Posts tagged ‘PENJELASAN PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM’

GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA

GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Selasa, 30 Juli 2019)

Keuskupan Agung Semarang: HR Pemberkatan Katedral Semarang

Peringatan (Fakultatif): S. Petrus Krisologus, Uskup Pujangga Gereja

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Banyak dari perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Surga menyangkut persoalan “kebaikan dan kejahatan”, dan bagaimana Allah ingin agar keduanya (baik dan jahat) ada dalam kehidupan kita, namun pada akhirnya harus dipisahkan. Dalam perumpamaan ini gandum harus diselamatkan karena satu-satunya yang bernilai. Di lain pihak lalang harus dicabut dan dibakar. Waktu panen/tuain adalah waktu untuk mengambil keputusan, waktu penghakiman, pada waktu mana yang baik harus dipisahkan dari yang jahat.

Dapatkah kita memandang masalah ini secara sempit: gandum itu adalah orang-orang baik, sedangkan lalang adalah orang-orang jahat? Apakah pandangan ini sejalan dengan kebanyakan pengalaman kita? Apakah memang kita menemukan orang-orang yang sepenuhnya baik dan di sisi lain orang-orang yang sepenuhnya jahat? Atau, apakah kita melihat dalam diri kita masing-masing, bahwa kita adalah kedua-duanya: gandum dan lalang, baik dan jahat? Kalau memang demikian halnya, maka cepat atau lambat – sebelum kita menikmati kebahagiaan sejati dan ganjaran surgawi – maka semua lalang atau apa saja yang jahat harus dicabut dari diri kita dan kemudian dibakar habis!

Sayangnya, memang kita masing-masing bertumbuh sebagai tumbuhan mendua, tumbuhan ganda yang terdiri dari gandum yang baik yang bercampur dengan lalang yang jahat. Lalang harus dibakar sebelum gandum itu menjadi cukup baik agar dapat disimpan dalam lumbung kebahagiaan di masa mendatang. Itulah sebabnya mengapa Allah memperkenankan kita menderita, itulah sebabnya mengapa kita harus banyak berkorban, menyangkal diri kita, dan memperbaiki diri dari berbagai kesalahan yang kita buat, termasuk kelalaian kita untuk mematuhi perintah-perintah-Nya. Lalang bertumbuh dan berkembang-biak dalam kebun atau ladang yang tak terurus. Jadi, lalang yang dimaksudkan oleh Yesus dalam perumpamaan ini adalah kejahatan-kejahatan yang bertumbuh-kembang dalam sebuah jiwa yang tak terurus, tak karuan arahnya.

Satu lagi realitas yang kita lihat: banyak dari kita, sayangnya tidak menyelesaikan pekerjaan memotong lalang sebelum Allah memanggil kita dan berkata: “Waktumu sudah habis!” Itulah sebabnya kita percaya akan keberadaan purgatorio – api pencucian – sebuah “tempat” pemurnian. Kita berharap akan adanya sebuah cara di mana sisa lalang yang belum dicabut dapat dibakar habis, agar hanya gandum yang baik sajalah yang tertinggal. Kebahagiaan sempurna adalah bagi orang-orang yang sempurna, sehingga dengan demikian tidak tersisa apa pun yang jahat.

Jadi, ada kebutuhan yang mendesak bagi kita untuk melakukan kebaikan; agar kita dapat mengalami proses pemurnian itu sebanyak mungkin selama kita masih hidup di dunia. Allah menciptakan kita untuk saling menolong. Orang-orang lain juga adalah anak-anak Allah, jadi mereka adalah saudari-saudara kita yang harus ditolong ketika mereka mengalami kesusahan.

“Model” sempurna bagaimana caranya melakukan kebaikan adalah Yesus Kristus sendiri, Saudara tua kita semua. Dengan demikian janganlah kita pernah lupa – teristimewa pada waktu kita berada dalam posisi nyaman – untuk bermurah hati, lemah-lembut, dan tidak “mikiran diri sendiri melulu”. Janganlah kita lupa juga untuk mendoakan orang-orang lain …… termasuk mereka yang telah mendzolimi diri kita. Hidup yang terselamatkan lewat perbuatan baik kita boleh jadi adalah hidup kita sendiri!

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami berjalan kembali kepada-Mu, sembuhkanlah hati kami dan perbaharuilah hidup kami. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN MENGHAKIMI ORANG LAIN” (bacaan tanggal 30-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggl 31-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juli 2019 [HARI MINGGU BIASA XVII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignatius dr Loyola – Selasa, 31 Juli 2018)

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Yer 14:17-22; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

Bacaan Injil hari ini adalah penjelasan Yesus atas “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30). Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Dalam pelayanan-Nya di tengah masyarakat, Yesus menyerang ekslusivitas yang ditemukan-Nya dalam masyarakat Yahudi, dipromosikan teristimewa oleh orang-orang Farisi, namun dipraktekkan juga oleh kelompok-kelompok lainnya.

Yesus membentuk komunitas-Nya yang terdiri dari para pemungut cukai/pajak, para pendosa, dan juga orang-orang terhormat dalam masyarakat. Praktek ini pada gilirannya berlaku dalam Gereja setelah kebangkitan Kristus, yang sekarang merupakan campuran tidak hanya antara orang-orang yang berbeda-beda kelas sosial melainkan juga antara para kudus dan para pendosa, antara mereka yang terus mencoba untuk hidup seturut ekspektasi Yesus yang tinggi dan orang-orang tidak/kurang peduli terhadap ekspektasi Yesus. Kecenderungan dari orang-orang yang disebutkan belakangan adalah santai dan ikut-angin, sementara orang-orang yang disebutkan duluan dapat menjadi tidak sabar dan ingin melakukan upaya bersih-bersih secepatnya.

Perumpamaan ini seperti sebatang pedang yang bermata dua. Bagi mereka yang santai-malas ada penghakiman yang tidak dapat ditawar-tawar. Bagi mereka yang tergesa-gesa ingin berbenah, perumpamaan ini menganjurkan adanya kesabaran, karena waktu itu sendiri adalah rahmat, dan apa yang dinilai sebagai ilalang pada saat itu dapat saja pada akhirnya sebenarnya adalah gandum, atau sebaliknya.

Seandainya Augustinus dari Hippo dan Charles de Foucauld dihakimi atas dasar peri kehidupan mereka semasa muda, maka mereka tidak pernah akan menjadi orang-orang kudus Gereja. Hal ini bukan berarti bahwa sebuah komunitas tidak berhak untuk menetapkan standar-standar keanggotaan tertentu. Namun memang ada suatu semangat yang tidak sabar untuk mencapai kesempurnaan, hal mana kurang serasi dengan belas kasih dan kesabaran yang ditunjukkan Bapa surgawi (lihat “Perumpamaan tentang anak yang hilang” [Luk 15:11-32]).

Penjelasan atas perumpamaan di atas terdapat dalam Mat 13:36-43, bacaan Injil dalam Misa Kudus hari ini. Di dalam penjelasan ini dilakukan alegori dari unsur-unsurnya dan memperluas ajarannya. Ladang bukan Gereja, melainkan dunia. Pemisahan antara orang-orang yang diselamatkan dan tidak bukanlah antara anggota Jemaat/Gereja dan mereka yang berada di luar Gereja, karena ada orang yang berada di luar Gereja yang akan diselamatkan dan ada yang sekarang berada di dalam Gereja namun tidak diselamatkan. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat 7:21; lihat juga 7:22).

(Adaptasi dari George T. Montague, SM, COMPANION GOD – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, hal. 157-158)

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami, dan Engkau adalah Guru Agung kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu pada hari ini, teristimewa untuk penjelasan yang Kauberikan atas “Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum”. Karena belas kasih dan kesabaran-Mu, banyak dari kami yang sebenarnya masih termasuk kategori “lalang” diberi kesempatan untuk pada akhirnya menjadi gandum. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 31-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

Jakarta, 30 Juli 2018 [Hari Raya Pemberkatan Katedral Semarang] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS