Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

TERGERAKLAH HATI YESUS OLEH BELAS KASIHAN

TERGERAKLAH HATI YESUS OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Selasa,  10 Juli 2018)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk Martir

Sementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38) 

Bacaan Pertama: Hos 8:4-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:3-10 

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala.” (Mat 9:36) 

Bayangkanlah kerinduan yang ada dalam hati Yesus agar para murid-Nya dikirim untuk menjadi pekerja-pekerja tuaian di seluruh dunia. Bayangkanlah betapa rindu hati-Nya untuk melihat semua orang menerima dan merangkul Injil-Nya. Ia ingin agar kita (anda dan saya) berdoa kepada Bapa surgawi agar Bapa mengirimkan lebih banyak lagi “pekerja-pekerja untuk tuaian”. Ia juga menginginkan agar kita masing-masing juga siap untuk menjadi salah seorang dari pekerja-pekerja tuaian yang akan dikirim oleh-Nya ke ladang tuaian.

Kebutuhan akan para murid yang akan membuat Yesus dikenal oleh segala bangsa sama besarnya, bahkan jauh lebih besar daripada pada saat ketika Dia memanggil para murid-Nya yang pertama. Sebagamana dinyatakan oleh Paus Yohanes Paulus II (sekarang Santo): “Tugas perutusan Kristus sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian……. suatu pandangan menyeluruh atas umat manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja ditahap awal, dan bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati untuk melakukan tugas perutusan ini” (Surat Ensiklik REDEMPTORIS MISSIO (Tugas Perutusan Sang Penebus), 7 Desember 1990). Kebutuhannya sangat besar! Yesus memanggil kita semua, anda semua dan saya juga!

Bagaimana kita dapat mempersiapkan diri kita untuk menjadi pekerja-pekerja bagi Kerajaan-Nya? Bagaimanakah kita dapat menjadi lebih efektif dalam panggilan kita masing-masing untuk membawa orang-orang lain kepada Injil Yesus Kristus, agar mengenal Injil itu dan menyambut Yesus ke dalam hati mereka? Ada tiga unsur yang bersifat crucial, yaitu (1) doa; (2) pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci; dan (3) “Eksperimentasi”.

Yang pertama, dan inilah yang paling penting, adalah perlu adanya persekutuan (communio) dengan Allah (Tuan yang empunya tuaian; Mat 9:38) melalui doa. Dengan mempelajari hati Allah dalam doa, maka kita akan lebih lagi dipenuhi dengan kasih-Nya. Kemudian, kita pun akan mampu untuk lebih siap mengasihi orang-orang lain dengan kasih Allah.

Yang kedua, pentinglah untuk mempelajari sabda Allah dalam Kitab Suci. Di dalam Alkitab-lah kita belajar hikmat-kebijaksanaan Allah dan menjadi terilhami dengan pikiran-Nya, sehingga kita sungguh mengenal Pribadi yang akan kita perkenalkan kepada orang-orang lain itu.

Yang ketiga (terakhir), menemukan nilai dari “eksperimentasi” selagi kita melakukan evangelisasi kepada orang-orang lain dan melayani mereka. “Evangelisasi Baru” yang dicanangkan oleh Paus Yohanes Paulus II dimaksudkan agar kita kreatif dalam metode dan pelaksanaan evangelisasi itu. Kita harus mencoba hal-hal yang baru dan berbeda (tidak seperti biasanya). Dalam melakukan evangelisasi – seperti Yesus sendiri – kita harus berani mengambil risiko. Kita harus menaruh kepercayaan kepada Roh Kudus untuk menolong kita selagi kita berupaya membawa orang-orang lain kepada Yesus Kristus. Ingatlah bahwa Yesus senantiasa menyertai kita (Mat 28:20); Dia adalah Imanuel!  Ia akan memurnikan kita selagi kita mengikut Dia, sehingga Dia akan memperoleh banyak pekerja tuaian yang bekerja di ladang tuaian-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Tuhan yang empunya tuaian. Utuslah kami ke tengah-tengah dunia untuk menjadikan bangsa-bangsa murid-murid Putera-Mu, Yesus Kristus. Utuslah dan berdayakanlah kami oleh Roh Kudus-Mu agar dapat bekerja dengan penuh sukacita dan efektif bagi Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI BEBAS UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK” (bacaan tanggal 10-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS MEMILIKI KUAT-KUASA DAN OTORITAS MUTLAK ATAS SEGALA HAL DI SURGA DAN DI BUMI

YESUS MEMILIKI KUAT-KUASA DAN OTORITAS MUTLAK ATAS SEGALA HAL DI SURGA DAN DI BUMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 5 Juli 2018)

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Am 7:10-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

“Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” (Mat 9:2)

Ketika Yesus sampai ke kota-Nya sendiri, para ahli Taurat mengamati anak Yusuf tukang kayu dari Nazaret yang sederhana ini membuat mukjizat-mukjizat, bahkan mengampuni dosa. Tentunya mereka merasa bingung juga: Siapa sebenarnya orang ini? Melalui sarana apakah Dia menyembuhkan orang sakit? Dengan otoritas dan kuasa siapakah Dia mengampuni dosa. Para ahli Taurat itu tidak dapat memahami otoritas yang dimiliki Yesus; mereka malah menilai-Nya menghujat Allah. Biar bagaimana pun juga Yesus kan hanya seorang anak tukang kayu di sebuah kota kecil? Apalagi orang-orang Yahudi pada umumnya percaya bahwa tidak ada sesuatu yang baik datang dari Nazaret (Yoh 1:46).

Kita percaya bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa dan otoritas mutlak atas segala hal di surga dan di bumi. Dia datang ke tengah dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Sebagai kurban sempurna yang diberikan dengan bebas oleh Allah untuk menebus dosa-dosa kita-manusia, otoritas Yesus datang melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Sepanjang Injilnya, Matius mengungkapkan keilahian Yesus: Yesus menyembuhkan orang kusta (Mat 8:1-4), yang sakit demam (Mat 8:14-15), yang lumpuh (Mat 9:1-8) dlsb. Ia memiliki kuasa atas alam seperti ditunjukkan-Nya ketika menenangkan angin ribut yang berkecamuk (Mat 8:23-27). Otoritas-Nya dalam bidang spiritual memanifestasikan dirinya selagi Dia mengusir roh-roh jahat (Mat 8:28-34) dan mengampuni dosa (Mat 9:2).

Bahkan pada hari ini pun Yesus memiliki otoritas atas dosa yang merupakan sebab-musabab penderitaan kita. Yang diminta oleh Yesus hanyalah agar kita percaya kepada-Nya. Kematian-Nya pada kayu salib merupakan pukulan mematikan terhadap dosa. Keporak-porandaan karena dosa tidak perlu mendominasi kehidupan kita. Sebaliknya, dalam Yesus, kepada kita telah diberikan kuasa dan otoritas untuk menjadi bebas-merdeka dari ikatan-ikatan dosa, rasa takut, kemarahan, dan depresi. Oleh kuasa yang kita  peroleh melalui kematian Yesus di kayu salib, kita dapat mengalami kuasa untuk menjadi bebas-merdeka dari berbagai hal yang disebutkan di atas dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dengan mengundang Yesus untuk hidup-berdiam dalam diri kita, kita sebenarnya ikut ambil bagian dalam kodrat-Nya. Setiap orang percaya yang dibaptis ke dalam Kristus dapat menjadi seorang pelayan dari rahmat-Nya, penyembuhan-Nya, dan kuat-kuasa-Nya atas dosa. Tentu saja kita sendiri bukanlah pembuat mukjizat. Yesus-lah sang Pembuat mukjizat! Sementara kita memperkenankan Yesus masuk semakin dalam ke dalam hati kita, maka kita mengambil oper karakter-Nya, dengan demikian menjadi “instrumen-instrumen” rahmat-Nya. Seperti ditulis oleh Santo Paulus, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20).

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita bergantung sepenuhnya pada janji-janji Yesus bagi kita agar dengan demikian kita dapat memanifestasikan kuat-kuasa-Nya dan otoritas-Nya di muka bumi ini.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin mengenal Engkau lebih mendalam lagi dan menjadi lebih dekat lagi dengan diri-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyerahkan hidup-Mu sendiri agar kami dapat memperoleh kehidupan bersama Engkau dan Bapa surgawi selama-lamanya. Kami memuliakan Engkau, karena Engkau sendirilah yang dapat membebas-merdekakan kami dari dosa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “KUASA ILAHI UNTUK MENGAMPUNI DOSA” (bacaan tanggal 5-7-18) dalam situs/ blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 1 Juli 2018 [HARI MINGGU BIASA XIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEKALAHAN IBLIS SUDAH DINUBUATKAN SEJAK AWAL MULA

KEKALAHAN IBLIS SUDAH DINUBUATKAN SEJAK AWAL MULA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Rabu, 4 Juli 2018)

OFS: S. Elisabet dari Portugal, Ratu – Ordo III S. Fransiskus 

Ketika Yesus tiba di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui-Nya. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Mereka pun berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Apakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” Tidak jauh dari mereka itu banyak sekali babi sedang mencari makan. Lalu setan-setan itu meminta kepada-Nya, “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.” Yesus berkata kepada mereka, “Pergilah!” Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Seluruh kawanan babi itu pun terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati di dalam air. Lalu larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, mereka menceritakan segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Seluruh kota itu keluar mendapatkan Yesus dan setelah berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka. (Mat 8:28-34) 

Bacaan Pertama: Am 5:14-15,21-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:7-13,16-17

Tidak banyak dari kita yang pernah menyaksikan manifestasi kerasukan roh-roh jahat dan pembebasan dari roh-roh jahat yang dramatis sebagaimana diceritakan dalam bacaan Injil hari ini. Pengaruh Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya adalah ancaman nyata dan semakin bertumbuh. Iblis tidak bertindak-tanduk agar orang-orang tertarik kepada dirinya, melainkan lebih menyukai untuk membelokkan pekerjaan Allah secara licin lewat berbagai desepsi dan godaan terhadap pikiran kita.

Kitab Suci dengan jelas menunjukkan bahwa Iblis adalah “seorang” malaikat pemberontak yang mempunyai tujuan utama memisahkan umat manusia dari Allah, sang Pencipta. Misalnya, Petrus tidak menyadari bahwa usulnya agar Yesus menghindari salib sebenarnya sebuah pemikiran yang berasal dari Iblis, yang dimaksudkan untuk mencegah penebusan yang akan mempersatukan kita-manusia dengan Allah (lihat Mat 16:21-23).

Seperti dua orang yang kerasukan roh-roh jahat di Gadara, pikiran atau akal budi kita juga merupakan “ajang pertarungan” di mana Roh Kudus berupaya untuk memberi inspirasi dan membimbing kita, sedangkan Iblis berupaya untuk menghalang-halangi atau mengecilkan hati kita selagi kita mengikuti bimbingan Roh Kudus tersebut. Itulah sebabnya mengapa sangat penting bagi kita untuk mengisi pikiran kita dengan kebenaran-kebenaran Kitab Suci, dan hati kita dengan rahmat Allah melalui penerimaan-penerimaan sakramen! Sungguh merupakan suatu hal yang begitu vital bahwa kita harus senantiasa berada di hadapan hadirat-Nya, memusatkan pemikiran kita pada “semua yang  benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (lihat Flp 4:8).

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus mengatakan bahwa kita harus berdiri tegap menghadapi Iblis dengan “seluruh perlengkapan senjata Allah” (Ef 6:11;bacalah seluruh Ef 6:10-18). Taktik-taktik busuk Iblis dapat mengambil banyak cara, dari godaan kepada kita untuk percaya bahwa Allah sebenarnya tidak mengasihi kita, sampai  mencoba meyakinkan kita untuk merusak diri kita sendiri lewat hidup ketagihan narkoba, korupsi, bahkan bunuh diri. Apabila kita dapat mengindentifikasikan godaan-godaan ini, maka kita pun dapat menolak godaan-godaan tersebut dalam nama Yesus.

Yesus bersabda kepada para murid-Nya: “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu” (Luk 10:19). Kekalahan Iblis sudah dinubuatkan sejak awal mula (lihat Kej 3:15). Bahkan roh-roh jahat di Gadara pun mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah dan bahwa kuasa dan pengaruh mereka sudah “ditakdirkan” untuk berakhir pada suatu titik. Kematian dan kebangkitan Yesus menjamin kemenangan atas Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya. Segala kuasa kegelapan telah dipatahkan, dan kita pun bebas untuk masuk ke dalam kepenuhan hidup sebagai anak-anak Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kami menolak dosa dan Iblis. Lanjutkanlah memimpin kami agar semakin dekat dengan Engkau dan memimpin kami kepada kemerdekaan lengkap yang telah Engkau menangkan bagi kami. Biarlah Roh Kudus-Mu menerangi kami selagi kami menjalani kehidupan sehari-hari kami, sehingga dengan demikian kami dapat mengikuti bimbingan-Mu, dan dengan hikmat-Mu kami dapat mengenali dan mewaspadai rencana busuk Iblis dan roh-roh jahat atas diri kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “ADA BAGIAN-BAGIAN DALAM DIRI KITA YANG MEMANG MEMBUTUHKAN PEMBEBASAN” (bacaan tanggal 4-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Juli 2018 [HARI MINGGU BIASA XIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN BESAR YANG DIMILIKI SANG PERWIRA

IMAN BESAR YANG DIMILIKI SANG PERWIRA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Sabtu, 30 Juni 2018)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Raimundus Lullus, Martir – OFS

Hari Sabtu Imam

 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Setibanya di rumah Petrus, Yesus melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangun dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan semua orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:5-17) 

Bacaan Pertama: Rat 2:2,10-14,18-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 74:1-7,20-21

Dalam kesempatan kali ini, baiklah kita menyoroti iman dari seorang perwira yang datang kepada Yesus memohon kesembuhan seorang hambanya yang sakit lumpuh dan sangat menderita. Begitu penting iman bagi Yesus! Begitu pentingnya sehingga kita dapat melihat dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menunjuk pada iman besar yang dimiliki sang perwira sebagai sebuah model apa artinya menaruh kepercayaan dan keyakinan kita pada sesuatu yang tidak lebih daripada sabda Yesus: “… katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8). Dengan iman-kepercayaan seperti ini, tanda-tanda heran dan mukjizat-mukjizat dapat terjadi!  Dalam kitab-kitab Injil kita melihat bahwa Yesus senantiasa menanggapi secara positif iman-kepercayaan yang menunjukkan rasa percaya dan keyakinan yang mutlak.

Bagaimana kita dapat menjadi lebih berani dalam iman kita? Pertama, secara sederhana kita dapat mohon kepada Tuhan untuk meningkatkan iman-kepercayaan kita. Iman adalah suatu anugerah/karunia – sesuatu yang Tuhan kelihatannya siap dan ikhlas untuk berikan kepada kita atau tingkatkan dalam diri kita. Kedua, kita dapat melakukan yang terbaik untuk mengasosiasikan diri kita dengan orang-orang lain yang kelihatan memiliki iman yang kuat dan sehat. Biar bagaimana pun juga, iman itu bersifat menular. Apabila kita berkontak dengan orang-orang yang dengan penuh kasih dan penuh kepercayaan menaruh iman mereka dalam Tuhan, maka kita lebih berkemungkinan untuk melihat iman-kepercayaan kita sendiri meningkat.

Satu hal lain yang dapat kita lakukan untuk membuat iman yang lebih berani adalah untuk mulai menggunakan iman itu secara begitu! Tidak ada bedanya dengan latihan jasmani: Semakin kita menggunakan otot-otot kita, semakin kuat jadinya kita. Oleh karena itu, kita harus melatih iman kita dalam cara-cara yang lebih besar. Misalnya: Mendoakan peristiwa-peristiwa yang lebih kecil dalam kehidupan kita tentunya baik dan tidak pernah boleh kita lupakan, namun kita dapat mulai fokus pada isu-isu yang lebih besar,  yang berskala nasional atau bahkan yang berskala global sekali pun. Selain mendoakan ratusan korban tenggelamnya KM Sinar Bangun yang beberapa waktu lalu tenggelam di danau Toba, Sumut, alangkah baiknya, misalnya, bagi kita untuk mendoakan juga saudari dan saudara para pengungsi di kawasan Timur Tengah yang sangat menderita. Kita harus senantiasa mengingat apa yang dikatakan Yesus kepada para murid-Nya (termasuk kita para murid pada zaman modern ini) sebelum Ia diangkat ke surga: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (Mat 28:18). Yesus memiliki otoritas dan kuasa untuk melakukan apa saja, di mana saja dalam alam semesta. Dan kita adalah anggota Gereja semesta yang didirikan oleh-Nya.

Berdasarkan pemikiran seperti itu, pada akhirnya kita dapat menjadi lebih berani dalam iman kita untuk mengenal Yesus secara lebih baik melalui doa dan pembacaan serta permenungan atas sabda-Nya dalam Kitab Suci. Semakin baik kita mengenal Yesus, semakin yakin pula kita bahwa Dia sungguh mengasihi, bijaksana, maharahim, dan berbela-rasa. Kita akan percaya bahwa Dia akan selalu melakukan hal terbaik dalam setiap situasi. Seperi murid yang dikasihi pada Perjamuan Terakhir yang bersender di dekat-Nya (Yoh 13:23), maka kita pun dapat bersender pada Yesus dan memohon dari Dia apa saja yang kita butuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh mengasihi Engkau. Tingkatkan imanku, ya Tuhan, agar aku lebih berani dan penuh kepercayaan datang kepada-Mu untuk situasi apa pun dalam kehidupanku – atau apa saja di tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-17), bacalah tulisan yang berjudul “SEPATAH KATA SAJA” (bacaan tanggal 30-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 28 Juni 2018 [Peringatan S. Ireneus, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TUBUH DAN DARAH KRISTUS

TUBUH DAN DARAH KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 3 Juni 2018)

 

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya, “Ke mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan, “Pergilah ke kota; di sana seorang yang membawa kendi berisi air akan menemui kamu. Ikutilah dia dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: Di manakah ruangan tempat Aku akan makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku? Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!” Kedua murid itu pun berangkat dan setibanya di kota, mereka dapati semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, “Ambillah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.” (Mrk 14:12-16,22-26) 

Bacaan Pertama: Kel 24:3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: Ibr 9:11-15

Perjamuan Terakhir berhubungan erat dengan peristiwa penggandaan roti (dan ikan) (Mrk 6:30-44; 8:1-10) di mana Yesus memberi makan kepada ribuan orang yang mengikuti-Nya. Mukjizat-mukjizat ini dan Perjamuan Terakhir berbicara tentang roti. Dalam peristiwa penggandaan roti dan Perjamuan Terakhir, para murid memberikan rekomendasi kepada Yesus (lihat Mrk 6:35-36; 14:12), tetapi kali ini Yesus menerima usul mereka (Mrk 14:15).

Kata-kata “ambillah”, “mengucap syukur”, “memecah-mecahkan”, “memberikan” (Mrk 6:41; 8:6; 14:22) merupakan kata-kata yang telah melembaga dan sangat kita kenal serta menggemakan mukjizat penggandaan roti.

Perjamuan Terakhir juga dihubungkan dengan kematian Yesus. Tubuh yang dibagikan Yesus kepada para murid/pengikut-Nya (Mrk 14:22) telah diminyaki untuk pemakaman-Nya (Mrk 14:8). Cawan penderitaan-Nyalah (Mrk 10:39; 14:36) yang diberikan-Nya kepada para murid-Nya untuk diminum (Mrk 14:23).

Dengan demikian bacaan hari ini memberikan kepada kita dua pemikiran mendasar tentang Ekaristi. Sebagaimana pemberian makan kepada ribuan orang, Ekaristi merupakan cara Yesus memberi makan kepada orang-orang yang datang untuk mendengarkan sabda-Nya, suatu sumber kekuatan bagi kita yang mungkin datang dari tempat yang jauh” (bdk. Mrk 8:3). Kemudian, dalam Ekaristi kita mengambil bagian dalam kurban kematian Yesus. Makan dan minum dalam Ekaristi memperdalam persatuan kita dengan Allah, dan juga satu sama lain, karena kita menerima tubuh dan darah Kristus yang mati untuk kita. Ekaristi memperbaharui relasi Allah dengan kita yang telah diperoleh Yesus dengan kematian-Nya di kayu salib (Mrk 14:24).

Para murid tidak memahami apa yang dilakukan oleh Yesus ketika Dia memberi makan ribuan orang (lihat Mrk 8:17-21). Pada saat itu mereka tidak dapat mengerti, karena pemberian makan itu menunjuk kepada Perjamuan Terakhir, dan hal ini tidak dapat dipahami jika terlepas dari kematian Yesus di kayu salib.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri: “Setiap kali aku ikut serta dalam Perayaan Ekaristi, apakah aku mengingat kembali peristiwa pemberian makan kepada ribuan oleh Yesus dan juga akan kematian-Nya di kayu salib?

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau memberikan diri-Mu dalam Ekaristi. Terima kasih sedalam-dalamnya juga karena Engkau memperbaharui perjanjian-Mu dengan kami setiap kami merayakan Ekaristi. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 14:12-16,22-26), bacalah tulisan yang berjudul “MAKNA BARU DARI PERJAMUAN PASKAH” (bacaan tanggal 3-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

Cilandak, 2 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

(Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 14:12-16,22-26), bacalah tulisan yang berjudul “TUBUH DAN DARAH KRISTUS” (bacaan tanggal 3-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

Cilandak, 2 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Senin, 21 Mei 2018)

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang muloutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29) 

Bacaan Pertama: Yak 3:13:18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Begitu turun dari gunung bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yesus menghadapi kegagalan murid-murid-Nya yang lain dalam melakukan pelepasan (deliverance) atas diri seorang anak yang sudah lama dirasuki roh jahat. Setelah meratapi ketiadaan iman mereka, Yesus mengusir roh jahat itu, lalu mengatakan kepada para murid-Nya ketika sendirian dengan Dia, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jelas di sini, bahwa iman dan doa merupakan dua hal vital agar dapat melihat Allah bekerja dengan penuh kuat-kuasa.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan sebagai berikut: “Ini merupakan kekuatan doa, karena ‘tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya’ (Mrk 9:23) dan ‘tidak bimbang’ (Mat 21:21) dalam iman ini. Yesus bersedih hati karena ‘ketidakpercayaan’ (Mrk 6:6) sanak keluarga dan ‘orang yang kurang percaya’ di antara murid-murid-Nya (Mat 8:26), dan Ia amat kagum akan ‘iman besar’ dari perwira Roma (Mat 8:10) dan wanita Kanaan (bdk. Mat 15:28)” (KGK, 2610).

Apa yang dimaksudkan dengan iman? Sebagaimana seekor burung yang merasakan kedatangan cahaya matahari dan kemudian bernyanyi untuk menyapa terbitnya matahari sementara keadaan masih gelap, maka iman adalah suatu kepercayaan akan Allah yang mengetahui bahwa kita akan melihat hasil-hasilnya, walaupun dalam keadaan yang kelihatannya tidak memberikan harapan. Sekarang, apa yang dimaksudkan dengan doa? Doa dapat dikatakan sebagai suatu keterbukaan dan tanggapan penuh kepercayaan terhadap kehadiran dan kehendak Allah, dalam kerendahan hati.

Apabila kita ingin mengalami kemerdekaan sejati dalam kehidupan kita, atau ingin melihat seorang sahabat atau anggota keluarga kita disembuhkan dan dibuat menjadi utuh, maka kita harus percaya dengan sepenuh hati kita dan berdoa sekuat tenaga kita. Yesus telah datang untuk membebas-merdekakan segenap umat-Nya. Yesus tidak suka melihat penderitaan kita. Kita harus percaya bahwa Dia ingin menyembuhkan dan membebaskan kita. Dia mau membebaskan kita dari segala keterikatan pada dosa. Kita juga tidak pernah boleh mengabaikan doa, bahkan sampai akhir hayat kita. Kita harus tetap konsisten dan mencoba terus. Kita harus percaya, bahwa sementara kita menyerahkan situasi-situasi yang kita hadapi kepada Yesus, maka Dia akan bertindak seturut hikmat dan kuasa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyelamatkan dan membebaskan aku dari dosa. Ajarlah aku untuk percaya lebih mendalam lagi dan berdoa dengan lebih penuh keyakinan lagi. Tuhan, Engkau tahu situasi yang sedang kuhadapi. Perkenankanlah aku melihat karya-Mu yang penuh kuasa pada hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan yang berjudul “MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG” (bacaan tanggal 21-5-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  17 Mei 2018 [Peringatan S. Paskalis Baylon, Bruder Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI

BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 30 April 2018)

Tetapi orang banyak di kota itu terpecah menjadi dua: Ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada rasul-rasul itu. Lalu mulailah orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka berusaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu. Mengetahui hal itu, menyingkirlah rasul-rasul itu ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil.

Di Listra ada seorang laki-laki yang duduk saja, karena kakinya lemah dan lumpuh sejak lahir dan belum pernah dapat berjalan. Ia mendengarkan Paulus yang sedang berbicara. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring, “Berdirilah tegak!” Orang itu pun melonjak berdiri, lalu mulai berjalan kian ke mari. Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berteriak dalam bahasa Likaonia, “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena dialah yang berbicara. Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan kurban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. Mendengar itu rasul-rasul itu, yaitu Barnabas dan Paulus, mengoyakkan pakaian mereka, lalu menerobos ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru, “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Pada zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, mereka hampir-hampir tidak dapat mencegah orang banyak mempersembahkan kurban kepada mereka. (Kis  14:5-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16; Bacaan Injil: Yoh 14:21-26 

Adalah satu hal yang baik bahwa entusiasme Paulus dan Barnabas untuk mewartakan Kabar Baik secara kokoh telah didasarkan pada Kristus sendiri, bukannya tergantung bagaimana pesan mereka itu diterima oleh orang banyak. Bayangkanlah bagaimana perubahan suasana hati yang akan mereka alami, seandainya mereka menaruh kepercayaan serta mengandalkan diri pada opini publik ketika mereka membawa Injil ke Listra (lihat Kis 14:6). Pujian kepada mereka disusul dengan cepat oleh sikap permusuhan yang dipenuhi dengan ide kekerasan. Perpecahan di antara orang banyak di Ikonium karena pewartaan dan berbagai mukjizat dan tanda heran yang mereka lakukan telah mengakibatkan timbulnya usaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu (lihat Kis 14:3-6). Dengan demikian kedua rasul itu harus menyingkir ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil (lihat Kis 15:6-7).

Di Listra inilah terjadi sebuah peristiwa yang menarik. Misi Paulus dan Barnabas adalah untuk mendesak orang banyak agar kembali kepada jalan Allah. Kedua rasul itu tidak pernah bermaksud untuk menarik perhatian orang banyak kepada diri mereka sendiri. Suatu sikap yang benar sebagai pewarta! Inilah yang terjadi, meskipun setelah Paulus memandang orang lumpuh yang mendengarkan khotbahnya itu sungguh memiliki iman untuk dapat disembuhkan. Kiranya cukup mengejutkan bagi Paulus dan Barnabas ketika orang banyak memandang kesembuhan orang lumpuh itu bukan sebagai tanda konfirmasi atas kuasa Allah, melainkan bukti bahwa mereka adalah dua sosok dewa yang menjelma menjadi manusia (lihat Kis 14:11-13).

Kita, orang zaman modern ini, mungkin saja tertawa terpingkal-pingkal apabila kita menyaksikan bahwa  imam dewa Zeus pun sampai-sampai mengambil keputusan untuk mempersembahkan kurban persembahan kepada dua orang misionaris perdana ini. Akan tetapi bagi Paulus dan Barnabas hal itu samasekali bukanlah sesuatu yang lucu-menggelikan. Diidolakan (idola=berhala) sangatlah bertentangan dengan yang mereka cari dan cita-citakan. Ingatlah apa yang ditulis sang pemazmur: “Bukan kepada kami, ya TUHAN (YHWH), bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu” (Mzm 115:1). Itulah kiranya juga yang menjadi pegangan kedua rasul Yesus Kristus itu.

Tidak lama kemudian, suasana hati orang banyak memang menjadi berubah. Karena dihasut oleh orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium, maka orang banyak itu pun berpihak kepada para penghasut itu. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka dia telah mati. Keesokan harinya Paulus dan Barnabas berangkat ke Derbe (lihat Kis 14:19). Semua itu terjadi hanya dalam satu hari. Pagi hari mereka menerima pujian, siang hari mereka menerima cacian dan siksaan! Bukankah Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, juga telah mengalami hal yang sama? Hari ini “mubarak” (Minggu Palma), besok “salibkan Dia” (Jumat Agung) [Ingat pembelaan Mr. Yap Thiam Hien pada perkara Dr. Soebandrio berkaitan dengan peristiwa Gestapu, di tahun 1966]

Sebagai seorang Kristiani kita masing-masing tentunya juga mengalami naik-turunnya kehidupan, namun tidak sampai begitu ekstrim sebagaimana yang dialami oleh Paulus dan Barnabas. Dua rasul ini memberikan contoh bagus tentang kesetiaan secara “kepala-batu” (keras kepala) terhadap panggilan mereka, yang menurut mata dunia mungkin saja dipandang sebagai suatu kebodohan. Patutlah kita catat bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengendalikan berbagai macam reaksi yang akan kita terima ketika kita memberi kesaksian tentang Tuhan. Ada yang akan mengasihi kita dan tidak sedikit pula yang akan membenci kita, dan tentunya ada juga yang akan mendewa-dewakan kita. Hal yang disebutkan terakhir ini penting dicamkan oleh setiap orang Kristiani yang melakukan pelayanan dalam bidang pewartaan, apakah imam, pendeta atau kaum awam. Ingatlah bahwa kita hanyalah seperti keledai yang ditunggangi Yesus ketika memasuki kota Yerusalem pada hari Minggu Palma dan mendengar orang banyak mengelu-elukan-Nya. Kalau kita “gila hormat” karena merasakan bahwa kitalah yang dielu-elukan dan tiba-tiba mengangkat kaki depan karena kegirangan, maka Yesus bisa-bisa menjadi terjatuh ke tanah.

Sehubungan dengan naik-turunnya apa yang kita alami sebagai pelayan sabda-Nya, yang penting bagi kita adalah untuk senantiasa berpegang teguh pada panggilan Allah kepada kita. Percayalah, bahwa Allah akan dan dapat membereskan hal-hal lainnya.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat selalu berada pada kaki-kaki-Mu dan secara kokoh-kuat berakar dalam diri-Mu. Kapan pun, ya Tuhan Yesus, semoga aku dapat menerima sabda kehidupan kekal dari-Mu dan menyampaikannya juga kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS DIANUGERAHKAN KEPADA ORANG-ORANG YANG TAAT KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 30-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS