Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

YESUS VS IBLIS DAN ROH-ROH JAHATNYA

YESUS VS IBLIS DAN ROH-ROH JAHATNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Jumat, 13 Oktober 2017) 

Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26) 

Bacaan Pertama: Yl 1:13-15;2:1-2; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-3,6,8-9,16

Pernahkah anda tergoda untuk berpikir bahwa anda dapat menjalani kehidupan ini tanpa Allah? Pada saat-saat seperti itulah Iblis datang dan menggoda kita. Dia dapat membuat kita berpikir yang tidak-tidak tentang orang lain atau melakukan sesuatu yang tidak baik terhadap orang lain itu. Dia juga dapat membujuk kita untuk berhenti berdoa; dengan memberikan alasan sinetron tertentu atau acara “infotainment”di televisi lebih mengasyikkan daripada berdoa, yang tokh tak pernah dikabulkan oleh Allah dll. Salah satu taktik favorit Iblis adalah menyulut konflik di antara umat Allah, teristimewa di dalam keluarga-keluarga kita.

Akan tetapi, percayalah bahwa apabila kita sungguh bersatu dengan Yesus, Iblis tidak akan menang! Pada waktu Yesus mencurahkan darah-Nya dari atas kayu salib, Ia menjembatani kesenjangan yang selama itu memisahkan antara kita-manusia dengan Allah Bapa di surga. Yesus mempersatukan kita dengan diri-Nya dan memberdayakan kita agar mampu mengatasi dosa, kematian, dan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya. Yesus meneguhkan – artinya mengkonfirmasi – tempat kekal yang ‘ditakdirkan’ bagi kita di hadirat-Nya di surga. Dia mencabut dosa dari hati kita sehingga kebenaran-Nya dapat berakar-kuat dalam diri kita masing-masing. Allah, Bapa kita di surga mengklaim kita sebagai anak-anak-Nya. Inilah kuat-kuasa dari Injil: Iblis tidak lagi berkuasa atas diri kita. Kita dibebaskan dari cengkeraman si Jahat dan sekarang dipegang oleh tangan-tangan penuh kasih dari Bapa surgawi.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, ingatlah siapa sebenarnya diri anda dan apa yang telah diberikan kepada anda masing-masing. Yesus merasa senang  apabila kita menempatkan diri kita lebih kokoh lalgi dalam penebusan yang dimenangkan oleh-Nya bagi kita. Oleh karena itu, baiklah kita mempersembahkan diri kita dan semua anggota keluarga kita kepada Yesus setiap hari. Baiklah kita menempatkan rasa percaya kita dalam otoritas lengkap dari darah-Nya. Kuat-kuasa dari darah Yesus jauh melebihi wacana perdebatan para teolog. Umat Kristiani yang biasa-biasa saja mengalami kuat-kuasa darah Yesus itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Marilah kita berdoa memohon agar darah-Nya melindungi seluruh keberadaan kita dan mereka yang kita kasihi. Di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di dalam mobil angkot, pokoknya di mana saja, kita dapat berdoa mohon perlindungan oleh darah Yesus, dan Iblis dan roh-roh jahat pun akan lari.

Ketika kita mohon kepada Yesus untuk menyembuhkan kita dan memulihkan relasi yang telah dirusak oleh dosa dan oleh Iblis dkk., maka Dia memenuhi diri kita dengan kasih dan bela rasa. Yesus akan menunjukkan kepada kita bagaimana perjuangan kita bukanlah melawan orang-orang lain yang kelihatan, melainkan melawan kuasa-kuasa kejahatan yang bersifat spiritual. Ia juga akan menunjukkan kepada kita bahwa dalam pertempuran melawan kejahatan, kepada kita telah diberikan perlengkapan-perlengkapan senjata kebenaran, keadilan, kerelaan untuk memberitakan Injil damai-sejahtera, iman, keselamatan,  dan sabda-Nya (Ef 6:14-17). Marilah kita terjun ke dalam pertempuran spiritual ini pada hari ini, percaya penuh bahwa dalam Kristus kita mempunyai segalanya yang diperlukan.

DOA: Roh Kudus Allah, kami percaya akan kuat-kuasa-Mu untuk menyembuhkan apa yang telah dirusak dan mengumpulkan serta menyatukan kembali apa saja yang telah dicerai-beraikan. Lingkupilah kami dengan darah Yesus dan ikatlah kami bersama dalam kasih Bapa. Kami tidak percaya pada diri kami sendiri, melainkan percaya kepada-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:15-26), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MELAWAN KUASA KEGELAPAN DENGAN KUASA ALLAH” (bacaan  tanggal 13-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 11 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

SEMUA ORANG ITU KETAKUTAN DAN MEREKA MEMULIAKAN ALLAH

SEMUA ORANG ITU KETAKUTAN DAN MEREKA MEMULIAKAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 19 September 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan

 

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,5-6 

“Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah.” (Luk 7:16)

Dalam artian tertentu, reaksi orang-orang terhadap apa yang mereka lihat terjadi atas diri anak muda dari Nain ini sepenuhnya dapat dipahami. Tidakkah anda akan merasa “ngeri” apabila menyaksikan seorang mati hidup kembali, dia duduk dan mulai berbicara? Akan tetapi, tentunya “ketakutan” yang digambarkan oleh Lukas di sini tidaklah seperti yang kita bayangkan terjadi dengan seseorang yang sedang begitu asyik larut dijerat oleh film horor yang sedang ditontonnya.

Yang ingin digambarkan oleh Lukas adalah reaksi orang-orang itu atas mukjizat yang terjadi: mereka begitu terkesima dan takjub atas kuat-kuasa Allah yang bekerja dalam kehidupan seorang pribadi – suatu rasa takjub yang menggerakkan mereka untuk memuliakan Allah dan menjadi percaya kepada Yesus: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya” (Luk 7:16).

Sebaliknya, banyak orang Farisi tidak bereaksi terhadap mukjizat-mukjizat Yesus secara positif. Tidak ada luapan rasa takjub atau iman yang lebih mendalam. Sejumlah orang Farisi barangkali menyaksikan lebih banyak mukjizat Yesus daripada orang-orang di Nain pada hari itu. Akan tetapi, karena kecurigaan dan kecemburuan mereka, karya ilahi yang ditunjukkan oleh Yesus malah dituding sebagai karya Iblis. Langkah keliru mereka sampai begitu jauh sampai-sampai menuduh Yesus dirasuki oleh Iblis dan mengusir roh-roh jahat dengan menggunakan kuasa Beelzebul, penghulu/pemimpin setan (lihat Luk 11:14-26).

Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Bagaimana reaksiku terhadap mukjizat-mukjizat  yang terjadi pada masa kini? Bagaimana aku memberi tanggapan bilamana aku mendengar bahwa seseorang telah disembuhkan secara mengherankan dari penyakitnya yang berat, secara dramatis dan tidak dapat dijelaskan dengan akal-budi – setelah menghadiri sebuah Misa Penyembuhan? Apa yang kupikirkan ketika aku mendengar tentang penampakan-penampakan Bunda Maria? Apakah aku memandangnya tidak lebih dari takhyul, atau aku melakukan “investigasi” dengan rendah hati dalam doa? Apakah aku memperkenankan adanya kemungkinan bahwa sesuatu yang ajaib telah terjadi?

Allah masih bekerja pada hari ini dengan melakukan berbagai mukjizat dan tanda heran yang dimaksudkan untuk memimpin orang-orang untuk melakukan pertobatan dan percaya kepada-Nya. Penulis ‘Surat kepada Orang Ibrani’ mengatakan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Apabila Yesus membuat mukjizat di Nain dan di tempat-tempat lain sekitar 2.000 tahun lalu, maka pada saat ini pun Dia masih membuat mukjizat yang sama menakjubkannya. Ia menyembuhkan orang-orang dari penyakit kanker, HIV dan kebutaan.

Manakala anda mendengar tentang hal-hal seperti itu, janganlah menjadi takut. Janganlah mencoba mencari jawaban yang sepenuhnya berdasarkan akal-budi dan pelajaran-pelajaran yang diperoleh di kelas-kelas teologi. Mukjizat itu memang ada!!! Yang penting adalah, bahwa kita harus membuka hati kita lebar-lebar bagi Roh-Nya untuk bekerja dalam diri kita. Kita harus meluangkan waktu untuk menyimak apa yang kita dengar itu dalam suasana doa yang penuh keheningan. Kita bertanya: Apa buah yang dihasilkan? Apakah hasilnya merupakan suatu peningkatan iman akan Allah dalam diri orang-orang yang memperoleh berkat Tuhan itu? Apakah kesembuhan yang dialami seseorang membuat kasih-Nya kepada Yesus dan sabda-Nya menjadi lebih dalam? Marilah kita mohon kepada Allah agar membuat diri kita terbuka bagi hal-hal yang bersifat supernatural. Selagi kita melakukannya, Dia akan memberikan kepada kita setiap karunia dan berkat indah yang kita perlukan, sehingga kita pun dapat bersukacita atas karya-Nya di dunia ini.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku agar senantiasa terbuka bagi karya-Mu di dunia pada masa kini juga. Berikanlah kepadaku mata iman agar mampu melihat mukjizat-mukjizat yang Kaulakukan. Tolonglah aku agar mampu memberikan tanggapan dengan penuh ketakjuban yang murni datang dari hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN” (bacaan tanggal 19-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 September 2017 [Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 12 September 2016)

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Tim 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 28:2,7-9 

Para perwira komandan pasukan seratus orang (centurion) rupanya mempunyai catatan baik dalam Kitab Suci. Hari ini kita membaca tentang seorang centurion yang menyampaikan pesan kepada Yesus, “Aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku” (Luk 7:6). Ingatlah juga, sang centurion di bukit Kalvari yang menyaksikan kematian Yesus di kayu salib, yang berkata: “Sungguh, orang ini Anak Allah!”  (Mrk 15:39; bdk. Mat 27:54). Ada juga perwira Kornelius, yang karena keterbukaannya kepada Petrus terjadilah berkat-berkat Pentakosta bagi orang-orang non-Yahudi (Kis 10).

Sebagai perwira-perwira Romawi, dalam menjalankan tugas mereka, para centurion ini tahu bagaimana mengenali dan mengkomit diri mereka kepada otoritas yang berwenang. Maka, ketika mereka berjumpa dengan otoritas puncak dari Allah, beberapa dari mereka siap untuk menaruh iman mereka pada hal itu juga. Hal serupa dapat kita lihat dalam hubungan antara para orangtua dengan anak-anak mereka. Apabila para orangtua menjalankan otoritas mereka dengan layak dan pantas, biasanya anak-anak mereka mengembangkan keterlekatan-keterlekatan dan respek yang sehat dengan para orangtua mereka. Mereka percaya bahwa apabila mereka datang kepada ibu dan/atau ayah mereka dengan masalah mereka, maka mereka akan menemukan bela rasa dan hikmat-kebijaksanaan. Iman yang ada dalam diri para orangtua mereka membuat anak-anak yakin dan stabil, sementara mereka yang memberontak melawan otoritas orangtua mereka pada akhirnya harus belajar tentang kehidupan ini dengan bersusah payah lewat jalan yang sering berliku-liku.

Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa mempunyai otoritas tertinggi atas diri kita. Ia juga adalah Allah yang mahapengasih, yang menginginkan segala sesuatu yang terbaik bagi diri kita masing-masing. Kita mungkin saja adalah serdadu-serdadu Kristus, namun kita juga adalah anak-anak-Nya yang sudah mengantongi undangan-Nya untuk datang menghadap Allah dengan keyakinan akan kasih-Nya.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Anak macam apa aku ini? Apakah aku hidup sebagai sang centurion dalam bacaan Injil hari ini, yang percaya bahwa dirinya sepenuhnya berada di bawah otoritas Allah? Atau, apakah aku selalu berjalan kesana-kemari dan mencoba mengatasi masalah-masalah yang sedang kuhadapi dengan mengandalkan kekuatanku sendiri?” Sekarang, apabila Roh Kudus mengingatkan diri kita apa yang seharusnya kita lakukan, maka kita pun harus mengambil langkah maju dengan penuh kepercayaan akan penyelenggaraan ilahi. Kita selalu harus mengingat, bahwa Bapa surgawi adalah Allah yang baik, yang mahapemurah, maharahim dst. Dia adalah Allah yang “Mahalain” yang tidak pernah bisa direka-reka oleh otak kita yang kecil ini. Otoritas-Nya berakar pada kasih, karena Dia adalah kasih itu sendiri (lihat 1Yoh 4:8,16). Yang jelas Allah tidak pernah tidak merasa senang mencurahkan berkat-berkat-Nya kepada semua anak-anak-Nya. Oleh karena itu, marilah kita menghadap-Nya. Kita semestinya percaya bahwa Dia sedang menunggu kita dengan penuh kesabaran.

DOA: Bapa surgawi, kami seringkali menderita karena kami sering tidak taat kepada perintah-perintah-Mu. Kami sadar manakala kami mengatakan bahwa kami percaya kepada-Mu namun tidak sepenuhnya menerima otoritas-Mu atas diri kami, maka hal tersebut berarti kami tidak menaruh kepercayaan kepada-Mu. Ampunilah kami, ya Bapa, dan ajarlah kami untuk menghormati dan mentaati-Mu senantiasa. Terpujilah Engkau selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI” (bacaan tanggal 18-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 September 2017 [Peringatan SP Maria Berdukacita] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

LAGI-LAGI YESUS MENYEMBUHKAN ORANG PADA HARI SABAT

LAGI-LAGI YESUS MENYEMBUHKAN ORANG PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 11 September 2017) 

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:24 – 2:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:6-7,9

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat dengan ketat memantau setiap gerak-gerik Yesus agar supaya mereka menemukan kesalahan Yesus, dalam hal ini pelanggaran atas Hukum – kkhususnya hukum yang berkaitan dengan Sabat. Banyaknya peraturan yang mereka susun sehubungan dengan Sabat ini memposisikan diri orang-orang Farisi dan para ahli Taurat  sebagai pengendali hari Sabat. Mentalitas seperti ini membatasi praktek penyembahan kepada Allah yang berasal dari hati. Yesus, “Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat”, akan menunjukkan apa makna hari Sabat yang sesungguhnya, dan bagaimana menyembah Allah secara benar.

Yesus tidak dapat diintimidasi oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Pendekatan Yesus terhadap kepatuhan hari Sabat diatur oleh keyakinan-Nya yang mendalam bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama (lihat Luk 10:25-37). Pandangan-Nya ini mencerminkan kepercayaan bahwa apa/siapa saja yang tidak menghormati sesama tidak dapat menghormati Allah, dan pembiaran apa saja atas terjadinya penderitaan dan sengsara manusia – walaupun sebenarnya dapat diperbaiki (bahkan pada hari Sabat sekali pun) – adalah kejahatan.

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat memposisikan Yesus sebagai seorang “penyembuh” yang harus diamati secara ketat (Luk 6:7). Tafsir mereka atas hukum Sabat adalah, bahwa intervensi medis yang diperbolehkan pada hari suci itu hanyalah yang berkaitan dengan kelahiran, sunat dan penyakit yang mematikan. Melakukan penyembuhan pada hari Sabat seperti yang dilakukan oleh Yesus jelas-jelas merupakan pelanggaran hari Sabat.

Yesus mengetahui bahwa itulah yang ada dalam hati orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Ia memerintahkan kepada orang yang mati tangan kanannya itu untuk maju ke tengah, kemudian secara konfrontatif Ia bertanya kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tersebut, manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya? (Luk 6:8-9). Dalam pikiran Yesus, apa saja yang membiarkan seorang insan lain menderita tidaklah menghormati Allah, dan maksud hari Sabat adalah justru untuk menghormati Allah. Kemudian Yesus memerintahkan orang yang mati tangan kanannya untuk mengulurkan tangannya itu. Maka tangan yang mati itu pun disembuhkan oleh-Nya. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu pun naik pitam; mereka sangat geram karena sekali lagi peristiwa ini menunjukkan kepada mereka, bahwa “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Sekarang marilah kita lihat diri kita masing-masing. Bukankah hati dan pikiran kita juga sering “terkunci” dalam sikap-sikap terbatas berkaitan dengan Allah, penyembahan, keluarga, pekerjaan dan relasi-relasi dalam komunitas? Apakah selama ini gaya hidup kita mencerminkan bahwa kita sungguh menghormati Allah dan sesama kita? Apakah hidup spiritual kita mati seperti tangan orang yang kemudian disembuhkan oleh Yesus? Dengarlah Ia berkata kepada kita masing-masing: “Ulurkanlah tanganmu.” Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, minta kepada kita untuk hidup seperti yang dicontohkan-Nya, hidup dalam kasih dan penuh bela rasa. Keputusannya terletak pada diri kita masing-masing!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat kebutuhan kami akan sentuhan kesembuhan dari-Mu dalam kehidupan kami. Semoga terang-Mu menyinari kami sehingga kami dapat mengasihi Allah dan sesama kami. Semoga kami juga dibuat hidup dan bergembira dalam Engkau, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “MANAKAH YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?” (bacaan tanggal 11-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 7 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARUS TETAP ADA WAKTU UNTUK BERDOA

HARUS TETAP ADA WAKTU UNTUK BERDOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Rabu, 6 Agustus 2017)S

Kemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)

Bacaan Pertama: Kol 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 52:10-11

Kita dapat selalu berdalih dan mengemukakan seribu satu macam alasan untuk mempersingkat waktu yang kita sediakan untuk berdoa: “Aduh, saya sangat sibuk nih!”, “Wah, saya sedang lelah sekali setelah seharian macet di jalanan!”, “Anda tahu nggak, saya selalu berdoa kapan saja dan di mana saja. Bukankah, apa yang saya lakukan adalah doa saya? Saya sudah tahu apa yang dikehendaki Allah untuk saya lakukan. Andaikan saja anda tahu betapa sibuknya saya ini!”

Kalau siapa saja berhak untuk mengemukakan berbagai macam alasan seperti di atas, maka orang yang memang sesungguhnya pantas berkata begitu adalah Yesus! Bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus bekerja sampai malam menyembuhkan setiap orang sakit yang datang kepada-Nya, juga mengusir jauh-jauh segala roh jahat yang mengganggu orang-orang. Sungguh suatu pekerjaan yang penuh kesibukan dan melelahkan! Ia telah hidup dalam persatuan yang paripurna dengan Bapa-Nya di surga, sehingga Dia telah memahami dengan jelas kepenuhan rencana ilahi dan peranan sentral yang harus dimainkan oleh diri-Nya. Namun ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil, agar Dia dapat memusatkan segenap perhatian-Nya kepada Allah, untuk berdoa!

Dalam keheningan itu, Yesus mengambil sebuah keputusan penting. Walaupun ada banyak orang di tempat itu yang membutuhkan pelayanan-Nya (catatan: orang-orang mencari Dia terus sampai ditemukan di tempat terpencil itu), Yesus memutuskan bahwa itulah saat bagi-Nya untuk bergerak terus, karena Allah mengutus diri-Nya untuk mewartakan Injil di kota-kota lain juga.

Pada titik ini, Yesus mungkin saja belum memperoleh suatu gambaran jelas tentang bagaimana pelayanan-Nya akan berkembang. Yang diketahui oleh-Nya hanyalah bahwa langkah selanjutnya adalah “meninggalkan Kapernaum”. Di bab/pasal berikutnya dalam Injil Lukas, kita akan melihat Yesus memberikan pengampunan Allah sendiri sebagai suatu saluran kesembuhan, Dia melayani kebutuhan-kebutuhan spiritual dan fisik orang-orang. Ia memanggil para murid-Nya untuk mengikuti jejak-Nya. Memang hal ini merupakan sebuah proses yang lambat dan sering menimbulkan frustrasi, namun bersifat hakiki apabila pesan-Nya sungguh ingin berlanjut setelah kematian-Nya. Konflik dengan para pemuka agama Yahudi pun mulai timbul (lihatlah Mat 5:20-25,30,33-34).

Di tempat kerja, di rumah, di gereja dan di komunitas-komunitas di mana kita adalah anggotanya, kita pun seringkali menghadapi begitu banyak tuntutan untuk melayani berbagai kebutuhan orang-orang lain. Kebutuhan-kebutuhan itu sungguh riil, dan Allah mungkin saja mengundang kita untuk mengambil tindakan guna memenuhi berbagai kebutuhan tersebut. Akan tetapi, kita harus ingat bahwa diri kita mungkin saja bukan jawaban Allah untuk setiap kebutuhan yang ada. Kadang-kadang tuntutan-tuntutan ini merupakan distraksi dari apa yang Allah sungguh inginkan untuk kita lakukan. Nah, di sinilah perlunya proses discernment (membeda-bedakan roh) agar kita mengenal kehendak Allah yang sebenarnya. Dan, discernment dalam suasana doa ini membutuhkan keheningan dan proses mendengarkan dalam kesunyian.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Khalik langit dan bumi, Allah yang mahapengasih. Aku mengetahui bahwa Engkau mengundangku untuk datang menghadap hadirat-Mu dalam keheningan, setiap hari. Hal itu adalah panggilan yang sungguh berharga, namun juga sulit untuk dilaksanakan, karena kesibukanku melayani. Tolonglah aku untuk mempercayai bahwa engkau dapat mengurus dunia tanpa aku. Tolonglah aku mendengarkan dengan hatiku mengenai apa yang sesungguhnya Kaukehendaki agar kulakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:38-44), bacalah tulisan yang berjudul SAMPAI HARI INI PUN YESUS MASIH MELAKUKAN PENYEMBUHAN” (bacaan tanggal 6-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09  BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 September 2017 [Peringatan para martir Fransiskan pada masa Revolusi Perancis]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERINTAH YESUS KEPADA ROH-ROH JAHAT PENUH WIBAWA DAN KUASA

PERINTAH YESUS KEPADA ROH-ROH JAHAT PENUH WIBAWA DAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Selasa, 5 September 2017) 

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1Tes 5:1-6,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

Pelayanan Yesus telah dimulai. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Luk 4:36). Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa”  (1 Kor 2:4).

Setiap kebenaran Injil dapat dipilah-pilah dan dianalisis dengan kekuatan intelek dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian rupa, sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32).

Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa, sehingga kita dapat mengalami kuasanya untuk memerdekakan kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari tindakan kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau kelompok Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada pada pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis. Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan supaya kita mengundang Dia ke dalam hati kita masing-masing – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mencatat, “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain”  (KGK, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui hati kami dan hasrat yang ada dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang Engkau untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana seharusnya hidup untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS PENUH WIBAWA DAN KUASA” (bacaan tanggal 5-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 September 2017 [Peringatan para martir Fransiskan pada masa Revolusi Perancis] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BENAR TUHAN, NAMUN ANJING ITU MAKAN REMAH-REMAH YANG JATUH DARI MEJA TUANNYA

BENAR TUHAN, NAMUN ANJING ITU MAKAN REMAH-REMAH YANG JATUH DARI MEJA TUANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XX [TAHUN A], 20 Agustus 2017)

 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Yes 56:1,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,6,8; Bacaan Kedua: Rm 11:13-15,29-32 

Apa yang dilakukan oleh Yesus? Pada awalnya, Dia kelihatan tidak berminat untuk menolong perempuan Kanaan yang telah berseru kepada-Nya itu. Yesus di sini kelihatan tidaklah menentang atau mendobrak keberadaan rintangan-budaya antara diri-Nya dengan perempuan non-Yahudi (baca: Kafir), dan hal ini bukanlah perilaku yang biasa ditunjukkan oleh-Nya. Perempuan Kanaan itu harus melanjutkan meminta-minta belas kasihan dari Yesus, sebelum akhirnya dia memperoleh perhatian Yesus. Mengapa Yesus memperlakukan perempuan itu tidak seperti biasanya Dia lakukan terhadap orang-orang lain?

Yesus senantiasa mendengar seruan hati kita! Ia tidak pernah membiarkan kita menderita melampaui tujuan Allah untuk menarik kita lebih dekat dengan diri-Nya. Sebenarnya “penundaan” tanggapan Yesus memberikan tantangan kepada perempuan Kanaan itu untuk memperdalam imannya melalui ketekunan. Ada satu pelajaran mendalam yang dapat ditarik dari peristiwa ini: Siapa pun diri kita dan di mana pun posisi kita dalam masyarakat, iman kita kepada Yesus dapat mengatasi segala rintangan dan membawa kita kepada hati-Nya.

Iman perempuan Kanaan itu bukanlah sekadar persetujuan secara intelektual terhadap konsep-konsep yang tidak jelas tentang Allah, lebih daripada itu! Walau pun perempuan itu belum sepenuhnya memahami siapa Yesus sebenarnya, biar bagaimana pun juga dia menaruh kepercayaan kepada-Nya dengan sepenuh hati. Dia mengetahui kebutuhan-kebutuhannya dan dia pun menyadari bahwa Yesuslah satu-satunya harapan bagi dirinya. Dia tidak malu untuk berseru minta tolong kepada Yesus, sampai  Yesus menolongnya. Seperti Santo Paulus, ia tidak merasa ragu sedikit pun untuk mempermaklumkan imannya kepada Yesus di depan publik atau untuk mengakui kebutuhannya (lihat Rm 1:16; 2Tim 1:12). Itulah sebabnya mengapa Yesus begitu senang. Digerakkan oleh iman perempuan itu, Yesus memberikan persetujuannya: “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). 

Yesus tidak malu memanggil kita sebagai saudari dan saudara-Nya – siapa pun kita ini, apakah kita orang miskin yang bermukim di bantaran sungai Ciliwung atau orang kaya yang tinggal di Pondok Indah, orang Jawa atau keturunan Cina, lulusan SMA Kanisius  di Menteng Raya atau sebuah SD Negeri di Bekasi, dlsb. Yesus telah datang untuk menolong kita dalam kelemahan kita dan Ia menantikan kita untuk menaruh rasa percaya dan pengharapan kita kepada-Nya. Sekarang, rintangan-rintangan atau keragu-raguan apa saja yang kita perkenankan tetap menghadang kita untuk berseru minta tolong kepada-Nya? Seperti perempuan Kanaan itu, marilah kita sekarang juga, tanpa malu-malu atau “ja-im”, berseru minta tolong kepada-Nya dan terus berseru kepada-Nya. Marilah kita (anda dan saya) mengundang Dia ke dalam kehidupan kita masing-masing guna menyembuhkan kita, membawa Injil ke dalam keluarga kita, dan mengubah seluruh dunia. Yesus itu mahasetia. Dia akan menjawab umat-Nya sesuai iman mereka masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, kami datang menghadap-Mu dalam kelemahan kami. Namun kami juga tahu bahwa kelemahan kami memberikan kepada-Mu kesempatan untuk berkarya dalam kehidupan kami. Tuhan, tolonglah kami agar kami dapat menjadi seperti perempuan Kanaan itu dan menunjukkan karya agung-Mu dalam kehidupan kami dan di tengah dunia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGASIHI KITA SEMUA” (bacaan tanggal 20-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 18 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS