Posts tagged ‘PEKAN V PRAPASKAH’

YESUS MENGKLAIM DIRI-NYA SEBAGAI PUTERA ALLAH

YESUS MENGKLAIM DIRI-NYA SEBAGAI PUTERA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Jumat, 23 Maret 2018) 

Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah. Kata Yesus kepada mereka, “Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ilah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ilah – sedangkan Kitab Suci tidak dapat dibatalkan – masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali-kali mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini memang benar.” Lalu banyak orang di situ percaya kepada-Nya. (Yoh 10:31-42) 

Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-7 

Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Putera Allah (lihat Yoh 10:36), satu dengan Bapa (Yoh 10:30) dan mempunyai suatu relasi yang pribadi dan intim dengan Allah. Bagi orang-orang Yahudi, ini adalah hujat. Sebaliknya, bagi kita umat Kristiani, ini adalah fondasi dari pengharapan kita bahwa kita juga dapat mengenal dan mengalami Allah sebagai Bapa kita dan kita sendiri sebagai anak-anak angkat-Nya.

Yesus – dahulu dan sekarang – adalah setara dengan Bapa – satu dengan Bapa dan Roh Kudus dalam kehidupan Trinitas (Allah Tritunggal Mahakudus). Kita tentunya tidak setara dengan Bapa surgawi, namun kita adalah anak-anak angkat-Nya melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Rasul Paulus menulis, “Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’ Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:14-16).

Melalui baptisan, kita dibawa ke dalam keluarga Allah. Selagi kita menghayati iman Kristiani dalam kehidupan kita, kita pun mulai mengalami kasih kebapaan dari Allah dan martabat kita sendiri sebagai anak-anak-Nya. Namun kita juga mengetahui adanya waktu-waktu kekeringan spiritual dan keragu-raguan, pada saat mana Allah terasa jauh sekali. Mengapa hal ini sampai terjadi?

Kadang-kadang Allah memperkenankan adanya waktu-waktu penderitaan atau waktu-waktu di mana kita merasa jauh sekali dari diri-Nya untuk alasan-alasan yang tidak dapat kita pahami. Akan tetapi, seringkali masalahnya terletak dalam hati kita. Barangkali kita merasa inferior dan tak pantas untuk terjalinnya relasi penuh harapan dengan Dia;  barangkali juga kita berpikir bahwa dosa-dosa kita terlalu besar untuk dapat diampuni; bahkan kita dapat membayangkan bahwa Allah sudah begitu bosan dengan dosa kita yang telah berulang-ulang, sehingga Dia membuang kita. Kadang-kadang kita juga dapat merasa ragu-ragu terhadap Allah, karena kita dengan bersusah payah telah mencari bukti yang berwujud sampai pada saat ini, sehingga kita melupakan karya Allah yang terdahulu dalam kehidupan kita. Kita harus mengambil sedikit waktu untuk memikirkan apa kiranya yang selama ini menjadi penghalang antara kita dan kasih yang ingin ditunjukkan Allah kepada kita masing-masing.

Melalui baptisan, Roh Kudus ada dalam diri kita dan selalu siap untuk menunjukkan kepada kita posisi kita sebagai anak-anak pilihan Allah. Tidak ada dosa yang begitu besar yang tidak ingin diampuni oleh kuasa kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Tidak ada seorang pun yang begitu rendah yang dilupakan oleh Allah – karena setiap pribadi manusia diciptakan dalam gambar dan rupa-Nya dan sangat dikasihi oleh-Nya. Niat Allah adalah agar setiap orang mengenal dan mengalami kasih-Nya sebagai ‘seorang’ Bapa.

DOA: Roh Kudus Allah, buanglah dari diri kami setiap rintangan yang menghalang-halangi kami untuk mengenal dan mengalami kasih Allah Bapa. Kami ingin mengalami relasi yang penuh kasih dan intim dengan Allah yang dijanjikan dan dimenangkan oleh Yesus. Datanglah, ya Roh Kudus dan berdayakanlah diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:31-42), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA SAMPAI KEHILANGAN KESEMPATAN” (bacaan tanggal 23-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS SUDAH SEBELUM ABRAHAM ADA

YESUS SUDAH ADA SEBELUM ABRAHAM ADA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Kamis, 22 Maret 2018)

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Kata para pemuka Yahudi kepada-Nya, “Sekarang kami tahu bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Siapa saja

Yang menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Apakah Engkau lebih besar daripada bapak kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabi pun telah mati; dengan siapa Engkau samakan diri-Mu?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan aku menuruti firman-Nya. Abraham bapakmu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Lalu kata para pemuka Yahudi itu kepada-Nya, “Umur-Mu belum lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melem;pari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah. (Yoh 8:51-59) 

Bacaan Pertama: Kej 17:3-9, Mazmur Tanggapan: Mzm 105:4-9 

Sepanjang pembicaraan-Nya dengan para pemuka Yahudi, Yesus telah memberi indikasi tentang identitas-Nya. Hal ini membuat marah para lawan-Nya dalam proses komunikasi tersebut. Sampai titik ini, mereka telah mencap-Nya sebagai seorang pembohong, menuduh diri-Nya sebagai seorang Samaria dan kerasukan setan (lihat Yoh 8:48). Jadi, tidak mengherankanlah kalau mereka kemudian bertanya kepada-Nya: “Dengan siapa Engkau samakan diri-Mu?” (Yoh 8:53). Sungguh sukar bagi mereka untuk menerima apa yang dikatakan Yesus, bahwa diri-Nya lebih besar daripada Bapak Abraham (lihat Yoh 8:52-57). Akan tetapi, situasinya menjadi semakin “parah” ketika Yesus berkata: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada” (Yoh 8:58). Karena pernyataan-Nya itu mereka mengambil batu untuk melempari Dia (lihat Yoh 8:59).

Dilema yang kita hadapi dalam zaman modern ini agak berbeda. Tidak seperti orang-orang Yahudi pada abad pertama, banyak orang hari ini tidak peduli akan identitas Yesus. Banyak orang memandang Yesus tidak lebih daripada seorang yang berhati baik, yang melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk orang-orang lain. Sebagai akibatnya, cakrawala visi kehidupan mereka tentang kehidupan menjadi terlalu sempit, dan hal ini memang menyedihkan.

Akan tetapi, bagi kita umat Kristiani, pemahaman tentang siapa Yesus ini membuka kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah kita bayangkan dan pertimbangkan sebelumnya. Yesus sebenarnya menyatakan diri-Nya Allah (lihat Yoh 8:58). Dalam diri-Nya terdapatlah segala kualitas Allah sendiri. Sebagai Putera Allah yang kekal, Dia selalu ada. Sebelum dunia ada, Dia telah ditentukan sebelumnya untuk memerintah kita sebagai seorang Gembala yang menjaga domba-domba-Nya. Bahkan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Bapa surgawi sudah bermaksud mengutus Putera-Nya untuk memenuhi diri kita dengan kehidupan ilahi dan membawa kita ke hadapan hadirat-Nya.

Mendengar Yesus mendeklarasikan diri-Nya sebagai Allah, seharusnya menggerakkan hati kita dengan jaminan bahwa kita berada di  suatu tempat yang aman. Sekarang, sungguh percayakah anda bahwa Allah yang kekal mengetahui setiap saat dari kehidupan anda? Percayakah anda bahwa Dia ada bersama anda dalam setiap situasi yang anda hadapi, dan Ia tidak pernah melepaskan anda dari pandangan-Nya? Bahkan pada waktu kita jatuh ke dalam dosa dan ketidakpercayaan, Yesus ada di sana, siap untuk memimpin kita kembali kepada tangan-tangan Bapa surgawi. Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada kita semua. Hari ini, marilah kita berterima kasih kepada-Nya untuk kesetiaan-Nya dan mohon kepada Roh Kudus-Nya untuk menanamkan lebih dalam lagi kebenaran-kebenaran ini dalam hati kita.

DOA: Yesus, sungguh menghiburlah untuk mengenal dan mengalami kasih-Mu yang tak pernah sedikit pun berkurang kepada diriku. Biarlah sabda-Mu meresapi hatiku, sehingga aku dapat melihat-Mu sebagai Engkau yang sesungguhnya, ya Putera Allah yang kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 17:3-9), bacalah tulisan yang berjudul “PERJANJIAN YANG KEKAL ANTARA ALLAH DAN ABRAHAM” (bacaan tanggal 22-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK MENGENAL ALLAH SEBAGAI BAPA KITA

YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK MENGENAL ALLAH SEBAGAI BAPA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Rabu, 21 Maret 2018)

Lalu kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang telah percaya kepada-Nya, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Jawab mereka, “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tinggal dalam rumah selama-lamanya. Jadi, apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”

“Aku tahu bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapakmu.” Jawab mereka kepada-Nya, “Bapak kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka, “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi sekarang kamu berusaha membunuh Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapakmu sendiri.” Jawab mereka, “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.” Kata Yesus kepada mereka, “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku datang dari Allah dan sekarang Aku ada di sini. Lagi pula Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. (Yoh 8:31-42) 

Bacaan Pertama: Dan 3:14-20,24-25,28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56 

“Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku.” (Yoh 8:42)

Secara sepintas ucapan Yesus ini terasa berisikan tuduhan, seakan-akan Ia mengancam para pendengar-Nya, malah kita juga pada zaman ini. Akan tetapi, tentu saja tetap dimungkinkan bagi kita untuk membaca sabda Yesus tersebut secara positif, yaitu melihatnya sebagai sebuah undangan. Kita kan tahu benar, bahwa Yesus tidak pernah berkata-kata atau melakukan sesuatu yang tidak dimotivasi oleh cintakasih kepada manusia dan niat-Nya untuk menarik orang-orang kepada diri-Nya agar memperoleh keselamatan. Dia hanya datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang tersesat.  Ingatlah sabda-Nya pada peristiwa Zakheus: “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 19:10). Jadi, undangan Yesus adalah agar kita mengenal Allah sebagai Bapa kita – mengenal-Nya dengan cara yang akan mampu menggerakkan kita untuk mengasihi Yesus dan memberikan kepada-Nya hidup kita sendiri.

Yesus ingin sekali menyelamatkan kita. Oleh salib-Nya Dia telah memerdekakan /membebas-kan kita dari cengkeraman Iblis sehingga kita dapat membangun relasi penuh kasih dengan Allah Bapa kita (baca Rm 8:14-16). Bagaimanakah anda memberi tanggapan  terhadap undangan Yesus itu? Tanyakanlah pada diri anda sendiri beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apakah aku memandang Bapa di surga sebagai Pribadi yang paling baik-hati dan setia sejauh yang aku dapat bayangkan?
  • Apakah aku mengalami Allah yang hidup dan aktif dalam hatiku? Apakah kasih-Nya menghibur dan menguatkan diriku?
  • Apakah aku mempercayai bahwa Bapa surgawi mengasihiku tanpa batas?

Semakin kita mengenal Bapa surgawi dan mengalami kuasa kasih-Nya, semakin nyata pula kita akan bertumbuh dalam mengasihi Putera-Nya, dan hidup kita pun semakin diubah menjadi serupa dengan Yesus. Ini adalah hakekat dari kata-kata yang diucapkan Yesus di atas. Mengenal (dan mengalami) Allah sebagai Bapa menggerakkan kita untuk mengasihi Yesus dan mengikuti jejak-Nya.

Kasih Allah mengubah kita sementara kita menemukan suatu kebebasan untuk menyingkirkan dosa-dosa kita yang selama ini telah menghalangi kita untuk mengasihi-Nya dan mengasihi sesama, bahkan memampukan kita untuk mengasihi seorang pribadi yang secara normal sulit bagi kita untuk  mengasihinya. Dengan berjalannya waktu kita akan belajar bahwa kegagalan kita (karena dosa dll.) tidak dapat menggoyahkan kasih Allah kepada kita. Kita pun pada akhirnya akan menjadi manusia perdamaian: men and women of peace. 

DOA: Bapa surgawi, aku menyerahkan kehidupanku kepada-Mu. Aku telah berketetapan hati untuk dapat bebas-lepas dari dosa dan mengasihi-Mu serta umat-Mu dengan segenap hatiku. Semoga kasih-Mu bagiku memberdayakanku untuk hidup bagi-Mu dan sesamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 8:31-42), bacalah tulisan yang berjudul “DITRANSFORMASIKAN KE DALAM KESERUPAAN DENGAN ALLAH” (bacaan tanggal 21-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENINGGIKAN ANAK MANUSIA

MENINGGIKAN ANAK MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Selasa, 20 Maret 2018

 

Lalu Yesus berkata lagi kepada mereka, “Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.” Karena itu, kata para pemuka Yahudi itu, “Apakah Ia mau bunuh diri maka dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?” Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Jawab Yesus kepada mereka, “Apa yang telah Kukatakan kepadamu sejak semula? Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari Dia, itulah yang Kukatakan kepada dunia.” Mereka tidak mengerti bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. Maka kata Yesus, “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Ia, yang telah mengutus Aku, menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. (Yoh 8:21-30) 

Bacaan Pertama: Bil 21:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:2-3,16-21 

“Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.” (Yoh 8:23)

Dalam artian tertentu, pernyataan yang dibuat Yesus kepada orang-orang Yahudi yang melawan diri-Nya dapat diterapkan pada kita semua yang hidup pada abad ke-21 ini. Begitu mudah bagi manusia untuk terjebak dalam kesusahan-kesusahan dan hasrat-hasrat duniawi. Namun kabar baiknya adalah, bahwa Allah memiliki hasrat mendalam untuk mengangkat kita ke alam surgawi – bahkan sekarang juga ketika kita masih hidup di dalam dunia ini.

Kita mengetahui apa yang diungkapkan indra-indra manusiawi kita, dan kita biasanya berpikir berdasarkan indra-indra ini sesuai dengan suatu cara berpikir duniawi yang memiliki keterbatasan. Akan tetapi, semakin banyak kita memperkenankan Roh Kudus menyatakan kebenaran ilahi dan kasih ilahi kepada kita, maka semakin banyak pula pikiran dan pemikiran kita dapat terangkat untuk ditransformasikan oleh Tuhan. Selagi kita  memperkenankan Roh Kudus memimpin kita dan membimbing kita, kita akan mengalami Injil secara pribadi dan dipenuhi dengan kasih kepada Bapa surgawi.

Bagaimana kita dapat melakukan ini? Yesus berjanji, bahwa apabila Dia ditinggikan, maka kita akan mengenal dan mengalami siapa Dia sebenarnya: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia dan bahwa aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku” (Yoh 8:28). Apabila kita meninggikan Yesus dalam doa, maka kita pun akan ditinggikan bersama dengan-Nya. Apabila kita meninggikan Dia melalui ketaatan penuh hormat dan pertobatan yang dilakukan dengan kerendahan hati, maka kita mulai dapat mencicipi alam surgawi. Apabila kita menempatkan kasih kepada Allah dan sesama di atas cinta kepada diri kita sendiri, maka hati kita pun akan diterangi dan mengalami kasih ilahi. Setiap hari Roh Kudus memberikan kepada kita kesempatan atau peluang seperti ini yang tak terbilang banyaknya – kesempatan untuk ditinggikan. Kuncinya adalah untuk mengenali kesempatan-kesempatan ini ketika mendatangi kita.

Yesus tidak menginginkan kita untuk sekadar hidup sebagai warga dunia ini. Dia ingin agar kita mempunyai pengalaman mencicipi kemuliaan surgawi di mana Dia berdiam – hari ini, sekarang juga. Apakah anda ingin mengalami secara lebih lagi kehidupan surgawi pada masa Prapaskah? Kalau begitu halnya, tinggikanlah Yesus dan mohonlah kepada Roh Kudus untuk meninggikan anda bersama dengan Yesus. Berkumpullah, bersekutulah dalam doa-doa bersama umat Kristiani lainnya yang juga ingin mengalami sentuhan kemuliaan surgawi. Kemudian, apabila anda menjadi penuh dengan hidup surgawi, maka anda pun menjadi seorang pribadi yang lebih bebas-merdeka dan diberdayakan  untuk membawa kerajaan surga kepada dunia di sekeliling anda.

DOA: Roh Kudus Allah, datanglah dan tolonglah aku untuk senantiasa meninggikan Yesus, sehingga aku dapat mengalami sentuhan surgawi yang lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Yoh 8:21-30), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN YESUS KE TENGAH DUNIA ADALAH UNTUK MENYELAMATKAN” (bacaan tanggal 20-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Clandak, 17 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS