Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

BENAR TUHAN, NAMUN ANJING ITU MAKAN REMAH-REMAH YANG JATUH DARI MEJA TUANNYA

BENAR TUHAN, NAMUN ANJING ITU MAKAN REMAH-REMAH YANG JATUH DARI MEJA TUANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XX [TAHUN A], 20 Agustus 2017)

 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Yes 56:1,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,6,8; Bacaan Kedua: Rm 11:13-15,29-32 

Apa yang dilakukan oleh Yesus? Pada awalnya, Dia kelihatan tidak berminat untuk menolong perempuan Kanaan yang telah berseru kepada-Nya itu. Yesus di sini kelihatan tidaklah menentang atau mendobrak keberadaan rintangan-budaya antara diri-Nya dengan perempuan non-Yahudi (baca: Kafir), dan hal ini bukanlah perilaku yang biasa ditunjukkan oleh-Nya. Perempuan Kanaan itu harus melanjutkan meminta-minta belas kasihan dari Yesus, sebelum akhirnya dia memperoleh perhatian Yesus. Mengapa Yesus memperlakukan perempuan itu tidak seperti biasanya Dia lakukan terhadap orang-orang lain?

Yesus senantiasa mendengar seruan hati kita! Ia tidak pernah membiarkan kita menderita melampaui tujuan Allah untuk menarik kita lebih dekat dengan diri-Nya. Sebenarnya “penundaan” tanggapan Yesus memberikan tantangan kepada perempuan Kanaan itu untuk memperdalam imannya melalui ketekunan. Ada satu pelajaran mendalam yang dapat ditarik dari peristiwa ini: Siapa pun diri kita dan di mana pun posisi kita dalam masyarakat, iman kita kepada Yesus dapat mengatasi segala rintangan dan membawa kita kepada hati-Nya.

Iman perempuan Kanaan itu bukanlah sekadar persetujuan secara intelektual terhadap konsep-konsep yang tidak jelas tentang Allah, lebih daripada itu! Walau pun perempuan itu belum sepenuhnya memahami siapa Yesus sebenarnya, biar bagaimana pun juga dia menaruh kepercayaan kepada-Nya dengan sepenuh hati. Dia mengetahui kebutuhan-kebutuhannya dan dia pun menyadari bahwa Yesuslah satu-satunya harapan bagi dirinya. Dia tidak malu untuk berseru minta tolong kepada Yesus, sampai  Yesus menolongnya. Seperti Santo Paulus, ia tidak merasa ragu sedikit pun untuk mempermaklumkan imannya kepada Yesus di depan publik atau untuk mengakui kebutuhannya (lihat Rm 1:16; 2Tim 1:12). Itulah sebabnya mengapa Yesus begitu senang. Digerakkan oleh iman perempuan itu, Yesus memberikan persetujuannya: “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). 

Yesus tidak malu memanggil kita sebagai saudari dan saudara-Nya – siapa pun kita ini, apakah kita orang miskin yang bermukim di bantaran sungai Ciliwung atau orang kaya yang tinggal di Pondok Indah, orang Jawa atau keturunan Cina, lulusan SMA Kanisius  di Menteng Raya atau sebuah SD Negeri di Bekasi, dlsb. Yesus telah datang untuk menolong kita dalam kelemahan kita dan Ia menantikan kita untuk menaruh rasa percaya dan pengharapan kita kepada-Nya. Sekarang, rintangan-rintangan atau keragu-raguan apa saja yang kita perkenankan tetap menghadang kita untuk berseru minta tolong kepada-Nya? Seperti perempuan Kanaan itu, marilah kita sekarang juga, tanpa malu-malu atau “ja-im”, berseru minta tolong kepada-Nya dan terus berseru kepada-Nya. Marilah kita (anda dan saya) mengundang Dia ke dalam kehidupan kita masing-masing guna menyembuhkan kita, membawa Injil ke dalam keluarga kita, dan mengubah seluruh dunia. Yesus itu mahasetia. Dia akan menjawab umat-Nya sesuai iman mereka masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, kami datang menghadap-Mu dalam kelemahan kami. Namun kami juga tahu bahwa kelemahan kami memberikan kepada-Mu kesempatan untuk berkarya dalam kehidupan kami. Tuhan, tolonglah kami agar kami dapat menjadi seperti perempuan Kanaan itu dan menunjukkan karya agung-Mu dalam kehidupan kami dan di tengah dunia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGASIHI KITA SEMUA” (bacaan tanggal 20-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 18 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMANLAH YANG DIPERLUKAN

IMANLAH YANG DIPERLUKAN     

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Sabtu, 12 Agustus 2017) 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Lalu kata Yesus, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka, “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:14-20) 

Bacaan Pertama: Ul 6:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4, 47,51

Ketika Petrus, Yakobus, dan Yohanes berada di atas gunung menyaksikan transfigurasi Yesus, ada hal-hal yang tidak beres atau tidak berjalan dengan semestinya yang dihadapi di bawah sana. Seorang laki-laki telah  membawa anaknya kepada para murid itu agar disembuhkan, dan para murid tersebut ternyata tidak mampu menyembuhkan anak laki-laki yang sakit ayan itu (Mat 17:16). Pada saat Yesus sudah kembali ke bawah dan mendengar apa yang telah terjadi, maka Dia menegur pada murid-Nya perihal ketidakpercayaan mereka. Kemudian Yesus mengusir roh jahat yang merasuki anak itu dan menyembuhkannya.

Ketika para murid bertanya kepada Yesus mengapa mereka tidak mampu mengusir roh jahat dari anak itu, kembali Yesus mengemukakan ketiadaan iman-kepercayaan mereka. Yang jelas dan pasti adalah bahwa hari itu bukanlah hari yang baik bagi para rasul!

Namun kemudian Yesus berjanji – sebuah janji yang akan mengangkat para murid dari self-pity mereka – dan Ia juga memberi mereka pengharapan: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sama, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu”  (Mat 17:20). Janji ini tidak hanya diperuntukkan bagi para murid Yesus yang pertama, melainkan bagi kita juga. Kadang-kadang perhatian dan susah hati kita dapat memperlemah iman kita. Pengharapan kita dapat menyusut dan membuat kita merasa tidak berdaya dalam menghadapi kesulitan. Situasi-situasi yang memberi tantangan semakin menekan kita dan kita merasa jauh dari Tuhan. Ini adalah waktu-waktu dimana kita harus berpegang teguh pada janji Yesus yang tak tergoyahkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki benih iman yang paling kecil sekalipun.

Bagaimana caranya kita memelihara bahkan sisa-sisa iman? Iman adalah karunia Allah, namun iman membutuhkan tanggapan kita. Dan barangkali tidak ada cara yang lebih efektif untuk membangun iman daripada datang menghadap hadirat-Nya dalam doa.

Walaupun kedengarannya mengecilkan hati – bahkan menakutkan – hal berdoa itu sesungguhnya cukup mudah. Yang harus kita lakukan adalah mencoba sebaik-baiknya untuk menghilangkan distraksi-distraksi (pelanturan-pelanturan) dan berkonsentrasi pada Yesus. Kita hanya perlu memusatkan pandangan kita pada kasih-Nya dan atas hasrat mendalam yang dimiliki-Nya untuk memberikan segalanya yang kita butuhkan untuk hidup dalam kekudusan. Yesus sangat ingin melihat bahwa kita mempunyai iman yang lebih, dan Ia bahkan sangat berhasrat untuk mencurahkan segala rahmat yang kita butuhkan agar bertumbuh dalam iman dan melihat bahwa iman itu bertumbuh dan bertumbuh – seperti pohon sesawi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah diriku agar dapat memusatkan pandanganku pada-Mu, bukan pada diriku sendiri. Berikanlah kepadaku suatu pemahaman yang segar tentang kasih-Mu bagiku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu sehingga dengan demikian aku akan berjalan dengan/oleh iman dan menjadi saksi-Mu bagi dunia yang sangat membutuhkan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEBESAR BIJI SESAWI” (bacaan tanggal 12-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Agustus 2017 [Pesta S. Laurensius, Diakon Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?

ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Rabu, 9 Agustus 2017)

 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Bil 13:1-2a,25-14:1,26-29,34-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7,13-14,21-23 

Pernahkah Saudari-Saudara memikirkan dan bertanya kepada diri sendiri apakah anda seorang Kristiani positif atau seorang Kristiani yang  negatif? Dua hal itu sangat berbeda satu sama lain. Apabila anda adalah seorang Kristiani yang positif, maka anda menjadikan dunia sebuah tempat yang lebih baik karena pengaruh baik dan positif atas diri orang-orang lain. Sebaliknya, jika anda adalah seorang Kristiani yang negatif, maka anda menjadikan dunia ini lebih buruk dan lebih rusak karena dosa daripada sebelum anda datang.

Ada banyak tes dengan mana kita dapat melihat apakah kita adalah orang yang positif/plus atau negatif/minus sebagai seorang Kristiani. Satu cara adalah lewat sikap yang kita ambil terhadap tindakan-tindakan orang lain. Misalnya, apakah sikap yang kita (anda dan saya) ambil terhadap Yesus dalam bacaan Injil hari ini? Apakah kita merasa  negatif terhadap apa yang dilakukan oleh Yesus? Apakah anda kaget dan merasa tidak enak tentang sikap dan kata-kata Yesus yang terasa kasar atau “dingin” terhadap perempuan Kanaan itu?

Atau, apakah kita merasa positif tentang Yesus di sini? Apakah kita bertanya, “Apakah yang Yesus ketahui, sedangkan aku tidak ketahui, sampai-sampai Dia men-tes perempuan kafir ini? Apakah Yesus mengetahui ada sebuah rumah harta iman dan kerendahan hati dalam diri perempuan Kanaan yang hebat ini, sehingga Yesus dapat menyatakan dengan cara terbaik tentang hal itu lewat men-tes perempuan itu? Dalam kenyataannya, itulah tentunya yang terjadi. Yesus men-tes perempuan itu, dan imannya, kerendahan hatinya, dan ketekunannya ternyata indah dan berkenan kepada-Nya.

Ini adalah semuanya kualitas doa dan kualitas hidup yang Yesus ajarkan tanpa bosan-bosan. Adakah cara lain yang lebih baik yang dapat diajarkan-Nya, kecuali dengan menggunakan sebuah contoh hidup kepada kita? Perempuan Kanaan yang beriman  adalah jawaban perempuan kepada orang laki-laki beriman, perwira Romawi. Perwira ini juga dipandang oleh Yesus sebagai contoh dari iman yang besar: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10).

Jadi, apakah sebenarnya yang diajarkan Yesus lewat contoh perempuan Kanaan ini? Ada beberapa hal: (1) Jangan menyerah jika doa kita tidak langsung dijawab. (2) Allah men-tes atau menguji, untuk mendapatkan yang terbaik dari diri kita. (3) Janganlah kita mengancam Allah atau membuat tuntutan-tuntutan dengan doa kita. Kita harus menaruh kepercayaan terhadap kasih-Nya bagi kita, seperti yang ditunjukkan oleh perempuan Kanaan ini. Kita harus menaruh kepercayaan bahwa Allah mengasihi diri kita masing-masing sepenuhnya seperti Dia mengasihi orang-orang yang terjawab doanya. Dapat saja Tuhan melihat bahwa kita membutuhkan pertumbuhan riil dalam iman dan keberanian, dalam hal kesabaran dan ketekunan. Percayalah Allah melihat bahwa kita kiranya membutuhkan keutamaan-keutamaan ini lebih daripada hal-hal lain yang kita mohonkan.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi diriku. Perkenankanlah aku mempersembahkan hidupku kepada-Mu dan aku percaya kepada-Mu untuk membuang segala hal yang menghalangi diriku untuk mengenal dan mengalami Engkau. Yesus, Engkau adalah pengharapanku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “PEREMPUAN KAFIR YANG MEMILIKI IMAN BESAR” (bacaan tanggal 9-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08  BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENYEMBUH YANG TERLUKA

PENYEMBUH YANG TERLUKA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Senin, 7 Agustus 2017)

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam Martir

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama:  Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17 

Yesus baru saja menerima berita yang terburuk yang pernah didengar-Nya Mat 14:13). Yohanes Pembaptis, saudara dan sahabat-Nya, baru saja dipancung kepalanya atas perintah Herodes Antipas. Yohanes membaptis Yesus di sungai Yordan (Mat 3:13 dsj.). Yesus memandang Yohanes Pembaptis sebagai orang yang terbesar yang pernah lahir di dunia (Mat 11:11). Sekarang Yohanes Pembaptis telah mati, dibunuh dan menjadi martir.

Tentu saja Yesus sendiri terkejut dan terluka hati-Nya. Lalu Dia menyingkir ke tempat yang sunyi untuk menyendiri (Mat 14:13). Namun gerombolan orang banyak berdatangan mengikuti-Nya (Mat 14:14). Yesus sangat terharu melihat mereka semua dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Maka Dia menyembuhkan banyak orang dan membuat mukjizat penggandaan lima roti dan dua ekor ikan guna memberi makan banyak orang (Mat 14:19-21).

Dalam suratnya yang pertama, Petrus menulis tentang Yesus yang dilihatnya sebagai sang hamba YHWH yang menderita seperti digambarkan dalam kitab Yesaya: “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu” (1Ptr 2:22-25; bdk. Yes 53:5-9). Berbagai sumber daya yang kita miliki namun tidak memadai akan dilipatgandakan untuk membaharui muka bumi.

Apabila kita (anda dan saya) menderita luka jasmani ataupun luka batin dan patah semangat, kita tidak hanya butuh disembuhkan, melainkan juga menyembuhkan orang lain. Apabila kita menderita kelaparan di daerah yang tandus, bukan saja kita butuh diberi makan melainkan juga memberi makan. Dalam luka-luka dan kelemahan kita, kuasa penyembuhan ilahi dan kuasa untuk melipatgandakan akan muncul dengan sempurna (2Kor 12:9). Inilah hakekat dari seorang “penyembuh yang terluka” (Inggris: wounded healer).

Jikalau kita (anda dan saya) memanggul salib setiap hari, maka kita tidak hanya menderita karena kelemahan kita melainkan juga kita memerintah dalam kuasa-Nya (2Kor 13:4). Oleh karena itu marilah kita memberikan apa yang kita miliki: roti dan ikan kita (talenta, uang dll.), luka-luka dan kelemahan kita kepada Tuhan. Dia akan melipatgandakan itu semua dan menyediakan bantuan untuk yang mereka menderita, yang terluka serta patah hati, dan juga semangat dari umat kita.

DOA: Bapa surgawi, izinkanlah aku menanggapi kesengsaraanku ini dengan cara keluar menolong orang yang menderita juga.Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN” (bacaan tanggal 7-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Agustus 2017 [Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 18 Januari 2017)

Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: Ibr 7:1-3,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

Inkarnasi Yesus (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14) menandakan berlalunya “hukum dosa dan maut” dan datangnya “Kerajaan Allah”. Yesus adalah “anggur yang baru”, hidup Allah yang telah dipersiapkan oleh Allah bagi umat-Nya. Namun demikian, walaupun Yesus telah mendatangkan berbagai kesembuhan, pengampunan, dan kasih yang ditawarkan kepada umat-Nya, para pemuka agama Yahudi tetap saja melawan-Nya dan senantiasa ingin menjebak-Nya.

Konflik Yesus dengan para pemuka agama Yahudi tersebut dimulai pada waktu Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah (lihat Mrk 2:1-12), kemudian semakin meningkat pada peristiwa disembuhkannya orang yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-16). Sampai saat itu, orang-orang Farisi selalu mengkritisi dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang Yesus bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi itu tetap bungkam, tetap pada kekerasan hati mereka melawan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan mereka membuat Yesus marah dan sedih. Dalam belas kasih-Nya, Yesus menyembuhkan tangan orang itu, lagi-lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (lihat Mrk 2:27-28).  Karena marah bahwa Yesus telah melanggar berbagai pembatasan yang mereka tetapkan dalam rangka hari Sabat, orang-orang Farisi itu segera membuat rencana untuk membunuh Yesus (lihat Mrk 3:6).

Pertanyaan kita sekarang: Mengapa ada orang yang mau membunuh Yesus, padahal Ia datang untuk melakukan berbagai macam kebaikan? Sikap kemandirian yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan menyebabkan kita melawan Dia, walaupun barangkali tanpa kita sadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusiawi kita yang cenderung berdosa selalu mencegah diri kita untuk melepaskan kendali atas hidup kita dan menyerahkan diri kita kepada Allah. Jikalau kita menolak kebaikan Allah, kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai peraturan-peraturan sebagai hal-hal yang lebih penting daripada kebutuhan-kebutuhan para saudari-saudara kita. Sikap kemandirian kita yang salah akan mencegah kita untuk sampai kepada pengakuan bahwa Yesus adalah Juruselamat kita dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Namun, apabila kita – seperti anak-anak – menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah, maka kita akan dapat menerima belas kasih dan hidup baru-Nya. Yesus akan mentranformasikan hati dan pikiran kita sehingga dengan demikian segala hasrat dan pemikiran-Nya menjadi hasrat dan pemikiran kita. Dia akan mengajar kita jalan-jalan-Nya dan memberdayakan kita agar taat kepada sabda-Nya. Apabila anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan belas kasih Allah, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, dengan demikian secara bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, transformasikanlah hati kami dari kantong kulit yang tua dan keras menjadi kantong kulit yang baru dan lembut, sehingga dengan demikian kami dapat menerima anggur hidup baru yang Engkau ingin berikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT” (bacaan tanggal 18-1-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Januari 2017 [Peringatan para Protomartir Ordo S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PUTERA SANG JANDA DARI NAIN

PUTERA SANG JANDA DARI NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup Pujangga Gereja – Selasa, 13 September 2016)

jesus-raises-widow-of-nains-son

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Kor 12:12-14,27-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Dua rombongan bertemu di dekat pintu gerbang kota Nain. Rombongan yang pertama adalah Yesus bersama orang banyak yang menyertai-Nya dengan berbondong-bondong menuju Nain. Rombongan yang kedua adalah orang-orang yang mengusung jenazah anak laki-laki tunggal ibunya yang sudah janda dan diiringi banyak orang dari kota. Rombongan pertama mengikuti “kehidupan” (lihat Yoh 14:6), sedangkan rombongan kedua mengikuti “kematian”. Ada dua pribadi yang menjadi pusat perhatian dalam cerita ini: Yesus dari Nazaret, sang rabi-keliling yang sedang naik-daun dan seorang janda yang baru kehilangan anak tunggalnya. Dalam cerita ini tidak terdengar seruan mohon pertolongan, tidak terdengar seruan agar Yesus membuat sebuah mukjizat, tidak ada permohonan agar terjadi tanda-tanda heran.

Cerita ini secara sederhana menggambarkan bahwa hati Yesus tergerak oleh bela rasa penuh belas kasih terhadap sang janda. Yesus merasakan betapa pedihnya penderitaan yang menimpa sang janda. Yesus ikut menderita bersama perempuan malang itu. Yesus berkata kepadanya untuk jangan menangis (Luk 7:13) dan segera membuktikan kepada sang janda alasan dari kata-katanya dengan perbuatan nyata. Yesus menyentuh usungan jenazah, dan lagi-lagi bela-rasa-Nya mengalahkan rituale keagamaan yang berlaku, yang tidak memperbolehkan orang berkontak (bersentuhan) dengan orang mati. Dengan kata-kata-Nya yang penuh dengan kuat-kuasa, Yesus memerintahkan orang mati itu untuk bangkit (Luk 7:14). Anak muda itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata. Yesus mengklaim kembali anak muda itu ke dalam alam orang hidup dan Ia mengembalikannya kepada sang ibu. Sang ibu dengan demikian tidak perlu menangis lagi.

Lukas memberikan kepada kita sebuah cerita sederhana yang berbicara mengenai bela rasa Yesus yang tidak mengenal batas. Di sini Yesus tidak digambarkan sebagai seorang penggerak yang tidak bergerak. Bila ada orang yang menderita, hati-Nya tergerak – tidak secara tanpa kuat-kuasa, di mana Dia tak berdaya untuk melakukan apa pun, melainkan dengan cara di mana Dia mampu untuk mentransformir penderitaan menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Mukjizat yang dibuat oleh Yesus ini tidak tergantung pada iman siapa pun. Isu dalam cerita mukjizat ini adalah bela rasa Yesus. Yesus sama sekali tidak menuntut iman sebagai prasyarat; Ia tidak menunggu sampai sang janda mengucapkan permohonan kepada-Nya. Yesus-lah yang bergerak untuk pertama kalinya, karena Dalah yang tergerak untuk pertama kalinya. Yesus tidak membuat mukjizat guna menunjukkan otoritas-Nya yang berada di atas segala otoritas lainnya; Dia juga tidak membuat mukjizat sebagai alat pendidikan untuk membuktikan suatu butir pemahaman; Yesus digerakkan oleh penderitaan yang ada di depan mata-Nya, dan itu sudah cukup bagi-Nya untuk bertindak … melakukan pekerjaan baik bagi manusia!

Inilah pertama kalinya Lukas menggunakan gelar Kyrios, artinya Tuhan, untuk menggambarkan Yesus. Waktunya memang layak dan pantas. Ketika Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Tuhan atas  kehidupan dan kematian, maka kepada-Nya diberikanlah gelar Kyrios.

Dalam bacaan Injil ini, Lukas menyajikan kepada kita imaji Yesus yang sangat menyentuh hati. Yesus-lah yang mengambil inisiatif, yang pertama berbicara, yang melihat adanya penderitaan dan desolasi yang menindih orang-orang, dan yang tidak melewati orang-orang yang menderita tersebut secara begitu saja. Dalam bela rasa-Nya Yesus tidak takut tangan-Nya menjadi kotor, atau diperlakukan sebagai orang yang najis sehingga harus ditahirkan oleh para imam Yahudi. Yesus sama sekali bukanlah seperti imam dan orang Lewi yang  digambarkan dalam “perumpamaan orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Manakala Yesus berjumpa dengan penderitaan di persimpangan jalan, Ia tidak “menghindar”. Yesus mentransformasikan penderitaan tersebut dengan sentuhan-Nya dan dengan sabda-Nya. Yesus mendatangkan kebahagiaan bagi kehidupan. Yesus meminta kepada orang-orang untuk hidup dalam pengetahuan bahwa Dia mampu untuk melakukan semua tindakan kebaikan, di sini dan sekarang juga. “Yesus Kristus tetap sama,  baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar senantiasa terbuka bagi karya-Mu di dunia pada masa kini juga. Berikanlah kepadaku mata iman agar mampu melihat mukjizat-mukjizat yang Engkau perbuat. Tolonglah aku agar mampu memberikan tanggapan dengan penuh ketakjuban yang murni datang dari hatiku. Amin. 

Catatan: Tulisan ini diinspirasikan oleh tulisan P. Denis McBride, THE GOSPEL OF LUKE – A REFLECTIVE COMMENTARY 3rd Edition, Dublin, Ireland: Dominican Publications, 1991, hal. 95-96. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG ITU KETAKUTAN DAN MEREKA MEMULIAKAN ALLAH” (bacaan tanggal 13-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  10 September 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKU TIDAK LAYAK MENERIMA TUAN DI DALAM RUMAHKU

AKU TIDAK LAYAK MENERIMA TUAN DI DALAM RUMAHKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 12 September 2016) 

centurion-looking-rightSetelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Kor 11:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17 

“Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk 7: 6-7).

Kata-kata indah yang diucapkan oleh perwira (centurion) ini banyak mengungkapkan pergolakan apa yang terjadi dalam batinnya. Hal ini tidak hanya banyak menunjukkan keadaan dirinya, melainkan juga menolong kita untuk memahami bagaimana mengalami kuat-kuasa penyembuhan dari Yesus dalam hidup kita dan kehidupan orang-orang lain yang kita kasihi.

Pokok pertama yang harus kita catat adalah bahwa sang perwira – seorang kafir di mata orang Yahudi dan seorang serdadu – menunjukkan penghargaan dan kekaguman terhadap orang Yahudi dengan membangun sebuah sinagoga untuk mereka beribadat. Walaupun dia bukanlah seorang Yahudi, perwira ini menghargai umat Yahudi sebagai kelompok orang yang istimewa di mata Allah. Bukannya tidak mungkin bahwa dia pun mendambakan suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah Israel.

Kedua, setelah mempelajari tentang Yesus, perwira ini langsung memberi tanggapan dengan mengirimkan pesan memohon kepada Yesus untuk datang dan menyembuhkan seorang hambanya yang dikasihinya. Sekali lagi, sang perwira memiliki keterbukaan yang besar – dan hasrat – untuk mengalami kuat-kuasa Allah yang senantiasa terbukti setiap kali Yesus berjumpa dengan orang-orang yang sakit atau menderita kesusahan hidup.

Ketiga, barangkali yang paling penting adalah bahwa kita dapat melihat hati sang perwira ketika dia mengatakan kepada Yesus lewat perantaraan sahabat-sahabatnya: “…aku tidak layak menerima tuan di dalam rumahku” (Luk 7:6). Pernyataan ini menunjukkan bahwa sang perwira adalah seorang pribadi yang sangat rendah hati, juga imannya dan rasa percayanya kepada Dia yang memang pantas: Yesus! Kerendahan hati sang perwira dan  rasa percayanya kepada Tuhan Yesus juga diungkapkan oleh tindakan-tindakannya. Ia tidak pernah muncul sendiri di depan Yesus, melainkan dua kali mengirim utusan-utusannya untuk bertemu dengan Dia, dengan penuh kepercayaan bahwa Yesus tidak hanya dapat menyembuhkan hambanya melainkan akan menyembuhkan hambanya itu juga. Jadi, dia sepenuhnya percaya akan kemampuan dan kemauan Yesus untuk menyembuhkan hambanya. Dengan sebuah hati sedemikian, maka kuat-kuasa penyembuhan dari Yesus akan mengalir dengan mudah.

Hasrat kita untuk menerima pertolongan dari Yesus bagi orang-orang yang kita kasihi maupun untuk diri kita sendiri, plus kerendahan hati kita, dan rasa percaya yang besar kepada-Nya dan kuat-kuasa Allah dalam diri-Nya, adalah kunci-kunci yang diperlukan agar kita dapat menerima kesembuhan yang Ia ingin berikan kepada kita. Hati sang perwira dan tindakan-tindakannya membawa kesembuhan ilahi bagi hambanya. Oleh karena itu, pada hari ini kita juga harus melakukan yang terbaik untuk mendapatkan sebuah hati seperti yang dimiliki sang perwira. Marilah kita mengambil langkah-langkah yang konkret dan berdiri dalam iman selagi kita menerima jamahan kesembuhan dari Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh tak pantas menerima cintakasih-Mu yang sedemikian besar. Namun, aku tahu bahwa Engkau pantas dan layak untuk cintakasihku. Dengan penuh kepercayaan dan dengan segala kerendahan hati, aku mohon agar Engkau sudi mencurahkan kuat-kuasa penyembuhan-Mu ke dalam hidupku. Aku percaya Engkau akan mendengarkan doaku ini, karena Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL” (bacaan tanggal 12-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-9-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 September 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS