Posts tagged ‘MESIAS’

IMAN DAN RASA SYUKUR

IMAN DAN RASA SYUKUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXX [TAHUN B] – 28 Oktober 2018)

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Ketika Yesus keluar dari Yerikho bersama-sama murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Yesus berhenti dan berkata, “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya, “Teguhkanlah hatimu, berdirilah, ia memanggil engkau.” Orang buta itu menanggalkan jubahnya, lalu segera berdiri dan pergi kepada Yesus. Tanya Yesus kepadanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?”  Jawab orang buta itu, “Rabuni, aku ingin dapat melihat!”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Saat itu juga ia dapat melihat, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. (Mrk 10:46-52) 

Bacaan Pertama: Yer 31:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6; Bacaan Kedua: Ibr 5:1-6

Bacaan Pertama hari ini dialamatkan kepada orang-orang Yahudi yang hidup dalam pengasingan di Babel. Barangkali “berada” di Babel adalah suatu cara yang lebih baik untuk mengatakannya, karena pada kenyataannya mereka adalah orang-orang tertindas, hidup sebagai para budak di dalam sebuah negeri asing yang terletak jauh dari tempat tinggal mereka di Palestina. Selama periode pengasingan (pembuangan), semangat keagamaan mereka hampir seluruhnya terserap dalam permohonan yang tak henti-hentinya agar supaya Allah akan mengingat mereka dan membebas-merdekakan mereka. Di atas segalanya, mereka rindu sekali untuk kembali ke negeri mereka sendiri, ke kota Yerusalem yang mereka cintai, dan teristimewa ke Bait Suci, di mana mereka menyembah YHWH-Allah. Allah, dalam bacaan dari Kitab Yeremia ini, berjanji bahwa Dia sungguh akan membebaskan umat-Nya dan memimpin mereka kembali dengan selamat ke negeri asal mereka. Allah memegang janji-Nya. Namun, setelah itu suatu hal yang aneh terjadi. Orang-orang itu (umat Allah) mulai menjauhi-Nya. Selama dalam pembuangan, yang mereka pikirkan tidak lain adalah Allah, satu-satunya pengharapan mereka. Setelah Allah memenuhi janji-Nya, walaupun mereka mulai dekat lagi dengan Bait Suci, praktis mereka melupakan segala sesuatu tentang Allah.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat bahwa yang mempunyai kebutuhan akan pertolongan Allah bukanlah sebuah umat, melainkan seorang pribadi. Bartimeus – Anak Timeus – adalah seorang buta. Dari gambaran mendalam yang diberikan oleh Injil berkenan dengan insiden ini, kita dapat memperoleh kesan tersendiri bahwa Bartimeus adalah seorang yang masih muda usia, bukan seorang tua yang daya penglihatannya kian menurun, walaupun secara bertahap, yang hanya beberapa tahun saja sebagai sisa hidupnya di atas bumi. Seluruh hidupnya terbentang di hadapannya, namun demikian ia tertindas oleh segala hal yang menimpa dirinya, seorang budak dari kegelapan yang terus-menerus dan bersifat tetap. Jadi, tidak mengherankanlah apabila orang buta ini tidak ragu-ragu untuk berseru, “Yesus, anak Daud, kasihanilah aku!” (Mrk 10:47) ketika dia mendengar bahwa Yesus-lah yang lewat.  Ketika dia ditegur oleh banyak orang yang mencoba untuk menghentikan teriakannya, dia malah berseru dengan lebih keras lagi, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (Mrk 10:48).

Pada saat itu, Bartimeus tidak memikirkan apa pun kecuali kemungkinan bahwa Yesus akan menyembuhkan dirinya dari kebutaan. Dan Yesus memang menyembuhkannya! Pada saat ia mempunyai kebutuhan yang besar, Bartimeus berpaling kepada Yesus, namun kita harus bertanya-tanya apakah yang akan terjadi setelah kesembuhannya. Apakah imannya kepada Yesus akan mengendur secara berangsur-angsur setelah dirinya dibebaskan dari kebutaan, seperti yang terjadi dengan nenek moyangnya setelah mereka dibebas-merdekakan dari pembuangan di Babel? Kita tidak memiliki indikasi kuat bahwa Bartimeus adalah salah satu dari sedikit orang yang menjadi pengikut Yesus yang setia, namun kita juga mau melihatnya secara positif. Injil mencatat yang berikut ini: Saat itu juga ia dapat melihat, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya (Mrk 10:52).

Ayat terahir ini merupakan puncak seluruh kisah. Kiranya pertama kali seumur hidup Bartimeus sungguh bergerak bebas! Tetapi saat ia sembuh, Bartimeus menggunakan kebebasan yang baru diperoleh untuk mengikuti Yesus. Mana yang lebih baik menggunakan kebebasan daripada mengikat diri kepada Tuhan? (P. Van Breemen SJ, MENUNGGU FAJAR MEREKAH [AS CERTAIN AS THE DAWN], Yogyakarta: Kanisius, 1982,  hal. 84).

Kita semua kiranya dapat menerima kenyataan bahwa apabila kita berada dalam kesusahan besar, ketika kita sungguh membutuhkan pertolongan, maka hampir secara instinktif kita akan berpaling kepada Allah supaya memperoleh pertolongan. Doa sedemikian tentunya baik, namun mengapa kita merasa begitu susah mengingat untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah? Satu alasan mungkin karena kita mempunyai ide bahwa doa pada dasarnya adalah mengajukan permohonan kepada Allah untuk hal-hal yang kita butuhkan. Doa mempunyai makna yang jauh melampaui dari sekadar pengajuan permohonan kepada Allah. Doa mencakup juga juga memuji Allah untuk kebaikan dan kuat-kuasa-Nya, dan berterima kasih penuh syukur kepada-Nya karena Dia juga meneruskan kebaikan dan kuat-kuasa-Nya kepada kita.

Barangkali alasan mengapa kita tidak berterima kasih kepada Allah dengan cara yang sepatutnya, jauh lebih mendalam daripada sekadar karena “terlupa”, atau karena gagal untuk menyadari bahwa doa mencakup juga ungkapan syukur. Di kedalaman hati kita, kita mungkin merasakan bahwa ada hal-hal kecil untuk mana kita harus merasa bersyukur. Hidup itu sulit – misalnya mengupayakan hidup perkawinan yang berbahagia, melakukan yang terbaik untuk membesarkan anak-anak kita pada saat-saat di mana situasi-kondisi hidup modern kelihatan begitu menentang kita, bekerja untuk memenuhi berbagai kebutuhan di bidang keuangan walaupun kelihatannya sulit sekali, dan mempertanyakan apakah semua itu bukanlah upaya yang sia-sia. Kita dapat mengembangkan sejenis myopia atau kesempitan pandangan, selagi kita hanya melihat masalah-masalah yang sekarang ada di bawah hidung kita dan gagal untuk memusatkan perhatian pada segala hal indah yang Allah telah lakukan bagi kita dan janjikan kepada kita di masa depan. Memang masalah kita adalah “kesempitan pandangan rohani” (spiritual myopia). Jadi, apabila kita ingin memohon sesuatu dalam doa, kita harus memohon kepada Yesus untuk menjernihkan visi spiritual kita, seperti Dia menyembuhkan Bartimeus dari kebutaan fisiknya. Iman adalah satu-satunya penyembuh atas kesempitan pandangan rohani, suatu iman mendalam yang memampukan kita untuk melihat dengan jelas kebenaran dari mazmur tanggapan hari ini: “TUHAN (YHWH)  telah melakukan perkara besar kepada kita” (Mzm 126:3).

Yesus berkata kepada Bartimeus: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Mrk 10:52). Memang tidak ada obat penyembuh selain iman. Tanpa iman sejati, kita akan melihat agama seperti balon seorang anak kecil, yang penuh dengan gambar indah di bagian luar, namun hanya diisi dengan udara di bagian dalam. Balon seperti itu mudah pecah. Dengan iman, kita dapat melihat dari bagian luar balon tersebut dan menyadari bahwa balon itu dipenuhi dengan kekuatan dan kebaikan Allah, dan balon tersebut akan berkembang secara konstan tanpa pernah meletus. Hanya dengan iman kita dapat melihat dengan jelas bahwa “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita”, dan bahwa kita mempunyai alasan mendalam untuk memuji dan berterima penuh syukur kepada-Nya untuk kuat-kuasa-Nya dan kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, kami bersyukur penuh terima kasih kepada-Mu karena dalam Yesus Kristus, Putera-Mu, Terang-Mu datang di dunia, membebaskan kami dari kegelapan dan mengundang kami ke jalan kehidupan. Ia beserta kami selalu, asal kami memiliki mata untuk melihat; dan Ia berbicara kepada kami selalu, asal kami memiliki telinga untuk mendengar. Berilah kepada kami mata baru dan telinga baru, agar kami mampu melihat kehadiran-Nya dan mendengar panggilan-Nya dalam hidup kami dan hidup orang lain. Berilah juga kepada kami keberanian untuk mengikuti jejak-Nya dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:46-52), bacalah tulisan yang berjudul “SAMPAI HARI INI PUN YESUS MASIH MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 28-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-10-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Oktober 2018 [Peringatan S. Antonius Maria Claret, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS

KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Rabu, 18 April 2018)

Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitahukannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh  dan orang timpang disembuhkan. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu (Kis 8:1b-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-3a, 4-7a; Bacaan Injil: Yoh 6:30-35

Setelah pembunuhan Stefanus secara brutal, mulailah penganiayaan yang hebat terhadap umat Kristiani di Yerusalem. Kecuali para rasul, umat tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria (lihat Kis 8:1). Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil mewartakan Injil Yesus Kristus (lihat Kis 8:4).

“Yesus telah bangkit, dan kita adalah saksi-saksi-Nya (lihat Kis 1:8; 2:32; 3:15; 4:33; 10:41; 13:31). Dalam Masa Paskah ini, apakah kita (anda dan saya) patuh pada Yesus yang telah bangkit dengan memberikan kesaksian tentang diri-Nya?

Paulus menulis kepada jemaat di Tesalonika: “Janganlah padamkan Roh” (1 Tes 5:19). Jikalau kita (anda dan saya) tidak memberikan kesaksian atau tidak begitu memberikan kesaksian, berarti kita mencekik Roh Kudus, dan kita membiarkan diri kita:

  • direkayasa agar supaya takut ditertawakan orang lain (Kis 2:12-13);
  • ditakut-takuti dengan ancaman (Kis 4:18);
  • sibuk dengan masalah pribadi, keluarga atau komunitas kita sendiri (Kis 6:1 dsj.);
  • mengalami trauma atas kematian dari salah seorang yang kita kasihi (Kis 8:2), atau
  • tergoncang oleh adanya pengejaran dan penganiyaan (Kis 8:1,3).

Adalah suatu kenyataan bahwa Iblis terus-menerus menentang upaya kita untuk bersaksi. Dari kenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa memberi kesaksian tentang Yesus memang mempunyai kuat-kuasa yang sanggup mengubah hidup orang dan mengubah dunia.

Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita kuat-kuasa untuk mengalahkan segala gangguan dan upaya perlawanan dari si Jahat. Seperti ditulis oleh penulis surat Yohanes: “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yoh 4:4). Rahmat Allah jauh lebih dari cukup! Seperti jawab Tuhan kepada Santo Paulus: “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita berdoa untuk menerima karunia yang akan membuat kita berani untuk bersaksi tentang Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa Engkau menganugerahkan kepada anak-anak-Mu bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Dengan demikian aku tidak akan malu bersaksi tentang Tuhan Yesus dan ikut menderita bagi Injil-Nya (2 Tim 1:7-8). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:35-40), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUSLAH YANG BEKERJA DALAM DAN LEWAT DIRI DIRI PARA MURID/RASUL” (bacaan tanggal 18-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 April 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MEMANG BERBICARA DENGAN PENUH KUASA

YESUS MEMANG BERBICARA DENGAN PENUH KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Sabtu, 17 Maret 2018)

Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” Lalu timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh-Nya.

Kemudian penjaga-penjaga itu kembali kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu, “Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” Lalu jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka, “Apakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, salah seorang dari mereka, yang dahulu datang kepada-Nya, berkata kepada mereka, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” Jawab mereka, “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. (Yoh 7:40-53)

Bacaan Pertama: Yer 11:18-20; Mazmur: Mzm 7:2-3,9-12

“Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” (Yoh 7:46)

Yesus memang berbicara dengan penuh kuasa (lihat Mrk 1:22). Ia memberikan pengharapan kepada para pendengar-Nya dan mengobarkan iman dalam diri orang-orang yang dengan tulus hati sedang mencari Allah. Imam-imam kepala, para ahli Taurat, orang-orang Farisi dan para pemimpin agama Yahudi lainnya adalah contoh dari orang-orang yang imannya sudah bangkrut. Mereka begitu terbelenggu oleh sikap mereka sendiri yang membuat mereka tidak dapat mendengar suara Allah, apalagi Yesus dari Nazaret si anak tukang kayu. Ajaran Yesus mengajak orang-orang untuk membuat komitmen kepada Allah; dan mereka yang berkomitmen dengan struktur-struktur buatan manusia tuli terhadap apa yang dikatakan Yesus.

Jadi, selagi Yesus melanjutkan mewartakan sabda Allah dan menyatakan tanda-tanda Kerajaan Allah, banyak orang di Yerusalem percaya kepada-Nya – bahkan mereka yang diperkirakan sebelumnya akan melawan Dia. Para penjaga Bait Suci dan Nikodemus adalah dua contoh. Dalam banyak cara yang berbeda-beda dan dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi pula, kepada orang-orang ini Yesus mewartakan Kabar Baik-Nya. Rahmat Allah sudah mulai bekerja dalam diri mereka dan minat mereka akan Yesus jelas semakin besar. Para penjaga Bait Suci dikirim untuk menangkap Yesus sebagai seorang kriminal, namun mereka tidak dapat membawa-Nya. Ajaran-ajaran Yesus telah berhasil mencairkan hati mereka. Inilah seorang pribadi yang berbicara mengenai “mengasihi Allah dan sesama”. Pesan-pesannya juga tidak menyangkut sekadar pada tuntutan-tuntutan yang bersifat legaslistis. Bagaimana mereka dapat menangkap sang rabi dari Nazaret ini, yang kata-kata-Nya telah menembus jiwa mereka masing-masing dengan kebenaran ilahi? Di sisi lain, ada Nikodemus yang sebelumnya hanya berani bertemu dengan Yesus di malam hari (lihat Yoh 3:1-21), namun sekarang berani berdiri membela Yesus melawan rekan-rekannya sekaum, yaitu orang-orang Farisi. Dalam kedua hal ini, kita melihat orang-orang yang sedang mengalami proses pertobatan kepada Kristus.

Pada hari ini kita juga dihadapkan dengan satu keputusan yang harus kita ambil: menjadi seperti para penjaga Bait Suci, atau menjadi seperti para petinggi agama yang mengirim para penjaga itu untuk menangkap Yesus. Kita dapat mendengar kata-kata Juruselamat kita dan mulai menghayati-Nya, atau kita dapat seperti para ahli Taurat dan orang-orang Farisi – yang begitu yakin dengan pemikiran-pemikiran kita sendiri sehingga kita tidak mampu membuat tanggapan terhadap panggilan Allah. Pilihan kita adalah pilihan kita! Artinya, menjadi tanggung jawab kita sendiri. Allah meninggalkan kita sendiri dalam pencaharian kita guna memahami siapa Yesus ini. Roh Kudus ingin mengajar kita makna dari sabda Yesus dan tindakan-tindakan-Nya serta membuka hati kita bagi pribadi Yesus. Apabila kita mengundang Roh Kebenaran, Ia akan memberikan kepada kita rahmat-Nya, kejelasan dan kemampuan untuk memahami dan menanggapi. Kita masing-masing mempunyai kesempatan atau peluang untuk berpartisipasi dalam kepenuhan hidup Allah, sama seperti orang-orang yang berkumpul di bukit, di padang datar, di sinagoga-sinagoga, atau di Bait Suci di tanah Palestina pada zaman Yesus. Sebagaimana Dia berbicara kepada hati mereka pada waktu itu, Yesus juga masih berbicara dengan kita sekarang, di abad ke-21 ini. Selagi kita mengundang Roh Kudus pada waktu kita membaca Kitab Suci atau mendengar sabda Allah dalam Kitab Suci yang diwartakan dalam Misa Kudus, kita dapat mengalami perwahyuan atau pernyataan ilahi seperti dialami oleh para leluhur rohaniah kita. Bersama Petrus kita dapat menyatakan: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!”, dan Yesus akan menjawab: “Berbahagialah engkau … sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 16:16-17).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Yesus ke tengah dunia, sehingga aku dapat melihat, mendengar, dan mengasihi-Nya. Tolonglah aku agar dapat mendengarkan sabda-Nya dengan penuh kasih. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:40-53), bacalah tulisan yang berjudul “BELUM PERNAH SEORANG PUN BERKATA-KATA SEPERTI YESUS” (bacaan tanggal 17-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS INGIN AGAR KITA MEMILIKI KERENDAHAN HATI

YESUS INGIN AGAR KITA MEMILIKI KERENDAHAN HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Selasa, 27 Februari 2018)

Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 1:10,16-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Mengapa Yesus kelihatan sedemikian “sewot” dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang selalu saja menentangnya dan dengan menggunakan berbagai cara ingin menjebak serta menjatuhkan-Nya? Apakah kecemburuan dan iri hati mereka itu disebabkan karena Yesus ingin mengubah hal-hal yang “tidak pas” dalam masyarakat Yahudi, teristimewa yang berhubungan dengan adat-istiadat dan praktek keagamaan mereka? Atau, apakah karena mereka adalah contoh dari para religius ultra-konservatif, yang terus mau berpegang pada ide-ide “Perjanjian Lama” yang sudah “kuno”? Samasekali bukan! Justru karena orang-orang inilah yang memegang peranan penting dalam masyarakat, maka Yesus menegur mereka dengan keras sekali! Kepada mereka dipercayakan Hukum Musa, batu penjuru bagi Israel sebagai bangsa dan umat. Mereka telah membaktikan seluruh hidup mereka untuk itu, dan rakyat memandang mereka sebagai orang-orang yang sungguh memahami tradisi suci Israel.

Namun sungguh sayang sekali, para ahli Taurat dan Farisi ini telah salah jalan dalam mengemban tugas mereka. Barangkali kekuasaan telah membutakan mata mereka sehingga berpikir bahwa mereka superior ketimbang orang-orang lain. Barangkali para ahli Taurat dan Farisi itu tidak melihat bahwa mereka sebenarnya telah mulai menempatkan posisi mereka yang terhormat sebagai “yang lebih utama” daripada tanggung jawab mereka untuk melayani umat Allah. Yesus tidak bermaksud memojokkan mereka karena mereka mengajar Hukum Taurat, melainkan karena kehidupan mereka sama sekali tidak mencerminkan kerendahan hati yang justru coba diajarkan oleh Hukum Taurat.

Hampir semua yang diajarkan Yesus berkisar pada hal-ikhwal kerendahan hati. Dia ingin agar para murid-Nya (termasuk kita sekarang) memahami betapa pentingnya menjadi jujur di hadapan Allah. Seperti unta yang tidak dapat melewati pintu gerbang kota, kita juga tidak akan bisa masuk ke dalam kerajaan-Nya, kalau kita tidak menolak “kekayaan” berupa “kesombongan” atau “kebanggaan palsu” kita (lihat Mat 19:24). Kalau kita tidak mengakui kelemahan-kelemahan dan dosa-dosa kita, maka kita pun akan berjalan dalam kegelapan rohani (Mat 6:23), dan kita tidak akan mampu menolong para saudari dan saudara kita yang patut ditolong (lihat Mat 7:5).

Alasan sesungguhnya mengapa Yesus sangat menginginkan kita menjadi rendah hati adalah karena kita juga penting! Ia mempunyai suatu pekerjaan penting untuk kita lakukan. Rasul Paulus menulis, “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” (Ef 1:5), sehingga ……“boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya” (Ef 1:12). Apabila kita merangkul kerendahan-hati Yesus, maka kita akan mencerminkan rahmat-Nya dan menjadi bejana-bejana kuasa-Nya. Apabila kita memuji-muji dan menyembah Yesus dengan ketulusan hati, maka Dia pun akan memenuhi diri kita dengan cintakasih-Nya dan akan menarik orang-orang kepada-Nya melalui diri kita. Ganjaran terbesar bagi kita bukanlah memperoleh pengakuan dunia, melainkan untuk “duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa” (Mzm 91:1), untuk mengenal dan mengalami cintakasih-Nya, serta mensyeringkan cintakasih-Nya itu dengan orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, aku datang ke hadapan hadirat-Mu sebagai apa adanya diriku, tidak sebagaimana orang-orang lain memandang diriku. Tolonglah aku untuk mengenali serta mengakui kebesaran-Mu, sehingga Engkau menjadi semakin besar, tetapi aku menjadi semakin kecil. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “SEGEROMBOLAN ORANG-ORANG MUNAFIK” (bacaan tanggal 27-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KASIH YANG SEJATI

KASIH YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM [TAHUN A] – Minggu, 26 November 2017)

 

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:31-46) 

Bacaan Pertama: Yeh 34:11-12,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3,5-6; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26,28

Sebagai umat Kristiani kita seringkali berbicara mengenai kasih, dan hal itu tidaklah salah. Tidak diragukan lagi bahwa kasih bersifat hakiki. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, berbagai tulisan  orang-orang kudus, teologi pada zaman dahulu maupun modern, umat Kristiani maupun bukan, semua setuju tentang keutamaan kasih. Namun orang-orang seringkali berbicara begitu entengnya tentang kasih ini, seakan-akan topic tentang kasih ini sangat sederhana, seakan-akan tidak ada tuntutan-tuntutan selain membuang segalanya yang lain, seakan-akan itu merupakan obat penyembuh segalanya dan langsung.

Kasih adalah memang obat penyembuh segalanya, apabila kasih itu kasih yang sejati. Masalahnya adalah bahwa kita tidak dapat melepaskan diri kita dari pandangan kekanak-kanakan bahwa kasih adalah sekadar masalah emosi sesaat. Pandangan ini dapat dibenarkan dan didukung oleh cerpen-cerpen “romantis” dalam majalah-majalah, film-film, novel-novel, dan apa saja yang menjadi bagian dari sebuah budaya yang tergila-gila pada kenikmatan badani.

Sekarang ada pertanyaan yang harus kita jawab. Bukankah keutamaan atau kebajikan seharusnya menyenangkan? Jawabnya dapat “ya” dan dapat juga “tidak”. Dengan kecenderungan-kecenderungan dari segenap kedagingan manusia, maka kasih sejati dapat menyakitkan dan dapat pula menyenangkan. Tuntutan dari kasih yang sejati banyak menuntut dan terasa menakutkan: pemberian-diri secara total menuntut kesabaran yang luarbiasa, kerendahan hati yang tidak main-main dalam hal keputusan-keputusan yang sulit, dan seringkali dalam mengambil tindakan yang bertentangan dengan hasrat-hasrat kita yang mementingkan diri sendiri.

Tidakkah setiap pasutri pasti mempunyai “catatan” tentang pengalaman selama satu pekan setelah honeymoon? Jika sungguh ada kasih yang sejati dan kebahagiaan yang sesungguhnya, maka salah satu dari pasutri memberikan-dirinya. Tentunya, pemberian-diri menjadi sukacita dari kasih, namun siapakah yang menyangkal bahwa hal itu juga menyakitkan? Perhatian dan minat yang serius atas seorang pribadi yang lain seperti dituntut oleh kasih menyebabkan suatu keprihatin yang mendatangkan kecemasan. Namun hal ini bukanlah kecemburuan atau self-pity, melankan merupakan bentuk penderitaan yang riil. Kasih yang sejati mengalami/merasakan penderitaan yang diderita oleh dia yang kita kasihi.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah Raja dan Hakim yang akan menghakimi kami masing-masing pada akhir zaman.  Jika kami sungguh menanggapi kasih-Mu dengan saling mengasihi antara kami, sekarang dan di dunia ini, maka kami percaya bahwa kamipun akan menerima berkat dari-Mu seperti ada tertulis dalam Injil: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan”. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan yang berjudul “PENGHAKIMAN TERAKHIR OLEH SANG RAJA” (bacaan tanggal 26-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-11-14  dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 November 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEKETIKA ITU TERBUKALAH TELINGA ORANG ITU DAN PULIHLAH LIDAHNYA

SEKETIKA ITU TERBUKALAH TELINGA ORANG ITU DAN PULIHLAH LIDAHNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [TAHUN B]6 September 2015)

HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL 

ORANG TULI DISEMBUHKAN - 01Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37) 

Bacaan Pertama: Yes 35:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10 

“Haleluya! Pujilah TUHAN (YHWH), hai jiwaku!” (Mzm 146:1).

Yesus menginginkan orang-orang yang menyaksikan penyembuhan-penyembuhan-Nya agar mengingat para nabi dan memahami bahwa Dia berada di tengah-tengah mereka untuk menggenapi apa yang telah dinubuatkan: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tulis akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai” (Yes 35:5-6). Sesungguhnya, Sang Terurapi (Mesias/Kristus) akan membawa kepenuhan hidup. Dalam terang kematian dan kebangkitan Yesus dan pencurahan Roh Kudus, kita dapat melihat bahwa Yesus pada kenyataan-Nya adalah sang Mesias, karena – seperti dideklarasikan oleh orang banyak, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk 7:37).

ORANG TULI DISEMBUHKAN - 02Banyak orang yang menyaksikan berbagai penyembuhan dan mukjizat menjadi percaya. Pekerjaan-pekerjaan-Nya yang kesemuanya membawa kebaikan merupakan sebuah tanda bahwa Mesias telah datang karena semua pekerjaan itu mencerminkan apa yang yang telah dinubuatkan oleh para nabi sehubungan dengan kedatangan sang Mesias. Penyembuhan adalah sebuah tanda kepenuhan hidup yang merupakan milik kita bilamana Kerajaan Allah datang di tengah-tengah kita; itu adalah sebuah tanda bahwa Allah hadir dan sedang bekerja di tengah-tengah umat-Nya. Walaupun tidak sedikit tanda-tanda yang dibuat oleh Yesus, ada saja orang-orang pada masa itu yang tidak percaya sedikitpun kepada-Nya.

Hal yang sama juga benar pada zaman modern ini, bahkan ketika kita juga menerima kebenaran Yesus. Melalui Gereja, Roh Kudus memberikan kesaksian kepada kita tentang Yesus (Yoh 16:13-14); Roh Kudus yang sama berdiam dalam diri kita melalui iman dan baptisan dan Ia berhasrat untuk meyakinkan kita tentang kebenaran. Namun kita harus menyetujui kebenaran itu dengan iman. Kita dapat mendengar tentang Yesus dan bahkan memberi kesaksian tentang karya Allah dalam hidup kita atau kehidupan para kudus, namun tanpa iman, kita tidak akan memperkenankan Roh Kudus untuk membuat kita sungguh percaya kepada Yesus.

Roh Kudus akan mencurahkan rahmat-Nya guna memampukan kita untuk percaya dan menaruh kepercayaan pada Yesus. Keragu-raguan kita akan menghilang selagi kita berjumpa dengan Yesus secara pribadi dan mengalami kehadiran-Nya yang penuh kasih dalam kehidupan kita. Bahkan ketika kita menghadapi situasi-situasi sulit, iman kita kepada Yesus tidak akan menyusut karena dibangun di atas tanah fondasi yang kokoh dan kita pun akan tahu bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang kita kenal melalui Kristus Yesus (Rm 8:31-39).

ORANG TULI DISEMBUHKAN - 03Kisah tentang penyembuhan orang yang tuli dan gagap seharusnya memberikan keberanian karena Yesus ingin menyentuh hidup kita dan membuat kehadiran Kerajaan diketahui, dikenal serta dialami oleh kita. Selagi kita merangkul Kristus, kita akan mengetahui, mengenal dan mengalami kehadiran-Nya dan bersama sang pemazmur kita pun akan memproklamasikan: “Haleluya! Pujilah TUHAN (YHWH), hai jiwaku!” (Mzm 146:1).

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar aku dapat mendengar bilamana Engkau berbicara lewat Gereja-Mu. Buatlah diriku mau dan mampu berbicara untuk-Mu manakala situasi menuntut. Berikanlah kepadaku keberanian, ya Tuhan, untuk mewartakan Kabar Baik dan Nama-Mu yang terkudus kepada saudari dan saudaraku yang beriman lain. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI YESUS, SEMUA JANJI ALLAH DIGENAPI” (bacaan tangal 6-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 3 September 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPAKAH ENGKAU ???

SIAPAKAH ENGKAU ???

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun B], 14 Desember 2014) 

8480784

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya merelalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu.

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Kalau begitu, siapa? Apakah engkau Elia?” Ia menjawab, “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!” Karena itu kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Kalau demikian, mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis. (Yoh 1:6-8,19-28)

Bacaan Pertama: Yes 61:1-2a,10-11; Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53-54; Bacaan Kedua: 1Tes 5:16-24 

Jesus_109“Siapakah engkau?” (Yoh 1:19). Dibuat “bingung” oleh apa yang mereka lihat dan dengar, sekelompok pemuka/pemimpin agama mendekati Yohanes Pembaptis dengan sebuah pertanyaan fundamental ini. Yohanes memang berpenampilan sangat lain apabila dibandingkan dengan orang-orang pada masa itu, juga caranya bertutur-kata: polos, lugas dan straight to the point. Dia adalah seorang “tanda lawan” pada zamannya, dan para pemuka agama itu sungguh ingin mengetahui mengapa sosok Yohanes Pembaptis itu lain daripada yang lain? Oleh karena itu mereka mengutus beberapa orang untuk mengajukan pertanyaan ini kepada Yohanes Pembaptis: “Siapakah engkau?”

Tiga tahun kemudian, para pemuka agama itu menjadi semakin bingung dan risau, maka mereka mengajukan pertanyaan yang sama kepada Yesus, sang Rabi dari Nazaret. Apa yang sebenarnya membuat dua orang pribadi ini berbeda secara radikal dengan anggota masyarakat di Israel masa itu pada umumnya? Perbedaannya adalah dalam hal kehadiran dan kuasa Roh Kudus dalam diri kedua orang itu. Mereka berbicara dan bertindak-tanduk dengan keyakinan teguh bahwa Allah beserta mereka.

Seperti Yohanes dan Yesus, kita masing-masing pun diharapkan untuk bersikap dan berperilaku sebagai seorang “tanda lawan” dalam masyarakat kita masing-masing. Relasi kita dengan Yesus dan keterbukaan kita terhadap Roh Kudus seharusnya mendorong orang untuk bertanya tentang diri kita “Siapakah orang ini?” Setiap dan masing-masing kita memiliki Roh dari Tuhan yang berdiam dalam diri kita, dan kehadiran Roh ini mempunyai potensi untuk membuat diri kita masing-masing menjadi berbeda secara radikal dengan orang-orang yang tidak mengenal Kristus.  Nilai-nilai yang kita anut, kemauan kita untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kita, damai-sejahtera kita, dan pengharapan kita – semua ini dapat berbicara panjang-lebar kepada dunia di sekeliling kita.

Sebagai umat Kristiani, kita dimaksudkan untuk ikut ambil bagian dalam suatu relasi yang hidup dengan Tuhan. Melalui Roh Kudus-Nya kita dapat mengetahui pikiran Allah, seperti yang ditulis oleh Paulus: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus” (1Kor 2:16). Belas kasihan yang kita tunjukkan kepada orang-orang lain dapat merupakan percerminan dari “kasih yang menebus” (redeeming love) Bapa surgawi yang bekerja melalui diri kita. Melalui kata-kata yang kita ucapkan, Allah sendiri dapat membuat kenyang rasa lapar orang-orang akan kebenaran.

John-Baptist-preachingKita mempunyai suatu panggilan yang secara intim terjalin dengan kehidupan Yesus. Sebab itu dalam masa Adven ini, marilah kita mohon kepada Allah agar disegarkan kembali dengan pencurahan Roh Kudus-Nya, agar kita dapat menjadi para pelayan sabda-Nya, memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus, menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menyembuhkan mereka yang menderita sakit-penyakit, termasuk menyembuhkan mereka yang sakit dan menderita karena luka-luka batin.

Doa Santo Paulus kepada umat di Tesalonika sekitar 2.000 tahun lalu masih berlaku bagi diri kita, para murid Yesus di abad ke-21 ini: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semora roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna tanpa cacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (1Tes 5:23-24). Dengan demikian, kita dapat dipisahkan serta dibedakan sebagai “terang” dalam dunia yang gelap ini. Kesaksian hidup kita pun dapat menyebabkan orang-orang lain bertanya: “Siapakah engkau?”

DOA: Tuhan Yesus, dari generasi ke generasi Engkau telah mengurapi umat-Mu dengan Roh Kudus-Mu agar dapat memberitakan Kabar Baik ke tengah-tengah dunia. Biarlah lewat karya Roh Kudus dalam diriku hari ini, aku dapat memuliakan nama-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 1:6-8,19-28), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH ENGKAU [2]” (bacaan untuk tanggal 14-12-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-12-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 Desember 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS