daratan/pantai bagian lain dari danau itu, di Kapernaum. Seperti akan kita lihat dalam bacaan beberapa hari ke depan, ketekunan mereka membawa hasil, hasil yang jauh lebih besar dan agung daripada yang mereka harap-harapkan.

Ketika orang banyak itu menemukan Yesus, kiranya mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana Yesus bisa sampai ke Kapernaum. Naik apa, karena semua perahu sudah dihitung! Mereka bertanya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” (Yoh 6:25). Yesus tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Sebaliknya, Dia ingin memperdalam pemahaman mereka tentang siapa diri-Nya sesungguhnya. Sampai saat itu, orang banyak tertarik kepada Yesus karena berbagai mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat oleh-Nya.

Sekarang, tibalah waktunya bagi orang banyak itu untuk mulai memandang Yesus melampaui tanda-tanda, yaitu kepada kebenaran-kebenaran yang dimaksudkan oleh tanda-tanda tersebut. Yesus ingin memimpin mereka kepada iman akan diri-Nya sebagai Putera Allah dan Roti Kehidupan. Mukjizat pergandaan roti dan ikan hanyalah suatu “pendahuluan” untuk sampai kepada mukjizat yang lebih mendalam, yaitu pemberian tubuh dan darah-Nya sendiri yang dapat memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang percaya. Yesus bersabda: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29).

Ini adalah kata-kata keras bagi telinga banyak orang. Mereka masih tetap menginginkan tanda-tanda dari dunia sehingga mereka tidak perlu menghadapi tantangan iman. Memang tidak susah untuk bersimpati kepada orang banyak itu! Iman-kepercayaan tidak selalu merupakan suatu perjalanan yang mudah. Apabila hidup itu berjalan baik dan kita memperoleh banyak tanda dari kasih Allah kepada kita yang kelihatan di dunia ini, memang tidak sulitlah untuk beriman-kepercayaan. Namun justru dalam badai kehidupanlah iman kita itu dapat bertumbuh.

Dalam hal inilah ketekunan mendapat upahnya. Apakah dalam masa-masa baik atau masa-masa yang buruk, “dalam untung dan malang”, kita harus terus berjuang dalam iman! Marilah kita selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menggunakan karunia akal-budi yang diberikan Allah untuk melihat kebenaran dari setiap situasi di mana kita berada, sehingga iman kita dapat bertumbuh dan menjadi matang melalui rahmat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kuatkanlah karunia iman yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Tolonglah aku untuk selalu bertekun mencari-Mu di dalam segala hal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN-KEPERAYAAN KEPADA SEORANG PRIBADI YANG TELAH DIUTUS ALLAH” (bacaan tanggal 16-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MERASA LAPAR AKAN MAKANAN SEJATI YANG DITAWARKAN OLEH ALLAH

MERASA LAPAR AKAN MAKANAN SEJATI YANG DITAWARKAN OLEH ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Stanislaus, Uskup Martir – Senin, 11 April 2016)

maxresdefault

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Orang-orang pada umumnya mempertimbangkan selera makan sebagai semacam ukuran dari kondisi kesehatan kita. Apabila kita tidak nafsu makan, maka ada sesuatu yang salah. Apabila selera makan kita berkurang, tentu saja kekuatan fisik kita pun akan berkurang. Di lain pihak para ibu mengetahui bahwa apabila anak-anak mereka menghabiskan semua makanan di atas meja makan, maka kemungkinan besar mereka sangat sehat, paling sedikit pada saat itu.

770295ee - EKARISTIDalam Injil Yohanes kita melihat bahwa orang banyak yang lebih dari 5.000 jumlahnya, yang telah diberi makan oleh Yesus kiranya berada dalam kondisi fisik yang sehat. Walaupun mereka telah dikenyangkan dengan roti yang telah dilipatgandakan oleh Yesus bagi mereka, mereka belum juga merasa puas. Mereka menginginkan lebih. Yesus harus pergi dengan diam-diam, namun mereka mengikuti Dia ke seberang danau ke kota yang bernama Kapernaum.

Di sana Yesus memaparkan kebenaran kepada orang banyak itu. Pada dasarnya apa yang dikatakan Yesus adalah sebagai berikut: “Kamu semua merasa lapar secara fisik, namun kamu sebenarnya tidak sungguh-sungguh lapar. Rasa lapar spiritual-lah yang membuat perbedaan sesungguhnya dalam hidupmu! Kamu tidak boleh bekerja untuk makanan yang dapat binasa, namun untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa” (lihat Yoh 6:27-28). Ini adalah pernyataan keras yang dibuat oleh Yesus. Apabila kita (anda dan saya) ingin menjadi lebih daripada sekadar “daging”, jika  kita ingin diperhitungkan sebagai seorang pribadi yang sungguh, maka kita harus merasa lapar akan makanan sejati yang ditawarkan oleh Allah.

Sejak saat Yesus membuat pernyataan keras seperti ini dalam Injil, maka anda dan saya mengetahui bagaimana mengukur kondisi kita, kemajuan kita, atau tingkat kesehatan kita masing-masing sebagai seorang pribadi manusia. Kita diukur dengan rasa lapar yang kita miliki akan karunia Allah yang paling pribadi bagi kita, yaitu rasa lapar kita akan Putera-Nya yang tunggal: Yesus. Dalam lingkaran ilahi, keluarga ilahi, semakin kita sungguh-sungguh merasa lapar untuk secara pribadi dipersatukan dengan Yesus, maka semakin efektiflah Roti Ekaristi yang kita terima dalam perayaan Ekaristi. Semakin dalam pengalaman kita akan Tuhan Yesus dalam Komuni Kudus, maka semakin kuat pula iman kita jadinya, dan semakin seringpula kita mencari Yesus sang Roti Kehidupan.

DOA: Bapa surgawi, oleh Roh Kudus-Mu buatlah agar dari hari ke hari kami semakin merasa lapar untuk secara pribadi dipersatukan dengan Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH” (bacaan tanggal 11-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

Cilandak, 7 April 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MAKANAN BAGI JIWA

MAKANAN BAGI JIWA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVIII [TAHUN B] – 2 Agustus 2015)

YESUS MENGUTUS 70 ORANG MURID

Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:24-35)

Bacaan Pertama: Kel 16:2-4,12-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,23-25,54; Bacaan Kedua: Ef 4:17,20-24

KOMUNI KUDUS - 111Tuhan Yesus memiliki keprihatinan atas berbagai kebutuhan kita yang mendasar dan kesejahteraan kita. Dia tidak hanya menyediakan makanan ketika Dia menggandakan  roti dan ikan yang sedikit untuk orang banyak yang mengikuti-Nya, melainkan juga makanan spiritual. Ia ingin mengingatkan kita bahwa di samping makanan yang kita perlukan guna memenuhi kebutuhan untuk memuaskan tubuh kita, kita juga harus memelihara dan memberi makan jiwa kita. Jadi Yesus memutuskan untuk “bersembunyi” di dalam roti dengan segala kuat-kuasa-Nya guna menjadi makanan bagi jiwa para pengikut-Nya.

Bagaimana Ekaristi dalam Komuni Kudus memberi makanan dan memperkuat kita? Pertama-tama, tubuh dan darah Kristus tidak akan mengubah kodrat manusia kita, yaitu kodrat yang sangat rentan terhadap kejahatan sebagai akibat dari dosa asal. Juga tidak akan mengubah kecenderungan-kecenderungan manusia yang khusus. Ekaristi akan mengangkat kodrat manusiawi kita, namun tidak untuk menggantikannya dengan sejenis kodrat yang berbeda. Dengan menerima Komuni Kudus kita tidak akan berhenti menjadi manusia dengan segala kelemahan dan kekurangannya.

Dengan menerima Komuni Kudus, kita tidak akan secara otomatis menghilangkan kecenderungan-kecenderungan kita akan yang jahat di dalam diri kita. Misalnya orang yang mempunyai suatu kelemahan dalam hal “miras” dapat menerima Komuni Kudus seratus kali namun tetap saja “rindu” untuk menikmati “miras” kesayangannya. Hal ini  bukanlah untuk mengatakan bahwa Allah tidak mampu membuat mukjizat melalui Ekaristi Kudus. Tetapi Dia tidak menjanjikannya, dan itu bukanlah cara Allah bekerja dalam sakramen.

Komuni Kudus tidak diberikan kepada kita untuk membuat hidup kita lebih mudah atau membuat kita seperti bionic women atau bionic men. Karena kasih-Nya kepada kita, Kristus memberikan Ekaristi kepada kita, agar kita menjadi sadar akan kasih-Nya ini dan berjuang untuk mencapai Kerajaan Allah lewat upaya yang konsisten dan tekun.

Jadi, bagaimana sesungguhnya Ekaristi menguatkan kita? Dalam Ekaristi Allah memberikan diri-Nya sebagai makanan yang adalah isyarat dari kasih-Nya. Namun dari diri kita yang lemah dan cenderung berdosa, kita menanggapi dengan membalas mengasihi Dia. Kasih kita kepada-Nya membuat kita merasa malu untuk melakukan hal-hal yang menyakiti hati-Nya. Santo Dominikus Savio [1842-1857] pernah mengatakan, “Aku lebih baik mati daripada menyakiti hati-Nya.” Sesungguhnya kita masih memiliki kodrat yang cenderung berdosa. Kita masih mempunyai “nyali” untuk mencuri, untuk berbohong, untuk tergila-gila main perempuan, untuk sibuk mabuk dengan “miras” atau narkoba, untuk berdosa, melakukan korupsi dlsb. Namun sekarang, memikirkan hal-hal seperti itu menjadi semakin memuakkan bagi kita karena semua itu menyakitkan hati-Nya, Dia yang kita kasihi.

THE BODY OF CHRIST - 001Itulah bagaimana Ekaristi memberi asupan makanan kepada kita dan memperkuat kita. Bukan dengan membuat kita kurang manusiawi, melainkan dengan membuat kita menjadi lebih berani. Tidak dengan menghapuskan godaan, melainkan dengan membuat kita lebih kuat untuk mengatakan “tidak” terhadap godaan tersebut. Bukan dengan membuat hidup menjadi empuk-nyaman, melainkan dengan memberikan kepada kita keberanian untuk dengan gigih berjuang melawan segala godaan tersebut. Tidak dengan memberikan kepada kita kodrat yang lain, melainkan dengan mengangkat kodrat yang kita miliki ke tingkat yang lebih tinggi.

Ketika seorang ibu mencium anaknya yang masih kecil dan memelihara serta menjaganya, ini adalah cara ibu untuk mengatakan: “Aku mencintai engkau.” Karena kasih sang ibu yang besar, anak itu membalasnya dengan melakukan hal-hal yang tidak menyusahkan dan menyakitkan hati sang ibu yang sangat mengasihinya. Anak itu menjadi malu untuk menyakiti hati ibunya. Demikian pula dalam Ekaristi, Yesus menunjukkan kasih-Nya bagi kita dengan memberikan kepada kita karunia kasih-Nya yang tertinggi – tubuh dan darah-Nya sendiri. Menanggapi hal itu, kita mengatakan, “Aku ingin membalas kasih-Mu! Aku tidak akan melakukan apa pun yang akan menyakitkan hati-Mu.”

Di beberapa negara Timur Tengah di mana ada relatif banyak para pekerja yang berasal dari Filipina, mereka secara rahasia menyelenggarakan Misa “bawah tanah” dan menerima Komuni Kudus, pertemuan mana seringkali sangat berisiko tertangkap dan dikenakan hukuman. Mengapa mereka melakukan hal seperti ini? Mungkin karena dirampasnya hak merayakan sakramen oleh pihak berkuasa membuatnya malah menjadi lebih dihasrati dan dirindukan. Namun kita tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa dalam diri setiap pribadi terdapat suatu kebutuhan manusiawi untuk memperoleh suatu kepuasan lebih mendalam, untuk makanan yang lebih tahan lama. Dan makanan ini yang telah diberikan oleh Tuhan dalam sakramen Ekaristi

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau adalah Roti Kehidupan yang turun dari surga. Engkau datang untuk menyelamatkan kami semua dari dosa dan maut. Walaupun iman kami lemah, Engkau datang ke tengah-tengah kami dan memberi makan untuk iman kami yang kecil ini agar bertumbuh terus. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:24-35), bacalah tulisan yang berjudul “ROTI KEHIDUPAN [3]” (bacaan tanggal 2-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 30 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENUNTUT UPAYA YANG RIIL DAN SERIUS DARI DIRI KITA

MENUNTUT UPAYA YANG RIIL DAN SERIUS DARI DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 20 April 2015)

stdas0730Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29) 

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Di dekat laut (danau) Galilea, Yesus menyembuhkan orang-orang sakit dan mengajarkan sabda Allah kepada orang banyak, banyak dari mereka datang dari tempat-tempat yang jauh. Pada akhir hari – karena keprihatinan-Nya pada orang banyak itu – Yesus membuat mukjizat berupa penggandaan roti dan dua ekor ikan, untuk dapat memberi makan kepada ribuan orang yang berkumpul untuk mendengarkan pengajaran-Nya dan mendapatkan kesembuhan dari diri-Nya dlsb. Jadi, tidak mengherankanlah apabila keesokan harinya mereka datang lagi untuk mencari Yesus, barangkali dengan pengharapan untuk menikmati mukjizat lain lagi (Yoh 6:22).

Pada awalnya, kata-kata Yesus terdengar “keras”: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang” (Yoh 6:26). Akan tetapi, sebenarnya Yesus sangat memperhatikan orang-orang itu pada tingkat yang lebih dalam daripada yang mereka sendiri sadari. Yesus ingin agar mereka masing-masing sungguh menjalin relasi pribadi dengan Allah Bapa seperti yang ditawarkan oleh-Nya kepada mereka. Yesus mengundang mereka melakukan pekerjaan untuk mendapatkan makanan yang akan membawa kehidupan kekal. Ia mengatakan kepada mereka: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa…… Inilah yang pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:27,29).

Memang benarlah bahwa iman adalah karunia atau anugerah dari Allah. Namun sekali kita menerima karunia ini, adalah tanggung-jawab kita untuk menghayatinya dalam kehidupan kita sehari-hari. Percaya kepada Yesus menuntut upaya yang riil dan serius dari diri kita. Setiap hari, dari saat kita bangun tidur sampai saat kita pergi tidur, kita menghadapi situasi-situasi yang menantang pikiran dan hati kita. Kita menghadapi pilihan untuk menyerah terhadap godaan, rasa takut, keragu-raguan, kemarahan dan kecemasan – atau rasa percaya pada Allah sendiri. Sementara Roh Kudus memberikan kepada kita rahmat serta kekuatan untuk memilih dengan baik dan benar, maka tetap tergantung kepada diri kita sendirilah untuk menerima rahmat-Nya dan dibimbing oleh iman.

Selagi kita menghadapi situasi kehidupan kita sehari-hari, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita percaya kepada Pribadi Yesus sebagaimana Dia sendiri menjelaskan tentang diri-Nya. Dalam setiap situasi, Yesus mengundang kita untuk berseru kepada-Nya sehingga Dia dapat menunjukkan kepada kita kuat-kuasa-Nya dan mengajar kita untuk mengasihi dan lebih menaruh kepercayaan kepada-Nya. Apabila kita mengalami kegagalan, Dia tetap menginginkan agar kita mulai baru lagi. Kalau kita bertekun dalam perjuangan ini, maka hal ini berarti fighting the good fight dalam hal iman.

DOA: Yesus, aku percaya bahwa Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku untuk lebih lagi menaruh kepercayaan kepada-Mu, karena imanku kelihatannya lemah. Ajarlah aku untuk percaya sepenuhnya kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “MERASA LAPAR AKAN MAKANAN SEJATI YANG DITAWARKAN OLEH ALLAH” (bacaan tanggal 20-4-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-04 BACAAN HARIAN APRIL 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:8-15), bacalah tulisan yang berjudul  “TUDUHAN TERHADAP STEFANUS” (bacaan tanggal 9-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 15 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS