Posts tagged ‘ORANG-ORANG FARISI’

KASIH, KASIH, KASIH !!!

KASIH, KASIH, KASIH !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Sabtu, 21 Juli 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Laurensius dr Brindisi, Imam Pujangga Gereja

Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Mat 12:14-21) 

Bacaan Pertama: Mi 2:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 10:1-4,7-8,14 

Mengapa Yesus mendatangkan begitu banyak tentangan dan penolakan dari sejumlah Farisi (tidak semua Farisi, karena Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea juga orang Farisi)? Pada hari Sabat Yesus menyembuhkan seseorang di dekat sinagoga yang tangannya mati sebelah, dan untuk tindakan kebaikan itu dan akhirnya membuat rencana untuk membunuh Dia (bacalah keseluruhan Mat 12:9-13).

Kemudian Injil Matius menceritakan kepada kita, bahwa Yesus mengetahui niat jahat orang-orang Farisi itu, lalu Dia menyingkir dari sana  tanpa mampu disentuh sedikitpun oleh orang-orang jahat itu. Jadi, Yesus hanyalah berpindah ke suatu tempat yang lain, lalu melanjutkan segala perbuatan baik-Nya: menyembuhkan orang dari sakit-penyakit dengan segala mukjizat dan tanda heran yang mengiringinya. Semua itu dilakukan Yesus karena Dia sangat mengasihi umat-Nya. Yesus samasekali tidak memperkenankan ancaman-ancaman terhadap diri-Nya sampai melumpuhkan diri-Nya dengan rasa takut dan juga melumpuhkan karya pelayanan-Nya guna menyembuhkan, mengampuni, dan mengubah jiwa-jiwa yang terluka.

Yesus melakukan semua tindakan kebaikan itu bukanlah untuk pencitraan diri-Nya sebagai Mesias yang akan datang, tebar pesona dan sejenisnya. Khotbah-khotbah-Nya mengenai Kerajaan Allah bukanlah sekadar “pepesan kosong”. Dia hanya ingin setiap orang menjadi percaya kepada-Nya, dan melalui diri-Nya percaya kepada kasih Bapa surgawi kepada mereka. Sebaliknya, para lawan Yesus tidak sedikitpun berhasil memperoleh petunjuk tentang motif sejati di belakang segala mukjizat dan tanda heran lainnya yang diperbuat oleh Yesus. Nah, sekarang apakah sebenarnya motif Yesus itu? Sederhana saja: KASIH !!! Sebuah pesan yang sangat sederhana, namun sampai menggiring diri-Nya kepada sengsara dan wafat-Nya di atas kayu salib.

Agar supaya “Ia menjadikan hukum (keadilan) itu menang” (Mat 12:20), Yesus menunjukkan dengan jelas betapa dapat dipercaya Allah itu. Melalui teladan kehidupan-Nya sendiri, Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita menyerahkan diri kita kepada Bapa setiap hari. Ancaman apapun yang dihadapi-Nya, dan kelelahan badani bagaimana pun yang dialami-Nya – Yesus sepenuhnya menggantungkan diri-Nya kepada Bapa untuk menggendong-Nya.  Kita juga dapat mempunyai pengharapan dan kepercayaan kepada Allah kita, ‘seorang’ Allah yang sangat mengasihi kita.

Setelah selesai menghadiri kapitel nasional OFS di Muntilan, sepanjang perjalanan pulang dan ketika menemaninya di bandara Soekarno-Hatta pada hari Minggu tanggal 3 Juli 2011 lalu, saya merasakan mendapat berkat khusus karena diberi kesempatan untuk mendengarkan cerita-cerita (kata kerennya adalah “kesaksian”) seorang imam Fransiskan asal Croatia, P. Ivan Matic OFM; cerita-cerita yang sungguh menguatkan iman saya. Tidak sekali saja imam itu mengatakan, bahwa kita harus “membuka diri”, menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Bapa yang baik, sumber segala kebaikan itu. Dengan demikian, kita pun akan melihat “keajaiban-keajaiban” apa yang terjadi atas diri kita.

Yesus hanya mempunyai satu sasaran, yaitu mengajar kita untuk menaruh kepercayaan mendalam pada Allah, sehingga kita dapat hidup seturut sabda-Nya. Betapa pun mengagumkannya segala mukjizat Yesus, semua itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan perubahan diri yang kita alami sementara kita menyerahkan hati kita kepada-Nya.

Oleh karena itu marilah kita tidak memperkenankan sesuatu pun yang menghalangi kita dari tindakan penyerahan hidup kita kepada Yesus dan memperkenankan penebusan-Nya mengalahkan dosa-dosa dalam diri kita. Percayalah, Ia mampu mentransformasikan diri kita menjadi menurut gambar dan rupa-Nya (bdk. Kej 1:26,27)! Ini adalah alasan pokok mengapa Dia mati di kayu salib sekitar 2.000 tahun lalu. Sekarang, marilah kita memperkenankan pesan sederhana tentang kasih Allah ini untuk membimbing kita pada hari ini dan hari-hari selanjutnya, dalam berbagai situasi, termasuk situasi  yang paling sulit sekali pun.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu bagi kami masing-masing, pribadi lepas pribadi. Pandanglah dan perhatikanlah segala kebutuhan yang ada pada bangsa dan negara kami, dan tunjukkanlah kehadiran-Mu yang penuh keajaiban dan kuat-kuasa itu secara berkesinambungan. Buatlah keajaiban dan kesembuhan atas diri kami semua, ya Tuhan, agar banyak orang bangsa kami akan datang kepada kasih-Mu dan percaya kepada-Mu. Terima kasih, ya Tuhan Yesus, Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacan Injil hari ini (Mat 12:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “CIRI-CIRI PRIBADI SEORANG HAMBA TUHAN” (bacaan tanggal 21-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 18 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 20 Juli 2018)

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentang kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mat 12:1-8) 

Bacaan Pertama: Yes 38:1-6,21-22,7-8; Mazmur Tanggapan: Yes 38:10-12,16

Yesus dikritik oleh orang-orang Farisi karena kelihatannya Dia membiarkan para murid-Nya melanggar peraturan hari Sabat (Mat 12:1-2). Menanggapi kritikan kaum Farisi tersebut, Yesus mengemukakan bahwa kebutuhan-kebutuhan manusiawi mengambil preseden di atas peraturan-peraturan Sabat (Mat 12:3-4,7). Dalam bacaan tentang peristiwa ini, Injil Markus menceritakan kepada kita bahwa Yesus melangkah lebih jauh lagi dengan menyatakan: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat” (Mrk 2:27-28).

Allah kita mahakasih dan maharahim, Ia bukanlah seorang mandor tanpa perasaan yang membebani kita dengan begitu banyak hukum dan peraturan. Ia memberikan kepada kita “Hari Tuhan” sehingga kita dapat datang menghadap hadirat-Nya dan beristirahat dalam ketenangan (lihat Mat 11:28-30). Bagi kita hari Tuhan itu adalah hari Minggu, hari untuk kita bersimpuh di hadapan hadirat-Nya, agar dapat menerima sentuhan-Nya yang menyembuhkan luka dan sakit-penyakit kita, untuk menerima ajaran-Nya lewat sabda-Nya dalam Kitab Suci, dan secara lebih mendalam lagi menyadari bahwa Kristus – pengharapan kita akan kemuliaan – sungguh berdiam dalam diri kita. Itulah sebabnya mengapa Allah telah memberikan kepada kita Ekaristi Kudus, sehingga Dia dapat menyegarkan diri kita kembali dengan sabda-Nya dan tubuh dan darah Kristus, kemudian mengutus kita agar menghayati suatu kehidupan yang saleh, penuh takwa kepada Allah dalam Yesus Kristus dan dengan setia mewartakan Kabar Baik-Nya kepada dunia di sekeliling kita.

Pada awal perayaan Ekaristi, kita semua – sebagai pribadi-pribadi – mengaku kepada “Allah yang mahakuasa” dan kepada “saudari dan saudara” kita, betapa kita membutuhkan belas kasih Allah. Pengakuan sedemikian memperlunak hati kita sehingga sabda Allah – baik yang kita dengar lewat pembacaan Kitab Suci maupun homili – akan masuk ke dalam diri kita. Setelah kita mengucapkan “Pengakuan Iman” (Credo), kita berdoa untuk kebutuhan-kebutuhan dunia dan mengangkat hati kita dalam pujian dan syukur dalam “Doa Syukur Agung”. Melalui kata-kata institusi dan tindakan Roh Kudus, roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus, dan kita menerima-Nya dalam Komuni Kudus. Kita memakan daging Yesus (lihat Yoh 6:53-56) dan dalam kesempatan-kesempatan tertentu minum darah-Nya. Ketika kita makan daging Yesus, pada saat yang sama Yesus juga meng-“konsumsi” kita, merangkul serta menyelubungi diri kita dengan rahmat-Nya dan memberdayakan kita agar mampu mengikuti-Nya dengan setia.

Ini adalah puncak dari ketenangan hari Sabat kita: bergabung dengan saudari dan saudara kita dalam sembah-bakti kita kepada Tuhan dan menerima-Nya dalam sabda dan sakramen. Ini adalah “istirahat” atau ketenangan yang memberikan kehidupan kepada kita, ketenangan yang memenuhi diri kita dengan Roh Kudus. Kita samasekali tidak diciptakan agar kita dapat mendengar Misa Kudus. Allah menciptakan Misa Kudus agar supaya Dia dapat datang kepada kita, bukankah begitu halnya?

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat menghargai perayaan Ekaristi, melalui Ekaristi ini Engkau menghadirkan karya penebusan-Mu secara penuh. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana caranya menghormati hari Sabat umat-Mu sebagai suatu hari pada saat mana Engkau secara istimewa ingin memberikan kepada semua pengikut-Mu ketenangan yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA ANAK MANUSIA ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT” (bacaan tanggal 20-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 17 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SALING BERSAUDARA SATU SAMA LAIN

SALING BERSAUDARA SATU SAMA LAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Kamis, 14 Juni 2018)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: 1Raj 18:41-46; Mazmur Tanggapan: Mzm 65:10-13

Tafsir Yesus tentang hukum Musa tentunya telah mengejutkan para pendengar-Nya. Bagi Yesus, kemarahan, caci-maki dan penghinaan dengan mengata-ngatai “jahil” sudah berada di luar batas, sudah kelewatan. Bukan hanya apa yang kita lakukan yang penting, melainkan juga apa yang ada dalam pikiran kita. Sekarang, mengapa Yesus  begitu menekankan pentingnya relasi atau hubungan? Karena kita adalah anak-anak Allah, dengan kita bersaudara satu sama lain. Kita begitu erat diikat bersama, sehingga setiap perpecahan akan merusak seluruh tubuh Kristus.

Sebagai orang-orang Kristiani, kita ditantang untuk memelihara, melestarikan dan membangun persatuan dan kesatuan kita dalam Kristus. Tantangan ini berlaku sampai kepada setiap interaksi dengan orang-orang lain. Misalnya, bagaimana kita berelasi dengan para anggota keluarga kita sendiri, para tetangga, dan para kolega kita di tempat kerja? Apakah kita baik hati? Apakah kita memperlakukan mereka dengan adil? Apakah kita memperhatikan mereka yang mempunyai berbagai kebutuhan, teristimewa saudari dan saudara kita yang miskin dan berada dalam kesendirian.

Kita begitu erat berhubungan satu sama lain dalam tubuh Kristus (Gereja), sehingga dosa apa saja yang kita komit mempunyai konsekuensi-konsekuensi tidak hanya atas diri kita, melainkan terhadap orang-orang lain juga. Persatuan dan kesatuan kita bersifat integral sehubungan dengan kehidupan dalam Kristus! Kita hanya dapat menjadi pihak yang turut ambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus (Trinitas) sejauh kita terikat satu sama lain. Inilah rencana Bapa surgawi bagi kita semua. Di lain pihak, apa bila kita berdosa melawan sesama kita atau melawan Allah, maka kita mengaburkan relasi kita dengan para anggota tubuh Kristus lainnya. Celakanya, perseteruan kita dengan sesama dan/atau Allah inilah yang diinginkan oleh Iblis. Itulah sebabnya, mengapa pengampunan dan perdamaian (rekonsiliasi) itu penting.

Dengan demikian, marilah kita berpegang teguh pada persatuan dan kesatuan Kristiani, satu-satunya pengharapan kita akan sukacita dan damai-sejahtera. Seringkali kesombongan dan kekerasan kepala dan hati kita menghalangi kita untuk mengakui keikutsertaan atau peranan negatif kita yang telah mengakibatkan suatu relasi menjadi rusak,  bahkan sampai berantakan. Kita harus belajar untuk menggantungkan diri pada Allah guna menolong kita melihat dengan mata yang baru situasi-situasi yang kita hadapi, teristimewa relasi-relasi. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kepada kita apa yang dapat kita lakukan untuk menjadi agen-agen untuk tercapainya rekonsiliasi,  bukan perpecahan.

Bahkan dalam situasi-situasi di mana rekonsiliasi terasa sulit untuk tercapai, kita tetap dapat membuat suatu perbedaan dengan menyerahkan segala perasaan yang mengandung kepahitan dan penolakan kepada Allah, dan mohon kepada-Nya dari kedalaman hati kita agar mengampuni kita.

DOA: Roh Kudus, inspirasikanlah dalam diriku suatu hasrat mendalam untuk bersatu secara dekat serta erat dengan saudari-saudari dan saudara-saudaraku. Persatukanlah semua orang Kristiani ke dalam sebuah keluarga dan ciptakanlah ikatan cintakasih yang tidak dapat dipatahkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26),  bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH-NYA UNTUK MENGASIHI” (bacaan tanggal 14-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Rabu, 17 Januari 2018) 

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: 1Sam 17:32-33,37,40-51; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1,2,9-10

Inkarnasi Yesus menandakan: (1) sudah berlalunya hukum dosa serta maut dan (2) datangnya kerajaan Allah. Yesus adalah Anggur yang baru, …. hidup baru. Allah telah lama mempersiapkan umat-Nya untuk menerima hidup baru ini. Akan tetapi, meskipun Yesus memberikan kepada orang banyak kesembuhan, pengampunan dan cintakasih, para pemimpin agama memandang dan memperlakukan Dia sebagai lawan dan obyek cemoohan.

Konflik itu, yang dimulai ketika Yesus menyembuhkan seorang lumpuh (Mrk 2:1-12), malah meningkat ketika Dia menyembuhkan seorang lain yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-6). Sampai saat ini, orang-orang Farisi selalu melontarkan kritik dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang, Yesus ganti bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, yang menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi diam saja. Mereka tetap mempertahankan kedegilan hati mereka di hadapan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan dari mereka membuat Yesus marah dan sekaligus sedih. Dalam kerahiman-Nya, Yesus menyembuhkan tangan si sakit, sekali lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:27-28). Orang-orang Farisi marah sekali karena Yesus telah melanggar pembatasan-pembatasan hari Sabat. Oleh karena itu mereka pun mulai bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk menghancurkan Yesus (Mrk 3:6).

Mengapa sampai ada orang yang mau membunuh Yesus yang justru datang melakukan kebaikan? Sikap mandiri yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia semata-mata seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan malah menyebabkan kita menentang Dia, bahkan pada saat kita tidak menyadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusia yang cenderung jatuh ke dalam dosa selalu menghindari sikap penyerahan diri kepada Allah. Akan tetapi, seperti kita ketahui, untuk menerima keselamatan, kita harus berserah-diri kepada-Nya. Apabila kita menolak kebaikan Allah, maka kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai lebih tinggi berbagai aturan, ketimbang kebutuhan-kebutuhan saudari-saudara kita. Sikap mandiri yang keliru akan menghalangi kita untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Sebaliknya, kalau kita bersikap seperti anak-anak, kita akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian kita pun akan mampu menerima kerahiman-Nya dan hidup baru-Nya. Yesus akan mengubah hati dan pikiran kita sehingga hasrat-hasrat-Nya dan pikiran-pikiran-Nya menjadi hasrat-hasrat dan pikiran-pikiran kita. Dia akan mengajarkan kepada kita jalan-Nya dan memberdayakan kita agar supaya taat kepada firman-Nya. Kalau anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan kerahiman Tuhan, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, sehingga bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ubahlah hati kami agar dapat semakin serupa dengan hati-Mu. Biarlah kasih-Mu memancar ke dalam hati kami dan melalui hati kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu menyediakan waktu dan energi bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 17:32-33,37,40-51), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG DAUD BERTARUNG MELAWAN GOLIAT” (bacaan tanggal 17-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.worpress.com;  18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 16 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Martir-martir Pertama Fransiskan

 

Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: 1 Sam 16:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28

“Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.” (Mrk 2:28)

Kata-kata Yesus ini merupakan tantangan bagi orang-orang Farisi. Mereka mengajukan pertanyaan yang kelihatan legitim (Inggris: legitimate) berkaitan dengan tindakan-tindakan para murid Yesus yang jelas bertentangan dengan hukum Sabat. Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengkonfrontir kekerdilan pemikiran mereka tentang diri-Nya dan karya pelayanan-Nya. Yesus juga mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat.

SONY DSC

Tindakan para murid memetik bulir gandum di hari Sabat jelas merupakan suatu pelanggaran peraturan-peraturan Yahudi berkaitan dengan hari Sabat. Ketika orang-orang Farisi itu mempertanyakan tindakan-tindakan para murid-Nya, Yesus menanggapinya dengan menyatakan otoritas-Nya dengan dua cara. Pertama, Ia memberi contoh dari Perjanjian Lama, yaitu pada waktu Daud dan para pengikutnya memakan roti suci yang ada di Rumah Allah. Dalam hal ini Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan Daud. Sebagaimana Daud mengizinkan para pengikutnya memuaskan rasa lapar mereka dengan mengorbankan kepatuhan yang ketat terhadap hukum, demikian pula Yesus dapat memperkenankan para murid-Nya untuk memuaskan rasa lapar mereka dengan memetik bulir gandum pada hari Sabat. Daud adalah pralambang dari Mesias yang dinanti-nantikan. Sudah diterima secara umum dalam masyarakat Yahudi bahwa sang Mesias yang dinanti-nantikan itu adalah seorang keturunan Daud. Jadi, Yesus mempunyai semacam hak prerogatif untuk mengupayakan agar kebutuhan-kebutuhan para murid-Nya terpenuhi; mereka yang telah meninggalkan segala milik mereka untuk mengikuti sang Rabi dari Nazaret dalam pelayanan-Nya kepada orang banyak.

Cerita tentang konfrontasi ini mengundang kita untuk melihat terobosan dari Kerajaan Allah. Sebagaimana pra-konsepsi orang-orang Farisi tentang karya pelayanan Yesus dan hukum dipertanyakan, maka kita pun ditantang untuk memahami bahwa Yesus jauh lebih daripada sekadar seorang manusia atau seorang guru yang baik. Anak Manusia adalah Tuhan atas segala sesuatu, bahkan atas hari Sabat!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu melihat dengan jelas otoritas dan martabat-Mu sebagai Tuhan. Engkau harus makin besar, tetapi kami harus makin kecil (bdk. Yoh 3:30). Kami ingin hidup seturut hukum kasih-Mu dan di bawah kekuasan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Pertama hari ini (1Sam 16:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG DAUD YANG DIURAPI MENJADI RAJA ISRAEL” (bacaan tanggal 16-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaa tanggal 17-1-17 dalam situs/blog SANG  SABDA) 

Cilandak, 14 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HUBUNGAN PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN UMAT-NYA ADALAH CERMINAN PERKAWINAN

HUBUNGAN PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN UMAT-NYA ADALAH CERMINAN PERKAWINAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Jumat, 18 Agustus 2017)

Lalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Lagi pula Ia berfirman: Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan, ia berzina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:3-12) 

Bacaan Pertama: Yos 24:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 136:1-3,16-18,21-22,24 

Yesus telah meninggalkan Galilea dan kembali ke daerah Yudea … membuat satu langkah lagi dalam menuju sengsara dan kematian-Nya. Di Galilea, Yesus telah menyatakan kuat-kuasa Allah dalam bentuk mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran, juga pengajaran yang jelas. Di Yudea, Dia didatangi orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang mencoba untuk menjebak-Nya. Namun demikian, Yesus terus saja melakukan perbuatan-perbuatan baik: menyembuhkan orang sakit dan memberitakan Kabar Baik tentang kasih Allah kepada umat-Nya.

Selama Yesus dan rombongan-Nya melakukan perjalanan mereka dan memasuki Yerusalem, Ia tetap membina para murid-Nya melalui pengajaran-pengajaran sambil tentunya mengundang mereka kepada kehidupan dalam Dia (Mat 19:1-22:46).

Dalam bacaan Injil di atas, orang-orang Farisi mencoba menggunakan masalah perceraian sebagai satu cara untuk mendiskreditkan Yesus. Bahkan pada hari ini pun kita dapat melihat bagaimana kecenderungan kita yang buruk mencoba memakai subjek-subjek kontroversial untuk menjebak pihak-pihak dengan siapa kita tidak memiliki kesepakatan. Memang hal seperti ini lebih biasa terjadi di dunia  politik, namun apabila kita melihat ke dalam batin atau hati kita sendiri, maka kita akan melihat bahwa tindakan seperti ini ada juga dalam diri kita. Tanpa Roh Kudus yang mendorong serta menjaga nurani kita, kita pun dengan mudah dapat menjadi sinis dan munafik seperti orang-orang Farisi.

Masalah seputar perceraian seringkali menyakitkan, oleh karena itu pentinglah bagi kita untuk senantiasa mengingat bahwa niat Yesus bukanlah untuk menyebabkan rasa sakit, melainkan untuk memaparkan rencana ilahi yang jelas berkaitan dengan hubungan kemanusiaan. Yesus mengajak orang-orang Farisi itu merujuk kepada kisah penciptaan dan niat asli Allah bagi manusia, yaitu laki-laki dan perempuan (Mat 19:4-6). Dalam perkawinan, laki-laki dan perempuan dipersatukan dalam suatu hubungan perjanjian (a covenant relationship) yang akan mencerminkan hubungan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Sayang sekali, visi ini seringkali dipengaruhi secara negatif oleh sikap mementingkan diri sendiri dan bahkan kejahatan yang tersembunyi dalam hati manusia. Upaya-upaya pribadi (berdasarkan kekuatan sendiri) saja – bagaimana pun pentingnya – tidak pernah akan mencapai cita-cita yang tinggi ini. Cintakasih dalam hidup perkawinan dan juga stabilitas perkawinan menuntut iman dan ketaatan kepada Bapa surgawi yang sungguh memiliki hasrat mendalam untuk mengubah diri kita lewat karya Kristus.

Sebagai murid-murid (pengiku-pengikut) Yesus Kristus, marilah kita berdoa agar kita akan mampu merangkul hidup Kristus dan mengikuti jejak-Nya – di jalan kasih dan ketaatan. Allah itu mahasetia. Apa pun yang telah terjadi atas diri kita, “salah jalan” bagaimana pun yang telah kita lakukan, namun apabila kita berbalik kembali kepada-Nya, maka Dia akan mendengar doa kita dan menunjukkan kepada jalan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, bersihkanlah hati kami dan murnikanlah nurani kami. Lindungilah kekudusan keluarga dan tolonglah mereka yang sedang berjuang atau menderita dalam kehidupan perkawinan dan keluarga mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 19:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “KEMBALI KEPADA RENCANA ALLAH YANG ASLI” (bacaan tanggal 18-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tangga 12-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN

KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Selasa, 8 Agustus 2017

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Ordo Pengkhotbah (OP): Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat, Imam

Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata, “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Tahukah engkau bahwa perkataan-Mu itu telah membuat orang-orang Farisi sakit hati?” Jawab Yesus, “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang.” (Mat 15:1-2,10-14) 

Bacaan Pertama: Bil 12:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,12-13

Tidak berkelebihanlah apabila dikatakan dalam kesempatan ini, bahwa betapa pun sulit dan tidak jelas bacaan Mat 15:1-20 kelihatannya bagi kita, pada kenyataannya inilah salah satu dari bacaan paling penting dalam Injil. Mengapa? Karena bacaan ini menunjukkan konflik terbuka atau clash yang berkelanjutan antara Yesus dan para pemuka agama Yahudi yang ortodoks. Dua ayat pertama di atas jelas menggambarkan bahwa orang-orang Farisi dan ahli Taurat jauh-jauh datang dari Yerusalem ke Galilea untuk mengajukan pertanyaan di atas kepada Yesus. Membasuh tangan sebelum makan merupakan suatu tindakan yang melambangkan pembersihan/pemurnian yang menyangkut ritus keagamaan, jadi bukan pertama-tama demi alasan higienis (Donald Senior CP, Gospel of St. Matthew, Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, hal. 52).

Seseorang  dikatakan tahir/bersih dalam arti dirinya berada dalam keadaan di mana dia dapat melakukan ibadat kepada Allah. Dalam keadaan tidak tahir dia dikatakan najis, artinya tidak dapat melakukan ibadatnya guna menyembah Allah. Orang dapat menjadi najis karena melakukan kontak (misalnya menyentuh) dengan perempuan yang menderita sakit pendarahan, walaupun pendarahan untuk jangka waktu tertentu seperti menstruasi, perempuan yang baru melahirkan anak untuk jangka waktu tertentu (Im 12:1-8), para penderita penyakit kusta (Im 13) demikian pula orang kafir (non Yahudi), dsb. Kenajisan ini juga menular dari orang yang satu kepada orang lain karena bersentuhan. (Patut dicatat bahwa hal serupa bukan monopoli agama Yahudi.)

Jadi, kalau kita berbicara mengenai konflik terbuka atau clash di sini, maka ini bukanlah sekadar clash pribadi antara Yesus dan mereka, melainkan jauh melampaui, karena ini merupakan bertabrakannya dua pandangan agama dan tentunya dua pandangan tentang apa yang dituntut oleh Allah yang disembah umat-Nya. Dalam hal ini tidak ada ruang atau kemungkinan untuk suatu kompromi, atau persetujuan-kerja bersama antara dua pandangan agama. Jadi dalam hal ini mau tidak mau pandangan yang satu harus menghancurkan pandangan lainnya (William Barclay, The Daily Study Bible – The Gospel of Matthew, Volume 2, Edinburgh: The Saint Press, hal. 109).[1]

Penerapan “hukum” mengenai ketahiran dan kenajisan meluas, misalnya menentukan apa saja yang dapat dimakan atau tidak dapat dimakan oleh seorang. Pada umumnya semua buah dan sayur-mayur dapat dimakan. Namun berkenan dengan makhluk-makhluk hidup hukumnya ketat seperti termuat dalam Im 11:1-47 dan Ul 14:3-21). Dalam hal ini William Barclay mengemukakan beberapa hal:

  1. Penolakan untuk menyentuh mayat, atau makan daging dari bangkai hewan yang sudah mati (bukan karena disembelih untuk kepentingan manusia), mungkin karena kaitannya dengan kepercayaan dalam hal roh-roh jahat. Lebih mudahlah bagi orang-orang untuk berpikir bahwa roh jahat mendiami tubuh binatang atau orang mati, dengan demikian mudah masuk ke dalam tubuh orang yang memakannya atau menyentuhnya.
  2. Hewan-hewan tertentu dipandang suci dalam agama-agama lain, misalnya kucing dan buaya adalah suci di mata orang Mesir, dengan demikian wajarlah bagi orang-orang Yahudi untuk memandang hewan-hewan yang disembah bangsa lain tersebut sebagai najis (haram). Hewan-hewan itu dicap sebagai berhala dan karenanya sangat najis.
  3. Menurut pengamatan Dr. Rendle Short (The Bible and Modern Medicine), peraturan-peraturan tertentu berkaitan dengan hewan-hewan tertentu yang dipandang najis dapat dinilai bijak dari sudut kesehatan dan higiene, dan hanya aman apabila dimasak sampai matang. Bahaya tersebut bersifat minimal di dunia modern, namun sungguh berbahaya pada zaman Palestina kuno, dan memang lebih baik untuk dihindari.
  4. Tetap ada sejumlah besar kasus di mana ada hal-hal (hewan dll.) yang dipandang najis tanpa alasan yang jelas. Takhyul dapat menyebabkan hewan-hewan tertentu dipandang berhubungan dengan nasib baik atau nasib buruk, dengan ketahiran atau kenajisan.

Hal-hal seperti diuraikan di atas menjadi kesulitan dan bahkan “tragedi” karena bagi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi hal-hal tersebut menjadi masalah hidup atau mati. Dalam pikiran seorang Farisi, larangan untuk makan daging kelinci atau babi merupakan perintah Allah yang kiranya sama beratnya dengan larangan untuk berzinah. Agama menjadi semacam ember atau koper yang dipenuhi dengan berbagai aturan yang bersifat eksternal. Karena lebih mudah untuk melaksanakan peraturan dan memeriksa orang lain yang tidak melakukannya, maka segala aturan ini menjadi agama itu sendiri bagi orang-orang Farisi dkk.

Pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus adalah: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan” (Mat 15:2). Di sini mereka berbicara mengenai “adat istiadat nenek moyang” mereka. Bagi orang Yahudi, Hukum terbagi menjadi dua bagian. Ada “hukum tertulis” yang termuat dalam Kitab Suci dan ada pula “hukum lisan” seperti yang mengatur soal membasuh tangan yang terus dikembangkan oleh para ahli Taurat dari generasi ke generasi, dan semua itu dipandang sebagai tradisi atau adat-istiadat nenek moyang, yang sayangnya seringkali dipandang lebih mengikat daripada “hukum tertulis”. Semua upacara rituale ini bagi orang Yahudi ortodoks adalah “agama”. 

Yesus tidak secara langsung menjawab pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut. Dalam Mat 15:3-9 yang tidak menjadi bagian bacaan Injil hari ini, Yesus sebenarnya tidak mengedepankan kebenaran yang belum/tidak diketahui oleh orang-orang Yahudi. Yesus mengingatkan para pemuka agama itu tentang hal-hal yang telah Allah telah sabdakan kepada umat Yahudi namun telah mereka lupakan, karena mereka lebih menyukai aturan-aturan ciptaan manusia ketimbang Hukum Allah yang sangat sederhana. Di sinilah letak clash atau tabrakan antara dua jenis agama dan dua jenis penyembahan kepada Allah. Bagi para ahli Kitab dan orang-orang Farisi agama adalah pelaksanaan aturan-aturan yang bersifat eksternal dan rituale, misalnya cara yang benar bagaimana membasuh tangan sebelum makan dlsb. Sebaliknya, bagi Yesus agama adalah sesuatu yang bertempat kedudukan dalam hati; sesuatu yang diungkapkan dengan penuh belarasa dan kebaikan hati, yang semuanya berada di atas dan bahkan melampaui hukum. Bagi orang Yahudi ortodoks penyembahan itu berarti rituale, hukum yang menyangkut upacara lahiriah, sedangkan bagi Yesus penyembahan adalah hati yang bersih dan kehidupan yang penuh kasih. Di sinilah letaknya clash termaksud.

“Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat 15:11). Bagi orang Yahudi ortodoks tersebut, ucapan Yesus itu terdengar sebagai sesuatu yang lebih parah daripada “kurang ajar”. Telinga mereka menjadi panas! Mengapa? Karena dengan mengatakan demikian, Yesus tidak hanya “melanggar” praktek “agama” rituale dan seremonial para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, melainkan juga Dia menghapus banyak bagian dalam bacaan Kitab Imamat. Jadi, Yesus tidak hanya menimbulkan kontradiksi dengan tradisi nenek-moyang, melainkan juga berkontradiksi dengan apa yang disabdakan dalam Kitab Suci. Sabda Yesus ini membatalkan hukum tentang apa yang halal dan haram untuk dimakan dalam Perjanjian Lama. Mungkin saja hukum ini masih diindahkan jika menyangkut kesehatan, hygiene, akal sehat dan kebijakan medis; namun tidak pernah boleh diyakini oleh kita sebagai agama. Yesus mau menekankan bahwa yang penting bagi kita bukanlah pelaksanaan rituale yang bersifat eksternal, melainkan disposisi hati kita. Tidak mengherankanlah apabila para ahli Kitab dan orang-orang Farisi menjadi kaget dan geram mendengar sabda Yesus yang revolusioner ini, karena dengan lugas dan gamblang Yesus menyatakan bahwa teori dan praktek agama mereka adalah salah besar.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk pengajaran-Mu bahwa praktek keagamaan sesungguhnya adalah masalah hati, bukan tata-cara atau rituale yang bersifat eksternal. Kami tahu bahwa bagi-Mu dan juga bagi Gereja Perdana, masalah ini adalah masalah hidup atau mati. Teristimewa bagi kami yang hidup sebagai minoritas dalam masyarakat yang sangat plural, anugerahkanlah kepada kami keberanian untuk menyatakan kebenaran yang kami yakini lewat kata-kata dan perbuatan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Bil 12:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU MUSA YANG PATUT KITA CONTOH” (bacaan tanggal 8-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

[1] Banyak dari uraian berikut ini diinspirasikan buku William Barclay, hal. 109-120; juga dari buku P.  George T. Montague SM, Companion God – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, New York and New Jersey: Paulist Press, 1989, hal. 170-173.