Posts tagged ‘MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN’

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Rabu, 5 Desember 2018)

Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai Danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang buta, orang timpang, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Orang banyak itu pun takjub melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.”  Kata murid-murid-Nya kepada-Nya, “Bagaimana di tempat terpencil  ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?”  “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itui duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul penuh. (Mat 15:29-37) 

Bacaan Pertama: Yes 25:6-10a; Mazmur Tanggapan: 23:1-6 

Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah makan-minum. Kita praktis tidak dapat bertumbuh dan survive tanpa pangan. Beberapa tanda dari belarasa Yesus terlihat nyata dalam hal kebutuhan manusia akan makan-minum ini. Ketika Yesus melihat keadaan orang-orang yang mengikuti-Nya, Dia berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan” (Mat 15:32). Orang yang kelaparan tidak dapat diharapkan untuk dapat memikirkan apa-apa lagi, kecuali makanan yang dapat dimakannya dan minuman yang dapat diminumnya. [“The stomach cannot wait,” kata Bung Karno.] Ketika Putera Allah menjadi manusia seperti kita, Dia menerima semua aspek kehidupan kita-manusia, termasuk rasa lapar dan haus. Dalam bacaan Injil di atas, jelaslah bahwa Yesus tahu dari pengalaman-Nya sendiri sebagai seorang manusia, apa yang dirasakan orang banyak yang mengikuti-Nya itu. Dengan demikian tidaklah mengejutkan kalau dalam hal ini Yesus menanggapi kebutuhan mendesak orang banyak itu dengan membuat sebuah mukjizat bagi mereka. Yang seharusnya sangat membuat kita kagum adalah bahwa Yesus menanggapi rasa lapar dan haus spiritual kita dengan cara yang lebih besar dan agung daripada sebuah mukjizat. Pada waktu kita menghadap Dia dalam Perayaan Ekaristi, Yesus Kristus juga tidak mau kita pulang dengan rasa lapar. Dia mengenyangkan umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi dengan tubuh dan darah-Nya sendiri. Ekaristi adalah sebuah pemberian gratis yang sangat indah-mulia dari Sang Juruselamat dalam belarasa-Nya kepada kita, dan Dia memberikan itu setiap hari.

Satu hal lagi untuk direnungkan: setiap mukjizat yang dilakukan oleh Yesus merupakan sebuah tanda yang menunjuk kepada Kerajaan Allah, jadi jauh melampaui mukjizat itu sendiri. Setiap mukjizat menunjukkan bahwa Dia adalah Mesias yang dinubuatkan Yesaya: “Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka” (Yes 25:8). Dengan mempergandakan roti dan ikan, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Dia yang memuaskan mereka yang lapar dengan suatu perjamuan dengan masakan yang istimewa (lihat Yes 25:6). Itulah mengapa, ketika orang banyak mengenali tanda-tanda ini, mereka takjub dan tergerak untuk memuliakan Allah Israel (lihat Mat 15:31). Kita seharusnya ingat bahwa Yesus sama sekali bukanlah seorang pembuat mukjizat atau tukang sihir yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib untuk pamer atau mencari keuntungan diri sendiri. Jauh dari itu! Mukjizat-mukjizat Yesus menyatakan belas kasihan Bapa-Nya kepada siapa saja yang membutuhkan atau yang berada dalam kesulitan (lihat Mat 15:32). Yesus menyembuhkan orang sakit dan memberi makan kepada orang yang lapar karena Dia mengasihi mereka dan hati-Nya tergerak oleh situasi mereka. Dan, mereka yang mengalami kasih-Nya tergerak untuk berpaling kepada Allah. Sampai hari ini pun Yesus masih membuat mukjizat-mukjizat karena Dia mengasihi kita. Hasrat dan kerinduan Bapa untuk menarik kita semua kepada-Nya dan kuasa Roh Kudus yang terus-menerus mengalir melalui Yesus manakala Dia menjamah hidup kita dengan cara-cara yang ajaib. Selagi kita membuka hati kita bagi kasih Allah dan Roh-Nya, kita pun dapat melakukan hal-hal yang ajaib. Apa maksudnya? Artinya, kita pun dapat membawa orang-orang kepada Allah sendiri, yang akan memenuhi diri mereka dengan kasih dan kesembuhan yang mereka rindukan.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk segala mukjizat yang telah kualami dalam kehidupanku. Buatlah aku menjadi tanda kasih-Mu bagi orang-orang lain. Curahkanlah Roh-Mu ke dalam hatiku, dengan demikian melalui diriku banyak orang akan mengenal dan mengalami kuasa kesembuhan-Mu dan belas kasihan-Mu. Tuhan, aku juga sangat bersyukur karena sampai hari ini Engkau masih terus memberikan tubuh dan darah-Mu sendiri kepada kami dalam Ekaristi, sehingga dengan demikian kami tidak akan pernah kelaparan dan kehausan secara spiritual. Tuhan, bentuklah kami menjadi insan-ekaristik yang tidak hanya senang berkumpul di sekeliling altar-Mu di gedung gereja, tetapi juga di tengah-tengah masyarakat di mana kami tinggal. Buatlah kami mampu melihat diri-Mu di dalam diri siapa saja yang kami temui, baik umat Kristiani maupun saudari-saudara kami yang beriman-kepercayaan lain, teristimewa dalam masa Adven ini. Dimuliakanlah selalu nama-Mu Ya Yesus, Putera Allah yang hidup dan berkuasa bersama Bapa di surga dalam persekutuan Roh Kudus sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:29-37), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 5-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Desember 2018 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam – Pelindung Misi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS ADALAH PRIBADI SATU-SATUNYA YANG KITA BUTUHKAN

YESUS ADALAH PRIBADI SATU-SATUNYA YANG KITA BUTUHKAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII [TAHUN B] – 29 Juli 2018)

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: 2Raj 4:42-44; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-11,15-18; Bacaan Kedua: Ef 4:1-6 

Sementara Hari Raya Paskah sudah semakin dekat, Yesus membawa para murid-Nya ke kawasan perbukitan di Galilea. Ketika Dia melihat orang banyak yang mendatangi rombongan-Nya, keprihatinan utama Yesus adalah sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhan orang banyak itu, teristimewa rasa lapar mereka. Jadi tidak mengherankanlah apabila Yesus memutuskan untuk memberi makan orang banyak itu dengan membuat mukjizat pergandaan roti dan ikan.

Dari narasi-narasi yang menyangkut peristiwa ini dalam berbagai kitab Injil, hanya Injil Yohanes-lah yang menyebut hari raya Paskah yang sudah dekat (Yoh 6:4). Hari raya Paskah ini adalah pesta besar orang Yahudi untuk mengenang bagaimana Allah menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan di tanah Mesir dan memberi makan mereka dengan manna yang turun dari surga di padang gurun. YHWH-Allah menurunkan roti dari surga sebagai makanan sehari-hari umat-Nya guna menopang hidup mereka selama perjalanan menuju tanah terjanji. Bahkan ketika umat-Nya yang tidak tahu diri itu menggerutu, manna tetap dicurahkan dari atas sana. “Tiada hari tanpa manna!”. Walaupun umat Yahudi memberontak, Allah tetap setia dalam komitmen-Nya untuk mengajar umat-Nya tersebut untuk sepenuhnya bergantung pada-Nya untuk pemenuhan berbagai kebutuhan mereka.

Dengan cara yang serupa, Yesus merasa prihatin atas diri Filipus dan Andreas dan juga beribu-ribu orang yang telah datang untuk mendengarkan Dia berkhotbah tentang Kerajaan Allah. Apakah artinya bagi kedua murid Yesus itu dan juga orang banyak untuk menggantungkan diri sepenuhnya kepada diri-Nya? Andreas dan Filipus telah bersama Yesus dalam perjalanan missioner-Nya, dan telah menyaksikan sendiri berbagai mukjizat dan tanda heran yang diperbuat oleh sang Rabi. Akan tetapi, ketika Yesus menguji mereka dengan pertanyaan tentang di mana kiranya mereka dapat membeli roti, Filipus (kelihatannya dia adalah seorang ahli cost accounting) tidak sanggup memahami bahwa kehadiran Yesus sendiri di dekat atau di tengah mereka adalah satu-satunya yang mereka butuhkan. Andreas mengakui bahwa Yesus mampu untuk membuat mukjizat, namun masih merasa ragu atas kuat-kuasa Yesus yang tanpa batas itu: “Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak itu?” (Yoh 6:8-9).

Saudari dan Saudaraku, Yesus sangat mengetahui bahwa Dia dapat menyediakan makanan dengan berlimpah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik dan spiritual dari semua orang yang datang kepada-Nya. Bahkan pada hari ini pun Yesus masih merupakan satu-satunya Pribadi yang dibutuhkan untuk memberikan kepenuhan hidup bagi mereka yang datang kepada-Nya. Allah masih bekerja dalam setiap situasi kehidupan kita agar kita menjadi semakin dekat dengan Putera-Nya. Yesus masih tetap mengajar kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya; Dia meminta kita untuk taat kepada-Nya dan mempercayakan kebutuhan-kebutuhan kita ke dalam tangan-tangan kasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah roti kehidupan yang turun dari surga, dan Engkau tidak pernah mengecewakan kami. Kami menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk memimpin kami menuju kehidupan kekal. Ajarlah kami, ya Yesus, agar tetap tenang dalam menggantungkan diri kami sepenuhnya kepada-Mu guna menopang setiap aspek kehidupan kami melalui iman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS TIDAK PERNAH MENGECEWAKAAN KITA” (bacaan tanggal 29-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda..wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juli 2018 [Peringatan S. Yoakim dan Ana, Orantua SP Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 13 April 2018)

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banhyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Ada yang mengatakan, bahwa makan sambil berdiri atau berjalan kian kemari dapat menyebabkan gangguan dalam pencernaan. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk menyuruh orang banyak duduk. Memang demikianlah halnya: tubuh kita harus dalam keadaan duduk dan rileks agar makanan yang masuk dapat dicerna dengan baik. Hal yang sama berlaku untuk pencernaan secara rohaniah (spiritual). Kita harus rileks dan tidak sibuk kesana kemari agar supaya Yesus dapat memberi makanan kepada roh kita. Kita dapat menderita sakit pencernaan spiritual apabila kita hanya berdoa sementara disibukkan dengan pekerjaan kita. Boleh saja kita mengatakan “karyaku adalah doaku”, tetapi doa dalam keheningan di tengah quality time kita harus tetap dilakukan. Mengapa? Karena pengalaman banyak orang mengatakan bahwa betapa sulit jadinya untuk mendengar suara Allah dan beristirahat dalam kasih-Nya apabila setiap saat dari hari-hari kehidupan kita hanya dipenuhi dengan kesibukan.

Orang banyak yang diberi makanan oleh Yesus mengikuti Dia ke atas gunung karena mereka lapar akan jawaban-jawaban Yesus – akan pengharapan, tujuan, dan perjumpaan pribadi dengan kasih Allah. Mereka mempunyai banyak kebutuhan: Ada yang sakit, ada juga yang sedang tertindas. Bagi orang-orang lain, untuk survive dari hari ke hari saja sudah sulit. Akan tetapi, Yesus melihat dan merasakan kebutuhan-kebutuhan mereka semua dan menjawabnya satu persatu pada setiap tingkat. Ia minta agar para murid-Nya menyuruh orang banyak untuk duduk dan beristirahat, sehingga dengan demikian Ia dapat memberi mereka makan. Ia memberi orang banyak itu makan untuk memperkuat mereka dalam perjalanan pulang mereka ke rumah masing-masing. Ia mewartakan kabar baik dari Kerajaan Allah kepada orang banyak itu. Ia bahkan menyembuhkan mereka di bidang fisik, spiritual dan emosional.

Lebih dari dua ribu tahun kemudian, di abad ke-21 ini, kehidupan kita masih banyak menuntut. Penderitaan masih hadir di sekeliling kita dalam berbagai bentuknya. Setiap orang menghadapi berbagai kebutuhan dan tekanan yang harus diatasi. Memang tidak sulit untuk merasakan  bagaimana pikiran kita bergerak dengan cepat, bahkan ketika kita mencoba untuk diam dan berdoa secara hening. Yesus tetap meminta kita untuk duduk, membuat tenang pikiran kita dan menerima dari Dia.

Satu cara yang dapat menolong kita dalam berdoa adalah dengan menggunakan imajinasi. Kita dapat membayangkan berada bersama Yesus, para rasul dan orang banyak di atas gunung itu. Kita dapat membayangkan sedang memperhatikan Yesus yang memandang ke surga selagi Dia memohon kepada Bapa-Nya di surga untuk memberkati lima roti jelai dan dua ekor ikan yang tersedia. Kemudian kita membayangkan didatangi oleh salah seorang rasul yang menawarkan roti dan ikan sesuai dengan keinginan kita. Sekarang, marilah kita mohon agar Yesus memenuhi diri kita dengan damai sejahtera dan sukacita sementara Dia berjanji untuk menolong kita agar setiap kebutuhan kita dipenuhi.

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan kepada-Mu segala keprihatinan yang ada dalam pikiranku sekarang. Tolonglah aku agar dapat membuat tenang hatiku sehingga aku pun dapat duduk di dekat kaki-Mu dan ikut ambil bagian dalam perjamuan-Mu sepanjang hidupku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA” (bacaan tanggal 13-4-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 8 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA

HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Skolastika, Perawan – Sabtu, 10 Februari 2018)

Pada waktu itu ada lagi orang banyak jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta. (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Raj 12:26-32; 13:33-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7a,19-22 

Yesus dan para murid-Nya sudah berada di daerah orang non-Yahudi (kafir) untuk sekian lamanya. Di sana Dia mencurahkan perhatian-Nya pada orang-orang yang dipandang sebagai pendosa dan termarjinalisasikan oleh masyarakat. Kendati demikian, Yesus memperlakukan setiap orang dengan penuh kasih dan mengundang mereka semua agar memperoleh keselamatan. Kabar yang tersebar tentang bagaimana Yesus telah mengusir roh jahat dari puteri perempuan keturunan Siro-Fenisia (Mrk 7:24-30) dan penyembuhan seorang yang menderita gagap-tuli (Mrk 7:31-37) telah berhasil menarik orang-orang dalam jumlah yang banyak, untuk mengikuti Dia sampai ke tempat yang jauh dari keramaian kota di mana mereka dapat mendengar Dia mengajar. Sekarang sudah tiga hari lamanya orang banyak itu bersama Yesus, dan mereka sudah kehabisan makanan.

Dari sedikit roti dan ikan yang tersedia, Yesus memberi makan 4.000 orang yang boleh makan sampai kenyang. Orang-orang menjadi “hepi” dan ujung-ujungnya masih ada sisa sebanyak tujuh bakul. Sebelumnya Markus menarasikan cerita penggandaan makanan untuk 5.000 orang laki-laki (jadi totalnya tentu lebih banyak) yang terjadi di daerah orang Yahudi (lihat Mrk 6:34-44). Dengan menggambarkan pemberian makan kepada 4.000 orang di daerah orang “kafir”, Markus ingin mengatakan bahwa Yesus tidak hanya datang kepada orang-orang Yahudi, melainkan juga kepada orang-orang non-Yahudi. Markus ingin mengatakan, bahwa Yesus mengasihi semua orang, semua sama pentingnya bagi diri-Nya.  Laki-laki atau perempuan, rohaniwan atau awam, kaya atau miskin, sehat atau sakit – Yesus mengasihi kita dan sangat berhasrat untuk menyelamatkan kita. Kita semua penting di mata-Nya dan dari atas kayu salib Dia menumpahkan darah-Nya bagi kita masing-masing.

Cerita mukjizat penggandaan roti dan ikan ini oleh Markus dimaksudkan sebagai suatu penggambaran awal dari Ekaristi, Roti Kehidupan. Seperti apa yang dilakukan-Nya pada perjamuan akhir, di sini juga Yesus mengucap syukur, memecah-mecahkan  roti dan memberikannya kepada para pengikut-Nya (lihat Mrk 8:6; 14:22). Dalam Ekaristi, Yesus memberi makan kepada kita secara spiritual, memberikan diri-Nya kepada kita dan menyegarkan kita, seperti Dia menyegarkan orang banyak itu.

Yesus mengasihi kita masing-masing. Kita seharusnya tidak pernah boleh merasa “tidak penting” atau “tidak diinginkan” untuk hadir pada meja perjamuan-Nya. Kita semua berharga di mata-Nya dan Ia berhasrat untuk mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua secara berlimpah, memberi makan dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita. Kita tidak perlu merasa khawatir tentang posisi kita. Yang harus kita lakukan hanyalah dengan tulus membuka hati kita dan memperkenankan Dia masuk ke dalam hati kita. Dia pasti akan memuaskan hati yang paling haus dan lapar.

DOA: Tuhan Yesus, tariklah kami agar mendekat pada-Mu dan segarkanlah kami dengan makanan surgawi dari-Mu. Lipat-gandakanlah rahmat-Mu dalam diri kami semua sehingga kami diberdayakan untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang di sekeliling kami. Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA PUN MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 10-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  8 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MUKJIZAT EKARISTI KUDUS

MUKJIZAT EKARISTI KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Rabu, 6 Desember 2017)

Peringatan S. Nikolaus, Uskup

Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai Danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang buta, orang timpang, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Orang banyak itu pun takjub melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” Kata murid-murid-Nya kepada-Nya, “Bagaimana di tempat terpencil ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul penuh. (Mat 15:29-37) 

Bacaan Pertama: Yes 25:6-10a; Mazmur Tanggapan: 23:1-6

Allah kita adalah Allah yang jauh dari cukup! Seperti Yesus memberi makan dan membuat kenyang ribuan orang hanya berdasarkan beberapa roti dan ikan, maka Dia pun ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang paling mendalam setiap kali kita menerima Dia dalam Ekaristi.

Marilah kita merenungkan hal berikut ini: Pada setiap perayaan Ekaristi (Misa Kudus), Yesus mempersiapkan suatu pesta perjamuan bagi kita, pesta yang berlimpah dengan makanan lezat dan anggur bermutu (Yes 25:6). Perjamuan yang kita rayakan pada setiap Misa bukanlah sekadar peringatan/kenangan akan Perjamuan Terakhir, melainkan juga suatu perayaan kemenangan Yesus di atas kayu salib. Ketika kita makan tubuh dan minum darah-Nya, kita mendapat kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

Dalam setiap Misa, kita merayakan kemenangan Yesus atas dosa dan maut. Jikalau Yesus tidak mati di kayu salib, Ia tidak mengalahkan dosa. Jikalau Dia tidak bangkit, kematian akan tetap berkuasa atas diri kita. Namun Yesus telah telah mengalahkan maut untuk selamanya! Sekarang Yesus Kristus memerintah dalam kemuliaan, dan Ia ingin menghapus setiap tetes air mata kita, membersihkan nurani kita, dan membuang segala aib kita (Yes 25:8). Inilah caranya bagaimana Dia memuaskan kita. Melalui mukjizat Ekaristi, Yesus mengenyangkan diri kita jauh melampaui apa yang mampu diberikan oleh makanan dan minuman biasa.

Berpesta pada meja perjamuan Allah memiliki nilai kekal-abadi. Makanan yang ditawarkan Yesus mempersatukan kita dengan diri-Nya dan memampukan kita menerima warisan yang telah disediakan-Nya bagi kita. Mengetahui hal ini dapat memberikan kepada kita harapan yang besar. Tetesan air mata kita dihapuskan bukan karena kita tidak mempunyai masalah dalam dunia ini, melainkan karena Yesus adalah Saudara kita. Dia akan melakukan apa saja untuk menguatkan diri kita dan membuat kita menjadi semakin berbuah dari hari ke hari. Yesus adalah penjaga para saudari dan saudara-Nya, dan Ia sungguh menjaga kita manakala kita menerima Dia dalam Komuni Kudus. Rasa  takut kita akan menyusut karena Ekaristi. Rasa cemas dan khawatir kita dapat hilang karena Ekaristi. Kita akan mengalami penghiburan karena kasih Allah dan pengalaman kemenangan atas berbagai tantangan yang selama ini menindih kita. Baiklah kita senantiasa mengingat bahwa Misa Kudus atau Perayaan Ekaristi adalah suatu peringatan atau kenangan, dan pada saat sama juga merupakan suatu pengalaman akan kemenangan Yesus di atas kayu salib.

Saudari dan Saudaraku, sebagaimana ribuan orang lapar yang dipuaskan/dikenyangkan oleh Yesus melalui mukjizat penggandaan roti dan ikan, kita pun dapat dibuat kenyang oleh-Nya, baik secara badani maupun rohani.

DOA: Tuhan Yesus, aku menginginkan Engkau, lebih dan lebih lagi. Berikanlah kepadaku tubuh dan darah-Mu yang akan mengenyangkan diriku, baik secara fisik maupun secara rohani. Aku percaya bahwa Engkau akan memenuhi setiap kebutuhanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:29-37), bacalah tulisan yang berjudul “HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN” (bacaan tanggal 6-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENYEMBUH YANG TERLUKA

PENYEMBUH YANG TERLUKA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Senin, 7 Agustus 2017)

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam Martir

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama:  Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17 

Yesus baru saja menerima berita yang terburuk yang pernah didengar-Nya Mat 14:13). Yohanes Pembaptis, saudara dan sahabat-Nya, baru saja dipancung kepalanya atas perintah Herodes Antipas. Yohanes membaptis Yesus di sungai Yordan (Mat 3:13 dsj.). Yesus memandang Yohanes Pembaptis sebagai orang yang terbesar yang pernah lahir di dunia (Mat 11:11). Sekarang Yohanes Pembaptis telah mati, dibunuh dan menjadi martir.

Tentu saja Yesus sendiri terkejut dan terluka hati-Nya. Lalu Dia menyingkir ke tempat yang sunyi untuk menyendiri (Mat 14:13). Namun gerombolan orang banyak berdatangan mengikuti-Nya (Mat 14:14). Yesus sangat terharu melihat mereka semua dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Maka Dia menyembuhkan banyak orang dan membuat mukjizat penggandaan lima roti dan dua ekor ikan guna memberi makan banyak orang (Mat 14:19-21).

Dalam suratnya yang pertama, Petrus menulis tentang Yesus yang dilihatnya sebagai sang hamba YHWH yang menderita seperti digambarkan dalam kitab Yesaya: “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu” (1Ptr 2:22-25; bdk. Yes 53:5-9). Berbagai sumber daya yang kita miliki namun tidak memadai akan dilipatgandakan untuk membaharui muka bumi.

Apabila kita (anda dan saya) menderita luka jasmani ataupun luka batin dan patah semangat, kita tidak hanya butuh disembuhkan, melainkan juga menyembuhkan orang lain. Apabila kita menderita kelaparan di daerah yang tandus, bukan saja kita butuh diberi makan melainkan juga memberi makan. Dalam luka-luka dan kelemahan kita, kuasa penyembuhan ilahi dan kuasa untuk melipatgandakan akan muncul dengan sempurna (2Kor 12:9). Inilah hakekat dari seorang “penyembuh yang terluka” (Inggris: wounded healer).

Jikalau kita (anda dan saya) memanggul salib setiap hari, maka kita tidak hanya menderita karena kelemahan kita melainkan juga kita memerintah dalam kuasa-Nya (2Kor 13:4). Oleh karena itu marilah kita memberikan apa yang kita miliki: roti dan ikan kita (talenta, uang dll.), luka-luka dan kelemahan kita kepada Tuhan. Dia akan melipatgandakan itu semua dan menyediakan bantuan untuk yang mereka menderita, yang terluka serta patah hati, dan juga semangat dari umat kita.

DOA: Bapa surgawi, izinkanlah aku menanggapi kesengsaraanku ini dengan cara keluar menolong orang yang menderita juga.Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN” (bacaan tanggal 7-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Agustus 2017 [Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SATU-SATUNYA CERITA MUKJIZAT YANG TERCATAT DALAM KEEMPAT KITAB INJIL

SATU-SATUNYA CERITA MUKJIZAT YANG TERCATAT DALAM KEEMPAT KITAB INJIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 28 April 2017)  

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Bab 6 dalam Injil Yohanes memusatkan perhatiannya pada kebenaran sentral bahwa Yesus adalah “Roti Kehidupan”. Penggandaan roti dan ikan (satu-satunya cerita mukjizat yang tercatat dalam keempat kitab Injil) menolong para pembaca untuk memahami selebihnya dari Bab 6 ini.

Hari Raya Paskah sudah dekat (Yoh 6:4), dengan demikian di sini kita diingatkan akan pekerjaan besar Allah di masa lalu dan roti tak beragi yang dimakan oleh orang Yahudi pada hari raya sangat istimewa ini. Yesus sedang akan menyatakan sesuatu tentang karya-karya baru Allah dan roti Paskah baru yang diberikan-Nya kepada kita. Orang banyak mengikuti Yesus ke sebuah tempat yang terisolasi, ke atas gunung yang hijau menyegarkan. Sebuah tempat kehidupan, bukan tempat kematian, karena ada banyak rumput di mana orang-orang itu dapat duduk (lihat Yoh 6:10). Dalam suatu situasi yang serupa dengan situasi yang dialami Musa di padang gurun, timbullah keprihatinan bagaimana memberi makan kepada begitu banyak orang. Allah memberi makan manna kepada bani Israel yang mengembara di padang gurun; Yesus menggandakan roti dan ikan.

Hal ini memimpin kita kepada isu sentralnya – penggandaan. Seluruh kisah ini disajikan dalam suatu kerangka liturgis atau kerangka rituale. Sebagaimana dilakukan oleh para imam tertahbis dalam perayaan Ekaristi berabad-abad lamanya, Yesus “mengambil” roti, “mengucap syukur” (Yunani: eucharistesas), dan “membagi-bagikannya” kepada mereka yang duduk di situ (lihat Yoh 6:11). Penggandaan roti dilakukan dalam konteks doa syukur kepada Allah untuk segala anugerah, namun teristimewa untuk karunia kehidupan (yang dilambangkan oleh roti) yang datang hanya dari Dia.

Tanggapan orang banyak memiliki signifikansi di sini: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 6:14), suatu alusi pada nabi yang akan dibangkitkan oleh Allah dari antara umat (Ul 18,15,18). Sebagaimana Musa – melalui karya Allah) telah memberikan bani Israel dengan manna  di padang gurun, demikian pula Yesus (sang nabi) memberikan anugerah kehidupan yang bahkan lebih besar.

Anugerah yang lebih besar ini adalah Yesus sendiri. Alusi-alusi ke masa lampau ditambah dengan mukjizat hari ini membuat praandaian tentang sesuatu lebih besar yang akan datang: Yesus sebagai “roti kehidupan”.  “Inilah roti yang turun dari surga: Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati. Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh 6:50-51). Penggandaan ini menunjuk kepada kehidupan kekal. Setelah selesai makan, sisa-sisa makanan yang terkumpul berjumlah dua belas bakul, jauh lebih besar daripada jumlah “modal” pertama sejumlah lima roti jelai dan dua ekor ikan (Yoh 6:13). Yesus memberikan kepada kita hidup-Nya secara berlimpah.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena Engkau memberikan kepada kami anugerah Yesus – roti kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN” (bacaan tanggal 28-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 26 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS