Posts tagged ‘MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN’

PENYEMBUH YANG TERLUKA

PENYEMBUH YANG TERLUKA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Senin, 7 Agustus 2017)

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam Martir

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama:  Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17 

Yesus baru saja menerima berita yang terburuk yang pernah didengar-Nya Mat 14:13). Yohanes Pembaptis, saudara dan sahabat-Nya, baru saja dipancung kepalanya atas perintah Herodes Antipas. Yohanes membaptis Yesus di sungai Yordan (Mat 3:13 dsj.). Yesus memandang Yohanes Pembaptis sebagai orang yang terbesar yang pernah lahir di dunia (Mat 11:11). Sekarang Yohanes Pembaptis telah mati, dibunuh dan menjadi martir.

Tentu saja Yesus sendiri terkejut dan terluka hati-Nya. Lalu Dia menyingkir ke tempat yang sunyi untuk menyendiri (Mat 14:13). Namun gerombolan orang banyak berdatangan mengikuti-Nya (Mat 14:14). Yesus sangat terharu melihat mereka semua dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Maka Dia menyembuhkan banyak orang dan membuat mukjizat penggandaan lima roti dan dua ekor ikan guna memberi makan banyak orang (Mat 14:19-21).

Dalam suratnya yang pertama, Petrus menulis tentang Yesus yang dilihatnya sebagai sang hamba YHWH yang menderita seperti digambarkan dalam kitab Yesaya: “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu” (1Ptr 2:22-25; bdk. Yes 53:5-9). Berbagai sumber daya yang kita miliki namun tidak memadai akan dilipatgandakan untuk membaharui muka bumi.

Apabila kita (anda dan saya) menderita luka jasmani ataupun luka batin dan patah semangat, kita tidak hanya butuh disembuhkan, melainkan juga menyembuhkan orang lain. Apabila kita menderita kelaparan di daerah yang tandus, bukan saja kita butuh diberi makan melainkan juga memberi makan. Dalam luka-luka dan kelemahan kita, kuasa penyembuhan ilahi dan kuasa untuk melipatgandakan akan muncul dengan sempurna (2Kor 12:9). Inilah hakekat dari seorang “penyembuh yang terluka” (Inggris: wounded healer).

Jikalau kita (anda dan saya) memanggul salib setiap hari, maka kita tidak hanya menderita karena kelemahan kita melainkan juga kita memerintah dalam kuasa-Nya (2Kor 13:4). Oleh karena itu marilah kita memberikan apa yang kita miliki: roti dan ikan kita (talenta, uang dll.), luka-luka dan kelemahan kita kepada Tuhan. Dia akan melipatgandakan itu semua dan menyediakan bantuan untuk yang mereka menderita, yang terluka serta patah hati, dan juga semangat dari umat kita.

DOA: Bapa surgawi, izinkanlah aku menanggapi kesengsaraanku ini dengan cara keluar menolong orang yang menderita juga.Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN” (bacaan tanggal 7-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Agustus 2017 [Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

SATU-SATUNYA CERITA MUKJIZAT YANG TERCATAT DALAM KEEMPAT KITAB INJIL

SATU-SATUNYA CERITA MUKJIZAT YANG TERCATAT DALAM KEEMPAT KITAB INJIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 28 April 2017)  

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Bab 6 dalam Injil Yohanes memusatkan perhatiannya pada kebenaran sentral bahwa Yesus adalah “Roti Kehidupan”. Penggandaan roti dan ikan (satu-satunya cerita mukjizat yang tercatat dalam keempat kitab Injil) menolong para pembaca untuk memahami selebihnya dari Bab 6 ini.

Hari Raya Paskah sudah dekat (Yoh 6:4), dengan demikian di sini kita diingatkan akan pekerjaan besar Allah di masa lalu dan roti tak beragi yang dimakan oleh orang Yahudi pada hari raya sangat istimewa ini. Yesus sedang akan menyatakan sesuatu tentang karya-karya baru Allah dan roti Paskah baru yang diberikan-Nya kepada kita. Orang banyak mengikuti Yesus ke sebuah tempat yang terisolasi, ke atas gunung yang hijau menyegarkan. Sebuah tempat kehidupan, bukan tempat kematian, karena ada banyak rumput di mana orang-orang itu dapat duduk (lihat Yoh 6:10). Dalam suatu situasi yang serupa dengan situasi yang dialami Musa di padang gurun, timbullah keprihatinan bagaimana memberi makan kepada begitu banyak orang. Allah memberi makan manna kepada bani Israel yang mengembara di padang gurun; Yesus menggandakan roti dan ikan.

Hal ini memimpin kita kepada isu sentralnya – penggandaan. Seluruh kisah ini disajikan dalam suatu kerangka liturgis atau kerangka rituale. Sebagaimana dilakukan oleh para imam tertahbis dalam perayaan Ekaristi berabad-abad lamanya, Yesus “mengambil” roti, “mengucap syukur” (Yunani: eucharistesas), dan “membagi-bagikannya” kepada mereka yang duduk di situ (lihat Yoh 6:11). Penggandaan roti dilakukan dalam konteks doa syukur kepada Allah untuk segala anugerah, namun teristimewa untuk karunia kehidupan (yang dilambangkan oleh roti) yang datang hanya dari Dia.

Tanggapan orang banyak memiliki signifikansi di sini: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 6:14), suatu alusi pada nabi yang akan dibangkitkan oleh Allah dari antara umat (Ul 18,15,18). Sebagaimana Musa – melalui karya Allah) telah memberikan bani Israel dengan manna  di padang gurun, demikian pula Yesus (sang nabi) memberikan anugerah kehidupan yang bahkan lebih besar.

Anugerah yang lebih besar ini adalah Yesus sendiri. Alusi-alusi ke masa lampau ditambah dengan mukjizat hari ini membuat praandaian tentang sesuatu lebih besar yang akan datang: Yesus sebagai “roti kehidupan”.  “Inilah roti yang turun dari surga: Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati. Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh 6:50-51). Penggandaan ini menunjuk kepada kehidupan kekal. Setelah selesai makan, sisa-sisa makanan yang terkumpul berjumlah dua belas bakul, jauh lebih besar daripada jumlah “modal” pertama sejumlah lima roti jelai dan dua ekor ikan (Yoh 6:13). Yesus memberikan kepada kita hidup-Nya secara berlimpah.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena Engkau memberikan kepada kami anugerah Yesus – roti kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN” (bacaan tanggal 28-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 26 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SISA ROTI SEBANYAK TUJUH BAKUL

SISA ROTI SEBANYAK TUJUH BAKUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Sabtu, 11 Februari 2017)

HARI ORANG SAKIT SEDUNIA, Peringatan SP Maria dari Lourdes 

Feeding_the_5000006Pada waktu itu ada lagi orang banyak jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.  (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:2-6,12-13 

Gurun Sahara, Kalahari, Gobi. Kebanyakan dari kita barangkali tidak pernah mengalami hidup di padang gurun atau gurun pasir – bagaikan hutan belantara namun gundul dengan sedikit saja tetumbuhan/hewan yang dapat menopang kehidupan manusia. Namun demikian, kita semua tentunya pernah melalui “pengalaman padang gurun” dalam kehidupan kita, yaitu masa-masa di mana kita merasakan kekeringan secara fisik, emosional, dan/atau spiritual. Berbagai pergumulan, ketegangan dan konflik keluarga, kebutuhan-kebutuhan keuangan yang tidak terpenuhi, depresi, atau kebingungan terkait tujuan-tujuan Allah dalam hidup kita dapat menyebabkan timbulnya masa-masa di mana kita hampir mengalami keputus-asaan.

Pengalaman padang  gurun membangkitkan dalam diri kita rasa haus dan lapar akan sesuatu yang baru – suatu hasrat untuk mengikut Allah dengan lebih setia dan tulus, dan suatu ketetapan hati untuk mengenal dan melaksanakan rencana-Nya dalam hidup kita tanpa reserve. Kita dapat melihat tangan-tangan Allah dalam hal ini, walaupun kita baru menyadarinya setelah berjalannya waktu. Dengan melihat ke belakang – khususnya pada saat-saat itu – kita seringkali menjadi sadar bahwa di tengah-tengah kesulitan-kesulitan hidup itu, justru terlihat tangan-tangan Allah yang penuh berkat itu bekerja.

Padang gurun adalah tempat terpencil yang jauh dari kerumunan manusia dengan segala hiruk pikuknya. Di tempat yang terpencil seperti itulah Yesus membuat mukjizat penggandaan roti dan ikan, sehingga mampu membuat kenyang sekitar 4.000 orang, bahkan menyisakan roti sebanyak 7 bakul (Mrk 8:8). Sebagaimana Dia memperhatikan orang banyak yang mengikuti-Nya di tempat terpencil seperti padang gurun itu, Yesus juga bekerja secara istimewa pada saat-saat padang gurun dalam kehidupan kita. Ada peristiwa-peristiwa di mana Dia akan memimpin kita ke padang gurun yang terpencil, ke tempat yang tidak familiar bagi kita dan tidak menyenangkan, agar dengan demikian kita dapat mengalami suatu perjumpaan yang lebih intim/akrab dengan diri-Nya. Kenikmatan-kenikmatan duniawi lalu menjadi kurang menarik atau kurang memuaskan, dan Yesus memberikan kepada kita suatu rasa haus dan lapar yang lebih mendalam akan diri-Nya. Yesus dapat memampukan kita untuk melihat sampai berapa jauh dosa kita telah mempengaruhi (secara buruk) relasi kita dengan diri-Nya. Yesus dapat juga memberikan kepada kita suatu rasa terkait kerinduan-Nya agar kita kembali kepada-Nya dengan hati yang dipenuhi kesedihan dan penyesalan yang mendalam.

Di tempat terpencil, Yesus mempergandakan tujuh roti dan beberapa ekor ikan kecil yang kemudian mampu mengenyangkan rasa lapar 4.000 orang. Betapa indahnya dan bahagianya hati bilamana kita mengetahui bahwa Yesus dapat dan akan melakukan sesuatu yang serupa bagi kita yang hidup pada abad ke-21 ini. Yesus – kepenuhan janji-janji Bapa surgawi kepada umat-Nya – tidak pernah gagal memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang paling mendalam. Seringkali kita tidak menyadari betapa kita membutuhkan pertolongan-Nya sampai pada saat kita berada di suatu padang gurun dalam kehidupan kita. Saat seperti itu membuat kita merasa sungguh hina-dina di hadapan-Nya. Di sisi lain, buah-buah dari perjumpaan dengan-Nya sungguh indah dan memberikan hidup. Hanya Allah-lah yang dapat membuat mukjizat-mukjizat sedemikian.

DOA: Bapa surgawi, aku seringkali terlalu mengandalkan kemampuan diriku sendiri dalam mencoba memecahkan masalah-masalah yang kuhadapi dalam hidupku dan tidak menyadari bagaimana aku membutuhkan Engkau. Ampunilah segala kemandirianku yang keliru dan terimalah kepasrahan diriku untuk menggantungkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:1-10), bacalah tulisan dengan judul “HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA” (bacaan untuk tanggal 11-2-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  8 Februari 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG

SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja – Senin, 1 Agustus 2016)

YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANG LAKI-LAKI - 600Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama: Yer 28:1-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29,43,79-80,95,102 

Pada awal pelayanan-Nya di depan publik, Yesus mengatakan kepada Simon Petrus dan Andreas, “Mari, ikutlah Aku” (Mat 4:19). Ketika Dia berjumpa dengan Yakobus, Yohanes dan Lewi (Matius), Yesus mengundang dengan kata-kata yang sama, dan mereka semua mengikuti-Nya juga. Pada hari ini, pada saat kita mendengar Misa Kudus, Yesus juga mengundang kita untuk datang dan mengikut Dia.

Panggilan untuk mengikut Yesus seringkali membangkitkan gambaran bahwa kita harus menyerahkan kehidupan kita dan sampai titik tertentu, dan hal ini memang benar. Namun apabila kita hanya berpikir mengenai apa-apa yang dilepaskan, maka kita akan salah sasaran, artinya kita luput melihat gambaran yang lebih besar. Manakala Yesus berkata, “Mari, ikutlah Aku”, maka fokus-Nya adalah terlebih-lebih pada apa yang akan kita terima, bukannya apa yang akan menjadi “biaya” kita. Di mana kita membaca adanya suatu tantangan, bahkan suatu ancaman, maka Yesus sesungguhnya mengundang kita dengan undangan-Nya yang penuh keramahan.

Nah, kita mungkin saja bertanya: Seandainya kita memenuhi panggilan Yesus itu, apakah yang akan kita terima? Apa saja privilese atau “hak-hak istimewa” yang akan diberikan kepada kita? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang kurang tepat sasaran! Apa lagi yang dapat lebih memuaskan dan memberikan kepenuhan daripada relasi intim dengan Yesus? Setelah membersihkan dosa-dosa kita, Dia sekarang memberikan kepada kita roti kehidupan-Nya untuk kita makan – sepotong roti yang dapat membuat kenyang setiap rasa lapar yang pernah kita kenal dan alami.

Feeding_the_5000006Ketika Yesus memberkati roti-roti dan ikan-ikan dan memberikannya kepada para murid-Nya yang kemudian membagi-bagikannya kepada setiap orang, maka Dia lah yang sebenarnya mengambil inisiatif dan menyebarkan-luaskan undangan. Hal ini pulalah yang kemudian terjadi di Emaus, di mana Yesuslah – yang pada awalnya diundang untuk menginap – pada akhirnya berperan sebagai pihak yang mengundang  (lihat Luk 24:30-31). Orang-orang yang makan dapat merasakan apa artinya menerima undangan Yesus karena mereka merasa dipuaskan sampai benar-benar kenyang – bahkan roti dan ikan yang tersisa pun ada sebanyak dua belas bakul penuh.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, kepuasan yang dirasakan oleh orang banyak pada peristiwa dalam Injil hari ini hanyalah merupakan semacam pra-gambaran dari kepuasan yang tersedia bagi kita dalam Misa Kudus (Perayaan Ekaristi). Orang-orang Yahudi dalam Injil hari ini diundang untuk makan roti duniawi, akan tetapi kita diundang untuk makan roti kehidupan kekal.

Oleh karena itu, pada hari ini dan seterusnya dalam perayaan Ekaristi Kudus, terimalah undangan Yesus Kristus. Datanglah mendekati-Nya sebagai apa adanya kita. Datanglah dengan bebas-merdeka. Datanglah dengan rasa lapar yang sungguh lapar. Datanglah dengan harapan. Datanglah, saksikanlah dan alamilah Yesus yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita yang terdalam. Datanglah dan nikmatilah. Semua ini adalah anugerah, karunia, pemberian dari Allah kepada kita yang serba gratis. Kapan lagi?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Roti Kehidupan. Engkau adalah makanan sejati untuk rohku. Tolonglah aku mengosongkan diriku sehingga aku dapat dipenuhi dengan diri-Mu. Tuhan Yesus, aku sungguh ingin menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 1-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Juli 2016 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MEMBERITAKAN KEMATIAN YESUS SAMPAI IA DATANG

KITA MEMBERITAKAN KEMATIAN YESUS SAMPAI IA DATANG

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 29 Mei 2016)

197920jesus20basketsgg6Ia menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. Pada waktu hari mulai malam datanglah kedua belas murid-Nya kepada-Nya dan berkata, “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang terpencil. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Kamu harus memberi mereka makan!” Mereka menjawab, “Yang ada pada kami tidak lebih daripada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.” Sebab di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok.” Murid-murid melakukannya dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. Setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya disajikan kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkan potongan-potongan roti yang lebih sebanyak dua belas bakul. (Luk 9:11b-17) 

Bacaan Pertama: Kej 14:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4; Bacaan Kedua: 1 Kor 11:23-26

Kematian Yesus pada kayu salib merupakan suatu tindakan paling signifikan yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Walaupun Yesus wafat ketika masih muda usia, Dia telah melakukan segalanya yang harus dikerjakan-Nya. Pada kenyataannya, seluruh makna hidup-Nya mencapai klimaksnya pada zaat akhir hidup-Nya. Pada dasarnya Yesus datang ke tengah dunia sebagai seorang Juruselamat, untuk menghancurkan maut dan dosa lewat kematian-Nya sendiri di kayu salib. Karena kebangkitan-Nya dari antara orang mati kita mengetahui bahwa kematian-Nya bukanlah suatu kekalahan yang disebabkan ulah para musuh-Nya, melainkan sebuah kemenangan yang mulia dan membahagiakan.

Lagipula, kematian Yesus tidak datang tanpa desain dari pihak-Nya sendiri. Kematian-Nya adalah sesuatu yang diterima oleh-Nya dengan kebebasan penuh. Orang-orang biasa, seberapa dalam pun kebencian mereka terhadap diri Yesus atau seberapa kuatnya pun sumber daya dan kekuasaan yang mereka miliki, semuanya tidak akan mampu menyeret-Nya kepada kematian. Dalam beberapa peristiwa para lawan-Nya malah telah mencoba untuk membunuh Yesus, namun karena waktu Allah belum tiba, maka para lawan-Nya pun kehilangan kekuatan mereka (Luk 4:29; Yoh 5:18; Mrk 14:1 dll.).

770295ee - EKARISTIPada hari Kamis Putih, malam sebelum kematian-Nya, Yesus mengetahui dengan pasti bahwa Dia akan mati dalam waktu yang dekat. Ia telah menanti-nantikan dan menyiapkan segala sesuatu dengan baik untuk saat itu. Selama melakukan pelayanan publik, Yesus telah memberikan tanda-tanda berkaitan dengan apa yang akan dilakukan-Nya. Dalam bacaan Injil hari ini, pemberian makanan berupa roti dan ikan yang telah digandakan kepada paling sedikit 5.000 orang merupakan salah satu dari tanda-tanda itu. Pada Perjamuan Terakhir, dengan memikirkan para pengikut-Nya yang akan mendatang, Ia mengambil roti dan cawan berisi anggur dan mengucapkan kata-kata yang mengingatkan kita kepada kata-kata kreatif Allah sendiri pada awal waktu: “Inilah tubuh-Ku … Inilah darah-Ku” Kemudian Ia mengucapkan kata-kata yang kaya dengan makna bagi kita: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19).

Yesus telah memberikan kepada para rasul dan kepada semua pengikut-Nya di segala abad, tubuh dan darah-Nya sendiri, sebagai kenangan akan kematian-Nya yang penuh kemenangan. Dalam bacaan kedua hari ini, kita membaca catatan tentang Perjamuan Terakhir yang paling kuno, lebih tua daripada yang terdapat dalam kitab-kitab Injil sinoptik. Setelah memberikan catatan tentang institusi Ekaristi, Santo Paulus menambahkan kata-kata berikut ini: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26). Dalam kenangan akan kematian Yesus dalam Misa Kudus, kita memproklamasikannya, kita menyerukannya, karena kematian-Nya adalah kabar baik dari penyelamatan kita. Ekaristi adalah sarana kita merayakan kematian-Nya dengan penuh sukacita dan rasa bahagia. Kematian Yesus adalah suatu awal, suatu permulaan, bukan suatu akhir. Kehidupan dunia diganti ke dalam hidup mulia melalui kebangkitan-Nya.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada zaman dahulu pernah dirayakan pada hari Kamis, karena Perjamuan Akhir terjadi pada hari Kamis malam. Namun, karena Ekaristi begitu penting bagi kita, maka perayaan ini telah diubah menjadi pada hari Minggu agar lebih banyak orang yang dapat ikut ambil bagian. Setiap Misa Kudus adalah perayaan kematian Yesus Kristus, namun pada hari raya “Corpus Christi” ini secara istimewa kita ingin memproklamasikan, menyerukan dengan penuh sukacita, kematian Yesus – Tuhan dan Juruselamat kita – selagi kita menantikan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan.

DOA: Bapa surgawi. Kami percaya bahwa Ekaristi adalah cerita bagaimana Sabda Bapa yang kekal diungkapkan dalam kehidupan Yesus dalam daging, terus hadir dan operatif dalam kehidupan kami melalui roti dan anggur yang telah dikonsekrasikan. Jagalah kepercayaan kami ini agar tidak pernah goyah, ya Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:11b-17), bacalah tulisan yang berjudul “KEBAIKAN YESUS DALAM MEMBERI MAKAN KEPADA KITA MELALUI EKARISTI” dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-05 BACAAN HARIAN MEI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Mei 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROTI DAN IKAN KITA

ROTI DAN IKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 8 April 2016) 

MUKJIZAT - YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANG - 2Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Mukjizat penggandaan roti dan ikan oleh Yesus tentunya merupakan peristiwa yang impresif bagi orang banyak yang hadir. Besarlah janji Yesus yang diperkenalkan oleh peristiwa itu. Namun hari ini baiklah kita pada hari ini menggumuli sebuah elemen yang lain dari peristiwa tersebut. Pernahkah kita berpikir tentang keterlibatan seorang anak yang membawa lima roti jelai dan dua ikan? Perhatikanlah dia. Anak itu telah membawa makanan siangnya dalam bungkusan. Ia telah membawa-bawa bungkusan tersebut ke sana ke mari sepanjang hari. Roti jelai yang dimaksud barangkali sudah tidak kelihatan segar dan ikan-ikannya pun kemungkinan sudah mulai berbau. Makanan siangnya kiranya sudah acak-acakan dan tidak menarik pada waktu itu.

Akan tetapi Yesus menerima makanan siang anak tersebut. Yesus mengambil roti dan ikan dari anak itu dan berterima kasih kepadanya. Sebagaimana terjadi dengan anak itu, kita (anda dan saya) suka membawa hidup kita yang sedang acak-acakan ke sana ke mari – sedikit iman dan pengharapan, sedikit upaya, tidak mengesankan. Acak-acakan dalam diri kita sudah mulai “berbau” tidak baik, namun Yesus tetap menerima kita; jika kita mempersembahkan kepada-Nya apa yang kita miliki dan melihat apa yang Ia dapat lakukan dengan diri kita.

5 ROTI DAN 2 IKANSekarang, perhatikanlah apa yang dilakukan oleh Yesus: Ia mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu … dan orang-orang makan sampai kenyang. Setelah sisa makanan dikumpulkan ternyata masih ada sisa sebanyak 12 bakul (Yoh 6:11-13). Bayangkanlah kebahagiaan yang timbul dalam diri anak itu setelah menyaksikan peristiwa mukjizat penggandaan roti dan ikan oleh Yesus.  Tentu saja anak itu harus menaruh kepercayaannya pada Yesus. Ia harus percaya kepada kebaikan dan kuat-kuasa Yesus. Imannya tetap dibutuhkan.

Yesus yang sama mampu dan ingin untuk menggunakan apa yang kita persembahkan kepada-Nya. Kadang-kadang memang Ia harus menggoncang diri kita dulu sebelum membuat diri kita menjadi orang Kristiani yang ingin mengikuti jejak-Nya dengan tulus hati. Namun apabila kita memperkenankan Yesus untuk melakukan hal seperti itu terhadap diri kita, jika kita menaruh kepercayaan kepada-Nya untuk membawa kita dan apa yang kita miliki, maka selalu akan ada sisa-sisa yang berlimpah: 12 bakul dari sedikit sekali apa yang kita punya.

Kita harus akui, bahwa apa dan siapa pun kita, sesungguhnya kita tidak mempunyai apa pun yang cukup berarti untuk dipersembahkan kepada Allah. Seringkali kita mempunyai sedikit saja untuk dipersembahkan selain kesombongan bodoh kita, kesalahan-kesalahan tolol kita, rasa takut kita dan berbagai masalah kita, namun lagi-lagi Yesus mau menerima semua itu. Jika Yesus mengambil dosa-dosa kita dan menanggung semuanya itu sendiri, maka pasti Dia akan mengambil dan menerima apa saja yang kita percayakan ke dalam tangan-tangan kasih-Nya.

Tentu saja kita harus mempersembahkan kepada-Nya lebih daripada sekadar hal-hal buruk yang kita punya. Bagaimana dengan hal-hal yang baik? Talenta-talenta kita, sukacita kita, orang-orang yang kita kasihi, pekerjaan kita, waktu kita. Bacaan Injil hari ini akan menceritakan kepada kita apa yang dapat menjadi ekspektasi kita – lebih daripada yang pernah kita mimpikan sebelumnya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau tidak pernah bersikap dan bertindak murahan dengan kami. Engkau membayar kembali seratus kali lipat hal kecil yang kami persembahkan kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “SATU-SATUNYA CERITA MUKJIZAT YANG TERCATAT DALAM KEEMPAT KITAB INJIL” (bacaan tanggal 8-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 April 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN-NYA KAMI RINDUKAN!

KEDATANGAN-NYA KAMI RINDUKAN!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Rabu, 2 Desember 2015)

Feeding_the_5000006Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai Danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang buta, orang timpang, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Orang banyak itu pun takjub melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” Kata murid-murid-Nya kepada-Nya, “Bagaimana di tempat terpencil ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul penuh. (Mat 15:29-37) 

Bacaan Pertama: Yes 25:6-10; Mazmur Tanggapan: 23:1-6

Di dekat Danau Galilea, Yesus naik ke atas sebuah bukit dan di sana Dia menyembuhkan semua orang sakit yang datang kepada-Nya. Orang lumpuh dapat berjalan kembali, orang bisu dapat berbicara, orang buta dapat melihat, dan menderita luka-luka dibuat-Nya menjadi utuh kembali. Dan, dengan bela-rasa yang besar, Yesus melihat rasa lapar yang diderita orang banyak dan melalui sebuah mukjizat, Ia memuaskan rasa lapar mereka dengan roti dan ikan yang dipergandakan (Mat 15:32-37).

Mukjizat lepas mukjizat, perumpamaan yang satu disusul dengan perumpamaan yang lain, pengajaran demi pengajaran, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Dia datang ke tengah dunia untuk mengampuni dosa-dosa kita dan untuk menyembuhkan segala kerusakan dosa dalam hati kita, pikiran kita, dan tubuh kita. Dia datang untuk menyembuhkan luka-luka kita dan memuaskan segala luka-luka kita dan untuk memenuhi rasa harus dan lapar kita akan kasih-Nya yang tanpa syarat. Ia menyembuhkan kita  tidak sekadar agar kita dapat melanjutkan kehidupan kita, melainkan agar kita akan mengasihi-Nya secara penuh dan mendedikasikan diri kita dalam upaya membangun Kerajaan-Nya di atas muka bumi ini.

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETYesus memiliki hasrat dan kuat-kuasa untuk menyembuhkan semua penderitaan kita. Dia ingin untuk menarik kita ke dalam suatu relasi dengan diri-Nya yang lebih mendalam dan lebih akrab. Ia ingin agar kita mengalami kasih-Nya dan pengampunan-Nya, sehingga dengan demikian pada giliran-Nya Dia akan memanifestasikan kasih-Nya dan kuat-kuasa-Nya terhadap sebuah dunia yang terluka dan penuh kegelapan ini. Selagi kita mencurahkan isi hati kita kepada-Nya, menyesali serta bertobat atas dosa-dosa kita, dan memperkenankan belas kasih-Nya memerdekakan kita, maka kita pun akan diubah menjadi semakin serupa dengan gambar dan rupa-Nya. Kita akan menjadi semakin yakin akan kasih-Nya bagi kita, kita akan beristirahat dalam kehadiran-Nya dan menaruh kepercayaan kepada-Nya. Bagaimana para sahabat kita, orang-orang lain yang dekat kepada kita tidak akan merasa tersentuh oleh kesaksian orang-orang yang dipenuhi dengan kehadirian Allah dalam diri mereka?

Kedatangan Yesus pada hari Natal hanyalah awal dari pemenuhan janji-Nya untuk menebus dan menyembuhkan kita-manusia. Pemenuhan janji yang total-lengkap akan terjadi kelak, yaitu pada saat kedatangan-Nya kembali untuk kedua kalinya (parousia), pada saat mana kita akan berjumpa dengan Yesus secara “muka ketemu muka” (Inggris: face to face) (1Kor 13:12). Pada hari itu, segala air mata kita akan dihapus-Nya (Why 21:4), dan “dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan (Kyrios)’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:10-11).

Selama pekan I Adven ini, marilah kita mencari Yesus, sang Dokter Agung bagi jiwa dan tubuh kita. Marilah kita juga merindukan kedatangan-Nya untuk kedua kali pada akhir zaman, pada saat mana kita akan menyaksikan sendiri kemuliaan-Nya dan kita pun mengalami penyembuhan secara total, menerima tubuh-tubuh yang dibangkitkan secara baru, dan hidup bersama dengan-Nya untuk selama-lamanya.

DOA: Tuhan Yesus, bela-rasa-Mu dan hasrat-Mu untuk menyembuhkan kami sama pada hari ini seperti 2.000 tahun lalu. Engkau sangat mengetahui, ya Yesus, betapa orang-orang di seluruh dunia memendam rasa rindu akan kehadiran-Mu yang menyembuhkan, yang membuat kenyang rasa lapar dan haus. Nyatakanlah kasih-Mu dan belas-kasih-Mu kepada seluruh dunia. Terima kasih, ya Yesus. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:29-37), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT EKARISTI KUDUS” (bacaan tanggal 2-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 November 2015 [Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS