Posts tagged ‘ORANG SAMARIA’

HANYA SEORANG SAJA

HANYA SEORANG SAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 15 November 2017)

 

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19) 

Bacaan Pertama: Keb 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 82:3-4,6-7

Bacaan Injil hari ini adalah mengenai mukjizat dan penyembuhan sepuluh orang kusta. Namun ada perbedaan hakiki antara penyembuhan orang kusta dalam bacaan Injil hari ini dengan cerita-cerita penyembuhan di bagian lain Injil Lukas, bertolak belakang dengan yang biasanya kita bayangkan.

Misalnya, dalam cerita tentang penyembuhan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah (Luk 5:17-26; bdk. Mrk 1:16-20), Yesus melihat iman dari teman-teman si lumpuh, lalu Ia berkata kepadanya: “Hai saudara, dosa-dosamu  sudah diampuni.”  Hanya setelah Yesus mengetahui pikiran para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menuduh bahwa Dia menghujat Allah, maka Dia menyembuhkan orang lumpuh itu secara fisik. Namun bacaan Injil hari ini menunjukkan suatu perbedaan, malah boleh dikatakan kebalikannya. Pertama-tama Yesus menyembuhkan penyakit kusta dari sepuluh orang itu di tengah perjalanan mereka untuk menemui para imam, lalu hanya seorang saja (orang Samaria) yang kembali menemui-Nya untuk berterima kasih penuh syukur karena disembuhkan. Yesus berkata kepada orang-orang yang hadir: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?”  (Luk 17:17-18). Lalu Dia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk 17:19). Ucapan Yesus yang terakhir ini mengindikasikan penyembuhan rohani dari pengampunan dan keselamatan (spiritual healing of forgiveness and salvation).

Memang sungguh mengagetkan, sembilan dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan tidak kembali untuk berterima kasih penuh syukur kepada Yesus. Kita tidak dapat mengetahui apa-apa lagi tentang sembilan orang yang tidak tahu berterima kasih itu, namun kita dapat berasumsi bahwa  ketiadaan pertimbangan mereka tersebut masih menghadang mereka untuk menjadi selamat pada tingkatan rohani. Dengan tidak kembalinya mereka kepada Yesus, mereka membuat diri mereka luput dari kesembuhan yang lebih besar. Memang benar bahwa Yesus ingin menyembuhkan kita secara fisik, namun Ia juga berminat – malah boleh dikatakan lebih berminat – dalam hal penyembuhan rohani (spiritual healing). Kita tahu bahwa paling sedikit ada seorang di antara sepuluh orang kusta tersebut yang diangkat ke surga karena dia telah diselamatkan.

Dalam Sakramen Rekonsiliasi, kita berjumpa dengan kuat-kuasa Yesus untuk menghapus dosa-dosa kita dan mengatakan kepada kita: “Imanmu telah menyelamatkan engkau.”  Apa yang harus kita lakukan sebenarnya mudah. Kita perlu datang menghadap Yesus dan mohon pengampunan-Nya, dan kemudian mencoba untuk tidak berdosa lagi. Yesus akan melakukan selebihnya. Dia mengampuni, Dia menyembuhkan, Ia memperbaiki relasi kita dengan Bapa dan diri-Nya. Pokoknya, Yesus menyelamatkan, Ia membuat kita OK. Jikalau Yesus dapat melakukan begitu banyak kebaikan bagi kita, bagaimana kita sampai mengabaikan/lupa untuk melakukan bagian kecil yang diminta dari kita, yaitu berterima kasih penuh syukur kepada-Nya?

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa oleh otoritas-Mu sebagai Putera Allah, Engkau memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosaku. Melalui Sakramen Rekonsiliasi, aku mengakui dosaku dan mohon kepada-Mu untuk menyelamatkan diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-19), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 15-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVIII [Tahun C] – 9 Oktober 2016)

 ten-lepers-jesus-mormon-e1418742715331-586x330

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu?” Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19)

Bacaan Pertama: 2Raj 5:14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: 2Tim 2:8-13

Tidak kembalinya kepada Yesus sembilan orang kusta yang telah disembuhkan-Nya untuk berterima kasih penuh syukur kepada-Nya sungguh merupakan suatu hal yang mengecewakan. Kesembilan orang itu kehilangan kesempatan untuk menerima sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kesembuhan fisik. Memang kesembuhan yang telah mereka terima dari Yesus sudah termasuk kategori luarbiasa, bahkan bagi dunia kedokteran di abad ke-21 ini. Akan tetapi orang kusta yang kembali kepada Yesus untuk mengucap syukur kepada-Nya menerima sesuatu yang jauh lebih besar nilainya daripada kesehatan badani. Yesus berkata kepadanya: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk 17:19). Orang itu tidak hanya “dibersihkan” dari penyakit kusta, melainkan juga “diselamatkan”.

Sembilan orang kusta yang lain tidak berjumpa secara pribadi dengan Yesus dalam jarak yang dekat. Dari jarak jauh Yesus memerintahkan mereka untuk memperlihatkan diri kepada imam-imam. Mereka tidak pernah membangun suatu relasi dengan Yesus seperti yang telah dilakukan oleh orang yang kesepuluh. Relasi dengan Yesus ini adalah kebaikan yang sesungguhnya, karena hanya apabila kita bertumbuh dalam suatu relasi pribadi dengan Dia, maka kita menjadi anak-anak Allah dengan hati dan pikiran yang baru. Bersama dengan Yesus dalam suatu relasi cintakasih dan pemberian-diri – inilah arti sesungguhnya dari keselamatan.

Di dalam dunia kuno, penyakit kusta merupakan gambaran kondisi kemanusiaan sebagai akibat dari dosa. Seperti penyakit kusta ini membuat seseorang terbuang dari masyarakatnya, demikian pula dosa memutuskan hubungan kita dengan Allah yang merupakan Sumber dari kehidupan dan damai-sejahtera kita. Dalam keputus-asaan kita dapat berseru kepada Yesus dari kejauhan, dan Ia akan senantiasa menolong kita. Namun tujuan-Nya tidak akan tercapai jika kita hanya menerima pertolongan-Nya lalu pergi lagi mengikuti jalan kita sendiri-sendiri. Yesus menginginkan suatu relasi dengan kita masing-masing sebagai pribadi, di mana kita mengucap syukur kepada-Nya serta memuji Dia, kemudian Ia memberikan damai-sejahtera-Nya, penghiburan-Nya dan bimbingan-Nya kepada kita.

Dalam Misa Kudus pada hari Minggu ini, marilah kita datang kembali kepada Yesus dan berterima kasih kepada-Nya untuk apa saja yang telah dilakukan-Nya bagi kita. Marilah kita meletakkan hidup kita di hadapan-Nya dalam kasih dan dengan penuh kebebasan mengundang Dia untuk memerintah dalam pikiran dan hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, pada hari ini kami memuji-muji Engkau, seperti yang dilakukan orang Samaria yang telah Kausembuhkan dari penyakit kustanya. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah membersihkan dan menyelamatkan kami. Jagalah agar kami tetap dekat dengan diri-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-19), bacalah tulisan yang berjudul “SEPULUH ORANG KUSTA YANG DISEMBUHKAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 9-10-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-10-13)

Cilandak, 5 Oktober 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DI MANAKAH YANG SEMBILAN ORANG ITU?

DI MANAKAH YANG SEMBILAN ORANG ITU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 13 November 2013)

Keluarga OFM: Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan 

SEORANG KUSTA ORANG SAMARIA

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19)

Bacaan Pertama: Keb 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 82:3-4,6-7 

Bacaan Injil hari ini merupakan sebuah pelajaran tentang pengucapan syukur. Kelihatannya 9 dari 10 orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus tidak mempunyai kebiasaan untuk berterima kasih kepada orang lain. Dari cerita Injil ini kita melihat 10 orang kusta itu baru saja menerima satu dari anugerah terbesar yang pernah diterima oleh mereka masing-masing. Barangkali kita dapat “memaafkan” mereka: “Ah, mereka begitu excited atas kesembuhan mereka yang begitu luarbiasa ajaib, sehingga apa yang dapat mereka pikirkan hanyalah melompat-lompat di atas gerobak sapi yang terdekat sambil ikut pulang ke rumah keluarga masing-masing.”

Reaksi Yesus sangatlah berbeda, dan Ia samasekali tidak berpikir seperti diuraikan di atas. Yesus hanya bertanya, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” (Luk 17:17).

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah hanya kalau kita sedang susah saja maka kita berpaling kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya? Apakah kata-kata dalam doa kita kepada-Nya hanya terdiri dari kata-kata permohonan? Lupakah kita bahwa kasih-Nya bagi kita dalam hal-hal “kecil” yang kita alami setiap hari, seperti udara segar, cahaya matahari yang menghangatkan, makanan, para teman dan sahabat, kehidupan itu sendiri?

Kita sebaiknya menyadari bahwa apa yang “hebat” tentang kehidupan kita bukanlah apa yang kita lakukan bagi Allah, melainkan apa yang dilakukan Allah bagi kita. Apabila kita tidak menyadari hal ini, maka tidak mengherankanlah apabila kita luput menikmati kepenuhan sukacita dari rasa syukur. Sesungguhnya Yesus secara pribadi tidak membutuhkan ucapan terima kasih dari 9 orang kusta yang disembuhkan itu. Yesus tetap akan survive tanpa ucapan terima kasih dari mereka. Jadi, ketika Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya atas sikap tidak tahu berterima kasih dari 9 orang tersebut, hal itu tidak berarti bahwa Dia bersedih karena tidak ada orang yang menghargai diri-Nya. Yesus sebenarnya merasa sedih dan kasihan kepada mereka, karena mereka adalah para pecundang. Sukacita yang paling besar dari penyembuhan kebutaan mereka sebenarnya adalah terbukanya hati mereka, semakin dalamnya kasih mereka kepada Allah yang telah menyembuhkan mereka.

Jadi, mereka luput memperoleh kesembuhan yang lebih besar dan berkat yang lebih mendalam. Mereka luput memperoleh kedamaian batiniah dan sukacita dari suatu rasa syukur yang sejati.

DOA: Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi (Mzm 9:2-3). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 6:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PENGUASA HARUS MENGEJAR HIKMAT-KEBIJAKSANAAN” (bacaan tanggal 13-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Injil (Luk 17:11-19), bacalah juga tulisan yang berjudul “SEPULUH ORANG KUSTA” (bacaan tanggal 11-11-09) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA 

Cilandak, 9 November 2013 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS