Posts tagged ‘PENUH DENGAN ROH KUDUS’

PERISTIWA YANG DIALAMI SAULUS DI DEKAT KOTA DAMSYIK DAN PERTOBATANNYA

PERISTIWA YANG DIALAMI SAULUS DI DEKAT KOTA DAMSYIK DAN PERTOBATANNYA

(Bacaan Pertama [Alternatif] Misa, Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul – Sabtu, 25 Januari 2020)

PENUTUPAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?” Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat  dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!” Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!” Firman Tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagipula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.” Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” Seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya.

Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata, “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan siapa saja yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?” Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias. (Kis 9:1-22)

Bacaan Pertama [alternatif]: Kis 22:3-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Mrk 16:15-18

Cerita tentang pengalaman Saulus (Paulus) sebelum sampai sampai di kota Damsyik memberi kesan terjadinya perubahan secara mendadak. Namun dari awal harus kita camkan bahwa itu bukanlah suatu perubahan yang tiba-tiba datang entah dari mana. Kita ketahui bahwa Saulus mendengar kata-kata terakhir dari Stefanus dan orang Farisi ekstrim inipun telah berkontak dengan gerakan Kristiani yang awal. Benih-benih (untuk pertobatannya) telah ditaburkan. Secara perlahan tekanan yang terbangun dalam dirinya sudah seperti Gunung Merapi yang setiap saat dapat meletus sampai pada akhirnya meledak juga ke dalam kesadaran dirinya. Pergumulan batin sudah dapat  kita pastikan telah terjadi dalam dirinya, dan suara Tuhan yang didengarnya dalam peristiwa di dekat Damsyik itu membuat pengalamannya menjadi sempurna. Kita memang tidak pernah dapat menceritakan efek dari benih-benih yang kita taburkan dengan kata-kata dan teladan hidup kita.

Sebelum pertobatannya, Santo Paulus bertahun-tahun lamanya mempelajari Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama). Ketika mendengar laporan-laporan orang-orang Yahudi yang memproklamasikan Yesus sebagai  Mesias, Paulus (waktu itu bernama Saulus) menjadi marah. Pesan orang-orang Yahudi itu secara total bertentangan dengan segalanya yang selama itu dipelajarinya dan dihayatinya dalam hidupnya. Maka, ia pun mulai misi satu orang untuk menghancurkan “gerakan” baru ini. Paulus menyebabkan banyak kesulitan bagi orang-orang Yahudi yang telah menyerahkan diri mereka kepada Yesus. Ia menangkap mereka, bahkan mencari jalan untuk membunuh mereka. Akan tetapi, ternyata Allah (yang Mahalain) mempunyai rencana lain untuk orang Farisi yang ekstrim ini: “…… orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel” (Kis 9:15). 

Dalam perjalanannya ke Damsyik (Damaskus; sekarang terletak di Suriah) untuk menangkap sejumlah orang yang telah menjadi pengikut Kristus dan membawa mereka kembali ke Yerusalem, “Kristus yang bangkit” menampakkan diri kepadanya dalam cahaya yang memancar dari langi. Langsung saja Paulus menjadi buta. Kebutaan mata Paulus ini mencerminkan kebutaan yang selama itu telah menyelubungi hatinya. Sang Farisi yang telah mengabdikan dirinya untuk mematuhi Hukum Taurat, ternyata tidak mampu mengenali dan mengakui Yesus sebagai Mesias, yaitu Dia yang menjadi pemenuhan segala pengharapan dan janji dari Hukum Taurat itu.

Di hari-hari setelah peristiwa di jalan menuju Damsyik itu, Paulus menyediakan waktunya untuk berdoa secara tetap. Tidak meragukan lagi, dalam suasana doa itu dia bergumul terus untuk merekonsiliasikan segala hal yang telah dipelajarinya dengan apa yang baru dialaminya. Allah tentunya mengetahui pergumulan anak manusia ini. Maka, Allah mengutus Ananias untuk berdoa dengan Paulus dan menolongnya agar mampu berpaling kepada Yesus dan menghadap-Nya. Secara ajaib, mata Paulus pun dicelikkan. Pada saat yang bersamaan tabir yang selama itu menyelubungi hatinya pun diangkat.

ADengan berjalannya waktu Paulus pun ditransformasikan menjadi bejana yang luarbiasa mengagumkan untuk karya Allah. Dengan tanpa takut Ia memproklamasikan kesetiaan Allah dan segala kebaikan-Nya bagi umat manusia. Pertobatan Saulus (S. Paulus) atau pertobatan siapa saja merupakan akibat dari banyak benih yang ditaburkan ke dalam diri banyak orang, barangkali tak diketahui/disadari, lewat kata-kata dan teladan hidup. Kita tidak pernah memprakirakan efek sepenuhnya dari benih-benih yang kita taburkan.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk berjumpa dengan kami dalam perjalanan kami. Engkau telah memberkati kami secara berlimpah dan telah memanggil kami sebagai anak-anak-Mu yang terkasih. Dalam kasih-Mu, ya Bapa, singkirkanlah tabir yang masih menyelubungi hati kami dan menghalangi kami untuk mengenal siapa Engkau sesungguhnya. Kami sungguh ingin menjadi bejana-bejana roh Kudus-Mu dan saksi-saksi dari rahmat-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 22:3-16), bacalah tulisan yang berjudul “BERTOBATNYA RASUL PAULUS” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA IKUT AMBIL BAGIAN DALAM PENYALIBAN YESUS

KITA IKUT AMBIL BAGIAN DALAM PENYALIBAN YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKAH21 April 2017) 

Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki mendatangi mereka. Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Mereka ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam. Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki.

Keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dari Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar. Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini, “Dengan kuasa mana atau dalam nama siapa kamu melakukan hal itu?” Lalu Petrus, yang penuh dengan Roh Kudus, menjawab mereka, “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa mana orang itu disembuhkan, maka ketahuilah  oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati – bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dalam keadaan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru. Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:1-12) 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2,4,22-27; Bacaan Injil: Yoh 21:1-14 

“Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12)

Untuk menerima karunia keselamatan, kita harus percaya kepada Yesus (Ef 2:8). Kita juga harus harus mengakui kebutuhan kita akan keselamatan. Kita semua telah berdosa (Rm 3:23); dan kita tidak dapat memberi silih atas satu dosa pun dari dosa-dosa kita, sebab akibat dari dosa itu sangatlah fatal dan merusak. Dengan demikian, untuk mengakui adanya kebutuhan akan keselamatan, kita harus mulai menyadari betapa buruk dan besarnya dosa-dosa kita, dan kemudian mengakui kesalahan-kesalahan kita. Jika kita menekan rasa bersalah kita atau malah menyangkalnya, atau begitu tidak manusiawi karena merasa tidak pernah berbuat slah, maka kita tidak akan pernah dapat  menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita. Mengapa? Karena kita tidak mau mengakui atau menerima kenyataan bahwa kita memang mempunyai kebutuhan untuk diselamatkan.

Itulah sebabnya mengapa Petrus, pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama dan setelahnya, dalam khotbahnya menyampaikan pesan tentang adanya kesalahan dan dosa-dosa kita selain pesan adanya penyelamatan. Petrus dengan bahasa yang lugas berkata kepada para anggota Mahkamah Agama Yahudi bahwa mereka telah menyalibkan Yesus, tetapi Yesus telah dibangkitkan oleh Allah. Dalam nama Yesus yang telah bangkit itulah orang lumpuh dalam kisah sebelumnya disembuhkan (lihat Kis 3:1-10), yang pada saat itu juga hadir dalam sidang. Petrus juga mengatakan, bahwa Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang bangunan – yaitu para pemuka agama Yahudi – namun Ia telah menjadi batu penjuru (Kis 4:11; bdk. Mzm 118:22).

Dalam khotbahnya pada hari Pentakosta, Petrus malah berkata: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis 2:23). Dalam khotbahnya di Serambi Salomo, Petrus berkata: “Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita  telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi” (Kis 3:13-15).

Saudari dan Saudaraku, marilah sekarang kita (anda dan saya) hening sejenak guna memeriksa berbagai kesalahan kita. Marilah kita mengakui bahwa kita telah ikut ambil bagian dalam penyaliban Yesus. Tujuan akhir dari pemeriksaan ini adalah pertobatan, keselamatan dan hidup baru dalam Kristus yang sudah bangkit.

DOA: Bapa surgawi, berilah keberanian kepada diriku untuk mengakui kesalahan dan dosaku. Berikanlah juga kepadaku karunia iman agar diriku selamat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGUNDANG MEREKA UNTUK SARAPAN BERSAMA-NYA” (bacaan tanggal 21-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

Cilandak, 19 April 2017 [HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IA DATANG UNTUK MENYELAMATKAN UMAT-NYA

IA DATANG UNTUK MENYELAMATKAN UMAT-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Sabtu, 24 Desember 2016)

kidung-zakharia-0099

Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia datang untuk menyelamatkan umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu,  – seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus – untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapak leluhur kita bahwa ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di dihadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, yang dengannya Ia akan datang untuk menyelamatkan kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” (Luk 1:67-79)

Bacaan pertama: 2Sam 7:1-5,8b-12,16; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27,29

“Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia datang untuk menyelamatkan umat-Nya dan membawa kelepasan baginya”  (Luk 1:68).

Ketika malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Zakharia dan memberitahukan kepadanya bahwa istrinya yang sudah tua dan mandul itu akan mengandung, Zakharia mempertanyakan hal itu dalam keragu-raguannya: “Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Sebagai akibatnya, Zakharia dibuat menjadi bisu sampai kelahiran yang dijanjikan itu menjadi kenyataan (lihat Luk 1:18-20). Selama sembilan bulan tak berbicara, Zakharia tentunya secara berulang-ulang mengingat dan merenungkan kata-kata sang malaikat tersebut. Kita dapat membayangkan bagaimana kiranya dia merenungkan janji-janji Allah yang terdapat dalam Kitab Suci dan dalam keheningan memohon kepada Allah agar menolongnya memahami dengan lebih mendalam perihal pesan keselamatan yang telah disampaikan oleh sang malaikat.

Akhirnya, pada akhir masa “hening”-nya, Zakharia ditransformasikan dari seorang yang meragukan Tuhan menjadi seorang pribadi yang dipenuhi dengan pujian dan adorasi bagi kemuliaan Allah. Pada waktu penyunatan Yohanes Pembaptis, Zakharia menyanyikan sebuah kidung dengan penuh sukacita, menyatakan bahwa Tuhan telah memenuhi janji-janji-Nya – tidak hanya bagi dirinya dan Elisabet, melainkan juga bagi segenap umat Allah. Sampai sekarang Kidung Zakharia (Benedictus)  ini berkumandang di seluruh dunia tak henti-hentinya karena selalu didaraskan/dinyanyikan setiap kali kita mendoakan Ibadat Pagi dalam Ibadat Harian.

Allah memang sungguh luarbiasa dan menakjubkan. Ia sangat setia pada janji-janji-Nya! Kitab Suci selalu menunjuk pada pemenuhan janji-janji-Nya. Semua kerinduan dan ekspektasi dari umat seperti Zakharia mendapatkan balasan dalam diri Yesus, yang “akan akan datang untuk menyelamatkan kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera” (Luk 1:78-79). Allah telah mengunjungi umat-Nya dan menganugerahkan kepada kita kebebasan dari tangan musuh, dan dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut (Luk 1:74; lihat juga 1:71).

Sebagaimana Dia telah melakukan atas diri Zakharia, Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa Dia setia pada janji-janji-Nya. Walaupun dipenuhi banyak kesibukan pada beberapa hari mendatang, kita tetap harus menyediakan waktu hening untuk berdoa di hadapan hadirat Tuhan dan memohon kepada-Nya untuk berbicara kepada hati kita masing-masing. Barangkali kita dapat membaca dalam suasana doa berbagai narasi dalam Injil yang berkaitan dengan Natal dan memohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kasih Allah bagi kita secara lebih mendalam. Anggota-anggota keluarga atau komunitas dapat berkumpul bersama untuk beberapa saat berdoa guna merenungkan belas kasih Allah kepada kita semua.

DOA: Bapa surgawi, bukalah hati kami lebih lebar lagi agar dapat menerima pembebasan/pelepasan dan kasih-Mu. Datanglah mengunjungi kami dan angkatlah kegelapan hati kami serta rasa khawatir dan takut kami, sehingga dengan demikian terang-Mu dapat bercahaya dalam diri kami dan membimbing kami ketika berjalan bersama-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:67-79), bacalah tulisan yang berjudul “KIDUNG ZAKHARIA [BENEDICTUS]” (bacaan tanggal 24-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 21 Desember 201

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENARUH KEPERCAYAAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

MENARUH KEPERCAYAAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 19 Desember 2014)

stdas0276Pada zaman Herodes, raja Yudea, ada seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.

Pada suatu kali, waktu tiba giliran kelompoknya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk  ke dalam Bait Suci dan membakar dupa di situ. Pada waktu pembakaran dupa, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Lalu tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran dupa. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan dia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya dan ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka. Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu, “Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Jawab malaikat itu kepadanya, “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara kepadamu untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya.” Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, dan ia tetap bisu. Ketika selesai masa pelayanannya, ia pulang ke rumah.

Beberapa lama kemudian Elisabet, istrinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” (Luk 1:5-25)

Bacaan pertama: Hak 13:2-7.24-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:5-6,16-17

2.1-13_MARY_The_Annunciation_John_CollierMalaikat Agung Gabriel datang kepada Zakharia untuk mengumumkan kelahiran yang akan datang dari seorang anak laki-laki, dan hal itu disambut oleh Zakharia dengan keragu-raguan, karena baik dirinya maupun Elisabet, istrinya, sudah lanjut usia. Ketika malaikat yang sama memberi kabar baik kepada Maria tentang seorang anak laki-laki yang akan dikandungnya dari Roh Kudus dan dilahirkannya, dia (Maria) juga terkejut, karena dia adalah seorang perawan.

Namun demikian, ternyata ada perbedaan antara kedua peristiwa tersebut. Zakharia akan tetap bisu sampai kelahiran anaknya; kata sangat malaikat: “Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya” (Luk 1:20).

Kita tentunya mengingat bahwa Maria tidak pernah menerima teguran dari malaikat  agung Gabriel seperti yang dialami oleh Zakharia sebelumnya. Sebaliknya, Maria dipuji-puji oleh Elisabet, “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Sejak dari awal Injil-nya, Lukas sudah mengatakan kepada kita bagaimana kita harus menanggapi pesan indah kasih Allah, yaitu dengan menaruh kepercayaan sepenuhnya pada Allah. Sekarang, sampai berapa riil-kah rasa percaya kita pada Allah? Sampai berapa besar keyakinan kita akan kasih-Nya bagi kita dalam segala keadaan? Apakah kita harus menanti sampai janji Allah dipenuhi dulu, sebelum kita berterima kasih penuh syukur seperti yang dilakukan oleh Zakharia? Orang tua ini akhirnya sampai kepada iman dan suatu semangat syukur yang penuh sukacita, namun kelihatannya dia harus menantikan dan melihat dulu apa yang dilakukan oleh Allah (bacalah “Kidung Zakharia” dalam Luk 1:68-79).

Maria adalah seorang puteri yang sempurna, model/teladan bagi orang Kristiani, dia tidak memerlukan pembuktian. Rasa percayanya kepada Allah tidak perlu dipertanyakan lagi. Maria memuji Allah – Penyelamatnya – sebelum janji sang malaikat agung terwujud menjadi suatu kenyataan, karena iman-Nya kepada kasih Allah yang tanpa batas bersifat tetap dan total (bacalah “Kidung Maria” dalam Luk 1:46-55).

DOA: Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku. Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.  Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah (Mzm 16:5-8). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:5-25), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUAT BANYAK ORANG ISRAEL BERBALIK KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 19-12-14) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 14-12  BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Desember 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS