Posts tagged ‘ORANG-ORANG FARISI’

HUBUNGAN PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN UMAT-NYA ADALAH CERMINAN PERKAWINAN

HUBUNGAN PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN UMAT-NYA ADALAH CERMINAN PERKAWINAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Jumat, 18 Agustus 2017)

Lalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Lagi pula Ia berfirman: Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan, ia berzina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:3-12) 

Bacaan Pertama: Yos 24:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 136:1-3,16-18,21-22,24 

Yesus telah meninggalkan Galilea dan kembali ke daerah Yudea … membuat satu langkah lagi dalam menuju sengsara dan kematian-Nya. Di Galilea, Yesus telah menyatakan kuat-kuasa Allah dalam bentuk mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran, juga pengajaran yang jelas. Di Yudea, Dia didatangi orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang mencoba untuk menjebak-Nya. Namun demikian, Yesus terus saja melakukan perbuatan-perbuatan baik: menyembuhkan orang sakit dan memberitakan Kabar Baik tentang kasih Allah kepada umat-Nya.

Selama Yesus dan rombongan-Nya melakukan perjalanan mereka dan memasuki Yerusalem, Ia tetap membina para murid-Nya melalui pengajaran-pengajaran sambil tentunya mengundang mereka kepada kehidupan dalam Dia (Mat 19:1-22:46).

Dalam bacaan Injil di atas, orang-orang Farisi mencoba menggunakan masalah perceraian sebagai satu cara untuk mendiskreditkan Yesus. Bahkan pada hari ini pun kita dapat melihat bagaimana kecenderungan kita yang buruk mencoba memakai subjek-subjek kontroversial untuk menjebak pihak-pihak dengan siapa kita tidak memiliki kesepakatan. Memang hal seperti ini lebih biasa terjadi di dunia  politik, namun apabila kita melihat ke dalam batin atau hati kita sendiri, maka kita akan melihat bahwa tindakan seperti ini ada juga dalam diri kita. Tanpa Roh Kudus yang mendorong serta menjaga nurani kita, kita pun dengan mudah dapat menjadi sinis dan munafik seperti orang-orang Farisi.

Masalah seputar perceraian seringkali menyakitkan, oleh karena itu pentinglah bagi kita untuk senantiasa mengingat bahwa niat Yesus bukanlah untuk menyebabkan rasa sakit, melainkan untuk memaparkan rencana ilahi yang jelas berkaitan dengan hubungan kemanusiaan. Yesus mengajak orang-orang Farisi itu merujuk kepada kisah penciptaan dan niat asli Allah bagi manusia, yaitu laki-laki dan perempuan (Mat 19:4-6). Dalam perkawinan, laki-laki dan perempuan dipersatukan dalam suatu hubungan perjanjian (a covenant relationship) yang akan mencerminkan hubungan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Sayang sekali, visi ini seringkali dipengaruhi secara negatif oleh sikap mementingkan diri sendiri dan bahkan kejahatan yang tersembunyi dalam hati manusia. Upaya-upaya pribadi (berdasarkan kekuatan sendiri) saja – bagaimana pun pentingnya – tidak pernah akan mencapai cita-cita yang tinggi ini. Cintakasih dalam hidup perkawinan dan juga stabilitas perkawinan menuntut iman dan ketaatan kepada Bapa surgawi yang sungguh memiliki hasrat mendalam untuk mengubah diri kita lewat karya Kristus.

Sebagai murid-murid (pengiku-pengikut) Yesus Kristus, marilah kita berdoa agar kita akan mampu merangkul hidup Kristus dan mengikuti jejak-Nya – di jalan kasih dan ketaatan. Allah itu mahasetia. Apa pun yang telah terjadi atas diri kita, “salah jalan” bagaimana pun yang telah kita lakukan, namun apabila kita berbalik kembali kepada-Nya, maka Dia akan mendengar doa kita dan menunjukkan kepada jalan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, bersihkanlah hati kami dan murnikanlah nurani kami. Lindungilah kekudusan keluarga dan tolonglah mereka yang sedang berjuang atau menderita dalam kehidupan perkawinan dan keluarga mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 19:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “KEMBALI KEPADA RENCANA ALLAH YANG ASLI” (bacaan tanggal 18-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tangga 12-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN

KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Selasa, 8 Agustus 2017

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Ordo Pengkhotbah (OP): Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat, Imam

Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata, “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Tahukah engkau bahwa perkataan-Mu itu telah membuat orang-orang Farisi sakit hati?” Jawab Yesus, “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang.” (Mat 15:1-2,10-14) 

Bacaan Pertama: Bil 12:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,12-13

Tidak berkelebihanlah apabila dikatakan dalam kesempatan ini, bahwa betapa pun sulit dan tidak jelas bacaan Mat 15:1-20 kelihatannya bagi kita, pada kenyataannya inilah salah satu dari bacaan paling penting dalam Injil. Mengapa? Karena bacaan ini menunjukkan konflik terbuka atau clash yang berkelanjutan antara Yesus dan para pemuka agama Yahudi yang ortodoks. Dua ayat pertama di atas jelas menggambarkan bahwa orang-orang Farisi dan ahli Taurat jauh-jauh datang dari Yerusalem ke Galilea untuk mengajukan pertanyaan di atas kepada Yesus. Membasuh tangan sebelum makan merupakan suatu tindakan yang melambangkan pembersihan/pemurnian yang menyangkut ritus keagamaan, jadi bukan pertama-tama demi alasan higienis (Donald Senior CP, Gospel of St. Matthew, Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, hal. 52).

Seseorang  dikatakan tahir/bersih dalam arti dirinya berada dalam keadaan di mana dia dapat melakukan ibadat kepada Allah. Dalam keadaan tidak tahir dia dikatakan najis, artinya tidak dapat melakukan ibadatnya guna menyembah Allah. Orang dapat menjadi najis karena melakukan kontak (misalnya menyentuh) dengan perempuan yang menderita sakit pendarahan, walaupun pendarahan untuk jangka waktu tertentu seperti menstruasi, perempuan yang baru melahirkan anak untuk jangka waktu tertentu (Im 12:1-8), para penderita penyakit kusta (Im 13) demikian pula orang kafir (non Yahudi), dsb. Kenajisan ini juga menular dari orang yang satu kepada orang lain karena bersentuhan. (Patut dicatat bahwa hal serupa bukan monopoli agama Yahudi.)

Jadi, kalau kita berbicara mengenai konflik terbuka atau clash di sini, maka ini bukanlah sekadar clash pribadi antara Yesus dan mereka, melainkan jauh melampaui, karena ini merupakan bertabrakannya dua pandangan agama dan tentunya dua pandangan tentang apa yang dituntut oleh Allah yang disembah umat-Nya. Dalam hal ini tidak ada ruang atau kemungkinan untuk suatu kompromi, atau persetujuan-kerja bersama antara dua pandangan agama. Jadi dalam hal ini mau tidak mau pandangan yang satu harus menghancurkan pandangan lainnya (William Barclay, The Daily Study Bible – The Gospel of Matthew, Volume 2, Edinburgh: The Saint Press, hal. 109).[1]

Penerapan “hukum” mengenai ketahiran dan kenajisan meluas, misalnya menentukan apa saja yang dapat dimakan atau tidak dapat dimakan oleh seorang. Pada umumnya semua buah dan sayur-mayur dapat dimakan. Namun berkenan dengan makhluk-makhluk hidup hukumnya ketat seperti termuat dalam Im 11:1-47 dan Ul 14:3-21). Dalam hal ini William Barclay mengemukakan beberapa hal:

  1. Penolakan untuk menyentuh mayat, atau makan daging dari bangkai hewan yang sudah mati (bukan karena disembelih untuk kepentingan manusia), mungkin karena kaitannya dengan kepercayaan dalam hal roh-roh jahat. Lebih mudahlah bagi orang-orang untuk berpikir bahwa roh jahat mendiami tubuh binatang atau orang mati, dengan demikian mudah masuk ke dalam tubuh orang yang memakannya atau menyentuhnya.
  2. Hewan-hewan tertentu dipandang suci dalam agama-agama lain, misalnya kucing dan buaya adalah suci di mata orang Mesir, dengan demikian wajarlah bagi orang-orang Yahudi untuk memandang hewan-hewan yang disembah bangsa lain tersebut sebagai najis (haram). Hewan-hewan itu dicap sebagai berhala dan karenanya sangat najis.
  3. Menurut pengamatan Dr. Rendle Short (The Bible and Modern Medicine), peraturan-peraturan tertentu berkaitan dengan hewan-hewan tertentu yang dipandang najis dapat dinilai bijak dari sudut kesehatan dan higiene, dan hanya aman apabila dimasak sampai matang. Bahaya tersebut bersifat minimal di dunia modern, namun sungguh berbahaya pada zaman Palestina kuno, dan memang lebih baik untuk dihindari.
  4. Tetap ada sejumlah besar kasus di mana ada hal-hal (hewan dll.) yang dipandang najis tanpa alasan yang jelas. Takhyul dapat menyebabkan hewan-hewan tertentu dipandang berhubungan dengan nasib baik atau nasib buruk, dengan ketahiran atau kenajisan.

Hal-hal seperti diuraikan di atas menjadi kesulitan dan bahkan “tragedi” karena bagi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi hal-hal tersebut menjadi masalah hidup atau mati. Dalam pikiran seorang Farisi, larangan untuk makan daging kelinci atau babi merupakan perintah Allah yang kiranya sama beratnya dengan larangan untuk berzinah. Agama menjadi semacam ember atau koper yang dipenuhi dengan berbagai aturan yang bersifat eksternal. Karena lebih mudah untuk melaksanakan peraturan dan memeriksa orang lain yang tidak melakukannya, maka segala aturan ini menjadi agama itu sendiri bagi orang-orang Farisi dkk.

Pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus adalah: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan” (Mat 15:2). Di sini mereka berbicara mengenai “adat istiadat nenek moyang” mereka. Bagi orang Yahudi, Hukum terbagi menjadi dua bagian. Ada “hukum tertulis” yang termuat dalam Kitab Suci dan ada pula “hukum lisan” seperti yang mengatur soal membasuh tangan yang terus dikembangkan oleh para ahli Taurat dari generasi ke generasi, dan semua itu dipandang sebagai tradisi atau adat-istiadat nenek moyang, yang sayangnya seringkali dipandang lebih mengikat daripada “hukum tertulis”. Semua upacara rituale ini bagi orang Yahudi ortodoks adalah “agama”. 

Yesus tidak secara langsung menjawab pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut. Dalam Mat 15:3-9 yang tidak menjadi bagian bacaan Injil hari ini, Yesus sebenarnya tidak mengedepankan kebenaran yang belum/tidak diketahui oleh orang-orang Yahudi. Yesus mengingatkan para pemuka agama itu tentang hal-hal yang telah Allah telah sabdakan kepada umat Yahudi namun telah mereka lupakan, karena mereka lebih menyukai aturan-aturan ciptaan manusia ketimbang Hukum Allah yang sangat sederhana. Di sinilah letak clash atau tabrakan antara dua jenis agama dan dua jenis penyembahan kepada Allah. Bagi para ahli Kitab dan orang-orang Farisi agama adalah pelaksanaan aturan-aturan yang bersifat eksternal dan rituale, misalnya cara yang benar bagaimana membasuh tangan sebelum makan dlsb. Sebaliknya, bagi Yesus agama adalah sesuatu yang bertempat kedudukan dalam hati; sesuatu yang diungkapkan dengan penuh belarasa dan kebaikan hati, yang semuanya berada di atas dan bahkan melampaui hukum. Bagi orang Yahudi ortodoks penyembahan itu berarti rituale, hukum yang menyangkut upacara lahiriah, sedangkan bagi Yesus penyembahan adalah hati yang bersih dan kehidupan yang penuh kasih. Di sinilah letaknya clash termaksud.

“Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat 15:11). Bagi orang Yahudi ortodoks tersebut, ucapan Yesus itu terdengar sebagai sesuatu yang lebih parah daripada “kurang ajar”. Telinga mereka menjadi panas! Mengapa? Karena dengan mengatakan demikian, Yesus tidak hanya “melanggar” praktek “agama” rituale dan seremonial para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, melainkan juga Dia menghapus banyak bagian dalam bacaan Kitab Imamat. Jadi, Yesus tidak hanya menimbulkan kontradiksi dengan tradisi nenek-moyang, melainkan juga berkontradiksi dengan apa yang disabdakan dalam Kitab Suci. Sabda Yesus ini membatalkan hukum tentang apa yang halal dan haram untuk dimakan dalam Perjanjian Lama. Mungkin saja hukum ini masih diindahkan jika menyangkut kesehatan, hygiene, akal sehat dan kebijakan medis; namun tidak pernah boleh diyakini oleh kita sebagai agama. Yesus mau menekankan bahwa yang penting bagi kita bukanlah pelaksanaan rituale yang bersifat eksternal, melainkan disposisi hati kita. Tidak mengherankanlah apabila para ahli Kitab dan orang-orang Farisi menjadi kaget dan geram mendengar sabda Yesus yang revolusioner ini, karena dengan lugas dan gamblang Yesus menyatakan bahwa teori dan praktek agama mereka adalah salah besar.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk pengajaran-Mu bahwa praktek keagamaan sesungguhnya adalah masalah hati, bukan tata-cara atau rituale yang bersifat eksternal. Kami tahu bahwa bagi-Mu dan juga bagi Gereja Perdana, masalah ini adalah masalah hidup atau mati. Teristimewa bagi kami yang hidup sebagai minoritas dalam masyarakat yang sangat plural, anugerahkanlah kepada kami keberanian untuk menyatakan kebenaran yang kami yakini lewat kata-kata dan perbuatan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Bil 12:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU MUSA YANG PATUT KITA CONTOH” (bacaan tanggal 8-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

[1] Banyak dari uraian berikut ini diinspirasikan buku William Barclay, hal. 109-120; juga dari buku P.  George T. Montague SM, Companion God – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, New York and New Jersey: Paulist Press, 1989, hal. 170-173.

YANG MELEBIHI BAIT ALLAH

YANG MELEBIHI BAIT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 21 Juli 2017

 

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentang kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mat 12:1-8) 

Bacaan Pertama: Kel 11:10-12:14; Mazmur Tanggapan: Yes 116:12-13,15-18 

Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat dan Tuhan dari Bait Allah. Orang-orang Farisi telah mengembangkan peraturan-peraturan yang ekstensif berkaitan dengan hari Sabat dan upacaya penyembahan di Bait Allah. Semua ini berasal dari hasrat yang tulus untuk melindungi apa saja yang kudus …… apa saja yang suci. Dengan memperkenankan para murid-Nya untuk melanggar peraturan-peraturan itu, sebenarnya Yesus menantang orang-orang Farisi dan semua orang untuk memandang diri-Nya sebagai Pribadi yang memegang otoritas tertinggi/final atas hari Sabat dan Bait Allah. Injil Matius mengajak kita untuk memandang Yesus, dan melihat bahwa Dia adalah pencerminan Allah sendiri, bahkan ketika Dia ditolak oleh para pemimpin agama pada zaman itu.

Yesus melihat bagaimana orang-orang Farisi melihat hukum. Bagi mereka Hukum Taurat adalah pemberian dari Allah sendiri, lalu mereka membangun di atasnya suatu sistem yang terdiri dari peraturan-peraturan dan regulasi-regulasi yang digunakan untuk mengukur orang-orang lain dan memisahkan diri mereka dari para “pendosa”. Dengan cara begini mereka tidak akan “terpolusi” oleh dosa orang-orang lain. Ini adalah cara yang samasekali berlawanan dengan cara Yesus. Ia mengasosiasikan diri-Nya dengan para pendosa dan pelanggar hukum, bahkan makan bersama dengan mereka (Mat 9:9-10). Yesus, yang adalah manisfestasi kasih dan kerahiman Allah, selalu menunjukkan kasih dan belas-kasihan kepada mereka yang berada di sekeliling-Nya. Yesus tidak akan membiarkan huruf-huruf hukum membenarkan pengabaian kebutuhan manusia dan menghalang-halangi aliran cintakasih-Nya.

Dengan memperkenankan para murid untuk memetik bulir gandum pada hari Sabat dan dalam mempermaklumkan bahwa “Di sini ada yang melebihi Bait Allah” (Mat 12:6), Yesus bertindak sebagai penafsir final dari hukum yang dikirim oleh Allah. Ia menyatakan identitas-Nya sebagai Tuhan dan Mesias yang mengajar dan menghayati jalan cintakasih yang bersifat sentral bagi Kerajaan Allah.

Teladan yang diberikan Yesus dapat menolong kita memandang hidup kita sendiri untuk melihat apakah kita berjalan dalam jalan cintakasih-Nya? Apakah kita cepat mencari kesalahan  dalam diri orang-orang yang tidak memenuhi standar-standar kita sendiri? Apakah kita menarik garis perbedaan antara diri kita dan orang-orang lain berdasarkan sikap-sikap kita yang mencerminkan superioritas? Apakah kita sungguh berupaya untuk mencerminkan kasih Allah dalam kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan?

DOA: Tuhan Yesus, bahkan sekarang pun Engkau hadir di tengah-tengah kami, ya Tuhan, sebagai Pribadi yang adalah Tuhan atas hari Sabat dan lebih besar dari Bait Allah. Semoga kami mau dan mampu menaruh kepercayaan pada-Mu dan mengikuti Engkau dalam jalan cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA” (bacaan tanggal 21-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangssabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 19 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAPA MURID-MURID YESUS TIDAK BERPUASA?

MENGAPA MURID-MURID YESUS TIDAK BERPUASA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Sabtu, 8 Juli 2017)

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Mat 9:14-17) 

Bacaan Pertama: Kej 27:1-5,15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 135:1-6 

“Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” (Mat 9:14). Pertanyaan ini sah-sah saja dan memang masuk akal. Orang-orang saleh memang seharusnya menjalankan hidup asketis, dan mereka haruslah berpuasa. Musa banyak sekali berpuasa. Demikian pula halnya dengan Elia. Yohanes Pembaptis sehari-harinya memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan (lihat Mat 3:4). Maka masyarakat pada umumnya berpendapat, bahwa sudah dengan sendirinyalah kesalehan (katakanlah kesucian) dan puasa berjalan bersama. Karena keterbatasan ruang dan waktu, marilah kita memusatkan perhatian kita pada dua ayat pertama bacaan Injil di atas.

Puasa merupakan penyeimbang bagi orang-orang yang hidup di bawah pengaruh kuat materialisme, konsumerisme, hedonisme dlsb. Dengan kata lain, orang-orang yang hidup bermewah-mewah, mereka yang meja makannya penuh dengan hidangan lezat dan berlimpah, orang-orang rakus dan serakah, orang-orang yang suka berfoya-foya dlsb. Dapat dikatakan puasa adalah kedaulatan roh atas badan, penaklukan atas kedagingan, tata tertib dan disiplin. Puasa adalah persiapan untuk rahmat.

Apabila seseorang berpuasa, maka berbagai kendala disingkirkan dan  orang itu menjadi mampu menerima rahmat dari Allah. Dengan berpuasa orang dibebaskan dari belenggu-belenggu yang mengikatnya dan dengan begitu dia menjadi terbuka bagi Kerajaan Allah. Marilah kita renungkan isi Prefasi Prapaskah I (Prapaskah=Masa Tobat):

“Sungguh layak dan sepantasnya, ya Bapa yang kudus, Allah yang kekal dan kuasa, bahwa di mana pun juga kami senantiasa bersyukur kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. … Sebab setiap tahun Engkau menganugerahi kami, umat-Mu, masa tobat ini, yaitu kesempatan menjernihkan hati dan budi, supaya penuh harapan ceria kami dapat menyiapkan diri untuk perayaan wafat dan kebangkitan Putera-Mu. … Engkau mengajak kami meningkatkan ulah-bakti dan amal-kasih, supaya perayaan misteri penyelamatan yang melahirkan kami kembali menjadi anak-anak-Mu, membina kami untuk menghayati kasih karunia-Mu itu sepenuhnya, dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami. … Dari sebab itu, kami mengumandangkan madah kemuliaan bagi-Mu bersama para malaikat dan seluruh laskar surgawi yang tak henti-hentinya bernyanyi/berseru: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, ……” Lagipula, bukankah Yesus Kristus sendiri telah berpuasa empat puluh hari lamanya di padang gurun? Maka pertanyaan orang-orang Farisi dan murid-murid Yohanes Pembaptis dapat kita pahami: “Mengapa murid-murid-Mu tidak berpuasa?”

Jawaban Yesus sungguh mengherankan. Ia bahkan tidak memperhatikan motif-motif di atas, tetapi menembus lebih dalam lagi ke dasar persoalannya. Mengapa? Karena keberadaan Yesus di dunia ini merupakan sebuah pesta nikah bagi umat manusia. Pada pesta nikah orang-orang bersuka-ria, bukannya berpuasa. Kristus adalah Sang Mempelai ilahi yang datang untuk mencari dan memilih mempelai perempuan-Nya. Oleh karena itu pengantin/mempelai perempuan ini memakai gelar, Ecclesia (Gereja) – Yang Terpilih. Ia telah menjemputnya dan kini sedang merayakan pesta pertunangan dan pesta nikah dengannya. Para murid adalah tamu-tamu dalam pesta ini. Mereka telah diundang untuk menghadiri pesta dunia ini. Oleh karena itu mereka harus berada dalam suasana dan keadaan pesta, dengan demikian puasa tidaklah pada tempatnya di sini.

Akan tetapi Yesus segera menambahkan: “Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa” (Mat 9:15).  Mengapa? Karena apabila pesta nikah telah selesai, maka Yesus pun akan pergi kepada Bapa-Nya di surga untuk menyediakan tempat bagi mempelai/pengantian perempuan-Nya. Gereja – Pengantin Kristus – menunggu sampai saat sang Mempelai Laki-laki datang kembali untuk membimbingnya masuk ke dalam rumah-Nya.

Sementara roda sejarah terus berputar di antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedua, antara Inkarnasi-Nya dan kedatangan-Nya kembali (parousia), terdapatlah suasana yang berubah-ubah silih berganti, kegembiraan diselingi dengan kedukaan karena masih harus menanti. Itulah sebabnya mengapa hari pesta berselang-seling dengan hari puasa. Sang pengantin/mempelai perempuan menyadari bahwa dia adalah Pengantin yang terpilih, namun ia masih belum berada dalam kamar pengantin. Oleh karena itu hatinya penuh kegairahan, matanya menatap ke tempat yang jauh dan pandangannya tertuju ke surga selalu. Namun ia pun yakin akan keterpilihannya. Inilah yang menyebabkan suasana silih berganti pada para anggotanya, suasana gembira dan suasana duka, perasaan memiliki dan mengingini, perasaan sudah mempunyai dan belum memperoleh. Maka dari itu hari-hari pesta senantiasa diselingi hari puasa penuh keprihatinan. Dipandang dari sudut ini puasa bukanlah melulu berarti latihan untuk menguasai badan dan mengatasi pertimbangan budi serta anti-materialisme belaka. Puasa merupakan pernyataan suatu semangat religious yang mendalam, lambang waktu penantian kedatangan Tuhan penuh kerinduan. Inilah vigilia sejarah Gereja sebelum pesta perkawinan abadi. Semua vigilia sebelum pesta gerejawi dan seluruh masa puasa sebelum pesta Paskah mengingatkan kita akan sikap Kristiani yang menantikan, yang mendambakan dan mempersiapkan diri akan kedatangan kembali Tuhan Yesus Kristus serta undangan-Nya untuk menghadiri Pesta Perkawinan Abadi.

Jadi, puasa bukan hanya soal kesehatan, melainkan karya cintakasih. Maka dalam jawaban Yesus kepada orang-orang yang bertanya (murid-murid Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi) termaktub pula penunjukkan kepada rahasia cintakasih, yang memberikan arti yang mendalam kepada pesta dan puasa.

(Uraian di atas adalah adaptasi dari tulisan Richard Gutzwiller, RENUNGAN TENTANG MATEUS I, terjemahan KARMEL P. SIANTAR, Endeh, Flores: Pertjetakan Arnoldus Endeh Flores NTT: tjetakan I 1968, hal. 150-153)

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengenali dan mengalami kehadiran-Mu. Semoga puasa dan doaku menjadi saat-saat di mana keintiman dengan Engkau menjadi semakin bertumbuh selagi aku menantikan pemenuhan dari janji-janji-Mu. Semoga hidup pertobatanku dan ketaatanku terhadap perintah-perintah Allah mengalir ke luar dari sebuah hati yang dipenuhi dengan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-17), bacalah tulisan yang berjudul “ANGGUR BARU TIDAK DITUANG KE DALAM KANTONG KULIT TUA” (bacaan tanggal 8-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

Cilandak, 4 Juli 2017 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu, Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

WALAUPUN KITA TIDAK PANTAS UNTUK DITEBUS ……

WALAUPUN KITA TIDAK PANTAS UNTUK DITEBUS ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Sabtu, 8 April 2017) 

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi beberapa di antara mereka pergi kepada orang-orang Farisi dan menceritakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata, “Apa yang harus kita lakukan? Sebab Orang itu membuat banyak mukjizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita. Tetapi salah seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia  bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.

Karena itu Yesus tidak tampil lagi di depan umum di antara orang-orang Yahudi, tetapi Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.

Pada  waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain, “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?” (Yoh 11:45-56) 

Bacaan Pertama: Yeh 37:21-28; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13

Kitab Yesaya menggambarkan seorang hamba TUHAN (YHWH) yang “dihina dan dihindari orang” (Yes 53:3) – sebuah nubuatan yang secara sempurna dipenuhi dalam diri Yesus. Dalam Injilnya, Yohanes mengidentifikasikan penolakan ini sebagai berasal dari “orang-orang Yahudi”. Salah-pengertian dari hal ini telah berkontribusi kepada sikap anti-Yahudi dan penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi untuk berabad-abad lamanya. Bagi Yohanes, “orang-orang Yahudi” bukan berarti semua orang Yahudi, melainkan kelompok orang yang terdiri dari kaum Farisi, imam-imam kepala, dan para anggota Sanhedrin yang menolak Yesus dan mencoba untuk merekayasa kematian Yesus (lihat Yoh 7:32,45,47-48). Di antara mereka ada beberapa yang bahkan menerima Yesus (Yoh 7:50-51). Sebagaimana dapat kita baca dalam bacaan Injil hari ini, banyak orang Yahudi yang menyaksikan mukjizat-mukjizat Yesus menjadi percaya kepada-Nya (Yoh 11:45).

Betapa mudahnya kita menunjuk-nunjuk dengan jari-jari kita kepada “orang-orang jelek” yang hidup di abad pertama dan kemudian menyalahkan mereka! Memang sulit untuk menerimanya, namun bukankah suatu kenyataan bahwa kita pun pernah menolak Yesus dalam hidup kita? Bukankah ini adalah keseluruhan pesan dari salib Kristus? Bukankah kita semua adalah “musuh-musuh” Allah? (lihat Rm 5:8) ketika Yesus datang dan mencurahkan darah-Nya. Tidak ada orang-orang baik maupun orang-orang jahat; yang ada adalah umat manusia         yang terdiri dari para pendosa yang sangat dikasihi oleh Bapa mereka yang ada di surga, yang walaupun tidak pantas untuk ditebus, mereka tetap ditebus oleh Putera-Nya yang tunggal yang  sangat dikasihi-Nya.

Bukankah ini kabar baik? Tidakkah hal ini menghibur hati ketika kita mengetahui bahwa bagaimana pun hebatnya kita masih memendam sikap perlawanan terhadap Yesus dalam hati kita, Dia tetap mengasihi kita dan tidak pernah menyesali pengorbanan yang dibuat-Nya untuk kita? Bukankah hal ini sangat menyemangati kita, apalagi ketika kita menyadari bahwa Yesus Kristus terus saja melakukan pengantaraan bagi kita di hadapan Bapa surgawi (bacalah keseluruhan Ibr 9), dan juga mencurahkan rahmat demi rahmat guna memerdekakan kita dari setiap bentuk kejahatan?

Saudari dan Saudaraku yang terkasih, besok kita akan mengawali Pekan Suci. Marilah kita memeriksa lagi batin/hati kita masing-masing. Masihkah kita menuduh individu-individu tertentu, bahkan kelompok-kelompok tertentu sebagai antek-antek si Jahat, tanpa harapan, musuh-musuh Allah yang mutlak tidak dapat diampuni? Marilah kita memohon kepada Yesus untuk menunjukkan kasih dan belaskasih-Nya. Dia mati untuk setiap orang. Dia juga memberikan pengharapan untuk setiap orang sampai menit terakhir. Yesus juga mendorong kita untuk bersikap dan melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, marilah kita melakukan doa syafaat bagi orang-orang lain, bukan menuduh-nuduh. Kita semua adalah satu keluarga dalam Kristus. Semakin kita saling mengasihi, semakin nyata pula Injil akan berkemenangan dalam setiap hati orang.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengutus Putera-Mu agar supaya segenap umat manusia dapat diperdamaikan dengan Bapa. Sekarang Engkau telah memberikan tugas kepada Gereja – dan  kami masing-masing – untuk syering pelayanan-Mu dalam hal rekonsiliasi ini. Berdayakanlah kami agar mau dan mampu menarik orang-orang lain kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 11:45-56), bacalah tulisan yang berjudul “KONSPIRASI UNTUK MEMBUNUH YESUS” (bacaan tanggal 8-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERBAHAGIALAH ORANG YANG TIDAK MENOLAK KRISTUS

BERBAHAGIALAH ORANG YANG TIDAK MENOLAK KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Sabtu, 1 April 2017) 

Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” Lalu timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh-Nya.

Kemudian penjaga-penjaga itu kembali kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu, “Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” Lalu jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka, “Apakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, salah seorang dari mereka, yang dahulu datang kepada-Nya, berkata kepada mereka, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” Jawab mereka, “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. (Yoh 7:40-53) 

Bacaan Pertama: Yer 11:18-20; Mazmur: Mzm 7:2-3,9-12

Jika kita (anda dan saya) berhadapan dengan Yesus, mendengar perwartaan-Nya dan menyaksikan perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan-Nya, apakah tanggapan atau reaksi kita? Reaksi para imam kepala dan orang-orang Farisi adalah memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul untuk memutuskan tindakan apa yang harus mereka lakukan, sebab Yesus banyak membuat mukjizat (Yoh 11:47). Ada orang-orang yang mengatakan bahwa Yesus adalah benar-benar nabi yang akan datang, ada yang mengatakan bahwa Dia adalah sang Mesias, ada pula yang mengatakan bukan Mesias, karena Mesias tidak datang dari Galilea (Yoh 7:40-41).

Dewasa ini ada lebih dari dua milyar orang yang mengatakan bahwa Yesus adalah Penebus kita, Tuhan, Putera Allah, bahkan Allah sendiri. Sejak 2000 tahun lalu orang-orang telah berkata: “Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” (Yoh 7:46) dan “Mari, lihatlah orang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.Mungkinkah Dia itu Kristus?” (Yoh 4:29). Perempuan Samaria juga bersaksi tentang Yesus: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat”, dan kesaksian perempuan ini membuat banyak orang Samaria menjadi percaya kepada-Nya (lihat Yoh 4:39).

Sekarang, apakah yang hendak kita perbuat terhadap Yesus? Jika kita menerima Yesus sebagai Allah dan Tuhan, maka kita harus menyangkal diri kita sendiri, memikul salib kita dan mengikut Dia (lihat Luk 9:23) dan kita tidak lagi hidup untuk diri kita melainkan untuk Dia yang telah  mati dan dibangkitkan untuk kita (lihat 2 Kor 5:15).

Yesus bersabda: “Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku” (Mat 11:6). Siapakah Yesus itu? Yesus adalah “batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan tetapi menjadi batu penjuru” (lihat 1 Ptr 2:7; bdk. Mzm 118:22). Yesus ditentukan untuk “menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan” (Luk 2:34). Kita akan menyalibkan Dia dan menyerahkan Dia ke pengadilan (Ibr 6:6), atau kita akan disalibkan bersama Dia (Gal 2:19). Apabila kita memilih Yesus dan kayu salib, maka hidup bukan lagi milik kita melainkan Kristus yang hidup dalam diri kita (Gal 2:20). Apakah yang akan kita perbuat terhadap Kristus? Apakah yang akan Yesus perbuat terhadap diri kita?

DOA: Yesus, Tuhanku dan Allahku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk segala hal baik yang Kausediakan bagiku. Aku ingin menyambut kebaharuan-Mu di dalam hidupku. Pimpinlah aku, ya Tuhan, agar dapat melangkah di jalan-Mu. Yesus, Engkau adalah segala-galanya bagiku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:40-53), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANG BERBICARA DENGAAN PENUH KUASA” (bacaan tanggal 1-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 29 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TENTANG PERCERAIAN

TENTANG PERCERAIAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa – Jumat, 24 Februari 2017) 

jesus_christ_picture_013Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang Sungai Yordan dan orang banyak datang lagi berkerumun di sekeliling Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka lagi. Lalu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya lagi kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Siapa saja yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia berzina terhadap istrinya itu. Jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berzina.” (Mrk 10:1-12) 

Bacaan Pertama: Sir 6:5-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:12,16,18,27,34-35 

Pertanyaan orang-orang Farisi tentang perkawinan itu sesungguhnya untuk menjebak Yesus dengan kata-kata yang diucapkan-Nya sendiri. Kaum Farisi tidak melakukan hal seperti ini sekali saja. Hal-hal seperti ini bukanlah fenomena zaman Yesus saja karena pertanyaan-pertanyaan menjebak (halusnya: untuk men-tes) dapat ditemui di mana saja dan kapan saja dalam sejarah umat manusia, bahkan tidak jarang misalnya diajukan oleh peserta-peserta tertentu dalam pertemuan pendalaman Kitab Suci. Kalau tidak ditangani secara arif, maka pertemuan Kitab Suci dapat menjadi ajang debat-kusir yang melenceng jauh dari cita-cita kerasulan Kitab Suci.

Walaupun pertanyaan orang-orang Farisi di atas dapat dijawab secara sederhana oleh Yesus dengan kata ‘ya’ atau ‘tidak’, pertanyaan-pertanyaan tersebut menyangkut berbagai tafsir yang cukup kompleks atas Hukum Yahudi. Kalau seandainya Yesus membenarkan perceraian, maka Dia dapat dituduh menyalahkan Yohanes Pembaptis yang menolak keras tindakan Herodes Antipas yang menceraikan istrinya yang sah, kemudian mengawini iparnya sendiri (istri Filipus, saudara laki-lakinya). Sebaliknya kalau Yesus setuju dengan pandangan Yohanes Pembaptis, maka Dia pasti akan menjadi sasaran kemarahan Raja Herodes.

Yesus tidak mau mati-terjebak. Sebaliknya, Yesus mencari jalan untuk membawa diskusi ‘perceraian’ ini ke suatu tingkat yang lebih tinggi, di mana Dia dapat menggunakan kesempatan yang ada agar dapat berbicara lagi tentang hasrat Bapa untuk mempersatukan kita dalam cintakasih. Dengan mencoba menjebak Yesus melalui pertanyaan-pertanyaan berbau hukum yang penuh dengan duri-tajam, orang-orang Farisi itu luput melihat rencana Allah sehubungan dengan perkawinan anak-anak manusia. Dipenuhi dengan hikmat Allah sendiri, Yesus membawa orang-orang Farisi itu ke belakang, yaitu kepada titik awal ketika Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya sendiri (Kej 1:26.27) dan menentukan bahwa dalam perkawinan dua manusia menjadi satu daging (Kej 2:24). Ajaran Yesus mengungkapkan bahwa perkawinan merupakan suatu karunia yang indah dari Allah yang dimaksudkan untuk mencerminkan kebersatuan yang dirindukan oleh-Nya dengan umat-Nya. Kedua jenis kebersatuan – antara dua orang pribadi, atau antara Allah dan umat-Nya – dimaksudkan untuk terwujud begitu intim sehingga tidak boleh sekali-kali dipatahkan. Sungguh merupakan suatu privilese untuk secara intim dibersatukan dengan Allah dan seorang pribadi yang lain!

Selagi kita merenungkan arti perkawinan manusia secara umum, barangkali mungkin juga perkawinan kita sendiri, kita mungkin tergoda untuk hanya melihat segala kesusahan yang kita alami dan melupakan (samasekali) campur tangan Allah lewat kuasa dan cintakasih-Nya. Marilah kita mendoakan semua perkawinan dewasa ini, agar dilindungi dan diangkat menjadi tanda-tanda indah dari cintakasih Allah kepada umat-Nya di mana saja manusia berada.

DOA: Bapa surgawi, betapa besar rasa syukurku untuk cintakasih-Mu kepadaku, teristimewa dalam hidup perkawinanku. Penuhilah hatiku dengan cintakasih lebih mendalam lagi kepada-Mu, kepada pasangan hidupku serta seluruh anggota keluargaku. Semoga cintakasih-Mu bagi segenap anggota keluargaku mengalir juga – melalui diriku dan para anggota keluargaku – untuk membawa kesembuhan dan damai-sejahtera kepada orang-orang lain di luar keluargaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PENCERMINAN KASIH ALLAH DAN KOMITMEN-NYA KEPADA UMAT-NYA” (bacaan  tanggal 24-2-17) dalam situs/ blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Jakarta, 21 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS