Posts tagged ‘PEKAN BIASA XXVII’

BERIKANLAH PUJIAN KEPADA ALLAH

BERIKANLAH PUJIAN KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Sabtu, 14 Oktober 2017) 

Ketika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:27-28) 

Bacaan Pertama: Yl 3:12-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,11-12

Apa yang dikatakan oleh Yesus kepada perempuan itu adalah gema dari apa yang telah dikatakan-Nya kepada 70 murid-murid-Nya pada saat mereka kembali dari perjalanan misi mereka (Luk 10:17-20).

Pada waktu itu para murid memuji Dia dan diri mereka sendiri untuk kuasa nama Yesus atas roh-roh jahat. Kemudian Yesus meluruskan kembali “euforia” mereka dengan mengajar mereka: “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga”  (Luk 10:20). Langsung setelah mengatakan hal itu Yesus juga bersukacita dalam Roh Kudus dan memuji Bapa-Nya di surga untuk apa yang dinyatakan-Nya kepada para murid-Nya.

Sekarang, ketika perempuan dalam bacaan Injil hari ini memuji Yesus dan ibunda-Nya dengan mendeklarasikannya sebagai “berbahagia” karena mengandung dan menyusui seorang nabi besar, sekali lagi Yesus meluruskan kembali pujian itu kepada Allah: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28). Yesus dapat membaca apa yang ada dalam pikiran perempuan itu, sebagaimana Dia sebelumnya dapat membaca apa yang ada dalam pikiran para murid-Nya yang baru kembali dari perjalanan misi mereka. Kepada para murid-Nya, Yesus memperingatkan, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Luk 10:18). Dengan perkataan lain, seolah-olah Yesus mengatakan: “Jangan mengambil “kredit” seakan-akan kamu sendirilah yang melakukan pekerjaanmu. Itu adalah pekerjaan Allah, oleh karena itu berikanlah pujianmu kepada-Nya.”

Kepada perempuan dalam bacaan Injil hari ini Yesus memberikan nasihat serupa: “Apabila yang ibu maksudkan adalah, ‘sayang sekali aku tidak dapat menjadi ibunda Mesias,’ ingatlah, ibu dapat berada dekat dengan Allah juga. Ibu dapat mendengar sabda Allah dan memeliharanya juga. Itulah yang membuat ibu-Ku Maria, seorang perempuan besar. Ibu-Ku Maria senantiasa membawa privilese-privilese dan kehormatannya, demikian pula pencobaan-pencobaan yang dihadapinya, kemiskinannya dan kesulitan-kesulitannya ke dalam pujian kepada Allah. Ibu dapat melakukan hal yang sama, dan ibu akan diberkati, ibu akan berbahagia. Yang paling berbahagia dan terberkati adalah mereka yang mendengarkan sabda Allah, yaitu pesan-pesan-Nya, dan menanggapinya, mentaatinya, setia kepada sabda-Nya sepanjang hidup mereka. Baik ibu-Ku maupun Aku sendiri tidak mencari-cari pujian bagi diri kami sendiri. Hidup kami dimaksudkan untuk menjadi pujian bagi Bapa surgawi, dan kami memuji Bapa dengan memegang sabda-Nya, dengan melaksanakan rencana-Nya bagi kami.”

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menunjukkan arah tujuan hidupku. Berikanlah kepadaku terang agar mampu mendengarkan sabda-Mu, sabda Allah, dan memeliharanya dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:27-28), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG BERBAHAGIA?” (bacaan tanggal 14-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 12 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

YESUS VS IBLIS DAN ROH-ROH JAHATNYA

YESUS VS IBLIS DAN ROH-ROH JAHATNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Jumat, 13 Oktober 2017) 

Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26) 

Bacaan Pertama: Yl 1:13-15;2:1-2; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-3,6,8-9,16

Pernahkah anda tergoda untuk berpikir bahwa anda dapat menjalani kehidupan ini tanpa Allah? Pada saat-saat seperti itulah Iblis datang dan menggoda kita. Dia dapat membuat kita berpikir yang tidak-tidak tentang orang lain atau melakukan sesuatu yang tidak baik terhadap orang lain itu. Dia juga dapat membujuk kita untuk berhenti berdoa; dengan memberikan alasan sinetron tertentu atau acara “infotainment”di televisi lebih mengasyikkan daripada berdoa, yang tokh tak pernah dikabulkan oleh Allah dll. Salah satu taktik favorit Iblis adalah menyulut konflik di antara umat Allah, teristimewa di dalam keluarga-keluarga kita.

Akan tetapi, percayalah bahwa apabila kita sungguh bersatu dengan Yesus, Iblis tidak akan menang! Pada waktu Yesus mencurahkan darah-Nya dari atas kayu salib, Ia menjembatani kesenjangan yang selama itu memisahkan antara kita-manusia dengan Allah Bapa di surga. Yesus mempersatukan kita dengan diri-Nya dan memberdayakan kita agar mampu mengatasi dosa, kematian, dan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya. Yesus meneguhkan – artinya mengkonfirmasi – tempat kekal yang ‘ditakdirkan’ bagi kita di hadirat-Nya di surga. Dia mencabut dosa dari hati kita sehingga kebenaran-Nya dapat berakar-kuat dalam diri kita masing-masing. Allah, Bapa kita di surga mengklaim kita sebagai anak-anak-Nya. Inilah kuat-kuasa dari Injil: Iblis tidak lagi berkuasa atas diri kita. Kita dibebaskan dari cengkeraman si Jahat dan sekarang dipegang oleh tangan-tangan penuh kasih dari Bapa surgawi.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, ingatlah siapa sebenarnya diri anda dan apa yang telah diberikan kepada anda masing-masing. Yesus merasa senang  apabila kita menempatkan diri kita lebih kokoh lalgi dalam penebusan yang dimenangkan oleh-Nya bagi kita. Oleh karena itu, baiklah kita mempersembahkan diri kita dan semua anggota keluarga kita kepada Yesus setiap hari. Baiklah kita menempatkan rasa percaya kita dalam otoritas lengkap dari darah-Nya. Kuat-kuasa dari darah Yesus jauh melebihi wacana perdebatan para teolog. Umat Kristiani yang biasa-biasa saja mengalami kuat-kuasa darah Yesus itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Marilah kita berdoa memohon agar darah-Nya melindungi seluruh keberadaan kita dan mereka yang kita kasihi. Di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di dalam mobil angkot, pokoknya di mana saja, kita dapat berdoa mohon perlindungan oleh darah Yesus, dan Iblis dan roh-roh jahat pun akan lari.

Ketika kita mohon kepada Yesus untuk menyembuhkan kita dan memulihkan relasi yang telah dirusak oleh dosa dan oleh Iblis dkk., maka Dia memenuhi diri kita dengan kasih dan bela rasa. Yesus akan menunjukkan kepada kita bagaimana perjuangan kita bukanlah melawan orang-orang lain yang kelihatan, melainkan melawan kuasa-kuasa kejahatan yang bersifat spiritual. Ia juga akan menunjukkan kepada kita bahwa dalam pertempuran melawan kejahatan, kepada kita telah diberikan perlengkapan-perlengkapan senjata kebenaran, keadilan, kerelaan untuk memberitakan Injil damai-sejahtera, iman, keselamatan,  dan sabda-Nya (Ef 6:14-17). Marilah kita terjun ke dalam pertempuran spiritual ini pada hari ini, percaya penuh bahwa dalam Kristus kita mempunyai segalanya yang diperlukan.

DOA: Roh Kudus Allah, kami percaya akan kuat-kuasa-Mu untuk menyembuhkan apa yang telah dirusak dan mengumpulkan serta menyatukan kembali apa saja yang telah dicerai-beraikan. Lingkupilah kami dengan darah Yesus dan ikatlah kami bersama dalam kasih Bapa. Kami tidak percaya pada diri kami sendiri, melainkan percaya kepada-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:15-26), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MELAWAN KUASA KEGELAPAN DENGAN KUASA ALLAH” (bacaan  tanggal 13-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 11 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ROH KUDUS AKAN DIBERIKAN OLEH BAPA SURGAWI KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

ROH KUDUS AKAN DIBERIKAN OLEH BAPA SURGAWI KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 12 Oktober 2017)

Keluarga OFMCap.: Peringatan S. Serafinus dr Montegranaro, Biarawan 

Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13) 

Bacaan Pertama: Mal 3:13-4:32a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Apakah artinya iman apabila tidak diiringi dengan rasa percaya (trust) dan ketekunan? Allah menginginkan kita untuk menjadi orang yang tidak bergeming sampai sahabat-tetangganya memberikan kepadanya semua yang dibutuhkannya. Allah ingin agar kita datang kepada-Nya dengan penuh gairah serta menghasrati berkat-Nya dan mempunyai harapan Ia akan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. Jika Ia tidak langsung memberikan apa yang kita mohonkan, maka hal itu tidak disebabkan Ia terlalu sibuk dengan hal-hal lain atau memang tidak cukup memperhatikan kita. Seringkali, Ia ingin agar kita menunggu karena Dia mengetahui bagaimana ketekunan yang mendalam dapat mengubah kita. Santo Paulus menulis: “…… kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Rm 5:3-4).

Seperti halnya orang-orang tertentu, kita bisa saja merasa cepat putus-asa apabila kita tidak langsung menerima sebuah jawaban dari Yang Ilahi. Kita dapat merasa seperti menyerah berharap kepada Allah dan mulai mengandalkan diri kepada kekuatan kita sendiri.  Akan tetapi Allah mendesak kita agar supaya tetap mengetuk pintu; Ia berjanji akan membukakan pintu dan mencurahkan Roh Kudus-Nya. Kita tidak pernah boleh melupakan, bahwa Dia adalah “seorang” Bapa yang hikmat-Nya mentransenden (melampaui) pemahaman manusiawi yang kita miliki.

Bilamana Allah menunda pemberian jawaban-Nya terhadap doa kita, maka hal itu seringkali disebabkan karena Dia sedang mengajar kita untuk takut kepada-Nya secara layak dan pantas. Dia adalah Allah dan kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Allah selalu baik, kudus dan benar. Dia selalu pantas bagi rasa percaya kita dan Dia taat-setia apakah kehidupan kita lurus di jalan-Nya atau suka melenceng kesana-kemari. Fondasi batu-karang kita yang kokoh adalah perwahyuan Allah sendiri tentang diri-Nya dalam Yesus Kristus, bukan turun-naiknya kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita mendasarkan kehidupan kita atas kenyataan siapa Allah itu  dan kasih-Nya yang tak pernah gagal, maka kita dapat melihat bahwa doa-doa kita dijawab oleh-Nya. Sama seperti orang yang dengan tekunnya meminta bantuan sahabat-tetangganya dan akhirnya sang sahabat-tetangganya itu memberikan apa saja yang dibutuhkan olehnya, maka kita pun akan menerima berkat-berkat yang Allah inginkan untuk dicurahkan atas diri kita.

Melalui kesetiaan dan ketekunan, kita dapat memperkenankan Allah untuk membentuk diri kita menjadi bejana-bejana bagi kemuliaan-Nya. Selagi kita menanti-nanti-Nya, kita pun belajar untuk menaruh kepercayaan kepada diri-Nya, dan dalam menaruh rasa percaya itu pada-Nya, kita pun bertumbuh semakin kuat dan lebih mampu untuk menolong orang-orang lain. Itulah saatnya di mana Dia dapat memakai kita sebagai instrumen-instrumen untuk mewujudkan kasih dan kuat-kuasa-Nya ke tengah-tengah dunia.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau penuh kasih dan baik hati. Aku percaya bahwa sementara aku bertekun dalam doa dan ketaatan, maka Engkau akan mencurahkan Roh Kudus-Mu ke atas diriku, untuk membuat diriku seorang “ciptaan baru” seturut karakter Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:5-13), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN RENDAH HATI DAN TEKUN BERDOA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 12-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 10 Oktober 2017 [Peringatan S. Daniel dkk., Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DOA YANG DIAJARKAN YESUS KEPADA KITA

DOA YANG DIAJARKAN YESUS KEPADA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Rabu, 11 Oktober 2017)

 

Pada suatu kali Yesus berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Jawab Yesus kepada mereka, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” (Luk 11:1-4) 

Bacaan Pertama: Yun 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:3-6,9-10

Bayangkanlah diri anda sekarang sebagai salah seorang dari kedua belas murid Yesus dan anda telah cukup lama memperhatikan Yesus yang sedang berdoa.  Tidak sulitlah kiranya untuk mencatat berapa banyak kekuatan dan pemberdayaan yang diterima oleh-Nya dalam doa, dan dalam hati anda timbullah rasa lapar untuk mendapatkan berkat-berkat yang sama. Pada akhirnya anda dan beberapa murid yang lain mengumpulkan keberanian untuk mengajukan permohonan kepada Dia, “Tuhan, ajarlah kami berdoa” (Luk 11:1). Lalu ketika Yesus mengajarkan kepada anda “Doa Bapa Kami”, anda menyadari bahwa sebenarnya Dia sedang mengungkapkan hati-Nya kepada anda, tidak hanya memberikan kepada anda “kata-kata yang benar” yang akan menjamin berkat Allah. Dibuat menjadi merasa rendah hati, anda sungguh memperhatikan dan mohon kepada Allah agar memberikan kepada anda sebuah hati seperti hati Yesus.

Bagian pertama dari doa ini berbicara mengenai rasa lapar yang sangat mendalam akan Allah. Kita semua tentunya ingin mengenal siapa Allah yang mahakuasa namun pada saat yang sama mahapengasih itu, sehingga penyebutan nama-Nya saja akan menggerakkan hati kita menjadi penuh hormat. Kita juga dapat dipenuhi hasrat bahwa kerajaan-Nya sungguh akan datang dan akan membuang segala rasa kesepian, kesedihan, dan kegelapan hidup dalam dunia. Dan, sebagaimana kita ingin melihat dunia yang telah ditebus, kita pun terdorong oleh rasa lapar akan kehadiran Allah – roti kehidupan – di bagian terdalam hati kita sendiri.

Bagian kedua dari doa ini mencerminkan suatu pemahaman yang penuh kerendahan-hati akan kelemahan dan kebutuhan kita sendiri di hadapan Bapa surgawi. Kita memohon pengampunan-Nya karena kita mengetahui bahwa kita tidak dapat membuat diri kita sendiri benar di hadapan-Nya dan kita membebaskan diri kita dari dosa yang begitu cepat menjerat kita. Demikian pula, kita memutuskan untuk mengampuni mereka yang telah bersalah kepada kita karena kita tahu benar betapa mudahnya kita tergelincir ke dalam sikap penolakan dan kepahitan. Akhirnya, kita berdoa agar memperoleh perlindungan-Nya terhadap pencobaan-pencobaan karena kita tahu bahwa Iblis selalu mencari kelemahan atau kerentanan kita agar dia dapat menabur benih-benih “ketidak-percayaan” dan “ketiadaan-doa” dalam hidup kita.

Yesus menginginkan agar kita semua sungguh mengasihi Bapa-Nya yang di surga sama sebagaimana Dia mengasihi-Nya. Yesus ingin agar kita semua merasa lapar dan haus akan kehidupan dalam Roh yang diberikan-Nya seiring dengan kedatangan-Nya di dunia, suatu kehidupan yang dicerminkan dalam setiap permohonan yang ada dalam doa BAPA KAMI. Oleh karena itu Saudari dan Saudaraku, marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar membentuk hati kita semua menjadi semakin menyerupai hati Yesus, yang begitu indahnya terungkap dalam doa sempurna ini.

DOA: Bapa surgawi, Engkau kudus, baik dan sungguh mengasihi. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengaruniakan Putera-Mu sendiri untuk mengajarku berdoa kepada-Mu. Buatlah aku agar selalu memuliakan Engkau didalam kata-kata yang kuucapkan dan tindakan-tindakanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:1-4) bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGAJARKAN DOA BAPA KAMI” (bacaan tanggal 11-10-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Oktober 2017 [HARI MINGGU BIASA XXVII – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CERITA TENTANG MARIA DAN MARTA

CERITA TENTANG MARIA DAN MARTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Selasa, 10 Oktober 2017)

Keluarga OFM: Peringatan S. Daniel dkk., Martir

 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.” (Luk 10:38-42) 

Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-4,7-8 

Betapa penuh sukacita saat-saat seperti ini bagi Maria, ketika dia dapat bersimpuh dekat kaki Tuhan Yesus untuk mendengarkan sabda-sabda-Nya yang menyejukkan. Yesus cuma menghendaki agar Maria dapat diam-hening di hadapan hadirat-Nya, dengan penuh perhatian mendengarkan-Nya, selagi Dia mengajar tentang Bapa dan Kerajaan-Nya. Di lain pihak, Marta tidak mampu ke luar dari kesibukan mempersiapkan hal-hal yang diperlukan pada saat itu, dengan demikian kehilangan kesempatan untuk menerima sesuatu dari Tuhan Yesus.

Bayangkanlah sekarang sebuah dunia di mana semua orang Kristiani bersatu dalam satu tujuan di bawah kepemimpinan Kristus – di mana kegiatan mendengarkan dan doa mengawali setiap pekerjaan baik, di mana semua orang berdiam-hening bersama dalam kesatuan, dan Yesus dimanifestasikan dalam cintakasih agung kita satu sama lain. Sedikit orang yang akan mengatakan bahwa Maria dan Marta bukan merupakan orang-orang beriman yang bersatu. Namun, pada saat Yesus mengajar, hanya satu orang saja dari mereka yang tahu akan pentingnya arti menerima dari Yesus terlebih dahulu.

Pada hari ini, pertimbangkanlah hal-hal berikut ini: Apakah anda mengenal Yesus sebagai Juruselamat dan Sahabatmu, atau sekadar seseorang yang perintah-perintah-Nya anda harus taati? Apakah anda sungguh percaya bahwa Dia telah memerdekakan anda dari rasa takut akan kematian dan kuasa dosa, ataukah anda mengharapkan bahwa perbuatan-perbuatan baikmu akan dapat mengalahkan dan mengatasi dosa-dosamu?

Setiap hari, marilah kita mencoba membuat diri kita diam-hening tanpa ada pelanturan-pelanturan, meski untuk beberapa saat saja. Sediakanlah sedikit waktu setiap harinya untuk membaca firman Allah dalam Kitab Suci – saat di mana TV dan/atau radio dimatikan. Sesungguhnya ada banyak langkah yang dapat kitaambil dalam rangka  mewujudkan tekad untuk “mendengarkan”  Yesus dengan lebih penuh perhatian lagi. Tanyakanlah kepada Allah langkah-langkah apa yang mau diberikan-Nya kepada anda. Anda akan melihat bahwa Dia tidak hanya memberikan kepada anda jawaban atas pertanyaan anda tadi, tetapi juga rahmat yang anda butuhkan untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

DOA: Ya Allah Roh Kudus, bukalah kedua telingaku agar dapat mendengar suara-Mu hari ini. Ampunilah aku untuk saat-saat di mana aku melakukan pekerjaan tanpa mendengarkan bisikan suara-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk membuat kegiatan “mendengarkan” menjadi prioritasku yang pertama dan utama. Ya Allah Roh Kudus, jadikanlah aku seorang ‘pendengar yang baik’.  Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “KESEIMBANGAN ANTARA DOA DAN PELAYANAN” (bacaan tanggal 10-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Oktober 2017 [Peringatan SP Maria, Ratu Rosario] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA?

SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA?

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Senin, 9 Oktober 2017

 

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37) 

Bacaan Pertama: Yun 1:1-17;2:10; Mazmur Tanggapan: Yun 2:2-5,8 

Dengan bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?” ahli Taurat itu mencoba untuk mengetahui  sampai berapa jauh kewajiban-kewajiban (hukum)-nya. Apakah “sesamaku” hanya terbatas pada sahabat-sahabatku yang terdekat? Bagaimana dengan penduduk kotaku yang lain? Bagaimana dengan musuh-musuhku? Bagaimana dengan orang-orang gelandangan yang tergeletak di pinggir jalan? Apakah aku diharapkan untuk mengasihi orang-orang seperti itu juga? Yesus menjawab ahli Taurat itu dengan sebuah perumpamaan, yaitu “perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati”. Melalui perumpamaan termaksud, Yesus menunjukkan bahwa segala sesuatu berpusat pada kasih, bukan kewajiban-kewajiban hukum. Santo Paulus memahami hal inti benar, ketika dia menulis, “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Rm 13:10).

Orang yang tergeletak babak belur setengah mati di jalan antara Yerusalem dan Yerikho karena habis dirampok dan dipukuli adalah seorang Yahudi, sedangkan yang datang menolongnya adalah seorang Samaria. Pada zaman itu hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria sangatlah buruk, termasuk di dalamnya ketegangan rasial. Yang ingin dikemukakan Yesus adalah bahwa kasih yang sejati tidak mengenal batas-batas yang disebabkan perbedaan dalam suku, ras, status sosial dlsb. Perintah untuk mengasihi sesama mengacu pada semua orang, termasuk orang-orang asing yang tinggal di tengah-tengah kita, mereka yang termajinalisasi dalam masyarakat, orang-orang miskin, yang lapar, …… wong cilik!

Allah Bapa menunjukkan kasih-Nya kepada umat-Nya ketika Dia mengirim Putera-Nya yang tunggal untuk membawa pengampunan dan rekonsiliasi. Yesus mempunyai kasih yang sama ketika Dia mengatakan “ya” terhadap rencana Bapa, walaupun hal itu berarti meninggalkan kemuliaan surgawi dan memperkenankan orang-orang yang diciptakan dan dikasihi-Nya dengan begitu intens malah membunuh-Nya di kayu salib. Seperti cintakasih yang ditunjukkan oleh orang Samaria itu, kasih Yesus juga tanpa batas-batas yang bersifat diskriminatif. Kita – murid-murid-Nya – juga harus mengasihi tanpa diskriminasi macam apa pun.

Menunjukkan cintakasih dan belas kasihan dapat mengubah hati kita. Hal itu dapat mengajar kita untuk memandang setiap pribadi sebagai anak yang sangat dikasihi Allah, pantas dan layak sebagai pribadi yang bermartabat – batasan apa pun yang ada.

Dalam pekan ini kita dapat mencoba melakukan dua hal. Pertama, marilah kita keluar untuk bertemu dengan orang-orang lain, siapa pun mereka itu. Perhatian penuh cintakasih dari kita kepada orang-orang yang kita jumpai dapat membantu “menggairahkan” kembali kehidupan seseorang yang hampir mencapai titik terendah. Kedua, marilah kita membuat diri kita semakin dekat dengan Allah dan menerima kasih dan kerahiman-Nya. Roh-Nya dapat memberdayakan kita untuk melanjutkan sikap dan tindakan cintakasih kita manakala kita merasa sudah tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan kepada orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, tunjukkan diri-Mu kepada semua orang yang berada dalam kesendirian di dunia ini. Penuhilah diri mereka dengan Roh-Mu dan tolonglah kami keluar menemui orang-orang yang tidak mempunyai  siapa-siapa lagi yang memperhatikan mereka. Bangkitkanlah “orang-orang Samaria yang baik hati” di seluruh dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:25-37), bacalah tulisan yang berjudul “SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA” (bacaan tanggal 9-10-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 6 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS