Posts tagged ‘PEKAN BIASA X’

YA ATAU TIDAK

YA ATAU TIDAK

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Sabtu, 17 Juni 2017

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 2Kor 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12

Bagian dari “Khotbah di Bukit” ini diperkenalkan, seperti juga bagian-bagian lainnya, seperti berikut: “Kamu telah mendengar ……, tetapi Aku berkata kepadamu ……” Yesus berkata bahwa Dia tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya (Mat 5:17). Dalam begitu banyak kasus, hukum telah dibuat encer (dibuat ringan) atau ditafsirkan secara kaku, jika tindakan itu menolong mereka yang memegang kekuasaan.

Dalam bacaan yang diambil dari “Khotbah di Bukit” ini Yesus mengatakan bahwa hukum lama ditafsirkan sebagai “Jangan bersumpah palsu”. Sebenarnya kita tidak diperkenankan bersumpah sama sekali, walaupun ketika bersumpah kita menggunakan segala macam pengganti/substitut dari Nama Ilahi. Bersumpah demi langit, demi bumi, demi Yerusalem dlsb. tetap merupakan suatu tanda bahwa kita (anda dan saya) menilai diri kita sendiri sebagai orang yang tidak jujur dan tidak dapat dipercaya.

Sebuah sumpah adalah suatu cerminan dari keadaan kedosaan seseorang. Sumpah menunjukkan kecenderungannya untuk berbohong, ketidakjujurannya. Dalam upaya untuk mengatasi ini dan memperkuat “kebenaran”, digunakanlah sumpah. Apabila kita mempunyai kecenderungan untuk menaruh kepercayaan, untuk percaya kepada orang-orang lain, untuk menerima apa yang dikatakan oleh mereka, maka sumpah tidak memiliki tempat sama sekali.

Jadi, sumpah adalah sebuah tanda bahwa kita menerima hal-hal yang buruk ini (kebohongan dlsb.) sebagai hal-hal yang normal-normal saja. Kita tidak memiliki ekspektasi adanya kebenaran atau rasa percaya antara orang-orang. Itulah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia berkata bahwa apa pun yang lebih atau kurang daripada YA atau TIDAK berasal dari Iblis.

Yesus membawakan kepada kita Dispensasi Baru. Dia telah menjanjikan kepada kita Roh-Nya dengan segala buah-buah, segala anugerah, segala karunia-Nya. Dalam Kehidupan Kristiani yang sejati haruslah ada kasih, rasa percaya, kebenaran dlsb. Dalam sebuah masyarakat atau komunitas sedemikian tidak ada tempat untuk sumpah. Memperkenalkan sumpah ke dalam hidup kita sebagai umat Kristiani hanya akan mengembalikan kejahatan-kejahatan berupa ketidakpercayaan dan kebohongan-kebohongan.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar hidup dalam Kerajaan-Mu dengan kasih dan rasa percaya satu sama lain. Jagalah agar kata-kata yang kami ucapkan senantiasa dapat dipercaya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA DIRI BAGI KUAT-KUASA ALLAH YANG MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 17-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni 2017 [Pesta S. Antonius dr Padua, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

VISI YESUS MENTRANSENDEN HURUF-HURUF HUKUM TAURAT

VISI YESUS MENTRANSENDEN HURUF-HURUF HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 16 Juni 2017)

 

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:10-11,15-18

Injil Matius dirancang dengan sangat hati-hati guna menggambarkan Yesus sebagai sang Mesias yang menginaugurasikan Kerajaan Allah yang sudah lama ditunggu-tunggu. Dalam pengajaran “Khotbah di Bukit” kali ini, Matius mengedepankan undangan Yesus kepada mereka yang berkeinginan untuk masuk ke dalam Kerajaan ini. Pertama-tama Yesus menggambarkan berkat-berkat unik yang dinamakan “Sabda-sabda Bahagia”. Kemudian, seperti seorang Musa baru, Yesus memperkenalkan serangkaian prinsip-prinsip yang intrinsik tentang pemerintahan mesianis.

Dalam terang Kerajaan yang akan datang, Yesus mengajar para pengikut-Nya bagaimana menghayati hidup sehingga dengan demikian hidup Allah sendiri dapat berakar dan bertumbuh dalam kehidupan mereka. Yesus berbicara mengenai banyak tantangan yang kita harus hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya kemarahan, bersumpah, balas-dendam, dan mengasihi musuh-musuh. Rumusannya mengikuti suatu pola tertentu: “Kamu telah mendengar yang difirmankan, … Tetapi Aku berkata kepadamu …” Etika baru ini melampaui hukum-hukum Musa dan orang-orang Farisi. Sebagai sang Mesias yang dijanjikan, Yesus “menggenapi Taurat dan kitab para nabi, bukan meniadakan semua itu” (Mat 5:17).

Visi Yesus mentransenden huruf-huruf hukum Taurat: “Jangan berzina”, menjadi: “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:27-28). Jadi, Yesus memindahkan fokus kepada “hati”. Dengan menggunakan gaya para rabi Yahudi yang khas, Yesus mengatakan bahwa lebih baik mengorbankan mata atau bagian tubuh lainnya – jikalau memang perlu – supaya dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat 5:29-30). Hal ini menggarisbawahi/menekankan perlunya untuk mencabut sampai ke akar-akarnya segala dorongan terdalam kita untuk berdosa.

Catatan Matius dalam Injilnya mengenai posisi Yesus terkait dengan perceraian menghancurkan prakonsepsi-prakonsepsi natural/alamiah yang ada dalam pikiran mereka yang mendengar pengajaran-Nya. Ada tercatat bahwa para murid-Nya berkata kepada Yesus: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin” (Mat 19:10). Kata-kata keras Yesus sehubungan dengan “perceraian” bukanlah dimaksudkan untuk menghukum orang-orang supaya tetap hidup selamanya dalam relasi yang bersifat destruktif, melainkan untuk menunjuk pada rahmat yang diberikan Allah kepada pasutri untuk hidup dengan cara yang memajukan Kerajaan Allah. Seperti juga “Sabda-Sabda Bahagia” dan perintah untuk mengasihi musuh-musuh kita, “kata-kata keras” tadi menyatakan “way of life” yang berbeda secara radikal, yang diaugurasikan oleh Yesus.

Untuk hidup dengan cara baru ini dibutuhkan karya Roh Kudus dalam batin kita. Melalui iman, kita dapat mengalami kuat-kuasa untuk mengasihi orang-orang lain seperti Kristus mengasihi kita. Oleh karena itu marilah kita memohon Tuhan untuk memberikan rahmat kepada kita semua.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Berdayakanlah kami oleh rahmat-Mu agar dapat saling mengasihi dan untuk menjadi murni dalam hati kami masing-masing. Kami mengakui bahwa kami tidak dapat sungguh mengasihi kecuali Engkau sendiri mentransformasikan kami dari dalam. Utuslah Roh-Mu sehingga dengan demikian kami dapat merangkul undangan-Mu yang indah untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “KATA-KATA KERAS YESUS SEKITAR ZINA” (bacaan tanggal 16-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni 2016 [Pesta S. Antonius dr Padua, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AMPUNILAH DAN BERDAMAILAH !!!

AMPUNILAH DAN BERDAMAILAH !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Kamis, 15 Juni 2017)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: 2Kor 3:15-4:1,3-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Ada orang yang mengibaratkan persahabatan itu seperti porselen yang indah. Sungguh sesuatu yang sangat berharga, yang mudah pecah namun sulit diperbaiki. Kita semua mengetahui betapa sulitnya untuk mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita,  menjatuhkan kita, katakanlah mendzolimi kita. Di samping luka yang kita derita  karena pengkhianatan sahabat kita, ada juga luka lain yang disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk mengampuni atau tidak adanya kemauan untuk berdamai dari pihak kita sendiri. Pada kenyataannya, dalam beberapa kasus, tidak mau mengampuni dapat menyebabkan luka yang lebih berat daripada tindakan awal orang lain yang membuat kita geram dan marah. Luka-luka kecil kalau dibiarkan saja dapat bertumbuh menjadi luka-luka yang lebih besar, konsekuensinya lebih sukar untuk disembuhkan.

Itulah sebabnya, mengapa Yesus memerintahkan kita untuk mengampuni. Namun pada saat yang sama baiklah kita ketahui bahwa Dia tidak memandang remeh sulitnya mengampuni orang lain yang telah mendzolimi kita. Bagaimana pun juga Yesus sendiri mengalami pengkhianatan dari seorang murid yang sangat dipercayai oleh-Nya. Sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana Hati Yesus meratapi Yudas Iskariot berkaitan dengan pengkhianatan murid yang satu ini. Meskipun Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tokh Ia mengajarkan kepada kita untuk mengampuni, untuk berdamai, untuk let go luka-luka lama.

Dalam Doa “Bapa Kami” yang diajarkan oleh Yesus sendiri, kita mendengar potongan kalimat seperti berikut: “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Doa “Bapa Kami” itu segera disusul oleh dua ayat penting: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang,  Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15). Mengakhiri perumpamaan-Nya tentang pengampunan (Mat 18:21-35), Yesus bersabda: “Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat 18:35).

Kita tidak dapat berdalih dalam hal pengampunan ini karena perintah Yesus begitu jelas dan gamblang. Terasa  berat memang, suatu tuntutan yang sulit dipenuhi. Dalam hal ini ingatlah belas kasih Yesus kepada kita sepanjang hidup kita. Tuhan Yesus menyediakan “segudang” cintakasih-Nya bagi kita untuk menutupi kekurangan kita dalam hal mengasihi orang lain. Ia sungguh dapat menolong kita manakala hati kita sedang membeku-keras atau mengalami kepahitan dalam hidup ini.

Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tidak terjadi secara instan, seringkali bertahap. Bagi-Nya kurang penting apakah kita telah mengampuni setiap orang secara penuh. Yang penting di mata Yesus adalah bahwa kita memelihara hati lembut dan mohon kepada-Nya rahmat agar kita semakin lembut hari lepas hari. Dengan demikian, berdamailah dengan saudari dan saudara kita, dan ampunilah apa yang harus diampuni! Biarlah kasih Kristus memenuhi diri kita masing-masing, sehingga kita dapat memberikan cintakasih dan belas kasih kepada semua orang dalam kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, hanya Engkau yang dapat membetulkan hati yang patah dan menyembuhkan jiwa-jiwa yang terluka. Buatlah aku utuh oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk mengampuni. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26),  bacalah tulisan yang berjudul “SALING BERSAUDARA SATU SAMA LAIN” (bacaan tanggal 15-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni 2017 [Peringatan/Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MEMUJI DAN MEMULIAKAN ALLAH TANPA HENTI

MEMUJI DAN MEMULIAKAN ALLAH TANPA HENTI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Rabu, 14 Juni 2017)

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama: 2Kor 3:4-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-9

Kita, orang-orang Kristiani zaman modern, sering mengatakan bahwa mematuhi perintah-perintah Allah sampai ke detil-detilnya itu merupakan sesuatu yang membosankan. Namun seringkali rasa takut akan kebosanan ini hanyalah sekadar “jas penutup” saja. Rasa takut kita sebenarnya bukanlah takut pada kebosanan atau rutinitas. Sebenarnya kita merasa takut menghadapi tuntutan-tuntutan Allah yang tidak mengenal kompromi, kesusahan setiap hari melakukan pertempuran rohani tanpa henti, betapa melelahkannya mengembangkan hikmat dan kehendak yang serupa dengan yang dimiliki Kristus. Orang Kristiani modern yang merasa “bosan” adalah seperti seorang anak laki-laki yang berkata bahwa dia tidak menyukai sepak bola karena bermain sepak bola itu “membosankan” atau tidak membutuhkan keterampilan seperti jenis-jenis olah-raga lainnya, sebenarnya karena dia takut terluka atau dipermalukan oleh pemain bola yang lebih baik. Banyak alasan kita adalah sekadar “dalih”!

Yesus bersabda: “… ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat 7:2; bdk.Mrk 4:24; Luk 6:38). Terlalu banyak dari kita yang berpura-pura takut akan “kebosanan” agama dan “monotomi” dalam memuji-muji Allah – terlalu banyak dari kita sebenarnya tidak ingin melakukan apa-apa. Secara salah kita memberi cap “membosankan” pada hal-hal yang sesungguhnya dapat membebaskan kita dari kebosanan lebih besar yang kita pilih sendiri. Kita takut terhadap segala hal yang mungkin memaksa kita melakukan sesuatu yang berharga, karena karya-karya besar ini menuntut pengorbanan dari pihak kita.

Kita sebenarnya berada dalam bahaya besar. Tidak melakukan apa-apa, menikmati kehidupan kita yang sudah nyaman, maka menjaga kenyamanan kita merupakan bentuk mementingkan diri sendiri yang utama. Mementingkan diri sendiri, keserakahan, ketamakan merupakan unsur dosa yang mendasar. Bosan dengan diri kita sendiri dan rasa takut akan upaya yang dibutuhkan untuk bangkit dari lethargy (rasa lesu-malas) kita, maka kita pun akan berpaling kepada salah bentuk dosa sebagai suatu cara menyelesaikan sesuatu. Kita mengenal ungkapan dalam bahasa Inggris,  “getting the fun out of life” dan “living only once”, …… bukankah kita hidup hanya sekali? Dengan kata lain, kita begitu mementingkan diri sendiri, sehingga begitu bangun tidur, kita pun akan bertindak-tanduk secara ego-sentris.

Orang-orang yang besar di mata Allah dan manusia lainnya akan menghadapi pekerjaan yang harus dilakukan tanpa henti guna memuji dan memuliakan Allah; semua makhluk akan memimpin mereka kepada Allah; setiap talenta akan dipakai untuk memuliakan Dia; bahkan saat-saat istirahat dan kesantaian mereka dijalani dalam kehadiran-Nya yang penuh kasih. Mereka tidak mengenal “kebosanan” dalam relasi mereka dengan Allah Tritunggal Mahakudus.

DOA: Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada (Mzm 146:1). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS ADALAH PENGGENAPAN SEGALA HUKUM ALLAH” (bacaan tanggal 14-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERANAN KEPEMIMPINAN DARI MURID-MURID YESUS

PERANAN KEPEMIMPINAN DARI MURID-MURID YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja – Selasa, 13 Juni 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja

 

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Mat 5:13-16) 

Bacaan Pertama: 2Kor 1:18-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:129-133,135

“Kamu adalah garam bumi …… Kamu adalah terang dunia …… Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang ……”  Dengan menggunakan gambaran “garam bumi” dan “terang dunia” ini, Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk memainkan peran sebagai pemimpin-pemimpin dalam masyarakat. Dalam ilmu manajemen dan kepemimpinan, daya/kuasa untuk mempengaruhi orang lain adalah hakikat kepemimpinan. Namun kepemimpinan tidak terbatas pada posisi kekuasaan yang secara resmi dipegang seseorang, karena ada juga pemimpin-pemimpin informal (di luar sistem) yang dapat menebarkan pengaruhnya dalam masyarakat (misalnya para nabi Perjanjian Lama atau Yesus dari Nazaret). Sebagai pemimpin, para pengikut/murid Yesus pada segala zaman harus menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang lain, artinya mereka dapat melihat kebaikan dalam tindak-tanduk kita.

Akan tetapi, terlalu banyak dari kita yang mengabaikan perintah Yesus ini. “Biarlah orang lain yang melakukannya … bukan urusanku!” “Aku tidak mempunyai talenta untuk itu, juga nggak ada waktu!” Kita pun tidak enggan dan ragu untuk cepat mengkritisi mereka yang sungguh menyediakan waktu mereka, seperti para pastor, para guru agama/katekis, anggota dewan paroki, para prodiakon, anggota paduan suara dlsb. gereja kita. Akan tetapi, bilamana kita diminta untuk berpartisipasi, untuk menyumbangkan talenta kita, kita tiba-tiba menjadi sungguh “miskin” karena tidak ada apa-apa yang dapat kita berikan!

Sesungguhnya setiap dari kita mempunyai lebih banyak untuk diberikan daripada kita sendiri pernah impikan atau menyadarinya. Betapa rendah atau tak bergunanya pun kita menilai diri kita, betapa rendahnya pun para sahabat kita menilai kita, kita sebenarnya menilai terlalu rendah potensial yang kita miliki sendiri. Sebenarnya Allah telah telah memberikan kita energi yang lebih banyak dan keterampilan-keterampilan yang lebih banyak daripada yang kita impikan sendiri. Dan Ia akan memberikan rahmat-Nya, sekali kita melakukan apa yang harus kita lakukan, dan apa yang kita sungguh dapat lakukan.

Ada pepatah lama: “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan!” Ini memang suatu kebenaran yang sudah ada sejak zaman kuno. Jadi, apabila kita sungguh ingin menanggapi kebutuhan-kebutuhan Kristus dan Gereja-Nya, apabila kita sungguh ingin mendengarkan panggilan Kristus kepada para pekerja dalam kebun anggur-Nya, apabila kita sungguh ingin melakukan bagian kita dalam penyebaran Kabar Baik, maka kita pun akan menemukan jalannya – bahkan banyak jalan. Sebagai murid-murid Kristus, kita mempengaruhi orang-orang lain dengan sesuatu yang memang baik demi keselamatan mereka, kita menjadi pemimpin-pemimpin!

DOA: Tuhan Yesus, sebagai murid-murid-Mu Engkau tidak ragu sama sekali untuk menyebut kami “garam bumi” dan “terang dunia”, dengan demikian mengingatkan tugas kami sebagai “pemimpin-pemimpin” di tengah dunia, para duta-Mu yang akan membawa pengaruh baik kepada dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 5:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA” (bacaan tanggal 13-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juni 2017 [HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS

BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS [TAHUN A] – Minggu, 11 Juni 2017)

Akhirnya, Saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!

Berilah salam seorang kepda yang lain dengan ciuman kudus. Salam dari semua orang kudus kepada kamu.

Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. (2Kor 13:11-13) 

Bacaan Pertama: Kel 34:4b-6,8-9; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56; Bacaan Injil: Yoh 3:16-18 

Kiranya hanya sedikit dari kita yang akan memikirkan bahwa kita telah memecahkan misteri Tritunggal Mahakudus. Bagaimana Allah yang satu sungguh terdiri dari tiga Pribadi berbeda-beda, namun tetap saja satu Allah? Kita akan dengan cepat merasa terbeban dengan pemikiran rumit ini dan kita pun menyimpulkan bahwa Allah itu terlalu sulit untuk dimengerti secara penuh.

Pokok dari Hari Raya Tritunggal Mahakudus bukanlah untuk memecahkan sebuah teka-teki matematika (1+1+1=3 atau 1x1x1=1) atau teka-teki metafisika. Sebaliknya, pada hari ini kita berkumpul untuk merayakan Allah yang adalah misteri ini, dan bahwa Dia telah menyatakan diri-Nya kepada ciptaan-Nya. Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini adalah salah satu dari sedikit hari-raya/pesta yang didedikasikan kepada sebuah doktrin dan bukannya suatu peristiwa keselamatan. Perayaan ini diawali pada abad pertengahan. Pernyataan Allah kepada ciptaan-Nya ini sungguh agung. Kita melihat Bapa surgawi mencurahkan hidup-Nya dan kasih-Nya ke dalam diri Putera-Nya yang kekal. Kita melihat sang Putera membalas kasih ini melalui tindakan penyembahan dan ketaatan kepada Bapa-Nya. Kita pun melihat bahwa kasih yang eksis terjalin antara Bapa dan Putera-Nya begitu besar sehingga kasih ini juga adalah “seorang” Pribadi ilahi, Roh Kudus.

Dengan menakjubkan sekali kebenaran-kebenaran indah ini dinyatakan tidak seturut apa yang dispekulasikan oleh para filsuf, melainkan melalui tindakan Allah yang mendekati orang-orang berdosa melalui Putera-Nya, Yesus Kristus. Selagi Yesus berjalan sebagai seorang manusia di antara manusia-manusia lain di atas bumi ini, Dia menunjukkan kepada kita kasih Allah in action. Selagi Yesus tergantung di kayu salib, Ia membebaskan kita-manusia dari dosa dan membuka pintu surga bagi kita. Sekarang Yesus yang telah bangkit dalam kemuliaan mengutus Roh Kudus-Nya untuk menghangatkan hati kita dengan pengalaman akan kasih berlimpah ini. Ini adalah pernyataan-diri yang paling disenangi oleh Allah untuk diberikan kepada kita, karena hal itu memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan segala luka kita, memenuhi diri kita dengan pengharapan, dan mempersatukan kita dengan diri-Nya.

Dalam doa dan Misa Kudus hari ini, marilah kita memusatkan pandangan kita pada Allah Tritunggal Mahakudus dan memohon agar kepada kita diberikan suatu pernyataan kasih Bapa dan Putera yang lebih mendalam. Kita (anda dan saya) harus cukup berani untuk meminta kepada Roh Kudus agar menarik kita ke dalam hidup Allah sendiri. Ini adalah warisan kita masing-masing sebagai seorang Kristiani yang dibaptis, dan hal ini adalah sesuatu yang dirindukan oleh Bapa surgawi untuk melakukannya bagi kita semua. Pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, patutlah kita mempunyai ekspektasi bahwa Allah –   yang mampu melakukan segala sesuatu – mampu juga untuk memenuhi diri kita dengan hidup ilahi-Nya dan memberikan kepada kita rasa dari kasih-Nya yang melampaui setiap kekuatan lain dalam alam semesta.

DOA: Allah Yang Mahakuasa, kekal, adil dan berbelaskasihan, perkenankanlah kami yang malang ini, demi Engkau sendiri, melakukan apa yang setahu kami Engkau kehendaki, dan selalu menghendaki apa yang berkenan kepada-Mu, agar setelah batin kami dimurnikan dan diterangi serta dikobarkan oleh api Roh Kudus, kami mampu mengikuti jejak Putera-Mu yang terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, dan berkat rahmat-Mu semata-mata sampai kepada-Mu, Yang Mahatinggi, Engkau yang dalam tritunggal yang sempurna dan dalam keesaan yang sederhana, hidup dan memerintah serta dimuliakan, Allah Yang Mahakuasa sepanjang segala masa. Amin. (doa S. Fransiskus dari Assisi pada akhir Suratnya kepada Seluruh Ordo).

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “DALAM NAMA BAPA, PUTERA DAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 11-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017). 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS