Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 13 April 2018)

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banhyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Ada yang mengatakan, bahwa makan sambil berdiri atau berjalan kian kemari dapat menyebabkan gangguan dalam pencernaan. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk menyuruh orang banyak duduk. Memang demikianlah halnya: tubuh kita harus dalam keadaan duduk dan rileks agar makanan yang masuk dapat dicerna dengan baik. Hal yang sama berlaku untuk pencernaan secara rohaniah (spiritual). Kita harus rileks dan tidak sibuk kesana kemari agar supaya Yesus dapat memberi makanan kepada roh kita. Kita dapat menderita sakit pencernaan spiritual apabila kita hanya berdoa sementara disibukkan dengan pekerjaan kita. Boleh saja kita mengatakan “karyaku adalah doaku”, tetapi doa dalam keheningan di tengah quality time kita harus tetap dilakukan. Mengapa? Karena pengalaman banyak orang mengatakan bahwa betapa sulit jadinya untuk mendengar suara Allah dan beristirahat dalam kasih-Nya apabila setiap saat dari hari-hari kehidupan kita hanya dipenuhi dengan kesibukan.

Orang banyak yang diberi makanan oleh Yesus mengikuti Dia ke atas gunung karena mereka lapar akan jawaban-jawaban Yesus – akan pengharapan, tujuan, dan perjumpaan pribadi dengan kasih Allah. Mereka mempunyai banyak kebutuhan: Ada yang sakit, ada juga yang sedang tertindas. Bagi orang-orang lain, untuk survive dari hari ke hari saja sudah sulit. Akan tetapi, Yesus melihat dan merasakan kebutuhan-kebutuhan mereka semua dan menjawabnya satu persatu pada setiap tingkat. Ia minta agar para murid-Nya menyuruh orang banyak untuk duduk dan beristirahat, sehingga dengan demikian Ia dapat memberi mereka makan. Ia memberi orang banyak itu makan untuk memperkuat mereka dalam perjalanan pulang mereka ke rumah masing-masing. Ia mewartakan kabar baik dari Kerajaan Allah kepada orang banyak itu. Ia bahkan menyembuhkan mereka di bidang fisik, spiritual dan emosional.

Lebih dari dua ribu tahun kemudian, di abad ke-21 ini, kehidupan kita masih banyak menuntut. Penderitaan masih hadir di sekeliling kita dalam berbagai bentuknya. Setiap orang menghadapi berbagai kebutuhan dan tekanan yang harus diatasi. Memang tidak sulit untuk merasakan  bagaimana pikiran kita bergerak dengan cepat, bahkan ketika kita mencoba untuk diam dan berdoa secara hening. Yesus tetap meminta kita untuk duduk, membuat tenang pikiran kita dan menerima dari Dia.

Satu cara yang dapat menolong kita dalam berdoa adalah dengan menggunakan imajinasi. Kita dapat membayangkan berada bersama Yesus, para rasul dan orang banyak di atas gunung itu. Kita dapat membayangkan sedang memperhatikan Yesus yang memandang ke surga selagi Dia memohon kepada Bapa-Nya di surga untuk memberkati lima roti jelai dan dua ekor ikan yang tersedia. Kemudian kita membayangkan didatangi oleh salah seorang rasul yang menawarkan roti dan ikan sesuai dengan keinginan kita. Sekarang, marilah kita mohon agar Yesus memenuhi diri kita dengan damai sejahtera dan sukacita sementara Dia berjanji untuk menolong kita agar setiap kebutuhan kita dipenuhi.

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan kepada-Mu segala keprihatinan yang ada dalam pikiranku sekarang. Tolonglah aku agar dapat membuat tenang hatiku sehingga aku pun dapat duduk di dekat kaki-Mu dan ikut ambil bagian dalam perjamuan-Mu sepanjang hidupku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA” (bacaan tanggal 13-4-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 8 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

KUASA ILAHI DAN OTORITAS YESUS UNTUK MELAKUKAN KEHENDAK BAPA SURGAI

KUASA ILAHI DAN OTORITAS YESUS UNTUK MELAKUKAN KEHENDAK BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Rabu, 14 Maret 2018)

Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Sebab itu, para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Lalu Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Allah sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia.

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.

Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yoh 5:17-30) 

Bacaan Pertama: Yes 49:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9,13-14,17-18

Ketika Yesus mempermaklumkan, “Bapa-ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga”  (Yoh 5:17), maka sebenarnya Dia membuktikan kuasa ilahi-Nya dan otoritas-Nya untuk melakukan kehendak Bapa surgawi. Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24). Kita dapat mengklaim posisi istimewa ini sebagai milik kita juga selagi mengingat relasi kita dengan Yesus. Melalui iman dalam Yesus, kita telah dibawa dari kematian ke kehidupan. Dosa-dosa kita dihapus, dan kita disatukan lagi dengan Allah Bapa.

“Pindah dari dalam maut ke dalam hidup” berarti bahwa kita tidak lagi menjadi warga dunia di bawah otoritas Iblis. Melalui baptisan ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus, kita telah mati terhadap dunia dan menjadi warga Kerajaan Allah. Sekarang kita hidup di bawah otoritas Yesus, Raja segala ciptaan. Kita ikut ambil bagian dalam kemuliaan surgawi dengan para malaikat dan orang kudus. Kita adalah anak-anak Allah yang dipilih dan ditebus.

Sebagai anak-anak Allah, kehidupan kita diberdayakan oleh Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Setiap hari, Roh Kudus ingin menyatakan hidup baru ini kepada kita secara lebih mendalam sementara kita mengalami damai-sejahtera, sukacita, pengharapan, dan kasih yang mengalir dari relasi pribadi kita dengan Allah. Yesus telah melakukan segalanya yang diperlukan guna memampukan kita menerima hidup baru dalam Dia. Sekarang Ia memanggil kita untuk menanggapi Allah dengan cara-cara yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita. Kita dapat memberi tanggapan secara kontinu melalui doa-doa harian kita dan pembacaan Kitab Suci, dengan menghadiri perayaan Ekaristi, dan dalam memberikan diri kita sendiri lewat pelayanan kepada orang-orang lain.

Kita juga bertumbuh dalam hidup baru secara istimewa melalui Sakramen Rekonsiliasi. Allah ingin agar kita memandang “Pengakuan Dosa” lebih daripada sekadar menyebutkan satu-persatu dosa-dosa kita dan suatu harapan agar dosa-dosa itu diampuni. Selagi kita meninggalkan kedosaan kita, Allah “berdiri” menantikan kita membuka hati kita untuk menerima Yesus secara lebih penuh, untuk memohon kepada-Nya agar mencurahkan hidup dan kasih-Nya kepada kita secara lebih mendalam lagi. Sakramen Rekonsiliasi sungguh dapat mengubah diri kita dengan indahnya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau memperkenankan kami menglami hidup baru yang telah dimenangkan Yesus Kristus bagi kami. Semoga kami dapat terus mengakui bahwa Engkau mengasihi kami dan mempunyai sebuah rencana sempurna bagi kami masing-masing, yaitu sebuah rencana yang mencakup kepenuhan hidup ilahi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:17-30), bacalah tulisan yang berjudul “DALAM KEHARMONISAN LENGKAP DENGAN BAPA-NYA” (bacaan tanggal 29-3-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG ITU MENCERITAKAN KEPADA PARA PEMUKA YAHUDI BAHWA YESUSLAH YANG TELAH MENYEMBUHKAN DIRINYA

ORANG ITU MENCERITAKAN KEPADA PARA PEMUKA YAHUDI BAHWA YESUSLAH YANG TELAH MENYEMBUHKAN DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Selasa, 13 Maret 2018)

Ordo Fratrum Minorum (OFM): Peringatan B. Ludovikus dr Casoria, Imam

Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. [Mereka menantikan guncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan mengguncangkan air itu; siapa saja yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah guncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.] Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat itu berbaring di situ dan karena Ia tahu bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya, “Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika airnya mulai terguncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu orang lain sudah turun mendahului aku.” Kata Yesus kepadanya, “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan.

Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu, para pemuka Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu, “Hari ini hari Sabat dan engkau tidak boleh mengangkat tikarmu.” Akan tetapi, ia menjawab mereka, “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Mereka bertanya kepadanya, “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah?’ Tetapi orang yang baru disembuhkan itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya, “Ingat, engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya jangan terjadi yang lebih buruk lagi padamu.” Orang itu keluar, lalu menceritakan kepada para pemuka Yahudi bahwa Yesus-lah yang telah menyembuhkan dia. Karena itu, para pemuka Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat. (Yoh 5:1-3a,5-16) 

Catatan: Dalam bacaan ini, ayat Yoh 3b-4 dimasukkan juga) 

Bacaan Pertama: Yeh 47:1-9,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9 

Bayangkan sudah sudah hampir 4 (empat) dasawarsa lamanya orang ini menderita sakit lumpuh. Dan menurut ceritanya sendiri kepada Yesus, di Betesda (Bethzatha) itu jelas kelihatan tidak ada yang membantunya untuk turun ke kolam pada saat yang penting untuk penyembuhan dirinya. Ia memiliki hasrat yang besar untuk disembuhkan, namun tidak pernah masuk ke kolam itu. Sungguh merupakan suatu situasi yang penuh tekanan baginya, namun ia tidak pernah kehilangan pengharapan.

Kitab Suci mengatakan, “Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?” (Rm 10:13-14). Orang lumpuh di Betesda tidak akan dapat disembuhkan kalau tidak ada orang yang menolongnya. Demikian pula orang lumpuh di Kapernaum tidak akan mengalami penyembuhan kalau tidak ada 4 (empat) orang yang dalam iman mau bersusah-payah menggotongnya lewat atap rumah untuk sampai kepada Yesus (lihat Mrk 2:1-12). Nah, demikian pula tidak akan ada orang yang mengenal Yesus kalau tidak ada murid Yesus yang sharing Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus kepada orang itu.

Memang pertobatan adalah karya Allah, namun tergantung pada kita untuk membawa orang-orang lain kepada Yesus – sang Pemberi  air hidup – (lihat Yoh 4:1 dsj.) sehingga mereka dapat mengalami karunia pertobatan. Kesaksian kita bersifat dua lapis: suatu kesaksian hidup dan kesaksian  kata-kata. Santa Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata: “Jadilah Yesus, bagikanlah Yesus.” Santo Fransiskus dari Assisi juga berkata: “Beritakanlah Injil setiap saat. Gunakan kata-kata kalau diperlukan.” Hal ini berarti bahwa dalam penghayatan sehari-hari hidup Kristus dalam diri kita-lah, maka kita menjadi saksi-saksi bagi orang-orang di sekeliling kita.

Yesus bersabda: “Kamu adalah garam dunia. …… Kamu adalah terang dunia. …” (Mat 5:13-14), namun semuanya tentulah dalam takaran yang pas dan pada waktu yang pas pula. Garam yang terlalu sedikit membuat orang menjadi haus, tetapi kebanyakan garam akan membuat orang jatuh sakit. Terang yang pas akan membawa kehangatan, namun terang yang berkelebihan malah dapat membakar dan membutakan mata. Demikian pula halnya dengan evangelisasi.

Evangelisasi dimaksudkan untuk mewartakan kebenaran dengan cara yang menarik dan memikat, bebas dari tekanan atau superioritas moral. Seorang pewarta harus membuang jauh-jauh kesombongan rohani dari dirinya. Dalam evangelisasi ini kita mengundang orang-orang untuk berbagi pengalaman kita sendiri yang dibersihkan dan disegarkan kembali oleh Allah. Dan satu-satunya cara untuk melakukan hal ini adalah menjaga diri kita agar tetap “tenggelam” dalam air rahmat-Nya dan kuasa penyembuhan-Nya. Kemudian kita pun dapat mengatakan kepada orang-orang lain: “Masuklah ke dalam air ini juga, air ini terasa nyaman”.

DOA: Tuhan Yesus, bawalah setiap orang ke dalam sungai kehidupan-Mu, teristimewa mereka yang haus cintakasih, lapar akan kebenaran, dan yang dilumpuhkan oleh ketidakpercayaan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, jadikanlah kami semua saksi-saksi yang berbuah, dalam hidup dan kata-kata. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:1-16), bacalah tulisan yang berjudul “AIR YANG MEMBAWA KEHIDUPAN DAN KESEMBUHAN” (bacaan tanggal 13-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Maret 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH IV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS BERSABDA: PERGILAH, ANAKMU HIDUP !

YESUS BERSABDA: PERGILAH, ANAKMU HIDUP !

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Senin, 12 Maret 2018)

Setelah dua hari Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu.

Kemudian Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anak laki-lakinya sedang sakit. Ketika ia mendengar bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Kata Yesus kepadanya, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya, “Tuan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya kepada perkataan yanag dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar bahwa anaknya hidup. Karena itu, bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka, “Kemarin siang pukul satu  demamnya hilang.” Ayah itupun teringat bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya, “Anakmu hidup.” Lalu ia dan seluruh keluarganya percaya.

Itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea. (Yoh 4:43-54) 

Bacaan Pertama: Yes 65:17-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2-6, 11-13 

Tempatkanlah diri kita masing-masing sekarang sebagai sang pegawai istana dari Kapernaum itu – seorang ayah yang anak laki-lakinya sudah berada di ambang kematian. Dalam keadaan hampir berputus-asa, dia mencari pembuat mukjizat dari Nazaret yang telah begitu sering didengarnya dari cerita orang-orang. Barangkali Yesus mau menyembuhkan anaknya juga, pikirnya. Untunglah dia bukan seseorang yang suka “ja-im”. Maka, tanpa mempertimbangkan status sosialnya yang biasanya menyebabkan dia diperlakukan secara istimewa, pegawai istana itu menghampiri Yesus dengan rendah hati, seperti orang lainnya yang penuh kebingungan dan hampir berputus asa.

Untuk sesaat, Yesus kelihatannya menguji ketetapan hati sang pegawai istani (lihat Yoh 4:48), namun orang itu bersiteguh dan memohon dengan sangat agar Yesus sudi mengunjungi rumahnya. Lalu terjadilah sesuatu yang sangat penting. Yesus berjanji bahwa si anak akan disembuhkan: “Pergilah, anakmu hidup!” (Yoh 4:50). Sang pegawai istana percaya kepada perkataan Yesus, lalu pergi (lihat Yoh 45:50). Tidak lagi diperlukan kunjungan ke rumahnya, tidak diperlukan lagi jaminan lebih lanjut. Yesus telah bersabda!

Inilah iman! Seperti para pendahulu kita di zaman dahulu yang berkenan kepada Allah dan dipuji dalam “Surat kepada Orang Ibrani”, sang pegawai istana memiliki “dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1-2). Iman sejati seperti ini aktif dan berpengharapan, bukan berdasarkan asumsi buta bahwa bagaimana pun segalanya akan menjadi baik tanpa pertolongan Allah.

Dalam doa-doa hari ini, marilah kita masing-masing menyediakan waktu yang cukup untuk berbicara dengan Allah secara jujur tentang iman kita sendiri. Dia ingin mengajar kita bagaimana mempercayai kasih-Nya dan untuk percaya bahwa setiap hari, dalam setiap situasi, Dia selalu bersama kita. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Di manakah imanku? Percayakah aku bahwa Yesus adalah sebaik seperti Dia secara konsisten menunjukkan diri-Nya?

Di suatu saat kelak, ketika kita perlu membuat langkah dalam iman, marilah kita percaya sungguh-sungguh kepada sabda-Nya. Marilah kita datang kepada-Nya dengan penuh keyakinan sebagaimana telah dicontohkan oleh sang pegawai istana. Marilah kita percaya 100% akan janji-janji Yesus kepada kita, lalu kita nantikan mukjizat-mukjizat yang akan terjadi atas diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, ada area-area dalam kehidupanku yang kusembunyikan dari-Mu karena ketidakpercayaanku. Aku mengundang Engkau untuk memasuki area-area itu sekarang. Berikanlah kepadaku iman seperti yang dimiliki sang pegawai istana di Kapernaum dahulu, yang memohon dengan sangat suatu kesembuhan dan kemudian percaya kesembuhan telah terjadi pada waktu Engkau mengatkannya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 4:43-54), bacalah tulisan yang berjudul “BELAJAR UNTUK MENGGANTUNGKAN DIRI PADA JANJI-JANJI ALLAH YANG DIPENUHI MELALUI KRISTUS” (bacaan tanggal 12-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MUKJIZAT YESUS MEMANG ADA DAN TERJADI SETIAP HARI

MUKJIZAT YESUS MEMANG ADA DAN TERJADI SETIAP HARI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VI [Tahun B], 11 Februari 2018)

Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: Im 13:1-2,45-46; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5,11; Bacaan Kedua: 1Kor 10:31-11:1

Yesus menyentuh orang kusta itu dan ia pun sembuh! Atas perintah Yesus, “… jadilah engkau tahir”, maka orang kusta itu melihat sendiri perubahan yang terjadi dengan dirinya. Kulitnya yang mati dan yang membusuk menjadi segar kembali dan bersih. Luka-luka yang diiringi dengan rasa sakit menghilang. Bayangkanlah pengalaman emosional yang dialaminya pada saat-saat ketika syaraf-syaraf yang sudah begitu lama mati dipulihkan dan jari-jarinya mulai dapat merasakan lagi.

Mukjizat Yesus memang ada dan terjadi setiap hari di sekeliling kita, walaupun kita sering mengabaikannya karena kesibukan kita sehari-hari. Orang zaman modern seperti kita selalu saja mempunyai jawaban guna membenarkan abaian atau ketidakpercayaan kita, bukankah begitu? Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengungkapkan sebuah kebenaran yang tak terbantahkan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya”  (Ibr 13:8). Pernahkah kita membayangkan diri kita hadir dalam peristiwa-peristiwa mukjizat dan penyembuhan yang dilakukan Yesus sekitar 2.000 tahun lalu? Misalnya peristiwa orang lumpuh yang disembuhkan (Mrk 2:1-12); orang lumpuh yang disembuhkan di rumah ibadat pada hari Sabat (Mrk 3:1-6); Yesus membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan (Mrk 5:21-43); penyembuhan Bartimeus yang buta (Mrk 10:46-52); dll.

Atau, pernahkah kita memperkenankan puji-pujian Santo Paulus tentang kasih dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus untuk masuk ke dalam hati kita masing-masing? Lalu, pernahkah kita (anda dan saya) yang berdosa ini dikuasai semacam rasa kagum dan terkesima penuh syukur untuk beberapa saat lamanya, ketika membaca betapa baik Allah itu, seperti ditulis oleh sang pemazmur: “Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anaknya, demikian TUHAN (YHWH) sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu”  (Mzm 103:10-14). Dengan jujur kita harus mengakui bahwa kelakuan kita tidak jarang seperti seorang anak saja yang lari setelah terluka dilututnya karena terjatuh di atas bebatuan dan kemudian dirawat oleh orangtuanya. Anak itu menganggap rawatan penuh kasih orangtuanya itu memang seharusnya begitu … taken for granted! 

Sesungguhnya Allah ingin melihat kita menjadi takjub, terpesona, penuh kagum, setiap kali kita membaca sabda-Nya dalam Kitab Suci. Dia ingin kita datang kepada-Nya dengan ekspektasi untuk mengalami mukjizat – baik mukjizat kecil maupun besar – dalam kehidupan kita. Allah sungguh dapat mengubah kita dengan sabda-Nya yang penuh kuat-kuasa, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yesus atas orang kusta dalam bacaan Injil hari ini.

Saudari dan Saudaraku, dalam Misa Kudus hari ini kita (anda dan saya) pun harus penuh ekspektasi. Kita harus mengambil sikap baru sebagai seorang yang sepenuhnya percaya. Biarlah sikap itu mengubah cara kita memandang seluruh kehidupan kita. Baiklah kita menaruh iman-kepercayaan kita kepada Bapa surgawi, karena bagi-Nya tidak ada sesuatu pun yang mustahil!

DOA: Roh Kudus Allah, jangan biarkan diriku menjadi acuh tak acuh dengan berbagai mukjizat ilahi. Setiap kali aku membaca sabda Allah dalam Kitab Suci, bukalah mata dan telingaku bagi hidup baru bersama Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS TIDAK MEMBEDA-BEDAKAN SIAPA YANG BOLEH DIKASIHI DAN SIAPA YANG HARUS DITOLAK ” (bacaan tanggal 11-2-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  8 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA

HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Skolastika, Perawan – Sabtu, 10 Februari 2018)

Pada waktu itu ada lagi orang banyak jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta. (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Raj 12:26-32; 13:33-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7a,19-22 

Yesus dan para murid-Nya sudah berada di daerah orang non-Yahudi (kafir) untuk sekian lamanya. Di sana Dia mencurahkan perhatian-Nya pada orang-orang yang dipandang sebagai pendosa dan termarjinalisasikan oleh masyarakat. Kendati demikian, Yesus memperlakukan setiap orang dengan penuh kasih dan mengundang mereka semua agar memperoleh keselamatan. Kabar yang tersebar tentang bagaimana Yesus telah mengusir roh jahat dari puteri perempuan keturunan Siro-Fenisia (Mrk 7:24-30) dan penyembuhan seorang yang menderita gagap-tuli (Mrk 7:31-37) telah berhasil menarik orang-orang dalam jumlah yang banyak, untuk mengikuti Dia sampai ke tempat yang jauh dari keramaian kota di mana mereka dapat mendengar Dia mengajar. Sekarang sudah tiga hari lamanya orang banyak itu bersama Yesus, dan mereka sudah kehabisan makanan.

Dari sedikit roti dan ikan yang tersedia, Yesus memberi makan 4.000 orang yang boleh makan sampai kenyang. Orang-orang menjadi “hepi” dan ujung-ujungnya masih ada sisa sebanyak tujuh bakul. Sebelumnya Markus menarasikan cerita penggandaan makanan untuk 5.000 orang laki-laki (jadi totalnya tentu lebih banyak) yang terjadi di daerah orang Yahudi (lihat Mrk 6:34-44). Dengan menggambarkan pemberian makan kepada 4.000 orang di daerah orang “kafir”, Markus ingin mengatakan bahwa Yesus tidak hanya datang kepada orang-orang Yahudi, melainkan juga kepada orang-orang non-Yahudi. Markus ingin mengatakan, bahwa Yesus mengasihi semua orang, semua sama pentingnya bagi diri-Nya.  Laki-laki atau perempuan, rohaniwan atau awam, kaya atau miskin, sehat atau sakit – Yesus mengasihi kita dan sangat berhasrat untuk menyelamatkan kita. Kita semua penting di mata-Nya dan dari atas kayu salib Dia menumpahkan darah-Nya bagi kita masing-masing.

Cerita mukjizat penggandaan roti dan ikan ini oleh Markus dimaksudkan sebagai suatu penggambaran awal dari Ekaristi, Roti Kehidupan. Seperti apa yang dilakukan-Nya pada perjamuan akhir, di sini juga Yesus mengucap syukur, memecah-mecahkan  roti dan memberikannya kepada para pengikut-Nya (lihat Mrk 8:6; 14:22). Dalam Ekaristi, Yesus memberi makan kepada kita secara spiritual, memberikan diri-Nya kepada kita dan menyegarkan kita, seperti Dia menyegarkan orang banyak itu.

Yesus mengasihi kita masing-masing. Kita seharusnya tidak pernah boleh merasa “tidak penting” atau “tidak diinginkan” untuk hadir pada meja perjamuan-Nya. Kita semua berharga di mata-Nya dan Ia berhasrat untuk mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua secara berlimpah, memberi makan dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita. Kita tidak perlu merasa khawatir tentang posisi kita. Yang harus kita lakukan hanyalah dengan tulus membuka hati kita dan memperkenankan Dia masuk ke dalam hati kita. Dia pasti akan memuaskan hati yang paling haus dan lapar.

DOA: Tuhan Yesus, tariklah kami agar mendekat pada-Mu dan segarkanlah kami dengan makanan surgawi dari-Mu. Lipat-gandakanlah rahmat-Mu dalam diri kami semua sehingga kami diberdayakan untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang di sekeliling kami. Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA PUN MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 10-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  8 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG PRIBADI YANG PALING BERMURAH HATI YANG PERNAH HIDUP DI DUNIA

SEORANG PRIBADI YANG PALING BERMURAH HATI YANG PERNAH HIDUP DI DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Jumat, 9 Februari 2018)

Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37) 

Bacaan Pertama: 1Raj 11:29-32; 12:19; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:10-15 

Yesus adalah pribadi yang paling bermurah hati yang pernah hidup di dunia. Melihat TKP-nya yang berlokasi di Dekapolis, ada kemungkinan orang yang gagap-tuli itu adalah seorang non-Yahudi atau “kafir” di mata orang Yahudi. Posisi orang-orang seperti itu dipandang oleh kebanyakan orang Yahudi sebagai berada di luar perjanjian-perjanjian dan janji-janji Israel. Namun demikian, dengan sukarela dan bebas Yesus menunjukkan kasih Allah kepadanya … dengan menyembuhkannya. Karena Yesus begitu mengasihi Bapa-Nya, Dia mampu untuk mengasihi semua orang sepenuhnya. Yesus mengasihi mereka dengan menyediakan segenap waktu dan energi-Nya dengan tujuan agar Dia dapat membawa orang-orang lain untuk mengenal kasih Bapa, sama penuhnya seperti Dia sendiri mengalaminya. Inilah bagaimana perintah-perintah Yesus hendaknya kita hayati.

Santa Ibu Teresa dari Kalkuta adalah contoh modern dari seorang pribadi yang hatinya mencerminkan kasih dan kemurahan hati Yesus. Karena dia mengasihi Yesus, satu hasratnya adalah untuk menawarkan kasih-Nya kepada setiap orang. Kemana saja Ibu Teresa pergi, dia tidak pernah bertanya dan/atau mempermasalahkan apakah seseorang itu Kristiani atau bukan. Kasih Yesus begitu saja mengalir dari dirinya karena dia telah begitu mengosongkan diri dan memenuhi dirinya itu dengan Yesus. Hidup setiap orang yang disentuhnya diubah oleh kasih Yesus yang menyembuhkan dan menebus.

Kita semua dipanggil untuk bekerja bagi pertobatan orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus. Begitu banyak orang yang berada di luar  tembok-tembok gereja yang sesungguhnya lapar dan haus akan Allah. Telinga mereka juga dapat dibuka untuk mampu mendengar firman-Nya dan membuat tanggapan dalam kasih. Yesus  telah memberi amanat kepada  kita untuk pergi keluar atas nama-Nya dan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar – bahkan lebih besar daripada apa yang telah dilakukan-Nya (lihat Mrk 16:17-18). Dia adalah Imanuel yang selalu menyertai kita (lihat Mat 28:20) dan Dia ingin agar kita menjadi instrumen-instrumen kasih-Nya yang menyembuhkan dan membawa keselamatan.

Baiklah kita perkenankan Tuhan untuk menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang menyembuhkan agar dengan demikian kita dapat dengan bebas melayani-Nya. Hari ini juga anda dapat mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kesempatan-kesempatan kepada anda menyebarkan kasih Yesus kepada orang-orang lain. Barangkali seseorang di rumah/komunitas/persaudaraan anda sendiri atau rekan kerja anda di kantor/pabrik sungguh mempunyai kebutuhan. Apa pun kesempatan yang disediakan oleh Roh Kudus kepada anda, laksanakanlah tugas anda itu dengan penuh kasih, dan mohonlah kepada Allah agar anda dimampukan untuk membawa seseorang mengenal kasih dan kerahiman Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar aku dapat mendengar panggilan-Mu dengan jelas. Bukalah hatiku agar aku dapat menanggapi panggilan-Mu dalam iman, meletakkan hidupku demi mereka yang hilang-tersesat dan mereka yang dicampakkan oleh masyarakat. Dalam pelayananku kepada orang-orang lain, tolonglah aku agar dapat memproklamasikan keselamatan yang Kauberikan kepada orang-orang di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Raj 11:29-32; 12-19), bacalah tulisan yang berjudul “KETIDAKTAATAN SALOMO” (bacaan tanggal 9-2-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Februari 2018 [Peringatan/Pesta S. Koleta dr Corbie, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS