Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

MUKJIZAT YESUS MEMANG ADA DAN TERJADI SETIAP HARI

MUKJIZAT YESUS MEMANG ADA DAN TERJADI SETIAP HARI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VI [Tahun B], 11 Februari 2018)

Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: Im 13:1-2,45-46; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5,11; Bacaan Kedua: 1Kor 10:31-11:1

Yesus menyentuh orang kusta itu dan ia pun sembuh! Atas perintah Yesus, “… jadilah engkau tahir”, maka orang kusta itu melihat sendiri perubahan yang terjadi dengan dirinya. Kulitnya yang mati dan yang membusuk menjadi segar kembali dan bersih. Luka-luka yang diiringi dengan rasa sakit menghilang. Bayangkanlah pengalaman emosional yang dialaminya pada saat-saat ketika syaraf-syaraf yang sudah begitu lama mati dipulihkan dan jari-jarinya mulai dapat merasakan lagi.

Mukjizat Yesus memang ada dan terjadi setiap hari di sekeliling kita, walaupun kita sering mengabaikannya karena kesibukan kita sehari-hari. Orang zaman modern seperti kita selalu saja mempunyai jawaban guna membenarkan abaian atau ketidakpercayaan kita, bukankah begitu? Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengungkapkan sebuah kebenaran yang tak terbantahkan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya”  (Ibr 13:8). Pernahkah kita membayangkan diri kita hadir dalam peristiwa-peristiwa mukjizat dan penyembuhan yang dilakukan Yesus sekitar 2.000 tahun lalu? Misalnya peristiwa orang lumpuh yang disembuhkan (Mrk 2:1-12); orang lumpuh yang disembuhkan di rumah ibadat pada hari Sabat (Mrk 3:1-6); Yesus membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan (Mrk 5:21-43); penyembuhan Bartimeus yang buta (Mrk 10:46-52); dll.

Atau, pernahkah kita memperkenankan puji-pujian Santo Paulus tentang kasih dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus untuk masuk ke dalam hati kita masing-masing? Lalu, pernahkah kita (anda dan saya) yang berdosa ini dikuasai semacam rasa kagum dan terkesima penuh syukur untuk beberapa saat lamanya, ketika membaca betapa baik Allah itu, seperti ditulis oleh sang pemazmur: “Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anaknya, demikian TUHAN (YHWH) sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu”  (Mzm 103:10-14). Dengan jujur kita harus mengakui bahwa kelakuan kita tidak jarang seperti seorang anak saja yang lari setelah terluka dilututnya karena terjatuh di atas bebatuan dan kemudian dirawat oleh orangtuanya. Anak itu menganggap rawatan penuh kasih orangtuanya itu memang seharusnya begitu … taken for granted! 

Sesungguhnya Allah ingin melihat kita menjadi takjub, terpesona, penuh kagum, setiap kali kita membaca sabda-Nya dalam Kitab Suci. Dia ingin kita datang kepada-Nya dengan ekspektasi untuk mengalami mukjizat – baik mukjizat kecil maupun besar – dalam kehidupan kita. Allah sungguh dapat mengubah kita dengan sabda-Nya yang penuh kuat-kuasa, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yesus atas orang kusta dalam bacaan Injil hari ini.

Saudari dan Saudaraku, dalam Misa Kudus hari ini kita (anda dan saya) pun harus penuh ekspektasi. Kita harus mengambil sikap baru sebagai seorang yang sepenuhnya percaya. Biarlah sikap itu mengubah cara kita memandang seluruh kehidupan kita. Baiklah kita menaruh iman-kepercayaan kita kepada Bapa surgawi, karena bagi-Nya tidak ada sesuatu pun yang mustahil!

DOA: Roh Kudus Allah, jangan biarkan diriku menjadi acuh tak acuh dengan berbagai mukjizat ilahi. Setiap kali aku membaca sabda Allah dalam Kitab Suci, bukalah mata dan telingaku bagi hidup baru bersama Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS TIDAK MEMBEDA-BEDAKAN SIAPA YANG BOLEH DIKASIHI DAN SIAPA YANG HARUS DITOLAK ” (bacaan tanggal 11-2-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  8 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA

HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Skolastika, Perawan – Sabtu, 10 Februari 2018)

Pada waktu itu ada lagi orang banyak jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta. (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Raj 12:26-32; 13:33-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7a,19-22 

Yesus dan para murid-Nya sudah berada di daerah orang non-Yahudi (kafir) untuk sekian lamanya. Di sana Dia mencurahkan perhatian-Nya pada orang-orang yang dipandang sebagai pendosa dan termarjinalisasikan oleh masyarakat. Kendati demikian, Yesus memperlakukan setiap orang dengan penuh kasih dan mengundang mereka semua agar memperoleh keselamatan. Kabar yang tersebar tentang bagaimana Yesus telah mengusir roh jahat dari puteri perempuan keturunan Siro-Fenisia (Mrk 7:24-30) dan penyembuhan seorang yang menderita gagap-tuli (Mrk 7:31-37) telah berhasil menarik orang-orang dalam jumlah yang banyak, untuk mengikuti Dia sampai ke tempat yang jauh dari keramaian kota di mana mereka dapat mendengar Dia mengajar. Sekarang sudah tiga hari lamanya orang banyak itu bersama Yesus, dan mereka sudah kehabisan makanan.

Dari sedikit roti dan ikan yang tersedia, Yesus memberi makan 4.000 orang yang boleh makan sampai kenyang. Orang-orang menjadi “hepi” dan ujung-ujungnya masih ada sisa sebanyak tujuh bakul. Sebelumnya Markus menarasikan cerita penggandaan makanan untuk 5.000 orang laki-laki (jadi totalnya tentu lebih banyak) yang terjadi di daerah orang Yahudi (lihat Mrk 6:34-44). Dengan menggambarkan pemberian makan kepada 4.000 orang di daerah orang “kafir”, Markus ingin mengatakan bahwa Yesus tidak hanya datang kepada orang-orang Yahudi, melainkan juga kepada orang-orang non-Yahudi. Markus ingin mengatakan, bahwa Yesus mengasihi semua orang, semua sama pentingnya bagi diri-Nya.  Laki-laki atau perempuan, rohaniwan atau awam, kaya atau miskin, sehat atau sakit – Yesus mengasihi kita dan sangat berhasrat untuk menyelamatkan kita. Kita semua penting di mata-Nya dan dari atas kayu salib Dia menumpahkan darah-Nya bagi kita masing-masing.

Cerita mukjizat penggandaan roti dan ikan ini oleh Markus dimaksudkan sebagai suatu penggambaran awal dari Ekaristi, Roti Kehidupan. Seperti apa yang dilakukan-Nya pada perjamuan akhir, di sini juga Yesus mengucap syukur, memecah-mecahkan  roti dan memberikannya kepada para pengikut-Nya (lihat Mrk 8:6; 14:22). Dalam Ekaristi, Yesus memberi makan kepada kita secara spiritual, memberikan diri-Nya kepada kita dan menyegarkan kita, seperti Dia menyegarkan orang banyak itu.

Yesus mengasihi kita masing-masing. Kita seharusnya tidak pernah boleh merasa “tidak penting” atau “tidak diinginkan” untuk hadir pada meja perjamuan-Nya. Kita semua berharga di mata-Nya dan Ia berhasrat untuk mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua secara berlimpah, memberi makan dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita. Kita tidak perlu merasa khawatir tentang posisi kita. Yang harus kita lakukan hanyalah dengan tulus membuka hati kita dan memperkenankan Dia masuk ke dalam hati kita. Dia pasti akan memuaskan hati yang paling haus dan lapar.

DOA: Tuhan Yesus, tariklah kami agar mendekat pada-Mu dan segarkanlah kami dengan makanan surgawi dari-Mu. Lipat-gandakanlah rahmat-Mu dalam diri kami semua sehingga kami diberdayakan untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang di sekeliling kami. Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA PUN MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 10-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  8 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG PRIBADI YANG PALING BERMURAH HATI YANG PERNAH HIDUP DI DUNIA

SEORANG PRIBADI YANG PALING BERMURAH HATI YANG PERNAH HIDUP DI DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Jumat, 9 Februari 2018)

Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37) 

Bacaan Pertama: 1Raj 11:29-32; 12:19; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:10-15 

Yesus adalah pribadi yang paling bermurah hati yang pernah hidup di dunia. Melihat TKP-nya yang berlokasi di Dekapolis, ada kemungkinan orang yang gagap-tuli itu adalah seorang non-Yahudi atau “kafir” di mata orang Yahudi. Posisi orang-orang seperti itu dipandang oleh kebanyakan orang Yahudi sebagai berada di luar perjanjian-perjanjian dan janji-janji Israel. Namun demikian, dengan sukarela dan bebas Yesus menunjukkan kasih Allah kepadanya … dengan menyembuhkannya. Karena Yesus begitu mengasihi Bapa-Nya, Dia mampu untuk mengasihi semua orang sepenuhnya. Yesus mengasihi mereka dengan menyediakan segenap waktu dan energi-Nya dengan tujuan agar Dia dapat membawa orang-orang lain untuk mengenal kasih Bapa, sama penuhnya seperti Dia sendiri mengalaminya. Inilah bagaimana perintah-perintah Yesus hendaknya kita hayati.

Santa Ibu Teresa dari Kalkuta adalah contoh modern dari seorang pribadi yang hatinya mencerminkan kasih dan kemurahan hati Yesus. Karena dia mengasihi Yesus, satu hasratnya adalah untuk menawarkan kasih-Nya kepada setiap orang. Kemana saja Ibu Teresa pergi, dia tidak pernah bertanya dan/atau mempermasalahkan apakah seseorang itu Kristiani atau bukan. Kasih Yesus begitu saja mengalir dari dirinya karena dia telah begitu mengosongkan diri dan memenuhi dirinya itu dengan Yesus. Hidup setiap orang yang disentuhnya diubah oleh kasih Yesus yang menyembuhkan dan menebus.

Kita semua dipanggil untuk bekerja bagi pertobatan orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus. Begitu banyak orang yang berada di luar  tembok-tembok gereja yang sesungguhnya lapar dan haus akan Allah. Telinga mereka juga dapat dibuka untuk mampu mendengar firman-Nya dan membuat tanggapan dalam kasih. Yesus  telah memberi amanat kepada  kita untuk pergi keluar atas nama-Nya dan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar – bahkan lebih besar daripada apa yang telah dilakukan-Nya (lihat Mrk 16:17-18). Dia adalah Imanuel yang selalu menyertai kita (lihat Mat 28:20) dan Dia ingin agar kita menjadi instrumen-instrumen kasih-Nya yang menyembuhkan dan membawa keselamatan.

Baiklah kita perkenankan Tuhan untuk menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang menyembuhkan agar dengan demikian kita dapat dengan bebas melayani-Nya. Hari ini juga anda dapat mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kesempatan-kesempatan kepada anda menyebarkan kasih Yesus kepada orang-orang lain. Barangkali seseorang di rumah/komunitas/persaudaraan anda sendiri atau rekan kerja anda di kantor/pabrik sungguh mempunyai kebutuhan. Apa pun kesempatan yang disediakan oleh Roh Kudus kepada anda, laksanakanlah tugas anda itu dengan penuh kasih, dan mohonlah kepada Allah agar anda dimampukan untuk membawa seseorang mengenal kasih dan kerahiman Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar aku dapat mendengar panggilan-Mu dengan jelas. Bukalah hatiku agar aku dapat menanggapi panggilan-Mu dalam iman, meletakkan hidupku demi mereka yang hilang-tersesat dan mereka yang dicampakkan oleh masyarakat. Dalam pelayananku kepada orang-orang lain, tolonglah aku agar dapat memproklamasikan keselamatan yang Kauberikan kepada orang-orang di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Raj 11:29-32; 12-19), bacalah tulisan yang berjudul “KETIDAKTAATAN SALOMO” (bacaan tanggal 9-2-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Februari 2018 [Peringatan/Pesta S. Koleta dr Corbie, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KETEKUNAN DAN IMAN YANG DITUNJUKKAN OLEH SEORANG PEREMPUAN KAFIR

KETEKUNAN DAN IMAN YANG DITUNJUKKAN OLEH SEORANG PEREMPUAN KAFIR

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa V – Kamis, 8 Februari 2018)

Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak ingin seorang pun mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anak perempuannya kerasukan orang jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan sujud di depan kaki-nya. Perempuan itu seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anak perempuannya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Lalu kata Yesus kepada perempuan itu, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan  setan itu sudah keluar. (Mrk 7:24-30) 

Bacaan Pertama: Kej 2:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5

Perempuan Yunani keturunan Siro-Fenisia itu tahu bahwa Iblis dan begundal-begundalnya tidak memiliki rasa hormat atau respek terhadap pribadi-pribadi manusia – ras mereka atau agama yang mereka anut. Dengan demikian dia tidak membiarkan iman-kepercayaannya dibutakan oleh prasangka atau praduga buruk. Ketetapan hatinya untuk mencari kesembuhan bagi puterinya berasal dari rasa pedihnya melihat puterinya menderita dari hari ke hari. Apalagi dia sadar sekali bahwa dia tidak memiliki kuasa atau kemampuan apapun untuk menolong puterinya itu. Oleh karena itu, ketika dia mendengar bahwa sang rabi Yahudi masuk ke kotanya, maka baginya perbedaan budaya menjadi tidak ada artinya samasekali. Yang penting baginya, Yesus inilah yang dapat menolong puterinya yang sedang menderita.

Perempuan Siro-Fenisia itu menunjukkan dua kualitas pribadi yang mutlak berkenan di hati Yesus, yaitu “ketekunan” dan “iman”. Kita memang dapat terkagum-kagum akan kemauan keras yang ditunjukkan oleh perempuan ini. Sebagai seorang non-Yahudi dia melanggar kebiasaan sosial yang berlaku pada saat itu dan dia sujud di depan kaki Yesus dan mohon belaskasih dari rabi Yahudi itu. Sebagai seorang non-Yahudi (baca: kafir) memang dia tidak dapat mengharapkan banyak dari para tetangganya yang Yahudi: dia hanyalah seorang perempuan dan non-Yahudi. Akan tetapi dia telah mendengar mengenai pengkhotbah yang bernama Yesus ini dan kuat-kuasa yang menyertai-Nya – kuat-kuasa yang dapat menghancurkan roh-roh jahat. Maka dia tidak akan berhenti minta tolong demi putri yang dicintainya. Yang diinginkannya hanyalah “remah-remah” dari rahmat penyembuhan Yesus (lihat Mrk 7:28). Perempuan itu percaya hanya inilah yang dibutuhkan untuk pelepasan puterinya dari cengkeraman roh jahat, dan tanggapan imannya membuat Yesus tergerak secara mendalam. Mengapa? Karena inilah macam iman yang membuka diri kita bagi kuasa penyembuhan Yesus. Perempuan ini datang kepada Yesus dengan iman yang penuh ketekunan dan Yesus pun menanggapinya, sehingga kita semua juga dapat mengetahui dan mengenal karyanya dalam kehidupan kita. Yesus memang tidak  pernah mengecewakan siapa saja yang datang kepada-Nya dengan iman yang tekun. Marilah sekarang kita soroti dua hal dari bacaan ini, yaitu keberadaan roh-roh jahat dan kondisi iman kita sendiri.

Keberadaan roh-roh jahat. Tidak seperti pada zaman modern ini, dunia kuno sangat menyadari akan realitas roh-roh jahat dan efek merusak yang ditimpakan roh-roh jahat itu atas pribadi-pribadi manusia. Mengusir roh-roh jahat merupakan bagian integral dan sentral dari pelayanan Yesus di depan umum, dan hal ini dilakukannya sejak awal (lihat Mrk 1:21-28; 5:1-20; 9:14-29). “Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis” (1Yoh 3:8). Kita pun dihadapkan dengan serangan-serangan terus-menerus dari Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya. Petrus menulis, “Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr 5:8). Hati anda mungkin saja dipenuhi dengan kemarahan, tidak mau mengampuni dll. Perkenanlah Yesus membebaskan anda dari cengkeraman Iblis dan mengembalikan anda kepada sukacita sejati sebagai anak-anak Bapa surgawi.

Kondisi iman kita. Hari ini adalah hari yang baik untuk memeriksa kondisi iman anda. Apakah anda percaya bahwa “remah-remah” sederhana dari Yesus sudah cukup untuk memindahkan gunung-gunung dalam hidup anda dan dalam kehidupan orang-orang yang anda cintai? Atau anda merasa khawatir, malah takut, bahwa Yesus samasekali tidak berminat atas kebutuhan-kebutuhan anda? Apakah anda percaya bahwa Dia telah memanggil anda dengan namamu dan memandang anda dengan penuh kasih? Apakah anda percaya bahwa darah-Nya telah membuang segala hal yang menghalangi persekutuan dengan-Nya? Apakah anda percaya bahwa dengan menerima Yesus anda menjadi seorang “ciptaan baru”? Sampai berapa tekun anda dengan Tuhan? Apakah anda mohon kepada Yesus hanya sekali, dan menyerah setelah permintaanmu tidak langsung diluluskan oleh-Nya? Apakah anda langsung pergi setelah satu permintaan itu tadi? Atau anda tetap mengetuk pada pintu-Nya? Ingatlah bahwa perempuan Siro-Fenisia itu harus berbicara kepada Yesus sebanyak dua kali sebelum permintaannya dipenuhi. Yesus menginginkan agar kita terus meminta, terus mencari dan terus mengetuk (lihat Luk 11:9-10). Percayalah, Yesus akan memberi tanggapan! Lakukanlah inventarisasi atas iman dan ketekunan yang anda miliki. Kalau imanmu terasa lemah, tidaklah salah kalau kita berseru kepada-Nya: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk 9:24).

Tidak ada sesuatu pun yang dapat membatasi apa yang dapat dilakukan oleh Allah atas iman yang penuh ketekunan dan hati yang diserahkan sepenuhnya kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah kami dari pengaruh Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:24-30), bacalah tulisan dengan judul “IMAN YANG MENGAGUMKAN DARI SEORANG PEREMPUAN SIRO-FENISIA” (bacaan tanggal 8-2-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-2-17) 

Cilandak, 6 Februari 2018 [Peringatan S. Petrus Baptista dkk. Martir Nagasaki] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEMUA ORANG YANG MENYENTUH-NYA MENJADI SEMBUH

SEMUA ORANG YANG MENYENTUH-NYA MENJADI SEMBUH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Agata, Perawan Martir – Senin, 5 Februari 2018)

Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Lalu berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada. Kemana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mrk 6:53-56) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 8:1-7,9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:6-10 

Mukjizat penggandaan roti dan ikan (lihat Mrk 6:30-44) telah berhasil meningkatkan antusiasme orang banyak. Dari bacaan Injil kelihatan seakan-akan Yesus dan para murid-Nya bermain “petak-umpet” dengan orang banyak. Setelah peristiwa penggandaan roti, mereka mencoba “melarikan diri” (menyingkir) dari orang banyak, dengan menyeberangi danau, dari tepi yang satu ke tepi yang lain. Akan tetapi, seperti biasanya setiap kali Yesus dan para murid keluar dari perahu orang banyak mengenali mereka dan harus dilayani. Istirahat soal belakangan, menjadi nomor dua!

Kemana pun Yesus pergi, Dia dihadapkan dengan orang-orang sakit yang memerlukan penyembuhan. Yesus melayani mereka dan mereka pun disembuhkan. Pada zaman modern ini, perawatan dan penyembuhan orang sakit (fisik dan psikis) tergantung pada profesi medis. Namun semua peradaban kuno memberikan suatu arti religius pada sakit-penyakit dan penyembuhan.

Pada zaman modern ini, terutama di kota-kota besar, reaksi pertama orang yang terkena penyakit adalah pergi menemui dokter atau tabib. Tidak demikian halnya pada zaman Yesus. Untuk dapat disembuhkan dari penyakit yang dideritanya, seseorang harus mohon pertolongan Allah. Dengan demikian apakah “Yang Ilahi” tidak terlibat dalam proses penyembuhan modern? Tentu saja tetap terlibat, karena perawatan dan penyembuhan penyakit tetap merupakan “karunia dari Allah”, akan tetapi yang disalurkan melalui tangan-tangan, intelek dan hati manusia. Dengan demikian pelayanan para dokter, perawat dan petugas medis lainnya adalah profesi mulia dan indah ……… guna melayani umat manusia.

Sakit-penyakit dan penderitaan yang menyertainya membuat orang-orang tidak merasa aman. Hal ini melambangkan kerentanan kondisi manusiawi kita, yang begitu terbuka terhadap bahaya yang dapat datang secara tiba-tiba tanpa disangka-sangka. Sakit-penyakit mengkontradiksikan hasrat kita untuk memiliki kekuatan fisik yang kita semua nikmati. Maka sakit-penyakit tetap mempunyai arti religius – bahkan bagi orang-orang modern sekali pun.

Rasa tidak aman yang bersifat radikal tidak dapat disembuhkan oleh para dokter. Hanya Yesus sendirilah yang dapat menyembuhkan “penyakit” seperti itu ……… melalui iman, selagi kita menantikan penyembuhan terakhir di luar dunia yang kita tempati sekarang.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah dokter agung umat manusia. Berkatilah mereka yang melayani sesama di bidang medis, seperti para dokter, perawat, para-medik, dan lain-lainnya. Murnikanlah motif mereka dalam melaksanakan tugas pelayanan mereka itu, sehingga pelayanan mereka demi kesejahteraan masyarakat menjadi optimal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:53-56), bacalah tulisan yang berjudul “SANG TABIB AGUNG” (bacaan tanggal 5-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-2-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DATANG UNTUK MEMBAWA RESTORASI LENGKAP KEPADA UMAT MANUSIA

YESUS DATANG UNTUK MEMBAWA RESTORASI LENGKAP KEPADA UMAT MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA V [Tahun B],  4 Februari 2018)

Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: Ayb 7:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-6; Bacaan Kedua: 1Kor 9:16-19,22-23

Apakah anda pernah sejenak memikirkan cara indah yang digunakan oleh Allah ketika kita diciptakan? Manakala kita sedang menderita dalam salah satu aspek kehidupan kita – apakah aspek spiritual, psikologis, atau fisik – maka segala hal lainnya akan menjadi tidak seimbang. Pikirkanlah, bagaimana orang-orang yang menderita dari relasi yang terluka cenderung untuk menjadi lebih rentan terhadap sakit-penyakit.  Bayangkanlah betapa berbinar-binarnya wajah pengantin perempuan yang masih muda pada hari pernikahannya. Apabila kita mempertimbangkan hal-hal seperti itu, maka kita tidaklah salah apabila mengatakan betapa kompleksnya manusia itu!

Sekarang, bayangkanlah ibu mertua Simon Petrus yang sedang berbaring di tempat tidurnya karena menderita sakit demam. Pikiran-pikiran apa saja yang kiranya berkecamuk dalam kepalanya? Kenyataan bahwa seorang rabi dari Nazaret yang populer datang mengunjunginya di tempat kediamannya, dan dia tidak mampu untuk menyapa atau melayani-Nya? Tentunya ada frustrasi dalam dirinya karena dia tidak mampu bergabung dengan orang banyak untuk mendengarkan khotbah-Nya! Apakah dia merasa cemas karena sakit demamnya itu? Namun dengan sebuah perintah sederhana dari Yesus, perempuan ini pun disembuhkan. Sakit demamnya hilang lenyap seketika dan dia menerima rahmat untuk tidak merasa susah dan memberikan dirinya untuk melayani.

Dari sejak awal Yesus menunjukkan bahwa Dia datang ke tengah-tengah dunia untuk membawa suatu keselamatan yang penuh – “penyembuhan” dalam artiannya yang paling kompleks. Ia tidak hanya muncul satu hari, wafat di kayu salib, dan pulang ke surga. Selama tiga tahun Ia berkeliling mengajar dan berkhotbah. Berjam-jam lamanya setiap hari Ia memulihkan orang-orang sakit kembali menjadi seimbang secara fisik, mencelikkan mata orang buta, menyembuhkan orang lumpuh, membuat orang bisu mampu berbicara, mengusir roh-roh jahat, memberikan pengharapan kepada mereka yang dilanda rasa khawatir, dlsb. Yesus sungguh datang untuk membawa suatu restorasi yang lengkap kepada umat manusia, hal mana dimulai sekarang di dunia dan akan digenapi apabila kita bersatu dengan Dia pada akhir zaman.

Apakah anda sungguh percaya bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan anda? Apakah anda percaya bahwa Dia dapat menyembuhkan memori-memori yang terluka, memulihkan relasi yang telah pecah, dan membuang sakit-penyakit fisik? Kalau sungguh percaya datanglah menghadap-Nya dalam iman. Percayalah bahwa Dia baik. Iman seperti ini dapat memindahkan penghalang sebesar gunung. Iman seperti ini dapat membuat kita berakar dalam kasih Kristus, apakah kita sudah sepenuhnya disembuhkan atau belum, kita akan tetap memiliki damai-sejahtera karena kita tahu bahwa pada akhirnya kita akan mengalami restorasi yang sungguh total-lengkap.

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh semua urusanku di dekat kaki-kaki-Mu dan percaya bahwa Engkau akan memperhatikan semua itu. Oleh Roh Kudus-Mu, ajarlah aku untuk sungguh memahami kepenuhan keselamatan yang telah Engkau rencanakan bagi diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Misa hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan dengan judul “KEHADIRAN YESUS MEMANIFESTASIKAN KUAT-KUASA, OTORITAS DAN KASIH-NYA SECARA MENAKJUBKAN” (bacaan tanggal 4-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02  BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 1 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MOHON DIBERIKAN TELINGA YANG MAU DAN MAMPU MENDENGARKAN SUARA YESUS

MOHON DIBERIKAN TELINGA YANG MAU DAN MAMPU MENDENGARKAN SUARA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Selasa, 30 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan, Ordo III (OFS) 

Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sementara Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia de depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya, “Anak perempuanku sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Sebab katanya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah berhentilah pendarahannya dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada saat itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berbalik di tengah orang banyak dan bertanya, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menyentuh Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan sujud di depan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang terjadi. Lalu kata-Nya kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!”

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah meninggal, untuk apa engkau masih menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan taku, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk Ia berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia.

Semua orang itu disuruh-Nya keluar, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu serta mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya, “Talita kum,” yang berarti, “Hai anak perempuan, aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. (Mrk 5:21-43) 

Bacaan Pertama: 2Sam 18:9-10,14b,24-25a,30-19:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6 

Bayangkanlah sejenak apa yang kiranya terjadi dalam pikiran si pemimpin sinagoga yang bernama Yairus itu, sebelum dia akhirnya menemui Yesus untuk memohon pertolongan-Nya. Sebagai seorang pemimpin sinagoga, posisinya cukup penting dalam komunitas lokal Yahudi. Mungkin dia telah sekian lama bergumul dengan pemikiran-pemikiran seperti berikut: “Seseorang dengan posisiku tidak dapat meminta-minta pertolongan kepada seorang tukang kayu dari Nazaret yang sekarang menjadi pengkhotbah keliling! Bukankah aku harus ja-im (jaga image)?” Bagaimana dengan perempuan yang menderita pendarahan? Setelah 12 tahun lamanya menderita penyakit, bagaimana kiranya dia harus mengatasi ketiadaan harapan dan rasa takut sebelum “meneroboskan” dirinya  melalui orang banyak yang berdesak-desakan di sekeliling Yesus yang sedang berjalan menuju rumah Yairus, kemudian mengambil kesempatan yang ada untuk menyentuh jubah Yesus?

Apa pun tantangan-tantangan yang mereka hadapi, baik Yairus maupun perempuan yang menderita pendarahan itu telah memilih untuk percaya kepada Yesus dengan membuat langkah iman yang berani. Karena mereka percaya pada sesuatu yang belum mereka lihat (lihat Ibr 11:1), maka mereka pun menerima ganjarannya: Yairus melihat anak perempuannya dibangkitkan dari kematian oleh Yesus, dan perempuan yang menderita pendarahan itu pun secara instan disembuhkan dan disuruh pergi dengan iringan berkat dari Putera Allah sendiri! Sungguh indah semuanya ini!

Kedua pribadi manusia ini, Yairus dan perempuan yang menderita pendarahan, memberikan kepada kita dua contoh dari iman yang diminta oleh Yesus untuk kita tumbuh-kembangkan dalam diri kita masing-masing. Bukankah kita semua telah mengalami situasi-situasi di mana sebelumnya kita begitu merasa ragu-ragu atau takut mengambil tindakan karena hal itu berarti mengambil risiko? Barangkali kita memang belum siap untuk melangkah keluar dari “zona kenyamanan” (comfort zone) kita. Barangkali kita merasa khawatir apa yang ada dalam pikiran orang-orang tentang diri kita. Barangkali kita takut gagal. Bagaimana dengan menawarkan diri untuk mendoakan doa kesembuhan untuk seorang tetangga yang sedang sakit? Apakah kita akan melakukannya bila kita menyadari bahwa Yesus lah yang meminta kita untuk melakukannya? Dari waktu ke waktu Yesus memberikan inspirasi kepada kita lewat sentuhan-sentuhan-Nya pada hati kita masing-masing! Apabila kita membuat langkah-iman sambil menghadapi risiko yang ada, maka kita sering menemukan bahwa orang-orang menerima pencurahan cintakasih Tuhan lewat diri kita ini dengan gembira dan terbuka. Apabila kita memperkenankan Roh Kudus bekerja dalam diri kita, maka kita akan menyaksikan bahwa  Allah menyentuh orang-orang lain melalui doa-doa kita dan kesaksian hidup kita dalam Yesus.

Hari ini, perkenankanlah Yesus mengetahui bahwa Saudari-Saudara sedang mencari inspirasi apa yang dikehendaki-Nya untuk diberikan kepada anda. Katakanlah kepada Tuhan Yesus  bahwa anda sungguh ingin mengatasi rasa takut dan ragu-ragu yang selama ini menekan diri anda, dan sungguh mau bertindak mengatasinya. Mohonlah rahmat untuk melangkah dalam iman sebagaimana ditunjukkan oleh-Nya. Ketuklah, maka pintu pun akan dibuka untuk anda – pintu yang akan memimpin anda ke dalam iman yang lebih mendalam dan intim dengan Yesus, supaya menjadi berkat bagi orang-orang lain juga.

DOA: Tuhan Yesus, berbicaralah kepada hatiku pada hari ini. Berikanlah kepadaku telinga yang mau dan mampu mendengarkan suara-Mu dan mengenali arahan dari-Mu. Tolonglah aku agar bertumbuh dalam iman yang aktif, penuh keyakinan, dan berani mengambil risiko. Aku menaruh kepercayaan pada kebaikan dan belas kasihan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:21-43), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN TAKUT, PERCAYA SAJA” (bacaan tanggal 30-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Januari 2017 [HARI MINGGU BIASA IV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS