Posts tagged ‘PEKAN BIASA XXXII’

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEORANG HAKIM YANG TIDAK TAKUT KEPADA ALLAH

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEORANG HAKIM YANG TIDAK TAKUT KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Sabtu, 18 November 2017)

Ordo Klaris Kapusin (OSCCap.): Peringatan B. Salomea, Perawan 

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8) 

Bacaan Pertama: Keb 18:14-16,19:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-3,36-37,42-43 

Kita melihat begitu banyak terjadi ketidak-adilan dan keserakahan pada banyak tempat di dunia ini, termasuk di negeri kita tercinta ini. “Wong Cilik” diperlakukan dengan semena-mena tanpa mempedulikan sedikit pun hak-hak azasi mereka.  Bahkan dalam hidup kita sendiri pun, tentunya kita juga mengalami di sana-sini “ketidak-adilan” itu. Kita merasa tak berdaya dan tidak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi. Dalam situasi-situasi seperti ini hati kita berseru: “Akankah Allah menurunkan keadilan atas mereka yang tak bersalah?”

Yesus menjamin bahwa seruan kita tidaklah percuma. Dalam perumpamaan Yesus ini, sang janda merupakan personifikasi dari orang yang paling rentan dalam masyarakat, yang paling mudah dilecehkan oleh orang lain. Dalam ketidak-berdayaannya dia mohon kepada Pak Hakim untuk membela hak-haknya. Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk menolongnya, tidak mempunyai kedudukan sosial sebagai orang terpandang, tidak pula mempunyai uang dan kuasa. Sekarang, secara lengkap dia tergantung pada good-will Pak Hakim. Tetapi Pak Hakim ini bukanlah seorang yang memikirkan masalah keadilan, dia tidak takut kepada Allah dan tidak juga menaruh respek kepada orang-orang lain. Oleh karena itu kelihatannya permohonan sang janda itu akan sia-sia belaka. Namun demikian, permohonan sang janda yang tabah-ulet ini akhirnya meluluhkan hati Pak Hakim karena dia sudah merasa begitu terganggu oleh permohonan-permohonan sang janda yang datang secara bertubi-tubi.

Dari perumpamaan ini Yesus menarik tiga buah kesimpulan yang harus diterapkan dalam hidup kita. Pertama, kalau Pak Hakim yang tidak jujur itu mau mendengarkan permohonan sang janda, maka lebih-lebih lagi Allah yang menurunkan keadilan kepada mereka yang dikasihi-Nya manakala mereka berseru kepada-Nya secara terus-menerus. Allah adalah “seorang” Bapa penuh-kasih yang membela orang-orang yang tak bersalah. Allah mendengarkan dan menjawab seruan-seruan kita. Kedua, Allah tidak akan menunda lama-lama. Dengan “cepat” Ia akan menjawab doa-doa umat beriman. “Cepat” bukan berarti doa kita “langsung” dijawab-Nya, karena mungkin saja Dia masih menunda. Namun demikian mengapa Allah tidak langsung menjawab permohonan kita? Pertanyaan ini membawa kita kepada butir berikutnya. Ketiga, Yesus mengakhiri perumpamaan-Nya dengan sebuah pertanyaan: “… jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:8). Pada waktu Yesus datang untuk menghakimi dunia, apakah masih ada orang yang berdoa untuk kedatangan-Nya dan percaya bahwa hal itu akan terjadi? Pertanyaan sebenarnya bukanlah apakah Allah akan membawa keadilan pada akhir zaman, melainkan apakah kita dengan penuh kepercayaan masih berpengharapan bahwa hal itu akan dilakukan-Nya? Allah menunda jawaban-Nya supaya memberikan kepada kita suatu kesempatan untuk memanifestasikan iman kita kepada-Nya. Iman yang ingin dilihat Allah dari kita adalah iman seperti iman sang janda dalam perumpamaan di atas. Kalau kita memiliki iman seperti itu, maka doa-doa kita pun tidak penuh diisi dengan berbagai permohonan dari seorang peminta-segala, akan tetapi diisi dengan pengharapan penuh sukacita. Marilah kita mengikuti contoh sang janda yang tekun ini sementara kita menempatkan segala kebutuhan kita di hadapan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar menjadi lebih yakin lagi akan kebaikan-Mu dan berilah aku kesabaran yang diperlukan untuk mampu melihat perkembangan segala sesuatu seturut kehendak-Mu. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, keberanian untuk bertekun dalam doa-doaku, walaupun selagi Engkau memberikan damai-sejahtera kepadaku karena mengetahui bahwa Engkau akan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “MENYERAHKAN HIDUP KITA SEPENUHNYA KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 18-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2017 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, yang bersama S. Ludovikus IX adalah Orang-orang Kudus Pelindung OFS – Jumat, 17 November 2017)

 

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: Keb 13:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Hampir semua orang merasa tidak enak kalau merenungkan masalah akhir zaman. Namun demikian Yesus membahas hal-ikhwal akhir zaman ini dengan para murid-Nya, dan Gereja mengundang kita semua untuk merenungkan janji-janji-Nya tentang apa yang akan datang kelak. Yesus membuat jelas kepada para murid-Nya bahwa semua pengikut-Nya harus percaya akan kedatangan-Nya untuk kedua kali kelak.

Yesus mengatakan bahwa akhir sejarah umat manusia akan menyangkut suatu “perpisahan”. Ia bersabda, “Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling  gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (Luk 17:34-35). Kebudayaan modern cenderung untuk mengabaikan “peringatan akan suatu penghakiman”. Banyak orang merasa bahwa Allah yang penuh kasih tidak akan menghukum siapa pun. Namun jelaslah bahwa Yesus mengajarkan bahwa Bapa surgawi telah memberikan kepada-Nya wewenang penuh untuk menghakimi dunia. Dalam kesempatan lain Ia bersabda: “Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia” (Yoh 5:23-24). Akan tetapi hanya Allah sajalah yang menentukan kapan “perpisahan” itu akan terjadi. Situasi umat manusia zaman sekarang tidak ubahnya dengan zaman Nuh (lihat Luk 17:26-27). Manusia akan melanjutkan rutinitas kehidupan mereka sampai kedatangan waktu yang ditentukan Allah itu.

Kita dapat dengan mudah menjadi takut akan hal-hal yang akan terjadi pada hari-hari terakhir bumi ini. Bukanlah maksud Yesus untuk menakut-nakuti kita, melainkan untuk menyiapkan kita akan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya kelak. Yesus mengingatkan para murid-Nya: “Ingatlah akan istri Lot!” (Luk 17:32). Kita ketahui bahwa istri Lot menolak pesan dari malaikat: ia menoleh ke belakang, artinya dia mau tetap berpaut pada masa lampaunya; dan dia menjadi tiang garam (lihat Kej 19:26).  Yesus bersabda: “Siapa  saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Luk 17:33). Roh Kudus akan mengajarkan kepada kita tentang apa artinya melepaskan diri kita dari keterlekatan pada kehidupan dunia dan mencari dulu Kerajaan Allah (lihat Mat 6:33).

Yesus tidak pernah menyembunyikan apa pun dari para murid-Nya. Bagi mereka yang menolak tawaran Allah untuk hidup dalam Kristus, akan ada penderitaan. Namun demikian, kabar baiknya adalah bahwa bila Yesus datang kembali kelak, Ia akan membawa serta kita kepada suatu hidup penuh kemuliaan. Hidup mulia seperti itu dapat dimulai sekarang, melalui partisipasi kita dalam sakramen-sakramen (teristimewa Ekaristi); kehidupan doa kita; kegiatan membaca serta merenungkan firman Allah dalam Kitab Suci; dan berbagai kegiatan pelayanan-penuh-kasih kita kepada orang-orang lain (termasuk berbagai bentuk  evangelisasi, tentunya). Dengan membuat langkah-langkah sedemikian, kita sebenarnya menyiapkan hati kita untuk kedatangan hari mahapenting itu di mana Allah akan memanggil kita untuk datang menghadap-Nya dan hidup bersama-Nya. Bagi orang-orang yang mengenal Yesus dan menjalani hidup Injili seturut jejak-Nya secara pribadi dan intim, maka kedatangan-Nya kembali akan merupakan suatu peristiwa yang indah-menakjubkan dan penuh sukacita. Kita akan begitu terserap ke dalam kasih-Nya dan tertangkap oleh pemenuhan harapan-harapan dan impian-impian kita, sehingga tentunya akan meninggalkan segalanya yang ada pada kita di belakang kita , dan kita pun akan berlari-lari untuk menyambut kedatangan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, cepatlah datang. Aku sangat merindukan kedatangan-Mu. Aku tidak dapat menunggu untuk dapat bersama dengan-Mu, dan akhirnya memandang-Mu ‘muka ketemu muka’.  Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN KEMBALI YESUS KE DUNIA PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 17-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 November 2017 [Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan OFM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KERAJAAN ALLAH BERARTI ALLAH MERAJA

KERAJAAN ALLAH BERARTI ALLAH MERAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Kamis, 16 November 2017)

 

Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tangan lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25) 

Bacaan Pertama: Keb 7:22-8:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:89-90,130,135,175 

Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang waktu kedatangan Kerajaan Allah, sebenarnya mereka menanyakan kapan Mesias datang untuk melakukan restorasi atas takhta Daud. Mereka mengharapkan seorang Mesias-politik yang akan mendepak-keluar penjajah Roma, kemudian mendirikan kembali dinasti Daud. Mereka tidak mampu menangkap makna sesungguhnya dari berbagai mukjizat dan perumpamaan Yesus sebagai “tanda-tanda yang jelas bahwa kerajaan Allah di atas muka bumi telah dimulai”, padahal bukti bahwa kerajaan Allah telah masuk ke dalam dunia sudah ada di sekeliling mereka. Orang-orang Farisi luput melihat tanda-tanda itu karena terlalu sibuk dengan masalah dunia.

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan “Kerajaan Allah”? Di mana lokasinya? Bagaimana kerajaan itu diorganisasikan? Kerajaan Allah berarti “Allah meraja”. Bagi Yesus, Kerajaan Allah adalah kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya. Dalam artian ini Kerajaan Allah merupakan suatu kerajaan spiritual, bukan kerajaan dalam artian duniawi (lihat Yoh 18:36; Luk 11:20). Keberadaan Kerajaan Allah bersifat batiniah di dalam hati orang-orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan yang di dieja-wantahkan di dunia oleh mereka dalam kata-kata dan perbuatan-perbuatan sebagai umat beriman. Melalui Yesus, Kerajaan Allah tersedia bagi setiap dan masing-masing kita. Allah beserta kita! Dengan demikian kita tidak usah merasa takut terhadap apa saja yang menghalangi jalan kita. Kalau hati kita berlabuh dan kuat tertambat pada kasih Yesus dan kuasa-Nya, maka kita pun akan mengalami damai-sejahtera yang sejati. Damai-sejahtera itu dapat kita peroleh manakala kita berpaling kepada Allah dalam sakramen-sakramen, dalam doa-doa, dalam Kitab Suci, dan dalam persekutuan dengan orang-orang Kristiani lainnya.

Pada akhir renungan ini kita akan melihat bahwa kedatangan Kerajaan Allah tidak berarti bahwa berbagai pencobaan dan penderitaan telah usai. Sebaliknya, penderitaan masih akan berlangsung bagi para pengikut/murid Yesus. Santo Paulus menulis: “Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm 8:17). Kerajaan Allah hadir sekarang dan di sini – meskipun jauh dari sempurna – dalam Gereja, umat Allah. Kerajaan Allah akan mencapai kesempurnaannya pada akhir zaman, pada waktu Yesus datang kembali dalam kemuliaan.

Ada orang-orang yang selalu menyibukkan diri dengan upaya-upaya untuk menentukan kapan Yesus datang untuk kedua kalinya, agar supaya mereka berada dalam keadaan siap pada waktu hal itu terjadi. Mereka banyak membuang waktu membaca tanda-tanda dan berusaha membuat kalkulasi-kalkulasi yang diperlukan untuk sampai kepada tanggal yang dicari-cari itu. Memang kita dapat berdoa dan dapat merindukan peristiwa kedatangan kembali Yesus pada akhir zaman, namun berkaitan dengan ini Yesus dengan jelas menyatakan: “… tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja. Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu kapan saatnya tiba” (Mrk 13:32-33). Yesus juga mengingatkan bahwa kita akan mendengar nubuat-nubuat palsu, namun tidak perlu merasa terganggu kalau saja kita menghayati hidup yang penuh antisipasi akan kedatangan-Nya: “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan. Amin” (Doa Syukur Agung, Anamnesis 2). Hal yang terpenting adalah, bahwa kita sudah siap menerima Yesus kapan saja Dia datang; dan cara terbaik untuk mewujudkan hal ini adalah dengan tetap setia kepada Injil dan setiap hari menghayati suatu hidup Kristiani sepenuhnya, tanpa “diskon” di sana-sini. Dengan demikian kita akan siap untuk menyambut-Nya kapan saja Dia akan datang kembali. “… kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan” (1Ptr 1:5-6).

DOA: Tuhan Yesus, jagalah diriku agar tetap setia dalam menjalani hidup Injili di atas muka bumi ini. Aku sungguh merindukan kedatangan-Mu kembali. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “KAPAN KERAJAAN ALLAH AKAN DATANG?” (bacaan tanggal 16-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 12 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA SEORANG SAJA

HANYA SEORANG SAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 15 November 2017)

 

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19) 

Bacaan Pertama: Keb 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 82:3-4,6-7

Bacaan Injil hari ini adalah mengenai mukjizat dan penyembuhan sepuluh orang kusta. Namun ada perbedaan hakiki antara penyembuhan orang kusta dalam bacaan Injil hari ini dengan cerita-cerita penyembuhan di bagian lain Injil Lukas, bertolak belakang dengan yang biasanya kita bayangkan.

Misalnya, dalam cerita tentang penyembuhan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah (Luk 5:17-26; bdk. Mrk 1:16-20), Yesus melihat iman dari teman-teman si lumpuh, lalu Ia berkata kepadanya: “Hai saudara, dosa-dosamu  sudah diampuni.”  Hanya setelah Yesus mengetahui pikiran para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menuduh bahwa Dia menghujat Allah, maka Dia menyembuhkan orang lumpuh itu secara fisik. Namun bacaan Injil hari ini menunjukkan suatu perbedaan, malah boleh dikatakan kebalikannya. Pertama-tama Yesus menyembuhkan penyakit kusta dari sepuluh orang itu di tengah perjalanan mereka untuk menemui para imam, lalu hanya seorang saja (orang Samaria) yang kembali menemui-Nya untuk berterima kasih penuh syukur karena disembuhkan. Yesus berkata kepada orang-orang yang hadir: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?”  (Luk 17:17-18). Lalu Dia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk 17:19). Ucapan Yesus yang terakhir ini mengindikasikan penyembuhan rohani dari pengampunan dan keselamatan (spiritual healing of forgiveness and salvation).

Memang sungguh mengagetkan, sembilan dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan tidak kembali untuk berterima kasih penuh syukur kepada Yesus. Kita tidak dapat mengetahui apa-apa lagi tentang sembilan orang yang tidak tahu berterima kasih itu, namun kita dapat berasumsi bahwa  ketiadaan pertimbangan mereka tersebut masih menghadang mereka untuk menjadi selamat pada tingkatan rohani. Dengan tidak kembalinya mereka kepada Yesus, mereka membuat diri mereka luput dari kesembuhan yang lebih besar. Memang benar bahwa Yesus ingin menyembuhkan kita secara fisik, namun Ia juga berminat – malah boleh dikatakan lebih berminat – dalam hal penyembuhan rohani (spiritual healing). Kita tahu bahwa paling sedikit ada seorang di antara sepuluh orang kusta tersebut yang diangkat ke surga karena dia telah diselamatkan.

Dalam Sakramen Rekonsiliasi, kita berjumpa dengan kuat-kuasa Yesus untuk menghapus dosa-dosa kita dan mengatakan kepada kita: “Imanmu telah menyelamatkan engkau.”  Apa yang harus kita lakukan sebenarnya mudah. Kita perlu datang menghadap Yesus dan mohon pengampunan-Nya, dan kemudian mencoba untuk tidak berdosa lagi. Yesus akan melakukan selebihnya. Dia mengampuni, Dia menyembuhkan, Ia memperbaiki relasi kita dengan Bapa dan diri-Nya. Pokoknya, Yesus menyelamatkan, Ia membuat kita OK. Jikalau Yesus dapat melakukan begitu banyak kebaikan bagi kita, bagaimana kita sampai mengabaikan/lupa untuk melakukan bagian kecil yang diminta dari kita, yaitu berterima kasih penuh syukur kepada-Nya?

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa oleh otoritas-Mu sebagai Putera Allah, Engkau memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosaku. Melalui Sakramen Rekonsiliasi, aku mengakui dosaku dan mohon kepada-Mu untuk menyelamatkan diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-19), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 15-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIAPAKAH KITA INI, TUAN ATAU HAMBA?

SIAPAKAH KITA INI, TUAN ATAU HAMBA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Selasa, 14 November 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk – Martir 

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk 17:7-10) 

Bacaan Pertama: Keb 2:23-3:9; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-19

Sebagai siapakah kita mau menempatkan diri dalam perumpamaan ini? Sebagai sang tuan atau hamba? Kecenderungan manusiawi yang ada pada diri kita akan mengatakan: “Sebagai Tuan”. Lagipula ide menjadi seorang hamba sungguh tidak membuat nyaman. Kita begitu biasa memiliki kontrol/kendali – besar atau kecil – atas hidup kita sendiri, dan juga kita sangat enggan untuk setiap saat harus siap melayani orang lain. Misalnya, memang dalam kampanye pemilu dan lain sebagainya, ide pemimpin sebagai pelayan rakyat relatif sering digembar-gemborkan, namun biasanya dilupakan begitu sang kandidat berhasil dipilih.  Sifat masyarakat kita yang masih cenderung feodal itu juga membuat kata-kata Yesus ini terdengar sangat radikal.

Di sisi lain penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah merupakan salah satu ciri pribadi yang kita kagumi dari orang-orang kudus. Maria, Yosef, para martir Kristus di abad-abad pertama sejarah Gereja, para misionaris masa lampau dan lain sebagainya adalah contoh-contoh dari orang-orang yang melakukan tindakan penyerahan-diri secara total kepada kehendak Allah. Mereka semua melepaskan hak-hak mereka atas kehidupan mereka sendiri, dan hanya melakukan apa yang dikehendaki Allah supaya mereka lakukan. Mereka menjadi hamba-hamba yang memberikan hidup mereka kepada Allah dalam berbagai cara. Dengan menjadi milik Yesus Kristus, mereka tidak hanya menemukan sukacita, melainkan juga energi, kasih yang sejati dan ketekunan-tahan-banting seperti ditunjukkan dalam kehidupan mereka. Santo Fransiskus dari Assisi adalah sebuah contoh baik dalam hal ini.

Abad ke-20 mengenal Ibu Teresa yang menunjukkan ciri pribadi seperti yang baru disebutkan. Hidup kemiskinan yang dihayati Ibu Teresa dan para susternya mencakup juga kemiskinan-ketaatan (poverty of obedience), artinya menolak pilihan-pilihan pribadi, semua demi pelayanan total kepada Allah. Ibu Teresa menulis:

“Apabila sesuatu adalah milikku, maka aku memiliki kuasa penuh untuk menggunakannya sesuai dengan keinginanku. Aku milik Yesus; maka Dia dapat melakukan apa saja atas diriku sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Karya kami bukanlah panggilan kami. Aku dapat melakukan karya ini tanpa perlu menjadi seorang biarawati. Profesi kami menyatakan bahwa kami adalah milik-Nya. Oleh karena itu aku siap untuk melakukan apa saja: mencuci, menggosok lantai, membersihkan. Aku seperti seorang ibu yang melahirkan seorang anak. Anak itu miliknya. Semua cuciannya, tetap berjaga di waktu malam, dll. membuktikan bahwa anak itu adalah miliknya. Dia tidak akan melakukan hal-hal ini untuk anak lain, namun dia akan melakukan apa saja untuk anaknya sendiri. Apabila aku adalah milik Yesus, maka aku akan melakukan apa saja bagi Yesus” (Total Surrender, hal. 123).

Seperti Santa Teresa dari Kalkuta dan para kudus yang mendahului kita, kita harus percaya  bahwa segalanya adalah milik Allah, dengan demikian kita berhutang kepada-Nya untuk keberadaan kita. Tidak ada pekerjaan baik dari pihak kita yang dapat menghapus hutang kepada Allah. Namun demikian kita harus yakin bahwa kalau tahun-tahun pelayanan kita yang dilakukan dengan rendah-hati berakhir, maka kita akan memperoleh ganjaran melalui kerahiman-Nya. Ingatlah apa yang dikatakan Yesus: “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang” (Luk 12:37). Maka marilah kita bergabung dengan para kudus yang menemukan sukacita dalam melayani Tuan mereka, Yesus Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah seorang hamba yang taat kepada Bapa-Mu melalui kasih yang sempurna. Tolonglah aku untuk mengenal dan mengalami kasih-Mu dalam doa-doa dan tindakan-tindakanku. Tuhan Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu, agar melalui aku orang-orang lain dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 14-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggaal 8-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI BERBELAS KASIH SEPERTI YESUS SENDIRI

MENJADI BERBELAS KASIH SEPERTI YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Senin, 13 November 2017)

OFM: Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan 

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tidak mungkin tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat dosa, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini berbuat dosa. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17:1-6) 

Bacaan Pertama: Keb 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-10 

Ketika seorang eksekutif perusahaan – katakanlah namanya Franky – mendengar bahwa rekan kerjanya yang bernama Brutus baru saja terserang penyakit kanker serius, ia merasakan bahwa barangkali Tuhan menginginkan dirinya mengunjungi Brutus di rumah sakit dan menghiburnya. Akan tetapi kemudian muncul dalam ingatannya bahwa Pak Brutus ini beberapa tahun yang lampau pernah berbicara buruk tentang dirinya (di belakang punggungnya) sehingga Franky kehilangan kesempatan untuk sebuah promosi guna menduduki jabatan sangat penting dalam perusahaan. Sebenarnya Franky telah melupakan peristiwa atau insiden itu, namun berita tentang jatuh sakitnya Pak Brutus ini mendatangkan kembali penolakan yang selama ini telah ditekannya. Pada saat itu Franky menyadari bahwa sekali lagi dia harus mematuhi perintah Allah untuk mengampuni Pak Brutus – tujuh puluh kali setiap hari – kalau memang diperlukan.

Memang tidak mudah bagi kita untuk mengampuni orang-orang lain, teristimewa mereka yang menyakiti hati kita secara mendalam, telah memperlakukan kita dengan tidak adil, telah mendzolimi kita. Akan tetapi, kita harus selalu mengingat tiga alasan besar mengapa kita harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita itu. Pertama-tama, Yesus sendiri memerintahkan kita untuk mengampuni. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus dengan jelas menyatakan bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, bahkan mengampuni mereka lagi dan lagi (bdk. Mat 18:22). Akan tetapi seperti halnya Franky, kita pun dapat menilai  bahwa “dosa/kesalahan” orang lain itu kepada kita begitu besarnya – dan luka-luka yang diakibatkan oleh orang lain itu begitu sakitnya – untuk dapat kita ampuni. Pada tingkatan ini, ingatlah bahwa Yesus tidak akan meminta kita melakukan sesuatu yang kita tidak dapat lakukan. Sederhana saja: Kita harus belajar bagaimana mengampuni.

Kedua, adalah baik bagi kita untuk mengampuni. Dengan mengampuni orang lain, kita membuat diri kita terbebaskan dari kepahitan yang merusak, yang menggerogoti hati kita, bahkan yang dapat menjadi sedemikian kuat sehingga membawa dampak buruk atas kesehatan kita. Dengan mengampuni, kita membiarkan pergi segala beban penolakan yang sedemikian. Jangan pula kita melupakan salah satu Sabda Bahagia dari Yesus: “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan” (Mat 5:7).

Ketiga, belas kasih dan pengampunan kita dapat juga mengubah hati orang-orang lain. Apabila kita memperlakukan seseorang dengan respek dan penuh martabat – walaupun orang itu telah menyakiti hati kita – maka kita dapat membantu melunakkan hatinya. Siapa tahu? Mungkin saja pengampunan kita akan menggerakkan orang itu menjadi berbelas kasihan juta, menyebabkan terjadinya reaksi-berantai yang melibatkan lebih banyak orang lain lagi!

Jadi, apa kiranya pendapat Saudari dan Saudara? Mungkinkah bagi kita (anda dan saya) untuk mengambil satu langkah lebih dekat lagi dengan panggilan Yesus untuk menjadi berbelaskasih seperti diri-Nya? Dapatkah kita memohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita bela rasa sedikit lebih lagi? Tidak perlulah untuk segalanya diperoleh sekaligus, tetapi dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit namun mantap.

DOA: Tuhan Yesus, hati-Mu penuh berlimpah dengan belas kasih yang tanpa batas. Tolonglah aku agar dapat menjadi seperti diri-Mu, yaitu dalam hal mempraktekkan belas kasih dan pengampunan kepada semua orang yang bersalah kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENANGGAPI PANGGILAN YESUS UNTUK MENGAMPUNI” (bacaan tanggal 13-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 November 2017 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS