Posts tagged ‘PEKAN BIASA XVIII’

IMANLAH YANG DIPERLUKAN

IMANLAH YANG DIPERLUKAN     

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Sabtu, 12 Agustus 2017) 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Lalu kata Yesus, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka, “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:14-20) 

Bacaan Pertama: Ul 6:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4, 47,51

Ketika Petrus, Yakobus, dan Yohanes berada di atas gunung menyaksikan transfigurasi Yesus, ada hal-hal yang tidak beres atau tidak berjalan dengan semestinya yang dihadapi di bawah sana. Seorang laki-laki telah  membawa anaknya kepada para murid itu agar disembuhkan, dan para murid tersebut ternyata tidak mampu menyembuhkan anak laki-laki yang sakit ayan itu (Mat 17:16). Pada saat Yesus sudah kembali ke bawah dan mendengar apa yang telah terjadi, maka Dia menegur pada murid-Nya perihal ketidakpercayaan mereka. Kemudian Yesus mengusir roh jahat yang merasuki anak itu dan menyembuhkannya.

Ketika para murid bertanya kepada Yesus mengapa mereka tidak mampu mengusir roh jahat dari anak itu, kembali Yesus mengemukakan ketiadaan iman-kepercayaan mereka. Yang jelas dan pasti adalah bahwa hari itu bukanlah hari yang baik bagi para rasul!

Namun kemudian Yesus berjanji – sebuah janji yang akan mengangkat para murid dari self-pity mereka – dan Ia juga memberi mereka pengharapan: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sama, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu”  (Mat 17:20). Janji ini tidak hanya diperuntukkan bagi para murid Yesus yang pertama, melainkan bagi kita juga. Kadang-kadang perhatian dan susah hati kita dapat memperlemah iman kita. Pengharapan kita dapat menyusut dan membuat kita merasa tidak berdaya dalam menghadapi kesulitan. Situasi-situasi yang memberi tantangan semakin menekan kita dan kita merasa jauh dari Tuhan. Ini adalah waktu-waktu dimana kita harus berpegang teguh pada janji Yesus yang tak tergoyahkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki benih iman yang paling kecil sekalipun.

Bagaimana caranya kita memelihara bahkan sisa-sisa iman? Iman adalah karunia Allah, namun iman membutuhkan tanggapan kita. Dan barangkali tidak ada cara yang lebih efektif untuk membangun iman daripada datang menghadap hadirat-Nya dalam doa.

Walaupun kedengarannya mengecilkan hati – bahkan menakutkan – hal berdoa itu sesungguhnya cukup mudah. Yang harus kita lakukan adalah mencoba sebaik-baiknya untuk menghilangkan distraksi-distraksi (pelanturan-pelanturan) dan berkonsentrasi pada Yesus. Kita hanya perlu memusatkan pandangan kita pada kasih-Nya dan atas hasrat mendalam yang dimiliki-Nya untuk memberikan segalanya yang kita butuhkan untuk hidup dalam kekudusan. Yesus sangat ingin melihat bahwa kita mempunyai iman yang lebih, dan Ia bahkan sangat berhasrat untuk mencurahkan segala rahmat yang kita butuhkan agar bertumbuh dalam iman dan melihat bahwa iman itu bertumbuh dan bertumbuh – seperti pohon sesawi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah diriku agar dapat memusatkan pandanganku pada-Mu, bukan pada diriku sendiri. Berikanlah kepadaku suatu pemahaman yang segar tentang kasih-Mu bagiku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu sehingga dengan demikian aku akan berjalan dengan/oleh iman dan menjadi saksi-Mu bagi dunia yang sangat membutuhkan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEBESAR BIJI SESAWI” (bacaan tanggal 12-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Agustus 2017 [Pesta S. Laurensius, Diakon Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BIAYA KEMURIDAN DALAM MENGIKUT YESUS

BIAYA KEMURIDAN DALAM MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Klara, Perawan – Jumat, 11 Agustus 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan – Ordo II

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi mailakat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Mat 16:24-28) 

Bacaan Pertama: Ul 4:32-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 77:12-16,21

Siapa saja yang ingin menekuni profesi yang membutuhkan keterampilan tertentu, mengakui bahwa ada “biaya” atau “harga” yang harus dibayar untuk memperoleh privilese tersebut. Studi, magang dan ketekunan dibutuhkan untuk mempelajari profesi, dan selama masa tersebut banyak hal lain harus dikesampingkan/dikorbankan.

Dengan cara serupa, Yesus mengajar bahwa ada “biaya” yang harus dibayar untuk mengikut Dia. Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia sedang menuju Yerusalem untuk menderita dan mati (Mat 16:21). Mereka yang menjadi murid/pengikut-Nya harus memikul salib karena seorang hamba/pelayan haruslah seperti tuannya (Mat 16:24; 10:24-25).

Memikul salib bukanlah masalah dengan sedih menanggung sengsara atau kesulitan hidup, atau mendisiplinkan diri kita agar dapat melakukan hal-hal yang benar secara moral. Salib seharusnya tidak dipandang sebagai sebuah instrumen kesedihan dan kematian saja, melainkan sebagai instrumen pilihan Allah sendiri untuk mengalahkan kuasa dosa. Melalui salib-lah orang-orang menerima kehidupan dan dengan demikian mampu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Memikul salib berarti mengembangkan suatu sikap hati yang …. mengikut Yesus dalam jalan kematian ke dalam kehidupan.

Kata-kata Yesus tentang membuang cara-cara duniawi mungkin terasa keras (Mat 16:25). Bagaimana pun juga kita-manusia adalah pengada spiritual (spiritual being, di samping rational being, emotional being, social being). Sebagai spiritual being, rumah kita yang sesungguhnya adalah di surga dan sekarang kita dipanggil oleh Yesus untuk membuang segala hal yang menjauhkan kita dari kasih Allah dan tujuan kekal kita. Hal-hal yang kita hasrati, paling sering kita pikirkan, dan memakai sebagian waktu kita untuk itu, adalah hal-hal cinta kita yang pertama. Para pengikut/murid Yesus tidak dapat disibukkan dengan hal-hal yang spiritual dan pengejaran hal-hal duniawi. Sang Guru telah mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan.

Memang kemuridan/pemuridan menyangkut “biaya”, namun kita juga tidak boleh lupa bahwa dari salib datanglah kehidupan. Salib adalah tanda kematian, pada saat bersamaan salib adalah tanda kemenangan bagi para pengikut/murid Yesus. Salib membuka pintu bagi kita untuk memasuki kehidupan yang sejati – baik sekarang maupun dalam kekekalan. Itulah sebabnya mengapa Yesus mengajar bahwa “siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” dan bahwa Anak Manusia “… akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Mat 16:25,27).

DOA: Tuhan Yesus, tanamkanlah dalam hatiku suatu hasrat mendalam untuk memikul salib sehingga dengan demikian aku dapat menerima kehidupan sesuai dengan kehendak Bapa surgawi. Semoga aku dapat seperti Engkau yang dengan bebas memikul salibku dalam kehidupan ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:24-28), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG MAU MENYELAMATKAN NYAWANYA ……” (bacaan tanggal 11-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 9 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?

ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Rabu, 9 Agustus 2017)

 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Bil 13:1-2a,25-14:1,26-29,34-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7,13-14,21-23 

Pernahkah Saudari-Saudara memikirkan dan bertanya kepada diri sendiri apakah anda seorang Kristiani positif atau seorang Kristiani yang  negatif? Dua hal itu sangat berbeda satu sama lain. Apabila anda adalah seorang Kristiani yang positif, maka anda menjadikan dunia sebuah tempat yang lebih baik karena pengaruh baik dan positif atas diri orang-orang lain. Sebaliknya, jika anda adalah seorang Kristiani yang negatif, maka anda menjadikan dunia ini lebih buruk dan lebih rusak karena dosa daripada sebelum anda datang.

Ada banyak tes dengan mana kita dapat melihat apakah kita adalah orang yang positif/plus atau negatif/minus sebagai seorang Kristiani. Satu cara adalah lewat sikap yang kita ambil terhadap tindakan-tindakan orang lain. Misalnya, apakah sikap yang kita (anda dan saya) ambil terhadap Yesus dalam bacaan Injil hari ini? Apakah kita merasa  negatif terhadap apa yang dilakukan oleh Yesus? Apakah anda kaget dan merasa tidak enak tentang sikap dan kata-kata Yesus yang terasa kasar atau “dingin” terhadap perempuan Kanaan itu?

Atau, apakah kita merasa positif tentang Yesus di sini? Apakah kita bertanya, “Apakah yang Yesus ketahui, sedangkan aku tidak ketahui, sampai-sampai Dia men-tes perempuan kafir ini? Apakah Yesus mengetahui ada sebuah rumah harta iman dan kerendahan hati dalam diri perempuan Kanaan yang hebat ini, sehingga Yesus dapat menyatakan dengan cara terbaik tentang hal itu lewat men-tes perempuan itu? Dalam kenyataannya, itulah tentunya yang terjadi. Yesus men-tes perempuan itu, dan imannya, kerendahan hatinya, dan ketekunannya ternyata indah dan berkenan kepada-Nya.

Ini adalah semuanya kualitas doa dan kualitas hidup yang Yesus ajarkan tanpa bosan-bosan. Adakah cara lain yang lebih baik yang dapat diajarkan-Nya, kecuali dengan menggunakan sebuah contoh hidup kepada kita? Perempuan Kanaan yang beriman  adalah jawaban perempuan kepada orang laki-laki beriman, perwira Romawi. Perwira ini juga dipandang oleh Yesus sebagai contoh dari iman yang besar: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10).

Jadi, apakah sebenarnya yang diajarkan Yesus lewat contoh perempuan Kanaan ini? Ada beberapa hal: (1) Jangan menyerah jika doa kita tidak langsung dijawab. (2) Allah men-tes atau menguji, untuk mendapatkan yang terbaik dari diri kita. (3) Janganlah kita mengancam Allah atau membuat tuntutan-tuntutan dengan doa kita. Kita harus menaruh kepercayaan terhadap kasih-Nya bagi kita, seperti yang ditunjukkan oleh perempuan Kanaan ini. Kita harus menaruh kepercayaan bahwa Allah mengasihi diri kita masing-masing sepenuhnya seperti Dia mengasihi orang-orang yang terjawab doanya. Dapat saja Tuhan melihat bahwa kita membutuhkan pertumbuhan riil dalam iman dan keberanian, dalam hal kesabaran dan ketekunan. Percayalah Allah melihat bahwa kita kiranya membutuhkan keutamaan-keutamaan ini lebih daripada hal-hal lain yang kita mohonkan.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi diriku. Perkenankanlah aku mempersembahkan hidupku kepada-Mu dan aku percaya kepada-Mu untuk membuang segala hal yang menghalangi diriku untuk mengenal dan mengalami Engkau. Yesus, Engkau adalah pengharapanku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “PEREMPUAN KAFIR YANG MEMILIKI IMAN BESAR” (bacaan tanggal 9-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08  BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN

KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Selasa, 8 Agustus 2017

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Ordo Pengkhotbah (OP): Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat, Imam

Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata, “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Tahukah engkau bahwa perkataan-Mu itu telah membuat orang-orang Farisi sakit hati?” Jawab Yesus, “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang.” (Mat 15:1-2,10-14) 

Bacaan Pertama: Bil 12:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,12-13

Tidak berkelebihanlah apabila dikatakan dalam kesempatan ini, bahwa betapa pun sulit dan tidak jelas bacaan Mat 15:1-20 kelihatannya bagi kita, pada kenyataannya inilah salah satu dari bacaan paling penting dalam Injil. Mengapa? Karena bacaan ini menunjukkan konflik terbuka atau clash yang berkelanjutan antara Yesus dan para pemuka agama Yahudi yang ortodoks. Dua ayat pertama di atas jelas menggambarkan bahwa orang-orang Farisi dan ahli Taurat jauh-jauh datang dari Yerusalem ke Galilea untuk mengajukan pertanyaan di atas kepada Yesus. Membasuh tangan sebelum makan merupakan suatu tindakan yang melambangkan pembersihan/pemurnian yang menyangkut ritus keagamaan, jadi bukan pertama-tama demi alasan higienis (Donald Senior CP, Gospel of St. Matthew, Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, hal. 52).

Seseorang  dikatakan tahir/bersih dalam arti dirinya berada dalam keadaan di mana dia dapat melakukan ibadat kepada Allah. Dalam keadaan tidak tahir dia dikatakan najis, artinya tidak dapat melakukan ibadatnya guna menyembah Allah. Orang dapat menjadi najis karena melakukan kontak (misalnya menyentuh) dengan perempuan yang menderita sakit pendarahan, walaupun pendarahan untuk jangka waktu tertentu seperti menstruasi, perempuan yang baru melahirkan anak untuk jangka waktu tertentu (Im 12:1-8), para penderita penyakit kusta (Im 13) demikian pula orang kafir (non Yahudi), dsb. Kenajisan ini juga menular dari orang yang satu kepada orang lain karena bersentuhan. (Patut dicatat bahwa hal serupa bukan monopoli agama Yahudi.)

Jadi, kalau kita berbicara mengenai konflik terbuka atau clash di sini, maka ini bukanlah sekadar clash pribadi antara Yesus dan mereka, melainkan jauh melampaui, karena ini merupakan bertabrakannya dua pandangan agama dan tentunya dua pandangan tentang apa yang dituntut oleh Allah yang disembah umat-Nya. Dalam hal ini tidak ada ruang atau kemungkinan untuk suatu kompromi, atau persetujuan-kerja bersama antara dua pandangan agama. Jadi dalam hal ini mau tidak mau pandangan yang satu harus menghancurkan pandangan lainnya (William Barclay, The Daily Study Bible – The Gospel of Matthew, Volume 2, Edinburgh: The Saint Press, hal. 109).[1]

Penerapan “hukum” mengenai ketahiran dan kenajisan meluas, misalnya menentukan apa saja yang dapat dimakan atau tidak dapat dimakan oleh seorang. Pada umumnya semua buah dan sayur-mayur dapat dimakan. Namun berkenan dengan makhluk-makhluk hidup hukumnya ketat seperti termuat dalam Im 11:1-47 dan Ul 14:3-21). Dalam hal ini William Barclay mengemukakan beberapa hal:

  1. Penolakan untuk menyentuh mayat, atau makan daging dari bangkai hewan yang sudah mati (bukan karena disembelih untuk kepentingan manusia), mungkin karena kaitannya dengan kepercayaan dalam hal roh-roh jahat. Lebih mudahlah bagi orang-orang untuk berpikir bahwa roh jahat mendiami tubuh binatang atau orang mati, dengan demikian mudah masuk ke dalam tubuh orang yang memakannya atau menyentuhnya.
  2. Hewan-hewan tertentu dipandang suci dalam agama-agama lain, misalnya kucing dan buaya adalah suci di mata orang Mesir, dengan demikian wajarlah bagi orang-orang Yahudi untuk memandang hewan-hewan yang disembah bangsa lain tersebut sebagai najis (haram). Hewan-hewan itu dicap sebagai berhala dan karenanya sangat najis.
  3. Menurut pengamatan Dr. Rendle Short (The Bible and Modern Medicine), peraturan-peraturan tertentu berkaitan dengan hewan-hewan tertentu yang dipandang najis dapat dinilai bijak dari sudut kesehatan dan higiene, dan hanya aman apabila dimasak sampai matang. Bahaya tersebut bersifat minimal di dunia modern, namun sungguh berbahaya pada zaman Palestina kuno, dan memang lebih baik untuk dihindari.
  4. Tetap ada sejumlah besar kasus di mana ada hal-hal (hewan dll.) yang dipandang najis tanpa alasan yang jelas. Takhyul dapat menyebabkan hewan-hewan tertentu dipandang berhubungan dengan nasib baik atau nasib buruk, dengan ketahiran atau kenajisan.

Hal-hal seperti diuraikan di atas menjadi kesulitan dan bahkan “tragedi” karena bagi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi hal-hal tersebut menjadi masalah hidup atau mati. Dalam pikiran seorang Farisi, larangan untuk makan daging kelinci atau babi merupakan perintah Allah yang kiranya sama beratnya dengan larangan untuk berzinah. Agama menjadi semacam ember atau koper yang dipenuhi dengan berbagai aturan yang bersifat eksternal. Karena lebih mudah untuk melaksanakan peraturan dan memeriksa orang lain yang tidak melakukannya, maka segala aturan ini menjadi agama itu sendiri bagi orang-orang Farisi dkk.

Pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus adalah: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan” (Mat 15:2). Di sini mereka berbicara mengenai “adat istiadat nenek moyang” mereka. Bagi orang Yahudi, Hukum terbagi menjadi dua bagian. Ada “hukum tertulis” yang termuat dalam Kitab Suci dan ada pula “hukum lisan” seperti yang mengatur soal membasuh tangan yang terus dikembangkan oleh para ahli Taurat dari generasi ke generasi, dan semua itu dipandang sebagai tradisi atau adat-istiadat nenek moyang, yang sayangnya seringkali dipandang lebih mengikat daripada “hukum tertulis”. Semua upacara rituale ini bagi orang Yahudi ortodoks adalah “agama”. 

Yesus tidak secara langsung menjawab pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut. Dalam Mat 15:3-9 yang tidak menjadi bagian bacaan Injil hari ini, Yesus sebenarnya tidak mengedepankan kebenaran yang belum/tidak diketahui oleh orang-orang Yahudi. Yesus mengingatkan para pemuka agama itu tentang hal-hal yang telah Allah telah sabdakan kepada umat Yahudi namun telah mereka lupakan, karena mereka lebih menyukai aturan-aturan ciptaan manusia ketimbang Hukum Allah yang sangat sederhana. Di sinilah letak clash atau tabrakan antara dua jenis agama dan dua jenis penyembahan kepada Allah. Bagi para ahli Kitab dan orang-orang Farisi agama adalah pelaksanaan aturan-aturan yang bersifat eksternal dan rituale, misalnya cara yang benar bagaimana membasuh tangan sebelum makan dlsb. Sebaliknya, bagi Yesus agama adalah sesuatu yang bertempat kedudukan dalam hati; sesuatu yang diungkapkan dengan penuh belarasa dan kebaikan hati, yang semuanya berada di atas dan bahkan melampaui hukum. Bagi orang Yahudi ortodoks penyembahan itu berarti rituale, hukum yang menyangkut upacara lahiriah, sedangkan bagi Yesus penyembahan adalah hati yang bersih dan kehidupan yang penuh kasih. Di sinilah letaknya clash termaksud.

“Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat 15:11). Bagi orang Yahudi ortodoks tersebut, ucapan Yesus itu terdengar sebagai sesuatu yang lebih parah daripada “kurang ajar”. Telinga mereka menjadi panas! Mengapa? Karena dengan mengatakan demikian, Yesus tidak hanya “melanggar” praktek “agama” rituale dan seremonial para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, melainkan juga Dia menghapus banyak bagian dalam bacaan Kitab Imamat. Jadi, Yesus tidak hanya menimbulkan kontradiksi dengan tradisi nenek-moyang, melainkan juga berkontradiksi dengan apa yang disabdakan dalam Kitab Suci. Sabda Yesus ini membatalkan hukum tentang apa yang halal dan haram untuk dimakan dalam Perjanjian Lama. Mungkin saja hukum ini masih diindahkan jika menyangkut kesehatan, hygiene, akal sehat dan kebijakan medis; namun tidak pernah boleh diyakini oleh kita sebagai agama. Yesus mau menekankan bahwa yang penting bagi kita bukanlah pelaksanaan rituale yang bersifat eksternal, melainkan disposisi hati kita. Tidak mengherankanlah apabila para ahli Kitab dan orang-orang Farisi menjadi kaget dan geram mendengar sabda Yesus yang revolusioner ini, karena dengan lugas dan gamblang Yesus menyatakan bahwa teori dan praktek agama mereka adalah salah besar.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk pengajaran-Mu bahwa praktek keagamaan sesungguhnya adalah masalah hati, bukan tata-cara atau rituale yang bersifat eksternal. Kami tahu bahwa bagi-Mu dan juga bagi Gereja Perdana, masalah ini adalah masalah hidup atau mati. Teristimewa bagi kami yang hidup sebagai minoritas dalam masyarakat yang sangat plural, anugerahkanlah kepada kami keberanian untuk menyatakan kebenaran yang kami yakini lewat kata-kata dan perbuatan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Bil 12:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU MUSA YANG PATUT KITA CONTOH” (bacaan tanggal 8-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

[1] Banyak dari uraian berikut ini diinspirasikan buku William Barclay, hal. 109-120; juga dari buku P.  George T. Montague SM, Companion God – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, New York and New Jersey: Paulist Press, 1989, hal. 170-173.

PENYEMBUH YANG TERLUKA

PENYEMBUH YANG TERLUKA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Senin, 7 Agustus 2017)

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam Martir

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama:  Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17 

Yesus baru saja menerima berita yang terburuk yang pernah didengar-Nya Mat 14:13). Yohanes Pembaptis, saudara dan sahabat-Nya, baru saja dipancung kepalanya atas perintah Herodes Antipas. Yohanes membaptis Yesus di sungai Yordan (Mat 3:13 dsj.). Yesus memandang Yohanes Pembaptis sebagai orang yang terbesar yang pernah lahir di dunia (Mat 11:11). Sekarang Yohanes Pembaptis telah mati, dibunuh dan menjadi martir.

Tentu saja Yesus sendiri terkejut dan terluka hati-Nya. Lalu Dia menyingkir ke tempat yang sunyi untuk menyendiri (Mat 14:13). Namun gerombolan orang banyak berdatangan mengikuti-Nya (Mat 14:14). Yesus sangat terharu melihat mereka semua dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Maka Dia menyembuhkan banyak orang dan membuat mukjizat penggandaan lima roti dan dua ekor ikan guna memberi makan banyak orang (Mat 14:19-21).

Dalam suratnya yang pertama, Petrus menulis tentang Yesus yang dilihatnya sebagai sang hamba YHWH yang menderita seperti digambarkan dalam kitab Yesaya: “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu” (1Ptr 2:22-25; bdk. Yes 53:5-9). Berbagai sumber daya yang kita miliki namun tidak memadai akan dilipatgandakan untuk membaharui muka bumi.

Apabila kita (anda dan saya) menderita luka jasmani ataupun luka batin dan patah semangat, kita tidak hanya butuh disembuhkan, melainkan juga menyembuhkan orang lain. Apabila kita menderita kelaparan di daerah yang tandus, bukan saja kita butuh diberi makan melainkan juga memberi makan. Dalam luka-luka dan kelemahan kita, kuasa penyembuhan ilahi dan kuasa untuk melipatgandakan akan muncul dengan sempurna (2Kor 12:9). Inilah hakekat dari seorang “penyembuh yang terluka” (Inggris: wounded healer).

Jikalau kita (anda dan saya) memanggul salib setiap hari, maka kita tidak hanya menderita karena kelemahan kita melainkan juga kita memerintah dalam kuasa-Nya (2Kor 13:4). Oleh karena itu marilah kita memberikan apa yang kita miliki: roti dan ikan kita (talenta, uang dll.), luka-luka dan kelemahan kita kepada Tuhan. Dia akan melipatgandakan itu semua dan menyediakan bantuan untuk yang mereka menderita, yang terluka serta patah hati, dan juga semangat dari umat kita.

DOA: Bapa surgawi, izinkanlah aku menanggapi kesengsaraanku ini dengan cara keluar menolong orang yang menderita juga.Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN” (bacaan tanggal 7-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Agustus 2017 [Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS