Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

ANAK DAUD ADALAH SEBUAH GELAR MESIANIS

ANAK DAUD ADALAH SEBUAH GELAR MESIANIS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ambrosius, Uskup Pujangga Gereja – Jumat, 7 Desember 2018)

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.”  Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?”  Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”  Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.”  Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31) 

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Di bagian lain dari Injil Matius dikisahkan bagaimana beberapa orang murid Yohanes Pembaptis datang menemui Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat 11:3). Yesus menjawab mereka, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat11:5). Itulah jawaban Yesus mengenai identitas-Nya. Mukjizat pencelikan mata  dua orang buta yang diceritakan dalam bacaan Injil kali ini merupakan satu dari serangkaian tanda yang mengarah kepada identitas Yesus sebagai Mesias.

Dua orang buta mendekat kepada Yesus dengan sebuah permintaan sederhana, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat 9:27). Dengan mata iman mereka mengenali Yesus sebagai bukan sekadar seorang rabi biasa, namun sebagai Mesias – seorang pewaris takhta Daud – Dia Yang Diurapi –  yang telah datang untuk menggenapi janji Allah kepada umat-Nya. Memang “Anak Daud” adalah sebuah gelar mesianis! “Anak Daud” sama artinya dengan “Dia yang akan datang, Dia yang dijanjikan para nabi”. Kebutaan fisik kedua orang itu tidak memampukan mereka untuk melihat Yesus, namun mereka percaya kepada-Nya. Mereka berseru-seru kepada Yesus karena mereka tahu Yesus dapat menganugerahkan kepada mereka sesuatu yang tak dapat ditolak – kesembuhan dan suatu hidup baru.

Sebelum melakukan mukjizat-Nya, Yesus masih bertanya, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” (Mat 9:28). Yesus menanyakan apakah kedua orang buta itu memiliki iman, karena Dia ingin memurnikan iman mereka. Dia membimbing mereka bergerak dari posisi “memikirkan diri sendiri” ke posisi “memusatkan pikiran pada pribadi Yesus”. Mukjizat yang akan dilakukan-Nya bukanlah sesuatu yang bersifat otomatis dan magic, melainkan membutuhkan iman. “Ya Tuhan, kami percaya” (Mat 9:28),  itulah jawaban mereka. Sebagai tanggapan terhadap iman mereka, Yesus menunjukkan kepada mereka  kedalaman cinta kasih Allah. Tidak saja Yesus menyembuhkan kebutaan fisik kedua orang itu, Dia juga memulihkan kebutaan spiritual mereka.  Dua orang buta itu menghargai apa yang telah dilakukan Yesus atas diri mereka. Dari bacaan Injil ini pun kita percaya bahwa dua orang buta yang disembuhkan itu, dengan dua mata yang terbuka lebar mengenali siapa Yesus sebenarnya, kemudian merangkul Dia sebagai Juruselamat mereka. Meskipun dengan tegas dilarang oleh Yesus, mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu ( Mat 9:31).

Nah, Yesus ingin sekali agar kita semua mendekat kepada-Nya dengan penuh kepercayaan seperti ditunjukkan oleh kedua orang buta yang disembuhkan-Nya itu, yaitu mohon belas kasihan dan rahmat-Nya. Apa yang dapat menahan atau menghalangi kita? Mungkin rasa masa bodoh, atau mungkin ketidak-percayaan kita, atau mungkin juga rasa tidak berarti. Ingatlah pesan Santo Paulus, bahwa tidak ada apa pun atau siapa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, bahkan maut sekali pun (Rm 8:31-39). Memang terkadang kita merasa tidak mempunyai cukup iman kepada Yesus yang mau menjawab seruan kita kepada-Nya.

Kita sering  kali merasa hampir putus-asa ketika berdoa kepada-Nya. Seakan-akan Dia tidak pernah mendengarkan doa-doa kita! Dalam situasi seperti ini, ingatlah akan sebuah kenyataan: Allah mengetahui dan mengenal kelemahan-kelemahan kita lebih daripada kita sendiri. Dia pun selalu siap memberikan rahmat yang kita perlukan untuk menanggapi firman-Nya dengan penuh rasa percaya dan ketaatan. Dia mau memberikan kepada kita jauh lebih banyak daripada yang kita mohonkan atau bayangkan.

Mata kita dibuka pada waktu kita dibaptis. Pada waktu itulah kepada kita diberikan “penglihatan” khusus yang dinamakan iman. Dengan mata iman, kita perlu mengamati dengan seksama segala hal yang dilakukan Yesus bagi diri kita. Melalui baptisan kita pun dibersihkan dari kekustaan dosa. Kita tidak lagi tuli terhadap Kabar Baik yang diberitakan kepada kita, artinya kita mampu mendengar sabda Allah. Kita telah dibangkitkan dari kematian dosa dan diberikan hidup baru dalam Kristus. Kita berjalan dengan gagah dalam terang Kristus. Apakah kita harus mencari pribadi lain selain Yesus? Tentu saja tidak! Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita! Semoga dalam masa Adven ini kita dapat semakin dekat lagi dengan Yesus, berpengharapan teguh bahwa Dia akan memenuhi semua janji-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami sangat bersyukur bahwa Engkau mendengarkan doa sederhana yang dipanjatkan dari hati yang tulus. Kami juga sangat terkesan atas kenyataan bahwa Engkau menghargai kebebasan pribadi kedua orang buta itu sebagai anak manusia: Engkau membangkitkan dan meningkatkan pengharapan, hasrat dan iman mereka, namun Engkau tidak memaksa… ; dan mukjizat pun terjadi menurut iman mereka. Tuhan, tingkatkanlah iman dalam diri kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 9:27-31],  bacalah  tulisan yang berjudul “JADILAH KEPADAMU MENURUT IMANMU” (bacaan tanggal 7-12-18) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Desember 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Rabu, 5 Desember 2018)

Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai Danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang buta, orang timpang, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Orang banyak itu pun takjub melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.”  Kata murid-murid-Nya kepada-Nya, “Bagaimana di tempat terpencil  ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?”  “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itui duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul penuh. (Mat 15:29-37) 

Bacaan Pertama: Yes 25:6-10a; Mazmur Tanggapan: 23:1-6 

Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah makan-minum. Kita praktis tidak dapat bertumbuh dan survive tanpa pangan. Beberapa tanda dari belarasa Yesus terlihat nyata dalam hal kebutuhan manusia akan makan-minum ini. Ketika Yesus melihat keadaan orang-orang yang mengikuti-Nya, Dia berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan” (Mat 15:32). Orang yang kelaparan tidak dapat diharapkan untuk dapat memikirkan apa-apa lagi, kecuali makanan yang dapat dimakannya dan minuman yang dapat diminumnya. [“The stomach cannot wait,” kata Bung Karno.] Ketika Putera Allah menjadi manusia seperti kita, Dia menerima semua aspek kehidupan kita-manusia, termasuk rasa lapar dan haus. Dalam bacaan Injil di atas, jelaslah bahwa Yesus tahu dari pengalaman-Nya sendiri sebagai seorang manusia, apa yang dirasakan orang banyak yang mengikuti-Nya itu. Dengan demikian tidaklah mengejutkan kalau dalam hal ini Yesus menanggapi kebutuhan mendesak orang banyak itu dengan membuat sebuah mukjizat bagi mereka. Yang seharusnya sangat membuat kita kagum adalah bahwa Yesus menanggapi rasa lapar dan haus spiritual kita dengan cara yang lebih besar dan agung daripada sebuah mukjizat. Pada waktu kita menghadap Dia dalam Perayaan Ekaristi, Yesus Kristus juga tidak mau kita pulang dengan rasa lapar. Dia mengenyangkan umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi dengan tubuh dan darah-Nya sendiri. Ekaristi adalah sebuah pemberian gratis yang sangat indah-mulia dari Sang Juruselamat dalam belarasa-Nya kepada kita, dan Dia memberikan itu setiap hari.

Satu hal lagi untuk direnungkan: setiap mukjizat yang dilakukan oleh Yesus merupakan sebuah tanda yang menunjuk kepada Kerajaan Allah, jadi jauh melampaui mukjizat itu sendiri. Setiap mukjizat menunjukkan bahwa Dia adalah Mesias yang dinubuatkan Yesaya: “Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka” (Yes 25:8). Dengan mempergandakan roti dan ikan, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Dia yang memuaskan mereka yang lapar dengan suatu perjamuan dengan masakan yang istimewa (lihat Yes 25:6). Itulah mengapa, ketika orang banyak mengenali tanda-tanda ini, mereka takjub dan tergerak untuk memuliakan Allah Israel (lihat Mat 15:31). Kita seharusnya ingat bahwa Yesus sama sekali bukanlah seorang pembuat mukjizat atau tukang sihir yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib untuk pamer atau mencari keuntungan diri sendiri. Jauh dari itu! Mukjizat-mukjizat Yesus menyatakan belas kasihan Bapa-Nya kepada siapa saja yang membutuhkan atau yang berada dalam kesulitan (lihat Mat 15:32). Yesus menyembuhkan orang sakit dan memberi makan kepada orang yang lapar karena Dia mengasihi mereka dan hati-Nya tergerak oleh situasi mereka. Dan, mereka yang mengalami kasih-Nya tergerak untuk berpaling kepada Allah. Sampai hari ini pun Yesus masih membuat mukjizat-mukjizat karena Dia mengasihi kita. Hasrat dan kerinduan Bapa untuk menarik kita semua kepada-Nya dan kuasa Roh Kudus yang terus-menerus mengalir melalui Yesus manakala Dia menjamah hidup kita dengan cara-cara yang ajaib. Selagi kita membuka hati kita bagi kasih Allah dan Roh-Nya, kita pun dapat melakukan hal-hal yang ajaib. Apa maksudnya? Artinya, kita pun dapat membawa orang-orang kepada Allah sendiri, yang akan memenuhi diri mereka dengan kasih dan kesembuhan yang mereka rindukan.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk segala mukjizat yang telah kualami dalam kehidupanku. Buatlah aku menjadi tanda kasih-Mu bagi orang-orang lain. Curahkanlah Roh-Mu ke dalam hatiku, dengan demikian melalui diriku banyak orang akan mengenal dan mengalami kuasa kesembuhan-Mu dan belas kasihan-Mu. Tuhan, aku juga sangat bersyukur karena sampai hari ini Engkau masih terus memberikan tubuh dan darah-Mu sendiri kepada kami dalam Ekaristi, sehingga dengan demikian kami tidak akan pernah kelaparan dan kehausan secara spiritual. Tuhan, bentuklah kami menjadi insan-ekaristik yang tidak hanya senang berkumpul di sekeliling altar-Mu di gedung gereja, tetapi juga di tengah-tengah masyarakat di mana kami tinggal. Buatlah kami mampu melihat diri-Mu di dalam diri siapa saja yang kami temui, baik umat Kristiani maupun saudari-saudara kami yang beriman-kepercayaan lain, teristimewa dalam masa Adven ini. Dimuliakanlah selalu nama-Mu Ya Yesus, Putera Allah yang hidup dan berkuasa bersama Bapa di surga dalam persekutuan Roh Kudus sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:29-37), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 5-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Desember 2018 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam – Pelindung Misi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN ORANG BUTA ITU TELAH MENYELAMATKAN DIRINYA

IMAN ORANG BUTA ITU TELAH MENYELAMATKAN DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Senin, 19 November 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Agnes dr Assisi, Perawan (Ordo II)

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43) 

Bacaan Pertama: Why 1:1-4; 2:1-5; Mazmur Tanggapan:  1:1-4,6

“Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Luk 18:42)

Begitu sering kita membaca, bahwa ketika Dia menyembuhkan seorang buta atau lumpuh, atau  yang menderita sakit-penyakit lainnya, Yesus mengatakan kepada orang itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” , misalnya kepada seorang dari sepuluh orang kusta yang disembuhkannya (Luk 17:19); kepada perempuan berdosa yang mengurapinya (Luk 7:50).

Iman memberikan kepada kita visi batiniah mendalam, yang lebih penting  daripada karunia kesembuhan itu sendiri, seperti membuat mata orang dapat melihat. Seorang yang memiliki iman memiliki mata terbuka yang dapat melihat jari-jari Allah bergerak menelusuri rencana hidupnya di dunia ini.

Dalam segala hal yang diamatinya, seorang insan beriman senantiasa memandang Allah dulu. Barangkali cara terbaik adalah menggambarkan dengan suatu kontras: seorang pribadi manusia yang mengikuti jalan Allah dan seorang baik, namun dari dunia ini – katakanlah bahwa dia adalah seorang yang percaya pada ilmu pengetahuan semata. Mengapa kita sampai membanding-bandingkan seperti itu. Karena ada kecenderungan di dunia modern untuk mencari kontradiksi-kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan Allah, seakan-akan Allah sang Mahapencipta bukanlah penguasa, sumber dan motor dari ilmu pengetahuan itu. Mereka tidak melihat bahwa ilmu pengetahuan pun sebenarnya adalah ciptaan Allah. Mereka berpandangan seakan-akan ilmu pengetahuan dapat menghalangi pancaran dari sumber pengetahuan yang jauh lebih tinggi.

Pada dasarnya  asumsi sedemikian dapat mengerucut pada pandangan bahwa benda-benda bukanlah pribadi-pribadi, maka kita tidak dapat mempunyai pribadi-pribadi; atau apabila kita menerima keberadaan pribadi-pribadi, maka kita tidak dapat percaya kepada benda-benda. Mengapa kita tidak mempunyai dua-duanya? Bukankah kita mempunyai bukti-bukti dari keberadaan pribadi-pribadi dan benda-benda? Apakah tidak mungkin bagi kita untuk mengenal baik ciptaan maupun sang Pencipta?

Bagaimana seorang ilmuwan memandang dunia ini? Ia mempelajari benda-benda dan hubungan antara benda-benda ini dan hukum yang mengatur hal-ikhwal benda-benda. Dunia kita memang terbuat dari benda-benda – unsur-unsur, kombinasi-kombinasi, dan hukum yang mengatur semua itu.

Di lain pihak seorang pendoa, yang melihat dunia yang sama, mencari seorang Pribadi: Orang itu mempelajari tindakan pribadi, tujuan, rencana dengan mana Pribadi termaksud menggerakkan dunia.

Mengapa hal-hal ini harus menjadi kontradiktif? Para ilmuwan mencari hukum, sedangkan seorang beriman berbicara dengan sang Pembuat Hukum itu. Sang ilmuwan mengejar pengetahuan: ia menyelidiki hal-hal yang dapat diamati, ia membuat klasifikasi atas benda-benda yang diselidiki, lalu mencari penyebab sekunder dari semua itu.

Seorang pendoa mencari suatu relasi pribadi, dia menanggapi sang Pribadi yang telah memberikan hukum-hukum dan sebab-sebab dari makna hukum-hukum itu. Dia juga mencari pengetahuan, namun demi Kasih. Inilah pribadi manusia yang dipuji oleh Yesus ketika mengatakan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau!” Kita juga kiranya dapat mendengar seakan Yesus berkata: “Engkau telah melangkah melampaui benda-benda, sehingga sampai kepada suatu rasa percaya pada diri sang Pribadi yang sebenarnya adalah sumber dari segala sesuatu yang baik. Dan rasa percayamu, imanmu, kasihmu telah bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam hidupmu.” 

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami datang menghadap hadirat-Mu seperti orang buta di dekat Yerikho, tanpa rasa ragu dan tanpa rasa takut. Bukalah mata hati kami sehingga dengan demikian kami dapat memandang diri-Mu dalam segala kemurnian, kasih, dan kesetiaan. Yesus, Putra Daud, kasihanilah kami! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEORANG BUTA DI DEKAT KOTA YERIKHO” (bacaan tanggal 19-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  15 November 2018 [Pesta Wafatnya B. Marie de la Passion, Pendiri FMM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DARI SEPULUH ORANG YANG DISEMBUHKAN YESUS HANYA SEORANG SAJA YANG BERTERIMA KASIH KEPADA-NYA

DARI SEPULUH ORANG YANG DISEMBUHKAN YESUS HANYA SEORANG SAJA YANG BERTERIMA KASIH KEPADA-NYA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 14 November 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19) 

Bacaan Pertama: Tit 3:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem … Kita tidak pernah boleh melupakan konteks ini. Yesus sedang berada dalam perjalanan-Nya yang terakhir … ke Yerusalem, di mana para nabi telah dibunuh: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!” (Luk 13:34). Sebelumnya Dia juga mengatakan: “… tidak semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem” (Luk 13:33). Jalan Yesus adalah jalan salib, dan jalan salib ini sudah dimulai sekitar 2.000 tahun lalu. Yesus melakukan perjalanan ke Yerusalem itu secara bebas, penuh kesadaran, dengan sukarela … meskipun Ia tahu apa yang menunggu-Nya di sana.

Ketika rombongan Yesus memasuki sebuah desa, datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Apa yang dikatakan oleh Hukum Taurat dalam hal orang kusta? “Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya (Im 13:45-46). Sebagai poorest of the poor, biasanya mereka menghormati Hukum. Oleh karena itu mereka berseru-seru dari kejauhan: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Seruan ini adalah ungkapan doa seorang yang sungguh miskin. Kita sendiri selalu mengucapkannya dalam awal Misa; “Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.” Janganlah takut dinilai bodoh kalau kita menyerukan doa sederhana ini.

Dalam Kitab Suci, penyakit kusta seringkali merupakan sebuah simbol dosa – kejahatan yang merusak manusia. Bayangkanlah apa arti dosa di mata Allah. Allah membenci dosa, … namun Dia tidak membenci para pendosa. Maka ketika Yesus melihat kesepuluh orang kusta itu, Dia berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Perintah Yesus ini pun sesuai Hukum yang berlaku: “Inilah yang harus menjadi hukum tentang orang yang sakit kusta pada hari pentahirannya: ia harus dibawa kepada imam , dan imam harus pergi ke luar perkemahan; kalau menurut pemeriksaan imam penyakit kusta itu telah sembuh dari padanya, maka imam harus memerintahkan, supaya bagi orang yang akan ditahirkan itu diambil dua ekor burung yang hidup dan yang tidak haram, juga kayu aras, kain kirmizi dan hisop …” (Im 14:2-4; lengkapnya Im 14:1-32). Di tengah jalan mereka disembuhkan.

Mukjizat kesembuhan yang menyangkut sepuluh orang kusta ini menggambarkan bagaimana Yesus ingin menyembuhkan kita semua, baik secara spritual maupun fisik. Kesepuluh orang kusta itu disembuhkan, namun hanya hanya ada seorang yang kembali kepada Dia yang telah menyembuhkannya sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya (Luk 17:15-16). Satu orang saja yang kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, tanpa rasa malu sedikit pun, karena dia menyadari bahwa ini adalah kesembuhan ilahi. Kalau kita membaca apa yang dikatakan Yesus selanjutnya, maka kita dapat mengatakan bahwa hanya yang satu inilah yang menerima kesembuhan yang lebih mendalam – dalam hatinya (Luk 17:19).

Orang yang satu ini menunjukkan satu sikap hakiki dari seseorang yang diselamatkan: mengucap syukur kepada Allah! Sikap ini juga diminta dari setiap orang yang mengambil bagian dalam Ekaristi (Yunani: Eucharistia) yang artinya adalah pengucapan syukur.  Oleh karena itu marilah kita semua datang ke perayaan Ekaristi dengan hati yang penuh sukacita, penuh kegembiraan sejati karena sangat sadar akan karya-karya Allah yang agung di tengah-tengah umat manusia, di tengah-tengah kita. Sikap penuh syukur memang harus ada dalam hidup sehari-hari seorang Kristiani. Ada sebuah buku bagus dalam rak buku saya dengan judul 10,000 THINGS TO PRAISE GOD FOR. Dalam buku itu dipaparkan contoh contoh mengenai hal-hal untuk mana kita patut mengucap syukur kepada Allah, dari hal-hal yang besar sampai hal-hal yang biasanya kita anggap memang harus begitu, taken for granted, yang terasa tidak ada “istimewa-nya”. Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan dalam perikop ini. Orang yang tahu berterima kasih itu adalah seorang Samaria, mereka yang nista di mata orang Yahudi, tidak murni, tidak asli, non-pribumi! Terima kasih Bapa surgawi, Engkau adalah Khalik langit dan bumi. Dan, Engkau adalah Allah yang sejati karena tidak membatasi bangsa mana yang akan Kauselamatkan.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk dapat mengakui berkat-berkat-Mu atas diriku dan orang-orang lain. Tolonglah aku agar mampu dengan penuh sukacita mensyukuri segala rahmat yang kuterima dari-Mu. Ingatkanlah aku agar setiap malam dapat merenungkan hari yang baru kulalui dan melihat karya-karya tangan-Mu atas diriku pada hari itu, dengan demikian membuat aku dengan penuh sukacita mengucap syukur kepada-Mu seperti orang kusta yang Kausembuhkan dalam perjalanan ke Yerusalem dulu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-19), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANAKAH DENGAN SEMBILAN ORANG YANG DISEMBUHKAN ITU?” (bacaan tanggal 15-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2018 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMANGAT UNTUK MEMUJI DAN MEMULIAKAN ALLAH

SEMANGAT UNTUK MEMUJI DAN MEMULIAKAN ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Senin, 29 Oktober 2018)

Pada suatu kali Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri tegak lagi. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya, “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga tegaklah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak. “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.”  Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Perempuan ini keturunan Abraham dan sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis; bukankah ia harus dilepaskan dari ikatannya itu?”  Waktu ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perbuatan mulia yang telah dilakukan-Nya. (Luk 13:10-17) 

Bacaan Pertama: Ef 4:32-5:8; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6 

Melalui bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengatakan kepada kita bahwa semangat untuk memuji dan memuliakan Allah tidak boleh dilumpuhkan, melainkan harus didorong dan dipupuk. Bacaan Injil Lukas ini menunjukkan, bahwa ketika Yesus melihat perempuan yang bungkuk itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya, “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga tegaklah perempuan itu, dan memuliakan Allah (Luk 13:12-13). Kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan pada hari Sabat, dan ia pun menyampaikan kepada orang banyak apa yang diyakininya berdasarkan hukum Taurat (Luk 13:14). Yesus menanggapi ocehan si kepala rumah ibadat tersebut dengan sangat efektif (Luk 13:15-16). Semua lawan-Nya merasa malu dan “semua orang banyak bersukacita karena segala perbuatan mulia yang telah dilakukan-Nya” (Luk 13:17).

Di atas kita dapat melihat betapa menakjubkan semangat “memuji dan memuliakan Allah” yang ditunjukkan oleh perempuan bungkuk yang disembuhkan oleh Yesus itu. Semangat yang sama juga ditunjukkan oleh seorang pengemis buta di dekat Yerikho yang disembuhkan oleh Yesus (lihat Luk 18:35-43). Injil Lukas mencatat bahwa setelah disembuhkan, pengemis yang disembuhkan dari kebutaannya itu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah. Melihat hal itu, “seluruh rakyat memuji-muji Allah” (Luk 18:43). Ketika Yesus membangkitan putera dari janda di Nain (lihat Luk 7:11-17), semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya” (Luk 7:16).

Ketika Yesus mendekati Yerusalem dengan menunggang keledai, di tempat jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah sambil menyanyikan Mzm 118:26 dengan suara nyaring oleh karena segala mukjizat yang telah mereka lihat (Luk 19:36-38). Kemudian beberapa orang Farisi berkata kepada Yesus, “Guru, tegurlah murid-murid-Mu itu.”  Yesus menjawab: “Aku berkata kepadamu: Jika mereka diam, maka batu-batu ini akan berteriak” (Luk 19:39-40).

Apa implikasinya? Implikasinya adalah, bahwa Allah harus dipuji dan dimuliakan! Kita sebagai anak-anak Allah haruslah memuji dan memuliakan Allah. Jika kita menolak atau abai memuji dan memuliakan Allah, maka Allah akan membangkitkan orang-orang lain untuk memuji dan memuliakan-Nya. Dan jika kita mengakui karya-karya indah dan agung dari Yesus dalam hidup kita, maka tanggapan kita secara alamiah akan berupa tindakan memuji dan memuliakan Allah.

DOA: Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat daripada segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHAN-lah yang menjadikan langit. Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya. (Mzm 96:1-6). Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBEBASKAN DARI HAL-HAL YANG MENGIKAT KITA” (bacaan  tanggal 29-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak, 25 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN

PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 18 September 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Yosef dr Copertino, Imam

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Kor 12:12-14,27-31a; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Santo Lukas, penulis peristiwa “Yesus membangkitkan anak muda di Nain” ini, adalah seorang tabib (dokter zaman dahulu). Dalam semangat profesinya yang sejati, dia adalah seorang pribadi yang sangat sensitif terhadap penderitaan sesama manusia. Itulah sebabnya mengapa Lukas memberi lebih banyak perhatian pada keadaan menyedihkan dari sang janda yang baru kehilangan anak laki-lakinya yang adalah seorang anak tunggal, daripada mukjizat Yesus membangkitkan anak laki-laki tersebut.

Anak laki-laki tunggal dari janda itu mati dalam usia muda. Pada waktu itu tidak ada pensiun untuk para janda, tidak ada asuransi jiwa, tidak ada santunan dalam rangka kesejahteraan sosial, dan tidak ada pekerjaan yang menarik bagi pada perempuan. Kehidupan dapat menjadi sangat berat dan keras bagi seorang janda yang berumur  separuh baya.

Yesus cepat sekali menyadari tragedi situasinya. Lukas mencatat singkat: “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13), lalu Dia berkata kepada janda itu untuk tidak menangis. Lalu Yesus memberikan kehidupan kepada orang muda tersebut, anak satu-satunya dari sang janda.

Apa sebenarnya pesan dari Injil hari ini? Tentunya tentang bela rasa dan penuh-pengertian Kristus terhadap seorang pribadi manusia yang sangat membutuhkan pertolongan, walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata. Dengan demikian, bagi sang janda, realitas dari kasih Allah tidak pernah lagi sekadar teori. Janda dari Nain itu sungguh mengalami kasih Allah itu secara riil.

Dan pada hari ini – bagaimana kasih Allah dibuat riil pada hari ini? Tidak ada cara lain kecuali lewat diri kita masing-masing yang adalah Tubuh Kristus. Bagi orang-orang sakit, orang-orang lansia, orang-orang miskin, bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan – kasih Kristus menjadi riil/nyata hanya melalui bela-rasa kita, kebaikan hati kita, pertolongan kita untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka.

Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri sampai berapa dalam kesadaran kita akan berbagai kebutuhan orang-orang di sekeliling kita. Kebutuhan-kebutuhan mereka mungkin tidak besar – mungkin yang mereka butuhkan adalah sepatah kata penghiburan atau malah hanya sebuah senyum yang tulus – mungkin mereka butuh didengarkan dengan kesabaran dan penuh pengertian. Walaupun dalam hal-hal sederhana seperti itu, kehadiran kita bagi mereka dapat berarti pengalaman akan kasih Kristus, dan inilah yang penting.

DOA: Tuhan Yesus, tanamkanlah kesadaran dalam diriku senantiasa, bahwa tangan-tanganku dan kaki-kakiku adalah perpanjangan dari tangan-tangan-Mu dan kaki-kaki-Mu, dalam segala tindakan yang kulakukan sebagai anggota Tubuh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul YESUS MEMBANGKITKAN SEORANG MUDA DI DEKAT GERBANG KOTA NAIN  (bacaan tanggal 18-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  16 September 2018 [HARI MINGGU BIASA XXIV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI

IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 17 September 2018)

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa kita Fransiskus

Peringatan S. Robertus Bellarminus, SJ – Uskup & Pujangga Gereja

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Kor 11:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17 

Perwira Romawi dalam cerita Injil Lukas ini berpangkat Centurion yang membawahi seratus orang prajurit, katakanlah sekarang namanya komandan kompi. Perwira ini adalah seorang yang memiliki iman yang kokoh, iman yang mencerminkan keyakinannya yang bersifat total dan mutlak kepada Yesus. Sikap dan perilaku perwira ini tanpa banyak ribut mengakui otoritas Yesus atas segala aspek kehidupan. Dihadapkan dengan penyakit serius yang diderita oleh hambanya yang sangat dihargainya, sang perwira menggantungkan pengharapannya pada Yesus saja. Ternyata perwira ini adalah seorang pribadi yang mengasihi bangsa Yahudi, malah membangun rumah ibadat (sinagoga) bagi masyarakat Yahudi setempat (Luk 7:4-5).

Perwira itu minta tolong kepada beberapa orang tua-tua Yahudi agar dapat menghadap Yesus dan mohon pertolongan-Nya guna menyembuhkan hambanya. Nampaknya dia tidak merasa layak untuk datang sendiri menghadap Yesus (bdk. Mat 8:5). Perwira itu mencari otoritas yang ada pada sabda Yesus, sebagai solusi yang jelas terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

Surat Pertama Santo Petrus memuji iman dari mereka yang menerima dan percaya kepada Yesus setelah wafat dan kebangkitan-Nya. Dalam surat itu Petrus menulis: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira dengan rasa sukacita yang mulia dan tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr 1:8-9). Di sini kita dapat melihat betapa tulisan Petrus ini menggambarkan iman dari sang perwira dalam bacaan Injil Lukas hari ini.

Sang perwira merasa tidak layak untuk menghadap Yesus secara pribadi, maka dia mengutus dua rombongan; yang pertama adalah para tua-tua Yahudi seperti sudah diutarakan di atas dan kemudian rombongan kedua yang terdiri dari para sahabatnya (lihat Luk 7:3,6). Baginya, Yesus jelaslah seorang Pribadi yang dalam diri-Nya Tuhan Allah berdiam, seseorang yang memiliki otoritas melampau batas-batas insani. Oleh karena itu, dengan ketulusan hati yang tak perlu diragukan lagi, sang perwira menilai dirinya tidak layak untuk menerima Yesus dalam rumahnya. Begitu tinggi rasa hormatnya terhadap Yesus, sehingga dia membutuhkan sepatah kata saja dari Yesus agar hambanya itu disembuhkan: “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk 7:7). Hamba yang sakit keras itu pun sembuh – lewat kuasa dari Yesus dan iman sang perwira.

Peristiwa ini dapat menolong memperkuat kita dalam zaman ini yang juga banyak menyaksikan penyembuhan dan mukjizat ilahi, dunia di mana banyak sekali sikon yang dihadapi orang-orang membuat mereka stres dan patah semangat karena menyadari ketidak-mampuan mereka menghadapi berbagai sikon tersebut. Marilah kita ingat selalu bahwa otoritas Yesus tidak pernah mengalami erosi sejak dahulu. Penulis surat kepada orang Ibrani mengatakan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Janji Yesus sama absahnya hari ini seperti dua ribu tahun lalu: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7)

DOA: Tuhan Yesus, tingkatkanlah imanku kepada-Mu, teristimewa pada saat-saat aku berada dalam ketegangan dan keragu-raguan, agar dengan demikian aku dapat dengan penuh keyakinan bertumpu pada sabda-Mu sebagai sumber kekuatanku yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “TUAN, JANGANLAH BERSUSAH-SUSAH, ……” (bacaan tanggal 17-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 September 2018 [Peringatan S. Yohanes Krisostomus, Uskup & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS